Teori dan Sistem Pencahayaan Ruang
Teori dan Sistem Pencahayaan Ruang
LANDASAN TEORI
mata kita, kisaran panjang gelombang adalah antara 380 dan 780 nm (zumtobel,
2013). Cahaya adalah suatu gejala fisis Suatu sumber cahaya memancarkan energi,
sebagian dari energi ini diubah menjadi cahaya tampak. Perambatan cahaya di
itu suatu gejala getaran, Gejala-gejala getaran yang sejenis dengan cahaya ialah
gelombang ini hanya berbeda frekuensi saja (Departemen Kesehatan R.I, 1992).
Kualitas cahaya yang tidak baik akan berpengaruh pada suasana atmosfer
yang berdampak pada kesehatan. Sistem pencahayaan juga dipengaruhi oleh fasad
bangunan, Bentuk, ukuran dan lokasi bukaan memberikan efek yang penting tidak
hanya pada pencahayaan interior tetapi juga pada penampilan luar bangunan.
penglihatan di dalam ruang sesuai dengan jenis aktivitas yang dilakukan (Steffi
2.1.1 Pencahayaan
tingkat pencahayaan rata-rata pada bidang kerja, dengan bidang kerja yang
dimaksud adalah sebuah bidang kerja horizontal imaziner yang terletak setinggi
II-1
0,75 m diatas lantai pada seluruh ruangan. Pencahayaan memiliki satuan lux
(lm/m²), dimana lm adalah lumens dan m² adalah satuan dari luas permukaan.
jelas.
hampir semua ruang interior, Jendela, skylight dan bentuk bukaan lain digunakan
sangat disukai sebagai sumber cahaya karena manusia dapat bekerja dengan baik
dengan pencahayaan alami tersebut (Steffi Julia Soegandhi, 2015). Cahaya yang
besar, yaitu lebih dari 100.000 lux pada kondisi langit cerah dan 10.000 lux pada
ruangan atau gedung terhadap rotasi bumi pada matahari. Rotasi bumi yang
bergerak dari arah barat menuju ke timur berpengaruh sangat baik terhadap ruangan
(Irianto, 2006). Jumlah cahaya matahari yang tersedia tergantung pada hari, tahun,
II-2
Faktor pencahayaan alami siang hari terdiri dari 3 komponen meliputi :
cahaya langit.
yang berasal dari refleksi benda-benda yang berada di sekitar bangunan yang
bersangkutan.
II-3
Gambar 2. 3 Komponen Refleksi Dalam
(SNI 03-2396, 2001)
Cahaya buatan ialah pencahayaan yang berasal dari buatan manusia. Lampu
atau pencahayaan bisa mempunyai dua fungsi yaitu sebagai sumber cahaya untuk
kegiatan sehari-hari dan untuk memberikan keindahan dalam desain suatu ruang.
Pencahayaan buatan secara umum terbagi atas 4 tipe:(Steffi Julia Soegandhi, 2015)
1) General Lighting atau ambient lighting adalah tipe penerangan yang berasal
dari sumber cahaya yang cukup besar dan sinarnya mampu menerangi
keseluruhan ruangan.
4) Decorative Lighting memiliki bentuk tertentu yang menarik dan sengaja dipilih
II-4
2.2 Sistem Pencahayaan
menjadi 3 yaitu:
ruangan, digunakan jika tugas visual yang dilakukan di seluruh tempat dalam
tidak merata, di tempat yang diperlukan untuk melakukan tugas visual yang
tersebut.
II-5
2.3 Satuan Pengukuran Cahaya
terlihat oleh mata manusia. Besaran-besaran fotometri yang umum antara lain:
a. Fluk cahaya/fluks luminus (ϕ), adalah laju aliran energi cahaya, atau energi
radiasi yang telah dibebani dengan respon sensitivitas mata manusia per satuan
b. Intensitas cahaya (I) adalah fluks luminus per satuan sudut ruang (ω, dalam
steradian) dalam arah tertentu. Intensitas cahaya memiliki satuan candela (cd).
yang datang pada suatu permukaan per satuan luas (A, dalam ) permukaan
yang menerima cahaya tersebut. Iluminasi memiliki satuan lux atau setara
dengan lumen/ .
sebagai tingkat pencahayaan rata-rata pada bidang kerja, yang dimaksud dengan
bidang kerja ialah bidang horizontal imajiner yang terletak 0,75 meter di atas lantai
II-6
Dimana : = Tingkat pencahayaan rata-rata (lux)
= Koefisien pengguna.
Sebagian dari cahaya yang dipancarkan oleh lampu diserap oleh armatur,
sebagian dipancarkan ke arah atas dan sebagian lagi dipancarkan ke arah bawah.
sampai di bidang kerja terhadap keluaran cahaya yang dipancarkan oleh semua
lampu.
2) Perbandingan antara keluaran cahaya dari armatur dengan keluaran cahaya dari
5) Dimensi ruangan.
bentuk tabel yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat armatur yang berdasarkan hasil
pengujian dari instansi terkait faktor utilisasi ini besarnya kurang dari 1 dimana nilai
II-7
2.4.3. Koefisien Depresi (kd/penyusutan)
Koefisien depresiasi atau sering disebut juga koefisien rugi-rugi cahaya atau
terhadap tingkat pencahayaan pada waktu instalasi baru. Faktor kehilangan cahaya
terdiri atas non recoverable factor dan recoverable factor. Besarnya koefisien
tegangan listrik akan mempengaruhi lumen lampu pijar hingga 3%. Jika
luminer berbeda dengan yang tercantum dalam data teknis, hal ini sering
II-8
Sedangkan Recoverable factor meliputi:
kotoran pada luminer. LDD dipengaruhi oleh tipe luminer, kondisi atmosfir
dapat digunakan sebagai pedoman bila tidak ada data yang spesifik dari
wajar (tidak sangat bersih maupun kotor) dapat dilihat berdasarkan tabel
dibawah ini.
Sumber: Stein,1986
pada jenis lampu dan waktu penggantiannya. Bila tidak tersedia data yang
II-9
Tabel 2. 2 Lamp Lumen Depreciation
Sumber: Stein,1986
d. LBO (Lamp Burnout), perkiraan jumlah lampu yang mati sebelum waktu
secara bersamaan LBO=1. Bila penggantian lampu hanya pada lampu yang
Pencahayaan Tertentu
= Koefisien pengguna.
II-10
= .......................................... (2. 4)
rata tertentu pada bidang kerja dapat dihitung mulai dengan persamaan 2.1 yang
digunakan untuk menghitung armatur. Setelah itu dihitung jumlah lampu yang
= .......................................... (2. 5)
Daya yang dibutuhkan untuk semua armatur dapat dihitung dengan persamaan :
= .......................................... (2. 6)
Dengan membagi daya total dengan luas bidang kerja, didapatkan kepadatan
daya ini kemudian dapat dibandingkan dengan kepadatan daya maksimum yang
15 Watt/m2.
II-11
2.5 Tingkat Pencahayaan Minimum yang Direkomendasikan
II-12
Pencahayaan pada bidang
vertikal sangat penting
Lobby, koridor. 100 1 untuk menciptakan
suasana/kesan ruang yang
baik.
Sistem pencahayaan harus
di rancang untuk
menciptakan suasana yang
sesuai. Sistem
Ballroom/ruang
200 1 pengendalian “switching”
sidang
dan “dimming” dapat
digunakan untuk
memperoleh berbagai efek
pencahayaan.
Ruang makan. 250 1
Cafetaria. 250 1
Diperlukan lampu
tambahan pada bagian
Kamar tidur 150 1 atau 2
kepala tempat tidur dan
cermin.
Dapur. 300 1
Rumah Sakit/Balai
Pengobatan
Gunakan pencahayaan
ruang rawat inap 250 1 atau 2 setempat pada tempat yang
diperlukan.
Ruang operasi, ruang
300 1
bersalin.
Laboratorium 500 1 atau 2
Ruang rekreasi dan
250 1
rehabilitasi.
Pertokoan/Ruang
Pamer
Ruang pamer dengan Tingkat pencahayaan ini
obyek berukuran harus di- penuhi pada
besar (misalnya lantai. Untuk beberapa
500 1
mobil). produk tingkat
pencahayaan pada bidang
vertikal juga penting.
Toko kue dan
250 1
makanan.
Toko buku dan alat
300 1
tulis/gambar.
Toko perhiasan,
500 1
arloji.
Toko Barang kulit
500 1
dan sepatu.
II-13
Toko pakaian 500 1
Pencahayaan pada bidang
Pasar swalayan 500 1 atau 2
vertikal pada rak barang.
Toko alat listrik (TV,
Radio/tape, mesin 250 1 atau 2
cuci, dan lain-lain).
Industri (umum)
Ruang Parkir 50 3
Gudang 100 3
Pekerjaan kasar. 100 ~ 200 2 atau 3
Pekerjaan sedang 200 ~ 500 1 atau 2
Pekerjaan halus 500 ~ 1000 1
Pekerjaan amat halus 1000 ~ 2000 1
Pemeriksaan warna. 750 1
Rumah Ibadah.
Untuk tempat-tempat yang
membutuhkan tingkat
Mesjid 200 1 atau 2 pencahayaan yang lebih
tinggi dapat digunakan
pencahayaan setempat
Gereja 200 1 atau 2 Idem
Vihara 200 1 atau 2 Idem
Sumber : (SNI 03-6575, 2001)
sifatnya, yaitu :
b). Renderasi warna yang dapat mempengaruhi penampilan objek yang diberikan
Sumber cahaya yang mempunyai tampak warna yang sama dapat mempunyai
II-14
2.5.2. Tampak Warna
umum, makin tinggi tingkat pencahayaan yang diperlukan, makin sejuk tampak
warna yang dipilih sehingga tercipta pencahayaan yang nyaman. Kesan umum yang
warna yang berbeda dengan lampu fluoresen dapat dilihat pada Tabel 2.3.
II-15
2.5.3. Renderasi Warna
Renderasi warna dibawah perlu diketahui tampak warna suatu lampu, juga
dipergunakan suatu indeks yang menyatakan apakah warna obyek tampak alami
apabila diberi cahaya lampu tersebut. Nilai maksimum secara teoritis dari indeks
renderasi warna adalah 100, untuk aplikasi ada 4 kelompok renderasi warna yang
Tabel 2.5 Contoh Harga Ra dan Temperatur Warna untuk Beberapa Jenis
Lampu
II-16
2.6 Distribusi Luminasi
a) Lampu Pijar
filamennya pada temperatur yang tinggi, temperatur ini memberi radiasi dalam
II-17
daerah tampak dari spektrum radiasi yang dihasilkan. Komponen utama lampu pijar
terdiri dari filamen, bola lampu, gas pengisi dan kaki lampu (fitting).
b) Lampu Fluoresen
bubuk fluoresen pada dinding bola lampu yang diaktifkan oleh energi ultraviolet
dari pelepasan energi elektron. Umumnya lampu ini berbentuk panjang yang
mempunyai elektroda pada kedua ujungnya, berisi uap merkuri pada tekanan
rendah dengan gas inert untuk penyalaannya. Jenis fosfor pada permukaan bagian
dalam tabung lampu menentukan jumlah dan warna cahaya yang dihasilkan.
bereaksi dengan gas di dalam lampu, yang menghasilkan cahaya ultraviolet. Cahaya
II-18
Gambar 2. 6 Lampu Fluoresen
(Widharma & Sunaya, 2019)
c) Lampu Halogen
penghitaman, lampu halogen berisi gas halogen (iodine, chlorine, chromine) yang
dapat mencegah penghitaman lampu. Cara kerja dari lampu halogen yaitu adanya
yodium dalam lampu akan terjadi suatu reaksi kimia, yang mengembalikan wolfram
II-19
d) Lampu LED
bagian spektrum yang dapat dilihat, cahaya yang tampak merupakan hasil
Cahaya terbentuk dari hasil pergerakan elektron pada sebuah atom, dimana
pada sebuah atom, elektron bergerak pada suatu orbit yang mengelilingi sebuah inti
atom. Elektron pada orbit yang berbeda memiliki jumlah energi yang berbeda,
elektron yang berpindah dari orbit dengan tingkat energi lebih tinggi ke orbit
dengan tingkat energi lebih rendah perlu melepas energi yang dimilikinya.
menghasilkan cahaya, semakin besar energi yang dilepaskan, semakin besar energi
yang terkandung dalam foton. Dari mana kita tahu sebuah produk memiliki kualitas
yang baik tentunya dari hasil pengujian yang dilakukannya, hal yang sama juga
binning process, pada LED ada empat hal yang harus dibuktikan melalui proses
binning, yaitu konsistensi warna, colour rendering, usia pakai (lifetime), dan efikasi
(jumlah cahaya per daya) yang dinyatakan dalam satuan lumen perwatt (LPW).
Fungsi binning adalah memastikan setiap LED yang dihasilkan memenuhi standar
tersebut.
II-20
Gambar 2. 8 Lampu Led
(Anisah, 2015)
2.8 Armatur
listrik.
2) Efisiensi cahaya.
3) Koefisien penggunaan.
II-21
2.8.2 Distribusi Intensitas Cahaya
Data distribusi intensitas cahaya pada umumnya dinyatakan dalam suatu
memancarkan distribusi cahaya yang simetris hanya diperlukan diagram polar pada
satu bidang vertikal yang memotong armatur melalui sumbu armatur, untuk armatur
yang tidak simetris, misalnya armatur lampu Fluoresen (TL), paling sedikit
memanjang melalui sumbu armatur dan bidang vertikal yang tegak lurus pada
sumbu tersebut .
menurut prosentase dari jumlah cahaya yang dipancarkan ke arah atas dan ke arah
bawah bidang horizontal yang melewati titik tengah armatur, sebagai berikut :
II-22
Tabel 2.6 Klasifikasi Armatur
Jumlah Cahaya
Kelas Armatur Ke Arah Atas (%) Ke Arah Bawah
(%)
Langsung 0 ~ 10 90 ~ 100
Semi langsung 10 ~ 40 60 ~ 90
Difus 40 ~ 60 40 ~ 60
Langsung-tidak
40 ~ 60 40 ~ 60
langsung
Semi tidak langsung 60 ~ 90 10 ~ 40
Tidak langsung 90 ~ 100 0 ~ 10
Sumber : (SNI 03-6575, 2001)
debu dan angka kedua terhadap air. Contoh IP 55 menyatakan armatur dilindungi
Tabel 2.7 Klasifikasi Proteksi Terhadap Debu dan Air Sesuai SNI No.04-
0202-1987
Angka Tingkat Proteksi Angka
Pertama Keterangan Keterangan Kedua
Tidak ada pengamanan Tidak ada
terhadap sentuhan pengamanan
dengan bagian yang
bertegangan atau
bergerak di dalam
0 0
selungkup peralatan.
Tidak ada pengamanan
terhadap peralatan
terhadap masuknya
benda padat
Pengamanan terhadap Pengamanan
sentuhan secara tidak terhadap tetesan air
disengaja oleh bagian Kondensasi :
1 1
tubuh manusia yang Tetesan air
permukaannya cukup kondensasi yang
luas misalnya tangan, jatuh pada selungkup
II-23
dengan bagian yang peralatan tidak
bertegangan atau merusak peralatan
bergerak di dalam tersebut.
selungkup peralatan.
Pengamanan terhadap
masuknya benda padat
yang cukup besar.
Pengamanan
Pengamanan terhadap Pengamanan
sentuhan jari tangan terhadap tetesan air
dengan bagian Cairan yang menetes
bertegangan atau tidak membawa
bergerak di dalam akibat buruk
2 selungkup peralatan. walaupun selungkup 2
Pengamanan terhadap peralatan berada
masuknya benda padat dalam kedudukan
yang cukup. miring15° segala
arah, terhadap
sumbu vertikal.
Pengamanan terhadap Pengamanan
masuknya alat, kawat terhadap hujan.
atau sejenis dengan Jatuhnya air hujan
3 tebal lebih dari 2,5 mm. dengan arah sampai 3
Pengamanan terhadap dengan 60° terhadap
masuknya benda padat vertikal tidak
ukuran kecil. merusak.
Pengamanan terhadap Pengamanan
masuknya alat, terhadap percikan :
kawat atau sejenis Percikan cairan yang
dengan tebal lebih datang dari segala
4 4
dari 1 mm. arah tidak merusak.
Pengamanan terhadap
masuknya benda padat
ukuran kecil.
Pengamanan secara Pengamanan
sempurna terhadap semprotan
terhadap sentuhan air : Air yang
dengan bagian yang disemprotkan dari
5 5
bertegangan atau segala arah tidak
bergerak di dalam merusak.
selungkup peralatan.
II-24
Pengamanan terhadap
endapan debu yang bisa
membahayakan dalam
hal ini debu masih bisa
masuk tapi tidak
sedemikian banyak
sehingga dapat
mengganggu keadaan
kerja peralatan.
Pengamanan secara Pengamanan
sempurna terhadap terhadap keadaan di
sentuhan dengan bagian geladak kapal
yang bertegangan atau (peralatan Kedap air
6 6
bergerak di dalam geladak kapal) :
selungkup peralatan. Air badai laut tidak
masuk ke dalam
selungkup peralatan.
Pengamanan
terhadap rendaman
air:
Air tidak masuk ke
dalam selungkup- 7
selungkup peralatan
dengan kondisi
tekanan dan waktu
tertentu.
Pengamanan
terhadap rendaman
air.
Air tidak dapat
masuk ke dalam
selungkup peralatan 8
dalam waktu yang
terbatas, sesuai
dengan perjanjian
antara pemakai dan
pembuat
Sumber : (SNI 03-6575, 2001)
II-25
3) Klasifikasi Berdasarkan Proteksi Terhadap Kejut Listrik.
terdiri dari berbagai model. Rumah lampu ini terbuat dari galvanises sheet steel,
reflektor terbuat dari glass-fibre reinforced polyester, disamping itu armatur ini
dilengkapi cermin. Adapun bentuk konstruksi armatur tipe TBS 300 dapat dilihat
gambar berikut.
II-26
Gambar 2. 10 Armatur Tipe TBS 300
(Adil Maulana Iksan, Andik Bintoro, 2018)
Armatur tipe TCS dapat digunakan untuk kantor dengan lampu TLD,
macam daya. Rumah armatur terbuat dari glass-fibre reinforced polyester, reflektor
terbuat dari bahan white glass-fibre reinforced polyester. Adapun bentuk konstruksi
industri, Lampu yang digunakan pada armatur adalah TLD. Rumah-rumah armatur
terbuat dari glass fibre reinforced pressed polyester, konstruksi armatur dapat
II-27
Gambar 2. 12 Armatur Tipe TCW
(Adil Maulana Iksan, Andik Bintoro, 2018)
bentuknya hampir sama dengan armatur tipe MDK dan HDK. Lampu yang dipakai
pada armatur ini adalah lampu sodium dan lampu mercury, rumahnya terbuat dari
II-28
2.9 Uji Validitas dan Reliabilitas
statistik dalam penelitian salah satunya yaitu pengujian validitas dan reliabilitas.
Validitas adalah tingkat keandalan dan kesahihan alat ukur yang digunakan.
Intrumen dikatakan valid berarti menunjukkan alat ukur yang dipergunakan untuk
mendapatkan data itu valid atau dapat digunakan untuk mengukur apa yang
sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dapat melakukan fungsinya.
Dari ketiga pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa validitas adalah tingkat
keandalan/kelayakan alat ukur yang digunakan untuk mengukur apa yang akan
diukur serta sejauh mana alat ukur tersebut menjalankan fungsi pengukurannya.
dengan nilai total dari pengukuran tersebut. Selanjutnya koefisien korelasi yang
membandingkannya dengan r tabel. Bila t hitung > dari t tabel atau r hitung > dari
r tabel, maka nomor pertanyaan tersebut valid. Berikut ini merupakan persamaan
∑ (∑ )(∑ )
= .......................................... (2. 7)
[ ∑ (∑ ) ][ ∑ (∑ ) ]
II-29
Dimana :
= koefisien korelasi
n = jumlah titik pengukuran satu ruangan
x = pengukuran ke x
y = total seluruh pengukuran
II-30
2.9.2 Reliabilitas
sejauh mana hasil pengukuran dengan menggunakan objek yang sama, akan
konsistensi alat ukur, apakah alat ukur yang digunakan dapat diandalkan dan tetap
1) Jika nilai cronbach’s alfa > 0,70 maka hasil pengukuran dinyatakan reliabel
atau konsisten.
2) Jika nilai Cronbach’s Alfa < 0,70 maka hasil pengukuran dinyatakan tidak
∑
=( )
1 .......................................... (2. 8)
Dimana:
= nilai reliabilitas
k = banyaknya titik pengukuran dalam satu ruangan
∑ = jumlah pengukuran ke i
= total semua pengukuran
II-31