Teori Belajar dalam Pendidikan
Teori Belajar dalam Pendidikan
Disusun Oleh:
Nurridha Rahmania Yusuf (160210102061)
Elisa Octaviyanti (160210102078)
i
MAKALAH
BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
“TEORI BELAJAR”
Disusun Oleh:
ii
KATA PENGANTAR
Pujisyukur kami panjatkankehadiratTuhan Yang MahaEsaatasberkat,
rahmatdankarunia-Nyalah kami
dapatmenyelesakantugasmakalahBelajardanPembelajarandenganjudul “TeoriBelajar”
initepatpadawaktunya.
MakalahinidiajukangunamemenuhitugasmatakuliahumumBelajardanPembelajaran .Dal
amkesempatanini, penulismenyampaikan rasa terimakasihkepada :
1. Allah Swt yang senantiasamelimpahkanrahmat-Nyakepadapenulis
2. Bapak Drs. Subiki, [Link]
3. Semuapihak yang mendukungdalampenyelesaianmakalahini
Kami menyadaribahwadalampenyusunanmakalahinimemilikibanyakkekurangan,
untukitu kami mengharapkankritikdan saran yang
membangundaridosenBelajardanPembelajaransertateman-
[Link] yang
memerlukandanmemberimanfaatkepada orang lain.
Penulis,
iii
DAFTAR ISI
JUDUL ……………………………………………………………………………………..i
BAB 1 PENDAHULUAN
LAMPIRAN ………………………………………………………………………………..22
BAB 1 PENDAHULUAN
iv
Di dalam proses belajar dan mengajar sendiri ada juga berbagai kendala. Kendala
tersebut bisa berupa kondisi pembelajaran yang membosankan, siswa yang kurang
memperhatikan dan tidak mau mendengarkan penjelasan gurunya,serta anak didik yang
bandel. Bagi guru semua peristiwa tersebut adalah peistiwa yang sangat
menjengkelkan,sehingga guru menganggap kelas tersebut menjadi kelas yang bandel,sulit di
diurus dan lain sebagainya. Guru yang demikian tidak bisa dikatakan sebagai guru yang bijak
karena hal-hal yang membosankan pada proses pembelajaran dikelas dipicu oleh guru
tersebut yang tidak mampu mengkondisikan kelas senyaman mungkin bagi siswanya disaat
proses belajar dilaksanakan. Ketika mengajar guru tidak berusaha mencari informasi,apakah
materi yang telah diajarkannya telah dipahami siswa atau [Link] proses belajar dan
pembelajaran guru tidak berusaha mengajak siswa untuk [Link] terjadi hanya
pada satu arah,yaitu dari guru kesiswa. Guru berpikir bahwa materi pelajaran lebih penting
daripada mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik. Lalu guru menganggap peserta
didik sebagai tong kosong yang harus diisi dengan sesuatu yang dianggap penting. Hal-hal
demikian adalah kekeliruan guru dalam mengajar. Oleh karena itu makalah yang membahas
mengenai teori belajar ini disusun agar para pendidik mampu mengetahui dan memahami
secara teoritis perubahan perilaku peserta didik dalam proses belajar dan pembelajaran
sehingga proses belajar tersebut bisa berjaalan secara maksimal berdasarkan tujuan awal
pembelajaran itu sendiri.
v
BAB 2 PEMBAHASAN
vi
diukur. Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan
(reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan
semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka
responpun akan semakin kuat (Komara,2014:7).
Tokoh-tokoh aliran behavioristik diantaranya adalah :
[Link] Belajar Menurut Thorndike
Menurut Thorndike belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respons.
Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran,
perasaan,atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat [Link] respons yaitu
interaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran,
perasaan, atau gerakan serta tindakan.
Dari definisi belajar tersebut maka menurut Thorndike perubahan tingkah laku akibat
dari kegiatan belajar itu dapat berujud kongkrit yaitu yang dapat diamati, atau tidak kongkrit
yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behavioristik sangat mengutamakan
pengukuran ,namun ia tidak dapat menjelaskan bagimana cara mengukur tingkah laku-
tingkah laku yang tidak dapat diamati.
[Link] Belajar Menurut Watson
Menurut Watson belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respons , namun
stimulus dan respons yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati
(observabel) dan dapat diukur. Dengan kata lain, walaupun ia mengakui adanya perubahan-
perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar ,namun ia menganggap hal-hal
tersebut sebagai faktor yang tak perludiperhitungkan. Ia tetap mengakui bahwa perubahan-
perubahan mental dalam benak siswa itu penting, namun semua itu tidak dapat menjelaskan
apakah seseorang telah belajar atau belum karena tidak dapat diamati.
[Link] Belajar Menurut Clark
Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respons untuk
menjelaskan pengertian tentang belajar. Namun ia sangat terpengaruh oleh teori evolusi yang
dikembangkan oleh Charles Dawin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi , semua fungsi
tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga kelangsungan hidup [Link] sebab
itu, teori Hull megatakan bahwa kebutuhn biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah
penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus
dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang
akan muncul mungkin dapat bermacam-macam bentuknya.
[Link] Belajar Menurut Edwin Guthrie
vii
Teori Edwin Guthrie menjelaskan bahwa hubungan antara stimulus dengan respons
cenderung hanya bersifat [Link] sebab itu, dalam kegiatan belajar peserta didik
perlu sesering mungkin diberikan stimulus agar hubungan antara stimulus dan respons
bersifat [Link] juga mengemukakan, agar respons yang muncul sifatnya lebih kuat dan
bahkan menetap. Oleh karena itu diperlukan berbagai macam stimulus yang berhubungan
dengan respons tersebut.
[Link] Belajar Menurut Skinner
Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respons yang terjadi melalui interaksi
dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku. Teori
Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembanga teori belajar
[Link] dan tokoh-tokoh lain pendukung teori behavioristik memang tidak
menganjurkan digunakannya hukuman dalam kegiatan belajar. Namun apa yang mereka
sebut dengan penguat negatif (negative reinforcement) cenderung membatasi siswa untuk
bebas berpikir dan berimajinasi.
Menurut Guthrie hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar dalam
proses belajar. Namun ada beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan
Guthrie, yaitu:
1. Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku bersifat sementara
2. Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si
terhukum) bila hukuman berlangsung lama.
3. Hukuman mendorong si terhukum mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia
terbebas dari hukuman. Dengan kata lain hukuman dapat mendorong si terhukum
melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk dari pada kesalahan yang
diperbuatnya.
B. Teori Belajar Kognitif
Pengertian belajar menurut teori kognitif adalah perubahan persepsi dan pemahaman,
yang tidak selalu berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan dapat [Link] teori
ini adalah bahwa setiap orang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang telah tertata
dalam bentuk struktur kognitif yang dimilikinya. Proses belajar akan berjalan dengan baik
jika materi pelajaran atau informasi baru beradaptasi dengan struktur kognitif yang telah
dimiliki seseorang (Budiningsih,2015:51).
Dalam praktek pembelajaran, teori kognitif antara lain tampak dalam rumusan-
rumusan seperti :”Tahap-tahap perkembangan” yang dikemukakan oleh beberapa ahli :
viii
1. Teori Perkembangan Piaget
Piaget adalah seorang tokoh psikologi kognitif yang besar pengaruhnya terhadap
perkembangan pemikiran para pakar kognitif lainnya. Menurut Piaget, perkembangan
kognitif merupakan suatu proses genetic, yaitu suatu proses yang didasarkan atas mekanisme
biologis perkembangan sistem syaraf. Dengan makin bertambahnya umur seseorang, maka
makin komplekslah susunan sel syarafnya dan makin meningkat pula kemampuannya. Ketika
individu berkembang menuju kedewasaan, akan mengalami adaptasi biologis dengan
lingkungannya yang akan menyebabkan adanya perubahan-perubahan kualitatif di dalam
struktur kognitifnya. Piaget tidak melihat perkembangan kognitif sebagai sesuatu yang dapat
didefinisikan secara [Link] menyimpulkan bahwa daya pikir atau kekuatan mental
anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif.
Bagaimana seseorang memperoleh kecakapan intelektual, pada umumnya akan
berhubungan dengan proses mencari keseimbangan antara apa yang mereka rasakan dan
mereka ketahui pada satu sisi dengan apa yang mereka lihat suatu fenomena baru sebagai
pengalaman atau persoalan. Bila seseorang dalam kondisi sekarang dapat mengatasi situasi
baru, keseimbangan mereka tidak akan terganggu. Jika tidak, ia harus melakukan adaptasi
dengan lingkungannya.
Proses adaptasi mempunyai dua bentuk dan terjadi secara simultan, yaitu asimilasi
dan akomodasi. Asimilasi adalah proses perubahan apa yang dipahami sesuai dengan struktur
kognitif yang ada sekarang, sementara akomodasi adalah proses perubahan struktur kognitif
sehingga dapat dipahami. Dengan kata lain, apabila individu menerima informasi atau
pengalaman baru maka informasi tersebut akan dimodifikasi sehingga cocok dengan struktur
kognitif yang telah dipunyainya. Proses ini disebut asimilasi. Sebaliknya, apabila struktur
kognitif yang sudah dimilikinya yang harus disesuaikan dengan informasi yang diterima,
maka hal ini disebut akomodasi.
Asimilasi dan akomodasi akan terjadi apabila seseorang mengalami konflik kognitif
atau suatu ketidak seimbangan antara apa yang telah diketahui dengan apa yang dilihat atau
dialaminya sekarang. Proses ini akan mempengaruhi strutur kognitif. Menurut Piaget, proses
belajar akan terjadi jika mengikuti tahap-tahap asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi
(penyeimbangan). Proses asimilasi merupakan proses pengintegrasian atau penyatuan
informasi baru ke dalam struktur kognitif yang telah dimiliki oleh individu. Proses akomodasi
merupakan proses penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Sedangkan
proses ekuilibrasi adalah penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.
Sebagai contoh, seorang anak sudah memahami prinsip pengurangan. Ketika mempelajari
ix
prinsip pembagian, maka terjadi proses pengintegrasian antara prinsip pengurangan yang
sudah dikuasainya dengan prinsip pembagian (informasi baru). Inilah yang disebut proses
asimilasi. Jika anak tersebut diberikan soal-soal pembagian, maka situasi ini disebut
[Link], anak tersebut sudah dapat mengaplikasikan atau memakai prinsip-prinsip
pembagian dalam situasi yang baru dan spesifik.
Agar seseorang dapat terus mengembangkan dan menambah pengetahuannya
sekaligus menjaga stabilitas mental dalam dirinya, maka diperlukan proses penyeimbangan.
Proses penyeimbangan yaitu menyeimbangkan antara lingkungan luar dengan struktur
kognitif yang ada dalam dirinya. Proses inilah yang disebut ekuilibrasi. Tanpa proses
ekuilibrasi, perkembangan kognitif seseorang akan mengalami gangguan dan tidak teratur
(disorganized). Hal ini misalnya tampak pada caranya berbicara yang tidak runtut, berbelit-
belit, terputus-putus, tidak logis, dan sebagainya. Adaptasi akan terjadi jika telah terdapat
keseimbangan di dalam struktur kognitif.
Sebagaimana dijelaskan di atas, proses asimilasi dan akomodasi mempengaruhi
struktur [Link] struktur kognitif merupakan fungsi dari pengalaman, dan
kedewasaan anak terjadi melalui tahap-tahap perkembangan tertentu. Menurut Piaget, proses
belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap-tahap perkembangan sesuai dengan
umurnya. Pola dan tahap-tahap ini bersifat hirarkhis, artinya harus dilalui berdasarkan urutan
tertentu dan seseorang tidak dapat belajar sesuatu yang berada di luar tahap kognitifnya.
Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif ini menjadi empat yaitu;
a. Tahap sensorimotor (umur 0-2 tahun)
Pertumbuhan kemampuan anak tampak dari kegiatan motorik dan persepsinya yang
[Link] pokok perkembangannya berdasarkan tindakan, dan dilakukan langkah demi
langkah. Kemampuan yang dimilikinya antara lain:
1. Melihat dirinya sendiri sebagai mahkluk yang berbeda dengan obyek di sekitarnya.
2. Mencari rangsangan melalui sinar lampu dan suara.
3. Suka memperhatikan sesuatu lebih lama.
4. Mendefinisikan sesuatu dengan memanipulasinya.
5. Memperhatikan obyek sebagai hal yang tetap, lalu ingin merubah tempatnya.
x
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah pada penggunaan symbol atau bahasa
tanda, dan mulai berkembangnya konsep-konsep [Link] ini dibagi menjadi dua, yaitu
preoperasional dan intuitif.
Preoperasional (umur 2-4 tahun), anak telah mampu menggunakan bahasa dalam
mengembangkan konsepnya, walaupun masih sangat [Link] sering terjadi
kesalahan dalam memahami obyek. Karakteristik tahap ini adalah:
Tahap intuitif (umur 4-7 atau 8 tahun), anak telah dapat memperoleh pengetahuan
berdasarkan pada kesan yang agak [Link] menarik kesimpulan sering tidak
diungkapkan dengan kata-kata. Oleh sebab itu, pada usia ini anak telah dapat
mengungkapkan isi hatinya secara simbolik terutama bagi mereka yang memiliki pengalaman
yang luas. Karakteristik tahap ini adalah:
1. Anak dapat membentuk kelas-kelas atau kategori obyek, tetapi kurang disadarinya.
2. Anak mulai mengetahui hubungan secara logis terhadap hal-hal yang lebih kompleks.
3. Anak dapat melakukan sesuatu terhadap sejumlah ide.
4. Anak mampu memperoleh prinsip-prinsip secara benar.
Dia mengerti terhadap sejumlah obyek yang teratur dan cara mengelompokkannya.
Anak kekekalan masa pada usia 5 tahun, kekekalan berat pada usia 6 tahun, dan kekekalan
volume pada usia 7 tahun. Anak memahami bahwa jumlah obyek adalah tetap sama
meskipun obyek itu dikelompokkan dengan cara yang berbeda.
c. Tahap operasional konkrit (umur 7 atau 8-11 atau 12 tahun)
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mulai menggunakan
aturan-aturan yang jelas dan logis, dan ditandai adanya reversible dan kekekalan. Anak telah
memiliki kecakapan berpikir logis, akan tetapi hanya dengan benda-benda yang bersifat
konkrit. Operation adalah suatu tipe tindakan untuk memanipulasi obyek atau gambaran yang
xi
ada di dalam dirinya. Karenanya kegiatan ini memerlukan proses transformasi informasi ke
dalam dirinya sehingga tindakannya lebih efektif. Anak sudah tidak perlu coba-coba dan
membuat kesalahan, karena anak sudah dapat berpikir dengan menggunakan model
“kemungkinan” dalam melakukan kegiatan [Link] dapat menggunakan hasil yang telah
dicapai sebelumnya. Anak mampu menangani sistem klasifikasi.
Proses belajar yang dialami seorang anak pada tahap sensorimotor tentu akan berbeda
dengan proses belajar yang dialami oleh seorang anak pada tahap preoperasiaonal, dan akan
xii
berbeda pula dengan mereka yang sudah berada pada tahap operasional konkrit, bahkan
dengan mereka yang sudah berada pada tahap operasional formal. Secara umum, semakin
tinggi tahap perkembangan kognitif seseorang akan semakin teratur dan semakin abstrak cara
berpikirnya. Guru seharusnya memahami tahap-tahap perkembangan kognitif para muridnya
agar dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajarannya sesuai dengan tahap-tahap
tersebut. Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan tidak sesuai dengan kemampuan dan
karakteristik siswa tidak akan ada maknanya bagi siswa.
2. Teori Belajar Menurut Bruner
Jerome Bruner (1966) adalah seorang pengikut setia teori kognitif, khususnya dalam
studi perkembangan fungsi [Link] menandai perkembangan kognitif manusia sebagai
berikut:
xiii
menyatakan bahwa perkembangan kognitif sangat berpengaruh terhadap perkembangan
bahasa seseorang, maka Bruner menyatakan bahwa perkembangan bahasa besar pengaruhnya
terhadap perkembangan kognitif.
Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang
ditentukan oleh caranya melihat lingkungan, yaitu; enactive, iconic, dan symbolic.
xiv
Demikian juga model pemahaman konsep dari Bruner (dalam Degeng, 1989),
menjelaskan bahwa pembentukan konsep dan pemahaman konsep merupakan dua kegiatan
mengkategori yang berbeda yang menuntut proses berpikir yang berbeda pula. Seluruh
kegiatan mengkategori meliputi mengidentifikasi dan menempatkan contoh-contoh (obyek-
obyek atau peristiwa-peristiwa) ke dalam kelas dengan menggunakan dasar kriteria
[Link] pemahaman konsep, konsep-konsep sudah ada [Link] dalam
pembentukan konsep adalah sebaliknya, yaitu tindakan untuk membentuk kategori-kategori
[Link] merupakan tindakan penemuan konsep.
Menurut Bruner, kegiatan mengkategori memiliki dua komponen yaitu; 1) tindakan
pembentukan konsep, dan 2) tindakan pemahaman [Link], langkah pertama adalah
pembentukan konsep, kemudian baru pemahaman konsep. Perbedaan antara keduanya
adalah:
1. Tujuan dan tekanan dari kedua bentuk perilaku mengkategori ini berbeda.
2. Langkah-langkah dari kedua proses berpikir tidak sama.
3. Kedua proses mental membutuhkan strategi mengajar yang berbeda.
Bruner memandang bahwa suatu konsep memiliki 5 unsur, dan seseorang dikatakan
memahami suatu konsep apabila ia mengetahui semua unsur dari konsep itu, meliputi;
1. Nama.
2. Contoh-contoh baik yang positif maupun yang negatif.
3. Karakteristik, baik yang pokok maupun tidak.
4. Rentangan karakteristik
5. Kaidah.
Menurut Bruner, pembelajaran yang selama ini diberikan di sekolah lebih banyak
menekankan pada perkembangan kemampuan analisis, kurang mengembang-kan kemampuan
berpikir intuitif. Padahal berpikir intuitif sangat penting bagi mereka yang menggeluti bidang
matematika, biologi, fisika, dan sebagainya, sebab setiap disiplin mempunyai konsep-konsep,
prinsip, dan prosedur yang harus dipahami sebelum seseorang dapat belajar. Cara yang baik
untuk belajar adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk
akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (discovery learning).
4. Teori Belajar Bermakna Ausubel
xv
Teori-teori belajar yang ada selama ini masih banyak menekankan pada belajar
asosiatif atau belajar [Link] demikian tidak banyak bermakna bagi [Link]
seharusnya merupakan asimilasi yang bermakna bagi [Link] yang dipelajari
diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa dalam bentuk
struktur kognitif.
Struktur kognitif merupakan struktur organisasional yang ada dalam ingatan
seseorang yang mengintegrasikan unsur-unsur pengetahuan yang terpisah-pisah ke dalam
suatu unit [Link] kognitif banyak memusatkan perhatiannya pada konsepsi bahwa
perolehan dan retensi pengetahuan baru merupakan fungsi dari struktur kognitif yang telah
dimiliki [Link] paling awal mengemukakan konsepsi ini adalah Ausubel.
Dikatakan bahwa pengetahuan diorganisasi dalam ingatan seseorang dalam struktur
[Link] berarti bahwa pengetahuan yang lebih umum, inklusif, dan abstrak membawahi
pengetahuan yang lebih spesifik dan konkrit. Demikian juga pengetahuan yang lebih umum
dan abstrak yang diperoleh lebih dulu oleh seseorang, akan dapat memudahkan perolehan
pengetahuan baru yang lebih rinci. Gagasannya mengenai cara mengurutkan materi pelajaran
dari umum ke khusus, dari keseluruhan ke rinci yang sering disebut sebagai subsumptive
sequence menjadikan belajar lebih bermakna bagi siswa.
Advance organizers yang juga dikembangkan oleh Ausubel merupakan penerapan
konsepsi tentang struktur kognitif di dalam merancang pembelajaran. Penggunaan advance
organizers sebagai kerangka isi akan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam
mempelajari informasi baru, karena merupakan kerangka dalam bentuk abstraksi atau
ringkasan konsep-konsep dasar tentang apa yang dipelajari, dan hubungannya dengan materi
yang telah ada dalam struktur kognitif siswa. Jika ditata dengan baik, advance organizers
akan memudahkan siswa mempelajari materi pelajaran yang baru, serta hubungannya dengan
materi yang telah dipelajarinya.
Berdasarkan pada konsepsi organisasi kognitif seperti yang dikemukakan oleh
Ausubel tersebut, dikembangkanlah oleh para pakar teori kognitif suatu model yang lebih
eksplisit yang disebut dengan [Link] struktur organisasional, skemata berfungsi
untuk mengintegrasikan unsur-unsur pengetahuan yang terpisah-pisah, atau sebagai tempat
untuk mengkaitkan pengetahuan baru. Atau dapat dikatakan bahwa skemata memiliki funsi
ganda, yaitu:
xvi
1. Sebagai skema yang menggambarkan atau merepresentasikan organisasi pengetahuan.
Seseorang yang ahli dalam suatu bidang tertentu akan dapat digambarkan dalam
schemata yang dimilikinya.
2. Sebagai kerangka atau tempat untuk mengkaitkan atau mencantolkan pengetahuan baru.
xvii
a. Hirarhki belajar.
Gagne menekankan kajiannya pada aspek penataan urutan materi pelajaran dengan
memunculkan gagasan mengenai prasyarat belajar, yang dituangkan dalam suatu struktur isi
yang disebut hirarhki belajar. Keterkaitan di antara bagian-bagian bidang studi yang
dituangkan dalam bentuk prasyarat belajar, berarti bahwa pengetahuan tertentu harus dikuasai
lebih dahulu sebelum pengetahuan yang lain dapat dipelajari.
b. Analisis tugas.
Cara lain yang dipakai untuk menunjukkan keterkaitan isi bidang studi adalah
information-processing approach to task analysis. Tipe hubungan prosedural ini memerikan
urutan dalam menampilkan tugas-tugas belajar. Hubungan prosedural menunjukkan bahwa
seseorang dapat saja mempelajari langkah terahkir dari suatu prosedur pertama kali, tetapi
dalam unjuk kerja ia tidak dapat mulai dari langkah yang terahkir.
c. Subsumptive sequence.
Ausubel mengemukakan gagasannya mengenai cara membuat urutan isi pengajaran
yang dapat menjadikan pengajaran lebih bermakna bagi yang belajar. Ia menggunakan urutan
umum ke rinci atau subsumptive sequence sebagai strategi utama untuk mengorganisasi
pengajaran. Perolehan belajar dan retensi akan dapat ditingkatkan bila pengetahuan baru
diasimilasikan dengan pengetahuan yang sudah ada.
d. Kurikulum spiral.
Gagasan tentang kurikulum spiral yang dikemukakan oleh Bruner dilakukan dengan
cara mengurutkan pengajaran. Urutan pengajaran dimulai dengan mengajarkan isi pengajaran
secara umum, kemudian secara berkala kembali mengajarkan isi yang sama dengan cakupan
yang lebih rinci.
e. Teori Skema.
Teori skema juga menggunakan urutan umum ke rinci. Teori ini memandang bahwa
proses belajar sebagai perolehan pengetahuan baru dalam diri seseorang dengan cara
mengkaitkannya dengan struktur kognitif yang sudah ada. Hasil belajar sebagai hasil
pengorganisasian struktur kognitif yang baru, merupakan integrasi antara pengetahuan yang
lama dengan yang baru. Struktur kognitif yang baru ini nantinya akan menjadi assimilative
schema pada proses belajar berikutnya.
f. Webteaching.
Webteaching yang dikemukakan Norman, merupakan suatu prosedur menata urutan
isi bidang studi yang dikembangkan dengan menampilkan pentingnya peranan struktur
pengetahuan yang telah dimiliki oleh seseorang, dan struktur isi bidang studi yang akan
xviii
dipelajari. Pengetahuan baru yang akan dipelajari secara bertahap harus diintegrasikan
dengan struktur pengetahuan yang telah dimilikinya.
g. Teori Elaborasi.
Teori elaborasi mengintegrasikan sejumlah pengetahuan tentang strategi penataan isi
pelajaran yang sudah ada, untuk menciptakan model yang komprehensif tentang cara
mengorganisasi pengajaran pada tingkat makro. Teori ini mempreskripsikan cara
pengorganisasian isi bidang studi dengan mengikuti urutan umum ke rinci, dimulai dengan
menampilkan epitome (struktur isi bidang studi yang dipelajari), kemudian mengelaborasi
bagian-bagian yang ada dalam epitome secara lebih rinci.
C. Teori Belajar Konstruktivisme
Teori belajar konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan
terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan
menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut dengan bantuan fasilitasi orang
[Link] teori ini memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan
sendiri kompetensi, pengetahuan, atau teknologi dan hal lain yang diperlukan guna
mengembangkan dirinya [Link] ini berkembang dari kerja Piaget, Vygotsky, teori-teori
pemrosesan informasi, dan teori psikologi kognitif yang lain, seperti teori Bruner.
Menurut teori konstruktivis ini, satu prinsip yang paling penting dalam psikologi
pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada
[Link] harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Guru dapat
memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi kesempatan siswa untuk
menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan
secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Teori konstruktivisme juga
mempunyai pemahaman tentang belajar yang lebih menekankan pada proses daripada hasil.
Hasil belajar sebagai tujuan dinilai penting, tetapi proses yang melibatkan cara dan strategi
dalam belajar juga dinilai penting. Dalam proses belajar, hasil belajar, cara belajar, dan
strategi belajar akan mempengaruhi perkembangan tata pikir dan skema berpikir seseorang.
Sebagai upaya memperoleh pemahaman atau pengetahuan, siswa ”mengkonstruksi” atau
membangun pemahamannya terhadap fenomena yang ditemui dengan menggunakan
pengalaman, struktur kognitif, dan keyakinan yang dimiliki.
Menurut kaum konstruktivis, belajar merupakan proses aktif siswa mengkostruksi
pengetahuan. Proses tersebut dicirikan oleh beberapa hal sebagai berikut:
xix
1. Belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan siswa dari apa yang mereka
lihat, dengar, rasakan, dan alami. Konstruksi makna ini dipengaruhi oleh pengertian
yang telah ia punyai.
2. Konstruksi makna merupakan suatu proses yang berlangsung terus-menerus seumur
hidup.
3. Belajar bukan kegiatan mengumpulkan fakta melainkan lebih berorientasi pada
pengembangan berpikir dan pemikiran dengan cara membentuk pengertian yang baru.
Belajar bukanlah hasil dari perkembangan melainkan perkembangan itu sendiri. Suatu
perkembangan yang menuntun penemuan dan pengaturan kembali pemikiran
seseorang.
4. Proses belajar yang sebenarnya terjadi pada waktu skemata seseorang dalam keraguan
yang merangsang pemikiran lebih lanjut. Situasi disekuilibrium merupakan situasi
yang baik untuk belajar.
5. Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman belajar dengan dunia fisik dan lingkungan
siswa.
6. Hasil belajar siswa tergantung pada apa yang sudah diketahuinya.
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut dapat ditarik sebuah inferensi bahwa menurut teori
konstruktivisme belajar adalah proses mengkonstruksi pengetahuan dengan cara
mengabstraksi pengalaman sebagai hasil interaksi antara siswa dengan realitas baik realitas
pribadi, alam, maupun realitas sosial. Proses konstruksi pengetahuan berlangsung secara
pribadi maupun sosial. Proses ini adalah proses yang aktif dan dinamis. Beberapa faktor
seperti pengalaman, pengetahuan awal, kemampuan kognitif dan lingkungan sangat
berpengaruh dalam proses konstruksi [Link] para konstruktivis memperlihatkan
bahwa sebenarnya teori belajar konstrukvisme telah banyak mendapat pengaruh dari
psikologi kognitif, sehingga dalam batas tertentu aliran ini dapat disebut juga neokognitif.
Adapun prinsip-prinsip teori belajar konstruktivistik adalah sebagai berikut :
1. Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri.
2. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya dengan
keaktifan murid sendiri untuk menalar.
3. Murid aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan
konsep ilmiah.
4. Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan
lancar.
5. Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa.
xx
6. Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan.
7. Mencari dan menilai pendapat siswa.
8. Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.
D. Teori Humanistik
Dalam teori belajar humanistik proses belajar harus berhulu dan bermuara pada
manusia itu sendiri. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingya isi dari proses belajar,
dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam
bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam
bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti apa adanya, seperti apa yang bisa kita
amati dalam dunia keseharian.
Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami
lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar
lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini
berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut
pandang pengamatnya. Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk
mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri
mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi
yang ada dalam diri [Link] Belajar Humanistik adalah suatu teori dalam pembelajaran
yang mengedepankan bagaimana memanusiakan manusia serta peserta didik mampu
mengembangkan potensi dirinya.
Sehingga beberapa prinsip Teori belajar Humanistik:
1. Manusia mempunyai belajar alami.
2. Belajar signifikan terjadi apabila materi plajaran dirasakan murid mempuyai
relevansi dengan maksud tertentu.
3. Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya.
4. Tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasarkan bila ancaman itu
kecil.
5. Bila bancaman itu rendah terdapat pangalaman peserta didik dalam memperoleh
cara.
6. Belajar yang bermakna diperolaeh jika peserta didik melakukannya.
7. Belajar lancer jika peserta didik dilibatkan dalam proses belajar.
8. Belajar yang melibatkan peserta didik seutuhnya dapat memberi hasil yang
mendalam.
xxi
9. Kepercayaan pada diri pada peserta didik ditumbuhkan dengan membiasakan untuk
mawas diri.
10. Belajar sosial adalah belajar mengenai proses belajar.
Berikut tokoh-tokoh utama teori humanistik:
1. Carl Rogers
Rogers kurang menaruh perhatian kepada mekanisme proses belajar. Belajar dipandang
sebagai fungsi keseluruhan [Link] berpendapat bahwa belajar yang sebenarnya tidak
dapat berlangsung bila tidak ada keterlibatan intelektual maupun emosional peserta
[Link] karena itu, menurut teori belajar humanisme bahwa motifasi belajar harus
bersumber pada diri peserta didik.
Roger membedakan dua ciri belajar, yaitu: (1) belajar yang bermakna dan (2) belajar
yang tidak bermakna. Belajar yang bermakna terjadi jika dalam proses pembelajaran
melibatkan aspek pikiran dan perasaan peserta didik, dan belajar yang tidak bermakna terjadi
jika dalam proses pembelajaran melibatkan aspek pikiran akan tetapi tidak melibatkan aspek
perasaan peserta didik. Bagaimana proses belajar dapat terjadi menurut teori belajar
humanisme?.Orang belajar karena ingin mengetahui dunianya. Individu memilih sesuatu
untuk dipelajari, mengusahakan proses belajar dengan caranya sendiri, dan menilainya sendiri
tentang apakah proses belajarnya berhasil. Menurut Roger, peranan guru dalam kegiatan
belajar siswa menurut pandangan teori humanisme adalah sebagai fasilitator yang berperan
aktif dalam :
(1) membantu menciptakan suasana kelas yang kondusif agar siswa bersikap positif terhadap
belajar,
(2) membantu siswa untuk memperjelas tujuan belajarnya dan memberikan kebebasan
kepada siswa untuk belajar,
(3) membantu siswa untuk memanfaatkan dorongan dan cita-cita mereka sebagai kekuatan
pendorong belajar,
(4) menyediakan berbagai sumber belajar kepada siswa,
(5) menerima pertanyaan dan pendapat, serta perasaan dari berbagai siswa sebagaimana
adanya.
2. Arthur Combs
Combs memberikan lukisan persepsi diri dalam dunia seseorang seperti dua lingkaran
(besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu..Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari
persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi [Link] jauh peristiwa-peristiwa
xxii
itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap [Link], hal-hal yang
mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.
3. Abraham Maslow
Dalam artikel “some educational implications of the Humanistic Psychologist”
Abraham Maslow mencoba untuk mengkritisi teori Freud dan behavioristik. Menurut
Abraham, yang terpenting dalam melihat manusia adalah potensi yang dimilikinya.
Humanistik lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia daripada berfokus
pada “ketidaknormalan” atau “sakit” seperti yang dilihat oleh teori psikoanalisa Freud.
Pendekatan ini melihat kejadian setelah “sakit” tersebut sembuh, yaitu bagaimana manusia
membangun dirinya untuk melakukan hal-hal yang [Link] bertindak positif ini
yang disebut sebagai potensi manusia dan para pendidik yang beraliran humanistik biasanya
memfokuskan penganjarannya pada pembangunan kemampuan positif ini.
Kemampuan positif disini erat kaitannya dengan pengembangan emosi positif yang
terdapat dalam domain afektif, misalnya ketrampilan membangun dan menjaga relasi yang
hangat dengan orang lain, bagaimana mengajarkan kepercayaan, penerimaan, keasadaran,
memahami perasaan orang lain, kejujuran interpersonal, dan pengetahuan interpersonal
[Link] adalah meningkatkan kualitas ketrampilan interpersonal dalam kehidupan
sehari-hari.
BAB 3 PENUTUP
xxiii
dengan perspektif global untuk menyiapkan peserta didik agar mampu berperan dalam
konstalasi masyarakat global di samping berkarakter nasional amat diperlukan.
Dapat disimpulkan bahwa Belajar adalah kegiatan individu memperoleh pengetahuan,
perilaku dan ketrampilan dengan cara mengolah bahan belajar. Dalam belajar tersebut
individu menggunakan ranah-ranah kognitif, afektif, dan [Link] belajar tersebut
maka kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik makin bertambah [Link] para ahli
psikolog memberi batasan yang berbeda tentang [Link] dalam belajar juga terdapat
berbagai macam teori diantaranya adalah Teori Belajar Behavioristik, Teori Belajar Kognitif,
Teori Belajar Konstruktivistik, Teori Belajar Humanistik.
Diharapkan dalam upaya menerapkan teori-teori belajar tersebut dalam praktek-praktek
pembelajaran, pembaca dapat dengan bijaksana memadukan (elektrik) atau memilih teri yang
paling sesuai dengan tujuan dan materi belajar, karakteristik peserta belajar, serta konteks
dimana kegiatan berlangsung. Disamping itu, konsep pendidikan yang membebaskan dan
kritis perlu dijadikan acuan.
DAFTAR PUSTAKA
xxiv
Gredler, Bell, Margareth E. 1991. Belajar dan Membelajarkan (terjemahanMunandir).
Jakarta: Rajawali Pers.
LAMPIRAN
xxv
xxvi
xxvii
xxviii
xxix
xxx
xxxi