STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL
TINDAKAN KEPERAWATAN
TERAPI ELEKTROCONVULSIF (ECT)
OLEH :
Ni Ketut Ratih Kimilaningsih
P07120319046
PRODI NERS / SMT II
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2020
TERAPI ELEKTROKONVULSIF (ECT)
No. Dokumen Revisi Halaman 1/2
Poltekkes Denpasar ............................... ……………….
Jurusan Keperawatan
SPO Tanggal Terbit : Ditetapkan oleh
TINDAKAN Ketua Jurusan Keperawatan
KEPERAWATAN Poltekkes Denpasar
……………………… (……………………………………………………)
NIP.
Pengertian Suatu jenis pengobatan somatic dimana arus listrik digunakan pada otak melalui
elektroda yang ditempatkan pada pelipis. Arus tersebut menimbulkan kejang
grand mal yang diharapkan efek terapeutik tercapai.
Tujuan Meningkatkan kadar norepinefrin dan serotonin (mirip obat anti depresan).
Kebijakan Dilakukan pada pasien dengan gangguan afek yang berat (depresi berat,
gangguan bipolar) dan skizofrenia.
Persiapan Ruangan yang nyaman
Prosedur PRA INTERAKSI
1. Mengidentifikasi perlunya tindakan bagi pasien
2. Menyiapkan scenario komunikasi
3. Kontrak pertemuan dengan pasien (tujuan, waktu, tempat)
4. Lengkapi anamnesis dan pemeriksaan fisik, konsentrasikan pada
pemeriksaan jantung dan status neurologic, pemeriksaan darah perifer
lengkap, EKG, EEG atauCT Scan jika terdapat gambaran Neurologis
tidak abnormal. Hal ini pentingmengingat terdapat kontraindikasi
pada gangguan jantung, pernafasan dan persarafan.
5. Siapkan pasien dengan, informasi, dan. dukungan, psikologis.
6. Puasa setelah tengah malam.
7. Kosongkan kandung kemih dan lakukan defekasi
8. Pada keadaan ansietas berikan 5 mg diazepam 1-2 jam sebelumnya
9. Antidepresan, antipsikotik, diberikan sehari sebelumnya
10. Sedatif-hipnotik, dan antikonvulsan (dan sejenisnya) harus dihentikan
– sehari sebelumnya
INTERAKSI
Orientasi
1. Salam: memberi salam sesuai waktu
2. Validasi kondisi pasien saat ini. Menanyakan kondisi pasien dan
kesiapan pasien untuk melakukan kegiatan sesuai kontrak
sebelumnya
3. Kontrak. Menyampaiakan tujuan dan menyepakati waktu dan
tempat dilakukannya kegiatan
Kerja
1. Buat pasien merasa nyaman. Pindahkan ke tempat dengan
permukaan rata dan cukup keras.
2. Hiperekstensikan punggung dengan bantal.
3. Bila sudah siap, berikan premedikasi dengan atropin (0,6-1,2 mg
SC, IM atau IV).Antikolinergik ini mengendalikan aritmia vagal
dan menurunkan sekresi gastrointestinal.
4. Sediakan 90-100% oksigen dengan kantung oksigen ketika
respirasi tidak spontan.
5. Beri natrium metoheksital (Brevital) (40-100 mg IV, dengan
cepat). Anestetik barbiturat kerja singkat ini dipakai untuk
menghasilkan koma yang ringan.
6. Selanjutnya, dengan cepat berikan pelemas otot suksinilkolin
(Anectine) (30-80mg IV, secara cepat awasi kedalaman relaksasi
melalui fasikulasi otot yang dihasilkan) untuk menghindari
kemungkinan kejang umum (seperti plantarfleksi) meskipun
jarang.
7. Setelah lemas, letakkan balok gigi di mulut kemudian berikan
stimulus listrik (dapat dilakukan secara bilateral pada kedua
pelipis ataupun unilateral pada salah satu pelipis otak yang
dominan)
Terminasi
1. Awasi pasien dengan hati-hati sampai dengan klien stabil.
Kebingungan biasanya timbul kebingungan pasca kejang 15-30
menit. Pasien berada pada resiko untuk terjadinya apneu
memanjang dan delirium pascakejang (Siapkan 5-
10 mg diazepam IV)
2. Evaluasi hasil: kemampuan pasien untuk melakukan relaksasi
3. Tindak lanjut: menjadualkan latihan relaksasi pada jadual
kegiatan harian pasien
4. Kontrak: topic, waktu, tempat untuk kegiatan selanjutnya
Unit terkait Ruang Perawatan di RSJ Bangli
DAFTAR PUSTAKA
Helda, Aida. 2016. Pemeriksaan ECT . (Online). Available at
[Link] Diakses 13 April 2020. Pukul 20.00
wita
Denpasar, 2020
Nama Pembimbing / CT: Nama Mahasiswa
I Wayan Candra , [Link]., [Link]., Ns.,[Link] Ni Ketut Ratih Kimilaningsih
NIP. 196510081986031001 NIM.P07120319046