0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan7 halaman

MIXTURA

Laporan ini memberikan ringkasan tentang pembuatan mixtura sebagai bentuk sediaan cair yang mengandung lebih dari satu zat aktif. Laporan ini menjelaskan tentang bahan-bahan, cara pembuatan, penyimpanan, dan khasiat dari mixtura yang dibuat.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan7 halaman

MIXTURA

Laporan ini memberikan ringkasan tentang pembuatan mixtura sebagai bentuk sediaan cair yang mengandung lebih dari satu zat aktif. Laporan ini menjelaskan tentang bahan-bahan, cara pembuatan, penyimpanan, dan khasiat dari mixtura yang dibuat.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM FARMASETIKA II

MIXTURA

A. Nama Bentuk Sediaan: Mixtura


Nomor resep : X
Nama resep : Potio Nigra Contra Tusim
Kekuatan sediaan : Ammonii chlorid 1 gram, succus liquiritae 5 gram, Spiritus anisata
3 gram
B. Tinjauan Pustaka

Mixtura adalah larutan yang didalamnya terdapat lebih dari satu macam zat yang dapat
berupa campuran cairan dengan zat padat, cairan dengan cairan, ataupun cairan dengan
ekstrak kental. Syarat sediaan mixtura yang baik yaitu harus homogen dan tidak boleh ada
endapan (Anief, M., 2005).

Perbedaan solutiones dan mixtura adalah banyaknya zat terlarut. Pada solutio hanya terdapat
satu zat aktif atau terlarut, sedangkan mixtura mengandung lebih dari satu jenis zat aktif atau
terlarut. Apabila zat padat bersinggungan dengan suatu cairan, maka dapat terbentuk larutan.
Dengan demikian, zat padat akan terbagi secara molekuler dalam cairan tersebut. Syarat dari
mixtura adalah campuran homogen, tidak mengendap dan tercampur secara molekuler
(Syamsuni, 2006).

Molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata, oleh sebab itu penggunaan larutan
sebagai bentuk sediaan, umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki
ketelitian yang baik, jika larutan diencerkan atau dicampur. Sediaan larutan memiliki
kestabilan lebih rendah dibandingkan sediaan padat, untuk sediaan larutan yang mengandung
pelarut mudah menguap harus menggunakan wadah tertutup dan terhindar dari panas
berlebih. Untuk senyawa-senyawa yang tidak stabil dan mudah mengalami degradasi secara
titokimia, penggunaan wadah tahan cahaya perlu di pertimbangkan (Anonim, 1995).

Kelarutan suatu zat dapat dipengaruhi oleh suhu, ukuran partikel, pengadukan dan pH.
Sebagian besar zat kelarutannya bertambah apabila suhu dinaikkan. Namun, pada beberapa
zat, kelarutan akan turun apabila suhu dinaikkan, contohnya calcii hidroxydum, calcii
hidrophopis dan calcii glyceropospos. Kelarutan seuatu zat juga tergantung pada tiga faktor
yaitu luar permukaan, kecepatan difusi dan sifat fisika dan kimianya. Faktor-fakor yang harus
diperhatikan dalam pemilihan pelarut adalah toksisitas rendah, kecocokan dengan bahan-
bahan lain di dalam formula, viskositas, ekonomis dan perlu diperhatikan juga rasa, bau dan
warna. Cara mempercepat pelarutan adalah dengan pemanasan, pengadukan yang kuat dan
memperkecil ukuran partikel zat terlarut (Anief, 2007).

Contoh dari sediaan mixtura yang beredar di pasaran adalah Batugin, OBH Combi Plus®,
Vick’s Formula 44®, Boorzur Mixture, Minyak Gandapura, Potio Nigra Contra Tussim, dan
Mixtura Brometorum (Anief, M., 2005).

Keuntungan dari sediaan cair adalah cocok untuk pasien yang sukar menelan tablet, absorpsi
obat lebih cepat dibandingkan dengan sediaan oral lain dengan kelarutan kecepatan
absorpsinya larutan > emulsi > suspensi, homogenitas lebih terjamin, dosis/takaran dapat di
sesuaikan, dosis obat lebih seragam dibandingkan sediaan semi padat. Untuk emulsi dan
suspensi keseragaman dosis tergantung pada pengocokan, dan beberapa obat atau senyawa
obat dapat mengiritasi mukosa lambung, ada juga yang dirusak oleh cairan lambung bila
diberikan dalam bentuk sediaan padat. Hal ini dapat dikurangi dengan memberikan obat
dalam bentuk sediaan cair (Anief, M., 2005).

Kerugian dari sediaan cair adalah tidak dapat di buat untuk senyawa obat yang tidak stabil
dalam air, bagi obat yang rasanya pahit atau baunya tidak enak sukar di tutupi, tidak praktis,
air merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri, dan pemberian obat harus
menggunakan alat khusus atau oleh orang khusus (sediaan parenteral) (Anief, M., 2005).

C. Nama dan Isi Formula

Nama formula/ resep: Potio Nigra Contra Tussim

R/ Sol. Amm. Spir. Anis 3


Ammonii Chlorid 1
Succ. Liquiritae 5
Aquae 135
[Link].
S.t.d.d.C.l
Pro: Tn. Tanaka
Formula standar

R/ Succus Liquiritae 10
Ammonii Chlorid 6
S.A.S.A 6
Aquadest. ad 300
(Anonim, 1979).

D. Deskripsi Bahan
1. Ammonii Chlorida (NH4Cl)

- Pemerian : Hablur tidak berwarna atau serbuk hablur halus atau kasar, berwarna putih, rasa
asin dan dingin, higroskopis

- Kelarutan : Mudah larut dalam air dan gliserin, lebih mudah larut dalam air mendidih,
sedikit larut dalam etanol

- Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

- Kegunaan : Ekspektoran atau merangsang pengeluaran dahak

- Stabilitas : Pada suhu 338 derajat Celsius terurai seluruhnya membentuk ammonia dan asam
klorida (Anonim, 1979).

2. Sol. Amm. Spir. Anis (SASA)

- Pemerian : Cairan yang mula-mula tidak berwarna, lama kelamaan menjadi kuning muda.
Bau sangat kuat seperti minyak adas manis dan ammonia

- Kelarutan : Larut dalam air dingin

- Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

- kegunaan : Corigen adoris

- Stabilitas : stabil dalam wadah tertutup dan rapat (Anonim, 1995).

3. Aqua Distilata CH20

- Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa

- Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

- Kegunaan : Sebagai pelarut


- Stabilitas : menguap di suhu 100 derajat Celsius

- Kelarutan : Larut dalam alkohol dan ester (Anonim, 1979).

4. Succus Liquiritae

- Pemerian : Serbuk coklat, bau lemah khas, rasa manis khas, atau barang berbentuk
silinder/bongkahan besar, licin, agak mengkilat, berwarna hitam coklat tua

- Penyimpanan : Dalam botol atau wadah tertutup baik

- Kegunaan : Antitusive (Pereda Batuk)

- Kelarutan : Larut dalam air hangat

- Stabilitas : stabil, tidak terpengaruh suhu

- Inkompatibilitas: Dengan asam (Anonim, 1995).

E. Khasiat bentuk sediaan


Berdasarkan isi formula tersebut sediaan ini dapat digunakan sebagai obat batuk
karena mengandung Ammonii Chlorida (NH4Cl) dan Succus Liquiritae
1. Solutio Ammoniae Spirituosa Anisatae : Corrigent odoris
2. Ammonium Chlorida : Ekspektoran
3. Succus Liquiritae : Antitusif
4. Aquae : Pelarut.
F. Perhitungan dan Penimbangan Bahan
1. Sol. Amm. Spir. Anis = 3 gram = 3 mL
ρ = 0,8 g/ml
V = 2,4 ml
2. Ammonii Chlorid = 1 gram
3. Succ. Liquiritae = 5 gram (botol timbang)
4. Aquae 135 gram ≈ 135 mL
• 90 mL air panas untuk melarutkan succ. liquiritae
• 45 mL air dingin untuk melarutkan amm. chlorid
G. Alat dan Bahan

Alat:

1. Sendok sungu (1 buah) 7. Pipet tetes (1 buah)


2. Sudip (1 buah) 8. Neraca lengan (1 buah)

3. Mortar (2 buah) 9. Anak timbang (1 buah)

4. Stamper (2 buah) 10. Corong (1 buah)

5. Lap (1 buah) 11. Botol timbang (1 buah)

6. Botol (1 buah)

Bahan:

1. Solutio Ammoniae Spirituosa Anisata (S. A. S. A) 3 gram

2. Ammonii Chloridum 1 gram

3. Succus Liquiritae 5 gram

4. Aquae 135 gram

H. Langkah Kerja

Ditimbang 5 gram Succus liquiritae Ditimbang 1 gram Amonii Chlorid

Digerus dalam mortir Dimasukkan ke dalam mortir

Ditimbang air hangat/ panas 90 mL Ditambah air dingin 45 mL


sedikit demi sedikit

Dimasukkan ke dalam botol


Diaduk homogen

Dimasukkan ke dalam botol

Didinginkan

Ditambahkan SASA 3 mL ke dalam botol dengan hati-hati


Botol digojog, ditutup, dan diberi etiket putih (karena
untuk pemakaian dalam atau oral)

I. Etiket
 Etiket yang digunakan berwarna putih, karena untuk pemakaian dalam
 Beyond use date : untuk formula oral yang mengandung air tidak lebih dari 14
hari dan disimpan dalam suhu kamar

Apotek
Farmasetika
Sekip Utara, Yogyakarta
No : X Tgl: 3 Mei 2021
Nama Pasien : Tn. Tanaka
Obat : Potio Nigra Contratussim
Aturan Pakai : 3 x sehari 1 sendok makan, sesudah makan
Obat Dalam
Peringatan Simpan di Kadaluarsa Apoteker
Digojog Tempat sejuk,
sebelum kering, dan
diminum, hindarkan 17 Mei 2021
jauhkan dari sinar matahari
jangkauan
anak-anak

J. Wadah Akhir
Disimpan pada botol kaca atau botol plastik yang tertutup rapat, yaitu harus
melindungi isi terhadap masuknya bahan cair, bahan padat, uap, dan mencegah
kehilangan isi selama penyimpanan.
K. Penyimpanan
Disimpan pada suhu sejuk, kering, hindari sinar matahari langsung, dan pada wadah
yang tertutup rapat.
L. Deskripsi Hasil Akhir Sediaan
Sediaan obat yang dihasilkan berwarna coklat kehitaman berbau khas karena
penambahan S.A.S.A. saat digojog menimbulkan buih tidak terdapat garis-garis putih
(kristal putih) pada dinding botol. Dihasilkan mixtura yang homogen, tidak ada yang
mengendap dan terdispersi secara merata. Memiliki volume ±138 mL dan khasiat
untuk obat batuk.
M. Daftar Pustaka
Anief, M., 2005, Manajemen Farmasi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Anief, M., 2007, Farmasetika, UGM Press, Yogyakarta.
Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
Anonim, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.
Syamsuni, 2006, Ilmu Resep, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta.

Asisten Koreksi

Anda mungkin juga menyukai