Landasan Hukum Flag of Convenience Kapal
Landasan Hukum Flag of Convenience Kapal
Sesuai dengan KHL (Konvensi Hukum Laut) 1982 pengaturan lebih lanjut mengenai
pendaftaran kapal menjadi wewenang masing-masing negera bendera yang didasarkan
kepada sistem atau aliran pendaftaran kapal yang dianut didunia maritim yaitu :
1. The National School
Aliran ini menganut peraturan registrasi yang keras (rigid), contohnya Portugal
Kapal yang dapat didaftar di negara ini adalah :
a. Kapal yang dibuat di negara pendaftar,
b. dimiliki oleh warga dari negara tersebut,
c. nakhoda dan ABK nya harus warga negara dari negara pendaftar.
Aliran ini dapat disebut sistem pendaftaran tertutup yang kaku (rigid closed registry).
2. The School of The Relaxed Law
Aliran ini dianut oleh Panama, Liberia, Honduras, Costarica dan sebagainya yang sering
dihubungkan dengan “Flag of Convenience” karena mereka mengizinkan registrasi atas
kapal-kapal yang dimiliki oleh pihak asing tanpa syarat apapun dan seringkali atas dasar
perlakuan yang sama seperti kepada kapal-kapal dari warga negaranya sendiri (open
registry).
Aliran ini mengaburkan prinsip “genuine link” yang diatur dalam KHI 1982.
Sistem pendaftaran apapun yang dianut oleh suatu negara, semuanya mempunyai akibat
hukum yang luas, baik secara nasional maupun internasional, antara lain :
1. Hanya kapal yang telah didaftarkan saja yang dapat memperoleh hak untuk mengibarkan
bendera kebangsaan (maritime flag) dari negara pendaftar sebagai bendera kebangsaan
kapal.
2. Kapal yang telah didaftarkan diberi surat tanda kebangsaan kapal sebagai legalitas untuk
mengibarkan bendera kebangsaan kapal.
3. Kapal berhak mendapatkan perlindungan hukum dari negara bendera (flag state).
4. Negara bendera wajib melaksanakan yurisdiksi dan pengawasan yang efektif terhadap
kapal yang mengibarkan benderanya sebagai bendera kebangsaan, melalui peraturan
perundang-undangan nasional dibidang administratif, terknis dan sosial.
5. Timbulnya hubungan hukum antara negara dengan kapal melalui bendera kapal dan surat
tanda kebangsaan kapal.
6. Kapal yang telah didaftarkan diberlakukan sebagai benda tidak bergerak.
2. Aspek Ekonomis.
Karena kapal yang terdaftar merupakan asset nasional, karenanya ia harus diupayakan
agar mendapatkan alokasi muatan yang wajar (fair share) dalam angkutan perdagangan
dalam maupun luar negeri. Peran pemerintah sangat penting untuk menciptakan kondisi
yang menguntungkan bagi armada nasional, antara lain pengaturan mengenai preferensi
muatan (cargo preference), pengaturan azas cabotage dan lain-lain.
3. Aspek Politis
Karena kapal merupakan asset nasional maka ia harus mendapatkan perlindungan dari
negara dan negara berkewajiban untuk mengembangkan potensi armada niaga nasional
serta menjaga agar bendera kapal tidak disalahgunakan.
Apabila membaca dari latar belakang pada makalah ini, pasti pembaca akan bertanya-
tanya apa itu flag of convenience dan seberapa pentingkah flag ofconvenience
dalam industri pelayaran di Indonesia. Maka pada bab ini dijelaskan bahwa flag of
convenience
merupakan bendera dari negara-negara tertentu yang sudahterdaftar dalam ITF
(International Transport Workers Federation) sebagai negara-negara yang dapat
memudahkan secara hukum untuk berlayar dengan bendera anggota FoC. Sebuah kapal
dikatakan sudah mengibarkan FoC apabila kapalnyasudah di daftarkan oleh owner di
negara bukan tempat domisili kapal itu berlabuhmelainkan di sebuah negara anggota FoC.
Total anggota negara yang memeakai sistem FoC berjumlah 32 sebagai contoh Panama,
Barbados, Myanmar, Jamaika,Lebanon dan lainnya.
this can mean:
minimal regulation
cheap registration fees
low or no taxes
freedom to employ cheap labour from the global labour market
Hukum internasional mengharuskan setiap kapal niaga terdaftar di suatunegara. Kapal
yang sudah terdaftar dalam suatu negara tertentu maka disebut negara benderanya, dan
negara bendera kapal terdaftar dapat memberikan hak untuk berlayar.
Sebuah negara bendera kapal yang sudah terdaftar dapat memegang hak penuh
untukmelakukan kontrol regulasi atas kapal dan selalu melakukan pemeriksaan
secarateratur, sertifikasi peralatan kapal dan kru, serta masalah keamanan dan
dokumen pencegahan pencegahan lingkungan
Penciptaan dan pemanfaatan FoC dapat menjadi suatu pemanfaatan dan celah bagi
pengusaha perkapalan serta owner ship yang dapat menghindari suatu peraturan ketat
yang terus dikembangkan oleh negara-negara lain.
Kekhawatiran utama dari pihak terkait antara lain makin mudahnya pendaftaran
suatu kapal niaga mendapatkansuatu negara bendera karena kapal tersebut bisa memakai
regulasi yang ada di peraturan anggota FoC. Yang kedua adalah keuntungan
menjadi anggota
FoC adalah pajaknya rendah karena anggota FoC merupakan negara yang tidak mengandal
kan sektor maritim dalam pemasukan devisa. Ketiga adalah pengurangan biaya operasi
untuk anggota FoC serta terakhir adalah kontrol penuh dari negara maju kepada anggota
Foc yang tidak lain adalah negara-negara berkembang
Flag of convenience registries and statistics (of ships of 1,000 GRT and greater)
Foreign-
Ships Percent
Registry owned Foreign-owned ship profile Remarks
Registered Foreign
ships
Foreign-
Ships Percent
Registry owned Foreign-owned ship profile Remarks
Registered Foreign
ships
Barbados 109[7] 83[7] 76% Norway 38, Greece 14, Canada 11,
Maritime Ship UK 6, Iran 5, Sweden 4, Lebanon 2,
Registry Syria 1, Turkey 1, UAE 1[7]
International 247[8] 152[8] 62% China 61, Russia 30, Turkey 16, China refuses
Merchant Marine Latvia 9, Ukraine 6, Singapore 4, diplomatic
Registry of Belize Syria 4, UK 4, Italy 3, UAE 3, relations with
Greece 2, Norway 2, Bulgaria 1, Belize
Croatia 1, Estonia 1, Iceland 1,
Lithuania 1, Netherlands 1,
Switzerland 1, Thailand 1[8]
International 544[12] 352[12] 65% China 177, Russia 50, Ukraine 35,
Ship Registry of Syria 22, Turkey 15, Hong Kong
Cambodia 10, South Korea 10, Lebanon 5,
Cyprus 4, Egypt 4, Singapore 3,
Canada 2, Greece 2, Indonesia 2,
UAE 2, Belgium 1, Estonia 1,
French Polynesia 1, Gabon 1,
Ireland 1, Japan 1, Taiwan 1, UK 1,
Vietnam 1[12]
Flag of convenience registries and statistics (of ships of 1,000 GRT and greater)
Foreign-
Ships Percent
Registry owned Foreign-owned ship profile Remarks
Registered Foreign
ships
Cayman Islands 116[14] 102[14] 88% US 57, Japan 23, Greece 9, Italy 7,
Shipping Registry[13] Germany 3, UK 2, Switzerland 1[14]
Curaçao 120[16] 101[16] 84% Netherlands 52, Germany 32, Figures are from
Directorate of Turkey 8, Angola 2, Norway 2, most recent
Shipping and Cuba 1, Denmark 1, Estonia 1, World Factbook
Maritime Affairs Hong Kong 1, Sweden 1[16] data listed
forNetherlands
Antilles.
Faroe Islands 37[19] 28[19] 76% Norway 13, Sweden 11, Iceland
4[19]
Foreign-
Ships Percent
Registry owned Foreign-owned ship profile Remarks
Registered Foreign
ships
Georgia 142[22] 95[22] 67% Syria 24, Turkey 14, China 10,
Ukraine 10, Egypt 7, Romania 7,
Russia 6, UK 5, Hong Kong 3, Italy
2, UAE 2, Bulgaria 1, Israel 1,
Latvia 1, Lebanon 1, US 1[22]
Foreign-
Ships Percent
Registry owned Foreign-owned ship profile Remarks
Registered Foreign
ships
International 1,593[31] 1,468[31] 92% Greece 408, Germany 248, US 200, China refuses
Registries, Inc. Norway 75, Turkey 70, Japan 59, diplomatic
(Marshall Islands) South Korea 41, Cyprus 40, relations with
Flag of convenience registries and statistics (of ships of 1,000 GRT and greater)
Foreign-
Ships Percent
Registry owned Foreign-owned ship profile Remarks
Registered Foreign
ships
Moldova Ship 121[33] 63[33] 52% Turkey 18, Ukraine 14, Egypt 5, Moldova is a
Registration Russia 5, Syria 5, Yemen 4, UK 3, landlocked
Israel 2, Romania 2, Bulgaria 1, nation.
Denmark 1, Greece 1, Lebanon 1,
Pakistan 1[33]
Foreign-
Ships Percent
Registry owned Foreign-owned ship profile Remarks
Registered Foreign
ships
Autoridad 6,413[37] 5,162[37] 80% Japan 2372, China 534, Greece China refuses
Marítima de Panamá 379, South Korea 373, Taiwan diplomatic
328, Hong Kong 144, Singapore relations with
92, US 90, UAE 83, Norway 81, Panama
Turkey 62, Russia 49, Vietnam 43,
Denmark 41, UK 37, Syria 34,
Spain 30, Bermuda 27, Italy 25,
Germany 24, India 24, Switzerland
15, Chile 14, Venezuela 13, Kuwait
12, Malaysia 12, Egypt 11, Jordan
11, Monaco 11, Saudi Arabia 11,
Indonesia 10, Oman 10, Portugal
10, Peru 9, Ukraine 8, France 7,
Bahamas 6, Bulgaria 6, Canada 6,
Netherlands 6, Nigeria 6, Thailand
6, Mexico 5, UK 5, Argentina 5,
Bangladesh 5, Cyprus 5, Iran 5,
Philippines 5, Australia 4, Albania
4, Yemen 4, Brazil 3, Burma 3,
Ecuador 3, Lithuania 3, Pakistan 3,
Romania 3, Colombia 2, Croatia 2,
Cuba 2, Finland 2, Lebanon 2,
Maldives 2, Malta 2, Sweden 2,
Tanzania 2, Belgium 1, Gabon 1,
Gibraltar 1, Ireland 1, Israel 1,
Luxembourg 1, Qatar 1[37]
Sã o Tomé and 3[38] 2[38] 67% China 1, Greece 1[38] China refuses
Príncipe diplomatic
relations with
Sã o Tomé and
Príncipe
SVG Maritime 412[40] 325[40] 79% China 65, Greece 42, US 18, Latvia China refuses
Administration 15, Norway 13, Turkey 13, diplomatic
(Saint Vincent and Ukraine 12, Russia 11, Sweden 10, relations with
the Grenadines)[39] Bulgaria 9, Denmark 9, Lithuania Saint Vincent
9, Syria 9, Croatia 8, Estonia 8, and the
Switzerland 7, Belgium 7, UK 6, Grenadines
Hong Kong 5, Singapore 5, Italy 4,
Cyprus 3, Germany 3, Israel 3,
Japan 3, Poland 3, UAE 3, Egypt 2,
France 2, Guyana 2, Kenya 2,
Lebanon 2, Monaco 2, Austria 1,
Azerbaijan 1, Bangladesh 1,
Flag of convenience registries and statistics (of ships of 1,000 GRT and greater)
Foreign-
Ships Percent
Registry owned Foreign-owned ship profile Remarks
Registered Foreign
ships
THE END