MAKALAH MUSEUM SRI BADUGA
KELOMPOK : 1
NAMA : - Agina
- Samuel
- Nalendra
- Mnce
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,atas Berkat
dan Rahmat-Nya sayadiberi kesempatan untuk
menyusun/menyelesaikan laporan pengamatan ini dengan baik.
Sebagaitanda bukti bahwa saya telah mengunjungi Museum Sribaduga
Bandung Jawa Barat berkonseppendidikan. Tidak lupa saya
ucapkan terima kasih kepada guru pembimbing dan teman temanyang
telah memberi dukungan dalam menyelesaikan laporan pengamatan ini
dengan [Link] ini disusun sebagai bentuk proses belajar
mengembangkan kemampuan siswa. Museum sebagai sebuah lembaga
studi warisan budaya dan pusat informasi edukatif kultural dan
rekreatif, mempunyai kewajiban menyelamatkan dan melestarikan
benda warisan budaya bangsa Indonesia. Hingga saat ini koleksi yang
dikelola berjumlah 6000 lebih benda, terdiri atas 7 jenis koleksi yaitu
prasejarah, arkeologi, keramik, numismtik-heraldik, sejarah, etnografi
dan geografi.
Penyelamatan dan pelestarian budaya ini pada hakekatnya ditujukan
untuk kepentingan masyarakat, diinformasikan melalui pameran dan
penerbitan-penerbitan katalog, brosur, audio visual juga website.
Tujuannya agar masyarakat tahu dan ikut berpartisipasi dalam
pelestarian warisan budaya bangsa.
Sayamenyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak
kekurangan dan kesalahan, oleh karena itusaya mengharap kritik dan
saran yang membangun demi perbaikan saya dimasa yang akan
[Link] berharap semoga dengan selesainya laporan
pengamatan ini, dapat bermanfaat bagipembaca dan teman teman,
khususnya dalam memperluas wawasan dan ilmu [Link]
perhatian dan kerjasama teman teman beserta para pembimbing saya
ucapkan terimakasih.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………….. i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ……………………………………….……....................... 1
1.2. Tujuan …...............................................….....................…..……………. 1
1.3. Manfaat …………...............…………....................…………………..….... 1
1.4. Batasan masalah ……............................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian museum Sribaduga...………………………............……….... 2
2.2. Sejarah Museum..................................................................................... 2
2.3. Ciri Khas Museum................................................................................... 2
2.4. Kumpulan Koleksi Pada Museum........................................................... 2
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan............................................................................................. 3
3.2. Saran...................................................................................................... 3
BAB I
PENDAHULUAN
Museum adalah gedung yang digunakan sebagai tempat untuk
pameran tetap benda-benda yang patut mendapat perhatian umum,
seperti peninggalan sejarah, seni, dan ilmu, dan juga tempat
menyimpan barang kuno. Apresiasi masyarakat terhadap museum
masih dirasakan kurang, kemungkinan tingkat pemahaman masyarakat
tentang museum masih sempit. Tidak jarang mereka memandang
bahwa museum adalah sebuah bangunan yang di dalamnya tersimpan
benda kuno yang tidak bermanfaat. Namun bila ditelaah lebih dalam,
museum cukup signifikan dalam pengembangan wawasan dan
pengetahuan. Museum dibagi menjadi 2 jenis yakni museum umum
dan khusus. museum umum yang koleksinya terdiri dari kumpulan bukti
material manusia dan lingkungannya yang berkaitan dengan berbagai
cabang seni, disiplin ilmu dan teknologi. Museum khusus adalah
museum yang koleksinya terdiri dari kumpulan bukti material manusia
atau lingkungannya yang berkaitan dengan satu cabang seni, cabang
ilmu atau satu cabang teknologi. Di Bandung terdapat beberapa
museum yakni Museum Geologi, Museum Konferensi Asia Afrika,
Museum Mandala Wangsit Siliwangi, Museum Pos Indonesia, dan
Museum Sribaduga. Museum Sri Baduga merupakan Museum umum
yang di dalamnya terdapat koleksi peninggalan sejarah ilmu, seni, dan
budaya yang Kondisi ideal dari sebuah museum yakni para pengunjung
dapat menyerap ilmu ilmu yang terdapat di dalam museum. Dengan
dibantu oleh seorang pemandu agar pengunjung dapat mencerna dan
mengetahui sejarah yang terkandung dalam benda benda koleksi ada di
Jawa Barat. Jawa barat merupakan wilayah yang sebagian besar
ditinggali oleh masyarakat Sunda, oleh sebab itu sering disebut Tanah
Pasundan atau Tatar Sunda. Dalam perjalanan sejarah dan lingkup
geografi budaya, wilayah Jawa Barat secara umum berada pada
lingkungan kebudayaan Sunda dan sebagai kebudayaan daerah yang
menunjang pembangunan kebudayaan Nasional. Peninggalan budaya
yang bernilai tinggi banyak tersebar dikawasan Jawa Barat, baik yang
hampir punah maupun yang masih berkembang hingga kini.
Perkembangan budaya Jawa Barat berlangsung sepanjang masa sesuai
dengan pasang surut kehidupan. Dalam garis perkembangannya tidak
sedikit pengaruh luar yang masuk. Hal ini disebabkan wilayah Jawa
Barat pada posisi yang strategis dari berbagai aspek mobilitas
penduduk yang cukup tinggi. Pengaruh budaya luar cenderung
mempercepat proses kepunahan budaya asli Jawa Barat. Kekhawatiran
terhadap ancaman erosi budaya di Jawa Barat, maka Pemerintah
mengambil kebijakan untuk mendirikan Museum Sri Baduga di Jawa
Barat. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah
menunjukkan jati dirinya dalam peradaban manusia dewasa ini. Sudah
tidak dapat diingkari dan dipandang sebelah mata, peran
perkembangan teknologi informasi telah memberikan peluang yang
signifikan terhadap nilai tambah ekonomi. Efisiensi dalam berbagai
bidang, khususnya dalam masalah waktu, tenaga dan biaya melalui
kecepatan dan ketepatan informasi, serta performa fisik telah dapat
ditingkatkan dengan sangat drastis, sekaligus berarti telah mampu
mengefisienkan penggunaan tempat dalam artian kapasitas ruang.
BAB II
PEMBAHASAN
Koleksi tersebut dikelompokkan dalam sepuluh klasifikasi, yakni sebagai
berikut:
1. Koleksi biologi meliputi kajian tentang kehidupan, evolusi,
pertumbuhan, dan persebaran manusia prasejarah.
2. Koleksi geologi yakni koleksi tentang ilmu sains yang mempelajari
bumi, komposisi, struktur sejarah, dan proses pembentukan Provinsi
Jawa Barat.
3. Koleksi arkeologi yakni koleksi mengenai kebudayaan masa lalu yang
dapat dipelajari dari peninggalan-peninggalan yang ditinggalkan.
4. Koleksi sejarah yakni koleksi yang diambil dari berbagai peristiwa
pada masa lampau.
5. Koleksi etnografika yakni koleksi yang berkaitan dengan benda-benda
budaya daerah. Koleksi ini dipamerkan melalui sebuah foto, miniatur,
maket, dan replika.
6. Koleksi filologika adalah pembelajaran bahasa dalam sumber-sumber
yang ditulis dan isinya tentang sastra, sejarah, dan linguistik.
7. Koleksi keramologika adalah koleksi benda-benda keramik atau
gerabah yang dibuat dari tanah dan dikeraskan melalui sebuah
pembakaran.
8. Koleksi teknologika meliputi barang-barang untuk kelangsungan
hidup manusia zaman dahulu.
9. Koleksi numismatika dan heraldika meliputi koleksi mata uang yang
digunakan untuk perdagangan pada masa itu.
10. Koleksi seni rupa meliputi koleksi kesenian yang diciptakan oleh
manusia prasejarah dan menjadi peninggalan yang harus dilestarikan.
1. Lantai satu
Lantai satu menampilkan tampilan perkembangan awal dari
sejarah alam dan budaya Jawa Barat. Pada lantai ini digambarkan
sejarah alam yang melatarbelakangi sejarah Jawa Barat. Hal ini
misalnya dengan ditampilkannya benda-benda peninggalan
buatan tangan dari masa prasejarah hingga zaman Hindu Buddha.
Gambaran mengenai kehidupan manusia di Jawa Barat sudah ada
sejak 600.000 tahun silam. Jejak kehidupan tersebut dibuktikan
dengan temuan-temuan perkakas kuno yang tersimpan di wilayah
ini. Artefak tersebut menjadi bukti adanya kehidupan prasejarah.
Pengaruh Hindu Buddha memberi pengaruh yang sangat besar
pada perkembangan kebudayaan manusia di Jawa Barat dalam
berbagai bidang. Bidang tersebut seperti seni rupa, aksara, sastra,
seni bangunan (arsitektur), sistem kepercayaan, dan filsafat. Pada
lantai satu museum ini terdapat gambaran mengenai peristiwa-
peristiwa besar yang terjadi di masa Plestosen Atas (sekitar 3 – 10
juta tahun yang lalau). Saat itu, Indonesia bagian barat
membentuk satu daratan dengan Asia dan Australia.
Pembentukan daratan tersebut menyebabkan migrasi hewan
purba, seperti kerbau purba/Bubalus Paleokerabau dan kuda nil.
Selain itu, ditampilkan juga penjelasan peristiwa lain yakni
dampak dari letusan Gunung Sunda yang terjadi sekitar 125.000
tahun lalu yang menyebabkan aliran Sungai Citarum tersumbat.
Peristiwa tersebut menyebabkan seluruh aliran sungai yang
terdapat di sekeliling Cekungan Bandung terperangkat dan
membentuk genangan sangat luas berupa danau yang dikenal
dengan Danau Bandung Purba.
2. Lantai dua
Lantai dua menyajikan materi pameran budaya tradisional berupa
pola kehidupan masyarakat, perdagangan, transportasi, jenis mata
pencaharian, pengaruh budaya Islam dan Eropa, sejarah
perjuangan bangsa, dan lambang-lambang daerah kabupaten dan
kota se-Jawa Barat.
Masuknya pengaruh budaya luar berdampak positif pada
kecakapan tulis menulis. Masyarakat Sunda sudah mengenal
tulisan sejak abad ke-5 Masehi. Hal tersebut dibuktikan dengan
ditemukannya tulisan pada prasasti tinggalan dari Kerajaan
Tarumanegara (Prasasti Tugu, Prasasti Ciaruteun, dan Prasasti
Tapak Kaki Gaja). Selain itu, ditemukannya juga bukti dalam
bentuk naskah dengan bahan daun lontar, daun kelapa, daun
nipah, tembaga, kulit binatang, dan sebagainya.
Masuknya bangsa luar juga berpengaruh pada majunya teknologi
peralatan mencari ikan, bercocok tanam, dan perdagangan.
Menurut naskah Sunda Kuno Siska Kanda Ng Karesian, diduga
bahwa berladang (ngahuma) adalah cara-cara bercocok tanam
yang dikenal oleh masyarakat Jawa Barat. Orang Mataram
memperkenalkan pertanian sistem sawah dengan teknologi irigasi
sekitar abad ke-18 Masehi.
3. Lantai tiga
Lantai tiga menampilkan koleksi etnografi yang berupa ragam
bentuk dan fungsi wadah, keramik asing, dan kesenian. Lantai ini
menampilkan koleksi yang dianggap unggulan karena sudah jarang
ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Koleksi tersebut misalnya
bokor emas, topeng emas, teodolit, senjata peninggalan VOC,
pakinangan, keramik asing, kain panjang yang pernah digunakan
oleh Bupati Galuh abad ke-16 Masehi, benda yang terbuat dari
kristal, dan lukisan. Selain itu, terdapat juga koleksi-koleksi mata
uang yang pernah beredar sebagai alat perdagangan.
Berbagai gambaran tentang kesenian ditampilkan melalui
dipamerkannya berbagai alat kesenian khas Jawa Barat. Alat
kesenian yang ditampilkan antara lain angklung buhun, rebana,
kecapi, karinding, taleot, rebab, gamelan ajeng, dan gamelan
degung. Kehidupan kesenian di Jawa Barat berkembang sesuai
dengan kehidupan pendukungnya. Awalnya kesenian di Jawa Barat
diciptakan dan digunakan untuk melengkapi upacara yang
berhubungan dengan kegiatan pertanian. Misalnya, angklung
buhun yang kerap kali dimainkan dalam rangka menghormati Dewi
Padi atau Dewi Sri.
BAB III
3.1. Kesimpulan
Museum Sri Baduga memiliki banyak koleksi yang berhubungan dengan
sejarah Jawa Barat dan tidak hanya itu saja, museum ini juga
memamerkan koleksi tentang budaya dan tradisi Jawa [Link]
ini memiliki banyak potensial pengetahuan yang bisa dimanfaatkan dan
menjadi tempat yang representatif untuk [Link] pandangan
masyarakat bahwa museum adalah tempat yang kuno,tempat
menyimpan benda-benda usang menimbulkan image museum
merupakan tempat yang [Link] untuk anak-anak,
mereka lebih menyukai halhal yang lucu dan sesuai dengan dunia
[Link] multimedia interaktif ini anak-anak SD akan
dikenalkan budaya Jawa Barat di museum Sri Baduga yang berlokasi di
Bandung sebagai aset kota [Link]-anak belajar mengenai
sejarah dengana cara yang lebih menarik dan [Link]-
anak tidak hanya belajar sejarah tetapi juga tradisi dan kebudayaan
Jawa [Link] multimedia interaktif ini disajikan content
dengan ilustrasi vektor sederhana dan warna-warna yang eye-cacthing
karena anak-anak lebih menyukai gambar yang lucu sesuai dengan usia
[Link] akan menjadi sangat menyenangkan karena
multimedia ini tidak hanya berisi informasi tetapi juga ada 6 interaktif
berupa game edukatif antara lain kuis, puzzle, mencari benda, mencari
perbedaan,mewarnai, dan mendengarkan suara. Multimedia Interaktif
ini melibatkan secara visual, animasi dan audio. Seiring dengan
kemajuan teknologi dan jaman penyajian multimedia interaktif dengan
layar touchscreen agar pengunjung lebih tertarik dan berminat untuk
datang.
3.2. Saran
Museum Sri Baduga adalah tempat yang sangat potensial dan
represntatif untuk berwisata dan [Link] Sri Baduga, dilihat
dari bangunan dan kondisinya sudah cukup baik dan modern. Kesan
kuno atau menyeramkan tidak terasa karena museum sudah
direnovasi. Oleh karena itu hendaknya pihak museum memaksimalkan
potensi yang ada sehingga bisa menumbuhkan minat masyarakat untuk
ke museum seperti mereka mau ke mall atau tempat rekreasi
[Link] masyarakat hendaknya mengubah pandangan mereka
terhadap museum itu kuno. Karena banyak-banyak hal-hal yang kita
tidak ketahui mengenai budaya dan tradisi dapat kita lihat di sana.
Biaya yang sangat terjangkau untuk masuk ke museum dibandingkan
tempat rekreasi lainnya tentunya bukan menjadi masalah
[Link] designer juga diharapkan untuk kontribusi terhadap
kota Bandung. Sebab semua hal yang dirancang, dan ditata secara
menarik tentu akan disukai semua orang. Semoga bila ada perancangan
multimedia interaktif di museum Sri Baduga ini dapat diinovasi lebih
baik lagi sehingga museum ini terus memberikan kontribusi dalam
menjaga eksistensi sejarah, budaya dan tradisi Jawa Barat.