7HNQRORJL 3HQJRODKDQ GDQ 0DQIDDW %DPEX««(IIHQGL $UVDG
REVIEW
TEKNOLOGI PENGOLAHAN DAN MANFAAT BAMBU
The Technology Process and Used of Bamboo
Effendi Arsad
Balai Riset dan Standardisasi Industri Banjarbaru
Jl. P. Batur Barat No.2. Telp. 0511 - 4772461, 4774861 Banjarbaru
E-mail : [Link]@[Link]
Diterima 19 Januari 2015 disetujui 11 Mei 2015
ABSTRAK
Bambu di Indonesia potensinya sangat menjanjikan untuk dimanfaatkan dengan
baik, bambu merupakan tumbuhan mudah dikembangkan dan mempunyai daur hidup
yang relatif cepat, dengan waktu panen hanya 3 ± 4 tahun. Bambu merupakan tumbuhan
yang diharapkan dapat dijadikan sebagai substitusi bahan baku kayu komersial,
karena kayu komersial semakin tahun produksinya makin menurun dan harganya yang
relatif mahal. Sedangkan bambu memiliki keunggulan tersendiri dibanding kayu, karena
bambu mudah dikembangkan dibanding kayu, ulet, elastisitas yang tinggi, mudah
dibentuk dan harganya relatif murah dibanding kayu. Bambu dapat digunakan dengan
teknologi sederhana hingga teknologi tinggi, seperti di Eropah, Amerika dan banyak
Negara lainnya. Maksud dan tujuan dari penulisan ini adalah agar bambu di Indonesia
dapat dikembangkan dalam bidang perkebunan, teknologi pengolahan, teknologi proses,
teknologi pengawetan dan lainnya, Secara maksimal dan berkualitas, guna meningkatkan
nilai tambah dan nilai ekonomis bambu dengan baik.
Kata kunci : bambu, teknologi pengolahan, manfaat
ABSTRACT
The potential of bamboo in Indonesia is very promising. Bamboo ison easy-to-grow
and fast growing spacies with the harvesting period is about 3-4 years. Bamboo is
expected to substitute commercial woods because the production of commercial wood
keeps decreasinhg and the price is expensive. Bamboo has its own superiority rompore to
wood. Bamboo is easyer to cultivate, more flexible and elastice, easyer to work on and
cheaper compare to wood. Bamboo can be processing using low to high technology, tuch
as in Europe, America and other countries. The purpose and objective of this researth is
to develop. Bamboo, in terms of bamboo plantation, technology process, hi-tech
application and preservation technology to increase its added and economic value.
Keywords: bamboo, technology, used
I. PENDAHULUAN
Bambu merupakan salah satu jenis dilengkungkan atau memiliki elastisitas
rumput-rumputan yang termasuk ke dalam dan nilai dekoratif yang tinggi.
famili Gramineae dan merupakan bagian Sulastiningsih et-al (2005), mengemukakan
dari komoditas hasil hutan bukan kayu. bahwa bambu merupakan tanaman cepat
Novriyanti, (2005) dalam Arsad, E (2014) tumbuh dan mempunyai daur yang relatif
mengemukakan bahwa bambu sangat pendek yaitu 3 ± 4 tahun sudah bisa
potensial sebagai bahan substitusi kayu dipanen. Bambu sebagai salah satu bahan
karena rumpunan bambu dapat terus baku yang mudah dibelah, dibentuk dan
berproduksi selama pemanenannya mudah pengerjaannya, disamping itu
terkendali dan terencana. Bambu memiliki harganya relatif murah dibandingkan bahan
beberapa keunggulan dibanding kayu yaitu baku kayu. Bambu merupakan tumbuhan
memiliki rasio penyusutan yang kecil, dapat yang mengandung lignoselulosa dan bisa
45
Jurnal Riset Industri Hasil Hutan Vol.7, No.1, Juni 2015: 45 ±52
dimanfaatkan untuk banyak keperluan. x Bambu Duri (Bambusa blumeana Bl)
Menurut Sulastiningsih dan Santoso x Bambu buluh atau Bambu suluk
(2005). Masalah yang timbul dalam (Gigantochloa levis Merr)
pemanfaatan bambu sebagai bahan x Bambu Tamiang ( Schizotachysim
pertukangan adalah keterbatasan bentuk blunei Ness)
dan dimensinya serta mudah terserang x Bambu Apus (Gigantochloa apus Kurz)
organisme perusak bambu. Untuk x Bambu Legi (Gigantochloa atter )
keperluan itu semua, perlu dilakukan x Bambu Cina (Bambusa multiplex )
laminasi dan teknologi pengawetan. Selain x Bambu Haur/Haur kuning
itu bambu bisa dimanfaatkan sebagai
bahan pembuatan wood pellet atau Sumber : Arsad E. (2013)
biopellet. Teknologi ini mulai
dikembangkan di Swedia pada tahun 80 - Dari sekian jenis bambu tersebut yang
an. Sedangkan di Indonesia teknologi ini banyak tumbuh di daerah Kalimantan
baru dikembangkan (Windarwati, 2011). Selatan yaitu bambu Batung, Bambu Apus
dan Bambu Buluh, tetapi hingga kini belum
II. POTENSI BAMBU dimanfaatkan masyarakat secara optimal.
Untuk kepentingan tersebut, bambu bisa
Ditinjau dari potensinya, pada tahun dijadikan sebagai [Link] alternatif
2000 luas tanaman bambu di Indonesia yang bernilai ekonomis. Pada saat ini
adalah 2.104.000 ha yang terdiri dari ketergantungan kita semua terhadap
690.000 ha luas tanaman bambu di dalam energi tidak terbarukan sangatlah besar.
kawasan hutan dan 1.414.000 ha luas Oleh karena itu guna meringankan beban
tanaman bambu di luar kawasan hutan tersebut, pemerintah berupaya keras
(Inbar, 2005 dalam Arsad E, 2014). mencari sumber-sumber energi alternatif
Menurut Kanoh, M (2009), di Kab. Hulu yang dapat diperbaharui, diantaranya
Sungai Selatan luas areal bambu energi biomassa. Biomassa merupakan
diperkirakan sekitar 22.158 ha. dengan energi terbarukan dalam bentuk energi
produksi sekitar 3000 batang/ha. padat yang berasal dari tumbuhan
Diperkirakan ada 600 - 700 jenis bambu berlignoselulosa baik yang langsung
di dunia, 125 jenis bambu berada di digunakan atau diproses terlebih dahulu
Indonesia dan 50 jenis diantaranya (Tampobolon, 2008). Peranan bambu
mempunyai potensi yang sangat besar sebagai bahan substitusi kayu sudah
untuk dikembangkan sebagai Bahan banyak digunakan di berbagai negara.
kerajinan dan industri. Bambu sebagai Selain karena bambu memiliki elastisitas
salah satu sumber daya alam yang dan kekuatan, bambu cocok untuk
potensial untuk dikembangkan karena konstruksi seperti baja karena bentuknya
bambu merupakan tumbuhan multi guna yang menyerupai pipa atau dijadikan
dan cepat panen. Bambu dimungkinkan bahan konstruksi modern dengan teknik
dapat menggantikan kayu atau paling tidak penyambungan (Kusuma, 2006). Menurut
dapat mensubstitusi kayu komersial baik Sulastiningsih (2006), bambu lamina dari
untuk kebutuhan sekarang maupun yang cina untuk produk lantai bisa dijual dengan
akan datang. Mengingat Indonesia harga sekitar Rp. 250.000/m2. Oleh karena
merupakan negara penghasil bambu itu perlu adanya upaya pegembangan
terbesar ketiga dunia, setelah Cina dan kearah yang lebih baik.
Thailand Hidayat, (2012).
III. JENIS - JENIS BAMBU IV. MANFAAT BAMBU
DI KALIMANTAN SELATAN Bambu merupakan salah satu
x Bambu Batung atau Betung tumbuhan yang penting bagi kehidupan
(Dindrocalamus asper) masyarakat dipedesaan. Bambu bersifat
x Pring kuning /Bambu kuning (Bambusa kosmopolit yaitu dapat bertahan hidup
volgaris Schard) dalam segala cuaca, baik di daerah panas
46
7HNQRORJL 3HQJRODKDQ GDQ 0DQIDDW %DPEX««(IIHQGL $UVDG
maupun dingin, didataran rendah, tebing terbuka luas mengingat limbah hasil hutan
maupun dipegunungan. Bambu memiliki Indonesia sangat besar (Anonim, 2010).
sifat dasar kayu dan bukan kayu karena Beberapa penelitian tentang wood pellet
bisa digunakan untuk konstruksi rumah, telah dilakukan, menurut Wang dan Yan,
jembatan, barang kerajinan, bahan (2005), pemanfaatan wood pellet mampu
penghara industri alat musik, tirai, mengurangi emisi CO2 dan menghasilkan
peralatan dapur, sumpit dan lain efisiensi panas sebesar 80%. Pembuatan
sebagainya. Di masyarakat, penggunaan wood pellet dari sumber terbarukan
bambu masih terbatas, faktor yang sangat (renewable resource), seperti limbah kayu
berpengaruh adalah sifat fisik dan (waste wood) berbagai sumber bahan
mekanik, ketidak seragaman panjang ruas baku kayu (feed stock) dapat digunakan
dan ketidak awetan terhadap organisme untuk menghasilkan wood pellet. Untuk
perusak. Sunardiyanto, (2012), bahan baku limbah kayu hanya
menyatakan terkait hal tersebut bambu memerlukan sedikit pengeringan (bahkan
perlu dilakukan teknologi pengolahan dan tanpa pengeringan) sebelum memasuki
pengawetan. Dengan adanya teknologi proses produksi pellet. Menurut Terroka
tersebut, maka diharapkan penggunaan et al (2009), biomassa pellet secara
bambu dapat ditingkatkan untuk berbagai signifikan mempunyai emisi yang lebih
keperluan, baik untuk keperluan industri, rendah dari pada kayu bakar, tetapi masih
bambu juga sebagai bahan minuman, lebih tinggi dibanding pembakaran gas
lotion, tusuk gigi, tusuk sate, bahan alam. Menurut Rocha (2006), kekuatan
pengisi kayu lapis, alat musik dan lainnya, mekanis wood pellet yang dihasilkan pada
maupun kebutuhan pembangunan umumnya cukup rendah, mudah patah
perumahan. Beberapa teknologi yang dan kurang efisien. Kualitas bakaran tidak
sudah dilakukan sebagai berikut : mengandung banyak asap seperti kayu
bakar, Hendra (2012), mengemukakan
4.1 Teknologi Pengolahan Bambu wood pellet dapat ditentukan dari bahan
baku dan proses produksi. Oleh karena itu
4.1.1. Pembuatan wood pellet
diperlukan pengembangan teknologi
Pembuatan Wood Pellet dapat pula
konversi biomassa yang baru, murah dan
digunakan bahan baku selain kayu yaitu
efisien. Penggunaan pellet untuk bahan
bambu maupun dari limbah pengolahan
bakar cukup mudah dan hasil pe Total
bambu. Karena bambu merupakan
kontribusi sumber energi biomassa
tumbuhan yang mengandung
diperkirakan sebesar 36% dari total
lignoselulosa. Bambu sebagai salah satu
kebutuhan energi Indonesia, selebihnya
sumber daya alam yang cukup potensial.
adalah untuk kebutuhan rumah tangga dan
Bambu memiliki sifat-sifat yang positif
industri skala rumah tangga. Prihandana
seperti kuat, ulet, mudah dibelah, dibentuk
dan Hendroko (2007).
dan mudah pengerjaannya, disamping itu
harganya relatif murah dibandingkan bahan 4.1.2. Pembuatan Bambu Lamina
baku kayu. Disamping itu bambu Bambu memiliki batang yang kecil dan
merupakan tanaman yang cepat panen. berlubang, sehingga jika digunakan untuk
Pada umumnya pembuatan wood pellet keperluan yang lebih lebar, panjang dan
berasal dari limbah industri penggergajian tebal atau datar perlu dilakukan teknologi
kayu, limbah tebangan dan hasil hutan perekatan atau laminasi, misalkan jika
lainnya, termasuk bambu. Industri di digunakan untuk keperluan pembuatan
Indonesia baru mampu menghasilkan mebel, lantai dan dinding bangunan.
wood pellet sebesar 40.000 ton sedangkan Bambu lamina dibuat dari bahan baku
produksi di dunia mencapai 10 juta ton. bambu yang dibentuk menjadi strip
Jumlah ini belum memenuhi kebutuhan dengan ukuran panjang sesuai dengan
dunia pada tahun 2010 yang diperkirakan kemampuan alat press, lebar strip sesuai
mencapai 12,7 juta ton. Peluang dengan keadaan bambu yang digunakan
mengembangkan wood pellet sangat untuk pembuatan bambu lamina atau
47
Jurnal Riset Industri Hasil Hutan Vol.7, No.1, Juni 2015: 45 ±52
bambu lapis yang diinginkan. Tebal strip kamar, setelah dingin dilakukan pembuatan
bambu yang digunakan untuk bambu contoh uji untuk diuji sifat fisik dan
lamina atau papan buatan tergantung mekanik. Menurut Sulastiningsih et al
dengan jenis bambu dan tebal bambu, (2004) dalam Arhamsyah (2011), pada
seperti bambu Betung, bambu Andong, umumnya kerapatan produk komposit
bambu Hitam dan lainnya. Menurut dipengaruhi oleh kerapatan bahan
Iskandar (2007), penggunaan bambu penyusunnya, perekat dan proses
lapis atau lamina antara lain untuk rangka perekatan. Seperti halnya dengan kadar
balok, dinding, lantai, pintu, lemari, meja, air, kerapatan juga dipengaruhi oleh
kursi dan peti kemas. Teknologi yang perbedaan bahan baku, perekat dan kadar
digunakan terdiri dari pengeringan strip perekat
bambu pada suhu kamar, perekatan dan
4.1.4. Arang Bambu
pengepressan dengan tekanan dan waktu
Arang bambu dibuat dari bahan baku
tertentu. Perekat yang digunakan bisa
bambu, Bambu yang digunakan pada
menggunakan Urea Formaldehid maupun
umumnya adalah jenis bambu yang
Poly Vinyl Acetat dengan lama waktu press
memiliki daging bambu yang cukup tebal,
sesuai rencana kerja. Untuk penggunaan
proses pembuatan arang bambu dilakukan
perekat UF waktu pengepressan tidak
dengan cara memotong bambu yang masih
terlalu lama karena menggunakan panas,
segar terlebih dahulu dilakukan
sedangkan jika menggunakan perekat Poly
pengeringan agar bambu mudah dilakukan
Vinyl Acetat biasanya lama waktu
proses karbonisasi atau pengarangan
pengepressan selama 12 jam tanpa
adapun panjangnya disesuaikan dengan
pemanasan. Menurut Misdarti, (2006)
besar dan tingginya alat dan bisa juga
dalam Arhamsyah, (2011). Nilai keteguhan
dengan cara timbun. Cara timbun ini yaitu
rekat dipengaruhi oleh kandungan padat
dengan menggali tanah, dilakukan
dari perekat, semakin tinggi kandungan
pembakaran dengan waktu 5 sampai
padat maka. kadar resin akan semakin
dengan 6 jam. Selanjutnya dilakukan
tinggi, hal itu menunjukkan bahwa perekat
pembongkaran arang dalam tungku.
tersebut berkualitas baik. Selain itu
Setelah itu dilakukan proses pendinginan.
keteguhan rekat dipengaruhi oleh kadar
Kemudian dilakukan pengujian sesuai
abu perekat. Semakin tinggi kadar abu
dengan ketentuan yang mengacu standar
maka nilai keteguhan rekatnya akan
(SNI 01 - 1682 ± 1996) tentang syarat
semakin berkurang.
arang tempurung kelapa.
4.1.3. Bambu Inti Kayu Lapis Adapun manfaat dari arang bambu
Bambu dapat digunakan sebagai selain sebagai pelindung dari gelombang
bahan baku untuk inti kayu lapis, tatapi elektromagnet, arang bambu juga
dalam prosesnya terlebih dahulu bambu bermanfaat sebagai penghilang bau dan
dilakukan pemotongan dan pembelahan kelembaban, untuk perawatan kulit,
dilanjutkan dengan pembuatan strip. penjernihan air, menambah aroma dan
Dilakukan pengeringan strip pada suhu meneral dalam memasak nasi, menjaga air
kamar. Dilanjutkan dengan perekatan dalam akuarium tetap bersih dan sehat,
dengan menggunakan perekat Urea serta dapat pula dijadikan sebagai media
Formaldehid yang biasa digunakan untuk tanaman bunga dan lainya (Mai Tan Weng,
perekat kayu lapis. Strip bambu disusun 2007). Menurut Krisdianto et al (2006)
diatas venir yang sudah diberi perekat dalam Amaliyah dan Kuswarini (2012) nilai
kemudian diatas strip bambu diberi kalor arang rata-rata hasil penelitian
perekat, selanjutnya bagian atas ditutup sebesar 6602 kal/g, sedangkan nilai kalor
dengan venir dan dilakukan pengepressan arang hasil penelitian 6731,08 kal/g hingga
serta diberikan pemanasan dengan 7245,23 kal/g.
tekanan tertentu dan waktu tertentu.
4.1.5. Bambu Untuk Pulp dan Kertas
Setelah itu dikeluarkan dari alat press yang
Bambu merupakan hasil hutan non
dilanjutkan dengan pendinginan pada suhu
kayu yang dapat dikembangkan,
48
7HNQRORJL 3HQJRODKDQ GDQ 0DQIDDW %DPEX««(IIHQGL $UVDG
dibudidayakan serta dapat dijadikan bahan sayuran dan bisa juga dibuat menjadi
baku pengolahan pulp dan kertas, tepung untuk bahan pangan lainnya
diberdayakan untuk berbagai keperluan setelah melalui proses pengeringan dan
dengan upaya teknologi permesinan pengolahan tepung. Menurut Krisdianto, et
maupun teknologi sederhana. Bambu al (2014) Rebung bambu sekarang sudah
yang berlimpah di Indonesia dapat jadi komoditas internasional di pasar
digunakan sebagai bahan baku multi guna global. Terbukti bahwa permintaan rebung
dan memiliki keunggulan tertentu. lewat e-mail seperti negara Jepang,
Diharapkan bambu dapat menggantikan Inggris, Korea Selatan, Hongkong dan
bahan baku konvensional, dalam hal ini Slovakia.
kayu. Pada saat ini kayu mulai terbatas
4.1.7 Bonggol bambu
dan harganya relatif mahal, sedangkan
Bonggol bambu dapat digunakan
bambu merupakan salah satu keperluan
untuk berbagai keperluan diantaranya
serat pulp untuk kertas terus meningkat,
sebagai pegangan golok atau hulu pisau,
hampir di seluruh dunia, termasuk
alat untuk membuat sambel (olek), papan
di Indonesia. Khusus di Indonesia yang
partikel, gantungan kunci dan lainnya
berada di daerah tropis, tanaman bambu
(Sunarko, et al 2012).
merupakan salah satu pilihan bahan baku
pulp dan kertas paling penting (Lybeen et 4.1.8 Bambu Sebagai Sarana
al. 2006). Bambu mempunyai keunggulan Transportasi dan Pariwisata
jika digunakan sebagai bahan baku kertas, Di daerah pegunungan pada umumnya
karena cepat pertumbuhan dan mudah terdapat air yang mengalir dan kalau
diputihkan setelah diolah menjadi pulp musim penghujan tiba, sungai selain
menggunakan proses kraft karena tekstur digunakan sebagai transportasi juga bisa
bambu sebagai tanaman monokotil lebih digunakan untuk tempat wisata/ arung
banyak jaringan parenkim, sehingga tidak jeram. Kegiatan tersebut biasanya
sepadat kayu. Patt et al (2005), menggunakan bambu sebagai sarananya
mengemukakan bahwa selain komponen yang disebut dengan nama lanting bambu,
kimia dan kondisi pengolahan, morfologi baik untuk sarana transportasi sungai
serat bahan berlignoselulosa juga maupun untuk kepentingan lainnya. Arsad,
merupakan salah satu faktor yang perlu (2013).
diperhatikan dalam pembuatan pulp dan 4.2 Pengawetan Bambu
kertas, karena komposisi jaringan tanaman Bambu adalah tumbuhan yang mudah
dalam sel yang beragam. Secara khusus terserang organisme perusak seperti
serat yang panjang fleksibilitas yang tinggi, jamur biru (Blue Stain) dan binatang
tebal dinding terhadap lumen yang rendah serangga (penggerek). Binatang tersebut
diperlukan dalam pembuatan pulp dan menyerang bambu karena adanya zat pati
kertas Xu et al (2005). Menurut yang terdapat pada daging bambu (Noor ,
Khakifirooz, et al (2013), klasifikasi serat 2009). Sehingga perlu dilakukan teknologi
bambu termasuk kelas serat panjang, yaitu pengawetan, baik pengawetan tradisional
minimal 1,9 mm). Menurut Lapierre, (2006) maupun modern. Pengawetan bambu
dalam Nuriyatin dan Sofyan, (2011), dimaksudkan untuk menambah waktu
menegaskan bahwa panjang serat pakai atau meningkatkan daya tahannya
berpengaruh positif terhadap kekuatan terhadap serangan jasad perusak bambu.
kertas. Sedangkan Kerapatan ikatan Bambu perlu dilakukan pengawetan karena
pembuluh, berdasarkan anatomi 8 jenis sifatnya yang mudah diserang perusak
bambu berturut-turut dari yang tertinggi ke bambu terutama serangan rayap, bubuk
yang terendah Nuriyatin, (2011). kayu kering dan blue stain. Pengawetan
4.1.6 Rebung bambu bambu secara garis besar dapat dibagi
Rebung bambu bisa dimanfaatkan menjadi dua macam yaitu :
sebagai bahan pangan, seperti untuk
pengolahan kripik, sebagai bahan untuk
49
Jurnal Riset Industri Hasil Hutan Vol.7, No.1, Juni 2015: 45 ±52
4.2.1 Pengawetan tradisional ƒ Tidak mudah terbakar
Pengawetan dengan cara non kimia ƒ Tidak berbahaya bagi manusia dan
(tradisional) sudah lama digunakan oleh hewan peliharaan
masyarakat pedesaan. Kelebihan metode ƒ Mudah dikerjakan, diangkut mudah
ini adalah tidak membutuhkan biaya dan didapat dan harganya relatif murah
dapat dilakukan sendiri tanpa penggunaan
alat-alat khusus. Pengawetan dengan cara
V. KESIMPULAN
ini dimaksudkan adalah untuk
Bambu merupakan hasil hutan non
menghilangkan amilum atau zat pati yang
kayu yang dapat dijadikan substitusi bahan
terdapat pada bambu. Menurut C. Any
baku kayu seperti produk wood pellet untuk
Sulistyowati dalam rubrik Teknologi
bahan bakar, kayu lapis, mebel dan bahan
Wacana berdasarkan Pusat Informasi
bangunan serta arang untuk bahan bakar.
Teknologi Serapan ELSPPAT pengawetan
Selain daripada itu bambu dapat
bambu secara tradisional dapat dilakukan
digunakan sebagai bahan pangan,
dengan cara curing, pengasapan,
minuman, alat musik, alat tangkap ikan
pelaburan, perendaman dalam air dan
dan lainnya. Di Amerika Serikat dan Eropa
perebusan.
bambu digunakan pula sebagai pereda
4.2.2 Pengawetan bambu dengan cara nyeri, lotion dan sabun mandi.
modern
Berdasarkan Pusat Informasi
Teknologi Serapan ELSSPAT pengawetan DAFTAR PUSTAKA
bambu juga dapat dilakukan dengan 1. Arsad, E 2013. Peningkatan Nilai
menggunakan bahan kimia yang bersifat Tambah Bambu Non Komersial
racun bagi jasad perusak, agar bambu Sebagai Bahan Baku Pembuatan
menjadi tahan lama. Bahan pengawet yang Pellet Bambu. Baristand Industri
dapat digunakan dalam pengawetan Banjarbaru. 24 halaman.
bambu antara lain koppers formula 7,
BFCA, boraks, asam borat, copper chrom, 2. Hendra, D. 2012. Pellet Sebagai
boron (CCB) NaOH, CCF dan lainnya, Bahan Bakar Ramah Lingkungan.
tetapi harus sesuai dengan aturan Pusat Penelitian dan Pengembangan
pemakaian yang sudah ditentukan. Tingkat Keteknikan Kehutanan dan
keberhasilan pengawetan bambu dengan Pengolahan Hasil Hutan. Jurnal
bahan kimia tergantung dari beberapa Penelitian Hasil Hutan. 30 (2) Juni
faktor yaitu : kondisi fisik bambu sebelum 2012 : 144 ± 154.
diawetkan, berat jenis bambu, umur
bambu, musim, jenis bahan pengawet, 3. Inbar, 2005. dalam Arsad, E, 2014.
posisi dan ukuran bambu. Global Forest Resources Assessment.
Update 2005. Indonesia Cauntry
Syarat bahan pengawet yang baik : Report on Bamboo Resources. Forest
ƒ Bersifat racun terhadap mahluk perusak Resources Assessment Working
bambu Paper (Bamboo) Food and Agreculture
ƒ Mudah masuk dan tetap tinggal di dalam Organization of The United Nations,
bambu Forestry Departement and
ƒ Bersifat permanen dan tidak mudah International Network for Bamboo and
luntur Rattan. Jakarta.
ƒ Bersifat toleran terhadap bahan ± bahan 4. Iskandsar, M.I, 2007. Proses Produksi
lain misalnya logam, perekat dan Kayu Lapis. Diklat Pelatihan Verifikasi
cat/finishing IPTIK. Pusat Penelitian dan
ƒ Tidak mempengaruhi kembang susut Pengembangan Hasil Hutan, Bogor.
bambu
ƒ Tidak merusak sifat fisik, mekanik dan 5. Khakifirooz, A. R, Ravanbakhsh, I,
kimia bambu Samariba, Akiaci, M, 2013.
50
7HNQRORJL 3HQJRODKDQ GDQ 0DQIDDW %DPEX««(IIHQGL $UVDG
Investigating the possibility of (hemi - 14. Novriyanti, E. 2005. dalam Arsad, E
mechanical pulping of bagasse (2014), Bambu tanaman Multi manfaat
Bioresource, 8 (1), 21 ± 30. Pelindung tepian Sungai. Info Hasil
Hutan Vol 2. No. 1. Pusat Penelitian
6. Krisdianto, (2006) dalam Desi Mustika, dan Pengembangan Teknologi Hasil
A dan Kuswarini, S. (2007). Analisa Hutan.
Sifat-Sifat Arang Dari Tiga Jenis
Bambu. Warta Balai Industri 15. Nuryatin N, 2011. Sifat anatomi 8 jenis
Banjarbaru. Vol. XXII No. 2 Desember bambu (bagian draft disertase).
2007. Bogor : Program Pasca sarjana ,
Institut Pertanian Bogor. Jurnal
7. Kanoh, M. (2009). Luas areal bambu di Penelitian Hasil Hutan Vol 29 No. 4.
Kab. Hulu Sungai Selatan. Dinas Pusat Penelitian dan Pengembangan
Kehutanan Provinsi Kalimantan Keteknikan Kehutanan dan
Selatan. Pengolahan Hasil Hutan.
8. Kusuma. B.W, 2006. Mengangkat 16. Patt R, Kordsachia O,Fehr J. 2005.
gengsi bambu dalam arsitektur European hardwoods versus
modern. Harian Kompas terbitan 23 Eucalyptus globules as a raw material
April 2006. for pulping dalam Jurnal Penelitian
Hasil Hutan. Vol. 29 No. 4. Desember
9. Lapierre, L, Bouchard J, Berry R.
2011.
2006 dalam Jurnal 2011, on the
relation between fibre length, cellulose 17. Prihandana R dan Hendroko, R.
chain length and pulp viscosity of a 2007. Energi Hijau . Jakarta. Penebar
softwood sulfite [Link] Penelitian Swadaya. (PFI) Pellet Fuel Institute.
Hasil Hutan, 29(2) : 287 ± 300. 2007. [Link] Specifics.
(http//[Link]/3/industry/ind
10. Lybeer B, Vanacker J, Goetghebeur,
[Link].).
P. 2006. Variability in fibre and
parenchyma cell walls of temperate 18. Rocha, 2006. Mechanical Evaluation
and tropical bamboo culms of for the quality Control of Biomass
different ages [Link]. Pellets and University.
11. Misdarti, 2006. dalam Arhamsyah 19. Syahrany Noor, G. 2009. Kayu Lapis
(2011). Kualitas bambu laminasi Asal Berinti Bambu. Badan Penelitian dan
Kabupaten Toraja, Sulawesi Selatan. Pengembangan Daerah (Balitbangda)
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol. 24 Provinsi Kalimantan Selatan. Vol 1.
No. 3 Puslitbang Hasil Hutan. Bogor. No. 1. Banjarmasin.
12. 0DL 7DQ :HQJ ³ The Benefits 20. Sulastiningsih, 2004. dalam
RI %DPERR &KDUFRDO´ Arhamsyah, 2011. Pengaruh Lapisan
[Link] kayu Terhadap Sifat Bambu Lamina
twise/shop/black to nature/the benefits Prosiding Seminar Nasional
of [Link] (16 -02 ± 2007). Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia
(MAPEKI) VII, tanggal 5 ± 6 Agustus
13. Mohamad S, Hidayat, 2012. Bambu
2004 di Makasar. Hal. B 148 ± 153.
sebagai produk ramah lingkungan
Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia ,
guna meningkatkan ekonomi
Balai Penelitian dan Pengembangan
kerakyatan yang berkelanjutan. Pidato
Kehutanan Sulawesi dan Jurusan
Menteri Perindustrian. Pada
Kehutanan Universitas Hasanuddin.
pembukaan forum pengembangan
Makasar.
bambu nasional. Jakarta, 23 Oktober
2012.
51
Jurnal Riset Industri Hasil Hutan Vol.7, No.1, Juni 2015: 45 ±52
28. Wang dan Yan, (2005). Feasibility
21. Sunarko, Ken, Punuwun, Djoko dan Analysis Wood Pellets Production and
Soepriyatmono, (2012). Kerajinan Utilization in China as a Subsdtitute
Bonggol Bambu Sebagai Komoditas for Coal International Journal of Green
Unggulan. Sentra Industri Kreatif di Energy.
Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
29. Windarwati, S, 2011. Biopellet,
22. Sulastiningsih,2005. Dalam Arsad E. Alternatif Pemanfaatan Biomassa
2014. Peningkatan Daya Tahan ( http:// [Link]) Akses tanggal
Bambu Dengan Proses Pengasapan 2 Mei 2014.
untuk Bahan Baku Kerajinan. Jurnal
Riset Industri Hasil Hutan. Vol. 6 No. 2 30. Xu F, Zhong, XC, Sun RC, Luq,
Desember 2014. Jones GL, 2005. Chemical
composition, fibre morphology, and
23. Sulastiningsih, I.M dan Santoso, A pulping of Lauche.
2012. Pengaruh Jenis Bambu Waktu
Kempa dan Perlakuan Pendahuluan
Bilah Bambu terhadap Sifat Papan
Bambu Lamina. Jurnal Penelitian Hasil
Hutan 30 (3), 198 ± 206.
24. Sunardiyanto, E. 2012. Teknologi
Kayu Bambu dan Serat.
Jurusan Teknologi Industri Pertanian.
Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Brawijaya. Malang.
[Link]
12/10/16/...diakses 1 Desember 2012.
25. Sulistyowati, C. A dalam rubrik
Teknologi Wacana No. 6 Januari ±
Februari 1997. Pusat Informasi
Teknologi Serapan ELSPPAT
[Link] (diakses pada
tanggal 23 Juli 2015 ).
26. Terroka A, 2009. Can Residential
Biomass Pellet Stoves Meet a
Significant Investigation. The Green
Institute http//[Link] org/
documents/pelletstovepaper. Diakses
5 Juni 2014 v.2pdf.
27. Tampobolon, A, P. 2008. Kajian
Kebijakan Energi Biomassa Kayu
Bakar Study of Fuel wood Biomass
Energy Policies. Jurnal Analisis
Kebijakan Kehutanan 5(1); 29 ± 37.
Pusat Litbang Hasil Hutan. Bogor.
Jurnal Selulosa, Vol. 4, No.1, 2014.
52