97
PT Aplikasi Karya Anak Bangsa, atau yang dikenal sebagai GO-JEK,
sudah berada di 50 kota di Indonesia yang menandakan GO-JEK melakukan
ekspansi di dalam negeri. Setelah berada cukup lama di Indonesia, GO-JEK ingin
melakukan ekspansi ke Asia Tenggara seperti negara Singapura, Thailand,
Vietnam, dan Filipina. Latar belakang strategi ekspansi ini adalah rasa ingin tahu
CEO GO-JEK, Nadiem Makarim, apakah model bisnis yang berhasil dijalankan di
Indonesia dapat diterapkan dan berhasil di negara tujuan ekspansi tersebut. Negara
yang dituju dipilih karena memiliki karakteristik dan budaya yang serupa dengan
di Indonesia. Berdasarkan hal tersebut, GO-JEK hanya perlu melakukan sedikit
penyesuaian dalam melakukan pengembangan pasarnya. Selain itu berdasarkan
data yang didapatkan, tujuan pengembangan pasar ini salah satunya menjadikan
GO-JEK sebagai super app yang memberikan banyak layanan dalam satu aplikasi
dan digunakan oleh banyak orang. Dan fokus GO-JEK untuk menguasai pasar
transportasi daring di Asia Tenggara.
CEO GO-JEK memutuskan untuk merger dengan perusahaan jasa transportasi
lokal secara horizontal. Kerja sama ini juga dipadukan dengan pendampingan
terhadap perusahaan tersebut untuk menjalankan bisnisnya. Tujuan diadakan
merger oleh GO-JEK agar dapat masuk ke negara tujuan dan menyerap budaya
lokal yang nantinya dapat diterapkan di model bisnisnya. Dengan adanya budaya
lokal, calon konsumen dinilai akan lebih tertarik untuk mengonsumsi jasa yang
ditawarkan GO-JEK. Sehingga GO-JEK dapat bersaing dengan perusahaan di
negara tersebut dan mengalami keberhasilan seperti yang telah terjadi di
Indonesia.
98
Dalam melakukan ekspansi di dalam mau pun luar negeri, perusahaan harus
mengetahui dan memperhitungkan keadaan lingkungan eksternal dan internal. Hal
ini dikarenakan keadaan lingkungan tersebut dapat memberi dampak yang bersifat
positif atau negatif terhadap rencana strategi perusahaan. Sehingga dampak ini
menentukan apakah sebuah perusahaan dapat menjalankan strategi ekspansinya
atau lebih baik menunda, bahkan menghentikan perencanaan strateginya tersebut.
Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, keadaan lingkungan eksternal dan
internal pada GO-JEK adalah sebagai berikut:
A. Eksternal
• GO-JEK bekerja sama dengan perusahaan lokal di negara
tujuan ekspansi dengan cara merger horizontal;
• Terdapat ancaman dari pendatang baru dengan model aplikasi
dan atau bisnis yang serupa dengan GO-JEK;
• Masih terdapat masyarakat yang menggunakan taksi dan ojek
bukan daring;
• GO-JEK memiliki lapangan pekerjaan yang cukup banyak,
terutama sebagai mitra pengemudi;
GO-JEK memiliki kompetitor yang bernama Grab dengan
produk yang serupa;
• Gejolak politik di Indonesia yang dapat memengaruhi bisnis
GO-JEK;
• Keadaan politik di negara tujuan ekspansi GO-JEK cukup
99
•
stabil;
• Keadaan ekonomi di Indonesia, Singapura, Thailand, Vietnam,
dan Filipina baik untuk melakukan ekspansi;
• Gaya hidup modern masyarakat di Indonesia, Singapura,
Thailand, Vietnam, dan Filipina;
• Tanggung jawab sosial bersifat humanis GO-JEK kepada
lingkungan di sekitarnya untuk kesejahteraan sosial;
• Tidak ada payung hukum untuk kelangsungan profesi sebagai
ojek.
B. Internal
• Produk yang ditawarkan oleh GO-JEK cukup lengkap;
• Tarif GO-JEK yang terjangkau dan metode pembayaran
nontunai (dengan Go-Pay)
• Gangguan Go-Pay yang merugikan mitra pengemudi dan
pengguna;
• GO-JEK memiliki 70 kantor cabang di 50 kota besar di
Indonesia;
100
•
Promosi GO-JEK yang berkonsep menghibur namun
memberikan pesan akan eksistensi GO-JEK secara digital mau pun
fisik;
• Logo GO-JEK sebagai atribut resmi mitra pengemudi untuk
kenyamanan konsumen;
• Logo GO-JEK mengancam mitra pengemudi menjadi target
penyerangan di jalan dari pihak yang tidak setuju dengan
keberadaan ojek daring;
• Kendaraan yang digunakan sesuai dengan peraturan Polri;
• Pengguna dimudahkan dengan aplikasi untuk melakukan
pemesanan;
• Aplikasi yang digunakan masih perlu banyak pengembangan
karena cukup sering terjadi kegagalan;
• Proses pemesanan yang praktis dan cepat;
• Target konsumen dengan umur produktif, memiliki profesi, dan
bergaya hidup modern;
• Diferensiasi produk, pelayanan, dan personel GO-JEK lebih unggul
dari pada komepetitor;
• Sistem rekrutmen yang menggunakan teknologi internet dan proses
seleksi yang ketat;
• Metode rekrutmen menggunakan teknologi terdapat anacaman
kebocoran yang dapat memicu kegiatan penipuan oleh pihak yang
tidak bertanggung jawab;
101
•
Remunerasi kepada karyawan dan mitra pengemudi yang
transaparan;
• Jenjang karir yang memiliki banyak posisi.
Keadaan lingkungan eksternal dan internal yang telah ditentukan tersebut
disatukan dalam matriks SWOT untuk mengetahui kekuatan (strength), kelemahan
(weakness), peluang (opportunity), dan ancaman (threat) GO-JEK dalam
merencanakan strategi ekspansinya untuk bersaing dengan kompetitornya.
Lingkungan ekternal tersebut dimasukkan ke bagian peluang dan ancaman. Hal ini
dikarenakan kondisi eksternal memberikan dampak terhadap strategi GO-JEK
seperti tersedianya peluang untuk berekspansi atau ancaman yang akan merugikan
GO-JEK dalam bersaing. Sedangkan lingkungan internal menentukkan
kemampuan perusahaan dalam melakukan sebuah strategi. Penilaian tersebut
berdasarkan kekuatan GO-JEK untuk bertahan dalam persaingan pasar atau
kelemahan yang dimiliki GO-JEK menjadi penahan dalam melakukan strategi
yang direncanakan tersebut. Kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang
(opportunity), dan ancaman (threat) yang dimiliki oleh GO-JEK terdapat pada
tabel berikut:
102
Tabel 6.1 SWOT GO-JEK
Kekuatan (Strength ) Kelemahan(Weakness )
Logo GO-JEK mengancam mitra pengemudi
Produk yang ditawarkan oleh GO-JEK cukup menjadi target penyerangan di jalan dari pihak
lengkap yang tidak setuju dengan keberadaan ojek daring
Aplikasi yang digunakan masih perlu banyak
GO-JEK memiliki 70 kantor cabang di 50 kota
pengembangan karena cukup sering terjadi
besar di Indonesia
kegagalan
Metode rekrutmen menggunakan teknologi
Promosi GO-JEK yang berkonsep menghibur
terdapat anacaman kebocoran yang dapat
namun memberikan pesan akan eksistensi GO-JEK
memicu kegiatan penipuan oleh pihak yang
secara digital mau pun fisik
tidak bertanggung jawab
Logo GO-JEK sebagai atribut resmi mitra Gangguan Go-Pay yang merugikan mitra
pengemudi untuk kenyamanan konsumen pengemudi dan pengguna
Kendaraan yang digunakan sesuai dengan
peraturan Polri
Pengguna dimudahkan dengan aplikasi untuk
melakukan pemesanan
Proses pemesanan yang praktis dan cepat
Target konsumen dengan umur produktif, memiliki
profesi, dan bergaya hidup modern
Sistem rekrutmen yang menggunakan teknologi
internet dan proses seleksi yang ketat
Remunerasi kepada karyawan dan mitra
pengemudi yang transaparan
Jenjang karir yang memiliki banyak posisi
Peluang (Opportunity ) Ancaman (Threat )
GO-JEK bekerja sama dengan perusahaan lokal Terdapat ancaman dari pendatang baru
di negara tujuan ekspansi dengan cara merger dengan model aplikasi dan atau bisnis yang serupa
horizontal dengan GO-JEK
GO-JEK memiliki lapangan pekerjaan yang
Masih terdapat masyarakat yang menggunakan
cukup banyak, terutama sebagai mitra pengemudi
taksi dan ojek bukan daring
Keadaan politik di negara tujuan ekspansi GO-JEK GO-JEK memiliki kompetitor yang bernama Grab
cukup stabil dengan produk yang serupa
Keadaan ekonomi di Indonesia, Singapura,
Gejolak politik di Indonesia yang dapat
Thailand, Vietnam, dan Filipina baik untuk
memengaruhi bisnis GO-JEK
melakukan ekspansi
Gaya hidup modern masyarakat di Indonesia, Tidak ada payung hukum untuk kelangsungan
Singapura, Thailand, Vietnam, dan Filipina profesi sebagai ojek
Tanggung jawab sosial bersifat humanis GOJEK
kepada lingkungan di sekitarnya untuk
kesejahteraan sosial
103
Setelah menentukan SWOT dari GO-JEK berdasarkan keadaan lingkungan
eksternal dan internal nya, dapat dilakukan perhitungan besarnya pengaruh
lingkungan tersebut berdasarkan keadaan kekuatan, kelemahan, peluang, dan
ancaman GO-JEK. Perhitungan ini dilakukan dengan menggunakan teori EFAS
(External Factor Analysis Summary) dan IFAS (Internal Factor Analysis
Summary). Hasil yang didapatkan dari perhitungan ini selanjutnya menjadi acuan
bagi GO-JEK akan posisinya di dalam pasar dengan tabel matriks internal
eksternal (IE). Posisi GO-JEK adalah pada tahap tumbuh (grow) dan membangun
(build). Tahap ini sebegai penentu strategi GO-JEK dalam melakukan persaingan
bisnis dengan kompetitornya. Berdasarkan hal tersebut, GO-JEK dapat melakukan
strategi:
• Penetrasi pasar dapat dilakukan dengan pengembangan keamanan
sistem GO-JEK agar pengguna tidak dirugikan oleh kesalahan
pada aplikasi, diskusi bersama pemerintah untuk landasan hukum
atas profesi ojek, sosialisasi kepada konsumen atas penggunaan
lini produk lain seperti Go-Glam, Go-Auto, Go-Clean, dan
lainnya.
• Pengembangan pasar dapat dilakukan oleh GO-JEK dengan
penambahan kantor cabang GO-JEK di Indonesia, perencanaan
ekspansi ke negara di Asia Tenggara, dan perancangan model
bisnis, aplikasi, dan implementasi GO-JEK di negara tujuan
ekspansi.
• Pengembangan produk GO-JEK dengan menambahkan jumlah
104
dan jenis lini produk seperti penyewaan kendaraan pribadi atau
kendaraan niaga dengan jangka waktu penyewaan yang lama
(lebih dari satu hari) dan dapat dikemudikan sendiri tanpa
menggunakan jasa pengemudi, pengembangan teknologi seperti
aplikasi dan server, dan pembaruan sistem GO-JEK agar lebih
stabil, aman, dan memiliki kapasitas yang lebih besar.
• Integrasi ke depan bisa dilakukan dengan bekerja sama atau
akuisisi produsen pakaian yang dikhususkan untuk pengendara
motor serta produsen helm untuk mengembangkan teknologi helm
yang lebih baik dan sesuai standar Indonesia dan luar negeri.
• Integrasi ke belakang yang dapat dilakukan GO-JEK adalah
bekerja sama dengan pemerintah dan perusahaan transportasi
lokal di Indonesia dan Asia Tenggara atas legalitas dalam
menjalankan bisnis GO-JEK dan berekspansi. Serta memberikan
solusi pada kasus penyalahan dan pemberian sanksi yang sesuai
kepada mitra pengemudi saat menolak pesanan atau saat sedang
istirahat. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangakan
pelanggaran yang terjadi seperti pihak yang melakukan dan latar
belakang terjadinya pelanggaran.
• Integrasi horizontal dapat dilakukan oleh GO-JEK dengan
mengakuisisi perusahaan transportasi (taksi atau ojek) yang
berskala kecil untuk bergabung dan menciptakan lini produk baru.
105
Ekspansi bukanlah hal yang mudah dilakukan oleh sebuah perusahaan,
terutama ke luar negeri. GO-JEK harus dapat memikirkan dan membandingkan
secara tepat akan kondisi ekternal dan internal perusahaannya terhadap yang
terjadi di lapangan. Berdasarkan kesimpulan yang telah ditulis, terdapat saran
strategi yang bisa menjadi perhitungan perencanaan untuk ekspansi GO-JEK di
Indonesia dan Asia Tenggara. Saran strategi tersebut merupakan hasil dari matriks
SWOT GO-JEK yang menjadi strategi S-O (Strength-Opportunity), S-T
(StrengthThreat), W-O (Weakness-Opportunity), dan W-T (Weakness-Threat)
serta matriks internal dan eksternal (IE) yang menjadi strategi berdasarkan posisi
GO-JEK pada tahap grow and build. Berikut saran strategi kepada GO-JEK:
• Penetrasi pasar dapat dilakukan dengan pengembangan keamanan
sistem GO-JEK agar pengguna tidak dirugikan oleh kesalahan pada
aplikasi, diskusi bersama pemerintah untuk landasan hukum atas
profesi ojek, sosialisasi kepada konsumen atas penggunaan lini
produk lain seperti Go-Glam, Go-Auto, Go-Clean, dan lainnya. Hal
ini dilakukan agar konsumen dapat menjadi pengguna setia tanpa
khawatir akan keberlangsungan GO-JEK dan dapat menjadi
pengguna yang loyal. Sosialisasi ini dapat dilakukan dengan
mempromosikan melalui laman web, iklan dalam aplikasi, atau
papan reklame.
• Pengembangan pasar dapat dilakukan oleh GO-JEK dengan
penambahan kantor cabang GO-JEK di Indonesia seperti Papua
106
dan Nusa Tenggara. Hal ini dikarenakan infrastruktur di Papua
sudah cukup lengkap dan di Nusa Tenggara banyak turis lokal
maupun mancanegara. Selain itu dapat melakukan perencanaan
model bisnis, aplikasi, dan implementasi GO-JEK di Singapura,
Vietnam, Filipina, dan Thailand. Hal ini untuk mendukung tujuan
pengembangan pasar GO-JEK untuk menguasai pasar transportasi
daring di Asia Tenggara dan menjadikan aplikasinya sebagai
super app.
Demikian strategi yang dapat disarankan kepada GO-JEK dalam melakukan
persaingan bisnis dengan kompetitornya dan menjalankan bisnisnya di Indonesia,
terutama dalam melakukan ekspansi di Indonesia dan Asia Tenggara (Singapura,
Thailand, Vietnam, Filipina).