STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
NOMOR DOKUMEN: REV: HALAMAN: TANGGAL DIKELUARKAN: TANGGAL
SOP-HSE-02 00 1 dari 8 11 Juni 2021 REVISI :
DIPERSIAPKAN OLEH: DIPERIKSA OLEH: DISETUJUI OLEH: DISETUJUI OLEH:
Hasanul Bashri Suharto Rohandi
JUDUL: PROSEDUR IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENGENDALIAN RISIKO
1. Tujuan
Prosedur ini bertujuan untuk memberikan panduan dalam melakukan identifikasi
bahaya dan penilaian risiko terhadap keselamatan dan kesehatan kerja
karyawan maupun pihak-pihak luar yang terkait dalam kegiatan operasional
[Link] TIRTA PERDANA serta menentukan pengendalian yang sesuai.
2. Ruang Lingkup
Prosedur identifikasi bahaya dan penilaian risiko serta pengontrolannya
dilakukan diseluruh aktifitas kegiatan operasional [Link] TIRTA PERDANA
termasuk kegiatanatau aktifitas rutin dan non rutin serta keadaan darurat,
pekerjaan yangdilakukan oleh karyawan tetap maupun karyawan kontrak,
suplier dankontraktor, serta aktifitas seluruh pekerja yang berada di area
tempat [Link] risiko dan penilaian risiko dilakukan oleh karyawan
yang memilikikompetensi sesuai dengan standar kompetensi perusahaaan
[Link] TIRTA PERDANA
3. Referensi
3.1. UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
3.2. OHSAS 18001 : 2007 (Klausal 4.3.1)
3.3. PP No. 50 Tahun 2012 Tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja Klausal 4.3.1
3.4. Permenakertrans No. 8 Tahun 2010 tentang Alat Pelindung Diri.
4. Definisi
4.1. Bahaya (Hazard) adalah Sumber, kondisi, atau tindakan yang berpotensi
untuk menimbulkan kerugian dalam hubungannya dengan cidera
manusia atau sakit, atau kombinasi keduanya.
4.2. Kontrol Bahaya adalah proses dengan melakukan penilaian
untuk mengurangi resiko terkait dengan bahaya yang ada.
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
NOMOR DOKUMEN: REV: HALAMAN: TANGGAL DIKELUARKAN: TANGGAL
SOP-HSE-02 00 2 dari 8 11 Juni 2021 REVISI :
DIPERSIAPKAN OLEH: DIPERIKSA OLEH: DISETUJUI OLEH: DISETUJUI OLEH:
Hasanul Bashri Suharto Rohandi
JUDUL: PROSEDUR IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENGENDALIAN RISIKO
4.3. ldentifikasi Bahaya merupakan kegiatan mengidentifikasi dari peristiwa/
kejadian tidak diinginkan yang mengarah pada identifikasi wujud dari
bahaya dan mekanisme dari peristiwa/kejadian tersebut.
4.4. Risiko (Risk) adalah Kombinasi dari kemungkinan keterpaparan terhadap
kejadian berbahaya dan keparahan dari cidera atau penyakit yang bisa
disebabkan oleh suatu kejadian atau keterpaparan.
4.5. Bahaya aktifitas rutin adalah bahaya aktual yang terjadi atau berpotensi
terjadi akibat adanya aktifitas, produk, dan jasa yang rutin.
4.6. Bahaya aktifitas non rutin adalah bahaya aktual terjadi atau berpotensi
terjadi akibat adanya aktifitas, produk dan jasa yang tidak rutin dilakukan
atau aktifitas yang tidak biasa atau hanya sesekali dilakukan.
4.7. Keadaan darurat adalah bahaya aktual atau berpotensi terjadi diluar
aktifitas rutin, tidak rutin, normal dan abnormal yang akan menimbulkan
risiko dan berdampak fatal terhadap manusia, bangunan dan lingkungan
seperti kebakaran, ledakan, banjir, gempa, kecelakaan,dll.
4.8. Penilaian risiko adalah Proses dari pengevaluasian resiko dari bahaya yang
ada, dimasukkan ke dalam penilaian kontrol yang dibutuhkan, dan
diputuskan apakah resiko bisa diterima atau tidak.
4.9. Hirarki pengendalian risiko adalah :
a. Eliminasi (menghilangkan) bahaya.
b. Subtitusi (mengganti)
c. Engineering (rekayasa)
d. Control administration (pengontrolan administrasi), misalnya:
pengawasan, pelatihan, dll.
e. Alat pelindung diri (APD)
4.10. Manajemen Resiko merupakan total prosedur terkait dengan proses
mengidentifikasi bahaya, melakukan penilaian dan analisa resiko,
melakukan kontrol resiko yang sesuai dan mengkaji ulang hasilnya secara
keseluruhan.
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
NOMOR DOKUMEN: REV: HALAMAN: TANGGAL DIKELUARKAN: TANGGAL
SOP-HSE-02 00 3 dari 8 11 Juni 2021 REVISI :
DIPERSIAPKAN OLEH: DIPERIKSA OLEH: DISETUJUI OLEH: DISETUJUI OLEH:
Hasanul Bashri Suharto Rohandi
JUDUL: PROSEDUR IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENGENDALIAN RISIKO
4.11. Tingkat kekerapan (Likelihood) adalah frekuensi terjadinya paparan
bahaya
4.12. Konsekuensi (Consequency) adalah dampak atau tingkat keparahan
yang diakibatkan oleh suatu bahaya.
4.13. Register Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko adalah daftar identifikasi
bahaya dan penilaian risiko termasuk upaya pencegahan yang
diperlukan berdasarkan tingkat bahaya.
5. Tanggung Jawab
Penanggungjawab kegiatan adalah : (disesuaikan dengan struktur organisasi
masing-masing perusahaan)
6.1. [Link] TIRTA PERDANA berkoordinasi dengan kepala bagian (general
manager/ senior manager/ manager) dalam melakukan identifikasi
bahaya-bahaya yang ada disetiap unit kegiatan kerja, menilai risiko-risiko
bahaya yang adaserta menentukan kontrol yang dibutuhkan.
6.2. Untuk melakukan identifikasi bahaya, penilaian risiko dan kontrol harus
memperhatikan beberapa hal berikut :
a. Kegiatan rutin atau non rutin (K3).
b. Aktifitas yang dilakukan oleh setiap orang yang berada diarea kerja.
c. Perilaku dan kapabilitasnya serta faktor manusia lainnya.
d. Mengidentifikasi bahaya yang berpengaruh pada keselamatan dan
kesehatan kerja.
e. Infrastruktur, peralatan dan bahan-bahan (fasilitas) di tempat kerja baik
yang disediakan perusahaan maupun pihak lain.
f. Perubahan setiap aktifitas/ material yang ada di dalam perusahaan.
g. Modifikasi SMK3, perubahan sementara dan dampaknya pada
operasional, proses dan kegiatan.
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
NOMOR DOKUMEN: REV: HALAMAN: TANGGAL DIKELUARKAN: TANGGAL
SOP-HSE-02 00 4 dari 8 11 Juni 2021 REVISI :
DIPERSIAPKAN OLEH: DIPERIKSA OLEH: DISETUJUI OLEH: DISETUJUI OLEH:
Hasanul Bashri Suharto Rohandi
JUDUL: PROSEDUR IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENGENDALIAN RISIKO
h. Area kerja, proses, instalasi, mesin/peralatan kerja, prosedurkerja
perusahaan.
i. Bahaya dari luar tempat kerja yang dapat menimnulkan dampak
terhadap keselamatan dan kesehatan kerja di bawah kendali
perusahaan di lingkungan kerja.
j. Kewajiban peraturan perundangan yang relevan.
6.3. Menentukan bahaya-bahaya atas aktifitas yang dilakukan oleh setiap
divisi/ bagian/ departemen yang melakukan aktifitas-aktifitas tersebut.
6.4. Setelah semua potensi bahaya diidentifikasi, maka tiap potensi bahaya
dilakukan penilaian risiko dengan cara sebagai berikut:
1. Menentukan tingkat kemungkinan (Probability)
Kemungkinan Keterangan Rating/Nilai
Hampir Tidak Tenaga kerja terpapar bahaya sekali 1
Mungkin dalam setahun
Tenaga kerja terpapar bahaya sekali 2
Sangat Jarang
dalam 6 bulan
Tenaga kerja terpapar bahaya sekali 3
Jarang
dalam sebulan
Tenaga kerja terpapar bahaya sekali 4
Sering
dalam seminggu
Tenaga kerja terpapar bahaya lebih 5
Sangat Sering
dari satu kali dalam seminggu
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
NOMOR DOKUMEN: REV: HALAMAN: TANGGAL DIKELUARKAN: TANGGAL
SOP-HSE-02 00 5 dari 8 11 Juni 2021 REVISI :
DIPERSIAPKAN OLEH: DIPERIKSA OLEH: DISETUJUI OLEH: DISETUJUI OLEH:
Hasanul Bashri Suharto Rohandi
JUDUL: PROSEDUR IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENGENDALIAN RISIKO
2. Menentukan tingkat konsekuensi atau akibat (Consequency)
Konsekuensi Keterangan Rating/Nilai
Tidak berarti Tidak mengalami kerugian berarti 1
Kehilangan waktu kerja < 48 jam atau
Agak parah kerugian ringan gangguan bisnis 2
sebsesar Rp 1.000.000 – 10.000.000.
Kehilangan waktu kerja > 48 jam atau
kerugian harta benda dan gangguan 3
Parah
bisnis sebesar Rp 10.000.000 –
50.000.000
Kematian tunggal, cidera permanen,
kerugian harta benda dan gangguan 4
Sangat parah
bisnis sebesar Rp 50.000.000 –
100.000.000.
Lebih dari satu kematian, cidera
Fatal permanen, kerugian harta benda dan 5
gangguan bisnis > Rp 100.000.000
6.5. Melakukan perhitungan risiko yang digunakan untuk melakukan melakukan
analisis untuk menentukan metode yang tepat dalam melaksanakan
kontrol resiko. Risiko dapat dihitung menggunakan rumus berikut:
P x C = Resiko Relatif
P = Kemungkinan (Probability)
C = Keparahan (Consequency)
Dari hasil perkalian ini maka dapat dibuat matrik manajemen risiko sebagai
berikut:
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
NOMOR DOKUMEN: REV: HALAMAN: TANGGAL DIKELUARKAN: TANGGAL
SOP-HSE-02 00 6 dari 8 11 Juni 2021 REVISI :
DIPERSIAPKAN OLEH: DIPERIKSA OLEH: DISETUJUI OLEH: DISETUJUI OLEH:
Hasanul Bashri Suharto Rohandi
JUDUL: PROSEDUR IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENGENDALIAN RISIKO
Kekerapan Keparahan (Consequency)
(Likelihood)
1 2 3 4 5
1 1 2 3 4 5
2 2 4 6 8 10
3 3 6 9 12 15
4 4 8 12 16 20
5 5 10 15 20 25
Menentukan rating resiko:
Nilai Status Keterangan
25 Intolerable Risiko tidak bisa ditolelir, pekerjaan harus
Risk dihentikan
20 - 2 Substansial Risiko dapat dikendalikan melalui hirarki
Risk pengendalian bahaya
1 Negligible Risiko tidak perlu tindakan pengendalian
Risk
6.6. Melakukan pengendalian bahaya sesuai dengan urutan hirarki
pengendalian bahaya yaitu:
1. Eliminasi
Menghilangkan sumber bahaya dilakukan dengan meniadakan atau
menghilangkan peralatan atau pekerjaan yang menjadi sumber dari
bahaya.
2. Substitusi
Mengurangi bahaya dengan cara mengganti peralatan atau tata
laksana pekerjaan dengan peralatan atau cara kerja yang lebih aman
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
NOMOR DOKUMEN: REV: HALAMAN: TANGGAL DIKELUARKAN: TANGGAL
SOP-HSE-02 00 7 dari 8 11 Juni 2021 REVISI :
DIPERSIAPKAN OLEH: DIPERIKSA OLEH: DISETUJUI OLEH: DISETUJUI OLEH:
Hasanul Bashri Suharto Rohandi
JUDUL: PROSEDUR IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENGENDALIAN RISIKO
3. Rekayasa Teknik
Mengurangi resiko dari peralatan dan pekerjaan dengan cara
membuat perubahan (rekayasa) pada peralatan atau pekerjaan
sehingga tingkat resiko dapat dikurangi sampai ketitik resiko yang dapat
diterima.
4. Pngendalian Administratif
Beberapa contoh pengendalian resiko pada poin ini adalah dengan
melengkapi pekerjaan dengan prosedur, dokumentasi, perizinan,
penandaan (rambu-rambu) dan lain lain.
5. Alat Pelindung Diri
Alat pelindung diri (APD) ini merupakan langkah terakhir yang
digunakan dalam upaya untuk meminimalisasi tingkat resiko.
6.7. Pemilihan pengendalian bahaya dilakukan bersama-sama oleh
Safety Oficcer (disesuaikan dengan struktur organisasi
perusahaan).
6.8. Dari hasil penilaian risiko akan dilakukan evaluasi untuk dijadikan sasaran
K3, dimana evaluasi yang dilakukan perlu mempertimbangkan hal-hal
berikut:
a. Pemenuhan peraturan dan persyaratan yang terkait bahaya K3 penting.
b. Kasus yang pernah terjadi terkait risiko K3 penting yang menjadi
perhatian publik.
c. Ada teknologi dapat berupa alat, metode, dll yang mudah, murah dan
efektif.
6.9. Safety Officer bertanggungjawab untuk mengevaluasi hasil penilaian
risiko yang sudah dilakukan oleh setiap divisi untuk memastikan
kesesuaianbahaya risiko hasil penilaian dengan kondisi aktual.
6.10. Setiap kepala bagian/divisi harus melakukan tinjauan ulang terhadap hasil
penilaian bahaya risiko jika :
a. Secara berkala minimal sekali setahun untuk menjamin kesesuaiannya
dengan kondisi aktual proses operasional.
b. Adanya perubahan proses, metoda kerja, lingkungan kerja, kompetensi
dan faktor lainnya.
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
NOMOR DOKUMEN: REV: HALAMAN: TANGGAL DIKELUARKAN: TANGGAL
SOP-HSE-02 00 8 dari 8 11 Juni 2021 REVISI :
DIPERSIAPKAN OLEH: DIPERIKSA OLEH: DISETUJUI OLEH: DISETUJUI OLEH:
Hasanul Bashri Suharto Rohandi
JUDUL: PROSEDUR IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENGENDALIAN RISIKO
6.11. Dokumen hasil identifikasi bahaya, penilaian resiko dan pengendalian
bahaya yang telah dilakukan di setiap unit kegiatan akan disosialisasikan
kepada karyawan masing-masing divisidan dikendalikan oleh
HR Staff
6.12. Penanggungjawab K3 memberikan sosialisasi dan training terkait dengan
hasil identifikasi bahaya, penilaian resiko dan pengendalian bahaya
6.13. Bila ada permintaan perubahan/revisi terhadap dokumen identifikasi
bahaya, penilaian resiko dan pengendalian bahaya yang sudah ada,
kepala bagian membahas bersama dengan penanggungjawab K3 untuk
kemudian diterbitkan dokumen baru yang sudah direvisi dan didistribusikan
kembali ke Unit kerja yang bersangkutan.
6.14. Bila terdapat perkembangan teknologi baru, perubahan metode kerja dan
prosedur atas penilaian resiko dan pengendalian bahaya, penanggung
jawab K3 memfasilitasi revisi dokumen hasil identifikasi bahaya, penilaian
resiko dan pengendalian bahaya dan memperbaharui sesuai keadaan
(kondisi/situasi) yang ada minimum 3 bulan sekali.
6.15. Penanggung Jawab Operasional dan Safety Officer bertanggungjawab
atas monitoring dan pelaksanaan hasil identifikasi bahaya, penilaian resiko
dan pengendalian bahaya, serta melakukan pelaporan hasil identikasi
bahaya, penilaian risiko dan pengendalian bahaya tersebut ke pucuk
pimpinan sebagai upaya tindak lanjut terhadap hasil identifikasi yang
dilakukan.
7. Lampiran
1. Form Identifikasi bahaya, Penilaian resiko dan tindakan pengendalian