Memahami Sirosis Hati: Definisi dan Etiologi
Memahami Sirosis Hati: Definisi dan Etiologi
SIROSIS HATI
Disusun Oleh :
Arifsyah Sulaiman Batubara (71210891019)
Pembimbing :
dr. Anita Rosari Dalimunthe, Sp. PD.
i
LEMBAR PENGESAHAN
Nilai :
__________________________________________________________________
Pembimbing
Dengan mengucapkan puji syukur kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, yang
telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan paper ini
guna memenuhi persyaratan Kepaniteraan Klinik Senior di bagian SMF Ilmu
Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Haji Medan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-
besarnya kepada dr. Anita Rosari Dalimunthe, Sp. PD. yang telah memberikan
bimbingan dan arahannya selama mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior di bagian
SMF Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Haji Medan dalam membantu
menyusun paper ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa paper ini memiliki banyak
kekurangan baik dari kelengkapan teori maupun penuturan bahasa, karena itu
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan
paper ini.
Harapan penulis semoga paper ini dapat memberi manfaat dan menambah
pengetahuan serta dapat menjadi arahan dalam mengimplementasikan ilmu
kedokteran dalam praktek di masyarakat.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................
DAFTAR ISI.............................................................................................................
BAB I : PENDAHULUAN........................................................................................
1
BAB 1
PENDAHULUAN
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Sirosis hati merupakan tahap akhir proses difus fibrosis hati progresif yang
ditandai oleh distorsi arsitektur hati dan pembentukan nodul regeneratif.
Gambaran morfologi dari SH meiiputi fibrosis difus, nodul regeneratif, perubahan
arsitektur lobular dan pembentukan hubungan vaskular intrahepatik antara
pembuluh darah hati aferen (vena porta dan arteri hepatika) dan eferen (vena
hepatika). 3
2.2. Etiologi
Penyakit hati kronik biasanya berkembang menjadi sirosis. Pada negara
berkembang, penyebab terbanyak sirosis adalah hepatitis C, alcoholic liver
disease, nonalcoholic steatohepatitis (NASH), hepatitis B virus (HBV) dan HCV.2
Etiologi sirosis adalah :2
Viral - hepatitis B, C, dan D
Toksin - Alkohol, obat-obatan
Autoimun : autoimmune hepatitis
Kolestatik – kolangitis biliar primer, kolangitis sklerotik primer
Vaskular - Budd-Chiari syndrome, sinusoidal obstruction syndrome, cardiac
cirrhosis
Metabolik - hemochromatosis, NASH, Wilson disease, alpha-1 antitrypsin
deficiency, cryptogenic cirrhosis.
2.3. Epidemiologi
Sirosis hati merupakan penyebab kematian terbesar ketiga pada penderita
yang berusia 45 — 46 tahun (setelah penyakit kardiovaskular dan kanker).
Diseluruh dunia SH menempati urutan ketujuh penyebab kematian. Penderita SH
lebih banyak laki-laki, jika dibandingkan dengan wanita rasionya sekitar 1,6 : 1.
Umur rata-rata penderitanya terbanyak golongan umur 30-59 tahun dengan
puncaknya sekitar umur 40-49 tahun. Insidens SH di Amerika diperkirakan 360
per-100.000 penduduk. Penyebab SH sebagaian besar adalah penyakit hati
3
alkoholik dan non alkoholik steatohepatitis serta hepatitis C. Di Indonesia data
prevalensi penderita SH secara keseluruhan belum ada. Di daerah Asia Tenggara,
penyebab utama SH adalah hepatitis B (HBV) dan C (HCV). Angka kejadian SH
di Indonesia akibat hepatitis B berkisar antara 21 - 46,9% dan hepatitis C berkisar
38,7 -73,9%.3
2.4. Klasifikasi
Sirosis hati dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu berdasarkan
morfologi, fungsional, dan etiologi. Sirosis hati berdasarkan morfologi
diklasifikasikan sebagai makronodular (besar nodul lebih dari 3 mm) atau
mikronodular (besar nodul kurang dari 3 mm) atau campuran mikro dan
makronodular. Klasifikasi ini jarang dipakai karena sering tumpang tindih satu
sama lain. Sirosis hati secara fungsional atau klinis dibagi menjadi sirosis hati
kompensata yang berarti belum adanya gejala klinis yang nyata dan sirosis hati
dekompensata yang ditandai gejala-gejala dan tanda klinis yang jelas. Sirosis hati
kompensata merupakan kelanjutan dari proses hepatitis kronik dan pada satu
tingkat tidak terlihat perbedaannya secara klinis. Hal ini hanya dapat dibedakan
melalui pemeriksaan biopsi hati. Klasifikasi etiologi lebih terpilih dan paling
banyak dipakai dalam klinik.4
Klasifikasi sirosis hati menurut Harrison didasarkan atas etiologi dan
morfologinya yaitu alkoholik, kriptogenik dan posthepatitis, biliaris, kardiak,
metabolik, keturunan, dan terkait obat. Setelah semua kategori sirosis hati yang
etiologinya diketahui disingkirkan, masih tersisa sejumlah kasus yang disebut
sebagai sirosis kriptogenik. Besarnya golongan ini menunjukkan bahwa diagnosis
etiologi sulit ditegakkan jika sirosis sudah terbentuk. 4
2.5. Patofisiologi
Sirosis hepatis terjadi akibat adanya cidera kronik-irreversibel pada
parenkim hati disertai timbulnya jaringan ikat difus (akibat adanya cidera
fibrosis), pembentukan nodul degeneratif ukuran mikronodul sampai makronodul.
Hal ini sebagai akibat adanya nekrosis hepatosit, kolapsnya jaringan penunjang
retikulin, disertai dengan deposit jaringan ikat, distorsi jaringan vaskular berakibat
pembentukan vaskular intra hepatik antara pembu uh darah hati aferen (vena porta
4
dan arteri hepatika) dan eferen (vena hepatika), dan regenerasi nodular parenkim
hati sisanya. 3
Terjadinya fibrosis hati disebabkan adanya aktivasi dari sel stellate hati.
Aktivasi ini dipicu oleh faktor pelepasan yang dihasilkan hepatosit dan sel
Kupffer. Sel stellate merupakan sel penghasil utama matrix ekstraselular (ECM)
setelah terjadi cedera pada hepar. Pembentukan ECM disebabkan adanya
pembentuk jaringan mirip fibroblast yang dihasilkan sel stellate dan dipengaruhi
oleh beberapa sitokin seperti transforming growth factor (TGF- P) dan tumor
necrosis factors (TNF-a). 3
Deposit ECM di space Of Disse akan menyebabkan perubahan bentuk dan
memacu kapiiarisasi pembuluh darah. Kapilarisasi sinusoid kemudian mengubah
pertukaran normal aliran vena porta dengan hepatosit, sehingga material yang
seharusnya dimetabolisasi oleh hepatosit akan langusng masuk ke aliran darah
sistemik dan menghambat material yang diproduksi hati masuk ke darah. Proses
ini akan menimbulkan hipertensi portal dan penurunan fungsi hepatoselular. 3
5
2.6. Manifestasi Klinis
Perjalanan penyakit SH asimtomatis dan seringkali tidak dicurigai sampai
adanya komplikasi penyakit hati. Banyak penderita ini sering tidak terdiagnosis
sebagai SH sebelumnya dan sering ditemukan pada waktu autopsi. Diagnosis SH
asimtomatis biasanya dibuat secara insidental ketika tes pemeriksaan fungsi hati
(transaminase) atau penemuan radiologi, sehingga kemudian penderita melakukan
pemeriksaan lebih lanjut dan biopsi hati.
Sebagian besar penderita yang datang ke klinik biasanya sudah dalam
stadium dekompensata, disertai adanya komplikasi seperti perdarahan varises,
peritonitis bakterial spontan, atau ensefalopati hepatis. Gambaran klinis dari
penderita SH adalah mudah lelah, anoreksi, berat badan menurun, atropi otot,
ikterus, spider angiomata, splenomegali, asites, caput medusae, palmar eritema,
white nails, ginekomasti, hilangnya rambut pubis dan ketiak pada wanita, asterixis
(flapping tremor), foetor hepaticus, dupuytren's contracture (sirosis akibat
alkohol).
6
Tanda Penyebab
2.7. Diagnosis
Pada stadium kompensata sempurna kadang-kadang sangat sulit
menegakkan diagnosis SH. Pada proses lebih lanjut stadium kompensata bisa
ditegakkan dengan bantuan pemeriksaan klinis yang cermat, laboratorium
biokimia/serologi dan pemeriksaan pencitraan lainnya. Pada stadium
dekompensata diagnosis tidak terlalu sulit karena gejala dan tanda klinis biasanya
sudah tampak dengan adanya komplikasi. Baku emas untuk diagnosis SH adalah
7
biopsi hati melalui perkutan, transjugular, laparoskopi atau dengan biopsi jarum
halus. Biopsi tidak diperlukan bila secara klinis, pemeriksaan laboratoris dan
radiologi menunjukkan kecenderungan SH. Walaupun biopsi hati risikonya kecil
tapi dapat berakibat fatal misalnya perdarahan dan kematian.3
Pemeriksaan laboratorium untuk SH : 3
Jenis Pemeriksaan Hasil
Sedikit meningkat
Alkali fosfatase / ALP
8
HCV : Anti HCV, HCV-RNA
Auto antibodi (ANA, ASM. Anti-LKM) untuk autoimun hepatitis
Saturasi transferin dan feritinin untuk hemokromatosis
Ceruloplasmin dan Copper untuk penyakit Wilson
Alpha 1 -antitrypsin
AMA untuk sirosis bilier primer
Antibodi ANCA untuk kolangitis sklerosis primer
Pencitraan
Ultrasonografi (USG) untuk mendeteksi SH kurang sensitif namun cukup
spesifik bila penyebabnya jelas. Gambaran USG memperlihatkan ekodensitas hati
meningkat dengan ekostruktur kasar homogen atau heterogen pada sisi superficial,
sedang pada sisi profunda ekodensitas menurun. Dapat dijumpai pula pembesaran
lobus caudatus, splenomegali, dan vena hepatika gambaran terputus-putus. Hati
mengecil dan dijumpai splenomegali, Asites tampak sebagai area bebas germa
(ekolusen) antara organ intra abdominal dengan dinding abdomen. Pemeriksaan
MRI dan CT konvensional bisa digunakan untuk menentukan derajat beratnya
SH, misal dengan menilai ukuran lien, asites dan kolateral vascular. Ketiga alat ini
juga dapat untuk mendeteksi adanya karsinomahepatoselular).3
Endoskopi
Gastroskopi dilakukan untuk memeriksa adanya varises di esofagus dan
gasterpada penderita SH. Selain untuk diagnostik juga, dapat pula digunakan
untuk pencegahan dan terapi perdarahan varises. 3
Kriteria Suharyono Soebandiri
Suharyono Soebandiri memformulasikan bahwa 5 dari 7 tanda di bawah
ini sudah dapat menegakkan diagnosis Cirrhosis Hepatis dekompensata: 5
S = Spider Navi
E = Eritema palmaris
K = Kolateral vein
A = Asites
9
S = Splenomegali
I = Invers albumin globulin ratio
H = hematemesis - melena
2.8. Komplikasi
Terdapat beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada penderita sirosis
hati, akibat kegagalan dari fungsi hati dan hipertensi porta, diantaranya: 3
1. Ensepalopati Hepatikum
Ensepalopati hepatikum merupakan suatu kelainan neuropsikiatri yang
bersifat reversibel dan umumnya didapat pada pasien dengan sirosis hati setelah
mengeksklusi kelainan neurologis dan metabolik. Derajat keparahan dari kelainan
ini terdiri dari derajat 0 (subklinis) dengan fungsi kognitif yang masih bagus
sampai ke derajat 4 dimana pasien sudah jatuh ke keadaan koma. Patogenesis
terjadinya ensefalopati hepatik diduga oleh karena adanya gangguan metabolisme
energi pada otak dan peningkatan permeabelitas sawar darah otak. Peningkayan
permeabelitas sawar darah otak ini akan memudahkan masuknya neurotoxin ke
dalam otak. Neurotoxin tersebut diantaranya, asam lemak rantai pendek,
mercaptans, neurotransmitter palsu (tyramine, octopamine, dan
betaphenylethanolamine), amonia, dan gamma-aminobutyric acid (GABA).
Kelainan laboratoris pada pasien dengan ensefalopati hepatik adalah berupa
peningkatan kadar amonia serum. 3
2. Varises Esophagus
Varises esophagus merupakan komplikasi yang diakibatkan oleh
hipertensi porta yang biasanya akan ditemukan pada kira-kira 50% pasien saat
diagnosis sirosis dibuat. Varises ini memiliki kemungkinan pecah dalam 1 tahun
pertama sebesar 5-15% dengan angka kematian dalam 6 minggu sebesar 15-20%
untuk setiap episodenya. 3
3. Peritonitis Bakterial Spontan (PBS)
Peritonitis bakterial spontan merupakan komplikasi yang sering dijumpai
yaitu infeksi cairan asites oleh satu jenis bakteri tanpa adanya bukti infeksi
10
sekunder intra abdominal. Biasanya pasien tanpa gejala, namun dapat timbul
demam dan nyeri abdomen.1 PBS sering timbul pada pasien dengan cairan asites
yang kandungan proteinnya rendah ( < 1 g/dL ) yang juga memiliki kandungan
komplemen yang rendah, yang pada akhirnya menyebabkan rendahnya aktivitas
opsonisasi. PBS disebabkan oleh karena adanya translokasi bakteri menembus
dinding usus dan juga oleh karena penyebaran bakteri secara hematogen. Bakteri
penyebabnya antara lain escherechia coli, streptococcus pneumoniae, spesies
klebsiella, dan organisme enterik gram negatif lainnya. Diagnose SBP
berdasarkan pemeriksaan pada cairan asites, dimana ditemukan sel
polimorfonuklear lebih dari 250 sel / mm3 dengan kultur cairan asites yang
positif. 3
4. Sindrom Hepatorenal
Sindrom hepatorenal merepresentasikan disfungsi dari ginjal yang dapat
diamati pada pasien yang mengalami sirosis dengan komplikasi ascites. Sindrom
ini diakibatkan oleh vasokonstriksi dari arteri ginjal besar dan kecil sehingga
menyebabkan menurunnya perfusi ginjal yang selanjutnya akan menyebabkan
penurunan laju filtrasi glomerulus. Diagnose sindrom hepatorenal ditegakkan
ketika ditemukan cretinine clearance kurang dari 40 ml/menit atau saat serum
creatinine lebih dari 1,5 mg/dl, volume urin kurang dari 500 mL/d, dan sodium
urin kurang dari 10 mEq/L. 3
5. Sindrom Hepatopulmonal
Pada sindrom ini dapat timbul hidrotoraks dan hipertensi portopulmonal. 3
2.9. Tatalaksana
Sirosis hati secara klinis fungsional dibagi atas : 3.
1. Sirosis hati kompensata
2. Sirosis hati dekompensata, disertai dengan tanda-tanda kegagalan
hepatoselular dan hipertensi portal.
Penanganan SH kompensata ditujukan pada penyebab hepatitis kronis. Hal
ini ditujukan untuk mengurangi progresifitas penyakit SH agar tidak semakin
lanjut dan menurunkan terjadinya karsinoma hepatoselular. Di Asia Tenggara
penyebab yang tersering ada ah HBV dan HCV. Untuk HBV kronis bisa diberikan
11
preparat interferon secara injeksi atau secara oral dengan preparat analog
nukleosida jangka panjang. Preparat nukleosida analog ini juga bisa diberikan
pada SH dekompensata akibat HBV kronis selain penanganan untuk
komplikasinya. Sedang untuk SH akibat HCV kronis bisa diberikan preparat
Interferon. Namun pada SH dekompensata pernberian preparat interferon ini
tidak direkomendasikan.3
12
diteruskan skleroterapi atau ligasi
endoskopi
2.10. Prognosis
Dari faktor-faktor prognosis di atas terdapat modifikasi berupa beberapa
perangkat prognostik untuk sirosis hati, yaitu: 3
1. Skor Child-Turcotte-Pugh
Pertama kali diperkenalkan oleh C.G. Child dan J.G. Turcotte pada tahun
1964. Kriteria asites dan ensefalopati hepatik menggambarkan tingkat beratnya
hipertensi portal, sedangkan kriteria lainya yaitu ikterus, albumin, dan status
13
nutrisi menggambarkan fungsi metabolisme hati. Kemudian pada tahun 1973
R.N.H. Pugh mengubah kriteria status nutrisi menjadi protrombin time (PPT) atau
International Normalized Ratio (INR), sehingga menghilangkan kriteria yang
paling subyektif. Untuk kadar albumin, Pugh memberikan batasan terendah 2,8
mg/dl dimana pada kriteria Child-Turcotte batasan terendahnya adalah 3,0 mg/dl.
3
Variabel 1 2 3
Mudah
Asites Nihil Sulit dikontrol
dikontrol
Serum albumin
> 3,5 3,0 – 3,5 < 3,0
(g/dl)
Variabel 1 2 3
14
Terkontrol Kurang
Ensefalopati Tidak ada
dengan terapi terkontrol
Mudah
Asites Tidak ada Sulit dikontrol
dikontrol
Serum albumin
> 3,5 2,8 – 3,5 < 2,8
(g/dl)
15
BAB III
STATUS PASIEN
ANAMNESA PRIBADI
Nama : Nuraini Panjaitan
Umur : 29 tahun
Status kawin : sudah menikah
Agama : Islam
Pekerjaan : Karyawan swasta
Alamat : Medan tembung, Sumatera utara
ANAMNESA PENYAKIT
Keluhan Utama : Sesak napas
Telaah : Pasien perempuan usia 29 tahun dating ke RSU Haji Medan diantar oleh
suami pasien dengan keluhan sesak nafas yang semakin lama semakin memberat
dirasakan pasien selama ± 2 minggu ini. Pasien juga merasakan lemas, dengan
perut yang membesar dan sudah berlangsung selama 2 bulan ini. Nyeri perut
Medika Tembung selama 4 hari namun tidak ada perbaikan hanya perut yang
sedikit mengempis namun masih bengkak. Nyeri tekan pada perut sebelah kanan
juga sudah berkurang dari sebelumnya. Mual dan muntah juga dirasakan pasien
sejak 1 minggu setelah keluar dari RS Mitra Medika. Ikterik (+) pada kedua mata
16
pasien dengan konjungtiva anemis (-/-). BAB (+) normal dengan BAK (+) namun
RPT :
RPK :-
RPO :
ANAMNESA UMUM
Badan Merasa : iya Tidur : kurang
Kurang Enak Berat Badan : menurun
Merasa Capek / Lemas : Malas : iya
ya Demam : iya
Merasa Kurang Sehat : ya Pening : iya
Menggigil : ya
Nafsu Makan :
menurun
ANAMNESA ORGAN
1. COR
Dyspnoe d’effort : iya Angina Pectoris : tidak
Dyspnoe d’repos : iya ada
Oedema : iya Palpitasi Cordis : tidak
Nocturia : tidak teraba
ada Asma Cardial : tidak
Sianosis : ga ada
ada
2. SIRKULASI PERIFER
Claudio Intermitt : tidak Sakit waktu istirahat:
ada tidak ada
17
Rasa mati di ujung jari : Kebas-kebas : tidak
tidak ada ada
Gangguan tropis : tidak
ada
3. TRACTUS RESPIRATORUS
Batuk : tidak Sesak napas
ada : ada
Berdahak : Pernafasan cuping
Haemaptoe : tidak ada
: hidung
Sakit dada Suara parau
waktu bernafas : :
Stidor tidak ada
: tidak ada
4. TRACTUS DIGESTIVUS
A. LAMBUNG
Sakit di Epigaatrium Hematemesis : tidak
Sebelum / Sesudah ada
makan : tidak Ructus : tidak
ada ada
Rasa panas : tidak Sendawa : tidak
ada ada
di Epigastrium Anoreksia : tidak
Muntah (Freq, : Mual-mual : ada
warna, konsi) : tidak ada Disfagia : tidak
ada
18
Foetor ex ore : tidak Pyrosis :
ada Tidak ada
B. USUS
Sakit di abdomen: Diare (freq, warna,
ada konsi)
Bobrborygmi : tidak Malena : tidak
ada ada
Obsutpasi : tidak Tenesmi : tidak
ada ada
Defekasi(freq, warna, Flatulensi : ada
konsi) Haemorrohid :
tidak ada
19
6. SENDI
Sakit : tidak Sakit di gerakan: tidak
Sendi kaku : tidak Bengkak : tidak
Merah : tidak Standabnormal : tidak
7. TULANG
Sakit : tidak Fraktur spontan : tidak
Bengkak : tidak Deformitas : tidak
8. OTOT
Sakit : tidak Kejang-kejang : tidak
Kebas-kebas : tidak Atrofi : tidak
9. DARAH
Sakit dimulut dan lidah : Muka pucat :tidak
tidak Bengkak : iya
Mata berkunang- :tidak Penyakit darah : tidak
Pembengkakan kelenjar : Perdarahan
tidak subkutan:tidak
Merah di kulit : tidak
10. ENDOKTRIN
a. Pancreas
Polidipsi : tidak Pruritus : tidak
Polifagi : tidak Pyorrhea : tidak
Polyuria : tidak
b. Tiroid
Nervositas : Tidak Struma : Tidak
Exoftalmus : Tidak Miksodem : Tidak
20
c. Hipofisis
Akromegali : Tidak
Distrifi adipos : Tidak
kongenital
14. PSIKIS
Mudah tersinggung : Gelisah : Tidak
Tidak Pelupa : Tidak
Takut : Tidak Lekas marah : Tidak
21
ANAMNESA PENYAKIT TERDAHULU: Pembesaran hati
ANAMNESA PEMAKAIAN OBAT : Tidak Jelas
ANAMNESA MAKANAN
Nasi : Freq 3x/hari Sayuran : Ya
Ikan : kurang Daging: Ya
ANAMNESA FAMILY
Penyakit-penyakit family: - Penyakit seperti orang sakit:
tidak
Anak-anak 1, Hidup 1, Mati 0
STATUS PRAESENS
KEADAAN UMUM
Sensorium : Compos mentis
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Temperatur : 36.5°C
Pernafasan : 20x/menit, reg, tipe pernafasan (thoracal-abdominal)
Nadi : 76 x/menit, equal, teg/vol (sedang)
KEADAAN PENYAKIT
Anemia : Tidak Icterus : Tidak
22
Sianosis : Tidak Turgor :CRT < 2 detik
Dispnoe : Tidak Gerakan aktif : Tidak
Edema : Tidak Sikap tidur paksa : Tidak
Eritema : Tidak
KEADAAN GIZI
BB : 52 kg
TB : 156 cm
PEMERIKSAAN FISIK
1. KEPALA
Pertumbuhan rambut : Normal
Sakit kalau dipegang : Tidak
Perubahan lokal : Tidak
a. Muka
Sembab : Tidak Parase : Tidak
Pucat : Tidak Gangguan lokal:
Kuning : Tidak Tidak
b. Mata
Stand Mata : Normal Icterus : Tidak
Gerakan : Anemia : Tidak
Normal Rekasi pupil :Isokor
Exoftalmus : Tidak Gangguan lokal :
Ptosis : Tidak Tidak
c. Telinga
Sekret : Tidak
Radang : Tidak
Bentuk : Normal
Atrofi : Tidak
d. Hidung
23
Sekret : Tidak Benjolan-benjolan :
Bentuk : Tidak Tidak
e. Bibir
Sianosis : Tidak Kering : Ya
Pucat : Tidak Radang : Tidak
f. Gigi
Karies : Jumlah : Tidak
Ya dihitung
Pertumbuhan :
Normal
g. Lidah
Kering : Tidak Besiag : Tidak
Pucat : Tidak Tremor : Tidak
h. Tonsil
Merah : Tidak Membran : Tidak
Bengkak : Tidak Angina lacunaris :
Besiag : Tidak Tidak
2. LEHER
Inspeksi
Struma : Tidak Torticollis : Tidak
Kelenjar bengkak : Tidak Venektasi : Tidak
Pulsasi vena : Tidak
Palpasi
Posisi trachea : TVJ : R-2cm H2O
Medial Kosta servikalis : Tidak
Sakit/Nyeri tekan :
Tidak
3. THORAX DEPAN
24
Inspeksi
Bentuk : Fusiformis Venektasi : Tidak
Simetris/asimetris : Pembengkakan : Tidak
Simetris Pylsasi verbal : Tidak
Bendungan vena : Tidak Mammae : Normal
Ketinggalan bernafas :
Tidak
Palpasi
Nyeri tekan a. Lokalisasi : ICS V
: Tidak 1 cm Linea
Fremitus suara : Midclavicula dextra
Kanan = Kiri b. Kuat angkat : Tidak
Fremissement : Tidak c. Melebar : Tidak
Perkusi
Suara perkusi paru Gerakan bebas
: Sonor (+/+) : 2 cm
Batas paru hati Batas jantung
a. Relatif : ICS V Linea a. Atas : ICS II Linea
Midclavicularis dextra Parasternalis dextra
b. Absolut : ICS VI Linea b. Kanan : ICS IV Linea
Midclavicularis dextra Parasternalis dextra
c. Kiri : ICS V Linea
Midclavicularis dextra
Auskultasi
a. Paru-paru
Suara pernafasan : Vesikuler (+/+)
Suara tambahan :
1. Ronchi basah :-
2. Ronchi kering :-
25
3. Krepirtasi :-
4. Gesek pleura :-
b. Cor
Heart rate : 76 x/menit
Suara katup : M1 > M2 A2 > A1
P2 > P1 A2 > P2
Suara tambahan
1. Desah jantung fungsional/organis : Tidak
2. Gesek pericardial/pleuracardial : Tidak
3. THORAX BELAKANG
Inspeksi
Bentuk : Scapula alta : Tidak
Fusiformis Ketinggalan bernafas :
Simetris/asimteris: Tidak
Simteris Venektasi : Tidak
Benjolan
: Tidak
Palpasi
Nyeri tekan Fremitus suara :
: Tidak Kanan=Kiri
Penonjolan : Tidak
Perkusi
Suara perkusi paru : Sonor
Gerakan bebas : 2 cm
Batas bawah paru
a. Kanan : Proc. Spin Vert. Thoracal IX
b. Kiri : Proc. Spin Vert. Thoracal X
Auskultasi
Suara pernafasan : Vesikuler (+/+)
26
Suara tambahan : -
4. ABDOMEN
Inspeksi
Bengkak : iya Sirkulasi collateral::
Venektasi/Pembentukan samar
vena : samar Pulsasi : iya
Palpasi
Defens Muscular : Tidak Ren : teraba
Nyeri tekan : iya Hepar : teraba
Lien : teraba
Perkusi
Pekak hati : Ya
Pekak beralih : Ya
Auskultasi
Peristaltik usus : 10x/menit
5. GENITALIA
Luka : Tidak Nanah : Tidak
Sikatrik : Tidak Hernia : Tidak
6. EKSTREMITAS
a. Atas
Bengkak : Tidak Tes rumpelit : Tidak
Merah : Tidak ada dilakukan
Stand abnormal: pemeriksaan
Tidak Reflex
Gangguan fungsi 1. Biceps : +/+
: Tidak 2. Triceps : +/+
27
Radio periost
:+/+
b. Bawah
Bengkak
: Tidak
Merah : Tidak
ada
Oedema
: Tidak
Pucat : Tidak
Gangguan
fungsi : Tidak
ada
Luka/Gangren
: Tidak ada
Varises :
Tidak ada
Reflex
1. KPR : +/+
2. APR : +/+
3. Struple : +/+
28
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Darah Rutin
Index Eritrosit
29
Eosinofil 0 103/𝜇L 1–3
Kimia Klinik
Fungsi Hati
30
(SGOT)
Fungsi Ginjal
Hepatitis marker
Elektrolit
31
Klorida 94.00 mEg/l 96-113
RESUME
Anamnesa
Keluhan Utama : sesak nafas
Telaah : Sesak nafas yang sudah dialami lebih kurang 2 minggu ini
yang semakin lama semakin memberat, perut semakin lama juga semakin
membesar dalam 2 bulan ini bersamaan dengan oedem di kedua kaki. Ikterik pada
kedua mata juga dalam 2 bulan ini dan nyeri tekan pada perut kanan.
BAK : 2-3 kali/hari, kuning, tuntas
BAB : 1 kali/hari, Dalam Batas Normal
RPT :-
RPO : Tidak Jelas
STATUS PRESENT
Keadaan Umum Keadaan Penyakit Keadaan Gizi
32
Suhu : 36.5°C Eritema : Tidak
Gerakan aktif :
Tidak
PEMERIKSAAN FISIK
Kepala : Dalam batas normal
Leher : Dalam batas normal
Thorax : Aukultasi : Vesicular
Abdomen : Nyeri tekan (+)
Ekstremitas
a. Atas : Dalam batas normal
b. Bawah : Dalam batas normal
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Darah : Darah : HGBꜜ, HCTꜜ, PDWꜜ, PCTꜜ, MCHCꜜ, eosinofilꜜ,
DIAGNOSA BANDING
Ascites et causa Sirosis hepatis + Hipoalbumin
Ascites et causa Hepatoma + Hipoalbumin
33
TERAPI
Aktifitas : Tirah Baring
Diet : MBTKP
Medikamentosa
IVFD NaCl 0,9 % 10 gtt/i
Curcuma 3 x 1
PEMERIKSAAN ANJURAN
Darah lengkap
Anti-HBs
IgM Anti Hbc
Alfa-fetoprotein
Anti-HCV
HCV RNA PCR
Lipid profile
Urine
34
BAB IV
DISKUSI
– 46 tahun
Manifestasi klinis Ikterik, nafsu makan menurun, Pada pasien sudah dijumpai
35
mual, splenomegaly, asites, yang membesar (asites),
splenomegaly dan
hepatomegali
indirect Menurun
Albumin
2. Hepatomegaly 2. Hepatomegaly
berdarah, hepatomegaly,
36
splenomegaly, ikterik, spider
2. Pemeriksaan laboratorium
Penatalaksanaan Tirah baring dan diet lunak Pasien harus tirah baring
Lactulax 3 x CI
Laktulosa
Antibiotik golongan
Cefotaxime 1 gr/12 jam
sefalosporin
Hepatoprotektor Curcuma 3 x 1
esofagus, ensefalopati
hepatikum
37
adekuat.
DAFTAR PUSTAKA
38
doi:NBK482419
3. Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, K. MS, Setiyohadi B, Syam AF. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam. Edisi Keenam. Interna Publishing; 2014.
4. Longo DL, Anthony s. Fauci. Harrison’s Gastroenterology and
Hepatology. 18th Editi. McGraw-Hill Education; 2013.
5. Setiawan M. Hubungan Antara Kejadian Asites Pada Cirrhosis Hepatis
Dengan Komplikasi Spontaneous Bacterial Peritonitis. UMM E-Journal.
2016;003:79-93.
39