0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan4 halaman

Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja Konstruksi

Dokumen tersebut membahas rencana peningkatan produktivitas tenaga kerja konstruksi di Indonesia melalui capacity building yang difokuskan pada tingkat perusahaan dan proyek. Langkah utamanya adalah merestrukturisasi kerangka kerja ketenagakerjaan sektor konstruksi dengan menata ulang kualifikasi dan klasifikasi tenaga kerja serta standar kompetensi.

Diunggah oleh

rizky aditya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan4 halaman

Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja Konstruksi

Dokumen tersebut membahas rencana peningkatan produktivitas tenaga kerja konstruksi di Indonesia melalui capacity building yang difokuskan pada tingkat perusahaan dan proyek. Langkah utamanya adalah merestrukturisasi kerangka kerja ketenagakerjaan sektor konstruksi dengan menata ulang kualifikasi dan klasifikasi tenaga kerja serta standar kompetensi.

Diunggah oleh

rizky aditya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS MANAJEMEN TENAGA KERJA KONSTRUKSI

KONSEP PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA


KONSTRUKSI

Rachmad Akbar Makalalag 14511097

Abdul Hamid Mahdy 14511105

Tri Damayanti 14511111

Rizky Aditya Maulana 14511121

Prambudi Setiawan 14511124

PROGAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

YOGYAKARTA

2017
Sesuai dengan semua permasalahan yang telah diuraikan, langkah yang akan dilakukan
sebagai upaya peningkatan kinerja tenaga kerja konstruksi nasional adalah melalui Capacity
Building yang akan difokuskan khusus untuk level mikro, dari lingkup perusahaan, proyek dan
group level seperti ditunjukkan dalam gambar

Secara garis besar rencana perbaikan yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Mengkaji kembali semua kepranataan dalam pengaturan tenaga kerja, khususnya dalam sektor
konstruksi

2. Melihat hubungan dari peraturan yang ada dengan tingkat kinerja tenaga kerja, baik secara
makro maupun produktifitas individu.

3. Mencari struktur sistem kepranataan dalam penataan tenaga kerja konstruksi, mulai dari up
stream input pendidikan dan pelatihan baik formal maupun informal serta down stream input
dari industrinya, khususnya yang terkait dengan output produktifitas yang dikaitkan dengan
standarisasi kompetensi, akreditasi, sertifikasi dan registrasi tenaga kerja konstruksi.

4. Melakukan pembuktian keunggulan komparatif dari solusi yang diajukan dibanding dengan
kondisi yang ada, dengan cara aplikasi nyata dan mengadakan pengukuran kinerja baik dari
sisi perusahaan, proyek tertentu maupun kemampuan individu tenaga kerjanya.
Jika dilihat dari output fisik hasil karya yang telah berwujud seperti pembangunan infra struktur,
gedung-gedung di perkotaan dan pembangunan lingkungan binaan lainnya, sesungguhnya cukup
baik hasilnya. Akan tetapi jika kita bandingkan kinerja tenaga kerja kita pada umumnya dengan
tenaga

Jika dilihat dari output fisik hasil karya yang telah berwujud seperti pembangunan infra
struktur,
gedung-gedung di perkotaan dan pembangunan lingkungan binaan lainnya, sesungguhnya cukup
baik
hasilnya. Akan tetapi jika kita bandingkan kinerja tenaga kerja kita pada umumnya dengan
tenaga kerja dari negara lain, kita merasakan adanya ketertinggalan. Kita tidak mempunyai
gambaran tentang pasar tenaga kerja yang terbentuk dari pasar usaha jasa konstruksi, tidak
terukurnya kompetensi kerja dan produktifitasnya. Kondisi yang ada sekarang dapat
digambarkan dalam Gambar 3. Konsep perbaikan kinerja yang akan dilakukan adalah dengan
melakukan restrukturisasi kerangka kerja dari ketenagakerjaan sektor konstruksi seperti yang
diperlihatkan dalam Gambar 4. Skenario perbaikan dari level mikro dilakukan dengan cara
menata kembali kualifikasi dan klasifikasi tenaga kerja jasa konstruksi, yang meliputi
perencanaan alokasi tenaga kerja dalam suatu proyek atau pekerjaan, bakuan kompetensi,
produktifitas dan kontribusinya dalam struktur pembiayaan.

Metode perubahan ini dengan mengkaji semua parameter pokok yang mempengaruhi penentu
kinerja
tenaga kerja konstruksi yang meliputi :
1. Input down-stream tenaga kerja konstruksi dari industrinya seperti standar kompetensi,
sistem asesmen, dan sertifikasi.
2. Struktur organisasi perusahaan dan struktur organisasi penanganan proyek.
3. Alokasi tenaga kerja dalam perusahaan.
4. Aspek pembiayaan dan keuangan.
Skenario ini akan mengarah kepada perbaikan sistem pendidikan dan pelatihannya. Skenario ini
ditunjukkan dalam Gambar 5
Restrukturisasi berdasarkan Classification & Qualification Framework yang akan dilakukan
adalah :
1. Melakukan inventarisasi seluruh jabatan kerja dalam sektor ketenaga kerjaan konstruksi, yang
meliputi :
a. Inventarisasi jabatan kerja berdasarkan keilmuan atau kefungsian tertentu dan sistem
klasifikasi dan kualifikasinya.
b. Peninjauan atas standar kompetensi kerja berdasarkan klasifikasi dan kualifikasi yang
ada dan terkait kepada sistem sertifikasi tenaga kerja konstruksi untuk tenaga ahli dan
tenaga terampil.
c. Melakukan perbandingan sistem yang berlaku di negara lain, khususnya negara-negara
di region ASEAN.
d. Melakukan analisis jabatan kerja dan bakuan kompetensinya.
2. Melakukan studi tentang kinerja tenaga kerja konstruksi, yang meliputi :
a. Penelitian tentang karakteristik tenaga kerja jasa konstruksi.
b. Merencanakan metode pengukuran kinerja.
c. Survey tentang elemen yang mempengaruhi produktifitas pekerja.
d. Melakukan analisis dan re-validasi data survey pekerjaan yang dipilih sebagai sampel.
e. Melakukan kajian tentang perbaikan kinerja pekerja konstruksi di Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai