PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
RHINITIS ALERGI
RHINITIS ALERGI
ICD 10 – CM : J 30
DISAHKAN OLEH
Direktur RS Primaya Makassar
No Dokumen : Revisi Tanggal Terbit
Dr. Merry Monica, MARS
1. Pengertian (Definisi) Rinitis alergi adalah penyakit simtomatis pada
hidung yang terinduksi oleh proses inflamasi yang diper
antara IgE pada mukosa hidung setelah pajanan
alergen. Karakteristik gejala rinitis alergi adalah
bersin berulang, hidung tersumbat, hidung berair
dan hidung gatal. Rinitis alergi merupakan penyakit
inflamasi kronis saluran napas atas yang sangat
sering dijumpai, dilaporkan
prevalensi mencapai 40% dari populasi umum. Gejala‐
gejala rinitis alergi memberikan dampak buruk
terhadap kualitas hidup penderita, baik berupa
gangguan aktivitas seharihari
ditempat kerja, belajar maupun gangguan tidur.
2. Anamnesis •Gejala hidung : hidung berair, hidung tersumbat,
hidung
gatal dan bersin berulang. Gejala pada umumnya muncu
l di pagi hari atau malam hari
• Gejala mata seperti mata merah, gatal dan berair.
•Gejala lain : batuk, tenggorok gatal, gangguan konsentr
asi, dan gangguan tidur. Penderita yang disertai asma da
pat ditemukan keluhan sesak napas dan mengi
3. Pemeriksaan Fisik •Pada anak sering ditemukan tanda khas : bayangan
gelap di daerah bawah mata (allergic shiner), sering
menggosok gosok hidung dengan punggung tangan
(allergic salute), dan gambaran garis melintang di
bagian dorsum hidung (allergic crease)
•Gambaran khas pada rongga hidung : mukosa
hidung
edema, berwarna pucat atau livid, disertai sekret encer b
anyak. Dapat ditemukan juga konka inferior yang hipertr
ofi
4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai dengan kriteria anamnesis
2. Sesuai dengan kriteria pemeriksaan fisik
3. Sesuai dengan kriteria pemeriksaan penunjang
5. Diagnosis Kerja • Allergic rhinitis due to pollen (ICD10: J30.1)
• Other seasonal allergic rhinitis (ICD10: J30.2)
• Allergic rhinitis due to food (ICD10: J30.5)
•Allergic rhinitis due to animal (cat/dog) hair and
dander (ICD10: J30.81)
• Other allergic rhinitis (ICD10: J30.89)
• Allergic rhinitis, unspecified (ICD10: J30.9)
6. Diagnosis Banding Rinitis non alergi :
• Rinitis vasomotor/idopatik (ICD10: J30.0)
•Rinitis hormonal, rinitis pada usia lanjut, rinitis
yang diinduksi obat, rinitis akibat kerja, dan
nonallergic rhinitis eosinophilic syndrome/NARES
yang berdasarkan ICD 10 semua rinitis
ini diklasifikasikan ke dalam kelompok Chronic
rhinitis, nasopharyngitis and pharyngitis (ICD 10: J31.0)
7. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan laboratorium
• Pemeriksaan kadar IgE spesifik dengan cara
ELISA
(enzyme linked immuno sorbent assay test) atau
RAST (radio immuno sorbent test) sangat bermakna
untuk
diagnosis, namun harus berkorelasi dengan gejala klinis
• Pemeriksaan jumlah eosinofil sekret hidung hanya
sebagai pelengkap
2. Pemeriksaan nasoendoskopi (ICD 9CM: 22.19)
• Dilakukan untuk evaluasi keterlibatan kompleks
osteomeatal dalam menilai adanya rinosinusitis, polip
hidung atau septum deviasi sebagai ko‐morbid.
3. Tes kulit alergi
•Dengan menggunakan ekstrak alergen dan alat
yang terstandarisasi, tes cukit/tusuk kulit merupakan
baku
emas diagnosis rinitis alergi di klinik dan skrining.
• Apabila menggunakan ekstrak alergen yang tidak
terstandarisasi, dapat diteruskan dengan tes
intradermal bila tes cukit/tusuk kulit negatif.
8. Terapi Tatalaksana rinitis alergi merupakan kombinasi dari 4 m
odalitas :
1. Farmakoterapi
Obat diberikan berdasarkan dari klasifikasi diagnosis
rinitis alergi (sesuai algoritma WHOARIA 2008).
Obat diberikan selama
2-4 minggu, kemudian dievaluasi ulang ada/tidak
adanya respons. Bila terdapat perbaikan, obat diteruskan
lagi 1 bulan. Obat yang direkomendasikan sbb:
•Antihistamin oral generasi kedua atau terbaru.
Pada
kondisi tertentu dapat diberikan antihistamin yang
dikombinasi dekongestan, antikolinergik intranasal
ataukortikosteroid sistemik.
• Kortikosteroid intranasal
2. Penghindaran alergen dan kontrol lingkungan
Bersamaan dengan pemberian obat, pasien diedukasi
untuk menghindari atau mengurangi jumlah alergen
pemicu di lingkungan sekitar. Membuat kondisi
lingkungan senyaman mungkin dengan menghindari
stimulus non spesifik
(asap rokok, udara dingin dan kering)
3. Imunoterapi
Apabila tidak terdapat perbaikan setelah
farmakoterapi optimal dan penghindaran alergen
yang optimal, maka dipertimbangkan untuk
pemberian
imunoterapi secara subkutan atau sublingual (dengan
berbagai pertimbangan khusus). Imunoterapi ini
diberikan selama 3-5 tahun
untuk mempertahankan efektifitas terapi jangka panjang.
4. Edukasi
Kombinasi modalitas di atas hanya dapat terlaksana
dengan baik apabila dilakukan edukasi yang baik
dan cermat kepada pasien ataupun keluarga.
Menerangkan juga kemungkinan adanya komorbid
dan tindakan bedah pada kasus
yang memerlukan (hipertrofi konka, septum deviasi atau
rinosinusitis kronis).
9. Edukasi (Hospital Health Promotion) Menjelaskan diagnosis, pencegahan dan rencana terapi
10. Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam
11. Tingkat Evidens
12. Tingkat Rekomendasi
13. Penelaah Kritis SMF THT
14. Indikator Medis
15. Kepustakaan 1. International Classification of Diseases 10
Revision (ICD 10). World Health Organization th
2. International Classification of Diseases 9
Revision
Clinical Modification (ICD 9CM). World Health Or
ganization th
3. PPK-CP PERHATI-KL Vol.2 , 2015.