0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
82 tayangan183 halaman

Perbedaan Biaya Pribadi dan Sosial CSR

Corporate social responsibility (CSR) merupakan tanggung jawab sosial perusahaan untuk terlibat dalam pembangunan berkelanjutan melalui tanggung jawab sosialnya dan berorientasi pada keseimbangan antara aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi."

Diunggah oleh

Carmanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
82 tayangan183 halaman

Perbedaan Biaya Pribadi dan Sosial CSR

Corporate social responsibility (CSR) merupakan tanggung jawab sosial perusahaan untuk terlibat dalam pembangunan berkelanjutan melalui tanggung jawab sosialnya dan berorientasi pada keseimbangan antara aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi."

Diunggah oleh

Carmanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

AKUNTANSI

PERTANGGUNGJAWABAN
SOSIAL DAN
LINGKUNGAN
TEORI DAN KONSEP

Ersi Sisdianto, [Link],


Dakun, M. Ak

i
AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN SOSIAL
DAN LINGKUNGAN; Teori dan Konsep

Penulis : Ersi Sisdianto, M. Ak,


Dakun, [Link]
Desain Sampul : Rizal Fahmi AS
Tata Letak : Adam Akbar

ISBN : 978-623-96156-8-0

Diterbitkan oleh : PUSTAKA AKSARA, 2021


Redaksi:
Jl. Karangrejo Sawah IX nomor 17, Surabaya
Telp. 0858-0746-8047
Laman : [Link]
Surel : info@[Link]

Anggota IKAPI

Cetakan Pertama : 2021

All right reserved

Hak Cipta dilindungi undang-undang


Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau
seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun dan dengan cara
apapun, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan teknik
perekaman lainnya tanpa seizin tertulis dari penerbit.

ii
KATA PENGANTAR

Buku ajar sangat penting dalam dunia pendidikan dan


proses pengajaran. Buku ajar yang berjudul “Akuntansi
Pertanggungjawaban Sosial dan Lingkungan” akan dipakai
sebagai buku ajar pada Universitas Islam Negeri Raden Intan
Lampung dan bisa digunakan untuk Universitas-universitas
lainnya atau sebagai bahan panduan dalam penerapan akuntansi
pertanggungjawaban social dan lingkungan. Buku ini
diperuntukan bagi mahasiswa/I Prodi Akuntansi Syari‟ah
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Neger Raden
Intan Lampung dimana pada Prodi Akuntansi Syar‟iah
mempunyai mata kuliah Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial
dan Lingkungan.
Buku ajar Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial dan
Lingkungan ini menyajikan beberapa bab bahasan seperti prolog
corporate social responsibility, konsep corporate social responsibility,
corporate social responsibility dalam prsefektif pancasila, etika bisnis
dan tanggungjawab lingkungan perusahaan, islamic corporate social
responsibility, islamic social reporting, disclousure islamic financial
reporting, tiga prinsip dasar corporate social responsibility.
Buku ajar ini dapat selesai atas bantuan beberapa pihak.
Dengan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan
dalam penyelesaian buku ini sehingga tersaji dengan rapi dan
mudah untuk dipahami. Penulis sangat menyadari bahwa buku
ajar ini masih banyak kekurangan maupun kesalahan yang tidak
disengaja. Oleh karena itu saran beserta masukan sangat
diharapkan untuk penyempurnaan buku ajar edisi selanjutnya
dengan judul yang sama.

ii
i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar........................................................................................i
Daftar Isi...................................................................................................ii

BAB I
PROLOG CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)........1

BAB II
KONSEP CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR).........18

BAB III
CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) DALAM
PRESFEKTIF PANCASILA.................................................................35

BAB IV
ETIKA BISNIS DAN TANGGUNGJAWAB LINGKUNGAN
PERUSAHAAN......................................................................................42

BAB V
ISLAMIC CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR).........50

BAB VI
ISLAMIC SOCIAL REPORTING........................................................89

BAB VII
DISCLOUSURE ISLAMIC FINANCIAL REPORTING...................108

BAB VIII
TIGA PRINSIP DASAR CORPORATE SOCIAL
RESPONSIBILITY (CSR)......................................................................151

Daftar Pustaka........................................................................................174
Biodata Penulis......................................................................................178

iv
BAB I
PROLOG CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY

A. Latar Belakang
Corporate social responsibility (CSR) yaitu sebuah tindakan
yang perusahaan lakukan sebagai wujud pertanggung
jawabannya pada lingkungan sosial yang ada di sekitar lokasi
berdirinya perusahaan tersebut. Wujud pertanggung jawaban
ini bermacam-macam, seperti adanya perbaikan lingkungan
dan aktivitas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
sumbangan dana untuk pembangunan fasilitas pendidikan,
dan pemberian beasiswa bagi anak tidak mampu di wilayah
keberadaan perusahaan tersebut. Adanya corporate social
responsibility (CSR) disebabkan munculnya kesadaran
perusahaan bahwa perusahaan tidak hanya mengejar keuntung
saja, melainkan keberlanjutan perusahaan jangka panjang
adalah sesuatu yang jauh lebih penting. Sumber daya manusia
sendiri ialah aset paling berharga untuk menjalankan roda
organisasi agar tetap berdiri. Sumber daya manusia mencakup
beberapa individu dengan suatu kompetensi yang saling
melakukan kerja sama guna mewujudkan tujuan dari
organisasi. Oleh karenanya, dibutuhkan usaha dalam
mengembangkan sumber daya manusia guna meningkatkan
integritas serta kualitas dengan harapan di masa depan
organisasi bisa berkompetisi. Pelaksana corporate social
responsibility (CSR) termasuk dari 118 sumber daya manusia
yang ada pada organisasi dimana diperlukan adanya
pengembangan lewat kegiatan-kegiatan pelatihan dan juga
pendidikan.
Perusahaan termasuk aktor ekonomi yang ada di sebuah
wilayah, baik itu wilayah negara, provinsi, kabupaten,
kecamatan, maupun desa yang dipaksa menghasilkan profit
semaksimal mungkin. Akan tetapi, prinsip terkait perusahaan
yang sebatas bertujuan kepada perolehan laba, pelan-pelan
telah mulai menghilang atau ditinggalkan. Perusahaan juga
diharuskan mempunyai tanggung jawab sosial dimana ini

1
berhubungan dengan posisinya yang ada di tengah-tengah
masyarakat. Tanggung jawab perusahaan tersebut di antaranya
ialah turut terlibat dalam mensejahterakan perekonomian
masyarakat lewat program bina lingkungan dan kemitraan.
Bentuk tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat
tersebut dinamakan corporate social responsibility (CSR).
Definisi komprehensif dari corporate social responsibility
(CSR) sendiri yaitu komitmen dunia bisnis atau perusahaan
untuk turut terlibat dalam pengembangan ekonomi yang
berkelanjutan melalui tanggung jawab sosialnya serta
berorientasi kepada keselarasan antara perhatian dengan aspek
lingkungan, sosial, dan ekonomis. Dewasa ini, praktek
kedermawanaan sosial perusahaan berkembang pesat selaras
akan berkembangnya konsep corporate social responsibility (CSR).
Ini berkaitan dengan instruksi dunia untuk tidak sebatas
mencari keuntungan belaka, namun juga harus bertindak etis
serta aktif dalam pembentukan investasi sosial terhadap
lingkungan.
Isu lingkungan merupakan hal yang mejadi perhatian
bagi semua kalangan baik secara internasional ataupun
nasional. Kondisi tersebut terbukti banyaknya pertemuan dan
kesepakatan-kesepakatann berbagai negara untuk terlibat
langsung dalam upaya penyelamatan lingkungan salah
satunya Paris Agrrement yang diselenggaran pada tahun 2015.
Kesepakatan bersama untuk membatasi suhu global barada
dibawah 2°C dibandingkan dengan masa pra-industri,
tentunya tidak akan tercapai tanpa campur tangan pelaku
bisnis. Hal inilah yang semakin menunjukkan bahwa tanggung
jawab perusahaan tidak hanya berfokus terhdap stockholder saja
melainkan juga mencakup tanggung jawab social dan
lingkungan. Dengan kata lain perusahaan dapat disebut
sebagai salah satu agen pembangungan dengan misi
menyejahterakan masyarakat. Maka untuk mencapai
keseimbangan tersebut dibutuhkan adanya analis lingkungan
bisnis yang mampu mendeskripsikan dampak atau pengaruh
bisnis yang dijalankan terhadap lingkungan sekitar dan

2
kemudian menerjemahkannya dalam strategi perusahaan baik
jangka panjang dan jangka pendek. Sehingga dengan demikian
strategi perusahaan yang semula hanya memaksimalkan laba
kemudian berubah menjadi perspektif bisnis triple buttom line
yang mamaksa perusahaan tidak semata-mata hanya berfokus
untuk menghasilkan laba saja (profit) tetapi juga berfokus pada
upaya untuk menyejahterakan masyarakat (people) serta
menjaga kelestarian lingkungan (planet (Prastowo&Huda,
2011).
Dalam skala nasional, pemerintah dalam Undang-
Undang No. 40 / 2007 tentang Perseroan Terbatas telah
dinyatakan, adanya kewajiban perusahaan untuk menjalankan
kegiatan corporate social responsibility (CSR) sebagai wujud
kepdulian pelaku bisnis terhadap lingkungannya dan menjadi
bagian dari perusahaan yang tidak bisa dipisahkan.
Indonesia merespons isu lingkungan tersebut dengan
membentuk Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas. BAB V Pasal 74 dalam perundang-
undangan tersebut menjelaskan ”Perseroan yang menjalankan
kegiatan usahanya dibidang dan atau berkaitan dengan sumber
daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan
Lingkungan”. Maka dari hal tersebut, baik perusahaan swasta
atau BUMN harus melakukan kegiatan corporate social
responsibility (CSR). Selain itu juga diperkuat dengan Surat
Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP.04/MBU/2007 dimana
memaparkan bahwa stakeholder eksternal yang menjadi
sasarannya, dimana meliputi lingkungan dan community.
Corporate social responsibility (CSR) atau tanggun jawab
sosial dan lingkungan merupakan sebuah konsep yang
menekankan bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab
terhadap stakeholders dimana perusahaan dalam
melaksanakan aktivitasnya harus mempertimbangkan segala
dampak positif dan negatif yang dimungkinkan dapat terjadi
dan memengaruhi tatanan sosial ekonomi dan lingkungan
masyarakat. Dengan kata lain, corporate social responsibility
(CSR) adalah sebuah representasi dari kinerja perusahaan itu

3
sendiri. Melalui program corporate social responsibility (CSR)
perusahaan memastikan bahwa masyarakat dan perusahaan
bisa saling mendukung dan tumbuh bersama serta
memperlihatkan bagaimana perusahaan bisa mewujudkan
keselarasan dalam hal norma sosial, lingkungan, dan ekonomi
tanpa mengabaikan harapan dari stakeholder perusahaan.
Indonesia menjadi negara satu-satunya yang
mewajibkan korporasi, terutama yang beroperasi dalam sektor
pengelolaan sumberdaya alam (SDA) mengeluarkan dana
untuk corporate social responsibility (CSR) atau tanggung jawab
sosial perusahaan. Secara eksplisit hal ini termuat dalam UU
No. 40/2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT), dimana
sebelumnya oleh Mahkamah Konstitusi dikuatkan untuk
segera diberlakukan. Walaupun peraturan perundang-
undangan di bawahnya belum dibuat sebagai petunjuk teknis
(juknis) dan petunjuk pelaksanaan (juklak), akan tetapi
berbagai perusahaan di Indonesia secara hukum sudah terikat
dengan UU ini. Kebalikannya, di berabagai negara maju
semacam Eropa Barat dan Amerika Serikat, walaupun corporate
social responsibility (CSR) sifatnya voluntary (sukarela), akan
tetapi berbagai kegiatan yang berhubungan dengan corporate
social responsibility (CSR) justru di sana tengah diperhatikan
oleh kalangan korporasi. Ternyata sifatnya tidaklah wajib,
rupanya beberapa perusahaan lebih terikat secara sosial dan
moral dalam mengalokasikan beberapa dari keuntungan yang
diperolehnya untuk aktivitas-aktivitas terkait corporate social
responsibility (CSR). Umumnya orang-orang yang ada di negara
maju lebih melek akan informasi, terutama terkait isu dunia,
misalnya: pemanasan global, pendidikan, kesehatan,
kemiskinan, pencemaran lingkungan, deforestasi, serta lainnya,
juga turut „memaksa‟ korporasi untuk lebih memiliki tanggung
jawab yang besar terhadap 3P (people, planet, dan profit) lewat
corporate social responsibility (CSR). Beberapa perusahaan di
negara maju menghadapi persoalan seperti kesulitannya
menemukan kegiatan corporate social responsibility (CSR) yang
sesuai dengan visi dan misinya sebagai dunia usaha. Selain itu,

4
beberapa perusahaan tersebut juga adalah negara kaya dimana
tentunya tidak banyak memiliki persoalan terkait pencemaran
lingkungan dan kemiskinan. Dampaknya, korporasi wajib
untuk menemukan “tambahan outlet” yang ada di luar negara
asalnya. Hal ini adalah peluang yang baik untuk negara
berkembang dalam menangkap dana corporate social
responsibility (CSR) yang melimpah dimana di negara asal
perusahaan tersebut belum tersalurkan. Bagi korporasi yang
mempunyai kegiatan atau kantor operasi di negara
berkembang, cenderung akan tidak sulit dalam mengeluarkan
dana corporate social responsibility (CSR).

B. Manfaat Corporate Social Responsibility (CSR)


Program corporate social responsible (CSR) dilakukan
sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan terhadap
khalayak umum dimana memiliki beberapa manfaat serta
fungsi. Corporate social responsibility (CSR) secara umum
memiliki fungsi sebagai wujud pertanggung jawaban
perusahaan kepada pihak-pihak yang terdampak maupun
terlibat secara tidak langsung ataupun langsung terhadap
kegiatan perusahaan dengan memperhatikan berabagai pihak
tersebut secara lebih.
Program corporate social responsibility (CSR) yakni
investasi jangka panjang yanv berguna sebagai alat untuk
menunjang peningkatan citra perusahaan di mata publik dan
berguna mengurangi risiko sosial. Program corporate social
responsibility (CSR) memiliki salah satu implementasi yaitu
community development (pemberdayaan atau pengembangan
masyarakat). Maka dari hal tersebut, fungsi dari corporate social
responsibility (CSR) juga sebagai investasi perusahaan guna
sustainability (keberlanjutan dan pertumbuhan) perusahaan dan
tidak lagi dipandang sebagai cost centre (sarana biaya)
melainkan sebagai profit centre (sarana meraih keuntungan).
Sedangkan apabila diuraikan lebih luas, corporate social
responsibility (CSR) memiliki fungsi serta manfaat untuk
perusahaan, di antaranya meliputi:

5
1. Izin sosial untuk beroprasi (sosial licence to operate)
Masyarakat bagi perusahaan adalah sebuah faktor
yang membuatnya bergerak atau bisa juga sebaliknya.
Melalui terdapatnya corporate social responsibility (CSR),
masyarakat sekitarnya akan bisa mendapat manfaat dari
perusahaan di lingkungannya sehingga secara otomatis
masyarakat merasa diuntungkan serta pelan-pelan juga
merasa "memiliki" perusahaan itu. Apabila kondisinya
sudah semacam ini, perusahaan dalam mengoperasikan
usahanya di daerah tersebut akan lebih leluasa.
2. Memperbaiki Hubungan Dengan Stakehoder
Dilakukannya program corporate social responsibility
(CSR) bisa untuk membangun komunikasi bersama
stakeholder menjadi lebih erat dan lebih sering, di mana ini
bisa meningkatkan kepercayaan stakeholders pada
perusahaan tersebut.
3. Mereduksi Risiko Bisnis Perusahaan
Melalui corporate social responsibility (CSR) akan
menjadikan hubungan antara pihak yang bersangkutan
dengan perusahaan bertambah lebih baik lagi, dampak dari
ini resiko bisnis semacam konflik dapat dengan mudah
ditangani. Apabila kondisinya semacam ini, maka biaya
pengalihan resiko dapat dimanfaatkan untuk sesuatu yang
lebih berguna untuk perusahaan atau masyarakat.
4. Meningkatkan Semangat dan Produktivitas Karyawan
Reputasi yang baik yang dimiliki perusahaan yaitu
perusahaan yang dapat memberi kontribusi besar kepada
lingkungannya, masyarakat sekitar, dan stakeholder. Tentu
saja hal ini akan menjadi suatu kebanggan khusus untuk
karyawan yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan
dimana ini akan menjadikan produktivitas dan etos kerja
para karyawannya meningkat.
5. Melebarkan Akses Menuju Market
Semua biaya dan investasi yang digunakan untuk
mendanai program corporate social responsibility (CSR) pada
dasarnya dapat menjadi suatu peluang baik untuk

6
mendapatkan pasar yang lebih luas. Mencakup di dalamnya
dapat menembus pangsa pasar yang baru dan
meningkatkan loyalitas konsumen. Kondisi tersebut
dikarenakan program corporate social responsibility (CSR) bisa
menjadikan brand atau nama perusahaan menjadi lebih
dikagumi serta dikenal masyarakat luas.
6. Melebarkan Akses Sumber Daya
Apabila pengelolaan corporate social responsibility
(CSR) secara baik, maka bagi perusahaan akan menjadi
keunggulan dalam bersaing dimana ke depannya bisa
membantunya memperlancar jalan dalam memperoleh
sumber daya yang diperlukan.
7. Memperbaiki Hubungan dengan Regulator
Secara umumnya perusahaan yang melakukan
corporate social responsibility (CSR) dapat berkontribusi
sebagai regulator dalam mengurangi beban pemerintah.
Sebenarnya pemerintahlah yang bertanggung jawab besar
terhadap kesejahteraan masyarakat serta lingkungannya.
8. Mereduksi Biaya
Melalui program corporate social responsibility (CSR)
juga bisa menekan anggaran perusahaan semacam
melaksanakan program corporate social responsibility (CSR)
yang berhubungan dengan lingkungan dimana dalam
perusahaan mengaplikasikan konsep daur ulang, sehingga
akan berkurang biaya produksi dan limah perusahaan.
9. Peluang Mendapatkan Penghargaan
Suatu perusahaan yang berkontribusi besar untuk
lingkungan sekitar dan masyarakat luas lewat program
corporate social responsibility (CSR) akan memiliki peluang
lebih besar dalam mendapatkan penghargaan. Hal ini bagi
perusahaan tersebut tentunya menjadi kebanggaan
tersendiri.

7
Sedangkan menurut pendapat Wibisono (2007: 99)
manfaat corporate social responsibility (CSR), yaitu;
1. Bagi negara, praktik yang baik dari corporate social
responsibility (CSR) dapat mencegah malpraktik bisnis atau
“corporate misconduct” semacam tingginya tingkat korupsi
yang dipicu oleh penyuapan kepada aparat hukum atau
aparat negara. Negara juga akan bisa menikmati
pendapatan dari pajak yang tidak digelapkan perusahaan,
2. Bagi lingkungan, praktik yang baik dari corporate social
responsibility (CSR) bisa menjauhkan dari berlebihannya
eksploitasi terhadap sumber daya alam, melalui
mengurangi tingkat polusi yang bisa mempertahankan
kualitas dari lingkungan, serta justru perusahaan
berkontribusi memengaruhi lingkungannnya,
3. Bagi masyarakat, praktik yang baik dari corporate social
responsibility (CSR) dapat menunjang peningkatan nilai-
tambah perusahaan di sebuah daerah sebab tenaga kerja
akan terserap sehingga kualitas sosial di daerah yang
bersangkutan meningkat. Penyerapan pekerja lokal akan
akan dilindungi berbagai hak yang dimilikinya sebagai
pekerja. A[abila ada masyarakat lokal atau masyarakat adat,
praktek corporate social responsibility (CSR) akan menjunjung
tinggi budaya dan tradisi lokal tersebut,
4. Bagi Perusahaan. Melalui pengimplementasian corporate
social responsibility (CSR), ada empat manfaat yang bisa
perusahaan dapatkan. Pertama, perusahaan bisa
mempermudah pengelolaan manajemen risiko dan
meningkatkan pengambilan keputusan pada hal-hal yang
kritis. Kedua, perusahaan bisa menjaga kualitas dan
keloyalan sumber daya manusia. Ketiga, perusahaan tidak
sulit dalam mendapat akses terhadap modal. Keempat,
perusahaan memperoleh citra positif dari masyarakat dan
keberadaan perusahaan bisa tumbuh dan berkelanjutan.

8
Manfaat pelaksanaan corporate social responsibility (CSR)
sesuai pemaparan dari Kotler ialah:
1. Meningkatkan motivasi dan kepuasan karyawan
2. Membentuk hubungan yang harmonis antara komunitas
dengan perusahaan.
3. Penyelesaian masalah sosial dalam komunitas lokal dan
berdampak pada perubahan sosial.
4. Mendorong peningkatan penjualan dan menciptkan
preferensi merek.
5. Meningkatkan loyalitas konsumen terhadap organisasi atau
perushaan.
6. Meningkatkan citra dan reputasi perusahaan.
Khususnya pada masa krisis, kuatnya reputasi di
masyarakat dapat menjadi asset nyata yang berharga.
Positifnya citra perusahaan juga bisa memengaruhi pembuat
kebijaksanaan, serta memberi pengaruh positif yang lain
semacam, bisa berkontribusi positif untuk meningkatkan
kinerja finansial perusahaan dan bisa meningkatkan
loyalitas dan kepuasan karyawan.
7. Memperkuat brand positioning.
Brand atau perusahaan yang turut terlibat dalam berbagai
aksi sosial di masyarakat, bisa membentuk jiwa pada satu
merek atau “spirit of the brand”. Kegiatan marketing yang
meliputi sesuatu yang mengarah kepada sosial akan lebih
memberi dampak positif pada penilaian terhadap suatu
merek (brand jugmenets).

C. Fungsi Corporate Social Responsibility (CSR)


Pelaksanaan corporate social responsibility (CSR) bagi
perusahaan ialah sebagai wujud pertanggung jawaban sosial
perusahaan kepada lingkungan, pemerintah, dan masyarakat
sekitar baik yang berdampak tidak langsung ataupun langsung,
memiliki fungsi yaitu;
1. Izin Sosial untuk Beroperasi
Masyarakat sendiri bagi suatu perusahaan adalah
faktor yang menentukan perkembangan perusahaan.

9
Melalui terdapatnya corporate social responsibility (CSR),
masyarakat yang menetap di sekitar perusahaan yang
bersangkutan akan memperoleh manfaat dari perusahaan
tersebut. Kondisi ini tentu saja akan memberikan
keuntungan kepada masyarakat sekitar. Oleh karenanya,
pelan-pelan masyarakat dapat loyal terhadap perusahaan
itu. Apabila sudah semacam ini, kegiatan atau program di
wilayah tersebut akan lebih mudah dijalankan perusahaan.
2. Corporate Social Responsibility (CSR) Bisa Meminimalkan
Resiko Bisnis Perusahaan
Corporate social responsibility (CSR) akan membentuk
hubungan yang semakin lebih baik antara pihak yang
terlibat dengan, oleh karenanya risiko bisnis semacam
terjadinya konflik dapat dengan mudah diatasi. Apabila
kondisinya semacam ini, maka biaya pengalihan resiko
dapat dimanfaatkan untuk sesuatu yang lebih berguna
untuk perusahaan atau masyarakat.
3. Corporate Social Responsibility (CSR) Dapat Melebarkan Akses
Sumber Daya
Apabila pengelolaan corporate social responsibility
(CSR) dilakukan secara baik, maka akan menjadi suatu
keunggulan eksklusif untuk bisa berkompetisi serta guna
mempermudah perusahaan dalam memperoleh sumber
daya yang dibutuhkan.
4. Corporate Social Responsibility (CSR) Memudahkan Akses
Menuju Market
Semua pengeluaran biaya dan investasi terkait
program corporate social responsibility (CSR) pada dasarnya
juga dapat menjadi peluang baik untuk memperoleh pasar
yang lebih luar. Mencakup di dalamnya dapat menembus
pangsa pasar yang baru serta membangun loyalitas
konsumen. Terjadinya ini disebabkan program corporate
social responsibility (CSR) dapat menjadikan brand atau nama
perusahaan menjadi lebih dikagumi dan terkenal di
khalayak umum.

10
5. Corporate Social Responsibility (CSR) Dapat Menekan Biaya
Pengeluaran
Melalui adanya program corporate social responsibility
(CSR) dapat juga menghemat anggaran yang dikeluarkan
perusahaan semacam penerapan konsep daur ulang dalam
perusahaan. Oleh karenanya dapat berkurang biaya untuk
produksi dan juga limbah yang dihasilkan.
6. Corporate Social Responsibility (CSR) Mampu Memperbaiki
Hubungan dengan Stakeholder
Program corporate social responsibility (CSR) yang
dilakukan dapat memudahkan atau membantu komunikasi
bersama stakeholder. Ini tentunya akan meningkatkan
kepercayaan stakeholder pada perusahaan tersebut.
7. Corporate Social Responsibility (CSR) Mampu Memperbaiki
Hubungan dengan Regulator
Secara umum perusahaan yang menerapkan program
corporate social responsibility (CSR) sebagai regulator akan
ikut berkontribusi dalam membantu peringanan beban
pemerintah. Sebenarnya pemerintahlah yang bertanggung
jawab besar terkait kesejahteraan masyarakat dan
lingkungannya.
8. Corporate Social Responsibility (CSR) Meningkatkan
Produktivitas dan Semangat Karyawan
Reputasi baik dari sebuah perusahaan ialah
perusahaan yang dapat turut andil kepada lingkungannya,
masyarakat sekitar, dan stakeholder. Tentu saja ini akan
menjadi sesuatu yang membanggakan bagi karyawan yang
bekerja di perusahaan itu, dimana ini akan berakibat
terhadap meningkatnya produktivitas dan etos kerja
karyawan.
9. Corporate Social Responsibility (CSR) Memperbesar Peluang
Memperoleh Penghargaan
Perusahaan yang berkontribusi besar untuk
lingkungan sekitar dan masyarakat luas lewat program
corporate social responsibility (CSR) akan memiliki peluang
besar dalam memperoleh penghargaan. Tentu saja ini akan

1
1
menjadi sesuatu yang membanggakan untuk perusahaan
yang bersangkutan.

D. Unsur-Unsur Corporate Social Responsibility (CSR)


Corporate social responsibility (CSR) pada dasarnya juga
bentuk tanggung jawab perusahaan pada stakeholder, sehingga
ini dikelompokkan dalam tiga unsur, mencakup:
1. Berkomitmen dalam pembangunan ekonomi secara
berkesinambungan dan luas.
2. Mempunyai komitmen dalam berupaya secara legal dan etis
dan juga memiliki peranan dalam peningkatan ekonomi
karyawannya.
3. Ditunjukkan dengan suatu tindakan sosial berbentuk sikap
peduli akan lingkungan yang ada di sekeliling perusahaan
dengan menyesuaikan peraturan yang berlaku.

E. Dasar Hukum Corporate Social Responsibility (CSR)


Dasar hukum corporate social responsibility (CSR) di
Indoensia yaitu termuat dalam pasal 74 UU No. 40 Tahun 2007
terkait kewajiban CSR bagi PT, dimana ini adalah keputusan
pemerintah terkait corporate social responsibility (CSR) untuk
perseroan terbatas (PT), yang meliputi:
1. Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya dibidang
dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib
melaksanakan Tanggung jawab sosial dan lingkungan.
2. Tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagaimana
dimaksud pada ayat (I) merupakan kewajiban perseroan
yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya
perseroan yang pelaksanaanya dilakukan dengan
memperhatikan kepatuhan dan kewajaran.
3. Perseroan terbatas yang tidak melksanakan kewajiban
sebagaimana dimaksud ayat (I) dikenai sanksi sesuai
dengan peraturan perundang- undangan. 4. Ketentuan lebih
lanjut mengenai tanggung jawab sosial dan lingkungan
diatur dengan pemerintah.

12
Pasal 15 UU No. 25 tahun 2007 terkait penanaman modal
memuat bahwa semua penanam modal memiliki kewajiban
yakni:
1) Mematuhi seluruh ketetapan dalam perundang-undangan;
2) Menjunjung tinggi tradisi budaya masyarakat sekitar tempat
usaha penanaman modal;
3) Membuat laporan terkait aktivitas penanaman modal serta
menyampaikannya ke badan koordinasi penanaman moda;
4) Menjalankan tanggung jawab sosal perusahaan; serta
5) Mengaplikasikan berbagai prinsip tata kelola perusahaan
yang baik.

Berdasar pada pemaparan di atas, bisa diketahui bahwa


konsep corporate social responsibility (CSR) tidak sebatas sebuah
kewajiban moral, akan tetapi menjadi kewajiban yang bisa
dipertanggungjawabkan dalam hukum dengan berlaku nya
pasal 74 UU No. 40 Tahun 2007 dan pasal 15 UU No. 25 Tahun
2007, namun khusus sebatas untuk perseroan yang
menanamkan modalnya dan berkegiatan usaha yang berkaitan
dan/atau di bidang sumber daya alam di Indonesia

F. Prinsip Corporate Social Responsibility (CSR)


Beberapa tokoh penting dalam perkembangan corporate
social responsibility (CSR) dan beberapa institusi internasional
mengajukan prinsip-prinsip dasar yang bisa dimanfaatkan
menjadi pedoman dalam melaksanakan corporate social
responsibility (CSR). Berbagai prinsip ini secara umum
berdasarkan good corporate governace (tata kelola perusahaan
yang baik) dan konsep pembangunan berkelanjutan. Beberapa
prinsip ini, meliputi:
1. Keterbukaan.
Membangun dialog dan keterbukaan dengan publik
dan pekerja, merespons dan mengantisipasi potencial hazard,
serta akibat jasa, limbah, produk, dan operasi.

1
3
2. Memberi sumbangan.
Memberi sumbangan untuk pengembangan lembaga
pendidikan, lintas departemen pemerintah, lembaga
pemerintah, kebijakan publik dan bisnis, serta terhadap
usaha bersama yang akan menjadikan kesadran akan
tanggung jawab sosial meningkat.
3. Transfer best practise.
Turut terlibat dalam transfer praktik dan
penegmbangan bisnis yang secara sosial bertanggung jawab
terhadap seluruh sektor dan industri publik.
4. Siaga menghadapi darurat.
Merumuskan dan menyusun rencana untuk
menghadapi kondisi darurat, serta apabila situasi berbahaya
terjadi, maka akan melakukan kerja sama bersama
komunitas loka, instansi berwenang, dan layanan gawat
darurat. Selain itu juga mengenali kemunculan potensi
bahaya.
5. Prinsip pencegahan.
Melakukan modifikasi terhadap penggunaan jasa
atau produk, pemasaran, dan manufaktur selaras akan
penelitian yang mutakhir guna menangkis dampak sosial
yang sifatnya negatif.
6. Penelitian.
Mendukung atau melakukan peneitian dampak social
limbah, emisi, proses, produk, dan bahan baku yang
berhubungan dengan aktivitas usaha. Penelitian menjadi
alat untuk meminimalisir akibat yang negatif.
7. Fasilitas dan operasi.
Mengoperasikan, merancang, dan mengembangkan
fasilitas dan melaksanakan aktivitas dengan temuan kajian
dampak sosial sebagai pertimbangannya.
8. Informasi publik.
Memberikan informasi serta (serta dibutuhkan)
mendidik publik, distributor, dan pelanggan terkait jasa,
penyimpanan dan pembuangan produk, transportasi, dan
juga penggunaan yang aman.

14
9. Produk dan jasa.
Melakukan perkembangan terhadap jasa dan produk
yang secara sosial tidak berdampak negatif.
10. Pengkajian.
Mengkaji dampak sosial sebelum mengawali proyek
atau kegiatan baru serta sebelum meninggalkan lokasi
pabrik atau menutup satu fasilitas.
11. Pendidikan karyawan.
Memotivasi karyawan dan mengadakan pelatihan
dan pendidikan.
12. Proses perbaikan.
Memperbaiki kinerja, program, dan kebijakan sosial
korporat secara berkesinambungan berdasarkan temuan
penelitian yang relevan dan terbaru, mengaplikasikan
kriteria sosial tersebut serta memahami kebutuhan sosial.
13. Manajemen terpadu.
Mengintegrasikan praktik, program, dan kebijakan ke
dalam tiap aktivitas bisnis sebagai sebuah komponen
manajemen yang termuat pada fungsi manajemen.
14. Prioritas korporat.
Tanggung jawab sosial ialah prioritas korporat yang
paling tinggi serta menjadi penentu dalam pembangunan
berkesinambungan. Melalui ini korporat dengan cara yang
bertanggung jawab secara sosial dapat membuat program,
kebijakan, serta praktik dalam menjalankan bisnisnya.
15. Pencapaian dan pelaporan.
Melakukan evaluasi terhadap kinerja sosial, secara
berkala melakukan audit sosial, serta melakukan pengkajian
terhadap pencapaian berdasar kepada peraturan
perundang-undangan dan kriteria korporat, serta
menyampaikan informasinya kepada pekerja, pemegang
saham, dan dewan direksi.

1
5
G. Jenis-Jenis Program Corporate Social Responsibility (CSR)
Pemilihan program kegiatan corporate social responsibility
(CSR) yang akan perusahaan lakukan bergantung pada tujuan
pelaksanaannya yang hendak dicapai perusahaan tersebut.
Kotler dan Lee memaparkan, program corporate social
responsibility (CSR) memiliki enam kategori, yaitu:
1. Socially responsible buisness practice
Perusahaan menjalankan kegiatan bisnis melebihi
kegiatan bisnis yang hukum wajibkan dan berinvestasi yang
menunjang kegiatan sosial dimana tujuannya guna
memelihara lingkungan hidup dan meningkatkan
kesejahteraan konmunitas.
2. Community volunteering
Perusashaan mendorong dan mendukung rekan
pedagang eceran dan para karyawan supaya secara sukarela
menyisihkan waktunya untuk membantu masyarakat yang
menjadi target program dan membantun berbagai
organisasi masyarakat lokal.
3. Corporate philanthropy
Perusahaan menyumbang langsung berbentuk derma
untuk suatu kalangan masyarakat. Bisanya sumbangan ini
dalam bentuk pemberian pelayanan secara gratis, paket
bantuan, dan uang tunai. Biasanya corporate philanthropy
berhubungan dengan kegiatan-kegiatan sosial yang menjadi
perhatian prioritas perusahaan.
4. Corporate social marketing (SCM)
Perusahaan melaksanakan dan mengembangkan
kampanye guna merubah prilaku masyarakat yang
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
menjaga kelestarian lingkungan hidup, dan meningkatkan
kesehatan dan keselamatan publik. Mayoritas kampanye
SCM lebih berorientasi dalam memacu perubahan prilaku
yang berhubungan dengan berbagai isu keterlibatan
masyarakat, lingkungan, perlindungan terhadap
kecelakaan, dan kesehatan.

16
5. Cause related marketing (CRM)
Terkait program ini, perusahaan berkomitmen
menyumbang suatu persentase dari penghasilan yang
didapatnya untuk kegiatan sosial dengan berdasar
banyaknya produk yang terjual. Biasanya kegiatan tersebut
didasarkan untuk suatu aktivitas, suatu jangka waktu, dan
penjualan produk tertentu.
6. Cause promotion.
Perusahaan terkait program ini menyediakan sumber
daya atau dana yang dimilikinya untuk menunjang
peningkatan kesadaran masyarakat terhadap permasalahan
sosial atau guna perekrutan tenaga sukarela, partisipasi
masyarakat, dan mendukung pengumpulan untuk suatu
kegiatan.

1
7
BAB II
KONSEP CORPORATE SOCIAL
RESPONSIBILITY (CSR)

A. Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR)


Perkembangan pelaksanaan corporate social responsibility
(CSR) di Indonesia ditunjukkan dengan banyaknya perusahaan
yang sudah mengimplementasikannya. Semakin banyak
perusahaan yang menerapkannya baik berbentuk
pembedayaan (enpowerment) maupun amal (charity). Paling
tidak dapat diketahui melalui publikasi yang gencar yang
berhubungan dengan implementasi corporate social responsibility
(CSR) di berbagai media elektronik dan cetak. Perkembangan
pelaksanaan corporate social responsibility (CSR) di Indonesia
bisa diketahui melalui banyaknya usaha pemerintah kota,
kabupaten, dan provinsi dalam menerbitkan aturan
perundang-undangan berhubungan dengan pelaksanaan
corporate social responsibility (CSR) di wilayahnya.
Corporate social responsibility (CSR) berdasar pada
pemaparan Suharto (2007) dalam buku yang ditulisnya
berjudul "Pekerjaan Sosial di Dunia Industri: Memperkuat
Tanggung jawab Sosial Perusahaan corporate social responsibility
(CSR)", dimana Suharto memaparkan corporate social
responsibility (CSR) yakni operasi bisnis yang memiliki
komitmen bukan sebatas untuk menjadikan keuntungan
perusahaan meningkat secara finansial, namun guna
pembangunan sosial ekonomi kawasan secara berkelanjutan,
melembaga, dan holistik. Corporate social responsibility (CSR)
dalam konteks pemberdayaan termasuk policy perusahaan
yang pelaksanaannya secara melembaga dan profesional.
Kemudian corporate social responsibility (CSR) hampir sama
dengan corporate social policy (CSP), yaitu strategi dan roadmap
perusahaan yang memadukan tanggung jawab ekonomis
korporasi dengan tanggung jawab etis, legal, dan sosial. Kotler
dan Nancy (2015) memberikan definisi komprehensif dari
corporate social responsibility (CSR) yakni komitmen yang

18
dimiliki perusahaan guna mengontribusikan beberapa sumber
daya perusahaan serta menunjang peningkatan kesejahteraan
komunitas lewat praktik bisnis yang baik. Sementara itu,
Fraderick et al, memaparkan, corporate social responsibility (CSR)
yakni prinsip yang menjelaskan bahwa perusahaan wajib
memiliki tanggung jawab atas akibat dari seluruh tindakan di
dalam lingkungannya maupun masyarakat. Selanjutnya
Kicullen dan Kooistra menjelaskan bahwa yang dimaksud
corporate social responsibility (CSR) ialah tingkat
pertanggungjawaban moral yang diduga asalnya dari
perusahaan di luar kepatuhan pada hukum negara. Definisi
lainnya dari Khourey bahwa corporate social responsibility (CSR)
yakni keseluruhan hubungan antara stakeholders dengan
perusahaan.
Beberapa pengertian tersebut, didapat kesimpulan
bahwa corporate social responsibility (CSR) adalah wujud
pertanggung jawaban soal perusahaan terhadap keadaan
lingkungan sekitar baik lingkungan biotik maupun lingkungan
abiotik.

B. Bentuk-Bentuk tanggung jawab Corporate Social


Responsibiity (CSR)
Weiss memaparkan, tanggung jawab sosial perusahaan
terhadap lingkungan sekitar bisa berwujud:
1. Perusahaan sesuai dengan kompetensinya mengikut
sertakan dirinya dalam kegiatan sosial di mana ada
kebutuhan sosial yang krusial;
2. Melakukan perhitungan berbagai biaya sosial dari tiap jasa,
produk, atau aktivitas ke dalam harga yang mana
konsumen membayarnya atas konsekuensi konsumsi yang
dilakukannya terhadap masyarakat;
3. Perusahaan harus mengkalkulasi manfaat dan biaya sosial
dari jasa, produk, atau aktivitas serta dengan cermat
mempertimbangkannya supaya bisa diputuskan aktivitas
itu bisa atau tidak dilanjutkan;

1
9
4. Perusahaan wajib bekerja sebagai sistem dua arah dan
terbuka dengan menerima masukan masyarakat secara
terbuka serta menjelaskan operasi yang dilakukannya
kepada khalayak umum;
5. Pemeliharaan sumber daya masyarakat.

Bentuk tanggung jawab sosial suatu perusahaan


terhadap lingkungan sesuai pemaparan Weiss bahwa
pemeliharaan terhadap sumber daya masyarakat ialah sesuatu
yang krusial, yang perusahaan lakukan terkait program
corporate social responsibility (CSR) ialah perusahaan dalam
menerima masukan masyarakat harus transparan serta
menjelaskan operasi yang dilakukannya, menghitung biaya
sosial serta menambahkan biaya tersebut dalam harga yang
akan konsumen beli (dilakukannya ini untuk membayar akibat
pembuatan barang yang dikonsumsi konsumen terhadap
masyarakat).
Archie B. Carroll dalam buku yang ditulisnya “Business
and Society: Ethics and Stakeholder management: menjelaskan,
corporate social responsibility (CSR) memiliki empat prinsip
dasar, meliputi:

20
1. Economic Responsibilities;
Setiap perusahaan didirikan untuk memperoleh
keuntungan. Motif mencari keuntungan ini merupakan
dasar dari sebuah perusahaan beroperasi. Perusahaan yang
didirikan dan berada di suatu lingkungan harus memiliki
nilai tambah sehingga keberlangsungan hidup sebuah
perusahaan bisa terjamin. Secara ekonomis keuntungan
perusahaan dinyatakan dalam bentuk satuan uang. Jika
perusahaan sudah dinyatakan memiliki keuntungan maka
perusahaan tersebut mempunyai tanggung sosial terhadap
lingkungan sekitar.
Jika perusahaan telah menjalankan tanggung jawab
sosial berbentuk tanggung jawab ekonomi akan berdampak
sangat besar pada lingkungan sosial perusahaan tersebut,
karena dengan adanya perusahaan tersebut ada kesempatan
pekerjaan bagi angkatan kerja disekitar perusahaan, peluang
baru dalam bidang UMKM, dan peluang-peluang lainnya
yang dapa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar
perusahaan.
Tanggung jawab ekonomi bagi suatu organisasi bisnis
adalah tangung jawab paling mendasar. Tanggung jawab ini
memperlihatkan dimana perusahaan diharapkan bisa
menghasilkan jasa dan barang serta mendapatkan
keuntungan sebagai insentif atas efektifitas dan efisiensi.
Usahanya

2. Legal Responsibilities;
Kegiatan operasional perusahaan harus selalu
mengedepankan hukum sebagai pedoman pelaksanaan
kegiatan. Proses mencari keuntungan perusahaan tidak
boleh melanggar adat, norma yang berlaku dimasyarakat
tersebut dan tidak menyimpang dari peraturan perundang-
undangan dan ketentuan (hukum) yang telah ditetapkan
oleh pemerintah. Bisnis wajib taat akan peraturan hukum
(peraturan) yang berlaku. Disebut baik sebuah perusahaan
apabila mentaati hukum meskipun tindakan ini tidak cukup

2
1
tanpa diikuti etika. Etika dan hukum saling melengkapi,
sebab etika mendahului hukum dari segi normatif. Oleh
karenanya, kerap disebutkan bahwa perusahaan telah
bertindak etis jika sudah taat akan hukum. Maknanya,
tanggung jawab hukum perusahaan dipandang telah sesuai
akan kewajibannya apabila sudah patuh terhadap peraturan
yang berlaku dan bertindak legal.
Tanggung jawab hukum yaitu harapan dimana
perusahaan bisa mengoperasikan bisnis yang dimilikinya
selaras akan keberlakuan aturan main. Dua tanggung jawab
ini adalah tanggung jawab paling mendasar bagi
perusahaan yang dalam menjalankannya disertai dengan
tanggung jawab etika.

3. Ethical Responsibilities;
Tanggung jawab etis perusahaan terhadap
lingkungan sekitar meliputi praktik dan kegiatan yang
dilarang atau diharapkan oleh anggota masyarakat
walaupun tidak dilakukan kodifikasi menjadi undang-
undang. Bentuk tanggung jawab tersebut harus perusahaan
penuhi guna memenuhi rasa keadilan dan kebenaran
masyarakat. Kebenaran dan keadilan yang dilaksanakan
oleh perusahaan bukan merupakan paksaan karena
undang-undang atau peraturan yang berlaku tetapi karena
itu semua merupakan tanggung jawab etis perusahaan.
Contohnya, saat Shell yang pada 1995 ingin membuang
anjungan minyak Brent Spar di laut, Shell mendapat
persetujuan penuh dari pemerintah serta otoritas hukum
Inggris. Greenpeace sebagai NGO yang peduli lingkungan
menentang keinginan Shell dan terus mengkampanyekan
boikot terhadap produk Shell. Dampaknya, akhirnya
dibatalkan keputusan hukum terkait pembuangan anjungan
di laut tersebut, sebab perusahaannya tidak berhasil
mengkalkulasi ekspektasi etis masyarakat (atau paling tidak
para pemrotes).

22
Sesuai pemaparan dari Carroll (1991), bahwa
tanggung jawab etis perusahaan merupakan sesuatu
keinginan yang umum masyarakat harapkan, melampaui
harapan hukum dan ekonomi. Sebab hukum tersebut adalah
sesuatu yang krusial namun tidak memadai, diperlukannya
tanggung jawab etis guna merangkul praktik dan kegiatan
yang dilarang atau diharapkan masyarakat walaupun
hukum tersebut tidak dilakukan kodifikasi menjadi undang-
undang. Sebuah tanggung jawab etis membentuk ruang
lingkup penuh dengan harapan, nilai, standar, dan norma
yang mencerminkan apa yang dianggap masyarakat,
pemegang saham, karyawan, dan konsumen sebagai
konsisten dan dengan perlindungan atau penghormatan
terhadap berbagai hak moral dari para pemangku
kepentingan.
Selain itu, perubahan nilai atau etika lebih dulu
dibanding pembentukan hukum sebab peran mereka
sebagai kekuatan pendorong di belakang pembentukan
awal peraturan dan hukum. Contohnya, gerakan hak-hak
konsumen, lingkungan, dan sipil menunjukkan berbagai
perubahan paling dasar dalam nilai-nilai sosial, sehingga
bisa dipandang sebagai bayangan, penentu etika, serta
kemudian mengarah kepada legislasi. Makna lainnya,
tanggung jawab etis bisa dipandang sebagai mencerminkan
dan merangkul norma-norma serta nilai-nilai yang baru ada
dimana masyarakat mengharapkan untuk dipenuhi oleh
bisnis, walaupun mungkin mencerminkan lebih tingginya
standar kinerja dibanding yang kini hukum wajibkan.
Definisi dari tanggung jawab etis kini terus berkembang
atau kerap kali tidak jelas. Dampaknya, berlanjutlah
perdebatan terkait legitimasinya. Bisnis dalam hal apapun
diharapkan responsif akan berbagai konsep baru yang
muncul dari praktik etika. Beberapa tahun terakhir ini, etika
di arena global sudah memperluas studi terkait praktik
bisnis dan norma yang bisa diterima.

2
3
4. Philantropic Responsibilities.
Tingkat keempat corporate social responsibility (CSR)
melihat tanggung jawab filantropi korporasi. Aspek
corporate social responsibility (CSR) tersebut mengkaji
permasalahan-permasalahan besar semacam pembangunan
fasilitas rekreasi untuk karyawan beserta keluarganya, amal,
sumbangan, mensponsori kegiatan olah raga dan senin,
serta dukungan untuk sekolah setempat. Carroll (1991)
menjelaskan, perusahaan semata-mata menginginkan
tanggung jawab filantropis tanpa diminta atau diharapkan,
dimana menjadikannya kurang penting dibanding tiga
kategori yang lain.
Walaupun dalam arti kata sesungguhnya bukanlah
tanggung jawab, namun ini dilihat sebagai tanggung jawab
sebab saat ini oleh publik mencerminkan ekspektasi bisnis.
Sifat dan jumlah kegiatan tersebut sifatnya sukarela, dimana
sebatas diarahkan oleh keinginan bisnis untuk berkontribusi
dalam kegiatan sosial yang tidak diharuskan, tidak
diamanatkan oleh hukum, serta secara umum dalam arti etis
tidak diharapkan dari bisnis. Akan tetapi, harapan
masyarakat bahwa bisnis akan memberikan kembali, serta
oleh karenanya kategori tersebut sudah termasuk kontrak
sosial antara masyarakat dengan bisnis. Kegiatan seperti ini
bisa meliputi kemitraan dengan pemerintah daerah dan
organisasi lain, kesukarelaan karyawan, sumbangan
layanan dan produk, pemberian perusahaan, serta seluruh
bentuk keterlibatan sukarela yang lain dari karyawan dan
organisasi dengan pemangku kepentingan lainnya atau
masyarakat.

Banyak contoh perusahaan yang telah memenuhi


tanggung jawab filantropis serta Berbuat baik dengan berbuat
baik, yaitu:
1. Ribuan perusahaan secara sukarela memberikan waktu,
layanan, dan uang untuk program untuk orang cacat,

24
urusan minoritas, perbaikan lingkungan, senin dan budaya,
organisasi kesehatan, pemuda, dan pendidikan.
2. Whole Foods memberikan 5% dari keuntungan yang
diperolehnya kepada banyak badan amal serta sebatas
melakukan penjualan barang yang diproduksinya dengan
cara yang dianggap etis. Whole food juga menolak menjual
biota laut yang ditangkap terlalu banyak semacam bass laut
Chili.
3. UPS sudah berkomitmen untuk program dua tahun
sejumlah $ 2 juta, perancangan volunteer impact initiative
guna membantu organisasi nirlaba mengembangkan
berbagai cara inovatif untuk mengelola, melatih, dan
merekrut sukarelawan.
4. Timberland memberikan jaminan pelatihan keterampilan
untuk para wanita yang bekerja di pemasoknya yang ada di
Cina. Hal ini di Bangladesh membantu menyediakan
layanan kesehatan serta pinjaman mikro bagi buruh.
5. Chiquita (produsen pisang), saat ini 100% mendaur ulang
benang dan kantong plastik yang digunakannya di ladang,
serta sudah meningkatkan kondisi kerja melalui
pembangunan sekolah dan perumahan untuk keluarga dari
karyawannya.
6. Chick-fil-A (restoran cepat saji), mengoperasikan panti
asuhan melalui Yayasan WinShape Center untuk lebih dari
120 anak, sudah menyediakan beasiswa untuk lebih dari
16.500 siswa, serta mensponsori kemah musim panas yang
setiap tahunnya dari 24 negara bagian menampung lebih
dari 1.700 kemping.

Walaupun terkadang terdapat motivasi etis untuk


perusahaan yang turut serta dalam filantropi, namun lebih
kerap dinilai sebagai upaya praktis di mana perusahaan bisa
memperlihatkan bahwa ini merupakan warga korporat yang
baik. Bukan hanya hal tersebut, tidak sedikit perusahaan turut
serta dalam filantropi sebab perusahaan tersebut merasakan
harapan institusional yang dilakukan. Maknanya, mereka

2
5
dalam industrinya melihat berbagai perusahaan besar yang lain
menjalankannya serta berpikir bahwa mereka untuk bisa
diterima juga perlu berpartisipasi.
Tanggung jawab filantropis dan tanggung jawab etik
memiliki perbedaan yakni dimana yang paling akhir umumnya
tidak diharapkan dalam arti etika atau moral. Masyarakat
mengharapkan dan menginginkan bisnis untuk
menyumbangkan waktu, fasilitas, dan uang karyawannya
untuk tujuan atau program kemanusiaan, namun apabila
perusahaan tidak menyediakan layanan ini pada tingkat yang
diinginkan, maka dianggap tidak etis. Maka dari hal tersebut,
tanggung jawab ini cenderung bersifat sukarela atau
diskresioner pada bagian bisnis, walaupun masyarakat
berharap bahwa sudah diberikan serta ada dalam beberapa
waktu. Kategori dari bentuk tanggung jawab tersebut kerap
dinamakan kewarganegaraan perusahaan.
Model empat bagian corporate social responsibility (CSR)
memiliki keuntungan dimana model ini menyusun bermacam
tanggung jawab sosial dalam dimensi yang tidak sama, akan
tetapi tidak berupaya menerangkan tanggung jawab sosial
dengan tidak mengakui tuntutan sebenarnya yang diletakkan
terhadap perusahaan untuk berubah legal serta
menguntungkan. Hal tersebut cukup pragmatis dalam
pengertian ini.

C. Model Pertanggungjawaban Sosial di Indonesia


Beberapa bentuk dari corporate social responsibility (CSR)
yang sudah disebutkan bisa dijalankan perusahaan. Pola atau
model tanggung jawab sosial yang diaplikasikan di Indonesia
umumnya, meliputi:
1. Bergabung atau mendukung suatu konsorsium.
Perusahaan ikut mendukung, menjadi anggota, atau
mendirikan suatu lembaga sosial dimana pendiriannya
untuk suatu tujuan sosial. Daripada model yang lain, model
ini cenderung mengarah kepada pemberian hibah
perusahaan yang sifatnya “hibah pembangunan“. Lembaga

26
atau pihak konsorsium seperti inilah yang perusahaan
percayai yang secara proaktif memilih mitra kerjasama yang
asalnya dari kalangan lembaga opersional serta selanjutnya
bersama-sama mengembangkan progam yang sudah
disetujui.
2. Bermitra dengan pihak lain.
Perusahaan menjalankan tanggung jawab sosial lewat
bekerja sama bersama organisasi nonpemerintah atau
lembaga sosial, media massa, universitas, atau instansi
pemerintah baik terkait pengelolaan maupun pelaksanaan
kegitan sosial yang diikutinya, misalnya Yayasan
Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI), Dompet Dhuafa,
serta lainnya.
3. Melalui organisasi sosial atau yayasan perusahaan.
Membentuk suatu yayasan semacam di bawah grup
atau perusahaannya. Model semacam ini mengadopsi dari
model yang umum diaplikasikan di beberapa perusahaan
yang ada di negara maju. Umumnya, perusahaan
menyediakan dana abadi, dana rutin, atau dana awal yang
secara teratur bisa dimanfaatkan untuk kegiatan yayasan,
misalnya yayasan Dharma Bhakti Astra, Bakti Djarum,
Sampoerna Fundation, serta lainnya.
4. Keterlibatan langsung.
Perusahaan secara langsung melaksanakan program
tanggung jawab sosial dengan tanpa perantara
menyerahkan sumbangan ke masyarakat atau
menyelenggarakan sendiri kegiatan sosial. Guna
melaksanakan tugas ini, biasanya perusahaan melimpahkan
tugas kepada seorang pejabat seniornya, misalnya ini
termasuk tugas pejabat public relation, atau public affair, atau
corporate secretary.

D. Standar Social Responsibility ISO 26000


Corporate social responsibility (CSR) ISO 26000 memiliki
standar paling baru dengan memberikan tujur dasar tanggung
jawab sosial yang wajib suatu organisasi lakukan yakni:

2
7
Sumber: Social Responsibility-7 Core Subjects of ISO2600

1. Organizational governance;
Organizational governance (tata kelola organisasi) ini
merujuk kepada cara perusahaan perusahaan membentuk
serta mengaplikasikan keputusan yang strategis, maka dari
itu pada akhirnya bisa diterapkan prinsip tanggung jawab
sosial.
2. Human rights;
Human rights (hak asasi manusia) menyebutkan hak
dasar yang berhak seluruh individu sebagai manusia miliki,
di antaranya meliputi hak budaya, sosial, politik, dan sipil.
3. Labour practices;
Labor practices (praktek-praktek ketenagakerjaan) ini
terkait seluruh praktik dan kebijakan yang berhubungan
dengan pekerjaan. Contohnya, tenaga kerja yang disiksa,
dibayar dengan upah rendah, atau setiap harinya bekerja
dengan 15 jam/20 jam.
4. The environment;
Perusahaan bertanggung jawab penuh atas dampak
lingkungan kepada masyarakat dari kegiatan bisnis yang
dilakukan.
5. Fair operating practices;
Fair operating practices (prosedur operasi yang wajar)
adalah perilaku perusahaan saat berhubungan dengan
karyawannya. Tanggung jawab perusahaan pada fase ini
berbicara dari hulu sampai dengan ke hilir. Membahas
tentang fairness Supply chains, ketenagakerjaan dalam hal ini

28
ketenagakerjaan sudah sesuai dengan undang-undang
perburuhan, tenaga kerja dibawah umur, tenaga kerja usia
lanjut.
6. Consumer issues;
Consumer issues (isu konsumen) ini bagaimana
berbagai hak konsumen harus perusahaan penuhi semacam,
menginformasikan terkait layanan atau produk, tidak
memberitahukan pemasaran yang tidak jelas, tidak adil,
menyesatkan, serta lainnya.
7. Community involvement and development.
Community involvement and development (pelibatan dan
pengembangan masyarakat) berkaitan dengan pemberian
dana untuk bantuan masyarakat, pendidikan, dan
kesehatan. Saat ini orang-orang hanya fokus pada community
involvement and development idealnya tidak hanya berbicara
tentang itu saja.

Tanggung jawab sosial menurut ISO 26000


diterjemahkan sebagai tanggung jawab organisasi terhadap
akibat dari aktivitas keputusannya atas lingkungan dan
masyarakat, lewat tindakan yang etis dan transparan, yang:
1. Terintegrasi di semua kegiatan organisasi, dimana definisi
ini mencakup baik jasa, produk, maupun kegiatan;
2. Konsisten dengan norma-norma internasional dan sesuai
hukum yang berlaku;
3. Memperhatikan kepentingan para stakeholder.
4. Konsisten dengan kesejahteraan masyarakat dan
pembangunan berkelanjutan.

Berdasar kepada konsep ISO 26000, pengaplikasian social


responsibility sebaiknya terintegrasi di semua kegiatan
organisasi dimana meliputi tujuh isu pokok yang sudah
dipaparkan sebelumnya. Oleh karenanya, apabila perusahaan
sebatas memperhatikan satu isu saja, maka selaras akan konsep
dari ISO 26000 bahwa sesungguhnya perusahaan tersebut
belum secara utuh menjalankan tanggung jawab sosialnya.

2
9
E. Perkembangan Corporate Social Responsibility (CSR)
1. Sejarah Perkembangan Corporate Social Responsibility (CSR)
Dunia
a. Awal Corporate Social Responsibility (CSR) tahun 1700 SM
Berdasar tulisan dari artikel-artikel dalam Kode
Hammurabi (1700-an SM) dimana berisikan sekitar 282
hukum yang memberi sanksi kepada pengusaha-
pengusaha yang memicu kematian pelangganya. Kode
Hammurabi ini menerangkan, akan dihukum mati orang
yang mengantongi ijin untuk memproduksi minuman
dan makanan, akan tetapi melakukan pembangunan di
bawah kualitas standar dan pelayanan yang diberikan
buruk.
b. 1930 Fenomena Tanggung Jawab Moral
Banyak terjadi protes dari masyarakat pada tahun
ini yang disebabkan tindakan perusahaan yang tidak
peduli dengan masyarakat sekelilingnya. Seluruh hal
sebatas diketahui oleh perusahaan saja. Selain itu juga
kenyataan bahwa sudah terjadi resesi dunia secara besar-
besaran pada waktu itu dimana memicu banyak
perusahaan bangkrut dan merebaknya pengangguran.
Dunia pada masa ini berhadapan dengan modal yang
kurang untuk pelaksanaan produksinya. Ini merugikan
pekerjanya, menjadikan pengangguran sangat luas sebab
buruh terpaksa berhenti. Waktu itu juga muncul rasa
tidak puas terhadap tindakan perusahaan yang tidak
bertanggung jawab atas pekerja di dalamnya sebab
perusahaan sebatas tidak dapat bertindak apa-apa dan
diam. Masyarakat menerangkan bahwa pada waktu
tersebut perusahaan tidak mempunyai tanggung jawab
moral sama sekali. Sadar akan kemarahan masyarakat
ini, beberapa perusahaan menunjukkan dirinya dengan
meminta maaf pada masyarakat serta memberi jaminan-
jaminan pada karyawan yang sudah dipecatnya. Suatu
hal dari fenomena ini yang menarik ialah istilah corporate
social responsibility (CSR) belum dikenal, namun

30
perusahaan telah menjalankan. Walaupun sudah terlihat
jelas usaha yang perusahaan lakukan untuk
memperhatikan masyarakat sekitarnya. Akan tetapi
usaha tersebut sebatas lebih dikenal dengan tanggung
jawab moral.
c. Tahun 1940-an : Pengembangan Masyarakat
Diawali dengan istilah Comdev yang dipakai pada
tahun 1948 di Inggris, dimana istilah ini adalah istilah
pengganti untuk pendidikan massa (mass education).
Pengembangan masyarakat yakni alternatif
pembangunan yang berbasis komunitas dan kompleks
dimana bisa melibatkan berbagai lembaga
nonpemerintah, swasta, ataupun pemerintah. Alternatif-
alternatif pendekatan yang sudah pernah diterapkan di
Amerika Serikat yang berhubungan dengan
pengembangan masyarakat ini, di antaranya yakni:
1) Pengelolaan sumberdaya alam,
2) Pendekatan konflik kekuatan,
3) Pendekatan eksperimental,
4) Pendekatan pemecahan masalah,
5) Pendekatan komunitas.
Pendekatan komunitas yakni pendekatan yang
sangat kerap dipakai dalam pengembangan masyarakat.
Tiga ciri utama pendekatan ini, meliputi:
1) Bersifat holistik
2) fokus pada kebutuhan sebagian besar warga
komunitas
3) Basis partisipasi masyarakat yang luas

Pendekatan ini memiliki keunggulan yaitu terdapat


tingginya partisipasi dari pihak terkait dan warga dalam
mengambil keputusan (merencanakan), melaksanakan,
mengevaluasi, serta menikmati hasilnya bersama warga
komunitas.

3
1
a. Tahun 1950-an: Corporate Social Responsibility (CSR)
Modern
(SR tidak CSR). Kata corporate tidak disebutkan
dimana ini kemungkinannya sebab adanya intervensi
dari korporasi modern. Howard R. Bowen memaparkan
dalam buku yang ditulisnya yakni: “Social Responsibility
of The Businessman” dimana tulisan ini dianggap tonggak
bagi corporate social responsibility (CSR) modern. Bowen
(1953:6) dalam bukunya ini juga mendefinisikan corporate
social responsibility (CSR) yaitu: “obligation of businessman
to pursue those policies, to makethose decision or to follow
those line of action wich are desirable in term of theobjectives
and values of our society”. Seolah bisa gender jika
membaca dari judulnya (sebatas mencantumkan
businessman dengan tidak menyebutkan businesswoman),
dari terbitnya buku ini, pengertian corporate social
responsibility (CSR) yang diterangkan Bowen
berpengaruh besar terhadap berbagai literatur corporate
social responsibility (CSR) yang terbit sesudahnya. Ini
memberikan kontribusi besar terhadap peletakan fondasi
corporate social responsibility (CSR), oleh karenanya Bowen
layak dijuluki Bapak corporate social responsibility (CSR).
b. Tahun 1960-an
Para pakar pada periode ini mulai memformalisasi
pengertian dari corporate social responsibility (CSR). Keith
Davis, seorang pakar teori sifar dimana adalah salah satu
akademisi corporate social responsibility (CSR) yang
populer di masa ini. Dikenalnya Davis ini sebab telah
sukse memberikan perspektif mendalam terhadap
hubungan antara kekuatan bisnis dengan corporate social
responsibility (CSR). Davis memaparkan, “Iron Law of
Responsibility” yang mana “social responsibilities of
businessmen need to be commensurate” dengan artinya
tanggung jawab sosial pengusaha tidak berbeda dengan
kedudukan sosialnya.

32
c. Tahun 1994 : triple bottom line
Istilah corporate social responsibility (CSR) semakin
semakin tenar saat terbitnya buku “Cannibals With Forks:
The Triple Bottom Line in 21st Century Business (1998)” di
pasaran. Buku tersebut dikarang oleh John Elkington.
John Elkington dalam buku ini mengembangkan tiga
unsur yang krusial dari sustainable development, yaitu
social equity, environmental protection, dan economic growth,
yang digagas oleh The World Commission on Environment
and Development (WCED). Elkington dalam Brundtland
Report (1987) menguraikan CSR dalam tiga fokus
dimana secara sengaja disingkatnya menjadi 3P yakni
singkatan profit, planet, serta people.

2. Corporate Social Responsibility (CSR) di Indonesia


Istilah corporate social responsibility (CSR) di Indonesia
mulai dikenal sekitar tahun 1980-an. Akan tetapi sejak tahun
1990-an baru populer digunakan. Tidak berbeda dengan
sejarah kemunculan corporate social responsibility (CSR) di
dunia di mana munculnya istilah corporate social responsibility
(CSR) saat sebenarnya sudah terjadi kegiatan corporate social
responsibility (CSR). Contohnya, beasiswa, pembagian
tunjangan hari raya (THR), bantuan bencana alam, dan
lainnya. Lewat adanya konsep investasi sosial perusahaan
“seat belt”, dimana dibentuknya sejak tahun 2000-an.
Departemen Sosial sejak tahun 2003 tercatat sebagai
lembaga pemerintah yang senantiasa mengadvokasi
perusahana-perusahaan nasional serta senantiasa aktif
dalam mengembangkan konsep corporate social responsibility
(CSR). Terkait ini, Departemen Sosial adalah pelaku awal
corporate social responsibility (CSR) di Indonesia. Sesudah
keluarnya Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 terkait
kewajiban Perseroan Terbatas, program corporate social
responsibility (CSR) hampir hampir diterapkan oleh seluruh
perusahaan di Indonesia, meskipun kegiatan tersebut masih
berjalan ketika tahap keterikatan peraturan pemerintah dan

3
3
cari popularitas. Contohnya, tidak sedikit perusahaan yang
apabila memberi bantuan maka yang menerima bantuan
harus menempelkan poster terkait perusahaan tersebut
ditempatnya dimana ini adalah tanda bahwa sudah
menerima bantuan perusahaan itu.
3. Tantangan dan Halangan Penerapan corporate social
responsibility (CSR)
Praktik untuk mencapai dan menjalankan corporate
social responsibility (CSR) banyak halangan, terlebih lagi di
negara berkembang di mana sistem, standar, dan
institusinya masih lemah. Dewasa ini corporate social
responsibility (CSR) dikelompokkan menjadi kewajiban yang
wajib dijalankan, namun sifat pelaksanaannya tetap
berdasarkan prinsip voluntary/kesukarelaan. Akibatnya
terjadi keragaman pengertian konsep CSR, tidak terdapat
konsep baku yang bisa dijadikan pedoman pokok baik di
tingkat lokal ataupun global.
Salah satu dampak negatif dari kondisi tersebut
terlihat pada kecenderungan pelaksanaan corporate social
responsibility (CSR) dimana sangat ditentukan oleh charity
(kebaikan hati) perusahaan. Maknanya, kebijakan corporate
social responsibility (CSR) secara otomatis belum sesuai akan
visi dan misi perusahaan. Penerapan corporate social
responsibility (CSR) masih dilihat sebagai upaya untuk
memenuhi kebutuhan sebatas terhadap pencapaian prestasi
pribadi dan kepentingan kepuasan shareholders (nilai
saham tinggi, profit besar, dan produktivitas tinggi).
Implementasi program corporate social responsibility
(CSR) memiliki beberapa tantangan dan kendala, meliputi:
a. Sasaran dan target yang belum terukur dan terfokus;
b. Kesadaran corporate social responsibility (CSR) yang masih
belum merata dan belum terlalu;
c. Informasi dan data valid yang berhubungan dengan
program corporate social responsibility (CSR) yang terbatas;
d. Program cenderung kurang terkoordinasi, jalan sendiri-
sendiri.

34
BAB III
CORPORATE SOCIAL RESPONBILITY (CSR) DALAM
PERSPEKTIF PANCASILA

A. Corporate Social Responbility (CSR) dalam Perspektif


Pancasila

Nilai-nilai Pancasila digali dari kebiasaan, adat


istiadat, norma dan kearifan lokal masyrakat Indonesia. Nilai-
nilai Pancasila dipercaya oleh bangsa Indonesia sebagai nilai
negara yang fundamental. Pancasila sebagai
Staatsfundamentalnorm di Indonesia menjadi sumber atas
berbagai sumber hukum. Nilai-nilai Pancasila dilihat objektif
sebagai cita-cita moral yang luhur, cita-cita hukum, kesadaran,
dan pandangan yang mencakup watak bangsa Indonesia serta
kondisi jiwa.
Berkaitan dengan corporate social responsibility
(CSR) dapat dikatakan bahwa tanggung sosial perusahaan
sudah selaras nilai pancasila yang cerminan watak rakyat
Indonesia. Perusahaan yang sudah menyelenggarakan
program ini sama saja telah menerapkan nilai-nilai pancasila.
Nilai Pancasila tercermin pada penyelenggaraan corporate social
responsibility (CSR) bagi perusahaan yakni:
1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Sila pertama pancasila menjadi jiwa dan dasar atas
empat sila di bawahnya. Sebab manusia tetaplah makhluk
Tuhan Yang Maha Esa dimana segala nilai Bangsa Indonesia
termasuk pengejawantahan tujuan manusia pada
penciptanya. Setiap penyelenggaran dan pelaksanaan
negara wajib mencerminkan berbagai nilai Ketuhanan Yang
Maha Esa. Pelaksana dan penyelenggara Negara harus
memiliki keyakinan terhadap nilai-nilai ketuahanan dan
memegang tegug moral Bangsa yakni Moral peraturan
perundang-undangan Negara, hukum, pemerintah Negara,
politik Negara, dan penyelenggara Negara, hak asasi dan
kebebasan warga Negara harus mengacu pada jiwa
Ketuhanan.

3
5
Nilai ketuhanan sifatnya mutlak dan sebagai nilai
tertinggi. Peletakan manusia harus berdasarkan kdudukan
manusia sebagai makhluk Tuhan. Sehingga dalam hal ini
paham atheis tidak mendapatkan tempat. Begitu pula
manusia dengan akalnya yang harus ditempatkan dengan
berpedoman pada nilai ketuhanan, agar tidak tersisa tempat
bagi kritik dasar akal bagi nilai keTuhanan Yang Maha Esa.
Implementasi program corporate social responsibility
(CSR) berdasarkan sila satu ketuhanan yang maha esa
didasarkan pada kesamaan sebagi makhluk tuhan.
Perusahaan dalam menjalankan program corporate social
responsibility (CSR) tidak memandang masyrakat
berdasarkan agama, suku, ras dan antar golongan.
Perusahaan menjalankan program ini karena didasari pada
asas kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Melalui Al-Qur‟an, Agama Islam memberi peringatan
pada kekayaan yang disalahgunakan, namun manusia
diizinkan dalam pencarian kekayaan yang halal asal harta
yang diperoleh tidak menjadikannua serakah dan
dipamerkan (Riya‟). Sejalan dengan ayat Al-Qur‟an yang
terkait dengan hal ini yakniSurat Al-Baqarah ayat 275
dimana berbunyi:

Artinya:
“Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri
melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan
karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata
bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah
menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Barangsiapa memperoleh peringatan dari Tuhannya, lalu
dia berhenti, maka apa yang telah didapatkannya dahulu
menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah.

36
Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni
neraka, mereka kekal di dalamnya”.

Moral etik keagamaan yang digunakan pada bisnis


akan berpengaruh kepada “perilaku dari perusahaan”
dengan, memempatkan diri pada kepedulian dan
kesederhanaan dengan pihak lain, Usaha akan dijalan
perusahaan mengacu Charity principle dan Stewardship
Prinsiple. Tidak akan ada penekanann gaji karyawan
sampai minim oleh shareholder, bahkan kesejahteraan
hidup karyawan menjadi hal yang dipedulikan, termasuk
pula masyarakat dari luar Perseroan yang marginal.

2. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab


Pada sila kedua Pancasila mengandung nilai manusia
sebagai makhluk beradab dan dijunjung tinggi oleh HAM
dan Negara. Sehingga pada kehidupan bernegara
khususnya peraturan perundang-undangan tujuannya yakni
martabat dan harkat manusia yang tinggi. Termasuk
peraturan perundangan Negara yang ahrus menjamin hak
dasar atau disebut hak manusia yang merupakan hak atas
kodrat manusia. Dalam sila Kemanusiaan yang Adil dan
Beradab terkandung nilai tingkah laku manusia dan
kesadaran tingkah laku manusia mengacu potensi budi
nurani manusia dalam hubungan secara umum dengan
norma dan nilai kebudayaan, termasuk terhadap
lingkungan, sesama manusia ataupun diri sendiri. Nilai
kemanusaiaan yang beradab ialah wujud nilai manusia yang
berbudaya, bermoral dan beragama. Begitu pula penjabaran
nilai tersebut yang harus menyeluruh pada aspek
kehidupan secara keseluruhan.
Lahan dan hutan yang terbakar menjadi contoh
kejadian yang tidak manusiawi bahkan dikatakan tidak adil
dan beradab. Jika terdapat sekumpulan orang saja sebagai
penguasa ribuan hektar lahan, dapat melaksanakan apapun
pada lahan tersebut, berkilah juga ketika kebakaran terjadi,

3
7
bahkan bereuforia menjadi kelompok yang peduli
lingkungan, perusahaan dengan corporate social responsibility
(CSR) terbaik, disitulah terganggunya rasa kemanusiaan
dan keadilan pada sila kedua.
Tindakan yang menyebabkan terganggunya aspek
kemanusiaan disebut tindakan yang tidak Pancasilais.
Demikian juga tindakan atas pemberian akses sikap non
pancasilais ini muncul, mencakup pula pemberian izin
berskala besar, apalagi bekerjasama dengan penerbitan izin
tersebut. Apa yang dapat dilakukan Pembatasan
kepemilikan lahan dan pemilik lahan harus diwajibkan
dalam penjagaannya.

3. Sila Persatuan Indonesia


Pada sila Persatuan Indonesia mengandung nilai,
Negara menjadi persekutuan hidup antara elemen
pembentuk Negara secara bersamaan, yakni agama,
Golongan, Kebersama diantara elemen-elemen yang
membentuk Negara, yaitu, Suku, Ras, Kelompok. Bedanya
yakni pada ciri khas nya sendiri dan bawaan kodrat
manusia. Bagi Negara konsekuensinya yakni terdiri atas
keanekaragaman yang bersatu dan saling terikat pada
persatuan dimana tercermin pada semboyan “Bhineka
Tunggal Ika”. Dari Negara, individu diberikan kebebasan
agama, ras, suku, dan golongan sebagai realisasi
keseluruhan potensi secara integral pada kehidupan
bersama.
Perusahaan dengan penerapan Persatuan Indonesia,
pada prakteknya menekankan pada kemitraan,
kekeluargaan dan kebersamaan. Kebijakan perusahaan yang
diambil tidak mungkin diskriminatif dan pada golongan
tertentu seperti masyarakat adat tidak dimarjinalkan.
Perseroan pun lebih menekankan pemangku kepentingan
yang terlibat, dengan berdiskus, dibentuknya Forum
Pemangku kepentingan, Dibuatnya kebijakan perusahaan
secara partisipatif, tidak melakukan penyewaan Militer atau

38
Preman guna menjaga keamanan Perusahaan dan
pelaksanaan patnership/Kemitraan bagi swasta dan
pemerintah, pengusaha kecil dan besar jawa dan luar jawa.
Sehingga Perseroan melaksanakan corporate social
responsibility (CSR) dengan Stewardship Principle dan turut
serta ikut dalam peningkatan Persatuan Indonesia.

4. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan


dalam Permusyawaratan / Perwakilan
Pada sila kerakyatan yang secara mutlak
mengandung nilai demokrasi yang wajib dilaksanakan
dalam kehidupan negara. Pada sila keempat, nilai
demokrasi yang ada yakni:
a. Terdapat perbedaan yang diikuti dengan tanggung
jawab secara moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan
juga masyarakat.
b. Martabat dan harkat yang dijunjung tinggi
c. Memperkokoh dan menjamin kesatuan persatuan dalam
kehidupan bersama
d. Mengakui adanya kodrat bawaan manusia yakni agama,
suku, ras, kelompok, dan individu.
e. Mengakui pada masing-masing agama, suku, ras,
kelompok, dan individu memiliki hak yang sama.
f. Memberikan arahan kerja sama kemanusiaan yang adil
dan berada akibat perbedaan yang ada dengan azs
musyarah yang dijunjung tinggi.
g. Menjadikan dan mewujudkan keadilan sebagai dasar
kehidupan bermasyarakat demi tercapainya tujuan
bersama, kemudian menjadikan nilai tersebut agar
konkret yakni kehidupan bernegara menyangkut
perundangan, aspek hukum, aspek politik, dan moralitas
kenegaraan.

Keberadaan Bangsa Indonesia yakni pada seuah


wilayah yang terhampar dan terkait satu sama lain.
Kesakitan pada satu sisi dan berdampak pada terganggunya

3
9
sisi lainnya. Bersatu berarti saling terikat, saling merasa,
saling memerlukan pada satu rangkaian tidak terpisah.
Jikalau tindakan yang kita laksanakan berakibat pada
rusaknya atau boroknya pihak lainnya maka persatuan akan
menjadi terganggu. Sebuah aliran sungai dengan hulunya
satu provinsi namun hilir pada daerah lainnya, maka harus
dilihat sebagai sebuah hamparan, satu landscape. Tidak serta
merta disebut ini bukan urusan saya, sebab menyebabkan
persatuan sudah terganggu.
Point penting pada sila ke empat Pancasila dijelaskan
keseluruhan tumpah darah negara harus mendapat
perlakukan sebaik mungkin, guna semangat kebersamaan
dan kemakmuran secara bijaksana. Demikianlah disebut
mufakat, tanpa adanya kehendak yang dipaksakan pada
sebuah keinginan. Kekayaan alam, bumi dan tanah
merupakan miliki bersama sehingga harus mendapat
perlakan yang bijaksana. Tahu dimana padi akan ditanam,
pohon akan bertumbuh dan dimana air mengalir. Tidak
malah melihat semuanya guna manusia, industri, rumah
dan pabrik saja. Bermufakatlah, maka kita akan bijaksana
dan demikian ialah jiwa yang Pancasilais.

5. Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia


Pada sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat
Indonesia berjiwa dan berdasarkan sila pertama, kedua,
ketiga dan keempat. Pada sila kelima ini mengandung nilai
yang merupakan tujuan hidup bersama dari suatu Negara.
Oleh karenanya pada kehidupan bersama harus
diwujudkan nilai keadilan yang berjiwa dan berdasar
hakikat manusia yang adil. Yakni, keadilan atas hubungan
manusia dengan Tuhannya, manusia dengan masyarakat,
manusia dengan manusia lain, manusia dengan diri sendiri,
manusia dengan masyarakat, bangsa, dan Negara.
Guna sebagai wujud keadilan social bagi seluruh
rakyat Indonesia maka harus dicapai dahulu kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan

40
permusyawaratan perwakilan. Dimana dasarnya adalah
persatuan Indonesia yang dilandasi kemanusiaan yang adil
dan beradab dengan sumber hukum utamanya ialah
keyakinan terhadap ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini
yang disebut dalam etika hidup bermasyarakat yang
diwujudkan manusia sebagai makhluk sosial.
Pada corporate social responsibility (CSR) yang
dilaksanakan ini harus berlandaskan apa yang sbeelumnya
dijelaskan. Dalam pelaksanaan program corporate social
responsibility (CSR) termasuk perencanaannya, implementasi
keseluruhan sila harus diikutsertakan. Sebab sejalan dengan
watak bangsa Indonesia yang dicerminkan oleh nilai
pancasila sangatlah luar biasa. Dalam program corporate
social responsibility (CSR) yang menjadi batasnya yakni
segala norma agama dan nilai ketuhanan sebab nilai ini kana
menjadi pengontrol program yang berjalan. Seluruh
pelaksanaan program semata-mata sebagai pemenuhan
kewajiban manusia sebagai makhluk tuhan dimana tuhan
sendiri memerintahkan manusia dalam hal tolong
menolong. Serta rasa kodrat dalam sila kedua yang sama ini
akan muncul bukan atas dasar merendahkan orang lain atau
diskriminasi dalam pelaksanaan program. Apabila
dilaksanakan dengan benar dan bukan berniat menutup
keburukan yang ada maka semuanya akan indah, termasuk
jika pelaksaan program berdasar pada hati nurani yang
menyebabkan munculnya jwa yang terikat pada persatuan
Indonesia.
Seluruh rakyat Indonesia memiliki kesamaan hak
untuk makmur termasuk ketentraman, kebahagiaan,
kenyamanan, dan kesehatan. Seandainya rawa dikeringkan
guna HTI dan kelapa sawit, tanah dikeruk guna batubara,
serta hutan kita tebang maka dapat mengganggu
ketentraman dan kebahagiaan itu sendiri. Hawa sejuk akan
menjadi panas dan kering. Harimau memangsa manusia,
gajah masuk kebun, ikan mati, dan sungai menjadi kering,
demikianlah yang disebut menghambat dan mengganggu
keadilan sosial yang merupakan pengunci dalam Pancasila.

4
1
BAB VI
ETIKA BISNIS DAN TANGGUNG JAWAB
LINGKUNGAN PERUSAHAAN

A. Pengertian Etika Binis


Secara etimologi etika berasal dari kata “ethos” (bahasa
Yunani) artinya watak kesusilaan, perasaan, akhlak, adat,
kebiasaan, cara berfikir dan sikap. Istilah etika sudah
dimanfaatkan filsuf Yunani Aristoteles guna sebagai petunjuk
filsafat moral. Pada perkembangannya, etika pun memiliki
makna sebagai pengetahuan sekaligus ilmu terkait apa yang
baik dan yang buruk terkait kewajiban dan hak moral (akhlak)
manusia pada kehdupan yang dijalankan (KBBI, 2015). Dalam
arti sederhana, etika diartikan menjadi standar perilaku, norma
dan prinsip dimana kelompok dan individu diatur agar dapat
membedakan yang salah dan benar. Sebagai panduan, etika
bisnis mengarahkan manusia menuju aktualisasi kapasitas
terbaiknya dalam bidang usaha ekonomi.
Kejujuran dam etika yang diterapkan dalam bisnis akan
menyebabkan kualitas serta nilai atas bisnis tersebut
mengalami peningkatan. Tingginya tingkat persaingan, dan
semakin kritisnya konsumen membuat kepercayaan dan
kepuasan masyarakat serta konsumen menjadi hal yang paling
penting. Hal inilah yang mengakibatkan perusahaan dapat
terus hidup dan berkembang. Perusahaan dengan etika yang
diterapkan dapat membuat motivasi para pekerja meningkat,
sebab diperolehnya dengan cara yang baik sekaligus dan
hasilnya dituntut baik juga. Sehingga pengimplementasian
etika ini secara umum dapat memberikan dorongan kualitas
perusahaan secara otomatis.

B. Etika Bisnis Dalam Islam


Etika dalam Islam mengandung 2 definisi : Pertama, etika
yang disesuaikan moralitas, dimana isinya yakni norma dan
nilai nyata yang dijadikan pegangan hidup dan pedoman pada
kehidupan bermasyarakat. Kedua, etika yang merefleksikan

42
rasional dan kritis. Etika menolong manusia untuk secara bebas
melaksanakan tindakan namun bisa dipertanggungjawabkan.
Sementara bisnis menjadi sebuah organisasi dengan aktivitas
produksi yang dijalankan dan penjualan barang serta jasa
sesuai harapan konsumen dalam mendapatkan keuntungan.
Bisnis dan etika yang digabung artinya bagi dunia bisnis,
norma agama dipaksakan, kode etik profesi bisnis dipasang,
hukum dan sistem ekonomi diperbaiki, dan peningkatan
keterampilan guna pemenuhan tuntutan etika pihak-pihak luar
sebagai pencarian titik aman dan lainnya. Bisnis dengan etika
ialah bisnis yang mempunyai komitmen tulus dalam
keberjalanan penjagaan kontrak sosial. Kontrak sosial menjadi
perjanjian yang harus ditepati.
Bisnis Islami diartikan sebagai segala rangkaian aktivitas
bisnis dengan macam-macam bentuk dimana tidak terdapat
keterbatasan total kepemilikan (barang/jasa) mencakup pula
kuntungannya, akan tetapi terdapat keterbatasan dalam
memanfaatkan dan memperoleh hartanya sebab aturan haram
dan halal.
Sebenarnya, etika bisnis Islam sudah diajarkan Nabi
Muhammad SAW. Selama proses berdagangnya. Karakteristik
Nabi Muhammad SAW, sebagai pedagang ialah, selain
keuletan dan dedikasinya juga mempunyai sifat tabligh, amanah,
fathanah, dan shidiq. Ciri tersebut terdapat tambahan lain yakni
Istiqamah. Shidiq artinya jujur dan memiliki landasan dalam
berucap, amal perbuatan dan keyakinan dengan dasar nilai
yang terdapat dalam Islam. Istiqamah (konsisten) dalam
imannya dan nilai kebaikan lain, walaupun berhadapan
menghadapi tantangan dan godaan. Istiqamah dalam kebaikan
artinya yakni keuletan, kesabaran, dan keteguhan yang mana
mampu membuahkan hasil yang optimal. Fathanah artinya
menghayati, memahami, dan mengerti segala yang menjadi
kewajiban dan tugasnya dengan mendalam. Sifat ini akan
melahirkan kemampuan dan kreatifitas melaksanakan segala
macam inovasi yang bermanfaat. Amanah, tanggung jawab
guan memenuhi kewajiban dan tugasnya. Amanah ditunjukkan

4
3
dengan kebajikan (ihsan), pelayanan optimal, kejujuran, dan
keterbukan pada segala hal. Tabligh, menawarkan ajakan dan
juga memberi teladan bagi pihak lain guna memenuhi
ketentuan yang diajarkan Islam dalam kehidupan
bermasyarakat.
Mengacu semua sifat yang telah disebutkan, pada
konteks corporate social responsiblity (CSR), para pihak
perusahaan dan pelaku usaha dituntut memiliki sikap tidak
kontradiksi dalam bisnis secara disengaja antara perbuatan dan
ucapannya. Terdapat tuntutan agar mereka mampu menepati
janji, tepat waktu, tidak menutup-nutupi (mengakui)
kekurangan serta kelemahannya, melakukan perbaikan
kualitas jasa dan barangnya secara konsisten dan tidak
dipekenankan berbohong apalagi melakukan penipuan.
Bagi pihak perusahaan dan pelaku usaha wajib
mmepunyai sifat amanah dimana menjadi petunjuk sikap
kebajikan (ihsan), pelayanan optimal, kejujuran, dan keterbukan
pada segala hal, termasuk pelayanan yang berkaitan dengan
masyarakat. Melalui sifat amanah, pelaku usaha bertanggung
jawab atas kewajiban yang harus diamalkan. Penyampaian sifat
tabligh bisa dilakukan dengan persuasif, argumentatif, sabar,
dan bijak (hikmah) dapat menyebkan tumbuhnya hubungan
antar manusia yang kuat dan solid.
Terdapat tuntutan para pelaku usaha untuk memiliki
kesadaran terkait moral dan etika, sebab dua-duanya mnejadi
kebutuhan yang harus dimiliki. Cerobohnya perusahaan dan
pelaku usaha dalam penjagaan etika, tidak akan mampu
melaksanakan bisnis dengan baik oleh karenanya bisa
merugikam konsumen dan menjadi ancaman hubungan sosial
termasuk bagi dirinya sendiri.

C. Prinsip-Prinsip Etika Bisnis dalam Islam


Mengacu pada Islam, etika artinya al-adab dan al-akhlak
yang tujuannya guna memberikan pendidikan moral manusia.
Contoh penerapan etika bisnis dalam islam sudah diterapkan
oleh Nabi Muhammad SAW. yaitu nilai semangat,

44
kesimbangan, kejujuran, humanisme, dan spiritualnya guna
pemuasan bagi mitra bisnisnya. Dalam Islam, prinsip
pelaksanaan transaksi ekonomi digolongkan dalam 4 pilar,
yakni : pertanggungjawaban, kehendak bebas, keseimbangan
(adil), dan tauhid. Kesuksesan pelaku bisnis tidak lantas
membuatnya bertindak mubadzir, tidak bermewah-mewahan
dan tetap hidup wajar dan sederhana. Pelaku bisnis harus tetap
memberikan perhatian bagi yang haram dan halal, dengan
demikian produk dan jasa dalam kondisi yang halal dan
menghindari yang haram.
Alquran memberikan penawaran petunjuk dan prinsip
dasar bagi orang-orang yang beriman guna kebaikkan perilaku
etis pada bisnis. Dalam Alquran, etika bisnismemiliki prinsip
yang digolongkan dalam 4 hal:
1. Kebebasan (Freedom, al-Hururiyah)
Seseorang tidak dapat membayangkan
kecenderungan transaksi dan perdagangan yang ada,
sampai hak kelompok sekaligus individu guna
memindahkan dan memiliki sebuah kekayaan mendapat
pengakuan tanpa paksaan dan secara bebas. Terdapat
beberapa hak kelompok sekaligus individu yang diakui oleh
Alquran yaitu:
a. Persetujuan mutual
b. Perdagangan yang legal
c. Penghormatan dan pengakuan kekayaan pribadi

2. Keadilan / Persamaan
Secara tegas dinyatakan maksud wahyu yang ada
ialah perwujudan persamaan dan keadilan. Adapun dua
judul besar yang menjadi kategori keadilan bisnis ini
mengacu ajaran Alquran:
a. Imparatif (Bentuk Perintah)
Dimana berisi kandungan rekomendasi dan
perintah yang berrhubungan dengan perilaku bisnis
dengan kategori, yakni:
1) Sebaiknya kontrak, kesepakatan, dan janji dipenuhi.

4
5
2) Jujur dalam takaran dan timbangan
3) Bayaran, gaji dan kerja
4) Benar, tulus hati, dan jujur
5) Kompeten dan efisien
6) Seleksi mengacu keahlian
7) Verifikasi dan investigasi

b. Perlindungan
Keadilan yang diterapkan pada perilaku bisnis, Alquran
sudah memberikan petunjuk pasti bagi orang-orang
yang berima, yakni berfungsi menjadi alat pelindung.
c. Dalam Etika Bisnis Islam, terdapat ketentuan yang
terlarang dan tidak diperbolehkan, mencakup:
1) Sejumlah bisnis yang tidak sah
2) Ingkar janji
3) Kebohongan
4) Tidak jujur
5) Penipuan
6) Riba.
d. Sejumlah jenis etika bisnis Islam yang menjadikan tidak
sahnya sebuah bisnis yakni:
1) Tindakkan yang memicu pemaksaan dan kerusakan
2) Monopoli
3) Proteksionisme
4) Pelanggaran dalam pembayaran hutang dan gaji
5) Penentuan harga yang fix oleh pemerintah
6) Penimbunan
7) Patnership yang invalid
8) Tidak menghargai prestasi
9) Melakukan hal yang melambungkan harga
10)Mengonsumsi hak milik orang lain

Sifat lain Rasulullah yang menjadi sifat tambahan yakni


saja‟ah, yang berarti berani. Terdapat kemampuan dan
kemauan nilai bisnis, responsi, ketepatan dalam keputusan
yang diambil, analisis data, dan kemampuan dalam

46
pengambilan keputusan. Nilai-nilai etika islam yang mampu
memberikan dorongan bisis yang sukses dan berumbuh yakni:
1. Konsep Ihsan
Ihsan ialah seseorang yang bekerja dengan
bersungguh-sungguh, memiliki dedikasi tinggi dan tidak
kenal menyerah demi tujuan yakni optimalisasi, dengan
demikian diperoleh hasil maksimal, hal ini bmengacu pada
optimalisme bukan perfeksionisme. Perfeksionalisme tidak
disarankan, sebab agar dapat dicapai manusia
kemungkinannya kecil. Segala yang sempurna hanya
dimiliki Allah Swt., manusia hanya berupaya agar mampu
mendekati kesempurnaan itu sendiri.
Negara Jepang terdapat konsep yang serupa, dimana
ditilahnya dikenal dengan Kaizen yang berarti unending
improvement. Orang Jepang tidak pernah melupakan
pelaksanaan konsep Kaizen pada kehidupannya termasuk
kegiatan sehari-hari dan pekerjaannya, oleh karenanya
mampu bersaing dengan negara lain secara baik.

2. Itqan
Dimana berbuat secara teratur dan teliti. Sehingga
kualitas produk yang dihasilkan harus mampu dijaga. Allah
SWT sudah menjanjikan siapapun yang bersungguh-
sungguh maka akan ditunjukkan jalan pencapaian yang
paling tinggi. Kembali kepada Jepang dan bangsa Barat,
nyatanya merekapun melakukan penerapan konsep itqan ini
yang mereka laksanakan dengan penerapan TQC (Total
Quality Control). Sehingga mutu produksi terus diawasi
dimana yang dimaksud yakni mutu barang dagangan,
dengan upaya gar mampu lebih baik.

3. Konsep hemat
Konsep unggulan Protestan ethics-nya Weber pada
dasarnya selaras dengan konsep Islam. Semenjak 14 abad
yang lalu Nabi Muhammad SAW telah mengajarkannya
kepada seluruh umat. Dimana manusia sebaiknya tidak

4
7
bertindak mubadzir dan bertindak hemat. Sebab boros ialah
teman syaitan. Akan tetapi hemat yang dimaksud bukanlah
kikir, hanya saja harta yang dimliki hanya digunakan pada
hal dengan manfaat bagi dirinya dan orang lain. Oleh
karenanya uang yang lain dapat disisihkan dan ditabung.
Tabungan yang dihasilkan nantinya bisa dimanfaatkan dan
diinvestasikan, yang pada waktunya akan dimanfaatkan
sebagai modal usaha dan prduksinya. Secara berkelanjutan
terdapat hasil tambahan bagi orang tersebut yang secara
otomatis akan membawa pada kehidupan agama yang lebih
baik.

4. Kejujuran dan Keadilan


Kejujuran (honesty) dalam Islam menjadi pilar yang
vital, dikarenakan jujur ialah sebutan lainnya dari
kebenaran. Islam secara tegas memberikan larangan dalam
bertindak menipu, berbohong atau bentuk lainnya.
Larangan ini disebabkan karena secara luas kebenaran dan
nilai berpengaruh pada pihak yang bertransaksi secara
langsung dalam perdagangan. Sementara dalam Islam
keadilan (justice) memiliki arti dengan suka sama suka
(antarraddiminkum) dimana bagi kedua pihak tidak ada yg
didzolimi (la tazlimuna wa la tuzlamun).

5. Kerja Keras
Bentuk usaha kerja keras ini misalnya usaha dalam
bidang bisnis. Dalam kerja keras ini memilki kepuasan batin
tersendiri dimana tidak bisa dinikmati profesi lain. Pada
dunia bisnis, yag diutamakan yakni prestasi lalu berlanjut
pada prestise, bukan sebaliknya. Umumnya orang yang
mengedepankan prestise tidak memiliki kemampuan untuk
maju, sebab dikatakan maju jika memiliki pretasi. Kerja
keras ini menjadi awal atas prestasi, dalam hal ini
mencakup dalam segala aspek bidang. Kemauan keras
(azam) ini bisa menjadi penggerak motivasi guna
melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh. Bangsa
yang berhasil akrena

48
orang-orangnya yang bersedia memperbaiki nasib, tahan
menderita dan bekerja keras Pekerjaan dakwah yang
dilaksanakan Rasul pula menjadi cerminan kerja keras, yang
mana akhirnya dapat berjaya.

4
9
BAB V
ISLAMIC CORPORATE SOCIAL
RESPONSIBILITY (CSR)

A. Corporate Social Responsibility (CSR) dalam Perspektif Islam


Corporate social responsibility (CSR) dalam sudut pandang
Islam ialah praktik bisnis yang secara Islami mempunyai
tanggung jawab etis. Perusahaan memasukan berbagai norma
agama Islam di dalam operasinya yang ditandai dengan
terdapatnya komitmen ketulusan dalam menjaga kontrak
sosial. Oleh karenanya, praktik bisnis dalam kerangka corporate
social responsibility (CSR) Islami meliputi suatu rangkaian
aktivitas bisnis dalam wujudnya. Walaupun tidak dibatasi
jumlah kepemilikan profit, jasa, dan barangnya, akan tetapi
beberapa upaya untuk pendayagunaan dan perolehannya
dibatasi oleh aturan haram dan halal syari‟ah.
Berdasar perspektif Islam, tujuan dari pelaksanaan
corporate social responsibility (CSR) harus untuk menciptakan
kebajikan bukan lewat beberapa kegiatan yang di dalamnya
memuat unsur riba, akan tetapi mengacu praktik yang
diperintahkan Allah dalam bentuk wakaf, sedekah, infak, dan
zakat. Corporate social responsibility (CSR) juga harus
mengedepankan nilai ketulusan hati dan kedermawanan. Sikap
ini lebih dicintai Allah dibandingkan berbagai ibadah
mahdhah. Rasulullah SAW bersabda, “Memenuhi keperluan
seorang mukmin lebih Allah cintai dari pada melakukan dua
puluh kali haji dan pada setiap hajinya menginfakan ratusan
ribu dirham dan dinar”. Rasulullah SAW dalam hadist lainnya
juga bersabda, “Jika seorang muslim berjalan memenuhi
keperluan sesama muslim, itu lebih baik baginya daripada
melakukan tujuh puluh kali thawaf di Baitullah.”
Pelaksanaan corporate social responsibility (CSR) dalam
Islam juga termasuk suatu cara mereduksi berbagai
permasalahan sosial yang ada di masyarakat dengan menjaga
keseimbangan distribusi kekayaan di masyarakat dan
mendorong produktivitas masyarakat. Islam mencegah

50
terjadinya distribusi kekayaan sebatas pada beberapa orang
saja dan mengharuskan supaya distribusi kekayaan terjadi
pada seluruh anggota masyarakat. Allah Berfirman : “supaya
harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di
antara kamu” (QS. Al hasyr: 7).
Praktik corporate social responsibility (CSR) dalam Islam
berorientasi kepada etika bisnis islami. Perusahaan dalam
operasionalnya harus bersih dari segala macam modus praktik
korupsi serta sepanjang operasionalnya memberikan jaminan
layanan sebaik mungkin, dimana ini juga mencakup layanan
terpercaya bagi setiap produknya. Secara tegas hal ini juga
termuat dalam Al-Quran. Allah SWT berfirman: “Maka
sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu
kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan
timbangannya” (QS. al-A‟raf ayat 85).
Sehingga, apabila motivasi (niat) melaksanakan praktik
corporate social responsibility (CSR) adalah untuk membantu
masyarakat yang memerlukan, niscaya dapat digolongkan
dalam ghairu mahdhoh. Artinya, walaupun pada asalnya
program tersebut bukanlah ibadah, akan tetapi semata sebab
berharap ridha Allah SWT untuk membantu orang lain, maka
pelakunya akan memperoleh pahala selayaknya beribadah. Jika
niatnya seperti ini, maka dalam melaksanakan corporate social
responsibility (CSR) keuntungannya bukan hanya perusahaan
akan semakin dekat dengan masyarakat. Akan tetapi,
pengelolanya juga akan memperoleh pahala dan semakin dekat
dengan Allah SWT.
Jika tidak seperti itu, atau bisa dikatakan bahwa program
corporate social responsibility (CSR) tersebut sebatas bermotif
ekonomi semata, maka pahala ibadah tidak akan diperoleh,
sebab sedari semula sudah terealisasi dari nilai- nilai teologis
yang sejak merencanakan program sejatinya bisa disetting.
Sebab inilah, betapa rugi perusahaan yang menjalankan
program corporate social responsibility (CSR) sebatas
menginginkan memperoleh keuntungan duniawi yang sifatnya

5
1
sesaat, dan sama sekali terpisah dari berbagai nilai teologis
yang transenden ukhrowiyah.

B. Pandangan Islam Terhadap Corporate Social Responsibility


(CSR)
Konsep corporate social responsibility (CSR) dalam Islam
tidak sama dengan konsep corporate social responsibility (CSR)
yang dikembangkan di barat. Yusuf dan Bahari (2011)
memaparkan bahwa perbedaannya meliputi:
1) Dasar atau prinsip-prinsip nilai dan budaya.
2) Perkembangan nilai-nilai dan budaya.
Corporate social responsibility (CSR) dalam Islam dibentuk
berdasarkan epistemologi Islam dan tasawuf (pandangan
dunia) yang tidak sama dengan corporate social responsibility
(CSR) yang dikembangkan di Barat. Farook (2007)
menerangkan, secara Islam tanggung jawab sosial perusahaan
tidak berbeda dengan tanggung jawab sosial dari tiap muslim,
yakni menentang atau melarang yang salah dan menjalankan
yang benar. Definisi salah (al-bathil) dan benar (al-haq) bisa
dimaknai sebagai dua konsep yang tumpang tindih. Benar
(haq) secara hukumnya mengarah kepada seluruh yang
dianjurkan atau diperbolehkan (halal), sementara salah (bathil)
mengarah kepada seluruh yang tidak dianjurkan atau tidak
diperbolehkan (haram).
Berdasarkan sudut pandang hukum Islam Farook (2007)
menerangkan, “benar” mengarah kepada yang seharusnya
sementara “salah” mengarah kepada yang tidak adil.
Tanggung jawab sosial yang dimiliki perusahaan bukan
sesuatu yang baru dalam Islam. Selama 14 abad terakhir ini,
tanggung jawab sosial sudah mulai eksis serta diaplikasikan.
Tanggung jawab sosial kerap dibahas dalam Al-Qur'an. Al
Qur'an dimana senantiasa mengkaitkan petumbuhan ekonomi
dengan kesuksesan bisnis yang sangat dipengaruhi oleh etika
pengusaha dalam menjalankan bisnisnya. Islam
memperhatikan bisnis lewat aspek moral guna mendapat
untung yang semaksimal mungkin. Kondisi ini memperlihat-

52
kan bahwa Islam berhubungan dengan moralitas dan
perekonomian, dimana dua hal ini tidak bisa dipisahkan.
Terkait aspek tersebut juga ditegaskan oleh Nabi Muhammad
SAW dalam hadist yang diriwayatkan oleh Malik bin Anas:
“Seorang pekerja/karyawan berhak untuk setidaknya
mendapatkan makanan yang baik dan pakaian dengan ukuran
yang layak dan tidak dibebani dengan kemampuan untuk
bekerja di luar batas”. (Malik, 795, 2: 980).
Kelestarian lingkungan juga dipertimbangkan dalam
Islam sebagai sebuah tanggung jawab sosial. Seluruh usaha
bisnis wajib memastikan kelestarian lingkungan (QS Al-
Baqarah ayat 205)

Artinya: “Dan apabila ia berpaling dari kamu, ia berjalan di


bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak
tanamtanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai
kebinasaan”.

Di dalam ayat tersebut dijelaskan bagaimana Islam


melihat kelestarian lingkungan. Seluruh usaha nonbisnis atau
bisnis wajib memastikan kelestarian lingkungan. Sangat dekat
dan tidak dapat dipisahkan hubungan antara lingkungan
dengan manusia. Islam dengan terang tidak memperbolehkan
suatu hal yang berbahaya bagi lingkungan atau individu.
Isalam dalam bidang kesejahteraan sosial mendorong
untuk melakukan amal kepada orang-orang yang memiliki
keterbatasan kemampuan dalam bekerja dan kepada orang-
orang yang memerlukan lewat qard hasan (pinjaman
kesejahteraan) dan sadaqah (QS AtTaghaabun ayat 16).

Artinya: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut


kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah

5
3
nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang
dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-
orang yang beruntung”.

Ayat tersebut menerangkan tanggung jawab sebagai


orang yang menganut Islam untuk menolong orang lain lewat
kontribusi sumbangan dan amal, serta kekikiran di dalam
Islam adalah sebuah kekejian. Yusuf dan Bahari (2011) juga
menjelaskan, selain berpengaruh terhadap kesejahteraan sosial,
sebuah pinjaman kebajikan juga bisa bermanfaat ganda untuk
perusahaan dan individu. Pertama, memperoleh formasi
jaringan bisnis baru yang bisa menjadikan keuntungan
meningkat. Kedua, pinjaman kebajikan bisa membentuk citra
positif bagi perusahaan dan seseorang. Sabda Nabi
Muhammad Saw. dalam hadits yang diriwayatkan oleh Salman
bin Amir, “Sedekah bagi kaum miskin adalah amal. Dan amal
untuk keluarga memiliki dua keuntungan, yaitu bermanfaat
bagi Allah dan memperkuat persaudaraan” (HR. Tirmizi, 1993:
Hadis Nomor 653).
Penyataan tersebut memperlihatkan bahwa konsep
keadilan dan konsep tanggung jawab sosial sudah lama ada
dalam Islam, selama seperti Nabi Muhammad Saw yang
membawa kehadiran. Nabi Muhammad Saw menciptakan
keadilan serta mewujudkan tanggung jawab sosial sesuai
dengan ketetapan dalam Al Qur'an. Tidak berbeda juga dengan
praktik Nabi Muhammad Saw dalam menerapkan keadilan
dan tanggung jawab sosial dalam masyarakat yang menjadi
sumber pedoman untuk membimbing generasi berikutnya,
dimana ini disebut dengan As Sunnah. Al Qur'an dengan As
Sunnah sudah sangat harmonis dalam menegakkan keadilan
yang sejati. Tugas dari keberadaan umat muslim di muka bumi
yakni sebagai khalifah yang adil dan hamba yang taat kepada
Allah.
Hubungan kedua tugas utama ini harus selaras dan satu
sama lainnya tidak boleh dipisahkan. Setiap individu sebagai
hamba yang menyembah Allah berkewajiban untuk

54
menjadikan segala apa yang terjadi dalam hidupnya sebagai
wujud pengabdian kepada Allah yang sempurna. Terkait ini,
diperlukan pemahaman terkait sebuah konsep dalam arti yang
lebih luas. Hal ini bermakna bahwa setiap individu tidak hanya
dituntut untuk melakukan ibadah khusus saja, akan tetpai juga
ibadah umum yang lain dengan niat yang benar, wajib
memastikan bahwa seluruh tindakannya sesuai syariah, serta
semua kegiatan yang membawa kesejahteraan bagi alam dan
manusia sesuai kondisi tertentu. Kewajiban corporate social
responsibility (CSR) Islam merupakan tanggung jawab seseorang
dalam sebuah perusahaan untuk memberi dampak positif bagi
lingkungan dengan maksud guna melestarikan lingkungan
alam dan memberdayakan masyarakat yang lemah.
Sayyid Qutb menyatakan, Islam memiliki prinsip
pertanggungjawaban yang selaras dalam seluruh ruang
lingkup dan bentuknya. Antara suatu masyarakat dengan
masyarakat yang lain, antara individu dengan sosial, antara
individu dengan keluarga, serta antara jiwa dengan raga.
Tanggung jawab sosial mengarah kepada kewajiban
perusahaan untuk memberikan perlindungan serta
berkontribusi kepada masyarakat di mana perusahaan tersebut
berada.
Tiga domaian tanggung jawab sosial yang diemban
sebuah perusahaan, meliputi:
1. Para Pelaku Organisasi, terdiri dari:
a. Hubungan Perusahaan dengan Pekerja.
1) Hak Pribadi.
Apabila seorang pekerja mempunyai permasalahan
fisik yang menjadikannya tidak bisa mengerjakan
suatu tugas atau apabila seorang pekerja di masa lalu
sudah berbuat salah, maka sang majikan tidak
diperbolehkan menginformasikan berita itu. Apabila
dilakukan, maka akan melanggar hak pribadi dari
pekerja tersebut.

5
5
2) Akuntabilitas.
Walaupun pekerja atau majikan satu sama lainnya
secara sengaja saling menipu, akan tetapi mereka
berdua tetap harus mempertanggungjawabkan segala
tindakannya di hadapan Allah SWT. Contohnya,
Rasulullah SAW tidak menahan upah siapapun.
3) Penghargaan terhadap keyakinan pekerja.
Seorang pengusaha muslim dilarang memperlakukan
pekerjanya seolah-olah dalam Islam tidak berlaku
pada saat waktu kerja. Misalnya, pekerja muslim
harus diberi waktu istirahat apabila mereka sakit dan
tidak bisa bekerja, tidak boleh dipaksa untuk
melakukan sesuatu yang berlawanan degan aturan
moral Isalam, diberikan waktu untuk mengerjakan
shalat, serta lainnya. Keyakinan para pekerja
nonmuslim juga harus dihargai guna menegakkan
keseimbangan dan keadilan.
4) Upah yang adil.
Upah dalam organisasi Islam harus direncanakan
secara adil baik bagi majikan ataupun pekerja. Ketika
hari pembalasan tiba, Rasulullah SAW akan menjadi
saksi untuk meraka yang mempekerjakan buruh yang
sudah menyelesaikan pekerjaannya, akan tetapi tidak
diupah.
5) Keputusan perekrutan, promosi bagi pekerja.
Islam mendorong kita supaya memperlakukan
seluruh muslim dengan cara yang adil. Contohnya,
dalam merekrut, proses promosi, serta berbagai
keputusan lainnya di mana manajer dalam menilai
kinerja setiap orang, keadilan dan kejujuran
merupakan suatu keharusan.

b. Hubungan Pekerja dengan Perusahaan


Banyak permasalahan etis yang menyangkut
hubungan antara perusahaan dengan pekerja, khususnya
berhubungan dengan masalah konflik kepentingan,

56
kerahasiaan, dan kejujuran. Sehingga, seorang pekerja
dilarang membocorkan rahasia perusahaan kepada orang
luar dan dilarang menggelapkan uang perusahaan.
Terjadinya praktik tidak etis lainnya apabila para manajer
menambahkan harga palsu untuk pelayanan
dan makanan dalam pembukuan keuangan
perusahaannya. Kebanyakan dari mereka menipu sebab
menganggap bahwa dirinya dibayar rendah serta
menginginkan memperoleh upah yang adil. Selain itu
juga bisa dikarenakan ketamakkan. Bagi pekerja Muslim,
Allah SWT memperingatkan dengan jelas di dalam Al-
quran: “Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan
perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang
tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak
manusia tanpa alasan yang benar”.
Pekerja Muslim yang sadar akan makna dalam
ayat tersebut, sepatutunya tidak berbuat yang tidak etis.

c. Hubungan Perusahaan dengan Pelaku Usaha Lain


1) Distributor.
Berhubungan dengan distributor, etika bisnis
menjelaskan individu dalam bernegosiasi harus
dengan harga yang adil serta dilarang mengambil
keuntungan berdasar kekuasaan atau bagian yang
lebih besar. Guna menghindari adanya
kesalahpahaman untuk ke depannya, Allah SWT
sudah memberi perintah kepada kita untuk secara
tertulis membuat perjanjian kewajiban bisnis.
Transaksi gharar antara pemasok dengan perusahaan
juga tidak diperbolehkab dalam Islam. Bukan hanya
masalah menyangkut diperbolehkannya praktik
agensi secara umum, pedagang juga tidak
diperbolehkan mencampuri sistem pasar bebas lewat
suatu perantaraan. Perantaraan seperti ini
berkemungkinan memicu inflasi harga.

5
7
2) Konsumen atau pembeli. Pembeli sepatutnya
menerima barang dengan harga yang wajar dan
dalam kondisi baik . Para pembeli juga harus
diberitahukan apabila ada kekurangan pada barang.
Beberapa praktik yang dalam islam dilarang saat
berhubungan dengan pembeli atau konsumen:
a) Dilarang mengambil bunga atau riba
b) Membeli barang curian
c) Bersumpah palsu untuk mendukung sebuah
penjualan
d) Menjual barang rusak atau palsu
e) Menimbun dan manipulasi harga
f) Menggunakan timbangan atau alat ukur yang
tidak tepat
3) Pesaing.
Walaupun beberapa negara barat menyatakan dirinya
sebagai kawasan berdasar pada prinsip persaingan
pasar, beberapa publikasi bisnis utama akan
menunjukkan bahwa suatu bisnis akan berupaya
menang serta mengalahkan para kompetitornya.
Melalui mengalahkan para kompetitornya, suatu
perusahaan kemudian akan bisa mendapatkan hasil
ekonomi melebihi rata-rata lewat praktik monopoli
harga dan penimbunan.

2. Lingkungan Alam
Muslim senantiasa didorong untuk terus menghargai
alam. Allah juga sudah menunjuk keindahan alam sebagai
tanda kebesaran-Nya. Islam menekankan peran individu
sebagai khalifah di bumi dengan menjadikannya
bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar. Seorang
pengusaha muslim dalam perannya sebagai khalifah
diharapkan dapat memelihara alam. Paham
environmentalisme bisnis memiliki kecenderungan
mutakhir di mana suatu usaha secara proaktif
memperhatikan lingkungannya dengan sangat cermat, ini

58
bukanlah sesuatu yang baru. Beberapa contoh semakin
memberikan kejelasan pentingnya hubungan Islam dengan
lingkungan alam, polusi lingkungan dan hak-hak
kepemilikan, perlakuan terhadap binatang, serta polusi
lingkungan terhadap berbagai sumber alam yang sifatnya
“bebas”, contohnya air dan udara.

3. Kesejahteraan Sosial Masyarakat


Tidak hanya bertanggung jawab terhadap pihak-
pihak yang berkepentingan dalam usaha serta lingkungan
alam sekitarnya saja, kaum muslim dengan organisasi
tempatnya bekerja juga diharapkan memperhatikan
kesejahteran umum masyarakat di mana mereka berada.
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka
bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah
kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan
harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah
amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al
A‟raf: 57).
Kecenderungan bisnis modern untuk melaksanakan
kegiatan sosial sudah mengubah arah bisnis. Selama ini
dunia bisnis yang terkesan hanya mencari untung (profit-
oriented) akan mengubah citranya menjadi organisasi yang
mempunyai tanggung jawab sosial terhadap lingkungan
dan masyarakat. Sebuah usaha yang dijalankan ialah
dengan mengadakan tanggung jawab sosial perusahaan
(TSP) atau corporate social responsibility (CSR).
Corporate social responsibility (CSR) secara nonstruktur
telah lama bekermbang di dunia bisnis, khususnya bisnis
yang tergolong hight-risk business semacam usaha
penebangan hutan dan pertambangan. Kurang lebih lima
tahun terkahir ini, corporate social responsibility (CSR) sudah
merambah ke hampir seluruh bidang bisnis. Model
penerapan corporate social responsibility (CSR) di lembaga
usaha bisnis juga sudah sangat berbeda dengan nilai dan
orientasinya.

5
9
Implentasi corporate social responsibility (CSR) sekarang
ini tidak sebatas pada usaha perusahaan untuk membayar
utang sosial yang dikarenakan proses bisnis yang
dijalankan, akan tetapi menjadi tanggung jawab sosial yang
wajib untuk dilaksanakan perusahaan yang bersangkutan.
Bahkan melampaui dari hal tersebut, corporate social
responsibility (CSR) seakan dimaksudkan guna berkompetisi
dalam meningkatkan citra dan nilai perusahaan di mata
pasar dimana hal ini berujudng kepada komersialitas
perusahaan.
Seperti yang sudah diketahui bahwa dalam lima
tahun terakhir ini corporate social responsibility (CSR) menjadi
primadona dan buah bibir bagi berbagai perusahaan di
belahan dunia termasuk Indonesia. Tidak sedikit
perusahaan yang seakan-akan berkompetisi untuk
mengekspose diri dalam berbagai kegiatan sosial, para
perusahaan ini bergiat membentuk citra diri sebagai
perusahaan yang peduli akan permasalahan sosial dan
lingkungan.
Pelaksanaan corporate social reporting sudah mengubah
wajah bisnis dalam pandangan masyarakat, studi oleh
Davon Winder terkait “Caused-Related Marketing (CRM) dan
Corporate social responsibility (CSR” )yang bertajuk “CSR
Threat or Opportunity” memberikan hasil yaitu 46%
konsumen memberikan pendapat bahwa perusahaan yang
mengaplikasikan corporate social reporting mempunyai
kinerja yang lebih baik, serta sejumlah 60% konsumen
terkesan terhadao bisnis yang bertanggung jawab terhadap
ethical practices, masyarakat, atau lingkungan. Sementara
sejumlah 95% konsumen yang turut serta dalam program
caused-related marketing mengetahui bahwa keuntungan
yang diperoleh perusahaan akan disalurkan berbentuk
perbuatan baik dan donasi.
Secara rinci implementasi corporate social responsibility
(CSR) dalam Islam harus memenuhi komponen-komponen
yang menjadikannya ruh sehingga bisa membedakan

60
perbedaan antara corporate social responsibility (CSR) secara
universal dengan corporate social responsibility (CSR) dalam
perspektif Islam, yakni: Al-Adl

4. Al-Adl
Keadilan adalah perlakuan dan pengakuan yang
selaras antara kewajiban dan hak. Keadilan bisa juga
bermakna sebuah sikap yang tidak memihak ke salah satu
pihak atau tidak berat sebelah, memberikan sesuatu kepada
orang sesuai akan haknya. Bersikap secara adil bermakna,
tidak bertindak sewenang-wenang, menurut terhadap
hukum dan peraturan yang sudah ditetapkan, bertindak
jujur, mengerti mana yang salah dan benar, serta
mengetahui hak dan kewajiban.
Islam sudah mengharamkan seluruh hubungan usaha
atau bisnis yang di dalamnya terkandung kezaliman serta
mengharuskan terpenuhinya keadilan yang diterapkan
dalam perjanjian bisnis, kontrak-kontrak, dan hubungan.
Sifat keadilan atau keseimbangan dalam bisnis yakni saat
korporat dapat memposisikan seluruh hal pada tempatnya.
Terkait melakukan aktivitas dalam dunia bisnis, Islam
mewajibkan untuk berbuat adil yang diarahkan kepada hak
alam semesta, hak lingkungan sosial, dan hak orang lain.
Sehingga, keseimbangan sosial dan keseimbangan alam
harus senantiasa terjaga bersamaan dengan operasional
usaha bisnis dalam al- Quran Surat Huud ayat 85.
Hukum Islam memuat prinsip-prinsip universal yang
harus terus diperhatikan. Secra urut meliputi. tauhid,
keadilan, amarma‟rufnahimunkar, al-Hurriyah (kemerde-
kaan), al-Musawwa (persamaan), al-Ta‟awun (tolong
menolong), serta al-Tasamuh (Toleransi). Sehingga, keadilan
termasuk prinsip dalam hukum Islam.
Al-Quran menggunakan definisi yang tidak sama
untuk istilah atau kata yang memiliki sangkut-paut dengan
keadilan. Bahkan kata yang dimanfaatkan dalam
menunjukkan wawasan atau sisi keadilan juga tidak

6
1
senantiasa berakar dari kata „adl. Beberapa kata sinonim
semacam hukm, qisth, serta lainnya dipergunakan oleh al-
Quran dalam definisi keadilan. Sementara kata „adl dalam
berbagai bentuk penggunaan dan pengertiannya, kaitannya
yang langsung dengan segi keadilan tersebut („adl dalam
arti tebusan dan ta‟dilu, dalam arti mempersekutukan
Tuhan) boleh saja hilang.

5. Al-Ihsan
Ihsan yakni berbuat baik, tanpa terdapatnya suatu
kewajiban untuk menjalankan perbuatan itu. Ihsan dalam
sistem sosial merupakan perfection dan beauty. Bisnis yang
didasari dengan unsur ihsan dimaksudkan sebagai transaksi
yang baik, perilaku dan sikap yang baik, proses niat, dan
berusaha memberi keuntungan lebih pada stakeholders.
Apabila ditinjau dari sisi ajaran Ihsan, maka perbuatan
corporate social responsibility (CSR) tidak perlu mengharap
imbalan dari orang yang sudah dibantu. Terlebih lagi
apabila yang dibantu ialah masyarakat miskin yang dalam
segala aspek kehidupannya serba terbatas.
Islam sebatas menganjurkan dan menmerintahkan
perbuatan baik bagi kemanusiaan, supaya amal yang
manusia lakukan bisa memberikan nilai tambah serta
meningkatkan derajat manusia baik kelompok ataupun
individu. Implementasi corporate social responsibility (CSR)
yang penuh dengan semangat ihsan akan dimiliki saat
kelompok atau individu berkontribusi dengan semangat
berbuat serta ibadah sebab untuk mendapatkan ridho Allah
swt.

6. Manfaat
Konsep ihsan yang sudah diterangkan tersebut
seharusnya memenuhi unsur manfaat bagi kesejahteran
masyarakat (eksternal maupun internal perusahaan).
Perbankan pada dasarnya sudah memberi manfaat terkait
operasional yang beroperasi di bidang jasa yakni jasa

62
pembiayaan, penyimpanan, serta produk atau fasilitas
lainnya yang dibutuhkan oleh masyarakat. Konsep manfaat
dalam corporate social responsibility (CSR), bukan hanya
sebatas kegiatan ekonomi, akan tetapi lebih dari itu.
Pada dasarnya, perusahaan telah memberikan
manfaat terkait operasional yang bergerak dalam bidang
produksi yang sangat diperlukan masyarakat. Konsep
manfaat dalam corporate social responsibility (CSR), bukan
hanya sebatas kegiatan ekonomi, akan tetapi lebih dari itu.
Perusahaan sudah sepatutnya tidak statis dan memberikan
manfaat yang lebih luas, contohnya berhubungan dengan
bentuk philanthropi dalam aspek-aspek sosial semacam
pelestarian lingkungan, pemberdayaan kaum marginal,
kesehatan, dan pendidikan.

7. Amanah
Konsep amanah dalam usaha bisnis dalah itikad dan
niat yang perlu untuk diperhatikan yang berhubungan
dengan mengemudikan suatu perusahaam maupun
mengelola sumber daya (manusia dan alam) secara makro.
Entitas yang mengaplikasikan corporate social responsibility
(CSR), harus menjaga dan memahami amanah masyarakat
seperti contohnya menghindari perbuatan tidak terpuji
dalam tiap aktivitas bisnis dan menciptakan produk yang
berkualitas.
Perusahaan yang mengaplikasikan corporate social
responsibility (CSR), wajib untuk paham serta menjaga
amanah masyarakat. Contohnya menghindari perbuatan
tidak terpuji dalam tiap aktivitas bisnis dan menciptakan
produk yang berkualitas. Amanah dalam perusahaan bisa
dijalankan dengan amanah dalam pembayaran pajak, jujur
kepada konsumen, serta lainnya. Realisasi amanah dalam
skala makro bisa dengan melakukan perbaikan sosial.

6
3
Berdasarkan sudut pandang Islam, ada tiga bentuk
implementasi yang dominan terkait kebijakan perusahaan
dalam mengemban corporate social responsibility (CSR), yakni:
1. Corporate social responsibility (CSR) terhadap para pelaku
dalam perusahaan
Sebuah upaya perusahaan dalam membentuk image
dan reputasi yang baik dapat dilakukan dengan program
corporate social responsibility (CSR) atau tanggung jawab
sosial perusahaan. Secara umum kita berasumsi atau
berfikir bahwa perusahaan berorientasi untuk memperoleh
untung sebesar mungkin. Memang benar bahwa prioritas
utama perusahaan adalah mendapatkan untung sebsar-
besarnya dengan sumber daya yang seefisien mungkin.
Namun prioritas utama perusahaan bukan keuntungan saja,
akan tetapi reputasi yang baik dan eksistensi juga
merupakan sesuatu yang krusial yang dihararpkan
perusahaan. Perusahaan bertanggung jawab terhadap
berbagai pihak yang berkepentingan, di antaranya yakni
pemegang saham, konsumen, karyawan, dan pemerintah.
Secara keseluruhan bukan sebatas pertanggung jawaban
dalam bentuk finansial saja, namun juga dalam bentuk
lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Stakeholder meliputi pemilik atau investor, pemasok,
kreditor, masyarakat, pemerintah, karyawan, dan
pelanggan. Islam menunjang terciptanya hubungan
kemitraan antara para pelaku bisnis dengan para
stakeholders eksternal maupun internal perusahaan dalam
hal saling menguntungkan dan terkait kebaikan.
Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam al-Quran Surat
Al-Maidah ayat 2:

64
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar
kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu)
binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id,
dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang
mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan
keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah
menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan
janganlah sekali-kali kebencianmu kepada sesuatu kaum
karena mereka menghalang-halangi kamu dari
Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada
mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam
(mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-
menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan
bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat
berat siksa-Nya” (Al-Maidah:2).

2. Corporate social responsibility (CSR) terhadap lingkungan


alam.
Berdasarkan sudut pandang hukum Islam (fiqh),
tanggung jawab manusia terhadap lingkungan dan
pelestarian lingkungan sebenarnya telah lama
diperbincangkan. Akan tetapi, dalam literatur-literatur fiqh
dan tafsir, berbagai isu ini dikupas secara terpisah-pisah dan
generik, belum utuh dan spesifik. Kondisi tersebut bisa
dimaklumi sebab masyarakat pada masa itu belum
menghadapi krisis lingkungan seperti kondisi terjadi kini.
Ada banyak cara sebuah perusahaan dalam
melaksanakan program corporate social responsibility (CSR).
Seperti turun langsung dalam bantuan pendidikan,
mengajak masyarakat membuat kreativitas yang bisa
dikomersilkan, membantu masyarakat dalam pengelolaan
lingkungan seperti penanaman pohon, hingga
memaksimalkan bank sampah sesuai jenisnya, dan
sebagainya. Corporate social responsibility (CSR) diatur dalam
UU No. 40 Tahun 2007 terkait perseroan terbatas, tentang

6
5
kewajiban pemberian corporate social responsibility (CSR) ini
terbatas pada perusahaan atau perseroan yang aktivitas
usahanya berkaitan dan/atau di bidang sumber daya alam.
Adapun corporate social responsibility (CSR) khusus
lingkungan hidup diatur dalam UU No. 32 Tahun 2009
terkait Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan hidup
dimana menguraikan, semua orang yang menjalankan
kegiatan usaha memiliki kewajiban untuk:
a. Taat akan ketentuan mengenai kriteria baku
kerusakan lingkungan hidup atau mutu lingkungan hidup;
b. Menjaga kelangsungan fungsi lingkungan hidup;
c. Memberi informasi yang berkaitan dengan
pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup secara
tepat waktu, terbuka, akurat, dan benar.
Bagian utama yang harus diperhatikan juga terkait
corporate social responsibility (CSR) ialah lingkungan alam.
Lingkungan alam bisa nerwikid lingkungan alam abiotik
maupun biotik, baik yang tidak bisa diperbarui ataupun
yang dapat diperbarui. Fenomena perubahan musim,
kepunahan, teracuninya rantai makanan, pemanasan global,
dan hujan merupakan dampak dari tindakan yang tidak
bertanggung jawab. Oleh karenanya, korporat harus terlihat
dalam perbaikan lingkungan, selalu proaktif dan
mendukung pelestarian lingkungan, dan berlaku ramah
lingkungan. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam al-
Quran Surat Huud ayat 61:

Artinya: “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka


shaleh. Shaleh berkata: Hai kaumku, sembahlah Allah,
sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. dia Telah
menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu
pemakmurnya [726], Karena itu mohonlah ampunan-Nya,
Kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya

66
Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan
(doa hamba-Nya)” (Huud:61).

3. Corporate social responsibility (CSR) terhadap kesejahteraan


sosial secara umum.
Perusahaan bukan hanya bertanggung jawab kepada
pihak yang memiliki kepentingan, lingkungan alam, dan
usahanya saja, akan tetapi juga sepatutunya memperhatikan
kesejahteraan umum masyarakat. Islam senantiasa
menyuruh untuk berbuat dermawan kepada kaum
marginal, miskin, dna lemah. Diterangkan dalam Al-quran
Surat An-Nisa ayat 75, yaitu:

Artinya: “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan


Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki,
wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa:
Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekkah)
yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari
sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau”
(An-Nisa:75).

Islam sangat mendukung corporate social responsibility


(CSR) sebab sudah jelas bahwa bisnis memicu berbagai
masalah sosial, sehingga perusahaan bertanggung jawab
dalam menyelesaikan berbagai masalah sosial tersebut.
Menurut Beekum (2004), bisnis memmerlukan sumber daya
alam guna keberlangsungan usahanya, oleh karenanya
perusahaan memiliki tanggung jawab untuk
memeliharanya. Secara tidak langsung Islam menganggap
bisnis sebagai entitas yang kewajibannya terpisah dari
pemiliknya, terdapatnya corporate social responsibility (CSR)
akan dapat mengembangkan niat baik perusahaan itu.

6
7
C. Implementasi corporate social responsibility (CSR)
Keikutsertaan perusahaan dalam tanggung jawab moral
dan sosial bisa diimplementasikan dalam berbagai aktivitas
bisnis perusahaan. Ini ditujukan supaya tanggung jawab moral
dan sosial tersebut sungguh-sungguh terlaksana. Supaya bisa
dilaksanakan implementasi tersebut, maka perusahaan wajib
mengetahui suatu kondisi internal yang memungkinkan
terciptanya tanggung jawab moral dan sosial itu.
1. Pendekatan Corporate Social Responsibility (CSR)
Wibisono (2007) memaparkan, secara umum ada
empat model pola tanggung jawab sosial perusahaan yang
diaplikasikan di Indonesia yakni, mendukung atau
bergabung dalam suatu konsorsium, bermitra dengan pihak
lain, melalui organisasi atau yayasan sosial perusahaan, dan
pendekatan langsung. Tanggung jawab sosial perusahaan
apabila dilihat dari motivasinya dikelompokkan dalam
empat dimensi, meliputi: community development, corporate
community relations, corporate philanthropy, dan corporate
giving.
Corporate Social Responsibility (CSR) kerap
didefinisikan sebagai bentuk kegiatan donasi yang
dilakukan perusahaan atau sebatas perusahaan yang
mentaati aturan dan hukum yang berlaku (contohnya,
mentaati aturan seperti tidak memperkerjakan tenaga kerja
di bawah umur, mentaati standar upah minimum, serta
lainnya). Padahal sesungguhnya, ketaatan perusahaan
terhadap hukum dan kegiatan donasi (philanthropy) berbeda
dengan corporate social responsibility (CSR). Ketaatan
perusahaan terhadap hukum dan kegiatan donasi sebatas
syarat minimum supaya perusahaan bisa diterima
masyarakat dan supaya bisa beroperasi.
Bisa diketahui bahwa kegiatan philanthrophy ialah
kegiatan yang sifatnya charity (amal). Kegiatan amal sendiri
tidak membutuhkan komitmen yang berlanjut dari
perusahaan. Berakhirnya tanggung jawab perusahaan pada
suatu kegiatan philanthropy bersamaan dengan berakhirnya

68
kegiatan amal yang dilakukannya. Bukan hanya sebatas
sumbangan perusahaan atau philanthropy saja, corporate
social responsibility (CSR) yakni suatu komitmen dari semua
stakeholders perusahaan yang secara bersamaan untuk
bertanggung jawab terhadap berbagai permasalahan sosial.
Sehingga, corporate social responsibility (CSR) tidaklah
sumbangan dari seorang maupun beberapa stakeholder
perusahaan (contohnya, berupaya menyisihkan keuntungan
dari pemegang saham untuk suatu kegiatan sosial), namun
hal ini adalah tanggungan dari semua stakeholders.

2. Tahapan Perumusan Kegiatan Tanggung Jawab Sosial


Perusahaan
Menurut Kotler (2005) terdapat beberapa tahapan
yang dilakukan para perencana program dan manajer untuk
merumuskan keputusan yang tepat untuk menjalankan
tanggung jawab sosial perusahaan, yang meliputi:
a. Memilih suatu masalah sosial
Ini adalah tahap awal yang krusial untuk dijalankan
guna memutuskan satu dari banyaknya permasalahan
sosial yang hendak didukung. Keputusan awal ini
berperngaruh besar terhadap hasil dan program
selanjutnya.
b. Berinisiatif untuk membentuk kegiatan yang
menyangkut permasalahan sosial
Saat permasalahan sosial sudah ditentukan, manajer
akan ditantang untuk menemukan inisiatif yang hendak
diakukannya untuk memperhatikan permasalahan sosial
itu.
c. Mengembangkan dan melaksanakan rencana program
Terkait tahap ini, keputusan yang diambil mencakup
hal-hal penting terkait siapakah mitra yang akan dipih
dan apakah pelaksanaan kegiatan harus bermitra dengan
pihak lainnya ataukah tidah.

6
9
d. Evaluasi hasil
Pelaksanaan pengukuran secara berkesinambungan
dalam kegiatan investasi finansial dan marketing bagi
perusahaan mempunyai suatu catatan yang panjang,
dengan data base yang menyediakan anlisis
pengembalian investasi, pengalaman yang cukup lama
didalam membangun sistem acuan yang canggih, serta
melakukan perbandingan terhadap aktivitas saat ini
dengan standar dan target.

D. Prinsip Islamic Corporate Social Responsibility (CSR)


Prinsip diartikan sebagai aturan dasar, awal, dan dasar.
Juhaya (1995) memberikan definisi komprehensif dari prinsip
yaitu awal yang merupakan titik almabda (keberangkatan).
Prinsip secara terminologi merupakan kebenaran menyeluruh
yang secara alami termuat dalam hukum Islam serta adalah
titik mula pembangunannya. Hal tersebut ialah suatu bentuk
hukum dasar serta menciptakan seluruh cabang. Sehingga,
didapat kesimpulan bahwa prinsip ialah fundamental atau
dasar yang dimanfaatkan guna mendasari praktek kerja.
Pelaksanaan Islamic corporate social responsibility (CSR)
menurut Yusuf dan Bahari (2011) bisa dikelompokkan dalam
tiga dimensi tanggung jawab hubungan, meliputi:
a. Hubungan tanggung jawab terhadap Allah.
b. Hubungan tanggung jawab terhadap manusia.
c. Hubungan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Pelaksanaan Islamic Corporate Social Responsibility (CSR)
adalah perwujudan dari tiga hubungan yang kuat serta satu
sama lainnya saling terkait. Guna memaksimalkan tiga
hubungan tersebut, maka dalam pelaksanaan Islamic corporate
social responsibility (CSR) harus mengacu kepada berbagai
prinsip keesaan Allah, persaudaraan atau solidaritas, keadilan,
serta khalifah. Empat prinsip tersebut ditujukan guna
mewujudkan prinsip kelima yakni menciptakan kemaslahatan
atau manfaat publik untuk alam dan manusia.

70
Mewujudkan kemaslahatan dalam perusahaan
merupakan tujuan pokok dalam menjalankan seluruh kegiatan
binis dimana mencakup juga pelaksanaan Islamis corporate social
responsibility (CSR). Maka dari hal tersebut, seluruh
pelaksanaan corporate social responsibility (CSR) dalam
perusahaan haruslah meninggalkan larangan apapun yang
dicegah dalam Islam serta mengacu kepada aturan halal yang
digariskan oleh Islam. Seluruh prinsip tersebut diaplikasikan
dengan sebuah tujuan yakni pengabdian yang sempurna
kepada Allah SWT. Seluruh prinsip tersebut akan diuraikan
dengan singkat sebagai berikut:
1. Keesaan (Tauhid)
Menurut fitrahnya, agama manusia adalah tauhid.
Allah menciptakan manusia dengan naluri beragama, yakni
agama tauhid. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS Ar-
Ruum [30] ayat 30:

Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus


kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia
telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada
perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus,
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Menurut Islam, tujuan dari syariah yaitu hanya


percaya pada satu tuhan, yakni Allah Swt, iman atau
kepercayaan merupakan sesuatu yang krusial untuk
kesejahteraan manusia (falah). Iman kepada Allah adalah
landasan yang tepat untuk mendasari hubungan bersama
orang lain, dimana ini memungkinkan individu untuk
bersikap peduli dan menghormati. Iman kepada Allah juga
memberikan penapis moral, yang dibutuhkan dalam
distribusi dan alokasi sumber daya berdasar kepada
keadilan sosial-ekonomi dan persaudaraan. Selain itu, iman

7
1
dalam Islam juga merupakan motivasi untuk distribusi
kekayaan yang adil dan pemenuhan kebutuhan.

2. Kekhalifahan
Menurut Chapra (1992), prinsip kekhalifahan
merupakan penurunan dari prinsip tauhid (keesaan) yang
menerangkan perilaku dan tujuan manusia untuk mengatur
keadilan dan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari
iman (kepercayaan). Manusia bukan hanya menjadi hamba
yang taat kepada Allah SWT, namun juga diharuskan untuk
menjalankan ibadah umum yang lain, seluruh aktivitas
yang mengembangkan potensi serta membawa
kesejahteraan alam dan manusia sesuai akan suatu kondisi,
dengan niat yang benar serta memastikan bahwa seluruh
tindakan tersebut tidak bertentangan dengan aturan
syariah. Selain itu, Al Mawdudi (1967) memberikan
penafsiran kata “khalifah” sebagai “wakil Allah di bumi”.
Manusia sebagai khalifah dipercayai untuk mengelola alam
yang melibatkan hubungan antar manusia dan hubungan
antara manusia dengan makhluk ciptaan Allah (tumbuhan,
hewan, dan lingkungan). Manusia dibanding dengan segala
makhluk ciptaan Allah adalah yang tertinggi derajatnya.
Maka dari hal tersebut, Allah memilih manusia untuk
mejadi pemimpin di muka bumi. Sebagaimana Allah
berfirman
dalam QS AlAn‟am ayat 165:

Artinya: “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-


penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu
atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk
mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.
Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan
sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang”.

72
3. Keadilan
Menurut Salim (1994), “al-Adl” berarti “al-inshaf wa
al-sawiyyat” yang berarti: mempersamakan dan berada di
pertengahan. Aladl secara etimologis bermakna al-istiwa
(keadaan lurus) dan juga berarti: moderat, sederhana,
sesuai, sama, seimbang, adil, dan jujur (Asse, 2010). Allah
menciptakan segala sesuatu dengan seimbang dan
sempurna, seperti yang difirmankan dalam QS AlMulk [67]
ayat 3 dan 4:

ْ َّ ْ ْ ً ‫زصجال‬ ‫ذالٌ ل َخ‬


َّ
‫س لَْه‬ َ ِْ‫ف دوَبَفَرِنم نمحِْزال قلخَ َ ٍِفِ يزَ ر ُبمٍبقبجط عج‬
ََ‫داوبمس‬ َ َْ‫عجرب‬َِ ٍ َََ ‫ق‬
َ ِ
ْ َ‫ُزسح ىُهو بًئسبخَ ُزصجال ََُْكإل ْتل‬
‫قن‬ ْ ُ ُ ْ
‫ك زصجال عجرا مثرىطُف ْنم‬
ْ
َّ ‫نَُْرز‬
‫يزَ ر‬
َِ ََ ِ ََ ِ ِ َِ َ َ َ ِِ َّ ِ َ
ٍ
Artinya: “Dialah yang menciptakan tujuh langit berlapis-
lapis. Tidakkah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang
pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah
sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat. Kemudian
ulangi pandangan (mu) sekali lagi (dan) sekali lagi, niscaya
pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan
cacat dan ia (pandanganmu) dalam keadaan letih” (Q.S. al-
Mulk [67]: 3-4)

Seluruhnya mungkin untuk Allah sebab Maha Kuasa


Allah yang dengan sempurna bisa melaksanakan tujuan dan
kehendak-Nya, yakni kebaikan, kasih, dan cinta
pada ,makhluk ciptaannya. Manusia sebagai khalifah
sepatutnya mengaplikasikan berbagai sifat tersebut serta
memenuhi kewajibannya lewat keadilan dan tanggung
jawab sosial dengan maksud guna menjaga keselarasan
dalam masyarakat (Mohammed, 2007). Allah
memerintahkan manusia supay berlaku adil, dimana
perintah ini termuat dalam QS An-Nisaa‟ [4] ayat 58. Allah
dalam ayat ini memerintahkan bahwa dalam menetapkan
hukum di antara manusia, manusia harus berlaku adil, jika
manusia berlaku tidak adil, maka akan pincang dan terjadi
diskriminasi dalam kehidupan masyarakat.

73
‫َ ُْمت َْمن َح ْهَيَب‬ َ ‫ىىإ‬ َ ‫َ او ُّدَُؤ ت‬ ْ َ ‫ِنَّإ‬
‫إو‬
َ ‫ا ِذ‬ ‫َٰ ِ اَ ِهيْه أ‬
ِ ْ ‫تاَوا َم اْل‬ ‫ْن أ ُْمم ُر ُم َأي‬
‫ال َّل‬
‫ِهبِۗ ال َّل ِنَّإَ ناَ َم‬ ُُ ‫ال َّل ِنَّإَ ا َّمعو‬ ۚ‫ِهْ ْدَع‬ ُ َ َ َّ
‫ِ ْمن ظ‬ ْ‫اىُمنح‬ ‫سا ىىاِ ْن‬
‫َِعي‬ ‫ىاِب‬ ‫ت‬ ‫أ‬
‫صب اًعي‬ َِ ً‫ا ري‬
‫َِمس‬

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu


menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,
dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di
antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.
Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-
baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha
Mendengar lagi Maha Melihat”.

4. Persaudaraan
Persaudaraan dalam Islam umum disebut “ukhuwah”
dimana artinya “memperhatikan”. Munculnya perhatian ini
sebab tidak terjadi perbedaan di antara semua pihak yang
bersaudara, oleh karenanya kemudian makna ini berkembang,
sehingga didapatkan definisi ukhuwah yaitu setiap keserasian
dan persamaan dengan pihak lain, baik persamaan dari segi
persusuan maupun keturunan, dari sisi bapak, ibu, ataupun
keduanya (Shihab, 1996). Membentuk hubungan persaudaraan
antar sesama muslim dalam Islam merupakan sesuatu yang
penting. Persaudaraan yang dimaksud ini adalah menurut
ikatan agama dan iman dan juga menurut ikatan geneologi.
Baik dalam AlQuran atau al-Hadits banyak nash yang
menekankan bahwa antar sesama muslim adalah bersaudara.
Seperti firman Allah yang termuat dalam surat Al-Hujuraat
[49] ayat 10 berikut:

Artinya: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya


bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan)
antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah,
supaya kamu mendapat rahmat”.

74
E. Kriteria dan Instrumen Islamic Corporate Social Responsibility (CSR)
Guna memaksimalkan implementasi Islamic Corporate Social Responsibility corporate social responsibility (CSR)
berdasar kepada empat prinsip di atas, Yusuf dan Bahari (2011) memaparkan bahwa dalammengukur tanggung
jawab sosial Islam dalam perusahaan terdapat enam kriteria dan 32 instrumen yang dijabarkan di bawah ini:

Kriteria Item Prinsip CSR Islam


1. Sumber dana perusahaan yang halal Keesaan, kekalifahan, keadilan
Syariah 2. Akad yang sesuai dengan koridor syariah Keesaan
Complian 3. Menghindari laba non halal Keesaan, kekalifahan, keadilan
4. Investasi dalam sektor halal Keesaan, kekalifahan
1. Pelayanan yang baik Persaudaraan, keadilan
Kesetaraan 2. Adanya nilai-nilai persaudaraan Persaudaraan, keadilan
3. Menghindari Diskriminasi Keadilan
4. Memiliki kesempatan yang sama Persaudaraan, keadilan, penciptaan maslahah
1. Kepercayaan Keesaan
2. Memenuhi sesuai dengan batasan dan tanggung jawab Keadilan
Tanggung 3. Bekerja sesuai dengan batasan dan tanggung jawab Keadilan
4. Akuntabilitas Keesaan, penciptaan maslahah, Persaudaraan
jawab dalam 5. Persaingan adil Keesaan, penciptaan maslahah
bekerja 6. Integritas dalam bekerja Keesaan, keadilan
7. Mengurangi dampak negaif dari investasi Keesaan, penciptaan maslahah
8. Optimal dalam menggunakan waktu dan kemampuan Keesaan, penciptaan maslahah
9. Transparasi Keesaan

75
1. Tunjangan dan asuransi Keadilan, kekhalifahan, persaudaraan
Jaminan 2. Pelatihan dan pendidikan Kekalifahan
3. Gaji yang layak Keadilan, persaudaraan
Kesejahteraan
4. Memperoleh hak yang sesuai Keadilan, persaudaraan
5. Tempat kerja yang aman dan nyaman Kekhalifahan , persaudaraan
1. Penggunaan bahan daur ulang untuk memenuhi Penciptaan maslahah, kekhalifahan
kebutuhan perusahaan
Jaminan
Kelestarian 2. Mendidik karyawan untuk peduli dan merawat Keesaan, kekhalifahan
lingkungan
lingkungan
3. Terlibat aktif dalam melindungi lingkungan Keesaan, kekhalifahan
4. Memastikan investasi yang tidak merusak lingkungan Keesaan, kekhalifahan
Amal untuk 1. Pemilihan investor untuk mendukung kegiatan Penciptaan maslahah, kekhalifahan
kesejahteraan sosial
pelestarian
2. Mengurangi masalah sosial Penciptaan maslahah, Persaudaraan
3. Berperan untuk kesejahteraan bukan untuk mencari Keesaan, kekhalifahan, persaudaraan,
keuntungan semata Penciptaan maslahah
4. Mendukung dan membantu mendanai kesejahteraan Penciptaan maslahah, Persaudaraan

76
F. Nilai Dasar Pengembangan Corporate Social Responsibility
(CSR) dalam Perspektif Islam
Menurut Bustami dkk (2018) ada tujuh prinsip dasar dari
nilai-nilai islam yang digunakan sebagai dasar pengembangan
tanggung sosial perusahaan menurut perspektif islam. Tujuh
prinsip tersebut adalah:
1. Prinsip Niat yang Beretika
Menurut Islam, ukuran ketidakbaikan dan kebaikan
bersifat mutlak, dimana mengacu pada Alquran dan hadis.
Ditinjau dari sisi ajaran yang paling dasar, etika Islam
termasuk etika teologis. Hamzah Ya‟qub memaparkan,
buruk baiknya perbuatan manusia didasarkan atas ajaran
Tuhan dimana ini adalah yang menjadi ukuran etika
teologis. Sudah dijelaskan dalam kitab suci, bahwa seluruh
perbuatan yang dilarang Tuhan adalah buruk dan seluruh
perbuatan yang diperintahkan Tuhan adalah baik. Etika
Islam mengajarkan manusia untuk tidak dendam, dengki,
iri, dan mengajarkan untuk menjalin kerja sama serta tolong
menolong (Qardhawi, 1997).
Dalam konteks muamalah duniawiyah, Amalia (2013)
berpendapat bahwa etika bisnis Islam juga dapat dipahami
sebagai serangkaian perilaku etis bisnis (akhlaq al Islamiyah)
yang mengedepankan haram dan halal serta dibungkus
dengan nilai-nilai syariah. Sehingga, perilaku yang etis
tersebut meruapkan perilaku yang menjauhi larangan Allah
dan mengikuti perintah. Etika bisnis dalam Islam telah
menjadi pembahasan dalam berbagai sumber dan literatur,
dimana yang utama ialah Alquran dan hadis. Para pelaku
bisnis dalam berbagai kegiatannya diharapkan untuk
bertindak dengan cara yang etis. Kejujuran, keadilan, dan
kepercayaan merupakan unsur-unsur pokok dalam
menggapai keberhasilan bisnis di masa yang akan datang.
Menurut Amalia, berbisnis secara Islam memiliki
karakteristik yang khas dibanding bisnis dalam perspektif
umum. Hal ini disebabkan karena dalam berbisnis, seorang
muslim harus patuh dan tunduk terhadap landasan ajaran

7
7
Alquran, as-Sunnah, Qiyas (ijtihad) al-Ijma dan
memperhatikan berbagai batasan yang termuat di
dalamnya. Terdapat ayat-ayat dalam Alquran yang
menguraikan terkait bisnis yang beretika, dua contoh di
antaranya sebagai berikut. Surah An-Nisa‟ Ayat 29 yang
artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu
saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil
(tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas
dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu
membunuh dirimu. Sungguh Allah adalah Maha Penyayang
kepadamu”.
Islam membebaskan umatnya untuk menjalankan
bisnis (usaha). Akan tetapi dalam Islam terdapat prinsip-
prinsip dasar yang menjadi etika yang wajib seorang
muslim patuhi saat sedang dan akan menjalankan usaha.
Prinsip-prinsip dasar ini, meliputi:
a. Bagi seorang muslim, mencari rezeki (berbisnis) adalah
kewajiban dan bagian dari ibadah.
b. Bersikap amanah dan jujur dalam menjalankan usaha.
c. Sumber rezeki (bisnis) yang dicari harus halal.
d. Seluruh proses (bisnis) yang dijalankan dengan maksud
mencari rezeki harus dijadikan sarana untuk
mendekatkan diri kepada Allah Swt.
e. Setiap amanah diserahkan kepada ahlinya (meritokrasi),
bukan kepada orang sembarangan, meskipun itu
saudara sendiri.
f. Tidak merasa cepat puas diri dengan yang telah
diusahakan dan diperoleh.
g. Persaingan bisnis dijadikan sebagai sarana untuk
berprestasi secara sehat (fastabiqul al-khairat) dan fair
(adil).
h. Usaha atau bisnis yang sedang atau hendak dijalankan
jangan sampai merusakn lingkungan hidup.

Prinsip Niat Etis dapat dipraktikkan pada tiga titik aksi


sosial:

78
a. Meluruskan niat harus dipraktikkan pada permulaan
awal sebuah bisnis; permulaan sebuah proyek dari
berbagai proyek, awal pertemuan, awal hari di tempat
kerja. Ini dapat diimplementasikan sebagai SOP
(Standard Operating Procedure) dalam bentuk doa, atau
pengingat lisan, atau pengumuman melalui loudspeaker,
pertemuan stand-up atau agenda pertemuan. Ini dapat
membawa pola pikir positif dan sisi positif dari tindakan
kepada orang-orang dari awal.
b. Meluruskan niat setidaknya di tengah perjalanan, jika
tidak selama selang waktu sebelum tanggal penyelesaian
atau selama berbagai jeda sebelum mencapai tujuan. Ini
berarti bahwa selama tinjauan apa pun; tinjauan tengah
hari, mingguan, bulanan, kuartalan, niat etis harus
ditinjau kembali, direfleksikan dan disesuaikan, seperti
roda mobil yang membutuhkan keseimbangan dan
penataan kembali dari waktu ke waktu. Periode atau
acara temporal dapat berada dalam pertemuan, hari
kerja, masa hidup proyek/kerja atau selama
pengunduran perencanaan strategis. Analisis post-
mortem secara harfiah berarti analisis yang dilakukan
setelah kematian (seperti yang dilakukan oleh dokter).
Organisasi beserta orang yang ada di dalamnya
seharusnya tidak menunggu sampai „kematian‟ atau
„akhir yang tragis‟ sebelum menilai kembali dan
menyelaraskan niat dan tindakan; maka itulah kekuatan
dan keindahan di tengahtengah proses perjalanan
meluruskan niat.
c. Titik refleksi ketiga dan tentu saja tidak kalah penting
adalah pada akhir atau pada penundaan. Proyek,
pertemuan, dan operasi sehari-hari tidak boleh berhenti
tiba-tiba tanpa kembali ke hati dan meninjau kembali
niat etis, mengapa kita melakukannya? Setiap hari, hal
itu harus dilakukan dekat dengan akhir hari, misalnya
selama doa asar. Apa pun kegiatan atau konteksnya, itu
merupakan cara yang efektif dan bermakna untuk

7
9
memberikan penutupan yang baik untuk tugas-tugas
sederhana dan strategis, sambil mengevaluasi aspek-
aspek lain dari tugas dan masalahmasalah di sekitarnya
ketika diperlukan. Ini juga bisa menjadi ritual yang
memberdayakan secara emosional dan spiritual untuk
menunda sebelum memulai lagi.

2. Prinsip Penaungan Khalifah


Manusia ditunjuk oleh Allah sebagai khalifah,
dimuka bumi, karena hanya manusia yang layak mengelola
alam, menjadi pemimpin, dengan bermacam potensi dan
kelebihannya seperti intuisi dan akal. Manusia didaulat
menjadi khalifah bukan hanya dibekali dengan kemampuan
intelektual saja. Namun juga agar mereka sungguh-sungguh
dapat mengemban tanggung jawab kepemimpinannya di
dunia ini serta supaya seluruh kelebihannya tidak
dipergunakan untuk sesuatu yang sifatnya nagatif dan
merusak, semacam apa yang menjadi kekhawatiran para
malaikat. Maka dari hal tersebut manusia dikontrak, diikat
Allah secara tauhid lewat kesediaannya menerima tanggung
jawab dan amanah saat makhluk lainnya seperti sungai,
gunung, bmi, dan langit menolak amanah tersebut
(Haromain, 2016).
Corporate social responsibility (CSR) atau tanggung
jawab sosial perusahaan merupakan salah satu bentuk
pengamalan dari kesadaran sebagai khalifah dalam dunia
ekonomi. Maksudnya, sebagai seorang pebisnis bukan
hanya sekadar hanya mencari dan menumpuk keutungan
semata. Tapi ia juga harus memiliki kesadaran dan
tanggung jawab berbagi keuntungannya untuk memelihara
kesatuan sosial, kemajuan budaya, serta kelestarian alam
dimana bisnis tersebut berada. Tanggung jawab sebagai
Abdullah (hamba atau pelayan Allah) dan sebagai khalifah
adalah pusat dari corporate social responsibility (CSR) Islam.
Dalam konteks ini, ada empat tanggung jawab yang wajib
pemilik bisnis jalankan, yaitu tanggung jawab terhadap

80
produk usaha, tempat bekerja, komunitas atau masyarakat,
dan kelestarian lingkungan hidup/alam.

3. Prinsip Kejujuran dan Amanah


Nilai-nilai kejujuran dapat melahirkan rasa tanggung
jawab dengan sepenuh hati untuk mengemban tugas, fungsi
dan peran secara ideal, yang kemudian disebut sebagai
amanah. Kejujuran yang melekat pada diri seseorang
melahirkan rasa amanah, gabungan antara keduanya
menimbulkan kepercayaan orang lain atau masyarakat
secara luas. Kalau boleh kita rumuskan; kejujuran (honesty) +
amanah (trustworthiness) = public trust/reputation.
Etika Bisnis yang dilakukan Nabi Muhammad SAW
terhadap klien atau konsumennya (Amalia, 2014), antara
lain:
a. Bahwa salah satu prinsip utama dalam berbisnis yaitu
kejujuran. Kejujuran dalam ajaran Islam ialah
persyaratan utama dalam aktivitas bisnis. Kejujuran
dalam aktivitas bisnis sangat dianjurkan Rasulullah.
Sebagaimana dalam sabdanya:

Artinya: “Muslim satu dengan muslim lainnya itu


bersaudara, maka seorang muslim tidak boleh menjual
barang yang ada cacat kepada saudaranya kecuali
menjelaskan kepadanya” (HR. Ibnu Majah).

b. Pentingnya kesadaran sosial dalam aktivitas bisnis.


Menurut Islam, para pelaku bisnis bukan sekadar
menumpuk keuntungan seperti yang diterapkan dalam
sistem ekonomi kapitalisme. Bisnis menurut jaran islam
harus juga mengarah pada sikap menolong orang lain
(ta‟awun) sebagai implikasi sosial dari aktivitas bisnis.
Maka saling bekerjasama serta tolong menolong dalam
berdagang (yang sesuai nilai-nilai Islam) merupakan

8
1
bagian dari kebaikan. Seperti firman Allah Swt di bawah
ini:

Artinya: “... Dan tolong-menolonglah kamu dalam


(mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-
menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan
bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah
amat berat siksa-Nya” (QS. AlMaidah: 2).

c. Tidak bersumpah palsu. Rasulullah melarang dengan


tegas para pelaku bisnis yang dalam bertransaksi bisnis
melakukan sumpah palsu. Sabda Rasulullah dalam
sebuah hadis riwayat Bukhari “Dengan melakukan
sumpah palsu, barang-barang memang terjual, tetapi
hasilnya tidak berkah”. Selain sabda Rasulullah dalam
hadis riwayat Abu Dzar juga menjelaskan akan ada azab
yang pedih untuk orang-orang yang dalam berbisnis
melakukan sumpah palsu, serta Allah di hari kiamat
tidak akan peduli terhadap orang-orang ini.

Artinya: “Tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh


Allah pada hari kiamat, Allah tidak akan melihat mereka
tidak juga mensucikan mereka dan bagi mereka adzab
yang pedih.” Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam
bersabda demikian tiga kali. Abu Dzarr berkata, “Merugi
sekali, siapa mereka wahai Rasulullah?” Beliau bersabda,
“Musbil (orang yang memakai kain melebihi mata
kakinya), dan orang yang selalu mengungkit

82
pemberiannya, dan orang yang melariskan dagangannya
dengan sumpah palsu” (HR. Muslim).

d. Timbangan, ukuran, dan takaran yang benar. Timbangan


yang tepat dan benar dalam perdagangan haruslah
sungguh-sungguh diutamakan. Sebagaimana Allah
berfirman:

Artinya: “Celakalah bagi orang-orang yang curang


(dalam menakar dan menimbang)! (yaitu) orang-orang
yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka
minta dicukupkan, dan apabila mereka menakar atau
menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.
Tidakkah mereka itu mengira, bahwa sesungguhnya
mereka akan dibangkitkan” (QS. Al-Mutaffifin: 1-4).

e. Komoditi bisnis yang dijual merupakan barang yang


halal dan suci, serta bukan haram, semacam ekstasi,
minuman keras, anjing, babi, dan sejenisnya. Sabda Nabi
Muhammad Saw terkait ini:

Artinya: “Sesungguhnya, Allah dan Rasul-Nya


mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi, dan
patung.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa
pendapatmu mengenai jual beli lemak bangkai,
mengingat lemak bangkai itu dipakai untuk menambal
perahu, meminyaki kulit, dan dijadikan minyak untuk
penerangan?” Nabi shallallahu „alaihi wasallam
bersabda, “Tidak boleh! Jual beli lemak bangkai itu
haram.” Kemudian, Rasulullah shallallahu „alaihi wa

8
3
sallam bersabda, “Semoga Allah melaknat Yahudi.
Sesungguhnya, tatkala Allah mengharamkan lemak
bangkai, mereka mencairkannya lalu menjual minyak
dari lemak bangkai tersebut, kemudian mereka
memakan hasil penjualannya.” (HR. Bukhari)

f. Pelaksaan bisnis secara sukarela serta tanpa paksaan (an


taraadhin). Sebagaimana Allah berfirman:

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah


kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan
yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan
yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.
Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh Allah
adalah Maha Penyayang kepadamu” (QS. AnNisa: 29).

g. Segera melunasi kredit yang menjadi kewajibannya.


Apabila memiliki hutang sebaiknya berupaya
melunasinya sesegera mungkin ketika berkemampuan
untuk mengembalikannya. Karena orang yang padahal
sudah mampu namun menunda pelunasan hutangnya,
maka orang-orang ini temasuk golongan yang zalim.
Sementara itu, Rasulullah dalam sabdanya memuji orang
muslim yang perhatian terhadap hutangnya:

“Sebaik-baik kamu, adalah orang yang paling segera


membayar hutangnya”. (HR. Hakim)

h. Memberi toleransi tenggang waktu jika kreditor


(penghutang) belum bisa membayar. Sebagaimana sabda
Nabi Muhammad Saw:

84
Artinya: “Barangsiapa yang ingin dinaungi Allah dengan
naungan-Nya (pada hari kiamat), maka hendaklah ia
menangguhkan waktu pelunasan hutang bagi orang
yang sedang kesulitan, atau hendaklah ia menggugurkan
hutangnya”. (HR. Ibnu Majah)

4. Prinsip Halalan Thayyiban


Prinsip halalan thayyiban dalam corporate social
responsibility (CSR) Islam tidak sebatas pada makanan
namun juga produk serta layanan lain dan proses internal
dan transaksi eksternal. Selanjutnya, untuk organisasi yang
tidak berada dalam industri makanan, produk dan layanan
mereka mungkin juga sesuai syariah. Ini termasuk saham
dan produk dan layanan keuangan lainnya. Oleh karena itu,
jika bisnis memiliki transaksi keuangan dan investasi,
mereka dapat mengubah organisasi mereka menjadi lebih
selaras dengan corporate social responsibility (CSR) Islam
dengan mengadopsi dan beralih ke produk, layanan, dan
transaksi yang sesuai syariah. Inti dari hal ini tentu saja
adalah larangan terhadap riba.
Corporate social responsibility (CSR) menurut Islam,
prinsip etis halalan thayyiban juga merupakan mekanisme
pencegahan. Ini mengarahkan organisasi menjauh dari
jebakan kecil dan menengah setan, yang bisa menjauhkan
rida Allah. Pilar etika ini melindungi organisasi dengan baik
yang mana halalan sebagai pertahanan teknis melawan
kejahatan serta perisai paradigma thayyiban untuk meraih
kebaikan.

5. Prinsip Keadilan
Corporate social responsibility (CSR) adalah bagian yang
tidak bisa dipisahkan dalam bisnis sebagai kewajiban
perusahaan. Dalam mempraktikkan corporate social
responsibility (CSR), perusahaan atau pengusaha harus
menjadikan prinsip adil (atau keadilan) sebagai landasan
dalam merumuskan program-program corporate social

8
5
responsibility (CSR). Hal ini bertujuan, agar dalam
merealisasikan agenda corporate social responsibility (CSR),
sebuah bisnis tetap dalam bingkai bisnis yang Islami.

6. Prinsip Otentisitas dan Kredibilitas


Kontekstualisasi Otentisitas dalam binis islam
dilakukan dengan cara dokumentasi, verfikasi dan
sertifikasi. Di dalam bisnis, dokumentasi baik itu dalam hal
proses produksi, marketing, distribusi hingga konsumsi
menjadi penting. Dokumentasi perlu dilakukan bukan
hanya dalam bisnis yang memperdagangkan barang saja,
tapi juga dalam hal jasa. Dokumentasi mampu
meningkatkan kredibilitas. Tanpa adanya dokumentasi
yang baik lagi tertib, akan menimbulkan kesulitan dalam
proses pengawasan dan pengambilan keputusan lebih
lanjut. Melalui dokumentasi yang rapi berdasarkan
kenyataan, tentu akan melahirkan kepercayaan. Selanjutnya,
hal ini dapat memengaruhi kualitas produk yang dihasilkan
sebuah usaha. Dokumentasi yang baik menjadi sangat
penting bila dikaitkan dengan persoalan transaksi dalam
distribusi. Seorang pebisnis senantiasa harus melakukan
pencatatan atau pembukuan yang akurat ketika melakukan
transaksi, termasuk di dalamnya etika melakukan pinjam
meminjam. Dalam konteks ini Islam sangat jelas secara
memerintahkan umatnya untuk senantiasa melakukan
pembukuan dengan baik dalam berbisnis.
Spirit verifikasi yang terdapat dalam keilmuan hadis
bisa dijadikan sebagai dasar pijakan bagi pengembangan.
Verifikasi dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan
kualitas dalam rangkaian produksi sebuah produk. Metode
verifikasi bisa dilakukan dalam setiap tahapan, baik itu
pada tahap pasca produksi, produksi, maupun pra
produksi. Hal yang sama juga bisa dilakukan dalam proses
distribusi dan marketing. Dalam masa pra produksi
misalnya, verifikasi terhadap bahan-bahan sebuah produk
harus dilakukan untuk menguji kualitas dan originalitas

86
sebuah produk. Proses verifikasi memegang peran sangat
strategis untuk memastikan bahwa proses yang dilakukan
pada setiap tahapan produksi berjalan lancar dan sesuai
harapan. Singkatnya verifikasi dilakukan dalam rangka
untuk menjaga kendali mutu sebuah kinerja dan produk.
Melalui verifikasi inilah produk yang otentik akan tetap
terjaga dan berkelanjutan.
Untuk mendapatkan kepercayaan publik secara luas
dan memantapkan kredibilitas, pebisnis harus mendapatkan
sertifikasi terkait produk yang mereka miliki. Dalam
konteks bisnis makanan dan minuman misalnya, sebuah
perusahaan harus memiliki sertifikasi halal dari lembaga
yang terkait. Tanpa adanya sertifikasi halal tersebut,
masyarakat yang mayoritas beragama Islam bisa merasa
ragu saat membeli produk tersebut. Sebaliknya, bila produk-
produk makanan dan minuman tersebut mempunyai label
halal, makan konsumen merasa lebih aman dan yakin
terhadap produk yang mereka konsumsi.

7. Prinsip Derma
Corporate social responsibility (CSR) ialah kewajiban
yang wajib pebisnis muslim laksanakan dalam menjalankan
usahanya. Secara substansi, corporate social responsibility
(CSR) dilandasi oleh semangat untuk berbuat baik kepada
orang lain dengan berbagi kemaslahatan bersama. Dalam
bahasa lain, aktivitas ini sering disebut sebagai filantropi.
Istilah filantropi dimaknai sebagai rasa welas asih kepada
sesama manusia yang diejawantahkan dalam bentuk
pemberian derma kepada orang lain. Kalau kita telusuri,
praktik kedermawanan untuk saling berbagi dan memberi
dalam tradisi Islam sudah berjalan cukup lama, yaitu
melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Melalui keempat
skema tersebut, kaum muslim diperintahkan untuk
melakukan distribusi kekayaan mereka kepada kelompok
sosial di dalam masyarakat termasuk kepada yang tidak
beruntung. Bukan hanya sekadar membantu, tapi juga ikut

8
7
melakukan perubahan kesejahteraan bagi masyarakat yang
papa. Melalui zakat, infak, sedekah dan wakaf, kaum
muslim didorong untuk menjadi kaum yang kuat secara
ekonomi. Agar mereka bisa membantu dalam berbagi dan
menolong sesama manusia.

88
BAB VI
ISLAMIC SOCIAL REPORTING

A. Pengertian
Islamic Social Reporting ialah sebuah standar pelaporan
dengan basisnya syariah dimana tujuannya yakni mengetahui
kinerja sosial perusahaan. Prinsip dan konsep syariah yang
terdapat dalam Islamic Social Reporting ini mampu memberikan
hasil sejumlah aspek, misalnya aspek material, spiritual dan
moral. Hal ini dalam perspektif Islam menjadi fokus utama
Islamic Social Reporting terhadap kegiatan sosial perusahaan.
yang dilaporkan, corporate social responsiblity (CSR ) ialah bentuk
konsep ajaran ihsan yang direalisasikan sebagai puncak atas
etika mulia yang diajarkan. Ihsan menjadi perbuatan kebaikan
yang dilakukan dalam rangka mendapat ridho Allah SWT
dengan pemberian manfaat bagi banyak orang. Corporate social
responsibity (CSR )pun menjadi implikasi agama Islam yang
diajarkan, Allah ialah pemilik mutlak (haqiqiyah) sementara
manusia memiliki keterbatasan yakni sebagai pemilik
sementara (temporer) dengan fungsinya mendapatkan amanah.
Mengacu Bayu Tri Cahya Islamic Social Reporting ialah
pelaporan sosial dimana bukan hanya secara holistik terlibat
dengan harapan dari masyarakat terkait peranan perusahan
namun dalam perspektif spiritual juga. Islamic Social Reporting
menjadi acuan pelaporan kinerja sosial perusahaan yang
memiliki basis syariah.
Islam ialah agama yang memiliki aturan pada
keseluruhan aspek kehidupan manusia dengan lengkap. Dalam
akuntabilitas perspektif ekonomi Islam dibentuk atas Konsep
etika Islam yakni tanggung jawab sosial yang dilaporkan
perusahaan dengan mengacu prinsip Syariah. Pada sistem
konvensional, fokus pelaporan tanggung jawab sosial
perusahaan hanya pada aspek moral dan material, padahal
aspek spiritual pun penting untuk dimasukkan sebab para
pembuat keputusan muslim berekspektasi agar perusahaan
mampu memberikan informasi terbaru secara sukarela dalam

8
9
memenuhi keperluan mereka secara spiritual. Sehingga
diperlukan kerangka khusus guna pelaporan
pertanggungjawaban sosial yang sejalan dengan prinsip Islam.

B. Konsep Islamic Social Reporting


Konsep Islamic Social Reporting ini lahir tahun 2002
dengan penggagasnya yakni Hannifa & Hudaib. Konsep ini
dituangkan dalam kajian yang judulnya “Social Reporting
Disclosure: An Islamic Perspective”. Setelah adanya konsep dan
fenomena Islamic Social Reporting tersebut, para peneliti lain
mulai dan ikut serta melakukan pengembangan. Hingga saat
ini, konsep Islamic Social Reporting masih terus dikembangkan,
terutama di Malaysia.
Menurut agama Islam manusia memiliki tanggung
jawab terhadap Allah dalam rangka pelaksanaan semua
aktivitas sehari-hari dan seluruh aktivitas guna tercapainya
Ridho Allah SWT. Tanggung jawab dan hubungan antara
manusia dengan Allah SWT akan memunculkan kontrak
relijius (divine contract) dimana bukan sekadar kontrak sosial
namun lebih kuat lagi. Islam berprinsip pertanggung jawaban
secara berimbang dengan macam-macam ruang lingkup dan
bentuknya. Antar masyarakat dengan sesamnya, anatar
individu dan sosialm anatar individu dan keluarga, dan antara
jiwa dan raga. Tanggung jawab sosial mengarah pada suatu
perusahaan yang memiliki kewajiban una memberika
kontribusi dan melindungi masyarakat di daerah perusahaan
berada. Tedapat 3 domain tanggug jawab yang harus diemban
perusahaan:
1. Hubungan perusahaan dengan pekerja
a. Keputusan Perekrutan, Promosi, dan lain-lain bagi
pekerja.
Islam memberikan dorongan agar setiap muslim
diperlakukan dengan adil. Misalnya dalam promosi,
perekrutan kita untuk memperlakukan setiap muslim
secara adil. Sebagai contoh, dalam perekrutan, promosi
dan keputusan lainnya yang mana harus dilakukan
penilaian dari manajer terkait kinerja sesorang terhadap

90
orang lain, kemudian kejujurannya, keadilannya menjadi
hal yang wajib diperhatikan.
b. Upah yang adil
Bagi pekerja maupun majika pada organisasi Islam,
perencanaan upayh harus dilakukan dengan adil. Ketika
hari dibalasnya amal, Rasulullah SAW akan menjadi
saksi bagi orang yang dengan memberikan pekerjaan
dan mampu menyelesaikan bagi buruh namun tidak
diberikan upah kepadanya.
c. Penghargaan terhadap keyakinan pekerja
Secara umum prinsip keesaan atau tauhid berlaku pada
seluruh aspek hubungan dan pekerjaanya. Pengusaha
Muslim tidak diperbolehkan memperlakukan
perkerjaannya seolah-olah Islam tidak berlaku selama
waktu kerja. Misalnya, pemberian waktu pekerja Muslim
guna melaksanakan shalat, tidak boleh dipaksakan guna
bertindak yang bertentangan dengan mora islam, harus
mendapat waktu istirahat bila mereka tidak dapat
bekerja atau sakit, dan lain-lain. Guna penegakan
keseimbangan dan keadilan, keyakinan para pekerja
non-muslim pun harus dihargai.
d. Hak Pribadi
Jika seorang pekerja memiliki masalah fisik yang
membuatnya tidak dapat mengerjakan tugas terentu atau
jika seorang pekerja telah berbuat kesalahan di masa lalu,
sang majikan tidak boleh menyiarkan berita tersebut. Hal
ini akan melanggar hak pribadi sang pekerja.

2. Hubungan pekerja dengan perusahaan


Segala persoalan etis mewarnai hubungan antara
perusahaan dan pekerjanya, khusunya yang berhubungan
dengan persoalan, konflik kepentingan, kerahasiaan, dan
kejujuran. Oleh karenanya seorang pekerja tidak boleh
melakukan penggelapan uang dan apalagi membocorkan
rahasia perusahaan kepada orang luar. Praktek tidak etis
lainnya apabila para manajer memberikan tambahan harga

9
1
palsu guna pelayanan dan makanan dlam pembukuan
keuanan perusahaan mereka. Sejumlah bagian dari mereka
menipu sebab dibayar rendah dan ingin memperoleh upah
secara adil. Ketiksaat lainnya, hal ini dilakukan hanya
karena ketamakkan. Bagi para pekerja Muslim, Allah SWT
memberikan peringatan yang jelas di dalam Al-Quran
suarah Al A‟raaf ayat 33 ; “Katakanlah: Tuhanku hanya
mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak
maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar
hak manusia tanpa alasan yang benar” Pekerja Muslim yang
menyadari makna ayat diatas seharusnya tidak berbuat
sesuatu dengan cara-cara yang tidak etis.

3. Hubungan perusahaan dengan pelaku usaha


lain a. Distributor
Kaitanya dengan distributor, etika bisnis
mengatakan individu harus tidak mengambil
keuntungan berdasar kekuasaan atau bagian yang lebih
besar dan bernegosiasi dengan harga yang adil. Guna
menghindar dari tejadinya kesalahpahaman ke
depannya, Allah SWT sudah memberi perintah untuk
secara tertulis membuat perjanjian kewajiban bisnis.
Selain itu, dalam islam juga melarang adanya transaksi
gharar antara perusahaan dengan pemasoknya.
Pedagang tidak diperbolehkan mencampuri urusan
sistem pasar bebas lewat suatu bentuk perantaraan.
Kemungkinan perantaraan seperti ini akan memicu
inflasi harga.
b. Pembeli atau Konsumen
Seharusnya pembeli menerima barang dengan
harga yang wajar dan dalam kondisi baik. Para pembeli
juga harus diberitahykan apabila ada kekurangan pada
barang. Islam sendiri ketika berhubungan dengan
pembeli atau konsumen tidak memperbolehkan praktik
di bawah ini:
1) Dilarang riba atau mengambil bunga

92
2) Membeli barang curian
3) Bersumpah palsu untuk mendukung suatu penjualan
4) Menjual barang rusak atau palsu
5) Manipulasi harga dan penimbunan
6) Penggunaan timbanagan atau alat ukur yang tidak
tepat
c. Pesaing
Walaupun negara barat menyatakan dirinya sebagai
kawasan berdasar pada prinsip persaingan pasar,
berbagai publikasi bisnis akan menunjukkan bahwa
suatu bisnis akan berusaha menang serta mengalahkan
kompetitornya. Melalui mengalahkan para
kompetitornya, selanjutnya suatu perusahaan akan bisa
mendapatkan hasil ekonomi melampaui rata rata lewat
berbagai praktik monopoli harga dan penimbunan.

Nilai-nilai Islam mempunyai hubungan yang selaras


serta berkontribusi pada konsep tanggung jawab sosial yang
hingga kini masih berkembang. Perspektif islam menerangkan,
tanggung jawab berakar dari prinsip dalam Alquran. Menurut
FarookTiga prinsip yang menjadi dasar dari terbntuknya
tanggung jawab sosial dalam Islam, yakni:
1. Perwakilan
Manusia adalah khalifah di muka bumi ini yang mana
adalah wakil allah di bumi. Prinsip perwakilan
menerangkan, manusia merupakan perwakilan dari Allah di
bumi. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah
ayat 30.

َُْ َ َُ ًَ ِ ِ َْ ِ ٌ ِ َ ِِّ ِ ْ َُّ َ َ ْ


‫وعجتأ‬ َ‫اىىاق ۖةفييخ‬ ْ ‫ف ض ر اْل‬ ‫ي‬ ‫ةَنئلَميى وعاج يوإ‬ َ ِ ‫ها ق لَبر‬ ‫ذَِإ و‬
َ
َُ ‫َدمحب س‬ ‫ك‬ ُ َ ُ
‫ءا ِّمدىا لفسيو اهيف ُد‬ ْ ‫م ْه‬ ‫اهيف‬
ُ ‫َِّدقوو‬ ِْ َِ ‫حبسو‬
ُ َِّ ‫ُحوو‬
ْ‫َ َ َ ه‬ ِ ََْ َ ِ ِ ‫س‬ ‫ف‬
‫ي‬ُ َ َِ
َُ ْ َ َ َُ َ ِّ َ َ َ
‫ها ق ي و إ ميْعأ ا م َل عَت نىَمي‬ ۖ‫َل‬
‫ى‬
Artinya:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di
muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak

9
3
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan
membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,
padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau
dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu
ketahui”.

Prinsip perwakilan menerangkan konsep yang tidak


berbeda yakni manusia dipercayai untuk menjaga serta
mengelola semua yang ada di muka bumi. Sebagaimana
yang termuat dalam surat al-An`âm: 165.

Artinya:
“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di
bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas
sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu
tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya
Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Dari kedua ayat tersebut diatas telah disebut secara


nyata bahwa manusia diciptakan dimuka bumi sebagai
wakil dan khalifah. Manusia sebagai wakil allah
bertanggung jawab kerhadap kelestarian alam,
keseimbangan ekosistem, dan hubungan social
kemasyarakatan dan harus taat dan tunduk terhadap
peraturan-peraturan allah SWT.

2. Tanggung jawab terhadap Allah Swt


Prinsip ini menjelaskan, bahwa semua orang adi hari
pembalasan kan dimintai pertanggungjawabannya atas
segala yang diperbuat di dunia. Tanggung jawab terhadap
Allah ialah landasan untuk seluruh tindakan yang
dilakukan umat muslim, termasuk juga organisasi Islam.

94
Ayat-ayat Alquran yang menjelaskan prinsip ini di
antaranya yakni surat an-Nisa [4]: 86 dan surat alZalzalah
[99]: 7.

3. Anjuran kepada yang ma‟ruf dan mencegah yang mungkar


Tanggung jawab ini mencakup seluruh aspek dalam
kehidupan umat muslim. Terkait prinsip ini termuat dalam
surat at-Taubah [9]: 71.

C. Kerangka
Kerangka syariah Islamic Social Reporting pertama kali
mulai diperkenalkan oleh Ross Haniffa, dan oleh Erlane K
Ghani, Azlan Md Thani, dan Rohana Othman, dikembangkan
lebih lanjut di Malaysia, serta hingga kini juga masih terus
dikembangkan oleh para peneliti. Haniffa menjelaskan dalam
pelaporan sosial konvensional , ada banyak keterbatasan, oleh
karenanya dibuatlah rumusan kerangka konseptual islamic
social reporting yang berlandaskan kepada ketetapan syariah.
Islamic Social Reporting tersebut bukan sebatas membantu
pengambil keputusan bagi pihak muslim akan tetapi juga
membantu perusahaan dalam memenuhi kewajibannya kepada
Allah serta masyarakat yang mana ini menjadi dasar dari
terbentuknya islamic social reporting yang menyeluruh.
Kerangka syariah tersebut dalam pelaporan islamic social
reporting akan menghasilkan aspek-aspek spiritual, moral, dan
material. Ross Hanifa memaparkan kerangka islamic social
reporting, sebagai berikut:

9
5
Tauhid dalam kerangka syariah adalah dasar dari ajaran
Islam. Tauhid secara bahasa memiliki asal kata dari ahad,
dimana bermakna esa, tunggal, atau satu. Sementara tauhid
secara istilah bermakna yakin bahwa Allah Swt adalah esa dan
tidak ada sekutu bagi-Nya dalam rububiyah (ketuhanan), asma
(namanama), uluhiyah (Ibadah), serta berbagai sifat-Nya.
Melalui tauhid memperlihatkann bahwa alam semesta ini
adalah satu serta kesatuan segala tatanan dan isinya
lingkungan, sosial, politik, maupun ekonomi di alam semesta
ini diikat oleh satu inti yang dinamakan Tauhid (Q.S.
Thaha/20: 53-54)
Syahadat adalah wujud dari. Syahadat yakni pengakuan
terhadap keesaan Allah Swt., yang dibuktikan dengan amal
perbuatan nyata, dibenarkan dengan lisan, dan diyakini dalam
hati. Syahadat termasuk rukun Islam serta syahada ialah syarat
utama orang memeluk agama Islam. Seseorang yang mengucap
syahadat secara otomatis akan mendapat konsekuensi dari
tauhid berwujud keharusan untuk tunduk akan seluruh
hukum Allah Swt., yang bersumber dari Alquran, fikih, hadist,
serta

96
berbagai sumber yang lain seperti ijma, ijtihad, dan qias,. ini
Hukum syariah memiliki tujuan yakni guna mencapai dunia
kebahagiaan di dan di akhirat serta menegakkan
keadilan sosial.
Hukum syariah sendiri akan menjadi landasan dari
terciptanya konsep etika dalam Islam. Etika dalam Islam secara
umum mencakup sepuluh etika yang di dalamnya memuat
aturan mengenai hubungan manusia dengan Allah Swt.,
manusia dengan alam semesta dan manusia dengan manusia.
Konsep- konsep etika ini meliputi: faith (iman); piety (taqwa),
trust (amanah), workship (ibadah), vicegerent (khilafah),
community (ummah), akhirah day of reckoning (keyakinan akan
datangnya hari kiamat), justice (adl) dan tyrnny (zulm), allowable
(halal) dan forbidden (haram), serta moderation (I'tidal) dan
islamic social reportingaf (extravagance).
Etika akan menjadi dasar bagi manusia untuk
menjalankan kegiatan sosial, ekonomi, dan politik. Islamic Social
Reporting termuat dalam lingkup kegiatan ekonomi, terutama
dalam aspek akuntansi. Oleh karenanya, Islamic Social Reporting
termasuk kerangka syariah. Al-Qur‟an menekankan akuntansi
dalam surat Al-Baqarah ayat 282 dimana memuat penjelasan
terkait fungsi-fungsi pencatatan, manfaat, dan dasarnya. “Hai
orang-orang yang beriman, jika kamu bermuamalah tidak
secara tunai sampai waktu tertentu, buatlah secara tertulis........”
Ayat tersebut juga menerangkan mengenai prinsip akuntansi
syariah yang meliputi: pertama prinsip pertanggungjawaban,
dalam akuntansi dan bisnis berimplikasi bahwa orat yang
terlibat dalam praktik bisnis harus senantiasa
mempertanggungjawabkan sesuatu yang sudah diperbuat dan
diamanatkan terhadap berbagai pihak terkait, serta ummnya
berbentuk laporan akuntansi. Selanjutnya, prinsip keadilan,
berhubungan dengan praktek moral, dimana adalah faktor
yang begitu dominan serta sifatnya cenderung fundamental
(serta senantiasa mengacu kepada nilai-nilai moral dan
syariah/etika). Terakhir, prinsip kebenaran, Al-Qur‟an
menerangkan bahwa kebenaran tidak boleh dicampuradukkan

9
7
dengan kebathilan. Penjelasan dalam Al-Qur‟an juga
memaparkan bahwa instrument, alat, atau ukuran guna
menetapkan sebuah kebenaran tidak didasarkan kepada nafsu.

D. Indeks Islamic Social Reporting


Fitria dan Hartanti memaparkan, Indeks Islamic Social
Reporting ialah indeks yang berisikan beberapa item standard
corporate social responsibility (CSR) yang ditetapkan accounting
and auditing organization for islamic financial institutions (AAOIFI)
dimana selanjutnya oleh para peneliti dikembangkan lebih
lanjut mengenai beberapa item corporate social responsibility
(CSR) yang oleh suatu entitas Islam seharusnya diungkapkan.
Indeks islamic social reporting ialah beberapa item
pengungkapan dimana dimanfaatkan menjadi indikator dalam
pelaporan kinerja sosial institusi bisnis syariah. Lima tema
pengungkapan Indeks Islamic Social Reporting yang dibuat oleh
Haniffa (2002), yakni:
a. Tema Lingkungan Hidup,
b. Tema Masyarakat,
c. Tema Karyawan,
d. Tema Produk dan Jasa, dan
e. Tema Pendanaan dan Investasi.
Selanjutnya Othman et al (2009) mengembangkan-nya
dengan memberikan tambahan satu tema pengungkapan yakni
tema tata kelola perusahaan. Masing-masing tema
pengungkapan mempunyai sub-tema sebagai indikator
pengungkapan temanya. Penelitian-penelitian sebelumnya
terkait indeks islamic Social reporting mempunyai
ketidaksamaan mengenai jumlah sub-tema yang dipakai,
dimana bergantung kepada objek penelitiannya.
1. Pendanaan dan Investasi (Finance & Investment)
Tema ini memiliki konsep dasar yang meliputi wajib,
halal dan haram, dan tauhid. Haniffa (2002) memaparkan
informasi-informasi yang diungkap dalam tema ini yakni
aktivitas pengelolaan zakat dan praktik operasional yang
mengandung gharar dan riba. Sakti (2007) memaparkan,

98
riba secara literatur ialah tambahan. Maknanya setiap
tambahan atas sebuah pinjaman baik yang terjadi dalam
transaksi perdagangan ataupun utang-piutang semuanya
merupakan riba. Islam melarang kegiatan yang di dalamnya
terkandung unsur riba. Bentuk riba di dunia perbankan
salah satunya ialah beban dan pendapatan bunga.
Islam juga melarang kegiatan yang di dalamnya
terkandung unsur gharar. Gharar yakni kondisi di mana
terjadi incomplete information sebab terdapatnya uncertainty to
both parties. Empat hal yang bisa terjadi dalam praktik
gharar yakni, waktu penyerahan, harga, kualitas, dan
kuantitas. Transaksi modern yang di dalamnya memuat riba
salah satunya ialah transaksi lease and purchace, sebab
terdapat ketidakjelasan antara transaksi beli atau sewa yang
berlaku (Karim, 2004). Bentuk lainnya dari gharar meliputi,
short selling (menjual melampaui jumlah yang dibeli atau
dimiliki), arbitrage (jual-beli valuta asing bukan transaksi
komersial), future on delivery trading (margin trading),
melakukan transaksi option, warrant, furue, capital lease, pure
swap, serta transaksi derivatif yang lain (Arifin,2009).
Entitas syariah juga harus mengungkapkan aspek
lainnya yaitu praktik pengelolaan dan pembayaran zakat.
Kewajiban dari entitas syariah yakni untuk mengeluarkan
zakat dari keuntungan yang didapatnya, ini dalam fikh
kontemporer dikenal dengan sebutan zakat perusahaan.
Berdasar pada AAOIFI, zakat bagi entitas syariah dihitung
dengan memakai dua metode. Metode pertama, metode
kekayaan bersih (net worth). Maknanya, semua kekayaan
perusahaan, dimana mencakup keuntungan dan modal
harus dihitung untuk dizakatkan. Metode kedua, yakni
keuntungan dalam setahun (Hakim,2011). Bank syariah
selain itu juga memiliki kewajiban untuk melaporkan
penggunaan dan sumber dana zakat selama periode dalam
laporan keuangan. Apabila bank syariah belum secara
penuh menjalankan fungsi zakat, maka tetap harus
menyajikan laporan zakat (PSAK 101, 2011).

9
9
Othman et al (2009) juga menambahkan
pengungkapan yang lain meliputi: value added statement
(laporan nilai tambah), current value balance sheet (neraca
dengan nilai saat ini), dan kebijakan atas keterlambatan
pembayaran piutang dan kebangkrutan klien. guna
mengurangi resiko pembiayaan terkait kebijakan atas
keterlambatan pembayaran piutang dan kebangkrutan
klien, Bank Indonesia mewajibkan bank untuk melakukan
pencadangan penghapusan bagi berbagai aktiva produktif
yang berkemungkinan bermasalah. Praktik semacam itu
dinamakan pencadangan penghapusan piutang tak tertagih
(PPAP). Mengacu pada fatwa DSN MUI diterangkan,
pencadangan harus diambil dari dana (keuntungan/modal)
bank. Sementara AAOIFI memberikan pandangan yang
berbeda yakni pencadangan disisihkan dari laba yang
didapat bank sebelum dibagikan kepada nasabah.
Pengungkapan yang lain yakni value added statement
(laporan nilai tambah) dan current value balance sheet (neraca
menggunakan nilai saat ini). Nurhayati dan Wasilah (2009)
memaparkan, metode current value balance sheet
dimanfaatkan guna mengatasi kelemahan metode historical
cost dimana metode ini kurang relevan dengan perhitungan
zakat yang dalam perhitungannya mengharuskan
perhitungan kekayaan dengan nilai sekarang. Sementara
value added statement sesuai pemaparan dari Harahap (2008)
memiliki fungsi untuk menginformasikan mengenai nilai
tambah yang didapat perusahaan dalam suatu periode serta
nilai tambah tersebut disalurkan kepada pihak mana. Akan
tetapi, dalam penelitian ini tidak menggunakan dua sub-
tema tersebut sebab belum diaplikasikan di Indonesia.
Aspek lainnya yang perlu untuk diungkap dalam
tema ini sesuai pemaparan dari Haniffa dan Hudaib (2007)
meliputi, proyek pembiayaan yang dijalankan dan jenis
investasi yang dilakukan oleh bank syariah. Secara umum,
Aspek ini cukup diungkap.

100
2. Produk dan Jasa (Products and Services)
Apek-aspek yang perlu untuk diungkap dalam tema
ini sesuai pemaparan dari Othman et al (2009) meliputi
pelayanan atas keluhan konsumen dan status kehalalan
produk yang digunakan. Status kehalalan jasa dan produk
baru yang digunakan dalam konteks perbankan syariah
yakni lewat opini DPS untuk setiap jasa dan produk baru.
DPS (Dewan Pengawas Syariah) ialah badan
independen yang ditempatkan oleh DSN (Dewan Syariah
Nasional) dalam bank syariah. DPS sendiri harus
beranggotakan yang meliputi pakar-pakar dibidang syariah
muamalah dan pengetahuan umum bidang perbankan. DPS
mempunyai tugas utama mengawasi aktivitas usaha yang
dijalankan bank seupaya tidak melanggar prinsip dan
ketentuan syariah yang sudah difatwakan DSN. Fungsi dari
DPS juga sebagai mediator antara DSN dan bank dalam
melakukan komunikasi terkait pengembangan produk
terbaru dari bank syariah. Maka dari hal tersebut, tiap
produk bank syariah yang baru wajib disetujui oleh DPS
terlebih dahulu (Wiroso,2009). Bagi para pemangku
kepentingan muslim, hal ini penting guna melihat apakah
produk bank syariah terbebas dari segala sesuatu yang
dilarang oleh syariat.
Bukan hanya hal tersebut, pelayanan atas keluhan
nasabah juga harus diprioritaskan bank syariah dengan
maksud guna menjaga kepercayaan nasabah. Kini hampir
semua bisnis memprioritaskan aspek pelayanan untuk
nasabah atau konsumennya. Alasannya, sebab apabila
pelayanannya baik, akan berpengaruh terhadap tingkat
loyalitas nasabah.
Haniffa dan Hudaib (2007) memaparkan, beberapa
hal yang harus diungkapkan bank syariah yakni akad yang
melandasi produk tersebut dan definisi atau glossary setiap
produk. Diperlukan informasi mengenai definisi akad
tersebut supaya tidak sulit dipahami oleh pengguna

101
informasi, mengingat bahwa akad-akad dalam bank syariah
memakai istilah yang bagi masyarakat masih asing.

3. Karyawan (Employees)
Tema ini didasari oleh konsep etika amanah dan
keadilan. Othman dan Thani (2010) dan Haniffa (2002)
menjelaskan, masyarakat muslim melalui berbagai
informasi yang diungkapkan ingin mengetahui apakah para
karyawan perusahaan diperlakukan dengan wajar dan adil.
Menurut Haniffa (2002) dan Othman et al (2009), informasi-
informasi yang berhubungan dengan karyawan di
antaranya adalah pendidikan dan pelatihan karyawan,
tunjangan untuk karyawan, hari libur, dan jam kerja.
Othman et al (2009) juga menambahkan aspek
lainnya, meliputi: waktu atau kegiatan keagamaan untuk
karyawan; tempat ibadah yang memadai; karyawan dari
kelompok khusus seperti korban narkoba atau cacat fisik;
keterlibatan karyawan dalam beberapa kajian perusahaan;
kesehatan dan keselamatan kerja karyawan; kesamaan
peluang karir untuk semua karyawan; dan kebijakan
remunerasi untuk karyawan. Beberapa aspek lainnya juga
ditambahkan Haniffa dan Hudaib (2007) meliputi jumlah
karyawan yang dipekerjakan dan kesejahteraan karyawan.

4. Masyarakat (Community Involvement)


Tema ini didasari oleh konsep „adl, amanah, dan
ummah. Konsep ini menekankan terhadap pentingnya
saling meringankan beban dan saling berbagi dalam
masyarakat. Islam menghimbau umatnya agar saling
tolong-menolong. Wujud saling tolong-menolong dan
berbagi bagi bank syariah bisa dilaksanakan dengan qard,
wakaf, dan sedekah. Pihak yang menerima dan jumlah
bantuan harus termuat dalam laporan tahuanan bank
syariah. Ini adalah fungsi bank syariah yang mengacu pada
Undang-Undang dan Syariat.

102
Penelitian ini menggunakan beberapa aspek untuk
mengungkap tema masyarakat yang meliputi: pinjaman
kebajikan, wakaf, dan sedekah (Haniffa,2002). Selain itu,
Othman et al (2009) juga mengembangkan aspek lainnya di
antaranya yakni: dukungan terhadap berbagai kegiatan
agama, pendidikan, budaya, olahraga, hiburan, dan
kesehatan; kegiatan amal atau sosial; kepedulian terhadap
anak-anak; peningkatan kualitas hidup bagi masyarakat
miskin; pengembangan generasi muda; pemberdayaan kerja
para lulusan sekolah atau mahasiswa berupa magang;
pemberian beasiswa pendidikan; dan sukarelawan dari
kalangan karyawan.

5. Lingkungan Hidup (Environment)


Tema ini didasari oleh konsep akhirah, khilafah,
i‟tidal, dan mizan. Keempat konsep ini menekankan
terhadao prinsip tanggung jawab, kesederhanaan, dan
keseimbangan dalam menjaga lingkungan. Ajaran dalam
Islam yaitu menghimbau umatnya untuk terus melestarikan,
memelihara, dan menjaga bumi. Bumi dan segala isisnya
Allah sediakan untuk dikelola manusia dan tidak boleh
membuat kerusakan atasnya. Akan tetapi, sifat rakut
manusia sudah menjadikan lingkungan ini rusak.
Sebagaimana firman Allah:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan
karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan
kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar
mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Q.S Ar Ruum: 41).

Beberapa informasi yang diungkap dalam tema


lingkungan meliputi: sistem manajemen lingkungan;
penghargaan di bidang lingkungan hidup; pendidikan
mengenai lingkungan hidup; tidak membuat polusi
lingkungan hidup; dan konservasi lingkungan hidup
(Haniffa, 2002; Othman et al, 2009; Haniffa dan Hudaib,
2007).

103
6. Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance)
Tema ini didasari oleh konsep khilafah. Sebagaimana
Allah berfirman, yakni:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat:
"Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di
muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami
Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan
Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui
apa yang tidak kamu ketahui” (Q.S Al Baqarah:30).

Islamic social reporting memuat tema tata kelola


perusahaan, di mana ini ditambahkan oleh Othman et al
(2009). Tema tersebut tidak dapat dipisahkan dari
perusahaan untuk memastikan pengawasan terhadap
berbagai aspek syaraiah perusahaan. Corporate governance
secara formal bisa diartikan sebagai sistem kontrol, proses,
dan hak yang secara menyeluruh yang ditetapkan secara
eksternal dan internal atas manajemen suatu entitas bisnis
yang bertujuan guna memberikan perlindungan terhadap
segala kepentingan stakeholder. Muhammad (2005)
memaparkan, bagi perbankan syariah corporate governance
mempunyai cakupan yang lebih luas, sebab berkewajiban
untuk mentaati serangkaian aturan yang khas yakni
harapan kaum muslim dan hukum syariat.
Beberapa informasi yang diungkap dalam tema tata
kelola perusahaan meliputi: kebijakan anti terorisme;
kebijakan anti korupsi; struktur kepemilikan saham; laporan
perkara hukum; laporan pendapatan dan penggunaan dana
nonhalal; kebijakan remunerasi direksi, DPS, dan komisari;
laporan kinerja direksi, DPS, dan komisaris; rincian nama
dan profil komisaris, DPS, dan direksi; dan status
kepatuhan terhadap syariah.

104
E. Rumus dan Pengukuran Islamic Social Reporting
Perusahaan dalam mengukur Islamic social reporting
dapat menggunakan indeks Islamic Social Reporting dimana
dalam konsep tersebut mengacu kepada metode content analysis
(analisis isi). Sebenarnya, apakah content analysis itu? serta
apakah yang dianalisis? Content analysis (analisis isi) yakni
sebuah metode menggunakan teknik observasi dimana
tujuannya guna melakukan analisis terhadap pesan (isi) yang
termuat dalam suatu dokumen. Analisis untuk pengungkapan
Islamic Social Reporting yakni dengan memanfaatkan laporan
tahunan perusahaan. Alasan penggunaan ini sebab di
dalamnya memuat segala macam informasi yang diperlukan
untuk mengungkap Islamic social reporting dari suatu
perusahaan. Langkah dalam melaksanakan content analysis
yakni dengan menilai (scoring) dengan menyesuaikan indeks
Islamic Social Reporting. Terdapat enam indikator dalam indeks
Islamic social reporting yang di dalamnya memuat 48 item
pernyataan. Pemberian nilainya yaitu 0 untuk item yang tidak
diungkapkan serta 1 untuk item yang disebut/diungkapkan.

Indikator 1 PENDANAAN DAN INVESTASI


1 Proyek pembiayaan (secara umum)
2 Kegiatan investasi (secara umum)
3 Kebijakan atas pembayaran terunda dan
penghapusan piutang tak tertagih
4 Zakat (Jumlah dan penerimaan xzakatnya)
5 Kegiatan yang mengandung ketidakjelasan (gharar)
6 Kegiatan yang mengandung riba
Indikator 2 PRODUK DAN JASA
1 Pelayanan atas keluhan nasabah
2 Glossary/definisi setiap produk
3 Persetujuan dewan pengawas syariah untuk suatu
produk
Indikator 3 KARYAWAN
1 Komposisi karyawan
2 Jam kerja karyawan
3 Kesamaan peluang bagi seluruh

10
5
karyawan/keterlibatan karyawan
4 Pendidikan dan pelatihan karyawan
5 Remunerasi karyawan
6 Rasio gaji/Tunjangan karyawan
7 Apresiasi terhadap karyawan berprestasi
Indikator 4 MASYARAKAT
1 Menyokong kegiatan sosial
kemasyarakatan/kesehatan/olahraga
2 Kepedulian terhadap anak-anak (yatim piatu)
3 Peningkatan kualitas hidup masyarakat
4 Pengembangan generasi muda
5 Program Pendidikan
6 Pemberdayaan kerja para lulusan sekolah/kuliah
7 Zakat, sumbangan, atau sukarelawan dari kalangan
karyawan & Nasabah
8 Pinjaman untuk kebaikan(Qard Hasan)
9 Wakaf
10 Pemberian Donasi
Indikator 5 LINGKUNGAN
1 Penghargaan/serifikasi lingkungan hidup
2 Pendidikan mengenai lingkungan hidup
3 Kegiatan mengurangi efek pemanasan global
4 Konservasi lingkungan hidup
5 Sistem manajemen lingkungan
Indikator 5 TATA KELOLA PERUSAHAAN
1 Status kepatuhan terhadap syariah

F. Tujuan Islamic Social Reporting


Penerapan Islamic social reporting memiliki tujuan-tujuan
yang menjadi fokus utamanya, seperti pelaksanaan Islamic
Social Reporting adalah bentuk dan sikap akuntabilitas terhadap
Allah SWT dan lingkungan sosial. Pelaksanaan Islamic social
reporting juga diharapkan dapat menjadikan transparansi
dalam menjalankan usaha atau bisnis meningkat, misalnya
memberikan perhatikan tersendiri untuk memenuhi kebutuhan
investor muslim dalam mengambil keputusan.
Bentuk Akuntabilitas Islamic Social Reporting dijabarkan
antara lain yaitu;

106
1) Memenuhi hak-hak Allah Swt dan lingkungan sosial
2) Menjalankan aktivitas bisnis yang
berkesinambungan khususnya secara ekologis
3) Pekerjaan dijadikan sebagai bentuk ibadah
4) Secara wajar dalam mengejar profit sesuai
akan prinsip Islam
5) Dalam meraihtujuan usaha bisnis dilakukan
dengan cara yang baik
6) Menyediakan produk halal dan baik

Bentuk transparansi islamic social reporting dijabarkan


dalam penyajian informasi yang relevan terkait kebijakan
mengenai yang haram dan halal untuk dilakukan, kebijakan
penggunaan sumber daya dan lingkungan, kebijakan
pembiayaan dan investasi, kebijakan karyawan, dan hubungan
dengan masyarakat.

107
BAB VII
DISCLOUSURE ISLAMIC FINANCIAL REPORTING

A. Peyajian Laporan Keuangan


Laporan keuangan syariah di atur dalam PSAK nomor
101. PSAK 101 di amandemen terakhir pada tahun 2019. PSAK
101 menjelaskan karakteristiknya laporan keuangan syariah
secara umum meliputi:
1. Penyajiannya wajar serta ketaatan pada SAK
2. Penggabungan serta Materialitas;
3. Dasar akrual;
4. Frekuensi pelaporan;
5. Saling hapus;
6. Konsistensi Penyajian; serta
7. Informasi komparatif
PSAK 101 pun menjabarkan isi serta strukturnya laporan
keuangan syariah, yang meliputi:
a. Laporan Posisi Keuangan
b. Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain
c. Laporan Perubahan Ekuitas
d. Laporan Arus Kas
e. Catatan atas Laporan Keuangan
Dalam mempermudah pemakai untuk
mengimplementasikan ketetapan penyajian tersebut, dalam
PSAK 101 disertai contohnya laporan keuangan amil, entitas
asuransi syariah, serta bank syariah.

B. Akuntansi Keuangan Syariah


Akuntansi syariah bisa dijabarkan dengan susunan
katanya yakni akuntansi serta syariah. Akuntansi yakni suatu
kegiatan mengidentifikasi transaksi dimana selanjutnya disertai
aktivitas mencatat, menggolongkan, juga mengikhtisarkan
transaksi itu sehingga dihasilkan laporan keuangan guna
menentukan keputusan. Syariah yakni peraturan yang Allah
SWT tentukan supaya ditaati umatnya ketika melaksanakan
semua kegiatan pada kehidupannya dalam dunia. Akuntansi

108
pada bahasa Arab dinamakan Muhasabah dimana asalnya
yakni melalui kata wazan, muhabasah, hasiba, ataupun hasaba,
kata lainnya yakni hisabah, hasban, hasaba yang artinya
menghisab, mendata, mengkalkulasikan, memperhitungkan,
ataupun menimbang, artinya secara teliti ataupun saksama
memperhitungkan hal yang perlu didata pada suatu
pembukuan. Kata hisab banyak kerap ditemui pada Al-Quran
yang definisinya hampir serupa, yakni mengarah ke angka
ataupun jumlah, misalnya Firman Allah swt: pada [Link]-Isra‟
.ayat 12
۟
ُ ََْ ِّ َِْ‫ٱلنهبر مجص‬
‫زحًىا‬
‫لزجز‬ ُ َِ ‫ءا‬
َّ ‫وجعلنب َخ‬ ْ ُ َّ
َََٓ َََ ِْ‫ءا َخ ٱلل‬ َٓ ََْ ََََِ
ََ‫َفمحىنب‬ ‫وٱلنهَّبر ءا ْ َ ُز ۖن‬ ُ َّ‫ب‬
َ َْ‫وجعلن ٱلل‬
ْ
َََ َ
ْ َٰ َ َ ُ ْ ۟ َ ُ ً َ
ُِ ‫شء فَّْصلَنُهَرف‬
ً‫صل‬ ۚ
ًٍْ ‫َسبةَ َو َّكل‬ ‫َوٱلح‬
ِ َ‫ن‬ُ ‫ن‬ ‫س‬ِّ ِ ‫ٱل‬ ‫َد‬
‫د‬ َ
‫ع‬ ‫مىا‬ ُ ‫ل‬ ‫ع‬ ْ
‫ز‬ َ ‫ل‬ ‫َو‬
ِ ‫م‬ ْ
‫ك‬ ‫رث‬َِّّ ‫ن‬‫م‬ِّ ‫ل‬ ًْ‫فض‬

Artinya
Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda , lalu “
Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu
terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya
kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan
.”segala sesuatu telah kami terangkan dengan jelas

:AL-Quran surat Al-thalaq ayat 8 yang berbunyi


َ ‫ََ َ َْْ ََٰ َ ََّٰ َ َو ِّكَأنِّمن ْقزٍَخ َعزذ عَن ْأمز َِّرثهَب َو ُر ِ ُسلِهۦ‬
‫فحب ْ َس َجنهَب ِح َسبثًب ِش َددًا‬
‫َوعذثَنهَب عَذاثًب‬ ْ
ِ
‫ُّ ْن ًكزا‬

Artinya
negeri (penduduk) banyaknya berapalah “Dan gnay
,mendurhakai perintah Tuhan mereka dan Rasul-rasul-Nya
maka Kami hisab penduduk negeri itu dengan hisab yang
.”keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan

: [Link]-Insyiqah :8 yang berbunyi


‫ت ِح َسبثًَّسبًُِۡزا‬
ُ ‫َ ف ۡ َسىفَ َُ َحب َس‬

Artinya
.”maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah “

109
Kata hisab pada ayat itu mengarah ke angka ataupun
hitungan secara akuntabel, akurat, teliti, serta ketat. Karenanya,
akuntansi yakni mengerti suatu hal melalui kondisi cukup,
tidak berlebih maupun kurang. Berdasar pada definsii tersebut
bisa dikatakan bahwasanya Akuntansi Syariah yakni sebuah
aktivitas mengidentifikasi, mengklarifikasi, serta melaporkan
untuk menentukan keputusan ekonomi berdasar pada
prinsipnya berbagai akad syariah yakni tidak memuat riba,
kezaliman (zhulum), penipuan (gharar), judi (maysir), barang
berbahaya maupun haram. Artinya, akuntansi syariah bisa
didefinisikan selaku mekanisme akuntansi terkait berbagai
transaksi sejalan dengan peraturan yang Allah SWT sudah
tentukan. Informasi pada akuntansi syariah lebih luas tersaji
bagi pemakai laporan dimana bukan sekadar data keuangan
namun memuat pula kegiatan perusahaan sejalan pada syariah
juga mempunyai sasaran sosial mutlak dalam islam tanpa bisa
dihindari, contohnya terdapat kewajiban untuk membayarkan
zakat. Akuntansi syariah yakni mengarah ke sosial, berarti
akuntansi ini bukanlah sekadar alat dalam menerjemahkan
kejadian ekonomi melalui wujud pengukuran moneter namun
mampu menjabarkan bagaimana kejadian ekonominya tersebut
berlangsung pada umat Islam.
Akuntansi Syariah memuat isu dimana umumnya tidak
diperhatikan oleh akuntansi konvensional. Perilakunya individu
akan diadili ketika kiamat, sehingga akuntansi juga perlu berperan
selaku hisab/derivasi yakni melarang keburukan serta
menganjurkan kebaikan. Semua peraturan yang Allah SWT
turunkan berorientasi pada pencapaian kesejahteraan kebajikan.
Utamanya menghapus kerugian, kesengsaraan, serta kejahatan
bagi semua ciptaan. Dalam sektor ekonomi yakni guna meraih
keselamatan akhirat serta dunia. Adapun 3 tujuannya hukum
Islam dimana memperlihatkan Islam selaku rahmat untuk semua
semesta beserta isinya.
a. Menyucikan jiwa supaya tiap individu mampu berperan
selaku sumbernya perilaku baik untuk lingkungan serta
masyarakat,

110
b. Menegakkan keadilan pada masyarakat,
c. Mencapai masalah (puncak sasaran): Selamat agama,
akal, jiwa, harta benda, keluarga beserta keturunan.

Melalui hal tersebut, didapati tujuannya akuntansi


syariah yakni mewujudkan kecintaan utama pada Allah SWT,
melalui pelaksanaan akuntabilitas kreativitas serta ketundukan,
terkait transaksi, peristiwa ekonomi juga proses produksi pada
entitas, dimana penyampaiannya dengan umum tujuannya
akuntasi syariah meliputi: (1) menyokong pencapaian keadilan
sosio ekonomi serta (2) sepenuhnya mengenali kewajiban pada
Allah SWT, individu, masyarakat atas berbagai pihak yang
berkaitan terhadap kegiatan ekonomi.
Informasi laporan keuangan memuat:
1. Liabilitas
2. Aset
3. Ekuitas
4. Dana syirkah temporer
5. Kontribusi dari serta distribusi pada pemilik
selaku kapasitasnya
6. Beban serta pendapatan seperti kerugian serta keuntungan
7. Dana kebajikan
8. Dana zakat
9. Arus kas

*entitas syariah meliputi reksadana serta entitas dengan modal yang


tidak terdiri dari saham contohnya koperasi, memerlukan penyesuaian
pada penyajian laporan keuangannya.

Komponen laporan keuangannya entitas syariah:


1. Laporan posisi keuangan pada akhir periode
2. Laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif
lain selama periode
3. Laporan perubahan ekuitas selama periode
4. Laporan arus kas selama periode
5. Laporan sumber dan penyaluran dana zakat selama periode

111
6. Laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan
selama periode
7. Catatan atas laporan keuangan, dan informasi komparatif
8. Laporan posisi keuangan pada awal periode
komparatif (kebijkan retrospektif)

Pos-pos laporan posisi keuangan entitas syariah:


1. Piutang usaha serta piutang lainnya
2. Kas serta setara kas
3. Investasi melaui mempergunakan metode ekuitas
4. Persediaan
5. Jumlah aset yang dikategorikan selaku aset guna dijual
6. Aset keuangan
7. Aset tidak berbentuk
8. Aset tetap
9. Utang usaha serta terutang lainnya
10. Properti investasi
11. Liabilitas keuangan
12. Liabilitas serta aset pajak tangguhan
13. Liabilitas serta aset untuk pajak kini
14. Liabilitas yang dikategorikan guna dijual
15. Modal saham serta cadangan yang bisa didistribusikan pada
pemilik entitas induk
16. Kepentingan non pengendali
17. Provisi

Pos-pos laporan laba rugi serta penghasilan kompre-


hensif lainnya entitas syariah:
1. Bagi hasil untuk pemilik dana
2. Pendapatan usaha
3. Beban pajak
4. Jumlah tunggal untuk total operasi yang dihentikan
5. Bagian laba rugi dari entitas asosiasi dan ventura bersama
(metode ekuitas)

112
Pos-pos laporan perubahan ekuitas entitas syariah:
1. Laba rugi
2. Transaksi pada pemilik, dimana memperlihatkan dengan
terpisah perubahan, distribusi, serta kontribusi kepemilikan
entitas anak.
3. Penghasilan komprehensif lainnya

Pos-pos laporan arus kas entitas syariah:


1. Aktivitas pendanaan
2. Aktivitas investasi
3. Aktivitas operasi

Pos-pos laporan sumber serta penyaluran dana zakat


entitas syariah:
1. Pendistribusian zakat melalui entitas pengelola zakat
2. Dana zakat asalnya dari wajib zakat
3. Penurunan ataupun kenaikan dana zakat
4. Saldo akhir dana zakat
5. Saldo awal dana zakat

Pos-pos laporan sumber serta penggunaan dana


kebajikan entitas syariah:
1. Sumber dana kebajikan yang asalnya dari penerimaan:
a. Sedekah
b. Infak
c. Pengembalian dana kebajikan produktif
d. Hasil mengelola wakaf
e. Penerimaan nonhalal
f. Denda
2. Pemakaian dana kebajikan untuk:
a. Sumbangan
b. Dana kebajikan produktif
c. Pemakaian lainnya bagi kepentingan umum
3. Penurunan ataupun kenaikan sumber dana kebajikan
4. Saldo akhir dana kebajikan
5. Saldo awal dana kebajikan

113
Pos-pos catatan atas laporan keuangan entitas syariah:
1. Pernyataan ketaatan pada SAK
2. Informasi ekstra untuk pos yang disampaikan pada
laporan keuangan
3. Ringkasan kebijakan akuntansi yang signifikan
4. Pengungkapan lainnya, seperti liabilitas kontijensi
serta informasi bukan keuangan

Ada sejumlah perbedaan komponen laporan


keuangan dalam entitas syariah berikut:

*Pos laporan yang tidak ada dalam penjabaran berikut, artinya


tetap mempergunakan format default dari PSAK 101.

1. Bank syariah
Komponen laporan keuangan:
a. Laporan posisi keuangan
b. Laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain
c. Laporan perubahan ekuitas
d. Laporan arus kas
e. Laporan rekonsiliasi pendapatan dan bagi hasil
f. Laporan sumber dan penyaluran dana zakat
g. Laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan
h. Catatan atas laporan keuangan

Laporan posisi keuangan:


Aset
a. Penempatan terhadap Bank Indonesia
b. Penempatan terhadap bank lainnya
c. Kas
d. Investasi terhadap surat berharga
e. Pembiayaan; musyarakah serta mudharabah
f. Tagihan serta liabilitas akseptasi
g. Piutang; ijarah, istishna, serta murabahah
h. Aset yang didapatkan untuk ijarah

114
i. Persediaan (pembelian aset guna dijual lagi
pada nasabah)
j. Aset istishna‟ pada penyelesaian (selepas
pengurangan termin istishna‟)
k. Investasi yang didata melalui metode ekuitas
l. Aset tetap
m. Piutang salam

Liabilitas
a. Bagi hasil yang belum didistribusikan
b. Liabilitas segera
c. Simpanan; tabungan wadiah serta giro wadiah
d. Simpanan bank lainnya; tabungan wadiah serta
giro wadiah
e. Utang isthisna„
f. Utang salam
g. Liabilitas pada bank lainnya

Dana syirkah temporer


tabungan
Syirkah temporer dari bank; deposito serta
mudharabah
tabungan
Syirkah temporer dari non bank; deposito serta
mudharabah

Ekuitas
a. Modal disetor
b. Tambahan modal disetor
c. Saldo laba
d. Penghasilan komprehensif lainnya
e. Kepentingan non pengendali

Laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lainnya


a. Pendapatan pengelolaan dana oleh
bank selaku mudharib:
1) Pendapatan dari bagi hasil; musyarakah
serta mudharabah

115
2) Pendapatan dari sewa
3) Pendapatan dari jual beli; neto istishna paralel,
neto salam paralel, serta marjin murabahah
4) Pendapatan usaha utama lainnya
b. Pendapatan usaha lainnya; imbalan jas perbankan
serta investasi terikat
c. Hak pihak ketiga atas bagi hasil
d. Laba usaha
e. Beban usaha
f. Beban nonusaha
g. Pendapatan nonusaha
h. Laba neto
i. Beban pajak penghasilan
j. Penghasilan komprehensif
k. Penghasilan komprehensif lainnya

Laporan rekonsiliasi pendapatan dan bagi hasil


a. Pendapatan pengelolaan dana oleh bank sbg mudharib
(akrual)
b. Penyesuaian atas pendapatan pengeloaan dana
oleh bank sbg mudharib;
1) Periode sebelumnya yang kas atau setara
kasnya diterima di periode berjalan
2) Periode berjalan yang kas atau setara kasnya
belum diterima
c. Bagian bank syariah atas pendapatan yang
tersedia untuk bagi hasil
d. Pendapatan yang tersedia untuk bagi hasil
e. Bagian pemilik dan atas pendapatan yang tersedia
untuk bagi hasil;
1) Yang belum didistribusikan ke pemilik dana
2) Yang sudah didistribusikan ke pemilik dana

116
2. Asuransi syariah
Komponen laporan keuangan:
a. Laporan posisi keuangan
b. Laporan surplus defisit dana tabaru dikosongkan
c. Laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain
d. Laporan perubahan ekuitas
e. Laporan arus kas
f. Laporan sumber dan penyaluran dana zakat
g. Laporan sumber dana penggunaan dana kebajikan
h. Catatan atas laporan keuangan

Laporan posisi keuangan:


a. Aset
1) Kas serta setara kas
2) Piutang reasuransi
3) Piutang kontribusi
4) Piutang istishna‟
5) Piutang murabahah
6) Pembiayaan musyarakah
7) Pembiayaan mudharabah
8) Investasi terhadap entitas asosiasi serta ventura
bersama
9) Investasi terhadap surat berharga
10) Properti investasi
11) Aset tetap
12) Piurang salam
13) Aset ijarah
14) Aset tidak berwujud
b. Liabilitas
1) Utang reasuransi
2) Utang klaim
3) Ujrah diterima di muka
4) Bagian peserta atas surplus underwriting
5) Penyisihan klaim sudah terjadi tetapo belum
dilaporkan
6) Penyisihan klaim dalam proses

117
7) Penyisihan manfaat polis masa depan
8) Penyisihan kontribusi yang belum menjadi hak
c. Dana peserta
1) Dana tabarru
2) Dana investasi
d. Ekuitas
1) Modal disetor
2) Tambahan modal disetor
3) Saldo laba
4) Saldo penghasilan komprehensif lain

Laporan surplus dan defisit dana tabarru


a. Bagian reasuransi atas kontribusi
b. Bagian pengelola atas kontribusi
c. Pendapatan kontribusi
d. Bagian reasuransi atas klaim
e. Beban klaim
f. Perubahan penyisihan klaim sudah terjadi tetapi belum
dilaporkan
g. Perubahan penyisihan klaim dalam proses
h. Perubahan penyisihan manfaat polis masa depan
i. Perubahan penyisihan kontribusi yang belum menjadi
pendapatan
j. Surplus underwriting yang dialokasikan ke peserta
individual dan entitas pengelola
k. Surplus atau defisit underwriting
l. Surplus atau defisit dana tabarru
m. Pendapatan dan beban investasi
n. Saldo akhir dana tabarru
o. Saldo awal dana tabarru

Laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain:


a. Pendapatan pengelolaan investasi dana peserta
b. Pendapatan pengelolaan asuransi (ujrah)
c. Pendapatan investasi
d. Pendapatan alokasi surplus underwriting

118
e. Laba usaha
f. Beban usaha
g. Beban nonusaha
h. Pendapatan nonusaha
i. Laba rugi
j. Beban pajak penghasilan
k. Penghasilan komprehensif
l. Penghasilan komprehensif lainnya

3. Amil
Komponen laporan keuangan:
a. Laporan posisi keuangan
b. Laporan perubahan dana
c. Laporan perubahan aset kelolaan
d. Laporan arus kas
e. Catatan atas laporan keuangan

Laporan posisi keuangan:


a. Aset
1) Piutang
2) Kas dan setara kas
3) Aset tetap
4) Surat berharga
b. Liabilitas
1) Liabilitas imbalan kerja
2) Biaya yang masih harus dibayar
c. Saldo dana
1) Dana amil
2) Dana sedekah/infak
3) Dana zakat

Laporan perubahan dana


a. Dana zakat
1) Penerimaan dana zakat
2) Penyaluran dana zakat; amil dan mustahiq nonamil
3) Saldo akhir dana zakat

119
4) Saldo awal dana zakat
b. Dana sedekah/infak
1) Penerimaan dana sedekah/infak; mutlaqah serta
muqayyadah
2) Penyaluran dana sedekah/infak; mutlaqah serta
muqayyadah
3) Saldo akhir dana sedekah/infak
4) Saldo awal dana sedekah/infak
c. Dana amil
1) Penerimaan dana amil; dana sedekah/infak, dana
zakat, serta penerimaan lainnya
2) Penggunaan dana amil
3) Saldo akhir dana amil
4) Saldo awal dana amil

Laporan perubahan aset kelolaan


a. Aset kelolaan yang termasuk aset lancar serta akumulasi
penyisihan
b. Aset kelolaan yang termasuk aset tidak lancar dan
akumulasi penyusutan
c. Pengurangan serta penambahan
d. Saldo akhir
e. Saldo awal

C. Pengakuan Dan Pengukuran Transaksi Dalam Akuntansi


Syariah
Laporan keuangan yakni sebuah penyediaan
adalah suatu penyajian teratur yang memuat kinerja serta
posisi keuangannya sebuah perusahaan syariah. Sebuah
laporan keuangan memberikan informasi mencakup:
kewajiban, aset, ekuitas, dana syrikah temporer, beban, serta
pendapatan, termasuk juga arus kas, kerugian serta
keuntungan, dana kebajikan, serta dana zakat. Elemen pada
laporan keuangannya perusahan syariah mencakup:

120
1. Neraca
Perusahaan syariah menyediakan dengan terpisah
diantara aset lancer serta aset tidak lancer juga
kewajibannya yang berjangka pendek dipisahkan pada yang
berjangka panjang panjang diluar kategori industri yang
diatur pada Standar Akuntansi Keuangan Khusus. Aset
lancer disampaikan berdasar ukuran likuiditasnya
sementara kewajiban disampaikan berdasar urutan jatuh
tempo.
Perusahaan syariah perlu menyampaikan informasi
terkait total tiap aset yang hendak diperoleh serta kewajiban
yang hendak dibayar sesudah serta sebelum 12 bulan pada
tanggal neraca.
Jika perusahaan menyajikan jasa ataupun barang
pada siklus operasinya perusahaan syariah dimana bisa
diketahui secara jelas, artinya pemisahan pada neraca
memberi informasi yang bermanfaat melaui
memperbedakan aset bersih selaku modal kerja pada aset
guna operasi berjangka panjang. Klasifikasi itu pun
menonjolkan asset dimana diharap hendak direalisasikan
pada siklusnya operasi berjalan serta kewajiban yang
hendak jatuh temponya dalam periode serupa. Informasi
terkait hari jatuhnya tempo aset serta kewajiban mempuyai
manfaat pada penilaian solvabilitas serta likuiditas
perusahaan syariah.

2. Laporan Laba/rugi
Laporan ini disampaikan melalui akuntansi syariah
supaya menekankan beragam elemen kinerja keuangan
dimana dibutuhkan untuk penyampaian dengan
sewajarnya. Laporan ini setidaknya memuat:
a. Pembagian hasil bagi yang mempunyai dana
b. Pendapatan usaha
c. Rugi ataupun laba atau rugi usaha
d. Beban usaha
e. Rugi ataupun laba dari kegiatan normal

121
f. Beban serta pendapatan nonusaha
g. Rugi ataupun laba bersih dalam periode berjalan.
h. Beban pajak.

Berbagai elemen laporan laba rugi perbankan syariah


tersusun melalui acuan terhadap PSAK dalam berbagai -pos
umum. Melalui mengamati ketetapan pada PSAK,
perbankan syariah menyampaikan laporan laba ruginya
dimana memuat, namun tidaklah dibatasi terhadap pos-pos
bmeliputi:
a. Pendapatan pengelolaan dana oleh perbankan selaku
mudharib:
1) Pendapatan dari bagi hasil:
a) Mudharabah
b) Musyarakah
2) Pendapatan dari sewa:
a) Neto ijarah
3) Pendapatan dari jual beli:
a) Neto istishna paralel
b) Neto salam paralel
c) Marjin murabaha
b. Pendapatan usaha pokok lain:
1) Hak pihak ketiga terkait pembagian hasil dana syirkah
temporer
c. Pendapatan usaha lain;
1) Imbalan investasi terikat.
2) Imbalan (fee) jasa perbankan
d. Laba atau rugi usaha
e. Beban usaha
f. Beban non-usaha
g. Pendapatan nonusaha
h. Laba atau rugi neto
i. Beban pajak

122
3. Laporan arus kas
Laporan ini tersusun berdasar pada ketetapan yang
sudah ditentukan pada Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan yang berkaitan.

4. Laporan perubahan ekuitas


Dalam akuntansi syariah disajikan laporan perubahan
ekuitas selaku elemen pokok yang memperlihatkan:
a. Tiap pos beban serta pendapatan, kerugian ataupun
keuntungan disertai totalnya dimana berdasar pada
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan yang berkaitan
serta dengan langsung diakui pada ekuitas
b. Rugi ataupun laba bersih periode yang berkaitan
c. Distribusi serta transaksi modal pada pemilik
d. Dampak kumulatif oleh pergantian ketetapan akuntansi
serta reparasi pada kesalahan dasar
e. Rekonsiliasi diantara nilai tercatat oleh tiap tipe modal
saham, cadangan, serta agio di akhir serta awal periode
dimana diungkapkan dengan terpisah tiap
perubahannya.
f. Saldo akumulasi rugi ataupun laba di akhir serta awal
periode disertai perubahan terkait

5. Laporan sumber serta penggunaan dana zakat


Akuntansi syariah menyampaikan laporan ini selaku
komponen pokok, dimana memperlihatkan:
a. Dana zakat yang asalnya oleh wajib zakat (muzakki)
1) Zakat oleh pihak luarnya perbankan syariah
2) Zakat oleh pihak dalamnya perbankan syariah
b. Pemakaian dana zakat melalui lembaga amil zakat bagi:
1) Miskin
2) Fakir
3) Gharim (individu yang terjerat utang)
4) Riqab
5) Fiisabilillah
6) Muallaf

123
7) Amil
8) Ibnu sabil (individu yang sedang melaksanakan
perjalanan)
c. Saldo awal serta akhir dana zakat
d. Kenaikan atau penurunan dana zakat

6. Laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan


Laporan ini selaku komponen pokok yang
memperlihatkan:
a. Sumber dana kebajikan asalnya dari penerimaan:
1) Sedekah
2) Infak
3) Pengembalian dana kebajikan produktif
4) Hasil mengelola wakaf sejalan pada undang-undang
yang ada
5) Pemasukan non halal.
6) Denda
b. Pemakaian dana kebajikan untuk:
1) Sumbangan
2) Dana kebajikan produktif
3) Pemakaian lain guna kepentingan umum.
c. Penurunan ataupun kenaikan dana kebajikan
d. Saldo awal serta akhir pemakaian dana kebajikan

7. Catatan atas laporan keuangan


Catatan ini wajib disampaikan dengan tertata. Isi
laporan diharuskan berhubungan pada informasi di Catatan
ini, dimana isinya memperlihatkan:
a. Informasi yang diwajibkan pada Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan namun tidak disampaikan pada
laporan
b. Informasi terkait dasarnya pembuatan laporan keuangan
serta pemilihan kebijakan akuntansi pada fenomena serta
transaksi krusial
c. Informasi ekstra yang belum tersaji pada laporan
keuangan namun diperlukan untuk penyampaian wajar.

124
8. Pengungkapan lainnya
Perbankan syariah menyampaikan sejumlah hal ini
apabila tidak disampaikan pada seluruh bagian informasi: a.
Keterangan terkait hakikatnya kegiatan serta operasi
pokok perusahaan syariah
b. Bentuk hukum, domisili, alamat kantor utama, negara
tempat berdirinya, maupun lokasi pokok bisnis apabila
terpisah dari lokasinya kantor utama
c. Total pegawai di akhir periode ataupun rata-rata total
pegawai dalam periode terkait.
d. Nama anggota komisaris serta direksi
e. Nama pada grup, nama asosiasi, nama induk serta
holding
Dalam setiap tipe instrument pendanaan melalui mata
uang luar, perusahaan syariah diharuskan mengungkap
sejumlah informasi meliputi:
a. Nominalnya mata uang luarg,
tanggal jatuhya tempo, rentang waktu,
jadwal pembayaran ataupun angsuran
b. Karakteristik tiap instrument pendanaan seperti
informasinya nisbah ujrah/margin/bagi hasil/ serta
nama pemodalnya
c. Nilai tukar yang dipergunakan dalam tanggal Neraca
d. Dasar konversi selaku efek lainnya apabila instrument
pendanaan bisa dikonversi
e. Jaminan
f. Hal krusial lain.
Kerangka dasar yakni rancangan konsep selaku dasar
dari penyajian serta penyusunan laporan keuangan untuk
pengguna luar. Terdapatnya beda diantara bisnis
konvensional dengan syariah membuat IAI (ikatan akuntan
Indonesia) di tahun 2002 merilis KDPPLSBS (kerangka dasar
penyusunan dan penyajian laporan keungan bank syari‟ah).
Tahun 2007 kerangka tersebut kemudian dikembangkan
sehingga berganti ke KDPPLKS (kerangka dasar
penyusunan dan penyajian laporan keuangan syari‟ah).
Pengembangan tersebut dilaksanakan dengan tujuan

125
memperluaskan cakupan dimana bukan sekadar bagi
perbankan syari‟ah, namun bisnis lainnya pula yang
melaksanakan transaksi melalui skema syari‟ah.
Berdasar padak pengantarnya Dewan standar
Akuntansi Keuangan pada Exposure Draf KDPPLKS pada
KDPLKBS (2002). Sistematikanya KDPPLKBS (2002) sekadar
menyampaikan kerangka dasar yang berbeda pada
KDPPLK (2004) serta apabila dikelola dengan khusus
diasumsikan kerangka pada KDPPLK (1994) diduga berlaku
pula pada perbankan syari‟ah.

D. Tujuan Kerangka Dasar


Kerangka dasar menyediakan konsep selaku dasar
dari penyajian serta penyusunan laporan keuangan untuk
pengguna. Kerangka tersebut berfungsi pada seluruh tipe
transaksi syariah dimana disampaikan perusahaan
konvensional ataupun syariah mulai swasta hingga publik.
Adapun tujuannya kerangka dasar tersebut yakni
dipergunakan selaku acuan untuk:
1. Menyusun laporan keuangan, selaku penanggulangan pada
permasalahan dimana masih tidak bisa dikelola pada
standars akuntansi keuangan syariah.
2. Menyusun standard akuntansi keuangan syariah.
3. Pengguna laporan keuangan, untuk menguraikan informasi
yang tersaji.
4. Auditor, untuk memberi opini terkait kesesuaian laporan
keuangan pada prinsip syariah.

E. Standar akuntansi keuangan Syariah


Ikatan Akuntan Indonesia, Dewan Standar Akuntansi
Keuangan beserta Komite Akuntansi Syariah merilis
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan dalam transaksi
aktivitas usaha melalui mempergunakan akuntasi berdasar
pada aturan syariah. Adapun daftar Standar Akutansi
Keuangan meliputi:

126
1. PSAK 106 (Revisi 2006) tentang Akuntansi Musyarakah.
2. PSAK 105 (Revisi 2006) tentang Akuntansi Mudharabah,
3. PSAK 104 (Revisi 2006) tentang Akuntansi Istishna‟,
4. PSAK 103 (Revisi 2006) tentang Akuntansi Salam,
5. PSAK 102 (Revisi 2006) tentang Akuntansi Murabahah,
6. PSAK 101 (Revisi 2006) tentang Penyajian Laporan
Keuangan Syariah,
7. Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan
Keuangan Syariah,

IAI selaku organisasi yang mempunyai kewenangan untuk


menentukan standard audit serta akuntansi keuangan untuk
beragam industri termasuk komponen esensial pada
perkembangan bank syariah, adapun ekonomi syariah tidaklah
bisa berkembang serta berjalan secara baik dengan tidak
terdapatnya standard akuntansi keuangan secara tepat.
Standard tersebut diperlukan sekali untuk
mengakomodasi beda esensi diantara operasionalnya Syariah
pada bank konvensional. Melalui hal tersebut, di 25 Juni 2003
disepakati nota kesepahaman diantara IAI pada Bank Indonesia
selaku kerja sama pembentukan beragam standard akuntansi
syariah, seperti melaksanakan kerja sama pelatihan serta riset
dalam berbagai bidang sejalan pada kompetensi IAI.

127
F. Pengguna dan Kebutuhan Informasi Akuntansi
Syariah Pengguna laporan keuangan yakni:
1. Investor potensial ataupun sekarang
2. Pemiliknya dana titipan
3. Pemiliknya dana syirkah temporer
4. Pemiliknya dana qardh
5. Pemantau syariah
6. Penerima serta pembayar wakaf, shodakoh, serta zakat
7. Pegawai
8. Konsumen
9. Pemasok serta mitra usaha lain

G. Dasar Hukum Akuntansi Syari’ah


Dasar hukumnya Akuntansi Syariah yakni pada Al
Quran, Ijma (kesepakatannya ulama), Sunah Nabawiyyah,
„Uruf (kebiasaan adat) dimana tidak berlawanan pada Syariah,
serta Qiyas (persamaannya kejadian tertentu). Berbagai kaidah
Akuntansi Syariah, mempunyai ciri-ciri khas yang
membedakannya pada kaidahnya Akuntansi biasa. Kaidah
Akuntansi Syariah sejalan pada berbagai norma umat islam
serta mencakup disiplin pengetahuan sosial dimana fungsinya
yakni selaku pelayanan masyarakat di lokasi implementasi
akuntansi itu.
H. Paradigma Transaksi Syari‟ah
Transaksi syari‟ah mengacu terhadap paradigma
bahwasanya Tuhan menciptakan dunia selaku sarana serta
amanah kebahagiaan kehidupan untuk semua umat dalam
meraih kesejahteraannya secara spiritual serta material.
Paradigma tersebut memberikan penekanan bahwasanya tiap
kegiatan umat mempunyai nilai ilahiah serta akuntabilitas
dimana menaruh akhlak serta perangkat syari‟ah selaku
parameter buruk serta baik, salah serta benar kegiatan usaha.
Syari‟ah yakni ketetapan hukum islam selaku pengatur
kegiatan umat dimana berisikan larangan serta perintah, mulai
yang berkaitan pada interaksi vertikal pada Tuhan ataupun
interaksi horizontal pada sesamanya. Prinsip syari‟ah yang

128
secara umum berlaku pada aktivitas muamalah secara hukum
mengikat seluruh pelakunya serta pemangku kepentingannya
perusahaan pelaksana transaksi secara syari‟ah. Akhlak yakni
etika serta norma yang berisikan berbagai nilai moral pada
hubungan antar makhluk supaya hubungannya bisa harmonis,
sinergis, serta saling memberikan keuntungan.
Prinsip dasarnya paradigma syari‟ah yakni multi
paradigma holistik, memuat semua dimensi wilayah makro
serta mikro pada hidup manusia dimana saling berkaitan.
Pertama, dimensi mikro tersebut yakni seseorang yang beriman
pada Allah SWT juga mematuhi seluruh larangan serta aturan
pada hasil ijtihad, Fiqh, Al Hadist, serta Al-Qur‟an. Landasan
tauhid dibutuhkan dalam meraih tujuannya syari‟ah yakni
membentuk al ihsan serta al a‟dl (keadilan sosial) juga
kebahagiaan akhirat maupun dunia. Penggapaian tujuannya
syariah itu dilaksanakan mempergunakan etika serta faith
(motal iman), piety (taqwa), birr/righteoneus (kebaikan), worship
(ibadah), fardh/responsibility (tanggung jawab), ikhtiyar/free will
(usaha), Habluminannas serta Habluminallah (hubungan pada
manusia serta Allah), serta blessing (barokah).
Kedua, dimensi makro yakni memuat area sosial, ekonomi,
serta politik. Dimensi sosial memprioritaskan amanah serta
kepentingan umum. Dimensi ekonomi melaksanakan usaha secara
halal, menunaikan kewjiban zakat, serta menaati larangannya
bunga. Kemudian dimensi politik menjunjung kerja sama serta
musyawarah. Pada kerangka konseptualnya
akuntansi syari‟ah tersebut, disampaikan bahwasanya
penyelenggaraan akuntansi syari‟ah tujuannya yakni
mewujdukan keadilan sosial-ekonomi; serta selaku sarana
beribadah dalam pemenuuhan kewajiban pada Allah SWT,
individu serta lingkungan melalui keiktsertaa institusi pada
aktivitas perekonomian. Produk final teknik akuntansi syari‟ah
ayakni data akuntansi secara tepat dalam penghitungan zakat
serta tanggung jawab pada Allah SWT berdasar pada taqwa,
iman, serta moral. Melalui hal tersebut akuntansi syari‟ah
selaku alat dalam mempertanggungjawabkan, diwakilkan

129
informasi akuntansi syari‟ah berbetuk laporan keuangan
dimana tidaklah mengarah lagi terhadao pengoptimalan
keuntungan laba, namun memberikan pesan modal untuk
menstimulasi perilaku adil serta etis pada seluruh pihak.

Sumber: CA -Pelaporan Korporate

I. Asas Transaksi Syari’ah


1. Ukhuwah (Persaudaraan): Artinya transaksi syariah
mengutamakan nilai bersama untuk mendapatkan manfaat,
yang membuat individu tidak diperbolehkan memperoleh
laba namun merugikan individu lainnya. Prinsip tersebut
berdasar pada tafahun (saling mengerti), ta‟aruf (saling
mengenali), takaful (saling menjamin), ta‟awun (saling
membantu), tahafu (saling beraliansi), serta saling bersinergi
2. „Adalah (Keadilan): artinya senantiasa menaruh suatu hal
terhadap yang mempunyai hak serta senada pada
kedudukannya. Implementasi prinsip tersebut pada
ketetapan muamalah yakni tidak memperbolehkan
terdapatnya elemen:
a. Bunga/riba jenis serta bentuk apapun, termasuk riba
fadhl/ nasiah.
b. Kezaliman, pada lingkungan, individu lainnya, ataupun
diri pribadi.
c. Pertaruhan ataupun sikap spekulatif serta bukan
berkaitan pada produktivitas (maysir).

130
d. Unsur tidak jelas, eksploitasi serta manipulasi data juga
tidak terdapatnya harga, kuantitas, kualitas, kriteria,
serta kualitas objek ataupun eksploitasi dikarenakan
sebelah pihak tidak mengetahui perjanjiannya (gharar).
e. Haram ataupun seluruh hal yang terlarang pada As-
sunnah serta Al-quran.
3. Maslahah (Kemaslahatan): yakni seluruh wujud manfaat
serta kebaikan dimana berdimensi ukhrawi serta duniawi,
spiritual serta material, juga kolektif serta individual.
4. Tawazum (Keseimbangan): transaksi perlu
mempertimbangkan keseimbangan aspek spiritual serta
material, publik serta privat, riil serta keuangan, sosial serta
bisnis, juga kesetaraan pelestarian serta pengembangan.
5. Syumuliyah (Universalisme): transaksi syariah bisa
dilaksanakan untuk, dengan, serta oleh seluruh pihak
dengan kepentingan tanpa melihat golongan, rasa, agama,
serta suku sejalan pada semangat rahmatan lil alamin.

Sumber : Modul CAPelaporan korporate

J. Ciri-ciri Transaksi Syari’ah


Penerapan transaksi yang sejalan pada asas serta
paradigma transaksi syariah wajib sesuai pada persyaratan
serta ciri-ciri meliputi:
1. Prinsip kebebasan melaksanakan transaksi berlaku selama
objek halal serta baik
2. Transaksi hanya dilaksanakan berdasar pada prinsip saling
ridho serta paham

131
3. Uang fungsinya hanya selaku satuan untuk mengukur nilai
serta alat tukar, bukanlah selaku komoditas
4. Tidak memuat elemen kezaliman
5. Tidak memuat elemen riba
6. Tidak memuat elemen haram
7. Tidak memuat elemen gharar
8. Tidak memuat elemen masyir
9. Transaksi dilaksanakan berdasar pada sebuah kesepakatan
secara benar serta jelas supaya saling menguntungkan serta
tidak memberikan kerugian
10. Tidak mengaplikasikan prinsip time value of money ataupun
nilai waktu dari uang
11. Tidak memuat elemen kolusi melalui penyuapan (risywah)
12. Tidak terdapat distorsi nilai dengan merekayasa permintaan
(najasy)

Ciri-ciri itu bisa diaplikasikan dalam transaksi usaha


dimana sifatnya ataupun non komersial.

Sumber : CA Modul pelaporan korporate

K. Tujuan Laporan Keuangan


Adapun tujuannya laporan keuangan yakni menyajikan
informasi terkait posisi keuangan, perubahan posisinya, serta
kinerjanya dimana memberikan manfaat untuk mayoritas

132
penggunanya untuk mengambil keputusan. Sejumlah
tujuannya yang lain yakni:
1. Informasi ketaatan perusahaan syariah pada prinsip syariah,
dan informasinya aset, beban, pendapatan, serta kewajiban
dimana tidak sejalan pada prinsip syariah apabila ada serta
bagaimanakah penggunaan serta perolehannya.
2. Mendorong ketaatan pada prinsip syariah di seluruh
aktivitas usaha serta transaksi.
3. Informasi terkait tingkatan laba investasi dimana
didapatkan pemilik dana serta penanam modal juga
informasi terkait pelaksanaan kewajiban fungsi sosialnya
perusahaan syariah seperti mengelola serta menyalurkan
infaq, zakat, wakaf, serta sedekah.
4. Informasi dalam menyokong evaluasi pada pelaksanaan
tanggung jawabnya pada amanah untuk menjaga dana,
menginvestasikan ke tingkatan laba secara layak.

L. Wujud Laporan Keuangan


Laporan keuangannya perusahaan syariah mencakup:
1. Posisi keuangan, tersaji selaku neraca. Menyediakan
informasi terkait sumber daya yang dikontrol, solvabilitas,
likuiditas, serta struktur keuangan jug kapabilitas dalam
menyesuaikan pada lingkungan.
2. Informasi kinerja, tersaji pada laporan laba rugi serta
dibutuhkan untuk penilaian perubahan potensialnya
sumber daya perekonomian dimana mempunyai
kemungkinan untuk dikontrol dalam masa mendatang.
3. Informasi perubahan posisi keuangan, bisa dibentuk
berdasar pada pengertian dana meliputi semua sumber daya
keuangan, kas, aset, ataupun modal kerja. Kerangka tersebut
tidaklah mengartikan dengan spesifik terkait dana, namun
dengan laporan tersebut bisa diperoleh kegiatan pendanaan,
investasi, serta operasi semasa pelaporan.
4. Informasi lainnya, meliputi penjabaran terkait aktualisasi
fungsi sosialnya.

133
5. Catatan serta jadwal tambahan, yakni menampung
informasi ekstra seperti mengungkapkan ketidakpastian
serta risiko yang memberikan perusahaan pengaruh.

M. Asumsi Dasar
1. Dasar akrual
Laporan keuangan tersaji berdasar pada akrual,
artinya pengaruhnya transaksi serta kejadian lainnya diakui
ketika berlangsung (serta bukan ketika kas ataupun yang
setara kas dibayar ataupun diterima) serta diberitahukan
melalui catatan juga dilaporkan. Tetapi, pada perhitungan
pemasukan yang tujuannya membagi perolehan
mempergunakan dasar kas. Kondisi tersebut diakibatkan
prinsip bagi hasil usaha berdasar pada pembagian hasil,
hasil ataupun pemasukan tersebut yakni laba bruto.

2. Kelangsungan usaha.
Laporan keuangan normalnya tersusun berdasar
dugaan kelangsungan usahanya perusahaan syariah dimana
hendak melangsungkan usahan dalam masa mendatang.
Melalui hal tersebut, perusahaan syariah dianggap tidak
berkeinginan ataupun bermaksud mengurangi ataupun
melikuidasi skala usaha miliknya secara material.

134
N. Karakteristik Kualitatif Informasi Keuangan Syariah
Karakteristik ini termasuk ciri khusus dimana
menjadikan data pada laporan keuangan bermanfaat untuk
pemakainya. Ada 4 karakteristik inti meliputi:
1. Relevan
Artinya yakni mempunyai kapabilitas dalam
mempengaruhi keputusannya pengguna terkait ekonomi
melalui membantunya melaksanakan evaluasi masa depan,
terkini, ataupun lampau melalui mengoreksi ataupun
menegaskan perolehan evaluasi mereka pada masa lampau.

2. Mampu dimengerti
Kualitas pentingnya data pada lampiran keuangan
yakni kemudahan dalam dimengerti penggunanya dengan
segera. Artinya, pengguna dianggap mempunyai wawasan
secara cukup terkait kegiatan bisnis serta ekonomi,
akuntansi, juga kapabilitas dalam memahami informasi
secara wajar melalui ketekunannya. Tetapi, informasi rumit
dimana sebenarnya dituliskan pada laporan tidaklah bisa
dihapuskan dikarenakan penilaian bahwasanya
informasinya sukar dimengerti pengguna tertentu.

3. Bisa dibandingkan
Pengguna diharuskan bisa membandingkan laporan
keuangannya perusahaan syari‟ah tiap periode supaya bisa
teridentifikasi trend (kecenderungan) posisi serta kinerjanya
keuangan. Supaya bisa melaksanakan perbandingan,
informasinya terkait ketetapan akuntansi dimana
dipergunakan pada pembentukan laporan juga perubahan
ketetapan beserta pengaruhnya pun wajib diungkap
meliputi ketaatan terkait standar akuntansinya juga.

4. Andal
Merupakan suatu yang terbebas oleh definisi
kesesatan, salah material, serta bisa dipergunakan
penggunanya selaku penyajian secara jujur ataupun tulus

135
dari hal dimana sebenarnya harus disajikan ataupun dengan
wajar diharap bisa disajikan. Supaya informasi bisa
diandalkan artinya diharuskan sesuai dengan sejumlah hal
meliputi:
a. Tercatat serta tersaji sejalan pada realitas serta substansi
yang senada pada prinsip syari‟ah serta bukanlah
sekadar wujud hukumnya.
b. Merefleksikan secara jujur transaksi maupun kejadian
lain yang semestinya tersaji ataupun yang diharap bisa
tersaji secara wajar.
c. Didasarkan pada evaluasi secara sehat untuk
menghadapi kondisi tertentu serta ketidakpastiannya
peristiwa.
d. Wajib mengarah pada kebutuhan umumnya pengguna
serta bukanlah untuk suatu pihak saja.
e. Lengkap dalam batasan biaya serta materialitas.

O. Unsur-Unsur Laporan Keuangan


Sejalan pada karakteristiknya, laporan keuangannya
perusahaan entitas syari‟ah, yakni mencakup:
1. Elemen laporan keuangan yang merefleksikan aktivitas
komersial meliputi:
a. Posisi keuangan
Aspek yang langsung berhubungan pada
pengukurannya keuangan diartikan meliputi:
1) Asset, yakni sumber daya dibawah kekuasaan
perusahaan syari‟ah selaku akibatnya kejadian di
masa lampau serta manfaatnya perekonomian di
masa mendatang yang diharap mampu didapatkan.
2) Dana syirkah sementara, yakni uang yang diperoleh
selaku investasi dalam suatu waktu oleh seseorang
ataupun pihak lain, serta perusahaan syari‟ah berhak
menginvesatasikan serta mengelola uang itu melalui
pendistribusian hasil investasinya berdasar pada
persetujuan.

136
3) Kewajiban, yakni utangnya perusahaan syari‟ah saat ini yang muncul dikarenakan kejadian masa lampau,
penyelesaiannya diharap menyebabkan arus keluar dari aset perusahaan syari‟ah dimana memuat
manfaat perekonomian.
4) Ekuitas, yakni hak resi jual terkait asset perusahaan syari‟ah selepas pengurangan seluruh dana syirkah
sementara serta kewajiban. Ekuitas bisa disubklasifikasi selaku saldo keuntungan, setoran modal
pemegang saham, penyisihan penyesuaian pemeliharaan modal, serta penyisihan saldo keuntungan.

Contoh penyusunan laporan posisi keuangannya perbankan syariah:


LAPORAN POSISI KEUANGAN (NERACA)
PT Bank Syariah “X”
Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Per 31 Desember 20X1
Aset Xxx
Kas Xxx
Penempatan pada Bank Indonesia Xxx
Giro pada bank lain Xxx
Penempatan pada bank lain Xxx
Investasi pada efek/surat berharga
Piutang: Xxx

137
Murabahah Xxx
Salam Xxx
Istishna Xxx
Ijarah
pembiayaa: Xxx
Mudharabah Xxx
Musyarakah Xxx
Persediaan Xxx
Tagihan dan kewajiban akseptasi Xxx
Aset ijarah Xxx
Aset istishna dalam penyelesaian Xxx
Penyertaan pada entitas lain xxx
Aset tetap dan akumulasi penyusutan xxx
Aset lainnya xxx
Jumlah Aset

KEWAJIBAN xxx
Kewajiban segera xxx
Bagi hasil yang belum dibagikan xxx

138
Simpanan xxx
Simpanan dari bank lain xxx
Utang: xxx
Salam xxx
Istishna xxx
Kewajiban kepada bank lain xxx
Pembiayaan yang diterima xxx
Utang pajak xxx
Estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi xxx
Pinjaman yang diterima xxx
Kewajiban lainnya xxx
Pinjaman subordinasi xxx
Jumlah Kewajiban
DANA SYIRKAH TEMPORER

Dana syirkah temporer dari bukan bank: xxx


Tabungan mudharabah xxx
Deposito mudharabah xxx
Dana syirkah temporer dari bank: xxx

13
9
Tabungan mudharabah xxx
Deposito mudharabah xxx
Musyarakah xxx
Jumlah Dana Syirkah temporer
EKUITAS xxx

Modal disetor xxx


Tambahan modal disetor xxx
Saldo laba (rugi) xxx
Jumlah Ekuitas xxx
Jumlah Kewajiban, Dana Syirkah tempporer dan ekuitas xxx

b. LAPORAN LABA-RUGI
Berbagai elemen pada laporan laba ruginya perbankan syariah tersusun melalui acuan terhadap
PSAK pos-pos umum. Melalui mengamati ketetapan pada PSAK yang berkaitan, perbankan syariah
memberikan laporan laba ruginya yang memuat, namun tidak dibatasi dalam berbagai pos meliputi:

140
PT Bank Syariah “X”
Laporan Laba Rugi
Periode 1 Januari s.d. 31 Desember 20X
Pendapatan Pengelolaan Dana oleh bank sebagai
mudharib

Pendapatan dari jual beli:


Pendapatan marjin murabahah Xxx
Pendapatan neto salam paralel Xxx
Pendapatan neto istishna
paralel Xxx
Pendapatan dari sewa:
Pendapatan neto ijarah Xxx
Pendapatan dari bagi hasil:
Pendapatan bagi hasil
mudharabah Xxx
Pendapatan bagi hasil
musyarakah Xxx
Pendapatan usaha utama
lainnya Xxx

141
Jumlah Pendapatan Pengelolaan Dana oleh bank sebagai
mudharib Xxx
Hak pihak ketiga atas bagi hasil (xxx)
Pendapatan Usaha Lainnya

Pendapatan imbalan jasa


perbankan xxx
Pendapatan imbalan investasi
terikat Xxx
Jumlah Pendapatan Usaha
Lainnya
Beban Usaha (xxx)
Beban kepegawaian (xxx)
Beban
administrasi (xxx)
Beban penyusutan dan
amortisasi (xxx)
Beban usaha
lain (xxx)
Jumlah Beban Usaha (xxx)
Laba (Rugi) Usaha Xxx

142
Pendapatan dan Beban
Nonusaha
Pendapatan nonusaha Xxx
Beban
nonusaha (xxx)
Jumlah Pendapatan (Beban) Nonusaha Xxx
Laba (Rugi) sebelum Pajak Xxx
Beban Pajak (xxx)
Laba (Rugi) Neto Periode
Berjalan Xxx

143
c. Laporan Arus Kas
( Nama Bank )
Laporan Arus Kas
Pada tahun yang terakhir ( tahun ) dengan ( tahun lalu )
Uraian Catatan xxx ( tahun ) xxxx( tahun )
Unit Moneter Unit Moneter
Arus kas dari operasi
Pendapatan netto [Link] --
Penyesuaian terhadap -- --
pendapatan netto
Kas netto dari kegiatan -- --
operasional --
Depresiasi [Link] --
Provisi rekening ragu-ragu [Link] --
Provisi untuk zakat [Link] --
Provisi untuk pajak -- --
Zakat yang dibayarkan ([Link]) --
Pajak yang dibayarkan --
Keuntungan dari rekening [Link] --
investasi tidak terbatas
Keuntungan dari penjualan -- --
aktiva tetap x. [Link]
Depresiasi dari aktiva yang --

144
disewakan --
Provisi untuk penurunan nilai ([Link]) ([Link]) --
investasi pada surat-surat [Link]
berharga --
Piutang ragu-ragu -- --
Pembelian aktiva tetap -- --
Arus kas netto dari operasi
Arus dari kegiatan investasi [Link] --
Penjualan real estate yang --
disewakan --
Pembelian real estate yang ([Link])
disewakan --
Penjualan real estate [Link] --
Investasi pada surat-surat [Link]
berharga ([Link]) --
Kenaikan pada investasi
mudharabah [Link] --
Penjualan persediaan --
Penjualan istishna‟ --
Kenaikan netto pada piutang
Arus kas netto dari kegiatan [Link] --
investasi [Link]
Arus kas dari kegiatan --

145
keuangan --
Kenaikan netto pada rekening --
investasi tidak terbatas
Kenaiakn netto pada rekening [Link] --
koran [Link] --
Deviden yang dibayarkan
Kenaikan pada saldo kredit
dan biaya-biaya (penurunan)
pada biaya yang dikeluarkan ([Link])
(accrud expenses) --
Kenaikan pada saham [Link]
minoritas [Link] --
Penurunan pada aktiva lain [Link]
Penurunan arus kas dari --
kegiatan pembiayaan

Kenaikan/penurunan uang
kas dan setara kas
Kas dan setara kas pada awal
tahun
Kas dan setara kas pada akhir
tahun

146
d. Laporan Perubahan Modal atau Laporan Laba Ditahan
( Nama Bank )
Laporan perubahan Modal
Untuk tahun yang terakhir ( tahun ) dengan ( tahun yang lalu )

Modal Disetor Cadangan Unit Unit Moneter


Uraian Moneter yang Laba Ditahan Total
Unit Moneter Umum
sah
Saldo per tahun [Link] -- -- -- [Link]
Emisi ( ) saham -- -- [Link]
Pendapatan netto --
Keuntungan
dibagikan [Link]
Transfer ke [Link] [Link] [Link]
cadangan ([Link])
[Link]
Neraca per ( tahun [Link] [Link] [Link] [Link] --
) [Link] --
Pendapatan netto ([Link])
Keuntungan
dibagikan
Transfer ke [Link] [Link] [Link] [Link]
cadangan [Link] [Link] [Link] [Link]
Saldo per tahun

147
Laporan Sumber-sumber dan penggunaan Dana Zakat, Infak dan Shadaqah
(Nama Bank)
Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat, Infak dan Shadaqah
Untuk tahun yang terakhir dengan tahun lalu
Uraian Catatatan xxxx ( tahun ) xxxx ( tahun )
Unit Moneter Unit Moneter
Sumber-sumber zakat dan sumbangan
Zakat jatuh tempo dari bank [Link] --
Zakat jatuh tempo dari para pemilik [Link] --
rekening
Sumbangan [Link] --
Total sumber zakat [Link] --

Penggunaan zakat dan sumbangan

Zakat untuk fakir dan miskin [Link] --


Zakat untuk Ibnu Sabil [Link] --
Zakat untuk ghairimin dan membebaskan [Link] --
budak
Zakat untuk mu‟allaf [Link] --
Zakat untuk fisabilillah [Link] --
Zakat untuk amil zakat ( biaya administrasi
dan umum ) [Link] --

148
Total penggunaan dana [Link] --

Kenaikan ( penurunan ) sumber-sumber

terhadap penggunaan [Link] --


Zakat dan sumbangan yang belum
dibagikan pada awal tahun [Link] --
Zakat dan sumbangan yang belum

dibagikan pada akhir tahun [Link] --

f. Laporan Sumber-sumber dan Penggunaan Dana Qardul Hasan


( Nama bank )
Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Qardhul Hasan
Untuk tahun yang terakhir ( tahun ) dengan (tahun lalu )
xxxx ( tahun ) xxxx ( tahun )
Uraian Catatan
Unit Moneter Unit Moneter
Saldo awal [Link] [Link]
Pinjaman kebajikan Sumber-sumber [Link] [Link]
dana Qardhul Hasan Alokasi dari
rekening koran [Link] [Link]
Alokasi dari pendapatan yang dilarang

149
syariah ( haram ) [Link]
Sumber diluar bank [Link] [Link]

Total sumber dana selama tahun ini [Link] [Link]

Penggunaan Qardhul Hasan


Pinjaman kepada para pelajar [Link] [Link]
Pinjaman kepada para pengrajin [Link] [Link]
Penyelesaian rekening koran [Link] [Link]

Total penggunaan selama tahun ini [Link] [Link]

Saldo akhir tahun


Pinjaman kebajikan [Link] [Link]
Dana tersedia untuk pinjaman [Link] [Link]

150
BAB VIII
TIGA PRINSIP DASAR CORPORATE SOCIAL
RESPONSIBILITY (CSR)

A. Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR)


Merupakan aktivitas yang perusahaan laksanakan selaku
wujud tanggung jawabnya pada lingkungan sekitarnya mereka
berdiri. Corporate social responsibiltiy (CSR) selaku sebuah
konsep, pesat perkembangannya semenjak sekitar tahun 1980
sampai 1990 selaku suara serta respons keprihatinannya
berbagai kelompok masyarakat serta jaringan setingkat global
dalam mendongkrak perilaku responsibilitas, fairness, serta etis
perusahaan dimana tidaklah sekadar terbatasi dalam
perusahaan, namun terhadap stakeholders serta masyarakat
ataupun komunitas di sekitarnya daerah operasi ataupun
kerjanya.
Corporate social responsibility (CSR) oleh Untung (2009)
yakni komitmennya dunia usaha ataupun perusahaan dalam
memberikan keikutsertaannya untuk mengembangkan
perekonomian secara berkelanjutan melalui menggarisbawahi
tanggung jawabnya secara sosial serta menekankan pada
keselarasan diantara perhatiannya dalam segi lingkungan,
sosial, serta ekonomis. Persoalan sosial di dekade akhir menjadi
lebih rumit serta penerapan desentralisasi menempatkan
corporate social responsibility (CSR) selaku sebuah rancangan
yang diharap bisa memberi opsi lain untuk memberdayakan
penduduk miskin. Kotler dan Nancy (2005) menjelaskan,
corporate social responsibility (CSR) yakni loyalitas perusahaan
dalam menumbuhkan kesejahteraannya penduduk dengan
praktik usaha secara baik serta memberikan kontribusi berupa
sejumlah sumber dayanya. World Business Council for Sustainable
Development mengemukakan bahwa corporate social responsibility
(CSR) merupakan janji berkelanjutan oleh kalangan usaha
dalam menerapkan perilaku etis serta berkontribusi dalam
pembangunan perekonomian seperti mendongkrak mutu
kehidupannya pegawai dan keluarganya, serta masyarakat

151
ataupun komunitas lokal serta luas Elkington (1999)
menjelaskan, suatu perusahaan yang memperlihatkan
tanggung jawabnya secara sosial mampu memberi atensi pada
peningkatan kualitasnya; penduduk, terutama komunitas lokal;
juga lingkungan. Triple Bottom Line 3P yakni: 1. Profit
pendukung labanya perusahaan. 2. People diamana mendorong
kesejahteraannya penduduk. 3. Planet mendongkrak
kualitasnya lingkungan.

B. Triple Bottom Line


Tiga Syarat Penting Corporate Social Responsibility (CSR)
1. Tindakan dilakukan dengan sadar dan tahu (dijalankan
oleh pribadi yang rasional).
2. Adanya kebebasan pada tempat pertama (bukan dalam
keadaan dipaksa atau terpaksa).
3. Individu yang melaksanakan suatu tindakan
memanglah berkeinginan melaksanakan tindakan
tersebut (bersedia serta mau).

Corporate social responsibility (CSR) yakni strateginya


perusahaan dimana mengakomodasi kepentingan serta
kebutuhan stakeholders, serta muncul semenjak masa di mana
perusahaan sadar sustainability lebih esensial dibanding pada
sekadar laba. Corporate social responsibility (CSR) bisa
dinaytakan selaku keikutsertaan perusahaan pada sasarannya
pembangunan berkelanjutan (sustainable development) melalui
pengelolaan imbas (meminimalisasi imbas negatif serta
memaksimalkan imbas positif) pada stakeholders. Kemudian
juga berkaitan kuat pada sustainable development, dimana pada
pelaksanaan kegiatannya sebuah diharuskan melandaskan
ketetapannya pada imbas terhadap lingkungan serta sosial
buka hanya berdasar pada laba serta hasil yang didapatkan.
Corporate social responsibility (CSR) bisa memberikan
dampak positif bagi penduduk; namun bergantung juga pada
kapasitas serta orientasi organisasi ataupun lembaga lainnya,
khususnya pemerintahan. Studi Bank Dunia (2002)

152
memperlihatkan peranan pemerintahan seperti meningkatkan
kemampuannya lembaga, membuat insentip, dukungan politik
untuk penggiat corporate social responsibility (CSR), keterlibatan
sumber daya, serta penumbuhan ketetapan dimana
menyehatkan pasar,
Ada tiga pendekatan pada langkan penyusunan
tanggung jawab sosial itu meliputi:
1. Pendekatan kepentingan bersama
Pendekatan kepentingan bersama yakni berbagai ketetapan
moral wajib berdasar terhadap standard kebebasan,
kewajaran, serta kebersamaan secara bertanggung jawab.
2. Pendekatan moral
Pendekatan moral yakni tindakan ataupun ketetapan yang
berdasar terhadap prinsip kesantunan melalui pemahaman
bahwasanya hal yang dilaksanakan tidaklah merugikan
ataupun berlawanan pada berbagai pihak lainnya dengan
disengaja.
3. Pendekatan manfaat
Pendekatan manfaat yakni rancangan tanggung jawab sosial
dimana berdasar terhadap berbagai nilai bahwasanya hal
yang perusahaan laksanakan memberikan manfaat kuat
dengan adil untuk berbagai pihak dengan kepentingan.

Triple bottom line mempunyai konsep pembangunan


planet, profit, serta people.

1. Lingkungan (Planet)
Planet ataupun lingkungan yakni suatu hal yang tak
bisa terlepas ataupun terikat pada semua elemen pada

153
kehidupannya individu. Keuntungan ataupun profit dimana
termasuk sesuatu yang pokok pada sektor bisnis
mengakibatkan perusahaan selaku penggiat bisnis
mengutamakan profit namun tidak memperdulikan upaya
dalam pelestarian lingkungan. Dampaknya lingkungan
rusak pada beragam daerah karena lalainya tanggung jawab
perusahaan dalam pencemaran, polusi, maupun iklim yang
berubah.
Penggiat usaha terkait aktivitas mempertahankan
lingkungan tetap lestari bisa meminimalkan pemakaian
sumber daya alam yang berlebihan melalui pemanfaatan
teknologi eco friendly. Melalui turut menjaga lingkungannya,
perusahaan mampu memperoleh banyak keuntungan
dimana khususnya pada aspek kenyamanan serta
kesehatan, diluar menjaga kelangsungan sumber daya.

2. Keuntungan (Profit)
Keuntungan ataupun profit yakni sasaran mendasar
pada tiap aktivitas usaha, dimana dalam memperoleh
keuntungan sebesar mungkin perusahaan akan melakukan
upaya efisiensi pada anggarannya serta mendongkrak
produktivitasnya. Efisiensi anggaran bisa dilaksanakan
melalui menekan penggunaan bahan dasar serta
pengurangan anggaran semaksimal mungkin. Adapun
langkah meningkatkan produktivitas melalui pembenahan
kinerja manajemen dengan menyederhanakan proses,
penekanan waktu proses produksinya, menurunkan
aktivitas yang kurang efisien, serta membentuk keterkaitan
berjangka panjang terhadap stakeholder.

3. Masyarakat yang Memangku Kepentingan (People)


Masyarakat ataupun people yakni stakeholder berharga
untuk perusahaan, dikarenakan sokongannya diperlukan
sekali untuk kontinuitas kehidupan, kemajuan serta
keberadaan perusahaan.

154
Perusahaan harus melaksanakan tanggung jawabnya
dalam memberikan pengaruh serta manfaat pada
masyarakat. Perusahaan dalam mempertahankan
keberlangsungannya tidaklah bisa sekadar berfokus pada
kepentingannya saja dalam memperoleh keuntungan,
namun perlu juga untuk memberikan kepeduliannya pada
keadaan masyarakat, misalnya membuat aktivitas dalam
membatu serta mendukung keperluannya masyarakat.
Rasa peduli perusahaan tersebut mampu
meningkatkan image baiknya dalam media. Melalui hal
tersebut, krusial untuk perusahaan guna melangsungkan
keterkaitan pada masyarakat secara baik, sehingga bisa
menyejahterakan masyarakat serta memberikan manfaat
untuk perusahaan sendiri.

Menurut Renal Khasali stakeholder bisa dibagi dalam


lima kategori meliputi:
1. Stakeholder Primer, sekunder, serta marginal.
Tiga stakeholder tersebut tersusun berdasar pada skala
prioritasnya. Stakeholder terpeting yakni primer, kemudian
sekunder, barulah marjinal. Namun susunan tersebut bisa
berganti dengan seiring waktu.
2. Stakeholder internal
Merupakan stakeholder yang ada pada lingkup
perusahaan meliputi manajemen, pegawai, serta pemegang
saham ataupun shareholder. Sementara stakeholder eksternal
ada pada luar lingkup perusahaan meliputi pers,
pemerintah, masyarakat, serta lainnya.
3. Stakeholder tradisional serta masa depan.
Masyarakat serta pegawai yakni stakeholder
tradisional sementara stakeholder masa depan yakni yang
diprediksi akan memberi pengaruh terhadap perusahaan
meliputi konsumen potensial, peneliti, serta mahasiswa.
4. Vocal minority serta Silent majority
Vocal minority yakni pendukung aktif sementara silent
majority yakni pendukung pasif

155
5. Proponents, uncommitted, serta opponents.
Proponents yakni golongan pendukung perusahaan,
pihak yang tidak memperdulikan yakni uncommitted,
sementara yang memprotes perusahaan yakni opponents.

Perusahaan dalam melaksanakan kegiatan implementasi


tanggung social bisa membagi kelompok masyarakat dalam
beberapa model pengembangan. Model pengembangan
masyarakat bisa dilakukan menurut model pengembangan
yang dilakukan oleh Suharto (1997) yang membagi masyarakat
kedalam tiga kelompok model pengembangan:
1. Pengembangan masyarakat setempat yakni langkah yang
bertujuan mewujudkan majunya ekonomi serta sosial untuk
masyarakat. Pengembangannya tersebut yakni proses
hubungan diantara masyarakat sekitar yang didukung oleh
pekerja sosial.
2. Perencanaan sosial yakni langkah pragmatis dalam
menetapkan tindakan serta keputusan untuk menyelesaikan
suatu permasalahan sosial meliputi kenakalan remaja,
pengangguran, kesehatan, serta kemiskinan. Pekerja sosial
mempunyai peranan untuk perencanaan sosial dimana
memandangnya selaku “konsumen”. Perencana sosial
dilihat selaku ahli pada pelaksanaan penelitian,
menganalisa kebutuhan serta permasalahan masyarakat,
juga identifikasi, pelaksanaan, serta evaluasi berbagai
program layanan kemanusiaan.
3. Aksi sosial yakni ubahan mendasar pada struktur serta
kelembagaan masyarakat, dengan mekanisme pembagian
kekuasaan, penentuan keputusan, serta sumber distribusi.

Selain melakukan program pemberdayaan masyarakat


sekitar perusahaan juga melakukan kerjasama kemitraan dengan
masyarakat sekitar. Pola kemitraan dengan masyarakat bisa
dilakukan dengan beberapa model/scenario kemitraan. Model
kemitraan yang dikembangkan oleh Wibisono (2007) yakni mitra

156
perusahaan pada pemerintahan ataupun pada masyaralak
sekitarnya melalui skenario meliputi:
1. Pola Kemitraan Produktif
Pola dengan penempatan mitra selaku subjek serta
pada paradigma common interest (kepentingan umum).
Prinsip simbiosis mutualisme ataupun saling memberikan
keuntungan amat kentara dalam pola ini. Perusahaan
memiliki rasa peduli terkait lingkungan serta sosial yang
besar, pemerintahan memberi iklim kontributif untuk sektor
bisnis serta penduduk memberi dukungan positif pada
perusahaan. Hingga bisa saja mitra terlibat dalam pola
resource-based partnership ataupun keterkaitan dengan basis
sumber daya, ataupun mitra diberikan peluang sebagai
bagiannya shareholder.
2. Pola Kemitraan Semi Produktif
Pola dengan komunitas serta pemerintah ataupun
masyarakat diasumsikan selaku permasalahan serta objek
eksternal perusahaan. Perusahaan tidaklah mengetahui
berbagai program pemerintahan, pemerintahan tidak
memberi iklim kontributif pada sektor bisnis serta
masyarakat juga pasif dalam bersikap. Pola tersebut
berpatokan terhadap kepentingan berjangka singkat serta
tidak ataupun belum memunculkan sense of belonging (rasa
mempunyai) dalam pihaknya masyarakat serta dalam
pemerintahan yakni low benefit. Kerja sama masih
mengutamakan elemen public relation ataupun kariatif
dimana komunitas serta pemerintah ataupun masyarakat
diasumsikan lebih selaku objek.
3. Pola Kemitraan Kontra Produktif
Pola ini mampu berlangsung apabila perusahaan
bertumpu terhadap pola sederhana dimana sekadar
memprioritaskan kesejahteraan shareholder yakni mencari
profit (keuntungan) semaksimal mungkin. Fokusnya
perusahaan ada dalam caranya untuk dapat memproduksi
profit dengan sebanyaknya, sedangkan hubungannya pada

157
komunitas serta pemerintah ataupun masyarakat hanyalah
sekadar pemanis.

C. Manajemen Corporate Social Responsibility (CSR)


Gassing (2016) menjelaskan, ada empat tahap
manajemen public relation yang berkaitan pada program
kerjanya corporate social responsibility (CSR) dimana tujuannya
yakni mengoreksi permasalahan yang public relation supaya
berperan selaku permasalahan yang melibatkannya juga.
1. Defining Corporate Social Responsibility (CSR) Problem
Menganalisa kondisi, seperti latar belakang supaya
memperoleh cerminan secara spesifik terkait suatu
permasalahan yang sedang serta hendak divisi public relation
hadapi.
2. Programming and Planning
Menyusun rencana serta membuat pemikiran taktis.
Melalui, menyusun tujuan ataupun prediksi dimana hendak
diraih dalam masa mendatang.
3. Communication and Action
Memulai untuk bertindak berdasar pada strategi serta
rencana yang telah disusun. Bersamaan dengan
melaksanakan aksi, penting juga untuk mempertahankan
komunikasi antar aspek. Komunikasi serta aksi tersebut
wajib dilaksanakan ketika mempergunakan saluran yang
sesuai supaya membentuk pengertian serta menghindari
permasalahan pada komponen perusahaan dikarenakan
salah komunikasi.
4. Evaluation
Tahap paling akhir pengukuran kesuksesan sebuah
program. Pengukuran dilaksanakan mempergunakan
penilaiannya brand awareness, perubahan sikap serta opini
dengan dukungan data kuantitatif. Perolehannya tersebut
berperan selaku pertimbangan untuk program selanjutnya.

158
D. Faktor Yang Mempengaruhi Corporate Social Responsibility
(CSR)
Princes of Wales Foundation (Untung: 2009) menjelaskan
terdapat lima hal esensial dimana bisa berpengaruh ke
penerapan corporate social responsibility (CSR), yakni:
1. Pemberdayaan manusia ataupun human capital.
Corporate social responsibility (CSR) sendiri tujuannya
yakni memberdayakan penduduk tidak untuk memperdaya
penduduk, dengan tujuan membuatnya bisa mandiri.
2. Environments dimana berbincang terkait.
Corporate social responsibility (CSR) dilihat pula pada
lingkupnya lingkungan ataupun stakeholder di mana kita
ada. Adapun mayoritas pengukurannya yakni melalui
pandangan sebesar apa dana yang dilontarkan. Pada
dasarnya bukanlah tentang dana semata, dana tersebut
berperan selaku nilai dikarenakan terdapat nilai intangible
dimana krusial sekali, yang mana berarti terdapat suatu hal
yang dana tidaklah bisa nilai ataupun dapat dikatakan nilai
etika ataupun integritas.
3. Good Corporate Governance (GCG)
Good corporate governance (GCG) yakni suatu sistem
terkait cara aset perusahaan dialokasi mengikuti “kuasa”
serta “hak”. Good corporate governance (GCG) sendiri
mempunyai dua sifat yakni ke dalam ataupun internal
dimana berkaitan pada transparansi, yang membuat
terdapat pengukuran perusahaan publik berdasar pada
keterbukaan informasinya, serta sifat mengatur keluar
ataupun eksternal dimana berkaitan pada lingkungan
berada, jika hendak melaksanakan suatu hal untuk
penduduk artinya diharuskan memahami hal yang mereka
perlukan, tidak semata hal yang kita inginkan untuk
perbuat, artinya dibutuhkan untuk berkomunikasi
komunikasi lebih dulu apabila ingin menyusun program.
4. Social Cohesion
Corporate social responsibility (CSR) sendiri tujuannya
untuk memberdayakan penduduk bukan memanjakannya,

159
dimana pada implementasinya harus menghindari
timbulnya kecemburuan secara sosial. Namun
mempersatukan setiap kelompok untuk menyokong satu
sama lainnya dalam bersama meraih tujuannya.
5. Economic Strength
Economic Strength yakni langkan pemberdayaan
lingkungan dalam bidang perekonomian ke arah mandiri.

E. Manfaat Penerapan Konsep TBL Terhadap Program


Corporate Social Responsibility (CSR)
Adapun sejumlah manfaat dari penerapan ini pada
perusahaan mulai langsung ataupun tidaknya, meliputi:
1. Menekan anggaran operasional.
2. Pegawai relatif semakin puas serta loyal pada perusahaan
yang berkomitmen pada corporate social responsibility (CSR).
3. Mendongkrak pelayanan, kualitas produk, juga berfokus
terhadap konsumen.
4. Mendongkrak popularitas akan image perusahaan terkait
rasa peduli pada lingkungan serta masyarakat.
5. Memenuhi tanggung jawab lingkungan serta sosial dimana
mampu mempermudah terwujudnya sustainable development.

F. Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development)


Sustainable development bukan sesuatu yang asing lagi
untuk masyarakat pada umumnya saat ini. Ide tersebut telah
ada dan diawali saat Brundtland Comission menyusun serta
mengartikan pembangunan berkelanjutan itu, dimana
prinsipnya yakni “mencukupi kebutuhan saat ini dengan tidak
perlu mempertaruhkan untuk mencukupi kebutuhannya
generasi mendatang. Perolehan dari Earth Summit Rio de
Jeneiro Brazil 1992, menghasilkan kesepakatan ubahan pola
pembangunan, melalui economic growth (pertumbuhan
ekonomi) berganti sustainable development (pembangunan
berkelanjutan). Adapun Pembangunan Berkelanjutan yakni
besaran kapital ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, personal,

160
politik yang diberikan antar generasi menuju generasi
selanjutnya setidaknya sama.
Evaluasi untuk kepentingannya pembangunan yang
berjangka panjang menciptakan rasa sadar dalam melindungi
tersedianya sumber daya. Usaha pengelolaan dalam
memanfaatkan sumber daya di Indonesia untuk pembangunan
dilaksanakan dengan penentuan pembangunan berjangka
panjang dimana dirancangkan pada rencana pembangunan
berkelanjutan dengan wawasan lingkungan hidup. Konsep
tersebut termasuk pengembangan serta adaptasi dari
pembangunan dimana kita kenal dengan sustainable development
secara global.
Konsep itu sendiri di Indonesia, khususnya definisinya
mendapati pertumbuhan seiring lebih banyak dikenalnya
berbagai hal dasar dimana belumlah masuk pada
pertimbangannya pembangunan berjangka panjang. Pengertian
resminya konsep itu ada pada UU RI No. 23 Tahun 1997
tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 1 ayat 3 dimana
isinya meliputi:
Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan
lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana yang
memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya, ke
dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan,
kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi
masa depan.
Pengertian tersebut yakni pengembangan konsep
pembangunan degan wawasan wawasan lingkungan selaku
arahnya pembangunan nasional berangka panjang dimana
semenjak awalnya direncanakan di tahun 1982. UU RI No. 4
Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan
Lingkungan Hidup Bab 1, Pasal 1, ayat 13 menjelaskan:
Pembangunan berwawasan lingkungan adalah upaya sadar
dan berencana menggunakan dan mengelola sumber daya
secara bijaksana dalam pembangunan yang berkesinambungan
untuk meningkatkan mutu hidup.

161
Sebelum melaksanakan kajian ubahan pengertian pada
dua UU itu, diperlukan pemahaman dulu terkait berbagai
istilah esensial ataupun kata kuncinya dimana dipergunakan
pada pengertian itu. Deskripsi ini merupakan definisi ataupun
penjelasan berbagai istilah tersebut.
Lingkungan yakni sebuah perpaduan ruang dimana ada
berbagai makhluk meliputi manusia, tumbuhan, juga hewan,
adapun benda mati meliputi air, batuan, tanah, juga udara
dimana saling melangsungkan keterkaitan secara timbal balik
pada sebuah proses dimana disebut dengan kehidupan.
Keterkaitan tersebut serupa dengan sebuah sistem, dimana
kemudian lingkungan juga disebut ekosistem. Keterkaitan
tersebut bisa terjadi dikarenakan tiap unsurnya lingkungan
tersebut bisa memerankan tiap fungsi ekologi, yakni fungsi
dalam menjaga keseimbangannya pada lingkungan terkait
mekanisme kehidupan.
Sumber daya yani tiap komponen ataupun unsur pada
lingkungan dimana bisa dipergunakan dalam melaksanakan
aktivitas yang menghasilkan ataupun bisa disebut juga
kegiatan sebagai kegiatan produksi. Umumnya, sumber daya
dikategorikan menjadi dua kelompok, yakni sumber daya
manusia serta alam. Berdasar pada sifat, sumber daya alam
sendiri dikelompokkan dalam renewable resources (sumber daya
terbarukan) serta unrenewable resources (sumber daya tidak
terbarukan). Renewable resources sendiri yakni sumber daya
dengan kemampuan untuk memulihkan dirinya dengan
natural dalam situasi tertentu, misalnya tumbuhan, udara, serta
air. Unrenewable resources yakni sumber daya tanpa
kemampuan untuk membuat dirinya pulih kembali, misalnya
batu bara, minyak serta lainnya, apabila penggunaannya
dilaksanakan dengan terus-terusan mampu mengakibatkan
sumber dayanya itu menghilang.
Jika dicermati pengertian pada dua UU itu, akan bisa
ditemukan dua hal dasar, yakni:
1. Penggunaan kata menggunakan dan mengelola sumber
daya secara bijaksana dalam pembangunan yang

162
berkesinambungan (pada UU No.4/82) diganti dengan
memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya, ke
dalam proses pembangunan (pada UU No.23/97).
Perubahan itu memiliki makna bahwasanya dalam
penafsiran terdahulu (UU No.4/82) mengelola sumber daya
termasuk sesuatu yang dipisahkan dari melaksanakan
pembangunan dimana diusahakan synergic ataupun sejalan.
Sedangkan dalam pengertian yang dikembangkan (UU No.
23/97), proses mengelola lingkungan hidup, seperti sumber
dayanya, diharuskan termasuk bagiannya pembangunan.
Pengertian pada UU No. 23/97 menekankan pemeliharaan
serta pemanfaatan sumber daya lingkungan termasuk aspek
yang tak bisa dipisahkan pada kelangsungannya aktivitas.
Pengelolaan, penggunaan, serta ketersediaan sumber daya
sendiri termasuk pertimbangan semenjak tahapan
permulaan pada perencanaan pembangunan.
2. Pengertian pada UU No. 23/97 menyebutkan dengan
menyeluruh tujuannya pembangunan dan mencakup
pandangan pemberdayaan dengan penggunaan kata
menjamin kemampuan, kesejahteraan dan mutu hidup dan
jangka panjang melalui penyebutan generasi masa kini dan
generasi masa datang. Penggunaan kata menjamin
kemampuan, dan kesejahteraan bermakna bahwasanya
pada langkah melaksanakan pembangunan di dalamnya
harus mencakup langkah memberdayakan masyarakat
dalam seluruh bidang supaya bisa dipergunakan selaku
modal mendasar dalam berusaha mendongkrak taraf
kehidupan. Penggunaan kata generasi masa kini dan
generasi masa depan bermakna bahwasanya pembangunan
wajib dilakukan melalui berbagai cara dimana bersamaan
bisa menjaga kelestariannya sumber daya yang
membuatnya bisa bertindak selaku cadangannya sumber
daya untuk generasi masa mendatang supaya menjalankan
aktivitas pembangunan sehingga bisa menjadi penjamin
kesejahteraan, kemampuan, serta mutu kehidupannya.

163
Sedangkan pada UU No.4/82 sekadar disebutkan tujuannya
pembangunan yakni “meningkatkan mutu hidup”.

Berdasar pada pengertiannya pembangunan


berkelanjutan dengan wawasan lingkungan diharuskan
merefleksikan karakteristik ataupun ciri-ciri meliputi:
1. Program pembangunannya direncanakan ataupun disiapkan
berlandaskan sumber daya alam yang tersedia. Dalam
tahapan persiapan, program pembangunannya telah
melewati pertimbangan beragam opsi dalam memanfaatkan
ketersediaan sumber daya, serta pendukungnya dalam tiap
opsi pemanfaatannya, juga kapabilitas dalam mengadakan
dari tempat lain terkait sumber daya yang dibutuhkan.
Misalnya: mayoritas luasan lahan pada sebuah daerah desa
termasuk area dimana hanya ada rerumputan, dimana
untuk minoritas penduduknya rerumputan itu termasuk
makanan untuk ternaknya. Area itu tidak dengan langsung
bermanfaat untuk mayoritas penduduknya desa, serta pada
situasi itu penduduk juga tidak memperdulikan status
kepemilikannya itu. Dasarnya lahan itu bisa berperan selaku
sumber daya pembangunannya daerah tersebut untuk
mendorong mutu serta kesejahteraan kehidupan
penduduknya. Permasalahannya, mekanisme pembangunan
seperti bagaimana yang seharusnya dilakukan pada
pemanfaatan sumber daya lahannya itu. Sejumlah faktor
pokok dimana harus diperhatikan ketika menetapkan opsi
dalam memanfaatkan sumber daya dalam permisalan
tersebut yakni:
a. Apakah peluang saat ini berwujud sumber makanan
ternak mampu menyokong dalam ekspansi peternakan
intens yang ternaknya sejenis ambing, domba, kerbau,
serta sapi;
b. Apakah terdapat opsi lain pemanfaatan area itu diluar
pemanfaatan rerumputannya bagi peternakan,
contohnya pertanian, perumahan, serta lain-lain;

164
c. Apakah ada ketersediaan sumber daya lainnya dimana
dibutuhkan selaku penunjang serta pendukung
terlaksananya program terpilih? Contohnya, pilihannya
yakni mengembangkan peternakan dengan intens,
diperlukan evaluasi terkait sasaran serta tujuannya,
berbagai hal teknis berhubungan pada pelaksanaannya
meliputi: mengadakan bibit dalam peternakan,
meningkatkan kemampuannya penduduk terkait yang
akan berpartisipasi beternak, probabilitas pasar untuk
penampung produknya ternak tersebut, serta lainnya.

2. Program pembangunan mempergunakan sumber daya


dalam meraih sasaran yang ada sekarang melalui
pertimbangan pada kesediaan sumber dayanya dalam
mencapai sasaran pembangunan pada generasi ke
depannya. Contohnya pemakaian renewable resources
(sumber daya terbarukan), yakni hutan, usahawan hutan
melaksanakan penebangan dalam hutan selaku sumber
dayanya pada perusahaan kayunya. Bila usahawan itu
memelihara hutannya seperti pelaksanaan reboisasi, artinya
pepohonan dalam wilayah penebangan tersebut bisa terjaga
yang mana membuat perusahaan kayunya bisa terus
bertahan hingga keturunannya. Melalui metode itu,
memanfaatkan hutan dalam mendongkrak kualitas serta
kemakmuran kehidupan sekarang tidak menghilangkan
kesempatannya generasi selanjutnya dalam melakukan
pembangunan melalui penggunaan sumber daya serupa.
Contohnya pemakaian unrenewable resources (sumber daya
tidak terbarukan), yakni batubara, didorong kemajuan serta
penemuan beragam rekayasa teknologi, sekarang beragam
aktivitas pembangunan memerlukan pemanfaatan batubara,
dimana kita ketahui batubara sendiri tidaklah bisa
terbarukan, yang berarti pemakaian berkelanjutan mampu
mengakibatkan bahan itu habis tidak tersisa. Jika generasi
sekarang menghadapi permasalahan dimana diharuskan
mempergunakan banyak batubara yang mana diduga

165
generasi mendatang tidak akan kebagian batubara tersebut
dikarenakan habis. Artinya generasi saat ini harus berupaya
menemukan rekayasa teknologi lainnya supaya
memungkinkan untuk mempergunakan sumber daya
lainnya. Sehingga bisa mengulur kesediaan batubara serta
dengan perlahan meminimalkan ketergantungan pada
pemakaiannya.
3. Program pembangunan dengan orientasi terhadap peningkatan
serta pemberdayaan kualitas SDM (sumber daya manusia) di
masa terkini serta masa mendatang dimana berperan selaku
sasaran juga pelaku dari program selaku aktualisasi oleh
pemberian jaminan kualitas hidup, kesejahteraan, serta
kemampuan masyarakat. Standard mutu SDM pada program
pembangunan itu dimana hendak diraih dalam generasi terkini
yakni keadaan permulaan dalam perbaikan kualitasnya SDM
generasi mendatang, begitupun seterusnya. Artinya, program
pembangunan ini mempergunakan standard mutu SDM
dengan sifat progresif antar generasi. Contohnya: standard
penetuan mutu pekerja berdasar pada tingkatan pendidikan,
dimana dalam dasawarsa 80-an standard mutu yang hendak
diraih yakni menyelesaikan tingkatan SD. Kemudian dalam
dasawarsa 90-an, pekerja tamatan SD termasuk keadaan umum
yang mana ditentukan standard baru yakni menyelesaikan
Tingkatan SMP. Sama halnya pada tiap periode selanjutnya,
standard itu dengan menerus meningkat.

Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan


lingkungan mempunyai beberapa sifat dimana direfleksikan
melalui karakteristik serta ciri-cirinya, meliputi:
1. Berdasar pada perencanaan secara adaptif serta dinamis.
Berarti, program pembangunan dibentuk melalui
perancangan yang luwes dimana pada perjalanannya waktu
pelaksanaan ditemui berbagai faktor dasar yang tidak
diduga ketika perancangan bisa diakomodasi pada
perancangan itu tersebut. Artinya memberikan kesempatan

166
ataupun ruang dalam melaksanakan penyesuaian ataupun
perbaikan bersamaan pada berjalannya pelaksanaan
pembangunan. Kondisi tersebut tentunya bukan ditujukan
dalam membenarkan ataupun memberikan peluang pada
pelaksanaan sebuah perancangan asal-asalan ataupun
ceroboh. Namun dalam merespons ataupun menanggapi
ubahan yang berlangsung dalam keadaan lingkungan
selepas pembuatan perancangan itu. Ubahan tersebut lebih
dimaksudkan pada ubahan dikarenakan fenomena natural
meliputi angin topan ataupun gempa bumi. Supaya bisa
memperkirakan ataupun mengantisipasi ubahan selaku
imbas dari sebuah aktivitas yang dirancangkan, baiknya
program pembangunan dibentuk dengan terpadu, mulai sisi
kegiatannya hingga rancangan kegiatannya juga perolehan
yang hendak diraih, supaya bisa menghindarkan adanya
tumpang tindih kewenangan ataupun kegiatan antar sektor.
2. Berpijak terhadap kesediaan sumber daya lokal ataupun
setempat. Berarti, program pembangunan dibentuk guna
meningkatkan ataupun mendapatkan hasil kegunaan
sumber daya lokal ataupun setempat. Artinya, sumber daya
lokal yakni yang diandalkan, sedangkan sumber daya
eksternal termasuk penunjang ataupun pendukung.
Adapun suatu hal selaku pertimbangannya yakni
pemakaian sumber daya tersebut bukan sekadar guna
kebutuhannya generasi saat ini, namun mendatang juga.
Membuat pelaksanaannya program pembangunan harus
diiringi oleh usaha pengelolaannya sumber daya itu. Usaha
pengelolaannya renewable resources yakni perawatan dengan
sifat pelestarian keberadaannya sumber daya. Sementara
pada unrenewable resources usaha pengelolaannya lebih pada
penekanan efisiensi penggunaan supaya meminimalkan
perilaku boros, juga usaha dalam mencari sumber daya
lainnya selaku opsi pengganti sumber dayanya.
3. Progresif, berarti program pembangunan berpatokan
terhadap suatu ukuran ataupun standard dimana dengan
menerus mengalami peningkatan. Perbaikan kualitas

167
kehidupan selaku sasaran pembangunan dengan senantiasa
berjalan dalam penyelenggaraan pembangunan. Contohnya
pada program yang tujuannya mendongkrak
pendapatannya keluarga dalam daerah yang kekurangan,
dalam sebuah periode bisa mempergunakan standard
pencapaian perolehan pembangunan meliput mendorong
kemampuannya penduduk supaya bisa menyajikan
makanan 3 kali sehari terhadap keluarganya. Kemudian
pada periode selanjutnya, standard tersebut mungkin
memerlukan peningkatan, contohnya semua anak pada
daerah itu diharuskan bisa menghadiri sekolah.

Berkaitan pada pengertian sifat, serta ciri pembangunan


berkelanjutan yang berwawasan lingkungan, adapun sejumlah
prinsip pada penyelenggaraannya yakni:
1. Terpadu ataupun integratif
Program pembangunan haruslah sebuah serangkaian
aktivitas dimana saling mendukung serta terkait. Kondisi
itu memberikan kemungkinan dalam berjalannya
aktualisasi dengan terpadu program itu yang bisa membuat
menghindarkan berlangsungnya aktivitas tumpang tindih
dimana bisa membuat sasarannya program menjadi kacau.
2. Membentuk kemandirian
Pemberdaya SDM pada aktualisasi program pembangunan
bermaksud meminimalkan ketergantungannya SDM pada
sokongan ataupun bantuan untuk mendorong mutu
kehidupan serta taraf kesejahteraannya dengan berbagai
usaha yang dilaksanakan melalui pengerahan
kemampuannya pribadi.
3. Membentuk keadilan antargenerasi
Penggunaan sumber daya alam dalam memperbaiki
kualitas kehidupan haruslah berlandasan terhadap evaluasi
bahwasanya generasi selanjutnya memerlukan juga sumber
daya itu untuk memperbaiki kualitas kehidupannya.
Artinya, penggunaan sumber daya terkini memerlukan

168
usaha dalam memelihara kesediaannya sumber daya dalam
masa mendatang juga.

Artinya, bisa dikatakan pembangunan berkelanjutan


yakni sebuah rancangan pembangunan yang pada
pelaksanaannya tidak melupakan hal yang seharusnya
diwariskan pada generasi mendatang.

F. Coorporate Social Responsibility (CSR) dalam Pembangunan


Berkelanjutan
Adapun suatu diskusi yang terangkat pada sektor
perusahaan saat ini, yakni coorporate social responsibility (CSR).
Diskusi tersebut dipergunakan perusahaan untuk berperan
menjelang ekonomi ke pasar bebas, dimana perkembangannya
sudah menjalin banyak keterikatan pada perekonomian dunia
melalui terciptanya APEC, AFTA, serta lainnya, dimana
memacu beragam perusahaan seluruh dunia dengan
bersamaan menjalankan kegiatannya untuk memakmurkan
penduduk dalam lingkungannya.
Dasarnya adanya corporate social responsibility (CSR) yakni
untuk menguatkan keberadaan perusahaan dalam suatu
wilayah, melalui menciptakan kerja sama diantara stakeholders
dengan bantuannya perusahaan melalui penyusunan berbagai
program untuk mengembangkan penduduk sekitar. Ataupun
pada definisi kemampuannya perusahaan dalam
menyesuaikan pada lingkungan sekitarnya, stakeholders serta
komunitas yang berkaitan padanya, secara global, nasional,
ataupun lokal. Sehingga pengembangannya corporate social
responsibility (CSR) selanjutnya berpatokan terhadap
sustainability development ataupun pembangunan berkelanjutan.
Melalui pandangan perusahaan, dimana keberlanjutan
dimaksudkan selaku sebuah program imbasnya berbagai
perintisan usaha, berdasar pada konsep rekanan serta
kemitraan tiap stakeholders. Terdapat lima aspek yang membuat
konsep keberlanjutan krusial meliputi:
1. Misi lingkungan

169
2. Kesediaan anggaran,
3. Terimplementasi pada ketetapan (pemerintah, perusahaan,
serta masyarakat)
4. Tanggung jawab sosial,
5. Mempunyai nilai laba.

Prinsip keberlanjutan tersebut mengutamakan


perkembangan, terutama pada penduduk yang kekurangan
untuk melaksanakan pengelolaan pada lingkungan serta
kapabilitas institusinya untuk melaksanakan pengelolaan pada
pembangunan, juga strateginya yakni kapabilitas dalam
mengintegrasi dimensinya sosial, ekologi, serta ekonomi
dimana menghargai kemajemukannya sosial budaya serta
ekologi. Selanjutnya pada proses pengembangan diharapkan
tiga stakeholders memberikan dukungan sepenuhnya, meliputi;
masyarakat, pemerintah, serta perusahaan.
Melalui mengamati uraian di atas, diperoleh terdapatnya
keterkaitan kuat diantara pembangunan berkelanjutan serta
corporate social responsibility (CSR), sebab intinya
mengutamakan tiga prinsip yakni environment, society,
economy, dimana sejalan pada piramida keberlanjutan. Oleh
karenanya implementasi corporate social responsibility (CSR)
secara kontinuitas mampu menyokong perwujudan
sustainability development.
Pembangunan berkelanjutan mempunyai hubungan
pada corporate social responsibility (CSR) pada tujuannya
perusahaan dimana bukanlah sekadar memperoleh laba serta
perkembangan berkonsekuensi penting. Perusahaan
diharuskan menyadari dirinya selaku bagiannya sistem sosial
serta lingkungan, yang membuatnya juga diperlukan
menyadari terdapatnya batasan sumber daya alam serta
menyadari tanggung jawab secara bersamaan terkait
pengembangan serta pemakaian sumber daya sosial yang
membuatnya memahami imbas yang mampu timbul dari tiap
tindakannya. Pembangunan berkelanjutan sebuah entitas bisa
terjaga melalui adanya keselarasan secara menguntungkan

170
diantara aspek lingkungan, sosial, serta ekonomi. Sehingga,
hadirnya perusahaan akan dirasa bermanfaat untuk penduduk
sekitarnya serta berperan pada keseharian penduduk tersebut.
Perusahaan dengan programnya, pada aspek pemberdayaan
ekonomi bisa menyokong pengurangan kemiskinan. Kinerjanya
perusahaan terkait ekonomi berhubungan pada seberapa jauh
ia bisa berdampak secara perekonomian pada penduduk mulai
secara langsung ataupun tidaknya.
Adapun konsepnya corporate social responsibility (CSR)
dimana mempergunakan sustainable development ataupun
pembangunan berkelanjutan termasuk dalam ethical theory,
dikarenakan menjelaskan bahwasanya tujuannya sustainable
development yakni merespons kebutuhan terkini dengan tidak
perlu menyinggung kapabilitas dalam menjaga generasi
mendatang dalam pemenuhan apa yang ia butuhkan. Sunaryo
(2015) menegaskan kembali mengenai konsep sustainable
development, pada sustainable development terkandung
maksudnya dari pembangunan dengan wawasan berjangka
panjang, dimana mencakup rentang waktu diantara generasi
serta berusaha dengan cukup menyajikan lingkungan sehat
serta sumber daya untuk menyokong kehidupan. Menurut GB
Nayenggita (2019) Ada dua tipe dari konsepnya corporate social
responsibility (CSR), yakni definisi luas serta sempit, dimana
pada definisi luas berhubungan kuat pada sasaran meraih
sustainable economic activity ataupun aktivitas perekonomian
berkelanjutan. Keberlanjutannya aktivitas perekonomian
bukanlah sekadar berkaitan pada tanggung jawab sosial namun
bersangkutan pula pada accountability ataupun akuntabilitas
perusahaan pada bangsa, penduduk, juga dunia. Pada proses
tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan, tidak akan
jauh dari konsep sustainable development. Karena dengan
menggunakan konsep pembangunan berkelanjutan akan
memberikan efek jangka panjang untuk perusahaan itu sendiri.
Dibutuhkan peran stakeholder, seperti peran masyarakat
berkualitas untuk terciptanya kondisi yang baik antara pemberi
manfaat dan penerima manfaat dan kualitas serta kuantitas

171
masyarakat sekitar perusaahan itu sendiri. Theresia (2018)
mengungkapkan bahwa teori stakeholder merupakan setiap
pemangku kepentingan ikut menetapkan kinerjanya
perusahaan, seperti kinerjanya terkait sosial. Institusi
diasumsikan selaku pihak dengan kemampuan terbaik untuk
mengelola serta mengawasi investasinya, mulai aspek sistem
informasi, pengetahuan, ataupun sumber dayanya.
Brundtland Report oleh WECD menjelaskan,
mempertahankan kelangsungan artinya menjaga serta
memproduksi kembali sumber daya yang sudah terpakai. Rasa
yakni konsumen dimana terbentuk dari corporate social
responsibility (CSR) bisa menyokong perkembangan
perekonomian. Corporate social responsibility (CSR) pada
perusahaan termasuk fungsi esensial untuk pengembangan
lingkungan sosialnya yang membuat pengembangannya
mampu beriringan pada pengembangannya perusahaan
tersebut.
Berdasarkan Internationa; Business Leaders Forum
terdapat delapan tipe aktivitas corporate social responsibility
(CSR) dalam menyokong penguatan kerekatan sosial, yakni:
1. Membentuk perasaan menghormati satu dengan lainnya
serta kepercayaan, dibentuk melalui menumbuhkan
kegiatan corporate social responsibility (CSR) dimana menuju
ke terwujudnya situasi akrab diantara masyarakat.
2. Membantu peningkatan kualitas kehidupan serta
pengurangan kemiskinan, bisa dilaksanakan contohnya
melalui mengembangkan berbagai usaha kecil di sekitarnya
wilayah perusahaan, juga menyokong pemasaran
produknya.
3. Mendukung penanganan tindak kriminal, melalui upaya
pemberian pemberdayaan supaya penduduk sekitarnya
tidak terjerumus pada sesuatu yang negatif.
4. Meminimalkan konflik yakni wujud corporate social
responsibility (CSR) mendasar serta memegang peranan kuat
pada usaha memperkuat kerekatan sosial.

172
5. Menyediakan pelayanan sosial ketika kondisi sulit, dan
berpartisipasi mengembangkan kebersamaan sosial.
6. Memberikan dukungan pada social local entrepreuners.
7. Memberikan dukungan pada aktivitas kebudayaan serta
memelihara warisannya budaya.
8. Menyokong toleransi antar etnis, agama, serta lainnya.

173
DAFTAR PUSTAKA

Abul a‟la al Maududi, 2005. Asas Ekonomi Islam al Maududi.


Surabaya: PT. Bina Ilmu

Adiwarman A. Karim. 2010. Ekonomi Mikro Islam. Jakarta: PT.


Raja Grafindo Persada.

Akhmad Mujahidin, Etika Bisnis dalam Islam (Analisis Terhadap


Aspek Moralitas Pelaku Bisnis), Jurnal Hukum Islam,
Vol. 4, No. 2, Desember 2005

Akhmad Nor Zharoni, Bisnis dalam perspektif Islam (telaah atas


konsep keagamaan dalam kehidupan ekonomi), dalam
Jurnal MAZAHIB, Volume IV, No. 2, Desember 2007

Amalia. 2013. Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap


Corporate Social Responsibility Disclosure di Bursa Efek
Indonesia. Media Riset Akuntansi Vol 3 No 1

Al-Qur‟an Dan Terjemahnya, Departemen Agama.

Bowen. 1953. “Social Responsibility of Businessman.

Cahya, Bayu Tri dan Umi Hanifah, “Meretas Aktualitas Islamic


Social Report: Sebagai Corporate Social Responsibilities
Framing Berbasis Syariah (Dalam Pendekatan
Filosofis)”, Jurnal BISNIS, Vol. 4, No. 1, Juni 2016.

Cahya, Bayu Tri, “Islamic Social Report: Ditinjau Dari Aspek


Corporate Governance Strength, Media Exposure Dan
Karakteristik Perusahaan Berbasis Syariah Di Indonesia
Serta Dampaknya Terhadap Nilai Perusahaan”,
Disertasi, Medan: Program Doktor Ekonomi Syariah
Pascasarjana UINSU, 2017.

Cahya, Bayu Tri, A. Nuruddin dan A. Ikhsan, “Islamic Social


Reporting: From the Perspectives of Corporate
Governance Strength, Media Exposure and the
Characteristics of Sharia Based Companies in Indonesia
and its Impact On Firm Value” IOSR Journal Of

174
Humanities And Social Science (IOSR-JHSS,) Vol. 22,
Issue 5, Ver. 10, May. 2017

Chamhuri, Siwar & Hossain, Tareq. (2009). An analysis of Islamic


CSR concept and the opinions of Malaysian managers.
Management of Environmental Quality: An International
Journal. 20. 290-298. 10.1108/14777830910950685.

Fitria, Soraya dan Dwi Hartanti. Islam Dan Tanggung Jawab


Sosial:“Studi Perbandingan Pengungkapan Berdasarkan
Global Reporting Initiative Indeks Dan Islamic Social
Reporting Indeks”. Purwokerto: Simposium Nasional
Akuntansi 13, 2010.

Haerani, Farida. 2017. STRATEGI CORPORATE SOCIAL


RESPONSIBILITY (CSR) DALAM RANGKA
MENINGKATKAN REPUTASI PERU. Volume 4 Nomor
1 Desember 2017 Page: 637 – 655 doi:
[Link] 7791. hlm, (638)

Haniffa, R. 2002. Social Reporting Disclosure-An Islamic


Perspective”, Indonesian Management & Accounting
Research, Vol. 2

Hendrik, Budi Untung. 2008. Corporate Social Responsibility.


Jakarta: Sinar Grafika.

Jamal Ma‟mur Asmani, Fiqh Sosial Kiai Sahal Mahfud, Surabaya:


Khalista, 2007, hlm

Kurnia, Afdal dkk. 2019. Sustainable Development dan CSR.


Prosiding Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat
Vol. 6 No. 3

Modul 3 CSR dan Tanggung Jawan Perusahaan Terhadap


Konsumen. 2019. Universitas Widyatama.

Muhammad. 2008. Metodologi Penelitian Ekonomi Islam


Pendekatan Kuantitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.

175
Muhammad DDjakfar. 2007. Etika Bisnis dalam Perspektif Islam,
UIN Malang Press.

Muhammad Sulaiman, Ph. D & Aizuddinur Zakaria, Jejak Bisnis


Rasul, Penerbit Hikmah, 2010 Musaq Ahmad, Busines
Ethics in Islam, Pustaka Al-Kautsar, 2001

Mustaq, Ahmad. 2001. Etika Bisnis Dalam Islam. Jakarta: Pustaka


Al_Kautsar

Modul Certified Accountant. 2017. Pelaporan Korporat. Jakarta:


IAI

Saptari, Ari. 2015. Manajemen Pembangunan Berkelanjutan.


Jakarta: Universitas Terbuka Modul

Siregar, Saparudin, dkk. 2016. Akuntansi Syariah: Meletakkan


Nilai-NIlai Syariah Islam dalam Akuntansi. Medan:
Madenatera

Solihin, Ismail, 2009, Corporate Social Responsibility From Charity


To Sustainability, Jakarta, Salemba Empat

Sudrajat, AB. 2020. CSR Untuk Pembangunan Berkelanjutan.


Kuningan: Suara Kuningan

Suharto, Edi, 2007, Pekerjaan Sosial Di Dunia Industri,


Memperkuat Tanggungjawab Sosial Perusahaan (CSR),
Bandung, PT. Refika Aditama

Suryani & Hendrayani. 2015. Metode Riset Kuantitatif Teori


dan Aplikasi pada Penelitian Bidang Manajemen dan
Ekonomi Islam. Jakarta: Prenamedia Group

Theresia. 2018. Analisis Penerapan Sustainable Development Goals


(Sdgs) Pada Beberapa Anggota Indonesia Global
Compact Network (IGCN). National Conference of
Creative Industry: Sustainable Tourism Industry for
Economic Development Universitas Bunda Mulia,
Jakarta, 5-6 September 2018 ISSN No: 2622-7436. hlm,
(944).

176
Wibisono, Yusuf, 2007, Membedah Konsep Dan Aplikasi
CSR, Gresik, Fanscho Publishing

Zam Saidi dan Hamid Abidin, Menjadi Bangsa Pemurah:


Wacana Dan Praktek Kedermawanan Sosial di Indonesia,
(Jakarta: Piramedia, 2004), hlm. 60.

Yusuf Qardhawi. 1997. Norma Dan Etika Ekonomi Dalam Islam.


Jakarta: Gema Insani Pers

Yulius P. Hermawan, Asas-Asas peraturan Yang


Baik:Gagasan PemPembentukan Pentukan

Undang-Undang Berkelanjutan, (Jakarta: Rajawali Press, 2007),

UU Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal

UU Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

177
BIODATA PENULIS

Ersi Sisdianto,[Link], adalah Dosen


Akuntansi Asisten Ahli di Departemen
Perbankan Syari‟ah dan Akuntansi Syari‟ah
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
Universitas Islam Negeri Raden Intan
Lampung. Gelar Magister Akuntansi
diperoleh dari Universitas Mercu Buana
Jakarta pada tahun 2018. Beliau merupakan
salah satu dosen yang mengajar pada mata
kuliah, pasar modal, akuntansi manajemen, akuntansi perbankan
dan praktik, akuntansi pertanggungjawaban sosial dan
lingkungan, akuntansi menengah dan analisis laporan keuangan
perbankan syari‟ah, fokus riset beliau saat ini adalah dibidang
akuntansi pertanggungjawaban sosial dan akuntansi manajemen.

Dakun, [Link] adalah Dosen luar biasa


diberbagai Universitas salah satunya yaitu
dosen luar biasa pada PKN STAN
Kementerian Keuangan Gelar Magister
Akuntansi diperoleh dari Universitas Mercu
Buana Jakarta pada tahun 2018 dengan
mendapatkan predikat mahasiswa terbaik
pada angkatan 2016 Beliau merupakan salah
satu dosen yang mengajar pada mata kuliah
pendidikan karakter mahasiswa PKN STAN Kementerian
Keuangan seperti pendidikan pancasila dan kewarganegaraan.
Riset beliau saat ini adalah bidang akuntansi keuangan dan
akuntansi pertanggungjawaban social.

178

Anda mungkin juga menyukai