ANALISIS DATA
CURAH HUJAN
1. Metode Rata-Rata Aljabar
Curah hujan didapatkan dengan mengambil rata-
rata hitung (arithmatic mean) dari penakaran
pada penakar hujan areal tersebut.
Cara ini digunakan apabila :
1. Daerah tersebut berada pada daerah yang datar
2. Penempatan alat ukur tersebar merata
3. Variasi curah hujan sedikit dari harga tengahnya
Methode Arithmatik
Keterangan:
P adalah curah hujan rata-rata
P1, P2, P3…Pn adalah jumlah hujan masing-masing stasiun yang
diamati
n adalah jumlah stasiun pengamatan
CONTOH SOAL:
Jumlah hujan bulanan tahun 2017, pada stasiun P1 =
1000 mm, P2 = 950 mm, P3 = 1050 mm dan pada
stasiun P4 = 1200 mm,
Hitung jumlah hujan bulanan rata-rata daerah aliran
sungai pada tahun 2017
Metode Polygon Thiessen
Cara ini didasarkan atas cara rata-rata timbang, dimana
masingmasing stasiun mempunyai daerah pengaruh
yang dibentuk dengan garis-garis sumbu tegak lurus
terhadap garis penghubung antara dua stasiun, dengan
planimeter maka dapat dihitung luas daerah tiap stasiun
Hal yang perlu diperhatikan dalam metode ini adalah :
1. Jumlah stasiun pengamatan minimal tiga buah stasiun.
2. Penambahan stasiun akan mengubah seluruh jaringan
3. Topografi daerah tidak diperhitungkan.
4. Stasiun hujan tidak tersebar merata
A3
Sehingga perhitungan hujan rata-rata pada suatu
DAS dapat dirumuskan:
Keterangan:
P adalah curah hujan rata-rata
P1, P2, P3….+Pn adalah jumlah hujan masing-masing
stasiun yang diamati
A1, A2, A3…. +An adalah luas sub area yang mewakili
masing-masing stasiun hujan (km²)
SOAL LATIHAN:
Jumlah hujan bulanan tahun 2017, pada stasiun
P1 = 1000 mm, luas Sub Area A1 = 200 km²
P2 = 950 mm, luas Sub Area A2 = 150 km²
P3 = 1050 mm luas Sub Area A3 = 215 km²
P4 = 1200 mm, luas Sub Area A4 = 225 km²
Hitung jumlah hujan bulanan rata-rata daerah aliran
sungai pada tahun 2017
Metode Isohyet
Metode ini digunakan apabila penyebaran stasiun
hujan di daerah tangkapan hujan tidak merata. Dengan
cara ini, kita harus menggambar kontur berdasarkan
tinggi hujan yang sama, seperti gambar
Metode ini ini digunakan dengan ketentuan :
1. Dapat digunakan pada daerah datar maupun
pegunungan
2. Jumlah stasiun pengamatan harus banyak
3. yang Bermanfaat untuk hujan yang sangat singkat
Sehingga perhitungan hujan rata-rata pada suatu DAS
dapat dirumuskan:
Keterangan:
P adalah curah hujan rata-rata (mm)
X1, X2, X3….+Xn adalah jumlah hujan berdasarkan garis kontur
(mm)
A1, A2, A3…. +An adalah luas sub area antara 2 kontur (km²)
PRAKIRAAN DATA
HUJAN HILANG
Pada praktek di lapangan sering dijumpai data hujan
yang tidak lengkap, hal ini disebabkan antara lain:
a. Alat ukur hujan rusak
b. Pengamat stasiun hujan berhalangan
c. Data pencacatan hujan hilang
Rumus untuk mencari data hujan yang hilang antara
lain:
1. Metode perbandingan normal
2. Metode Inversed Square Distance
1. METODE PERBANDINGAN NORMAL
RUMUS
KETERANGAN:
PA = hujan yang diperkirakan pada St. A
NA = jumlah hujan tahunan normal pada St. A
P1, P2…………….Pn = hujan pada saat yang sama dengan hujan
yang diperkirakan pada St. 1, 2……n
N1, N2,………….Nn = jumlah hujan tahunan normal stasiun
yang berdekatan
Diketahui data hujan di stasiun A,B,C,D dan E , seperti
tabel di bawah ini. Pada stasiun C terdapat data hujan
yang hilang pada tahun 2012. dan di stasiun A pada tahun
2013. Hitung data curah hujan yang hilang tersebut
dengan Metode Perbandingan Normal
HUJAN TAHUNAN DI STASIUN (MM)
Tahun A B C D E
2010 1100 1010 900 850 960
2011 1200 1040 800 1210 -
2012 1090 1210 - 1160 1140
2013 - 1120 1000 1020 1050
2014 1250 1260 1300 - 1225
JUMLAH
METODE INVERSED SQUARE DISTANCE
RUMUS :
KETERANGAN:
PX = curah hujan yang diperkirakan pada St. X
PA,PB, ……………Pn = Jumlah hujan pada stasiun mengililingi
stasiun hujan X (mm)
‘a, b, …………..n = jarak dari stasiun X ke masing-masing
stasiun hujan A,B,….n
CONTOH:
Lokasi stasiun hujan C terletak seperti pada gambar, pada
tahun 2017 terdapat data hujan yang hilang. Adapun data
hujan yang tercatat hujan A,B,D dan E adalah PA = 1290
mm, PB =1310 mm, PD = 1260 mm dan PE = 1340. Hitung
data hujan yang hilang pada stasiun C
B
25 km D
c 14 km
30 km
16 km
A E