0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
111 tayangan48 halaman

Teknik Pengambilan Sampel Penelitian

Dokumen menjelaskan tentang konsep populasi, sampel, dan kerangka sampel dalam penelitian. Ada dua jenis populasi yaitu terbatas dan tak terbatas, serta homogen dan heterogen. Pengambilan sampel yang representatif dari populasi dilakukan dengan berbagai teknik seperti simple random sampling, stratified random sampling, dan nonprobability sampling. Sampel yang baik harus valid dan akurat mewakili karakteristik populasi.

Diunggah oleh

Planet Seluler
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
111 tayangan48 halaman

Teknik Pengambilan Sampel Penelitian

Dokumen menjelaskan tentang konsep populasi, sampel, dan kerangka sampel dalam penelitian. Ada dua jenis populasi yaitu terbatas dan tak terbatas, serta homogen dan heterogen. Pengambilan sampel yang representatif dari populasi dilakukan dengan berbagai teknik seperti simple random sampling, stratified random sampling, dan nonprobability sampling. Sampel yang baik harus valid dan akurat mewakili karakteristik populasi.

Diunggah oleh

Planet Seluler
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SAMPLING

Uraian tentang pengambilan sampel lebih menekankan pada prosedurnya. Sebelum


diuraikan lebih lanjut, kita harus memahami terlebih dahulu tentang populasi, sampel dan
kerangka sampel.
1. Populasi
a. Populasi adalah kelompok lengkap yang mana saja, apakah orang, rumah, kebun
atau binatang (Warwick & Lininger, 1975 : 71)
b. Populasi adalah : merupakan keseluruhan objek yang diteliti; dan terdiri dari atas
sejumlah individu, baik yang terbatas maupun yang tidak terbatas (Murti Sumarni &
Salamah, 2005 : 69).
Contoh :
Semua orang yang terdaftar dalam Angkatan Laut pada hari tertentu.
Semua mahasiswa yang mengambil mata kuliah Ekonomi Pembangunan
Semua jenis senjata yang diperbolehkan oleh Undang Undang

2. Jenis Populasi
2.1. Berdasarkan jumlah
a. Populasi Terbatas adalah yang mempunyai sumber data yang jelas batasnya
secara kuantitatif, sehingga dapat dihitung jumlahnya
Contoh :
Sejumlah 200 siswa SD Rajawali Kota Banjarmasin mendapatkan dana BOS.
Sejumlah 100 pengusaha asal Cina akan berinvestasi di Kalimantan
Sejumlah 500 dokter baru ditempatkan di pedalaman Kalimantan
a. Populasi Tak Terbatas yaitu sumber datanya tidak dapat ditentukan batasan-
batasannya, sehingga relatif tidak dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah
Contoh :
Orang mendulang emas di ruang bawah tanah mengambil/menggali tanah
sampai tak terhingga penggalian.
Jumlah air laut ketika pasang pada waktu bulan purnama
Kualitas semua TV merk National
2.2. Populasi berdasarkan sifatnya
a. Populasi Homogen ; apabila sumber datanya memiliki sifat yang sama.
Sehingga tidak perlu mempersoalkan jumlahnya secara kuantitatif
Contoh :
Air teh dalam sebuah gelas
b. Populasi Heterogen ; apabila unsurnya memiliki sifat yang berbeda/bervariasi,
sehingga perlu ditetapkan batas-batasnya
Contoh :
Pedagang di Pasar Baru
(Sumber : Suharsimi Arikunto, 1977 : 110)
 Ketepatan dalam pengambilan sampel sangat menentukan kualitas hasil
penelitian.
 Pengambilan sampel memberikan kesempatan lebih luas untuk memperoleh
informasi yang diperlukan
 Pengambilan sampel merupakan satu-satunya cara yang dapat dilakukan, jika
jumlah individu dalam populasi tidak terbatas
(Murti Sumarni & Salamah, 2005 : 71)
3. Kerangka Populasi (Population Frame)
Merupakan sebuah daftar yang memuat semua elemen dalam populasi darimana
sampel diambil
Contoh :

Karyawan suatu perusahaan Populasi

Daftar gaji Kerangka populasi

Perguruan Tinggi Populasi

• Daftar mahasiswa
• Pegawai administrasi Kerangka populasi
• Dosen

4. Sampel
Adalah bagian dari populasi yang digunakan untuk mempelajari karakteristik populasi.
Menurut Riduwan & Akdon, 2005 : 240, sampel adalah bagian dari populasi yang
mempunyai ciri-ciri atau keadaan tertentu yang akan diteliti
Apa yang dipelajari dari sampel, maka kesimpulannya akan diberlakukan untuk
populasi. Oleh karena itu, sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul
refresentatif/mewakili. Jika sampel kurang refresentatif, akan mengakibatkan nilai
yang dihitung dari sampel tidak cukup tepat – untuk menduga nilai populasi
sesungguhnya.
Dari kata sampel, muncullah istilah Sampling. Sampling adalah proses pemilihan
sejumlah elemen dari populasi.
Dengan mempelajari sampel serta memahami sifat karakteristik sampel, kita akan
dapat memperkirakan sifat atau karakteristik populasi.
Karakteristik populasi :
• Rata-rata populasi
• Standard deviasi Paramater populasi
• Variasi populasi

4.1. Kerangka Sampel


Adalah daftar semua unsur yang ada dalam populasi
Kriteria yang harus dipenuhi dalam menulis kerangka sampel :
a. Exhaustive, artinya lengkap dan terbatas (semua unsur harus ditulis lengkap,
terbatas yaitu hanya unsur sampel yang boleh ditulis).
b. Tidak boleh ada satu unsur yang ditulis dua kali atau lebih
c. Setiap unsur harus bisa dilacak di lapangan
4.2. Keuntungan menggunakan sampel :

a. Memudahkan peneliti
b. Penelitian lebih efisien (dalam arti penghematan uang, waktu dan tenaga)
c. Lebih teliti dan cermat dalam pengumpulan data.

4.3. Sampel yang baik:


Apabila sampel dapat mencerminkan karakteristik populasinya.
Sampel harus valid
Validitas sampel  tergantung pada 2 hal
1. Akurasi
Sampel yang akurat atau tidak bias, merupakan sampel yang dimanfaatkan
untuk mengembangkan penilaian antara anggota-anggota sampel.
Artinya : apabila misalnya disatu sisi terjadi overestimate. Dengan demikian
secara keseluruhan akan ada keseimbangan diantara nilai-nilai anggotanya.
Sampel yang bias akan mengalami systematic Variance yaitu variasi atau
penyimpangan dalam pengukuran yang bisa mempengaruhi skor secara
keseluruhan.
Contoh :
Perusahaan A merupakan industri menengah, dibanding beberapa perusahaan
lain di suatu wilayah yang merupakan industri kecil. Jika dalam pemilihan
individu sampel, perusahaan A ikut terambil dan masuk ke dalam sampel
industri kecil, maka hal ini akan mengakibatkan terjadinya overestimate
terhadap industri rata-rata pada wilayah tersebut (terjadi bias).
2. Ketelitian
Kriteria untuk sampel yang baik adalah rendahnya tingkat kesalahan estimasi
(sampling error). Dalam teori, sampling error hanya berupa kesalahan karena
fluktuasi random.

5. Teknik/Metode Pegambilan Sampel


Pada dasarnya teknik pengambilan sampel dikelompokkan menjadi 2 (dua) cara,
yaitu :
I. Probability sampling
II. Non Probability sampling, seperti gambar berikut
1. Simple random sampling
2. Proportionate stratified random sampling
Probability 3. Disproportionate stratified random sampling
sampling 4. Area sampling (sampling daerah atau klaster)

Teknik
Sampling
1. Sampling sistematis
Non Probability 2. Sampling Kuota
3. Sampling aksidental
sampling 4. Purposive sampling
5. Sampling jenuh
6. Snowball sampling

I. Probability sampling
Probability sampling adalah teknik sampling untuk memberikan peluang yang sama
pada setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel, yang tergolong
teknik probability sampling yaitu :
a. Simple Random Sampling
Simple Random Sampling adalah cara pengambilan sampel dari anggota populasi
dengan menggunakan acak tanpa memperhatikan strata (tingkatan) dalam
anggota populasi tersebut. Hal ini dilakukan apabila anggota populasi dianggap
homogen (sejenis).
Contoh :
(1) Jumlah pegawai Bank swasta mengikuti pelatihan di Singapura
(2) Narapidana yang mendapatkan remisi tahun 2007 dari Presiden RI
(3) Jumlah Pegawai Diknas Kota Banjarmasin yang mengikuti Diklatpim II.
(4) Jumlah nasabah Bank swasta di Kota Bali yang mendapat hadiah mobil

Populasi yang sejenis, dapat dilihat pada Gambar berikut :

Populasi Sejenis Sampel


Representatif

Diambil secara acak (random )


b. Proportionate Stratified Random Sampling
Proportionate Stratified Random Sampling ialah pengambilan sampel dari
anggota populasi secara acak dan berstrata secara proporsional, dilakukan
sampling ini apabila anggota populasinya heterogen (tidak sejenis).
Contoh :
(1). Jumlah guru SD se-Kota Malang ikuti seminar pendidikan di UPI Bandung :
(a) Guru Bahasa Indonesia = 25 orang
(b) Guru Bahasa Inggris = 20 orang
(c) Guru PPKn = 10 orang
(d) Guru Matematika = 50 orang
(e) Guru IPS = 35 orang
(f) Guru IPA = 45 orang
(g) Guru Olahraga = 10 orang
(h) Guru Agama = 15 orang
(i) Guru Kesenian = 15 orang
Jumlah sampel yang diambil; harus sama porsinya dengan jumlah guru sesuai
dengan bidang studi
(2) Penerbit Mutiara Ilmu memproduksi buku yang paling laku untuk di
pasarkan ke SD di-Kota Bandung = 60,  = 110,  =190, dan  =
700
Jumlah sampel yang diambil harus sama dengan judul buku
seperti Gambar berikut
Populasi Hiterogen

Judul Buku 


c) Dispropoortionate Stratified Random Sampling
Disproportionate stratified random sampling ialah pengambilan sampel dari
anggota populasi secara acak dan berstrata tetap sebagian ada yang kurang
proporsional pembagiannya, dilakukan sampling ini apabila anggota populasi
heterogen (tidak sejenis). Contoh
(1) Jumlah Pegawai pada Dinas Pendidikan Kota Surabaya
(a) Kepala Dinas Pendidikan = 1 orang
(b) Kasubag Tata Usaha = 1 orang
(c) Kepala Seksi pada Dinas = 10 orang
(d) Kepala Sub Seksi pada Dinas = 20 orang
(e) Kepala Urusan pada Dinas = 15 orang
(f) Kepala Cabang Dinas = 10 orang
(g) Kepala Urusan pada Cabang Dinas = 25 orang
(h) Kepala Sub Seksi Pada Cabang Dinas = 30 orang
(i) Pelaksana/Staf =158 orang

Dari jumlah pegawai yang berasal dari Kepala Dinas Pendidikan = 1 orang dan
Kasubag Tata Usaha = 1 orang tersebut diambil dijadikan sampel karena terlalu
kecil bila dibandingkan dengan staf lain
(2) Jumlah pegawai pada Bank Swasta di Jakarta
(a) Direktur Utama = 1 orang
(b) Kepala Departemen= 2 orang
(c) Kepala Divisi = 25 orang
(d) Kepala Bidang = 250 orang
(e) Kepala Cabang = 500 orang
(f) Kepala Karyawan = 3.500 orang

Dari jumlah karyawan yang berasal dari Direktur Utama = 1 orang dan
kepala Departemen = 2 orang tersebut diambil dijadikan sampel
karena terlalu sedikit bila dibandingkan dengan bagian lain

d) Area Sampling (Kluster Sampling)


Area sampling (kluster sampling) ialah teknik sampling yang dilakukan dengan
cara mengambil wakil dari setiap wilayah geografis yang ada. Contoh: Peneliti akan
melihat pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah ( MBS ) SD se-Indonesia.
Karena wilayah cukup luas terdiri dari 33 provinsi dan masing-masing berbeda
kondisinya, maka peneliti mengambil sampel dan SD tingkat provinsi, SD tingkat
provinsi dari SD tingkat kabupaten/kota, SD tingkat kabupaten/kota terdiri dari SD
tingkat kecamatan, SD tingkat kecamatan terdiri dari SD tingkat kelurahan/desa
yang akan melaksanakan MBS
Teknik untuk mendapatkan sampel kluster mula-mula secara acak diambil sampel
yang terdiri dari SD tingkat provinsi, dari tiap SD tingkat provinsi dalam sampel,
disebut SD tingkat provinsi sampel, dari tiap SD tingkat kabupaten/kota dalam
sampel disebut SD tingkat kabupaten/kota sampel, secara acak diambil SD tingkat
kecamatan. Banyaknya kecamatan yang diambil dari SD tiap kabupaten/kota
sampel mungkin sama banyak mungkin pula berbeda. Setelah didapat SD tingkat
kecamatan sebagai sampel. Kemudian dari tiap SD tingkat kecamatan sampel
secara acak diambil SD tingkat kelurahan/desa, untuk mendapatkan SD tingkat
kelurahan/desa sampel selanjutnya dari tiap desa sampel diambil secara acak.

Akhirnya dari tiap SD tingkat kelurahan/desa sampel inilah, setelah semuanya


digabungkan yang menjadi anggota sampel Kluster, yaitu kepada siswa SD tingkat
kelurahan/desa yang akan melaksanakan MBS, dengan demikian hasilnya akan
mencerminkan pelaksanaan MBS se-Indonesia, seperti Gambar berikut

SD TINGKAT
PROPINSI
SD TINGKAT
KABUPATEN/
KOTA
SD TINGKAT
KECAMATAN
SD TINGKAT
KELURAHAN/DESA
YANG MELAKSANA-
Teknik Sampling Kluster berdasarkan daerah atau wilayah KAN MBS
II. Non ProbabilitySampling
Non probability sampling ialah teknik sampling yang tidak memberikan
kesempatan (peluang) pada setiap anggota populasi untuk dijadikan anggota
sampel. Teknik non probabilitysampling antara lain:
a) Sampling Sistematis
Sampling Sistematis ialah pengambilan sampel didasarkan atas urutan dari
populasi yang telah diberi nomor unit atau anggota sampel diambil dari populasi
pada jarak interval waktu, ruang dengan urutan yang seragam
(1) Jumlah populasi 140 guru diberi nomor unit No.1 s.d. No.140.
Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan nomor genap (2,4,6,8,10
sampai 140) atau nomor ganjil (1,3,5,7,9 sampai 139). Pengambilan sampel
bisa juga dengan cara mengambil nomor kelipatan (7,14,21,28 sampai 140).
(2) Para pelanggan listrik nama-namanya sudah terdaftar di Bagian
Pembayaran Listrik berdasarkan lokasinya. Untuk pengambilan sampel
tentang para pelanggan listrik, secara sistematis dapat diambil melalui
rayon pembayaran listrik.
(3) Pelanggan telepon yang namanya sudah terdapat dalam buku telepon.
Apabila peneliti ingin mengambil sampel tentang disiplin pembayaran
telepon, maka secara sistematis dapat mengambil sumber data langsung di
buku tersebut.
4) Peneliti akan mengadakan pemeriksaan metalorgi (ilmu bahan) di perusahaan
tertentu yang hasilnya menggunakan proses, maka pengambilan sampel
dapat dilakukan pada jarak interval waktu tertentu, misalnya tiap 30 detik, 5
menit, 30 menit, 2 jam, 5 jam dan seterusnya.
(5) Peneliti menginginkan sampel 40 pegawai Dinas Pendidikan dari jumlah
populasi berukuran 400 pegawai Dinas Pendidikan. Caranya mula-mula
setiap subjek dari populasi diberi nomor unit yaitu: No.1 s.d. No.400,
kemudian jumlah populasi 400 dibagi 10 sehingga didapat 40 group (sub-
populasi) setiap groupnya berjumlah 10 pegawai. Sub-populasi ke-1 berisi
nomor urut pegawai: No.1 s.d. No.10, subpopulasi ke-2 nomor urat pegawai:
No. 11 s.d. No.20, dan seterusnya hingga sub-populasi ke-40 berisi nomor
unit pegawai: 391 s.d. 400

b) Sampling Kuota
Sampling Kuota ialah teknik penentuan sampel dari populasi yang mempunyai
ciri-ciri tertentu sampai jumlah (jatah) yang dikehendaki atau pengambilan
sampel yang didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan tertentu dari
peneliti. Caranya menetapkan besar jumlah sampel yang diperlukan, kemudian
menetapkan jumlah (jatah yang diinginkan), maka jatah itulah yang dijadikan
dasar untuk mengambil unit sampel yang diperlukan. Contoh:
(1) Peneliti ingin mengetahui informasi tentang penempatan karyawan yang
tinggal di Perumahan Pondok Hijau, dalam kategori jabatan tertentu dan
pendapatannya termasuk kelas tertentu pula. Dalam pemilihan orangnya
(pengambilan sampel) akan ditentukan pertimbangan oleh peneliti sendiri
atau petugas yang diserahi mandat
(2) Jemaah haji yang berangkat ke tanah suci sudah diberi jatah oleh Persatuan
Haji Indonesia (PHI) bekerjasama dengan Pemerintah Arab Saudi, yaitu
sebanyak 250.000 orang calon haji dari populasi 250.000.000 jiwa penduduk
Indonesia. Artinya satu orang calon haji mewakili 1000 orang jiwa penduduk
yang meyebar di wilayah Indonesia, tergantung kepada jumlah penduduk
setiap provinsi dan kabupaten/kota. Jika peneliti ingin meneliti kesehatan
calon haji di tanah suci, maka sampel yang dipakai sebanyak 250.000 orang
yang menyebar di embarkasi dan kloter masing-masing wilayah.
(3) Diadakan penelitian prestasi kerja terhadap 250 orang guru peserta
penataran Psikologi dan Konseling Nasional, penelitian dilakukan secara tim
yang terdiri dari 25 orang. Caranya setiap anggota peneliti dapat memperoleh
jatah sampel secara bebas sesuai dengan ciri-ciri dan prosedur yang
ditentukan oleh 10 orang guru

c) Sampling Aksidental
Sampling Aksidental ialah teknik penentuan sampel berdasarkan faktor
spontanitas, artinya siapa saja yang secara tidak sengaja bertemu dengan peneliti
dan sesuai dengan karakteristik (ciri-cirinya), maka orang tersebut dapat digunakan
sebagai sampel (responden). Contoh
1) Peneliti ingin mengetahui sejauh mana fluktuasi pemasaran buku Matematika
yang dipakai oleh siswa SMP, peneliti mengambil stand di Toko Gramedia
Bandung. Cara pengambilan sampel, yaitu: membatasi jumlah sampel misalnya
100 orang, maka setiap orang yang mampir di Toko Gramedia Bandung dan
yang berminat sesuai dengan karakteristik penggunaan buku matematika SMP
itu dijadikan responden
2) Seorang ahli ilmu Bahasa Inggris ingin mengetahui sejauhmana pengaruh buku
yang dikarangnya. Cara pengambilan sampel, yaitu dibatasi jumlah sampelnya
misalnya 30 orang, setiap orang yang datang ke lembaganya (para siswa diberi
informasi dan apabila berminat sesuai dengan kemampuannya dijadikan
responden), setelah dipelajari buku selama satu minggu, responden segera
memberi kabar atau saran tentang buku yang dipelajarinya

d) Purposive Sampling
Purposive Sampling dikenal juga dengan sampling pertimbangan ialah teknik
sampling yang digunakan peneliti jika peneliti mempunyai pertimbangan-
pertimbangan tertentu di dalam pengambilan sampelnya atau penentuan sampel
untuk tujuan tertentu. Hanya mereka yang ahli yang patut memberikan
pertimbangan untuk pengambilan sampel yang diperlukan. Oleh karena itu,
sampling ini cocok untuk studi kasus yang mana aspek dari kasus tunggal yang
representatif diamati dan dianalisis. Contoh :
(1) Peneliti ingin mengetahui model kurikulum SMU (plus), maka sampel yang
dipilih adalah para guru yang ahli dalam bidang kurikulum pendidikan dan
manajemen pendidikan, masyarakat yang berpengalaman, dan para ahli
dibidang pendidikan
(2) Kasus bumbu masak yang pernah dinyatakan haram. Peneliti ingin
mengetahui penyebabnya dengan cara mencari sampel (responden) yang ahli
dibidang pembuatan bumbu masak, dan mencari responden dari kalangan
ulama yang ahli dalam memberikan fatwa masalah tersebut
(3) Peneliti ingin mengetahui sistem keamanan sekolah, karena akhir-akhir ini
banyak perkelahian antar sekolah. Kemudian peneliti mencari lokasi kejadian
yang menjadi penyebab masalah tersebut, maka terdapat di sebuah wilayah
Kantor Pendidikan Nasional tertentu didapat dua Sekolah Menengah Umum
Negeri (SMUN) dan SMU Swasta, tiga Sekolah Menengah Kejuruan Negeri
(SMK, SMEA, dan SPK) dan satu Madrasah Aliyah Negeri (MAN), kemudian
banyaknya siswa pada setiap sekolah tidak sama. Dengan demikian untuk
menentukan jumlah sampel, peneliti mengambil semua siswa dari sekolah
(SMUN, SMU Swasta, SMK, SMEA, SPK dan MAN). Maksud peneliti adalah
agar jumlah subjek dari keenam jenis sekolah dapat sama. Pertimbangan lain
adalah masalah lokasi/tempat responden yang akan diteliti lebih mudah
dikunjungi dan efisiensi waktu penelitian

e) Sampling Jenuh
Sampling Jenuh ialah teknik pengambilan sampel apabila. semua populasi
digunakan sebagai sampel dan dikenal juga dengan istilah sensus. Sampling
jenuh dilakukan bila populasinya kurang dari 30 orang. Contoh: Akan diadakan
penelitian di laboratorium bahasa Inggris SMU Percobaan UPI Bandung
mengenai tingkat keterampilan percakapan para siswa yang akan dildrim ke
Amerika. Dalam hal ini populasi yang akan diteliti kurang dari 30 orang, maka
seluruh populasi dapat dijadikan sampel
f) Snowball Sampling
Snowball Sampling cara getuk tular (bahasa jawa) yaitu teknik sampling yang
semula berjumlah kecil kemudian anggota sampel (responden) mengajak para
temannya untuk dijadikan sampel dan seterusnya sehingga jumlah sampel
semakin membengkak jumlahnya seperti (bola salju yang sedang menggelinding
semakin jauh semakin besar). Contoh: akan diteliti siapa dalang pengedar Narkoba
di SMP Mekarsari Medan; siapa yang menjadi otak pembunuhan murid SD Kuasa
Mandiri; siapa yang membocorkan rahasia soal ujian akhir nasional tahun 2007
dan lain-lain. Penelitian yang cocok menggunakan sampling ini biasanya metode
penelitian kualitatif.

6. Penentuan Sampel
a. Pengambilan Sampel (apabila populasi sudah diketahui)
Contoh 1: Teknik Pengambilan sampel menggunakan rumus dari Taro Yamane
sebagai berikut

N Dimana : n = Jumlah sampel


n  N = Jumlah populasi
Nd
2
1 d2 = Presisi yang ditetapkan

Diketahui jumlah populasi Dosen Universitas Abdi Dalem sebesar N = 5000


orang dan tingkat presisi yang ditetapkan sebesar = 10%. Berapakah jumlah
sampelnya ?
Berdasarkan rumus tersebut diperoleh jumlah sampel (n) untuk dosen sebagai
berikut :

N 5000 5000 5000


n      98,04  99 responden
N.d
2
1 (5000).0,1
2
1 (5000).(0, 01) 1 51

Jadi, jumlah sampel sebesar 99 dosen

Contoh 2: Surakhmad (2004) berpendapat apabila ukuran populasi sebanyak kurang lebih
dari 100, maka pengambilan sampel sekurang-kurangnya 50% dari ukuran
populasi. Apabila ukuran populasi sama dengan atau lebih dari 1000, ukuran
sampel diharapkan sekurangkurangnya 15% dari ukuran populasi. Dalam
penelitian ini misalnya jumlah anggota populasi sebanyak 900 anggota asuransi
AIG Lippo. Penentuan jumlah sampel dapat dirumuskan sebagai berikut

1000 - n
S  15%  . (50% - 15%) Dimana : S = Jumlah sampel yang diambil
1000 - 100 n = Jumlah anggota populasi

1000 - 900 100


S  15%  . (50% - 15%)  15%  . (35%)
1000 - 100 900

= 15% + 0,11 . (35%) = 15% + 0,03085%


= 18,85%
Jadi jumlah sampel sebesar 900 x 18,85% = 169,65% = 170 responden
b. Pengambilan Sampel Bertingkat (Berstrata)
Pengambilan sampel secara proportional random sampling memakai rumusan
alokasi proportional sebagai berikut
Dimana : ni = Jumlah sampel menurut stratum
N
ni  i
.n n = Jumlah sampel seluruhnya
Ni = Jumlah populasi menurut stratum
N N = Jumlah populasi seluruhnya

Contoh 1: Suatu penelitian di UPI tentang kemampuan menulis buku teks kuliah
sesuai bidang studi yang diikuti oleh dosen lulusan S-1; lulusan S-2; dam
lulusan S-3; Tahun 2005 sebagai berikut:
Lulusan S-1 = 300 orang
Lulusan S-2 = 50 orang
Lulusan S-3 = 20 orang +
Jumlah = 370 orang
Dari rumus di atas diperoleh jumlah sampel menurut masing-masing
strata sebagai berikut
Langkah-langkah penentuan sampel, pertama cari dulu dengan rumus
populasi sudah diketahui sebesar = 370 orang, kemudian tentukan
tingkat presisi yang ditetapkan misalnya sebesar = 5%.
N 370 370
n     192,21  193 orang
N.d
2
1 (370).(0,0
2
5 ) 1 1,925

Jadi, jumlah sampel sebesar 193 orang


Kemudian dicari sampel berstrata dengan rumus : ni= (N i : N).n

(a) Lulusan S-1 = 300 : 370 x 193 = 156,49  157 orang


(b) Lulusan S-2 = 50 : 370 x 193 = 26,08  26 orang
(c) Lulusan S-3 = 20 : 370 x 193 = 10,43  10 orang +
Jumlah = 193 orang

Contoh 2: Penelitian pada Penerbitan Buku Dewa Ruchi ingin merelokasikan


pegawainya ke masing-masing cabang seIndonesia dilihat dari komposisi
dan jabatannya sebagai berikut:
(a) Direktur Utama = 1 orang
(b) Kepala Departemen= 12 orang
(c) Kepala Divisi = 25 orang
(d) Kepala Bidang = 50 orang
(e) Kepala Cabang = 500 orang
(f) Kepala Karyawan = 15.500 orang +
Jumlah = 16.088 orang
Cara menjawab: Cari dulu dengan rumus populasi sudah diketahui sebesar =
16088 orang, kemudian tentukan tingkat presisi yang ditetapkan misalnya
sebesar = 10 %.
N 16088 16088
n     99,38  99 responden
N.d
2
1 (16088).(0
2
,1 ) 1 161,88

Jadi, jumlah sampel sebesar 99 responden


Kemudian dicari sampel berstrata dengan rumus : ni= (Ni: N).n

(a) Direktur Utama = 1 : 16088 x 99 = 0,006  1 orang


(b) Kepala Departemen= 12 : 16088 x 99 = 0,007  1 orang
(c) Kepala Divisi = 25 : 16088 x 99 = 0,154  1 orang
(d) Kepala Bidang = 50 : 16088 x 99 = 0,31  1 orang
(e) Kepala Cabang = 500 : 16088 x 99 = 3,077  3 orang
(f) Kepala Karyawan = 15500 : 16088 x 99 = 95,38  95 orang
Apabila ada sampel yang lebih seperti ini yaitu 102 orang, maka yang digunakan
dalam penentuan sampel dipilih 102 orang walaupun jumlah sampel semula 99 orang.
Karena untuk menghindari kesalahan sampel

Contoh 3 Populasi penelitian ini adalah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terkemuka
di Kota Bandung yaitu Universitas A, Universitas B; dan Universitas C

Populasi
Universitas A 981 mahasiswa
Universitas B 433 mahasiswa
Universitas C 339 mahasiswa
Jumlah 1753 mahasiswa
Sumber : Elisabeth Koes Soedijati (2005)
Ada beberapa alasan diambilnya populasi dari ketiga PTS terkemuka ini
sebagai objek penelitian, yaitu :

(1) Berdasarkan info lowongan pekerjaan yang dimuat di media cetak (Pikiran
Rakyat), banyak perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja yang berasal
dari Universitas A,B dan C
(2) Jurusan Akuntansi terakreditasi A yang memiliki lebih dari 300 mahasiswa
dalam satu angkatan yaitu
(3) Tiga PTS tersebut dapat mewakili Kota Bandung Barat, Tengah, dan Timur.
(4) Dari hasil pengamatan di Kantor Kopertis Wilayah IV Jawa Barat dan
lapangan, ternyata ketiga PTS tersebut mengadakan Ujian Saringan Masuk
(USM) sebelum diadakannya

(5) Ketiga PTS itu juga membuka pendaftaran lebih dari satu gelombang,
namun pendaftaran ditutup sesudah SPMB dibuka, sesuai dengan
peraturan pemerintah.
(6) Ketiga PTS tersebut, dari tahun ke tahun relatif stabil bahkan calon
mahasiswa yang mendaftar menjadikannya sebagai pilihan utama atau
paling tidak pilihan kedua setelah PMB tidak berhasil. Cara penerimaan,
cukup dengan iklan di surat kabar dan spanduk yang dipasang di
kampusnya saja. Adapun sementara itu PTS lain, berbarengan dengan
pengumuman PMB, melalui iklan dan media promosi lainnya menyatalran
masih menerima pendaftaran calon mahasiswa.
(7) Lulusan PTS banyak diminati perusahaan/instansi dengan
melayangkan promosi kepada para sarjana bare, menjelang Hari Wisuda
Sarjana. Ini membuktikan bahwa pemakai membutuhkan mereka, bahkan
pada scat hari wisuda selalu terisi dengan adanya stand-stand promosi
berbagai instansi/perusahaan yang secara langsung memberikan
informasi perusahaannya agar para wisudawan/wisudawati tertarik
melamar dan bekerja.
(8) Penawaran perusahaan-perusshaan tertentu minta izin kepada PTS
yang bersangkutan untuk merekrut di lembaga tersebut. Berarti, sebelum
lulus, mereka sudah ada yang menampung untuk dipekerjakan.
(9) Responden yang dipilih menjadi sampel dalam penelitian ini adalah dari
Jurusan Akunransi karena ilmu akuntansi sangat terasa dalam ruang
lingkupnya dan spesifik. Selain itu, alumninya tersebar di berbagai
perusahaan di Indonesia dan bahkan di Luar Negeri .

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik mengambil sebagai populasi


yaitu PTS yang terkemuka di Kota Bandung yaitu Universitas A, B, dan C
yang memiliki program studi S1 Jurusan Akuntansi yang terakreditasi
Teknik Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi, sampel penelitian adalah sebagian dari populasi
yang diambil sebagai sumber data dan dapat mewakili seluruh populasi. Berkaitan
dengan teknik pengambilan sampel, maka harus diperhatikan mutu penelitian tidak
selalu ditentukan oleh besarnya sampel, akan tetapi oleh kokohnya dasar-dasar
teorinya, oleh desain penelitiannya (asumsi-asumsi statistik), serta mutu pelaksanaan
dan pengolahannya. Berkaitan dengan penentuan sampel sebagai ancer-ancer maka
apabila subjek kurang dari 100, maka lebih balk diambil semua, sehingga
penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika subjeknya besar, dapat
diambil antara 10%-15% atau 20%-25% atau lebih
Memperhatikan uraian di atas, karena jumlah populasi lebih dari 100 orang, maka
penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan sampel secara acak (Random
sampling). Sedangkan Teknik pengambilan sampel menggunakan rumus dari Taro
Yamane atau Slovin sebagai berikut
Dimana : n = Jumlah sampel
N
n  N = Jumlah populasi = 1753 responden
N.d
2
1 d2 = Presisi (ditetapkan 10% dg tingkat
kepercayaan 95%)

Berdasarkan rumus tersebut diperoleh jumlah sampel sebagai berikut :


N 1753 1753
n     94,6  95 responden
N.d
2
1 (1753).0,1
2
1 18,53
Dari jumlah sampel = 95 responden tersebut kemudian ditentukan jumlah masing-
masing sampel menurut tingkatan mahasiswa yang berada di masing-masing
universitas secara proportionate random sampling dengan rumus :
Dimana : ni = Jumlah sampel menurut stratum
Ni
ni  .n n = Jumlah sampel seluruhnya
N Ni = Jumlah populasi menurut stratum
N = Jumlah populasi seluruhnya

Dengan rumus di atas, maka diperoleh jumlah sampel menurut masing-masing


strata sebagai berikut
(a) Universitas A = 981 / 1753 x 95 = 53,16  53 orang
(b) Universitas B = 433 / 1753 x 95 = 23,46  24 orang
(c)
Universitas C = 339 / 1753 x 95 = 18,37  18 orang

PTS Populasi Sampel


Universitas A 981 mahasiswa 53 mahasiswa
Universitas B 433 mahasiswa 24 mahasiswa
Universitas C 339 mahasiswa 18 mahasiswa
Jumlah 1753 mahasiswa 95 mahasiswa
c. Pengambilan Sampel Apabila Populasi Tidak Diketahui
Teknik pengambilan sampel apabila populasinya tidak diketahui secara pasti,
digunakan teknik sampling kemudahan. Berdasarkan sampling kemudahan ini,
peneliti menseleksi dengan menyaring kuesioner yang ada, apabila orang-orang
tersebut diketahui misalnya (anggota guru bidang studi, jumlah pendaftar UAN SD
se-Jawa, jumlah siswa yang less bahasa Inggris se-Kota Surabaya dan lain-lain).
Misalnya digunakan ukuran sampel untuk estimasi nilai [Link] digunakan
untuk mengestimasi , kita dapat (1 - )% yakin bahwa error tidak melebihi nilai e
tertentu apabila ukuran sampelnya sebesar n,
 Z /2 
2

dimana: n =   (Wibisono,2003)
  Z   
e 2

n  /2

 e 
Apabila nilai  tidak diketahui, kita dapat menggunakan s dari sampel sebelumnya
(untuk n  30) yang memberikan estimasi terhadap 

Contoh: Nilai rerata 32 sampel random UAN siswa SMU Negeri se-Kota Balikpapan
2004 ialah 7,5 dan standar deviasi populasinya adalah 0,25. berapa
ukuran sampel yang diperlukan apabila peneliti menginginkan tingkat
kepercayaan sebesar 95% clan error estimasi µ kurang dari 0,05 ?
Jawab : Karena  = 0,05, maka Z0,05 = 1,96

 Z /2
2 2
  (1,96).(0, 25) 
n      96,04
 e   0,05 
Dengan demikian peneliti yakin dengan tingkat kepercayaan 95% bahwa sampel
random berukuran 96,04 = 97 akan memberikan selisih estimasi x dengan µ
kurang dari 0,05. Jadi, sampel yang diambil sebesar 97 orang

MODEL-MODEL PENENTUAN SAMPEL


Sukardi (2004:55) mengatakan "untuk penelitian sosial, pendidikan, ekonomi dan politik
yang berkaitan dengan masyarakat yang mempunyai karakteristik heterogen,
pengambilan sampel disamping syarat tentang besarnya sampel harus memenuhi syarat
representativenees (keterwakilan) atau mewakili semua komponen populasi "
Formula emperis dianjurkan oleh Isaac & Michael (1981:192) dalam Sukardi (2004:55)
sebagai berikut :
Keterangan :
S = Jumlah sampel yang dicari
2 N = Jumlah populasi
X NP(1 - P)
S  P = Proporsi populasi sebagai dasar asumsi pembuatan tabel.
2
d (N - 1) X 2
P(1 - P) Harga ini diambil P = 0,50.
d = Derajat ketepatan yang direfleksikan oleh kesalahan yang
dapat ditoleransi dalam fluktuasi proporsi sampel (P),
d umumnya diambil 0,05
X2 = Nilai tabel chi-square untuk satu derajat kebebasan (dk)
relatif level konfiden yang diinginkan X2 = 3,841 tingkat
kepercayaan 0,95
Tabel 1. Menentukan Jumlah Sampel
N S N S N S N S N S N S
10 10 85 70 220 140 440 205 1200 291 4000 351
15 14 90 73 230 144 460 210 1300 297 4500 354
20 19 95 76 240 148 480 214 1400 302 5000 357
25 24 100 80 250 152 500 217 1500 306 6000 361
30 28 110 86 260 155 550 226 1600 310 7000 364
35 32 120 92 270 159 600 234 1700 313 8000 367
40 36 130 97 280 162 650 242 1800 317 9000 368
45 40 140 103 290 165 700 248 1900 320 10000 370
50 44 150 108 300 169 750 254 2000 322 15000 375
55 48 160 113 310 175 800 260 2200 327 20000 377
60 52 170 118 320 181 850 265 2400 331 30000 379
65 56 180 123 330 186 900 269 2600 335 40000 380
70 59 190 127 340 191 950 274 2800 338 50000 381
75 63 200 132 350 196 1000 278 3000 341 75000 382
80 65 210 136 360 201 1100 285 3500 346 100000 384
Sumber : Isaac & Michael (1981:192), Dimana : N = Populasi dan S = Sampel
Jumlah subjek yang besar seperti populasi digunakan untuk menganalisis data, hal itu
sah-sah saja, tetapi kalau ada teknik sampel yang dapat digunakan sangat membantu
peneliti. Sehingga peneliti dapat menghemat waktu, tenaga dan biaya. Yang penting
syarat dan prosedur statistika tetap terpenuhi. Karena dasar pengambilan sampel itu
untuk generalisasi (yaitu hasil dari data sampel diinformasikan menjadi data populasi)
APLIKASI - 1
Penelitian ini bermaksud untuk menelaah pengaruh kebijakan dan perilaku
kepemimpinan anggota DPR terhadap kinerjanya. Populasi sebanyak 1000 anggota
DPR yang terdiri dari lima fraksi, yaitu :
1) Fraksi PDIP = 375 orang
2) Fraksi Golkar = 200 orang
3) Fraksi PKB = 175 orang
4) Fraksi PAN = 160 orang
5) Fraksi Partai Demokrat = 160 orang
Diketahui :
S = Jumlah sampel yang diperlukan
N = 1000 anggota DPR
P = Proporsi populasi  0,50 (maksimal sampel yang mungkin
X2 = Tabel nilai chi-square sesuai tingkat kepercayaan 0,95  3,841
Dalam penelitian ini, jumlah populasi sebanyak 1000 anggota DPR dimasukkan ke
dalam rumus tersebut dan menghasilkan nilai 66 (pembulatan ke atas) sampel seperti
tampak sebagai berikut :
2
X NP(1 - P)
S  2
d (N - 1) X 2
P(1 - P)

3,841 x 1000 x 0,5.(1 - 0,5) 960,25 960,25


S     277,53
0,05
2
(1000 - 1)  3,841 x 0,5.(1 - 0,5) 2,4975  0,96025 3,46

S = 277,53  278
Karena populasinya bertingkat, maka sampelnyapun bertingkat dengan teknik
stratified random sampling dengan rumus :

Ni Dimana : ni = jumlah sampel menurut stratum


ni  .S Ni = jumlah populasi menurut stratum
S = jumlah sampel = 278
N N = jumlah populasi = 1000

a. Fraksi PDIP= 375 / 1000 X 278 = 104,25  104


b. Fraksi Golkar = 200 / 1000 X 278 = 55,6  56
c. Fraksi Golkar = 175 / 1000 X 278 = 48,65  49
d. Fraksi PAN = 160 / 1000 X 278 = 44,48  44
e. Fraksi Partai Demokrat = 90 / 1000 X 278 = 25,02  25
Setelah diketahui jumlah sampel (responden) yang diambil daii anggota DPR masing-
masing fraksi, maka responden (anggota DPR) ditentukan secara random pada saat
dilakukan penelitian sesuai dengan jumlah sampel pada setiap fraksi anggota DPR,
seperti terlihat pada Tabel 2 sebagai berikut
Tabel 2. Populasi dan sampel pada tiap fraksi

Fraksi Populasi Sampel


a. Fraksi PDIP 375 104
b. Fraksi Golkar 200 56
c. Fraksi Golkar 175 49
d. Fraksi PAN 160 44
e. Fraksi Partai Demokrat 90 25
Jumlah 1000 278
Sumber: Riduwan (2005:29)

APLIKASI - 2
Populasi adalah bank umum yang meliputi Bank BUMN, BUMS, Bank Asing, Bank
Syariah, dan Bank BPD yang berlokasi di Jakarta yang totalnya 136 bank. Dari 136
unit Bank Umum di. Indonesia, sebanyak 116 unit dari sebanyak 136 bank. Bank
umum tersebut digolongkan merupakan bank non-rekap dan hanya 20 unit bank
sebagai bank rekap yang berada di Jakarta. Bank non-rekap merupakan bank umum
yang mampu bertahan meskipun terjadi krisis ekonomi sedangkan bank rekap adalah
bank yang terkena krisis dan telah mendapatkan suntikan dana dari pemerintah
Indonesia. Adapun perincian penggolongan bank dimaksud sebagai populasi
penelitian Tabel 3 berikut
Tabel 3. Populasi Bank Umum. di Indonesia Tahun 2004

No Bank Umum Jumlah Perusabaan Persentase


unit?
1. Bank Umum Rekap 116 85,30
2. Bank Umum Non-Rekap 20 14,70
JumlahBiro Riset Info Bank
Sumber 136 100,00

Dari sebanyak 136 unit Bank Umum di Indonesia sebagaimana tertera pada Tabel di
atas, terdapat 115 unit berlokasi di DKI Jakarta yang tersebar di wilayah Jakarta
Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Jakarta Selatan sedangkan
21 bank umum lainnya yakni Bank Pembangunan Daerah (BPD) berada di sejumlah
provinsi
Perlu dijelaskan bahwa dalam penentuan atau jastifikasi bank umum sebagai
populasi adalah mengingat bank umum memiiki multi produk dan juga mempunyai
karakteristik yang sama pula. Sedangkan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) selain
hanya memiliki produk tunggal juga memiliki karakteristik yang berbeda dengan
perbankan umum sehingga jenis perbankan ini sengaja diabaikan dalam penelitirn.
Jadi, yang menjadi unit analisis dalam penelitian ini adalah bank umvmnya,
meliputi BUMN, BUMS nasional maupun asing, Bank Syariah dan BPD yang
berlokasi di DKI Jakarta yang berjumlah 136 bank dengan klasifikasi dalam Tabel 4
berikut.
Tabel 4. Populasi Bank Umum di Indonesia Tahun 2004
No Bank Umum Unit Keteragan
1. Bank BUMN 7
2. Bank BUMN di DKI 4 BPD DKI, BPD Jabar, BED Jatim, BPD Nagari,
3. Bank BUMN di daerah 21
4. Bank BUMS - Nasional 94
5. Bank BUMS - Asing 8
6. Bank Syariah 2
Jumlah 136
Sumber Situngkir-Sihol (2005:169)

Dalam penelitian ini, proses penarikan sampel dilakukan secara stratified sampling
dengan dua tahap yakni: tahap pertama, : penentuan sampel bank dan tahap kedua,
penentuan sampel manajer dan karyawan. Karen analisis akan menggunakan
Structural Equation Modeling (SEM), maka ukuran sampel adalah 100 (Schumaker
and Lomax, 1996). Untuk keperluan analisis ini, diambil sampel minimal 100 bank
umum
Sampel penelitian ini dialokasikan secara proporsional untuk masingmasing bank
umum agar sampel bank benar-benar mewakili populasi bank umum di DKI; maka
sampel bank diambil dari kategori bank rekap, don bank non rekap berdasarkan
peringkat aset yang dimiliki, yang tertera dalam Tabel 5. Selanjutnya agar sampel
manager dan karyawan mewakili populasi yang sebenarnya, maka sampel juga diambil
dari kategori bank rekap dan non rekap seperti tampak dalam Tabel 5 berikut

Tabel 5 Sampel Bank Berdasarkan Peringkat Aset (Stratified Random Sampling


No Kategori Bank Aset Jumlah Sampel
1. Bank Umum Rekap > Rp 50 triliun 5
2. Bank Umum Rekap Rp 10 - 50 triliun 5 3
3. Bank Umum Non Reka. Rp 10 - 50 triliun 5 4
4. Bank Umum Non Rekap Rp..>Rpl -10 triliun 31 25
5. Bank Umum Rekap Rp..<Rpl triliun 57 _
6. Bank BPD Rekap Rp ..> Rpl triliun 6 4
7. Bank BPD Non Rekap Rp..> Rpl triliun 11
8. Bank BPD Rekap Rp..< Rpl triliun 4
9. Bank BPD Non Rekap Rp..< Rp 1 triliun 2
10. Bank Asing Rp..< Rpl triliun 8 6
11. Bank Syariah Rp..< Rpl triliun 2 -
Jumlah 136 100
Sumber: Situngkir-Sihol (2005:170)
Tabel 6 Pengalokasian Jumlah Sampel Manajer dan Karyawan (Stratified Random
Sampling

Junila Sampel
No Kategori Bank
h Bank Manajer Karyawan .
1. Bank Umum Rekap 5 3 9
2. Bank Umum Rekap 5 3 9
3. Bank Umum Non Rekap 5 4 12
4. Bank Umum Non Rekap 31 25 75
.5. Bank Umum Rekap 57 42 126 672
6. Bank BPD Rekap 4 12
7. Bank BPD Non Rekap 11 8 24 128
8. Bank BPD Rekap 4 3 9
9. Bank BPD Non Rekap 2 2 6 32
10. Bank Asing 8 6 18
11. Bank Syariah 2 - - -
Jumlah 136 100 300 1600
Sumber: Situngkir-Sihol (2005:170)
APLIKASI - 3
Populasi dalam penelitian ini adalah pelanggan department store di Jakarta. Sedangkan
populasi sasaran adalah pelanggan yang memiliki kartu member department store yang
sudah menerapkan program hubungan pelanggan (customer relationship). Mengingat
department store di Jakarta yang sudah melaksanakan program tersebut adalah Keris
Galery, Sogo, Matahari, Metro, Pasaraya Grande, dan Rimo maka unit analisis dalam
penelitian ini adalah pelanggan dari keenam department store tersebut. Ukuran sampel
ditentukan dengan memperhatikan teknik analisis yang digunakan dalam uji hipotesis
yang menggunakan model persamaan struktural (Structural EquationModeling=SEM)
(Bob Foster, 2005)

Ukuran sampel untuk model persamaan struktural (SEM) paling sedikit 200 pengamatan
(Kelloway, 1998; Marsh [Link].). Joreskog dan Sorbom (1996:32) menyatakan bahwa
hubungan antara banyaknya variabel dan ukuran sampel minimal dalam model
persamaan struktural (sebagai ancer-ancer) dapat dilihat pada Tabel 7. Ukuran sampel
minimal dan jumlah variabel sebagai berikut:
Tabel 7. Ukuran Sampel Minimal dan Jumlah Variabel

Jumlah variabel Ukuran sampel minimal


3 200
5 200
10 200
15 360
20 630
25 975
30 1355
Sumber: Joreskog dan Sorbom (1996:32)

Hair (1998:605) menyatakan tidak ada kriteria tunggal untuk menentukan ukuran
sampel (sample size) dalam SEM, namun perlu diperhatikan rasio sampel terhadap
parameter (indikator) agar mencapai ratio 15 yang berarti tidak hanya
memperhitungkan banyak variabel.
Penelitian ini terdapat 24 indikator sehingga diperlukan ukuran, sampel minimum sebesar
24'x15'= 360 responden. Karena itu untuk mengantisipasi data -outliers (Hair,1998:603),
maka ukuran sampel yang akan diambil adalah sebanyak 400 responden. Selanjutnya
Populasi peserta Diklatpim Tingkat II yang tersebar di seluruh Indonesia cukup besar,
maka untuk efisiensi penelitian dilakukan penarikan sampel dengan metoda: roporsional
random sampling. Sutrisno Hadi (2004:67) menyatakan bahwa untuk mendapatkan
sampel yang representatif dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu (1) mengambil sampel
dari populasi tanpa memperhitungkan jumlah populasi, dan (2) mengambil sampel dari
populasi dengan mempertimbangkan besar kecilnya populasi

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik proporsional random
sampling. Acuan utama untuk menentukan jumlah sampel minimal menggunakan
rumus dari Cochran dalam Harun Ar-Rasyid (1994:75) yang rumusannya adalah sebagai
berikut:
2
(t pq)
2
d
n (min)  2
1 (t pq)
1 [ 2
- 1]
N d

Keterangan :
n(min) = jumlah sampel terkecil
N = jumlah sumber data populasi
t = nilai pada kurva normal berdasarkan taraf nyata yang dipilil ( = 0,05; harga t = 1,96)
p = proporsi dari salah satu unit yang dibandingkan
q = 1–p
D = taraf kesalahan dalam persen (ditetapkan sebesar 5%)
Berdasarkan rumus di atas, maka besar sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan
perhitungan sebagai berikut:

n(min) = A / B
A = (t2 * pq) / d2
A = {(1,96)2(0,11095 * 0,88905)} / (0,05 * 0,05)
= {(3,8416)(0,098642)} / (0,0025)
= 151,5772 ……………… dibulatkan menjadi 152
B = 1 + [1 / N][{(t2 * pq) / d2} – 1
= 1 + [1 / 953][152-1]
= 1 + (0,00105 * 151)
= 1 + 0,158447
= 1,158447
n(min) = A / B
= 152 / 1,158447
= 131,2101 ……… dibulatkan menjadi 131

Dari jumlah sampel minimal hasil perhitungan di atas, menurut Cochran diasumsikan
hanya 95 % yang dapat diobservasi. Selanjutnya, berdasarkan data yang diperoleh dari
hasil pengukuran (95 % dari sampel minimal tadi), diasumsikan hanya sekitar 95% yang
dapat diolah. Atas dacar dan pertimbangan ini, maka besar sampel yang diharapkan
n(har) adalah :
n(har) = {n(min) / (0,95 x 0,95)}
= 131 / (0,9025)
= 145,1524 ………dibulatkan menjadi 145
Dengan demikian sampel yang diambil dari penelitian ini adalah 145 orang. Dari jumlah
sampel = 145 orang tersebut kemudian ditentukan jumlah masing-masing sampel
menurut tingkatan penyelenggaraan yang berada di masing-masing daerah secara
proportionate random sampling dengan rumus

Ni
ni  .n
N

Dimana : ni = jumlah sampel menurut stratum


n = jumlah sampel seluruhnya
Ni = jumlah populasi menurut stratum
N = jumlah populasi seluruhnya

Dengan rumus di atas, maka diperoleh jumlah sampel menurut masing-masing strata
sebagai berikut
1. Jakarta = 120 953 x 145 = 18.26  18
/
2. Semarang = 90/ 953 x 145 = 13.69  14
3. Surabaya = 95/ 953 x 145 = 14.45  14
4. Kupang = 89/ 953 x 145 = 13.54  14
5. Makassar 80/ 953 x 145 = 12.17 12
6. Kendari = 85/ 953 x 145 = 12.93 13
7. Manado= 84/ 953 x 145 = 12.78 13
8. Medan = 90/ 953 x 145 = 13.69 14
9. Pakanbaru = 75/ 953 x 145 = 11.41 11

10. Padang = 70/ 953 x 145 = 10.65 11
11. Samarinda = 75/ 953 x 145 = 11.41 11
Jumlah = 145
Berdasarkan perhitungan di atas, maka dapat dibuatkan seperti pada Tabel 8
sebagai berikut

Tabel 8 Populasi dan Sampel Diklatpim Tingkat II Tahun 2004/2005

PENYELENGGARA
No POPULASI SAMPEL
DIKLATPIM
1. Jakarta 120 18
2. Semarang 90 14
3. Surabaya 95 14
4. Kupang 89 14
5. Makassar 80 12
6. Kendari 85 13
7. Manado 84 13
8. Medan 90 14
9. Pakanbaru 75 11
10. Padang 70 11
11. Samarinda 75 11
JUMLAH 878 145
TEKNIK PENGUMPULAN DATA
1. PENGANTAR
Pemilihan teknik pengumpulan data tergantung pada permasalahan yang akan dikaji.
Beberapa masalah kadang-kadang tidak bisa dipecahkan secara memuaskan, karena
data yang dibutuhkan tidak tersedia atau metode yang disusun tidak dapat dipercaya
dan tidak mampu mencakup seluruh data yang diperlukan.

2. SUMBER DATA
a. Primer = data yang dihimpun langsung oleh peneliti
b. Sekunder = data yang dihimpun melalui pihak kedua

3. METODE PENGUMPULAN DATA


Adalah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk
mengumpulkan data.
a. Angket (kuesioner)
b. Wawancara (interview)
c. Pengamatan (observasi)
d. Ujian / tes
e. Dokumentasi
4. INSTRUMEN PENGUMPULAN DATA
Adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya
mengumpulkan data, agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah oleh
adanya alat bantu tersebut (Suharsimi Arikunto, 1995 : 134).
Selanjutnya instrumen yang diartikan sebagai alat bantu merupakan sarana yang
dapat diwujudkan dalam benda
Contoh : Angket, daftar cocok (checklist)
Skala, pedoman wawancara, panduan pengamatan dsb
EVALUASI KUALITAS DATA
SEKUNDER
• Tujuan, relevan tidaknya dengan tujuan
penelitian saat ini
• Akurasi, apa yang sesungguhnya diukur
dalam penelitian tsb.
• Konsistensi, cari berbagai sumberdata
• Kredibilitas, kemampuan peyedia data
• Metodologi, metode apa yang digunakan
• Bias, apa motivasi penyediaan data.
SIKLUS PENELITIAN
• Minat

Fakta Teori

Masalah Penelitian

Tujuan 1 Tujuan 2 Tujuan 3

Kerangka Pemikiran/konseptual

Hipotesis

Proses pengumpulan Data

Pengolahan Data

Analisa & Interprestasi Data

Laporan Akhir

Anda mungkin juga menyukai