0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan75 halaman

Taehyung: Pengusaha Dermawan Korea

Taehyung, seorang pengusaha minuman kaya di Korea Selatan, sedang berkunjung ke istana kerajaan di Eropa untuk membahas kerja sama bisnis. Di istana itu, perhatiannya tertuju pada Aily, cucu raja yang menyambutnya. Taehyung mulai tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang Aily dan masa depan tahta kerajaan.

Diunggah oleh

Annisatul najwaalya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan75 halaman

Taehyung: Pengusaha Dermawan Korea

Taehyung, seorang pengusaha minuman kaya di Korea Selatan, sedang berkunjung ke istana kerajaan di Eropa untuk membahas kerja sama bisnis. Di istana itu, perhatiannya tertuju pada Aily, cucu raja yang menyambutnya. Taehyung mulai tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang Aily dan masa depan tahta kerajaan.

Diunggah oleh

Annisatul najwaalya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

HOW OLD?

Happy reading!
CHAPTER 1

Siapa yang tidak mengenal Beom Taehyung?

Di Korea Selatan, Taehyung tidak hanya dikenal sebagai seorang


pengusaha wine dan minuman khas Korea yang sukses besar. Di usianya yang
mencapai tiga puluh tiga tahun, Taehyung juga dikenal sebagai sosok yang sangat
dermawan, dia rajin menyumbang dalam berbagai kegiatan amal, ikut serta dalam
membangun gedung-gedung sosial, serta aktif dalam memberi motivasi pada generasi
[Link] jarang ia diundang sebagai pemberi pidato dalam acara kelulusan sekolah
menegah atas, dan juga universitas terbaik di Korea.

Image Taehyung sungguh sangat baik di Korea Selatan. Dia dikenal sebagai
seorang pria tegas dalam pekerjaannya, namun bisa menjadi hangat pada waktu-waktu
tertentu. Artikel pujian tentang sosok Taehyung seakan selalu terbit seminggu sekali.
Selalu aja ada pembahasan, misalnya, minggu ini dana yang disumbangkan Taehyung
untuk korban bencana alam diberitakan, kemudian minggu depan ada artikel lagi
tentang Taehyung yang membantu seorang nenek menyebrang.

Sungguh, Taehyung benar-benar sosok pria yang paling sempurna untuk dipuji.
Dia adalah anak tunggal dari sepasang suami istri yang saat ini ia jalankan bisnisnya.
Bisnis keluarga ini jauh lima kali lipat lebih sukses di tangan Taehyung.

"Jadi, bagaimana reputasiku di Korea sekarang?"

Taehyung menyisir rambutnya di depan cermin, sembari memandangi


kesempurnaan tubuhnya di depan cermin besar yang dikelilingi pahatan keramik khas
kerajaan yang saat ini ia tempati.

"Artikel tentang Anda yang menyumbangkan sepuluh ribu alat tulis ke seratus
panti asuhan sudah dipublikasikan hari ini di berbagai media, Tuan. Ada bisa
mengeceknya sendiri." Hwanseok menjelaskan semua itu sembari sesekali mengecek
iPad yang ia pegang. Pria berusia empat puluh tahun itu sudah menjadi asisten
kepercayan Taehyung sejak semua karir seorang Taehyung dimulai.
"Bagus. Tolong pastikan ini juga terangkat ke media-media yang dekat dengan
pemerintahan. Mereka harus selalu tahu bahwa aku orang baik." Taehyung tersenyum
puas, memandangi rambutnya yang sudah rapi, keningnya tampak begitu berkilau.

"Baik, Tuan."

Taehyung memutar badannya, kini dia melihat tangannya dan menatap asisten
kepercayaannya itu, Hwanseok selalu ia bawa ke mana-mana itu.

"Ah, terkadang aku juga bosan seperti ini." Taehyung mengembuskan napas.
"Menjadi pura-pura baik, padahal sebenarnya aku tidak terlalu baik. Aku biasa saja."
Taehyung mengangkat bahunya samar.

Hwanseok yang bisa terdiam, mendengarkan Taehyung mengatakan hal ini


sudah seperti makanan sehari-hari baginya. Ia hanya butuh menjadi pendengar yang
baik.

"Aku juga seorang manusia biasa, aku juga menyukai wanita. Aku berkecan,
atau melakukan One Night Stand dengan wanita, tapi setiap kali aku melakukan itu,
aku selalu diliputi rasa khawatir jika itu ketahuan dan akan merusak reputasiku."
Taehyung menghela napas berat. "Aku lelah, apalagi belakangan ini, ayahku benar-
benar mengawasiku, dia melarang aku pergi ke club dulu, mengundang wanita ke
hotel, padahal aku punya kebutuhan biologis juga." Taehyung mengacak-acak lagi
rambut belakangnya, padahal baru saja pria itu menyisirnya.

"Kalau begitu, kenapa Anda tidak menikah saja, Tuan? Kalau Anda menikah,
Anda bisa lebih sering melakukannya tanpa harus khawatir reputasi Anda akan jatuh."
Hwanseok mencoba memberi saran.

Taehyung mengerutkan kening, dia mencerna kalimat itu. Jari telunjuknya yang
cukup panjang menyentuh bibir bawah, mendandakan dia sedang memikirkan sesuatu.

"Menikah, ya?" Taehyung mulai memaknai kata itu di dalam kepalanya. "Aku
pernah ingin menikah saat usia dua puluh delapan tahun, lalu aku disuruh untuk fokus
pada bisnis keluarga, dan kurasa saat ini keginginan itu tidak masalah untuk
dilakukan. Mengingat betapa suksesnya bisnis ini di tanganku, ayahku pasti takkan
melarangku untuk menikah." Taehyung memang suka membangkan dirinya sendiri.

"Benar, Tuan. Sebaiknya Anda mulai memikirkan hal itu."


"Tapi, menikah dengan siapa? Saat ini aku tidak punya pacar. Aku dan Songwa
baru putus satu bulan lalu, itupun karena dia selingkuh." Taehyung memutar bola
matanya mengingat hal itu. "Benar-benar tidak tahu diuntung wanita itu, sudah enak
jadi pacarku, malah memilih pria miskin untuk tidur dengannya, cih."

Hwanseok hanya tersenyum tipis. "Mungkin itulah cinta, Tuan. Nona Songwa
mencintai pria lain tanpa perlu harus menjadi kaya. Cinta itu tanpa alasan. Saat sudah
jatuh cinta, orang-orang akan akan sulit lagi mempertimbangkan, starata sosial, usia,
status, bahkan keyakinan."

Taehyung terkekeh hambar, pria itu bertepuk tangan kecil. "Wah, hebat sekali.
Apa kau diam-diam juga seorang dokter cinta?"

Hwanseok hanya tersenyum malu. "Tidak, Tuan. Ini semua karena pengalaman.
Saya jatuh cinta pada istrinya saya, padahal dia jauh lebih tua daripada saya. Usia
kami berbeda tujuh tahun, dan saya menikahinya saat dia sudah punya anak berumur
lima tahun. Tapi, saya tidak masalah dengan itu semua."

Sebenarnya, Taehyung sudah tahu tentang latar keluarga Hwanseok, tetapi tak
disangka bahwa itu digunakan sebagai sebuah penjelasan tentang cinta.

Taehyung berjalan lalu menepuk pundak Hwanseok. Tatapan Taehyung pada


Hwanseok jelas bermakna tidak percaya.

"Kau menikahinya karena dia janda kaya raya, kan?" Taehyung ingin
memastikan.

Hwanseok mendesah pelan. "Jika saya menikah karena kekayaan, saya akan
menikahi bibi Anda, Tuan."

Detik itu juga Taehyung tertawa terbahak-bahak, begitupun Hwanseok yang


juga ikut tertawa. Mereka berdua sama-sama tahu tentang bagaimana Bibi Taehyung
terpesona dengan Hwanseok.

Taehyung menghabiskan tawanya terlebih dahulu, lalu menatap Hwanseok lagi.


Mereka berdua akhirnya kembali ke suasana sebelumnya.

"Ah, sudahlah. Lebih baik kau bacakan jadwalku hari ini, karena lusa kita harus
segera kembali ke Korea, kan?"
"Benar, Tuan. Sebentar, saya cek ulang dulu."

Taehyung mengangguk lalu dia mengambil satu set bajunya yang sudah
disiapkan lalu memakainya menuju ke ruang ganti yang ada di kamar begitu luas ini.
Taehyung tidak menyangka bahwa di dataran eropa dan di jaman yang sudah cukup
modern seperti ini masih terdapat gaya hidup yang seperti ini.

Ini mirip seperti gaya hidup keluarga Ratu Elizabeth di London. Hanya saja, di
sini istananya tidak terlalu besar. Lagi, yang unik, jika di London keluarga kerajaan
sudah mulai memakai baju modern, di sini mereka masih memakai gaun atau dress
selutut, tidak ada perempuan yang menggunakan celana di sini, hanya saja memang
kainnya tentu bukan kain sembarangan. Untuk para prianya terkesan lebih santai,
kemeja atau swater rajutan di musim dingin. Taehyung besyukur dia tidak disuruh
menggunakan pakaian perang di sini.

Keluarga kerajaan ini sepertinya sangat menjaga tradisi mereka namun tetap
berusaha tidak ketinggalan jaman juga, karena makanan-makanan yang mereka
sajikan sungguh beragam, mulai dari yang tradisonal sampai modern. Lagi, keluarga
kerajaan ini terkenal punya banyak perkebunan anggur dan buah-buahan yang tersebar
di berbagai wilayah.

Kedatangan Taehyung ke sini untuk membicarakan perihal kerjasama mereka.


Taehyung ingin mengenalkan wine buatannya, agar bisa dijadikan sajian saat acara-
acara keluarga, sekaligus ingin mencoba menggali informasi tentang pengelolahan
kebun, karena jujur, Taehyung juga ingin sekali melebarkan bisnis minumannya agar
lebih beragam.

Taehyung keluar dari kamar ganti lalu berjalan membuka pintu kamarnya
dengan balkon yang langsung menghubungkan kamarnya dengan pemandangan
istana. Taehyung menyapa suasana siang yang sejuk nan sejuk di sini sembari
mengacingkan kancing kemeja teratasnya, Hwanseok menyusul di sampingnya guna
bersiap membacakan jadwal Taehyung di hari pertamanya sampai ke istana ini.

"Jadi, hari ini Anda akan---,"

"Eh tunggu dulu," Taehyung mendadak menghentikan asistennya.

Hwanseok lantas memincingkan mata, ia menatap bos-nya, lalu melihat ke arah


mata Taehyung mendandang. Rupaya Taehyung sedang memandangi dua orang
wanita yang masing-masing tengah membawa botol wine menuju ke sebuah meja
makan yang ada salah satu kebun di istana.

"Siapa itu?" Taehyung menunjuk ke dua orang wanita yang memakai gaun
putih, rambut cokelat terang mereka terurai panjang, satunya mengenakan pita,
satunya lagi menggunakan topi bundar.

"Oh, itu Aily Ryce Evandress dan sepupunya, Keira Snow Evandress. Mereka
adalah cucu dari Tuan Evans, raja yang mengundang Anda ke sini."

Taehyung hanya mengangguk, cukup tahu untuk satu informasi itu. Sementara
itu Hwaseok melanjutkan lagi membacakan deratan jadwal Taehyung selama berada
di sini. Taehyung tidak terlalu mendengarkannya karena matanya sibuk mengekori ke
mana dua gadis itu pergi, sampai akhirnya mata Taehyung hanya tertuju pada pada
gadis yang memakai pita putih di rambutnya, gadis yang terlihat begitu manis dengan
senyumnya, dia tengah menuangkan anggur ke gelas Evans. Seorang pria tua yang
menjadi satu-satunya pemimpin tertinggi di sini, mengingat kedua anak laki-lakinya
yang merupakan orang tua dari Aily dan Keira tewas diracun saat sedang dalam misi
dari istana.

Jadi, tak ada penerus kerajaan yang lebih muda lagi selain Evans seorang. Dari
sini terlihat jelas, Evans sangat menyayangi cucu-cucu-nya.

"Tuan Evans tak memiliki cucu laki-laki."

Taehyung tersentak mendengar itu, dia lalu memubarkan pandanganya dan


mengganti memandangi pepohonan.

"Maksudmu?" Taehyung tetap ingin mendengar lebih.

"Karena Tuan Evans tidak memiliki cucu laki-laki, jadi nanti yang akan
menikah dengan cucunya, pastilah akan mengambil alih tahta di kerajaan ini."

"Oh begitu." Taehyung sebenarnya tidak begitu paham, yang ia tahu, dia ke sini
untuk bisnis, ia paling hanya mendengar hal-hal seperti ini dari Hwanseok sebagai
penambah informasi agar tidak salah bicara saat mengobrol dengan sang raja nanti.

"Dan Tuan juga perlu tahu, bahwa bulan depan Aily akan segera menikah
dengan pria keturunan bangsawan juga. Jadi, akan sangat menguntungkan jika Tuan
berhasil meyakinkan keluarga kerajaan ini untuk memesan wine pada kita. Karena
pestanya pasti akan sangat meriah dan tentunya mereka akan memesan banyak, di
situlah kita bisa mematok harga yang tinggi pula untuk wine kualitas terbaik."

Bukannya fokus dengan perencanaan bisnis dari Hwanseok. Taehyung malah


mengerutkan kening. "Aily yang mana?" Karena jujur, Taehyung tidak tahu Aily yang
mana di antara dua wanita itu.

Hwanseok menatap sekumpulan keluarga kecil jauh di sana yang mulai memilih
makanan yang mereka ingin makan.

"Yang memakai pita dirambutnya, usianya masih 19 tahun padahal. Masih


sangat muda. Kalau di Korea dia pasti sekarang masih sibuk mendaftar universitas,"
canda Hwanseok.

Namun anehnya, Taehyung tidak tertawa. Dia malah terdiam. Entah apa yang
dipikirkan Taehyung, pria itu mungkin masih sangat terkejut bahwa yang bernama
Aily adalah yang memakai pita, padahal yang penampilannya lebih dewasa adalah
yang memakai topi, yaitu Keira.

"Oh, begitu."

Taehyung kini memutar badannya, berganti punggungnya yang disandarkan ke


pagar balkon pembatas, entah menagapa, Taehyung enggan menatapi keluarga yang
tengah asik menikmati santapan di kebun mereka.

"Sebenarnya, yang menikah terlebih dulu haruslah cucunya yang bernama


Keira, karena Keira sudah berusia 23 tahun. Hanya saja calon suami Keira sedang
ditugaskan untuk melanjalankan misi negara, calon suaminya seorang prajurit penting
negara dan juga punya darah bangwasan. Keluarga ini sepertinya benar-benar ingin
melestarikan darah bangsawan dalam diri mereka. Itu makanya Aily yang akan
dinikahkan duluan."

"Oh." Taehyung kini sibuk memainkan ponselnya.

"Anda Tahu, tidak? Calon suami orang keturunan Korea."

"Hah?" Taehyung terkejut.


"Benar. Tapi, dia seorang pangeran, jadi punya darah bangsawan juga. Tapi,
calon suaminya ini memang sangat cerdas dan mahir berbagai macam bahasa. Nenek
moyangnya juga keturunan dari Eropa, seperti persilangan. Ini akan menjadi
pernikahan yang unik."

"Oh, jadi itu mengapa mereka di sini juga bisa berbahasa Korea." Taehyung
jujur kaget, saat dia ke sini, beberapa pelayan menyambutnya dengan bahasa Korea.

"Benar, Tuan. Di sini mereka belajar empat bahasa wajib, salah satunya Korea.
Terlebih saat tahu bahwa calon suami Aily berdarah Korea. Maka semua warga di
istana harus belajar bahasa korea juga, itu bentuk penghormatan mereka."

"Oh."

Lagi-lagi Taehyung hanya ber 'oh' ria.

"Dan, yang saya dengar dari beberapa pelayan, yang paling pandai berbahasa
Korea di sini adalah Aily dan Keira. Kedua putri itu sangat senang setiap kali ada
tamu dari Korea."

Kini Taehyung memutar bola matanya. "Hm, baiklah. Sepertinya informasi


yang kau berikan terlalu banyak dan tidak penting."

"Ini penting, Tuan."

"Kenapa penting?"

"Karena nanti malam, akan ada jadwal makan malam bersama dengan mereka
semua. Anda di undang sebagai tamu tunggal. Itu sebuah kehormatan besar."

Detik itu juga Taehyung terdiam.

Entah apa yang dipikirkan pria itu, yang jelas mendadak dia merasa begitu
gugup.

*****

"Aku boleh pergi duluan tidak? Aku sangat ingin ke toilet." Aily sudah gelisah
sejak tadi, dia menatap wajah Keira dengan tatapan memohon. Dia sudah menahannya
sejak tadi, karena dia tidak mungkin pergi meninggalkan meja makan sebelum
kakeknya selesai dan pergi terlebih dulu.

Keira yang masih mencicipi potongan terakhir dari hidangan penutup siang ini
hanya mengangguk dan tersenyum. Sepupunya itu benar-benar menggemaskan dan
polos.

Aily tersenyum lalu buru-buru pergi dengan lakah kaki kecilnya yang setengah
berlari. Terkadang, Keira juga tak bisa membayangkan bahwa sepupunya itu sudah
akan menikah di bulan depan.

Menikah.

Mendadak Keira menghentikan aktivitas makannya, ia terdiam, entah apa yang


tiba-tiba menyerang hatinya. Seperti ada rasa iri bercampur kecewa, yang sebenanrya
sudah Keira tolak sejak lama. Perasaan itu tidak boleh dimiliki oleh seorang Keira.
Dia tentu harus bahagia atas pernikahan adik sepupunya.

Tapi, sayangnya, pemikiran itu juga yang membuat Keira tidak lagi
bersemangat untuk meneruskan makannya. Dia lantas meletakkan sendoknya di piring
dengan rapi, mengambil serbet untuk menyapu mulutnya pelan lalu beranjak pergi
meninggalkan area perkebunan.

Keira berencana untuk pergi ke kamarnya dan membayangkan dirinya sebentar


lagi akan berdam di kubangan air hangat dengan aroma esensial yang menyegarkan
pikiran.

Namun, di tengah koridor luas nan sepi menuju ke kamar. Keira tiba-tiba
merasakan lengannya ditarik dengan kasar, menuju ke salah satu sisi pilar raksasa
yang seakan mampu dipakai bersembunyi oleh lima orang ini.

Keira mengatur napasnya, degup jantungnya berdebar tak karuan, keringatnya


mulai mengucur ketika perlahan ia membuka matanya, menampilan bola mata cokelat
gelap keemasaan miliknya lalu menemukan dirinya sudah dikurung oleh satu sosok
pemilik warna abu-abu gelap milik seseorang yang seharusnya ia hindari.

"Apa kabar, Tuan Putriku?" senyum pria itu tetapapar jelas, memancarkan
kehangatan sekaligus godaan.
"Jimin!" bentaknya kesal. Kenapa pria ini masih belum menyerah untuk
mengusiknya.

"Sshh..." Jimin meletakkan jari telunjuk padatnya yang dipasangi dua cincin itu
tepat di atas bibir lembab milik Keira. "Iya, ini aku, jangan keras-keras, nanti kita
tertangkap basah," bisiknya lalu menggigit tipis bibir bawahnya sendiri.

Sialan.

Keira menajamkan tatapannya. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Menemuimu, apalagi?" jawab Jimin santai.

Keira lantas mengepalkan tangannya, kesal bukan main. "Jimin! Kau itu calon
suami Aily, kenapa kau masih mendekatiku!"

"Karena aku cintanya pada dirimu."

Jimin tersenyum, lalu satu tangannya bergerak menyentuh pipi Keira, meski
Keira berusaha menoleh tapi Jimin tahu, Keira takkan terlalu menjauh, karena Jimin
sangat merasakan bahwa Keira sedikit demi sedikit mulai tertarik juga padanya.

Jimin menarik napas pelan, ia menatapi wajah Keira yang baginya begitu
sempurna. Tak ada wanita yang mampu membuat takluk ini selain Keira. "Ah, sayang
sekali. Kenapa aku harus menikah dengan sepupumu itu? Sayang sekali, aku tidak
bisa melamarmu karena kau calon suami sialanmu itu belum memberi kepastian. Ini
menyebalkan."

"Jika kau tidak mencintai Aily, kau harusnya menolak semua ini!" Rasa sayang
Keira pada Aily juga begitu besar, ia tidak tega membayangkan Aily hidup dengan
suami yang tidak mencintainya.

Apalagi Keira tahu bahwa Aily sudah mulai berusaha juga menerima
perjodohan ini. Aily mulai belajar mengagumi Jimin.

"Jika aku menolaknya, maka aku tidak akan pernah bisa untuk bertemu
denganmu lagi, karena pasti hubungan dua kerajaan ini akan terputus."

"Itu lebih baik," ketus Keira.


Sementara Jimin tertawa. "Akan lebih baik lagi jika kau mau kabur bersamaku
dan kita menikah sendiri. Membangun kebahagiaan kita sendiri. Bagaimana?"

Keira tak percaya ia mendengar hal ini lagi dari Jimin. Padahal sudah jelas
waktu itu Keira menolak hal ini.

"Jawabanku masih sama," ucap Keira singkat.

Jimin lantas membuang napas pelan. "Baiklah, kalau begitu keputusanku juga
masih sama. Akan tetap kunikahi sepupumu itu, meski aku tidak mencintainya. Dan---
," Jimin tiba-tiba menahan ucapannya, pria itu lalu memejam, tampak frustasi. "Sial!
Andai saja ada keajaiban! Aku sangat tidak ingin menikah dengannya tapi, kau--,"

Jimin menatap Keira dengan tatapan kecewa. "Ah, sudahlah. Sampai bertemu
nanti malam," ucap Jimin sebelum akhirnya pria itu pergi begitu saja dengan langkah
frustasinya.

*****

Makan malam tiba dan Taehyung sejak tadi benar-benar sulit sekali menjaga
matanya untuk tidak mencuri-curi pandang pada sosok Aily yang tengah duduk di
samping Jimin sambil tersenyum untuk merespon percakapan apapun terjadi selama
jamuan ini.

"Menarik sekali, aku sepertinya tertarik untuk memesan beberapa truk wine
darimu untuk pesta pernikahan cucuku bulan depan." Evans akhirnya mengeluarkan
keputusan yang menggemberikan.

"Baik, Yang Mulia. Saya tentu akan memberikan yang terbaik. Terima kasih
sudah mempercayakannya."

"Ah, tidak diragukan. Dia sangat terkenal di negaraku, Tuan Beom ini sangat
luar biasa. Aku juga sebagai keturunan yang sama merasa bangga." Jimin bergabung
dalam percakapan itu dengan santainya sambil menikmati hidangan penutup.

Taehyung hanya menyunggingkan senyum tipis, entah mengapa dia tidak punya
ketertarikan lebih untuk berbicara dengan dengan Jimin. Dia hanya tertarik pada
setiap hal kecil yang dilakukan Aily, mulai dari cara gadis itu mengambil buah,
bahkan cara dia memotongnya dan menawarkan itu pada Jimin.
Entah mengapa Taehyung merasa iri, dia membayangkan bagaimana rasanya
menjadi Jimin dan mendapat perhatian serta kesopanan penuh seperti itu.

Taehyung tetap terlarut dalam semuanya, bahkan sampai pesta makan malam
ini selesai, dan ditutup dengan penampilan musik serta dansa antara Jimin dan Aily.
Kalau saja Taehyung tidak tahu sopan satun, pasti dia sudah melangkahkan kaki
duluan. Tapi, semua keadaan ini memaksa Taehyung untuk tinggal lebih lama.

Sampai akhirnya semua selesai.

Taehyung bergegas menuju ke toilet umum yang ada di ruangan itu dan
membasuh mukanya. Dia benci dirinya sendiri yang tak bisa fokus malam ini.
Taehyung heran tentang apa yang terjadi pada dirinya.

Ini tidak benar.

Ini sangat kampungan.

Perasaan sejenis ini tidak masuk akal.

Apalagi ia baru pertama kali melihat Aily.

Sepertinya Taehyung harus mempercepat kepulangannya ke Korea. Di sini


mungkin terlalu banyak sihir yang membuatnya gila.

Taehyung tengah menatapi dirinya di cermin dan dia terkejut saat melihat sosok
Jimin yang baru saja masuk, sosok Jimin jelas terpantul di balik kaca besar di depan.

"Dia cantik bukan?" Jimin ikut mencuci tangannya di sebelah Taehyung,


tampak begitu santai.

Taehyung terkejut, mencoba untuk mencerna masksud Jimin. "Ah?


Maksudnya?"

"Aily, dia sangat cantik, kan? Sampai kau tidak bisa melepaskan pandanganmu
darinya." Jimin terkekeh pelan, seolah itu adalah hal yang sudah bisa ia tebak.

Taehyung tentu saja panik dan merasa tidak enak, dia benar-benar seperti
tertangkap basah. Taehyung berusaha mengelak. "Maaf, tapi aku---,"
"Akui saja, dia cantik. Sangat cantik." Jimin menyela santai. "Tapi, sayangnya
aku tidak mencintainya." Jimin menambahkan.

Taehyung kini makin terkejut. Apa dia sedang bermimpi.

Lantas Jimin menyentuh satu bahu Taehyung. "Aku tahu tatapanmu itu, kau
sangat ingin memilikinya kan? Kau cemburu kan saat aku memegang pinggangnya?"
Jimin tertawa renyah.

Karena mereka sudah berbicara dalam bahasa Korea dan Taehyung merasa juga
usia Jimin sama dengannya, lantas Taehyung mulai berani untuk menatap Jimin.

"Apa maksudmu?"

Jimin menghela napas lalu melipat tangannya. "Ayo buat ini menjadi lebih
cepat dan padat. Mudah saja, kau tertarik pada calon istriku yang sama sekali tidak
kucintai. Dan entah mengapa aku senang ada saat kau menyukainya, tapi aku juga
turut prihatin padamu karena seberapa kaya pun dirimu, jika kau tidak memiliki darah
bangsawan, maka Aily tidak akan bisa kau dapatkan."

Taehyung merasakan sebuah pedang seperti menancam di hatinya.

Jimin menarik napas pelan. "Kecuali dengan satu cara."

Jimin menatap Taehyung penuh arti. "Cara yang sedikit jahat."

Jimin ingin menggiring Taehyung agar berpikir. "Cara yang sedikit memalukan
dan butuh keberanian untuk melakukannya. Cukup beresiko. Mungkin kau bisa
memanfatkan teknik membuat wine-mu di sini, aku tahu kau ahli dalam meracik
apapun ke dalam minuman." Jimin tersenyum tipis.

Detik itu juga Taehyung langsung mengerti arah pembicaraan ini. "Apa kau
gila? Aku tidak berpikir sejauh itu!"

Jimin memutar bola matanya. "Kau belum berpikir sejauh itu, kau akan segera
memikirkannya setelah kembali ke kamarmu dan membayangkan wajah Aily. Atau
membayangkan wajah Aily di bawahmu." Jimin berucap penuh doktrin.

"Sialan."
Jimin mengangguk. "Memang. Sialan. Penikahan ini juga sangat sialan bagiku.
Dan, aku tidka bisa kabur."

Mereka berdua sama-sama terdiam. Sebelum akhirnya, Taehyung memutuskan


untuk melangkah pergi.

"Tuan Beom!"

Panggil Jimin lagi membuat langkah Taehyung terhenti.

Jimin menarik napasnya. "Jika kau berubah pikiran dan ingin menjalankan
rencana itu. Aku bisa membantumu melanjalankannya, Lagi pula, jika kau berhasil,
aku juga jadi punya alasan untuk membatalkan perjodohan sialan ini."

Jimin maju beberapa langkah, kini dia menyamai Taehyung, lalu tangannya
menepuk pundak Taehyung lagi. "Biar kuberi tahu satu rahasia, aku lebih menyukai
sepupunya, bagiku, Keira jauh lebih menarik daripada Aily."

Itu adalah ucapan terakhir Jimin sebelum akhirnya, Jiminlah yang ternyata pergi
duluan untuk meninggalkan Taehyung dengan pikiran yang masih melayang.

Jimin salah besar.

Katanya, Taehyung akan mulai memikirkan hal itu saat nanti Taehyung kembali
ke kamar atau saat Taehyung sudah membayangkan wajah Aily. Ya, Jimin salah
besar, karena sekarang pun, pada saat masih di toilet, Taehyung sudah mulai
memikirkan hal itu.

Berengsek! Sebenarnya perasaan macam apa ini?

Haruskah ia?
CHAPTER 2

Taehyung memikirkan apa yang dikatakan Jimin semalam, hal itu jelas
membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak.

Entah sudah berapa kali Taehyung membolak-balik bantal, merubah posisi


tidur, bahkan berjalan ke sana kemari mengelilingi kamar hanya agar mencapai
rasa kantuknya. Namun, semua usaha itu sia-sia karena pikirannya jauh lebih
berantakan setelah doktrin Jimin mengusiknya.

Ini jelas tidak seharusnya terjadi.

Bagaimana bisa seorang Taehyung punya perasaan sejenis ini dengan gadis
yang baru saja ia temui? Bagaiamana bisa Taehyung merasa khawatir dengan
kehidupan Aily setelah tahu bahwa gadis itu akan menikah dengan pria yang tidak
mencintainya sama sekali? Harusnya Taehyung tidak ikut campur dengan hal-hal
seperti itu.

Ini tidak masuk akal.

Taehyung benar-benar mencuci wajahnya, berkali-kali, bahkan saat pria itu


sudah selesai mandi. Berharap dengan itu, pikirannya bisa jernih kembali dari
perasaan aneh yang terus membayanginnya. Taehyung berencana untuk segera
pergi besok, meninggalkan tempat ini dan melupakan semuanya.

Pernikahan Aily dan Jimin bukan urusannya sama sekali.

Dia ke sini hanya untuk bisnis, tidak lebih.

"Tuan, lima belas menit lagi."


Hwanseok mengetuk pintu kamar mandi tempat di mana Taehyung sudah
menghabiskan waktu lebih dari dua puluh menit di dalam sana hanya untuk berdiri
di depan cermin. Hwanseok sampai heran, tidak biasanya bosnya itu berpakaian
selama ini.

Tak lama kemudian, Taehyung keluar, membuat Hwanseok seketika


mengerutkan kening karena penampilan bosnya yang sedikit berbeda.

"Tuan, ada apa?"

Taehyung melirik Hwanseok sekilas, lalu berjalan untuk mengambil jasnya


yang sudah digantung di dekat lemari. "Tidak ada apa-apa," dusta Taehyung
sembari memasukkan lengan pertamanya ke jas berwarna abu-abu yang sedikit
kebesaran.

"Anda terlihat kurang baik. Apa semalam pestanya begitu melelahkan?"


Hwanseok bertanya karena ia kebetulan tidak ikut ke dalam pesta itu, dia lebih
memilih untuk melakukan panggilan telfon dengan istrinya.

"Biasa saja." Taehyung merapikan jasnya di depan cermin besar. "Bacakan


saja agenda hari ini."

Hwanseok langsung sigap untuk melirik catatan agenda Taehyung hari ini.

"Pagi ini, setelah sarapan, Anda ditunggu oleh raja di area perkebunan
stroberi, ada beberapa orang di sana yang siap mengabadikan gambar, di sana juga
penandatangan kesepakatan bisnis akan berlangsung."

"Hanya itu?" tanya Taehyung.

"Setelahnya kita akan menonton pertunjukkan dari istana ini, sebagai


simbol perpisahan sekaligus ucapan terima kasih karena telah memenuhi undangan
dating kemari, mengingat besok kita akan kembali lagi ke Korea."

"Lalu, setelahnya?"
"Malamnya tidak ada acara lagi, kurasa itu yang baik untuk istirahat karena
besok kita akan kembali."

"Oke, baiklah."

Taehyung hanya mengangguk paham, sempat menepuk-nepuk pelan


pipinya di depan kaca dan melebarkan matanya seraya menegaskan agar pemilik
bayangan di cermin itu harus bisa melalui hari ini dengan baik.

Taehyung menarik napas panjang lalu keluar dari kamarnya, melangkah


tegap menuju ke tempat yang seharusnya akan dia datangi. Hwanseok mengekori
dari belakang.

Taehyung menulusuri pilar-pilar raksasa itu dengan langkah mantapnya,


cukup bersemangat, namun itu tak berlangsung lama ketika ritme hentakkan
kakinya tiba-tiba saja memelan. Bahkan, kini sudah berubah ke dalam mode
berhenti, tepat ketika melihat sekelompok wanita yang tengah tertawa di salah satu
sudut istana.

Tepatnya di antara kebun-kebun kecil, yang dihiasi begitu banyak mawar.


Semuanya berpakaian cokelat berenda, kecuali satu gadis yang tengah memakai
gaun dengan warna peach, yang tengah tertawa malu karena menerima pujian dari
wanita-wanita pendampingnya yang sepertinya baru saja memasangkan sebuah
mahkota bunga di kepalanya.

Taehyung tak tahu mengapa jantungnya kini tiba-tiba saja berdetak tak
karuan kala dua sudut bibir dari gadis itu terangkat ke atas, memperlihatkan satu
senyuman yang begitu hangat dan tulus. Senyum yang seolah membuat hatinya
kini terasa ditutupi oleh selimut bayi.

Kenapa senyum Aily bisa seperti itu?

Taehyung terdiam, ia tak tahu apa yang sejak sekumpulan wanita itu
bicarakan, yang ia dengar hanyalah tawa samar dan yang ia tahu hanyalah yang
mengerubuni Aily adalah para dayang istana, mereka sedang menggoda Aily
dengan pujian. Ya, kira-kira seperti itu.
"Tuan?"

Hwanseok seketika membubarkan lamunan Taehyung.

Bersamaan dengan itu, tiba-tiba saja, dan entah bagaimana, pandangan Aily
tiba-tiba mengarah pada Taehyung. Membuat Taehyung mendapat ekstra serangan
jantung, pertama dari Hwanseok, kedua dari Aily yang memergokinya.

Detik juga Taehyung langsung membuang tatapannya ke arah lain,


memasukkan tangannya ke dalam kantong, bepura-pura bersiul sembari menatapi
pemandangan istana. Sumpah demi apapun, Taehyung tak berani melihat
bagaimana eskpresi Aily sekarang.

"Tuan? Kenapa berhenti?"

Tanya Hwanseok lagi.

"Hmm, tadi aku melihat ada burung lewat. Besar sekali, ingin rasanya aku
menangkapnya, aku suka memelihara yang besar-besar," ucap Taehyung asal.

Dengan lugunya, Hwanseok juga mengikuti arah mata Taehyung yang


menyusuri langit-langit yang sebenarnya sangat kosong, tak ada burung yang
berlalu lalang sejak tadi. "Mana, Tuan?"

Taehyung menyadari aktivitas Hwanseok lalu menahan tawanya. "Sudah


tidak ada, ayo cepat sarapan. Aku sudah lapar," ucap Taehyung sebelum akhirnya
pria itu berjalan.

Saat sudah mengambil langkah pertama untuk pergi, mau tak mau, dan
tanpa sengaja, mata Taehyung juga sempat terarah ke Aily lagi, dan betapa
terkejutnya Taehyung ketika melihat Aily tersenyum sambil agak membungkukkan
kepalanya seolah mencoba menyapa Taehyung dengan sopannya.

Taehyung seketika membalas dengan senyuman yang sama, atau mungkin


lebih lebar dari sebelumnya, lalu kemudian menoleh lagi ke depan, ke arah jalan,
menegapkan badan, berusaha tetap berjalan dengan tenang padahal di dalam hati
pria itu kini sedang meledak-ledak akan kebahagiaan hanya karena sebuah
senyuman.

Ini gila.

Taehyung sudah tidak waras.

*****

Keira sedang mencari buku di perpusatakaan istana untuk dijadikan bacaan


pengantar tidur, stok buku yang ia baca sudah hampir habis. Jadi, pagi ini dia
mencoba untuk mencari buku-buku baru, Keira sudah membaca apapun, novel,
buku-buku sejarah, buku buku tentang ilmu atau bahkan tentang misteri.
Sebenarnya, baru belakangan ini dia gemar membaca karena ia diberitahu bahwa
calon suaminya adalah seorang prajurit yang sangat cerdas, dan berilimu, yang
untuk memastaskan diri sebelum menikah, Keira juga harus menambah
pengetahuannya. Itu adalah pesan dari calon mertuanya.

Keira tidak keberatan akan itu, karena menurutnya itu juga hal baik, karena
dengan membaca, dia juga jadi tahu banyak hal. Keira akan berusaha sebaik
mungkin agar tidak mengecewakan siapapun.

"Jadi, kau tidak ikut ke perkebunan hari ini karena ingin membaca?"

Keira hampir menjatuhkan buku yang baru saja ia ambil dari rak karena
terkejut mendengar suara Jimin ada di sini.

Sejak kapan? Bahkan rasanya langkah kaki pria itu tak terdengar oleh
telinganya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Keira langsung menatap Jimin dengan
tatapan waspada, sekaligus heran karena ia tahu bahwa seharusnya Jimin berada di
perkebunan, menemani Aily dan tamu Taehyung serta Raja yang akan
mendatangani kerjasama persediaan wine untuk pernikahan mereka.
"Tidak ada dirimu di sana, aku malas," jawab Jimin santai sembari
tangannya ikut-ikutan menulusuri dereratan buku yang ada di rak. "Sedang mencari
buku apa?" tanya Jimin mengalihkan suasana.

Keira mengembuskan napas kasar. "Pergilah dari sini. Kau harusnya


menemani Aily."

Jimin memutar bola mata. "Tidak mau, sudah ada tamu itu yang
menemaninya. Menurutmu mereka serasi tidak? Menurutku, iya." Jimin tersenyum
yakin.

Keira melebarkan matanya. "Apa?"

Jimin terkekeh hambar. "Sayang sekali dia tidak punya darah keturunan
bangsawan. Maksudku, tidakkah kau merasakannya? Tuan Beom selalu
memperhatikan adik sepupumu itu."

"Jaga ucapanmu!"

Jimin menutup mulutnya, lalu tersenyum jahil. "Ups."

Kini mata Jimin, melirik ke kiri dan ke kanan memastikan tidak ada orang
yang memperhatikan mereka. Perpustakaan memang masih sepi saat pagi seperti
ini, hanya ada penjaga tua yang sedang sibuk mendata di meja depan.

Keira menaikan sebelah alis, memperhatikan ulah Jimin dan tanpa diduga
Jimin meraih pergelangan tangan Keira. "Ikut aku."

"Hey!" Keira sempat memekik sebelum akhirnya menahan diri karena


Jimin menatapnya penuh peringatan.

Entah mengapa hal itu membuat Keira membisu, karena tatapan Jimin
seolah penuh ancaman, kedua mata itu seakan berbicara bahwa jika Keira berteriak
sekali lagi, maka Jimin akan melakukan hal yang lebih gila, biar keduanya hancur
sekalian.
Jadi, Keira hanya bisa menelan ludah dan mengikuti ke mana Jimin
membawa tubuhnya. Sempat mencoba melepaskan, mengira dirinya akan dibawa
jauh, tapi ternyata hanya dibawa ke salah satu lorong yang paling sudut di
perpustakaan.

Saat sampai di deretan rak yang paling sudut, Jimin langsung


menyandarkan tubuh Keira di tembok. Tidak kasar, cenderung lembut tapi cukup
mengurung dengan kedua lengannya yang ia sangga di dinding.

Keira menelan ludahnya sekali lagi, merasakan aura dominasi Jimin yang
begitu kuat. Dia merasa dirinya begitu kecil di hadapan sosok pria yang tengah
menatapnya dengan senyum miring itu.

"Apa maumu?" Keira memberanikan diri menatap sepasang mata milik


Jimin.

"Menikah denganmu."

Keira melotot. "Kau sudah tidak waras."

Jimin mengangguk. "Dan kau penyebabnya."

"Aku punya calon suami, kau juga akan menikah dengan Aily! Jadi
berhentilah sebelum semuanya kacau."

Jimin tersenyum meremehkan. "Apa kau mencintainya?"

"A-apa maksudmu?" Padahal, Keira jelas paham yang dimaksud Jimin itu
adalah calon suaminya.

"Aku bertanya, apakah kau mencintainya?" Jimin menekankan kalimatnya.

Entah mengapa hal itu tidak bisa langsung spontan dijawab oleh Keira. Dia
malah terlihat dungu untuk beberapa saat, sebelum akhirnya tergagap menjawab.
"Te-tentu saja."
"Bohong." Jimin tersenyum tipis.

Keira menghela napas. Baiklah, mungkin memang Keira belum mencintai


calon suaminya itu, mereka jarang bertemu, hanya dipertemukan dua kali sebelum
akhirnya resmi dijodohkan. Keira bahkan jauh lebih sering bertemu dan berinteaksi
dengan Jimin daripada dengan calon suaminya, ditambah lagi, Jimin lebih sering
menunjukkan perhatian padanya dari pada calon suaminya. Meski itu dilakukan
Jimin secara diam-diam agar tidak menimbulkan kecurigaan. Salah satunya seperti
Jimin yang diam-diam meletakkan payung di depan kamar Keira karena tahu
bahwa Keira akan pergi untuk mengantarkan obat ke bilik kakeknya dan harus
menyebrang melewati hujan untuk sampai ke bangunan tempat di mana kakenya
dirawat. Atau, saat Jimin yang tiba-tiba meletakkan sepotong roti di dekat Keira,
karena ia tahu, Keira belum sempat sarapan dari pagi.

Keira memejamkan matanya, berusaha untuk menepis renungannya itu.

"Cinta itu bisa tumbuh karena terbiasa, begitu pun kau dan Aily. Kau akan
terbiasa mencintainya." Keira mencoba untuk tetap tegar dengan pendiriannya.

Jimin tersenyum meremehkan. "Cinta itu akan tumbuh jika keduanya saling
menerima dan menginginkan. Aku tidak menginginkan Aily, itu mengapa aku
biasa saja dengannya. Jadi, apa yang membuatmu percaya bahwa calon suamimu
menginginkanmu? Dia bahkan tak menyepatkan waktu libur dari tugasnya untuk
menengokmu. Pikirkan saja, jika dia serius denganmu, dia pasti punya usaha untuk
mengenalmu lebih jauh."

Keira terdiam, dia tidak menyangka Jimin akan melemChoian kalimat itu.

Sementara Jimin sudah membara, seakan tidak rela jika Keira jauh ke
tangan orang yang tidak mencintai wanita itu sebesar dia mencintai Keira. "Apa itu
cukup adil, padahal kau di sini sedang bekerja keras untuk memantaskan dirimu
dengannya. Kau mencoba merubah dirimu menjadi rajin membaca agar bisa
membuat suamimu bangga?"

Keira mengepalkan tangannya, ia marah. Entah marah karena ucapan Jimin


yang terlalu kurang ajar, atau justru karena itu terasa sangat benar.
Keira memejamkan matanya, masih dalam posisi saling menatap dengan
Jimin. Kali ini tatapan keduanya lebih intens. Keira meraih seluruh kekuatan dalam
hatinya diantara puing-puing kegusaran yang sesak yang melanda. Dia benci
berada di keadaan seperti ini, calon suami dari adik sepupunya justru menjeratnya
dengan perasaan aneh semacam ini. Keira tidak bisa memungkiri bahwa beberapa
kali ada debar juga setiap kali Jimin menunjukkan perhatiannya, ada iri juga setiap
kali ia melihat Jimin duduk di dekat Aily, tapi ia berusaha menyembunyikan semua
itu.

Keira mengatur napasnya lalu menatap Jimin, kali ini sedikit menantang
dan berani.

"Lalu, jika kau mencintaiku? Jika kau ingin menikah denganku? Apa yang
akan kau lakukan? Kau juga tidak melakukan apa-apa." Tantang Keira.

"Kita bisa kabur dari sini."

"Hanya pencundang yang kabur."

Jimin kini mengepalkan tangannya, merasa adrenalinnya terpacu, apalagi


ketika melihat tatapan mata Keira yang tampak menantang sekaligus
meremehkannya.

"Oh, jadi kau ingin aku membuktikan sesuatu?" bisik Jimin, percaya diri.

"Kau memangnya bisa apa selain mengurungku seperti ini?"

Jimin lantas tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya. Satu tangannya


menyentuh pipi Keira. Mengusapnya lembut, lalu semakin menghapus jarak di
antara mereka.

"Banyak. Aku bisa melakukan banyak." Jimin lalu menempelkan


keningnya dengan kening Keira.

Keira mendadak panik dan berusaha untuk mendorong Jimin, tetapi dua
lengannya sudah lebih dulu dijangkau Jimin dan ditempelkan di kedua dinding.
"Lepas---mpphh."

Ucapan Keira terputus ketika bibir Jimin tiba-tiba saja menyambar


bibirnya. Mata Keira melotot dan mencoba meronta, Jimin menjauhkan bibirnya
sejenak tapi tidak begitu jauh, sehingga permukaan bibir mereka sebenarnya masih
bergesekkan.

"Just feel it. Please." Jimin membisikkan kalimat itu, dalam bahasa inggris,
dengan suara seksinya yang terkesan begitu lembut.

Terlebih saat tangannya memulai menyentuh area leher Keira. "Karena,


tidak ada pria yang menciummu dengan cinta yang sebesar ini dari pada diriku."

Tambah Jimin lagi.

Tak membiarkan Keira untuk menjawab, karena Jimin menyambung


ciumannya kembali, sangat lembut. Meski awalnya Keira masih mencoba
menolak, tapi lama kelamaan seiring berjalannya waktu, Keira benar-benar
merasakan getar yang berbeda. Sentuhan Jimin di tubuhnya, usapan sayang Jimin
selama ciuman itu berlangsung terasa begitu nyata.

Hingga tanpa sadar air mata Keira keluar. Air mata yang sebenarnya sudah sejak
lama ia tahan, mengalir di sela-sela ciuman mereka. Keira menangis, tanpa suara,
tetesannya bahkan melewati bibir keduanya yang sedang menyatu, menimbulkan
rasa asin di sana. Sontak Jimin menjauhkan wajahnya perlahan, mengusap air mata
Keira lalu perlahan menarik Keira ke dalam pelukannya.

Tak ada perlawanan, hanya kepasrahan, karena jujur saja, Keira juga sudah bosan
untuk melawan semua apa yang ia rasakan.

"Jangan menangis, aku tidak mau jadi penyebab air mata kesedihanmu." Jimin
mengurai pelukannya lagi, menghapus air mata Keira dengan ibu jarinya.

Keira mengatur napas. "Beraninya kau menciumku! Kau mencuri ciuman


pertamaku!" Keira menatap Jimin kesal.
Jimin tersenyum puas. "Tenang, hanya kita berdua yang tahu."

Keira baru ingin berucap namun ucapannya terhenti ketika mendengar begitu
banyak langkah kaki yang mulai memasuki ruangan. Ia dan Jimin saling menatap.

"Sudah mulai banyak yang datang." Jimin tersenyum namun kecewa juga, tetapi
tangannya terulur untuk ikut merapikan rambut Keira yang tadi sempat berantakan
karena ulah tangannya.

"Sebaiknya kau pergi," ucap Keira masih sembari mengusap bibirnya.

Jimin mengangguk. "Aku mengerti." Jimin lalu melirik ke rak buku yang ada di
sebelah kiri dan kanannya. "Tapi sebelumnya, aku ingin merekomendasikanmu
sebuah buku untuk dibaca." Jimin berjalan mundur, jari-jarinya bergerak
menyentuh pinggiran buku lalu tersenyum saat mendapatkan buku yang ia mau,
pria itu langsung menyodorkannya pada Keira.

"Baca ini. Sangat edukatif. Itu bacaan favoritku. Untuk mengimbangiku, kau tak
perlu membaca banyak buku, cukup membaca itu saja," ucap Jimin yang mulai
berjalan mundur, lalu sempat mengedipkan sebelah matanya. Sebelum akhirnya
pria itu menghilangkan sosoknya.

Keira sempat mengernyit, lalu perlahan dia membuka sampul kulit dari buku itu.
Dan tercengang ketika membaca judulnya. "Kamasutra?"

Keira langsung menjatuhkan buku itu, tepat ketika ia membuka halaman pertama
dari isinya.

Jimin memang sangat kurang ajar!


CHAPTER 3

"Bahasa Koreamu cukup bagus dan lancar."

Taehyung menatapi stroberi yang baru ia petik lalu ia masukkan ke keranjang kecil
yang dibawa Aily di sebelahnya. Sebisa mungkin Taehyung bersikap tenang,
meski itu terasa begitu sulit karena sumpah demi apapun, jantungnya seakan mau
lepas dari dada setiap kali bertemu pandang dengan gadis yang saat ini sedang
mendampinginya melihat-lihat perkebunan. Aily diminta kakeknya untuk
melanjutkan menemani Taehyung karena kakeknya mendadak mengalami sakit
pada pinggulnya setelah menandatangani surat kerjasama mereka.

"Terima kasih, Tuan Beom. Aku juga masih belajar," jawab Aily sesopan
mungkin, ia menjaga jaraknya untuk tetap berada di belakang Taehyung.

"Memangnya sudah berapa lama belajar?"

"Sebenarnya, sejak berusia empat belas tahun mulai tertarik. Salah satu nenek
moyangku ada yang berdarah Tiongkok, dia pandai melukis, dia melukis tempat-
tempat yang pernah ia kunjungi dan kebetulan aku sangat tertarik dengan
lukisannya yang diberi judul Sungai Han. Sejak saat itu aku mulai mencari tahu
tentang Korea dan mulai menyukai Korea."

Taehyung hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Akhirnya pertanyaan dalam


benaknya terjawab atas visual Aily dan Keira yang entah bagaimana bisa punya
unsur asia. Ternyata memang ada garis keturunan.

"Dan, kau makin senang lagi karena ternyata calon suamimu juga orang Korea?"
Taehyung bertanya, sembari membungkuk, menatapi buah stroberi mana yang
akan ia petik selanjutnya.
Aily tersenyum malu. "Ah, aku tidak pernah berpikir itu akan terjadi. Tapi, itu
membuatku belajar lebih giat lagi tentang Korea untuk menghormatinya."

Taehyung mendengarnya, merasakan seperti ada goresan kecil di hatinya. "Jimin


beruntung sekali," ucapnya dengan tatapan kosong, pada buah stroberi yang ada di
tangannya.

Aily sedikit terkejut mendengarnya, ia hanya tersipu malu, ia menanggapi itu


seperti sebuah pujian sopan dan basa basi. "Tuan juga orang yang baik, calon istri
Tuan Beom pasti akan sangat beruntung nantinya."

Senyum hambar di bibir Taehyung terukir. Ia menghela napas panjang. Tak tahu
lagi harus menjawab apa, angin segar menerbangkan rambutnya, lalu ia mendengar
samar-samar orang yang berjalan menghapirinya dan Aily dengan tergesa-gesa.

"Tuan Putri."

Seorang wanita yang usianya mungkin seperti Keira, memakai seragam pelayan
istana datang menghampiri Aily dengan raut wajah gugupnya. Dia tampak agak
ketakutan. Aily yang melihat hal itu, lalu meminta ijin pada Taehyung untuk
menjauh sebentar. Dia sedikit membungkuk, Taehyung tentu saja mempersilahkan.

Aily tak melangkah begitu jauh darinya, hanya sekitar sepuluh langkah, sampai dia
menghampiri wanita itu dan mendengarkan apa yang wanita itu bisikkan di
telinganya.

Hanya dalam hitungan detik, raut wajah Aily tampak berubah memucat, seakan dia
tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Taehyung memperhatikan
dengan jelas bagaimana Aily seketika berubah menjadi begitu terkejut, karena Aily
tampak beberapa kali menggeleng tak percaya. Hingga pada akhirnya Aily sedikit
berlari menghampirinya dan memberikan keranjang berisi beberapa butir stoberi
itu pada Taehyung.

"T-tuan, ma-maaf, aku tidak bisa menemani Tuan lagi. Aku harus per---,"
"Kau kenapa?" Taehyung bisa melihat jelas bagaimana Aily berusaha menahan
dirinya agar tidak menangis, Aily tampak menggigit bibir bawahnya.

Aily lantas menggeleng. "Tidak apa-apa, aku hanya harus pergi. Maaf."

Setelah Taehyung menerima keranjang itu, Aily langsung pergi berlari menuju
pada wanita yang baru saja membisikkannya informasi tadi, mereka sempat
bercakap lagi sebelum akhirnya keduanya melangkah cepat, seakan mencari
tempat lain lagi untuk bercakap agar tak ada seorang pun yang tak tahu.

*****

Taehyung sudah kehilangan mood-nya sore ini, dia bahkan tak bisa menikmati
pertunjukkan yang dipentaskan untuknya sama sekali. Tapi, Taehyung harus tetap
di sini sampai semuanya berakhir. Taehyung kali ini ditemani oleh Jimin, dan di
sisi lain bangku Jimin itu kosong. Ada dua kemungkinan, itu sebenarnya bangku
untuk sang raja atau untuk Aily. Tapi, sepertinya itu memang bangku untuk Aily,
karena raja sedang kurang enak badan jadi dia sempat meminta maaf pada
Taehyung karena tak bisa menemani untuk melihat pertunjukkan.

Taehyung tidak banyak berbicara dengan Jimin selama pertunjukkan, mereka


hanya berbicara sekedarnya, berintaksi sesuai apa yang ingin dilihat publik dari
pertemuan mereka.

Saat pertunjukkan selesai, Taehyung berusaha memfokuskan dirinya untuk


mempersiapkan diri dengan kepulangannya besok. Dia menahan dirinya sekuat
tenaga untuk tidak memikirkan apa yang terjadi pada Aily, atau menanyakan apa
pun dengan Jimin.

Taehyung berjalan keluar lebih dulu, untuk menghindari obrolan lagi dengan yang
lain.

"Tuan Beom!"
Taehyung ingin mengumpat karena ia ternyata masih mendengar suara Jimin, alih-
alih terus melangkah untuk pura-pura tidak dengar. Tapi, tubuh sialan Taehyung
malah menoleh ke belakang.

"Sapu tanganmu terjatuh saat duduk." Jimin menyodorkan sapu tangan abu-abu itu
ke pada Taehyung.

Taehyung mengambilnya. "Oh, terima kasih."

"Morning Rain dengan sedikit aroma kesegaran buah pir." Jimin menjabarkan.

Taehyung terkejut. "Kau menciumnya?"

Jimin lalu cepat mengoreksi. "Tercium, cukup kuat aromanya. Dan aku terkejut."

"Kenapa?"

"Itu aroma yang disukai Aily."

"Apa?" Taehyung tak mengerti arah pembicaraan ini.

Jimin mengangkuk. "Kami pernah berkunjung ke tempat pembuatan parfurm, dan


dia dapat kesempatan untuk menilai tiga parfum pria yang ia sukai, dia memilih
bau yang persis dengan bau sapu tanganmu. Dia itu pencinta buah pir."

Taehyung membuang napas pelan, Jimin mulai lagi. Dia tidak boleh percaya, dia
takut terseret lagi. Taehyung harus fokus untuk kembali ke Korea.

"Terima kasih atas informasinya, mungkin itu hanya kebetulan. Dan, sekarang aku
harus bersiap-siap karena harus kembali ke korea besok."

Jimin mengangguk. Tangannya bergerak mempersilahkan. "Baiklah, silakan, kita


tentu akan bertemu lagi, kan?" Jimin tersenyum penuh arti. "Di hari pernikahanku
dengan Aily," imbuhnya dengan sedikit penekanan.
Taehyung memejamkan matanya sejenak, ia tahu betul Jimin sedang mencoba
memancingnya. Bola mata Taehyung bergerak menyusuri area sekelilingnya,
memastikan tak ada orang yang berpotensi mendengar percakapan mereka.

Kini, Taehyung menatap Jimin kembali.

"Apa yang kau inginkan?" Terkutuklah Taehyung yang terpancing oleh ucapan
Jimin.

"Tidak ada. Aku sudah memulai rencanaku sendiri. Menunggumu tidak ada
gunanya."

Detik itu juga pikiran Taehyung langsung terhubung pada kejadian Aily yang
mendadak meninggalkannya tadi. Dia menatap Jimin penuh peringatan. "Apa yang
sudah kau lakukan?"

Jimin tersenyum. "Keira juga mencintaiku, dia menantangku untuk membuktikan


sesuatu. Aku tertantang, dan aku tak punya pilihan lain untuk membiarkan calon
istriku itu tahu yang sebenarnya."

Taehyung seketika mendorong Jimin pada sebuah dinding yang berada di balik
pilar, seakan tak peduli potensi orang lain yang mungkin saja bisa melihat apa
yang terjadi.

"Kau ini manusia macam apa?! Tidak bisakah kau--,"

"Aku memperjuangkan kebahagianku!" Jimin lantas menurunkan tangan Taehyung


di tubuhnya dengan kasar. "Kau tidak akan mengerti, karena selama ini kau tinggal
di lingkungan yang berbeda denganku. Aku mencoba mencintai Aily, tapi aku
tidak bisa!" Jimin menegaskan. "Hidupku sudah terlalu sering dikendalikan sejak
kecil, dan ini saatnya aku melangkah sendiri." Jimin mengatur napasnya, dia
menatap Taehyung serius.

"Kau---," Taehyung masih syok.


"Aku menawarkanmu untuk ikut ke dalam permainan ini, karena ini satu-satunya
momen yang tepat untuk bisa memilikinya jika kau ingin. Kalian punya banyak
kecocokkan, Aily akan mudah mencintaimu, bahkan bisa lebih cepat mencintaimu
daripada ia belajar mencintaiku."

Jimin meletakkan tangannya di bahu Taehyung. "Ini hanya tentang pilihanmu, kau
ingin menyempurnakan rencana ini, atau lupakan semuanya. Dan, kembalilah lagi
ke sini setelah Aily menjadi milik orang lain. Dan menjadi penyedia wine untuk
pria yang akan menjamah tubuh Aily di ranjang nantinya." Jimin menyeringai
penuh kepuasaan.

Puas karena telah berhasil mencabik-cabik hati Taehyung yang kini tengah
membayangkan Aily disentuh oleh pria lain.

"Berengsek kau!" umpat Taehyung kesal, kesal pada dirinya sendiri yang nyatanya
memang tak terkendali lagi.

"Terima kasih karena telah mendeskripsikan dirimu juga." Jimin merapikan jas
bagian depan Taehyung. "Jadi, bagaimana, Tuan Beom? Ingin kubimbing tentang
rencananya atau---,"

"Diam kau! Aku sudah tahu apa yang harus kulakukan." Taehyung menyingkir kan
tangan Jimin, lalu perlahan menarik napas dan entah mengapa, kini Taehyung juga
tersenyum sinis, lalu menatap Jimin dengan tatapan penuh peringatan. "Kalau ini
gagal, akan kucekik lehermu."

Jimin tersenyum dingin.

"Kita berdua akan tercekik kenikmatan malam ini."

******

Aily masih sulit mempercayai apa yang tadi pagi ia dengar, kabar dari pelayan
yang mengatakan bahwa ia melihat calon suaminya berciuman di perpusatakaan
dengan kakak sepupunya memang menjadi petir baginya hari ini. Ada beberapa
alasan yang membuat Aily gelisah, satu, pelayannya itu tidak akan pernah
menyampaikan berita bohong. Kedua, sikap Keira yang agak sedikit berbeda saat
makan siang tadi membuatnya semakin curiga.

Belum lagi Jimin yang memang pagi tadi tidak menemaninya untuk mendampingi
Taehyung di perkebunan. Alhasil, Aily yang harus mendampingi sendiri. Jimin
beralasannya dia ada urusan lain, jadi dia akan datang terlambat ke istana,
sedangkan Aily mencoba bertanya pada penjaga gerbang depan, mereka
mengatakan Jimin sudah datang sejak pagi.

Jimin berbohong padanya.

Keira bertindak aneh.

Aily kebingungan.

Dia belum bisa menceritakan ini pada siapapun, tidak tahu harus berbuat apa. Dia
masih terlalu muda untuk memutuskan apa yang akan diambilnya, dia sangat takut
salah mengambil langkah. Tapi, di sisi lain, Aily juga tak bisa memungkiri betapa
kini hatinya terasa begitu sesak karena semuanya tampak semakin terhubung.

Aily memikirkan itu sejak tadi taman istana, tepatnya di dekat kolam ikan yang di
tengahnya terdapat air mancur yang kucuran airnya keluar dari alat kelamin dua
malaikat kecil bersayap.

Hanya ditemani cahaya purnama, Aily duduk di sini, lebih tepatnya ia sedang
menunggu Jimin untuk datang kemari. Meski mereka tidak janjian sama sekali,
tapi Aily tahu Jimin akan melewati tempat ini saat dia akan kembali pulang ke
istananya. Bohong jika Jimin tidak singgah saat sedang melihatnya.

Aily tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan selain ini. Dia sudah di sini selama
kurang lebih dua jam, dan semakin malam, udaranya semakin dingin. Tapi, panas
di hati sekaligus pelupuk seakan cukup untuk melawan dingin yang menggelitik
permukaan kulitnya.

"Menunggu Jimin?"
Aily terkejut, menoleh ke belakang dan melihat ternyata yang muncul malah
seorang Taehyung.

"Ah, Tuan Beom." Aily langsung berdiri, dan sedikit membungkukkan badannya.

"Sepertinya Jimin sudah pulang, dia bilang agak pusing tadi. Mungkin dia ingin
beristirahat lebih awal." Taehyung mengeddikkan bahunya.

Aily sedikit tidak menyangka. "Oh, begitu." Tapi, dia tetap mengangguk juga.

Taehyung tersenyum, lalu menyodorkan satu buah gelas kaca dari salah satu
tangannya. "Ini untukkmu. Wine ini bisa menghangatkan tubuh." Berani sumpah,
Taehyung berjuang keras menahan debarnya dan sikapnya saat ia maju selangkah
dan menyodorkan minuman itu pada Aily.

Sementara Aily tidak langsung menerima, sedikit berpikir, ia melihat Taehyung


punya dua gelas yang ia pegang, apakah Taehyung memang sengaja membawakan
minum itu untuknya?

"Oh, aku sudah melihatmu sejak tadi di sini. Aku pikir tidak ada orang yang
bertahan lama dengan dingin seperti ini. Kurasa kau perlu minum sesuatu untuk
menghangatkan tubuhmu." Taehyung menyela begitu saja, paham akan maksud
Aily.

Aily tersenyum mendengarnya, ia menghargai sikap Taehyung. Jadi, dia


mengambil gelas itu. "Terima kasih, Tuan Beom."

"Itu aku yang membuatnya, tidak terlalu pahit," ucapnya saat melihat Aily mulai
duduk kembali dan meminumnya.

Senyum di bibir Taehyung terukir penuh arti ketika Aily perlahan-lahan mulai
menyesapnya. "Ini cukup manis, meski agak sedikit pekat di tenggorokan."
Komentar Aily yang kini kembali duduk di kursi.

"Boleh aku ikut duduk?" Pintanya sopan.


"Boleh, silahkan, Tuan Beom." Aily sedikit menyisakan tempat, ia pikir tidak ada
salahnya menghormati tamu. Toh, besok juga Taehyung akan kembali. Tidak ada
salahnya mengobrol, setidaknya ini lebih baik dari pada Aily terus-terusan
memikirkan tentang permasalahannya.

"Jadi, sudah pernah ke Korea sebelumnya?" Taehyung membuka percakapan,


menatapi air mancur dan ikan-ikan hias yang menari ke sana kemari di bawah
cahaya rembulan yang begitu cerah malam ini.

"Pernah, dua kali," jawab Aily antusias. Sesekali, dia masih menengguk
minumannya, sedikit demi sedikit, cairan itu masuk ke dalam mulutnya.

"Benarkah? Sudah ke mana saja?"

"Seoul, Daejeon, Busan, Gwangju. Dan beberapa lainnya. Tapi, itu hanya
sebentar."

"Dalam rangka apa ke sana waktu itu?" Taehyung mencoba lebih akrab.

"Yang pertama, pergi mengunjungi keluarga Choi, dan yang kedua...berjalan-jalan


bersama, Jimin-ssi dan keluarganya." Aily merasakan lidahnya ngilu saat
mengucapkan beberapa kata terakhir, dia jadi ingat betapa manis dan hangatnya
keluarga Jimin menyambutnya di sana dulu.

Taehyung ingin sekali menonjok wajah Jimin sekarang juga. Pasti ini semua
bagian dari rencana Jimin. Jimin memang sengaja membuat orang lain tahu apa
yang ia lakukan dengan Keira, hingga orang itu akan melaporkannya ke Aily, dan
kini hal itu berujung dengan hal semacam ini. Tapi, di sisi lain, Taehyung juga
sangat ingin memberikan tepuk tangannya pada Jimin, karena langkah berani yang
diambil pria itu memang patut diacungi jempol.

Taehyung mulai mengajak mengobrol ke topik lain, topik yang lebih bersahabat,
semakin lama-semakin pribadi, mulai dari makanan kesukaan sampai hobi masing-
masing. Mereka menemukan beberapa kecocokan, meski tidak sepenuhnya
menyukai hal yang sama tapi obrolan itu benar-benar mampu untuk bersinergi dan
mengisi satu sama lain. Pertukaran pendapat dan saran Taehyung sebagai yang
usianya jauh lebih tua cukup mendominasi percakapan, membuat Aily sejenak
sanggup melupakan bahwa dia sedang berada dalam kegalauan.

"Aku juga suka itu, karena---,aduhh." Aily tiba-tiba menghentikan ucapannya,


ketika mendadak kepalanya terasa begitu ngilu. Sebenarnya sudah sejak tadi rasa
pusing mulai menyerang, Aily tidak mengira bahwa pusing itu akan semakin terasa
dan berubah menjadi serangan ngilu setajam ini.

"Kenapa?" Taehyung bertanya khawatir.

Aily menggeleng, sambil memegangi kepalanya. "Ah, tidak. Tuan Beom..." Aily
memejamkan matanya sejenak. "Eugh, sepertinya aku harus kembali ke kamar."
Aily meletakkan gelasnya di sisi kursi kosong di sampingnya."

Mencoba untuk berdiri tapi kakinya seakan berubah menjadi jelly, hingga dia
mungkin saja akan terjauh ke dekat kolam ikan kalau saja Taehyung tidak tangkas
menangkap tubuhnya.

"Biar aku bantu ke kamar," Taehyung menawarkan sembari masih menahan tubuh
Aily.

Aily yang tubuhnya terasa begitu lemas dan ringan, hanya bisa menatap Taehyung
dengan tatapan yang mulai sayu. Kepalanya kini tengah bersadar di dada
Taehyung, mencoba berdiri tegap dan ingin menolak. "Tidak perl--,ahh" kepala
Aily terasa berdenyut lagi.

Kali ini disusul dengan dingin yang merambat melewati tubuhnya. Aneh. Aily
merasakan gelenyar aneh dalam tubuhnya kala hidungnya mencium aroma parfurm
favoritnya dari tubuh pria yang sedang membantunya ini.

"Tidak apa-apa, akan kubantu." Suara Taehyung terdengar berat,lirih namun tegas
dan sulit sekali untuk ditolak.

Hingga akhirnya Aily seakan merasa seperti terhipnotis, apalagi hangat dari
telapak tangan dan tubuh Taehyung kini menjadi hal yang paling dibutuhkan oleh
tubuhnya saat ini.
Sementara, Taehyung bersumpah, ini adalah detik yang paling menyiksa dalam
hidupnya. Jantungnya berdebar tak karuan, ia harus tetap berusaha tegar untuk
membawa tubuh ini bisa sampai ke kamarnya. Taehyung bahkan merasakan
punggungnya basah karena gugup bukan makin, khawatir ada yang melihatnya.

Jimin memang sialan, karena saat pria yang sedikit lebih pendek darinya itu
mengatakan semua akan aman saat malam. Itu ternyata benar-benar terjadi. Jalan
menuju ke kamar Aily sepi tak berpenghuni.

Taehyung bahkan merinding ketika dia sampai ke depan pintu kamar Aily.
Taehyung membuka kamar itu, pria itu bisa merasakan keringat dingin juga ikut
mengucur di keningnya ketika aroma terapi dari kamar Aily dan hawa hangat dari
ruangan itu benar-benar memikat. Pintu tertutup kembali secara otomatis tepat
ketika mereka berdua masuk.

Taehyung mendudukkan Aily diranjangnya, karena Aily memang masih setengah


sadar.

"Te-terima kasih, Tuan Beom." Aily masih memegangi kepalanya.

"Apa masih pusing? Aku bisa membantumu."

"Ah? Eh tidak--,"

"Kuberikan contohnya, nanti kau bisa melakukannya sendiri."

Taehyung memang sudah gila karena tanpa ijin pria itu mengulurkan tangannya di
antara perpotongan kedua bahu dan leher Aily, posisi mereka saling berhadapan,
lalu Taehyung melakukan pijatan ringan di sana dengan menekankan sedikit ibu
jarinya di beberapa titik.

Hal yang sukses membuat Aily terkejut, tapi terlalu lemas untuk menunjukkan
keterkejutaannya dan terlalu larut dalam pijatan ringan itu. Karena, jujur itu sangat
membuat nyaman, tangan besar dan hangat milik Taehyung berubah menjadi hal
yang tubuhnya inginkan saat ini.
Aily sampai memejamkan matanya karena rasa pusing dan gelenyar aneh itu
semakin terasa, bibirnya juga mulai mengeluarkan suara-suara lirih yang tak
pernah terpikir akan keluar dengan cara seperti itu. Suara yang membuat sesuatu
dalam diri Taehyung makin terbakar, hingga pria itu tak bisa menahan diri untuk
tidak menipiskan jaraknya pada Aily, dan pijatannya mulai sedikit lebih agresif.

Aily menyadari hal itu, Aily perlahan membuka matanya dan berusaha mundur
ketika melihat jarak wajah Taehyung begitu dekat dengannya. Aily mencoba
menggeleng dengan tenaganya yang sudah berada di ujung jurang. Dia mencoba
menghindar tetapi tangan kekar Taehyung yang semula barada di area lehernya
kini merambat naik hingga ke rahangnya, seakan pria itu memegang kendali penuh
akan tubuhnya.

Kedua tangan itu menangkup wajah Aily, memaksa mata lemah gadis itu
menatapnya. "Maafkan aku," ucap Taehyung dengan suara berat yang sedikit
gemetar.

Namun, Aily seakan tidak bisa mendengarnya. Mendadak semuanya terasa


mendengung, Aily hanya bisa melihat gerak bibir Taehyung, dan dia sendiri hanya
bisa mengira-ngira apa saja kalimat yang diucapkan Taehyung. Kepalanya terasa
makin berputar, sesuatu dalam diri Aily seketika bangkit kala Taehyung dengan
kurang ajarnya melenyapkan jarak di antara kedua wajah mereka dan
menyentuhkan bibirnya pada bibir mungil tak berdosa milik Aily. Semua itu
dibarengi dengan usapan menggoda di area leher dan bisikan-bisikan hipnotis yang
membuat Aily tak bisa membedakan lagi, apakah ini adalah kenyataan atau hanya
mimpinya saja.

Sedikit akal sehat Aily tentu berharap ini semua hanyalah mimpi.

Tapi, satu sisi Aily juga punya ketakutan karena segalanya yang terjadi terasa
begitu nyata di tubuhnya. Setiap sentuhan, usapan, gesekkan dan bahkan rasa sakit
itu terasa begitu nyata.

Namun, satu yang membuat Aily merasa heran, ketika semua yang dianggapnya
mimpi kotor itu telah selesai, ia memperoleh satu ketenangan dalam dekapan
hangat yang mengurung tubuhnya. Sebuah dekapan yang mampu mengahapus
semua rasa sakitnya malam ini.

Tidak hanya rasa sakit di fisik.

Tapi, juga di hatinya.

******

Ada debar dan getar yang tidak karuan dalam benak Aily ketika tangan
kekar itu entah begaimana bisa menyusup ke dalam gaunnya, membelai sesuatu
beberapa titik sensitifnya.

Aily mengerang, tertahan, ketika satu persatu jari-jari Taehyung berhasil


melucuti pakaiannya. Entah bagaimana ini bisa terjadi, dia sangat tahu siapa yang
sedang menyentuhnya, tetapi tubuhnya seakan tidak bisa menolak.

Aily masih terjebak dalam bayangan di mana dia berpikir semua ini
hanyalah mimpi. Mimpi liar yang sangat kurang ajar.

Bagaimana bisa dia memimpikan Tuan Beom menyetubuhinya?

Tapi, satu sisi Aily juga tidak ingin terbangun dari mimpi ini.

Dia merasakan tubuhnya tak beralaskan benang apapun lagi, saling


bersentuhan dengan tubuh kekar dan hangat milik Taehyung yang kini sudah
berada di atasnya. Memberinya serangan kecupan-kecupan ringan pada leher Aily,
itu seperti gelitikkan bulu angsa yang benar-benar membuai jiwa.

“Aaahhh…” Aily merasakan sakit di bawah pusat dirinya ketika sesuatu


benda tumpul dan keras mencoba masuk, mengoyak sesuatu di dalam dirinya.
“Its okay, I will do it slowly,” bisik Taehyung dengan suara beratnya, lalu
memberikan kecupan lagi, kali ini di dada Aily.

“Arghhh…” Tangan Aily spontan meremas seprai ketika merasakan benda


itu sudah terdorong masuk menembus intim miliknya.

Perasaan macam apa ini? Kenapa ada rasa sakit dan penasaran dalam satu
waktu, mengapa intimnya justru makin mengeluarkan cairan yang memperbudah
pengoyakan dirinya.

“Eughh!” Dorongan itu dilakukan Taehyung semaki lagi, dia sudah tidak
punya cara untuk berhenti, tak peduli jika dia tiba-tiba dikutuk mati dengan cara
seperti ini.

Ini lebih gila dari yang Taehyung bayangkan, apalagi saat Aily tidak
melakukan penolakan apapun, cenderung menikmatinya.

“Ah, sa-sakit…” Aily meringis lirih, tetapi Taehyung paham bagaimana cara
menghilangkan rasa sakit itu.

Lantas pria itu menundukkan wajahnya, menyerang bagian dada dan


menggoda titik sensitif yang ada di sana dengan lidahnya. Sementara tangan yang
lain juga ikut bergabung untuk menyapa titik yang santunya.

Hal yang membuat Aily seakan mengejang, tak tahan, dan melupakan rasa
sakitnya di bawah sana. Gadis itu memejamkan matanya erat, bibirnya
mengeluarkan desahan-desahan menjijikkan yang tak pernah dia bayangkan
sebelumnya.

Mimpinya ini sungguh liar karena terasa begitu nyata. Ia jadi berpikir,
beginikah rasanya nanti jika dia sudah menikah dengan Jimin? Sedahsyat inikah
sensasinya?

“Ah, ahh!” Aily semakin mendesah tak karuan ketika tempo dorongan dan
hisapan di dadanya semakin tidak karuan. Dorongannya terlalu jauh, terlalu dalam
menembus dirinya. Bahkan Aily merasa khawatir jika benda itu mungkin saja bisa
menembus masuk ke dalam perutnya.

Aily tidak tahu, ia hanya menggeleng dan merasakan seperti ingin buang air
kecil, ketika kedutan samar mulai terasa di intinya dan dia tidak bisa menahannya,
terlebih ketika keras di bawah sana juga sudah mulai menancap kuat, menekan titik
terdalamnya.

Hingga keduanya sama-sama menjerit tertahan, merasakan sesuatu yang


mengalir dari dalam diri mereka masing-masing. Saling mengisi, saling membasahi
dan saling menyempurnakan.

Aily benar-benar lelah, hingga tak sanggup lagi melanjutkan mimpi


hebatnya. Dia akhirnya tertidur dalam dekapan hangat yang begitu terasa nyata.

Sementara yang memeluk samar-samar menyunggingkan senyum bahagia,


menyadari bahwa ternyata semua ini tidaklah berhenti di mimpinya, karena baru
saja semua itu dia wujudkan bersama Aily.
CHAPTER 4

Aily seakan tidak pernah benar-benar berhenti menangis.

Sejak hari di mana dia menemukan dirinya terbangun dalam keadaan paling
menjijikkan dan disaksikan langsung oleh kakeknya seakan menjadi hari terakhir
di mana gadis itu bahagia.

Segalanya berantakan, Aily tidak berhenti menangis dan berlutut di depan


kakeknya yang selalu memberinya tatapan kecewa.

Sudah berminggu-minggu setelah kejadian itu.

Taehyung ditahan agar tidak kembali ke Korea. Didatangkan keluarganya


setelah Taehyung sekarat, kelaparan dan hampir pingsan karena dikurung di ruang
bawah tanah bersama dengan Hwangseok yang tak bisa melakukan apapun. Dia
benar-benar tak menyangka bahwa majikannya yang sangat mementingkan
reputasi itu bisa melakukan semua tindakan hina ini.

Saat orang tuanya datang pun, Taehyung harus babak belur lagi karena
dihajar oleh ayah kandungnya di depan sang raja. Betapa kecewanya pria yang
telah membersarkan Taehyung itu, dia benar-benar malu karena anaknya bisa
sepicik itu. Hatinya terluka bukan main melihat anaknya menjadi mesin
penghancur kehidupan orang lain.
Jimin juga ada di sana hari itu, dan pria itu seolah memanfaatkan momen itu
untuk membebaskan dirinya dari pernikahan dengan Aily. Semuanya bertambah
buruk saat Jimin juga ikut mengutarakan pendapatnya bahwa ia tidak ingin
menikah lagi dengan Aily lantaran gadis itu telah gagal menjaga kesuciannya.
Seakan terlalu memanfaatkan keadaan untuk membuat Aily semakin tersiksa.

Taehyung tidak bisa menahannya dan pada akhirnya, memberanikan diri


menghadap ke pemimpin tertinggi meski dengan kondisi tubuh yang babak belur,
Taehyung juga membongkar hubungan Jimin dan Keira. Tentang perasaan Jimin
dengan Keira, tentang apa saja selama ini yang telah dilakukan Jimin dengan
Keira.

Maka, kini Aily tidak sendirian merasakan penderitaan itu, karena nyatanya
Keira tidak bisa berbohong di hadapan kakeknya ketika Jimin justru terlihat senang
dengan apa yang dikatakan Taehyung.

“Benar, Yang Mulia. Semua itu benar! Aku memang mencintai Keira
daripada Aily! Dan semua ini, kami yang merencanakannya!”

Kini sebuah tamparan keras dari sang raja mengenai wajah Jimin, di susul
dengan dua orang pengawal bertubuh kekar yang sontak datang dan memaksa
tubuh Jimin untuk berlutut hingga dia kini sejajar dengan Taehyung yang juga
tersungkur lemah dengan darah yang mengalir di hidung.

“Memalukan!”

Evans mengepalkan tangannya, tubuhnya yang sebenarnya sudah mulai


renta kini harus menganggung rasa malu ini. Dadanya terasa begitu sesak saat
mengetahui dua cucu kesayangannya hancur di tangan dua pria yang sebelumnya
sangat dia hargai. Hatinya lebih hancur lagi saat melihat kondisi Aily yang
kabarnya semakin hari, semakin kacau. Di satu sisi ia ingin sekali langsung
memaafkan cucunya itu, tapi di sisi lain, dia juga sangat menjunjung tinggi adat
kerajaan, ingin memberi pelajaran yang tak terlupakan, karena kesalahan yang
dilakukan Aily itu sudah sangat kelewatan.

“Kalian semua tidak tahu malu!”


Bentaknya dengan sesak di dada yang tak tertahankan. Pria tua itu
memegangi dadanya. Sementara Keira yang kebetulan ada di ruangan itu mencoba
mempertahankan wibawanya. Dia berjalan dengan tongkatnya. Menatap kedua
orang tua Jimin yang juga terkejut dengan apa yang terjadi.

“Bawa pergi anakkmu sejauh mungkin! Dan seluruh perjanjian kita


dibatalkan! Jangan pernah mencoba untuk melangkah kaki ke sini lagi dan---,”

Pria tua itu lalu menatap ke arah orang tua Taehyung. “Sebelum kalian
membawa anak ini pergi!” Dia menatap Taehyung dengan tatapan hina. “Kalian
harus mendatangani surat sumpah untuk tidak membuka mulut dengan apa yang---
,”

“Yang Mulia!” sela Taehyung dan Jimin secara bersamaan.

Sang Raja menatap keduanya. “Kalian masih berani bicara!”

“Aku bisa bertaggung jawab!” ucap Taehyung!

“Beri aku kesempatan!” susul Jimin.

Sang Raja tak berpikir lama, dia langsung menggeleng, menatap jijik ke
kedua pria itu.

“Tidak ada kesem---,”

“Yang Mulia!”

Ucapan itu terputus ketika salah satu pelayan tertua di istana datang dengan
raut wajah paniknya. Dia menembus segala keraiaman dan berjalan mendekati
sang Raja lalu menunjukkan gestur untuk meminta ijin mendekat untuk
menyampaikan sesuatu yang tampaknya begitu privasi, sejenak Evans
mengangguk lalu dibisikkanlah beberapa kalimat yang sukses membuat Evans
terbelalak dan langsung menatap Jimin dan Taehyung secara bergantian.

“Kalian memang keparat!”

Itu adalah kalimat terakhir sang Raja sebelum, pemimpin tertinggi itu
bergegas meninggalkan ruangan.

*****
Keira menangis di dalam kamarnya, terduduk lemas di atas ranjang
empuknya yang berantakan sambil memeluk tubuhnya sendiri yang kini begitu
gemetar. Setelah dokter istana datang memeriksanya dan mengatakan diagnosis
dari apa yang ia alami selama tiga hari belakangan ini, Keira menjadi begitu
gemetar.

Pikirannya belum sepenuhnya tenang karena Aily sama sekali tidak mau
menemuinya, ditambah lagi dengan hal ini.

Aily pasti akan semakin membencinya.

“Bagaimana bisa?!”

Evans merasakan dadanya begitu sesak. Dia menatap Keira dengan penuh
kekecewaan dan luka yang lebih dalam, jauh lebih dalam dari caranya menatap
Aily.

“Bagaimana bisa kau hamil?!” Evans memekik sembari mencengkram


tongkat penyangga tubuh tuanya itu dengan sisa-sisa emosi yang ia miliki.

“Sudah berapa lama kalian melakukannya?! Sudah seberapa sering itu


terjadi?! Sudah berapa lama kau menghianatiku dan adik sepupumu?!”

Air mata pria tua itu tak terbendung lagi, tubuh lemasnya kini sudah merosot
hingga terduduk di satu kursi panjang, memaksa dirinya menerima kenyataan
bahwa ini semua bukanlah hanya sekedar mimpi buruk.

Keira semakin menangis, sembari menenggelamkan kepalanya, pada


tubuhnya sendiri, tak sanggup melihat bagaimana hancurnya hati seorang kakenya
yang membesarkannya. Keira benar-benar tenggelam dalam penyesalahan yang
luar biasa, ia benci pada dirinya sendiri yang terbuai oleh rayuan Jimin malam itu.

Dan betapa berdosanya Keira, karena dia seakan dibutakan oleh rayuan
Jimin hingga rela melakukannya sampai tiga kali pada masa di mana Aily justru
menderita.

Keira bersumpah demi apapun, dia akan rela dihukum seberat mungkin.
Tidak hanya di kehidupan ini, tapi juga di kehidupan selanjutnya, jika memang
benar reinkarnasi itu ada.
Sekarang, segalanya telah hancur.

Keira benar-benar pasrah dengan keadaan, dan dia sudah bisa


membayangkan apa yang terjadi setelah ini.

Jimin akan tetap memilikinya, tapi Aily?

Aily akan tetap membenci Keira, selamanya.

CHAPTER 5

Kabar itu sudah terdengar ke telinga Aily, tentang Keira yang ternyata
sedang mengandung anak dari calon suaminya. Tentang kakeknya yang tak punya
pilihan lain lagi selain untuk tidak menikahkan Keira dengan Jimin.

Aily tidak pernah keluar dari kamarnya, hatinya sakit membayangkan betapa
dia telah mempersiapkan banyak hal untuk pesta pernikahannya, tapi dia malah
ditampar oleh kenyataan bahwa kini yang menikah bukanlah dirinya.

Aily membenci dirinya yang terlalu bodoh karena tidak menyadari, bahwa
selama ini Jimin benar-benar tidak mencintainya. Di saat Aily berusaha keras
untuk mempersiakan seluruh hidupnya untuk Jimin, tapi pria yang ia kagumi
selama ini itu justru mencintai sepupunya. Jimin menuliskan semua untuk Aily di
dalam surat dan mengungkapnyam itu terpaksa Jimin lakukan karena Aily sama
sekali tidak mau bertemu dengannya.

Meski awalnya, Aily tidak ingin membaca itu dan sudah berniat untuk
membakarnya, tetapi dia juga tidak bisa memungkiri seberapa penasarannya
dirinya dengan penjelasan Jimin. Metode surat mungkin memang yang terbaik
untuk saat ini, karena Aily tidak yakin, dia bisa untuk tidak emosi dan menangis
jika berhadapan dengan Jimin maupun Keira.

Aily bahkan masih menghafal jelas isi surat itu.


Aku menerima semuanya, aku sangat menerima kemarahanmu padaku
dan Keira. Kami memang pantas mendapatkan hal itu.

Jika kau tidak merobek surat ini, aku sangat berterima kasih.

Karena, mungkin hanya lewat surat inilah aku bisa mengungkapkan


semua apa yang tertahan dalam diriku.

Mengenalmu, adalah sebuah kehormatan bagiku. Kau adalah gadis yang


sangat baik, perhatian dan mau untuk mencoba menerimaku, meski awalnya
kau juga ragu.

Perlu kau ketahui, bahwa aku juga telah mencoba untuk memberikan
seluruh perasaanku padamu, aku mencobanya, serius, tapi semua itu tidak bisa.
Bukan, bukan karena kau buruk, tapi memang karena hatiku tidak menuju
padamu.

Jangan tersinggung.

Karena, setiap manusia pasti punya titik cocoknya masing-masing.


Terkadang, beberapa hal memang tak bisa dipaksakan, seperti aku yang benci
makan keju, dan seberapa kuat aku mencoba memakannya, kau akan tetap
membencinya. Perasaan manusia kebanyakan bekerja dengan cara yang persis
seperti itu.

Tapi, tidakkah kau tau bahwa ada orang lain, yang sangat menyukai
keju? Ada seseorang yang mungkin bisa memakan dan memperlakukan keju itu
dengan baik, jauh lebih baik dari pada diriku. Aku akan sangat bahagia jika
kejuku jatuh ke tangan orang yang bisa benar-benar menghargainya.

Aku pikir, kau sudah cukup dewasa untuk memahami semua maksudku
ini. Aku tahu, meskipun usiamu belum mencapai kepala dua, tapi kau sudah
mampu untuk mengerti, kau merasakannya.

Aku memang berengsek dan manusia bersalah karena telah melakukan


semua cara licik ini, tapi aku tak akan membiarkan diriku menjadi lebih jahat
lagi, dengan menikahimu, memberikanmu kebahagiaan palsu, lalu
membiarkanmu memengorkiku tidur bersama sepupmu saat kita sudah punya
tiga anak.
Apa kau bisa memahami semua itu sejauh ini?

Apa kau terkejut aku menyusun semua kalimat ini?

Ya, inilah apa yang ada di hatiku selama ini. Terpendam, dan aku tidak
mau lagi menjadi Jimin yang lembut dan palsu di depanmu.

Aku harap kau tidak hanya sibuk dengan kekecewaan dan kebencianmu
terhadap diriku, apalagi Keira. Kau selalu merasa dirimu yang paling terlukai,
tapi kau memang tidak pernah mencoba tentang perasaan Keira sendiri.

Bagaimana kau bisa bahagia menunggu hari pernikahanmu waktu itu?


Sementara dia harus menahan iri karena calon suaminya yang tidak jelas.
Bagaimana kau bisa tersenyum saat mencoba seluruh gaun untuk hari
bahagaimu saat Keira harus selalu diperintahkan oleh kakekmu untuk belajar
dan membaca lebih banyak buku di perpustakaan untuk memantaskan dirinya
dengan calon suaminya.

Tidakkah kau merasakan bagaimana dia akan merasa sedih, karena kau
akan meninggalkannya, tidakkah kau membayangkan dia yang lebih tua darimu
justru akan datang ke setiap pesta seorang diri sementara kau yang nantinya
sudah menikah malah bisa dengan bangga berjalan sambil menggandeng
lenganku?

Tidakkah kau melihatnya selalu berpamitan lebih dulu setiap kali kita
makan malam bersama? Tidakkah kau tahu dia menghindari itu untuk
meredam kesedihannya?

Kau memang sepupu yang paling baik, Putri Aily.

Aku minta maaf harus menggunakan cara berengsek ini untuk


menyelamatkan kita pada kekacauan yang lebih besar.

Sejauh ini, kau pasti marah, sangat marah.

Marah karena kau mulai merenungi semua ucapanku.

Satu lagi, fakta yang perlu kau tahu.

Kau mungkin akan merobek kertas ini setelah membacanya.


Tapi, kau harusnya tahu bahwa minuman itu memang dicampur sesuatu
yang membuat kepalamu terasa begitu berat, tapi sepenuhnya kesadaran masih
milikmu. Jadi, saat kau gemetar dan panas karena sentuhannya, itu memang
karena dirimu juga mengingikannya.

Kau menginginkan seorang Beom Taehyung.

*****

Aily memang benar merobek kertas itu setelah membaca kalimat terakhir
dan menangis kembali meratapi segalanya yang terjadi.

Dia marah.

Tapi, dia juga membenci dirinya sendiri.

Aily lebih banyak melamun, membiarkan suara-suara bising di luar sana


makin menyesakkan hatinya. Suara-suara bising persiapan pernikahan Keira dan
Jimin yang akan digelar dalam beberapa hari lagi.

“Tuan Putri…”

Seorang pelayan masuk setelah mengetuk pintu kamar Aily. Aily tidak
mengubrisnya karena ia tahu bahwa pelayan itu pasti datang untuk sekedar
membawakannya makanan, vitamin, atau baju ganti.

“Ada yang ingin bertemu.”

Aily langsung mengangkat kepalanya, ada debar di jantungnya, berharap


bahwa yang menemuinya adalah sang kakeknya yang datang untuk memeluknya.
Jujur, Aily sangat ingin dimaafkan dengan cara yang sebenarnya, meski kakeknya
bilang untuk melupakan semuanya, tapi Aily tetap ingin mendapatkan pelukan
hingga mereka berdua sama-sama menangis dan Aily bisa melepaskan seluruh
kesakitannya dipelukan kakek tersayangnya.

Tapi, sayangnya, yang muncul di ambang pintu bukanlah kakeknya,


melainkan sosok pria yang membuat napas Aily kini seakan tertahan di
tenggorokan.
“Tuan Beom?”

Aily mengucapkan itu nyaris tanpa suara, hanya ada getar di bibirnya,
seluruh punggungnya seketika memanas, melihat sosok Beom Taehyung yang kini
berdiri nyata di depannya. Sosok itu berdiri di dekat ambang pintu kamarnya yang
terbuka lebar dan di belakangnya terdapat enam orang pengawal pria yang tengah
berdiri tegap seolah siap siaga jika saja terjadi sesuatu yang tidak diinginkan
nantinya.

Aily yang tengah berdiri di dekat ranjangnya mendadak merasa lemas,


kakinya seakan kehilangan seluruh tulang, ketika pribadi berjas rapi itu datang
menatapnya dan melangkah menuju dirinya.

Aily tidak pernah percaya bahwa dia masih akan melihat orang ini lagi,
karena ia tahu kakeknya pasti takkan membiarkan orang ini untuk bertemu
dengannya. Tapi, apa ini?

Kenapa pria itu justru bisa ke sini menemuinya? Diawasi pengawal?

“Kakekmu memberiku kesempatan untuk bertemu denganmu sebelum aku


kembali ke korea hari ini.”

Aily menahan napasnya, tepat ketika pria itu berdiri di depannya. Hanya
berjarak satu langkah. Aily mencoba mengalihkan pandangannya, tidak sanggup
melihat wajah dari Taehyung.

“Jadi, hukumanya sudah berakhir.” Aily berucap sarkas, dia masih


sebenarnya bisa melihat bagaimana bekas memar di wajah Taehyung dan postur
tubuh pria itu yang makin kurus.

Taehyung menelan ludahnya, jujur dia juga tak sanggup menatap Aily, jadi
dia sedikit menundukkan kepalanya. “Aku juga diberi kesempatan untuk berbicara
denganmu.”

“Kau sudah berbicara denganku, Tuan Beom. Jadi, kau boleh pergi ke
negaramu sekarang.” Aily merasakan sesak yang begitu dalam di dadanya, sekuat
tenaga dia berusaha untuk tidak terlihat rapuh.

“Aku ingin membawamu bersamaku.”


Aily sontak menatap Taehyung, matanya melebar, memastikan apa yang
baru saja ia dengar. Apa Taehyung sadar akan ucapannya. Seketika emosi Aily
naik ke permukaan.

“Beraninya---,”

“Aku tidak memaksamu.” Taehyung menyela dan langsung membalas


tatapan Aily dengan tatapan yang tak kalah kuatnya. Taehyung mengatur
napasnya. “Aku hanya menyampaikan keinginanku. Keluargaku telah
membicarakan ini dengan kakekkmu.”

Aily masih bungkam, kehabisan kata-kata.

Taehyung mengambil kesempatan itu untuk mendominasi suasana.

“Kau akan menderita jika terus di sini. Kau membenci mereka, kan?” Yang
dimaksud Taehyung tentu saja Jimin dan Keira. “Kau hanya akan hidup dalam
bayang-bayang mereka setiap hari jika masih berada di sini. Sekarang semua
pilihan ada padamu.”

Aily terdiam sejenak, dia menantang tatapan Taehyung. “Untuk apa? Untuk
apa kau melakukan ini? Hanya untuk menebus semua kesalahanmu? Apa dengan
tinggal bersamamu bisa membuatku melupakan semua dan bahagia?” Aily
merasakan matanya mulai memanas, kesakitan itu menohok hatinya lagi, nyeri,
bersamaan segala isi hati yang memaki diri sendiri.

Seandainya waktu bisa diputar lagi, Aily ingin sekali untuk tidak duduk di
taman itu dan menunggu Jimin. Tapi, di sisi lain, jika semua ini tidak terjadi,
mungkin benar apa yang dikatakan Jimin, dia justru akan hidup dalam kepalsuan
dan sesuatu yang lebih buruk bisa saja terjadi nantinya. Aily membenci semua ini.

Air matanya mulai menetes lagi, tubuhya gemetar, bahagia seakan tidak
berpihak padanya.

Sementara Taehyung menatap Aily dengan tegas, dia keyakinan penuh di


hatinya.

“Aku tidak bisa memperbaiki kekecauan ini, tapi aku akan berusaha
membuatmu bahagia.”
“Untuk apa membuatku bahagia?” Aily menatap sinis dengan air mata yang
kian mengalir deras.

Taehyung memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya bersamaan


dengan embus napas samar yang terbuang ke udara.

“Karena, kebahagiaanmu adalah bahagiaku.”

Aily terkecat, merasakan dirinya justru melemah mendengar perkataan itu.


Aily lantas menggeleng, tak mau terbuai dengan mudah, namun Taehyung segera
melanjutkan kembali ucapannya.

“Aku mencintaimu, Aily.”

Dan seketika tubuh Aily merosot hingga dirinya terduduk di ranjang.

Aily menangis kuat, entah karena apa. Yang ia tahu detik itu adalah menutup
wajahnya dan merasakan tubuhnya bergetar hebat. Sedih tentu ada, kesedihan yang
paling terasa adalah kala menyadari bahwa Taehyung adalah pria pertama yang
menyatakan cinta padanya.

Jimin tak pernah menyatakan hal semacam itu dengannya, meski jujur Aily
selalu menantikannya.

Aily meremas seprainya, lalu sedikit mengangkat kepalanya, mendapati


Taehyung yang terjadi juga sudah menurunkan tubuhnya untun mensejajarkan
pandangannya dengan Aily.

Sepasang mata itu bertemu lagi, Aily dengan kubangan basah di matanya
makin bisa melihat dengan jelas memar di wajah Taehyung, di sudut mata pria itu,
dia dekat bibirnya apalagi ada titik berkas luka yang pasti telah mengeluarkan
banyak darah. Aily bisa melihat dengan jelas juga, keseriusan yang ada di mata
pria itu.

“Ikutlah denganku,” ucap Taehyung lagi dengan suara beratnya, memohon


tapi gemetar, takut akan mendapat penolakan lagi, karena jujur, ini adalah
kesempatan satu-satunya Taehyung.

Setelah ini, jika Aily menolaknya, dia tidak akan pernah bisa bertemu
dengan Aily lagi.
“Ke-kenapa aku harus percaya padamu?” Aily sedikit terisak dalam usaha
tegarnya.

“Kau bisa melihat mataku dan menemukan jawabannya,” jawab Taehyung


tampak tenang, meski sebenarnya jantung pria itu bertalu tak karuan.

Aily lantas menatap mata Taehyung sekali lagi, tidak ada hal yang ia lihat
selain bayangnya pada pantulan bola mata yang kaya akan keseriusan itu. Seakan
sepasang mata itu sudah sanggup menyuarakan betapa Taehyung tengah
memusatkan seluruh hidupnya hanya untuk apa yang tengah pria itu tatap saat ini.

Beberapa detik berlalu dan itu justru membuat Aily sendiri yang kalah, Aily
menundukkan kepala lalu melanjutkan lagi tangisnya, tangannya meremas kembali
seprai ranjangnya untuk melampiaskan apa yang kini bergejolak di hatinya.

Andai saja tidak ada penjaga yang sedang mengawasi, Taehyung bersumpah
dia akan dia tidak akan ragu untuk mengulurkan tangannya dan menyentuh Aily,
atau mungkin lebih gila dari itu, Taehyung juga pasti akan langsung menarik Aily
ke dalam dekapannya.

Tapi, Taehyung tak berdaya.

Aily hanya terus menangis, dan enggan menatapnya lagi.

Taehyung seketika melemas, dia sudah kehabisan waktu, dan mungkin


memang ini yang harus ia terima. Penolakan Aily akan dirinya.

Mungkin dia memang tidak bisa memaksa apa yang tidak bertakdir untuk
dirinya. Taehyung hanya bisa pasrah, setidaknya dia telah mencobanya. Pria itu
lalu berdiri. Kepingan hati serta harapannya seolah telah berceceran di lantai kala
pria itu perlahan memutar tubuhnya, melangkah menjauh, meninggalkan seluruh
harapannya, menuju ke pintu yang menjadi saksi bahwa apa yang telah
dilakukannya selama ini adalah sia-sia.

Tentang apa yang dikatakan Jimin tidak sepenuhnya berhasil, itu hanya
berhasil pada Jimin, tidak dengan dirinya.

“Tuan Beom.”
Itu bagaikan sebuah sengatan bagi Taehyung, mendengar suara itu
memanggilnya lagi sontak membuatnya menoleh, menemukan sosok Aily yang
berdiri sembari tengah mengahapus air matanya dengan punggung tangan, lalu
mengambil satu napas panjang sebagai bentuk keyakinan pada diri sendiri,
sebelum akhirnya Aily berkata.

“Luka di wajahmu, biar aku bantu mengobatinya.”

Seketika, Taehyung ingin berteriak bahagia.


CHAPTER 6

Pernikahan Jimin dan Keira berjalan dengan baik, meski penuh dengan
kejanggalan di hati kedua mempelai. Aily tidak hadir di pernikahan itu karena pada
akhirnya sepupunya itu memilih untuk meninggalkan istana, meninggalkan negara
mereka dan hidup bersama pria yang bahkan sama sekali tidak memiliki garis
keturunan bangsawan.

Keira masih sering melamun, Aily bahkan tidak mengatakan apapun


padanya saat akan pergi. Mereka hanya saling bertatap muka, Keira mencoba
berbicara tapi Aily tidak menjawabnya sama sekali. Seakan Aily memang masih
belum bisa memaafkan dirinya sepenuhnya.

Tapi, Keira masih bisa merasakan bahwa Aily mencoba untuk menerima
segalanya, tetapi Keira sadar bahwa semuanya butuh waktu. Menjaga jarak dalam
beberapa waktu memang menjadi keputusan yang paling baik, Keira juga akan
terus merasa bersalah jika Aily tetap tinggal di sini dan melihatnya bersama Jimin
setiap waktu.

Keira tentu tak pernah putus berdoa agar Aily segera menemukan
kebahagiaannya.

“Kau belum tidur?”

Keira terkejut mendengar sebuah suara parau yang berasal dari sampingnya,
dia menoleh, menemukan Jimin yang tengah berbaring, sepertinya pria itu
terbangun dari tidurnya. Padahal Jimin mengaku sangat lelah karena hari ini dia
disibukkan dengan persiapan pelantikkan dirinya menjadi seorang raja.

“Kenapa kau terbangun?” Keira bertanya datar, wanita itu berbaring dengan
posisi terlentang, ia menoleh pada Jimin sejenak lalu kembali menatap atap di
kamarnya.
Jimin menarik napas, lalu merapatkan tubuhnya pada Keira, mengulurkan
tengannya untuk mendekap area perut Keira yang sudah mulai bervolume.

“Aku selalu punya firasat jika kau tidak tenang, itu membuatku terbangun.”
Jimin menarik tubuh Keira lagi agar lebih rapat dengannya, sudah sejak dulu Jimin
memimpikan hal ini, bisa memeluk tubuh Keira dengan leluasa. Tanpa adanya
rasa takut untuk ketahuan oleh siapapun.

Sementara Keira hanya terdiam, membiarkan kepala Jimin bersembunyi area


perpotongan leher dan bahunya. “Sampai sekarang, aku heran, kenapa kau bisa
terlihat begitu tenang setelah apa yang kita lakukan pada Aily?”

Jimin menarik napas pelan, pembahasan seperti ini seakan tak ada habisnya,
kalau boleh jujur, Jimin cukup jenuh setiap kali Keira kumat dengan perasaan
seperti ini.

“Dia bersama orang yang tepat sekarang, Beom Taehyung akan menjaga dan
memberinya kebahagiaan,” ucap Jimin begitu yakin.

“Bagaimana kalau tidak? Bagaimana jika pria itu bukan orang yang tepat?”
Keira masih saja ragu, lebih tepatnya khawatir.

“Aku tahu rasanya menggilai seorang wanita, aku dan dia sama-sama orang
Korea. Aku sangat tahu dia sudah menaruh perhatian pada Aily bahkan sejak kali
pertama. Mereka punya banyak kecocokkan. Bukankah aku sudah sering
menjelaskan ini padamu?” Itu benar, Jimin sampai lelah mengulang kalimat ini,
setiap kali Keira memikirkan Aily.

Keira merenung selama beberapa detik. “Tapi, bagaimana dengan Aily?


Apakah dia akan memaafkan kita?”

Untuk pertanyaan yang satu itu, Jimin sukses dibuat membeku selama
beberapa detik, mencoba juga mencari tahu jawabannya. “Aku tidak tahu,” ucap
Jimin seiring dengan ingatannya yang juga merosot kembali ke masa di mana dia
bersama Aily, ralat, masa-masa pendekatan mereka yang tak membawa getar
apapun di hati Jimin. Padahal, Jimin tahu, bagaimana Aily berusaha keras untuk
menyusaikan diri dengannya dan berpakaian sebaik mungkin setiap kali mereka
berdua akan bertemu.
Jimin dan Keira sama-sama terdiam.

Merenungkan kembali semuanya.

Ini adalah saat-saat yang paling menyebalkan, tetapi Jimin memilih untuk
mengalihkan suasana ini agar tidak makin buruk dengan cara menggerakkan
tangannya untuk dikaitkan dengan tangan Keira yang juga terletak tak jauh dari
perut, Jimin menyelipkan jari-jarinya untuk mengisi jari-jari Keira, mengalirkan
kehangatan dan perhatian yang begitu nyata.

“Aku tidak tahu apakah Aily bisa benar-benar memaafkan kita atau tidak,
tapi yang aku tahu, jika aku telah menikah dengannya dan melihatku sangat
mencintaimu, itu pasti akan membuatnya lebih hancur lagi.” Hanya itu yang ada di
kepala Jimin.

Keira kini menoleh pada Jimin lagi, hingga pandangan mereka bertemu.
Keira tidak menampik kenyataan bahwa tatapan hangat Jimin selalu berhasil
membuatnya merasa jauh lebih baik. Mungkin Jimin benar, terkadang jalan untuk
menuju takdir yang diinginkan tidaklah selalu mulus.

“Jangan dipikirkan lagi, aku janji akan menghubungi Beom Taehyung jika
waktunya sudah tepat. Aku juga janji akan berusaha mencari cara untuk
memperbaiki hubungan kita dengan mereka.” Jimin lalu melayangkan satu
kecupan singkat di kening Keira.

Lalu, ciuman itu turun ke leher. “Tidurlah…” Jimin lalu bergerak mengusap
perut wanita yang sudah menjadi istrinya selama dua bulan itu. “Kau harus bangun
pagi sekali besok.” Jimin masih mengusap perut Keira dengan sapuan lembut, mata
Jimin sudah terpejam dengan ujung bibir tebalnya yang masih menempel di leher
Keira.

“Kenapa aku harus bangun pagi sekali?” Keira heran.

“Karena aku menginginkanmu malam ini, tapi aku sangat mengantuk, jadi
akan kutunda hingga besok pagi sebelum aku berangkat.” Jimin menggelamkan
lagi wajahnya ke leher istrinya dengan manja.
“Bagaimana jika aku tidak mau? Aku ingin bangun siang.” Keira memutar
bola matanya, tapi di sisi lain dia juga menahan geli dari tusukkan kecil ujung-
ujung rambut Jimin yang ikut menggelitik sela leher dan dagunya.

“Akan tetap kulakukan sambil kau tidur,” jawab Jimin dengan suara santai,
bercampur sudah sayu, mungkin benar pria itu sudah sangat mengantuk.

“Kau mau memperkosaku, ya?” Protes Keira lagi. Jimin pasti bercanda.

“Tidak, karena kau akan pasti akan menikmatinya juga.”

“Jim—ahh..” Keira menahan ucapannya ketika Jimin seketika meremas


dadanya.

“Tidur sayangku, jangan membuatku melakukannya sekarang dan besok


pagi.”

Keira kini menelan ludahnya samar, mau tidak mau dia ikut memejamkan
matanya. Jimin memang selalu mendominasi.

Itu sepertinya sudah menjadi takdir.


CHAPTER 7

Ini sudah tiga bulan semenjak semuanya berlalu, selama itu juga, Aily
mempelajari banyak hal, tentang Korea, tentang cara hidup orang-orang di
lingkungannya yang baru, belajar cara berbicara dengan sebagai mana mestinya,
karena jujur, penyusaian budaya membuatnya sedikit terkejut. Dia harus berusaha
menyesuaikan diri, jika biasanya Aily tinggal di lingkungan istana yang cenderung
tenang dan tertata, kini Aily tinggal di sebuah kota metropolitan dengan berbagai
macam hal yang ternyata masih cukup asing baginya.

Penyesuain makanan, pola tidur, dan lain-lain juga menjadi hal yang ia
tekuni belakangan ini. Dan, yang paling penting dari itu semua, adalah tentang
Aily yang menyesuaikan dirinya sebagai seorang istri dari Beom Taehyung. Sosok
pria yang juga selama ini tak pernah lelah untuk membatu dan menyamangati Aily
dalam beradaptasi.

Taehyung memang menepati janjinya, dia menjadi sosok yang sangat baik
dan penuh perhatian. Hanya saja, Aily belum terlalu bisa langsung membangun
kemesraan seperti orang yang berumah tangga pada umumnya, interaksi mereka
sejauh ini masih sekedar saling mendukung dan perhatian Taehyung mungkin jauh
lebih terlihat, daripada Aily yang cenderung pasif.

“Sedang apa?”

Taehyung bertanya kala melihat Aily duduk di ruangan berukuran sedang


yang biasanya digunakan untuk sarapan dan makan malam. Meja kotak kayu yang
di cat hitam dan kursi minimalis serta kulkas besar yang dihiasi tempelan magnet
aksesoris serta tempelan catatan menjadi ciri khas dari ruangan yang disukai Aily
di rumah [Link] mendekat, memperhatikan Aily yang tengah memakai baju
rumahan berwarna putih polos, serasi dengan kaos polos Taehyung yang melekat
di tubuh kekar milik pria itu, kaos yang sedikit ketat hingga membuat bentuk
tubuhnya tercetak sempurna. Taehyung baru terbangun dari tidur siangnya yang
cukup melegakan karena hari ini dia tidak ada jadwal ke ke pabrik untuk
pengecekan.

“Aku sedang belajar menulis.” Aily menunjuk sebuah teks yang ada di
depannya, sebuah teks berita dengan huruf hangul, Aily sedang belajar untuk
berlatih menulis huruf korea itu dengan lancar.

Taehyung tersenyum tipis, dia bangga sekali pada Aily yang tetap mau
belajar untuk memahami budayanya. Bahkan bahasa Korea Aily makin lancar
setiap harinya.

Taehyung lantas berjalan ke belakang Aily yang sedang duduk, meletakkan


tangannya di meja, sedikit membungkukkan badan untuk bisa memperhatikan Aily
lebih dekat, kepalanya tak melewati bahu Aily agar dapat melihat hasil tulisan
Aily.

“Bagus, cukup rapi. Seperti tulisan orang Korea asli.” Taehyung tersenyum
puas dengan hasilnya.

Sementara Aily menahan kegugupannya, selalu gugup setiap kali Taehyung


di dekatnya, padahal ia harusnya sudah membiasakan diri, menerima bahwa pria
ini adalah suaminya sekarang.

Tiga bulan seakan masih belum cukup untuk membuat Aily terbiasa
berdekatan dengan Taehyung, tapi dia sangat berusaha untuk menghargai
Taehyung, tidak pernah juga Aily menolak apapun dari Taehyung yang terkadang
meminta apa yang menjadi haknya. Hanya Aily hanya belu tahu cara
membalasnya, ia juga belum tahu apakah hatinya sudah sepenuhnya menjadi milik
Taehyung atau justru masih tersangkut pada bayang akan calon pemilik hatinya
yang lama, Jimin.

Tidak.

Aily bukannya mencintai Jimin sedalam itu, hanya saja, Jimin adalah pria
yang membuatnya tertarik untuk pertama kalinya, dia sudah membuka hatinya
selebar-lebarnya untuk Jimin yang sungguh ia percaya, namun pada akhirnya
dikhianati, meninggalkan sedikit rasa trauma dan kekhawatiran untuk meletakkan
kepercayaan hatinya lagi.
“Kenapa kau diam saja? Apa yang sedang kau pikirkan?” bisik Taehyung
tepat di dekat telinga Aily.

Aily terkejut, menyadari dirinya memang sempat terdiam, tidak melanjutkan


lagi tulisannya. Ia tengah mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Taehyung
namun mendadak perasaan berubah jadi aneh, tepat ketika bau bumu masakan
yang baru saja Taehyung panaskan menembus hidungnya.

Seketika raut wajah Aily berubah ketika merasakan sesuatu yang sangat
mengoyak perutnya seakan memaksa keluar melewati tenggorokan. Spontan Aily
menutup mulutnya dengan menggunakan tangan.

“Hmpphh.” Aily merasakan mual lagi untuk kesekian kalinya dalam minggu
ini.

Taehyung yang seketika berad di belakangnya langsung mengambil posisi


ke samping Aily. “Kenapa? Kau mual lagi?” tanya Taehyung khawatir.

Aily yang masih menutup mulutnya mengangguk samar, ia memejamkan


matanya berusaha meredam rasa mual yang sepertinya tidak sekuat pagi hari. Aily
tidak ingin memuntahkan apapun kali ini. Dia masih bisa menahannya. Tetapi,
mata Aily mengarah ke dapur, tepat di mana Taehyung memenaskan sup kari
kesukaannya.

Detik itu juga Taehyung paham. “Oh astaga, sup-nya!” Dengan gerakan
tanggap Taehyung pergi ke dapur dan mematikan kompor lalu mencari penutup
agar uapnya dan asapnya tidak keluar, pria itu membuka sedikit jendela agar sisa
uapnya ke keluar ruangan.

Taehyung kembali mendatangi Aily yang baru saja selesai meminum air
yang memang sejak tadi ada di sampingnya. Aily mengusap mulutnya, ketika
melihat tapapan khawatir Taehyung. “I’m okay,” ungkap Aily untuk menjawab
tatapan Taehyung.

Kedua tangan Taehyung terulur untuk menyentuh kedua pipi Aily yang
semakin tembam. “Maaf, aku lupa indra penciumanmu sedang sangat sensitif.”

Entah mengapa itu malah membuat Aily merasa tidak enak. “Ma-maaf aku
jadi seperti ini, itukan makanan kesukaan Taehyung-ssi, harusnya aku---,”
Jari Taehyung bergerak menyentuh bibir mungil istrinya untuk memutus
ucapan. Taehyung lantas menggeleng dan tersenyum. “Tidak apa-apa.” Dia paham
Aily selalu merasa sungkan.

Taehyung menarik napas lalu, membungkuk, menurunkan kepalanya secara


perlahan hingga sejajar dengan perut rata milik Aily. Lalu, mendekatkan kepalanya
di sana. Bersamaan dengan tangannya yang juga menyentuh perut rata itu,
Taehyung mendaratkan satu ciuman singkat. “Maaf ya, aku tidak tahu kalau kau
tidak suka sup kari,” bisiknya lirih pada nyawa kecil yang baru berusia empat
minggu itu.

Aily merasakan pipinya memanas, selalu merasa malu dan tersipu setiap kali
melakukan hal kecil itu. Bahkan, tak jarang juga Aily terharu. Tidak hanya indra
penciumannya, perasaannya juga agak sensitif belakangan ini.

Taehyung mensejajarkan wajahnya lagi pada Aily, menyibakkan rambut


wanita itu ke belakang telinga agar bisa dengan jelas menatapi wajah istrinya
dengan penuh sayang.

“Mau jalan-jalan denganku tidak?” tawar Taehyung.

“Ke mana?” Aily malu, tapi dia selalu antusias jika diajak pergi ke tempat-
tempat yang ada di Seoul.

“Masih kupikirkan. Kau suka suasana alam atau suasana kota?” tanya
Taehyung lagi.

Aily tampak berpikir sejenak. “Aku suka udara yang sejuk.”

Taehyung mengangguk-angguk tanpa menjauhkan wajahnya dari Aily.


“Hmm, kita bisa pergi berkemah. Kalau kau mau. Aku tahu sebuah tempat.”

“Berkemah?”

Taehyung mengangguk. “Iya, ayahku pernah membawaku ke sana. Letaknya


di pinggir danau. Lalu, kita membakar api unggun untuk penghangatnya.” Kenang
Taehyung lagi.

Aily tersenyum, mulai tertarik. “Sepertinya menyenangkan.”


Taehyung tersenyum puas. “Pasti.”

Mereka berdua akhirnya sepakat, lalu sama-sama tersenyum. Taehyung


lantas tak ragu untuk mendekatkan lagi wajahnya dan melayangkan kecupan
singkat di bibir candu milik Aily. Wanita yang dicium sempat terkejut karena
Taehyung cukup tiba-tiba, tapi Taehyung hanya membalas dengan senyuman
mautnya lalu mencium sekali lagi, sebelum akhirnya pria itu menjauhkan
kepalanya dan mengusap kepala Aily.

“Selamat melanjutkan belajar lagi.”

Pria itu lalu pergi meninggalkan Aily yang masih bengong sembari
merasakan jantungnya yang berdegup kencang.

Semakin hari, Taehyung memang semakin berhasil mencuri hatinya, sedikit


demi sedikit.
CHAPTER 8

“Jimin menghubungiku tadi pagi.”

Aily langsung tersentak ketika ia sedang menghangatkan tangannya di depan


api unggun yang baru saja menyala setelah Taehyung bersusah payah untuk
membuatnya karena cuaca yang cukup dingin hingga membuat kayunya menjadi
lembab.

Taehyung sudah bisa menebak reaksi Aily akan seperti itu, dia lantas duduk
di sebelah Aily, beralaskan karpet berbulu tebal dan bermanjakan pemandangan
danau yang indah. Pria itu duduk di samping Aily sembari menyeampirkan selimut
tebal pada dua tubuh mereka agar tetap hangat.

“Kami mengobrol cukup lama, awalnya ingin kumatikan saja, tapi bukan
Jimin namanya jika tidak membiarkanku ikut terlalut dalam apa yang ia ucapkan.”
Taehyung terkekeh hambar.

Sudah sangat lama rasanya dia juga tidak berkomunkasi dengan pria
brengsek sekaligus sekaligus pria yang bisa dibilang cukup berjasa dalam hidupnya
karena jujur, tanpa rencana picik Jimin, mungkin Aily juga tidak akan duduk di
sebelahnya.

Aily masih diam, tidak merespon apapun. Mendengar nama Jimin


disebutkan seperti menimbulkan denyut panas sendiri di hati Aily. Itu tidak bisa
dipungkiri, dan cukup manusiawi, mengingat apa yang telah dilakukan Jimin
padanya, apa yang telah dikatakan pria itu padanya.

Taehyung tahu betul apa keresahan yang sedang dialami Aily, pria itu lantas
mengulurkan tangannya untuk menarik tubuh Aily agar lebih rapat padanya.
Membuat kepala Aily bersandar di bahunya.

“Aku tahu, kau masih terluka.” Taehyung mengembuskan napas pelan, lalu
menatap langit cerah yang bermandikan taburan indah, cuaca sangat indah malam
ini.
Aily diam, menatap kosong lurus ke arah api unggun yang masih menyala.
“Aku sama sepertinya, saat dia mencoba untuk mencintaiku, tapi tidak bisa. Aku
juga sudah mencoba memaafkan tapi aku juga tidak---,”

“Kau hanya belum bisa.” Taehyung buru-buru mengoreksi.

Aily sedikit mendongakkan kepalanya. Meminta penjelasan Taehyung.


“Aku---,”

“Aily dengar,” Taehyung tersenyum menatap wajah cantik Aily yang makin
berlikau terkena cahaya bulan dan api unggun, jari pria itu bergerak menyingkirkan
poni tipis agar bisa lebih melihat pahatan sempurna wajah Aily.

“Mencintai berbeda dengan memaafkan. Apalagi cinta untuk melangkah ke


sebuah komitmen serius, di mana intensitas pertemuan kalian jauh lebih banyak
setelah berada dalam komitmen itu.” Sebagai yang memiliki usia lebih tua,
Taehyung selalu merasa perlu untuk memberikan nasihatnya pada Aily. “Jika kau
memaafkan seseorang, belum tentu kau harus hidup dengannya terus menerus,
belum tentu dia akan kau pikirkan setiap waktu. Tetapi, jika kau mencintai
seseorang, otomatis kau akan selalu memikirkannya, meski pun tidak saling
bertemu sering, kau tetap akan tetap merindukkannya. Kepalamu akan selalu
didominasi dengan orang yang kau cintai.”

Biar bagaimana pun Aily itu masih sangat muda, seberapa pun wanita itu
mencoba untuk menjadi dewasa, dia tetaplah berusia remaja, di mana terkadang
pemikirannya masih butuh untuk dibimbing.

“Seperti aku, yang selalu memikirkanmu.” Taehyung menyentuhkan ujung


hidungnya pada hidung mungil milik Aily.

Membuat wanita itu spontan tersipu malu, merasakan pipinya memanas saat
dirinya mencoba menahan senyum. Taehyung selalu punya caranya sendiri untuk
menggoda Aily. Terkadang pria itu memperlakukan Aily sebagai anak kecil,
terkadang juga sebagai istri idaman.

Taehyung merasa Aily punya dua sisi dalam dirinya, sisi dewasa dan manja
secara bersamaan. Hal yang membuat Taehyung merasa begitu bahagia, karena ada
kalanya Aily sangat tanggap untuk mengurus keperluannya, tapi ada kalanya Aily
bersifat kekanak-kanakkan dan manja seperti tiba-tiba tidak mau bicara saat
Taehyung pulang lebih lama dari biasanya.

“Aily…” Taehyung menatap mata Aily dalam.

“Hmmm?” Binar polos itu penasaran.

“Kau percaya takdir tidak?”

Aily berpikir sejenak. “Aku percaya.”

“Apa kau percaya bahwa takdirmu memang seharusnya bersamamu?”

Kali ini Aily merenung, lalu menatap wajah Taehyung lagi, pahatan wajah
suaminya yang sempurna, dengan kumis tipis yang mulai tumbuh, menambah
aksen kedewasaan yang mendomansi, satu hal yang diam-diam selalu membuat
Aily mengagumi paras pribadi itu.

Aily masih diam, entah mengapa pertanyaan ini terasa begitu sulit baginya.
Karena, Aily tahu bahwa dia dulu pernah sangat percaya akan seluruh hidupnya
yang akan dia habiskan bersama Jimin.

Sial, nama itu lagi. Denyut itu lagi.

Mengetahui kebimbangan Aily, Taehyung lantas mengganti pertanyaannya.

“Apa kau bahagia bersamaku?” tanya Taehyung, sementara jari pria itu
bergerak menyentuh area pipi Aily.

Kali ini Aily tidak butuh waktu lama untuk memberi respon, dia langsung
mengangguk dan tersenyum tipis. Taehyung gemas sekali dengan senyum Aily,
sehingga pria itu tidak bisa menahan diri untuk tidak mendaratkan bibirnya di bibir
lembab milik Aily, ciuman singkat yang hanya berlangsung dua detik. Cukup
membuat pipi Aily kembali memanas.

“Aku juga bahagia bersamamu.” Lalu Taehyung melirik ke bawah, ke


bagian perut rata Aily. “Uh, koreksi, bersama dia juga.”

Aily makin mengembankan senyumnya. Bahkan, kedua lengan Aily tak ragu
lagi untuk melingkar di perut kekar milik Taehyung, mencari-cari kehangatan yang
lebih di sana.
Hal yang membuat Taehyung tak bisa menahan senyum bahagianya, karena
ini pertama kalinya Aily mau memeluknya seperti ini. Ini seperti sebuah penanda
bahwa Aily sudah menerimanya, atau seperti sebuah simbol di mana Aily sudah
mempersempahkan seluruh hatinya untuk Taehyung.

“Kalau kita sekarang sudah bahagia. Maka kita harus berterima kasih dengan
Jimin.”

“Euh?” Aily sontak menjauhkan wajahnya, meminta penjelasan.

Taehyung tersenyum tenang. “Karena, jika bukan karena dia menghampiriku


dan melihat betapa aku menginginkanmu hari itu, mungkin kita tidak akan pernah
sebahagia ini. Mungkin kau bukan ada di pelukanku malam ini, mungkin kau
justru berada dipelukan Jimin, pria yang tidak memberikan seluruh hatinya
untukmu.”

Aily benar-benar tidak menyangka, kalimat itu bisa terangkai dari mulut
Taehyung sekaligus membuatnya berpikir secara mendalam, merenungi semuanya.
Membayangkan bagaimana jika itu benar, bagaimana jika dia malah berada di
pelukan Jimin yang sama sekali tidak mencintainya. Samar-samar, ingatan akan
surat yang ditulis Jimin untuknya kembali menusuk kepala.

Perasaan Aily seketika menjadi kacau, matanya mulai nyeri dan berdenyut,
hanya butuh waktu beberapa detik setelah cairan hangat keluar melewati matanya.
Lalu, Aily memilih untuk menyembunyikan wajahnya dibalik dada kekar milik
Taehyung dan terisak di sana.

Tangan Taehyung membelai kepala Aily dengan penuh sayang. Satu sisi dia
sedih melihat Aily menangis, tapi di sisi lain, dia juga merasa senang karena
tengah dijadikan sandaran untuk menumpahkan perasaan wanita itu.

“Terkadang hidup memang seperti itu, menuju kebahagiaan tidak selamanya


mulus. Maafkan aku karena telah lancing menyentuhmu malam itu, tapi aku
sungguh tidak punya pilihan lain karena aku tidak bisa mendapatmu karena tak
sedikit pun darah bangwasan yang mengalir dalam tubuhku.”

Aily menangis, terisak lagi. Ia mencengkram jaket tebal milik Taehyung


sebagai bentuk gejolak emosi yang ada dalam dirinya.
Taehyung mengecup puncak kepala Aily dengan penuh kelembutan lalu
menarik tubuh istrinya itu lebih dalam ke dalam rengkuhnya. Dagunya kini dia
tenggerkan di puncak kepala Aily.

“Ayo, lupakan masa lalu yang menyakitkan. Kau juga harus menunjukkan
pada Jimin bahwa kau juga sudah menunjukkan kebahagiaanmu bersamaku.
Percayalah, jika kau memang benar sudah bahagia bersamaku. Kau tidak akan
terluka lagi saat kau melihatnya dengan Keira.”

Kalimat itu membuat Aily memejamkan matanya. “Apa itu yang kau
inginkan?”

Taehyung tersenyum tipis. “Aku tidak akan memaksamu, tapi aku sangat
ingin bertemu mereka juga. Ingin menunjukkan bahwa aku dan kau juga sudah
bahagia. Kau juga harus ingat bahwa kita tetaplah keluarga.”

Aily kembali terisak, merenung lama, tak langsung menjawab. Membiarkan


dirinya berpikir dulu dalam pelukan Taehyung selama sepuluh menit, namun pada
akhirnya napas Aily berembus samar.

“Baiklah, aku akan mencoba.”

Taehyung tersenyum lebar lalu mencium kembali kepala Aily. Akhirnya dia
mampu membuka pemikiran Aily. Ada rasa bangga dari Taehyung untuk Aily,
tentu saja.

Keduanya larut dalam pelukan hangat bersama, melanjutkan malam


romantis mereka yang berlanjut dengan peleburan cinta keduanya di dalam tenda
kecil sederhana.
CHAPTER 9

“Aily dan Taehyung akan ke sini.”

Keira yang sedang mengacingkan pakaian Jimin lantas terkejut. Dia


berhentik ketika tangannya masih pada kancing yang berada di perut.

“Aku tahu ekspresimu akan seperti itu,” Jimin terkekeh.

Keira masih membeku. “Kau tidak bercanda kan?”

Jimin lalu mendekatkan wajahnya, dan berbisik. “Aku menepati janjiku, aku
akan membuat kita semua berbaikan lagi.” Jimin tersenyum lega karena sudah
menyampaikan ini. “Taehyung masih mencari jadwal yang tepat untuk kemari,
karena dia cukup sibuk. Tapi, dia pastikan akan segera datang ke sini.” Hal yang
pasti sangat ingin di dengar Keira.

Keira meneguk ludah tidak percaya. Tangannya mendadak terasa dingin,


membayangkan dirinya bertemu dengan Aily kembali. Hal yang lantas membuat
Keira tak bisa menahan air matanya, dia gemetar, ini bagaikan mimpi.

Jimin tak menyangka responnya akan sampai sejauh ini, lantas Jimin
mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata Keira.

“Hey, jangan menangis.” Jimin memajukan wajahnya untuk mencium


bagian bawah mata Keira, secara bergantian, dari kiri ke kanan berharap itu bisa
membuat air mata Keira berhenti mengalir.

Keira tidak bisa mengatakan apapun, karena rasa haru dan tidak percaya
masih memenuhi dadanya. Pada akhirnya dia menjatuhkan pelukannya pada Jimin.
Membajiri pakaian Jimin yang sudah ia rapikan dengan air matanya. Membiarkan
air matanya mebasahi dada pria itu.

“Terima kasih,” ucap Keira dengan nada gemetar.

Jimin membalas pelukan itu, pengusap punggung Keira dengan sayang.

Jimin menarik napas lalu memejamkan matanya, jauh di dalam hati pria itu,
sebenarnya dia juga merasa sangat lega. Dia tak memungkiri bahwa selama ini
juga sangat merasa bersalah. Dibalik sifat tenang dan liciknya, Jimin tetaplah
manusia yang punya hati dan selalu punya keinginan untuk menebus seluruh
berpuatannya.

Dalam pelukkan itu Jimin berbisik.

“Semoga ini bisa memperbaiki segalanya.”


CHAPTER 10 (END-OUTRO)

Ada banyak hal yang bergejolak pada pribadi masing-masing dari mereka.
Empat orang itu tampak begitu canggung awalnya setelah mereka dipertemukan
lagi pada ruangan yang sama.

“Your Majesty…” Taehyung membungkukkan badannya, memberi hormat


pada Jimin, entah hormat atau sindiran akrab karena mengetahui fakta bahwa Jimin
sekarang sudah menjadi raja di sini.

“Tuan Beom.” Jimin membalas hormat itu dengan aksi menundukkan badan.
Jimin tersenyum tipis lalu menoleh pada Aily yang tampak berusaha keras
menyembunyikan ketegangannya.

“Nyonya, Aily Beom.” Jimin menyapa dengan sopan dan hangat. Ia menatap
Aily dengan penuh arti, seakan panggilan itu ia sematkan untuk Aily yang kini
tengah resmi menjadi milik Beom Taehyung.

Aily tampak tercekat, berhasil membalas dengan senyum tipis dan tenang
karena Taehyung mengusap punggungnya, memberinya energi baru, meyakinkan
bahwa Aily bisa memaafkan pria itu.

Kini giliran, Aily dan Keira yang saling bertemu pandang. Tak butuh waktu
lama, keduanya saling menatap. Aily bisa melihat dengan jelas bagaimana perut
Keira yang menyembul bagaikan ada bola basket yang dimasukkan ke dalam
pakaiannya. Seketika itu membuat Aily merasa terharu, apalagi saat melihat Jimin
juga merangkul bahu Keira dengan penuh sayang.

Di situ, Aily bisa merasakan seberapa besar cinta Jimin untuk Keira. Dan,
dia menyadari bahwa dia tentu akan sangat berdosa jika membiarkan dirinya
bahagia dan menikahi Jimin, sementara fakta bahwa Keira dan Jimin saling
mencintai itu sungguh tak terbantahkan. Sebuah renungan yang berhasil
menggetarkan hati Aily, hingga seluruh tubuhnya terasa lemas, bersamaan dengan
air matanya yang mulai mengeluarkan air mata.
Keduanya tiba-tiba sama-sama membuat satu langkah untuk maju, hingga
kedua tangis mereka makin deras. Detik itu juga kedua mempercepat langkah
untuk mengapai tubuh satu sama lain.

“Maafkan aku.”

Ucap keduanya secara bersamaan.

Air mata mereka saling mengucur membasahi bahu satu sama lain.
Mendekap dengan pelukan penuh rindu dan rasa bersalah yang menggembu
menjadi satu. Baik Keira maupun Aily sadar bahwa inilah saatnya mereka harus
melupakan masa lalu.

Saling memaafkan.

Dan memulai untuk menerima keadaan.

*****

Segalanya menjadi lebih baik, Evans menggelar pesta untuk menyambut


kedatangan cucu kesayangannya. Ia juga sangat bahagia karena ternyata Aily
datang membawa berita bahwa dia juga sedang mengandung janin yang belum
terlalu besar.

Pesta kebun di malam hari, dengan berbalutkan musik dan penuh dengan
makanan. Semakin meriah lagi karena Taehyung membawa oleh-oleh wine terbaik
untuk dinikmati orang-orang istana malam ini.

Semua orang larut ke dalam pesta, Keira sampai lelah dan tertidur duluan
karena kekeyangan air karena Jimin sungguh melarangnya meminum anggur
barang setetes. Keira akhirnya agak marah dan memilih untuk melampiaskan
kekesalannya dengan makan banyak dan dibarengi dengan minum jus yang banyak
hingga membuat wanita itu kekeyangan hebat lalu mengantuk. Keira menyerah
lebih dulu. Jimin akhirnya harus mengantar Keira ke kamar.
Sementara, suasana pesta makin ramai, Taehyung dan Evans bahkan sibuk
main catur bersama, mengasah trik masing-masing dari keduanya. Hal ini
membuat Aily senang karena itu artinya Kakeknya juga sudah mulai bisa
menerima Taehyung sebagai bagian dari keluarga, meski Taehyung tak punya
darah bangsawan yang mengalir di tubuhnya.

Sementara Aily sibuk untuk berbagai cerita bersama pelayan-pelayan yang


dulu mengurusnya, mereka seakan melepas rindunya juga dengan Aily. Aily
menceritakan bagaimana kehidupannya dengan Taehyung dengan malu-malu,
karena memang sebahagia itu dirinya saat ini. Sampai akhirnya Aily tak sengaja
melihat satu meja yang berisi jus buah melon, Aily lalu melihat gelas yang ada di
samping Taehyung sudah nyaris kosong. Lantas Aily bernisiatif berdiri, hendak
mengambilkan minuman baru untuk Taehyung.

Namun, di tengah perjalannya langkah Aily justru terhenti ketika melihat


sosok yang tiba-tiba muncul di depannya. Sosok yang memberi senyum tipis lalu
memiringkan kepalanya.

“Bisa kita berbicara sebentar?” Jimin sebenarnya juga menahan gugupnya


saat mengatakan ini.

Sontak Aily menelan ludahnya. Aily sampai meremas-remas tangannya


sendiri, tetapi saat dia menoleh dan melihat Taehyung yang sedang serius bermain
catur bersama kakeknya. Aily tiba-tiba teringat dengan ucapan Taehyung, bahwa
dia harus membuktikan juga bahwa dia sudah bahagia tanpa Jimin.

Dengan itu, Aily mengangguk. “Tentu saja.”

Jimin sedikit terkejut, pria itu bahkan sudah bersiap untuk penolakan. Tapi,
rupanya Aily menunjukkan sisi dewasanya.

Lantas mereka berdua sama-sama berjalan, mencari tempat yang sedikit jauh
dari keramaian karena keduanya seakan sama-sama tahu bahwa mereka punya
sesuatu penting yang harus diselesaikan dengan tenang.

Mereka memilih tempat dekat air mancur, tempat di mana mereka sering
bertemu dulu. Tempat di mana Jimin sering menjemputnya saat pria itu berniat
mengajaknya keluar istana.
“Maaf soal suratku.” Jimin membuka percakapan. Pria itu ingat bagaimana
kejamnya kata-katanya di surat itu.

“Tidak apa-apa, aku sudah merobeknya.” Aily terkekeh.

Jimin juga ikut tertawa. “Aku sudah menduganya.”

Mereka berdua sama-sama menarik napas panjang. Lalu, Aily membuka


suara.

“Aku baik-baik saja, dan aku bahagia. Aku juga sudah memaafkan kalian.”

Jimin terkekeh mendengarnya. “Uh? Benarkah? Aku bahkan belum


bertanya.”

“Aku tahu, itu yang ingin kau dengar.” Aily membalas santai, entah
mengapa dadanya terasa jauh lebih lega sekarang.

Jimin memasukkan satu tangannya ke dalam kantong, mengangguk-angguk


samar. “Hmm, kau benar. Itu memang yang ingin kudengarkan.”

Aily tersenyum, menatap Jimin. Kali ini senyumnya jauh lebih tegar tanpa
beban. “Aku juga ingin berterima kasih.”

“Untuk rencana licikku hingga membuat kita semua bahagia?” Jimin


menyeringai, sedikit menaikan sebelah alis.

Gelengan kepala Aily membuat Jimin terheran.

“Bukan. Aku ingin berterima kasih untukmu karena sudah mencintai Keira
sebesar itu.” Aily menarik napas sedikit lebih banyak. Dia menatap lurus ke depan,
ke arah kucuran air mancur yang sangat ia rindukan suaranya. “Aku tahu, kau
mengambil resiko juga saat melakukan semua ini. Kau mempertaruhkan nama
baikmu, kau pasti mendapat tekanan juga dari keluargamu. Tidak ada pria yang
mau memperjuangkan cintanya seperti dirimu.” Aily kini menundukkan kepalanya,
menyadari satu fakta. “Bahkan, suamiku pun sempat menolak untuk melakukan
rencanamu dan pernah hampir menyerah denganku, kan?”

Aily tahu akan hal itu.

Dia telah banyak merenung belakangan ini.


Jimin tidak tahu harus merasa tersanjung atau terharu. Sosok Aily kini telah
banyak berubah menjadi lebih dewasa dari sebelumnya. Jimin mengembuskan
napasnya pelan. Membiarkan detik hening tercipta di antara mereka.

Itu berlangsung selama kurang lebih lima menit, sebelum akhirnya Jimin
berdehem.

“Aily, kau percaya tidak dengan „kehidupan berikutnya‟?” tanya Jimin tiba-
tiba.

“Reinkarnasi? Entahlah.”

Jimin menarik dua sudut bibirnya. “Aku percaya, dan kurasa aku terlalu
banyak melakukan dosa. Dan, mungkin di kehidupan berikutnya, aku punya firasat
aku akan menderita untuk menebus kesalahanku.”

Aily tertawa kecil. “Kalaupun ada kehidupan selanjutnya. Aku hanya ingin
satu hal.”

“Apa itu?” tanya Jimin.

Aily menarik napas. “Aku tidak ingin terjebak dalam satu masa kehidupan
lagi denganmu. Aku ingin punya kehidupanku sendiri. Aku tidak ingin mengenal
nama Jimin lagi di kehidupanku yang akan datang.”

Jimin lantas tertawa. “Tuhan mendengar ini. Aku juga tak ingin kau ada di
hidupku lagi.” Jimin menatap Aily. “Bukan karena aku membencimu, tapi aku
tidak ingin menyakitimu lagi di kehidupan selanjutnya.”

Aily membalas senyuman itu. Lalu, mengulurkan tangannya. “Baiklah,


sepakat.”

Jimin menyambut uluran tangan itu.

“Sepakat.”

THE END

Anda mungkin juga menyukai