PEDOMAN PELAYANAN RADIOLOGI
RUMAH SAKIT TK. [Link].07.01
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk mewujudkan derajat
kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Salah satu yang tertuang dalam
Undang-Undang No.23 tahun 1992 tentang kesehatan bertujuan
melindungi pemberi dan penerima jasa pelayanan kesehatan serta
memberi kepastian hukum dalam rangka meningkatkan, mengarahkan dan
memberi dasar bagi pembangunan kesehatan. Dalam pembangunan
kesehatan perlu dilakukan peningkatan Pelayanan Radiologi di Rumah
Sakit mengingat kita sedang menghadapi era globalisasi yang
memungkinkan persaingan yang sangat kompetitif.
Pelayanan Radiologi merupakan bagian integral dari pelayanan medik
di Rumah Sakit yang perlu mendapatkan perhatian khusus, karena
sebagaimana diketahui bahwa Pelayanan Radiologi selain telah dirasakan
besar manfaatnya namun oleh karena di dalam pengoperasian peralatan
Radiologi menggunakan radiasi pengion lainnya sehingga ada resiko
bahaya radiasi baik terhadap pekerja, pasien maupun lingkungannya,
dengan demikian pelayanan radiologi harus dikelola oleh petugas yang
professional dalam bidang radiologi demi keselamatan terhadap radiasi.
Dalam upaya meningkatkan dan memperbaiki mutu pelayanan radiologi
di Rumah Sakit [Link].-07.01, pelayanan Radiologi Rumah Sakit
[Link].-07.01dituntut memiliki pedoman sebagai pegangan sehingga di
dalam perencanaan, pembinaan dan pengembangan Sumber Daya
Manusia (SDM), sarana dan prasarana pelayanan radiologi di Rumah Sakit
[Link].-07.01 dapat memenuhi standar yang berlaku.
1
Disamping itu dengan meluasnya dan meningkatnya teknologi peralatan
radiologi perlu didukung peningkatan dalam perencanaan dan
pengembangan SDM dan Standar Operasional Pelayanan Radiologi serta
sarana dan prasarana yang masing-masing menjadi tugas rumah Sakit
Dustira sebagai penyelenggara pelayanan Radiologi.
Oleh karena itu, disusunlah Pedoman Pelayanan Radiologi Rumah
Sakit [Link].-07.01yang diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan bagi
bagian Radiologi rumah Sakit [Link].-07.01 dalam pelayanannya
sehingga diharapkan akan tercapai pelayanan Radiologi yang optimal,
efektif dan bermutu tinggi sesuai dengan meningkatnya tuntutan
masyarakat dewasa ini.
Dalam pelayanannya, Instalasi Radiologi Rumah Sakit [Link].-07.01
berpedoman pada Visi, Misi dan Tujuan Rumah Sakit Dustira yang telah
ditetapkan.
Visi Radiologi adalah turunan dari Visi Rumah Sakit [Link].-07.01
VISI :
Menjadi Radiologi Rumah Sakit [Link].-07.01 kebanggaan Prajurit,
PNS dan Keluarganya serta Masyarakat umum di Detasemen Wilayah yang
bermutu dalam pelayanan, pendidikan dan pelatihan.
MISI:
1. Memberikan pelayanan Radiologi yang bermutu dan aman.
2. Mendidik dan mengembangkan tenaga professional radiologi yang
handal.
3. Melakukan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang
Radiologi
TUJUAN:
2
1. Instalasi Radiologi sebagai pelayanan penunjang untuk mendukung
pelayanan rutin dan pelayanan gawat darurat sesuai dengan fasilitas
yang tersedia.
2. Fokus tertuju pada pelayanan Radiologi dalam fungsinya untuk
menegakkan diagnosa penyakit dengan tetap memperhatikan unsur
bahaya radiasi.
B. Ruang Lingkup dan Tata Urut
1. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dari pedoman pelayanan Radiologi ini meliputi
pelayanan rutin sehari-hari sesuai dengan kemampuan dan kewenangan
Radiologi Rumkit Dustira.
2. Tata Urut
Tata urut pedoman pelayanan Radiologi Rumkit Dustira disusun
sebagai berikut :
a. Pendahuluan
b. Standar Ketenagaan
c. Standar Fasilitas
d. Tata Laksana Pelayanan
e. Logistik
f. Keselamatan Pasien
g. Keselamatan Kerja
h. Proteksi Radiasi
i. Pengendalian Mutu
j. Penutup
C. Batasan Operasional
3
Jenis-jenis pemeriksaan Radiologi Rumah Sakit Dustira meliputi :
a. Pemeriksaan Konvensional ( Foto polos dan kontras )
b. U S G
c. CT Scan Polos dan Kontras
Untuk jenis pemeriksaan yang tidak bisa dikerjakan/ dilayani di
Radiologi Rumkit Dustira akan dirujuk ke RSPAD Gatot Soebroto
( Rumah Sakit Integrasi )
D. Landasan Hukum
1. Pedoman Pelayanan Radiologi Rumah Sakit Dustira mengacu pada
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1014 /
Menkes / SK / XI / 2008, tentang Standar Pelayanan Radiologi
Diagnostik di Saranan Pelayanan Kesehatan.
2. Keputusan Kepala Badan Pengawasan Tenaga Nuklir Nomor 01-P / Ka-
BAPETEN / I-03, tentang Pedoman Dosis Pasien Radiodiagnostik
BAB II
STANDAR KETENAGAAN
A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia
Instalasi Radiologi Rumah Sakit Dustira mempunyai bagan struktur
organisasi dan uraian tugas yang jelas bagi semua klasifikasi pegawai
yang ada dengan kriteria sebagai berikut:
Kegiatan Radiologi harus dilakukan oleh petugas yang memiliki
kualifikasi pendidikan dan pengalaman yang memadai serta memperoleh
kewenangan untuk melaksanakan kegiatan yang menjadi
tanggungjawabnya.
Instalasi Radiologi RS Dustira menetapkan petugas yang bertanggung
jawab terhadap pelaksanaan berbagai kegiatan pelayanan Radiologi
berdasarkan standar mutu dan keamanan kerja.
4
1. STRUKTUR ORGANISASI RADIOLOGI
KEPALA INSTALASI RADIOLOGI
dr. Irwan Mardana, Sp. Rad
DOKTER RADIOLOGI RADIOGRAFER PERAWAT KAMAR GELAP ADMINISTRASI
1. Dr. Irwan Mardana, Sp. Rad 1. Letkol Ckm. Wisnu Surjanto. Dipl. 1. Serka Ahmad Z, Amd. 1. Rohendi 1. Nurman
Rad Kep 2. Idar Widarna
2. Dr. Susanto Cc S, Sp. Rad
2. Sunarto, Dipl. Rad 2. Zr. Tuti Ekawati 3. Wiwit Eko
3. Kapten Ckm (K) Bernadetta H.Y, Sp. 3. Firmansyah, Amd. Rad 4. Risma
Rad 4. Linda, Dipl. Rad 5. Heriyanto
5. Eka Yogantara, Amd. Rad
6. Hadi S, Amd. Rad
7. Rahmat, Amd, Rad
8. Karwati, Amd. Rad
9. Ahmad W, Amd. Rad
5
1. Jenis kualifikasi dan jumlah petugas di Radiologi Rumah Sakit Tk. II
03.05.01 Dustira :
No Jenis Tenaga Jumlah Keterangan
1 Dokter Spesialis Radiologi 3 orang Memiliki SIP
2 Radiografer 8 orang Memiliki STR
3 Petugas PPR 1 orang Memiliki STR
4 Perawat 2 orang Memiliki SIB
5 Tenaga Administrasi 5 orang SMU / sederajat
6 Petugas Kamar Gelap 1 orang SMP
2. Uraian tugas personil Radiologi :
a. Dokter Spesialis Radiologi
Melakukan tugas sesuai dengan standar profesi
Melakukan pembinaan dan bimbingan terhadap staf dalam rangka
meningkatkan dan mengembangkan mutu pelayanan
Melaksanakan monitoring dan supervisi di Instalasi Radiologi
berdasarkan sistim yang telah ditatapkan
Memimpin penyelengaraan pertemuan staf dan pelaksana untuk
menyusun rencana dan evaluasi terhadap pelayanan secara
periodik
Melakukan koordinator dengan bagian operasional unit kerja terkait
Membantu Kepala Rumah Sakit dalam membuat kebijakan,
pengelolaan dan fungsi Radiologi secara efektif dan efisien
6
Mengikuti acara ilmiah dalam rangka meningkatkan profesionalisme
terhadap pelaksanaan dan betanggung jawab mempertahankan
kontrol mutu
b. Petugas Proteksi Radiasi
Memantau tentang proteksi radiasi
Menyelenggarakan pelayanan film badge dan mencatat kartu laju
dosis.
Melaporkan bila ada kejadian luar biasa.
Melaporkan masa kalibrasi dan paparan / pengajuan kalibrasi
ulang.
Mengawasi dan menjaga agar setiap petugas bekerja sesuai
prinsip proteksi radiasi.
c. Radiografer
Melaksanakan pemotretan
Melaksanakan Administrasi / membantu petugas administrasi
Membantu dokter Radiologi dalam melaksanakan pemeriksaan
dengan kontras / pemeriksaan khusus
Menyiapkan alat - alat pemeriksaan di Radiologi agar siap pakai
Memproses film hasil pemotretan
Membersihkan peralatan Radiografi bila sudah dipakai
d. Perawat
Melaksanakan Administrasi / membantu petugas administrasi
7
Membantu Dokter Radiologi dalam melaksanakan pemeriksaan
dengan kontras dan Ultrasonografi
Menyiapkan alat - alat pemeriksaan di Radiologi agar siap pakai
Membersihkan peralatan Radiografi bila sudah dipakai
e. Petugas Kamar Gelap
Menyiapkan kebutuhan film dan cairan pencuci agar siap pakai
Mengganti cairan
Mengambil kaset yang sudah diekspos untuk diproses di kamar
gelap
Memberitahukan pada operator/ radiografer bila ada film yang
rusak/ gagal
Memproses film
Menjaga agar Kamar Gelap tetap bersih
Mencatat jumlah film rejact dan cairan yang terpakai
f. Bagian Administrasi
Melayani pendaftaran pasien rawat jalan dan rawat inap
Merekap dan membuat laporan kunjungan pasien bulanan dan tri
wulan
Melakukan tugas atau kegiatan lain yang diberikan oleh atasan
atau pimpinan yang terkait dengan masalah radiologi
8
B. Distribusi Ketenagaan
No Ruangan Jumlah Keterangan
1 Ruang Baca 2 orang Dokter Sp. Radiologi
2 Ruang USG 2 orang 1 dokter, 1 perawat
3 Ruang CT Scan 2 orang Radiografer
4 Kamar 4 1 orang Radografer
5 Kamar 5 1 orang Radiografer
6 Kamar 6 2 orang Radiografer
7 Kamar 7 1 orang Radiografer
8 Kamar Gelap 1 orang SMP
9 Pendaftaran 3 orang SMU
Perawat ( merangkap
10 Sortir Film 1 orang
)
11 Ruang Hasil 2 orang SMU
12 Supervisor non medis 1 orang Radiografer
Setiap petugas / personil baru yang bekerja di Radiologi wajib mendapat
orientasi mengenai ruang lingkup pekerjaan yang akan ditempati, kesehatan
kerja dan keselamatan kerja.
Untuk petugas yang lama dilakukan penyegaran setiap satu bulan sekali.
Materi orientasi bagi petugas yang baru melingkupi :
Ruang lingkup pekerjaan sesuai dengan bidangnya
Pengenalan bahan dan zat berbahaya yang ada di Radiologi
Pengenalan alat pelindung diri ( APD )
Pengenalan Keamanan Radiasi
Prosedur Proteksi dan Keselamatan Radiasi
Cara penanggulangan dan penanganan kecelakaan Radiasi
Cara penanganan pasien kritis
9
BAB III
STANDAR FASILITAS
10
B. Standar Fasilitas
Radiologi Rumkit Dustira memiliki ruang pemeriksaan / ruang kerja yang
nyaman dan sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Semua ruang
pemeriksaan sudah dilengkapi dengan timbal, beberapa ruangan sudah
dilengkapi dengan AC.
Ruang pelayanan radiologi harus memenuhi persyaratan luas dan proteksi
radiasi yang telah ditetapkan oleh BAPETEN sehingga aman dan nyaman baik
bagi petugas maupun pasien serta lingkungannya.
Berikut adalah kondisi ruangan pemeriksaan radiologi dan sarana untuk
proteksi radiasi Instalasi Radiologi Rumah Sakit Dustira :
1. Kamar 2 ( pemeriksaan USG )
Ukuran Ruang : panjang x lebar x tinggi = 4 x 4 x 3 meter
Tidak ada jendela dalam ruangan.
Tebal dinding : tembok setebal 30 cm.
2. Kamar 4 ( pemeriksaan dental dan panoramic )
Ukuran Ruang : panjang x lebar x tinggi = 5,6 x 4,8 x 3 meter
Tidak ada jendela dalam ruangan.
Tebal dinding : tembok setebal 30 cm
Pintu dilapisi penahan radiasi 2mm Pb dan dilengkapi lampu merah
tanda bahaya radiasi.
3. Kamar 5 ( Pemeriksaan Konfensional )
Ukuran Ruang : panjang x lebar x tinggi = 6,4 x 6 x 3 meter.
Tidak ada jendela dalam ruangan.
Tebal dinding : tembok setebal 30cm.
Ruang kendali pesawat Sinar-X dilengkapi dengan kaca Pb ukuran
47 x 57 cm.
11
Pintu dilapisi penahan radiasi 2mm Pb dan dilengkapi lampu merah
tanda bahaya radiasi.
4. Kamar 6 ( pemeriksaan Konvensional polos dan kontras )
Ukuran Ruang : panjang x lebar x tinggi = 4,4 x 3,6 x 3 meter
Tidak ada jendela dalam ruangan
Tebal dinding : tembok setebal 30 cm.
Pintu dilapisi penahan radiasi 2mm Pb dan dilengkapi lampu merah
tanda bahaya radiasi.
5. Kamar 7 ( pemeriksaan konvensinal polos dan kontras )
Ukuran Ruang : panjang x lebar x tinggi = 8 x 6,2 x 2,8 meter.
Tidak ada jendela dalam ruangan.
Tebal dinding : tembok setebal 30 cm.
Ruang kendali pesawat Sinar-X dilengkapi dengan kaca Pb ukuran 100
x 50 cm.
Pintu dilapisi penahan radiasi 2mm Pb dan dilengkapi lampu merah
tanda bahaya radiasi.
6. Kamar CT Scan
Ukuran Ruang : panjang x lebar x tinggi = 6 x 4 x 3 meter.
AC yang terus menyala
Ruang kendali pesawat CT Scan dilewngkapi dengan kaca Pb ukuran
150 x 80 cm
Pintu dilapisi penahan radiasi 2mm Pb dan dilengkapi lampu merah
tanda bahaya radiasi
7. Kamar gelap
Ukuran Ruang : panjang x lebar x tinggi = 3 x 3 x 3 meter.
ada exhaust fan / udara mengalir.
Air yang mengalir dalam bak pencuci atau automatic processor.
12
Jenis, jumlah dan kemampuan peralatan Radiologi Rumah Sakit Dustira adalah
sebagai berikut :
No Jenis Pesawat Kemampuan Jumlah Kondisi
1 CT Scan ( Toshiba ) 64 Slice + Injector 1 unit baik
2 USG 2 dimensi 1 unit baik
3 Dental ( Yoshida Panpas 601 ) 60 kv, 10 mA 1 unit baik
4 Panoramic ( Sanko Panograph 2 ) 90 kv, 10 mA 1 unit baik
5 Stationer ( Toshiba KXO 15 E ) 150 kv, 640 mA 2 unit baik
6 Stationer ( Listem Rex-25 R ) 125 kv, 320 mA 1 unit baik
7 Mobile ( Hitachi Sirus 80N ) 100 kv, 300 mA 1 unit baik
Perawatan seluruh peralatan sinar-X yang ada dilakukan secara teratur
dan terjadwal. Pemeliharaan dilakukan oleh petugas radiologi dan petugas
teknik Jang Med Rumah Sakit Dustira. Perawatan CT Scan dan USG
dilakukan oleh pihak luar yang ditunjuk oleh rumah sakit.
Kalibrasi alat-alat X-Ray dilakukan setiap satu tahun sekali. Kalibrasi
dilakukan untuk memastikan bahwa nilai output/ nilai keluaran alat X-Ray
sesuai antara faktor yang disetting dengan nilai yang keluar/ yang diterima
oleh pasien.
Seluruh alat X-Ray yang digunakan dalam pelayanan radiologi memiliki
ijin pengoperasian yang diterbitkan oleh BAPETEN. Ijin berlaku untuk jangka
waktu 2 ( dua ) tahun, dan harus diajukan untuk diperpanjang pada masa
berakhirnya ijin tersebut.
Selain tersedianya alat dalam jumlah yang cukup baik dari segi jenis
maupun jumlah dan kemampuannya, juga harus tersedia obat-obatan dan
peralatan basic life support untuk mengatasi keadaan gawat darurat akibat
reaksi terhadap bahan kontras.
13
Peralatan yang harus tersedia antara lain persediaan peralatan suntik
( needle dan wing needle ), infusion set, standar infus dan suction.
Obat-obatan basic life support yang harus tersedia antara lain adrenalin,
anti histamin, cortisone dan dopamine. Juga harus tersedia tabung oksigen
yang selalu terkontrol isinya.
Pesawat yang mengalami kerusakan yang berakibat tidak bisa dipakai
untuk melayani pasien, untuk sementara waktu pasien dirujuk/ dikirim ke
Rumah Sakit Integrasi ( RS. AU Salamun Bandung )
BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN
Pelayanan Radiologi rutin dan gawat darurat terbuka 24 jam, pelaksanaan
pemeriksaan dikerjakan pada jam dinas / hari kerja ( pukul 07.00 s/d pukul 14.30 )
dan ( pukul 14.30 s/d pukul 07.00 keesokan harinya ) dikerjakan oleh petugas
jaga Radiologi.
Adapun alur pelaksanaan pelayanan Radiologi sebagai berikut :
A. Pendaftaran Pemeriksaan
Pasien yang akan dilakukan pemeriksaan Radiologi pertama-tama diterima
dibagian pendaftaran untuk dilakukan registrasi/ pencatatan di buku pendaftaran
sesuai dengan status pasien.
Petugas administrasi melakukan pendaftaran yaitu mencatat data-data pasien
rawat inap, rawat jalan maupun pasien dari klinik luar rumah sakit pada buku
pendaftaran radiologi.
Formulir permintaan pemeriksaan Radiologi setelah dicatat oleh petugas
pendaftaran akan diserahkan ke kamar pemeriksaan.
14
B. Persiapan Pemeriksaan
Pemeriksaan radiologi untuk tujuan diagnostik hanya dilakukan sesuai
dengan permintaan yang tercantum pada formulir permintaan pemeriksaan
radiologi. Dalam surat permintaan tersebut dicantumkan keadaan klinis pasien.
Untuk pemeriksaan tanpa persiapan bisa langsung dikerjakan sedangkan
untuk pemeriksaan dengan persiapan akan dibuatkan penjadwalan di buku
penjadwalan dan akan diberitahukan tentang persiapan yang harus
dilaksanakan.
Sesuai kemampuan dan ketetapan yang telah disepakati untuk penjadwalan
pemeriksaan radiologi setiap harinya adalah sebagai berikut :
1. Pemeriksaan CT Scan dengan kontras 2 (dua) pasien
2. Pemeriksaan USG 13 ( tiga belas ) pasien
3. Pemeriksaan Konvensional dengan kontras 2 (dua) pasien
Untuk pemeriksaan dengan kasus cito bisa langsung dikerjakan.
Untuk penjadwalan pada jam kerja dilayani oleh petugas pendaftaran dan
penjadwalan diluar jam kerja / hari libur dilayani oleh petugas jaga.
C. Pelaksanaan Pemeriksaan
Radiografer memanggil pasien lalu mengindentifikasi pasien sesuai dengan
yang yang tercatat pada lembar permintaan pemeriksaan radiologi ( Nama,
Umur, No. RM, gelang pasien ). Jika sudah sesuai selanjutnya radiografer
melaksanaan pemeriksaan/ pemotretan sesuai dengan tahapan - tahapan yang
sudah ditetapkan seperti menyiapkan kaset, pengaturan pesawat, pengaturan/
persiapan pasien dan lain-lain.
Setelah dilakukan pemeriksaan, pasien dipersilahkan menunggu diluar untuk
dicek hasilnya, setelah hasilnya bagus pasien diberitahukan tempat dan waktu
pengambilan hasil.
15
Kaset yang sudah diekspos oleh radiografer dimasukan ke kotak ekspos
untuk selanjutnya dilakukan proses pencucian oleh petugas kamar gelap.
Radiografer mencatat kegiatan pelaksanaarn pemeriksaan pada buku
pemeriksaan untuk bahan laporan tiap-tiap ruangan ( laporan pemakaian film dan
pemakaian bahan kontras )
D. Pencucian Film.
Petugas kamar gelap mengambil film dari kotak ekspos dan dimasukan ke
mesin cuci otomatis, selama proses pencucian dan pengisian kaset ruangan
harus dalam keadaan gelap, pintu tertutup dan hanya deterangi oleh lampu
merah.
E. Pemberian Expertise
Ekspertise foto Rontgen baik di dalam maupun di luar jam kerja dilakukan
oleh Dokter Spesialis Radiologi.
a. Di dalam Jam kerja
Foto Rontgen akan diekspertise dan bisa ditunggu hasilnya dalam jangka
waktu ≤ dari 3 jam dengan ketentuan foto tersebut dilaksanakan ≤ jam 12
siang hari pemeriksaan.
b. Di luar jam kerja / kasus cito
Foto dapat dipinjam basah dengan ketentuan setelah dilihat oleh dokter
pengirim harus segera dikembalikan ke bagian Radiologi untuk di
ekspertise oleh Dokter Spesialis Radiologi. Dokter Spesialis Radiologi
akan memberitahukan secepatnya kepada dokter yang mengirim apabila
ditemukan hal-hal serius.
16
F. Penyerahan Hasil
Pasien / petugas ruang perawatan yang akan mengambil hasil akan dilayani
oleh petugas penyerahan hasil di loket pengambilan hasil dengan menunjukan
kartu berobat.
Sebelum menyerahkan hasil petugas loket pengambilan hasil akan
mencocokan nomor rontgen, nama pasien, jenis foto dan mencatat di buku
pengambilan hasil.
BAB V
LOGISTIK
Perbekalan kesehatan yang diperlukan oleh Radiologi secara rutin tiap bulan
diajukan ke Instalasi Farmasi dengan mengacu pada pemakaian bulan sebelumnya,
untuk cadangan disimpan di gudang farmasi sedang yang ada di Radiologi untuk
pemakaian selama satu bulan, apabila sebelum satu bulan ada bekkes yang sudah
habis petugas Radiologi membuat nota dinas untuk meminta bekkes yang
diperlukan ke gudang farmasi. dalam keadaan dimana bekkes di Radiologi sudah
menipis dan koordinasi dengan gudang farmasi ternyata belum bisa mendukung
untuk pelayanan pasien diprioritaskan kepada pasien Rawat inap / cito.
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN
A. Pengertian
Keadaan dimana pasien merasa nyaman, tidak tersakiti dan tidak cedera baik
sebelum, sedang dan setelah dilakukan pemeriksaan di Radiologi.
B. Tujuan
Agar tidak menambah beban rasa sakit dan pasien segera sembuh.
17
C. Tata Laksana Keselamatan
Pasien yang akan dilakukan pemeriksaan di Radiologi akan diperhatikan dulu
keadaannya oleh petugas Radiologi sebelum dilakukan tindakan. Apabila pasien
keadaannya sulit untuk dilakukan pemeriksaan, petugas Radiologi akan
berkoordinasi dengan perawat pengantar atau keluarga untuk menjaga /
memegangil pasien supaya pasien dapat dilakukan pemeriksaan kemudian
perawat / keluarga yang memegangi pasien dilengkapi / mengenakan apron.
Pasien yang alergi terhadap obat kontras atau pasien yang dalam pemeriksaan
terjadi keadaan kritis akan ditangani sesuai SPO yang ada.
Berikan informasi yang jelas kepada pasien mengenai pemeriksaan yang
akan dilakukan serta tata cara yang harus dilakukan oleh pasien serta
membatasi luas lapangan penyinaran yang akan dilakukan dengan objek yang
diperiksa. Diusahakan agar tidak mengulang pemotretan dan mempersingkat
waktu penyinaran.
BAB VII
KESELAMATAN KERJA
Petugas Radiologi dalam menjalankan tugasnya harus professional dan harus
mengacu pada pedoman / SPO yang ada, jauhkan diri personil dari sumber radiasi,
hindari paparan radiasi primer, analisa bahaya setiap pekerjaan, selalu
menggunakan alat pelindung diri (APD).
Secara berkala setiap satu tahun sekali semua petugas Radiologi dilakukan
pemeriksaan kesehatan. Apabila dalam menjalankan tugas terjadi sesuatu hal yang
tidak diharapkan, petugas Radiologi akan berkoordinasi dengan unit-unit seperti
Urdal, Jangmed dan K3.
18
BAB VIII
PROTEKSI RADIASI
Proteksi radiasi merupakan hal penting dan mutlak harus diperhatikan, untuk
menjaga keselamatan pasien, petugas dan masyarakat dari dampak radiasi.
Ruang pemeriksaan Radiologi semuanya harus dilengkapi / dilapisi dengan
timbal, semua pesawat kondisinya layak pakai dan secara rutin dikalibrasi satu
tahun sekali.
APD yang ada di Radiologi diantaranya :
Kaca mata timbal
Thyroid Collar,
Apron, Gloves
Pelindung Gonad
Tabir Timbal.
Langkah-langkah pencegahan bahaya radiasi :
Pemasang stiker bahaya radiasi di setiap pintu pemeriksaan
Pemasangan lampu warna merah di atas pintu pemeriksaan
Penggunaan kolimator sesuai objek yang di foto
Pengaturan kondisi expose dengan cermat
Penggunaan APD ( pelindung gonad ) untuk organ sensitive yang tidak
diperiksa
Penggunaan apron untuk petugas / keluarga pasien bila diperlukan
bantuan
Penggunaan tabir pelindung untuk petugas Radiologi
Meminimalisasi / menghindari proses foto ulang
Secara berkala petugas PPR mengecek keadaan dan kelayakan semua
alat peralatan yang diperlukan
19
Dalam menjalankan tugasnya semua petugas Radiologi dilengkapi / memakai
film badge untuk memonitor paparan radiasi yang diterima yang setiap bulan sekali
dikirim ke BPFK untuk diproses.
BAB IX
PENGENDALIAN MUTU
Untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan yang bermu, di era dimana
pengetahuan masyarakat akan kesehatan semakin tinggi bukanlah perkara mudah.
Radiologi Rumah Sakit Dustira dituntut untuk dapat memenuhi kebutuhan
masyarakat yang semakin meningkat dan beragam.
Prosedur evaluasi akan menilai profesionalisme dalam pelayanan radiologi dan
pengalaman etika profesi setiap staf.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka suatu keharusan bagi instalasi Radiologi
untuk selalu dapat meningkatkan kualitas pelayanannya. Upaya peningkatan mutu
pelayanan radiologi dituangkan dalam bentuk program-program.
1. Tujuan dari program peningkatan kualitas pelayanan radiologi antara lain:
Meningkatnya mutu pelayanan radiologi Rumah Sakit Dustira sejalan
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan
pasien di era globalisasi.
Meningkatkan kepercayaan pasien/ pelanggan terhadap pelayanan
instalasi radiologi Rumah Sakit Dustira.
Meminimalkan kemungkinan munculnya komplain dari pasien yang kurang
bermutu.
2. Sasaran dari program peningkatan kualitas radiologi antara lain:
Meningkatnya kecepatan pelayanan radiologi.
Menurunnya prosentase film gagal.
20
Meningkatnya mutu tampilan administrasi radiologi.
3. Evaluasi mutu pelayanan radiologi dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu:
Melalui angket mutu pelayanan instalasi radiologi yang diisi oleh pasien
instalasi radiologi.
Melalui angket evaluasi ekspertise instalasi radiologi yang diisi oleh
dokter-dokter yang merujuk pasien.
Angket mutu pelayanan instalasi radiologi yang diisi oleh pasien
akan direkap tiap bulan dan akan dilakukan analisa dan evaluasinya,
kemudian akan ditentukan tindak lanjutnya. Angket mutu ini berisi evaluasi
terhadap kecepatan pelayanan radiologi yang dihitung sejak pasien
melakukan pemeriksaan radiologi sampai pasien menerima hasil foto
lengkap dan ekspertisenya, evaluasi terhadap keramahan staf dalam
melayani dan evaluasi terhadap kemudahan dalam menemukan lokasi
instalasi radiologi.
Penyebaran angket evaluasi ekspertise dilakukan tiap 6 (enam)
bulan sekali. Angket evaluasi ekspertise instalasi radiologi yang diisi oleh
dokter-dokter yang merujuk pasien akan direkap tiap 6 (enam) bulan dan
akan dilakukan analisa-analisa evaluasinya, kemudian akan ditentukan
tindak lanjutnya. Angket evaluasi untuk dokter pengirim berisi evaluasi
terhadap evaluasi terhadap ekspertise foto-foto rontgen yang dibuat oleh
dokter spesialis radiologi, evaluasi terhadap kualitas foto rontgen
(ketepatan posisi, ketepatan faktor eksposi) dan evaluasi terhadap kualitas
pencucian film.
Mutu pelayanan radiologi selain ditentukan oleh mutu sumber daya manusia
juga sangat tergantung pada pelayanan peralatan radiologi yang harus selalu dalam
keadaan prima baik secara fisik maupun fungsinya.
21
Untuk mendapatkan kondisi peralatan yang selalu prima dan siap pakai perlu
dilakukan pemeriksaan yang dapat menjamin kualitas dan keselamatan (safety)
peralatan radiologi serta peralatan penunjangnya.
1. Pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan terhadap peralatan tersebut antara
lain:
Pemeriksaan fisik alat secara visual yang dilaksanakan sebelum arus
listrik dihubungkan ke suatu rangkaian pengendali, rangkaian pembangkit
dan rangkaian pengaman dari suatu jaringan listrik. Pemeriksaan tidak hanya
penglihatan tetapi juga dengan meraba, menyentuh, menggerakkan pada
bagian yang memang dapat digerakkan dengan memutar, menekan atau
menarik. Pemeriksaan yang dilakukan untuk meyakinkan bahwa peralatan
dalam keadaan aman pada kedudukan atau posisinya, sehingga peralatan
dapat digunakan secara benar. Pemeriksaan fisik dilakukan oleh petugas
secara kontinyu sebelum peralatan dipakai.
Pemeriksaan fisik alat secara manual meliputi:
Catu arus
Catu daya
Rangka dan konstruksi
Badan alat dan permukaan
Mekanikal
Meja pasien
Kolimator (conus/diafragma)
Lampu indikator dan tombol
Pencahayaan ruang
Kondisi udara
Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut di atas dilakukan oleh radiografer dan
atau bagian teknik Rumkit Distira.
22
2. Pemeriksaan secara kuantitatif dan kualitatif yang meliputi:
Pemeriksaan meja control (control table) untuk memastikan indikator
besaran listrik antara lain tegangan, arus, daya, dan frekuensi harus
dalam keadaan baik.
Pemeriksaan akurasi kilo volt (kV) untuk mengetahui kV yang ditunjukkan
oleh kV meter sesuai dengan kV yang dikeluarkan oleh High Tension
Transformator (HTT).
Pemeriksaan linierisasi mA (reciprocity mAs) adalah untuk mengetahui
perubahan penghitaman film dengan adanya perubahan mA dan s pada
tingkat mAs yang sama.
Pemeriksaan focal spot, dilakukan untuk mengetahui ukuran lapangan
focal spot.
Pemeriksaan kolimator untuk mengetahui ketepatan titik sentrasi
penyinaran dan luas lapangan.
Pemeriksaan out put pesawat untuk pemakaian radiografi, untuk
mengetahui dosis paparan radiasi yang diterima oleh pasien pada
pemeriksaan radiografi.
Pengukuran radiasi bocor, untuk mengetahui apakah ada kebocoran
radiasi pada tabung X-Ray.
Pengukuran paparan radiasi hambur, untuk mengetahui dosis paparan
radiasi yang ada di lingkungan sekitar ruang radiologi.
Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut di atas dilakukan oleh badan
pelaksana yang ditunjuk oleh rumah sakit.
3. Pemeriksaan kamar gelap yang meliputi:
Pemeriksaan developer dan fixer termasuk didalamnya pembuatan cairan/
larutan developer dan fixer.
Pemeriksaan safelight.
Pemeriksaan timer pada automatic processor yang berfungsi sebagai
tanda selang waktu processing film yang diset telah terpenuhi.
Pemeriksaan transfer box yang berfungsi untuk transfer kaset yang sudah
diekspose dan yang belum diekspose.
23
Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut di atas dilakukan oleh petugas
kamar gelap berkoordinasi dengan petugas teknik ( Jangmed)
Rumah Sakit Dustira.
BAB X
PENUTUP
Pedoman Pelayanan Radiologi Rumah Sakit [Link] 03.05.01 Dustira
merupakan standar yang baku dalam penyelenggaraan radiologi di Rumah Sakit
Dustira. Buku Pedoman ini berisi falsafah dan tujuan Instalasi Radiologi, fasilitas dan
peralatan, kebijakan dan prosedur, pengembangan staf dan program pendidikan
serta evaluasi dan pengendalian mutu Instalasi Radiologi.
Penyusunan buku pedoman ini mengacu pada beberapa sumber yang telah
ditetapkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia maupun badan-badan
lain seperti Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN).
Diharapkan penerapan pedoman pelayanan Radiologi ini dapat mewujudukan
pelayanan radiologi yang prima, bermutu dan aman.
Selanjutnya perlu dilakukan evaluasi yang berkelanjutan terhadap hasil dari
penerapan pedoman pelayanan ini untuk kemudian dapat dilakukan perbaikan-
perbaikan sehinggan tercapai tujuan pelayanan Radiologi yang telah ditetapkan.
Ditetapkan : di Cimahi
Pada Tanggal : 2013
Kepala Rumah Sakit Dustira
dr. Basuki Triantoro, Sp. An.
Kolonel Ckm Nrp. 33894
24