0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan31 halaman

Teori dan Sistem Pencahayaan Ruang

Dokumen tersebut membahas tentang pengertian cahaya, pencahayaan alami dan buatan, sistem pencahayaan, dan satuan pengukuran cahaya. Secara ringkas, cahaya adalah bagian dari spektrum elektromagnetik yang dapat dilihat mata. Pencahayaan dapat berasal dari sumber alami (matahari) atau buatan, dan sistem pencahayannya dapat merata atau tidak merata."

Diunggah oleh

Traviataa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan31 halaman

Teori dan Sistem Pencahayaan Ruang

Dokumen tersebut membahas tentang pengertian cahaya, pencahayaan alami dan buatan, sistem pencahayaan, dan satuan pengukuran cahaya. Secara ringkas, cahaya adalah bagian dari spektrum elektromagnetik yang dapat dilihat mata. Pencahayaan dapat berasal dari sumber alami (matahari) atau buatan, dan sistem pencahayannya dapat merata atau tidak merata."

Diunggah oleh

Traviataa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Cahaya

Cahaya adalah bagian dari elektromagnetik keadaan yang dirasakan oleh

mata kita, kisaran panjang gelombang adalah antara 380 dan 780 nm (zumtobel,

2013). Cahaya adalah suatu gejala fisis Suatu sumber cahaya memancarkan energi,

sebagian dari energi ini diubah menjadi cahaya tampak. Perambatan cahaya di

ruang bebas dilakukan oleh gelombang-gelombang elektromagnetik. Jadi cahaya

itu suatu gejala getaran, Gejala-gejala getaran yang sejenis dengan cahaya ialah

gelombang-gelombang panas, radio, televisi, radar dan sebagainya. Gelombang-

gelombang ini hanya berbeda frekuensi saja (Departemen Kesehatan R.I, 1992).

Kualitas cahaya yang tidak baik akan berpengaruh pada suasana atmosfer

ruang, menimbulkan tekanan psikologis pada pengguna dan gangguan penglihatan

yang berdampak pada kesehatan. Sistem pencahayaan juga dipengaruhi oleh fasad

bangunan, Bentuk, ukuran dan lokasi bukaan memberikan efek yang penting tidak

hanya pada pencahayaan interior tetapi juga pada penampilan luar bangunan.

Pencahayaan yang terencana dengan baik akan mampu mendukung kebutuhan

penglihatan di dalam ruang sesuai dengan jenis aktivitas yang dilakukan (Steffi

Julia Soegandhi, 2015).

2.1.1 Pencahayaan

Pencahayaan didefinisikan sebagai jumlah cahaya yang jatuh pada sebuah

bidang permukaan. Tingkat pencahayaan pada suatu ruangan didefinisikan sebagai

tingkat pencahayaan rata-rata pada bidang kerja, dengan bidang kerja yang

dimaksud adalah sebuah bidang kerja horizontal imaziner yang terletak setinggi

II-1
0,75 m diatas lantai pada seluruh ruangan. Pencahayaan memiliki satuan lux

(lm/m²), dimana lm adalah lumens dan m² adalah satuan dari luas permukaan.

Pencahayaan dapat mempengaruhi keadaan lingkungan sekitar. Pencahayaan yang

baik menyebabkan manusia dapat melihat objek–objek yang dikerjakannya dengan

jelas.

2.1.2 Pencahayaan Alami (Natural Lighting)

Pencahayaan matahari adalah sumber pencahayaan yang sangat baik untuk

hampir semua ruang interior, Jendela, skylight dan bentuk bukaan lain digunakan

utnuk membawa cahaya matahari masuk ke dalam bangunan. Cahaya matahari

sangat disukai sebagai sumber cahaya karena manusia dapat bekerja dengan baik

dengan pencahayaan alami tersebut (Steffi Julia Soegandhi, 2015). Cahaya yang

dipancarkan matahari ke permukaan bumi menghasilkan iluminasi yang sangat

besar, yaitu lebih dari 100.000 lux pada kondisi langit cerah dan 10.000 lux pada

kondisi langit berawan. Pemanfaatan cahaya matahari tergantung pada letak

ruangan atau gedung terhadap rotasi bumi pada matahari. Rotasi bumi yang

bergerak dari arah barat menuju ke timur berpengaruh sangat baik terhadap ruangan

yang mempunyai sistem pencahayaan matahari menghadap ke timur atau barat

(Irianto, 2006). Jumlah cahaya matahari yang tersedia tergantung pada hari, tahun,

cuaca, tingkat polusi, dan lain sebagainya.

II-2
Faktor pencahayaan alami siang hari terdiri dari 3 komponen meliputi :

1) Komponen langit (faktor langit-fl) yakni komponen pencahayaan langsung dari

cahaya langit.

Gambar 2. 1 Komponen Langit


(SNI 03-2396, 2001)

2) Komponen refleksi luar (faktor refleksi luar) yakni komponen pencahayaan

yang berasal dari refleksi benda-benda yang berada di sekitar bangunan yang

bersangkutan.

Gambar 2. 2 Komponen Reflekksi Luar


(SNI 03-2396, 2001)

3) Komponen refleksi dalam (faktor refleksi dalam) yakni komponen pencahayaan

yang berasal dari refleksi permukaan-permukaan dalam ruangan, dari cahaya

yang masuk ke dalam ruangan akibat refleksi benda-benda di luar ruangan

maupun dari cahaya langit.

II-3
Gambar 2. 3 Komponen Refleksi Dalam
(SNI 03-2396, 2001)

2.1.3 Pencahayaan Buatan (Artificial Lighting)

Cahaya buatan ialah pencahayaan yang berasal dari buatan manusia. Lampu

atau pencahayaan bisa mempunyai dua fungsi yaitu sebagai sumber cahaya untuk

kegiatan sehari-hari dan untuk memberikan keindahan dalam desain suatu ruang.

Pencahayaan buatan secara umum terbagi atas 4 tipe:(Steffi Julia Soegandhi, 2015)

1) General Lighting atau ambient lighting adalah tipe penerangan yang berasal

dari sumber cahaya yang cukup besar dan sinarnya mampu menerangi

keseluruhan ruangan.

2) Accent Lighting dalam sebuah ruangan bisanya digunakan untuk menampilkan

unsur estetika ruangan melalui benda-benda seni yang diterangi.

3) Task Lighting merupakan penerangan yang dibutuhkan untuk mempermudah

atau memperjelas pekerjaan spesifik yang dilakukan dalam suatu ruangan.

4) Decorative Lighting memiliki bentuk tertentu yang menarik dan sengaja dipilih

untuk menghiasi ruang.

II-4
2.2 Sistem Pencahayaan

Menurut (SNI 03-6575-2001) Sistem pencahayaan dapat dikelompokan

menjadi 3 yaitu:

a) Sistem Pencahayaan Merata

Sistem ini memberikan tingkat pencahayaan yang merata di seluruh

ruangan, digunakan jika tugas visual yang dilakukan di seluruh tempat dalam

ruangan memerlukan tingkat pencahayaan yang sama. Tingkat pencahayaan

yang merata diperoleh dengan memasang armatur secara merata langsung

maupun tidak langsung di seluruh langit-langit.

b) Sistem Pencahayaan Setempat

Sistem ini memberikan tingkat pencahayaan pada bidang kerja yang

tidak merata, di tempat yang diperlukan untuk melakukan tugas visual yang

memerlukan tingkat pencahayaan yang tinggi, diberikan cahaya yang lebih

banyak dibandingkan dengan sekitarnya. Hal ini diperoleh dengan

mengkonsentrasikan penempatan armatur pada langit-langit diatas tempat

tersebut.

c) Sistem Pencahayaan Gabungan Merata dan Setempat.

Sistem pencahayaan gabungan didapatkan dengan menambah sistem

pencahayaan setempat pada sistem pencahayaan merata, dengan armatur yang

dipasang di dekat tugas visual.

II-5
2.3 Satuan Pengukuran Cahaya

Pengukuruan cahaya ( photometric quantity) adalah pengukuran terhadap

parameter cahaya. meliputi aspek-aspek psikofisis energi radiasi yang dapat

terlihat oleh mata manusia. Besaran-besaran fotometri yang umum antara lain:

a. Fluk cahaya/fluks luminus (ϕ), adalah laju aliran energi cahaya, atau energi

radiasi yang telah dibebani dengan respon sensitivitas mata manusia per satuan

waktu, Fluks luminus memiliki satuan lumen (lm).

b. Intensitas cahaya (I) adalah fluks luminus per satuan sudut ruang (ω, dalam

steradian) dalam arah tertentu. Intensitas cahaya memiliki satuan candela (cd).

c. Iluminasi atau kuat/tingkat/intensitas pencahayaan (E), adalah fluks luminus

yang datang pada suatu permukaan per satuan luas (A, dalam ) permukaan

yang menerima cahaya tersebut. Iluminasi memiliki satuan lux atau setara

dengan lumen/ .

d. Luminasi (L), didefinisikan sebagai permukaan benda yang mengeluarkan atau

memantulkan intensitas cahaya yang tampak pada satuan luas permukaan

benda tersebut, dinyatakan dalam candela per meter persegi (Cd/ )

2.4 Perhitungan Tingkat Pencahayaan


2.4.1. Tingkat Pencahayaan Rata-rata (E rata-rata)

Tingkat pencahayaan pada suatu ruangan pada umumnya didefinisikan

sebagai tingkat pencahayaan rata-rata pada bidang kerja, yang dimaksud dengan

bidang kerja ialah bidang horizontal imajiner yang terletak 0,75 meter di atas lantai

pada seluruh ruangan. Tingkat pencahayaan rata-rata (lux), dapat

dihitung dengan persamaan :

= (lux) .......................................... (2. 1)

II-6
Dimana : = Tingkat pencahayaan rata-rata (lux)

= Total lumen dari semua lampu yang

menerangi bidang kerja (lumen)

= Luas bidang kerja ( )

= Koefisien pengguna.

= Koefisien depresi (penyusutan)

2.4.2. Koefisien Pengguna (kp)

Sebagian dari cahaya yang dipancarkan oleh lampu diserap oleh armatur,

sebagian dipancarkan ke arah atas dan sebagian lagi dipancarkan ke arah bawah.

Faktor penggunaan didefinisikan sebagai perbandingan antara fluks luminus yang

sampai di bidang kerja terhadap keluaran cahaya yang dipancarkan oleh semua

lampu.

Besarnya koefisien penggunaan dipengaruhi oleh faktor :

1) Distribusi intensitas cahaya dari armatur.

2) Perbandingan antara keluaran cahaya dari armatur dengan keluaran cahaya dari

lampu di dalam armatur.

3) Reflektansi cahaya dari langit-langit, dinding dan lantai.

4) Pemasangan armatur apakah menempel atau digantung pada langit-langit,

5) Dimensi ruangan.

Besarnya koefisien penggunaan untuk sebuah armatur diberikan dalam

bentuk tabel yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat armatur yang berdasarkan hasil

pengujian dari instansi terkait faktor utilisasi ini besarnya kurang dari 1 dimana nilai

kerugian untuk gedung-gedung perkantoran modern pada umumnya berkisar 0,8.

II-7
2.4.3. Koefisien Depresi (kd/penyusutan)

Koefisien depresiasi atau sering disebut juga koefisien rugi-rugi cahaya atau

koefisien pemeliharaan, didenifisikan sebagai perbandingan antara tingkat

pencahayaan setelah jangka waktu tertentu dari instalasi pencahayaan digunakan

terhadap tingkat pencahayaan pada waktu instalasi baru. Faktor kehilangan cahaya

terdiri atas non recoverable factor dan recoverable factor. Besarnya koefisien

depresiasi biasanya ditentukan berdasarkan estimasi untuk ruangan dan armatur

dengan pemeliharaan yang baik pada umumnya koefisien depresiasi diambil

sebesar 0,8 Non recoverable, factor terdiri atas:

a. LAT (Luminaire Ambient Temperature), suhu di sekitar luminer di atas suhu

250ºC lampu fluorescent akan kehilangan cahaya 1% setiap kenaikan suhu

10ºC. Jika lampu beroperasi di lingkungan normal sesuai desain pabrik,

maka LAT=1. Pengertian lingkungan normal adalah sesuai arahan pabrik

pembuat lampu tersebut.

b. VV (Voltage Variation), variasi tegangan listrik. Perubahan 1% pada

tegangan listrik akan mempengaruhi lumen lampu pijar hingga 3%. Jika

lampu dioperasikan pada voltase sesuai, maka VV=1.

c. LSD (Luminaire Surface Depreciation), depresiasi permukaan luminer.

Permukaan luminer akan mengalami penurunan kualitas, seperti penutup

berubah warna, reflektor tergores, dan sebagainya yang akan mempengaruhi

kualitas dan kuantitas penerangan.

d. BF (Ballast Factor), faktor balas. Kadang balas yang digunakan dalam

luminer berbeda dengan yang tercantum dalam data teknis, hal ini sering

menyebabkan kekeliruan perhitungan.

II-8
Sedangkan Recoverable factor meliputi:

a. LDD (Luminaire Dirt Depreciation), depresiasi cahaya akibat penimbunan

kotoran pada luminer. LDD dipengaruhi oleh tipe luminer, kondisi atmosfir

lingkungan, dan waktu antara pembersihan luminer berkala.

b. RSDD (Room Surface Dirt Depreciation), depresiasi cahaya akibat

penumpukan kotoran di permukaan ruang. Pencahayaan yang

memanfaatkan pemantulan akan lebih mudah terpengaruh oleh

penumpukan kotoran (debu dan lain-lain) dibandingkan dengan

pencahayaan yang mengutamakan cahaya langsung dari lampu. Berikut

dapat digunakan sebagai pedoman bila tidak ada data yang spesifik dari

lampu bersangkutan. Pada periode pembersihan 24 bulan di lingkungan

wajar (tidak sangat bersih maupun kotor) dapat dilihat berdasarkan tabel

dibawah ini.

Tabel 2. 1 Room Surface Dirt Depreciation

Sumber: Stein,1986

c. LLD (Lamp Lumen Depreciation), faktor depresiasi lumen yang tergantung

pada jenis lampu dan waktu penggantiannya. Bila tidak tersedia data yang

pasti, maka dapat menggunakan tabel berikut ini.

II-9
Tabel 2. 2 Lamp Lumen Depreciation

Sumber: Stein,1986

d. LBO (Lamp Burnout), perkiraan jumlah lampu yang mati sebelum waktu

penggantian yang direncanakan. LBO = (jumlah lampu yang masih hidup)

- (jumlah awal lampu yang digunakan). Bila lampu diganti seluruhnya

secara bersamaan LBO=1. Bila penggantian lampu hanya pada lampu yang

mati, maka LBO=0,95.

Dari penjelasan di atas maka rumus untuk mencari LLF/Kd yaitu:

LLF = (1) (RSDDxLLDxLBOxLDD) .......................................... (2. 2)

2.4.4. Jumlah Armatur yang Diperlukan untuk Mendapatkan Tingkat

Pencahayaan Tertentu

Sebelum menghitung jumlah armatur, terlebih dahulu dihitung fluks

luminus total yang diperlukan untuk mendapatkan tingkat pencahayaan yang

direncanakan, dengan menggunakan persamaan :

= (lumen) .......................................... (2. 3)

Dimana : = Fluks luminous total (lumen)

E = Tingkat pencahayaan rata-rata (lux)

A = Luas bidang kerja ( )

= Koefisien pengguna.

= Koefisien depresi (penyusutan)

II-10
= .......................................... (2. 4)

Dimana : = Jumlah armatur

= Fluks luminous total (lumen)

= Fluks luminus satu buah lampu (lumen)

n = Jumlah lampu dalam satu armatur

2.4.5. Kebutuhan Daya

Daya listrik yang dibutuhkan untuk mendapatkan tingkat pencahayaan rata-

rata tertentu pada bidang kerja dapat dihitung mulai dengan persamaan 2.1 yang

digunakan untuk menghitung armatur. Setelah itu dihitung jumlah lampu yang

dibutuhkan dengan persamaan:

= .......................................... (2. 5)

Daya yang dibutuhkan untuk semua armatur dapat dihitung dengan persamaan :

= .......................................... (2. 6)

Dimana: = Daya setiap lampu termasuk balast (watt)

Dengan membagi daya total dengan luas bidang kerja, didapatkan kepadatan

daya (Watt/m2) yang dibutuhkan untuk sistem pencahayaan tersebut. Kepadatan

daya ini kemudian dapat dibandingkan dengan kepadatan daya maksimum yang

direkomendasikan dalam usaha konservasi energi, misalnya untuk ruangan kantor

15 Watt/m2.

II-11
2.5 Tingkat Pencahayaan Minimum yang Direkomendasikan

Tingkat pencahayaan minimum dan renderasi warna yang

direkomendasikan untuk berbagai fungsi ruangan ditunjukkan pada tabel berikut.

Tabel 2.1 Tingkat Pencahayaan Minimum dan Renderasi Warna Yang


Direkomendasikan.
Fungsi Ruangan Tingkat Kelompok Keterangan
Pencahayaan Renderasi
(lux) Warna
Rumah Tinggal
Teras 60 1 atau 2
Ruang tamu 120 ~ 250 1 atau 2
Ruang makan 120 ~ 250 1 atau 2
Ruang kerja 120 ~ 250 1
Kamar tidur 120 ~ 250 1 atau 2
Kamar mandi 250 1 atau 2
Dapur 250 1 atau 2
Garasi 60 3 atau 4
Perkantoran :
Ruang Direktur 350 1 atau 2
Ruang kerja 350 1 atau 2
Gunakan armatur berkisi
untuk mencegah silau
Ruang komputer 350 1 atau 2
akibat pantulan layar
monitor.
Ruang rapat 300 1 atau 2
Gunakan pencahayaan
Ruang gambar 750 1 atau 2 setempat pada meja
gambar.
Gudang arsip 150 3 atau 4
Ruang arsip aktif. 300 1 atau 2
Lembaga
Pendidikan :
Ruang kelas 250 1 atau 2
Perpustakaan 300 1 atau 2
Laboratorium 500 1
Gunakan pencahayaan
Ruang gambar 750 1 setempat pada meja
gambar.
Kantin 200 1
Hotel dan
Restauran

II-12
Pencahayaan pada bidang
vertikal sangat penting
Lobby, koridor. 100 1 untuk menciptakan
suasana/kesan ruang yang
baik.
Sistem pencahayaan harus
di rancang untuk
menciptakan suasana yang
sesuai. Sistem
Ballroom/ruang
200 1 pengendalian “switching”
sidang
dan “dimming” dapat
digunakan untuk
memperoleh berbagai efek
pencahayaan.
Ruang makan. 250 1
Cafetaria. 250 1
Diperlukan lampu
tambahan pada bagian
Kamar tidur 150 1 atau 2
kepala tempat tidur dan
cermin.
Dapur. 300 1
Rumah Sakit/Balai
Pengobatan
Gunakan pencahayaan
ruang rawat inap 250 1 atau 2 setempat pada tempat yang
diperlukan.
Ruang operasi, ruang
300 1
bersalin.
Laboratorium 500 1 atau 2
Ruang rekreasi dan
250 1
rehabilitasi.
Pertokoan/Ruang
Pamer
Ruang pamer dengan Tingkat pencahayaan ini
obyek berukuran harus di- penuhi pada
besar (misalnya lantai. Untuk beberapa
500 1
mobil). produk tingkat
pencahayaan pada bidang
vertikal juga penting.
Toko kue dan
250 1
makanan.
Toko buku dan alat
300 1
tulis/gambar.
Toko perhiasan,
500 1
arloji.
Toko Barang kulit
500 1
dan sepatu.

II-13
Toko pakaian 500 1
Pencahayaan pada bidang
Pasar swalayan 500 1 atau 2
vertikal pada rak barang.
Toko alat listrik (TV,
Radio/tape, mesin 250 1 atau 2
cuci, dan lain-lain).
Industri (umum)
Ruang Parkir 50 3
Gudang 100 3
Pekerjaan kasar. 100 ~ 200 2 atau 3
Pekerjaan sedang 200 ~ 500 1 atau 2
Pekerjaan halus 500 ~ 1000 1
Pekerjaan amat halus 1000 ~ 2000 1
Pemeriksaan warna. 750 1
Rumah Ibadah.
Untuk tempat-tempat yang
membutuhkan tingkat
Mesjid 200 1 atau 2 pencahayaan yang lebih
tinggi dapat digunakan
pencahayaan setempat
Gereja 200 1 atau 2 Idem
Vihara 200 1 atau 2 Idem
Sumber : (SNI 03-6575, 2001)

2.5.1. Kualitas Warna Cahaya

Kualitas warna suatu lampu mempunyai dua karakteristik yang berbeda

sifatnya, yaitu :

a). Tampak warna yang dinyatakan dalam temperatur warna.

b). Renderasi warna yang dapat mempengaruhi penampilan objek yang diberikan

cahaya suatu lampu.

Sumber cahaya yang mempunyai tampak warna yang sama dapat mempunyai

renderasi warna yang berbeda.

II-14
2.5.2. Tampak Warna

Sumber cahaya putih dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok

menurut tampak warnanya:

Tabel 2.2 Tampak Warna Terhadap Temperatur Warna

Temperatur Tampak Warna


Warna k (kelvin)
> 5300 - Dingin
3300∼ 5300 - Sedang
< 3300 - Hangat
Sumber : SNI 03-6575-2001

Pemilihan warna lampu bergantung kepada tingkat pencahayaan yang

diperlukan agar diperoleh pencahayaan yang nyaman. Dari pengalaman secara

umum, makin tinggi tingkat pencahayaan yang diperlukan, makin sejuk tampak

warna yang dipilih sehingga tercipta pencahayaan yang nyaman. Kesan umum yang

berhubungan dengan tingkat pencahayaan yang bermacam-macam dan tampak

warna yang berbeda dengan lampu fluoresen dapat dilihat pada Tabel 2.3.

Tabel 2.3 Hubungan Tingkat Pencahayaan Dengan Tampak Warna Lampu

Tingkat Tampak Warna Lampu


Pencahayaan
Hangat Sedang Dingin
Lux
500 Nyaman Netral Dingin
500 ~ 1000 - - -
1000 ~ 2000 Stimulasi Nyaman Netral
2000 ~ 3000 - - -
µ 3000 Tidak alami Stimulasi Nyaman
Sumber : SNI 03-6575-2001

II-15
2.5.3. Renderasi Warna

Renderasi warna dibawah perlu diketahui tampak warna suatu lampu, juga

dipergunakan suatu indeks yang menyatakan apakah warna obyek tampak alami

apabila diberi cahaya lampu tersebut. Nilai maksimum secara teoritis dari indeks

renderasi warna adalah 100, untuk aplikasi ada 4 kelompok renderasi warna yang

dipakai dapat dilihat pada tabel 2.4

Tabel 2.4 Pengelompokan Renderasi Warna

Kelompok Renderasi Rentang Indeks


Tampak Warna
Warna Renderasi warna (Ra).
Dingin
1 Ra > 85 Sedang
Hangat
Dingin
2 75 < Ra < 85 Sedang
Hangat
3 40 < Ra < 70
4 Ra < 40
Sumber : SNI 03-6575-2001

Tabel 2.5 Contoh Harga Ra dan Temperatur Warna untuk Beberapa Jenis

Lampu

Lampu Temperatur Warna (K) Ra


Fluoresen standar
White 4200 60
Cool Daylight 6200 70
Fluoresen Super
Warm white 3500 85
Cool white 4000 85
Cool Daylight 6500 85
Merkuri tekanan tinggi 4100 50
Natrium tekanan tinggi 1950 25
Halida Metal 4300 65
Sumber : SNI 03-6575-2001

II-16
2.6 Distribusi Luminasi

Distribusi luminasi didalam medan penglihatan harus diperhatikan sebagai

pelengkap keberadaan nilai tingkat pencahayaan di dalam ruangan. Hal penting

yang harus diperhatikan pada distribusi luminasi adalah sebagai berikut :

a) Rentang luminasi permukaan langit-langit dan dinding.

b) Distribusi luminansi bidang kerja.

c) Nilai maksimum luminasi armatur (untuk menghindari kesilauan).

d) Skala luminasi untuk pencahayaan interior dapat dilihat pada gambar.

Gambar 2. 4 Skala Luminasi untuk Pencahayaan Interior


(SNI 03-6575, 2001)

2.7 Jenis Lampu

a) Lampu Pijar

Lampu pijar menghasilkan cahayanya dengan pemanasan listrik dari kawat

filamennya pada temperatur yang tinggi, temperatur ini memberi radiasi dalam

II-17
daerah tampak dari spektrum radiasi yang dihasilkan. Komponen utama lampu pijar

terdiri dari filamen, bola lampu, gas pengisi dan kaki lampu (fitting).

Gambar 2. 5 Lampu Pijar


(Widharma & Sunaya, 2019)

b) Lampu Fluoresen

Lampu fluoresen tabung dimana sebagian besar cahayanya dihasilkan oleh

bubuk fluoresen pada dinding bola lampu yang diaktifkan oleh energi ultraviolet

dari pelepasan energi elektron. Umumnya lampu ini berbentuk panjang yang

mempunyai elektroda pada kedua ujungnya, berisi uap merkuri pada tekanan

rendah dengan gas inert untuk penyalaannya. Jenis fosfor pada permukaan bagian

dalam tabung lampu menentukan jumlah dan warna cahaya yang dihasilkan.

Lampu fluoresen meggunakan prinsip dari proses berpindahnya mineral

fluoresen dimana bahan mineral diexpos terhadap sinar ultraviolet kemudian

bereaksi dengan gas di dalam lampu, yang menghasilkan cahaya ultraviolet. Cahaya

ultraviolet kemudian beraksi dengan fosfor, yang merupakan campuran mineral

yang melapisi bagian dalam dari bola lampu.

II-18
Gambar 2. 6 Lampu Fluoresen
(Widharma & Sunaya, 2019)

c) Lampu Halogen

Lampu halogen adalah lampu pijar biasa yang mempunyai filamen

temperatur tinggi dan menyebabkan partikel tungsten akan menguap serta

berkondensasi pada dinding bola lampu yang selanjutnya mengakibatkan

penghitaman, lampu halogen berisi gas halogen (iodine, chlorine, chromine) yang

dapat mencegah penghitaman lampu. Cara kerja dari lampu halogen yaitu adanya

yodium dalam lampu akan terjadi suatu reaksi kimia, yang mengembalikan wolfram

yang telah menguap ke kawat pijar lampu.

Gambar 2. 7 Lampu Halogen


(Widharma & Sunaya, 2019)

II-19
d) Lampu LED

Cahaya pada LED adalah energi elektromagnetik yang dipancarkan dalam

bagian spektrum yang dapat dilihat, cahaya yang tampak merupakan hasil

kombinasi panjang-panjang gelombang yang berbeda dari energi yang dapat

terlihat, mata bereaksi melihat pada panjang-panjang gelombang energi

elektromagnetik dalam daerah antara radiasi ultraviolet dan inframerah.

Cahaya terbentuk dari hasil pergerakan elektron pada sebuah atom, dimana

pada sebuah atom, elektron bergerak pada suatu orbit yang mengelilingi sebuah inti

atom. Elektron pada orbit yang berbeda memiliki jumlah energi yang berbeda,

elektron yang berpindah dari orbit dengan tingkat energi lebih tinggi ke orbit

dengan tingkat energi lebih rendah perlu melepas energi yang dimilikinya.

Energi yang dilepaskan ini merupakan bentuk dari foton sehingga

menghasilkan cahaya, semakin besar energi yang dilepaskan, semakin besar energi

yang terkandung dalam foton. Dari mana kita tahu sebuah produk memiliki kualitas

yang baik tentunya dari hasil pengujian yang dilakukannya, hal yang sama juga

berlaku untuk LED. Sebelum dipasarkan lampu–lampu LED melalui tahap

pengujian, untuk memastikan kualitasnya. Tahap pengujian tersebut dinamakan

binning process, pada LED ada empat hal yang harus dibuktikan melalui proses

binning, yaitu konsistensi warna, colour rendering, usia pakai (lifetime), dan efikasi

(jumlah cahaya per daya) yang dinyatakan dalam satuan lumen perwatt (LPW).

Fungsi binning adalah memastikan setiap LED yang dihasilkan memenuhi standar

tersebut.

II-20
Gambar 2. 8 Lampu Led
(Anisah, 2015)

2.8 Armatur

Armatur adalah rumah lampu yang digunakan untuk mengendalikan dan

mendistribusikan cahaya yang dipancarkan oleh lampu yang dipasang didalamnya,

dilengkapi dengan peralatan untuk melindungi lampu dan peralatan pengendalian

listrik.

2.8.1 Pemilihan Armatur


Pemilih armatur yang akan digunakan, perlu dipertimbangkan faktor-faktor

yang berhubungan dengan pencahayaan sebagai berikut :

1) Distribusi intensitas cahaya.

2) Efisiensi cahaya.

3) Koefisien penggunaan.

4) Perlindungan terhadap kejutan listrik.

5) Ketahanan terhadap masuknya air dan debu.

6) Ketahanan terhadap timbulnya ledakan dan kebakaran.

7) Kebisingan yang ditimbulkan.

II-21
2.8.2 Distribusi Intensitas Cahaya
Data distribusi intensitas cahaya pada umumnya dinyatakan dalam suatu

diagram polar yang berupa kurva-kurva yang memberikan hubungan antara

besarnya intensitas terhadap arah dari intensitas tersebut. Armatur yang

memancarkan distribusi cahaya yang simetris hanya diperlukan diagram polar pada

satu bidang vertikal yang memotong armatur melalui sumbu armatur, untuk armatur

yang tidak simetris, misalnya armatur lampu Fluoresen (TL), paling sedikit

diperlukan 2 diagram polar, masing-masing pada bidang vertikal yang terletak

memanjang melalui sumbu armatur dan bidang vertikal yang tegak lurus pada

sumbu tersebut .

Gambar 2. 9 Diagram Polar untuk Armatur pada Bidang Vertikal


(SNI 03-6575, 2001)

2.8.3 Klasifikasi Armatur


1) Klasifikasi Berdasarkan Arah dari Distribusi Cahaya

Berdasarkan distribusi intensitas cahayanya, armatur dapat dikelompokkan

menurut prosentase dari jumlah cahaya yang dipancarkan ke arah atas dan ke arah

bawah bidang horizontal yang melewati titik tengah armatur, sebagai berikut :

II-22
Tabel 2.6 Klasifikasi Armatur

Jumlah Cahaya
Kelas Armatur Ke Arah Atas (%) Ke Arah Bawah
(%)
Langsung 0 ~ 10 90 ~ 100
Semi langsung 10 ~ 40 60 ~ 90
Difus 40 ~ 60 40 ~ 60
Langsung-tidak
40 ~ 60 40 ~ 60
langsung
Semi tidak langsung 60 ~ 90 10 ~ 40
Tidak langsung 90 ~ 100 0 ~ 10
Sumber : (SNI 03-6575, 2001)

2) Klasifikasi Berdasarkan Proteksi Terhadap Debu dan Air

Kemampuan proteksi menurut klasifikasi SNI 04-0202-1987 dinyatakan

dengan IP ditambah dua angka. Angka pertama menyatakan perlindungan terhadap

debu dan angka kedua terhadap air. Contoh IP 55 menyatakan armatur dilindungi

terhadap debu dan semburan air.

Tabel 2.7 Klasifikasi Proteksi Terhadap Debu dan Air Sesuai SNI No.04-
0202-1987
Angka Tingkat Proteksi Angka
Pertama Keterangan Keterangan Kedua
Tidak ada pengamanan Tidak ada
terhadap sentuhan pengamanan
dengan bagian yang
bertegangan atau
bergerak di dalam
0 0
selungkup peralatan.
Tidak ada pengamanan
terhadap peralatan
terhadap masuknya
benda padat
Pengamanan terhadap Pengamanan
sentuhan secara tidak terhadap tetesan air
disengaja oleh bagian Kondensasi :
1 1
tubuh manusia yang Tetesan air
permukaannya cukup kondensasi yang
luas misalnya tangan, jatuh pada selungkup

II-23
dengan bagian yang peralatan tidak
bertegangan atau merusak peralatan
bergerak di dalam tersebut.
selungkup peralatan.
Pengamanan terhadap
masuknya benda padat
yang cukup besar.
Pengamanan
Pengamanan terhadap Pengamanan
sentuhan jari tangan terhadap tetesan air
dengan bagian Cairan yang menetes
bertegangan atau tidak membawa
bergerak di dalam akibat buruk
2 selungkup peralatan. walaupun selungkup 2
Pengamanan terhadap peralatan berada
masuknya benda padat dalam kedudukan
yang cukup. miring15° segala
arah, terhadap
sumbu vertikal.
Pengamanan terhadap Pengamanan
masuknya alat, kawat terhadap hujan.
atau sejenis dengan Jatuhnya air hujan
3 tebal lebih dari 2,5 mm. dengan arah sampai 3
Pengamanan terhadap dengan 60° terhadap
masuknya benda padat vertikal tidak
ukuran kecil. merusak.
Pengamanan terhadap Pengamanan
masuknya alat, terhadap percikan :
kawat atau sejenis Percikan cairan yang
dengan tebal lebih datang dari segala
4 4
dari 1 mm. arah tidak merusak.
Pengamanan terhadap
masuknya benda padat
ukuran kecil.
Pengamanan secara Pengamanan
sempurna terhadap semprotan
terhadap sentuhan air : Air yang
dengan bagian yang disemprotkan dari
5 5
bertegangan atau segala arah tidak
bergerak di dalam merusak.
selungkup peralatan.

II-24
Pengamanan terhadap
endapan debu yang bisa
membahayakan dalam
hal ini debu masih bisa
masuk tapi tidak
sedemikian banyak
sehingga dapat
mengganggu keadaan
kerja peralatan.
Pengamanan secara Pengamanan
sempurna terhadap terhadap keadaan di
sentuhan dengan bagian geladak kapal
yang bertegangan atau (peralatan Kedap air
6 6
bergerak di dalam geladak kapal) :
selungkup peralatan. Air badai laut tidak
masuk ke dalam
selungkup peralatan.
Pengamanan
terhadap rendaman
air:
Air tidak masuk ke
dalam selungkup- 7
selungkup peralatan
dengan kondisi
tekanan dan waktu
tertentu.
Pengamanan
terhadap rendaman
air.
Air tidak dapat
masuk ke dalam
selungkup peralatan 8
dalam waktu yang
terbatas, sesuai
dengan perjanjian
antara pemakai dan
pembuat
Sumber : (SNI 03-6575, 2001)

II-25
3) Klasifikasi Berdasarkan Proteksi Terhadap Kejut Listrik.

Tabel 2.8 Klasifikasi Menurut C.E.E Terhadap Jenis Proteksi Listrik.

Kelas Armatur Pengamanan Listrik


Armatur dengan insulasi fungsional, tanpa
0
pentanahan,
Paling tidak mempunyai insulasi fungsional,
I
terminal untuk pembumian
II Mempunyai insulasi rangkap, tanpa pentanahan.
Armatur yang direncanakan untuk jaringan listrik
III
tegangan rendah.
Catatan : CEE = International Commission for Comformity Certification of
Electrical Equipment.

4) Klasifikasi Berdasarkan Cara Pemasangan

Berdasarkan cara pemasangan, armatur dapat dikelompokkan menjadi:

a) Armatur yang dipasang masuk ke dalam langit-langit.

b) Armatur yang dipasang menempel pada langit-langit.

c) Armatur yang digantung pada langit-langit.

d) Armatur yang dipasang pada dinding dan lain-lain.

2.8.4 Jenis-Jenis Armatur


1. Armatur tipe TBS 300

Armatur dengan kode TBS 300 digunakan untuk penerangan dalam di

kantor-kantor dan gedung-gedung pertemuan, bentuknya sangat dekoratif dan

terdiri dari berbagai model. Rumah lampu ini terbuat dari galvanises sheet steel,

reflektor terbuat dari glass-fibre reinforced polyester, disamping itu armatur ini

dilengkapi cermin. Adapun bentuk konstruksi armatur tipe TBS 300 dapat dilihat

gambar berikut.

II-26
Gambar 2. 10 Armatur Tipe TBS 300
(Adil Maulana Iksan, Andik Bintoro, 2018)

2. Armatur Tipe TCS

Armatur tipe TCS dapat digunakan untuk kantor dengan lampu TLD,

TLDHF (lampu TL hemat energi dengan ballast elektronik) dengan bermacam-

macam daya. Rumah armatur terbuat dari glass-fibre reinforced polyester, reflektor

terbuat dari bahan white glass-fibre reinforced polyester. Adapun bentuk konstruksi

armatur ini dapat dilihat dari gambar.

Gambar 2. 11 Armatur Tipe TCS


(Adil Maulana Iksan, Andik Bintoro, 2018)

3. Armatur Tipe TCW

Armatur tipe ini juga digunakan untuk penerangan dalam di industri-

industri, Lampu yang digunakan pada armatur adalah TLD. Rumah-rumah armatur

terbuat dari glass fibre reinforced pressed polyester, konstruksi armatur dapat

dilihat seperti gambar.

II-27
Gambar 2. 12 Armatur Tipe TCW
(Adil Maulana Iksan, Andik Bintoro, 2018)

4. Armatur Tipe SDK

Armatur ini umumnya digunakan untuk penerangan dalam di industri,

bentuknya hampir sama dengan armatur tipe MDK dan HDK. Lampu yang dipakai

pada armatur ini adalah lampu sodium dan lampu mercury, rumahnya terbuat dari

bahan phenal formaldehyde, reflektor armatur dari vitrous enamelled, bentuk

konstruksi armatur ini dapat dilihat seperti gambar.

Gambar 2. 13 Armatur Tipe SDK


(Adil Maulana Iksan, Andik Bintoro, 2018)

II-28
2.9 Uji Validitas dan Reliabilitas

Salah satu ciri penelitian kuantitatif adalah menggunakan statistik, kegunaan

statistik dalam penelitian salah satunya yaitu pengujian validitas dan reliabilitas.

2.9.1 Uji Validitas

Validitas adalah tingkat keandalan dan kesahihan alat ukur yang digunakan.

Intrumen dikatakan valid berarti menunjukkan alat ukur yang dipergunakan untuk

mendapatkan data itu valid atau dapat digunakan untuk mengukur apa yang

seharusnya di ukur (Vinet & Zhedanov, 2011). Validitas merupakan derajat

ketepatan/kelayakan instrumen yang digunakan untuk mengukur apa yang akan

diukur (Zainal Ariffin.2012) sedangkan menurut azwar (2000) validitas adalah

sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dapat melakukan fungsinya.

Dari ketiga pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa validitas adalah tingkat

keandalan/kelayakan alat ukur yang digunakan untuk mengukur apa yang akan

diukur serta sejauh mana alat ukur tersebut menjalankan fungsi pengukurannya.

Pengujian ini menggunakan korelasi Pearson product moment, Cara analisisnya

dengan menghitung koefisien korelasi antara masing-masing nilai hasil pengukuran

dengan nilai total dari pengukuran tersebut. Selanjutnya koefisien korelasi yang

diperoleh r masih harus diuji signifikansinya bisa menggunakan uji t atau

membandingkannya dengan r tabel. Bila t hitung > dari t tabel atau r hitung > dari

r tabel, maka nomor pertanyaan tersebut valid. Berikut ini merupakan persamaan

matematik untuk teknik korelasi pearson product moment.

∑ (∑ )(∑ )
= .......................................... (2. 7)
[ ∑ (∑ ) ][ ∑ (∑ ) ]

II-29
Dimana :
= koefisien korelasi
n = jumlah titik pengukuran satu ruangan
x = pengukuran ke x
y = total seluruh pengukuran

Tabel 2. 3 Nilai-Nilai r Product Moment


Nilai-nilai r product moment merupakan sebuah tabel angka yang bisa

digunakan untuk menguji hasil uji validitas suatu instrument penelitian.

Sumber : (Vinet & Zhedanov, 2011)

II-30
2.9.2 Reliabilitas

Menurut Sugiyono (2017:130) menyatakan bahwa uji reliabilitas adalah

sejauh mana hasil pengukuran dengan menggunakan objek yang sama, akan

menghasilkan data yang sama. Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui

konsistensi alat ukur, apakah alat ukur yang digunakan dapat diandalkan dan tetap

konsisten jika pengukuran tersebut diulang. Ada beberapa metode pengujian

reliabilitas salah satunya menggunakan uji cronbach’s alfa, dalam bukunya

([Link] sujarweni.2014) menjelaskan bahwa uji reliabilitas dapat dilakukan

secara bersama-sama terhadap seluruh nilai hasil pengukuran. Adapun dasar

pengambilan keputusan dalam uji reliabilitas adalah sebagai berikut:

1) Jika nilai cronbach’s alfa > 0,70 maka hasil pengukuran dinyatakan reliabel

atau konsisten.

2) Jika nilai Cronbach’s Alfa < 0,70 maka hasil pengukuran dinyatakan tidak

reliabel atau tidak konsisten.

Berikut ini merupakan persamaan matematik untuk teknik uji reliabilitas


=( )
1 .......................................... (2. 8)

Dimana:
= nilai reliabilitas
k = banyaknya titik pengukuran dalam satu ruangan
∑ = jumlah pengukuran ke i
= total semua pengukuran

II-31

Anda mungkin juga menyukai