0% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
685 tayangan14 halaman

Peran PKN dalam Pengembangan Kepribadian

Makalah ini membahas tentang: 1) Pengertian pendidikan kewarganegaraan sebagai upaya mencerdaskan warga negara untuk berpartisipasi dalam pembelaan negara secara sadar dan terencana. 2) Latar belakang pembelajaran PKN yaitu perubahan pendidikan masa depan yang mempersiapkan warga negara yang bertanggung jawab dan konferensi internasional tentang pendidikan tinggi. 3) Tujuan PKN untuk membentuk watak dan per

Diunggah oleh

Fran evan Cahyo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
685 tayangan14 halaman

Peran PKN dalam Pengembangan Kepribadian

Makalah ini membahas tentang: 1) Pengertian pendidikan kewarganegaraan sebagai upaya mencerdaskan warga negara untuk berpartisipasi dalam pembelaan negara secara sadar dan terencana. 2) Latar belakang pembelajaran PKN yaitu perubahan pendidikan masa depan yang mempersiapkan warga negara yang bertanggung jawab dan konferensi internasional tentang pendidikan tinggi. 3) Tujuan PKN untuk membentuk watak dan per

Diunggah oleh

Fran evan Cahyo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

PKN SEBAGAI MATA KULIAH PENGEMBANGAN


KEPRIBADIAN

Dosen Pengampu

ZUPMAN HADI. S.H.,M.H.I.

Disusun oleh :

Azlan fazri (2010102061)

Sintia yena pramusenja (2010102048)

JURUSAN HUKUM EKONOMI SYARI’AH

FAKULTAS SYARI’AH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KERINCI

2020

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah serta inayahnya sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam tak lupa penulis curahkan
kepada baginda besar Nabi Muhammad SAW. Tak lupa penulis ucapkan
terimakasih kepada dosen mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan karena atas
bimbingannya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, baik
dari bentuk penyusunan maupun [Link] yang bersifat membangun dari
pembaca sangat penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi penulis
khususnya dan bagi pembaca pada umumnya..

Sungai Penuh, 5 Maret 2021

Kelompok 1

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL.............................................................................................i
KATA PENGANTAR.............................................................................................ii
Kelompok 1..............................................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
BAB I.......................................................................................................................1
PENDAHULUAN...................................................................................................1
A. Latar Belakang.................................................................................................1

B. Rumusan Masalah............................................................................................1

C. Tujuan..............................................................................................................1

BAB II......................................................................................................................2
PEMBAHASAN......................................................................................................2
A. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan.......................................................2

B. Latar Belakang Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.........................3

C. Tujuan Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan......................................6

D. Pancasila sebagai Nilai Dasar PKn untuk Berkarya Bagi Lulusan PT..........7

BAB III..................................................................................................................10
PENUTUP..............................................................................................................10
1. KESIMPULAN..............................................................................................10

2. SARAN..........................................................................................................10

DAFTAR PUSTAKA 11

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan kewarganegaraan sangatlah penting untuk dipelajari oleh
semua kalangan. Oleh sebab itu, pendidikan Nasional Indonesia menjadikan
pendidikan kewarganegaraan sebagai pelajaran pokok dalam lima status.
Pertama, sebagai mata pelajaran di [Link], sebagai mata kuliah di
perguruan [Link], sebagai salah satu cabang pendidikan disiplin ilmu
pengetahuan sosial dalam kerangka program pendidikan [Link],
sebagai program pendidikan politik yang dikemas dalam bentuk Penataran
Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Penataran P4) atau
sejenisnya yang pernah dikelola oleh Pemerintah sebagai sutuan crash
[Link], sebagai kerangka konseptual dalam bentuk pemikiran
individual dan kelompok pakar terkait Serta kewarganegaraan merupakan hal
yang sangat penting di dalam suatu negara. Tanpa status kewarganegaraan
seorang warga negara tidak akan diakui oleh sebuah negara. Dan dalam
makalah ini penulis akan sedikit menjelaskan tentang pemdidikan
kewarganegaraan serta pendidikan kewarganegaraan sebagai mata kuliah
pengembangan kepibadian.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian pendidikan kewarganegaraan ?

2. Bagaimana latar belakang pembelajaran pendidikan kewarganegaraan ?

3. Apa tujuan pembelajaran pendidikan kewarganegaraan ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa pengertian pendidikan kewarganegaraan

2. Untuk mengetahui bagaimana latar belakang pembelajaran pendidikan


kewarganegaraan

3. Untuk mengetahui apa tujuan pembelajaran pendidikan kewarganegaraan

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan


Definisi dan pengertian pendidikan kewarganeraaan adalah suatu upaya
sadar dan terencana mencerdaskan warga negara (khususnya generasi
muda).Caranya dengan menumbuhkan jati diri dan moral bangsa agar mampu
berpartisipasi aktif dalam pembelaan negara.

Dengan kata lain pendidikan kewarganegaraan merupakan alat untuk


membangun dan memajukan suatu negara. Dalam implementasinya pendidikan
kewarganegaraan menerapkan prinsip-prinsip demokratis dan humanis.

Pendidikan kewarganegaraan adalah arti generik yang meliputi


pengalaman belajar di sekolah serta diluar sekolah, seperti yang berlangsung di
lingkungan keluarga, dalam organisasi keagamaan, dalam organisasi
kemasyarakatan, serta dalam media.

Dalam makna luas, pendidikan kewarganegaraan dimaknai juga sebagai


pendidikan demokrasi yang mempunyai tujuan untuk menyiapkan warga
masyarakat berfikir kritis serta melakukan tindakan demokratis, lewat
kesibukan menanamkan kesadaran pada generasi baru bahwa demokrasi yaitu
bentuk kehidupan orang-orang yang paling menjamin hak-hak warga
[Link] (Samsuri, 2011) berpandangan bahwa Pendidikan
Kewarganegaraan adalah pendidikan politik yang konsentrasi materinya
peranan warga negara dalam kehidupan bernegara yang kesemuanya itu diolah
dalam rencana untuk membina peranan tersebut sesuai dengan ketetapan
Pancasila serta UUD 1945 supaya jadi warga negara yang bisa dihandalkan
oleh bangsa serta negara.

2
B. Latar Belakang Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
a. Perubahan Pendidikan ke Masa Depan

Dalam Konferensi Menteri Pendidikan Negara-negar berpenduduk besar di


New Delhi tahun 1996, menyepakati bahwa pendidikan Abad XXI harus
berperan aktif dalam hal;

(1) Mempersiapkan pribadi sebagai warga negara dan anggota masyarakat


yang bertanggung jawab;

(2) Menanamkan dasar pembangunan berkelanjutan (sustainable


development) bagi kesejahteraan manusia dan kelestarian lingkungan hidup;

(3) Menyelenggarakan pendidikan yang berorientasi pada penguasaan,


pengembangan, dan penyebaran ilmu pengetahuan, teknologi dan seni demi
kepentingan kemanusiaan.

Kemudian dalam konferensi internasioanl tentang pendidikan tinggi yang


diselenggarakan UNESCO di Paris tahun 1998 menyepakati bahwa perubahan
pendidikan tinggi masa depan bertolak dari pandangan bahwa tanggungjawab
pendidikan adalah;

(1) Tidak hanya meneruskan nilai-nilai, mentransfer ilmu pengetahuan,


teknologi, dan seni, tetapi juga melahirkan warganegara yang berkesadaran
tinggi tentang bangsa dan kemanusiaan;

(2) Mempersiapkan tenaga kerja masa depan yang produktif dalam


konteks yang dinamis;

(3) Mengubah cara berfikir, sikap hidup, dan perilaku berkarya individu
maupun kelompok masyarakat dalam rangka memprakarsai perubahan sosial
yang diperlukan serta mendorong perubahan ke arah kemajuan yang adil dan
bebas

Agar bangsa Indonesia tidak tertinggal dari bangsa-bangsa lain maka


Pendidikan nasional Indonesia perlu dikembangkan searah dengan perubahan
pendidikan ke masa depan. Pendidikan nasional memiliki fungsi sangat

3
strategis yaitu “mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa” Tujuan Pendidikan nasional “ berkembangnya potensi peserta anak
didik agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab”

Pendidikan Kewarganegaraan (citizenship education) di perguruan tinggi


sebagai kelompok MPK diharapkan dapat mengemban misi fungsi dan tujuan
pendidikan nasional tersebut. Melalui pengasuhan Pendidikan
Kewarganegaraan di perguruan tinggi yang substansi kajian dan materi
instruksionalnya menunjang dan relevan dengan pembangunan masyarakat
demokratik berkeadaban, diharapkan mahasiswa akan tumbuh menjadi
ilmuwan atau profesional, berdaya saing secara internasionasional,
warganegara Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air.

[Link] Internal Bangsa Indonesia

Dalam kurun dasa warsa terakhir ini, Indonesia mengalami percepatan


perubahan yang luar biasa. Misalnya, loncatan demokratisasi, transparansi
yang hampir membuat tak ada lagi batas kerahasiaan di negara kita, bahkan
untuk hal-hal yang seharusnya dirahasiakan. Liberalisasi bersamaan dengan
demokratisasi di bidang politik, melahirkan sistem multi partai yang cenderung
tidak efektif, pemilihan presiden – wakil presiden secara langsung yang belum
diimbangi kesiapan infrastruktur sosial berupa kesiapan mental elit politik dan
masyarakat yang kondusif bagi terciptanya demokrasi yang bermartabat.
Kekuasaan DPR-DPRD yang sangat kuat seringkali disalahgunakan sebagai
ajang manuver kekuatan politik yang berdampak timbulnya ketegangan-
ketegangan suasana politik nasional, dan hubungan eksekutif dan legeslatif.
Pengembangan otonomi daerah berekses pada semakin bermunculan daerah
otonomi khusus, pemekaran wilayah yang kadang tidak dilandasi asas-asas

4
kepentingan nasional sehingga sistem ketatanegaraan dan sistem pemerintahan
terkesan menjadi ”chaos” (Siswono Yudohusodo, 2004:5).

Faktor internal, yaitu bersumber dari internal bangsa Indonesia sendiri.


Kenyataan seperti ini muncul dari kesalahan sebagian masyarakat dalam
memahami Pancasila. Banyak kalangan masyarakat memandang Pancasila
tidak dapat mengatasi masalah krisis. Sebagian lagi masyarakat menganggap
bahwa Pancasila merupakan alat legitimasi kekuasaan Orde Baru. Segala titik
kelemahan pada Orde Baru linier dengan Pancasila. Akibat yang timbul dari
kesalahan pemahaman tentang Pancasila ini sebagian masyarakat menyalahkan
Pancasila, bahkan anti Pancasila. Kenyataan semacam ini sekarang sedang
menggejala pada sebagian masyarakat Indonesia. Kesalahan pemahaman
(epistemologis) ini menjadikan masyarakat telah kehilangan sumber dan sarana
orientasi nilai.

Disorientasi nilai dan distorsi nasionalisme di kalangan masyarakat


Indonesia dewasa ini. Disorientasi nilai terjadi saat masyarakat menghadapi
masa transisi dan transformasi. Dalam masa transisi terdapat peralihan dari
masyarakat pedesaan menjadi masyarakat perkotaan, masyarakat agraris ke
masyarakat industri dan jasa, dari tipologi masyarakat tradisional ke
masyarakat modern, dari mayarakat paternalistik ke arah masyarakat
demokratis, dari masyarakat feodal ke masyarakat egaliter, dari makhluk sosial
ke makhluk ekonomi. Dalam proses transisi ini menyebabkan sebagian
masyarakat Indonesia mengalami kegoyahan konseptual tentang prinsip-prinsip
kehidupan yang telah lama menjadi pegangan hidup, sehingga timbul
kekaburan dan ketidakpastian landasan pijak untuk mengenali dan menyikapi
berbagai persoalan kehidupan yang dihadapi.

Dalam masa transformasi, terjadi pergeseran tata nilai kehidupan sebagian


masyarakat Indonesia sebagai dampak dari proses transisi, misal beralihnya
dari kebiasaan cara pandang masyarakat yang mengapresiasi nilai-nilai
tradisional ke arah nilai-nilai modern yang cenderung rasional dan pragmatis,
dari kebiasaan hidup dalam tata pergaulan masyarakat yang konformistik

5
bergeser ke arah tata pergaulan masyarakat yang dilandasi cara pandang
individualistik.

Distorsi nasionalisme, suatu fenomena sosial pada sebagian masyarakat


Indeonesia yang menggambarkan semakin pudar rasa kesediaan mereka untuk
hidup eksis bersama, menipisnya rasa dan kesadaran akan adanya jiwa dan
prinsip spiritual yang berakar pada kepahlawanan masa silam yang tumbuh
karena kesamaan penderitaan dan kemuliaan di masa lalu. Hilangnya rasa
saling percaya (trust) antar sesama baik horizontal maupun vertikal. Fenomena
yang kini berkembang adalah rasa saling curiga, dan menjatuhkan sesama.
Inilah tanda-tanda melemahnya kohesivitas sosial kemasyarakatan di antara
kita sekarang ini.

C. Tujuan Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan

Pendidikan kuewarganegaraan dilakukan oleh hampir seluruh bangsa di


dunia, dengan menggunakan nama seperti: civic education, citizenship
education, democracy education. PKn memiliki peran strategis dalam
mempersiapkan warganegara yang cerdas, bertanggungjawab jawab dan
beerkeadaban. Menurut rumusan Civic International (1995) bahwa “pendidikan
demokrasi penting bagi pertumbuhan “civic culture” untuk keberhasilan
pengembangan dan pemeliharaan pemerintahan, inilah satu tujuan penting
pendidikan “civic” maupun citizenship” untuk mengatasi political apatism
demokrasi (Azyumadi Azra, 2002 : 12 ). Semua negara yang formal menganut
demokrasi menerapkan Pendidikan Kewarganegaraan dengan muatan,
demokrasi, rule of law, HAM, dan perdamaian, dan selalu mengaitkan dengan
kondisi situasional negara dan bangsa masing-masing Pendidikan
Kewarganegaraan di Indonesia semestinya menjadi tanggungjawab semua
pihak atau komponen bangsa, pemerintah, lembaga masyarakat, lembaga
keagamaan dan msyarakat industri (Hamdan Mansoer, 2004: 4) Searah dengan
perubahan pendidikan ke masa depan dan dinamika internal bangsa Indonesia,
program pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi
harus mampu mencapai tujuan:

6
a. Mengembangkan sikap dan perilaku kewarganegaraan yang mengapresiasi
nilai-nilai moral-etika dan religius.

b. Menjadi warganegara yang cerdas berkarakter, menjunjung tinggi nilai


kemanusiaan

c. Menumbuhkembangkan jiwa dan semangat nasionalisme, dan rasa cinta pada


tanah air.

d. Mengembangkan sikap demokratik berkeadaban dan bertanggungjawab, serta


mengembangkan kemampuan kompetitif bangsa di era globalisasi.

e. Menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan

D. Pancasila sebagai Nilai Dasar PKn untuk Berkarya Bagi Lulusan


PT

Program pembelajaran Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian sebagai


pendidikan nilai di Perguruan Tinggi memiliki fungsi meletakkan dasar nilai
sebagai pedoman berkarya bagi lulusan perguruan tinggi. Pendidikan
Kewarganegaraan sebagai MPK diarahkan mampu mengemban misi tersebut.
Konsekuensi PKn sebagai MPK, keseluruhan materi program pembelajaran
PKn disirati nilai-nilai Pancasila. Pengertian nilai dasar harus difahami bahwa
nilai-nilai Pancasila harus dijadikan sebagai pedoman dan sumber orientasi
pengembangan kekaryaan setiap lulusan PT. Peran nilai-nilai dalam setiap Sila
Pancasila adalah sebagai berikut.

1. Nilai Ketuhanan dalam Sila Ketuhanan YME : melengkapi ilmu pengetahuan


menciptakan perimbangan antara yang rasional dan irasional, antara rasa dan
akal. Sila ini menempatkan manusia dalam alam sebagai bagiannya dan bukan
pusatnya. Faham nilai ketuhanan dalam Sila Ketuhanan YME, tidak
memberikan ruang bagi faham ateisme, fundamentalisme dan ekstrimisme
keagamaan, sekularisme keilmuan, antroposentrisme dan kosmosentrisme.

7
2. NIlai Kemanusiaan dalam Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab: memberi
arah dan mengendalikan ilmu pengetahuan. Pengembangan ilmu harus
didasarkan pada tujuan awal ditemukan ilmu atau fungsinya semula, yaitu
untuk mencerdaskan, mensejahterakan, dan memartabatkan manusia, ilmu
tidak hanya untuk kelompok, lapisan tertentu.

3. Nilai Persatuan dalam Sila Persatuan Indonesia: mengkomplementasikan


universalisme dalam sila-sila yang lain, sehingga supra sistem tidak
mengabaikan sistem dan sub sistem. Solidaritas dalam subsistem sangat
penting untuk kelangsungan keseluruhan individualitas, tetapi tidak
mengganggu integrasi. Nilai Persatuan dalam Sila Persatuan Indonesia
sesnsinya adalah pengakuan kebhinnekaan dalam kesatuan: koeksistensi,
kohesivitas, kesetaraan, kekeluargaan, dan supremasi hukum.

4. Nilai Kerakyatan dalam Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah


kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, mengimbangi
otodinamika ilmu pengetahuan dan teknologi berevolusi sendiri dengan
leluasa. Eksperimentasi penerapan dan penyebaran ilmu pengetahuan harus
demokratis dapat dimusyawarahkan secara perwakilan, sejak dari kebijakan,
penelitian sampai penerapan masal. Nilai Kerakyatan dalam Sila 4 ini
esensinya adalah menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi yang berkeadaban.
Tidak memberi ruang bagi faham egoisme keilmuan ( puritanisme, otonomi
keilmuan), liberalisme dan individualsime dalam kontek kehidupan.

5. Nilai Keadilan dalam Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,
menekankan ketiga keadilan Aristoteles: keadilan distributif, keadilan
kontributif, dan keadilan komutatif. Keadilan sosial juga menjaga
keseimbangan antara kepentingan individu dan masyarakat, karena
kepentingan individu tidak boleh terinjak oleh kepentingan semu.
Individualitas merupakan landasan yang memungkinkan timbulnya kreativitas
dan [Link] dasar nilai tersebut sebagai pedoman dan sumber orientasi
dalam penyusunan dan pengembangan substansi kajian Pendidikan
Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi. Pendidikan Kewarganegaraan sebagai
MPK mencerminkan pendidikan demokrasi, HAM dan persoalan

8
kewarganegaraan lainnya berperspektif Pancasila. Jadi, meskipun setiap bangsa
sama-sama menyebut Pendidikan Kewarganegaraan sebagai “civic education,
democracy education, civil education” dsb, tetapi arah pengembangan
kompetensi keilmuan PKn di perguruan tinggi Indonesia memiliki karakter
sendiri.

9
BAB III
PENUTUP

1. KESIMPULAN
pendidikan kewarganeraaan adalah suatu upaya sadar dan terencana
mencerdaskan warga negara (khususnya generasi muda). Caranya dengan
menumbuhkan jati diri dan moral bangsa agar mampu berpartisipasi aktif dalam
pembelaan negara. Dalam sejarah timbulnya istilah Civics di Indonesia dapat
dilukiskan secara [Link] tahun 1957 dalam kurikulum Sekolah
Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas terdapat istilah kewarganegaraan
yaitu pelajaran yang ditempelkan dalam pelajaran tatanegara. Pendidikan
kewarganegaraan adalah program pendidikan berdasarkan Nilai-nilai pancasila
sebagai wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral
yang berakar pada budaya bangsa yang diharapkan menjadi jati diri yang
diwujudkan dalam bentuk prilaku dalam kehidupan sehari-hari para mahasiswa
baik sebagai individu, sebagai calon guru/pendidik, anggota masyarakat dan
ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Universitas memberikan Mata kuliah Pendidikan
Kewarganegaraan (MPK) sebagai pengembangan kepribadian karena pendidikan
kewarganegaraan dapat membantu mahasiswa-mahasiswi menjadi warga negara
yang baik sekaligus paham antara hak dan kewajiban, dapat hidup berdemokrasi,
nasionalis, dengan dibekali nilai-nilai moral, norma-norma yang berlaku dalam
kehidupan bermasyarakat.

2. SARAN
Dalam era globalisasi diperlukan adanya suatu pola pendidikan yang
mengarah pada pembentukan karakter agar terciptanya manusia yang
berkepribadian serta [Link] warga Negara Indonesia yang baik. Taat
pada hukum dan norma – norma yang berlaku, taat pada pancasila dan taat pada
undan – undang dasar 1945

10
DAFTAR PUSTAKA

Maswardi M. Amin (2011). Pendidikan Karakter Anak Bangsa. Jakarta: Baduose


Media.

Sinamo, Nomensen (2010). Pendidikan Kewarganegaraan untuk


Perguruan Tinggi. Jakarta: PT. Bumi Intitama Sejahtera.

[Link] Kewarganegaraan .Yogyakarta: UNY Press. 2004

Endang Zaelani Zukarya, dkk. 2000. Pendidikan Kewarganegaraan untuk


Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Paradigma.

Prof. DR. H. Kaelani, M.S. dan Drs. H. Achmad Zubaidi,


[Link]. PendidikanKewarganegaraan Untuk Perguruan Tinggi. Penerbit
Paradigma:Yogyakarta 2007

Winarno. Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Bumi


Aksara, 2008

[Link]
[Link] Diakses pada 5-3-2021 pukul 20.00

[Link]
diakses pada 19-11-16 pukul 20.37

[Link]
pendidikan_1.html diakses pada 5-3-21 pukul 21.00

[Link]
ruang-lingkup_85.html diakses pada 5-3-21 pukul 22-30

11

Anda mungkin juga menyukai