ABSTRAK
Masalah yang sering dihadapi oleh perusahaan menyangkut waktu proses produksi yag sering kali tidak
tepat waktu, sehingga berpengaruh pada terhambatnya proses produksi, dan tertundanya pemenuhan
kebutuhan atas pesanan para pelanggan. Untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di PT. ABC
manajemen harus lebih baik menerapkan Sistem Informasi Akuntansi Produksi yang sudah ada dan
efektivitas pengendalian produksi untuk menunjang kelancaran proses produksi. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Data yang digunakan adalah data primer,
pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan dan penyebaran kuesioner kepada 62
responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam pengujian parsial (uji t), nilai t hitung untuk
variabel Sistem Informasi Akuntansi Produksi (X1) senilai 2,649 lebih besar dari t tabel senilai 2,000
dengan koefisien sebesar 0,191, maka dapat dikatakan bahwa variabel Sistem Informasi Akuntansi
Produksi mempunyai pengaruh terhadap variabel Kelancaran Proses Produksi. Untuk nilai t hitung
variabel Pengendalian Produksi (X2) sebesar 2,379 lebih besar dari t tabel senilai 2,000 dengan koefisien
sebesar 0,260, maka dapat dikatakan bahwa variabel Pengendalian Produksi mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap variabel Kelancaran Proses Produksi. Selain itu, dalam pengujian simultan (uji F), nilai
F hitung sebesar 9,709 lebih besar dari F tabel senilai 3,15, maka dapat disimpulkan bahwa variabel
Sistem Informasi Akuntansi Produksi (X1) dan Pengendalian Produksi (X2) secara bersama-sama
berpengaruh terhadap Kelancaran Proses Produksi (Y).
Masalah yang sering dihadapi oleh perusahaan menyangkut waktu proses produksi yag sering kali
tidak tepat waktu, sehingga berpengaruh pada terhambatnya proses produksi, dan tertundanya
pemenuhan kebutuhan atas pesanan para pelanggan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode deskriptif. Data yang digunakan adalah data primer, pengumpulan data dilakukan
melalui studi kepustakaan dan penyebaran kuesioner kepada 62 responden. Untuk nilai t hitung
variabel Pengendalian Produksi sebesar 2,379 lebih besar dari t tabel senilai 2,000 dengan koefisien
sebesar 0,260, maka dapat dikatakan bahwa variabel Pengendalian Produksi mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap variabel Kelancaran Proses Produksi.
PENDAHULUAN
Perkembangan perekonomian dunia yang semakin luas saat ini, tentunya semakin luas pula tingkat
persaingan antara perusahaan. Pada umumnya setiap perusahaan mempunyai tujuan yang sama, yaitu
memperoleh laba yang maksimum dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya. Hal ini
dapat memberikan dampak terhadap taraf kehidupan masyarakat. Kebutuhan akan berbagai alat
pemenuhan kebutuhan akan meningkat, peningkatan ini akan diikuti pula dengan adanya permintaan
terhadap kualitas dan harga barang. Dengan demikian, perusahaan dituntut untuk selalu mengikuti
perkembangan keinginan konsumen tersebut agar dapat mempertahankan dan meningkatkan pangsa
pasar sehingga tujuan utama perusahaan dapat tercapai. Dalam mencapai tujuan tersebut, pihak
manajemen perusahaan harus bisa menjalankan operasional perusahaannya dengan efektif dan efisien.
Kemajuan atau keberhasilan suatu perusahaan salah satunya dipengaruhi oleh Sistem informasi
akuntansi produksi dengan pengendalian produksi yang efektif dan efisien dalam menunjang kelancaran
proses produksi untuk memenuhi kebutuhan para pelanggan. Dengan begitu perusahaan dapat bersaing
dengan perusahaanperusahaan lainnya. Sistem informasi akuntansi produksi memerlukan pengamatan
yang cermat dan tepat, serta penuh kehati-hatian baik dalam perencanaan, proses produksi, maupun
hasil produksi. Hal ini dilakukan untuk menghindari kerusakan akan barang, kekeliruan atau masalah
lainya yang dapat merugikan perusahaan karena secara otomatis akan mengurangi jumlah produksi
barang yang berdampak kepada pengurangan laba perusahaan sehingga diperlukan suatu sistem dan
prosedur yang memadai. Struktur pengendalian internal merupakan kebijakan dan prosedur agar apa
yang telah direncanakan dapat terlaksana dan tujuan yang diharapkan dapat terpenuhi. Hal ini berarti
bahwa dengan pengendalian internal yang optimum, maka secara langsung proses produksi yang akan
dilaksanakan oleh perusahaan dapat berjalan dengan lancar. Proses produksi merupakan kegiatan untuk
menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan faktor-faktor
yang ada seperti tenaga kerja, mesin, bahan baku dan dana yang cukup. Faktor-faktor produksi ini
merupakan hal yang sangat penting untuk diarahkan agar bisa mencapai suatu tujuan yang telah
ditetapkan, sehingga sangat berpengaruh besar terhadap kelancaran proses produksi. PT. ABC
merupakan salah satu perusahaan milik negara yang bergerak dalam bidang elektronik industri dan
prasarana yang bergerak dalam bidang tranportasi, informasi & energy, untuk mendapatkan laba bagi
perusahaan tersebut salah satunya dari penjualan hasil produksi. PT. ABC berproduksi berdasarkan
pesanan. Setiap produksi dilakukan sesuai rencana produksi. Masalah yang sering dihadapi oleh
perusahaan menyangkut waktu proses produksi yag sering kali tidak tepat waktu, sehingga berpengaruh
pada terhambatnya proses produksi, dan tertundanya pemenuhan kebutuhan atas pesanan para
pelanggan.
Tabel 1 Jangka Waktu Proses Produksi di Periode 2016
Berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa keterlambatan produksi pesanan sampai maksimal 7 bulan dan
minimal 1 bulan, jika hal ini dibiarkan, maka akan menimbulkan kerugian biaya produksi bagi
perusahaan, tidak konsistennya perusahaan sehingga pelanggan kurang percaya dan pelanggan pada
kabur. Tidak tepatnya waktu proses produksi yang terjadi disebabkan sebagai berikut:
1. Adanya penggantian modul ditengah proses produksi.
2. Adanya pengembangan dari Pusat Teknologi dan Inovasi atau ada perubahan dari anak perusahaan
atau perubahan dari pelanggan.
3. Adanya penggantian komponen material baru sehingga pemakaian material menjadi tidak efektif.
4. Terlambatnya informasi yang diberikan bagian penjualan kepada bagian produksi terkait adanya
perubahan yang diberikan dari pelanggan.
Pengendalian Produksi
Menurut Bodnar, George H (2007:396) pengertian pengendaian produksi yaitu: “Pengendalian Produksi
merupakan perencanaan produk yang akan di produksi dan penjadwalan produksi untuk
mengoptimalkan pemakaian sumber daya.” Sedangkan menurut Sofian Assauri (2008:207) :
“Pengendalian produksi adalah kegiatan untuk mengoordinasi aktivitas-aktivitas
pengerjaan/pengelolaan agar waktu penyelesaian yang telah ditentukan terlebih dahulu dapat dapat
dicapai dengan efektif dan efisien.” Dari penjelasan diatas dapat disimpukan bahwa pengendalian
poduksi yaitu kegiatan untuk agar barang yang di produksi sesuai dengan jumlah, desain dan biaya yang
telah direncanakan.
Perkembangan perekonomian dunia yang semakin luas saat ini, tentunya semakin luas pula tingkat
persaingan antara perusahaan. Pada umumnya setiap perusahaan mempunyai tujuan yang
sama, yaitu memperoleh laba yang maksimum dalam rangka mempertahankan kelangsungan
hidupnya. Hal ini dapat memberikan dampak terhadap taraf kehidupan masyarakat. Kebutuhan akan
berbagai alat pemenuhan kebutuhan akan meningkat, peningkatan ini akan diikuti pula dengan
adanya permintaan terhadap kualitas dan harga barang. Dengan demikian, perusahaan dituntut
untuk selalu mengikuti perkembangan keinginan konsumen tersebut agar dapat mempertahankan
dan meningkatkan pangsa pasar sehingga tujuan utama perusahaan dapat tercapai. Dalam
mencapai tujuan tersebut, pihak manajemen perusahaan harus bisa menjalankan operasional
perusahaannya dengan efektif dan efisien. Kemajuan atau keberhasilan suatu perusahaan salah
satunya dipengaruhi oleh Sistem informasi akuntansi produksi dengan pengendalian produksi yang
efektif dan efisien dalam menunjang kelancaran proses produksi untuk memenuhi kebutuhan para
pelanggan. Dengan begitu perusahaan dapat bersaing dengan perusahaan perusahaan
lainnya. Sistem informasi akuntansi produksi memerlukan pengamatan yang cermat dan tepat, serta
penuh kehati-hatian baik dalam perencanaan, proses produksi, maupun hasil produksi. Hal ini
dilakukan untuk menghindari kerusakan akan barang, kekeliruan atau masalah lainya yang dapat
merugikan perusahaan karena secara otomatis akan mengurangi jumlah produksi barang yang
berdampak kepada pengurangan laba perusahaan sehingga diperlukan suatu sistem dan prosedur
yang memadai. Struktur pengendalian internal merupakan kebijakan dan prosedur agar apa yang
telah direncanakan dapat terlaksana dan tujuan yang diharapkan dapat terpenuhi.
Pengendalian Produksi Menurut Bodnar, George H pengertian pengendaian produksi yaitu:
«Pengendalian Produksi merupakan perencanaan produk yang akan di produksi dan penjadwalan
produksi untuk mengoptimalkan pemakaian sumber daya.» Sedangkan menurut Sofian Assauri :
«Pengendalian produksi adalah kegiatan untuk mengoordinasi aktivitas-aktivitas
pengerjaan/pengelolaan agar waktu penyelesaian yang telah ditentukan terlebih dahulu dapat dapat
dicapai dengan efektif dan efisien.» Dari penjelasan diatas dapat disimpukan bahwa pengendalian
poduksi yaitu kegiatan untuk agar barang yang di produksi sesuai dengan jumlah, desain dan biaya
yang telah direncanakan.
METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif (kualitatif) dan metode
verifikatif (kuantitatif). Metode penelitian kuantitatif memilliki ciri khas berhubungan dengan data
numerik dan bersifat obyektif. Fakta atau fenomena yang diamati memiliki realitas obyektif yang bisa
diukur. Variable-variabel penelitian dapat diidentifikasi dan interkorelasi variable dapat diukur. Menurut
Sugiyono (2014:13) mendefinisikan metode penelitian kuantitatif sebagai berikut:
Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat
positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data
menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk
menguji hipotesis yang telah ditetapkan.
Menurut Sugiyono (2014:13) mendefinisikan metode kualiltatif sebagai berikut:
Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi
subyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, pengambilan sumber data
dilakukan secara purposive dan sowball, dan hasil penelitian lebih menekankan makna dari pada
generalisasi.
Dalam penelitian ini metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dan metode
verifikatif . Metode penelitian kuantitatif memilliki ciri khas berhubungan dengan data numerik dan
bersifat obyektif. Fakta atau fenomena yang diamati memiliki realitas obyektif yang bisa
diukur. Variable-variabel penelitian dapat diidentifikasi dan interkorelasi variable dapat diukur.
PEMBAHASAN
Berdasarkan tabulasi dapat disimpulkan bahwa variabel Sistem Informasi Akuntansi Produksi termasuk
dalam kriteria “baik” yang ditunjukkan oleh jumlah skor sebesar 3.670 berada pada interval “3.162 –
3.906”. Dengan pernyataan yang memiliki skor tertinggi sebesar 271 atau sebesar 87% dalam
pernyataan no. 12. Walaupun variabel Sistem Informasi Akuntansi Produksi termasuk dalam kriteria baik
masih ada pertanyaan dengan nilai rendah. Pertanyaan no.7 memiliki skor terendah dibanding
pernyataan lainnya. Pada pernyataan no.7, 7 responden Tidak Setuju dengan pernyataan “Penetapan
standar biaya produksi dilakukan oleh bagian akuntansi” dengan perolehan skor 211 dari nilai
maksimum 310 atau sebesar 68%. Hal ini menunjukan bahwa penetapan standar biaya produksi tidak
murni dilakukan oleh bagian akuntansi. Mungkin menurut responden penetapan standar biaya bisa
dilakukan diluar bagian akuntansi akan tetapi jika hal ini dibiarkan maka akan mengakibatkan
penyimpangan biaya standar. Berikut rekapitulasi responden mengenai variabel Sistem Informasi
Akuntansi Produksi yang dapat dilihat pada garis kontinum sebagai berikut:
Berdasarkan tabulasi dapat disimpulkan bahwa variabel Sistem Informasi Akuntansi Produksi
termasuk dalam kriteria «baik» yang ditunjukkan oleh jumlah skor sebesar 3.670 berada pada
interval «3.162 – 3.906». Walaupun variabel Sistem Informasi Akuntansi Produksi termasuk dalam
kriteria baik masih ada pertanyaan dengan nilai rendah. Pertanyaan no.7 memiliki skor terendah
dibanding pernyataan lainnya. Hal ini menunjukan bahwa penetapan standar biaya produksi tidak
murni dilakukan oleh bagian akuntansi. Mungkin menurut responden penetapan standar biaya bisa
dilakukan diluar bagian akuntansi akan tetapi jika hal ini dibiarkan maka akan mengakibatkan
penyimpangan biaya standar.
Gambar 1 Kelas Interval Sistem Informasi Akuntansi Produksi
Berdasarkan tabulasi dapat disimpulkan bahwa variabel Pengendalian Produksi termasuk dalam kriteria
“baik” yang ditunjukkan oleh jumlah skor sebesar 3.659 berada pada interval “3.162 – 3.906”. Dengan
pernyataan yang memiliki skor tertinggi sebesar 252 atau sebesar 81%. Walaupun variabel Pengendalian
Produksi termasuk dalam kriteria baik masih ada pernyataan dengan nilai rendah. Pernyataan no.1
memiliki skor terendah dibanding pernyataan lain, ada 2 responden yang Tidak Setuju dan 15 responden
Ragu-ragu pada pernyataan “Perusahaan memiliki jadwal produksi secara tertulis, akurat, dan
terperinci” dengan perolehan skor 231 dari nilai maksimum 310 atau 75%. Hal ini berarti bahwa
perusahaan tidak melakukan jadwal produksi secara tertulis. Jika hal ini dibiarkan maka akan
mengakibatkan produksi tidak sesuai dengan permintaan pemesan, bahan baku tidak tersedia, tidak
optimalnya utilisasi kapasitas, keterlambatan waktu penyerahan barang, beban produksi tidak merata
dan kualitas produksi menurun. Berikut rekapitulasi responden mengenai variabel Pengendalian
Produksi yang dapat dilihat pada garis kontinum sebagai berikut:
Berdasarkan tabulasi dapat disimpulkan bahwa variabel Pengendalian Produksi termasuk dalam
kriteria «baik» yang ditunjukkan oleh jumlah skor sebesar 3.659 berada pada interval «3.162 –
3.906». Walaupun variabel Pengendalian Produksi termasuk dalam kriteria baik masih ada
pernyataan dengan nilai rendah. Pernyataan no.1 memiliki skor terendah dibanding pernyataan lain,
ada 2 responden yang Tidak Setuju dan 15 responden Ragu-ragu pada pernyataan «Perusahaan
memiliki jadwal produksi secara tertulis, akurat, dan terperinci» dengan perolehan skor 231 dari nilai
maksimum 310 atau 75%. Hal ini berarti bahwa perusahaan tidak melakukan jadwal produksi secara
tertulis. Jika hal ini dibiarkan maka akan mengakibatkan produksi tidak sesuai dengan permintaan
pemesan, bahan baku tidak tersedia, tidak optimalnya utilisasi kapasitas, keterlambatan waktu
penyerahan barang, beban produksi tidak merata dan kualitas produksi menurun.
Gambar 2 Kelas Interval Pengendalian Produksi
Berdasarkan tabulasi dapat disimpulkan bahwa variabel Kelancaran Proses Produksi termasuk dalam
kriteria “baik” yang ditunjukkan oleh jumlah skor sebesar 3.430 berada pada interval “2.951,3 –
3.645,6”. Dengan pernyataan yang memiliki skor tertinggi sebsar 263 atau sebesar 85%. Walaupun
variabel Kelancaran Proses Produksi termasuk dalam kriteria baik masih ada pernyataan dengan nilai
yang rendah. Pernyataan no.5 memiliki skor terendah dibanding pernyataan lain, ada 27 responden
Ragu-ragu pada pernyataan “Bahan baku selalu tersedia apabila dibutuhkan” dengan perolehan skor
sebesar 222 dari 310 atau 72%. Hal ini berarti bahwa bahan baku tidak selalu tersedia apabila
dibutuhkan. Jika hal ini dibiarkan maka akan mengakibatkan terganggunya jadwal produksi yang telah
direncanakan dan kelancaran proses produksi jadi terhambat. Berikut rekapitulasi responden mengenai
variabel Kelancaran Proses Produksi yang dapat dilihat pada garis kontinum sebagai berikut:
Berdasarkan tabulasi dapat disimpulkan bahwa variabel Kelancaran Proses Produksi termasuk
dalam kriteria «baik» yang ditunjukkan oleh jumlah skor sebesar 3.430 berada pada interval
«2.951,3 – 3.645,6». Dengan pernyataan yang memiliki skor tertinggi sebsar 263 atau sebesar
85%. Walaupun variabel Kelancaran Proses Produksi termasuk dalam kriteria baik masih ada
pernyataan dengan nilai yang rendah. Jika hal ini dibiarkan maka akan mengakibatkan
terganggunya jadwal produksi yang telah direncanakan dan kelancaran proses produksi jadi
terhambat.
Gambar 3 Kelas Interval Kelancaran Proses Produksi
Pengaruh Implementasi Sistem Informasi Akuntansi Produksi (X1) dan Pengendalian Produksi (X2)
terhadap Kelancaran Proses Produksi (Y) Sebagai Berikut:
Tabel 2 Hasil Perhitungan Regresi Linier Berganda
Dari output di atas dapat diketahui nilai konstanta dan koefisien regresi sehingga dapat dibentuk
persamaan regresi linier berganda sebagai berikut:
Y = 28,719+0,191X1 + 0,260X2
Persamaan di atas dapat diartikan sebagai berikut:
Koefisien konstanta β0 bernilai positif artinya pada saat variabel Sistem Informasi Akuntansi Produksi
(X1) dan Pengendalian Produksi (X2) bernilai konstan atau bernilai nol, maka variabel Kelancaran Proses
Produksi (Y) akan memiliki nilai sebesar 28,719 satuan.
Koefisien regresi β1 bernilai positif artinya pada saat variabel Sistem Informasi Akuntansi Produksi (X1)
meningkat sebesar satu satuan dan variabel lainnya konstan atau bernilai nol, maka variabel Kelancaran
Proses Produksi (Y) akan meningkat sebesar 0,191. Sebaliknya jika penurunan variabel Sistem Informasi
Akuntansi Produksi (X1) sebesar satu satuan akan menurunkan Kelancaran Proses Produksi (Y) sebesar
0,191.
Koefisien regresi β2 bernilai positif artinya pada saat Pengendalian Produksi (X2) meningkat sebesar satu
satuan dan variabel lainnya konstan atau bernilai nol, maka variabel Kelancaran Proses Produksi (Y) akan
meningkat sebesar 0,260. Sebaliknya jika penurunan variabel Pengendalian Produksi (X2) sebesar satu
satuan akan menurunkan Kelancaran Proses Produksi (Y) sebesar 0,260.
Analisis Koefisien Korelasi
Perhitungan koefisien korelasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan korelasi
Product Moment. Hasil perhitungan untuk koefisien korelasi adalah sebagai berikut:
Tabel 3 Hasil Perhitungan Koefisien Korelasi
Berdasarkan hasil perhitungan di atas, dapat diketahui bahwa besar korelasi antara Sistem Informasi
Akuntansi Produksi (X1) terhadap Kelancaran Proses Produksi (Y) adalah sebesar 0,419. Hal tersebut
menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif yang sedang antara Sistem Informasi Akuntansi Produksi
terhadap Kelancaran Proses Produksi. Selain itu, besaran korelasi antara Pengendalian Produksi (X2)
terhadap Kelancaran Proses Produksi (Y) adalah sebesar 0,398. Hal tersebut menunjukkan bahwa
terdapat korelasi positif yang rendah antara Pengendalian Produksi terhadap Kelancaran Proses
Produksi.
Analisis Koefisien Determinasi
Berdasarkan hasil perhitungan koefisien korelasi di atas, maka dapat diketahui nilai koefisien
determinasi sebagai berikut:
Tabel 4 Hasil Perhitungan Koefisien Determinasi
KD = R2 X 100%
= (0,498)2 X 100%
= 24,8%
Dengan demikian, maka diperoleh nilai koefisien determinasi sebesar24,8% yang menunjukkan arti
bahwa variabel Sistem Informasi Akuntansi Produksi (X1) dan Pengendalian Produksi (X2) memberikan
hubungan simultan (bersama-sama) sebesar24,8% terhadap Kelancaran Proses Produksi (Y). Sedangkan
sisanya 75,2% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti oleh penulis, seperti perencanaan dan
pengendalian persediaan bahan baku serta pengendalian mutu pemeliharaan mesin.
KESIMPULAN
1. Penerapan Sistem Informasi Akuntansi Produksi yang ada di PT. ABC menunjukan hasil yang baik. Hal
tersebut didapatkan dari hasil perolehan skor atas variabel Sistem Informasi Akuntansi Produksi
menunjukan presentase sebesar 3.670 atau 93,95% yang berada pada rentang antara 3.162 – 3.906.
Dengan pernyataan yang memiliki skor tertinggi sebesar 271 atau sebesar 87% dalam pernyataan no. 12.
Walaupun variabel Sistem Informasi Akuntansi Produksi termasuk dalam kriteria baik masih ada
pertanyaan dengan nilai rendah. Pertanyaan no.7 memiliki skor terendah dibanding pernyataan lainnya.
Pada pernyataan no.7, 7 responden Tidak Setuju dengan pernyataan “Penetapan standar biaya produksi
dilakukan oleh bagian akuntansi” dengan perolehan skor 211 dari nilai maksimum 310 atau sebesar 68%.
Hal ini menunjukan bahwa penetapan standar biaya produksi tidak murni dilakukan oleh bagian
akuntansi. Mungkin menurut responden penetapan standar biaya bisa dilakukan diluar bagian akuntansi
akan tetapi jika hal ini dibiarkan maka akan mengakibatkan penyimpangan biaya standar.
Penerapan Sistem Informasi Akuntansi Produksi yang ada di PT. ABC menunjukan hasil yang
baik. Dengan pernyataan yang memiliki skor tertinggi sebesar 271 atau sebesar 87% dalam
pernyataan no. 12. Pertanyaan no.7 memiliki skor terendah dibanding pernyataan lainnya. Pada
pernyataan no.7, 7 responden Tidak Setuju dengan pernyataan «Penetapan standar biaya produksi
dilakukan oleh bagian akuntansi» dengan perolehan skor 211 dari nilai maksimum 310 atau sebesar
68%.
2. Penerapan Pengendalian Produksi yang dilakukan PT. ABC menunjukan hasil yang baik. Hal tersebut
didapatkan dari hasil perolehan skor atas variabel Pengendalian Produksi menunjukan presentase
sebesar 3.659 atau 93,67% yang berada pada rentang antara 3.162 – 3.906. Dengan pernyataan yang
memiliki skor tertinggi sebesar 252 atau sebesar 81%. Walaupun variabel Pengendalian Produksi
termasuk dalam kriteria baik masih ada pernyataan dengan nilai rendah. Pernyataan no.1 memiliki skor
terendah dibanding pernyataan lain, ada 2 responden yang Tidak Setuju pada pernyataan “Perusahaan
memiliki jadwal produksi secara tertulis, akurat, dan terperinci” dengan perolehan skor 231 dari nilai
maksimum 310 atau 75%. Hal ini berarti bahwa perusahaan tidak melakukan jadwal produksi secara
tertulis. Jika hal ini dibiarkan maka akan mengakibatkan produksi tidak sesuai dengan permintaan
pemesan, bahan baku tidak tersedia, tidak optimalnya utilisasi kapasitas, keterlambatan waktu
penyerahan barang, beban produksi tidak merata dan kualitas produksi menurun.
Penerapan Pengendalian Produksi yang dilakukan PT. ABC menunjukan hasil yang baik. Dengan
pernyataan yang memiliki skor tertinggi sebesar 252 atau sebesar 81%. Walaupun variabel
Pengendalian Produksi termasuk dalam kriteria baik masih ada pernyataan dengan nilai rendah. Hal
ini berarti bahwa perusahaan tidak melakukan jadwal produksi secara tertulis.
3. Kelancaran Proses Produksi yang dilakukan PT. ABC menunjukan hasil yang baik. Hal tersebut
didapatkan dari hasil perolehan skor atas variabel Kelancaran Proses Produksi menunjukan presentase
sebesar 3.430 atau 94,08% yang berada pada rentang antara 2.951,3 – 3.645,6. Dengan pernyataan yang
memiliki skor tertinggi sebsar 263 atau sebesar 85%. Walaupun variabel Kelancaran Proses Produksi
termasuk dalam kriteria baik masih ada pernyataan dengan nilai yang rendah. Pernyataan no.5 memiliki
skor terendah dibanding pernyataan lain, ada 27 responden Ragu- ragu pada pernyataan “Bahan baku
selalu tersedia apabila dibutuhkan” dengan perolehan skor sebesar 222 dari 310 atau 72%. Hal ini
berarti bahwa bahan baku tidak selalu tersedia apabila dibutuhkan. Jika hal ini dibiarkan maka akan
mengakibatkan terganggunya jadwal produksi yang telah direncanakan dan kelancaran proses produksi
jadi terhambat.
Kelancaran Proses Produksi yang dilakukan PT. ABC menunjukan hasil yang baik. Dengan
pernyataan yang memiliki skor tertinggi sebsar 263 atau sebesar 85%. Walaupun variabel
Kelancaran Proses Produksi termasuk dalam kriteria baik masih ada pernyataan dengan nilai yang
rendah. Hal ini berarti bahwa bahan baku tidak selalu tersedia apabila dibutuhkan.
4. Pengaruh Sistem Informasi Akuntansi Produksi berdasarkan hasil penelitian pada uji t, mempunyai
pengaruh terhadap Kelancaran Proses Produksi pada PT. ABC. Penilaian tersebut didapatkan dari t hitung
sebesar 2,649 lebih besar dari ttabel sebesar 2,000 dengan koefisien sebesar 0,191.
5. Pengaruh Pengendalian Produksi berdasarkan hasil penelitian pada uji t, mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap Kelancaran Proses Produksi pada PT. ABC. Penilaian tersebut didapatkan dari t
hitung sebesar 2,379 lebih besar dari t tabel sebesar 2,000 dengan koefisien sebesar 0,260. 6. Pengaruh
Sistem Informasi Akuntansi Produksi dan Pengendalian Produksi berdasarkan hasil penelitian pada uji F,
secara bersama-sama berpengaruh terhadap Kelancaran Proses Produksi. Penilaian tersebut didapatkan
dari Fhitung sebesar 9,709 lebih besar dari F tabel sebesar 3,15 sehingga disimpulkan H0 ditolak karena sesuai
dengan ekspektasi penelitian.
Penilaian tersebut didapatkan dari thitung sebesar 2,379 lebih besar dari ttabel sebesar 2,000 dengan
koefisien sebesar 0,260. Penilaian tersebut didapatkan dari Fhitung sebesar 9,709 lebih besar dari
Ftabel sebesar 3,15 sehingga disimpulkan H0 ditolak karena sesuai dengan ekspektasi penelitian.