0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan51 halaman

Pengetahuan Ibu tentang MP ASI dan Diare

Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang diare yang masih menjadi penyebab utama kematian pada balita, tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap ibu tentang pemberian MP ASI terhadap kejadian diare, serta manfaat penelitian bagi berbagai pihak."

Diunggah oleh

Iqbal Hasrimy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan51 halaman

Pengetahuan Ibu tentang MP ASI dan Diare

Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang diare yang masih menjadi penyebab utama kematian pada balita, tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap ibu tentang pemberian MP ASI terhadap kejadian diare, serta manfaat penelitian bagi berbagai pihak."

Diunggah oleh

Iqbal Hasrimy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit diare masih menjadi penyebab utama kesakitan dan
kematian pada bayi dan anak-anak. WHO (2008) menyatakan bahwa
setiap tahun 1,5 juta anak balita meninggal dunia akibat penyakit diare, hal
ini menyebabkan diare sebagai penyebab kematian terbesar kedua pada
anak balita. Di negara ASEAN, anak-anak balita mengalami rata-rata 3-4
kali kejadian diare per tahun atau hampir 15-20% waktu hidup anak
dihabiskan untuk diare (Soebagyo, 2008).
Penyakit diare di Indonesia merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat yang utama. Hal ini disebabkan karena masih
tingginya angka kesakitan diare yang menimbulkan banyak kematian
terutama pada balita. Di Indonesia dilaporkan secara keseluruhan pada
tahun 2006 diperkirakan angka kesakitan diare meningkat sebesar 423 per
1000 penduduk pada semua usia dengan jumlah kasus 10.980 penderita
dan jumlah kematian 277 balita. Pada tahun 2008, di Indonesia episode
diare pada balita berkisar 40 juta per tahun dengan kematian sebanyak
200.000-400.000 balita (Soebagyo, 2008).
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas) tahun 2013, menunjukkan
pemetaan penyakit menular yang mencolok adalah penurunan angka
period prevalence diare dari 9,0 persen tahun 2007 menjadi 3,5 persen
tahun 2013. Untuk menjadi catatan penurunan prevalensi diasumsikan
tahun 2007 pengumpulan data tidak dilakukan secara serentak, sementara
tahun 2013 pengumpulan data dilakukan bersamaan di bulan Mei-Juni.
Insiden diare balita di Indonesia adalah 6,7 persen. Lima provinsi dengan
insiden diare tertinggi adalah Aceh (10,2%), Papua (9,6%), DKI Jakarta
(8,9%), Sulawesi Selatan (8,1%), dan Banten (8,0%) sedangkan Gorontalo
(5,9%). Karakteristik diare balita tertinggi terjadi pada kelompok umur 12-
23 bulan (7,6%), laki-laki (5,5%), tinggal di daerah pedesaan (5,3%), dan
kelompok kuintil indeks kepemilikan terbawah (6,2%).

1
Bertambahnya usia bayi mengakibatkan bertambah pula kebutuhan
gizinya. Ketika bayi memasuki usia enam bulan ke atas, beberapa elemen
nutrisi seperti karbohidrat, protein dan beberapa vitamin serta mineral
yang terkandung dalam ASI atau susu formula tidak lagi mencukupi, oleh
sebab itu setelah usia enam bulan bayi perlu mulai diberi makanan
pendamping ASI (MP ASI) agar kebutuhan gizi bayi atau anak terpenuhi.
Dalam pemberian MP ASI, yang perlu diperhatikan adalah usia pemberian
MP ASI, frekuensi dalam pemberian MP ASI, porsi dalam pemberian MP
ASI, jenis MP ASI, dan cara pemberian MP ASI pada tahap awal.
Pemberian MP ASI yang tepat diharapkan tidak hanya dapat memenuhi
kebutuhan gizi bayi, namun juga merangsang keterampilan makan dan
merangsang rasa percaya diri pada bayi (Depkes RI, 2007).
Pemberian makanan pendamping ASI setelah bayi berusia enam
bulan, akan memberikan perlindungan besar pada bayi dari berbagai
macam penyakit. Hal ini disebabkan sistem imun pada bayi yang berusia
kurang dari enam bulan belum sempurna, sehingga pemberian MP ASI
dini (kurang dari enam bulan) sama saja dengan membuka pintu gerbang
masuknya berbagai jenis kuman penyakit. Belum lagi jika tidak disajikan
secara higienis. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas) tahun 2007,
menunjukkan bahwa bayi yang mendapatkan MP ASI sebelum berusia
enam bulan, lebih banyak terserang diare, sembelit, batuk-pilek, dan panas
dibandingkan bayi yang hanya mendapat ASI eksklusif dan mendapatkan
MP ASI dengan tepat waktu (usia pemberian MP ASI setelah enam bulan).
Namun tidak menutup kemungkinan juga bahwa bayi atau anak yang
usianya lebih dari enam bulan dan telah diberi makanan pendamping ASI
dengan tepat, dapat terserang diare, sembelit, batuk-pilek, dan panas.
Sebab dilihat dari berbagai faktor seperti frekuensi pemberian makanan
pendamping ASI, porsi pemberian makanan pendamping ASI, jenis
makanan pendamping ASI, dan cara pemberian makanan pendamping ASI
pada bayi ataupun anak sangat berpengaruh besar untuk terserangnya
penyakit diare dan lain-lain (Depkes RI, 2007).

2
Peran ibu dalam melakukan penatalaksanaan terhadap diare
diperlukan suatu pengetahuan, karena pengetahuan merupakan salah satu
komponen faktor predisposisi yang penting. Peningkatan pengetahuan
tidak selalu menyebabkan terjadinya perubahan sikap dan perilaku tetapi
mempunyai hubungan yang positif, yakni dengan peningkatan
pengetahuan maka terjadinya perubahan perilaku akan cepat.
(Notoatmodjo, 2003)

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah tersebut di atas
dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut, Bagaimana tingkat
pengetahuan dan sikap ibu mengenai pemberian MP ASI terhadap
kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Siborongborong Kecamatan
Siborongborong

C. Tujuan Penelitian
Mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap ibu mengenai
pemberian MP ASI terhadap kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas
Kecamatan Siborongborong, serta memberikan informasi edukasi tentang
diare.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Utara
Sebagai bahan masukan dalam membuat perencanaan kebijakan
pencegahan penyakit diare, penyusunan perencanaan kesehatan, dan
evaluasi program kesehatan khususnya dalam pencegahan penyakit
diare yang berhubungan dengan pemberian makanan pendamping ASI.
2. Bagi Puskesmas
Meningkatkan kerjasama serta komunikasi antara dokter
internship, petugas kesehatan dan masyarakat mengenai diare dan
makanan pendamping ASI serta mengoptimalkan program promosi
kesehatan Puskesmas.

3
3. Bagi Masyarakat
Memberikan informasi tentang pengetahuan dan sikap ibu
pemberian makanan pendamping ASI dengan kejadian diare, sehingga
masyarakat lebih meningkatkan kepeduliannya terhadap pentingnya
dalam pemberian makanan pendamping ASI yang tepat dan sehat pada
bayi atau anak.
4. Bagi Peneliti lain
Dapat dijadikan sebagai informasi untuk peneliti lain yang lebih
lanjut mengenai hubungan pemberian makanan pendamping ASI pada
anak usia 0-24 bulan dengan kejadian diare.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Diare
Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya
frekuensi defekasi lebih dari biasanya (>3x perhari) disertai perubahan
konsistensi tinja (menjadi cair) dengan atau tanpa darah dan atau lendir
(Suraatmaja, 2007).
Berdasarkan waktu terjadinya, diare dibagi menjadi diare akut,
diare melanjut dan diare persisten. Diare akut adalah diare yang terjadi
secara mendadak dan berlangsung kurang dari 7 hari pada bayi dan anak
yang sebelumnya sehat. Diare melanjut yaitu episode diare akut yang
melanjut hingga berlangsung selama 7-14 hari. Diare persisten adalah
episode diare yang mula-mula bersifat akut namun berlangsung selama 14
hari atau lebih (Mansjoer et al, 2000).
B. Etiologi
Penyebab infeksi utama timbulnya diare umumnya adalah
golongan virus, bakteri dan parasit. dua tipe dasar dari diare akut oleh
karena infeksi adalah non-inflamatory dan inflammatory (Subagyo dan
Santoso, 2010).
Enteropatogen menimbulkan non-inflamatory diare melalui
produksi enterotoksin oleh bakteri, destruksi sel permukaan villi oleh
virus, perlekatan oleh parasit, perlekatan dan/ atau translokasi dari bakteri.
Sebaliknya inflammatory diare biasanya disebabkan oleh bakteri yang
menginvasi usus secara langsung atau memproduksi sitotoksin (Subagyo
dan Santoso, 2010).
Tabel II.1 Penyebab diare akut pada manusia
GOLONGAN
GOLONGAN VIRUS GOLONGAN PARASIT
BAKTERI
Aeromonas Astrovirus Balantidiom coli
Bacillus cereus Calcivirus (Norovirus, Sapovirus) Blastocystis homonis
Canpilobacter jejuni Enteric adenovirus Crytosporidium parvum
Clostridium perfringens Corona virus Entamoeba histolytica
Clostridium defficile Rotavirus Giardia lamblia

5
Eschercia coli Norwalk virus Isospora belli
Plesiomonas Herpes simplek virus Strongyloides stercoralis
shigeloides
Salmonella Cytomegalovirus Trichuris trichiura
Shigella
Staphylococcus aureus
Vibrio cholera
Vibrio
parahaemolyticus
Yersinia enterocolitica

Tabel II.2 Frekuensi Enteropatogen penyebab diare pada anak usia <5 tahun

Tabel II.3 Enteropatogen pathogen penyebab diare yang tersering


berdasarkan umur

Tabel II.4 Penyebab diare non infeksi pada anak


Kesulitan makanan Neoplasma
 Neuroblastoma
 Phaeochromocytoma
 Sindroma Zollinger Ellison

6
Defek anatomis Lain-lain:
 Malrotasi  Infeksi non gastrointestinal
 Penyakit Hirchsprung  Alergi susu sapi
 Short Bowel Syndrome  Penyakit Crohn
 Atrofi mikrovilli  Defisiensi imun
 Stricture  Colitis ulserosa
 Ganguan motilitas usus
 Pellagra
Malabsorbsi Keracunan makanan
 Defesiensi disakaridase  logam berat
 Malabsorbsi glukosa dan  Mushrooms
galaktosa
 Cystic fibrosis
 Cholestosis
 Penyakit celiac
Endokrinopati
 Thyrotoksikosis
 Penyakit Addison
 Sindroma Androgenital

C. Epidemiologi
Penyakit diare kini masih merupakan salah satu penyakit utama
pada bayi dan anak di Indonesia. Diperkirakan angka kesakitan dan angka
kejadian diare di Indonesia berkisar diantara 150-430 per seribu penduduk
setahunnya atau terjadi pada 28 orang dari 100 penduduk. Pada tahun
2011, diare pada balita berkisar 28 juta dengan kematian sebanyak
150.000 -300.000 balita (Riskesdas, 2011).
D. Patofisiologi
Ada tiga mekanisme terjadinya diare cair, yaitu sekretorik,
osmotik, dan gangguan motilitas. Meskipun dapat melalui ketiga
mekanisme tersebut, diare sekretorik lebih sering ditemukan pada infeksi
saluran cerna.
E. Diare osmotik
Mukosa usus halus adalah epitel berpori, yang dapat dilalui oleh air
dan elektrolit dengan cepat untuk mempertahankan tekanan osmotik antara
lumen usus dengan cairan ekstrasel. Adanya bahan yang tidak diserap,
menyebabkan bahan intraluminal pada usus halus bagian proksimal

7
tersebut bersifat hipertoni dan menyebabkan hiperosmolaritas. Akibat
perbedaan tekanan osmose antara lumen usus dan darah maka pada
segmen usus jejunum yang bersifat permeable, air akan mengalir ke arah
jejunum, sehingga akan banyak terkumpul air dalam lumen usus. Na akan
mengikuti masuk ke dalam lumen, dengan demikian akan terkumpul
cairan intraluminal yang besar dengan kadar Na normal. Sebagian kecil
cairan ini akan dibawa kembali, akan tetapi lainnya akan tetap tinggal di
lumen oleh karena ada bahan yang tidak dapat diserap seperti Mg, glukosa,
sucrose, lactose, maltose di segmen ileum dan melebihi kemampuan
absorbsi kolon, sehingga terjadi diare. Bahan-bahan seperti karbohidrat
dan jus buah, atau bahan yang mengandung sorbitol dalam jumlah
berlebihan akan memberikan dampak yang sama (Subagyo dan Santoso,
2010).
F. Diare Sekretorik
Diare sekretorik disebabkan oleh sekresi air dan elektrolit ke dalam
usus halus yang terjadi akibat gangguan absorbi natrium oleh vilus saluran
cerna, sedangkan sekresi klorida tetap berlangsung atau meningkat.
Keadaan ini menyebabkan air dan elektrolit keluar dari tubuh sebagai tinja
cair. Diare sekretorik ditemukan diare yang disebabkan oleh infeksi
bakteri akibat rangsangan pada mukosa usus halus oleh toksin [Link] atau
V. cholera (Gaurino et al, 2008)
Tabel II.5 Perbedaan diare osmotik dan sekretorik
Osmotik Sekretorik
Volume tinja <200 ml/hari >200 ml/hari
Puasa Diare berhenti Diare berlanjut
Na+ tinja <70 mEq/L >70 mEq/L
Reduksi (+) (-)
pH tinja <5 >6

Dikenal bahan-bahan yang menstimulasi sekresi lumen yaitu


enterotoksin bakteri dan bahan kimia yang dapat menstimulasi seperti
laksansia, garam empedu bentuk dihidroxy, serta asam lemak rantai
panjang. Toksin penyebab diare ini terutama bekerja dengan cara

8
meningkatkan konsentrasi intrasel cAMP, cGMP, atau Ca++ yang
selanjutnya akan mengaktifasi protein kinase. Pengaktifan protein
kinase akan menyebabkan fosforilase membrane protein sehingga
megakibatkan perubahan saluran ion, akan menyebabkan Cl- di kripta
ke luar. Di sisi lain terjadi peningkatan pompa natrium, dan natrium
masuk ke dalam lumen usus bersama Cl- (Subagyo dan Santoso,
2010).
Proses inflamasi di usus halus dan kolon menyebakan diare
pada beberapa keadaan. Akibat kehilangan sel epitel dan kerusakan
tight junction, tekanan hidrostatik dalam pembuluh darah dan limfatik
menyebabkan air, elektrolit, mucus, protein dan seringkali sel darah
merah dan sel darah putih menumpuk dalam lumen. Biasanya diare
akibat inflamasi ini berhubungan dengan tipe diare lainnya seperti
diare osmotik dan sekretorik (Subagyo dan Santoso, 2010).
G. Diare dengan gangguan motilitas
Diare dapat juga dikaitkan dengan gangguan motilitas.
Meskipun motilitas jarang menjadi penyebab utama malabsorbsi, tetapi
perubahan motilitas mempunyai pengaruh terhadap absorbsi. Baik
peningkatan ataupun penurunan motilitas keduanya dapat
menyebabkan diare. Penurunan motilitas dapat mengakibatkan bakteri
tumbuh berlebihan sehingga menyebabkan diare. Perlambatan transit
obat-obatan atau nutrisi akan meningkatkan absorbsi, Kegagalan
motilitas usus yang berat menyebabkan statis intestinal berakibat
inflamasi, dekonjugasi garam empedu dan malabsorbsi. Diare akibat
hiperperistaltik pada anak jarang terjadi. Watery diare dapat
disebabkan karena hipermotilitas pada kasus kolon irritable pada bayi.
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus
menyerap makanan, sehingga timbul diare. Gangguan motilitas
mungkin merupakan penyebab diare pada Thyrotoksikosis,
malabsorbsi asam empedu, dan berbagai peyakit lain (Subagyo dan
Santoso, 2010).

9
H. Manifestasi Klinis
Mula-mula bayi atau anak menjadi cengeng, suhu tubuh biasanya
meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul
diare. Tinja cair dan mungkin disertai lendir dan atau darah. Pada diare
oleh karena intoleransi, anus dan daerah sekitarnya lecet karena seringnya
defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat banyaknya asam
laktat yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus selama
diare. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare dan dapat
disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau akibat
gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. Bila penderita telah
kehilangan banyak cairan dan elektrolit, maka gejala dehidrasi mulai
tampak, berat badan turun, turgor kulit berkurang, mata dan ubun - ubun
besar menjadi cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak
kering (Pusponegoro dkk, 2005).
Penderita dengan diare cair mengeluarkan tinja yang mengandung
sejumlah ion natrium, klorida dan bikarbonat. Kehilangan air dan elektrolit
ini bertambah bila ada muntah dan kehilangan air juga akan meningkat
bila ada panas. Hal ini dapat menyebabkan dehidrasi, asidosis metabolic,
dan hipokalemia. Dehidrasi merupakan keadaan yang paling berbahaya
karena dapat menyebabkan hipovolemia, kolaps kardiovaskular dan
kematian bila tidak diobati dengan tepat. Dehidrasi yang terjadi menurut
tonisistas plasma dapat berupa dehidrasi isotonic, dehidrasi hipertonik
(hipernatremik) atau dehidrasi hipotonik
Bila terdapat panas dimungkinkan karena proses peradangan atau
akibat dehidrasi. Panas badan umum terjadi pada penderita dengan
inflammatory diare. Nyeri perut yang lebih hebat dan tenesmus terjadi
pada perut bagian bawah serta rectum menunjukan terkenanya usus besar.
Mual dan muntah adalah symptom yang nonspesifik akan tetapi muntah
mungkin disebabkan oleh karena mikroorganisme yang menginfeksi
saluran cerna bagian atas seperti: enteric virus, bakteri yang memproduksi
enteroroksin, giardia, dan cryptosporidium.

10
Muntah juga sering terjadi pada non inflammatory diare. Biasanya
penderita tidak panas atu hanya subfebris, nyeri perut periumbilikal tidak
berat, watery diare, menunjukan bahwa saluran makan bagian atas yang
terkena. Oleh karena pasien immunocompromise memerlukan perhatian
khusus, informasi tentang adanya imunodefisiensi atau penyakit.
1). Diagnosis Anamnesis
Riwayat pemberian makan anak sangat penting dalam melakukan
tatalaksana anak dengan diare. Tanyakan juga hal-hal berikut:
Diare
- Frekuensi Buang Air Besar (BAB) anak
- Lamanya diare terjadi
- Apakah ada darah dan lendir pada tinja
- Apakah ada muntah
Laporan setempat mengenai Kejadian Luar Biasa (KLB) kolera
Pengobatan antibiotik yang baru diminum anak atau pengobatan lain
Gejala invaginasi (tangisan keras dan kepucatan bayi).
2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa: berat badan, suhu tubuh,
frekuensi denyut jantung dan pernapasan serta tekanan darah.
Selanjutnya perlu dicari tanda-tanda tambahan lainya: ubun-ubun besar
cekung atau tidak, mata cowong atau tidak, ada atau tidak adanya air
mata, bibir, mukosa mulut dan lidah kering atau basah.
Pernapasan yang cepat dan dalam indikasi adanya asidosis
metabolic. Bising usus yang lemah atau tidak ada bila terdapat
hipokalemia. Pemeriksaan ekstremitas perlu karena perfusi dan
capillary refill dapat menentukan derjat dehidrasi yang terjadi.
Penilaian beratnya atau derajat dehidrasi dapat ditentukan dengan cara:
objektif yaitu dengan membandingkan berat badan sebelum dan
sesudah diare (Pusponegoro, 2005).
I. Makanan Pendamping ASI
Pemberian makanan pendamping ASI (MP ASI) merupakan proses
transisi dari asupan yang semata berbasis susu menuju ke makanan yang semi

11
padat. Untuk proses ini juga dibutuhkan ketrampilan motorik oral.
Ketrampilan motorik oral berkembang dari refleks menghisap
menjadi menelan makanan yang berbentuk bukan cairan dengan
memindahkan makanan dari lidah bagian depan ke lidah bagian belakang.
Makanan pendamping ASI adalah makanan atau minuman yang mengandung
zat gizi, diberikan kepada bayi atau anak usia 6-24 bulan guna memenuhi
kebutuhan gizi selain dari ASI. Sedangkan pengertian makanan itu sendiri
adalah merupakan suatu kebutuhan pokok manusia yang dibutuhkan setiap
saat dan memerlukan pengelolaan yang baik dan benar agar bermanfaat bagi
tubuh (Irianto dan Waluyo, 2004).
Menurut WHO, yang dimaksud makanan adalah : “Food include
all substances, whether in a natural state or in a manufactured or
preparedform, wich are part of human diet.” Batasan makanan tersebut tidak
termasuk air, obat-obatan dan substansi-substansi yang diperlukan untuk
tujuan pengobatan. Makanan yang dimaksud adalah berupa asupan yang dapat
memenuhi kebutuhan akan zat gizi dalam tubuh.
Menurut Irianto dan Waluyo (2004) dalam pemberian makanan
pendamping ASI yang dikonsumsi hendaknya memenuhi kriteria bahwa
makanan tersebut layak untuk dimakan dan tidak menimbulkan penyakit, serta
makanan tersebut sehat, diantaranya :
a. Berada dalam derajat kematangan
b. Bebas dari pencemaran pada saat menyimpan makanan tersebut dan
menyajikan hingga menyuapi pada bayi atau anak
c. Bebas dari perubahan fisik, kimia yang tidak dikehendaki, sebagai akibat
dari pengaruh enzym, aktifitas mikroba, hewan pengerat, serangga, parasit
dan kerusakan-kerusakan karena tekanan, pemasakan dan pengeringan
d. Bebas dari mikroorganisme dan parasit yang menimbulkan penyakit yang
dihantarkan oleh makanan (food borne illness)
e. Harus cukup mengandung kalori dan vitamin
f. Mudah dicerna oleh alat pencernaan Selain melihat kriteria diatas, menurut
Depkes RI (2007) menyatakan bahwa pemberian makanan pendamping
ASI hendaknya melihat juga usia pemberian makanan pendamping ASI

12
pada anak, apakah pemberian makanan pendamping yang diberikan sudah
pada usia yang tepat atau tidak.
J. Usia Pemberian Makanan Pendamping ASI
Menurut Depkes RI (2007) usia pada saat pertama kali pemberian
makanan pendamping ASI pada anak yang tepat dan benar adalah setelah
anak berusia enam bulan, dengan tujuan agar anak tidak mengalami infeksi
atau gangguan pencernaan akibat virus atau bakteri. Berdasarkan usia
anak, dapat diketegorikan menjadi:
a. Pada usia enam sampai sembilan bulan
1) Memberikan makanan lumat dalam tiga kali sehari dengan takaran
yang cukup
2) Memberikan makanan selingan satu hari sekali dengan porsi kecil
3) Memperkenalkan bayi atau anak dengan beraneka ragam bahan
makanan
b. Pada usia lebih dari sembilan sampai 12 bulan
1) Memberikan makanan lunak dalam tiga kali sehari dengan takaran
yang cukup
2) Memberikan makanan selingan satu hari sekali
3) Memperkenalkan bayi atau anak dengan beraneka ragam bahan
makanan
c. Pada usia lebih dari 12 sampai 24 bulan
1) Memberikan makanan keluarga tiga kali sehari
2) Memberikan makanan selingan dua kali sehari
3) Memberikan beraneka ragam bahan makanan setiap hari.
K. Porsi pemberian makanan pendamping ASI
Menurut Depkes RI (2007) untuk tiap kali makan, dalam
pemberian porsi yang tepat adalah sebagai berikut:
a. Pada usia enam bulan, beri enam sendok makan
b. Pada usia tujuh bulan, beri tujuh sendok makan
c. Pada usia delapan bulan, beri delapan sendok makan
d. Pada usia sembilan bulan, beri sembilan sendok makan

13
e. Pada usia 10 bulan, diberi 10 sendok makan, dan usia selanjutnya porsi
pemberiannya menyesuaikan dengan usia anak
L. Jenis Makanan Pendamping ASI
Dalam pemilihan jenis makanan, biasanya diawali dengan proses
pengenalan terlebih dahulu mengenai jenis makanan yang tidak
menyebabkan alergi, umumnya yang mengandung kadar protein paling
rendah seperti serealia (beras merah atau beras putih). Khusus sayuran,
mulailah dengan yang rasanya hambar seperti kentang, kacang hijau, labu,
zucchini. Kemudian memperkenalkan makanan buah seperti alpukat,
pisang, apel dan pir.
Menurut Depkes RI (2007) jenis makanan pendamping ASI yang
baik adalah terbuat dari bahan makanan yang segar, seperti tempe,
kacangkacangan, telur ayam, hati ayam, ikan, sayur mayur dan buah-
buahan.
Jenis-jenis makanan pendamping yang tepat dan diberikan sesuai
dengan usia anak adalah sebagai berikut:
1) Makanan lumat
Makanan lumat adalah makanan yang dihancurkan, dihaluskan
atau disaring dan bentuknya lebih lembut atau halus tanpa ampas.
Biasanya makanan lumat ini diberikan saat anak berusia enam sampai
sembilan bulan. Contoh dari makanan lumat itu sendiri antara lain
berupa bubur susu, bubur sumsum, pisang saring atau dikerok, pepaya
saring dan nasi tim saring.
2) Makanan lunak
Makanan lunak adalah makanan yang dimasak dengan banyak air
atau teksturnya agak kasar dari makanan lumat. Makanan lunak ini
diberikan ketika anak usia sembilan sampai 12 bulan. Makanan ini
berupa bubur nasi, bubur ayam, nasi tim, kentang puri.
3) Makanan padat
Makanan padat adalah makanan lunak yang tidak nampak berair
dan biasanya disebut makanan keluarga. Makanan ini mulai dikenalkan

14
pada anak saat berusia 12-24 bulan. Contoh makanan padat antara lain
berupa lontong, nasi, lauk-pauk, sayur bersantan, dan buah-buahan.
M. Pemberian Makanan Pendamping ASI Terlalu Dini
Pemberian makanan pendamping asi terlalu dini diketahui bahwa
terdapat resiko infeksi yang lebih tinggi, ketika bayi belum siap menerima
makanan dapat menyebabkan berbagai macam penyakit terutama penyakit
diare, selama proses ini dibandingkan dengan masa sebelumnya dalam
kehidupan bayi. Hal ini disebabkan karena terjadi perubahan konsumsi
ASI yang bersih dan mengandung faktor anti infeksi, menjadi makanan
yang sering kali disiapkan, disimpan dan diberikan pada anak dengan cara
yang tidak higienis (Muchtadi,2004).
Menurut WHO memberi makanan tambahan terlalu cepat berbahaya
karena:
a. Seorang anak belum memerlukan makanan tambahan pada saat ini,
dan makanan tersebut dapat menggantikan ASI. Jika makanan
diberikan, maka anak akan minum ASI lebih sedikit dan ibu pun
memproduksinya lebih sedikit, sehingga akan lebih sulit memenuhi
kebutuhan nutrisi anak.
b. Anak mendapat faktor pelindung dari ASI lebih sedikit, sehingga
resiko infeksi meningkat.
c. Resiko diare juga meningkat karena makanan tambahan tidak sebersih
ASI.
d. Makanan yang diberikan sering encer, buburnya berkuah atau berupa
sup karena mudah dimakan oleh bayi. Makanan ini membuat lambung
penuh, tetapi memberi nutrisi lebih sedikit daripada ASI, sehingga
kebutuhan anak tidak terpenuhi.
e. Ibu mempunyai resiko lebih tinggi untuk hamil kembali jika jarang
menyusui.
N.   Sikap (Attitude)
Menurut Saifuddin Azwar, 2002. Sikap merupakan reaksi atau
respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau

15
obyek. Beberapa batasan lain tentang sikap ini dapat dikutipkan sebagai
berikut :
Batasan-batasan di atas dapat disimpulkan bahwa manifestasi sikap
itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih
dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan
konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam
kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap
stimulus sosial. Newcomb dalam S Azwar, 2002 salah seorang ahli
psikologi sosial, menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau
kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksana motif
tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan
tetapi adalah merupakan pre-disposisi tindakan suatu perilaku. Sikap itu 
masih merupakan reaksi tertutup, bukan reaksi terbuka tau tingkah laku
yang terbuka. Sikap ini memiliki 3 komponen pokok yaitu :
a. Kepercayaan (keyakinan), ide, konsep terhadap suatu obyek.
b. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap obyek.
c. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave).
Ketiga komponen ini secara bersamaan membentuk sikap yang utuh
(total attitude).
Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, berpikir, keyakinan,
dan emosional memegang peranan penting. Menurut Saifuddin (2005)
bahwa sikap juga dipengaruhi oleh faktor eksteren dan intern salah
satunya pengalaman. Apa yang telah dan sedang kita alami akan ikut
membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus.
Pendapat Azwar, 2002 menyatakan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi sikap dari adanya interaksi sosial yang dialami oleh
individu yaitu :
a. Pengalaman pribadi
Apa yang telah dan sedang dialami seseorang akan ikut
membentuk dan mempengaruhi penghayatan terhadap suatu stimulus
sosial. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap,
untuk mempunyai tanggapan dan penghayatan, seseorang harus

16
mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan obyek psikologi. Apakah
penghayatan itu kemudian akan membentuk sikap yang positip atau yang
negatip, akan tergantung pada berbagai faktor lain.
b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Orang lain merupakan salah satu diantara komponen sosial yang
ikut mempengaruhi sikap seseorang. Pada umumnya individu cenderung
untuk memiliki sikap yang konformis atau searah dengan sikap orang
yang dianggap penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh
keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindar konflik
dengan orang lain yang dianggap penting.
c. Pengaruh kebudayaan
Kebudayaan dimana seseorang hidup dan dibesarkan mempunyai
pengaruh besar terhadap pembentukan sikap seseorang
d. Media massa
Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti
televisi, radio, surat kabar, majalah dan lain-lain mempunyai pengaruh
besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan seseorang. Adanya
informasi mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi
terbentuknya sikap terhadap hal tersebut, apabila cukup kuat, akan
memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah
kecenderungan untuk bertindak. (konoatif).
e. Lembaga pendidikan dan lembaga agama
Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem
mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap, dikarenakan keduanya
meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu.
f. Pengaruh faktor emosional
Suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh
emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau
pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.
Dari teori sikap ada yang dinamakan pernyataan yang ditulis
mengikuti kaidah yang benar melalui penskalaan dan seleksi item, akan
menjadi isi suatu skala sikap. Pernyataan sikap mungkin berisi atau

17
mengatakan hal-hal yang positif mengenai objek sikap, yaitu
kalimatnya bersifat mendukung atau memihak pada objek sikap.
Pernyataan seperti ini disebut sebagai pernyataan yang favorable.
Sebaliknya, pernyataan sikap mungkin pula berisi hal-hal yang negatif
mengenai objek sikap, yaitu yang bersifat tidak mendukung ataupun kontra
terhadap objek sikap yang hendak diungkapkan. Pernyataan seperti ini
disebut sebagai pernyataan yang unfavorable. Suatu skala sikap sedapat
mungkin diusahakan agar terdiri atas pernyataan favorable dan pernyataan
unfavorable dalam jumlah yang kurang lebih seimbang. Dengan demikian
pernyataan yang disajikan tidak semua positif atau semua negatif yang dapat
mendatangkan kesan seakan-akan isi skala yang bersangkutan seluruhnya
memihak atau sebaliknya seluruhnya tidak mendukung objek sikap. Variasi
pernyataan favorable dan unfavorable akan membuat responden memikir
lebih hati-hati isi pernyataannya sebelumnya memberikan respon sehingga
stereotipe responden dalam menjawab dapat dihindari (Azwar, 2002).
O. Pengetahuan (Knowledge)   
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi
setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu.
Pengindraan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau
kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya
tindakan seseorang (overt behavior). Adapun tingkat pengetahuan di dalam
demain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yakni :
1) Tahu (Know)
Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat
kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari
atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu merupakan tingkat
pengetahuan yang paling rendah.

18
2) Comprehention (memahami)
Diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara
benar tentang obyek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan materi
tersebut secara benar.
3) Aplikasi
Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).  
4) Analisis
Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke
dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi
tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5) Sintesis
Ini menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang
baru.
6) Evaluasi
Ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau obyek.
Menurut Green dalam Notoatmodjo, 1997. Pengetahuan ini berpengaruh
terhadap sikap seseorang sesuai dengan pemikirannya, jika positif akan
menimbulkan sikap positif demikian juga sebaliknya, pada hakikatnya
pengetahuan merupakan semua yang diketahui manusia tentang objek
tertentu. Menurut Sarwono, 1993 yang menyatakan bahwa pengetahuan
seseorang akan bertambah dengan diperolehnya informasi-informasi tertentu
sehingga akan terjadi peningkatan pengetahuan. Dengan peningkatan
pengetahuan tersebut maka akan terjadi peningkatan sikap kesehatan dalam
diri individu yang berdasarkan kesadaran dan kemauan individu.
Tingkat pengetahuan menurut (Arikunto S, 2006) yaitu :
Baik jika diperoleh skor pengetahuan >80%
Cukup jika diperoleh skor pengetahuan 60%-<80%
Kurang jika diperoleh skor pengetahuan <60%

19
P. Kerangka Teori

Ibu yang mengasuh Balita

Faktor Pengetahuan dan Sikap Faktor MP ASI


Faktor Pengetahuan - Umur pemberian MP ASI
Tahu (Know) - Frekuensi pemberian MP ASI
Comprehention (memahami) - Porsi pemberian MP ASI
Aplikasi - Jenis MP ASI
Analisis - Cara pemberian MP ASI
Sintesis
Evaluasi
Faktor Sikap
Kepercayaan, ide , konsep terhadap suatu
obyek.
Kehidupan emosional atau evaluasi
terhadap obyek.
Kecenderungan untuk bertindak (tend to
behave).

Anak usia 0-24 Bulan

Kejadian Diare

Bagan II. 1 Kerangka Teori

20
Q. Kerangka Konsep

Variabel Bebas Variabel Terikat


Faktor Pengetahuan dan Kejadian diare (anak usia
Sikap 0-24 bulan)

Bagan II.2 Bagan Kerangka Konsep

R. Hipotesis
Terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan dan sikap ibu
mengenai pemberian makanan pendamping ASI dengan kejadian diare di
wilayah kerja Puskesmas Siborongborong Kecamatan Siborongborong
Kabupaten Tapanuli Utara.

21
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian survei bersifat deskriptif analitik
dengan rancangan cross sectional (Notoatmodjo, 2003) yaitu untuk
mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap ibu dengan pemberian
MP-ASI terhadap kejadian diare. Data yang diperoleh dari kuesioner
yang diberikan pada ibu-ibu yang memiliki balita.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian mini project ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas
Siborongborong, Kecamatan Siborongborong. Penelitian ini dilakukan
pada bulan Mei 2022.
C. Populasi dan Sampel Penelitian
a. Populasi Target
Populasi target penelitian adalah ibu yang memiliki balita 0-24
bulan di Kecamatan Siborongborong.
b. Sampel Penelitian
Sampel penelitian adalah semua balita pada populasi terjangkau
yang memenuhi kriteria pada penelitian ini.
c. Besar Sampel Penelitian
Sampel terdiri dari bagian populasi terjangkau yang dapat
dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling. Dalam
penelitian ini teknik pengambilan sampel menggunakan purposive
sample adalah suatu teknik penetapan sampel dengan cara memilih
sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki peneliti
(jumlah/masalah dalam penelitian), sehingga sampel tersebut dan
mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya. Untuk
menentukan besarnya sempel peneliti melihat dari besarnya populasi
apabila jumlah populasi < 100 responden, maka semua dijadikan
sampel dan apabila populasi > 100 responden maka dapat diambil 10-
15 % atau 20-25% dari jumlah populasi tersebut. Wilayah kerja

22
Puskesmas Siborongborong memiliki jumlah batita 68, sehingga
diambil total sample yaitu keseluruhan populasi yang menjadi 68
sample (Arikunto,2006).
D. Variabel Penelitian
a. Variabel bebas (independen) Variabel bebas dalam penelitian ini
yaitu Tingkat pengetahuan dan sikap ibu dalam pemberian makanan
pendamping ASI.
b. Variabel tergantung (dependen) dalam penelitian ini adalah kejadian
diare pada anak usia 0-24 bulan di wilayah kerja Puskesmas
Siborongborong.
E. Batasan Operasional
1. Tingkat pengetahuan mengenai Makanan Pendamping ASI pada
subjek dinilai berdasarkan kuesioner yang terdiri dari lima pernyataan
dengan pilihan jawaban ya dan tidak.
 Baik jika diperoleh skor pengetahuan >80%
 Cukup jika diperoleh skor pengetahuan 60%-<80%
 Kurang jika diperoleh skor pengetahuan <60%
2. Sikap mengenai Makanan Pendamping ASI pada subjek dinilai
berdasarkan kuesioner yang terdiri dari lima pernyataan dengan pilihan
jawaban sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak
setuju
 Baik jika diperoleh skor sikap >80%
 Cukup jika diperoleh skor sikap 60%-<80%
 Kurang jika diperoleh skor sikap <60%
F. Alur Penelitian
Ibu yang memiliki bayi usia 0-24 bulan diwilayah kerja Puskesmas
Siborongborong

Sesuai dengan kriteria sampel penelitian

Pengisian kuesioner dengan dipandu oleh peneliti

Pencatatan data penelitian

23
Pengolahan data

Pelaporan hasil penelitian

Gambar Alur penelitian


G. Pengumpulan Data
1. Data Primer
Data primer yaitu data yang diperoleh melalui wawancara dan kuesioner
secara langsung dengan responden untuk mengetahui pengetahuan dan
praktek tentang cara pemberian makanan pendamping asi yang diisi
oleh ibu yang memiliki bayi usia 0-24 bulan dengan bentuk kuesioner
tertutup, yaitu dengan kuesioner alternatif jawaban yang sudah
disediakan oleh peneliti dan responden hanya perlu memberi tanda
pada lembar jawaban yang telah tersedia.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data semua bayi berusia 0-24 bulan yang berada di
wilayah kerja Puskesmas Siborongborong dan diberikan makanan
pendamping ASI.
H. Metode Pengolahan, Penyajian dan Teknik Analisis Data
1). Pengolahan Data
Setelah data terkumpul dari lembar kuesioner yang ada maka
dilakukan pengolahan data. Pengolahan data menggunakan program
komputer tersebut dengan tahap-tahap sebagai berikut:
a. Editing
Yaitu kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian formulir atau
kuesioner. Hasil wawancara atau pengamatan dari lapangan harus
dilakukan penyuntingan terlebih dahulu.
b. Coding
Setelah semua kuesioner diedit atau disunting, selanjutnya
dilakukan peng”kode”an atau “Coding”, yakni mengubah data
berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan.

24
c. Processing
Data dari jawaban masing-masing responden dalam bentuk “Code”
dimasukkan kedalam program atau “Software” computer yaitu
paket program SPSS for windows.
d. Cleaning
Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden
dimasukkan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan–
kemungkinan adanya kesalahan kode, ketidaklengkapan kemudian
dilakukan pembetulan atau koreksi.
2). Analisis Data
Data yang telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan
program SPSS yang meliputi:
a. Analisis Univariat
Analisis univariat (analisis persentase) dilakukan untuk
menggambarkan distribusi frekuensi masing-masing, baik variabel
bebas (independen), variabel terikat (dependen) maupun deskripsi
karakteristik.
b. Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan antara
masing-masing variabel bebas dengan variabel tergantung disertai uji
kemaknaan statistik dengan uji Chi Square (Kai Kuadrat) dengan
tingkat kepercayaan 95%. Uji Chi Square menggunakan data kategori
(nominal dan ordinal), data tersebut diperoleh dari hasil menghitung.
Keputusan Uji Chi Square, Ho ditolak apabila p < α (0,05), artinya
ada hubungan bermakna antara variabel dependen dengan variabel
independen. Ho gagal ditolak apabila p > α, artinya tidak ada
hubungan bermakna antara variabel dependen dengan variabel
independen.

25
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN
1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di puskesmas Siborongborong yang
merupakan sebuah kecamatan diwilayah kabupaten Tapanuli Utara
Provinsi Sumatera Utara Negara Indonesia. Ibu kota kecamatan
Siborongborong berada di kelurahan Pasar Siborongborong. Penduduk
kecamatan ini berjumlah 50.641 jiwa (2020), dengan luas wilayah
279,91 km², dan kepadatan penduduk 181 jiwa/km2.. Bandar Udara
Internasional Silangit, berada di kecamatan ini, yang merupakan pintu
masuk terdekat melalui udara ke kawasan wisata Danau Toba.
Gambaran Demografi penduduk kabupaten Tapanuli Utara
pada umumnya merupakan etnis Batak Toba, dan ada juga
sebahagian Batak Angkola, Batak Simalungun, dan beberapa
pendatang seperti Jawa, Minangkabau, Tionghoa dan Nias.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik kabupaten Tapanuli Utara
mencatat bahwa 97,34% penduduk kecamatan Siborongborong
memeluk agama Kristen, dimana Protestan 91,66% dan Katolik 5,68%.
Kemudian yang memeluk agama Islam berjumlah
2,04%, Buddha 0,13% dan lainnya 0,49%. Untuk sarana rumah ibadah,
terdapat 155 bangunan gereja Protestan, 12 bangunan gereja Katolik, 1
bangunan masjid dan 1 bangunan musholah.
Batas-batas wilayah dengan kecamatan Siborongborong
ialah;
1. Sebelah Utara: Kecataman Lintong Nihuta, Paranginan, Kabupaten
Humbang Hasundutan
2. Sebelah Selatan: Kecamatan Sipoholon
3. Sebelah Barat: Kecamatan Pagaran
4. Sebelah Timur: Kecamatan Sipahutar dan Kabupaten Toba.

26
B. Hasil Analisis Univariat
1. Umur
Responden dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki
bayi usia 0-24 Bulan diwilayah kerja Puskesmas Siborongborong.
Tabel IV.5 Distribusi Responden Berdasarkan Umur di Wilayah Kerja
Puskesmas Siborongborong.
No Umur Jumlah %
1 16-20 11 16,2
2 21-25 26 38,2
3 26-30 13 19,1
4 31-35 11 16,2
5 36-40 5 7,4
6 >40 2 2,9
Total 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan hasil penelitian, umur responden yang terlihat pada
tabel menunjukkan bahwa pada umumnya responden berumur 16-20 tahun 11
orang (16,2 %), umur 21-25 tahun 26 orang (38,2 %), umur 26-30 tahun 13 orang
(19,1%), umur 31-35 tahun 11 orang (16,2%), umur 36-40 tahun 5 orang (7,4%),
dan umur >40 tahun 2 orang (2,9%). Umur 21-25 menjadi golongan umur yang
paling banyak 26 orang (38,2 %), dan umur responden paling sedikit adalah >40
tahun 2 orang (2,9%).
2. Suku
Berdasarkan data penelitian yang diperoleh, suku responden dapat
dilihat pada tabel berikut
Tabel IV.6 Distribusi Responden Berdasarkan Suku di Wilayah Kerja
Puskesmas Siborongborong.
No Suku Jumlah %
1 Batak Toba 50 100
Batak Angkola 25
Batak Simalungun 25
Total 100
Sumber : Data Primer

27
Dari 68 responden yang diteliti, suku paling banyak adalah suku
Batak yaitu (100%).
3. Agama
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui agama
yang dianut oleh responden dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel IV.7. Distribusi Responden Berdasarkan Agama di Wilayah Kerja


Puskesmas Siborongborong.
No Suku Jumlah %
1 Kristen 68 100
Total 100
Sumber : Data Primer

Tabel IV.7 menunjukkan bahwa umumnya ibu yang menjadi


responden beragama Kristen yakni 68 orang (100%).

4. Pendidikan Terakhir
Untuk mengetahui pendidikan terakhir responden dapat dilihat
pada tabel berikut.
Tabel IV.8 Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir di
Wilayah Kerja Puskesmas Siborongborong
No Pendidikan Jumlah %
1 Tidak Lulus SD 6 8.8
2 SD 31 45.6
3 SMP 11 16.2
4 SMA 16 23.5
5 D3/S1 4 5.9
Total 100
Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel menunjukkan bahwa pendidikan terakhir responden


Tidak Lulus SD sebanyak 6 orang (8.8%), Lulus SD sebanyak 31 orang (45.6%),
Lulus SMP sebanyak 11 orang (16.2%), Lulus SMA sebanyak 16 orang (23.5%),
dan Lulus D3/S1 sebanyak 4 orang (5.9%). Yang terbanyak adalah Lulus SD

28
yakni sebanyak 31 orang (45.6%) dan yang paling sedikit adalah D3/S1 yaitu
sebanyak 4 orang (5.9%).

5. Pekerjaan
Berdasarkan data penelitian pekerjaan responden dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel IV.9 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan di Wilayah Kerja
Puskesmas Siborongborong
No Pekerjaan Jumlah %
1 Petani 2 2.9
2 Ibu Rumah Tangga 60 88.2
3 Pedagang 3 4.4
4 Karyawan Swasta 1 1.5
5 Guru/ Honorer 1 1.5
6 PNS 1 1.5
Total 100
Sumber : Data Primer

Tabel IV.9 menunjukkan bahwa pekerjaan responden yang menjadi ibu


rumah tangga yakni 60 orang (88.2%), pekerjaan sebagai pedagang yakni 3 orang
(4.4%), sebagai guru yakni 1 orang (2.9%), sebagai petani yakni 2 orang (1.5%),
dan sebagai PNS yakni 1 orang (1.5%).

6. Penghasilan Keluarga
Untuk mengetahui pendapatan keluarga responden dapat dilihat pada tabel
berikut:
Tabel IV.10 Distribusi Responden Berdasarkan Pendapatan Keluarga di
Wilayah Kerja Puskesmas Siborongborong
No Penghasilan Jumlah %
1 Rp. <750.000 25 36.8
2 Rp. 750.000-1.500.000 12 17.7
3 Rp. >1.500.000-3.000.000 6 8.8
4 Rp. >3.000.000 2 2.9
5 Tidak Tentu 23 33.8
Total 100
Sumber : Data Primer

29
Berdasarkan penelitian, pendapatan keluarga yang ditunjukkan pada tabel
4.11 di atas, diketahui bahwa sebagian besar pendapatan keluarga responden ≤
Rp. 750.000 sebanyak 25 orang (36.8%), Rp.750.000 – Rp.1.500.000 sebanyak
12 orang (17.7%), Rp.1.500.000 – Rp. 3.000.000 sebanyak 6 orang (8.8%), >Rp.
3.000.000 sebanyak 2 orang (2.9%), dan tidak tentu sebanyak 23 orang (33.8%).
7. Pendidikan Terakhir Suami (Ayah Bayi)
Untuk mengetahui pendidikan terakhir responden dapat dilihat pada
tabel berikut.
Tabel IV.10 Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir di
Wilayah Kerja Puskesmas Siborongborong
No Pendidikan Jumlah %
1 Tidak Sekolah 1 1.5
2 Tidak Lulus SD 9 13.2
3 SD 24 35.3
4 SMP 19 27.9
5 SMA 14 20.6
6 D3/S1 1 1.5
Total

Berdasarkan tabel IV.10 menunjukkan bahwa pendidikan terakhir


responden Tidak Sekolah sebanyak 1 orang (1.5 %), Tidak Lulus SD sebanyak 9
orang (13.2%), Lulus SD sebanyak 24 orang (35.3%), Lulus SMP sebanyak 19
orang (27.9%), Lulus SMA sebanyak 14 orang (20.6%), dan Lulus D3/S1
sebanyak 1 orang (1.5%). Yang terbanyak adalah tamat SD yakni sebanyak 24
orang (35.3%) dan yang paling sedikit adalah tidak sekolah dan D3/S1 yaitu
sebanyak masing-masing 1 orang (1.5%).
8. Pekerjaan Suami (Ayah Bayi)
Berdasarkan data penelitian pekerjaan suami responden dapat
dilihat pada tabel berikut.
Tabel IV.11 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Suami di
Wilayah Kerja Puskesmas Siborongborong
No Pekerjaan Jumlah %

30
1 Buruh/Pembantu 13 19.1
2 Karyawan Swasta 10 14.7
3 Pedagang 7 10.3
4 Petani 22 32.4
5 PNS 2 2.9
6 Supir 8 11.8
7 Wiraswasta 6 8.8
Total 100
Sumber : Data Primer

Tabel IV.11 menunjukkan bahwa suami dari responden pekerjaannya


adalah Petani yakni sebanyak 22 orang (32.4%), Buruh/Pembantu yakni sebanyak
13 orang (19.1%), Karyawan Swasta yakni sebanyak 10 orang (14.7%), Pedagang
yakni sebanyak 7 orang (10.3%), Supir yakni sebanyak 8 orang (11.8%),
Wiraswasta yakni sebanyak 6 orang (8.8%),dan PNS yakni sebanyak 2 orang
(2.9%).
9. Jumlah Anak
Berdasarkan data penelitian jumlah anak responden dapat dilihat
pada tabel berikut.
Tabel IV.12 Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Anak di Wilayah
Kerja Puskesmas Siborongborong
No Jumlah Anak Jumlah %
1 1 31 45.6
2 2 16 23.5
3 3 15 22.1
4 4 5 7.4
5 5 1 1.5
Total 100
Sumber : Data Primer

Tabel IV.12 menunjukkan bahwa jumlah anak dari responden dengan


jumlah 1 anak yakni 31 orang (45.6%), jumlah 2 anak yakni 16 orang (23.5%),
jumlah 3 anak yakni 15 orang (22.1%), jumlah 4 anak yakni 5 orang (7.4%),

31
jumlah 5 anak yakni 1 orang (1.5%). Yang paling banyak adalah 1 orang yakni
sebanyak 31 orang (45.6%) dan yang paling sedikit jumlah anak 5 orang yakni
sebanyak 1 orang responden (1.5%).

10. Karakteristik Umur Bayi (0-24 bulan)


Dari data yang diperoleh umur bayi (0-24) bulan dapat dilihat pada
tabel berikut.
Tabel IV.13 Distribusi Responden Berdasarkan Umur Bayi di Wilayah Kerja
Puskesmas Siborongborong
No Usia Bayi Jumlah %
1 0-6 32 47.1
2 >6-9 9 13.2
3 >9-12 7 10.3
4 >12-24 20 29.4
Total 100
Sumber : Data Primer

Tabel IV.13 menunjukkan bahwa umur bayi dari responden adalah 0-6
bulan orang ( %), >6-9 bulan orang ( %), >9-12 bulan orang ( %), >12-24 bulan
orang ( %).
11. Diare Bayi
Diare bayi berdasarkan 1 tahun terakhir mengalami diare
Tabel IV.14. Distribusi Responden Berdasarkan Kejadian Diare Bayi Dalam
Satu Tahun Terakhir di Wilayah Kerja Puskesmas Siborongborong
No Diare Jumlah %
1 Ya 43 63.2
2 Tidak 25 36.8
Total 100
Sumber : Data Primer

Tabel IV.14 menunjukkan bahwa bayi yang mengalami diare satu tahun
terakir dari responden yaitu Diare 43 orang (63.2%), Tidak Diare 25 orang
(36.8%).

32
12. Jumlah Diare
Banyaknya Jumlah diare dalam satu tahun terakhir yang mengalami diare
Tabel IV.15 Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Diare Bayi Dalam
Satu Tahun Terakhir di Wilayah Kerja Puskesmas Siborongborong.
No Jumlah Diare Jumlah %
1 0 24 35.3
2 1 31 45.6
3 2 10 14.7
4 3 2 2.9
5 4 1 1.5
Total
Sumber : Data Primer

Tabel IV.15 menunjukkan bahwa bayi yang tidak pernah mengalami diare
dalam satu tahun terakhir yaitu 24 orang (35.3%), satu kali diare sebanyak 31
orang (45.6%), dua kali diare sebanyak 10 orang (14.7%), tiga kali diare sebanyak
2 orang (2.9%), empat kali diare sebanyak 1 orang (1.5%).
13. Pengetahuan Responden Tentang MP-ASI
Pengetahuan responden tentang MP-ASI dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel IV.16 Distibusi Berdasarkan Pengetahuan Ibu tentang MP-ASI di
Wilayah Kerja Puskesmas Siborongborong
No Pertanyaan Jumlah %
1 Ibu tahu tentang pengertian makanan
pendamping ASI 14 20.6

Benar 54 79.4

Salah
2 Umur sebaiknya diberikan makanan pendamping
ASI 51 75.0

Benar 17 25.0

Salah
3 Jenis makanan yang pertamakali diberikan
kepada bayi usia >6 bulan 65 95.6

Benar 3 4.4

33
Salah
4 Mengapa bayi perlu diberi makanan tambahan
Benar 51 75.0

Salah 17 25.0

5 Pengaruh pemberian makanan bayi sebelum usia


6 bulan terhadap kesehatan bayi
40 58.8
Benar
28 41.2
Salah
Sumber : Data Primer

Berdasarkan penelitian di atas dapat lihat pengetahuan mengenai


pengertian responden tentang MP-ASI sebanyak 54 orang (79.4%) sudah
mengetahui dengan benar. Pengetahuan tentang umur sebaiknya pemberian
makanan pendamping ASI sebanyak 51 orang (75.0%) menjawab benar.
Pengetahuan tentang jenis makanan pertamakali diberikan kepada bayi > 6 bulan
sebanyak 65 orang (95.6%) menjawab dengan benar. Untuk pengetahuan
mengapa bayi perlu diberi makanan sebanyak 51 orang (75.0%) menjawab dengan
benar. Pengetahuan tentang pengaruhnya pemberian makanan bayi sebelum usia 6
bulan terhadap kesehatan bayi sebanyak 40 orang (58.8%) yang menjawab
jawaban yang benar.
Berdasarkan data di atas, maka secara kategori pengetahuan responden
dapat dikelompokkan, dimana masing-masing kategori dapat dilihat pada tabel
berikut :
Tabel IV.17 Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Pengetahuan di
Wilayah Kerja Puskesmas Siborongborong
No Kategori Pengetahuan Jumlah Presentase (%)
1 Baik 29 42.7
2 Sedang 26 38.2
3 Kurang 13 19.1
Total 100
Sumber : Data Primer

34
Berdasarkan penelitian di atas dapat dilihat bahwa tingkat kategori
responden pengetahuan yang baik sebanyak 29 orang (42.7%), sedangkan yang
kategori sedang sebanyak 26 orang (38.2%) responden memiliki pengetahuan
pada tingkat sedang dan sebanyak 13 orang (19.1%) responden memiliki tingkat
pengetahuan yang kurang.
14. Sikap Ibu Tentang MP-ASI
Sikap responden tentang MP-ASI dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel IV.18 Distribusi Berdasarkan Sikap Ibu tentang MP-ASI di Wilayah
Kerja Puskesmas Siborongborong
No Pertanyaan Jumlah (%)
1 Bayi berusia 4 bulan memerlukan makanan
khusus 11 16.2

a. Sangat Setuju 16 23.5

b. Setuju 11 16.2

c. Ragu-Ragu 27 39.7

d. Tidak Setuju 3 4.4

e. Sangat Tidak Setuju


2 Pada bayi berusia > 6 bulan baru boleh diberikan
makanan tambahan
22 32.4
a. Sangat Setuju
41 60.3
b. Setuju
2 2.9
c. Ragu-Ragu
2 2.9
d. Tidak Setuju
1 1.5
e. Sangat Tidak Setuju
3 Pemberian makanan pada bayi sebelum usia 6
bulan dapat membantu bayi mengatasi rasa lapar
dan tidak akan menangis
14 20.6
a. Sangat Setuju
36 52.9
b. Setuju
4 5.9
c. Ragu-Ragu
14 20.6
d. Tidak Setuju
0 0
e. Sangat Tidak Setuju
4 Memberi makanan lumat seperti bubur susu

35
sebagai makanan pertama pada bayi berusia > 6
bulan
18 26.5
a. Sangat Setuju
45 66.2
b. Setuju
3 4.4
c. Ragu-Ragu
1 1.5
d. Tidak Setuju
1 1.5
e. Sangat Tidak Setuju
5 Pemberian makanan pada bayi sebelum usia 6
bulan dapat menyebabkan anak kelebihan berat
badan
9 13.2
a. Sangat Setuju
26 38.2
b. Setuju
10 14.7
c. Ragu-Ragu
21 30.9
d. Tidak Setuju
2 2.9
e. Sangat Tidak Setuju
Sumber : Data Primer

Dari hasil penelitian di atas di ketahui sikap responden tentang bayi


berusia 4 bulan memerlukan makanan khusus, sebanyak 11 orang (16.2%)
mengatakan sikap sangat setuju, 16 orang (23.5%) mengatakan sikap setuju, 11
orang (16.2%) mengatakan sikap sikap ragu-ragu, 27 orang (39.7%) mengatakan
sikap tidak setuju, 3 orang (4.4%) mengatakan sikap sangat tidak setuju. Sikap
responden terhadap bayi yang berumur > 6 bulan baru boleh diberikan makanan
tambahan, sebanyak 22 orang (32.4%) mengatakan sikap sangat setuju, 41 orang
(60.3%) mengatakan sikap setuju, 2 orang (2.9%) mengatakan sikap sikap ragu-
ragu, 2 orang (2.9%) mengatakan sikap tidak setuju, 1 orang (1.5%) mengatakan
sikap sangat tidak setuju. Sikap responden terhadap Pemberian makanan pada
bayi sebelum usia 6 bulan dapat membantu bayi mengatasi rasa lapar dan tidak
akan menangis, sebanyak 14 orang (20.6%) mengatakan sikap sangat setuju, 36
orang (52.9%) mengatakan sikap setuju, 4 orang (5.9%) mengatakan sikap sikap
ragu-ragu, 14 orang (20.6%) mengatakan sikap tidak setuju, 0 orang (0%)
mengatakan sikap sangat tidak setuju. Sikap responden terhadap memberi

36
makanan lumat seperti bubur susu sebagai makanan pertama pada bayi berusia
> 6 bulan, sebanyak 18 orang (26.5%) mengatakan sikap sangat setuju, 45 orang
(66.2%) mengatakan sikap setuju, 3 orang (4.4%) mengatakan sikap sikap ragu-
ragu, 1 orang (1.5%) mengatakan sikap tidak setuju, 1 orang (1.5%) mengatakan
sikap sangat tidak setuju. Sikap responden terhadap Pemberian makanan pada
bayi sebelum usia 6 bulan dapat menyebabkan anak kelebihan berat badan,
sebanyak 9 orang (13.2%) mengatakan sikap sangat setuju, 26 orang (38.2%)
mengatakan sikap setuju, 10 orang (14.7%) mengatakan sikap sikap ragu-ragu, 21
orang (30.9%) mengatakan sikap tidak setuju, 2 orang (2.9%) mengatakan sikap
sangat tidak setuju.
Berdasarkan data tentang sikap responden di atas, setelah dilakukan
pengelompokan berdasarkan kategori baik dan buruk maka hasilnya dapat dilihat
pada tabel berikut :

Tabel IV.19 Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Sikap Ibu di


Wilayah Kerja Puskesmas Siborongborong

No Kategori Sikap Jumlah Presentase (%)

1 Baik 9 13.2

2 Sedang 36 53

3 Kurang 23 33.8

Total 100

Sumber : Data Primer

Berdasarkan penelitian di atas dapat dikategorikan sikap responden,


sebanyak 9 orang (13.2%) mempunyai sikap kategori yang baik, sedangkan 36
orang (53%) mempunyai sikap kategori sedang dan 23 orang (33.8%) mempunyai
kategori kurang.

C. Analisis bivariat

37
Analisis bivariat bertujuan untuk mengetahui ada atau tidak
hubungan yang bermakna antara variabel independen pengetahuan dan
sikap ibu terhadap pemberian makanan pendamping ASI. Pengujian
analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan Uji Chi Square. Alasan
pemilihan analisis menggunakan Uji Chi Square, disebabkan variabel
independennya kategorik dan variabel dependennya juga kategorik.
Analisis ini dikatakan bermakna (signifikan) bila hasil analisis
menunjukkan adanya hubungan yang bermakna secara statistik antara
variabel, yaitu dengan nilai p < 0,05. Variabel yang dianalisis adalah
pengetahuan dan sikap responden seperti tertera pada Tabel berikut ini:

Tabel IV.20 Hasil Uji Chi Square Hubungan Variabel Independen


(Pengetahuan dan Sikap) Ibu Dalam Pemberian MP-ASI Terhadap
Kejadian Diare di Wilayah Kerja Puskesmas Siborongborong
No Klasifikasi Diare Total % P
Ya % Tidak %
1 Pengetahuan
a. Baik 14 48.3 15 51.7 29 100
12 92.3 1 7.1 13 100 0.023
b. Sedang
c. Kurang 17 65.4 9 34.6 26 100

Total 43 63.2 25 36.8 68 100


2 Sikap
a. Baik 5 55.6 4 44.4 9 100
20 87.0 3 13.0 23 100 0.014
b. Sedang
c. Kurang 18 50.0 18 50.0 36 100

Total 43 63.2 25 36.8 68 100


Berdasarkan Tabel IV.20 di atas, hasil uji statistik Chi Square (Pearson
Chi Square) dilakukan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu dalam
pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) terhadap kejadian diare,
diperoleh nilai p value = 0,023 (p<0,05). Hal ini menunjukkan secara statistik
bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu tentang
pemberian MP-ASI terhadap kejadian diare.
Berdasarkan hasil analisis Chi Square (Pearson Chi Square) dilakukan
untuk mengetahui hubungan sikap ibu tentang pemberian MP-ASI terhadap

38
kejadian diare, diperoleh nilai p value = 0,014 (p<0,05). Hal ini menunjukkan
secara statistik bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara sikap ibu tentang
pemberian MP-ASI terhadap kejadian diare.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

39
A. Kesimpulan
Hasil penelitian antara tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian
makanan pendamping ASI terhadap kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas
Siborongborong tahun 2022 menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat
cukup bermakna antara variabel tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian
makanan pendamping ASI. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan uji chi
Square didapatkan nilai p=0,023 (p<0,05), maka Ha gagal ditolak atau ada
hubungan pemberian MP-ASI dengan kejadian diare pada bayi 0-24 bulan di
wilayah kerja puskesmas Siborongborong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
dari 68 responden yang memiliki anak 0-24 bulan kejadian diare dalam satu tahun
terakhir sebanyak 43 orang (63.2%) dan yang tidak diare 25 orang (36.8%). Hasil
penelitian juga menunjukkan tingkat pengetahuan ibu dalam pemberian MP-ASI
terhadap kejadian diare kategori baik yaitu sebanyak 29 orang (42.7%), sedang
sebanyak 26 orang (38.2%), kurang sebanyak 13 orang (19.1%). Dari hasil
tersebut dalam tingkat pengetahuan pemberian MP-ASI menunjukkan banyak ibu
memiliki tingkat pengetahuan yang baik. Hal ini dapat terjadi karena walaupun
tingkat pengetahuan ibu baik tetapi dipengaruhi banyak faktor.
Objek pada penelitian ini adalah anak usia 0-24 bulan, sedangkan variabel
yang diteliti adalah pemberian makanan pendamping ASI pada anak, dan faktor-
faktor kejadian diare pada anak.
Pengetahuan yang didapatkan responden ini membentuk kepercayaan baru
karena pemberi informasi adalah sumber yang dapat dipercaya. Hal ini sesuai
dengan teori yang menyatakan bahwa pengetahuan akan membentuk kepercayaan
yang selanjutnya akan memberikan perspektif pada manusia dalam mempersepsi
kenyataan, menjadi dasar pengambilan keputusan dan menentukan sikap terhadap
objek tertentu Kepercayaan yang dimaksud adalah keyakinan bahwa sesuatu itu
benar atau salah atas dasar bukti, sugesti, otoritas, pengalaman atau intuisi.
Pengetahuan manusia berhubungan dengan jumlah informasi yang dimiliki
seseorang. Semakin banyak informasi yang dimiliki maka semakin tinggi pula
pengetahuan orang tersebut (Saryono (2003).

40
Hasil penelitian ini berdasarkan analisis Chi Square (Pearson Chi Square)
dilakukan untuk mengetahui hubungan sikap ibu tentang pemberian MP-ASI
terhadap kejadian diare, diperoleh nilai p value = 0,014 (p<0,05). Hal ini
menunjukkan secara statistik bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara
sikap ibu tentang pemberian MP-ASI terhadap kejadian diare. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa dari 68 responden yang memiliki tingkat sikap baik
sebanyak 9 orang (13.2%), tingkat sikap sedang sebanyak 36 orang (53%), dan
tingkat sikap kurang sebanyak 23 orang (33.8%). Hal ini menunjukkan sikap ibu
dalam pemberian MP-ASI terhadap kejadian diare dalam tingkat sikap baik masih
sedikit.
Dari hasil penelitian di atas di ketahui sikap responden tentang bayi
berusia 4 bulan memerlukan makanan khusus, sebanyak 27 orang (39.7%)
mengatakan sikap tidak setuju, 3 orang (4.4%) mengatakan sikap sangat tidak
setuju. Sikap responden terhadap bayi yang berumur > 6 bulan baru boleh
diberikan makanan tambahan, sebanyak 22 orang (32.4%) mengatakan sikap
sangat setuju, 41 orang (60.3%) mengatakan sikap setuju. Sikap responden
terhadap Pemberian makanan pada bayi sebelum usia 6 bulan dapat membantu
bayi mengatasi rasa lapar dan tidak akan menangis, sebanyak 14 orang (20.6%)
mengatakan sikap tidak setuju, 0 orang (0%) mengatakan sikap sangat tidak
setuju. Sikap responden terhadap memberi makanan lumat seperti bubur susu
sebagai makanan pertama pada bayi berusia > 6 bulan, sebanyak 18 orang
(26.5%) mengatakan sikap sangat setuju, 45 orang (66.2%) mengatakan sikap
setuju. Sikap responden terhadap Pemberian makanan pada bayi sebelum usia 6
bulan dapat menyebabkan anak kelebihan berat badan, sebanyak 21 orang
(30.9%) mengatakan sikap tidak setuju, 2 orang (2.9%) mengatakan sikap sangat
tidak setuju.

B. Saran

41
1. Bagi tenaga kesehatan di Puskesmas Siborongborong Kecamatan

Siborongborong Kabupaten Tapanuli utara, diharapkan dapat memberikan

penyuluhan dan edukasi serta program akan manfaat dan pentingnya

pemberian MP-ASI.

2. Pelayanan yang optimal, pemberian MP-ASI yang baik dari segi kualitas

maupun kuantitas, harus diberikan kepada bayi sebagai sumber utama

asupan energi dan zat gizi setelah usia 6 bulan bersama-sama dengan

pemberian ASI.

3. Pada bayi yang berasal dari ekonomi rendah, edukasi gizi tentang sumber

MP-ASI yang berkualitas dan dengan harga yang murah perlu diberikan.

4. Bagi penelitian selanjutnya diharapkan dapat menggunakan sampel yang

lebih besar, faktor faktor yang mempengaruhi pemberian MP-ASI,

frekuensi, jenis, porsi pemberian MP-ASI agar hasil penelitian lebih

akurat.

42
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, 2006, prosedur penelitian suatu pendekatan prektik. Jakarta: Rhineka


Cipta
Azwar S, MA, Drs. 2002. Sikap Manusia Teori dan pengukurannya, Edisi ke 2,
Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Depkes RI. 2007. Buku Pedoman Pemberian Makanan Pendamping ASI. Jakarta:
Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat dan Direktorat Bina Gizi Masyarakat
________. 2007. Buku Pedoman Pelaksanaan Program Pemberantasan Penyakit
Diare. Jakarta: Ditjen PPM dan PL
________. 2007. Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare. Jakarta: Ditjen PPM
dan PL
Firmansyah A dkk.2005. Modul Pelatihan Tata Laksana Diare pada Anak.
Jakarta: Badan Koordinasi Gastroenterologi Anak Indonesia
Gaurino et al. [Link] Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology
and Nutrition/European Society for Paediatric Infectious disease
Evidenced Based Guidelines for Management of Acute Gastroenteritis
in Children in Europe. Journal of Pediatric Gastroenterology and
Nutrition 46: S81-184.
Irianto K dan Waluyo K. 2004. Gizi dan Pola Hidup sehat, cetakan pertama.
Bandung: Yrama Widya
Kasman. 2003. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Diare Pada
Balita di Puskesmas Air Dingin Kecamatan Kota Tengah Kota Padang
Sumatra Barat (Karya Ilmiah). Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas
Diponegoro Semarang
Mansjoer, A., Suprohaita., Wardhani WI., Setiowulan, W. 2000. Kapita Selekta
Kedokteran Jilid 2 “Gastroenterologi Anak”. Jakarta: Media
Aesculapius.
Muchtadi, D. 2004. Gizi untuk bayi: ASI, Susu Formula dan Makanan Tambahan,
Pustaka Harapan, Jakarta.
Notoadmojo S. Dr. 1993. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku
Kesehatan, Penerbit Andi Offset, Yogyakarta
Notoatmodjo, S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta

Notoatmojo, S. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Jakarta : Rineka


Cipta
Pediatri D. 2008. Hubungan Pemberian Makanan Pendamping ASI Dini Dengan
Insiden Diare Pada Bayi Usia 1-4 Bulan (Karya Ilmiah). Fakultas
Kedokteran. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Profil Puskesmas Paguyaman Tahun 2015.
Pusponegoro HD, dkk. 2005. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak Edisi I
2005. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Saryono, M.D.A. 2003. Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Praktek Ibu
dalam melaksanakan Stimulasi Bermain pada Bayi di wilayah kerja

V
Puskesmas Umbul Harjo I Yogyakarta. Jurnal Mandala of Health.
Vol.2. No.2. Universitas Jendral Soedirman. Purwokerto.
Soebagyo B. 2008. Diare Akut pada Anak. Surakarta: Universitas Sebelas Maret
Press.
Suandi IKG. [Link] nutrisi pada gastroenteritis dalam Kapita Selekta
Gastroenterologi Anak. Jakarta: Sagung Seto. 2007:84-100.
Subijanto. 2007. Probiotik Pada Anak Sehat dan Sakit. Jakarta : Rineka Cipta.
Suraatmaja S. [Link] dalam Kapita Selekta Gastroenterologi Anak. Jakarta:
Sagung Seto. 1-24.

Wahid Iqbal. 2007. Pengantar Riset Keperawatan Komunitas, Jakarta: CV


Sagung Seto.
WHO.2009. Diare dalam Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit
Pedoman Bagi Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten
Kota. Jakarta: WHO Indonesia.
Widodo, R. 2008. Pemberian Makanan, Suplemen dan obat pada Anak. Jakarta:
EGC.
Wulan K. 2009. Hubungan antara Pemberian MP-ASI dengan Kejadian Diare
pada Bayi Usia 0-6 Bulan (Studi Di Desa Gemarang Kecamatan
Gemarang Kabupaten Madiun) Tahun 2009. STIKES

VI
LAMPIRAN

KlasPenge * Diare Crosstabulation

Diare

TIDAK YA Total

KlasPenge Baik Count 15 14 29

% within KlasPenge 51.7% 48.3% 100.0%

Kurang Count 1 12 13

% within KlasPenge 7.7% 92.3% 100.0%

Sedang Count 9 17 26

% within KlasPenge 34.6% 65.4% 100.0%

Total Count 25 43 68

% within KlasPenge 36.8% 63.2% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2-


Value df sided)

Pearson Chi-Square 7.569a 2 .023

Likelihood Ratio 8.685 2 .013

N of Valid Cases 68

a. 1 cells (16,7%) have expected count less than 5. The minimum


expected count is 4,78.

KlasSikap * Diare Crosstabulation

Diare

TIDAK YA Total

KlasSikap Baik Count 4 5 9

% within KlasSikap 44.4% 55.6% 100.0%

Kurang Count 3 20 23

% within KlasSikap 13.0% 87.0% 100.0%

Sedang Count 18 18 36

% within KlasSikap 50.0% 50.0% 100.0%

Total Count 25 43 68

% within KlasSikap 36.8% 63.2% 100.0%

VII
Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2-


Value df sided)

Pearson Chi-Square 8.508a 2 .014

Likelihood Ratio 9.362 2 .009

N of Valid Cases 68

a. 1 cells (16,7%) have expected count less than 5. The minimum


expected count is 3,31.

INFORMED CONSENT
Dengan hormat,
Saya adalah dokter internship Puskesmas Kecamatan Siborongborong memohon kesediaan Ibu
berpartisipasi sebagai responden dalam penelitian yang berjudul :
 “Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap Ibu mengenai pemberian MPASI dengan
Kejadian Diare pada Balita”

Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai efektivitas penyuluhan dalam meningkatkan
pengetahuan, sikap ibu hamil mengenai anemia dalam kehamilan.
Ibu dapat menolak atau mengundurkan diri dari penelitian ini apabila tidak berkenan karena
penelitian ini bersifat tidak memaksa. Semua data yang didapatkan dalam penelitian ini akan
dijaga kerahasiaanya dan hanya akan digunakan untuk kepentingan penelitian.
Mohon menandatangani surat pernyataan kesediaan sebagai responden apabila Ibu bersedia
untuk ikut dalam penelitian.
Apabila masih terdapat hal yang belum jelas, Ibu dapat menghubungi langsung peneliti atau
melalui nomor telepon 0822 9696 0062 (dr.M. Iqbal Hsrimy).
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama :
Umur :
Alamat : Dusun.............Desa.................
Telah mengerti dan sudah mendapat penjelasan mengenai penelitian serta ikut serta dalam
penelitian sebagai responden dan sadar akan manfaat dan risiko dari penelitian ini.

Siborongborong, Mei 2022

Responden

VIII
Kuesioner Pengetahuan, Sikap, dan Ibu mengenai Diare pada Balita di Puskesmas
Kecamatan Siborongborong Tahun 2022

A. Karakteristik
1. Nama Anak : Usia :
2. Nama Ayah : Usia :
3. Nama Ibu : Usia :
4. Jenis Kelamin : Perempuan/Laki-laki
5. No. Telp/ HP :
6. Pendidikan terakhir Ibu :
( ) Tidak sekolah
( ) Tidak lulus SD
( ) Lulus SD
( ) Lulus SLTP
( ) Lulus SLTA
( ) Lulus D3/S1
7. Pendidikan terakhir Ayah :
( ) Tidak sekolah
( ) Tidak lulus SD
( ) Lulus SD
( ) Lulus SLTP
( ) Lulus SLTA
( ) Lulus D3/S1
5. Pekerjaan Ibu :
( ) Pedagang
( ) Buruh/pembantu
( ) Ibu Rumah Tangga
( ) PNS
( ) Lainnya, sebutkan .............
6. Pekerjaan Ayah :
( ) Pedagang
( ) Buruh/pembantu
( ) Ibu Rumah Tangga
( ) PNS
( ) Lainnya, sebutkan ..............
7. Jumlah Anak :
8. Agama :
9. Suku :
10. Penghasilan Sebulan :

B. Kejadian Diare
 Apakah anak Anda pernah mengalami diare dalam 1 tahun terakhir? Ya/Tidak (lingkari
salah satu)
 Jika Ya, sudah berapa kali anak Anda mengalami diare dalam 1 tahun terakhir?.......kali

IX
1. Dari mana saja ibu pernah mendengar informasi tentang penyakit diare? (boleh pilih lebih
dari satu)
a. TV
b. Media cetak
c. Teman
d. Keluarga
e. Petugas Kesehatan
f. Lain-lain, sebutkan:
2. Dari mana saja ibu pernah mendengar informasi tentang cara menangani dan
mengobati penyakit diare? (boleh pilih lebih dari satu)
a. TV
b. Media cetak
c. Teman
d. Keluarga
e. Petugas Kesehatan
f. Lain-lain, sebutkan:
3. Dari mana saja ibu pernah mendengar informasi tentang cara melakukan pencegahan
kekurangan cairan (dehidrasi) akibat diare? (boleh pilih lebih dari satu)
a. TV
b. Media cetak
c. Teman
d. Keluarga
e. Petugas Kesehatan
f. Lain-lain, sebutkan:
4. Darimana saja ibu mengetahui bahwa bayi dan balita lebih rentan terhadap diare? (boleh
pilih lebih dari satu)
a. TV
b. Media cetak
c. Teman
d. Keluarga
e. Petugas Kesehatan
f. Lain-lain, sebutkan:
5. Menurut ibu media apa yang paling baik untuk menyampaikan informasi mengenai
penyakit diare dan pencegahannya?
a. TV
b. Media cetak
c. Teman
d. Keluarga
e. Petugas Kesehatan
f. Lain-lain, sebutkan:

X
B. Pengetahuan
1. Menurut ibu apa yang dimaksud diare?
a. Mencret dan muntah berturut-turut
b. Keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal
c. Buang air besar dalam bentuk cairan lebih dari tiga kali dalam satu hari
2. Menurut ibu langkah apa saja yang dapat dilakukan untuk mencegah diare pada anak? a.
Memasak sayuran sampai lembek dan mencuci tangan sehabis makan
b. Membersihkan bak mandi 3 kali sehari dan mencuci botol susu
c. Membuang tinja dengan benar dan menggunakan air yang bersih
3. Menurut ibu apa yang dimaksud dengan kekurangan cairan (dehidrasi)?
a. Gangguan pencernaan yang menyebabkan kurangnya air dalam tubuh
b. Banyaknya air yang keluar dari tubuh
c. Gangguan dalam keseimbangan cairan atau air pada tubuh
4. Menurut ibu kekurangan cairan (dehidrasi) disebabkan karena?
a. Balita tidak mau minum dan menangis terus
b. Sedikitnya asupan makanan atau minuman yang diterima balita
c. Banyaknya cairan yang keluar saat mengalami diare
5. Menurut ibu apa langkah pertama yang harus dilakukan pada anak yang mengalami
dehidrasi akibat diare?
a. Membawa anak berobat segera ke pelayanan kesehatan
b. Memberikan sup, air tajin atau air kelapa pada anak
c. Memberikan oralit pada anak
6. Menurut Ibu Vitamin A dibutuhkan untuk siapa saja ?
a. Semua umur dari bayi sampai orang tua
b. Hanya untuk bayi sampai balita
c. Hanya untuk orang yang terkena penyakit rabun senja
7. Penyakit yang disebabkan oleh kekurangan vitamin A?
a. Cacingan
b. Diare
c. Rabun senja
8. Apa yang dimaksud dengan ASI eksklusif ?
a. Makanan alamiah bagi bayi sampai usia 2 tahun
b. Pemberian ASI ditambah susu formula sampai usia 6 bulan
c. Pemberian ASI saja tanpa tambahan cairan lain atau makanan padat sampai usia 6
bulan
d. Pemberian ASI ditambah susu formula dan makanan padat sampai usia 2 tahun
9. Menurut ibu kapan seorang bayi harus diberikan ASI pertamanya?
a. Segera setelah bayi lahir atau maksimal 1 jam setelah lahir
b. Menunggu ibu untuk benar-benar siap memberikan ASI
c. Setelah bayi diberikan susu formula untuk latihan menghisap, barulah diberikan ASI
pertama
d. Menunggu bayi menangis terus karena kelaparan
10. Menurut ibu apa keunggulan bayi yang diberikan ASI eksklusif dibandingkan dengan bayi
yang tidak mendapat ASI eksklusif?
a. ASI eksklusif membuat anak cerdas dan mandiri
b. ASI eksklusif menekan angka kematian bayi dan angka kesakitan bayi
c. A dan B benar
d. A dan B salah
11. Menurut ibu frekuensi yang tepat dalam menyusui berapa kali?
a. 1 kali
b. Sesering mungkin
c. 3-5 kali
d. Setiap kali bayi menangis
12. Apakah pengertian makanan pendamping ASI itu?
a. Makanan peralihan dari ASI ke makanan keluarga
b. Makanan pengganti ASI
c. Makanan yang diberikan pada bayi usia < 6 bulan
13. Pada umur berapa sebaiknya diberikan makanan tambahan?

XI
a. > 6 bulan
b. < 6 bulan
14. Sebutkan jenis makanan yang pertama kali diberikan kepada bayi usia > 6 bulan
a. Makanan lunak
b. Makanan padat
15. Mengapa bayi perlu diberi makanan tambahan?
a. Agar anak tidak rewel dan canggung
b. Agar anak terhindar dari penyakit
c. Agar kebutuhan bayi akan zat gizi bertambah sesuai dengan pertambahan umurnya
16. Apa pengaruhnya terhadap pemberian makan bayi sebelum usia 6 bulan terhadap
kesehatan bayi?
a. Tidak ada pengaruhnya
b. Anak jadi sering mencret karena pencernaannya terganggu
c. Anak jadi sering menangis

C. Sikap
Keterangan:
SS : Sangat Setuju
S : Setuju
RR : Ragu-ragu
TS : Tidak Setuju
STS : Sangat Tidak Setuju

NO PERTANYAAN SS S RR TS STS
Setelah anak selesai bermain sebaiknya mencuci
1
tangan anak dengan sabun
Anak dapat terserang diare karena diberikan susu
2
formula dengan dot yang tidak bersih
3 Pengobatan diare memerlukan biaya yang besar
Bila makanan disimpan lebih dari 6 jam kuman
4 tidak dapat berkembang biak pada makanan
tersebut
Mencuci tangan sebelum memberi makan dan
5 sesudah buang air besar merupakan langkah
mencegah diare pada anak
Penanganan diare pada anak cukup dengan
6 memberikan cairan oralit sesuai tingkat diare yang
diderita anak
Pemberian susu formula sebaiknnya dihentikan
7
ketika anak mengalami dehidrasi
Ibu akan segera memberikan larutan oralit saat anak
8 balitanya buang air besar terus- menerus yang
disertai mual dan muntah
Ibu akan tetap menggunakan larutan oralit yang
9
sudah dibuat lebih dari 24 jam
Ibu dapat memberikan air tajin, air kelapa atau
10 larutan gula garam untuk mencegah dehidrasi jika
oralit tidak tersedia dirumah
Apakah Anda setuju jika anak anda diberikan
11
vitamin A ?
Apakah Anda setuju bahwa vitamin A itu penting
12
untuk kesehatan anak?
13 Jika pelayanan kesehatan yang menyediakan
layanan vitamin A
(RS/puskesmas/posyandu/praktek dokter) jauh dari

XII
rumah Anda, apakah Anda mau mengantarkan anak
anda untuk diberikan vitamin A?
14 Bayi berusia 4 bulan memerlukan makanan khusus
Pada bayi berusia > 6 bulan baru boleh diberikan
15
makanan tambahan
Pemberian makanan pada bayi sebelum usia 6
16 bulan dapat membantu bayi mengatasi rasa lapar
dan tidak akan menangis
Memberi makanan lumat seperti bubur susu sebagai
17
makanan pertama pada bayi berusia > 6 bulan
Pemberian makanan pada bayi sebelum usia 6
bulan dapat menyebabkan anak kelebihan berat
18
badan

19. Menurut anda, seberapa penting pemberian ASI eksklusif pada bayi?
a. Sangat penting
b. Cukup penting
c. Tidak penting
20. Kapan ibu mulai memberikan ASI pada bayi?
a. Segera setelah melahirkan
b. Setelah membuang ASI berwarna kuning yang pertama kali keluar
21. Apa yang ibu lakukan selesai menyusui?
a. Menepuk-nepuk punggung bayi sampai bayi sendawa
b. Menggendong bayi selama beberapa menit
c. Langsung membaringkan bayi

XIII

Anda mungkin juga menyukai