STRATEGI PEMASARAN BISNIS RITEL
KELOMPOK 8 :
1. Yuli Ermawati (B.111.19.0016)
2. Sindi Fatmasari (B.111.19.0062)
3. Yusril Al hakim (B.111.19.0081)
4. Eryka Devi Lia (B.111.19.0258)
5. Candra Ery Senja (B.111.19.0262)
6. Natasha (B.111.19.0283)
7. Fickar Bintang R. (B.111.19.0320)
8. Nadila Alya Ayunani (B.111.19.0323)
9. Dewi Putri Lestari (B.111.19.0326)
PRODI S1 MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SEMARANG
2022
A. LATAR BELAKANG
Bisnis ritel merupakan keseluruhan aktivitas bisnis yang terkait dengan penjualan
danpemberian layanan kepada masyarakat sebagai pelaku konsumen untuk penggunaan
yangsifatnya individu sebagai pribadi maupun keluarga. Keberhasilan pasar ritel yang
kompetitif, pelaku ritel harus dapat menawarkan produk yang tepat, dengan harga, waktu
dan tempat yangtepat pula. Oleh karena itu, pemahaman terhadap pelaku ritel terhadap
karakteristik target pasaratau konsumen yang akan dilayani merupakan hal yang sangat
penting. Dalam operasionalnya pelaku ritel menjalankan beberapa fungsi antara lain
membantu konsumen dalam menyediakan berbagai produk dan jasa. Menjalankan fungsi
memecah maupun menambah nilai produk, secarakeseluruhan pengelola bisnis ritel
membutuhkan implementasi fungsi-fungsi manajemen secaraterintegrasi baik fungsi
keuangan, pemasaran, sumber daya manusia, maupun [Link] pelaku ritel
dapat memahami secara penuh tentang lingkup bisnis [Link] ritel semakin
berubah seiring dengan perubahan teknologi, perkembangan duniausaha serta kebutuhan
konsumen. Siap atau tidak, ritel di Indonesia akan menghadapi persainganyang demikian
sengit. Apalagi dengan semakin maraknya rite lasing di Indonesia yang punyakekuatan
merek dan dana yang tak terbatas. Oleh karenanya ritel di Indonesia perlu
mewaspadaiatau memahami berbagai tren yang akan terjadi pada dunia ritel di masa
depan.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Jelaskan apa yang dimaksudn strategi pemasaran ritel ?
2. Apakah yang dimaksud dengan bisnis ritel ?
3. jelaskan macam-macam, fungsi, dan jenis Ritel !
C. PEMBAHASAN
BISNIS RETAIL
o Pengertian Ritel
Perdagangan eceran atau sekarang kerap di sebut dengan perdagangan ritel,
bahkan di singkat menjadi bisnis ritel, menurut Hendri Ma’ruf (2005:7) “Bisnis ritel
adalah kegiatan usaha menjual barang atau jasa pada perorangan untuk keperluan
sendiri, keluarga dan rumah tangga.” Kotler (2002:274) yang dialih bahasakan oleh
[Link] mendefinisikan “penjualan eceran adalah meliputi semua kegiatan yang
melibatkan dalam semua penjualan barang dan jasa secara langsung ke konsumen
akhir untuk penggunaan pribadi bukan bisnis.”
Ritel merupakan rantai yang penting dari saluran distribusi yang
menghubungkan keseluruhan dari bisnis dan orang-orang yang mrncakup perpindahan
secara fisik dan transfer kepemilikan barang atau jasa dari produsen kepada
konsumen. Sedangkan menurut Djasmin Saladin (2006:163) “penjualan eceran adalah
meliputi semua aktifitas yang melibatkan penjualan barang dan jasa pada konsumen
akhir untuk dipergunakan yang sifatnya pribadi, dan bukan bisnis.”
Menurut Hendri Ma’ruf (2005) “Bauran Eceran adalah kombinasi dari faktor-
faktor ritel yang dipergunakan untuk memuaskan kebutuhan pelanggan dan
mempengaruhi keputusan mereka untuk membeli.” Faktor-fakror tesebut adalah
lokasi (location), barang dagangan (merchendise), harga (price), promosi (promotion),
pelayanan (service), suasana toko (atmosfer). Dari beberapa definisi diatas, dapat
disimpulkan bahwa usaha eceran (ritel) merupakan aktifitas penjualan barang atas jasa
yang langsung kepada konsumen akhir dan bukan untuk dijual kembali.
Fungsi Ritel
Dalam suatu saluran distribusi, pengecer memainkan peranan penting sebagai
penengah antara produsen, agen dan para supplier lain dengan konsumen akhir.
Pengecer mengumpulkan semua jenis barang dan jasa yang beragam memungkinkan
para konsumen dapat memilih dan membeli berbagai variasi produk dengan jumlah
yang mereka inginkan. Ada empat fungsi utama pedagang eceran, yaitu sebagai
berikut :
1) Perantara antara distributor dengan konsumen akhir.
2) Penghimpun berbagai kategori jenis barang yang menjadi kebutuhan
konsumen.
3) Tempat rujukan untuk mendapatkan batang yang dibutuhkan konsumen.
4) Penentuan eksistensi barang dari manufaktur di pasar konsumen.
Jenis-Jenis Ritel
Menurut Hendri Ma’ruf (2005:74) menyatakan jenis- jenis gerai modern
adalah sebagai berikut :
1) Minimarket yaitu toko yang relatif kecil yang menjual barang kebutuhan
sehari- hari, biasanya berukuran antara 50m sampai 200m.
2) Convenience Store yaitu toko yang mirip mini market dalam hal produk yang
dijual, tetapi berbeda dalam harga, jambuka dan luas ruang dan lokasi.
3) Specialty Srore yaitu toko yang menyediakan pilihan produk yang lengkap
hingga konsumen tidak harus mencari lagi d toko lain, keragaman produk
disertai harga yang bervariasi dari yang terjangkau hingga yang premium
membuat specialty store unggul.
4) Fectory Outlet yaitu toko yang menjual produk- produk okspor yang masih
layak untuk dijual.
5) Disto Atau Distribution Outlet yaitu toko yang menjual produk-produk yang
memiliki merk sendiri.
6) Supermarket yaitu toko yang menjual produk – produk kebutuhan seharihari
dengan ukuran lebih besar dari minimarket.
7) Departemen Store yaitu toko yang berukuran sangat besar dan menjual
produk- produk kebutuhan sehari- hari, rumah tangga bahkan non pangan.
Manajemen Strategi Untuk Pemasaran Ritel
Industri ritel terus berubah seiring dengan perubahan teknologi, perkembangan
dunia usaha serta kebutuhan konsumen. Bisnis ritel adalah keseluruhan aktifitas bisnis
yang terkait dengan penjualan dan pemberian layanan kepada konsumen untuk
penggunaan yang sifatnya individu sebagai pribadi maupun keluarga. Strategi
pemasaran ritel (retail) meliputi (1). Pemilihan segment target pasar dan penentuan
format ritel (retail) dan (2). Pengembangan keunggulan bersaing yang memungkinkan
ritel (retail) untuk mengurangi tingkat kompetensi yang dihadapi.
Agar berhasil dalam pasar ritel yang kompetitif, pelaku ritel harus dapat menawarkan
produk yang tepat, harga yang tepat, waktu dan tempat yang tepat pula. Oleh karena
itu, pemahaman terhadap pelaku ritel terhadap karakteristik target pasar atau
konsumen yang akan dilayani merupakan hal yang sangat penting. Dalam
operasionalnya pelaku ritel menjalankan beberapa fungsi antara lain membantu
konsumen dalam menyediakan berbagai produk dan jasa. Menjalankan fungsi
memecah maupun menambah nilai produk, secara keseluruhan pengelola bisnis ritel
membutuhkan implementasi fungsi-fungsi manajemen secara terintegrasi baik fungsi
keuangan, pemasaran, sumber daya manusia, maupun operasional.
Sehingga pelaku ritel dapat memahami secara penuh tentang lingkup bisnis
ritelnya, cara strategi pengembangannya dan memanajemen bisnisnya. Konsep Ritel
adalah orientasi manajemen yang memfokuskan ritel dalam menentukan kebutuhan
target pasar serta memenuhi kebutuhannya dengan lebih efektif dan efisien. Ritel yang
berhasil harus memenuhi kebutuhan pelanggan pada segmen pasar yang dilayani
secara lebih baik daripada yang dilakukan oleh pesaing. Tugas utama dalam
mengembangkan bisnis ritel adalah menetapkan sasaran pasar, proses ini di awali
dengan menetapkan segmentasi pasar. Prinsip dasar pada ritel modern yang terdiri
dari 4P:
a) Product (Produk)
Produk menurut Kotler dan Armstrong (200) adalah segala sesuatu yang di
tawarkan kepasar untuk diperhatikan, dimiliki, digunakan atau dikonsumsi yang
dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan. Menurut Porter (1996) “Keunggulan
suatu produk agar dapat diterima dan bertahan dipasar ditentukan oleh ciri-ciri
khas atau keunikan produk tersebut dibandingkan dengan produk yang lain yang
ada dipasar.
b) Price (Harga)
Strategi dalam penetapan harga bias dilakukan dengan beberapa cara,
misalnya: Harga building, harga predatory, harga berbasis kompetisi, harga cost
plus, harga berorientasi pasar, harga premium, harga psikologis, harga dinamis
(Kotler and Armstrong: 2010). Ada tiga pihak yang menjadi dasar pertimbangan
dalam penetapan harga oleh sebuah perusahaan ritel yaitu: konsumen, dirinya
sendiri dan pesaing. Menurut Ma’ruf (2005). Implementasi strategi harga antara
lain:
- Penetapan harga secara tetap untuk periode waktu tertentu dan harga yang di
tetapkan secara variatif sesuai fluktuasi tingkat permintaan konsumen.
- Penetapan harga ganjil seperti: Rp 99.000,- Rp 199.000,- Rp 749.000,-
- Leader pricing, penetapan harga dimana profit marginnya lebih rendah
daripada tingkat yang biasa diraih bertujuan untuk menarik konsumen yang
lebih banyak.
- Penetapan harga paket, yaitu harga yang didiskon untuk penjualan lebih dari
satu unit per-itemnya.
- Harga bertingkat, ini diberlakukan untuk produk yang mempunyai banyak
model dan harga yang beragam.
c) Promotion (Promosi)
Menurut philip Kotler (1997: 153) proses keputusan pembelian dipengaruhi
oleh rangsangan pemasaran dan rangsangan lain. Bauran promosi yang meliputi
periklanan (Advertising), penjualan pribadi (Personal Selling), hubungan
masyarakat (Public Relation) dan publisitas (Publicity), promosi penjualan (Sales
Promotion) dan pemasaran langsung (Direct marketing) adalah bagian dari
rangsangan pemasaran yang merupakan variabel yang dapat di control oleh
perusahaan.
d) Place (Tempat/Lokasi)
Saluran pemasaran adalah serangkaian organisasi yang saling tergantung yang
terlibat dalam proses menjadikan barang dan jasa siap digunakan atau dikonsumsi
(Kotler: 2002). Menurut Losch, lokasi penjualan sangat berpengaruh terhadapa
jumlah konsumen yang dapat digarapnya. Semakin jauh dari tempat penjual,
konsumen semakin malas membeli karena biaya transportasi untuk mendatangi
tempat penjual semakin mahal. Losch cenderung menyarankan agar lokasi produk
berada dipasar atau dekat dengan pasar.
Lokasi merupakan factor factor terpenting dalam pemasaran ritel. Pada lokasi
yang tepat, sebuah gerai akan lebih sukses dibandingkan gerai lainnya yang
berlokasi kurang strategis, meskipun keduanya menjual produk yang sama dengan
pramuniaga yang sama terampilnya dan mempunyai citra toko yang bagus.
Strategi pemasaran yang baik juga harus didukung dengan kualitas pelayanan
yang baik.
Menurut Christopher H. Lovelock [Link](1996) menyatakan bahwa kualitas
pelayanan merupakan bentuk pelayanan yang harus disesuaikan dengan harapan
dan kepuasan konsumen didalam memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka.
Salah satu cara perusahaan untuktetpa dapat unggul bersaing dengan memberikan
pelayanan dengan kualitas yang lebih tinggi dari pesaingnya secara konsisten.
Harapan konsumen dibentuk oleh pengalaman masa lalunya, pembicaraan dari
mulut kemulut serta promosi yang dilakukan kemudian dibandingkannya.
Menurut Payne (2000) membentuk model kualitas pelayanan yang menyoroti
syarat-syarat utama memberikan kulaitas pelayanan diantaranya adalah:
- Kesenjangan antara harapan konsumen dengan persepsi manajemen
- Kesenjangan antara persepsi manajemen terhadap harapan konsumen dengan
spesifikasi terhadap kualitas pelayanan
- Kesenjangan antara spesifikasi kualitas pelayanan dan penyampaian
pelayanan
- Kesenjangan antara pelayanan yang di sarankan dan pelayanan yang di
harapkan.
KESIMPULAN
Strategi pemasaran ritel adalah pemasaran yang mengacu kepada variabel, dimana pedagang
eceran dapat mengkombinasikan menjadi jalan alternatif sebagai suatu strategi pemasaran
untuk dapat menarik konsumen. Variabel tersebut umumnya meliputi faktor seperti : variasi
barang dagangan dan jasa yang ditawarkan, harga, iklan, promosi, dan tata ruang, desain
toko, lokasi toko dan merchanding. Untuk menjaga kelangsungan hidup serta kemajuan dan
keunggulan dalam bisnis eceran yang semakin kompetitif, maka pengelola bisnis tersebut
harus berupaya menerapkan strategi berupa program bauran penjualan eceran yang
diharapkan memunculkan minat konsumen.
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
[Link]
[Link]