LAPORAN SEMENTARA
PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN FARMASI CAIR DAN SEMI
PADAT
“FORMULASI EMULSI”
Dosen Pengampu
Apt. Ranita Rahmaniar, [Link], [Link].
Apt. Annisa Aulia, [Link], [Link]
Disusun oleh :
Kelompok 3
1. Firly Febri Trinanda 4313421011
2. Romadhlona Novadianto Kusuma Raharja 4313421013
3. Virna Tristania Koencoro 4313421014
4. Nisa Ika Riyanti 4313421015
5. Defaina Septa Dewi Saputri 4313421016
6. Fila Syifa 4313421017
7. Fernanda Sasmita 4313421018
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2022
FORMULASI EMULSI
A. TUJUAN
1. Menentukan formula yang baik dalam pembuatan sediaan emulsi oral
Oleum Sesami 30%.
2. Menentukan kelayakan sediaan emulsi yang dibuat melalui hasil evaluasi
yang diperoleh.
B. TINJAUAN PUSTAKA
Emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam
cairan lain dalam bentuk tetesan kecil (Farmakope Indonesia, Edisi IV, 1995).
Emulsi merupakan sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat,
terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau
surfaktan yang cocok (Anief,1997).
Emulgator atau surfaktan merupakan bahan penstabil yang dapat mencegah
koalensi, koalesensi yaitu penyatuan tetesan kecil menjadi tetesan besar dan
akhirnya menjadi satu fase tunggal yang memisah. Emulgator atau Surfaktan
menstabilkan emulsi dengan cara menempati antar-permukaan tetesan dan fase
eksternal, dan dengan membuat batas fisik di sekeliling partikel yang akan
berkoalesensi. Surfaktan juga mengurangi proses emulsifikasi selama pencampuran
(Murtini, 2016).
Komponen emulsi dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu :
a. Komponen dasar, yaitu bahan pembentuk emulsi yang harus ada di dalam emulsi
1. Fase dispers/ fase terdispesi/ fase internal/ fase dalam/ fase diskontinu, yaitu
zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil di dalam zat cair lain.
2. Fase pendispersi/ fase eksternal/ fase luar/ fase kontinu, yaitu zat cair dalam
emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) emulsi
3. Emulgator/Surfaktan, yaitu bagian dari emulsi yang berfungsi untuk
menstabilkan emulsi.
b. Komponen tambahan, yaitu bahan tambahan yang digunakan untuk memperoleh
hasil yang lebih baik. Misalnya Corrigen Saporis, Odoris, Coloris, Pengawet dan
antioksidan (Murtini, 2016).
Berdasarkan fasa terdispersinya emulsi terbagi menjadi :
a. Emulsi minyak dalam air (M/A atau O/W) merupakan emulsi yang fasa minyak
terdispersi dalam fasa air. Minyak sebagai fase internal sedangkan air sebagai fase
eksternal.
b. Emulsi air dalam minyak (A/M atau W/O) merupakan fasa air terdispersi dalam
fasa minyak. Air sebagai fase internal sedangkan fase minyak sebagai fase
eksternal (Desnita,2017).
C. FORMULA
Volume sediaan dalam satu kemasan : 80 mL dalam botol 100 mL
Volume bulk sediaan yang dibuat : 100 mL
R/ Oleum sesami 30%
Gom akasia 10%
BHT 0,02%
Natrium benzoat 0,2%
Sirupus simpleks 30%
Essence jeruk q.s.
Aquadest ad 100%
D. PENYELESAIAN MASALAH
Nama Zat Aktif Oleum sesami
Struktur kimia
Rumus molekul – BM
Sinonim Minyak wijen
Cairan; kuning pucat; bau lemah; rasa tawar; tidak membeku
Pemerian
pada suhu 0°C
Sukar larut dalam etanol (95%) P; mudah larut dalam kloroform
Kelarutan
P, dalam eter P dan dalam eter minyak tanah P
Titik leleh
Kestabilan Minyak wijen lebih stabil daripada kebanyakan minyak tetap
lainnya dan tidak mudah menjadi tengik; ini telah dikaitkan
dengan efek antioksidan dari beberapa konstituen
karakteristiknya. PhEur 2005 memungkinkan penambahan
antioksidan yang cocok untuk minyak wijen
Inkompatibilitas Minyak wijen dapat disabunkan dengan alkali hidroksida.
Kegunaan Zat aktif
Minyak wijen harus disimpan dalam wadah yang terisi penuh,
Penyimpanan
kedap udara, tahan cahaya, pada suhu tidak melebihi 40°C.
Batas penggunaan
Nama Eksipien Gom akasia
Struktur kimia
Rumus molekul – BM
Sinonim Gum arab, gum acacia
Serpihan tipis putih atau kekuningan-putih,sobek spheroidal,
Pemerian butiran, bubuk, atau bubuk semprot-kering. Tidak berbau dan
memiliki rasa hambar.
Larut hampir sempurna dalam 2 bagian bobot air, tetapi sangat
Kelarutan lambat, meninggalkan sisa bagian tanaman dalam jumlah yang
sangat sedikit; praktis tidak larut dalam etanol dan dalam eter.
Titik leleh
Aqueous solution adalah subjek bagi degradasi baktrerial atau
enzimatik namun dapat dicegah dengan pemanasan jangka
pendek untuk menonaktifkan beberapa enzim. Juga dapat
Kestabilan
ditambahkan antimikroba seperti 0,1% w/v asam benzoat, 0,1%
w/v natrium benzoat, atau campuran 0,17% w/v metil paraben
dan 0,03% propil paraben.
Acasia tidak kompatibel dengan beberapa zat seperti amidopirin,
apomorphin, kresol, etanol 90%, garam besi, morfin, fenol,
Inkompatibilitas
fisostigmin, tannin, thymol, dan vanili. Dalam emulsi, acasia
tidak cocok dengan sabun.
Kegunaan Emulgator, suspending agent, basis pil, pengikat tablet
Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik
Batas penggunaan 10–20%
Nama Eksipien BHT
Struktur kimia
C15H24O
Rumus molekul – BM
230,35
Sinonim Agidol, tipanol, vianol, tenox bht
Serbuk kristal atau padat putih atau pucat dengan aroma fenolik
Pemerian
yang samar
Praktis tidak larut dalam air, gliserin, propilen glikol, larutan
alkali hidroksida, dan asam mineral encer. Bebas larut dalam
Kelarutan
aseton, benzen, etanol 95%, eter metanol, toluen, berbagai
minyak dan minyak mineral
Titik leleh 70°C
Kestabilan
Dengan agen pengoksidasi kuat seperti peroksida dan
permanganat dapat menyebabkan pembakaran spontan. Garam
ferri dapat menyebabkan perubahan warna dan hilangnya
Inkompatibilitas
aktivitas. Pemanasan dengan katalitik asam menyebabkan
dekomposisi cepat dengan pelepasan gas isobutena yang mudah
terbakar.
Kegunaan Antioksidan
Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik
Batas penggunaan BHT digunakan sebagai antioksidan dengan kadar 0,0075-0,1%
Nama Eksipien Natrium Benzoat
Struktur kimia
Rumus molekul – BM C7H5NaO2 BM = 144,11
Sinonim Sodium Benzoate
Granul atau serbuk hablur, putih; tidak berbau atau praktis tidak
Pemerian
berbau; stabil di udara
Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol dan lebih
Kelarutan
mudah larut dalam etanol 90%
Titik leleh
Kestabilan Stabil pada tempat sejuk dan kering.
Incom dengan komponen Quarter, gelatin, garam feri, garam
kalsium dan garam dari heavy metalis termasuk silver, leat
Inkompatibilitas
danmenty. Aktivitas pengawet dapat berkurang dengan adanya
interaksi dengan kaolin atau surfaktan nonionik.
Kegunaan Pengawet
Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik
Obat-obatan oral 0,02-0,5%, produk parenteral 0,5%, dan dalam
Batas penggunaan
kosmetik 0,1-0,5%
Nama Eksipien Sirupus simpleks
Struktur kimia
Rumus molekul – BM C12H22O11
Sukrosa C gula bit, gula tebu, D-4 glukopiranosil, E-4
Sinonim
fruktofuranosida, gula halus, sakarosa, gula
Pemerian Cairan Jernih, tidak berwarna
Larut dalam air, mudah larut dalam air mendidih, sukar larut
Kelarutan
dalam eter
Titik leleh 160 – 1860C
Kestabilan Stabil pada suhu ruang, terkaramelisasi pada suhu 160oC
Bubuk sukrosa dapat terkontaminasi dengan adanya logam berat
yang akan berpengaruh terhadap zat aktif seperti asam askorbat.
Sukrosa dapat terkontaminasi sulfit dari hasil penyulingan.
Inkompatibilitas
Dengan sulfit yang tinggi, dapat terjadi perubahan warna pada
tablet yang bersalut gula. Selain itu, sukrosa dapat bereaksi
dengan tutup aluminium
Kegunaan Pemanis
Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat di tempat sejuk
Sirup untuk formulasi cairan oral 67%
Agen pemanis 67%
Batas penggunaan Pengikat tablet (granulasi kering) 2–20%
Pengikat tablet (granulasi basah) 50–67%
Lapisan tablet (sirup) 50–67%
Nama Eksipien Essence Jeruk
Struktur kimia
Rumus molekul – BM
Sinonim Esensial jeruk, essense orange
Cairan kuning, orange, coklat - orange dengan bau khas dan rasa
Pemerian
yang lembut dan beraroma
Kelarutan Mudah larut dalam alkohol 90%
Titik leleh
Kestabilan Pemanasan dapat menyebabkan senyawa teroksigenasi
Inkompatibilitas
Kegunaan Zat pewarna, pewangi dan perasa
Dalam wadah tertutup dan tempat yang kering serta terhindar
Penyimpanan
dari cahaya matahari
Batas penggunaan
Nama Eksipien Aquadest
Struktur kimia
Rumus molekul – BM H2O BM = 18,02
Sinonim Air suling
Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak mempunyai
Pemerian
rasa
Kelarutan Dapat bercampur dengan pelarut polar lainnya
Titik leleh 00C
Kestabilan Stabil pada semua keadaan fisik (padat, cair, gas)
Air dapat bereaksi dengan obat dan berbagai eksipien yang
rentan akan hidrolisis (terjadi dekomposisi jika terdapat
kelembapan) pada peningkatan temperatur. Air bereaksi cepat
Inkompatibilitas
dengan logam alkali dan bereaksi cepat dengan logam alkali
tanah. Air juga bisa bereaksi dengan garam anhidrat menjadi
bentuk hidrat
Kegunaan Pelarut
Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik
Batas penggunaan
(Farmakope Indonesia, Edisi III, 1979) (Farmakope Indonesia, Edisi IV, 1995)
(Farmakope Indonesia Edisi VI, 2020) (Goskonda, 2009).
E. KESIMPULAN FORMULA
Formulasi suspensi oral paracetamol yang diusulkan adalah:
No Nama Zat Jumlah Fungsi
1 Oleum sesami 24 ml Zat aktif
2 Gom akasia 8 gram Suspending agent
3 BHT 0,016 ml Antioksidan
4 Natrium benzoat 0,16 gram Pengawet
5 Sirupus simpleks 24 ml Pemanis/perasa
6 Essence jeruk q.s Pewarna, pewangi,
perasa
7 Aquadest 23,824 ml Pelarut
F. PENIMBANGAN
1. Volume sediaan dalam satu kemasan : 80 mL dalam botol 100 mL
2. Volume bulk sediaan yang dibuat : 100 mL
No. Bahan Komposisi Jumlah Jumlah sediaan
dalam formula (perbotol) yang dibuat
(bulk)
1. Oleum sesami 30% 24 ml 30 ml
2. Gom akasia 10% 8 gram 10 gram
3. BHT 0,02% 0,016 gram 0,02 gram
4. Natrium benzoat 0,2% 0,16 gram 0,2 gram
5. Sirupus simpleks 30% 24 ml 30 ml
6. Essence jeruk q.s q.s q.s
7. Aquadest ad 100% 23,824 ml 29,78 ml
Perhitungan jumlah kebutuhan air sebagai pelarut
Pengembangan emulgator (1,5 x Jumlah emulgator)
1,5 x jumlah (gram) P.G.A, maka:
1,5 x 10 g = 15 ml
Melarutkan Natrium Benzoat (larut dalam 2 bagian air)
2 x jumlah (gram) natrium benzoat, maka:
2 x 0,2 g = 0,4 ml ≈ 1 ml
G. PROSEDUR PELAKSANAAN TEKNOLOGI SEDIAAN FARMASI
SUSPENSI
a. Alat dan Bahan
Alat :
1. Botol 100 ml
2. Timbangan analitik
3. Beaker glass
4. Batang pengaduk
5. Pipet tetes
6. Kertas perkamen
7. Spatula
8. Mortir dan stamfer
9. Cawan porselin
Bahan :
1. Oleum sesami
2. Gom akasia
3. BHT
4. Natrium benzoat
5. Sirupus simpleks
6. Essence jeruk
7. Aquadest
b. Prosedur Pembuatan Sediaan
● Pembuatan Sirupus Simpleks
sukrosa digerus hingga halus
sukrosa yang sudah dihaluskan ditimbang
sukrosa dilarutkan dalam air mendidih menggunakan beaker glass
diaduk hingga sukrosa terlarut sempurna
● Pembuatan Sediaan
disiapkan alat dan bahan
dikalibrasi botol 80 mL
semua bahan ditimbang
dimasukkan gom akasia sebanyak 10 gram dalam mortir kemudian ditambahkan aquadest panas
sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga homogen
dimasukkan oleum sesami 30 mL sedikit demi sedikit sambil terus diaduk hingga homogen
ditambahkan 0,02 gr BHT sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga homogen
ditambahkan 0,2 gr natrium benzoat lalu diaduk hingga homogen (nat benzoat dilarutkan terbelih
dahulu diwadah yang berbeda)
dimasukkan sirupus simpleks 30 mL sedikit demi sedikit sambil tetap diaduk hingga homogen
ditambahkan essence jeruk secukupnya, dicampur hingga homogen
sediaan dipindahkan dari mortir ke dalam gelas beaker dan ditambahkan aquadesr hingga 100 mL
dilakukan uji evaluasi sediaan
sediaan dimasukkan ke dalam botol hingga 80 mL
ditempel etiket
c. Prosedur Evaluasi Sediaan
1. Uji Organoleptis
diamati bentuk,
diambil sedikit
warna, dan dicatat hasilnya
sediaan emulsi
dicium baunya
2. Uji pH
emulsi ditentukan
disiapkan emulsi di
dengan menggunakan alat dikalibrasi
dalam beaker glass
pH meter
diangkat dan
dibandingkan dicelupkan indikator pH
dicatat hasil
perubahan warnanya meter ke dalam emulsi
dengan pH meter
3. Uji Volume Terpindahkan
dituangkan
emulsi ke dalam dibaca volume
dicatat volume
gelas ukur secara yang tertera pada
yang terlihat
perlahan dan gelas ukur
hati-hati
4. Uji Sedimentasi
dihitung tinggi
dituangkan emulsi ditunggu beberapa
endapan dengan
dalam gelas ukur menit sampai dicatat hasilnya
menggunakan
perlahan terbentuk endapan
penggaris
5. Uji Tipe Emulsi
diamati apakah
homogen berati
dituang emulsi
ditambahkan metilen termasuk tipe emulsi
secukupnya ke dalam
blue o/w, jika tidak
cawan porselen
homogen termasuk
tipe emulsi w/o
H. DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (1979). Farmakope Indonesia, Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Anonim. (1995). Farmakope Indonesia, Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik.
Anonim. (2020). Farmakope Indonesia Edisi VI. Jakarta: Departemen Kesehatan
RI.
Desnita, R. (2017). Modul Ajar FTS Cair dan Semi Padat. Pontianak.
Goskonda, S. R. (2009). Handbook of Pharmaceutical Excipients, Sixth Edition.
London: Pharmaceutical Press and American Pharmacists Assosiation.
Murtini, G. (2016). Farmasetika Dasar. Jakarta: Pusdik SDM Kesehatan.