0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan40 halaman

Pencegahan Demam Berdarah Dengue

Dokumen tersebut membahas tentang demam berdarah dengue, meliputi pengertian, faktor-faktor yang mempengaruhinya, gejala, penyebab, cara penularan, dan pencegahannya. Demam berdarah dengue disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes seperti Aedes aegypti. Pencegahannya meliputi penyuluhan masyarakat dan pemberantasan sarang nyamuk.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan40 halaman

Pencegahan Demam Berdarah Dengue

Dokumen tersebut membahas tentang demam berdarah dengue, meliputi pengertian, faktor-faktor yang mempengaruhinya, gejala, penyebab, cara penularan, dan pencegahannya. Demam berdarah dengue disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes seperti Aedes aegypti. Pencegahannya meliputi penyuluhan masyarakat dan pemberantasan sarang nyamuk.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Demam Berdarah Dengue

1. Pengertian Demam Berdarah Dengue

Demam Berdarah Dengue adalah penyakit menular yang

disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes sp,

tetapi vektor utama ialah nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk Aedes

aegypti betina biasanya akan terinfeksi virus dengue saat menghisap

darah dari penderita yang berada dalam fase demam (viremik) akut

penyakit. Setelah masa inkubasi ekstrinsik selama 8 sampai 10 hari,

kelenjar air liur nyamuk menjadi terinfeksi dan virus disebarkan

ketika nyamuk yang infektif menggigit dan menginjeksikan air liur ke

luka gigitan pada orang lain. Setelah masa inkubasi pada tubuh

manusia selama 3–14 hari (rata-rata 4-6 hari), sering kali terjadi

awitan mendadak penyakit ini, yang ditandai dengan demam, sakit

kepala, mialgia, hilang nafsu makan, dan berbagai tanda serta gejala

nonspesifik lain termasuk mual, muntah, dan ruam kulit. Viraemia

biasanya ada pada saat atau tepat sebelum awitan gejala dan akan

berlangsung selama rata-rata lima hari setelah awitan penyakit. Ini

merupakan masa yang sangat kritis karena pasien berada pada tahap

yang paling infektif untuk nyamuk vektor ini dan akan berkontribusi

12  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

dalam mempertahankan siklus penularan jika pasien tidak

dilindungi dari gigitan nyamuk (WHO, 2004).

Demam berdarah dengue adalah penyakit virus yang tersebar

luas di seluruh dunia terutama di daerah tropis. Penderitanya terutama

adalah anak-anak berusia dibawah 15 tahun, tetapi sekarang banyak

juga orang dewasa terserang penyakit ini. Sumber penularan utama

adalah manusia dan primata, sedang penularannya adalah nyamuk

Aedes (Soedarto, 2009).

Demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue dari

famili Flavividae dan genus Flavivirus. Virus ini mempunyai empat

serotipe yang dikenal dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4.

Keempat serotype ini menimbulkan gejala yang berbeda-beda jika

menyerang manusia. Serotipe yang menyebabkan infeksi paling berat

di Indonesia, yaitu DEN-3 (Satari & Meiliasari, 2004).

Demam berdarah dengue tidak menular melalui kontak

manusia dengan manusia. Virus dengue sebagai penyebab demam

berdarah hanya dapat ditularkan melalui nyamuk. Oleh karena itu,

penyakit ini termasuk dalam kelompok anthropod borne diseases

(Satari & Meiliasari, 2004).

Virus dengue berukuran 35-45 nm. Virus ini dapat terus

tumbuh dan berkembang dalam tubuh manusia dan nyamuk. Nyamuk

betina menyimpan virus tersebut pada telurnya. Nyamuk jantan akan

menyimpan virus pada nyamuk betina saat melakukan kontak seksual

13  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

(Satari & Meiliasari, 2004). Nyamuk tersebut mendapatkan virus

dengue pada waktu menghisap darah penderita DBD atau carier. Jika

nyamuk ini menggigit orang lain, maka virus dengue akan

dipindahkan bersama air liur nyamuk. Dalam waktu kurang dari 7 hari

orang tersebut dapat menderita sakit DBD. Virus dengue

memperbanyak diri dalam tubuh manusia dan akan ada dalam darah

selama 1 minggu (Kesehatan, 1997).

Nyamuk Aedes aegypti menyukai tempat perindukan yang

gelap, terlindung dari sinar matahari, air tenang dan jernih. Tempat

perindukan nyamuk terletak di dalam maupun luar rumah. Tempat

perindukan di dalam rumah yaitu tempat tempat penampungan air

antara lain bak mandi, ember berisi air, tandon air, dan gentong air.

Tempat perindukan di luar rumah antara lain dapat ditemukan di

kaleng bekas, botol bekas, pot bekas, ban bekas, dan bekas bekas

lainnya yang mepunyai cekungan yang berisikan air.

Menurut WHO (1975) dalam gejala penyakit demam berdarah dengue

biasanya diawali dengan:

a. Demam tinggi dengan mendadak dan terus-menerus selama 2-7

hari.

b. Manifestasi pendarahan, termasuk setidak-tidaknya uji tourniquet

positif dan salah satu bentuk lain (petekia, purpura, ekimosis,

epistaksis, pendarahan gusi), hematemis, dan atau melena.

c. Pembesaran hati.

14  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

d. Rejantan yang ditandai oleh nadi lemah, cepat disertai tekanan nadi

menurun (menjadi 20 mmHg atau kurang), tekanan darah menurun

(tekanan sistolik menurun sampai 80 mmHg atau kurang) disertai

kulit yang teraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung,

jari dan kaki, penderita menjadi gelisah, timbul sianosis di sekitar

mulut.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran DBD

Faktor-faktor yang dapat mendukung perkembangan nyamuk Aedes

aegypti menurut Departemen Kesehatan RI (2004), antara lain :

a. Faktor Manusia

Faktor manusia yang berhubungan dengan penularan DBD

antara lain umur, suku, kerentanan, keadaan sosial ekonomi,

kepadatan penduduk dan mobilitas penduduk.

b. Faktor Nyamuk Penular

Faktor yang mempengaruhi peebaran nyamuk Aedes

aegypti antara lain tempat berkembang biak, tempat istirahat,

resistensi, perilaku dan sifat nyamuk.

c. Faktor Lingkungan

Faktor ligkungan yang mempengaruhi, antara lain kualitas

permukiman, jarak antar rumah, pencahayaan, ketinggian tempat,

15  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

curah hujan, iklim, temperatur, kepadatan nyamuk dan

karakteristiknya.

3. Penyebab Demam Berdarah

Menurut (Warsidi, 2009), Penderita demam berdarah

disebabkan oleh virus dengue, yang disebarkan dengan perantaraan

nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Nyamuk ini berkeliaran

di mana mana secara bebas dan gigih untuk mencari mangsanya demi

kelangsungan hidupnya. Biasanya nyamuk Aedes yang menggigit

tubuh manusia adalah nyamuk betina, sedangkan nyamuk jantannya

suka dengan aroma yang manis pada tumbuh-tumbuhan.

Nyamuk Aedes ini menggigit atau menghisap darah secara

berganti-ganti sehingga dalam waktu yang tidak begitu lama banyak

penderita yang terinfeksi virus dengue. Nyamuk aedes berkembang

biak di tempat-tempat yang bersih dan sejuk , seperti di bak mandi,

tempayan, vas bunga yang ada airnya, tempat minuman burung, dan di

barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan.

Penyakit virus berat yang ditularkan oleh nyamuk endemik di

banyak negara di Asia Tenggara dan Selatan, Pasifik dan Amerika

Latin, ditandai dengan meningkatmya permeabilitas pembuluh darah,

hipovolemia, dan gangguan mekanisme penggumpalan darah. Hal ini

terutama menyerang anak-anak tetapi juga menyerang orang dewasa.

16  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

Virus penyebab Demam Dengue adalah flavivirus dan tetdiri

dari 4 serotipe, yaitu serotipe 1, 2, 3, dan 4 serotipe, yaitu serotipe

1,2,3, dan 4 ( Dengue -1,-2,-3,-4). Virus yang sama menyebabkan

Demam Berdarah Dengue (DBD). Semua serotipe dengue dapat

menyebabkan DBD atau DHF/DSS pada urutan menurun menurut

frekuensi penyakit yang ditimbulkan tipe 2, 3, 4,dan 1.

4. Cara Penularan Demam Berdarah Dengue

Penyakit demam berdarah ditularkan melalui gigitan nyamuk

yang infektif, terutama Aedes aegypti. Ini adalah spesies nyamuk yang

menggigit pada siang hari, dengan peningkatan aktivitas menggigit

sekitar dua jam sesudah matahari terbit dan beberapa jam sebelum

matahari tenggelam. Masa penularan penyakit demam berdarah tidak

ditularkan langsung dari orang ke orang. Penderita menjadi infektif

bagi nyamuk pada saat viremia, yaitu sejak beberapa saat sebelum

panas sampai saat masa demam berakhir, biasanya berlangsung

selama 3-5 hari. Nyamuk terjadi infektif 8-12 hari sesudah mengisap

darah penderita viremia dan tetap infektif selama hidupnya. Adapun

masa inkubasinya, dari 3-14 hari dan biasanya 4-7 hari (Warsidi,

2009).

5. Pencegahan Penyakit Demam Berdarah Dengue

Menurut (Misnadiarly, 2009) Pencegahan Penyakit Demam

Berdarah Dengue adalah

17  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

a. Penyuluhan bagi Masyarakat

Seperti diuraikan diatas bahwa sampai sekarang belum

ada obat yang dapat membunuh virus dengue ataupun vaksin

demam berdarah, maka upaya untuk pencegahan demam berdarah

ditujukan pada pemberantasan nyamuk beserta tempat

perindukannya. Oleh karena itu dasar pencegahan demam

berdarah adalah memberikan penyuluhan kesehatan kepada

masyarakat bagaimana cara memberantas nyamuk dewasa dan

sarang nyamuk yang dikenal sebagai pembasmian sarang nyamuk

atau PSN. Demi keberhasilan pencegahan demam berdarah, PSN

harus dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh lapisan

masyarakat, di rumah, di sekolah, di rumah sakit, dan tempat-

tempat umum seperti tempat ibadah, makam, dan lain-lain.

Dengan demikian masyarakat harus dapat mengubah perilaku

hidup sehat, terutama meningkatkan kebersihan lingkungan.

b. Cara Memberantas Jentik

Cara memberantas jentik dilakukan dengan cara 3 M yaitu

menguras, menutup, mengubur. Artinya:

1) Kuras bak mandi seminggu sekali (menguras)

2) Tutup penyimpan air rapat-rapat (menutup)

3) Kubur kaleng, ban bekas, dan lain-lain (mengubur)

Kebiasaan-kebiasaan seperti mengganti dan membersihkan

tempat minum burung setiap hari atau mengganti dan

18  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

membersihkan vas bunga, sering kali dilupakan. Kebersihan

di luar rumah seperti membersihkan tanaman yang

berpelepah dari tampungan air hujan secara teratur atau

menempatkan ikan pada kolam yang sulit dikuras, dapat

mengurangi sarang nyamuk.

4) Pedoman Pengunaan Bubuk Abate (Abatisasi)

Abatisasi harus dilakukan sesuai dengan pedomannya agar

benar-benar mematikan jentik nyamuk Aedes aegypti.

Pedoman tersebut yakni:

a) Satu sendok makan peres (10 gram) untuk 100 liter air

b) Dinding bak mandi jangan disikat setelah ditaburi bubuk

abate

c) Bubuk akan menempel di dinding bak/tempayan/kolam

d) Bubuk abate tetap efektif sampai 3 bulan

c. Cara Memberantas Nyamuk Dewasa

Untuk memberantas nyamuk dewasa, upayakan membersihkan

tempat-tempat yang disukai nyamuk untuk beristirahat, antara

lain:

1) Jangan menggantung baju bekas pakai (nyamuk sangat suka

bau manusia)

2) Pasang kasa nyamuk pada ventilasi dan jendela rumah

3) Lindungi bayi ketika tidur di pagi dan siang hari dengan

kelambu

19  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

4) Semprot obat nyamuk rumah di pagi dan sore hari (jam 8.00

dan 18.00)

5) Perhatikan kebersihan sekolah. Apabila kelas gelap dan

lembab semprot dengan obat nyamuk terlebih dahulu

sebelum pelajaran dimulai.

6) Pengasapan (disebut fogging) hanya dilakukan apabila

dijumpai penderita yang dirawat atau meninggal. Untuk

pengasapan diperlukan laporan dari rumah sakit yang

merawat.

6. Nyamuk Aedes aegypti

a. Nyamuk Aedes aegypti

Taksonomi Nyamuk Aedes aegypti adalah sebagai berikut

(Borror, Triplehorn, & Johnson, 1992):

Kerajaan : Animalia

Filum : Arthropoda

Kelas : Insecta

Ordo : Diptera

Familia : Culicidae

Subfamilia : Culicinae

Genus : Aedes

Spesies : Aedes aegypti

b. Morfologi Nyamuk Aedes Aegypti

20  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

Gambar 1. Morfologi Nyamuk Aedes aegypti

Nyamuk Aedes aegypti betina dewasa memiliki tubuh bewarna

hitam kecoklatan. Ukuran tubuh nyamuk Aedes aegypti betina

antara 3-4 cm, dengan mengabaikan panjang kakinya. Tubuh dan

tungkainya ditutupi sisik dengan garis-garis putih keperakan. Di

bagian punggung (dorsal) tubuhnya tampak dua garis melengkung

vertikal di bagian kiri dan kanan yang menjadi ciri dari nyamuk

Aedes aegypti . Sisik-sisik pada tubuh nyamuk pada umumnya

mudah rontok atau terlepas sehingga menyulitkan identifikasi

pada nyamuk-nyamuk tua. Ukuran dan warna nyamuk jenis ini

kerap berbeda antar populasi, bergantung pada kondisi

lingkungan dan nutrisi yang diperoleh nyamuk selama

berkembang (Ginanjar, 2007).

21  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

c. Siklus Hidup Nyamuk Aedes aegypti

Nyamuk Aedes aegypti mengalami metamorfosis lengkap

/metamorphosis sempurna (holometabola) yaitu dengan bentuk

siklus hidup berupa telur, larva (beberapa instar), pupa, dan

dewasa. Perkembangbiakan dari telur hingga menjadi nyamuk

dewasa kurang lebih memerlukan waktu 7-14 hari (Palgunadi,

2009).

1) Telur

Gambar 2. Telur Nyamuk Aedes aegypti

Telur diletakkan satu persatu pada permukaan yang

basah tepat diatas batas permukaan air. Sebagian besar

nyamuk Aedes aegypti betina meletakkan telurnya di

beberapa sarang selama satu kali siklus gonotropik.

Perkembangan embrio biasanya selesai dalam 48 jam ( 1-2

hari) di lingkungan yang hangat dan lembab. Begitu proses

embrionasi selesai, telur akan menjalani masa pengeringan

yang lama (lebih dari satu tahun). Telur akan menetas pada

saat penampung air penuh, tetapi tidak semua telur akan

22  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

menetas pada waktu yang sama. Kapasitas telur untuk

menjalani masa pengeringan dan akan membantu

mempertahankan kelangsungan spesies ini selama kondisi

iklim buruk.

2) Larva

Gambar 3. Larva Nyamuk Aedes aegypti

Larva atau jentik jentik nyamuk Aedes aegypti berbentuk

panjang seperti cacing, langsing tanpa kaki, aktif bergerak

dengan gerakan naik ke permukaan dan turun ke dasar secara

berulang-ulang, pada saat istirahat posisi vertikal

(membentuk sudut) dengan kepala di bawah dan siphon

(corong udara) menempel pada permuaan air dan dapat

bergerak-gerak. Larva akan menjalani empat tahapan

perkembangan. Lamanya perkembangan larva akan

bergantung pada suhu, ketersediaan makanan, dan kepadatan

larva pada sarang. Pada kondisi optimum, waktu yang

dibutuhkan mulai dari penetasan sampai kemunculan nyamuk

dewasa kana berlangsung sedikitnya selama 7 hari, termasuk

dua hari untuk masa menjadi pupa. Akan tetapi, pada suhu

23  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

rendah, mungkin akan dibutuhkan beberapa minggu untuk

kemunculan nyamuk dewasa.

3) Pupa

Gambar 4. Pupa nyamuk Aedes aegypti

Pupa mempunyai ciri-ciri mempunyai sepasang terompet

udara yang pendek bentuk bengkong seperti tanda tanya pada

bagian kepala membesar. Pada stadium ini sudah mulai

terbentuk alat-alat nyamuk dewasa yaitu sayap, kaki, bagian-

bagian mulut dan kelamin. Pupa Aedes aegypti dalam

perkembangan selanjutnya akan menjadi nyamuk dewasa

dalam 1-5 hari.

d) Nyamuk Dewasa

Gambar 5. Nyamuk Aedes aegypti

24  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

Nyamuk dewasa mempunyai ciri-ciri yaitu abdomen

betina lancip ujungnya dan mempunyai cersi yang lebih

panjang daripada nyamuk lain dan memiliki tubuh bewarna

hitam kecoklatan. Tubuh dan tungkainya ditutupi sisik

dengan garis-garis putih keperakan. Di bagian punggung

(dorsal) tubuhnya tampak dua garis melengkung vertikal di

bagian kiri dan kanan yang menjadi ciri dari nyamuk Aedes

aegypti (Ginanjar, 2007).

7. Pencegahan Perluasan Penyebaran Penyakit Dan Nyamuk Vektor

Upaya mencegah agar nyamuk vekror tidak meluas

penyebarannya merupakan bagian integral dari upaya pencegahan

perluasan PBN. Sejak diketahui bahwa filariasis ditularkan oleh

nyamuk Culex fatigons, malaria ditularkan oleh nyamuk Anopheles,

pada dekade terakhir abad XIX, kemudian penyakit Yellow fever oleh

Aedes aegypti pada abad XX, maka upaya penanggulangan penularan

PBN itu adalah secara terpadu (integrated faktor control)/IVC) atau

kita sebut pengendalian vektor terpadu (PVT). PVT ini meliputi

tindakan tindakan ( Sucipto, 2011).

1) Proteksi diri agar tidak digigit nyamuk

2) Manajemen habitat dan pengurangan sumber nyamuk

3) Penggunaan insektisida kimia, larvasida dan imagosida, dan

insektisida biologis

25  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

4) Penggunaan cara pengendalian hayati , terutama ikan pemakan

larva nyamuk

5) Mengadakan pelatihan dan pendidikan

Dengan demikian kalau IVC dibahas, diperdalam dan

direkomendasikan lagi untuk dilaksanakan secara global oleh WHO

bukan hal yang baru. Sesuai dengan perkembangan IPTEK

definisidari IVC atau pengendalian vektor terpadu (PVT) dari WHO

adalah sebagai berikut: “Pengendalian vektor terpadu (PVT) adalah

pemanfaatan semua teknologi dan teknik manajerial yang sesuai untuk

menekan vektor secara efektif dan efisien’. Semua teknologi itu

berarti cara kimia, cara hayati, dan cara pengelolaan lingkungan.

Kenyataannya memang PNV umumnya tidak berhasil hanya dengan

satu cara, misalnya hanya dengan cara kimia.

8. Proteksi diri

Termasuk upaya mencegah penularan PBN adalah

menyiasati bagaimana agar tidak digigit nyamuk selain juga

lingkungan kita bebas jentik. Untuk keperluan ini memberikan

pandagannya . Penggunaan cara –cara: mekanis, repelen, cara termis

dan elektris, adalah strategi agar nyamuk tidak kontak dengan

manusia. Untuk menyiasati agar nyamuk tidak kontak dengan manusia

adalah penggunaan tumbuh-tumbuhan pengusir nyamuk (reppelent

plants), seperti selisih (Ocimum sp), Geranium ( Geranium

26  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

homeoanum), Zodia ( Evodia suavelens), Mimba (Azadirachta

indica), Suren ( Toona suren) dan sebagainya.

Sudah pasti bila nyamuk vektor tidak kontak dan menggigit

/ menghisap darah manusia tentu tidak terjadi penularn patogen dari

nyamuk infeksiosa ke manusia tentu tidak terjadi penularan patogen

dari nyamuk infeksiosa ke manusia resipien rentan atau sebaliknya,

tidak akan terjadi penularanpatogen dari manusia donor (carrier) ke

nyamuk vektor.

Penggunaan kelambu tidur, baik yang diolesi insektisida

(misal pemethrin) maupun yang tanpa olesan insektisida, secara benar

dan pada waktunya oleh penduduk di daerah endemika malaria adalah

strategi yang dianjurkan untuk mengurangi risiko penularan malaria

dan menekan insedennya. Ini sesuai anjuran WHO telah terbukti,

bahwa pemakaian kelambu bermethrin .

9. Manajemen habitat nyamuk vekto

Dalam upaya PNV khususnya malaria dan DB/DBD ,

strateginya adalah menguasai lebih dahulu identitas taksonomik dan

aspek-asepek bionomik dari nyamuk yang dijadikan target. Termasuk

aspek bionomik itu adalah habitat larva nyamuk. Penemuan habitat

larva nyamuk relatif lebih mudah pendataan aspek-aspek bionomik

lain, misalnta tempat istirahat nyamuk Anopheles dewasa, vektor

malaria, Untuk itu peningkatan pelatihan dan pendidikan petugas-

27  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

petugas lapangan entomologi dalam studi bionomik vektor merupakan

program tetap.

10. Penggunaan insektisida kimia

Seperti hanya penggunaan cara PNV lainnya, penggunaan

insektisida imia / biologis memerlukan indikasi yang tepat dan

berbasis pada hasil studi mikroepideiologis, studi KLB, studi ionomik

vektor, dan studi status kerentanan atau resistensi nyamuk sasaran,

baik stadium larva atau imago. Hasil analisis semua komponen

tersebut akan menjadi bahan pertimbangan atau indikasi yang lebih

tepat untuk aplikasi insektisida yang tersedia atau akan disediakan

dengan perencanaan. Kriteria efektif, efisien, sustainble, accepatble,

affordable (REESA) seharusnya dipenuhi, dan kita mesti beralih pada

paradigma: evidence-based faktor control. Misalnya aplikasi temefos

(abate) dari grup organ ofosfat (OP) yang sudah sejak 1975 di

Yogyakarta, misalnya seharusnya sejak awal aplikasi di deteksi dulu

apakah larva [Link] yang menjadi sasaran di Yogyakarta itu

rentan terhadap temefos.

11. Penggunaan Cara Pengendalian hayati

Pengendalian hayati dalam konteks PNV adalah

penggunaan entomopatogen, parasit dan musuh-musuh alami terhadap

nyamuk sasaran, stadium pradewasa maupun dewasa.

28  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

12. Pelatihan dan Pendidikan

Pelatihan dan pendidikan dalam pelaksanaan PVT sangat penting

untuk keberhasilan PNV dan pemberantasan PBN, khususnya malaria

dan DBD. Pelaksanaan pelatihan dan pendidikan dalam konteks PVT

ini sangat sinkron dan relevan dengan pelaksanaan strategi gerakan

kemabali.

13. Pemberantasan Sarang Nyamuk

Pemberantasan terhadap jentik Aedes aegypti yang dikenal dengan

istilah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN ) , dilakukan dengan cara

: ( Sucipto, 2011)

a. Kimia: Cara memberantas jentik Aedes aegypti dengan

menggunakan insektisida pembasmi jentik (Larvasida) ini dikenal

dengan istilah abatisasi, larvasida, yang biasa digunakan adalah

temepos, Formulasi temepos ini mempunyai efek residu 3 bulan.

b. Biologi misalnya memelihara ikan pemakan jentik (ikan kepala

timah, ikan grupi)

c. Fisika: cara ini dikenal dengan kegiatan 3M (Menguras, menutup,

mengubur) yaitu menguras bak mandi, bak WC, menutup tempat

penampungan air rumah tangga, serta mengubur atau

memusnahkan barang-barang bekas.

PSN merupakan kegiatan memberantas telur, jentik, dan

kepompong nyamuk penular berbagai penyakit seperti Demam

29  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

Berdarah Dengue, Chikungunya, Malaria, Filariasis (kaki gajah) di

tempat-tempat perkembangannya. Gerakan 3M plus adalah tiga cara

plus yang dilakukan pada saat PSN. PSN dilakukan minimal satu

minggu sekali agar rumah bebas dari jentik nyamuk. Rumah bebas

jentik sangat bermanfaat karena populasi nyamuk menjadi terkendali

sehingga penularan penyakit dengan perantara nyamuk dapat dicegah

atau dikurangi (Atikah, 2012).

14. Angka Bebas Jentik

Menurut Permenkes RI nomor 50 tahun 2017 Angka Bebas Jentik

(ABJ) adalah persentase rumah atau bangunan yang bebas jentik,

dihitung dengan cara jumlah rumah yang tidak ditemukan jentik

dibagi dengan jumlah seluruh rumah yang diperiksa dikali 100%.

Yang dimaksud dengan bangunan antara lain perkantoran, pabrik,

rumah susun, dan tempat fasilitas umum yang dihitung berdasarkan

satuan ruang bangunan/ unit pengelolaannya.


ABJ= x 100%

Nyamuk larva Aedes aegypti dan Aedes albopictus bila diukur dengan

parameter ABJ (angka bebas jentik) dengan satuan ukur persentase

rumah/bangunan yang negatif larva nilai baku mutunya ≥95%.

30  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

B. Pemicuan

Menurut (Kemenkes, 2016) dan Millenium Challange Account Indonesia

1. Pengertian Pemicuan

Pemicuan adalah cara untuk mendorong perubahan perilaku

higiene dan sanitasi individu untuk masyarakat atas kesadaran sendiri

dengan menyentuh perasaan, pola pikir, perilaku, dan kebiasaan

individu atau masyarakat, yang dilakukan dengan melakukan

pertemuan dengan masyarakat selama setengah hari dengan difasilitasi

oleh tim pemicu puskesmas dan desa yang terdiri lima orang.

2. Pelaku Pemicuan

Kader terlatih pemicuan PSN dengan didukung oleh bidan

desa, petugas/kader posyandu, dan dipimpin oleh Tim Pemicu

Puskesmas merupakan tim yang akan melakukan pemicuan di

[Link] pemicu terdiri dari 5 orang. Kelima orang ini masing-

masing berperan sebagai lead facilitator (ketua), co-facilitator

(wakil), content recorder (pencatat), process fasilitator (pengatur

proses), dan environment setter (pengendali suasana)

3. Pembentukan Tim Pemicuan

Tim pemicuan PSN dibentuk di forum pertemuan dusun. Tim ini

terdiri dari orang yang akan dilatih pemicuan. Tim pemicu dusun

mengawali pemicuan di dusun agar menjadi dusun yang bebas DBD.

Pada saat pemicuan diharapkan muncul orang-orang yang terpicu di

mana mereka secara spontan menjadi sadar dan bersedia untuk

31  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

mengubah perilaku mereka. Keberhasilan proses pemicuan adalah

munculnya orang-orang yang menyatakan ketersediaannya berubah

dan akan melakukan PSN mandiri, dan berjanji untuk melakukan PSN

secara rutin. Biasanya orang-orang ini adalah pelopor yang disebut

sebagai “champion”, dan orang-orang ini merupakan pemimpin

natural atau pemimpin informal.

4. Pemicuan

a. Kegiatan Pra Pemicuan

Sebelum melakukan pemicuan di masyarakat, hendaklah tim

pemicuan sudah memiliki informasi data dasar terkait perilaku

hidup bersih dan sehat di masyarakat. Untuk itu sebaiknya sudah

melakukan observasi (peninjauan) maupun diskusi dengan

masyarakat di lokasi pemicuan untuk mendapatkan informasi

tersebut. Persiapan ini dilakukan dengan melakukan kunjungan

kepada pemimpin setempat yang akan menjadi lokasi pemicuan

dan menjelaskan secara rinci kegiatan yang akan dilaksanakan

selama proses pemicuan PSN termasuk proses pemberdayaan

masyarakat yang akan dilaksanakan di lapangan.

b. Langkah Pemicuan

Pemicuan awal dilakukan di dusun terpilih, pada saat pemicuan

mengundang kepala dusun setempat. Pelaksanaan pemicuan

mengikuti langkah sebagai berikut:

1) Perkenalan dan penyampaian tujuan

32  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

Pada saat melakukan pemicuan di masyarakat terlebih dahulu

anggota tim fasilitator memperkenalkan diri dan

menyampaikan tujuannya. Tujuan tim ingin “melihat” kondisi

sanitasi dari kampung tersebut, jelaskan dari awal bahwa

kedatangan tim bukan untuk memberikan penyuluhan

apalagi memberikan bantuan. Tim hanya ingin melihat dan

mempelajari bagaimana kehidupan masyarakat, bagaimana

kondisi lingkungan dan tempat penampungan air, bagaimana

masyarakat melakukan PSN. Tanyakan kepada masyarakat

apakah mereka mau dan menerima tim dengan maksud dan

tujuan yang telah disampaikan tadi.

Tujuan kehadiran tim adalah:

a) Bersilaturahmi dengan masyarakat

b) Berkenalan

c) Belajar keberhasilan

2) Bina suasana

Untuk menghilangkan “jarak” antara fasilitator dan

masyarakat sehingga proses fasilitasi berjalan lancar,

sebaiknya dilakukan pencairan suasana.

3) Kesepakatan istilah DBD dan pemicuan PSN

Agar istilah DBD tidak asing di masyarakat dan menggunakan

istilah pemicuan PSN (nguras)

4) Pemetaan

33  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

Pembuatan peta sanitasi sederhana dilakukan sendiri oleh

masyarakat termasuk wanita, pria, dan anak muda yang

difasilitasi oleh tim pemicu. Peta harus berisi informasi

tentang batas dusun, rumah yang mempunyai dan rumah yang

ada jentiknya, jalan, sungai, tempat penampungan air. Dalam

peta ditunjukkan/ditandai tempat yang biasanya digunakan

untuk perindukan nyamuk.

Tujuan:

a) Mengetahui/melihat peta wilayah utamanya berkaitan

dengan nyamuk bertelur.

b) Sebagai alat monitoring pada pasca pemicuan, setelah ada

mobilisasi masyarakat.

Alat yang diperlukan

a) Tanah lapang atau halaman

b) Serbuk putih untuk membuat batas wilayah

c) Potongan kertas untuk menggambarkan rumah penduduk

d) Serbuk kuning untuk menggambarkan jentik nyamuk

e) Serbuk merah untuk menggambarkan penderita DBD

f) Spidol

g) Kapur tulis berwarna untuk garis akses penduduk terhadap

tempat penampungan air (kalau bahan tidak tersedia bisa

diganti dengan bahan lokal seperti daun, ranting, kayu,

ataupun bambu).

34  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

Mendiskusikan dan menanyakan isi peta kepada masyarakat

tentang tempat/ lokasi mana yang paling banyak jentiknya .

5) Transek Walk

Mengunjungi, melihat dan mengetahui lokasi yang paling

sering dijadikan tempat nyamuk bertelur dengan mengajak

masyarakat berjalan ke sana, hal ini dilakukan sambil

mengamati lingkungan, menanyakan dan mendengarkan serta

mengingat-ingat lokasi tempat nyamuk bertelur.

Proses:

a) Ajak masyarakat untuk mengunjungi lokasi yang sering

dijadikan tempat nyamuk bertelur

b) Lakukan analisa partisipatif di tempat tersebut,

mendiskusikan alur penularan DBD, metamorfose

nyamuk, tempat perindukan nyamuk

c) Tanya siapa saja yang rumahnya banyak jentiknya

d) Jika diantara masyarakat yang ikut transect walk ada yang

pernah terkena DBD, Bagaimana perasaannya, kerugian

apa yang didapat

6) Simulasi tempat penampungan air yang terkontaminasi jentik

nyamuk dan bagaimana apabila seseorang terkena DBD

Peragaan air yang banyak jentik nyamuknya dilakukan oleh

fasilitator atau kader dimaksutkan agar masyarakat memahami

dan merasakan ketidaknyamanan menggunakan air yang

35  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

banyak jentiknya. Simulasi dengan menggunakan air yang

banyak jentiknya dilakukan pada saat transect walk,

pemetaan, atau pada saat diskusi lainnya.

7) Hitung telur nyamuk betina sekali bertelur dan kontainer di

setiap rumah

Nyamuk Aedes aegypti betina dalam sehari bertelur 100

sampai 200 telur per fase, kemudian berapa jentik yang

dihasilkan, berapa nyamuk Aedes aegypti yang berkembang

disitu, menghitung kontainer/TPA di setiap rumah (misalnya 1

rumah ada berapa kontainer, berapa yang dapat menjadi tempat

perkembangbiakan nyamuk), dari uraian di atas masyarakat

dibuat ngeri sehingga masyarakat paham akan pentingnya

PSN.

c. Elemen Pemicuan

1) Memicu perubahan dengan Elemen Rasa Malu

2) Memicu Perubahan dengan Elemen Harga Diri

3) Memicu Perubahan dengan Elemen Rasa Jijik dan Takut Sakit

4) Memicu Perubahan dengan Elemen Berkaitan dengan

Keagamaan

5) Memicu Perubahan dengan Elemen Berkaitan dengan

Kemiskinan

d. Kesepakatan Bersama

36  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

1) Membangun komitmen masyarakat yang mau berubah, kapan

akan merealisasikan keinginannya untuk berubah

2) Membuat kesepakatan membentuk komite masyarakat yang

akan mempelopori kegiatan PSN

3) Minta kepada masyarakat yang terpicu untuk menuliskan

komitmen/kesanggupan mereka untuk memulai PSN mandiri

4) Minta kepada masyarakat yang terpicu kapan hasil PSN dapat

dilihat oleh kepala dusun dan pimpinan lain

5) Menyepakati bersama, peserta yang pertama kali menyatakan

keinginan untuk PSN ditunjuk sebagai pimpinan informal

mereka atau natural leader untuk menggalang dan

mempengaruhi masyarakat yang lain di sekitarnya

6) Pemimpin informal bersama dengan masyarakat akan

membuat rencana kerja, difasilitasi tim pemicu desa dalam

rangka meningkatkan sanitasi lingkungan

e. Pasca Pemicuan

1) Membangun ulang komitmen masyarakat

Membangun ulang komitmen masyarakat dimaksudkan

untuk meningkatnya motivasi masyarakat untuk

melaksanakan rencana kegiatan yang mereka susun pada

saat pemicuan. Hasil komitmen diserahkan oleh

perwakilan kelompok masyarakat kepada pimpinan yang

37  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

berwenang di daerah untuk dilaksanakan tindak lanjut

sesuai rencana.

2) Pendampingan dan monitoring

Pendamingan oleh kader, tim pemicu desa dilaksanakan

untuk membantu masyarakat melaksanakan komitmen

yang telah dibangun oleh mereka bersama. Aksi yang

dilaksanakan adalah mendorong upaya individu masyrakat

merubah perilaku untuk PSN mandiri. Tim pemicu perlu

mendampingi masyarakat secara berkelanjutan untuk

mewujudkan keinginan masyarakat bebas jentik.

C. Kentongan

Pada zaman dulu, kenthong digunakan sebagai tanda pengingat

(alarm), komunikasi jarak jauh, penanda adzan, maupun sebagai tanda

bahaya. Sebagai contoh, kenthong digunakan ketika ada bencana banjir,

kebakaran atau kemalingan. Makna bunyinya diatur sesuai kesepakatan di

masyarakat, sedangkan makna komunikasinya ada padaritme suara dan juga

kombinasi dari suara yang dihasilkan. Misalnya membunyikan sekali apabila

kemalingan, bunyi kedua untuk kebakaran, dan lain-lain.

Kenthong mengalami perkembangan seiring dengan pesatnya arus

globalisasi, karena itu masyarakat mulai memikirkan bagaimana cara untuk

membuat bunyi kenthong yang sebelumnya terdengar monoton dan

membosankan agar menjadi lebih menarik. Setelah melewati proses inovasi,

38  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

saat ini kenthong menjadi alat musik utama yang digunakan dalam suatu

kesenian yang disebut kentongan. Kehadiran sistem teknologi baru seperti

early warning system dengan bunyi sirine atau tanda bahaya yang sejenisnya

memang telah dipasang oleh pemerintah daerah sebagai media peringatan

awal datangnya bencana bagi masyarakat di tempat-tempat yang dirasa perlu

dan dianggap rawan terjadi bencana. Meskipun demikian sebenarnya

masyarakat tradisional juga telah mempunyai dan bisa menggunakan media

tradisional yang telah umum berada di lingkup tempat tinggal mereka.

Media pemberi peringatan tersebut adalah kentongan. Bila

kentongan biasa ada di tiap-tiap rumah masyarakat atau tempat-tempat

pertemuan khusus seperti balai desa, balai dusun atau pos ronda, maka untuk

bedug hanya berada di masjid-masjid atau mushola-mushola tempat

masyarakat beribadah. Pada masa sebelum kehadiran teknologi komunikasi

kentongan dan merupakan media komunikasi yang cukup efektif digunakan

oleh masyarakat tradisional.

Fungsi utamanya memang terasa melemah ketika muncul teknologi

audio seperti pengeras suara (mic, amplifier dan speaker) yang dapat dipasang

sebagai alat pemanggil masyarakat atau penyampai informasi secara

langsung. Namun penggunaan alat pengeras suara tersebut tidak dapat

digunakan sewaktu-waktu semisal saat ronda atau penjagaan desa di waktu

malam. Yang ada justru akan mengganggu masyarakat yang sedang istirahat

atau tidur.

39  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

Akan tetapi, keberadaan kentongan sebagai sistem tanda bunyi

tradisional akan lebih tepat digunakan. Sayangnya memang dewasa ini

pemaknaan simbol bunyi hanya dapat dimengerti oleh mereka yang

menggunakan saja. Sebagai sistem bunyi yang bermakna khusus artinya

ketepatan ritme pemukulan kentongan menjadi mutlak dan wajib diketahui

oleh pemukulnya. Kesalahan ritme pukulan kentongan akan membawa

kesalahpahaman akan pesan yang disampaikan.

Secara umum kentongan mempunyai beberapa tanda arti.

Misalnya, kenthong raja pati menandakan bahwa disekitar kampung/desa

setempat ada pembunuhan, untuk simbol bunyinya adalah kentongan dipukul

sekali dengan jeda, dipukul sekali dengan jeda, begitu seterusnya. Jika

kentongan dipukul dua kali berturut-turut dengan sela atau jeda menandakan

ada maling atau pencuri masuk di wilayah desa setempat. Arti tiga kali

pukulan kentongan berturut-turut dengan jeda, menandakan bahwa di sekitar

kampung/desa ada kebakaran (rumah terbakar).

Untuk menyebarkan informasi tentang bencana alam seperti banjir

bandang, kentongan dipukul empat kali berturut-turut diselingi waktu jeda.

Bunyi kentong titir yaitu lima kali pukulan berturut-turut dengan waktu jeda

sejenak menandakan bahwa dikampung setempat ada pencurian (hewan).

Sedangkan bunyi kenthong dara muluk yaitu satu kali pukulan diselingi jeda

dan diteruskan pukulan delapan kali berturut-turut dengan spasi atau jeda

ditambah pukulan satu kali menunjukkan suasana atau situasi dan kondisi

kampung/desa dalam keadaan aman.

40  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

Berbeda dengan bedug yang lebih sering digunakan sebagai media

pemanggil masyarakat untuk beribadah atau mendatangi masjid dan mushola,

kentongan lebih fleksibel digunakan. Dewasa ini dalam seni pertunjukan

tradisional yang ada di wilayah Banyumas, kentongan tidak saja digunakan

sebagai sarana pemberitahu tentang sebuah keadaan yang terjadi namun juga

digunakan sebagai alat seni pengiring sebuah pawai budaya atau sejenisnya.

Bahkan sering juga digunakan sebagai sarana lomba kentongan antar desa di

wilayah Banyumas dan sekitarnya, seperti saat peringatan hari Kemerdekaan

Republik Indonesia atau peringatan hari jadi Kabupaten Banyumas sendiri.

Apabila dalam penjagaan situasi keamanan di daerah pedesaan

mempunyai simbol bunyi tersendiri, maka bunyi bunyian kentongan dalam

seni pertunjukan berfungsi sebagai alat musik yang mengiringi sebuah lagu

yang dibawakan. Meskipun fungi utama kentongan sebagai penanda makna

dapat dibedakan. Kentongan dibunyikan tidak dalam waktu beribadah maka

dimaknai sebagai penanda situasi tertentu atau darurat yang sedang terjadi di

wilayah tersebut. Simbol bunyi penanda situasi tertentu yang dipukul

bukanlah bedug akan tetapi kentongan bedug yang terbuat dari kayu.

Kentongan masih digunakan sesuai makna dan fungsinya,

meskipun banyak pula anggota masyarakat yang sudah melupakan arti bunyi-

bunyian yang dipukul, dan justru juga berkembang sebagai media seni

pertunjukan rakyat yang tergolong belum lama digunakan. Bunyi-bunyian

kentongan tersebut utamanya masih difungsikan sebagai penanda datangnya

sebuah bahaya saat terjadi bencana.

41  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

Tanda-tanda bahaya tersebut merupakan sebuah upaya dini dari

masyarakat untuk memberikan tanda peringatan untuk anggota masyarakat

yang lain bahwa adanya kemungkinan bencana yang akan akan terjadi.

Bentuk dari tanda-tanda bahaya tersebut biasanya merupakan kesepakatan

bersama masyarakat setempat dan ada sejak masa sebelumnya, sehingga pada

saat tanda-tanda bahaya tersebut dibunyikan, semestinya semua masyarakat

akan mengerti dan memahami maksudnya serta mengetahui apa yang harus

dilakukan.

Pada dasarnya, tanda-tanda bahaya ini harus bisa memenuhi

beberapa syarat, diantaranya adalah: dapat menjangkau masyarakat

(accessible), bersifat segera (immediate), tegas dan tidak membingungkan

(coherent), serta bersifat resmi (official). Kelebihan dari media kentongan

lebih murah biaya pembiayaannya, ada dalam kehidupan masyarakat sendiri,

mudah penggunaannya dan bersifat massif. Dalam sebuah pelatihan evakuasi

bencana kentongan ini dipukul secara serentak dari beberapa rumah dan

tempat berkumpul warga yang menandakan keadaan yang dialami.

Bunyi-bunyian dari kentongan yang menandai sedang terjadi

bencana tanah longsor akibat pergerakan tanah dipukul sesuai dan makna

yang sesuai, yaitu kentongan dipukul empat kali berturut-turut diselingi

waktu jeda dari sumber suara kentongan yang pertama kali, berurutan dan

serempak dengan kentongan di tempat yang lain sehingga semua masyarakat

mengerti dan melakukan instruksi dalam pelatihan evakuasi bencana. Pada

saat yang sama sirine tanda peringatan dini yang dipasang oleh pemerintah

42  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

daerah juga menyala sehingga semua anggota masyarakat serempak

melaksanakan simulasi yang diadakan. Hal ini dapat dianalisis bahwa

kentongan dan bedug sebagai media komunikasi tradisional masih bermanfaat

sesuai makna dan kegunaannya dalam sistem komunikasi kebencanaan di

masyarakat pedesaaan.

Media tradisional ini berfungsi sebagai pelengkap dari adanya

teknologi sistem peringatan dini yang dipasang di daerah mereka. Bahkan

beberapa informan dari masyarakat di lapangan cenderung menggunakan

kedua alat ini karena selain penggunaannya yang mudah, kentongan dan

bedug bisa dibunyikan oleh siapapun. Kedua alat tradisional ini juga dapat

berfungsi dengan baik bila teknologi baru justru mengalami gangguan dan

tidak setiap anggota masyarakat mampu mengoperasikan.

Bunyi Kentongan menurut Instruksi Gubernur DIY No. 5/

Inst/1980 tanggal 6 Juni 1980 tentang Penyeragaman dan Penyederhanaan

Tanda-Tanda Bunyi Kentongan

Doro muluk/ turun naik = tanda aman

00000000000000

Keadaan siap/waspada = waspada

[Link].00

Kejahatan /pencurian = pencurian

000.000.000

43  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

Kejahatan perampokan = perampokan

0000000.0000000.0000000

Bencana alam = bencana alam

0000000000000000

Doro Muluk = orang meninggal

00000.0.00000.0

D. Perilaku Kesehatan

Menurut (Notoatmodjo, 2010), Perilaku kesehatan pada dasarnya

adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap stimulus yang berkaitan

dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta

lingkungan. Batasan ini mempunyai dua unsur pokok, yakni respons dan

stimulus atau perangsangan.

Respons atau reaksi manusia, baik bersifat pasif (pengetahuan,

persepsi, dan sikap), maupun bersifat aktif (tindakan yang nyata atau praktis).

Sedangkan stimulans atau rangsangan di sini terdiri 4 unsur pokok, yakni:

sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan dan lingkungan.

1) Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit, yaitu bagaimana manusia

berespons, baik secara pasif (mengetahui, bersikap, dan mempersepsi

penyakit dan rasa sakit yang ada pada dirinya dan di luar dirinya, maupun

aktif (tindakan) yang dilakukan sehubungan dengan penyakit dan sakit

tersebut.

44  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

2) Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan, adalah respons seseorang

terhadap sistem pelayanan kesehatan baik sistem pelayanan kesehatan

modern maupun tradisional. Perilaku ini menyangkut respons terhadap

fasilitas pelayanan, cara pelayanan, petugas kesehatan, dan obat-obatnya

yang terwujud dalam pengetahuan, persepsi, sikap, dan penggunaan

fasilitas, petugas, dan obat-obatan.

3) Perilaku terhadap makanan (nutrition behavior), yakni respons seseorang

terhadap makanan sebagai kebutuhan vital bagi kehidupan. Perilaku ini

meliputi pengetahuan, persepsi, sikap, dan praktik ketika terhadap

makanan serta unsur-unsur yang terkandung didalamnya (zat gizi),

pengolahan makanan, dan sebagainya, sehubungan kebutuhan tubuh kita.

4) Perilaku terhadap lingkungan kesehatan (enviromental health behavior)

adalah respons seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan

kesehatan manusia. Lingkup perilaku ini seluas lingkup kesehatan

lingkungan itu sendiri.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku menurut Lawrence

Green (1980) dalam Maulana (2009):

1) Faktor predisposisi (predisposing faktor). Faktor yang mempermudah

terjadinya perilaku seseorang. Faktor ini termasuk pengetahuan, sikap,

kepercayaan, keyakinan, kebiasaan, nilai-nilai, norma sosial, budaya,

dan faktor sosio-demografi.

2) Faktor pendorong (enabling faktors). Faktor yang memungkinkan

terjadinya perilaku. Hal ini berupa lingkungan fisik, sarana kesehatan

45  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

atau sumber-sumber khusus yang mendukung, dan keterjangkauan

sumber dan fasilitas kesehatan.

3) Faktor penguat (reinforcing faktors). Faktor yang memperkuat

perilaku termasuk sikap dan perilaku petugas, kelompok referensi, dan

tokoh masyarakat.

E. Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan sangatlah penting

untuk mencegah penyakit, meningkatkan usia hidup, dan meingkatkan

kesehatan masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu adanya upaya

pengorganisasian masyarakat yang pada hakekatnya adalah menghimpun

potensi masyarakat atau sumber daya yang ada di dalam masyarakat itu

sendiri melalui upaya preventif, kuratif, promotif, dan rehabilitatif kesehatan

mereka sendiri (Notoatmodjo, 2007).

Salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat adalah pembentukan

jumantik. Jumantik adalah juru pemantau jentik. Istilah ini digunakan untuk

para petugas khusus yang berasal dari lingkungan sekitar yang secara

sukarela mau bertanggung jawab untuk melakukan pemantaun jentik di

wilayahnya. Jumantik merupakan warga masyarakat setempat yang telah

dilatih oleh petugas kesehatan mengenai penyakit DBD dan upaya

pencegahannya sehingga mereka dapat mengajak masyarakat seluruhnya

untuk berpartisipasi aktif mencegah penyakit DBD. Tujuan pembentukan

jumantik agar dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat dan

46  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

keluarga untuk membiasakan diri dalam menjaga kebersihan lingkungan,

terutama tempat-tempat yang dapat menjadi sarang nyamuk penular DBD

(Ditjen P2PL, 2014). Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi

jumantik sebagai berikut (Ditjen P2PL, 2014).

1. Bertempat tinggal di daerah yang bersangkutan

2. Usia produktif (15-64 tahun)

3. Sehat jasmani maupun rohani

4. Dapat membaca dan menulis

5. Mampu berkomunikasi dengan baik dan jelas

6. Mampu menjadi motivator

7. Mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan baik

Kunjungan rumah dilakukan secara langsung oleh jumantik untuk memeriksa

rumah apakah terdapat jentik nyamuk atau tidak. Berikut ini adalah langkah

yang harus dilakukan dalam melakukan kunjungan rumah:

1. Membuat rencana kapan masing-masing rumah/keluarga akan dikunjungi

misalnya untuk jangka waktu satu bulan

2. Menyepakati waktu pemantauan

3. Membicarakan tentang tentang penyakit demam berdarah

4. Mengajak untuk bersama memeriksa tempat penampung air dan barang-

barang yang dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes

aegypti.

47  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

F. Pemantaun Jentik dengan Model Kentong Lemut

Pemberdayaan masyarakat ini dikembangkan dengan konsep

pemberdayaan secara mandiri, yaitu suatu kegiatan pemberdayaan

masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan DBD melalui PSN mandiri

secara berkala yaitu seminggu sekali dan dilakukan berkesinambungan. Jadi

bunyi kentongan sebagai pengingat untuk melakukan PSN mandiri. Setelah

mendengar suara kentongan, masyarakat langsung PSN mandiri di rumah

masing-masing kemudian hasil PSN di cek oleh kader dan dihitung ABJ nya.

Pemantauan jentik dilakukan seminggu sekali pada hari Minggu. Kegiatan ini

sebelumnya didahului dengan Pemicuan PSN terlebih dahulu karena untuk

mendorong perubahan perilaku dan higiene sanitasi individu untuk

masyarakat atas kesadaran sendiri dengan menyentuh perasaan, pola pikir,

perilaku, dan kebiasaan individu atau masyarakat agat terpicu dari yang tidak

pernah PSN dan berubah perilakunya untuk PSN. Populasi dalam kegiatan ini

adalah rumah warga. Dalam pemantaun jentik, kader menggunakan formulir

rekapitulasi pemantaun jentik untuk mencatat dan menghitung angka bebas

jentik.

48  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

G. Kerangka Teori

Teori Lawrence Greence:

1. Faktor prediposisi

2. Faktor pendorong (enabling faktors)

3. Faktor penguat (reinforcing faktors)

Perilaku PSN
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor mandiri di Dusun
581/MENKES/SK/VII/1992 Babakan,
1. Pemberantasan Sarang Nyamuk Sambeng 1, dan
Polosio
(PSN)

Upaya Pemberdayaan Masyarakat


(Notoatmodjo, 2010):

1. Preventif

2. Kuratif

3. Promotif

4. Rehabilitatif

Gambar 6. Kerangka Teori

49  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

H. Kerangka Konsep

Kerangka konsep dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Faktor prediposisi ‐ABJ <95%

Pengetahuan -Adanya kasus DBD


masyarakat tentang
PSN kurang PSN tidak
dilaksanakan

Faktor pendorong

Pemicuan PSN dan


kegiatan kentong lemut
Dusun Babakan,
pemicuan PSN Dusun
sambeng 1

Faktor penguat

mendengar suara
kentongan lalu PSN
mandiri

‐ABJ naik

-Tidak ada kasus DBD

Gambar 7. Kerangka Konsep

50  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 
 

I. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah

1. Hipotesis mayor

Ada pengaruh kenaikan ABJ dengan dilakukan pemicuan PSN dan

kegiatan kentong lemut di Dusun Babakan dan Sambeng 1, Poncosari,

Srandakan, Bantul tahun 2019.

2. Hipotesis Minor

a. Ada perbedaan kenaikan ABJ pada kelompok penyuluhan dengan

pemicuan PSN

b. Ada perbedaan kenaikan ABJ pada kelompok peyuluhan dengan

kelompok pemicuan PSN dan Kentong Lemut

c. Ada perbedaan kenaikan ABJ pada kelompok pemicuan PSN dengan

pemicuan PSN dan Kentong Lemut

51  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


 

Anda mungkin juga menyukai