Teknik Pengambilan Sampel Penelitian
Teknik Pengambilan Sampel Penelitian
2. Jenis Populasi
2.1. Berdasarkan jumlah
a. Populasi Terbatas adalah yang mempunyai sumber data yang jelas batasnya
secara kuantitatif, sehingga dapat dihitung jumlahnya
Contoh :
Sejumlah 200 siswa SD Rajawali Kota Banjarmasin mendapatkan dana BOS.
Sejumlah 100 pengusaha asal Cina akan berinvestasi di Kalimantan
Sejumlah 500 dokter baru ditempatkan di pedalaman Kalimantan
a. Populasi Tak Terbatas yaitu sumber datanya tidak dapat ditentukan batasan-
batasannya, sehingga relatif tidak dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah
Contoh :
Orang mendulang emas di ruang bawah tanah mengambil/menggali tanah
sampai tak terhingga penggalian.
Jumlah air laut ketika pasang pada waktu bulan purnama
Kualitas semua TV merk National
2.2. Populasi berdasarkan sifatnya
a. Populasi Homogen ; apabila sumber datanya memiliki sifat yang sama.
Sehingga tidak perlu mempersoalkan jumlahnya secara kuantitatif
Contoh :
Air teh dalam sebuah gelas
b. Populasi Heterogen ; apabila unsurnya memiliki sifat yang berbeda/bervariasi,
sehingga perlu ditetapkan batas-batasnya
Contoh :
Pedagang di Pasar Baru
(Sumber : Suharsimi Arikunto, 1977 : 110)
Ketepatan dalam pengambilan sampel sangat menentukan kualitas hasil
penelitian.
Pengambilan sampel memberikan kesempatan lebih luas untuk memperoleh
informasi yang diperlukan
Pengambilan sampel merupakan satu-satunya cara yang dapat dilakukan, jika
jumlah individu dalam populasi tidak terbatas
(Murti Sumarni & Salamah, 2005 : 71)
3. Kerangka Populasi (Population Frame)
Merupakan sebuah daftar yang memuat semua elemen dalam populasi darimana
sampel diambil
Contoh :
• Daftar mahasiswa
• Pegawai administrasi Kerangka populasi
• Dosen
4. Sampel
Adalah bagian dari populasi yang digunakan untuk mempelajari karakteristik populasi.
Menurut Riduwan & Akdon, 2005 : 240, sampel adalah bagian dari populasi yang
mempunyai ciri-ciri atau keadaan tertentu yang akan diteliti
Apa yang dipelajari dari sampel, maka kesimpulannya akan diberlakukan untuk
populasi. Oleh karena itu, sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul
refresentatif/mewakili. Jika sampel kurang refresentatif, akan mengakibatkan nilai
yang dihitung dari sampel tidak cukup tepat – untuk menduga nilai populasi
sesungguhnya.
Dari kata sampel, muncullah istilah Sampling. Sampling adalah proses pemilihan
sejumlah elemen dari populasi.
Dengan mempelajari sampel serta memahami sifat karakteristik sampel, kita akan
dapat memperkirakan sifat atau karakteristik populasi.
Karakteristik populasi :
• Rata-rata populasi
• Standard deviasi Paramater populasi
• Variasi populasi
a. Memudahkan peneliti
b. Penelitian lebih efisien (dalam arti penghematan uang, waktu dan tenaga)
c. Lebih teliti dan cermat dalam pengumpulan data.
Teknik
Sampling
1. Sampling sistematis
Non Probability 2. Sampling Kuota
3. Sampling aksidental
sampling 4. Purposive sampling
5. Sampling jenuh
6. Snowball sampling
I. Probability sampling
Probability sampling adalah teknik sampling untuk memberikan peluang yang sama
pada setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel, yang tergolong
teknik probability sampling yaitu :
a. Simple Random Sampling
Simple Random Sampling adalah cara pengambilan sampel dari anggota populasi
dengan menggunakan acak tanpa memperhatikan strata (tingkatan) dalam
anggota populasi tersebut. Hal ini dilakukan apabila anggota populasi dianggap
homogen (sejenis).
Contoh :
(1) Jumlah pegawai Bank swasta mengikuti pelatihan di Singapura
(2) Narapidana yang mendapatkan remisi tahun 2007 dari Presiden RI
(3) Jumlah Pegawai Diknas Kota Banjarmasin yang mengikuti Diklatpim II.
(4) Jumlah nasabah Bank swasta di Kota Bali yang mendapat hadiah mobil
Dari jumlah pegawai yang berasal dari Kepala Dinas Pendidikan = 1 orang dan
Kasubag Tata Usaha = 1 orang tersebut diambil dijadikan sampel karena terlalu
kecil bila dibandingkan dengan staf lain
(2) Jumlah pegawai pada Bank Swasta di Jakarta
(a) Direktur Utama = 1 orang
(b) Kepala Departemen= 2 orang
(c) Kepala Divisi = 25 orang
(d) Kepala Bidang = 250 orang
(e) Kepala Cabang = 500 orang
(f) Kepala Karyawan = 3.500 orang
Dari jumlah karyawan yang berasal dari Direktur Utama = 1 orang dan
kepala Departemen = 2 orang tersebut diambil dijadikan sampel
karena terlalu sedikit bila dibandingkan dengan bagian lain
SD TINGKAT
PROPINSI
SD TINGKAT
KABUPATEN/
KOTA
SD TINGKAT
KECAMATAN
SD TINGKAT
KELURAHAN/DESA
YANG MELAKSANA-
Teknik Sampling Kluster berdasarkan daerah atau wilayah KAN MBS
II. Non ProbabilitySampling
Non probability sampling ialah teknik sampling yang tidak memberikan
kesempatan (peluang) pada setiap anggota populasi untuk dijadikan anggota
sampel. Teknik non probabilitysampling antara lain:
a) Sampling Sistematis
Sampling Sistematis ialah pengambilan sampel didasarkan atas urutan dari
populasi yang telah diberi nomor unit atau anggota sampel diambil dari populasi
pada jarak interval waktu, ruang dengan urutan yang seragam
(1) Jumlah populasi 140 guru diberi nomor unit No.1 s.d. No.140.
Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan nomor genap (2,4,6,8,10
sampai 140) atau nomor ganjil (1,3,5,7,9 sampai 139). Pengambilan sampel
bisa juga dengan cara mengambil nomor kelipatan (7,14,21,28 sampai 140).
(2) Para pelanggan listrik nama-namanya sudah terdaftar di Bagian
Pembayaran Listrik berdasarkan lokasinya. Untuk pengambilan sampel
tentang para pelanggan listrik, secara sistematis dapat diambil melalui
rayon pembayaran listrik.
(3) Pelanggan telepon yang namanya sudah terdapat dalam buku telepon.
Apabila peneliti ingin mengambil sampel tentang disiplin pembayaran
telepon, maka secara sistematis dapat mengambil sumber data langsung di
buku tersebut.
4) Peneliti akan mengadakan pemeriksaan metalorgi (ilmu bahan) di perusahaan
tertentu yang hasilnya menggunakan proses, maka pengambilan sampel
dapat dilakukan pada jarak interval waktu tertentu, misalnya tiap 30 detik, 5
menit, 30 menit, 2 jam, 5 jam dan seterusnya.
(5) Peneliti menginginkan sampel 40 pegawai Dinas Pendidikan dari jumlah
populasi berukuran 400 pegawai Dinas Pendidikan. Caranya mula-mula
setiap subjek dari populasi diberi nomor unit yaitu: No.1 s.d. No.400,
kemudian jumlah populasi 400 dibagi 10 sehingga didapat 40 group (sub-
populasi) setiap groupnya berjumlah 10 pegawai. Sub-populasi ke-1 berisi
nomor urut pegawai: No.1 s.d. No.10, subpopulasi ke-2 nomor urat pegawai:
No. 11 s.d. No.20, dan seterusnya hingga sub-populasi ke-40 berisi nomor
unit pegawai: 391 s.d. 400
b) Sampling Kuota
Sampling Kuota ialah teknik penentuan sampel dari populasi yang mempunyai
ciri-ciri tertentu sampai jumlah (jatah) yang dikehendaki atau pengambilan
sampel yang didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan tertentu dari
peneliti. Caranya menetapkan besar jumlah sampel yang diperlukan, kemudian
menetapkan jumlah (jatah yang diinginkan), maka jatah itulah yang dijadikan
dasar untuk mengambil unit sampel yang diperlukan. Contoh:
(1) Peneliti ingin mengetahui informasi tentang penempatan karyawan yang
tinggal di Perumahan Pondok Hijau, dalam kategori jabatan tertentu dan
pendapatannya termasuk kelas tertentu pula. Dalam pemilihan orangnya
(pengambilan sampel) akan ditentukan pertimbangan oleh peneliti sendiri
atau petugas yang diserahi mandat
(2) Jemaah haji yang berangkat ke tanah suci sudah diberi jatah oleh Persatuan
Haji Indonesia (PHI) bekerjasama dengan Pemerintah Arab Saudi, yaitu
sebanyak 250.000 orang calon haji dari populasi 250.000.000 jiwa penduduk
Indonesia. Artinya satu orang calon haji mewakili 1000 orang jiwa penduduk
yang meyebar di wilayah Indonesia, tergantung kepada jumlah penduduk
setiap provinsi dan kabupaten/kota. Jika peneliti ingin meneliti kesehatan
calon haji di tanah suci, maka sampel yang dipakai sebanyak 250.000 orang
yang menyebar di embarkasi dan kloter masing-masing wilayah.
(3) Diadakan penelitian prestasi kerja terhadap 250 orang guru peserta
penataran Psikologi dan Konseling Nasional, penelitian dilakukan secara tim
yang terdiri dari 25 orang. Caranya setiap anggota peneliti dapat memperoleh
jatah sampel secara bebas sesuai dengan ciri-ciri dan prosedur yang
ditentukan oleh 10 orang guru
c) Sampling Aksidental
Sampling Aksidental ialah teknik penentuan sampel berdasarkan faktor
spontanitas, artinya siapa saja yang secara tidak sengaja bertemu dengan peneliti
dan sesuai dengan karakteristik (ciri-cirinya), maka orang tersebut dapat digunakan
sebagai sampel (responden). Contoh
1) Peneliti ingin mengetahui sejauh mana fluktuasi pemasaran buku Matematika
yang dipakai oleh siswa SMP, peneliti mengambil stand di Toko Gramedia
Bandung. Cara pengambilan sampel, yaitu: membatasi jumlah sampel misalnya
100 orang, maka setiap orang yang mampir di Toko Gramedia Bandung dan
yang berminat sesuai dengan karakteristik penggunaan buku matematika SMP
itu dijadikan responden
2) Seorang ahli ilmu Bahasa Inggris ingin mengetahui sejauhmana pengaruh buku
yang dikarangnya. Cara pengambilan sampel, yaitu dibatasi jumlah sampelnya
misalnya 30 orang, setiap orang yang datang ke lembaganya (para siswa diberi
informasi dan apabila berminat sesuai dengan kemampuannya dijadikan
responden), setelah dipelajari buku selama satu minggu, responden segera
memberi kabar atau saran tentang buku yang dipelajarinya
d) Purposive Sampling
Purposive Sampling dikenal juga dengan sampling pertimbangan ialah teknik
sampling yang digunakan peneliti jika peneliti mempunyai pertimbangan-
pertimbangan tertentu di dalam pengambilan sampelnya atau penentuan sampel
untuk tujuan tertentu. Hanya mereka yang ahli yang patut memberikan
pertimbangan untuk pengambilan sampel yang diperlukan. Oleh karena itu,
sampling ini cocok untuk studi kasus yang mana aspek dari kasus tunggal yang
representatif diamati dan dianalisis. Contoh :
(1) Peneliti ingin mengetahui model kurikulum SMU (plus), maka sampel yang
dipilih adalah para guru yang ahli dalam bidang kurikulum pendidikan dan
manajemen pendidikan, masyarakat yang berpengalaman, dan para ahli
dibidang pendidikan
(2) Kasus bumbu masak yang pernah dinyatakan haram. Peneliti ingin
mengetahui penyebabnya dengan cara mencari sampel (responden) yang ahli
dibidang pembuatan bumbu masak, dan mencari responden dari kalangan
ulama yang ahli dalam memberikan fatwa masalah tersebut
(3) Peneliti ingin mengetahui sistem keamanan sekolah, karena akhir-akhir ini
banyak perkelahian antar sekolah. Kemudian peneliti mencari lokasi kejadian
yang menjadi penyebab masalah tersebut, maka terdapat di sebuah wilayah
Kantor Pendidikan Nasional tertentu didapat dua Sekolah Menengah Umum
Negeri (SMUN) dan SMU Swasta, tiga Sekolah Menengah Kejuruan Negeri
(SMK, SMEA, dan SPK) dan satu Madrasah Aliyah Negeri (MAN), kemudian
banyaknya siswa pada setiap sekolah tidak sama. Dengan demikian untuk
menentukan jumlah sampel, peneliti mengambil semua siswa dari sekolah
(SMUN, SMU Swasta, SMK, SMEA, SPK dan MAN). Maksud peneliti adalah
agar jumlah subjek dari keenam jenis sekolah dapat sama. Pertimbangan lain
adalah masalah lokasi/tempat responden yang akan diteliti lebih mudah
dikunjungi dan efisiensi waktu penelitian
e) Sampling Jenuh
Sampling Jenuh ialah teknik pengambilan sampel apabila. semua populasi
digunakan sebagai sampel dan dikenal juga dengan istilah sensus. Sampling
jenuh dilakukan bila populasinya kurang dari 30 orang. Contoh: Akan diadakan
penelitian di laboratorium bahasa Inggris SMU Percobaan UPI Bandung
mengenai tingkat keterampilan percakapan para siswa yang akan dildrim ke
Amerika. Dalam hal ini populasi yang akan diteliti kurang dari 30 orang, maka
seluruh populasi dapat dijadikan sampel
f) Snowball Sampling
Snowball Sampling cara getuk tular (bahasa jawa) yaitu teknik sampling yang
semula berjumlah kecil kemudian anggota sampel (responden) mengajak para
temannya untuk dijadikan sampel dan seterusnya sehingga jumlah sampel
semakin membengkak jumlahnya seperti (bola salju yang sedang menggelinding
semakin jauh semakin besar). Contoh: akan diteliti siapa dalang pengedar Narkoba
di SMP Mekarsari Medan; siapa yang menjadi otak pembunuhan murid SD Kuasa
Mandiri; siapa yang membocorkan rahasia soal ujian akhir nasional tahun 2007
dan lain-lain. Penelitian yang cocok menggunakan sampling ini biasanya metode
penelitian kualitatif.
6. Penentuan Sampel
a. Pengambilan Sampel (apabila populasi sudah diketahui)
Contoh 1: Teknik Pengambilan sampel menggunakan rumus dari Taro Yamane
sebagai berikut
Contoh 2: Surakhmad (2004) berpendapat apabila ukuran populasi sebanyak kurang lebih
dari 100, maka pengambilan sampel sekurang-kurangnya 50% dari ukuran
populasi. Apabila ukuran populasi sama dengan atau lebih dari 1000, ukuran
sampel diharapkan sekurangkurangnya 15% dari ukuran populasi. Dalam
penelitian ini misalnya jumlah anggota populasi sebanyak 900 anggota asuransi
AIG Lippo. Penentuan jumlah sampel dapat dirumuskan sebagai berikut
1000 - n
S 15% . (50% - 15%) Dimana : S = Jumlah sampel yang diambil
1000 - 100 n = Jumlah anggota populasi
Contoh 1: Suatu penelitian di UPI tentang kemampuan menulis buku teks kuliah
sesuai bidang studi yang diikuti oleh dosen lulusan S-1; lulusan S-2; dam
lulusan S-3; Tahun 2005 sebagai berikut:
Lulusan S-1 = 300 orang
Lulusan S-2 = 50 orang
Lulusan S-3 = 20 orang +
Jumlah = 370 orang
Dari rumus di atas diperoleh jumlah sampel menurut masing-masing
strata sebagai berikut
Langkah-langkah penentuan sampel, pertama cari dulu dengan rumus
populasi sudah diketahui sebesar = 370 orang, kemudian tentukan
tingkat presisi yang ditetapkan misalnya sebesar = 5%.
N 370 370
n 192,21 193 orang
N.d
2
1 (370).(0,0
2
5 ) 1 1,925
Contoh 3 Populasi penelitian ini adalah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terkemuka
di Kota Bandung yaitu Universitas A, Universitas B; dan Universitas C
Populasi
Universitas A 981 mahasiswa
Universitas B 433 mahasiswa
Universitas C 339 mahasiswa
Jumlah 1753 mahasiswa
Sumber : Elisabeth Koes Soedijati (2005)
Ada beberapa alasan diambilnya populasi dari ketiga PTS terkemuka ini
sebagai objek penelitian, yaitu :
(1) Berdasarkan info lowongan pekerjaan yang dimuat di media cetak (Pikiran
Rakyat), banyak perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja yang berasal
dari Universitas A,B dan C
(2) Jurusan Akuntansi terakreditasi A yang memiliki lebih dari 300 mahasiswa
dalam satu angkatan yaitu
(3) Tiga PTS tersebut dapat mewakili Kota Bandung Barat, Tengah, dan Timur.
(4) Dari hasil pengamatan di Kantor Kopertis Wilayah IV Jawa Barat dan
lapangan, ternyata ketiga PTS tersebut mengadakan Ujian Saringan Masuk
(USM) sebelum diadakannya
(5) Ketiga PTS itu juga membuka pendaftaran lebih dari satu gelombang,
namun pendaftaran ditutup sesudah SPMB dibuka, sesuai dengan
peraturan pemerintah.
(6) Ketiga PTS tersebut, dari tahun ke tahun relatif stabil bahkan calon
mahasiswa yang mendaftar menjadikannya sebagai pilihan utama atau
paling tidak pilihan kedua setelah PMB tidak berhasil. Cara penerimaan,
cukup dengan iklan di surat kabar dan spanduk yang dipasang di
kampusnya saja. Adapun sementara itu PTS lain, berbarengan dengan
pengumuman PMB, melalui iklan dan media promosi lainnya menyatalran
masih menerima pendaftaran calon mahasiswa.
(7) Lulusan PTS banyak diminati perusahaan/instansi dengan
melayangkan promosi kepada para sarjana bare, menjelang Hari Wisuda
Sarjana. Ini membuktikan bahwa pemakai membutuhkan mereka, bahkan
pada scat hari wisuda selalu terisi dengan adanya stand-stand promosi
berbagai instansi/perusahaan yang secara langsung memberikan
informasi perusahaannya agar para wisudawan/wisudawati tertarik
melamar dan bekerja.
(8) Penawaran perusahaan-perusshaan tertentu minta izin kepada PTS
yang bersangkutan untuk merekrut di lembaga tersebut. Berarti, sebelum
lulus, mereka sudah ada yang menampung untuk dipekerjakan.
(9) Responden yang dipilih menjadi sampel dalam penelitian ini adalah dari
Jurusan Akunransi karena ilmu akuntansi sangat terasa dalam ruang
lingkupnya dan spesifik. Selain itu, alumninya tersebar di berbagai
perusahaan di Indonesia dan bahkan di Luar Negeri .
dimana: n = (Wibisono,2003)
Z
e 2
n /2
e
Apabila nilai tidak diketahui, kita dapat menggunakan s dari sampel sebelumnya
(untuk n 30) yang memberikan estimasi terhadap
Contoh: Nilai rerata 32 sampel random UAN siswa SMU Negeri se-Kota Balikpapan
2004 ialah 7,5 dan standar deviasi populasinya adalah 0,25. berapa
ukuran sampel yang diperlukan apabila peneliti menginginkan tingkat
kepercayaan sebesar 95% clan error estimasi µ kurang dari 0,05 ?
Jawab : Karena = 0,05, maka Z0,05 = 1,96
Z /2
2 2
(1,96).(0, 25)
n 96,04
e 0,05
Dengan demikian peneliti yakin dengan tingkat kepercayaan 95% bahwa sampel
random berukuran 96,04 = 97 akan memberikan selisih estimasi x dengan µ
kurang dari 0,05. Jadi, sampel yang diambil sebesar 97 orang
S = 277,53 278
Karena populasinya bertingkat, maka sampelnyapun bertingkat dengan teknik
stratified random sampling dengan rumus :
APLIKASI - 2
Populasi adalah bank umum yang meliputi Bank BUMN, BUMS, Bank Asing, Bank
Syariah, dan Bank BPD yang berlokasi di Jakarta yang totalnya 136 bank. Dari 136
unit Bank Umum di. Indonesia, sebanyak 116 unit dari sebanyak 136 bank. Bank
umum tersebut digolongkan merupakan bank non-rekap dan hanya 20 unit bank
sebagai bank rekap yang berada di Jakarta. Bank non-rekap merupakan bank umum
yang mampu bertahan meskipun terjadi krisis ekonomi sedangkan bank rekap adalah
bank yang terkena krisis dan telah mendapatkan suntikan dana dari pemerintah
Indonesia. Adapun perincian penggolongan bank dimaksud sebagai populasi
penelitian Tabel 3 berikut
Tabel 3. Populasi Bank Umum. di Indonesia Tahun 2004
Dari sebanyak 136 unit Bank Umum di Indonesia sebagaimana tertera pada Tabel di
atas, terdapat 115 unit berlokasi di DKI Jakarta yang tersebar di wilayah Jakarta
Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Jakarta Selatan sedangkan
21 bank umum lainnya yakni Bank Pembangunan Daerah (BPD) berada di sejumlah
provinsi
Perlu dijelaskan bahwa dalam penentuan atau jastifikasi bank umum sebagai
populasi adalah mengingat bank umum memiiki multi produk dan juga mempunyai
karakteristik yang sama pula. Sedangkan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) selain
hanya memiliki produk tunggal juga memiliki karakteristik yang berbeda dengan
perbankan umum sehingga jenis perbankan ini sengaja diabaikan dalam penelitirn.
Jadi, yang menjadi unit analisis dalam penelitian ini adalah bank umvmnya,
meliputi BUMN, BUMS nasional maupun asing, Bank Syariah dan BPD yang
berlokasi di DKI Jakarta yang berjumlah 136 bank dengan klasifikasi dalam Tabel 4
berikut.
Tabel 4. Populasi Bank Umum di Indonesia Tahun 2004
No Bank Umum Unit Keteragan
1. Bank BUMN 7
2. Bank BUMN di DKI 4 BPD DKI, BPD Jabar, BED Jatim, BPD Nagari,
3. Bank BUMN di daerah 21
4. Bank BUMS - Nasional 94
5. Bank BUMS - Asing 8
6. Bank Syariah 2
Jumlah 136
Sumber Situngkir-Sihol (2005:169)
Dalam penelitian ini, proses penarikan sampel dilakukan secara stratified sampling
dengan dua tahap yakni: tahap pertama, : penentuan sampel bank dan tahap kedua,
penentuan sampel manajer dan karyawan. Karen analisis akan menggunakan
Structural Equation Modeling (SEM), maka ukuran sampel adalah 100 (Schumaker
and Lomax, 1996). Untuk keperluan analisis ini, diambil sampel minimal 100 bank
umum
Sampel penelitian ini dialokasikan secara proporsional untuk masingmasing bank
umum agar sampel bank benar-benar mewakili populasi bank umum di DKI; maka
sampel bank diambil dari kategori bank rekap, don bank non rekap berdasarkan
peringkat aset yang dimiliki, yang tertera dalam Tabel 5. Selanjutnya agar sampel
manager dan karyawan mewakili populasi yang sebenarnya, maka sampel juga diambil
dari kategori bank rekap dan non rekap seperti tampak dalam Tabel 5 berikut
Junila Sampel
No Kategori Bank
h Bank Manajer Karyawan .
1. Bank Umum Rekap 5 3 9
2. Bank Umum Rekap 5 3 9
3. Bank Umum Non Rekap 5 4 12
4. Bank Umum Non Rekap 31 25 75
.5. Bank Umum Rekap 57 42 126 672
6. Bank BPD Rekap 4 12
7. Bank BPD Non Rekap 11 8 24 128
8. Bank BPD Rekap 4 3 9
9. Bank BPD Non Rekap 2 2 6 32
10. Bank Asing 8 6 18
11. Bank Syariah 2 - - -
Jumlah 136 100 300 1600
Sumber: Situngkir-Sihol (2005:170)
APLIKASI - 3
Populasi dalam penelitian ini adalah pelanggan department store di Jakarta. Sedangkan
populasi sasaran adalah pelanggan yang memiliki kartu member department store yang
sudah menerapkan program hubungan pelanggan (customer relationship). Mengingat
department store di Jakarta yang sudah melaksanakan program tersebut adalah Keris
Galery, Sogo, Matahari, Metro, Pasaraya Grande, dan Rimo maka unit analisis dalam
penelitian ini adalah pelanggan dari keenam department store tersebut. Ukuran sampel
ditentukan dengan memperhatikan teknik analisis yang digunakan dalam uji hipotesis
yang menggunakan model persamaan struktural (Structural EquationModeling=SEM)
(Bob Foster, 2005)
Ukuran sampel untuk model persamaan struktural (SEM) paling sedikit 200 pengamatan
(Kelloway, 1998; Marsh [Link].). Joreskog dan Sorbom (1996:32) menyatakan bahwa
hubungan antara banyaknya variabel dan ukuran sampel minimal dalam model
persamaan struktural (sebagai ancer-ancer) dapat dilihat pada Tabel 7. Ukuran sampel
minimal dan jumlah variabel sebagai berikut:
Tabel 7. Ukuran Sampel Minimal dan Jumlah Variabel
Hair (1998:605) menyatakan tidak ada kriteria tunggal untuk menentukan ukuran
sampel (sample size) dalam SEM, namun perlu diperhatikan rasio sampel terhadap
parameter (indikator) agar mencapai ratio 15 yang berarti tidak hanya
memperhitungkan banyak variabel.
Penelitian ini terdapat 24 indikator sehingga diperlukan ukuran, sampel minimum sebesar
24'x15'= 360 responden. Karena itu untuk mengantisipasi data -outliers (Hair,1998:603),
maka ukuran sampel yang akan diambil adalah sebanyak 400 responden. Selanjutnya
Populasi peserta Diklatpim Tingkat II yang tersebar di seluruh Indonesia cukup besar,
maka untuk efisiensi penelitian dilakukan penarikan sampel dengan metoda: roporsional
random sampling. Sutrisno Hadi (2004:67) menyatakan bahwa untuk mendapatkan
sampel yang representatif dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu (1) mengambil sampel
dari populasi tanpa memperhitungkan jumlah populasi, dan (2) mengambil sampel dari
populasi dengan mempertimbangkan besar kecilnya populasi
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik proporsional random
sampling. Acuan utama untuk menentukan jumlah sampel minimal menggunakan
rumus dari Cochran dalam Harun Ar-Rasyid (1994:75) yang rumusannya adalah sebagai
berikut:
2
(t pq)
2
d
n (min) 2
1 (t pq)
1 [ 2
- 1]
N d
Keterangan :
n(min) = jumlah sampel terkecil
N = jumlah sumber data populasi
t = nilai pada kurva normal berdasarkan taraf nyata yang dipilil ( = 0,05; harga t = 1,96)
p = proporsi dari salah satu unit yang dibandingkan
q = 1–p
D = taraf kesalahan dalam persen (ditetapkan sebesar 5%)
Berdasarkan rumus di atas, maka besar sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan
perhitungan sebagai berikut:
n(min) = A / B
A = (t2 * pq) / d2
A = {(1,96)2(0,11095 * 0,88905)} / (0,05 * 0,05)
= {(3,8416)(0,098642)} / (0,0025)
= 151,5772 ……………… dibulatkan menjadi 152
B = 1 + [1 / N][{(t2 * pq) / d2} – 1
= 1 + [1 / 953][152-1]
= 1 + (0,00105 * 151)
= 1 + 0,158447
= 1,158447
n(min) = A / B
= 152 / 1,158447
= 131,2101 ……… dibulatkan menjadi 131
Dari jumlah sampel minimal hasil perhitungan di atas, menurut Cochran diasumsikan
hanya 95 % yang dapat diobservasi. Selanjutnya, berdasarkan data yang diperoleh dari
hasil pengukuran (95 % dari sampel minimal tadi), diasumsikan hanya sekitar 95% yang
dapat diolah. Atas dacar dan pertimbangan ini, maka besar sampel yang diharapkan
n(har) adalah :
n(har) = {n(min) / (0,95 x 0,95)}
= 131 / (0,9025)
= 145,1524 ………dibulatkan menjadi 145
Dengan demikian sampel yang diambil dari penelitian ini adalah 145 orang. Dari jumlah
sampel = 145 orang tersebut kemudian ditentukan jumlah masing-masing sampel
menurut tingkatan penyelenggaraan yang berada di masing-masing daerah secara
proportionate random sampling dengan rumus
Ni
ni .n
N
Dengan rumus di atas, maka diperoleh jumlah sampel menurut masing-masing strata
sebagai berikut
1. Jakarta = 120 953 x 145 = 18.26 18
/
2. Semarang = 90/ 953 x 145 = 13.69 14
3. Surabaya = 95/ 953 x 145 = 14.45 14
4. Kupang = 89/ 953 x 145 = 13.54 14
5. Makassar 80/ 953 x 145 = 12.17 12
6. Kendari = 85/ 953 x 145 = 12.93 13
7. Manado= 84/ 953 x 145 = 12.78 13
8. Medan = 90/ 953 x 145 = 13.69 14
9. Pakanbaru = 75/ 953 x 145 = 11.41 11
10. Padang = 70/ 953 x 145 = 10.65 11
11. Samarinda = 75/ 953 x 145 = 11.41 11
Jumlah = 145
Berdasarkan perhitungan di atas, maka dapat dibuatkan seperti pada Tabel 8
sebagai berikut
PENYELENGGARA
No POPULASI SAMPEL
DIKLATPIM
1. Jakarta 120 18
2. Semarang 90 14
3. Surabaya 95 14
4. Kupang 89 14
5. Makassar 80 12
6. Kendari 85 13
7. Manado 84 13
8. Medan 90 14
9. Pakanbaru 75 11
10. Padang 70 11
11. Samarinda 75 11
JUMLAH 878 145
TEKNIK PENGUMPULAN DATA
1. PENGANTAR
Pemilihan teknik pengumpulan data tergantung pada permasalahan yang akan dikaji.
Beberapa masalah kadang-kadang tidak bisa dipecahkan secara memuaskan, karena
data yang dibutuhkan tidak tersedia atau metode yang disusun tidak dapat dipercaya
dan tidak mampu mencakup seluruh data yang diperlukan.
2. SUMBER DATA
a. Primer = data yang dihimpun langsung oleh peneliti
b. Sekunder = data yang dihimpun melalui pihak kedua
Fakta Teori
Masalah Penelitian
Kerangka Pemikiran/konseptual
Hipotesis
Pengolahan Data
Laporan Akhir