KEGIATAN PEMBELAJARAN 4:
PENERAPAN SISTEM KESEHATAN DAN
KESELAMATAN KERJA (K3) BAGIAN 2
Capaian Pembelajaran Mata Kegiatan 3:
Memiliki pemahaman dan mampu menerapkan
Penerapan Sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Sub Capaian Pembelajaran Mata Kegiatan:
4.1 Mendeskripsi Bahan Kimia dan Material Industri
4.2 Menganalisis Cara Bekerja dengan Bahan Kimia
4.3 Mengidentifikasi Peralatan Perlindung di Laboratorium
4.4 Menjelaskan Penggunaan dan Pemeliharaan Alat Pelindung Diri
(APD)
Pokok-pokok Materi
4.1 Bahan Kimia dan Material Industri
4.2 Bekerja dengan Bahan Kimia
4.2 Peralatan Perlindugan diLaboratorium
4.3 Penggunaan dan Pemeliharaan Alat Pelindung Diri (APD)
Uraian Materi 4
4.1 Bahan Kimia dan Material Industri
Bahan kimia merupakan senyawa dari beberapa unsur. Sedangkan material
industry adalah produk dari campuran maupun reaksi dari beberapa
senyawa. Kedua hal itu mempunyai tingkat bahaya yang berbeda. Pada
umumnya bahan kimia lebih berbahaya daripada material industri,
meskipun banyak material industri yang juga berbahaya. Bahan kimia
yang digunakan dalam lingkungan kerja dapat dibagi menjadi 3 kelompok
besar yaitu:
1. Industri kimia yaitu industri yang mengolah dan menghasilkan bahan-
bahan kimia di antaranya industri pupuk, asam sulfat, soda, bahan
peledak, pestisida, cat, detergen, dan lain-lain. Industri kimia dapat
diberi batasan sebagai industri yang ditandai dengan penggunaan
proses-proses yang berkaitan dengan perubahan kimiawi atau fisik
dalam sifat-sifat bahan tersebut dan khususnya pada bagian kimiawi
dan komposisi suatu zat.
1
2. Industri pengguna bahan kimia yaitu industri yang menggunakan
bahan kimia sebagai bahan pembantu proses, di antaranya industri
tekstil, kulit, kertas, pelapisan listrik, pengolahan logam, obat-obatan,
dan lain-lain.
3. Laboratorium yaitu tempat kegiatan untuk uji mutu, penelitian, dan
pengembangan serta pendidikan. Kegiatan laboratorium banyak
dilakukan oleh industri, lembaga penelitian dan pengembangan,
perusahaan jasa, rumah sakit, dan perguruan tinggi. Beberapa contoh
bahan kimia yaitu ammonia, natrium hidroksida, asam sianida, asam
khlorida, akrilamida. Sedangkan contoh material industri yaitu
urea/pupuk, bahan pencuci atau sabun, pestisida, pelarut kerak, bahan
untuk zat warna, tekstil, kertas, produksi polimer.
Identifikasi Bahan Kimia
Bahan kimia maupun material industri yang digunakan dalam proses
industri merupakan bahan berbahaya dengan tingkat risiko yang berbeda.
Mulai tingkat risiko yang ringan hingga yang menyebabkan kematian. Hal
ini disebabkan karena bahan kimia maupun material industri memiliki sifat
merusak kesehatan, mudah meledak/eksplosif, beracun/toksik, dan mudah
terbakar. Bahkan hampir semua bahan kimia bersifat reaktif. Dengan
demikian, bekerja dengan bahan kimia dan material industri memerlukan
konsentrasi penuh, kewaspadaan, dan ketelitian. Untuk itu, perlu menata
penempatan/penyimpanan bahan-bahan kimia dalam keadaan benar dan
aman sehingga area atau wilayah penggunaannya pun menjadi aman.
Selain itu, bahan-bahan kimia dan area/wilayah yang berbahaya harus
teridentifikasi dengan teliti dan akurat. Berikut ini panduan identifikasi
bahan berbahaya serta penanganan khusus
1. Periksa bahan berbahaya serta prosedur penanganan khusus yaitu
dengan mengamati label kemasan/keterangan lainnya dan wilayah kerja
yang berpotensi bahaya.
2. Identifikasi bahan-bahan yaitu dengan mencatat nama bahan, data
keselamatan, penomoran, spesifikasi teknis, sifat fisik, dan sifat
kimianya serta keterangan lain yang diperlukan.
3. Identifikasi wilayah berbahaya yaitu dengan mencatat nama wilayah
berbahaya dan amati kemungkinan apa saja yang dapat terjadi dan
penyebabnya.
4. Identifikasi prosedur penanganan khusus yaitu dengan mencatat nama
prosedur penanganan khusus, mengamati, dan mencatat kekurangannya
serta menyusun laporannya.
Rincian data teknis dan sifat-sifat yang dimiliki bahan kimia harus jelas
sehingga tidak akan terjadi kontradiksi dalam penggunaannya antara bahan
perlengkapan dengan bahan kimianya. Misalnya dalam label kemasan
terdapat informasi yang perlu kita ketahui, antara lain:
2
1. Sifat-sifat bahaya, antara lain terhadap kesehatan, kebakaran, ledakan,
dan reaktivitas.
2. Sifat-sifat fisika seperti berat jenis, titik didih, titik bakar tekanan uap
dan sifat kelarutan.
3. Label bahaya dengan ranking dan tanda warna sebagai aspek bahaya
yang telah distandarkan.
4. Keterangan bahan seperti nama, jenis, wujud bahan cair/padat/gas, dan
keterangan lainnya yang berhubungan dengan unsur-unsurnya.
Hindari menggunakan atau mencampurkan bahan kimia tanpa ada label
yang menempel pada kemasannya. Tidak semua botol berbahan gelas
mampu sebagai wadah penyimpanan bahan kimia tertentu karena bahan
kimia tersebut reaktif terhadap gelas.
Bahan perlengkapan lain yang terbuat dari logam, plastik/polimer dan
karet, harus
disesuaikan dengan sifat-sifat bahan kimianya yang tidak reaktif. Dengan
demikian, jika spesifikasi bahan perlengkapan dan spesifikasi bahan kimia
telah diketahui maka tidak akan terjadi kesalahan menggunakan wadah
maupun salah mencampur bahan kimia.
Label yang menempel pada kemasan bahan kimia memberikan informasi
penting mengenai identitas bahan kimia di dalamnya termasuk jenis
bahaya, prosedur darurat, alat pelindung diri, serta nama, alamat, nomor
telepon pembuatnya serta informasi mengenai bahaya utama dari bahan
kimia tersebut. Tanda-tanda bahaya yang dimaksud antara lain:
1. Inflammable substances (bahannmudah terbakar)
a. Explosive (mudah meledak)
Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya “explosive”
tidak boleh kena benturan, gesekan pemanasan, api, dan sumber
nyala lain bahkan tanpa oksigen atmosferik.
Ledakan akan dipicu oleh suatu reaksi keras dari bahan. Energi
tinggi dilepaskan dengan propagasi gelombang udara yang bergerak
sangat cepat. Risiko ledakan dapat ditentukan dengan metode yang
diberikan di dalam Lawfor Explosive Substances.
Di laboratorium, campuran senyawa pengoksidasi kuat dengan
bahan mudah terbakar atau bahan pereduksi dapat meledak. Sebagai
contoh asam nitrat dapat menimbulkan ledakan jika bereaksi dengan
beberapa solven seperti aseton, dietil eter, etanol, dan lainlain.
Bekerja dengan bahan mudah meledak memerlukan pengetahuan dan
pengalaman praktis maupun keselamatan khusus. Apabila bekerja
dengan bahan-bahan tersebut, kuantitas harus dijaga sedikit mungkin
untuk penanganan maupun persediaan. Sebagai contoh adalah 2,4,6-
trinitro toluene (TNT).
3
Gambar 4.1 Simbol Explosive
b. Oxidizing (pengoksidasi)
Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya “oxidizing”
biasanya tidak mudah terbakar. Jika kontak dengan bahan mudah
terbakar atau bahan sangat mudah terbakar, mereka dapat
meningkatkan risiko kebakaran secara signifikan. Dalam berbagai
hal mereka adalah bahan anorganik seperti garam dengan sifat
pengoksidasi kuat dan peroksida organik. Contoh bahan tersebut
adalah kalium klorat dan kalium permanganate serta asam nitrat
pekat.
Gambar 4.2 Simbol Oxidizing
c. Extremly flammable (amat sangat mudah terbakar)
Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya
“extremely flammable” adalah bahan yang memiliki titik nyala
sangat rendah (di bawah 0 0C) dan titik didih rendah dengan titik
didih awal (di bawah 35oC). Bahan amat sangat mudah terbakar
berupa gas dengan udara dapat membentuk suatu campuran
4
bersifat mudah meledak di bawah kondisi normal. Contohnya
yaitu dietil eter (cairan) dan propane (gas).
Gambar 4.3 Simbol Extremly Flammable
d. Highly flammable (sangat mudah terbakar)
Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya “highly
flammable” adalah subyek untuk self-heating dan penyalaan
dibawah kondisi atmosferik biasa, atau mereka mempunyai titik
nyala rendah (dibawah 21oC). Beberapa bahan sangat mudah
terbakar menghasilkan gas yang amat sangat mudah terbakar
dibawah pengaruh kelembaban. Bahan-bahan yang dapat menjadi
panas di udara pada temperatur kamar tanpa tambahan pasokan
energi dan akhirnya terbakar, juga diberi label sebagai “highly
flammable”. Contoh bahan ini yaitu aseton dan logam natrium.
Gambar 4.4 SimbolHighly flammable
Tidak ada simbol bahaya diperlukan untuk melabeli bahan dan
formulasi dengan notasi bahaya “flammble”. Bahan dan formulasi
5
likuid yang memiliki titik nyala antara 21oC dan 55oC
dikategorikan sebagai bahan mudah terbakar.
2. Bahan-bahan berbahaya bagi kesehatan
Pengelompokan bahan dan formulasi menurut sifat toksikologinya
terdiri atas akut dan efek jangka panjang, tidak bergantung apakah efek
tersebut disebabkan oleh pengulangan, tunggal atau eksposisi jangka
panjang. Suatu parameter penting untuk menilai toksisitas akut suatu zat
adalah harga LD50nya yang ditentukan dalam percobaan pada hewan
uji. Harga LD50 merefleksikan dosis yang mematikan dalam mg per kg
berat badan yang akan menyebabkan kematian 50% dari hewan uji.
a. Very toxic (sangatberacun)
Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya “verytoxic”
dapat menyebabkan kerusakan kesehatan akut atau kronis dan
bahkan kematian pada konsentrasi sangat rendah jika masuk ke
tubuh melalui inhalasi, mulut atau kontak dengan kulit. Contoh
bahan dengan sifat tersebut adalah kalium sianida, hydrogensulfide,
nitrobenzene, dan atripin.
Gambar 4. 4 Simbol Very Toxic
b. Toxic (beracun)
Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya “toxic”
dapat menyebabkan kerusakan kesehatan akut atau kronis dan
bahkan kematian pada konsentrasi sangat rendah jika masuk ke
tubuh melalui inhalasi, mulut atau kontak dengan kulit. Contoh
bahan dengan sifat tersebut misalnya solven dan benzene.
6
Gambar 4.5 Simbol Toxic
c. Harmful (berbahaya)
Bahan dan formula yang ditandai dengan notasi bahaya “harmful”
memiliki risiko merusak kesehatan jika masuk ke tubuh melalui
inhalasi, mulut, atau kontak dengan kulit. Contoh bahan yang
memiliki sifat tersebut misalnya solven 1,2-etane-1,2-diol atau
etilenglikol dan diklorometan (karsinogenik).
Gambar 4.6 Simbol Harmful
3. Bahan-bahan yang merusak jaringan
a. Corrosive (korosif)
Bahan dan formulasi dengan notasi bahaya “corrosive” adalah
merusak jaringan hidup. Jika suatu bahan merusak kesehatan dan
kulit hewan uji dapat diprediksikan karena karakteristik kimia bahan
uji seperti asam (pH<2) dan basa (pH>11,5) ditandai sebagai bahan
korosif. Contoh bahan dengan sifat tersebut adalah asam mineral
seperti HCl dan H2SO4 maupun basa seperti larutan NaOH (>2%).
7
Gambar 4.7. Simbol Corrosive
b. Irritant (menyebabkan iritasi)
Bahan dan formulasi dengan notasi bahaya “irritant” tidak korosif
tetapi dapat menyebabkan inflamasi jika kontak dengan kulit atau
selaput lendir. Contoh bahan dengan sifat tersebut misalnya
isopropilamina, kalsium klorida, dan asam/basa encer.
Gambar 4.8 Simbol Irritant
c. Bahan berbahaya bagi lingkungan
Bahan dan formulasi dengan notasi bahaya “dangerous for
environment” dapat menyebabkan efek tiba-tiba atau dalam sela
waktu tertentu pada suatu kompartemen lingkungan atau lebih (air,
tanah, udara, tanaman, mikroorganisme) dan menyebabkan
gangguan ekologi. Contoh bahan yang memiliki sifat tersebut
misalnya tributil timah klorida, tetraklorometan dan petroleum
hidrokarbon seperti pentana dan bensin.
8
Gambar 4.9 Simbol Dangerous for Environment
Material Safety Data Sheets (MSDS)
Tanda bahaya bahan kimia dapat ditemukan pada label bahan kimia.
Namun, untuk informasi yang lengkap mengenai bahan kimia, ada pada
lembar data keselamatan bahan kimia tersebut.
Material Safety Data Sheets meliputi aspek keselamatan yang perlu
diperhatikan untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Aspek-aspek tersebut
selalu melibatkan 3 komponen yang saling berkaitan yaitu manusia,
prosedur/metode kerja, dan peralatan/bahan. Sebelum bahan kimia
diterima, disimpan dan digunakan maka keterangan yang ada dalam
MSDS harus dipahami. Keterangan tersebut meliputi:
1. Identifikasi bahan
Bagian ini menjelaskan nama bahan kimia, meliputi nomor urut MSDS,
sinonim dalam nama kimia dan nama dagang, rumus dan berat molekul.
2. Label bahaya
Label ini diberikan dalm bentuk gambar untuk memberikan gambaran
cepat sifat
bahaya. Label yang dipakai ada dua yaitu menurut PBB (internasional)
dan NFPA (National Fire Protection Assosiation)-Amerika. Label
NFPA ditunjukkan di table di bawah, berupa 4 kotak yang mempunyai
ranking bahaya (0-4) ditinjau dari aspek bahaya kesehatan (biru),
bahaya kebakaran (merah) dan bahaya reaktivitas (kuning). Kotak putih
untuk keterangan tambahan.
9
Tabel 4.1
Tanda bahaya menurut NFPA
Ranking Bahaya Kesehatan Bahaya Kebakaran Bahaya Reaktivitas
Penyebab kematian, Segera mengaup Mudah meledak atau
cedera fatal meskipun dalam diledakkan, sensitif
4 ada pertolongan keadaan normal dan terhadap panas dan
dapat terbakar secara mekanik
cepat
Berakibat serius pada Cair atau padat dapat Mudah meledak tetapi
keterpaan singkat, dinyalakan pada suhu memerlukan penyebab
3
meskipun ada biasa panas dan tumbukkan
pertolongan kuat
Keterpaan intensif dan Perlu sedikit ada Tidak stabil, bereaksi
terus menerus pemanasan sebelum hebat tetapi tidak
2 berakibat serius, bahan dapat dibakar meledak
kecuali ada
pertolongan
Penyebab iritasi atau Dapat dibakar, tetapi Stabil pada suhu
cedera ringan memerlukan normal, tetapi tidak
1
pemanasan stabil pada suhu tinggi
terlebih dahulu
Tidak berbahaya bagi Bahan tidak dapat Stabil, tidak reaktif
0 kesehatan meskipun dibakar sama sekali meskipun kena panas
kena panas (api) atau suhu tinggi.
3. Informasi bahan singkat
Informasi singkat mengenai jenis bahan, wujud, manfaat serta bahaya-
bahaya utamanya. Dari informasi singkat dan label bahaya, secara cepat
bisa dipahami kehati-hatian dalam menangani bahan kimia tersebut.
4. Sifat-sifat bahaya
a. Bahaya kesehatan: Bahaya terhadap kesehatan dinyatakan dalam
bahaya jangka pendek (akut) dan jangka panjang (kronis). NAB
(nilai ambang batas) diberikan dalam satuan mg/m3 atau ppm. NAB
adalah konsentrasi pencemaran dalam udara yang boleh dihirup
seseorang yang bekerja selama 8 jam/hari selama 5 hari.
b. Bahaya kebakaran: ini termasuk kategori bahan mudah terbakar,
dapat dibakar, tidak dapat dibakar, atau membakar bahan lain.
Kemudahan zat untuk terbakar ditentukan oleh titik nyala,
konsentrasi mudah terbakar, titik bakar.
c. Bahaya reaktivitas: sifat bahaya akibat ketidakstabilan atau
kemudahan terurai, bereaksi dengan zat lain atau terpolimerisasi
yang bersifat eksotermik sehingga eksplosif atau reaktivitasnya
terhadap gas lain menghasilkan gas beracun.
5. Sifat fisika
Sifat-sifat fisiki ini merupakan faktor-faktor yang dapat memengaruhi
sifat bahaya bahan.
10
6. Keselamatan dan penanganan
Langkah-langkah keselamatan dan pengamanan:
a. Penanganan dan penyimpanan: usaha keselamatan yang dilakukan
apabila bekerja dengan atau menyimpan bahan
b. Tumpahan dan kebocoran: usaha pengamanan apabila terjadi bahan
tertumpah atau bocor
c. Alat pelindung diri: terhadap pernafasan, muka, mata, dan kulit
sebagai usaha untuk mengurangi keterpaan bahan.
d. Pertolongan pertama: karena penghirupan uap/gas, terkena mata dan
kulit atau tertelan.
e. Pemadaman api: alat pemadam api ringan yang dapat dipakai untuk
memadamkan api yang belum terlalu besar dan cara penanggulangan
apabila sudah membesar.
7. Informasi lingkungan
Informasi ini menjelaskan bahaya terhadap lingkungan dan bagaimana
menangani limbah bahan kimia baik berupa padat, cair dan gas.
Termasuk di dalamnya cara pemusnahan. Menangani bahan berbahaya
tanpa mengetahui informasi tersebut dapat mengakibatkan kecelakaan
kerja yang diakibatkan oleh bahan tersebut yang tanpa disadari akan
menyebabkan dampak yang tidak kita inginkan.
Bahaya Bahan Kimia
Dalam proses produksi industri kimia, sebagian besar masih menggunakan
bahan kimia berbahaya. Risiko kecelakaan terlepasnya zat kimia akan
menjadi lebih besar sesuai dengan jumlah zat-zat baru yang dihasilkannya.
Risiko ini dikarenakan produksi, penyimpanan, transportasi, dan penggunaan
zat-zat yang mudah terbakar atau yang mudah meledak. Bencana kimia dapat
berupa kebakaran, ledakan, kebocoran bahan kimia, tumpahan bahan kimia
cair, semburan partikel kimia, dan sebagainya.
Bencana industri kimia juga dapat muncul perlahan-lahan karena kebocoran
yang tidak terdeteksi pada lokasi industri, tempat penyimpanan bahan kimia
atau dari tempat pembuangan limbah beracun. Gejala keluhan penyakit misal
dapat menjadi tanda dari kejadian tersebut.
Bencana kimia dapat mengakibatkan tersebarnya gas buang berbahaya dan
beracun ke ruang udara bebas. Dapat juga menyebabkan tercemarnya limbah
cair dan padat ke media tanah/lahan, perairan sungai, perairan pesisir laut dan
pantai, perairan danau, maupun rawa serta rembesan limbah pada air
permukaan tanah dan air dalam tanah.
Standarisasi K3 Penanganan Bahan Kimia Berbahaya
Setiap kegiatan penanganan bahan kimia berbahaya di dalamnya sudah pasti
terkandung risiko bahaya yang dapat menimbulkan dampak serius jika tidak
11
ditangani sesuai dengan prosedur K3. Oleh karena itu penerapan K3 di setiap
unit kerja yang terlibat langsung sangat penting. Berikut ini standarisasi K3
penanganan bahan kimia berbahaya.
1. Proses pengadaan bahan kimia berbahaya. Berikut ini merupakan
petunjuk pelaksanaan K3.
a. Setiap pembelian/pengadaan bahan kimia berbahaya harus
dicantumkan dengan jelas di dalam lebar PP/PO tentang
kelengkapan informasi bahan berupa labeling, dampak bahaya, dan
P3K serta APD.
b. Spesifikasi mutu kemasan/wadah harus tertulis dengan jelas dalam
lembaran PP/PO keamanan, ketahanan, efektifitas, dan efisiensi.
Khusus dalam botol/bejana bertekanan, harus dicantumkan warna
sesuai jenis/golongan gas.
Dalam hal ini berpedoman pada GHS/NFPA.
c. Setiap wadah harus dilengkapi dengan tanda risiko bahaya serta
tindakan
pencegahan dan penanggulangannya.
d. User/pejabat yang mengajukan pembelian bahan kimia berbahaya
wajib melengkapi syarat-syarat K3.
2. Bongkar muat bahan kimia berbahaya. Berikut ini merupakan petunjuk
pelaksanaan K3.
a. Sebelum melaksanakan kegiatan bongkar muat, pengawas setempat
harus menyiapkan kelengkapan administratif seperti daftar bahan
yang akan dibongkar, prosedur kerja, perizinan, dan daftar kerja
serta penanggung jawab.
b. Perencanaan dan tindakan K3 harus dilaksanakan sebaik-baiknya
sebelum dan sesudah bongkar muat.
c. Pastikan bahwa para pekerja sudah mengetahui bahaya yang ada serta
pencegahan dan penanggulangannya.
d. APD dan alat pemadam yang sesuai dan P3K disiapkan dan
digunakan sebagaimana mestinya.
e. Pengawas buruh berkewajiban memberikan pembinaan perbaikan K3
jika menemui adanya penyimpangan peraturan yang sudah
diberlakukan.
f. Pemasangan rambu-rambu K3 harus jelas, mudah dibaca, dimengerti
dan terlihat oleh pekerja.
g. Setiap pekerja tidak diizinkan untuk merokok di tempat yang
terlarang, menggunakan APD yang tidak sesuai, mengerjakan
pekerjaan yang bukan wewenangnya, bersenda gurau dan menolak
perintah atasan.
h. Setiap kecelakaan, kebakaran, peledakan atau kondisi berbahaya
yang tidak mungkin dapat diatasi sendiri harus dilaporkan ke atasan.
i. P3K harus dilakukan dengan benar oleh orang yang berpengalaman.
12
3. Penyimpanan bahan kimia berbahaya. Berikut ini merupakan petunjuk
pelaksanaan K3.
a. Gudang tempat bahan kimia berbahaya harus dibuat sedemikian
rupa sehingga aman dari pengaruh alam dan lingkungan dengan
syarat:
1) Memiliki sistem sirkulasi udara dan ventilasi yang baik.
2) Suhu di dalam ruangan konstan dan aman.
3) Aman dari gangguan biologis (tikus, rayap).
b. Tata letak dan pengaturan penempatan bahan harus
mempertimbangkan:
1) Pemisahan dan pengelompokkan untuk menghindari bahaya
reaktivitas
2) Penyusunan agar tidak melebihi batas maksimum yang
dianjurkan manufaktur untuk menghindari ambruk sehingga
tidak mengakibatkan kerusakan.
3) Lorong tetap terjaga dan tidak terhalang oleh benda apa pun.
4) Khusus bahan dalam wadah silinder/tabung gas bertekanan agar di
tempatkan pada tempat yang teduh, tidak lembab, dan aman dari
sumber panas.
c. Program housekeeping harus dilaksanakan secara periodik dan
berkesinambungan, meliputi: kebersihan, kerapihan, dan
keselamatan.
d. Sarana K3 harus disiapkan dan digunakan sebagaimana mestinya.
e. Pekerja yang tidak berkepentingan dilarang memasuki gudang dan
harus menggunakan APD yang sesuai jika masuk.
f. Inspeksi K3 dilakukan secara teratur meliputi pemeriksaan seluruh
kondisi lingkungan, bahan, peralatan, dan sistem.
g. Setiap penyimpanan harus dilengkapi dengan label disertai uraian
singkat pencegahan, penanggulangan, dan pertolongan pertama.
h. Petugas gudang harus dilengkapi buku pedoman K3.
i. Setiap pekerja dilarang makan, minum di tempat penyimpanan bahan
kimia.
j. Tindakan P3K harus dilakukan oleh petugas yang berpengalaman.
4. Pengangkutan bahan kimia berbahaya. Berikut ini merupakan petunjuk
pelaksanaan K3.
a. Sebelum melaksanakan pengangkutan, pengawas wajib
menyampaikan informasi K3 serta risiko yang ada pada setiap
pekerja.
b. Hanya pekerja yang mengerti tugas dan tanggung jawab yang boleh
melakukan pengangkutan serta adanya rekomendasi dari atasan.
c. Upaya pencegahan harus tetap dilakukan seperti pemeriksaan
kelayakan peralatan kerja, kondisi muatan, dan kondisi fisik pekerja
sebelum melakukan
pengangkutan.
13
d. Menaikkan dan menurunkan bahan kimia berbahaya harus dilakukan
dengan hati-hati jika perlu buatkan bantalan kayu/karet.
e. Perlengkapan K3 dalam kondisi siap pakai.
f. Pengangkutan tidak boleh melebihi kapasitas yang ada dan tidak
boleh menghalangi pemandangan pengemudi.
g. Pengemudi harus mengikuti peraturan lalu lintas yang berlaku.
h. Jika kontak dengan bahan kimia berbahaya, segera lakukan tindakan
pertolongan pertama dengan benar.
i. Tanda label peringatan bahaya berupa tulisan, kode sesuai risiko
bahaya harus terpasang jelas di depan muatan, samping kiri dan
kanan, belakang muatan.
5. Penggunaan bahan kimia berbahaya. Berikut ini merupakan petunjuk
pelaksanaan K3.
a. Sebelum menggunakan bahan kimia berbahaya harus diketahui
terlebih dahulu informasi bahayanya baik dari sifat bahan kimia
serta pencegahan dan penanggulangannya.
b. Perencanaan dan penerapan K3 dilakukan dengan memperhatikan
hal-hal sebagai berikut.
APD yang sesuai dengan risiko bahaya, APAR dan P3K .
Kondisi kerja dan lingkungan sudah dinyatakan aman oleh pihak
yang berwenang.
Peralatan kerja harus layak pakai.
Metode kerja sudah aman dan efektif.
Kelengkapan administratif sudah dipersiapkan.
c. Hindari tindakan tidak aman.
d. Bila pekerjaan sudah selesai, amankan dan bersihkan alat-alat kerja,
lingkungan kerja, wadah sisa bahan sampai kondisi sudah aman.
e. Lakukan tindakan P3K dengan segera jika terjadi kecelakaan
hubungi tim medis.
6. Pembuangan limbah kimia
Upaya pembuangan limbah bahan kimia terdiri dari 4 metode yaitu
a. Pembuangan langsung di mana dapat diterapkan untuk bahan kimia
yang dapat larut dalam air. Bahan-bahan kimia yang dapat larut
dalam air dibuang langsung melalui bak pembuangan limbah. Untuk
bahan kimia sisa yang mengandung logam berat dan beracun seperti
Pb, Hg, Cd, dan sebagainya, endapannya harus dipisahkan terlebih
dahulu kemudian cairannya dinetralkan dan dibuang.
b. Pembakaran terbuka dapat diterapkan untuk bahan-bahan organik
yang kadar racunnya rendah dan tidak terlalu berbahaya. Bahan-
bahan organik tersebut
dibakar di tempat yang aman dan jauh dari pemukiman penduduk.
c. Pembakaran dalam insenerator dapat diterapkan untuk bahan toksik
yang jika dibakar di tempat terbuka akan menghasilkan senyawa-
senyawa yang bersifat toksik.
14
d. Dikubur di dalam tanah dengan perlindungan tertentu agar tidak
merembes ke badan air. Metode ini dapat diterapkan untuk zat padat
yang reaktif dan beracun.
4.2 Bekerja dengan Bahan Kimia
Potensi kecelakaan kerja di laboratorium kimia relatif tinggi, oleh karena itu
para pengguna laboratorium harus melakukan pekerjaan dalam risiko yang
rendah, baik risiko yang disebabkan bahan kimia berbahaya yang dikenal
maupun yang tidak dikenal. Oleh karena itu sangat penting untuk menerapkan
K3 di laboratorium baik dari sistem manajemen maupun dari fasilitas
keselamatannya.
Penciptaan sistem manajemen keselamatan dan keamanan akan meningkatkan
operasi laboratorium dan mengantisipasi serta mencegah keadaan yang
mungkin mengakibatkan cedera, sakit, atau dampak lingkungan negatif
lainnya.
Beberapa langkah untuk menciptakan Sistem Manajemen Keselamatan dan
Keamanan Kimia Laboratorium yang efektif.
1. Membentuk Komite Pengawasan Keselamatan dan Keamanan Lembaga
dan menunjuk Petugas Keselamatan dan Keamanan Kimia. Pimpinan
teratas lembaga/perusahaan harus membentuk komite untuk memberikan
pengawasan terhadap keselamatan dan kesehatan kimia di
lembaga/perusahaan tersebut. Komite harus memiliki perwakilan dari
semua bagian yang berpengaruh di semua unit kerja. Komite harus
melapor langsung ke pimpinan teratas dan mendapatkan dukungan
keuangan dan administratif yang diperlukan. Perusahaan harus menunjuk
sedikitnya seorang petugas keselamatan dan kesehatan kerja untuk
mengawasi program manajemen. Petugas keselamatan dan kesehatan
kerja yang efektif harus memiliki waktu dan sumber daya khusus serta
kewenangan yang diperlukan untuk melaksanakan tanggung jawabnya.
2. Mengembangkan kebijakan keselamatan dan keamanan kimia.
Pimpinan lembaga harus membuat kebijakan formal untuk
mendefinisikan dan mendokumentasikan sistem manajemen keselamatan
dan keamanan kimia. Pernyataan kebijakan formal menetapkan harapan
dan menyampaikan dukungan lembaga. Kebijakan tersebut harus
menyatakan niat untuk:
mencegah atau mengurangi kerugian diri dan ekonomi akibat
kecelakaan, paparan kerja yang merugikan, dan pencemaran
lingkungan;
memasukkan pertimbangan keselamatan dan keamanan ke dalam
semua fase operasional; dan
mencapai dan memelihara kepatuhan terhadap undang-undang dan
peraturan serta terus memperbaiki kinerja.
15
3. Membentuk kendali dan proses administratif untuk mengukur kinerja.
Kendali administratif mendefinisikan aturan dan prosedur keselamatan dan
keamanan khusus serta membuat daftar tanggung jawab individu yang
terlibat. Kendali administratif juga harus menyediakan cara untuk
mengelola dan menanggapi perubahan, seperti prosedur baru, teknologi,
ketentuan hukum, staf, dan perubahan organisasi/manajemen.
Evaluasi keselamatan dan keamanan operasi laboratorium harus menjadi
bagian dari kegiatan sehari-hari. Misalnya, mulai semua rapat departemen
atau kelompok dengan masalah keselamatan diskusikan kegiatan harian,
masalah keselamatan atau keamanan yang muncul, dan apa yang bisa
dilakukan untuk menghindari kemungkinan terjadinya insiden.
4. Mengidentifikasi dan mengatasi situasi yang sangat berbahaya.
Manajer, peneliti utama, pimpinan peneliti, pimpinan tim, dan supervisor
harus berperan aktif dalam mengelola keselamatan dan keamanan
laboratoriumnya. Lakukan penelaahan status awal untuk menilai lingkup,
kecukupan dan penggunaan prosedur keselamatan. Gunakan telaahan
status tersebut sebagai dasar untuk membangun program keselamatan dan
kesehatan kerja dan membantu menentukan prioritas untuk perbaikan.
Lakukan evaluasi berbasis risiko untuk menentukan cukup tidaknya upaya
kendali yang ada, memprioritaskan kebutuhan dan menerapkan tindakan
perbaikan berdasarkan tingkat kepentingan dan sumber daya yang tersedia.
5. Mengevaluasi fasilitas dan mengatasi kelemahannya.
Penting untuk melakukan peran kendali akses fisik dalam meningkatkan
keamanan gedung tempat menyimpan dan menggunakan bahan kimia. Hal
ini mungkin memerlukan penilaian kerentanan keamanan dan penentuan
kebijakan manajemen serta evaluasi yang akan dilakukan.
6. Menentukan prosedur untuk penanganan dan manajemen bahan kimia.
Manajemen bahan kimia adalah komponen penting dari program
laboratorium. Keselamatan dan keamanan harus menjadi bagian dari
seluruh siklus hidup bahan kimia, termasuk pembelian, penyimpanan,
inventaris, penanganan, pengiriman, dan pembuangan. Harus ada proses
inventaris untuk melacak penggunaan bahan kimia hingga sepenuhnya
dipakai atau dibuang.
7. Menggunakan kendali teknik dan peralatan pelindung diri.
Kendali teknik, seperti tudung laboratorium, ventilasi, atau kotak sarung
tangan, merupakan metode utama untuk mengontrol bahaya di
laboratorium kimia. Peralatan pelindung diri seperti kaca mata pengaman,
kaca mata pelindung, dan pelindung wajah, harus melengkapi peralatan
kendali teknik. Manajemen laboratorium tidak boleh mengizinkan
16
eksperimen jika kendali teknik tidak memadai atau PPE (Peralatan
Pelindung Diri) tidak tersedia.
8. Membuat rencana untuk keadaan darurat.
Laboratorium harus membuat rencana untuk menangani keadaan darurat
dan insiden tak terduga. Simpan peralatan dan bahan untuk menanggulangi
keadaan darurat di tempat yang terjangkau, seperti pemadam api, pencuci
mata, pancuran keselamatan, dan perangkat kerja untuk menangani
tumpahan. Rencana darurat harus melibatkan lembaga tanggap darurat
setempat, seperti pemadam kebakaran, untuk memastikan bahwa mereka
memiliki peralatan dan informasi yang memadai.
9. Mengidentifikasi dan mengatasi hambatan untuk mengikuti praktik terbaik
keselamatan dan keamanan.
Praktik keamanan dan keselamatan yang baik termasuk meminta semua
pegawai senantiasa mematuhi kebijakan dan prosedur. Namun, mengubah
perilaku dan memupuk budaya praktik terbaik sering kali menantang.
Rintangan sosial dan budaya setempat bisa mencegah manajer
laboratorium, pegawai laboratorium, dan lainnya untuk mengikuti praktik
keselamatan dan keamanan terbaik. Lembaga/perusahaan harus melakukan
upaya untuk mengatasi rintangan tersebut.
10. Melatih, menyampaikan, dan membina
Petugas keselamatan dan keamanan kimia bertanggung jawab untuk
menentukan prosedur keselamatan dan keamanan serta memastikan
apakah semua orang mengetahui dan mematuhi prosedur itu. Namun,
diperlukan komitmen yang kuat dari pimpinan teratas untuk menciptakan
sistem keselamatan dan keamanan terbaik. Pimpinan teratas bertanggung
jawab penuh terhadap keselamatan dan keamanan kimia.
Perilaku Pribadi
Semua pegawai harus mematuhi standar profesional berikut ini.
1. Hindari mengganggu atau mengejutkan pegawai lain.
2. Jangan biarkan lelucon praktis, keributan, atau kegaduhan berlebih terjadi
kapan pun.
3. Gunakan peralatan laboratorium hanya untuk tujuan yang dimaksudkan.
4. Jika anak di bawah umur diizinkan berada di laboratorium, pastikan
mereka mendapat pengawasan langsung sepanjang waktu dari orang
dewasa yang kompeten. Kembangkan kebijakan terkait anak di bawah
umur di dalam laboratorium, dan kaji serta setujui semua kegiatan anak di
bawah umur sebelum kedatangan mereka. Pastikan pegawai laboratorium
lainnya yang berada di area mengetahui keberadaan anak di bawah umur.
17
Mengurangi Paparan ke Bahan Kimia
Berhati-hatilah untuk menghindari cara paparan paling umum: kontak kulit
dan mata, penghirupan, dan pencernaan. Metode yang dianjurkan untuk
mengurangi paparan bahan kimia, menurut urutan preferensi sebagai berikut.
1. Penggantian dengan bahan atau proses yang tidak begitu berbahaya.
2. Kendali teknik adalah tindakan yang menghilangkan, memisahkan, atau
mengurangi paparan bahaya ke bahan kimia atau fisik melalui
penggunaan berbagai perangkat. Contohnya yaitu tudung kimia
laboratorium dan sistem ventilasi lainnya, pelindung barikade, interlock.
Kendali teknik harus menjadi lini pertahanan pertama dan utama untuk
melindungi pegawai dan properti. PPE tidak boleh digunakan sebagai lini
perlindungan pertama. Misalnya, respirator pribadi tidak boleh digunakan
untuk mencegah penghirupan uap jika tudung kimia laboratorium
(tudung asap) tersedia.
3. Kendali administratif.
4. Peralatan pelindung diri (PPE).
Menghindari Cedera Mata
Pelindung mata wajib digunakan oleh semua pegawai dan pengunjung di
seluruh lokasi tempat bahan kimia disimpan atau digunakan, baik seseorang
benar-benar melakukan operasi kimia maupun tidak. Sediakan pelindung
mata untuk semua pengunjung di pintu masuk semua laboratorium. Peneliti
harus menilai risiko yang terkait dengan eksperimen dan menggunakan
tingkat perlindungan mata yang sesuai. Operasi yang berisiko ledakan atau
menyebabkan kemungkinan proyektil harus memiliki kendali teknik sebagai
lini perlindungan pertama.
Gambar 4-10 Kacamata dan Sarung Tangan Pelindung
Kacamata dan sarung tangan pelindung sangat penting untuk melindungi
mata dan tangan dari paparan kimia di laboratorium. Lensa kontak tidak
memberi perlindungan terhadap cedera mata dan bukan merupakan pengganti
kaca mata keselamatan atau kaca mata percikan bahan kimia. Lensa kontak
tidak boleh digunakan jika ada kemungkinan terjadinya paparan ke uap kimia,
18
percikan bahan kimia, atau debu bahan kimia. Lensa kontak dapat rusak
dalam kondisi semacam ini.
Menghindari Mencerna Bahan Kimia Berbahaya
Pada saat di laboratorium tidak diizinkan untuk:
1. makan, minum, merokok, mengunyah permen karet, menggunakan
kosmetik, dan meminum obat di tempat bahan kimia berbahaya digunakan;
2. menyimpan makanan, minuman, cangkir, dan peralatan makan dan minum
lainnya di tempat bahan kimia ditangani atau disimpan;
3. penyiapan atau konsumsi makanan atau minuman dalam peralatan dari
kaca yang digunakan untuk operasi laboratorium;
4. penyimpanan atau penyiapan makanan di lemari es, peti es, ruang dingin,
dan oven laboratorium;
5. penggunaan sumber air laboratorium dan air laboratorium demineral
sebagai air minum;
6. mengecap bahan kimia laboratorium; dan
7. pemipetan dengan mulut (bola pipet, aspirator, atau perangkat mekanik
harus digunakan untuk memipet bahan kimia atau memulai sifon). Cuci
tangan dengan sabun dan air segera setelah bekerja dengan bahan kimia
laboratorium apapun, meskipun sudah menggunakan sarung tangan.
Menghindari Penghirupan Bahan Kimia Berbahaya
Endus bahan kimia hanya dalam situasi tertentu yang terkendali. Jangan
sekali-kali mengendus bahan kimia beracun atau senyawa dengan toksisitas
tidak diketahui. Lakukan semua prosedur yang melibatkan zat beracun yang
mudah menguap dan semua operasi yang melibatkan zat beracun padat atau
cair yang dapat mengakibatkan pembentukan aerosol di bawah tudung kimia
laboratorium. Respirator pemurni udara harus digunakan dengan beberapa
bahan kimia jika kendali teknik tidak dapat mencegah paparan.
Dalam latar terkendali, instruktur dapat meminta siswa mengendus isi wadah.
Dalam kasus semacam itu, periksa dulu bahan kimia yang diendus untuk
memastikannya aman. Jika diperintahkan untuk mengendus bahan kimia,
perlahan arahkan uap ke hidung Anda dengan selembar kertas yang dilipat.
Jangan menghirup uap secara langsung. Jangan menggunakan tudung kimia
laboratorium untuk pembuangan bahan yang mudah menguap dan berbahaya
melalui evaporasi. Bahan semacam itu harus diperlakukan sebagai limbah
kimia dan dibuang dalam wadah yang sesuai.
Meminimalkan Kontak Kulit
Kenakan sarung tangan kapan pun Anda menangani bahan kimia berbahaya,
benda dengan tepi tajam, bahan yang sangat panas atau sangat dingin, bahan
kimia beracun, dan zat dengan toksisitas tidak diketahui.
19
Gambar 4.11 Sarung Tangan Laboratorium
Tidak ada satu bahan sarung tangan yang memberikan perlindungan untuk
semua penggunaan. Berikut ini adalah panduan umum untuk pemilihan
dan penggunaan sarung tangan pelindung.
1. Pilih sarung tangan dengan hati-hati untuk memastikan bahwa sarung
tangan tidak dapat dilalui bahan kimia yang digunakan dan memiliki
ketebalan yang tepat untuk memungkinkan keterampilan yang wajar
sekaligus memberi perlindungan penghalang yang memadai. Macam-
macam sarung tangan dan fungsinya sebagai berikut.
Sarung tangan nitril untuk kontak insidental dengan bahan kimia.
Sarung tangan lateks melindungi terhadap bahaya biologis tetapi
kurang baik terhadap asam, basa dan sebagian besar pelarut organik.
Sarung tangan lateks juga dapat memicu reaksi alergi untuk beberapa
individu.
Sarung tangan nitril maupun lateks memberi perlindungan minimal
untuk pelarut berklorin dan tidak boleh digunakan dengan asam yang
beroksidasi atau korosif.
Sarung tangan neoprene dan karet dengan ketebalan tertentu
digunakan untuk
bahan tajam dan bahan kimia yang berasam.
Sarung tangan kulit sesuai untuk menangani peralatan dari kaca yang
mudah pecah dan memasukan tabung ke sumbat di mana untuk
perlindungan bahan
kimia tidak diperlukan.
Sarung tangan berinsulasi harus digunakan saat bekerja dengan
bahan yang sangat panas atau sangat dingin.
2. Jangan menggunakan sarung tangan yang sudah kedaluwarsa. Kualitas
sarung tangan menurun dari waktu ke waktu, bahkan dalam kotak yang
tidak dibuka.
3. Periksa sarung tangan untuk menemukan lubang kecil, robekan, dan
tanda penurunan kualitas sebelum digunakan.
20
4. Cuci sarung tangan dengan benar sebelum melepasnya. (Catatan:
beberapa sarung tangan, seperti kulit dan polivinil alkohol, dapat
menyerap air. Jika tidak dilapisi dengan lapisan pelindung, sarung
tangan polivinil alkohol akan menurun kualitasnya jika terkena air).
5. Cuci dan periksa sarung tangan pakai ulang setiap sebelum dan setelah
digunakan. Ganti sarung tangan secara berkala karena kualitasnya
menurun bila sering digunakan, tergantung frekuensi penggunaan dan
karakteristik perembesan dan penurunan kualitasnya relatif terhadap zat
yang ditangani.
6. Sarung tangan yang dapat terkontaminasi bahan beracun harus
dijauhkan dari area terdekat (biasanya tudung kimia laboratorium)
tempat bahan kimia diletakkan. Sarung tangan ini lebih baik digunakan
di luar laboratorium atau saat menangani item yang sering digunakan,
seperti gagang pintu, telepon, saklar, bolpoin, dan keyboard komputer.
7. Kenakan dua pasang sarung tangan jika satu bahan sarung tangan tidak
memberi perlindungan memadai untuk semua bahaya yang ditemukan
dalam operasi yang
dilakukan. Misalnya, operasi yang melibatkan bahaya kimia dan benda
tajam mungkin memerlukan kombinasi penggunaan sarung tangan
tahan bahan kimia (butil, viton, neoprena) dan sarung tangan tidak
mudah sobek (kulit, Kevlar, dll).
8. Jika tidak digunakan, simpan sarung tangan di laboratorium, tetapi tidak
di dekat bahan yang mudah menguap. Untuk mencegah kontaminasi
jangan menyimpan sarung tangan di kantor, ruang istirahat, atau ruang
makan siang.
9. Pegawai yang diketahui mengidap alergi lateks tidak boleh
menggunakan sarung tangan lateks dan harus menghindari bekerja di
area tempat sarung tangan lateks digunakan.
Menangani Zat yang Mudah Terbakar
Material yang mudah terbakar dan gampang menyala merupakan bahaya
yang sudah umum di laboratorium. Selalu pertimbangkan risiko kebakaran
saat merencanakan kegiatan operasi di laboratorium.
1. Untuk mengurangi risiko kebakaran, pelajari dahulu sifat kemudahan
bakaran dan ledakan bahan yang digunakan. Baca label pelarut, lembar
data keselamatan bahan (MSDS) atau sumber informasi lainnya untuk
mengetahui titik nyala, tekanan uap, dan ambang ledakan di udara dari
masing-masing bahan kimia yang ditangani.
2. Jika memungkinkan, eliminasi sumber penyulutan api dan hindari
adanya bahan bakar dan pengoksidasi secara bersamaan. Kendalikan,
tampung, dan kurangi jumlah bahan bakar dan pengoksidasi. Jangan
menggunakan wadah yang memiliki bukaan besar (misal, beaker,
rencaman, bejana) dengan cairan yang sangat mudah terbakar atau
cairan di atas titik nyala. Pertimbangkan menggunakan gas lembam
21
untuk menyelimuti atau memurnikan bejana yang berisi cairan yang
mudah terbakar.
3. Rencana pencegahan maupun penanggulangan tumpahan cairan yang
mudah terbakar harus ada. Letakkan labu distilasi dan reaksi di
perangkat pengaman sekunder untuk mencegah penyebaran cairan yang
mudah terbakar jika labu pecah.
4. Pelajari rencana dan prosedur kesiapan keadaan darurat laboratorium
untuk menanggulangi kebakaran. Gunakan pemadam api di dekat
tempat eksperimen yang sesuai dengan bahaya kebakaran tertentu.
Pasang nomor telepon yang dapat dihubungi jika terjadi keadaan
darurat atau kecelakaan di tempat yang mudah terlihat.
Gambar 4.12 Api Spiritus di Laboratorium
Membiarkan Percobaan Tidak Dijaga dan Bekerja Sendirian
Tidak dianjurkan untuk bekerja sendirian di dalam laboratorium.
Karyawan yang bekerja sendiri harus melakukan pengaturan untuk
memeriksa satu sama lain secara berkala atau meminta penjaga keamanan
untuk melakukan pemeriksaan. Jangan melakukan percobaan berbahaya
sendirian di dalam laboratorium. Hindari untuk tidak meninggalkan
percobaan yang sedang berlangsung di dalam laboratorium.
Untuk percobaan yang tidak dijaga, tinggalkan laboratorium dalam
keadaan lampu
menyala dan pasang tanda yang menunjukkan sifat percobaan serta zat
berbahaya yang digunakan. Buat pengaturan untuk karyawan lainnya agar
memeriksa percobaan di dalam laboratorium secara berkala. Pasang
informasi yang menunjukkan bagaimana cara menghubungi orang yang
bertanggung jawab jika terjadi keadaan darurat.
Menanggulangi Keadaan Darurat
Semua karyawan laboratorium harus mengetahui apa yang harus dilakukan
dalam keadaan darurat. Setiap laboratorium harus memiliki rencana
tanggap darurat tertulis yang mengatasi cedera, tumpahan, kebakaran,
kecelakaan, dan keadaan darurat lainnya yang mungkin terjadi serta
22
mencakup prosedur komunikasi dan penanggulangan. Pekerjaan
laboratorium tidak boleh dilakukan tanpa mengetahui rencana tanggap
darurat.
Menangani Pelepasan Zat Berbahaya Secara tidak Disengaja
Selalu rancang eksperimen untuk mengurangi kemungkinan pelepasan zat
berbahaya secara tidak disengaja. Staf laboratorium harus menggunakan
jumlah bahan berbahaya seminimal mungkin dan melakukan percobaan
sedemikian rupa sehingga tumpahan apapun dapat tertampung. Berikut ini
adalah panduan umum jika terjadi tumpahan skala laboratorium.
1. Memberi tahu kepada staf laboratorium lainnya mengenai kecelakaan
tersebut. Dalam beberapa insiden yang melibatkan pelepasan zat sangat
beracun atau tumpahan yang terjadi di area selain laboratorium,
mungkin tepat untuk mengaktifkan alarm kebakaran guna
memperingatkan semua orang untuk mengevakuasi seluruh gedung.
2. Jika diperlukan lakukan evakuasi area. Gas sangat beracun atau bahan
yang mudah menguap dilepaskan, evakuasi laboratorium dan tempatkan
pegawai di pintu masuk untuk mencegah orang lain memasuki area
yang terkontaminasi.
3. Lakukan perawatan kepada staf yang cedera atau terkontaminasi, bila
perlu mintalah bantuan. Jika seseorang mengalami cedera atau
terkontaminasi zat berbahaya, merawatnya lebih diutamakan daripada
melakukan tindakan pada tumpahan zat berbahaya. Cari pertolongan
medis sesegera mungkin dengan menghubungi lembaga tanggap
darurat.
4. Lakukan beberapa langkah untuk menghalangi dan membatasi
tumpahan jika hal ini dapat dilakukan tanpa risiko cedera atau
kontaminasi.
5. Bersihkan tumpahan sesuai dengan prosedur yang berlaku.
6. Buang bahan yang terkontaminasi dengan benar.
Perangkat/Peralatan Pengaman Tumpahan
Semua orang yang bekerja di laboratorium tempat zat berbahaya
digunakan harus
mengetahui kebijakan kendali tumpahan lembaga mereka. Untuk
tumpahan non-darurat, peralatan pengendali tumpahan yang disesuaikan
dengan potensi risiko bahan yang digunakan mungkin tersedia. Simpan
peralatan tumpahan di dekat jalan keluar laboratorium agar siap diakses.
Peralatan pengendali tumpahan biasa mencakup item sebagai berikut.
1. Bantal pengendali tumpahan. Secara umum, gunakan bantal yang dijual
bebas untuk menyerap pelarut, asam dan alkali, tetapi jangan gunakan
untuk menyerap asam hidroflorat.
2. Absorben lembam, seperti vernikulit, tanah liat, dan pasir. Kertas bukan
bahan yang lembam dan tidak boleh digunakan untuk membersihkan
bahan pengoksidasi seperti asam nitrat.
23
3. Bahan penetral untuk tumpahan asam seperti natrium karbonat dan
natrium bikarbonat.
4. Bahan penetral untuk tumpahan alkali seperti natrium bisulfate dan
asam sitrat.
5. Sekop plastik besar dan peralatan lainnya seperti sapu, ember, kantung,
dan pengki.
6. PPE, peringatan, pita barikade, dan perlindungan yang tepat agar tidak
tergelincir atau terjatuh di lantai basah selama atau setelah pembersihan.
Tumpahan dengan Zat Bertoksisitas Tinggi
Pastikan prosedur tanggap darurat, peralatan tumpahan, dan peralatan
tanggap darurat mencakup zat sangat beracun. Latih semua pegawai
laboratorium dalam penggunaan yang tepat. Peralatan tumpahan untuk zat
beracun harus ditandai, disimpan, dan disegel untuk menghindari
kontaminasi dan mudah diakses dalam keadaan darurat. Peralatan penting
meliputi penyerap pengendali tumpahan, penutup permukaan yang tidak
dapat ditembus, tanda peringatan, pembatas darurat, persediaan
pertolongan pertama, dan obat penawar racun.
Pasang semua informasi toksisitas dan tanggap darurat di luar area terdekat
sehingga dapat diakses dalam keadaan darurat. Latih semua pegawai
laboratorium yang dapat terpapar tentang cara menanggulangi keadaan
darurat. Lakukan latihan tanggap darurat agar pegawai tidak kaku jika
keadaan darurat terjadi.
1. Menanggulangi Kebakaran
Gambar 4.13 Petugas Pemadam Kebakaran
Kebakaran adalah salah satu jenis kecelakaan laboratorium yang paling
sering terjadi. Semua karyawan harus memahami panduan umum di
bawah ini untuk mencegah dan mengurangi cedera dan kerusakan
karena kebakaran.
a. Pastikan semua pegawai laboratorium mengetahui lokasi pemadam
api di laboratorium, jenis kebakaran yang dapat diatasi, dan cara
24
mengoperasikannya dengan benar. Pastikan juga bahwa mereka
mengetahui lokasi stasiun tarik alarm kebakaran, pancuran
keselamatan, dan selimut darurat.
b. Jika terjadi kebakaran, segera beri tahu lembaga tanggap darurat
dengan mengaktifkan alarm kebakaran terdekat.
c. Percobaan memadamkan api hanya diperbolehkan jika Anda terlatih
menggunakan jenis pemadam yang tepat, dapat berhasil
melakukannya dengan cepat, dan berada di antara api dan jalan
keluar agar tidak terjebak. Jangan meremehkan bahayanya. Jika
ragu, segera evakuasi, jangan mencoba memadamkan apinya.
d. Padamkan api dalam bejana kecil dengan menutup bejana dengan
longgar.
e. Padamkan kebakaran kecil yang melibatkan logam reaktif dan
senyawa organometalik (misal., magnesium, natrium, kalium, logam
hidrida) menggunakan pemadam khusus atau dengan menutupinya
dengan pasir kering.
f. Jika terjadi kebakaran yang lebih serius, evakuasi laboratorium dan
aktifkan alarm kebakaran terdekat. Beritahukan zat berbahaya yang
terdapat di dalam laboratorium kepada lembaga tanggap darurat.
g. Jika pakaian seseorang terkena api, segera masukkan dia ke pancuran
keselamatan. Teknik jatuhkan-dan-gulung juga efektif. Gunakan
selimut api sebagai jalan terakhir karena cenderung menahan panas
dan meningkatkan keparahan luka bakar dengan menciptakan efek
seperti cerobong asap. Lepaskan pakaian yang terkontaminasi
dengan cepat. Balut korban cedera dengan selimut untuk
menghindari kejutan, dan dapatkan perawatan medis segera.
2. Bekerja dengan Toksisitas Tinggi
Perencanaan secara hati-hati harus diterapkan sebelum percobaan
apapun yang
melibatkan zat yang sangat berbahaya, setiap zat tersebut akan
digunakan untuk pertama kalinya, atau kapanpun yang sudah
berpengalaman melakukan protokol baru yang meningkatkan risiko
paparan secara signifkan. Selalu pertimbangkan untuk menggantikan
zat yang beracun dengan zat yang tidak begitu beracun dan
menggunakannya dalam jumlah yang sekecil mungkin.
3. Inventaris dan Pelacakan Bahan Kimia
Semua laboratorium harus mencatat semua inventaris bahan kimia
yang dimilikinya secara akurat. Inventaris adalah catatan, biasanya
dalam bentuk basis-data, bahan kimia dalam laboratorium dan
informasi penting tentang pengelolaannya yang tepat. Inventaris yang
dikelola dengan baik meliputi bahan kimia yang didapat dari sumber
komersial dan yang dibuat di laboratorium, juga lokasi penyimpanan
untuk setiap wadah masing-masing
bahan kimia.
25
4. Pemindahan, Pengangkutan, dan Pengiriman Bahan Kimia
Saat memindahkan bahan kimia di lokasi kerja, gunakan perangkat
pengaman sekunder, seperti kaleng karet, untuk membawa bahan
kimia yang disimpan dalam botol. Lembaga dengan kampus yang
besar mungkin ingin memakai pembawa atau kendaraan khusus untuk
mengangkut bahan yang diatur peraturan tertentu.
Gambar 4.14 Contoh Label
Beri label selengkap mungkin segala sampel bahan eksperimen yang
akan dikirimkan. Jika tersedia, sertakan informasi berikut dengan
bahan eksperimen yang dikirimkan:
a. Pemilik awal: nama pemilik atau individu yang menerima bahan
pertama kali. Jika mengirimkan bahan ke fasilitas lainnya,
tambahkan informasi kontak untuk orang yang dapat memberikan
informasi penanganan yang aman.
b. Tanda pengenal: rujukan catatan laboratorium.
c. Komponen berbahaya: komponen berbahaya utama yang diketahui.
d. Potensi bahaya: bahaya yang mungkin timbul.
e. Tanggal: tanggal bahan diletakkan di wadah dan diberi label.
f. Dikirim ke: nama, lokasi, dan nomor telepon orang yang menjadi
tujuan pengiriman bahan.
26
g. MSDS: sertakan ini dengan sampel bahan berbahaya yang
dikirimkan ke lembaga lainnya.
5. Mengelola Limbah Bahan Kimia
Hampir setiap eksperimen di laboratorium menghasilkan beberapa
limbah, yang
mungkin berupa bahan-bahan seperti peralatan laboratorium sekali
pakai, media filter, larutan air, dan bahan kimia berbahaya. Prinsip
utama penanganan limbah laboratorium secara selamat dan aman adalah
tidak boleh ada kegiatan laboratorium yang dimulai kecuali telah ada
rencana pembuangan limbah yang tidak berbahaya dan berbahaya.
Limbah adalah bahan yang dibuang, hendak dibuang, atau tidak lagi
berguna sesuai peruntukannya. Sebuah bahan dianggap limbah jika
dibiarkan atau jika dianggap “hakikatnya memang sejenis limbah,”
seperti bahan tumpah. Limbah dikelompokkan sebagai limbah
berbahaya atau tidak berbahaya. Langkah-langkah utama pengelolaan
limbah sebagai berikut.
a. Mengidentifikasi limbah dan bahayanya.
b. Mengumpulkan dan menyimpan limbah dengan cara yang tepat.
c. Mempertimbangkan pengurangan bahaya jika bisa.
d. Membuang limbah dengan baik.
a. Mengidentifikasi Limbah dan Bahaya
Karena diperlukan informasi tentang sifat-sifat limbah untuk
membuangnya dengan benar maka identifikasi semua bahan kimia
yang digunakan atau dihasilkan di laboratorium. Jika limbah
dihasilkan di dalam laboratorium, tulislah sumbernya dengan jelas
di wadah dan di buku catatan yang sudah tersedia.
b. Sifat-sifat Limbah Berbahaya
Daya sulut: Bahan yang mudah tersulut meliputi pelarut organik
paling umum, gas seperti hidrogen dan hidrokarbon, serta beberapa
garam nitrat tertentu. Bahan dianggap mudah tersulut jika memiliki
satu atau beberapa sifat berikut ini:
(1) cairan yang memiliki titik nyala kurang dari 60°C atau
beberapa sifat lain yang berpotensi menyebabkan kebakaran;
(2) bahan-bahan selain cairan yang dapat, dalam suhu dan tekanan
standar, menyebabkan kebakaran akibat gesekan, penyerapan
kelembaban, atau perubahan bahan kimia secara spontan dan,
jika tersulut, terbakar dengan sangat cepat dan terus menerus
sehingga menimbulkan bahaya;
(3) gas mampat yang mudah terbakar, termasuk gas yang
membentuk campuran yang mudah terbakar; dan
(4) pengoksidasi yang memicu terbakarnya bahan-bahan organik.
27
Korosivitas: Cairan korosif memiliki pH ≤ 2 atau ≥ 12,5 atau
menyebabkan karat pada tingkat baja tertentu. Asam dan basa
laboratorium yang paling umum bersifat korosif.
Reaktivitas: Reaktivitas meliputi zat-zat yang tidak stabil, bereaksi
liar dengan air, dapat meledak jika terpapar sebagian sumber nyala,
atau menghasilkan gas beracun. Logam alkali, peroksida dan
senyawa yang telah membentuk peroksida, dan senyawa sianida
atau sulfida diklasifikasikan sebagai bahan reaktif.
Toksisitas: Toksisitas meliputi zat-zat yang cenderung keluar
(terekstrak) dari bahan limbah dalam kondisi-kondisi tertentu,
seperti di tempat pembuangan.
c. Mengumpulkan dan Menyimpan Limbah
Limbah kimia pertama-tama akan dikumpulkan dan disimpan
sementara di dalam atau di dekat laboratorium. Limbah sering kali
kemudian dipindahkan ke area pusat pengumpulan limbah di dalam
lembaga sebelum akhirnya di buang ke tempat lain. Pertimbangan
keselamatan harus diprioritaskan saat membuat sistem
pengumpulan limbah sementara di laboratorium. Berikut ini
merupakan panduan umum.
(1) Penggunaan wadah pengumpul limbah: simpan limbah di
wadah berlabel jelas di lokasi yang ditetapkan yang tidak
mengganggu beroperasinya laboratorium secara normal.
(2) Pencampuran limbah kimia berbeda: beberapa jenis limbah bisa
dikumpulkan di satu wadah yang sama. Limbah yang dicampur
harus kompatibel secara kimiawi untuk memastikan tidak
terjadi pembentukan panas, evolusi gas, atau reaksi lainnya.
Misalnya limbah pelarut biasanya dicampur untuk dibuang
setelah kompatibilitas komponennya dipertimbangkan dengan
masak.
(3) Pemberian label pada wadah limbah labeli setiap wadah
limbah berbahaya dengan identitas bahan, bahayanya dan frasa
“Limbah Berbahaya”.
(4) Pemilihan wadah yang tepat: kumpulkan limbah di wadah yang
tepercaya yang cocok dengan isinya seperti wadah untuk
limbah cair yaitu gunakan wadah pengaman plastik atau logam
terutama yang mudah terbakar. Botol kaca tidak bisa ditembus
sebagian besar bahan kimia tetapi berisiko pecah. Kedua wadah
untuk limbah air yaitu limbah air terpisah dari limbah pelarut
organik, sebagian besar langsung dibuang ke pipa drainase.
Sebagian lagi yang tidak boleh dibuang di masukan ke dalam
wadah kaca atau wadah yang tahan korosi. Sedangkan wadah
28
untuk limbah padat harus disimpan di wadah yang berlabel
tepat untuk dibawa ke tempat pembuangan khusus.
(5) Pertimbangan dan jumlah waktu: jangan menyimpan limbah di
laboratorium dalam jumlah besar atau lebih dari satu tahun.
(6) Dekontaminasi wadah kosong: bilas wadah limbah kosong
yang terkontaminasi bahan organik dengan pelarut bercampur
air lalu bersihkan dengan air sebanyak 3 kali. Tambahkan
bilasan ke wadah limbah kimia. Buang wadah yang
terkontaminasi tersebut seperti sampah lain.
d. Penanganan dan Pengurangan Bahaya
Penanganan limbah meliputi perubahan karakter atau komposisi
limbah secara fisik, kimiawi, atau biologis. Tujuan penanganan ini
adalah menetralkan limbah, memulihkan energi atau sumber daya
penting, atau membuat limbah menjadi tidak berbahaya atau
berkurang bahayanya. Kondisi-kondisi tertentu yang memungkinkan
dilakukannya penanganan tanpa izin biasanya meliputi
(1) penanganan di wadah pengumpulan;
(2) penetralan dasar atau pencampuran limbah asam dan alkali untuk
membentuk larutan garam; dan
(3) penanganan produk sampingan percobaan sebelum menjadi
limbah.
e. Opsi Pembuangan
Laboratorium sering kali menggunakan beberapa opsi pembuangan
karena masingmasing opsi memiliki keuntungan sendiri-sendiri
untuk limbah tertentu.
(1) Insinerasi
Insinerasi adalah metode pembuangan limbah laboratorium yang
umum. Insinerasi biasanya dilakukan di oven berputar pada suhu
tinggi (649-760°C). Teknologi ini sepenuhnya menghancurkan
sebagian besar bahan organik dan secara signifikan mengurangi
residu bahan yang harus dibuang di tempat sampah. Namun,
opsi ini mahal karena memerlukan volume bahan bakar yang
banyak untuk mencapai suhu yang diperlukan.
(2) Pembuangan di Pipa Drainase
Pembuangan di sistem drainase (melewati pipa pembuangan)
dulunya umum dilakukan, tetapi praktik ini telah sangat
berubah. Banyak fasilitas laboratorium industri dan akademik
telah sepenuhnya meniadakan pembuangan ke saluran drainase.
Sebagian besar pembuangan ke saluran drainase dikendalikan
secara lokal, dan sebaiknya konsultasikan dengan fasilitas
drainase setempat untuk mengetahui apa saja yang
diperbolehkan. Pertimbangkan pembuangan sebagian bahan
limbah kimia di pipa drainase jika fasilitas drainase
29
memperbolehkannya. Bahan kimia yang mungkin diizinkan
untuk dibuang di pipa drainase meliputi larutan air yang terurai
secara alami dan larutan toksisitas rendah dari zat-zat anorganik.
Cairan mudah terbakar yang tercampur air sering kali dilarang
untuk dibuang di sistem drainase. Bahan kimia bercampur air
tidak boleh masuk ke saluran drainase.
(3) Pelepasan ke atmosfir
Pelepasan uap ke atmosfer seperti melalui saluran keluar
evaporasi atau tudung asap yang terbuka, bukan metode
pembuangan yang diperbolehkan. Pasang perangkat perangkap
yang tepat di semua alat untuk pengoperasian yang diperkirakan
akan melepaskan uap. Tudung asap dirancang sebagai perangkat
pengaman untuk menjauhkan uap dari laboratorium jika terjadi
keadaan darurat, tidak sebagai sarana rutin untuk membuang
limbah yang menguap.
(4) Pembuangan limbah yang tidak berbahaya
Jika aman dan diperbolehkan oleh peraturan setempat,
pembuangan sampah yang tidak berbahaya melalui cara
pembuangan sampah biasa atau saluran drainase bisa sangat
mengurangi biaya pembuangan. Namun, ada banyak risiko yang
terkait dengan bahan-bahan yang mungkin tidak dilabeli atau
diuraikan secara benar. Selain itu, peraturan setempat mungkin
membatasi pembuangan limbah di sistem perkotaan.
4.3 Peralatan Perlindungan di Laboratorium
A. Peralatan di Laboratorium
Peralatan keselamatan berfungsi untuk melindungi karyawan dari
kecelakaan yang mungkin terjadi pada saat bekerja dengan alat atau bahan
berbahaya serta bahan yang dapat menimbulkan kebakaran. Di samping
peralatan adapun peraturan yang harus di berlakukan untuk mencegah
terjadinya kecelakaan yang mungkin di laboratorium.
Tujuan peraturan keselamatan kerja untuk menjamin:
[Link], keselamatan, dan kesejahteraan orang yang bekerja di
laboratorium;
2. mencegah orang lain terkena risiko terganggu kesehatannya akibat
kegiatan di laboratorium;
3. mengontrol penyimpanan dan penggunaan bahan yang mudah terbakar
dan beracun; dan
4. mengontrol pelepasan bahan berbahaya (gas) dan zat berbau ke udara,
sehingga tidak berdampak negatif terhadap lingkungan.
Berikut ini adalah aturan-aturan umum yang harus ada.
30
1. Orang yang tak berkepentingan dilarang masuk laboratorium, untuk
mencegah hal yang tidak diinginkan.
2. Jangan melakukan eksperimen sebelum mengetahui informasi mengenai
bahaya bahan kimia, alat alat, dan cara pemakaiannya.
3. Mengenali semua jenis peralatan keselamatan kerja dan letaknya untuk
memudahkan pertolongan saat terjadi kecelakaan kerja.
4. Harus tau cara pemakaian alat emergensi: pemadam kebakaran, eye
shower, respirator, dan alat keselamatan kerja yang lain.
5. Setiap laboran/pekerja laboratorium harus tau memberi pertolongan
darurat (P3K).
6. Latihan keselamatan harus dipraktikkan secara periodik bukan
dihapalkan saja.
7. Dilarang makan minum dan merokok di lab, hal ini berlaku juga untuk
laboran dan kepala Laboratorium.
8. Jangan terlalu banyak bicara, berkelakar, dan lelucon lain ketika bekerja
di laboratorium Jauhkan alat alat yang tak digunakan, tas, hand phone
dan benda lain dari atas meja kerja.
B. Peralatan dan Pakaian Pelindung untuk Pegawai Labratorium
1. Pakaian Pribadi
a. Pakaian yang membuat sebagian besar kulit terpapar (terbuka) tidak
cocok di
laboratorium tempat digunakannya bahan kimia berbahaya. Pakaian
pribadi harus menutupi tubuh sepenuhnya.
b. Kenakan jas laboratorium yang sesuai dalam keadaan dikancingkan
dan lengan tidak digulung. Selalu kenakan pakaian pelindung jika
ada kemungkinan bahwa pakaian pribadi dapat terkontaminasi atau
rusak karena bahan berbahaya secara kimia. Pakaian yang dapat
dicuci atau sekali pakai yang dikenakan untuk bekerja di
laboratorium dengan khususnya bahan-bahan kimia berbahaya
meliputi jas dan apron laboratorium khusus, terusan baju-celana,
sepatu boot khusus, penutup kaki, dan sarung tangan pelindung, serta
mantel pelindung percikan.
Perlindungan dari panas, kelembaban, dingin, dan/atau radiasi
mungkin diperlukan dalam situasi khusus. Garmen sekali pakai
memberikan perlindungan terbatas saja dari penetrasi uap atau gas.
31
Gambar 4.15. Jas Laboratorium
c. Jas laboratorium harus tahan api. Jas katun tidak mahal dan tidak
langsung terbakar, tetapi bereaksi cepat dengan asam. Jas polyester
tidak cocok untuk pekerjaan membuat kaca atau pekerjaan dengan
bahan-bahan yang mudah terbakar. Apron dari plastik atau karet bisa
memberi perlindungan yang baik dari cairan korosif, tetapi mungkin
tidak cocok jika terjadi kebakaran. Apron plastik juga bisa
mengumpulkan listrik statis, jadi tidak boleh digunakan di sekitar
cairan yang mudah terbakar, bahan peledak yang sensitif terhadap
pelepas elektrostatis, atau bahan-bahan yang dapat tersulut oleh
pelepasan statis. Jas laboratorium atau apron laboratorium yang
terbuat dari bahan khusus tersedia untuk aktivitas risiko tinggi.
d. Tinggalkan jas laboratorium di laboratorium untuk meminimalkan
risiko tersebarnya bahan kimia ke area publik, makan, atau kantor. Cuci
jas secara teratur.
e. Pilih pakaian pelindung yang tahan terhadap bahaya fisik, kimia,
termal, dan mudah dipindahkan, dibersihkan, atau dibuang.
f. Pakaian sekali pakai yang sudah digunakan saat menangani bahan
karsinogenik atau bahan lain yang sangat berbahaya harus dipindah
tanpa memaparkan bahan beracun kepada satu orang pun. Pakaian
tersebut harus dibuang sebagai limbah berbahaya.
g. Rambut panjang yang tidak diikat dan baju yang longgar, seperti baju
berkerah, celana baggy, dan jas, tidak cocok untuk digunakan di
laboratorium tempat digunakannya bahan kimia berbahaya. Hal-hal
tersebut bisa terkena api, tercelup di bahan kimia, dan terbelit di
peralatan.
h. Jangan memakai cincin, gelang, arloji, atau perhiasan lain yang bisa
rusak, menjerat bahan kimia sehingga dekat dengan kulit kita,
menyentuh sumber listrik, atau terbelit di mesin.
i. Jangan menggunakan pakaian atau aksesori yang terbuat dari kulit pada
situasi ketika bahan kimia bisa meresap ke dalam kulit dan dekat
dengan kulit.
32
2. Perlindungan Kaki
Gambar 4.16. Sepatu Keselamatan
Tidak semua jenis alas kaki cocok untuk digunakan di laboratorium ketika
bahaya kimia dan mekanik mungkin terjadi. Kenakan sepatu yang kuat di
daerah tempat bahan kimia berbahaya digunakan atau kerja mekanik
dilakukan. Sepatu kayu, sepatu berlubang, sandal, dan sepatu kain tidak
memberikan perlindungan terhadap bahan kimia yang tumpah. Dalam
banyak kasus, sepatu keselamatan adalah pilihan terbaik. Kenakan sepatu
dengan lapisan baja di depannya (steel toe) saat menangani benda yang
berat seperti silinder gas. Tutup sepatu mungkin diperlukan untuk bekerja
terutama dengan bahan-bahan berbahaya. Sepatu dengan sol konduktif
berguna untuk mencegah menumpuknya muatan statis, dan sol isolasi bisa
melindungi terhadap kejutan listrik.
3. Perlindungan Mata dan Wajah
a. Selalu kenakan kacamata pengaman dengan pelindung samping untuk
bekerja di laboratorium dan, terutama dengan bahan kimia berbahaya.
Kaca mata resep biasa dengan lensa yang diperkeras tidak dapat
berfungsi sebagai kaca mata pengaman. Lensa kontak bisa digunakan
dengan aman jika dilengkapi perlindungan mata dan wajah yang tepat.
b. Kenakan kaca mata pelindung percikan bahan kimia, yang memiliki
bagian samping tahan percikan agar melindungi mata sepenuhnya, jika
ada bahaya percikan dalam operasi yang melibatkan bahan kimia
berbahaya.
33
Gambar 4.17. Pelindung Mata dan Wajah
c. Kenakan kaca mata pelindung benturan jika ada bahaya partikel yang
beterbangan.
d. Kenakan pelindung seluruh wajah dengan kaca mata pengaman dan
pelindung samping agar melindungi seluruh wajah dan tenggorokan.
Jika ada kemungkinan percikan bahan cair, sekaligus kenakan
pelindung wajah dan kaca mata pelindung percikan bahan kimia. Alat-
alat ini khususnya penting untuk pekerjaan dengan cairan yang sangat
korosif. Gunakan pelindung seluruh wajah dengan pelindung
tenggorokan dan kaca mata pengaman dengan pelindung samping saat
menangani bahan kimia yang mudah meledak atau sangat berbahaya.
e. Jika pekerjaan di laboratorium bisa melibatkan paparan terhadap laser,
sinar ultraviolet, sinar inframerah, atau cahaya tampak yang intens,
kenakan pelindung mata khusus.
f. Berikan perlindungan mata yang diperlukan bagi pengunjung. Tempel
tanda di laboratorium yang menunjukkan bahwa perlindungan mata
perlu dipakai di laboratorium yang menggunakan bahan kimia
berbahaya.
4. Pelindung Tangan
Sepanjang waktu, gunakan sarung tangan yang sesuai dengan derajat
bahaya. Krim dan lotion penghalang dapat memberi perlindungan kulit
tetapi tidak akan pernah menggantikan sarung tangan, pakaian pelindung,
atau peralatan pelindung lainnya.
C. Peralatan Keselamatan dan Darurat
Lembaga/perusahaan harus menyediakan peralatan keselamatan:
1. perangkat pengendali tumpahan;
34
2. pelindung keselamatan;
3. perangkat keselamatan kebakaran seperti pemadam api, detektor panas
dan asap, selang kebakaran dan sistem pemadaman api otomatis;
4. respirator;
5. pancuran keselamatan; dan
6. unit pencuci mata.
Laboratorium harus menyediakan peralatan darurat yaitu
1. alat bantu pernafasan (hanya digunakan oleh pegawai terlatih);
2. selimut untuk menyelimuti penderita cedera;
3. tandu; dan
4. peralatan pertolongan pertama untuk situasi tidak biasa yang
memerlukan pertolongan pertama dengan segera.
Simpan peralatan keselamatan dan peralatan darurat di lokasi yang
ditandai dengan baik dan mudah terlihat di semua laboratorium kimia.
Ruang tarik alarm kebakaran dan telepon dengan nomor kontak darurat
harus mudah terjangkau. Supervisor laboratorium bertanggung jawab
untuk memastikan semua orang diberi pelatihan yang tepat dan diberi
peralatan keselamatan yang diperlukan.
D. Pelindung Keselamatan
Gunakan pelindung keselamatan untuk melindungi diri terhadap
kemungkinan bahaya ledakan atau percikan. Lindungi peralatan
laboratorium di semua sisinya sehingga tidak ada paparan pegawai segaris
pandang. Jendela depan tudung kimia bisa memberikan perlindungan.
Namun, gunakan pelindung portabel saat melakukan manipulasi, terutama
dengan tudung yang memiliki jendela yang terbuka secara vertikal,
bukannya horizontal.
Pelindung portabel dapat memberi perlindungan terhadap bahaya dengan
keparahan terbatas, seperti percikan kecil, panas, dan api. Namun,
pelindung portable tidak melindungi bagian samping atau bagian belakang
peralatan. Selain itu, banyak pelindung portabel tidak ditimbang secara
memadai untuk perlindungan bagian depan dan bisa menimpa pekerja jika
terjadi ledakan. Pelindung yang terpasang sepenuhnya mengelilingi alat
eksperimen bisa memberi perlindungan terhadap kerusakan ledakan kecil.
Polimetil metakrilat, polikarbonat,
polivinil klorida, dan kaca pelat keselamatan yang dilaminasi adalah
bahan-bahan pelindung tembus cahaya yang baik.
Jika pembakaran mungkin terjadi, bahan pelindung harus sulit terbakar
atau lambat
terbakar. Kaca pelat keselamatan yang dilaminasi mungkin bahan terbaik
untuk situasi semacam itu, jika kaca dapat menahan tekanan ledakan kerja.
Polimetil metakrilat memberikan keseluruhan kombinasi karakteristik
35
pelindung yang sangat baik jika mempertimbangkan biaya, transparansi,
kekuatan tekanan tinggi, ketahanan terhadap beban tekukan, kekuatan
benturan, ketahanan pecah, dan laju pembakaran. Polikarbonat jauh lebih
kuat dan melakukan pemadaman sendiri setelah penyulutan, tetapi mudah
diserang pelarut organik.
E. Peralatan Keselamatan Kebakaran
Gambar 4.18. APAR
Semua laboratorium kimia harus memiliki pemadam api jenis karbon
dioksida danbahan kimia kering. Sediakan pemadam api jenis lain
tergantung pekerjaan yang dilakukan di laboratorium. Berikut ini adalah
empat jenis pemadam api yang paling umum dan jenis kebakaran yang
cocok dengan pemadam api tersebut. Pemadam api multiguna juga bisa
disediakan.
1. Pemadam api jenis air efektif untuk kertas dan sampah yang terbakar.
Jangan gunakan pemadam ini untuk memadamkan kebakaran listrik,
cairan, atau logam.
2. Pemadam api jenis karbon dioksida efektif untuk memadamkan cairan
yang terbakar, seperti hidrokarbon atau cat, dan kebakaran listrik.
Pemadam api ini dianjurkan untuk kebakaran yang melibatkan peralatan
komputer, instrumen yang mudah pecah, dan sistem optik karena tidak
merusak peralatan tersebut. Pemadam ini kurang efektif untuk
memadamkan kebakaran kertas dan sampah serta tidak boleh digunakan
untuk menangani kebakaran logam hidrida atau logam.
Berhati-hatilah saat menggunakan pemadam api ini karena gaya dorong
gas mampat bisa menyebarkan bahan yang mudah terbakar, seperti
kertas, dan bisa menumpahkan wadah cairan yang mudah terbakar.
3. Pemadam api jenis serbuk kering, yang berisi amonium fosfat atau
natrium bikarbonat, efektif memadamkan cairan yang terbakar dan
36
kebakaran listrik. Pemadam ini kurang efektif untuk memadamkan
kebakaran kertas dan sampah atau logam. Pemadam api ini tidak
dianjurkan untuk kebakaran yang melibatkan instrumen yang mudah
pecah atau sistem optik karena masalah pembersihan. Peralatan
komputer mungkin perlu diganti jika terpapar serbuk kering dalam
jumlah cukup. Pemadam api ini umumnya digunakan di tempat yang
mungkin terdapat pelarut dalam jumlah besar.
4. Pemadam api Met-L-X dan pemadam api lainnya yang memiliki
formulasi granular khusus efektif memadamkan logam yang terbakar.
Tercakup dalam kategori ini adalah kebakaran yang melibatkan
magnesium, litium, natrium, dan kalium; paduan logam reaktif; dan
hidrida logam, alkil logam, dan organologam lainnya. Pemadam api ini
kurang efektif untuk memadamkan kebakaran kertas dan sampah,
cairan, atau listrik.
Setiap pemadam api harus memiliki label yang memperlihatkan jenis
kebakaran yang dipadamkan dan tanggal pemeriksaan terakhir. Ada
sejumlah jenis pemadam api lain yang lebih khusus yang tersedia untuk
menangani situasi bahaya kebakaran yang tidak biasa.
Setiap orang di laboratorium yang terlatih harus bertanggung jawab
untuk mengetahui lokasi, pengoperasian, dan keterbatasan pemadam
kebakaran di daerah kerja. Supervisor laboratorium bertanggung jawab
untuk memastikan bahwa semua pegawai mengetahui lokasi pemadam
api dan dilatih untuk menggunakannya. Pegawai yang ditunjuk harus
segera mengisi ulang atau mengganti pemadam kebakaran yang sudah
digunakan.
F. Detektor Panas dan Asap
Sensor panas dan/atau detektor asap mungkin merupakan bagian dari
peralatan keselamatan gedung. Alat ini mungkin membunyikan alarm
secara otomatis dan menghubungi petugas pemadam kebakaran; alat ini
mungkin mengaktifkan sistem pemadaman api secara otomatis; atau alat
ini mungkin hanya berfungsi sebagai alarm setempat. Karena
pengoperasian laboratorium bisa menghasilkan panas atau uap, evaluasi
jenis dan lokasi detektor dengan cermat untuk menghindari alarm keliru
yang sering berbunyi.
37
Gambar 4.19 . Detektor Panas dan Asap
G. Respirator
Masing-masing respirator di laboratorium harus memiliki informasi
tertulis yang memperlihatkan keterbatasan, cara pemasangan, dan prosedur
pemeriksaan dan
pembersihan peralatan ini. Orang-orang yang menggunakan respirator saat
bekerja harus dilatih secara menyeluruh tentang pengujian pemasangan,
penggunaan, keterbatasan, dan pemeliharaan peralatan tersebut. Pelatihan
harus berlangsung sebelum penggunaan pertama kali dan setiap tahun
setelah itu dan harus meliputi demonstrasi dan praktik pemakaian,
penyetelan, dan pemasangan peralatan dengan tepat.
Pengguna harus memeriksa respirator setiap sebelum digunakan, dan
supervisor laboratorium harus memeriksanya secara berkala. Alat bantu
pernafasan mandiri harus diperiksa sedikitnya sebulan sekali dan
dibersihkan setelah digunakan.
Gambar 4.20. Respirator
H. Pancuran Keselamatan dan Unit Pencuci Mata
1. Pancuran Keselamatan
Sediakan pancuran keselamatan di daerah penanganan bahan kimia.
Alat ini harus digunakan untuk P3K awal jika terpercik bahan kimia
dan untuk memadamkan pakaian yang terbakar. Setiap orang yang
38
bekerja di laboratorium harus mengetahui lokasi pancuran keselamatan
dan harus belajar cara menggunakannya. Uji pancuran keselamatan
secara rutin untuk memastikan katupnya dapat dioperasikan dan
bersihkan kotoran yang ada di sistem tersebut.
Pastikan masing-masing pancuran bisa segera membasahi subjek secara
menyeluruh dan cukup besar untuk menampung lebih dari satu orang
jika [Link]-masing pancuran harus memiliki katup buka cepat
yang memerlukan penutupan secara manual. Batang delta tarik ke
bawah sangat cocok jika cukup panjang, tetapi tarikan dengan rantai
tidak dianjurkan karena bisa mengenai pengguna dan sulit diraih dalam
keadaan darurat. Pasang saluran di bawah pancuran keselamatan untuk
mengurangi risiko tergelincir atau jatuh dan kerusakan fasilitas yang
terkait dengan banjir di laboratorium.
Gambar 4.21. Wireless Safety Shower and Eyewash Monitor
2. Unit Pencuci Mata
Pasang unit pencuci mata jika zat-zat yang ada di laboratorium bisa
menimbulkan bahaya terhadap mata atau jika pekerja mungkin
menghadapi bahaya mata yang tidak diketahui. Unit pencuci mata harus
memberikan aliran lembut atau semprotan air soda untuk waktu lama
(15 menit). Tempatkan unit ini di dekat pancuran keselamatan sehingga,
jika diperlukan, mata dapat dibasuh sementara tubuh disiram di
pancuran.
4.4 Penggunaan dan Pemeliharaan Alat Pelindung Diri (APD)
Alat Pelindung Diri (APD) ialah kelengkapan wajib yang digunakan saat
bekerja sesuai dengan bahaya dan resiko kerja untuk menjaga keselamatan
tenaga kerja itu sendiri maupun orang lain di tempat kerja.
A. Jenis-Jenis Alat Pelindung Diri (APD)
39
1. Alat Pelindung Kepala/Helmet
Tujuan dari pemakaian alat pelindung kepala adalah untuk mencegah
rambut pekerja terjerat oleh mesin yang berputar, melindungi kepala
dari bahaya terbentur oleh benda tajam atau keras yang dapat
menyebabkan luka gores, potong atau tusuk, bahaya kejatuhan benda-
benda atau terpukul oleh benda-benda yang melayang atau meluncur di
udara, panas radiasi, api dan percikan bahan-bahan kimia korosif.
Topi pengaman dapat dibuat dari berbagai bahan, misalnya bahan
plastik (Bakelite), serat gelas (fiberglass), dan lain-lain. Topi pengaman
yang dibuat dari Bakelite mempunyai beberapa keuntungan yaitu
ringan, tahan terhadap benturan atau pukulan benda-benda keras dan
tidak menyalurkan listrik (isolator electricity). Topi yang dibuat dari
bahan campuran serat gelas dan plastik sangat tahan terhadap asam atau
basa kuat.
Alat pelindung kepala, menurut bentuknya, dapat dibedakan menjadi
beberapa jenis.
a. Topi pengaman (safety helmet), untuk melindungi kepala dari
benturan, kejatuhan, pukulan benda-benda keras atau tajam. Topi
pengaman harus tahan terhadap pukulan atau benturan, perubahan
cuaca, dan pengaruh bahan kimia. Topi pengaman harus terbuat dari
bahan yang tidak mudah terbakar, tidak menghantarkan listrik ringan
dan mudah dibersihkan.
b. Hood, berfungsi untuk melindungi kepala dari bahaya-bahaya bahan
kimia, api, dan panas radiasi yang tinggi. Hood terbuat dari bahan
yang tidak mempunyai celah atau lubang, biasanya terbuat dari
asbes, kulit, wool, katun yang dicampuri alumunium dan lain-lain.
c. Tutup kepala (hair cap), berfungsi untuk melindungi kepala dari
kotoran debu dan melindungi rambut dari bahaya terjerat oleh mesin-
mesin yang berputar. Biasanya terbuat dari bahan katun atau bahan
lain yang mudah dicuci.
Gambar 4.22 Safety Helmet
2. Alat Pelindung Mata dan Muka
40
Pelindung mata berfungsi untuk melindungi mata dari percikan korosif,
radiasi, gelombang elektromagnetik dan benturan/pukulan benda-benda
keras atau tajam. Alat ini juga untuk mencegah masuknya debu-debu ke
dalam mata serta mencegah iritasi mata akibat pemaparan gas atau uap.
Alat pelindung mata terdiri dari kacamata (spectacles) dengan atau
tanpa pelindung samping (shideshield), goggles (cup type/boxtype), dan
tameng muka (face shreen/face shield). Lensa dari kacamata
pengaman/goggles dapat dibuat dari beberapa jenis bahan, misalnya
plastik (polycarbonate, cellulose, acetate, polycarbonatevinyl) yang
transparan atau kaca. Polycarbonate/polikarbonat merupakan jenis
plastik yang mempunyai daya tahan yang paling besar terhadap
benturan/pukulan.
Gambar 4.23 Pelindung Mata dan Pelindung Muka
Untuk melindungi mata dari radiasi elektromagnetik yang tidak
mengion (infra merah, ultraviolet), lensa dari kacamata
pengaman/goggles dilapisi dengan oksida dari kobal dan diberi warna
biru atau hijau yang selain untuk melindungi mata dari bahaya radiasi
tetapi juga untuk mengurangi kesilauan. Kemampuan filter untuk
menyerap panjang gelombang tertentu tergantung dari kepadatannya
(opticaldensity) dan jenis bahan kimia yang dipergunakan untuk
membuat lensa tersebut. Untuk melindungi mata dari bahaya radiasi
yang mengion (sinar X), dapat dipakai kacamata pengaman dimana
lensa dari kacamata tersebut dilapisi oleh timah hitam (Pb).
3. Alat Pelindung Pendengaran
Ada dua jenis alat pelindung telinga, antara lain.
a. Sumbat telinga (ear plug)
Sumbat telinga yang baik adalah sumbat telinga yang dapat menahan
frekuensi tertentu saja, sedangkan frekuensi pembicaraan tidak
terganggu. Ear plug dapat dibuat dari kapas, malam (wax), plastik,
karet alami dan sintetik, Ear plug dapat dibedakan (menurut cara
pemakaiannya) ,menjadi:
1) Semi insert-typeearplug, yang hanya menyumbat liang telinga luar
saja.
41
2) Insert type ear plug, yang menutupi seluruh bagian dari saluran
telinga.
Keuntungan menggunakan earplug yaitu
1) Mudah dibawa karena ukurannya yang kecil.
2) Relatif lebih nyaman dipakai di tempat kerja yang panas.
3) Tidak membatasi gerakan kepala.
4) Harganya relatif lebih murah.
5) Dapat dipakai dengan mudah dan tidak dipengaruhi oleh
pemakaian kacamata, tutup kepala dan anting-anting/giwang.
Kerugian menggunakan ear plug yaitu
1) Untuk pemasangan yang tepat, earplug memerlukan waktu yang
lebih lama dari ear muff.
2) Tingkat proteksi yang diberikan oleh earplug lebih kecil dari ear
muff.
3) Sulit dipantau oleh pengawas apakah pekerja memakai ear plug
atau tidak (karena ukurannya yang kecil).
4) Ear plug hanya dipakai oleh pekerja yang telinganya sehat.
5) Bila pekerja menggunakan tangan yang kotor pada saat memasang
ear plug, kemungkinan dapat menyebabkan iritasi pada kulit
saluran telinga.
Gambar 4.24 Ear Plug
b. Tutup telinga (ear muff)
Alat pelindung telinga ini terdiri dari 2 buah tutup telinga dan sebuah
headband. Isi dari tutup telinga dapat berupa cairan atau busa yang
berfungsi untuk menyerap suara dengan frekuensi tinggi. Jika
digunakan dalam jangka waktu yang lama, efektivitasnya dapat
menurun karena bantalannya menjadi keras dan mengerut sebagai
akibat reaksi bantalan dengan minyak dan keringat yang terdapat
pada permukaan kulit.
42
Gambar 4.25. Ear Muff
Peredaman tutup telinga lebih besar daripada sumbat telinga.
Keuntungan
menggunakan earmuff yaitu
1) Atenuasi suara (besarnya intensitas suara yang direduksi)
umumnya lebih besar dari earplug.
2) Earmuff dapat digunakan oleh semua pekerja dengan ukuran
telinga yang berbeda.
3) Penggunaan mudah dipantau oleh pengawas.
4) Dapat dipakai oleh pekerja yang menderita infeksi telinga yang
ringan.
5) Mudah dicari bila hilang karena ukuran earmuff yang relatif
besar.
Sedangkan kerugian menggunakan earmuff yaitu:
1) Tidak nyaman digunakan di tempat kerja yang panas.
2) Efektivitas dari earmuff dipengaruhi oleh pemakaian kacamata,
tutup kepala, antinganting dan rambut yang menutupi kepala.
Demikian pula kenyamanan dari pemakaiannya.
3) Penyimpanannya relatif lebih sulit dari ear plug.
4) Dapat membatasi gerakan kepala bila digunakan di tempat kerja
yang sempit/sangat sempit.
5) Harganya relatif lebih mahal dari ear plug.
6) Pada pemakaian yang terlalu sering atau bila headband yang
berpegas sering ditekuk oleh pemakainya, hal ini akan
menyebabkan daya atenuasi suara dari ear muff menurun.
4. Alat Pelindung Pernafasan
Menurut cara kerjanya, respirator dibedakan menjadi:
a. Respirator pemurni (air purifying respirator)
1) Chemical respirator
43
Respirator berfungsi membersihkan udara dengan cara adsorbsi
atau absorpsi. Adsorpsi adalah suatu proses ketika kontaminan
melekat pada permukaan zat padat (adsorben), sedangkan
absorbsi adalah suatu proses ketika gas-gas atau uap mengadakan
penetrasi ke struktur bagian dalam dari suatu zat (absorber).
Respirator ini tidak boleh digunakan di tempat kerja yang terdapat
gas atau uap yang ekstrem, kadar gas/uap dalam udara tempat
kerja cukup tinggi/mengalami kekurangan oksigen.
Gambar 4.26. Chemical Respirator
2) Mechanical filter respirator
Filter ini digunakan untuk melindungi dari pemaparan aerosol zat
padat dan aerosol zat cair melalui proses filtrasi. Efisiensi filter ini
tergantung pada ukuran dan jenis filter. Semakin kecil diameter
dari pori-pori filter semakin besar tahanan terhadap aliran udara.
3) Kombinasi mechanical den filter respirator
Respirator ini digunakan pada penyemprotan pestisida dan
pengecatan. Respirator ini dilengkapi dengan filter dan adsorben
sehingga relative lebih berat dari filter atau cartridge respirator.
Gambar 4.27. Half-Mask Twin Filter
b. Respirator penyedia udara (Breathing Apparatus)
Berbeda dengan respirator pemurni udara, respirator ini tidak
dilengkapi filter/adsorben. Cara respirator ini melindungi
pemakainya dari zat kimia yang sangat toksik atau kekurangan
oksigen adalah dengan menyuplai udara atau oksigen kepada
pemakainya. Suplai udara atau oksigen kepada pemakainya dapat
44
melalui silinder, tangki atau kompresor yang dilengkapi dengan alat
pengatur tekanan. Respirator penyedia udara dibedakan menjadi:
1) Air line respirator
Respirator ini terdiri dari full-half facepiece (head covering
helmet), saluran udara (air line), dan silinder atau kompresor
udara yang dilengkapi dengan alat pengatur tekanan.
Respirator ini dibedakan menjadi 2 macam yaitu continous
flowtype dan demand type. Pada demand type air line respirator,
suplai udara ke dalam facepiece hanya terjadi pada saat
pemakainya menarik napas sehingga tekanan di dalam facepiece
menjadi negatif Respirator dilengkapi dengan suatu klep pengatur
aliran udara yang terdapat diantara facepiece dan kompresor
udara. Banyaknya udara yang mengalir ke dalam facepiece
minimum 115 liter per menit dan panjang pipa udara maksimum
300 feet serta inlet pressure maksimum yang diperkenankan
adalah 124 psig (NIOSH).
Gambar 4.28
Pada continous type air line respirator, udara akan mengalir ke
dalam facepiece secara teratur dan terus menerus. Maka
banyaknya udara yang mengalir ke dalam helmet atau hood paling
sedikit 170 liter per menit.
2) Air horse respirator/hosemask
Cara kerja air-supplied respirator mirip dengan air line
respirator. Perbedaan kedua respirator ini terletak pada diameter
pipa udara yang digunakan. Pada hosemask, diameter dari hose
cukup besar sehingga pemakainya masih bisa menghirup udara
bersih sekalipun blower dari respirator tersebut tidak berfungsi.
Bila hose mask tidak dilengkapi dengan blower maka ujung hose
(inletend) harus diletakkan di suatu tempat dengan udara atmosfer
cukup memenuhi syarat untuk dihirup dan dapat pula dilengkapi
dengan filter untuk menyaring debu-debu terutama debu yang
berukuran besar. Dalam keadaan darurat, pemakaian hosemask
sebaiknya disertai dengan self-contained breathing apparatus
(SCBA). Hose mask yang dilengkapi dengan blower dapat
menyuplai udara sebanyak 140 liter per menit.
45
3) Self contained breathing apparatus
Self-contained breathing apparatus (SCBA) digunakan di tempat
kerja ketika terdapat zat kimia yang sangat toksik atau defisiensi
oksigen.
Gambar 4.29 . SCBA
5. Alat Pelindung Tangan
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan alat
pelindung tangan adalah:
a. Bahaya yang mungkin terjadi, apakah berbentuk bahan-bahan kimia
korosif, bendabenda panas, panas, dingin atau tajam atau kasar.
b. Daya tahannya terhadap bahan-bahan kimia.
c. Kepekaan yang diperlukan dalam melakukan pekerjaan.
d. Bagian tangan yang harus dilindungi.
Gambar 4.30. Pelindung Tangan
Menurut bentuknya sarung tangan dibedakan menjadi:
a. Sarung tangan biasa (gloves).
b. Sarung tangan yang dilapisi logam (gounlets).
c. Sarung tangan yang keempat jari pemakainya dibungkus jadi satu
kecuali ibu jari (mitts mittens).
6. Alat Pelindung Kaki
Sepatu keselamatan kerja (safety shoes) berfungsi untuk melindungi kaki
dari bahaya kejatuhan benda-benda berat, terpercik bahan kimia korosif,
dan tertusuk benda-benda tajam. Menurut jenis pekerjaan yang
dilakukan, sepatu keselamatan dibedakan menjadi:
46
a. Sepatu pengaman yang digunakan untuk pengecoran baja terbuat dari
bahan kulit yang dilapisi logam krom atau asbes.
b. Sepatu khusus yang digunakan untuk bahaya peledakan. Sepatu ini
tidak boleh ada paku-paku yang dapat menimbulkan percikan bunga
api.
c. Sepatu karet anti elektrostatik untuk melindungi pekerja dari bahaya
listrik.
d. Sepatu pengaman untuk pekerja bangunan. Sepatu ini ujungnya
dilapisi baja untuk melindungi jari kaki.
Gambar 4.31. Pelindung Kaki
7. Alat PelindungKetinggian
Tali dan sabuk pengaman digunakan untuk menolong kecelakaan. Selain
itu, sabuk pengaman juga digunakan pada pekerjaan mendaki dan
memanjat konstruksi bangunan.
Gambar 4.32 Pelindung Ketinggian
8. Alat PelindungTubuh
Pakaian tenaga kerja pria yang bekerja melayani mesin seharusnya
berlengan pendek, tidak longgar pada dada atau punggung, tidak terdapat
lipatan-lipatan. Pakaian kerja wanita sebaiknya memakai celana panjang,
tutup kepala dan tidak memakai perhiasan. Berikut ini adalah contoh
pakaian pelindung seperti wearpack.
47
Gambar 4.33 Alat Pelindung Tubuh
9. Pelampung
Baju Pelampung adalah alat yang berfungsi menjaga penumpang tetap
terapung saat terjadi keadaan darurat di kapal. Baju pelampung sering
disebut sebagai life jacket atau workvest. Dalam pemakaiannya baju
pelampung sering ditemani life jacket light yang berfungsi memberi
tanda lokasi orang di laut terutama pada malam hari.
Gambar 4.34. Pelampung
10. Rompi Nyala
Rompi nyala merupakan rompi yang menggunakan bahan yang dapat
menyala jika terkena cahaya. Sangat bermanfaat jika digunakan pada
kondisi gelap atau malam hari karena dapat bercahaya dengan cara
memantulkan dari sumber cahaya sehingga pekerja yang menggunakan
rompi ini dapat dengan mudah ditemukan.
48
Gambar 4.35. Rompi Nyala
11. Jas Hujan
Jas hujan merupakan salah satu alat pelindung tubuh dari air. Banyak
pengendara motor baik di kota maupun di pedalaman yang
menggunakan jas hujan atau ponco agar tidak terkena hujan. Disamping
itu jas hujan juga berfungsi untuk menghalau angin yang masuk ke
dalam tubuh sehingga pekerja yang menggunakan jas hujan akan
terlindungi.
Gambar 4.36. Jas Hujan
B. Penggunaan dan Perawatan Alat Pelindung Diri (APD)
1. Penggunaan APD
Alat pelindung diri (APD) merupakan perlengkapan yang dimaksudkan
untuk dipakai atau dipegang oleh seseorang di tempat kerja yang dapat
melindunginya dari salah satu atau lebih risiko terhadap keselamatan dan
kesehatannya. Termasuk dalam hal ini, pakaian yang dikenakan untuk
melindungi diri dari cuaca bila diperlukan, helm, sarung tangan, pelindung
49
mata, sepatu, dan sebagainya. Perlengkapan seperti baju kerja biasa atau
seragam yang tidak secara spesifik mampu melindungi diri dari risiko
keselamatan dan kesehatan kerja tidak dikategorikan ke dalam APD.
a. Pelindung tubuh
Alat pelindung tubuh dikenakan pada keadaan berikut ini:
1) Bekerja diluar ruangan dan atau dengan cuaca yang tidak kondusif.
2) Bekerja di lingkungan dengan temperatur ekstrem.
3) Bekerja di jalan raya yang memerlukan kemudahan penglihatan oleh
lingkungan sekitar.
4) Aktivitas yang memungkinkan kontaminasi dengan bahan kimia.
5) Pemadam kebakaran
6) Mengelas atau memotong benda dengan alat mekanis.
b. Pelindung kepala
Alat pelindung kepala digunakan pada keadaan berikut ini.
1) Pekerjaan pada tangga, di bawah maupun di dekatnya.
2) Pekerjaan konstruksi bangunan tinggi dan besar.
3) Bekerja di saluran dan terowongan.
4) Aktivitas transportasi dengan risiko kejatuhan benda.
5) Aktivitas dengan bahaya dari benda tergantung.
c. Pelindung mata dan wajah
Beberapa aktivitas yang berisiko berikut memerlukan alat pelindung
wajah dan mata, antara lain:
1) Bekerja dengan alat berpenggerak yang menyebabkan potongan,
partikel atau
material abrasif terlempar.
2) Bekerja dengan alat genggam yang menyebabkan potongan dan
partikel terlempar.
3) Bekerja dengan bahan kimia yang dapat menyebabkan luka dan iritasi.
4) Bekerja pada peleburan logam.
5) Pengelasan dengan intensitas tinggi atau radiasi optis lainnya.
6) Menggunakan gas atau uap bertekanan.
d. Pelindung pendengaran
Alat pelindung telinga digunakan pada keadaan dengan suara ekstrem
yang berpotensi mengakibatkan kerusakan gendang telinga. Intensitas
suara dan frekuensi yang tinggi di tempat kerja dapat menyebabkan
hilangnya pendengaran. Namun, perlu diperhatikan bahwa pemakaian
alat pelindung pendengaran tersebut tidak boleh menghambat pemakai
untuk mendengar suara peringatan.
50
e. Pelindung telapak tangan dan lengan
Beberapa aktivitas yang membahayakan berikut memerlukan alat
pelindung telapak tangan dan lengan, antara lain:
1) Aktivitas di luar ruangan yang bersuhu ekstrem atau material abrasif.
Keterampilan dan kelincahan tangan dapat terganggu pada suhu
dingin. Sarung tangan mampu melindungi telapak tangan dari tanah
yang terkontaminasi bahan kimia.
2) Bekerja dengan mesin yang bergetar terutama dalam keadaan dingin.
3) Memindahkan barang yang memiliki tepian tajam, kerusakan
kemasan, ataupun temperatur ekstrem.
4) Kontak dengan bahan dingin atau panas.
5) Pekerjaan dengan risiko terkena aliran listrik, terbakar atau suhu
tinggi.
6) Pemakaian atau pemindahan mesin yang mengandung bahan kimia
termasuk pembersihan bahan kimia.
f. Pelindung kaki dantelapak kaki
Beberapa contoh aktivitas yang memerlukan alat pelindung kaki dan
telapak kaki yaitu:
1) Pekerjaan dengan risiko tertumbuk material yang mengakibatkan
kerusakan kulit seperti semen atau risiko penetrasi oleh paku.
2) Memindahkan material dengan risiko terpeleset, jatuh, dan mendarat
pada permukaan keras, kontak dengan tumpahan bahan kimia.
3) Pekerjaan listrik dengan risiko tersetrum dan mudah terbakar.
4) Pada kondisi dingin atau panas yang ekstrem.
2. Perawatan APD
Alat pelindung diri harus mendapat perawatan secara teratur. Artinya semua
APD tersebut harus dipelihara agar tahan lama karena akan digunakan
secara terus menerus selama bekerja atau berada di lingkungan kerja.
Misalnya pakaian kerja, harus dipelihara dengan sering dicuci bersih agar
terhindar dari kelapukan karena keringat dapat mempercepat using atau
kelapukan bahan pakaian yang terbuat dari katun. Perlengkapan lainnya
yang perlu dijaga bersih adalah kacamata, masker permanen, dan pelindung
telinga. Perlengkapan tersebut harus dijaga (steril) setelah digunakan yaitu
dicuci dengan alkohol.
Hal tersebut untuk menjaga kesehatan pemakai berikutnya dari
kemungkinan yang
dapat terjadi yang disebabkan oleh pengguna terdahulu memiliki penyakit
menular. Bahkan yang sifatnya milik pribadi pun atau sebagai pemilik tetap
harus terjaga kebersihannya. Penyimpanan yang baik dan teratur juga
merupakan tindakan pemeliharaan yang harus ditaati dan disiplin. Tempat
penyimpanan juga haruslah memadai dan tertutup rapat. Dianjurkan untuk
51
memberikan obat anti serangga di dalam tempat penyimpanan perlengkapan
pelindung diri. Berikut ini panduan cara pemeliharaan alat pelindung diri.
Tabel 4.2
Pemeliharaan APD
No. Jenis APD Cara Pembersihan Cara Penyimpanan
Full body Untuk pemakaian rutin, Disimpan pada tempat yang
hardness lakukan berventilasi, dan hindari
pencucian minimal seminggu sinar
1 sekali. Pencucian matahari langsung atau
menggunakan panas
air, tidak boleh disikat dan diatas 40oC.
terkena sabun asam/basa
Hard Hat Untuk pemakaian rutin, Disimpan di tempat
lakukan penyimpanan tertutup
2 pencucian minimal seminggu dalam
sekali. Pencucian bisa keadaan tertelungkup.
menggunakan air sabun.
Safety back Pencucian secara manual Simpan pada tempat
support belt (tidak penyimpanan tertutup
menggunakan mesin), tidak
3
menggunakan panas langsung,
dan tidak menggunakan
pemutih.
Respirator Tidak boleh menggunakan Disimpan pada lokasi yang
solven kering, bersih dan tidak
dan minyak, boleh terkontaminasi, hindarkan
menggunakan dari
4 sabun, suhu air tidak boleh debu dan sinar matahari
lebih langsung. Sediakan plastik
dari 49oC. Boleh klip.
menggunakan
sodium hipocloride.
Masker Bersihkan permukaan masker Disimpan pada daerah yang
dari kering, bersih dan tidak
debu dengan cara menyeka terkontaminasi, hindarkan
dengan tissue atau kain. Boleh dari
menggunakan semprotan debu dan sinar matahari
angin langsung. Pisahkan
5 yang lemah pada respirator
permukaannya, dari filternya.
tetapi tidak boleh
disemprotkan
langsung. Jangan dicuci
dengan
air
Safety Diseka dengan kain Hindarkan dari benturan
spectacles/ lembut/tissue, dan
Kacamata bila permukaan buram dapat gesekan dengan benda yang
6
pelindung dibasuh dengan air dan bila keras.
perlu
ditambahkan sabun lunak.
Earplug/ Cuci earplug dengan Masukkan earplug ke
7
sumbat menggunakan sabun lunak, dalam
52
No. Jenis APD Cara Pembersihan Cara Penyimpanan
telinga lebih wadah. Simpan di tempat
baik bila dengan air hangat. sejuk
Hindarkan penggunaan dan kering. Hindarkan
alcohol tempat
dan pembersih lain dari yang lembab dan terkena
solven, sinar
kemudian keringkan pada suhu matahari langsung.
kamar.
Safety shoes/ Lakukan pembersihan dengan Simpan di tempat sejuk dan
sepatu menggunakan sikat sepatu atau kering dengan sirkulasi
pelindung lap kain basah/kering. udara
Penggunaan detergen bisa yang cukup. Hindarkan
8
merusak kulit sepatu. tempat
yang lembab dan terkena
sinar
matahari langsung.
Sarung tangan Sarung tangan kain dapat Simpan di tempat kering
kain dicuci dan
dengan air dan detergen. bersih
9
Pengeringan dapat dilakukan
pada suhu kamar maupun sinar
matahari
Sarung tangan Sarung tangan karet dapat Simpan di tempat kering
karet dicuci dan
dengan air dan detergen. bersih
10
Pengeringan dapat dilakukan
pada suhu kamar maupun sinar
matahari
Sarung tangan Lakukan pengelapan dengan Simpan di tempat kering
kulit menggunakan kain lap basah. dan
Usahakan pengeringan bersih
dilakukan
11 pada suhu kamar. Pencucian
bisa
dilakukan seminggu sekali
tanpa
menggunakan detergen
Faceshield/ Pencucian dapat dilakukan Simpan di tempat kering
pelindung dengan menyeka dengan dan
12 wajah menggunakan kain lap basah bersih dan hindarkan dari
maupun air. benda
keras dan tajam.
Safety google/ Pencucian dengan Simpan di tempat bersih
13 pelindung menggunakan dan
mata air bersih dan detergen. kering
53