0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan21 halaman

Asuhan Keperawatan Resiko Bunuh Diri

Makalah ini membahas tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan resiko bunuh diri. Terdapat penjelasan mengenai konsep dasar resiko bunuh diri, proses terjadinya masalah, pengkajian, diagnosa, intervensi, dan implementasi asuhan keperawatan. Tujuannya adalah agar mahasiswa dapat mengaplikasikan asuhan keperawatan pada pasien dengan resiko bunuh diri.

Diunggah oleh

firdya nurshina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan21 halaman

Asuhan Keperawatan Resiko Bunuh Diri

Makalah ini membahas tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan resiko bunuh diri. Terdapat penjelasan mengenai konsep dasar resiko bunuh diri, proses terjadinya masalah, pengkajian, diagnosa, intervensi, dan implementasi asuhan keperawatan. Tujuannya adalah agar mahasiswa dapat mengaplikasikan asuhan keperawatan pada pasien dengan resiko bunuh diri.

Diunggah oleh

firdya nurshina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA II

Di susun guna melengkapi tugas mata kuliah keperawatan kesehatan jiwa II

DOSEN PENGAMPU :

[Link] kirana,[Link],[Link]

DISUSUN OLEH :

Balqis Zuhroh Fitriya 821201004

Dwicky bagus saputra 821201007

Oktaviana nelly 821201016

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
YARSI PONTIANAK

2022/2023

DAFTAR ISI

ii
KATA PENGANTAR .................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1

A. Latar Belakang ............................................................................ 2


B. Tujuan Penulisan......................................................................... 2
C. Metode Penulisan ........................................................................ 2
D. Ruang Lingkup Penulisan .......................................................... 2
E. Sistematika Penulisan ................................................................. 3

BAB II TINJAUAN TEORI .......................................................................... 4

A. Pengertian Resiko Bunuh Diri…………………………………. 5


B. Proses Terjadinya Masalah.......................................................... 7

BAB III Asuhan Keperawatan Pada Resiko Bunuh Diri ........................... 13

A. Pengkajian .................................................................................... 13
B. Diagnosa Keperawatan ................................................................ 30
C. Intervensi keperawatan ............................................................... 31
D. Implementasi dan SOAP ............................................................. 36

BAB IV PEMBAHASAN …………………………………………………. 39


BAB V PENUTUP.......................................................................................... 40

A. Kesimpulan .................................................................................. 41
B. Saran............................................................................................. 4

DAFTAR PUSTAKA

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
limpahan rahmat serta hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini dengan judul” Asuhan Keperawatan Pada Tn. Y dengan
gangguan Resiko Bunuh Diri” tepat pada waktunya. Tak lupa sholawat
serta salam senantiasa kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW,
sehingga dapat berada di zaman terang benderang ini.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna,


tetapi kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan
pembaca.

Pontianak,12 september 2022

Kelompok 2

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Data dari WHO menunjukan bahwa rata-rata kurang lebih 800.000
orang di seluruh dunia melakukan tindakan bunuh diri setiap tahunnya.
Laporan di india dan sri langka menunjukan angka sebesar 11-37 per
100.000 orang, di Indonesia angkanya tidak jauh dari itu. Hal ini sejalan
dengan yang dikemukakan oleh Andari (2017, h. 93), kurang lebih 800.000
orang setiap tahun melakukan bunuh diri diseluruh dunia. Meskipun
mekanisme bunuh diri tidak sepenuhnya dipahami, beberapa faktor resiko
telah diidentifikasi, seperti orang yang menderita gangguan mental, atau
alkohol dan penyalahgunaan zat dan memiliki sejarah sebelumnya dalam
usaha bunuh diri.

Lebih dari 90% dari orang-orang yang melakukan bunuh diri


menderita gangguan psikologis. Gangguan psikologis yang sering kali
menyertai tindakan bunuh diri antara lain depresi, penyalahgunaan alkohol,
gangguan skizofrenia, gangguan bipolar, perasaan tidak berdaya, gangguan
tingkah laku, dan psikosis (Suryani, 2008, dalam Dewi, 2013).

Survei epidemiologis telah menunjukkan bahwa 90% dari pelaku


bunuh diri memiliki kondisi kejiwaan yang dapat didiagnosis. Alkohol dan
penyalahgunaan zat sering kali merupakan faktor penyebab terjadinya
resiko bunuh diri. Pasien yang menderita skizofrenia, demensia, gangguan
bipolar, gangguan kecemasan (terutama gangguan panik dan PTSD),
gangguan kepribadian (seperti garis batas, paranoid, dan antisosial), dan
gangguan kejiwaan lainnya semuanya memiliki tingkat bunuh diri yang
lebih tinggi daripada orang-orang dalam populasi umum (Varcarolis,
2013).

Pada laki-laki prevelensi bunuh diri tiga kali lebih sering


dibandingkan dengan wanita, karena laki-laki lebih sering menggunakan
alat yang lebih efektif untuk bunuh diri seperti pistol, menggantung diri,
atau lompat dari gendung yang tinggi. Sedangkan wanita lebih sering
menggunakan zat psiko aktif overdosis atau racun (Jannah, 2011)
iii
B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Agar mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan pada pasien


dengan gangguan jiwa dengan resiko bunuh diri

2. Tujuan Khusus

a. Agar mahasiswa mampu menjelaskan konsep dasar resiko bunuh


diri

b. Agar mahasiswa mampu menjelaskan penatalaksanaan gangguan


jiwa resiko bunuh diri

c. Agar mahasiswa mampu mengaplikasikan asuhan keperawatan


pasien dengan resiko bunuh diri

C. Metode Penulisan

Metode pengumpulan data yang dilakukan pada laporan ini adalah sebagai
berikut:

1. Observasi Observasi dalam laporan ini penulis melakukan metode


observasi pasien kelolaan

2. Wawancara Wawancara metode pengumpulan data pada klien yang


dikerjakan dengan sistemik, dan berlandasan kepada tujuan
penyelidikan.

3. Literature riview Literature review yang digunakan untuk menyusun


laporan ini berdasarkan pemikiran penulis tentang beberapa daftar
pustaka (artikel, buku, informasi dari internet) tentang topik yang di
bahas yaitu resiko bunuh diri

iii
D. Ruang Lingkup Penulisan

Ruang lingkup pada laporan ini yaitu konsep dasar dari keperawatan
jiwa terkait resiko bunuh diri dan asuhan keperawatan jiwa yang meliputi
pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi dengan
gangguan persepsi sensori : halusinasi pada kasus skizofernia terhadap Tn.
Y di Wilayah kerja RSJ Prov Kalbar.

E. Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN :Berisi latar belakang, tujuan penulisan,


manfaat penulisan dan sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN TEORI :Bab ini berisi teori Konsep Dasar Risiko

Bunuh Diri

BAB III APLIKASI KASUS :Bab ini berisi kasus, analisa dan pembahasan

BAB IV PENUTUP :Bab ini berisi kesimpulan dan saran yang


telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya

iii
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep dasar
1. Pengertian
Bunuh diri didefinisikan sebagai tindakan sukarela dan disengaja untuk
mengakhiri hidup seseorang (Muir-Cochrane, 2014). Sejalan dengan yang
dikemukakan oleh Akemat (2011), Bunuh diri merupakan tindakan yang secara
sadar dilakukan oleh pasien untuk mengakhiri kehidupannya. Berdasarkan
besarnya kemungkinan pasien melakukan bunuh diri, kita mengenal tiga
macam perilaku bunuh diri, yaitu isyarat bunuh diri, ancaman bunuh diri, dan
percobaan bunuh diri.
Bunuh diri adalah memikirkan dan merencanakan kematian sendiri.
Upaya bunuh diri adalah tindakan penghancuran diri yang tidak fatal yang di
lakukan sendiri (Boyd, 2015). Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh
Maris (1993, dalam Gamayanti, 2014), bunuh diri adalah membunuh diri sendiri
dengan sengaja, self harm yang terlihat jelas, self mutilation, tingah laku dan
sikap yang self-destructive. Bunuh diri adalah Suatu upaya yang disadari dan
bertujuan untuk mengakhiri kehidupan, individu secara sadar berhasrat dan
berupaya melaksanakan hasratnya untuk mati. Perilaku bunuh diri meliputi
isyarat- isyarat, percobaan atau ancaman verbal, yang akan mengakibatkan
kematian, luka atau menyakiti diri sendiri (Dovidson, 2004, dalam Muhith,
2015).

Bunuh diri adalah tindakan destruktif yang tidak fatal dan dilakukan
sendiri dengan secara eksplisit percaya bahwa pilihan metode akan
mengakibatkan kematian (Goldsmith, Pellmar, Kleinman, Bunney, 2002, dalam
Boyd, 2015).Bunuh diri adalah kematian yang ditimbulkan oleh diri sendiri dan
sengaja. Bunuh diri bukan tindakan yang acak atau tidak bertujuan. Sebaliknya
bunuh diri merupakan cara keluar dari masalah atau krisis yang hampir selalu
menyebabkan penderitaan yang kuat (Kaplan, 2011).

iii
2. Proses terjadinya masalah
a) Predisposisi

Berfokus pada masalah pada tahap awal pengembangan ego,


menunjukkan bahwa trauma interpersonal awal dan kecemasan yang
tidak terkelola dapat memicu untuk melakukan bunuh diri. Bunuh diri
dapat terjadi akibat interaksi yang membuat anak merasa bersalah dan
tidak berharga. Trauma masa kanak-kanak dan riwayat pelecehan juga
dapat memicu bunuh diri jika persepsi negatif telah diinternalisasi
(Bruffaerts et al, 2010 dalam Stuart, 2016).

Faktor predisposisi lain yang terkait dengan perilaku bunuh diri


sendiri termasuk ketidakmampuan untuk mengkomunikasikan
kebutuhan dan perasaan secara verbal; perasaan bersalah dan depresi
(Stuart, 2016).

Menurut Freud (1957, dalam Townsend, 2015), percaya bahwa


bunuh diri adalah respons terhadap kebencian diri yang kuat yang
dimiliki seseorang. Kemarahan itu berasal dari objek cinta tetapi
akhirnya berbalik ke dalam terhadap diri. Freud yakin bahwa bunuh
diri terjadi sebagai akibat dari keinginan yang sebelumnya ditekan
untuk membunuh orang lain. Dia menafsirkan sering benar-benar
diarahkan ke orang lain. Bunuh diri menjadi tindakan agresif terhadap
diri yang putus asa.

Penyebab terjadinya Resiko bunuh diri menurut Fitryasari


(2015,h.146), adalah kegagalan atau adaptasi, sehingga tidak dapat
menghadapi stress, perasaan terisolasi dapat terjadi karena kehilangan
hubungan interpersonal atau gagal melakukan hubungan yang berarti,
perasaan marah atau bermasalah, cara untuk mengakhiri keputusan dan
tangisan minta tolong.

iii
Faktor predisposisi menurut Muhith
a. Faktor genetik dan teori biologis; faktor genetik mempengaruhi terjadinya
resiko bunuh diri pada keturunannya. Di samping itu adanya penurunan
serotonin dapat menyebabkan depresi yang berkontribusi terjadinya resiko
bunuh diri.

b. Teori sosiologi; Emile Durkeheim membagi bunuh diri dalam 3 kategori yaitu:
egoistik (orang yang tidak terintegrasi pada kelompok sosial), atruistik
(melakukan suicide untuk kebaikan masyarakat), dan anomic (suicide karena
kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain beradaptasi dengan steressor).

c. Teori psikologi; Sigmund Freud dan Karl Menninger meyakini bahwa bunuh
diri merupakan hasil dari marah yang di arahkan pada diri sendiri.

2. Presipitasi

Faktor prefitasi resiko bunuh diri biasanya di picu oleh peristiwa besar dalam
kehidupan yang penuh tekanan terutama yang melibatkan pengalaman
kehilangan. Kerugian itu mungkin dari orang yang sangat dihargai seperti
pasangan, anggota keluarga atau teman. Untuk orang- orang dengan masalah
kesehatan mental kronis, kehilangan mungkin dari pekerja kunci yang berharga
dengan siapa klien melakukan kontak sportif secara teratur. Kehilangan bisa
terjadi melalui kematian, kesedihan, perpisahan sementara atau permanen atau
dalam kasus pernikahan melalui perceraian. Kehilangan pekerjaan, dan uang.
Status juga bisa memicu bunuh diri (Mcnulty, 2016).

Faktor presipitasi terjadinya resiko bunuh diri adalah memiliki riwayat


pernah mencoba bunuh diri, riwayat keluarga tentang percobaan bunuh diri, dan
memiliki riwayat keluarga tentang penyalahgunaan zat kemudian faktor
presipitasi lainnya yaitu memiliki diagnosis psikosis dan penyalahgunaan zat
(Fitryasari, 2015).

Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stress berlebihan yang


dialami oleh individu. Pencetusnya sering kali berupa kejadian hidup yang

iii
memalukan. Factor lain yang dapat menjadi pencetus adalah melihat atau
membaca melalui media mengenai orang yang melakukan bunuh diri ataupun
percobaan bunuh diri. Bagi individu yang emosinya labil, hal tersebut menjadi
sangat rentan (Fitria, 2012).

iii
3. Sumber Koping

Klien dengan penyakit kronis, menyakitkan, atau yang mengancam


jiwa mungkin terkait dengan penyakit mencederai diri sendiri.
Seringkali seseorang secara sadar memilih bunuh diri. Kualitas hidup
menjadi isu yang menimpa kuantitas hidup. Perilaku mencederai diri
juga terkait dengan banyak faktor sosial dan budaya. Struktur
masyarakat memiliki pengaruh yang besar pada individu. Masyarakat
mungkin membantu dan mempertahankan individu atau menuntun
mereka untuk mencederai diri. Isolasi sosial dapat menyebabkan
kesepian dan dapat meningkatkan kerentanan seseorang melakukan
bunuh diri. Orang-orang yang secara aktif terlibat dengan orang lain di
komunitas lebih mampu menghadapi stres. Mereka yang tidak
berpartisipasi dalam kegiatan sosial lebih mungkin untuk melakukan
tugas mencederai diri. keterlibatan agama sangat mendukung untuk
banyak orang selama masa-masa sulit (Stuart, 2016).

4. Mekanisme Koping

Mekanisme koping pasien yang dihadapkan dengan situasi stres


akan memanfaatkan koping, atau pertahanan, mekanisme perilaku yang
beroperasi pada tingkat bawah sadar untuk melindungi ego. Contoh
termasuk penyangkalan, regresi, perpindahan, proyeksi, pembentukan
reaksi, dan fantasi. dan mencari ketergantungan yang berlebihan pada
mekanisme penanggulangan ini (Williams, 2012).

5. Rentang Respon

Menurut Jannah (2011), Pada umumnya tindakan bunuh diri


merupakan cara ekspresi orang yang penuh Dalam hal ini, rentang
respon perlindungan dirinya telah bergeser ke arah yang berlawanan.

Rentang respon perlindungan diri (self-protective) adalah seperti bagan


berikut ini:

iii
3. Penatalaksanaan

B. Asuhan keperawatan teoritis pada pasien dengan resiko bunuh diri

Asuhan Keperawatan adalah tindakan untuk memberi asuhan kepada klien yang bersifat
individual, holistik, efektif, dan efisien. Mendiagnosis dan menangani respon klien terhadap
masalah aktual atau potensial, respon klien meliputi gejala pasien dan reaksi fisiologis
terhadap pengobatan. Perawat juga berkomunikasi mengenai masalah kesehatan pada klien
dan terhadap tenaga kesehatan lainnya, proses keperawatan dalam pemberian asuhan
keperawatan pada klien membantu perawat untuk mengetahui secara jelas masalah kesehatan
yang dapat ditangani oleh perawat secara mandiri (Deborah Siregar et al., 2021). Asuhan
keperawatan harus dilaksanakan dengan benar, perawat perlu menerapkan pengetahuan dan
keterampilan dengan cara yang teroganisir dan berorientasi pada tujuan, asuhan keperawatan
merupakan standar praktik yang harus dilaksanakan dengan baik dan benar guna
memberikan pelayanan yang berkualitas untuk proses penyembuhan pada klien serta
melindungi perawat dari masalah yang terkait dengan asuhan keperawatan.

1. Pengkajian
Pengkajian adalah penilaian langkah pertama dalam asuhan keperawatan yang
merupakan pengumpulan data secara sistematis untuk menentukan status kesehatan klien
dan mengidentifikasi masalah kesehatan aktual atau potensial. Pengkajian merupakan
kumpulan informasi subjektif dan objektif pada klien yang menjadi dasar rencana
keperawatan (Deborah Siregar et al., 2021). Analisa data dimasukan sebagai bagian dari
pengkajian seperti riwayat kesehatan, keluhan yang dirasakan, identitas klien, aktifitas
sehari-sehari dan lain-lain. Pada gangguan konsep diri, perawat mengkaji faktor
predisposisi, faktor presipitasi dan perilaku (Yusuf et al., 2015). Berikut data yang dapat
dikaji perawat:

2. Diagnosa
Penegakkan diagnosis keperawatan termasuk kompetensi perawat yang merupakan
entry point untuk merumuskan rencana asuhan keperawatan, yang merupakan dasar
untuk mengembangkan intervensi dalam mencapai promosi, pencegahan, penyembuhan

iii
serta pemulihan kesehatan pasien (PPNI, 2017). Diagnosis perawat yaitu : resiko bunuh
diri
3. Intervensi
Intervensi keperawatan mencakup intervensi keperawatan secara komprehensif yang
meliputi, intervensi pada berbagai level praktik (generalis dan spesialis), berbagai
kategori (fisiologis dan psikososial), berbagai upaya kesehatan (kuratif, preventif dan
promotif), berbagai jenis klien (individu, keluarga, komunitas), jenis inervensi (mandiri
dan kolaborasi) serta intervensi komplementer dan alternatif (PPNI, 2018). Intervensi
yang dapat diberikan yaitu:
4. Implementasi
Implementasi adalah melakukan suatu perencanaan berdasarkan intervensi
keperawatan untuk membantu klien mencapai suatu tujuan yang diharapkan
(Deborah Siregar et al., 2021). Dalam implementasi, perawat melaksanakan rencana
asuhan atau supervisi untuk melakukan intervensi keperawatan.
Setelah dilakukan intervensi yang sesuai (Keliat et al., 2019). memperoleh hasil
implementasi meliputi:

5. Evaluasi
Pada evaluasi perawat menentukan respon pasien terhadap intervensi keperawatan
dan mengetahui sejauh mana sudah tercapai, jika hasil tidak terpenuhi,revisi mungkin
diperlukan dalam pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, atau implementasi.
Evaluasi juga merupakan penilaian ulang dan menginterpretasikan data baru yang
berkelanjutan untuk menentukan apakah tujuan tercapai sepenuhnya, sebagian, atau tidak
sama sekali (Deborah Siregar et al., 2021). Hasil evaluasi meliuti:

iii
BAB III

LAPORAN KASUS

A. Kasus
Tn. R berusia 45 th

B. Roleplay / SP
Fase pra interaksi
a) Kondisi pasien:
DS:
1. Klien mengatakan lebih baik mati saja
2. Klien mengatakan sudah bosan hidup

DO:

1. Ekspresi murung
2. Tidak bergairah
b) Diagnosa keperawatan: Resiko bunuh diri
c) Tindakan keperawatan:
1. Mengidentifikasi benda benda yang dapat membahayakan klien
2. Mengamankan benda benda yang dapat membahayakan pasien
3. Melakukan kontrak treatment
4. Mengajarkan cara mengendalikan perilaku percobaan bunuh diri
5. Melatih cara mengendalikan keinginan bunuh diri

d) Tujuan: Agar klien tidak melakukan percobaan bunuh diri


Orientasi
1. Salam terapeutik

iii
Pr: assalamualaikum, selamat pagi pak. Perkenalkan nama saya perawat O saya
biasa dipanggil O. Saya mahasiswa yang sedang praktik dari STIKes YARSI
PONTIANAK. Nama bapak siapa? Senang dipanggil apa pak?
Kl: nama saya bapak D saya senang dipanggil pak D

2. Validasi
Pr: bagaimana perasaan dan kabarnya hari ini pak?
Kl: saya merasa tidak tenang dan bosan hidup
Pr: bagaimana tidurnya semalam pak?
Kl: saya semalaman tidak bisa tidur
3. Kontrak
Pr: Kedatangan saya kesini untuk berbincang bincang terkait masalah yang bapak
alami, bagaimana cara mengendalikan keinginan bunuh diri, serta melatih cara
mengendalikan keinginan bunuh diri pada bapak. Bapak maunya kita akan
berbincang bincang dimana? Dikamar ini saja atau mau di taman pak?
Kl: di taman saja
Pr: berapa lama bapak ingin berbincang bincang? 20 menit cukup pak?
Kl: iya boleh

iii
Fase kerja

“(Sebelumnya perawat memodifikasi lingkungan terlebih dahulu, yaitu dengan


menjauhkan benda benda yang dapat digunakan klien untuk bunuh diri)”

Pr: bapak boleh ceritakan kembali apa saja hal yang bapak rasakan?

Kl: saya merasa bosan hidup dan ingin mengakhiri hidup saja

Pr: bagaimana perasaan bapak setelah mengalami kejadian ini?

Pr: Menurut bapak, apa dampak yang akan terjadi pada bapak jika melakukan hal
tersebut?

Pr: apakah dengan adanya hal yang bapak alami ini bapak merasa paling menderita di
dunia ini?

Pr: Apakah bapak masih merasa bersalah atau mempersalahkan diri sendiri?

Pr: Maaf pak, mengapa bapak ingin mengakhiri hidup? Dan dengan cara apa?

Pr: Apakah bapak tidak takut untuk melakukan hal tersebut?

Pr: Jika bapak ada rasa takut, mengapa bapak tidak mencoba melawan keinginan
tersebut?

Pr: Apa yang bapak lakukan jika keinginan bunuh diri muncul?

Pr: Ada banyak cara yang tepat untuk mengatasi masalah, bukan dengan mengakhiri
hidup. Salah satu cara yang tepat dilakukan untuk mengatasi keinginan bunuh diri yaitu
dialectical behavior therapy/ DBT. DBT sudah terbukti efektif dalam beberapa

iii
penelitian yang telah dilakukan mengenai intervensi kejiwaan dalam membantu
klien dengan permasalahan mental terhindar dari pola pikir dan kebiasaan negatif
yang beresiko seperti percobaan bunuh diri.

iii
Fase terminasi

1. Evaluasi subjektif dan objektif


Pr: Bagaimana perasan bapak setelah mengetahui cara mengatasi perasaan ingin bunuh
diri?
Pr: Coba bapak sebutkan lagi cara tersebut, saya akan menemani bapak sampai keinginan
bunuh diri hilang
2. Rencana tindak lanjut dan kontrak
Pr: Baik pak, 2 hari yang akan bagaimana jika kita jadwalkan pertemuan lagi?
Kegiatannya mungkin akan berlangsung sekitar kurang lebih 20 menit, ditempat ini juga.
Apakah bapak bersedia?

C. Pembahasan

iii
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bunuh diri adalah suatu tindkan yang disengaja/ disadari dengan tujuan untuk
mengakhiri hidup. Upaya bunuh diri dapat dicegah baik dari diri sendiri maupun
pencegahan yang berasal dari lingkungan klien.

B. Saran
Dengan disusunnya makalah kelompok ini, diharapkan pembaca mengetahui bagaimana
cara mengenali dan merawat orang orang yang beresiko bunuh diri. Dengan adanya
manajemen yang baik, kejadian bunuh diri dapat ditekan dan hidup asyarakat akan lebih
baik.

iii
Daftar Pustaka

Deborah Siregar, Pakpahan, M., Togatorop, L. B., Manurung, E. I., Sitanggang, Y. F., Umara, A.
F., Sihombing, R. M., Florensa, M. V. A., Perangin-angin, M. A., & Mukhoirotin, M.
(2021). Pengantar Proses Keperawatan Konsep, Teori dan Aplikasi (Abdul Karim (ed.);
Cetakan 1). Yayasan Kita Menulis.

Keliat, B. A., Hamid, A. Y., Putri, Y. S. E., Novi, Daulima, Wardani, I. Y., Susanti, H.,
Hargiana, G., & Panjaitan, R. U. (2019). Asuhan Keperawatan Jiwa. Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

PPNI, T. P. S. D. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (Edisi 1). Dewan Pengurus
Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

PPNI, T. P. S. D. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (Edisi 1). Dewan Pengurus
Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

Yusuf, A., PK, R. F., & Nihayati, H. E. (2015). Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa (F.
Ganiajri (ed.); 1st ed.). Salemba Medika.

iii
iii

Anda mungkin juga menyukai