Perilaku Protokol Kesehatan di Pemogan
Perilaku Protokol Kesehatan di Pemogan
ABSTRAK
Pendahuluan: Penyebaran virus corona masih terus terjadi di berbagai negara dengan jumlah kasus dan
korban jiwa meningkat. Kasus-kasus baru masih dilaporkan tiap hari bahkan muncul varian baru virus corona
yang ditemukan di Inggris. Penyebaran virus corona dapat dihentikan dengan menerapkan protokol
kesehatan. Perilaku protokol kesehatan dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin dan pendidikan. Tujuan
penelitian untuk mengetahui gambaran perilaku masyarakat terhadap protokol kesehatan pada masa
pandemic COVID-19 di Banjar Gelogor Carik Pemogan.
Metode: Desain penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Data dikumpulkan dengan lembar
kuesioner dengan hasil uji validitas dengan rentang nilai hitung 0,280-0,554 dan reliable dengan nilai
reliability cronbach’s alpha 0,931. Teknik sampling purposive sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi
didapatkan sampel sebesar 264 responden dan kuesioner diisi secara online dan analisis data menggunakan
Uji statistic deskriptif kuantitatif dengan analisa univariat.
Hasil: Hasil penelitian didapatkan responden paling besar berjenis kelamin Perempuan sebanyak 138 orang
(52,2%), bekerja di bidang swasta 119 orang (45,1%), pendapatan 4-5 juta 219 orang (83,0%), berumur 41-
50 tahun 102 orang (38,7%) dan sebagian besar responden memiliki pendidikan lulus SMA yaitu sebanyak
194 orang (73,4%). Pengetahuan terhadap protokol kesehatan sebanyak 147 orang (55,7%). Sikap
sebanyak 186 orang (70,5%). Tindakan 193 orang (73,1%). Perilaku masyarakat terhadap protokol
kesehatan sebagian besar responden memiliki perilaku yang negatif sebanyak 161 orang (61,0%).
Diskusi: Penelitian masih menunjukan kurangnya pengetahuan, sikap dan tindakan terhadap penerapan
protokol kesehatan sehingga menunjukan perilaku yang negatif dalam menerapkan protokol kesehatan.
Alldo Wijaya Kusuma1, Ni Putu Wiwik Oktaviani2, I Dewa Gede Ngurah Ari Baskara 3
1
Nursing Science Study Program, STIKes Wira Medika Bali
2
Nursing Science Study Program, STIKes Wira Medika Bali
3
Nursing Science Study Program, STIKes Wira Medika Bali
alldobrixs@[Link]
Introduce: The spread of the corona virus continues to occur in various countries with the number of cases
and deaths increasing. New cases are still being reported every day and even new variants of the corona
virus have been discovered in England. The spread of the corona virus can be stopped by implementing
health protokol s. Health protokol behavior is influenced by age, gender and education. The purpose of the
study was to describe the behavior of the community towards health protokol s during the COVID-19
pandemic in Banjar Gelogor Carik Pemogan.
Method: Descriptive research design with a cross sectional approach. Data were collected by using a
questionnaire sheet with the results of the r-count validity with a range of 0.280-0.554 and reliable with
Cronbach's alpha reliability value of 0.931. The sampling technique was purposive sampling with inclusion
and exclusion criteria, a sample of 264 respondents was obtained and the questionnaire was filled out online
and the data analysis used quantitative descriptive statistical test with univariate analysis.
Result: The results showed that the largest respondent was female as many as 138 people (52.2%), working
in the private sector 119 people (45.1%), income 4-5 million 219 people (83.0%), Age 41-50 in 102 people
(38.7%) and most of the respondents had high school education, as many as 194 people (73.4%).
Knowledge of health protokol s is 147 people (55.7%). Attitudes as many as 186 people (70.5%). Action 193
people (73.1%). Community behavior towards health protokol s, most of the respondents have negative
behavior as many as 161 people (61.0%).
Discussion: Research still shows a lack of knowledge, attitudes and actions towards the application of health
protokol s so that they show negative behavior in implementing health protocol
Virus corona merupakan salah satu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit
pada hewan dan manusia. Pada manusia virus corona bisa menyebabkan penyakit infeksi
pernafasan mulai dari flu ringan, batuk, pilek hingga yang lebih serius seperti Middle East
Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Virus corona
jenis baru yang ditemukan menyebabkan penyakit Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Pada
akhir tahun 2019, tepatnya 31 Desember 2019, di Kota Wuhan, Provinsi Hubei Cina, terdeteksi ada
kasus pneumonia yang penyebabnya belum diketahui yang kemudian terkonfirmasi disebabkan
oleh virus corona dan dikenal sebagai penyakit COVID-19 (WHO, 2020).
Berdasarkan data Gugus Tugas COVID-19 Republik Indonesia, per tanggal 30 Desember
2020, jumlah pasien total positif COVID-19 di dunia mencapai 84.642.411 orang, yang
diakumulasikan dari pasien positif dirawat, pasien positif sembuh, serta pasien positif meninggal. Di
Indonesia, total pasien positif COVID-19 sebesar 765.350 orang, dengan pasien sembuh sebesar
631.937 orang dan pasien meninggal sebesar 22.734 orang. Provinsi Bali telah menempati posisi
kesebelas di Indonesia dalam jumlah pasien positif COVID-19, yaitu sebesar 17.978 orang,
sedangkan Kota Denpasar menduduki posisi teratas di Provinsi Bali dalam jumlah pasien positif
COVID-19, yaitu sebesar 15.149 orang. Secara spesifik, di Denpasar Selatan jumlah yang terpapar
positif COVID-19 sebesar 3.842 orang dan di Desa Pemogan jumlah pasien positif COVID-19
cukup tinggi bila dibandingkan berbagai desa di Kota Denpasar, yaitu sebesar 144 orang (Gugus
Tugas COVID-19, 2020). Berdasarkan data tersebut, maka semua pihak terkait, baik pemerintah
ataupun masyarakat, semakin terdesak untuk segera mengambil tindakan dalam melakukan
deteksi dini infeksi serta mencegah penyebaran COVID-19 terjadi guna menurunkan jumlah kasus
COVID-19. Peningkatan kasus COVID-19 yang terjadi di masyarakat didukung oleh proses
penyebaran virus yang cepat.
Mencegah penyebaran dan penularan virus lebih luas ke seluruh masyarakat, maka
pemerintah membuat serangkaian kebijakan untuk pencegahan penyebaran covid 19. Kebijakan
yang dibuat pemerintah haruslah dipatuhi oleh setiap masyarakat, kebijakan tersebut ada yang
tertulis dan ada yang tidak tertulis. Yang tertulis seperti Undang-Undang (UU), Peraturan
Pemerintah (PP), Peraturan Presiden (PERPRES), Peraturan Menteri (PERMEN), dan Peraturan
Daerah (PERDA), maklumat Walikota. sedangkan kebijakan yang tidak tertulis seperti ajakan dari
tokoh masyarakat, tokoh agama, pemerintah setempat yang berisi himbauan terkait dengan
pencegahan COVID-19 (Filia Mega Sekeon, Adisti, A. Rumayar, 2021). Protokol kesehatan tidak
akan dilakukan oleh masyarakat sebelum masyarakat memahami dengan benar bagaimana
perilaku pencegahan yang tepat, karena itu masyarakat sangat perlu dibekali dengan
pengetahuan, sikap, tindakan yang baik dalam pelaksanaannya. Diperlukan adanya sosialisasi,
promosi-promosi kesehatan dari instansi terkait yang dipercayai oleh masyarakat untuk
mendapatkan perubahan perilaku (Filia Mega Sekeon, Adisti, A. Rumayar, 2021).
Beberaoa penelitian serupa dengan judul Gambaran Perilaku Masyarakat Terhadap
Pencegahan Corona Virus Disease 19 (COVID-19) Di Kelurahan Matani 1 Kecamatan Tomohon
Tengah Kota Tomohon Tahun 2021 Goni, Rumayar, & Tucunan ). Didapatkan hasil diketahui
bahwa sebagian besar responden memiliki tindakan yang cukup terhadap pencegahan COVID-19
yaitu sebanyak 64% dapat dilihat bahwa sebagian besar responden menyatakan tindakan cukup,
hal ini dapat dilihat berdasarkan jawaban responden. Pengetahuan dan sikap baik tentang COVID-
19 akan tetapi praktik atau tindakan pencegahan tidaklah memuaskan, perlu ditingkatkan lagi
kesadaran untuk memperbaiki tindakan terkait COVID-19.
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti pada 16 Februari 2021 di br Gelogor
Carik Desa Pemogan Kecamatan Denpasar. Gelogor carik merupakan salah satu wilayah di desa
pemogan yang memiliki penduduk tertinggi dari data yang di dapat gelogor carik memiliki jumlah
Kartu Keluarga sebanyak 317 Kartu Keluarga dengan total 1.512 Jiwa dengan jumlah warga Laki-
Laki sebanyak 762 jiwa dan warga perempuan sebanyak 750 jiwa. Dari rincian yang didapat
jumlah warga dengan rentang 178 dengan umur (0-10) tahun 228 jiwa dengan umur (10-20) tahun
dengan 301 jiwa yang berumur (20-30) tahun jumlah 466 dengan umur ( 30-50) tahun Dengan
umur diatas 50 tahun berjumlah 319 jiwa dengan diketahuinya data tersebut peneliti tertarik
mengambil populasi dari jumlah warga yang berumur 30-50 tahun ke atas dengan total populasi
menjadi 466 jiwa dari hasil observasi 10 orang peneliti mendapatkan hasil 4 orang taman
menggunakan masker saat mengobrol dan melaksanakan aktifitas dirumah 2 orang mau mencuci
tangan atau menggunakan hand sanitaiser saat bertemu dengan orang lain dan hanya 6 dari 10
orang yang diobservasi mau menaati jaga jarak saat mengobrol.
Pengetahuan dan tindakan yang nyata dari pemerintah dan masyarakat terkait PHBS
dengan menerapkan protokol kesehatan akan senantiasa mampu menurunkan jumlah kasus
COVID-19, sehingga masa pandemi COVID-19 dapat berakhir dengan cepat. Dari hasil penelitian
sebelumnya yang telah dilakukan di Daerah Ibukota Yogyakarta dengan hasil 65% masyarakat di
Daerah Ibukota Yogyakarta telah menjalankan protokol kesehatan sehingga risiko penularan masih
cukup tinggi dan perlu diadakannya perbaikan perilaku masyarakat terhadap protokol kesehatan.
Berdasarkan masalah yang telah diuraikan maka peneliti akan melakukan penelitian
mengenai “Gambaran Perilaku Masyarakat Terhadap Protokol Kesehatan Pada Masa Pandemic C
OVID-19 Di Banjar Gelogor Carik Pemogan”
Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian deskriptif yaitu penelitian
yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran objek atau subjek yang diteliti
sesuai dengan apa yang ada, dengan tujuan menggambarkan secara sistematis fakta dan
karakteristik secara tepat (Sugiyono, 2018). Pada penelitian ini peneliti menggambarkan perilaku
masyarakat terhadap protokol kesehatan pada masa pandemi covid-19. Model pendekatan subjek
yang digunakan adalah cross sectional, yaitu melakukan pengamatan atau pengukuran secara
simultan, sesaat atau satu kali saja dalam satu kali waktu. Tiap subjek hanya diobservasi satu kali
dengan pengukuran variabel subjek dilakukan pada saat pemeriksaan tersebut peneliti tidak
melakukan tindak lanjut terhadap pengukuran yang dilakukan (Nursalam, 2017).
Penelitian ini dilaksanakan di Banjar Glogor Carik. Penelitian ini dilaksanakan selama satu
minggu pada minggu pertama bulan Mei 2021. Populasi dari penelitian ini adalah masyarakat di Br.
Gelogor Carik Pemogan sebanyak 1512 orang. Sampel penelitian ini diambil dari populasi
masyarakat di Br. Gelogor Carik Pemogan dengan rentang usia 20-50 tahun di Banjar Gelogor
Carik yaitu sebanyak 767 responden. Pada penelitian ini teknik pengambilan sampel yang
digunakan adalah dengan probability sampling yaitu simple random sampling.
Dalam penelitian ini pengumpulan data menggunakan lembar kuesioner berupa link
google formulir untuk mengukur kesiapan siswa dalam pertolongan pertama luka bakar, Media
aplikasi WhatsApp yang digunakan untuk berkoordinasi dengan responden untuk memudahkan
memberikan informasi terkait proses penelitian kepada responden dan berdiskusi terkait penelitian.
HASIL
Tabel 2.
Distribusi Frekuensi Pengetahuan Masyarakat Terhadap Protokol Kesehatan
Pengetahuan Frekuensi (n) Persentase
Kurang 147 55,7%
Cukup 87 33,0%
Baik 30 11,4%
Total 264 100,0%
Tabel 3.
Distribusi frekuensi Tindakan Masyarakat Terhadap Protokol Kesehatan
Tindakan Frekuensi (n) Persentase
Kurang 193 73,1%
Cukup 58 22,0%
Baik 13 4,9%
Total 264 100,0%
Tabel 4.
Distribusi Frekuensi Perilaku Masyarakat Terhadap Protokol Kesehatan
Perilaku Frekuensi (n) Persentase
Negatif 161 61,0%
Positif 103 39,0%
Total 264 100,0%
PEMBAHASAN
Pengetahuan Masyarakat Terhadap Protokol Kesehatan Pada Masa Pandemi COVID-19 di Banjar
Gelogor Carik Pemogan
Berdasarkan tabel 2 distribusi frekuensi pengetahuan perilaku masyarakat terhadap protokol
kesehatan sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang sebanyak 147 orang (55,7%).
Menuerut Notoatmodjo (2011) menyatakan bahwa terdapat faktor internal dan eksternal
dalam mempengaruhi pengetahuan seseorang. Faktor internal tersebut misalnya tingkat
pendidikan, motivasi, persepsi, dan pengalaman. Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi
pengetahuan seseorang yaitu lingkungan, baik secara budaya, ekonomi, maupun ketersediaan
informasi.
Pengetahuan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu.
Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa, dan raba dengan itu sendiri. Sebagian besar pengetahuan manusia telah
diperoleh melalui mata dan telinga, menurut Notoatmodjo dalam Wawan dan Dewi (2011) dan
menurut (Fitriani, 2011) Pengetahuan adalah hasil dari suatu proses pembelajaran seseorang
terhadap sesuatu baik itu yang didengar maupun yang dilihat domain kognitif pengetahuan
pengetahuan terdiri dari Tahu (know), Memahami (Comprehension), Aplikasi (Application), Analisis
(Analysis), Sintetis (Sintesis), Evaluasi (Evaluation). Untuk Faktor-faktor pengetahuan dibedakan
menjadi 2 yaitu faktor internal dan faktor eksternal, menurut Wawan & Dewi (2011).
Hasil penelitian ini tidak dengan (Tulandi et al., 2021) yang berjudul gambaran perilaku
pencegahan covid-19 di desa senduk Kecamatan tombariri kabupaten minahasa, didapatkan hasil
bahwa pengetahuan berada pada kategori cukup 72%. Tulandi berpendapat bahwa salah satu
penyebab kenapa hasil penelitiannya mendapatkan lebih banyak pada kategori cukup dikarenakan
responden di edukasi pemerintah tentang pentingnya penceghan COVID-19 di respon baik oleh
warga Desa Senduk.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Yanti et al., 2020)
dengan judul Gambaran Pengetahuan Masyarakat Tentang Covid-19 dan Perilaku Masyarakat Di
Masa Pandemi Covid-19. Penelitian ini tidak sejalan dimana mereka mendapatkan sebagian besar
pengetahuan pada kategori baik didapatkan hasil bahwa sebagian besar responden mengenai
pengetahuan masyarakat tentang pandemi COVID-19 ada pada kategori baik yaitu 70%. Yanti
berpendapat bahwa responden memiliki pengetahuan yang baik terhadap protokol kesehatan
terlihat dari pekerjaan responden sebagian besar bekerja di sektor wirasuata yang sangat
menuntut mereka untuk bekerja mematuhi protokol kesehatan.
Hasil penelitian ini tidak sejalan, penelitian yang dilakukan (Sekeon et al., 2021) yang
berjudul Gambaran Perilaku Masyarakat Terhadap Pencegahan Corona Virus Diseases (Covid 19)
Di Lingkungan III Kelurahan Tingkulu Kota Manado tidak sejalan dimana mereka mendapatkan
sebagian besar pengetahuan pada kategori baik dengan hasil pengetahun berada pada kategori
baik dengan jumlah responden 90 (100%). Sekeon berpendapat bahwa dengan seberapa mengerti
masyarakat akan informasi terkini tentang protokol kesehatan terhadap pencegahan covid 19 yang
dapat di lakukan secara individu.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti berpendapat bahwa hasil pengetahuan
yang kurang terhadap protocol kesehtan kemungkinan disebabkan oleh pendidikan responden
yang rata-rata lulusan SMA dan sebagaian besar berumur 41-50 tahun. Hasil penelitian ini tidak
sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yanti dan Sekeon, kemungkinan disebabkan oleh
sebagain besar karakteristik responden memiliki pendidikan yang baik serta kemampuan untuk
menerima informasi mampu dalam kategori baik.
Sikap Masyarakat Terhadap Protokol Kesehatan Pada Masa Pandemi COVID-19 di Banjar
Gelogor Carik Pemogan
Berdasarkan tabel 3 distribusi frekuensi sikap masyarakat terhadap protokol kesehatan
sebagian besar responden memiliki sikap kurang sebanyak 186 orang (70,5%).
Sikap merupakan reaksi yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau
objek. Sikap belum termasuk dalam suatu tindakan nyata, tetapi masih berupa persepsi dan
kesiapan seseorang untuk bereaksi terhadap stimulus yang ada di sekitarnya. Sikap dapat diukur
secara langsung dan tidak langsung. Pengukuran sikap yang diambil oleh responden terhadap
objek (Notoatmodjo, 2007). Secara garis besar sikap terdiri dari komponen kognitif (ide yang
menganalisa), komponen perilaku (berpengaruh terhadap respon sesuai atau tidak sesuai), dan
komponen emosi (menimbulkan respon-respon yang konsisten) (Wawan & Dewi, 2011).
Sikap tertentu diambil seseorang ketika keadaan dirinya atau egonya terancam.
Seseorang mengambil sikap tertentu untuk mempertahankan egonya. Pengambilan sikap terhadap
nilai tertentu akan menunjukkan sistem nilai yang ada pada diri individu yang bersangkutan. Jika
seseorang mempunyai sikap tertentu terhadap suatu objek, itu berarti menunjukkan orang tersebut
mempunyai pengetahuan tentang objek yang bersangkutan
Hasil penelitian tidak sejalan dengan (Utami et al., 2020) yang berjudul Pengetahuan,
Sikap dan Keterampilan Masyarakat Dalam Pencegahan Covid-19 di Provinsi DKI Jakarta. Didapat
hasil penelitian ini tidak sejalan dimana didapatkan hasil pada tingkat kategori sikap yang baik
70,3% dalam pencegahan COVID 19. Utami berpendapat bahwa responden memiliki sikap yang
baik terhadap protokol kesehatan terlihat dari sebagaian besar responden memiliki pendidikan
tinggi mampu memahami suatu himbauan dan keadaan pandemic dengan baik.
Hasil penelitian tidak sejalan dengan penelitian (C S Goni et al., 2021) yang berjudul
Gambaran Perilaku Masyarakat Terhadap Pencegahan Corona Virus Disease 19 (Covid-19) Di
Kelurahan Matani 1 Kecamatan Tomohon Tengah Kota Tomohon dengan hasil sebagian besar
masyarakat Kelurahan Matani 1 memiliki sebagian besar memiliki sikap baik (59,5%). Goni
berpendapat bahwa responden memiliki sikap yang baik terhadap protokol kesehatan terlihat dari
sebagaian besar responden memiliki pengetahuan baik terhadap peranan dari protokol kesehatan
untuk mencegah penularan covid 19.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menurut peneliti sikap responden dalam
menerapkan protokol kesehatan masih dalam kategori kurang hal ini dikarenakan jika seseorang
mempunyai sikap tertentu terhadap suatu objek, itu berarti menunjukkan orang tersebut
mempunyai pengetahuan tentang objek yang bersangkutan. Hasil penelitian ini tidak sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Utami dan Goni, kemungkinan disebabkan oleh jumlah
responden yang tidak sama serta metode penelitian yang digunakan berbeda.
Tindakan Masyarakat Terhadap Protokol Kesehatan Pada Masa Pandemi COVID-19 di Banjar
Gelogor Carik Pemogan
Berdasarkan tabel 4 distribusi frekuensi tindakan masyarakat terhadap protokol kesehatan
sebagian besar responden memiliki tindakan yang kurang sebanyak 193 orang (73,1%).
Menurut Notoatmodjo, 2012, tindakan merupakan tindakan nyata dari adanya suatu
respon. Sikap dapat terwujud dalam tindakan nyata tersedia fasilitas atau sarana dan prasarana.
Tanpa adanya fasilitas, suatu sikap tidak ada terwujud dalam tindakan nyata. Tingkatan dalam
praktik yaitu, Respons terpimpin (respons terpandu) Merupakan suatu tindakan yang dilakukan
sesuai dengan urutan yang benar. Seseorang yang mampu melakukan suatu tindakan dengan
sistematis, dari awal hingga akhir. Mekanisme (mekanisme) Seseorang yang dapat melakukan
tindakan secara benar urutannya, maka akan menjadi kebiasaan untuk melakukan tindakan yang
sama. Adopsi (adoption) Suatu tindakan yang sudah berkembang atau termodifikasi dengan baik
disebut adopsi.
Hasil penelitian ini sejalan dengan (Pantow et al., 2021) yang berjudul Gambaran Perilaku
Masyarakat Terhadap Pencegahan Corona Virus Disease 19 (Covid-19) Di Kecamatan Pabelan
Kabupaten Semarang Jawa Tengah dengan hasil persentase responden yang melakukan tindakan
kurang dalam pencegahan COVID-19 sebesar 73,4%. Pantow berpendapat bahwa responden
memiliki tindakan yang baik terhadap protokol kesehatan terlihat dari sebagaian besar responden
mamatuhi dan menerapkan protokol kesehtan dengan baik.
Hasil penelitian tidak sejalan dengan penelitian Rompas, Kawatu, & Pinontoan, (2020)
yang berjudul Gambaran Perilaku Pedagang Warung Terhadap Pencegahan COVID-19 Di
Kecamatan Malalayang Kota Manado Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sam Ratulangi
Manado. Didapat hasil penelitian pada tingkat kategori tindakan baik sebanyak 12 responden
(40%), kategori tindakan cukup sebanyak 18 responden (60%). Rompas berpendapat bahwa
responden memiliki prilaku yang baik terhadap protokol kesehatan terlihat dari umur responden
dalam penlitian ini paling banyak berada pada rentang umur 21-30 tahun sebagaian besar masih
mampu untuk memberikan contoh tindakan untuk mematuhi protokol kesehatan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menurut peneliti tindakan responden dalam
menerapkan protokol kesehatan masih dalam kategori kurang hal ini dikarenakan Jika seseorang
mempunyai sikap tertentu terhadap suatu objek, itu berarti menunjukkan orang tersebut
mempunyai pengetahuan tentang objek yang bersangkutan. Penelitian ini tidak sejalan dengan
penelitian rompas yang menyatakan sikap dalam kategori cukup, kemungkinan dikarenakan oleh
pengetahun yang dimiliki responden mengenai protokol kesehatan juga dalam kategori cukup,
namun berbeda dengan penelitian saat ini tindakan responden masih kurang dikarenakan
pengetahuan dan sikap yang dimiliki responden juga masih kurang. Berdasarkan umur responden
diperoleh paling banyak berumur 41-50 tahun, umur responden juga mempengaruhi tindakan
responden terhadap penerapan protokol kesehatan semakin buruk sikap yang ditunjukan
berbanding lurus dengan tindakan yang dilakukan. Karakteristik pekerjaan dalam penelitian ini
paling banyak didominasi oleh karyawan swasta informasi yang diperoleh mengenai penerapan
protokol kesehatan membuat masih minimnya tindakan dalam penerapan protokol kesehatan
mengingat tidak semua pekerjaan bisa dilakukan dari rumah sesuai dengan anjuran untuk menjaga
jarak.
Gambaran Perilaku Masyarakat Terhadap Protokol Kesehatan Pada Masa Pandemi COVID-19 di
Banjar Gelogor Carik Pemogan
Berdasarkan tabel 5 distribusi frekuensi perilaku masyarakat terhadap protokol kesehatan
sebagian besar responden memiliki perilaku yang negatif sebanyak 161 orang (61,0%).
Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bukti
yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis,
membaca, dan sebagainya. Berdasarkan uraian tersebut dapat diabaikan bahwa perilaku manusia
adalah semua kegiatan atau aktfitas manusia, baik yang diamati secara langsung, maupun yang
tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2010).
Perilaku suatu tindakan yang dapat diamati dan frekuensi frekuensi spesifik, durasi dan
tujuan baik disadari maupun tidak. Perilaku adalah kumpulan berbagai faktor yang saling dapat
diandalkan (Wawan, 2011).
Secara teori perubahan perilaku atau seseorang menerima atau mengubah perilaku baru
dalam kehidupannya melalui 3 tahap yaitu pengetahuan, sikap dan tindakan atau praktik.
Berdasarkan teori bloom, perilaku dibagi tiga yaitu pengetahuan (pengetahuan), sikap (sikap), dan
tindakan atau praktik (praktik) (Notoatmodjo, 2012)
Hasil penelitian ini sejalan dengan (Mawardah, 2020) dengan judul Gambaran Perilaku
Pencegahan Coronavirus Disease (Covid 19) pada Masyarakat di Desa Rahtawu Kecamatan
Gebog Kabupaten Kudus dengan hasil responden berada pada kategori perilaku negatif (61,9%).
Penelitian ini memiliki persamaan dalam menilai perilaku masih dalam kategori negatif. Mawardah
berpendapat jika reponde memiliki domain perilaku yang kurang maka akan terjadi perilaku yang
negative terhadap penerapan protokol kesehatan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menurut peneliti mengapa perilaku responden
masih dalam kategori negatif dalam menerapkan protokol kesehatan untuk pengetahun, sikap dan
tindakan masih dalam kategori kurang menunjukkan orang tersebut mempunyai pengetahuan
tentang objek yang bersangkutan namun dalam penelitian ini tindakan responden masih kurang
dikarenakan pengetahun dan sikap yang dimiliki responden juga masih kurang. Dilihat dari
karakteristik responden pada masa seperti ini responden mengalami penurunan penghasilan data
yang diperoleh responden rata-rata berpenghasilan 4-5 juta hal ini membuat responden masih saja
mengabaikan protokol kesehatan salah satunya menjaga jarak. Menjaga jarak masih jadi hal yang
sulit dalam bekerja membuat responden dengan pekerjaan sebagai wirasuata harus bekerja keluar
rumah agar mencukupi kebutuhan sehari-hari. Penelitian ini sejalan dengan penelitian mawardah
kemungkinan disebabkan karena memiliki pengetahun yang kurang terhadap penerapan protokol
kesehatan.
Simpulan
1. Karakteristik responden menunjukan bahwa dari keseluruhan responden sebagian besar
responden berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 138 orang (52,2%), sebagian besar
bekerja dibidang swasta yaitu sebanyak 119 orang (45,1%), memiliki pendapatan dengan
rentang 4-5 juta sebanyak 219 orang (83,0%), berumur 41-50 tahun yaitu sebanyak 102
orang (38,7%), dan mayoritas berpendidikan lulus SMA yaitu sebanyak 194 orang (73,4%).
2. Pengetahuan perilaku masyarakat terhadap protokol kesehatan sebagian besar responden
memiliki pengetahuan kurang sebanyak 147 orang (55,7%).
3. Sikap masyarakat terhadap protokol kesehatan sebagian besar responden memiliki sikap
kurang sebanyak 186 orang (70,5%).
4. Tindakan masyarakat terhadap protokol kesehatan sebagian besar responden memiliki
tindakan yang kurang sebanyak 193 orang (73,1%).
5. Perilaku masyarakat terhadap protokol kesehatan sebagian besar responden memiliki
perilaku yang negatif sebanyak 161 orang (61,0%).
Saran
1. Bagi Banjar Gelogor Carik
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi banjar agar lebih menerapkan
protokol kesehatan guna mencegah penularan lebih luas COVID-19.
2. Bagi Tenaga Kesehatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi atau masukan bagi puskesmas dan
tenaga kesehatan, sebagai bahan evaluasi dalam memberikan pelayanan kesehatan untuk
mencegah penularan COVID-19. Khususnya perawat dalam menangani COVID-19
diharapkan tenaga kesehatan mampu menentukan tindakan yang harus dilakukan untuk
mengatasi masalah pandemi.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai tambahan kepustakaan, informasi
dasar, dan penyempurnaan oleh peneliti lain dalam meneliti lebih lanjut tentang perilaku
penerapan protokol kesehatan di masyarakat desa pemogan.
UCAPAN TERIMAKASIH
Puji Syukur peneliti ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan
karuniaNya peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Gambaran Perilaku Masyarakat
Terhadap Protokol Kesehatan Pada Masa Pandemi COVID-19 di Banjar Gelogor Carik Pemogan”
pada waktunya.
Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana
Keperawatan pada Program Studi Keperawatan Program Sarjana, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Wira Medika Bali.
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapat bantuan sejak awal sampai
terselesainya skripsi ini, untuk itu dengan segala hormat dan kerendahan hati, peneliti
menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Drs. I Dewa Agung Ketut Sudarsana, MM selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira
Medika Bali.
2. Ns. Ni Luh Putu Dewi Puspawati, [Link]., [Link] selaku Ketua Program Studi Keperawatan
Program sarjana STIKes Wira Medika Bali.
3. Ns. Ni Putu Wiwik Oktaviani, [Link].,[Link] selaku pembimbing I yang telah memberikan
bimbingan dalam penyelesaian skripsi ini.
4. Ns. I Dewa Gede Ngurah Ari Baskara, [Link].,MM selaku pembimbing II yang telah
memberikan bimbingan dalam penyelesaian skripsi ini.
5. Kepala Desa Adat Pemogan yang telah memberikan izin studi pendahuluan skripsi ini.
6. Klian Banjar Gelogor Carik yang telah memberikan izin studi pendahuluan skripsi ini.
7. Keluarga tercinta yang telah memberikan dukungan moril dan materil dalam penyelesaian
skripsi ini.
8. Ria Suarmayanti yang telah memberi waktu, dukungan dan kesabaran dalam penyelesaian
skripsi ini
9. Teman-teman mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira Medika Bali khususnya
Angkatan 11 dan semua pihak yang penulis tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah
membantu dalam penyusunan skripsi ini.
Peneliti mengharapkan kritik dan saran bersifat konstruktif dari pada pembaca demi
kesempatan dalam penyusunan skripsi ini.
DAFTAR PUSTAKA