0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan10 halaman

Prosedur Penanganan Darurat Medis dan DVI

OSCE merupakan proses identifikasi korban yang terdiri dari empat fase, yaitu (1) TKP, (2) pemeriksaan post mortem, (3) pengumpulan data ante mortem, dan (4) rekonsiliasi data. Prosedur ini bertujuan mengidentifikasi korban bencana secara akurat.

Diunggah oleh

Hasbi Ashidiqy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan10 halaman

Prosedur Penanganan Darurat Medis dan DVI

OSCE merupakan proses identifikasi korban yang terdiri dari empat fase, yaitu (1) TKP, (2) pemeriksaan post mortem, (3) pengumpulan data ante mortem, dan (4) rekonsiliasi data. Prosedur ini bertujuan mengidentifikasi korban bencana secara akurat.

Diunggah oleh

Hasbi Ashidiqy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

OSCE

1. FASE FASE DVI

(1) Tempat Kejadian Peristiwa (TKP) sebagai tindakan awal untuk mengetahui seberapa luas
jangkauan bencana;
(2) Post Mortem sebagai tindakan pemeriksaan keseluruhan untuk memperoleh dan mencatat
data lengkap mengenai korban;
(3) Ante Mortem yaitu proses pengumpulan data mengenai jenazah sebelum kematian;
(4) Rekonsiliasi sebagai tindakan pembandingan data post mortem dengan data ante mortem;
(5) Debriefing yaitu pengembalian korban yang sudah diidentifikasi kepada keluarganya untuk
dimakamkan dan apabila korban tidak teridentifikasi maka pemakaman jenazah menjadi
tanggung jawab organisasi yang memimpin komando DVI.

2. Penatalaksanaan Korban
a. keracunan karbon monoksida

1. Pindahkan korban dari area ruangan yang penuh karbon monoksida atau buka jendela di area
yang tertutup agar oksigen bisa masuk.
2. Pindahkan korban ke area yang memiliki banyak oksigen.
3. Jika korban tak sadarkan diri, maka periksa terlebih dahulu kondisi fisiknya apakah ada luka
atau tidak. Salah penanganan awal akan berakibat fatal.
4. Hubungi layanan kesehatan darurat
5. Cek pernapasan dan juga detak jantungnya sampai petugas kesehatan datang.
6. Jika korban tak sadarkan diri namun masih bernapas, maka posisikan mereka dalam recovery
position (pertolongan pertama posisi pemulihan) untuk menjaga jalan napas korban yang tak
sadar agar tetap terbuka. Posisi pemulihan adalah posisi dengan satu lengan diluruskan dan
tangan lainnya di area pipi dekat tangan lurs
7. Jika korban tak sadar dan tak bernapas lakukan CPR (harus dengan pelatihan khusus).
8. Jika korban muntah, miringkan kepalanya ke samping untuk mencegah tersedak.

b. BLS 9Bantuan hidup dasar)


 Cek respon korban dengan memanggil/menepuk bahu korban
 Meminta pertolongan (teriak/ mencari org sbgai saksi, telfon tim medis)
 Dalam melakukan resusitasi jantung paru ada 3 (tiga) pedoman yang harus di ingat yaitu C-A-
B :
• Circulation yaitu pengecekan arteri carotis communis, tidak lebih dari 10 detik.
- Pasien telentang dipermukaan yg datar
• Airway yaitu untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan jalan nafas oleh benda asing.)
a. Gerakan Head tilt – Chin lift
Letakkan tangan penolong pada dahi korban dan dengan lembut “tilt”/ dorong kepala pasien ke
belakang. Dengan menggunakan jari dibawah ujung dagu korban, naikkan dagu korban untuk
membuka jalan nafas (Hooking Action).

• Breathing yaitu pernafasan, di sini harus memeriksa pernafasan penderita dengan cara lihat
(look) perkembangan dada mengembang atau tidak,Dengarkan (listen) ada suara nafas atau
tidak, rasakan (feel) hembusan nafas terasa atau tidak. Prosedur ini dilakukan tidak boleh lebih
dari 10 detik. Jika korban tidak bernafas, bantuan nafas dapat dilakukan melalui mulut ke mulut,
mulut ke hidung, atau mulut ke stoma (lubang yang dibuat pada tenggorokan) dengan cara
memberikan hembusan nafas sebanyak 2 kali hembusan.

c. korban asma

 Hubungi ambulans.
 Bantu orang tersebut untuk duduk tegak dengan nyaman, sambil melonggarkan
pakaiannya agar tidak sesak.
 Jauhkan penderita asma yang sedang kumat dari kemungkinan pencetusnya, seperti debu,
udara dingin, atau hewan peliharaan. Tanyakan faktor pencetus asma pada penderita, jika
memungkinkan.
 Jika orang tersebut memiliki obat asma, seperti inhaler, bantu dia untuk Jika dia tidak
punya inhaler, gunakan inhaler yang ada di kotak P3K. Jangan pakai obat inhaler dari
penderita asma yang lain.
 Untuk menggunakan inhaler, pertama-tama lepaskan tutupnya, kocok, lalu
sambungkan inhaler ke spacer, dan pasangkan mouthpiece pada spacer.
 Setelah itu, tempelkan mouthpiece pada mulut penderita. Usahakan agar mulut penderita
menutupi seluruh ujung mouthpiece.
 Ketika penderita mengambil napas perlahan-lahan, tekan inhaler satu kali. Minta dia agar
tetap mengambil napas pelan-pelan dan sedalam mungkin, kemudian tahan napas selama
10 detik.
 Semprotkan inhaler sebanyak empat kali, dengan jarak waktu sekitar 1 menit tiap kali
semprotan.
 Setelah empat semprotan, tunggu hingga 4 menit. Jika masih sulit bernapas, berikan
empat semprotan lagi dengan jarak waktu yang sama.
 Jika tetap tidak ada perubahan, berikan empat semprotan inhaler setiap 4 menit sekali,
sampai ambulans tiba.
 Jika serangan asmanya berat, semprotkan inhaler sebanyak 6-8 kali setiap 5 menit.
 Jika Anda mengalami serangan asma atau melihat orang lain mengalaminya, segeralah
minta pertolongan dengan menghubungi ambulans. Lakukan langkah pertolongan di atas
sambil menunggu bantuan datang, dan jangan tinggalkan penderita asma sendirian.
 Perawatan medis darurat harus diberikan secepatnya apabila penderita asma mengalami
kesulitan bernapas hingga tampak pucat, bibirnya membiru, tidak bisa bicara,
atau pingsan.

3. prosedur penyelamatan korban tenggelam


- Cari bantuan/ saksi
- keluarkan org tersebut dari air
- periksa pernafasan
-Jika tidak bernapas, cek denyut nadinya
- Jika tidak ada denyut nadi, lakukan CPR (Cardiopulmonary Resuscitation)
- Berikan napas buatan

4. arti dari symbol emergency rumah sakit


1. Code Red (Merah)
Code Red atau kode merah adalah kode yang mengumumkan adanya ancaman kebakaran di
lingkungan rumah sakit (api maupun asap)
2. Code Blue (Biru)
Code Blue adalah kode yang mengumumkan adanya pasien,keluarga pasien, pengunjung, dan
karyawan yang mengalami kegawatan medis atau henti jantung atau henti nafas dan
membutuhkan tindakan bantuan hidup dasar / resusitasi segera. Pengumuman ini utamanya
adalah untuk memanggil tim medis reaksi cepat atau tim .
3. Code Pink (Merah muda)
Code Pink adalah kode yang mengumumkan adanya penculikan bayi/ anak atau kehilangan bayi/
anak di lingkungan rumah [Link] universal, pengumuman ini seharusnya diikuti dengan
lock down (menutup akses keluar-masuk) rumah sakit secara serentak oleh petugas
[Link] menghubungi bandar udara, terminal, stasiun dan pelabuhan terdekat serta ke
pihak ke tiga untuk kewaspadaan terhadap bayi / anak korban penculikan
4. Code Black (Hitam)
Code black adalah kode yang mengumumkan adanya ancaman orang yang
membahayakan (ancaman orang bersenjata atau tidak bersenjata yang mengancam akan
melukai seseorang atau melukai diri sendiri), ancaman bom atau ditemukan benda yang
dicurigai bom di lingkungan rumah sakit dan ancaman lain.
5. Code Brown (Coklat)
Code Brown adalah kode yang mengumumkan pengaktifan evakuasi pasien, pengunjung
dan karyawan rumah sakit pada titik-titik kumpul / aman yang telah ditentukan setelah
ada komando akibat adanya kegawat daruratan kebakaran ataupun bencana. Pada intinya,
menginisiasi tim evakuasi untuk melaksanakan tugasnya.

6. Code Orange (Oranye)


Code Orange adalah kode yang mengumumkan adanya insiden yang terjadi di luar rumah
sakit (emergensi eksternal) misalnya kecelakaan massal lalu lintas darat, laut, dan udara;
ledakan, banjir, tanah longsor ,kebakaran, gempa bumi, tsunami, dll.

7. Code Yellow (Kuning)


Code Yellow adalah kode yang mengumumkan dan penyelamatan pasien,pengunjung
semua penghuni ruangan karena adanya situasi krisis internal (emergensi internal) rumah
sakit yang meliputi: kebakaran,kebocoran atau dugaan kebocoran gas termasuk gas elpiji;
kebocoran dan tumpahan bahan kimia dan atau bahan berbahaya; kegagalan sistem vital
seperti kegagalan back- up daya listrik; boks pembagi daya listrik;seseorang
terjebak/terjerat; insiden radiasi dan lain-lain.

5. penatalaksanaan kode emergency rumah sakit

A . Code Red atau Api/Asap (Fire/Smoke)


1) Remove/Rescue/Selamatkan yaitu setiap orang yang berada dalam area
kebakaran, sambil meneriakkan : code red ---- code red.
2) Alert/Alarm/Sebar luaskan dengan cara menelpon 236 (Satuan pengaman)
selanjutnya menghubungi pihak yang terkait antara lani petugas IPRS untuk segera
mematikan aliran listrik ke area terjadi kebakaran, selanjutnya beritahukan petugas unit
atau ruangan terdekat. Bila api membesar telpon 113 & (0273) 322013 Dinas
Pemadam Kebakaran.
3) Confine/Contain/Sekat bila sekitar ruangan penuh api dan asap, bila
memungkinkan tutup pintu dan jendela untuk mencegah api menjalar.
4) ExtinguIsh/Padamkan bila api masih memungkinkan untuk bisa dipadamkan atau bila
api masih [Link] pemadaman dengan APAR,Jangan ambil resiko yang tidak
perlu,ingat keselamatan jiwa
5) Bila cukup aman, matikan semua sarana seperti listrik, gas yang kemungkinan berkaitan
dengan api, tapi tetap pertimbangkan dengan cermat bila pasien masih memerlukan.
6) Evakuasi pasien dan pengunjung ke daerah yang aman ataupun titik kumpul melalui
jalur evakuasi
7) Tetap awasi pasien. Bila perlu dihitung per kepala atau absensi berurutan.
8) Kooperatif dengan semua instruksi yang diberikan oleh Staf Senior, Manajer /petugas
tim pemadam kebakaran
B. Code Blue
Code Blue yaitu kode yang menandakan adanya Henti jantung / henti nafas Dewasa
& Anak serta darurat medis lainnya .Darurat medis didefinisikan sebagai setiap situasi
klinis dimana pasien,pengunjung maupun petugas di lingkungan rumah sakit dengan
kondisi medik kompromais yang rentan terhadap infeksi maupun komplikasi serius dan
memerlukan pertolongan medis segera.

Dalam situasi darurat medis/henti jantung atau henti nafas :


1) Segera evaluasi situasi dengan :
a. Telaah bahaya yang dapat muncul segera.
b. Catat waktu.
c. Periksa tanda-tanda kehidupan :
i. Tidak ada respon.
ii. Tidak bernafas normal.
iii. Tidak teraba nadi.
2) Minta bantuan staf/petugas lainnya ( teriak minta bantuan “Code Blue -- Code
Blue” ; atau gunakan Bel yang tersedia).
3) Telpon 222 atau informasi yang akan meneruskannya ke ruangan dan Tim code
blue (IGD – ICU – NICU/PICU).
Jelaskan : Jenis emergensinya ( misal Henti Jantung/nafas).
Lokasi kejadian dengan tepat (Kejadian dimana,ruangan apa,bed nomor berapa).
Nama, tugas, dan tempat tugas Anda.
4) Lakukan tindakan pasien dengan :
a. Check pernafasan.
b. Check nadi.
c. Bebaskan jalan nafas.
d. Lakukan tindakan emergensi bantuan hidup dasar sesuai yang
diperlukan misalnya : Cardio-Pulmonary Resuscitation (CPR).atau RJP
5) Dampingi atau jaga terus pasien sampai bantuan datang ( tim Code Blue )
C. Code Pink
Code Pink yaitu adalah bila terjadi adanya suatu Penculikan Bayi/Anak oleh karena
beberapa jam pertama merupakan waktu kritis pada kasus hilangnya bayi/anak, hal
terpenting adalah menyediakan informasi akurat berkaitan dengan bayi/anak yang hilang
sesegera mungkin.
Apabila Bayi/Anak-Anak telah hilang diculik atau dicuri maka:
1) Petugas yang menemukan terjadinya penculikan atau hilangnya bayi/anak,
meneriakkan :“ Code Pink – Code Pink !!”dan segera menelpon :satuan keamanan
telp.236 rumah sakit [Link] Mangun Sumarso kabupaten Wonogiri
2) Selanjutnya menghubungi pihak yang terkait di Rumah Sakit antara lain Sekurity,
K3RS, Direktur, dan Staf Senior lainnya).
3) Sekurity bekerja sama dengar petugas parkir menutup jalan akses keluar dan
selanjutnya mencari ke semua lokasi lingkungan rumah sakit
4) Sekurity atas perintah Pimpinan, menelepon(0273) 323919/32150
(polsek/polres wonogiri); dan sebutkan : jenis kejadian, lokasi kejadian dengan tepat,
nama anda dan tugas/profesi Anda.
5) Petugas Kepolisian kemungkinan akan meminta gambar/foto bayi/anak yang diculik
atau hilang (kalau ada), dan menanyakan beberapa pertanyaan antara lain : kapan
terjadinya, lokasi terakhir Anda masih melihat bayi/anak yang hilang, dan memakai
pakaian apa bayi/anak tersebut yang akan dipakai panduan untuk pencarian di luar
rumah sakit.
6) Setelah menerangkan kepada yang berwajib, berupayalah untuk tetap [Link] akan
mampu mengingat detail bayi/anak yang diculik atau hilang lebih mudah bila Anda
telah memperoleh kondisi rasional dan logisnya kembali.
D. Orang yang membahayakan, Ancaman orang bersenjata, Penguasaan
Ilegal/Penyanderaan, Ancaman Bom&Ancaman lain – Code Black
Dalam hal adanya ancaman terhadap seseorang – (orang bersenjata atau tidak bersenjata
yang mengancam akan melukai seseorang atau melukai diri sendiri) yang dilakukan :
RRemain calm- Tetap tenang.
RRetreat - Mundur bila lebih aman.
RRaise the alarm- Bunyikan alarm,bila ada dan dianggap perlu atau telpon
RRecord details- Catat rincian kejadian.
1) Ambil tindakan cepat untuk melindungi diri sendiri atau melindungi pasien yang
terancam.
2) Beri peringatan atau minta bantuan kepada sesama teman, sambil
meneriakkan :
“Code Black - Code Black!”.
3) Melangkah mundur bila lebih aman – Hubungi telpon Satuan pengaman ; 236
4) Selanjutnya operator menghubungi pihak yang terkait ,K3RS, Direktur, dan Staf
Senior lainnya, terangkan tentang:
a. Jenis kejadian.
b. Lokasi kejadian.
c. Nama dan tempat tugas Anda.
5) Bila tidak memungkinkan melangkah mundur :
6) Turuti perintah pengancam.
7) Lakukan hanya yang diminta.
8) Bila bahaya sudah berlalu/terjadi , telepon satuan pengaman 236 dan jelaskan
kejadiannya.
9) Catat hasil pengamatan Anda secepatnya.
(Misalnya : ciri penyerang, senjata, cara bicara/logat, tingkah laku, tato, cirii
kendaraan, arah pelarian, dll-nya).
10) Amankan tempat kejadian perkara.
11) Bekerja sama dengan security/satpam sambil menunggu petugas kepolisian. Bila
mendapatkan ancaman bom, yang perlu dilakukan adalah :
1. Tetap tenang sambil mendengarkan suara si penelepon,
2. Jangan menutup telepon.
3. Gunakan telpon lain untuk menghubungi nomor :
▪ 0273-323917 (Polsek Kota )
▪ 0273-32150 (Polres )
▪ 236 (Satuan pengaman Rumah Sakit)
4. Selanjutnya informasi menghubungi pihak yang terkait,dan sampaikan :
a. Bahwa terdapat ancaman bom.
b. Lokasi ancaman bom secara tepat.
c. Nama anda dan tempat tugas/profesi Anda.

E. Evakuasi Segera/Evacuation – Code Brown/Coklat


Terdapat tiga tahap evakuasi :
Tahap1 :Pindahkan korban dari daerah bahaya, misalnya dari ruangan ke koridor/ selasar /
lobby,sambil meneriakkan :”code brown--code brown”, untuk memberitahukan petugas
lain.
Tahap2 : Bersama-sama petugas lain pindahkan korban ke ruangan yang aman pada
lantai yang sama atau lantai bawah bila bangunan bertingkat.

Tahap3 : Selesaikan evakuasi dari bangunan melalui koridor atau tangga darurat ke titik
kumpul dan ikuti petunjuk dalam Jalur evakuasi / EmergencyPlan RS .
Pada saat evakuasi :
Bila diinstruksikan, evakuasikan ke area / tempat lebih aman atau titik kumpul yang ke
lokasi , dalam urutan sbb :
a. Pasien yang mampu bergerak sendiri,
b. Pasien yang mampu bergerak dengan memerlukan bantuan,
c. Pasien yang tidak mampu bergerak.
1) Periksa seluruh ruangan (termasuk kamar mandi dan toilet) untuk memastikan semua
orang sudah dievakuasi.
2) Lakukan penghitungan untuk memastikan semua orang sudah dievakuasi.
3) Bila ada orang yang tidak diketemukan, laporkan ke Petugas
Emergensi,Satpam atau petugas senior
4) Jangan meninggalkan area titik kumpul sampai Petugas Penanggulangan Bencana
mengizinkan.
5) Direktur atau K3RS memberitahuan kepada Petugas Penanggulangan Bencana
yang bertugas untuk mengumumkan “Semua Aman” bila keadaan telah terkendali.
Catatan : Rekam medik pasien harus selalu menyertai setiap pasien yang
dievakuasi bila memungkinkan.

F. Bencana Eksternal : Kecelakaan Masal,Lalu Lintas Darat,Laut,Udara,Gempa Bumi,


Tsunami, Banjir, Tanah Longsor, Ledakan, Badai, dll – Code Orange
1) Pada saat menerima pemberitahuan terjadinya darurat eksternal, petugas IGD dan atau
informasiakan menyampaikan kepada semua pejabat senior dan Tim Siaga Bencana .
2) Rekan yang berdekatan sesudah diberitahu petugas IGD atau Bagian Informasi
meneriakkan :“Code Orange – Code Orange !
3) Setiap staf / petugas akan merespon sesuai dengan Panduan Siaga Bencana RS
,Respon dapat meliputi salah satu atau lebih langkah berikut ini:

a. Bila memungkinkan sediakan tempat tidur atau brankart untuk


menampung korban, bila perlu dengan cara memulangkan sebagian pasien rawat
inap yang kondisinya baik atau mengirimkannya ke RS lain.
b. Sediakan fasilitas penerimaan dan perawatan pasien secukupnya.
c. Bila diminta oleh Manajer Senior atau Direksi ataupun utusan dari lokasi
bencana, sediakan bantuan yang dapat dikirim ke lokasi bencana.
4) Semua personil lainnya merespon sesuai arahan komandan/ supervisornya.
5) Bila kondisi bencana memberikan dampak kepada rumah sakit (misalnya
serbuan,asap, huru-hara dll), pengisolasian/penyekatan mungkin diperlukan.
6) Tunggu sampai ada pemberitahuan bahwa “ SITUASI TELAH TERKENDALI”.

G. Emergensi Internal -Code Yellow


Selain KEBAKARAN dan atau ASAP, emergensi internal meliputi: kebocoran atau
dugaan kebocoran gas termasuk gas elpiji; kebocoran dan tumpahan bahan kimia dan atau
bahan berbahaya; kegagalan sistem vital seperti kegagalan back-up daya listrik; boks
pembagi daya listrik;seseorang terjebak/terjerat, insiden radiasi; dan lain-lain.
1) Pada saat menemukan kejadian emergensi internal petugas meneriakkan :”Code Yellow
– Code Yellow !!!!”
2) Hubungi nomor telepon :236 satuan pengaman kemudian menghubungi pihak yang
terkait antara lain Manager / Direksi, dan Staf Senior [Link] sebutkan : Jenis
Emergensi, Lokasi Emergensi dengan [Link] Anda dan tugas/profesi Anda.
3) Jauhkan orang dari lokasi bahaya.
4) Apabila evakuasi diperlukan, ikuti prosedur evakuasi, seperti pada panduan Code Brown
5) Tunggu instruksi dari Staf Senior, Manager on Duty (MOD) atau Petugas
Emergensi.
6) Stanby untuk membantu bila diperlukan.
7) Jangan kembali ketempat semula sampai Staf Senior,atau yang bertanggung jawab
dalam keamanan fasilitas menyatakan “SEMUA TELAH AMAN”.
Dalam hal insiden kimia, biologis atau radiasi:
a. Pakailah APD ( masker,kaos tangan,sepatu kusus dan atau tutup badan.)
b. Buka pakaian yang terkontaminasi, dan cuci kulit dengan air mengalir
c. jauhi zona berbahaya

Anda mungkin juga menyukai