1
BAB III
KERANGKA KONSEP
A. Masalah Gizi pada Ibu Hamil
1. Kerangka Konsep
Gambar 1.
Kerangka Konsep Penelitian Masalah Gizi Pada Ibu Hamil
Penjelasan :
Dari kerangka konseps diatas diketahui bahwa kejadian anemia dan KEK
pada ibu hamil dipengaruhi oleh konsumsi zat besi dan energi yang kurang, selain
itu dipengaruhi juga oleh penyakit infeksi. Selain faktor-faktor tersebut, kejadian
anemia dan KEK pada ibu hamil secara tidak langsung dipengaruhi oleh
kepatuhan minum tablet Fe dan pola konsumsi yang akan mempengaruhi
konsumsi zat besi dan energi. Kepatuhan minum tablet Fe dapat dipengaruhi oleh
umur ibu dan dukungan suami/ keluarga, sedangkan pola konsumsi dipengaruhi
2
oleh beberapa faktor yaitu : ketersediaan makanan dalam keluarga, pengetahuan
gizi, umur ibu, tingkat pendapat, budaya, pekerjaan. Sedangkan untuk
ketersediaan makanan dalam keluarga itu sendiri dipengaruhi oleh jumlah anggota
keluarga, dukungan suami/keluarga, tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan.
Untuk penyakit infeksi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : lingkungan,
pelayanan kesehatan salah satunya pemeriksaan ANC pada ibu hamil, sanitasi air
bersih, serta jarak kehamilan
2. Definisi Operasional
Tabel 1.
Definisi Operasional Masalah Gizi pada Ibu Hamil
No. Variabel Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Oprasional
Variabel Terikat
1. Kejadian Keadaan Diukur Easy 1. Anemia : Ordinal
Anemia dimana kadar dengan Touch Hb jika kadar
pada Ibu hemoglobin menggunak Hb < 11
Hamil (Hb) dalam an alat cek gr/dL
tubuh < 11 hb digital 2. Tidak
gr/dL oleh anemia :
petugas jika kadar
kesehatan Hb ≥ 11
gr/dL
(Kemenkes,
2018)
2. Kejadian Keadaan Dengan cara Pita LILA 1. KEK : < Ordinal
KEK dimana ibu mengukur 23,5 cm
pada Ibu menderita Lingkar 2. Tidak KEK :
Hamil kekurangan Lengan ≥ 23,5 cm
makanan yang Atas (Supariasa,
berlangsung (LILA) 2016)
menahun menggunak
3
(kronis) yang an alat ukur
mengakibatkan Pita LILA
timbulnya
gangguan
kesehatan pada
ibu sehingga
kebutuhan ibu
hamil akan zat
gizi yang
semakin
meningkat tidak
terpenuhi
Variabel Bebas
1. Konsumsi Asupan zat besi Diukur Formulir 1. Kurang : Ordinal
Zat Besi adalah jumlah dengan Recall 24 apabila
asupan zat besi menggunak jam konsumsi
yang an formulir zat besi <
dikonsumsi dari Recall 2x AKG
makanan yang 24 Jam 2. Baik :
diperoleh dengan apabila
dengan recall melakukan konsumsi
24 jam. wawancara zat besi ≥
Dikonversi kepada dengan
kedalam zat gizi responden. AKG
Fe dengan
DKBM,
dibandingkan
dengan angka
kecukupan zat
besi sesuai
kelompok umur
4
dan usia
kehamilan.
2. Konsumsi Konsumsi Diukur Formulir 1. Di atas Ordinal
Energi energi adalah dengan Recall 2x AKG =
zat gizi yang menggunak 24 jam ≥110%
dikonsumsi an formulir kebutuhan
yang diperoleh Recall 2x 2. Normal =
dari sumber 24 Jam 90 – 110%
karbohidrat, dengan kebutuhan
protein, dan melakukan 3. Defisit
lemak serta wawancara tingkat
dinyatakan kepada ringan = 80
dalam satuan responden. – 89,9%
kalori. kebutuhan
4. Defisit
tingkat
sedang = 70
– 79,9%
kebutuhan
5. Defisit
tingkat
berat = <
70%
kebutuhan
(Kemenkes,
2018)
3. Penyakit Penyakit infeksi Diukur Formulir 1. Ada infeksi : Ordinal
Infeksi adalah jenis dengan Kuisioner apabila
penyakit infeksi menggunak pernah
yang pernah an Formulir menderita
diderita oleh ibu Kuisioner salah satu
hamil dalam penyakit
5
kurun waktu infeksi (TB,
satu bulan Diare,
terakhir sampai Malaria)
dengan saat 2. Tidak ada
penelitian yang infeksi :
dipengaruhi apabila tidak
oleh sanitasi pernah
lingkungan, menderita
jarak kehamilan penyakit
serta pelayanan infeksi (TB,
kesehatan. Diare,
Malaria)
6
B. Masalah pada Status Gizi Balita
1. Kerangka Konsep
: Diteliti
: Tidak Diteliti
Gambar 2.
Kerangka Konsep Masalah Pada Status Gizi Balita
Penjelasan :
Dari Kerangka Konsep diatas dapat dijelaskan bahwa, faktor yang
mempengaruhi status gizi balita ada 2 yaitu konsumsi makanan dan penyakit
infeksi. Konsumsi makanan ada kaitanya dengan ketersediaan pangan rumah
tangga, pola konsumsi dan pola asuh atau pengetahuan ibu terkait gizi. Sedangkan
untuk penyakit infeksi ada kaitanya dengan kebersihan atau sanitasi lingkungan,
riwayat penyakit dan pelayanan keehatan. Semua aspek yang mencangkup hal
yang mempengaruhi status gizi balita tersebut pada intinya sangat dipengaruhi
oleh pendidikan dan budaya, pekerjaan, tingkat pendapatan, dan kemiskinan orang
tua atau keluarga.
7
2. Definisi Operasional
Tabel 2.
Definisi Operasional Masalah Gizi pada Balita
No. Variabel Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Oprasional
Variabel Terikat
1. Status Gizi Status gizi pada Lembar Timbangan Kategori status gizi Ordinal
Balita balita yaitu dapat observasi atau dacin BB/U sebagai
ditentukan diukur berikut :
dengan indikator menggunakan
1. Berat badan
berat badan timbangan
sangat kurang (<-
menurut usia atau dacin
3SD)
BB/U
2. Berat badan
kurang
(- 3 SD sd <- 2
SD)
3. Berat badan
normal
(-2 SD sd +1 SD)
4. Risiko Berat
badan lebih
(> +1 SD)
(Kementerian
Kesehatan RI,
2020)
Variabel Bebas
1. Konsumsi Konsumsi Menggunakan Kuesioner 1. Di atas AKG = Ordinal
Makanan
makanan adalah kuesioner dan ≥110%
zat-zat form SQFFQ kebutuhan
pembangun yang 2. Normal = 90 –
dikonsumsi oleh 110%
balita kebutuhan
3. Defisit tingkat
ringan = 80 –
89,9%
8
kebutuhan
4. Defisit tingkat
sedang = 70 –
79,9%
kebutuhan
5. Defisit tingkat
berat = < 70%
kebutuhan
2. Penyakit Penyakit infeksi Menggunakan Kuesioner Hasil dari jawaban Ordinal
Infeksi merupakan Kuesioner yang dikategorikan
penyakit yang menjadi:
pernah di derita a) Ya
oleh balita b) Tidak
9
C. Masalah pada Ibu Menyusui
1. Kerangka Konsep
Dukung
an
Keluarg
a
Gambar 3.
Masalah Pada Ibu Menyusui
Penjelasan :
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan
penggunaan zat-zat gizi yang dibedakan atas status gizi buruk, kurang, baik, dan
lebih. Status gizi baduta dipengaruhi langsung oleh konsumsi dan kejadian
infeksi. Infeksi merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi pada anak
baduta yang menjadi penyebab keadaan status gizi baduta yang kurang. Selain
infeksi, konsumsi merupakan faktor yang sangat mempengaruhi keadaan status
gizi baduta. Dalam hal ini konsumsi pada anak usia 0-6 bulan didapatkan dari
pemberian ASI ekslusif serta pada anak usia 6-24 bulan didapatkan dari ASI serta
makanan pendamping asi. Jika dalam pemenuhan konsumsi kurang dari
kebutuhan anak maka berpengaruh langsung pada status gizi baduta yang
mengarah pada status gizi kurang hingga buruk, begitu juga sebaliknya jika
konsumsi baduta lebih dari kebutuhan maka akan mengarah pada kelebihan status
gizi
10
2. Definisi Operasional
Tabel 3.
Definisi Operasional Masalah Gizi pada Baduta
Definisi
No Variable Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Operasional
Variable Terikat
1 Status Keadaan gizi Diukur dengan Timbangan/ Indikator BB/U dengan Ordinal
Gizi anak yang dapat menggunakan dacin klasifikasi sebagai berikut:
Baduta ditentukan alat timbangan/ 1. Berat badan sangat
dengan indikator dacin oleh kurang (< -3 SD)
berat badan kader 2. Berat badan kurang (-3
menurut usia posyandu. SD sd < -2 SD)
(BB/U) yang 3. Berat badan normal (-2
dibandingkan SD sd +1 SD)
dengan standar. 4. Risiko Berat badan
lebih (> +1 SD)
(Kementerian Kesehatan
RI, 2020)
Variable Bebas
2 Riwayat Anak yang Diukur dengan Kuesioner 1. Ya (jika anak pernah Nominal
Penyakit memiliki metode menderita ISPA/Diare/
Infeksi penyakit infeksi wawancara lebih dari 3 kali/tahun)
yaitu ISPA atau yakni dengan 2. Tidak (jika balita tidak
Diare lebih dari 3 memberikan pernah menderita
kali dalam satu kuesioner pada ISPA/Diare/ < 3
tahun. ibu kali/tahun)
(Astuti, 2019)
3 Tingkat Perbandingan Diukur Form recall 1. Defisit tingkat berat: Ordinal
Konsum asupan zat gizi menggunakan 2x2 jam <70%
2. Defisit tingkat sedang:
11
si Energi dengan metode Re-call 70-79%
kebutuhan / 2x24 jam 3. Defisit tingkat ringan
kecukupan menggunakan 80-89%
menurut umur form recall 4. Normal: 90-119%
5. Kelebihan: ≥120%
(Depkes,1996)
4 Pemberia Pemberian ASI Diukur Kuesioner 1. Iya Nominal
n ASI oleh ibu kepada menggunakan Pemberian 2. Tidak
Eksklusi bayi tanpa metode ASI
f makanan dan wawancara Eksklusif
minuman lain dengan
sampai 6 bulan memberikan
pertama kuesioner pada
kehidupan bayi. ibu
5 Pemberia Pemberian MP- Diukur Kuisioner 1. Baik: 80% - 100% Ordinal
n MP- ASI oleh ibu menggunakan Pemberian 2. Cukup: 60% - 79%
ASI kepada anak metode MP-ASI
3. Kurang: <59%
berdasarkan wawancara
kelompok usia dengan
anak memberikan
kuesioner pada
ibu
12
D. Masalah pada Kader Posyandu
1. Kerangka Konsep
Gambar 4.
Masalah Pada Kader Posyandu
Penjelasan :
Berdasarkan kerangka konsep diatas menunjukan bahwa pengetahuan dan
keterampilan kader dipengaruhi oleh umur kader, pendidikan kader, pelatihan
yang didapatkan oleh kader, dan lamanya menjadi kader yang dikarenakan
semakin tinggi pendidikan, banyak mendapatkan pelatihan dan lama menjadi
kader maka pengetahuan dan keterampilan seorang kader semakin baik dan
terlatih kemampuan serta kinerjanya.
13
2. Definisi Operasional
Tabel 4.
Definisi Operasional Masalah pada Kader Posyandu
Definisi Cara Alat
No Variabel Hasil Ukur Skala
Operasional Ukur Ukur
Variabel Terikat
1. Pengetahuan Segala sesuatu Mengisi Kuisioner Nilai atau skor Interval
yang diketahui pertanyaa pengetahuan
kader yang n pada
terkait sistem 5 kuisioner
meja di
posyandu
2. Keterampilan Keterampilan Dengan Kuisioner Terampil : Ordinal
yang dimiliki cara
Baik : 76-100%
kader dalam observasi
Cukup : 56-75%
melaksanakan dan
kegiatan yang mengisi Kurang : <56%
terkait sistem 5 pertanyaa
meja n pada
diposyandu kuisioner
Variabel Bebas
1. Umur Usia yang Mengisi Kuisioner Dengan kategori Rasio
dimiliki dari pertanyaa umur :
seorang kader n pada
1. 25-29 tahun
posyandu kuisioner
2. 30-34 tahun
3. 35-39 tahun
4. >40 tahun
2. Pendidikan Pendidikan Mengisi Kuisioner 1. Tidak Sekolah Ordinal
adalah suatu pertanyaan 2. SD/Sederajat
usaha untuk pada
14
mengembangka kuisioner 3. SMP/Sederajat
n kepribadian 4. SMA/
dan kemampuan Sederajat
didalam dan 5. Perguruan
diluar sekolah Tinggi
dan berlangsung
seumur hidup
3. Pelatihan Pelatihan Mengisi Kuisioner Pernah Ordinal
merupakan pertanyaan
Tidak Pernah
kegiatan yang pada
menitik beratkan kuisioner
pada
peningkatan
keterampilan
dan kemampuan
yang diperlukan
untuk suatu
pekerjaan.
4. Lama Lama waktu Mengisi Kuisioner 3 Tahun Ordinal
menjadi sejak pertama pertanyaan
3 Tahun
Kader bergabung pada
menjadi kader kuisioner
hingga
penelitian
dilakukan
15