(S9)-Seperti yang kita ketahui bahwa terminal yang ada di Indonesia di bagi
dalam tiga (3) tipe terminal, yaitu terminal tipe A, terminal tipe B dan terminal
tipe C yang telah dipisahkan kewenangannya menjadi milik Pemerintah Pusat,
Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Daerah. Pembagian ini dilakukan
berdasarkan UU no 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, yang hanya
membagi berdasarkan kewenangan pengelolaan terminal.
Penentuan tipe dan kelas terminal dilakukan berdasarkan fungsi pelayanan,
fasilitas pelayanan dan kewennagan. Berdasarkan fungsi pelayanannya, terminal
penumpang diklasifikasikan kedalam tiga tipe terminal (PP RI No.43 tahun 1993)
yaitu:
1. Terminal penumpang Tipe A, yaitu yang berfungsi melayani kendaraan penumpang
umum untuk angkutan antar kota antar propinsi (AKAP), dan angkutan lintas batas antar
negara, angkutan antar kota dalam propinasi (AKDP), angkutan kota (AK) serta
angkutan pedesaan (ADES).
2. Terminal penumpang Tipe B, yaitu yang berfungsi melayani kendaraan penumpang
umum untuk angkutan antar kota dalam propinasi (AKDP), angkutan kota (AK) serta
angkutan pedesaan (ADES).
3. Terminal penumpang Tipe C, yaitu yang berfungsi melayani kendaraan penumpang
umum untuk angkutan pedesaan (ADES).
Klasifikasi terminal tersebut akan mendasari pertimbangan bagi keperluan
perencanaan berbagai fasilitas penunjang dari masing-masing tipe
terminal. Tipe yang berbeda akan menuntut jumlah dan dimensi fasilitas
pendukung yang berbeda pula.
Demikian juga halnya dengan lokasi terminal, di masing-masing tipe mempunyai
kriteria tersendiri dalam penentuan lokasi yang sesuai dengan tipe pelayanan
yang diembannya.
Selain dibedakan berdasarkan tipe terminal, terminal juga dibedakan
berdasarkan kelas terminal yaitu terminal kelas 1, kelas 2 dan kelas 3 ( PM 132
tahun 2015 . Pembagian kelas terminal ditetapkan melalui kajian teknis
terhadap intensitas kendaraan yang didasari pada tingkat permintaan angkutan,
keterpaduan pelayanan angkutan, jumlah trayek, jenis pelayanan angkutan,
fasilitas utama dan penunjang terminal serta simpul asal dan tujuan angkutan.
Dalam penetapan tipe terminal terdapat pembagian kewenangan dalam proses
penetapan. Kewenangan tersebut meliputi,
1. Menteri dengan memperhatikan masukan Gubernur, untuk terminal penumpang tipe A,
2. Gubernur dengan memperhatikan masukan Bupati/ Walikota, untuk terminal
penumpang tipe B,
3. Bupati/Walikota dengan memperhatikan usulan/masukan dari SKPD yang bertanggung
jawab di bidang sarana dan prasarana lalu lintas dan angkutan jalan untuk terminal tipe
C, dan
4. Gubernur DKI Jakarta dengan memperhatikan usulan/ masukan dari SKPD yang
bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana lalu lintas dan angkutan jalan untuk
terminal tibe B dan C di Provinsi DKI Jakarta.
Sedangkan apabila terdapat perubahan penetapan Terminal Penumpang,
dilakukan beberapa prosedur perubahan yang meliputi,
1. Perubahan dilakukan berdasarkan evaluasi setiap 5 (lima) tahun sekali,
2. Perubahan dilakukan berdasarkan perubahan jaringan jalan dan perkembangan wilayah,
3. Evaluasi dilakukan oleh,
Direktur Jenderal, untuk terminal penumpang tipe A;
Gubernur, untuk terminal penumpang tipe B;
Bupati/Walikota untuk terminal tipe C; atau
Gubernur DKI Jakarta, untuk terminal tipe B dan C di Provinsi DKI Jakarta.
Sumber : [Link]
dan-tipe-c/