BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar
1. Pengertian Demam Thypoid
Demam thypoid adalah penyakit infeksi sistemik disebabkan oleh
bakteri Salmonella Typhi, yang ditandai dengan peningkatan suhu tubuh
atau panas yang panjang, penyakit ini dapat menyebar pada orang lain
dengan media makanan atau air liur yang telah terkontaminasi oleh bakteri
(Huda dan Kusuma, 2016).
Demam thypoid merupakan salah satu penyakit sistemik yang
bersifat akut, yang disebabkan oleh bakteri jenis Salmonella typhi,
penyakit ini sering dijumpai di negara yang beriklim tropis, untuk salah
satunya gejala awal penyakit ditandai dengan demam atau peningkatan
suhu tubuh yang berkepanjangan, demam thypoid merupakan satu satunya
bentuk infeksi salmonella typhi sistemik sebagai akibat dari bakteriemia
yang terjadi, bakteremia tanpa perubahan pada sistem endotel atau
endokardial, invasi dan multiplikasi bakteri dalam sel pagosit
mononuklear pada hati, limpa, lymphnode dan plaque peyer (Sucipta,
2015).
Penyakit demam tifoid (typhoid fever ) yang biasa disebut tifus
adalah jenis penyakit menyerang penderitanya pada bagian saluran
pencernaan, selama terjadi infeksi kuman tersebut bakteri akan
8 Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
9
bermultiplikasi dalam sel fagositik mononuklear dan secara berkelanjutan
dilepaskan ke aliran darah (Hasta, 2020).
2. Etiologi
Etiologi pada demam thypoid yang disebabkan oleh bakteri
salmonella typhi, bakteri tersebut merupakan mikroorganisme bakteri
gram negatif, yang bersifat aerob dan tidak membentuk spora, bakteri ini
memiliki beberapa komponen antigen, salah satunya yaitu :
a. Antigen dinding sel (O) yang bersifat spesifik group dan
lipoolisakari
b. Antigen flagella (H) bersifat spesifik dan komponene protein dalam
flagella
c. Antigen virulen (Vi) adalah polisakarida yang berada di kapsul yang
berguna untuk melindungi seluruh permukaan sel
d. Antigen Outer Membran Protein (OMP), bagian dari dinding sel
terluar yang berada di luar membran sitoplasma serta lapisan
peptidoglikan membatasi sel dengan lingkungan sekitarnya
Antigen ini berhubungan terhadap daya invasif bakteri serta
efektivitas vaksin. Pada bakteri Salmonela Typhi menghasilkan endotoksin
yaitu bagian terluar dari diding sel yang terdiri dari antigen O yang telah
dilepaskan oleh lipopolisakarida serta lipid A. Ketiga antigen yaitu O, H
Vi saat berada didalam tubuh akan membentuk antibodi aglutinin (Sucipta,
2015).
Menurut Inawati, (2017) demam thypoid timbul yang di akibat
Poltekkes Kemenkes
1
dari infeksi oleh bakteri golongan salmonella yang memasuki tubuh
penderita melalui pada sistem saluran pencernaan (mulut, esofagus,
lambung, usus 12 jari, usus halus, usus besar) yang akan masuk kedalam
tubuh manusia bersama bahan makanan atau minuman yang sudah
tercemar. Cara penyebarannya untuk bakteri ini yaitu pada:
a. Muntahan manusia
b. Urine
c. Kotoran-kotoran dari penderita thypoid kemudian dibawa oleh lalat
sehingga mengontaminasi makanan, minuman, sayuran, maupun buah-
buah segar.
Sumber utama yang akan terinfeksi adalah manusia yang selalu
mengeluarkan mikroorganisme penyebab penyakitnya, baik ketika ia
sedang sakit atau sedang dalam masa penyembuhan demam thypoid,
sehingga penderita masih mengandung Salmonella didalam kandung
empedu atau ginjalnya. Bakteri Salmonella thypi ini hidup dengan baik
pada suhu 37oC, dan dapat hidup pada air beku atau dingin, air tanah, air
laut dan debu selama beberapa minggu maupun bulan dalam telur yang
terkontaminasi dan tiram beku.
3. Patofisiologi
Patofisiologi demam tyhpoid awalnya disebabkan oleh kuman
yang masuk dalam tubuh baik itu melalui makanan minuman yang
terkontaminasi oleh bakteri Salmonella thypi, saat kuman masuk dalam
tubuh melalui lambung sebagian dapat di lawan oleh tubuh menggunakan
Poltekkes Kemenkes
1
asam Hcl pada lambung dan sebagian diteruskan masuk kedalam usus
halus, seseorang dengan respon imunistas humoral mukosa (igA) usus
yang kurang baik, maka bakteri akan dapat dengan mudah menembus sel
epitel atau (sel m) menuju Lamina Propia dan akan berkembang biak di
jaringan Limfoid plak nyeri di Ileum Distal serta kelenjar getah bening
kemudian akan masuk dalam aliran darah tubuh penderita (Lestari, 2016).
Penyakit demam thypoid ini penularan oleh bakteri salmonella
typhi dapat melalui beberapa cara istilah yang digunakan yaitu 5F antara
lain Food (Makanan), Fingers (tangan), Fomitus (muntah), Fly (lalat),
serta melalui Feses. Kuman juga dapat ditularkan melaului perantara lalat,
jika tidak memperhatikan kebersihan diri, lingkungan sekitar maka akan
mudah bakteri Salmonella typhi tersebut masuk dalam tubuh baik melaui
makanan yang masuk lewat mulut. kuman yang masuk melalui makanan
lewat mulut akan dibawa masuk ke dalam lambung dan usus halus bagian
distal dan mencapai jaringan limpoid, dalam jaringan tersebut kuman
dapat berkembang biak serta dapat masuk kedalam aliran darah dan
mencapai sel sel retikuloendotel, sel-sel ini akan melepaskan bakteri dalam
sirkulasi darah yang akan mengakibatkan bakterimia, selanjutnya bakteri
yang lain akan masuk usus halus, limpa, dan kandung empedu (Padila,
2013).
4. Klasifikasi
Menurut WHO dalam Hasta, (2020) terdapat 3 macam klasifikasi pada
demam thypoid dengan perbedaan gejala klinik
Poltekkes Kemenkes
1
a. Demam thypoid akut non komplikasi
Adanya demam yang berkepanjangan pada demam thypoid akut
terjadi konstipasi pada penderita dewasa, diare pada anak-anak.
Anoreksia, Malaise, serta nyeri kepala atau sakit kepala.
b. Demam thypoid dengan komplikasi
Demam thypoid akan menjadi komplikasi yang parah tergantung
pada kualitas dalam pengobatan yang diberikan kepada penderita,
komplikasi yang terjadi biasanya seperti perforasi, usus, melena dan
peningkatan ketidaknyamanan abdomen.
c. Keadaan karier
Penderita demam thypoid dengan keadaan karier terjadi pada 1-
5 % tergantung pada umur pasien, yang bersifat kronis dalam hal
sekresi salmonella typhi di feses.
5. Manifestasi klinis
Gejala klinis pada demam thypoid beragam atau bervariasi dari
mulai gejala ringan yaitu berupa demam, tubuh terasa lemas serta batuk
ringan sampai dengan gejala berat berupa keluahan abdomen hingga
komplikasi multiple, hal yang mempengaruhi gejala ada beberapa faktor
antara lain yaitu jumlah mikroorganisme yang masuk dalam tubuh, status
imunologi, faktor genetik, antibiotik yang digunakan, keadaan umum serta
status nutrisi, untuk masa inklubasi penyakit demam thypoid antara 7-14
hari, dengan rentang waktu 3-30 hari, tergantung pada usia penderita
(Sucipta, 2015).
Poltekkes Kemenkes
1
Menurut Ardiansyah, (2012) untuk gejala klinis pada penderita
dengan usia lebih dewasa biasanya lebih berat dari pada penderita usia
anak-anak. Demam thypoid untuk untuk waktu sampai dengan sembuh
antara 10 hari hingga sampai 20 hari, faktor makanan dan juga minuman
yang terinfeksi bakteri juga mempengaruhi waktu penyembuhan biasanya
terinfeksi melalui makanan lebih singkat sekitar 4 hari, Sedangkan yang
terinfeksi melalui minuman lebih lama kurang lebih 30 hari, masa inkubasi
berlangsung 7 -21 hari, pada hari ke 10-12 umumnya ditemukan gejala
seperti pusing atau nyeri kepala, tidak enak badan, lesu, pusing, serta
semangat berkurang selanjutnya akan muncul gejala- gejala klinis yang
lain seperti berikut, yaitu :
a. Demam
Terjadi demam yang panjang selama tiga minggu, Selama
minggu pertama terdapat kenaikan suhu tubuh atau hipertermi yang
berkisar suhunya 39oC-40oC sehingga terkadang mengakibatkan sakit
kepala, pusing, pegal-pegal, anoreksia, mual, muntah dan batuk,
minggu ke 2 suhu tubuh mulai berkurang setiap harinya namun terjadi
penurunan pada pagi hari, dan meningkat di sore atau malam hari pada
penderita demam thypoid ini terus menerus dalam keadaan demam
tinggi (hipertermi), dan jika keaadaan pasien membaik, tidak terjadi
komplikasi yang lain atau pengobatan berhasil, gejala klinis akan
berkurang dalam minggu ketiga dengan suhu tubuh akan berangsur-
angsur turun dan normal kembali.
Poltekkes Kemenkes
1
b. Gangguan pada saluran pencernaan
Terdapat perubahan pola napas pada penderita demam thypoid
yaitu seperti mukosa bibir kering atau pecah-pecah, lidah tampak
putih kotor di bagian ujung dan kemerahan di bagian tepi, bau napas
mengeluarkan bau yang tidak sedap, perut terasa kembung terkadang
disertai mual, muntah serta hati dan limfa membesar disertai nyeri saat
perabaan.
c. Gangguan pada kesadaran
Gangguan kesadaran menurun seperti apatis sampai dengan
somnolen pada penderita demam thypoid kesadaran akan menurun,
penderita akan merasakan keingginan untuk ingin tidur lebih lama.
Terdapat gejala lain seperti muncul bintik-bintik kemerahan karena
emboli basil dalam kapiler kulit, berperan dalam pembuangan limbah
tertentu dari tubuh, terutama hemoglobin yang berasal dari
penghancuran sel darah merah dan kelebihan kolestrol.
6. Komplikasi
Komplikasi yang diakibatkan penyakit demam thypoid menurut Lestari
(2016) antara lain yaitu:
a. Perporasi usus, pendarahan pada usus dan illius paralitik
b. Anemia hemolitik
c. Miokarditis, thrombosis, kegagalan sirkulasi
d. Pneumonia, empyeman dan pleuritis
e. Hepatitis, Koleolitis
Poltekkes Kemenkes
1
Menurut Sodikin (2011) komplikasi untuk penyakit demam thypoid
sering terjadi pada bagi organ usus halus, untuk anak-anak komplikasi
pada bagian usus halus jarang terjadi apabila hal tersebut terkena pada
anak-anak akan membahayakan atau berakibat yang cukup fatal.
Komplikasi yang terjadi pada usus halus terdapat beberapa sebagai berikut
yaitu:
a. Perdarahan usus
Pendarahan pada usus yang terjadi masih dalam jumlah yang
sedikit dapat dilakukan pemeriksaan feses dengan benzidin, namun
jika pendarahan cukup banyak maka dikhawatirkan akan terjadi
melena yang bisa juga disertai dengan tanda nyeri perut.
b. Perforasi usus
Perforasi yang tidak disertai dengan gangguan peritonitis hanya
dapat ditemukan bila terdapat udara di rongga peritoneum, yaitu
seperti pekak hati menghilang dan terdapat adanya udara diantara
diagfragma dan hati pada saat dilakukan foto rongten pada bagian
abdomen dengan keadaan posisi penderita tegak.
c. Peritonitis
Pada peritonitis yang sering terjadi biasanya menyertai
gangguan perforasi usus, tetapi ada juga yang terjadi tanpa perforasi
usus, akan ditemukan gejala abdomen akut seperti nyeri pada perut
yang hebat, dinding abdomen tegang (defebce musculair) dan
terdapat nyeri pada saat ditekan.
Poltekkes Kemenkes
1
d. Komplikasi diluar usus
Komplikasi yang terjadi diluar usus ini merupakan terjadi
akibat infeksi sekunder yaitu dari bronkopnemonia, komplikasi
yang terdapat lokalisasi peradangan yang diakibatkan sepsis
(bacteremia), yaitu seperti Meningitis, Kolesitisis, Ensefalopati.
7. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Medis
Pengobatan yang dilakukan untuk penderita penyakit demam
thypoid yang dirawat di rumah sakit terdapat pengobatan berupa
suportif meliputi istirahat atau bedrest dan pengaturan diet makanan
yang dikonsumsi dan obat dalam pengobatan (medikamentosa).
Selama pasien di rawat ditempatkan akan ditempatkan di ruang isolasi
kontak selama fase akut infeksi, untuk proses pembuangan tinja dan
urine pada penderita demam thypoid harus dibuang secara aman hal
tersebut dilakukan agar tidak bakteri yang terdapat dalam kotoran
tersebut tidak menginfeksi orang lain.
Pasien dengan demam thypoid diharuskan untuk istirahat hal ini
berguna untuk mencegah komplikasi penyakit yang lebih parah serta
istirahat dapat mempercepat dalam proses penyembuhan. Penderita
harus menjalani istirahat tirah baring absolut sampai minimal 7 hari
bebas demam atau kurang lebih 1 hari. Mobilisasi dilakukan bertahap,
sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien, untuk program diet yang
dikonsumsi serta terapi penunjang lainnya, makanan yang diberikan
Poltekkes Kemenkes
1
pertama, pasien diberikan bubur saring, selanjutnya diberikan bubur
kasar dan nasi sesuai dengan tingkat kemampuan atau kesembuhan
pada pasien, selain itu juga pasien perlu untuk diberikan vitamin dan
mineral untuk mendukung keadaan umum pasien (Widodo, 2014).
Penderita penyakit thypoid yang berat, disarankan menjalani
perawatan di rumah sakit. Antibiotika yang umum digunakan untuk
mengatasi penyakit thypoid, saat waktu penyembuhan bisa makan
waktu 2 minggu hingga satu bulan. Obat-obat pilihan pertama adalah
Kloramfenikol, Ampisilin/Amoksisilin dan Kotrimoksasol. Obat
pilihan kedua adalah Sefalosporin generasi III. Obat-obat pilihan
ketiga adalah Meropenem, Azithromisin dan Fluorokuinolon.
Kloramfenikol diberikan dengan dosis 50 mg/kgBB/hari, terbagi
dalam 3-4 kali pemberian, oral atau intravena, selama 14 hari.
Kloramfenikol bekerja dengan mengikat ribosom dari kuman
Salmonella, menghambat pertumbuhannya dengan menghambat
sintesis protein. Kloramfenikol memiliki spectrum gram negatif dan
positif, bila terdapat kontra indikasi pemberian Kloramfenikol, diberi
Ampisilin dengan dosis 200 mg/kgBB/hari, terbagi 3-4 kali.
Pemberian intravena saat belum dapat minum obat selama 21 hari,
atau Amoksisilin dengan dosis 100 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 3-4
kali. Pemberian oral/intravena selama 21 hari kotrimoksasol dengan
dosis (tmp) 8 mg/kgBB/hari terbagi dalam 2-3 kali pemberian, oral
selama 14 hari.
Poltekkes Kemenkes
1
Kasus demam thypoid berat dapat diberi Seftriakson dengan
dosis 50 mg/hari/berat badan dan diberikan 2 kali sehari atau 80
mg/hari/berat badan sehari sekali, intravena, selama 5-7 hari. Bila tak
terawat, demam thypoid dapat berlangsung selama 3 minggu sampai
sebulan. Pengobatan penyakit tergantung macamnya, untuk kasus
berat dan dengan manifestasi neurologik menonjol, diberi
deksametason dosis tinggi dengan dosis awal 3 mg/hari/berat badan,
intravena perlahan (selama 30 menit). Kemudian disusul pemberian
dengan dosis 1 mg/hari/berat badan dengan tenggang waktu 6 jam
sampai 7 kali pemberian (Widodo, 2014).
2. Penatalaksanaan Keperawatan
Penatalaksanaan keperawatan yang dilakukan untuk penderita
penyakit demam Thypoid Menurut Nugroho (2011) yaitu :
a. Mencukupi kebutuhan pada cairan dan juga nutrisi
1) Edukasi pentingnya nutrisi yang adekuat bagi tubuh
2) Tentukan kebutuhan kalori harian yang realistis dan adekuat,
serta konsulkan kepada ahli gizi.
3) Lakukan penimbangan BB secara berkala.
4) Ciptakan suasana yang dapat membangkitkan selera makan
pada pasien seperti pada mengatur susasana makan yang
tenang, berada di lingkungan yang bersih, cara penyajian
makanan yang masih dalam keadaan hangat, penampilan
makanan yang menarik, makan bersama.
Poltekkes Kemenkes
1
5) Pertahankan kebersihan mulut
6) Anjurkan klien yang mengalami nafsu makan untuk: makan
makanan kering saat bangun, makan kapan saja bila dapat
ditoleransi, makan dalam porsi kecil tapi sering.
7) Pantau asupan makan klien dan pantau adanya tanda-tanda
komplikasi seperti : perdarahan, digestif dan abdomen tegang.
e. Gangguan termoregulasi (Hipertermi)
1) Kaji apa yang menjadi penyebab pasien mengalami hipertemi
2) Jelaskan kepada pasien dan juga keluarga untuk
mempertahankan asupan cairan yang adekuat yang berguna
untuk mencegah terjadinya dehidrasi.
3) Ajarkan cara atau upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi
hipertermi yaitu dengan cara kompres hangat, memakai
pakaian longgar dan kering, mengatur sirkulasi yang sesuai,
serta membatasi dalam aktivitas.
4) Jelaskan kepada pasien gejala yang dialami saat hipertermi
yaitu seperti kepala terasa sakit, nafsu makan berkurang,
kulit kemerahan serta badan terasa letih.
Poltekkes Kemenkes
2
8. Pathway
Bakteri salmonella thyphi
Saluran pencernaan
Usus halus
Jaringan limfoid
Lamina frofia
Kelenjar limfa mensontreia
Aliran darah
Organ (hati &limfa)
Tidak difagosit Imflamasi
Hati & limfa Endotoksin
Hepatomegali infeksi solenomegali Mual muntah lemah Proses
Merangsang ujung saraf Makan makanan lesu demam
Nyeri perabaan nafsu makan berkurang Intoleransi aktifitas b/d kelemahan
Hipertermi fisikkuman
b/d infeksi
Ketidakseimbangan nutrisi
Nyeri akut kurang dari kebutuhan
berhubungan denganproses
tubuhperadangan
berhubungan
dengan ketidakmanpuan
usus halus mengabsorbsi
makanan
Gambar 2.1 Pathway Demam Thypoid
(Suriadi & Yuliana, 2013)
Poltekkes Kemenkes
2
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian adalah hal yang penting dan mendasar dalam melakukan
asuhan keperawatan untuk hal ini dilakukan untuk mengumpulkan data
tentang anak maupun keluarganya, baik saat penderita penyakit baru
pertama kali datang maupun selama penderita dalam masa proses
perawatan (Andra dan Yessi, 2013).
Adapun hal hal yang perlu dikaji pada penderita penyakit dengan
thypoid yaitu sebagai berikut:
a. Data umum identitas klien
Penyakit demam thypoid ini banyak ditemukan pada semua
usia baik itu mulai dari umur bayi di atas satu tahun hingga umur
dewasa, di dalam data umum berisi nama klien, jenis kelamin,
alamat, agama, bahasa yang digunakan, golongan darah, asal
suku, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, asuransi, nomor
register, tanggal MRS dan diagnosa medis (Wahid, 2013).
b. Kesehatan umum
1) Keluhan utama
Keluhan utama yaitu alasan utama masuk rumah sakit
biasanya pada penderita demam thypoid keluhan utama yang
dialami berupa demam tinggi (hipertermi) yang
berkepanjangan, merasa tidak enak badan, nafsu makan
menurun, kurang bersemangat terutama pada masa inkubasi,
Poltekkes Kemenkes
2
tubuh terasa lesu, nyeri atau sakit pada kepala dan juga pusing,
serta kurang (Sodikin, 2011).
2) Riwayat penyakit sekarang
Keluhan utama dari paling awal saat dirumah dan saat
di rumah sakit pada kasus demam thypoid terjadi demam
yang berlangsung selama kurang lebih 3 minggu, bersifat
febris, dan suhunya tidak terlalu tinggi sekali. Pada minggu
pertama penderita mengalami suhu tubuh yang berangsur-
angsur baik pada setiap harinya, biasanya menurun pada pagi
hari dan meningkat lagi pada sore atau malam hari, minggu
kedua penderita berada dalam keadan demam dan minggu
ketiga, suhu tubuh berangsur turun dan berada dalam
keadaan normal kembali pada akhir minggu ketiga (Sodikin,
2011).
3) Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit dahulu yang diderita pasien, pada bagian
ini pasien ditanya apakah pernah mengalami sakit demam
thypoid yang sama atau kambuh, terdapat informasi
mengenai riwayat status kesehatan pasien.
4) Riwayat penyakit keluarga
Riwayat penyakit keluarga diperlukan data apakah pernah
terjadi penyakit demam thypoid pada anggota keluarga yang
lain yang memungkinkan terjadinya proses penularan dari
Poltekkes Kemenkes
2
angota keluarga yang lain.
c. Pola Kesehatan Sehari-hari
1) Nutrition
Penderita demam thypoid biasanya akan mengalami
penurunan dalam hal berat badan hal ini dikarenakan
penderita mengalami nafsu makan yang menurun, gejala
yang biasanya di alami yaitu seperti mual muntah serta
anorexia dan juga kemungkinan juga bisa terjadi nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh (Nugroho, 2011).
2) Elimination and Change
Pasien dengan demam thypoid sering mengalami
terjadinya masalah pencernaan salah satunya konstipasi dan
juga diare, selain itu juga untuk sistem integumen atau kulit
pada pasien biasanya akan mengalami terdapat bintik bintik
kemerahan, bintik merah ini terjadi akibat dari emboli hasil
dalam kepiler kulit yang bisa ditemukan di minggu pertama
demam, biasanya muncul pada sekitar daerah anggota gerak
dan dada punggung (Sodikin, 2011).
3) Activity/Rest
Aktivitas istirahat tidur pada pasien dengan demam
thypoid biasanya mengalami masalah kesulitan untuk dapat
istirahat tidur hal ini terjadi karena pada pasien dengan
demam thypoid mengalami peningkatan suhu tubuh yang
Poltekkes Kemenkes
2
dapat membuat pasien merasa tidak tenang atau gelisah,
pasien juga mengalami penurunan aktivitas sehingga pasien
akan merasa lemah atau untuk melakukan aktivitas (Sodikin,
2011).
4) Personal Hygiene
Pada pasien dengan demam thypoid tubuh akan merasa
lemas hal tersebut dapat menghambat dalam melakukan proses
kebersihan diri sehingga diperlukan bantuan perawat maupun
keluarga untuk perawatan (Sodikin, 2011).
d. Pemeriksaan fisik Head To Toe (data fokus)
1) Keadaan umum : Pasien lemas dan akral panas
2) Tingkat kesadaran : Penurunan kesadaran seperti apatis atau
somnollen
3) TTV : Pada Tekanan darah pada pasien demam
thypoid biasanya menuncukan angka normal yaitu berkisar
110/80-120/80 mmHg, untuk suhu tubuh akan mengalami
peningkatan hal tersebut disebabkan oleh bakteri salmonella
thypi hingga 390C-400C, untuk respirasi pada pasien bisa
mengalami peningkatan atau bisa juga tidak karena pada
pasien dengan demam thypoid bisa mengalami sesak nafas,
serta untuk nadi bisa normal/tidak tergantung dengan pasien.
4) Pemeriksaan kepala
Untuk pemeriksaan kepala meliputi inspeksi mengamati
Poltekkes Kemenkes
2
bentuk simetris dan normal, ada tidaknya lesi, palpasi biasanya
penderita demam thypoid dengan hipertermi terdapat nyeri
pada saat ditekan (Muttaqin, 2014).
5) Pemeriksaan mata
Pemeriksaan mata meliputi inspeksi terdapat konjugtiva
anemis, besar pupil isoklor serta terdapat kotoran atau tidak
melakukan palpasi apakah adanya nyeri pada saat ditekan
(Muttaqin, 2014).
6) Pemeriksaan hidung
Pemeriksaan hidung meliputi inspeksi terdapat cuping
hidung atau tidak, adakah secret, pendarahan atau tidak,
palpasi apakah adanya nyeri pada saat ditekan (Debora, 2013).
7) Pemeriksaan mulut dan Faring
Pemeriksaan mulut dan faring meliputi inspeksi terdapat
mukosa bibir pecah pecah dan kering atau tidak, ujung lidah
kotor atau bersih dan tepinya berwarna apa apakah kemerahan
(Muttaqin, 2014).
8) Pemeriksaan Thorax
Pemeriksaan pada thorax ada beberapa menurut Muttaqin
(2014)
a) Pemeriksaan paru
Inspeksi : Respirasi rate mengalami peningkatan
Palpasi : Tidak adanya nyeri tekan
Poltekkes Kemenkes
2
Perkusi : Paru sonor
Auskultasi : Tidak terdapat suara tambahan
b) Pemeriksaan jantung
Inspeksi : Bagian Ictus cordis tidak nampak/ tidaknya,
tidak adanya pembesaran
Palpasi : Ada peningkatan tekanan darah pada pasien
atau tidak didapatkan takikardi saat pasien
mengalami peningkatan suhu tubuh.
Perkusi : Suara jantung pekak
Auskultasi : Suara jantung BJ 1”LUB” dan BJ 2”DUB”
terdengar normal, tidak terdapat suara
tambahan.
c) Pemeriksaan Abdomen Inspeksi: bentuk simetris
Auskultasi : Bising usus biasanya diatas normal (5-
35x/menit)
Palpasi : Ada tidaknya nyeri tekan pada bagian
epigastrium
Perkusi : Hipertimpani
d) Pemeriksaan integument
Inspeksi : Adanya bintik-bintik kemerahan pada area
punggung dan ekstermitas, pucat, berkeringat
banyak
Palpasi : Turgor kulit, kulit kering, akral teraba hangat
Poltekkes Kemenkes
2
e) Pemeriksaan anggota gerak
Pada penderita demam thypoid pada umumnya dapat
menggerakan anggota gerak ekstermitas atas dan bawak
secara penuh (Elyas, 2013).
f) Pemeriksaan genetalia dan sekitar anus
Pasien demam thypoid bisanya mengalami gangguan
pencernaaan seperti diare atau konstipasi di sekitar anus
atau genetalia kotor atau bersih, adakah hemoroid atau
tidak, saat di palpasi terdapat nyeri tekan atau tidak
(Muttaqin, 2014).
e. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang menurut Sucipta (2015) yang sering
dilakukan untuk mendiagnosa penyakit demam thypoid terdiri dari
1) Pemeriksaan darah tepi
Pemeriksaan hematologi pada penderita demam
thypoid tidak spesifik, dapat ditemukan adanya anemia
normokromik normositer dalam beberapa minggu, anemia
terjadi akibat pengaruh dari berbagai sitokin dan mediator
sehingga terjadi depresi sumsum tulang.
2) Pemeriksaan serologis widal
Pemeriksaan yang dilakukan terhadap antigen O dan
H.S. Typhi, pemeriksaan ini memiliki sensivitas dan spesifik
rendah.
Poltekkes Kemenkes
2
3) Pemeriksaan PCR
Polymerase Chain Reaction (PCR) mengguanakan primer
H1-d yang dapat digunakan untuk mengamplifikasi gen
spesifik bakteri Salmonella Typhi, pemeriksaan ini memiliki
sensivita untuk mendeteksi bakteri dalam beberapa jam dan
pemeriksaan ini terbilang cepat dan keakuratan baik.
4) Pemeriksaan Biakan darah
Isolasi kuman pada penderita demam thypoid dapat
dilakukan dengan cara mengambil biakan dari berbagai
tempat dalam tubuh, pemeriksaan biakan darah memberikan
hasil positif 40-60% .pemeriksaan ini akan menghasilkan
senvitas yang baik pada minggu pertama selama sakit
5) Pemeriksaan Tubex
Salah satu pemeriksaan yang dapat digunakan sebagai
alternatif untuk mengetahui penyakit demam thypoid secara
lebih diniyaitu dengan cara mendeteksi antigen spesifik dari
kuman Salmonella (lipopolisakarida 09) melalui
pemeriksaan Igm anti salmonella (Tubex TF). Pada
pemeriksaan ini untuk hasil lebih spesifik, sensitif dan lebih
praktis (Hasta, 2020).
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan suatu penilian klinis mengenai
respons pasien terhadap suatu masalah kesehatan atau proses kehidupan
Poltekkes Kemenkes
2
yang didalamnya baik berlangsung aktual maupun potensial yang
bertujuan untuk mengidentifikasi respon pasien baik individu, keluarga
ataupun komunitas terhadap situasi yang berkaitan mengenai kesehatan.
Diagnosa yang biasanya muncul pada pasien demam thypoid menurut
Tim Pokja PPNI SDKI (2016) adalah sebagai berikut:
a. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit (infeksi bakteri
Salmonella thypi)
b. Resiko defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan
mencerna makanan
c. Nyeri akut berhubungan dengan proses peradangan
d. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik
3. Intervensi Keperawatan
Intervensi Keperawatan yang digunakan pada pasien Demam
thypoid menggunakan perencanaan keperawatan menurut ( SIKI ) standar
intervensi keperawatan Indonesia serta untuk tujuan dan kriteria hasil
menggunakan standar luaran keperawatan Indonesia ( SLKI ). (Tim Pokja
PNNI SLKI, 2018) .
a. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit (infeksi bakteri
Salmonella thypi)
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
pengaturan suhu tubuh pasien dapat membaik.
Kriteria hasil: Suhu tubuh membaik, takikardi dapat meningkat.
Intervensi:
Poltekkes Kemenkes
3
1) Observasi
a) Identifikasi penyebab hipertermi (mis dehidrasi, terpapar
lingkungan panas, penggunaan inkubator dll)
b) Monitor suhu tubuh
2) Terapeutik
a) Sediakan lingkungan yang dingin
b) Longgarkan atau lepaskan pakaian
c) Berikan kompres hangat pada pada dahi atau leher
3) Edukasi
Anjurkan tirah baring
4) Kolaborasi
Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena, jika perlu
b. Resiko defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna
makanan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
kemampuan saluran cerna dapat membaik
Kriteria Hasil : Mual muntah menurun, nyeri abdomen menurun.
Intervensi:
1) Observasi
Monitor asupan dan keluarannya makanan dan cairan serta
kebutuhan kalori
2) Terapeutik
a) Diskusikan perilaku makan dan jumlah aktivitas fisik
Poltekkes Kemenkes
3
(termasuk olahraga)
b) Dampingi ke kamar mandi untuk pengamatan perilaku
memuntahkan kembali makanan
3) Edukasi
Anjurkan membuat catatan harian tentang perasaan situasi pemicu
pengeluaran makanan (mis pengeluaran yang disengaja, muntah,
aktifitas berlebihan)
4) Kolaborasi
Kolaborasi dengan ahli gizi tentang target berat badan , kebutuhan
kalori dan pilihan makanan
c. Nyeri akut berhubungan dengan proses peradangan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
prose defekasi dapat membaik
Kriteria Hasil: Mual menurun, muntah menurun, nyeri abdomen
menurun
Intervensi:
1) Observasi
a) Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas,
intensitas nyeri
b) Identifikasi nyeri
2) Terapeutik
a) Berikan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi rasa nyeri
b) Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. Suhu
Poltekkes Kemenkes
3
ruangan, pencahayaan kebisingan)
3) Edukasi
a) Jelaskan strategi meredakan nyeri
b) Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri
4) Kolaborasi
Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu
d. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
toleransi aktivitas meningkat
Kriteria Hasil : Perasaan lemah menurun, dispnea setelah dan saat
aktivitas menurun
Intervensi:
1) Observasi
a) Monitor pola dan jam tidur
b) Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan
aktivitas
2) Terapeutik
Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis : cahaya,
suara, kunjungan)
3) Edukasi
a. Anjurkan tirah baring
b. Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap.
Poltekkes Kemenkes
3
4) Kolaborasi
Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan
makanan
4. Implementasi
Implementasi keperawatan atau tindakan merupakan suatu hal
tindakan yang dilaksanakan oleh perawat untuk melaksanakan kegiatan
kegiatan yang sudah di rencanakan dalam intervensi keperawatan dalam
proses keperawatan untuk pasien demam thypoid dengan gangguan
hipertermi menggunakan standar intervensi keperawatan Indonesia yaitu
manajemen Hipertermi, pengaturan suhu tubuh agar tetap berada pada
rentang normal, resiko defisit nutrisi dengan cara manajemen nutrisi, nyeri
akut dengan cara manajemen nyeri, serta untuk intoleransi aktivitas dengan
cara manajemen energi (Tim Pokja PPNI SIKI, 2018).
5. Evaluasi keperawatan
Evaluasi merupakan tahap akhir dalam proses keperawatan meliputi
penilaian yang menandakan keberhasilan dari mulai diagnosis
keperawatan rencana intervensi dan implementasinya, evaluasi digunakan
sebagai suatu hal yang dapat dijadikan perbandingan untuk status
kesehatan klien, dengan tujuan untuk melihat kemampuan klien untuk
mencapai hasil melalui proses asuhan keperawatan yang telah
dilaksanakan, sehingga perawat dapat mengambil keputusan mengenai
tindak lanjut rencana asuhan keperawatan pada klien melaukan modifikasi
rencana asuhan keperawatan ketika klien mengalami kesulitan dalam
Poltekkes Kemenkes
3
mencapai tujuan serta jika klien membutuhkan waktu yang lebih lama
dapat meneruskan rencana asuhan keperawatan (Nursalam, 2011).
Poltekkes Kemenkes