RINGKASAN
ULUMUL QURAN
Penulis : Prof Dr. H. Amroeni
BAB I
ULUMUL QUR’AN DAN SEJARAH PERKEMBANGANNYA
A. Pengertian Ulumul Qur’an
Ulumul Qur’an berasal dari kata ulum (ilmu-ilmu) dan al-Qur’an (kitab
suciumat Islam). Jadi, Ulumul Qur’an adalah segala pengetahuan/ilmu-ilmu yang
berkaitan dengan al-Qur’an. Tetapi yang termasuk dalam kategori Ulumul Qur’an hanya
ilmu-ilmu syar’iyyah (agama) dan Arabiyah (bahasaArab) saja.
B. Ruang Lingkup Ulumul Qur’an
Terdapat 17 cabang Ulumul Qur’an yang terpenting, yaitu :
1. Ilmu Mawatin al-Nuzul (ilmu tentang tempat-tempat turunnya ayat).
2. Ilmu Tawarikh al-Nuzul (ilmu tentang masa dan tertib turunya ayat).
3. Ilmu Asbab al-Nuzul (ilmu tentang sebab/latar belakang turunnyaayat).
4. Ilmu Qira’ah (ilmu tentang macam-macam bacaan al-Qur’an).
5. Ilmu Tajwid (ilmu tentang membaca al-Qur’an).
6. Ilmu Garib al-Qur’an (ilmu tentang makna lafal yang ganjil/tidaklazim).
7. Ilmu I’rab al-Qur’an (ilmu tentang lafal dan harakat dalam ayat).
8. Ilmu Wujud wa al-Naza’ir (ilmu tentang lafal al-Qur’an yang ambigu).
9. Ilmu Ma’rifah al Muhkam wa al-Mutasyabih.
10. Ilmu Nasikh wa Mansukh (ilmu tentang nasikh mansukhnya al-Qur’an).
11. Ilmu Badai al-Qur’an (ilmu tentang keindahan, kesusastraan, danketinggian
balaghah ayat-ayat al-Qur’an).
12. Ilmu I’jaz al-Qur’an (ilmu tentang kemu’jizatan al-Qur’an).
13. Ilmu tanasub ayat al-Qur’an (ilmu tentang kesesuaian antar ayat al-Quran).
14. Ilmu Amsal al-Qur’an (ilmu tentang perumpamaan dalam al-Qur’an).
15. Ilmu Aqsam al-Qur’an (ilmu tentang arti dan tujuan sumpah Allahdalam al-Qur’an)
16. Ilmu Jidal al-Quran (ilmu tentang bentuk perdebatan dalam al-Qur’an).
17. Ilmu Adab Tilawah al-Qur’an (ilmu tentang aturan membaca al-Qur’an).
C. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Ulumul Qur’an
Cabang-cabang Ulumul Qur’an mulai tumbuh secara terpisah pada abad ke-3 H,
mulai dari munculnya ilmu tafsir, asbab al-nuzul, nasikh walmansukh, manazila bi
makkata mawa nuzila bil madinati. Kemudian muncul ilmu ghorobil Qur’an pada abad
ke-4 H, amtsalil Qur’an pada abadke-5 H, serta ilmu badi’ul Qur’an, Jadalil Qur’an dan
Aqsamil Qur’an padaabad ke-6 [Link] perkembangannya, Ulumul Qur’an dirintis
dari masa kemasa, yaitu:
1. Dari kalangan Sahabat Nabi SAW : Para Khulafaur Rasidin, Abdullahbin Abbas,
Abdullah bin Mas’ud, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, AbuMusa al-Asy’ari, dan
Abdullah bin Zubair.
2. Dari kalangan Tabi’in : Mujahid, Atha’bin Yassar, Ikrimah, Qatadah,Hasan al-Basri,
Said bin Jubair, dan Zaid bin Aslam di Madinah.
3. Dari Tabi’i al Tabi’in : Malik bin Anas yang memperoleh ilmunya dariZaid bin
[Link] utuh Ulumul Qur’an mulai muncul pada abad ke-5 H,ditandai dengan
mulai dihimpunnya bagian-bagian ulumul Qur’an, yangpertama kali dilakukan oleh Ali
bin Ibrahim bin Sa’id al-Hufi (w.430 H)dalam karyanya al-Burhan fi Ulumil Qur’ an.
Dari abad ke-6 – 14 H tidak lahir lagi ilmu-ilmu baru dalam ulumul Qur’an, tetapi
ilmu-ilmu yang sudahada menjadi lebih berkembang dan meluas.
D. Urgensi Ulumul Qur’an
Pentingnya Ulumul Qur’an mencakup beberapa hal, yaitu :
1. Dengan Ulumul Qur’an, Seseorang akan mencapai pemahaman yang baik mengenai
al-Qur’an.
2. Ulumul Qur’an menjadi senjata yang ampuh dalam membela kesucian al-Qur’an.
3. Ulumul Qur’an mempermudah penafsiran suatu ayat dalam al-Qur’an.
4. Dengan Ulumul Qur’an, dapat diketahui semua yang berkaitan dengan al-Qur’
an, sehingga dapat terhindar dari taklid membabi buta.
BAB II
SEJARAH TURUN DAN PENULISAN AL-QUR’AN
A. Turunnya Al-Qur’an dan Penulisan Al-Qur’an
Permulaan turun al-Qur’anul Karim adalah tanggal 17 Ramadhan tahun ke-40
dari kelahiran Nabi SAW, yaitu pada saat beliau sedang bertahannuts (beribadah)
di Gua Hira. Pada saat itu turun wahyu beberapa ayat al-Qur’anul Karim yang dibawa
oleh Jibril al-Amin. Jibril mendekap nabi lalu melepaskannya, hal ini dilakukan
sebanyak tiga kali, sambil mengatakan “iqra” pada setiap kalinya, dan Rasul SAW
menjawabnya “ma ana bi qaari”. Pada dekapan yang ketiga kalinya Jibril
membacakan :
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan
manusiadari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang paling Pemurah yang
mengajarkan manusia dengan perantara qalam. Dia mengajarkan manusia apa yang
tidak diketahuinya”. (QS. Al-‘Alaq: 1-5)
Al-Qur’an tidak turun sekaligus. Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur
selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Hikmah Al-Qur’an itu turunnya itu berangsur-angsur
ialah supaya dapat dihafal oleh para sahabat pada waktu itu. Maksud pertama ialah
menukar akidah kepada akidah. Keluar dari penyembahan terhadap berhala kepada yang
benar, agama yang turun dari langit. Dari angan-angan dan sangkaan-sangkaan belaka
kepada suatu kepastian. Dan dari tidak beriman kepada beriman. Sedangkan hikmah
lain dibalik turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur adalah:
Untuk menguatkan hati Nabi SAW. Firman-Nya:
“Orang-orang kafir berkata, kenapa Qur’an tidak turun kepadanya sekali turun saja?
Begitulah, supaya kami kuatkan hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil
(teratur dan benar)”. (QS. Al-Furqaan: 32)
1. Untuk menantang orang-orang kafir yang mengingkari Al-Qur’an karena menurut
mereka aneh kalau kitab suci diturunkan secara berangsur-angsur.
2. Supaya mudah dihafal dan dipahami.
3. Supaya orang-orang mukmin Antusias dalam menerima Al-Qur’an dan giat
mengamalkannya.
4. Mengiringi kejadian-kejadian di masyarakat dan bertahap dalam menetapkan suatu
hukum.
BAB III
ASBABUN NUZUL
A. Pengertian Asbabun Nuzul
Secara bahasa, Asbabun Nuzul berasal dari kata Asbab (sebab-sebab) dan An-
Nuzul (turun), jadi, Asbabun Nuzul berarti sebab-sebab yangmelatarbelakangi turunya
al-Qur’an. Dalam arti lain, Asbabun Nuzul berartiayat-ayat yang berkenaan dengan
hukum, diturunkan kepada RasulullahSAW untuk menjadi keterangan bagi suatu
perkara yang telah terjadi.
B. Macam-macam Asbabun Nuzul
1. Sebagai tanggapan atas suatu peristiwa umum.
2. Sebagai tanggapan atas suatu peristiwa khusus.
3. Sebagai jawaban atas pertanyaan kepada Nabi SAW.
4. Sebagai jawaban dari pertanyaan Nabi.
5. Sebagai tanggapan atas pertanyaan yang bersifat umum.
6. Sebagai tanggapan terhadap orang-orang tertentu.
C. Makna Ungkapan-ungkapan Redaksi Asbabun Nuzul
1. Kata (sebab)
contoh: (sebab turunnya ayatini demikian). Termasuk ungkapan yang sharih (jelas dan
tegas).
2. Kata(maka)
contoh: (telah terjadi peristiwa inidan itu, maka turunlah ayat). Termasuk ungkapan
yang sharih.
3. Kata (tentang)
contoh: (ayat ini turun tentangini dan itu). Termasuk ungkapan yang
ghairi sharih (tidak jelas dantegas).
D. Manfaat dan Urgensi Asbabun Nuzul
1. Mengetahui rahasia dan tujuan Allah SWT mensyari’atkan agamanyamelalui ayat-ayat
al-Qur’an.
2. Memudahkan pemahaman al-Qur’an secara benar.
3. Memperkuat hafalan al-Qur’an.
4. Membantu dalam memahami dan mengatasi ketidakpastian dalammenangkap pesan
ayat-ayat al-Qur’an.
5. Mengatasi keraguan ayat yang diduga mengandung pengertian umum.
6. Mengidentifikasi pelaku yang menyebabkan al-Qur’an turun.
7. Memantapkan wahyu-wahyu ke dalam hati yang mendengarkan.
8. Mentakhsiskan hukum, meskipun dengan shigot yang khusus.
BAB IV
MUNASABAH
A. Pengertian Munasabah
Munasabah secara bahasa berarti jiwa. Secara terminologis berarti segi-
segihubungan antar kalimat dalam ayat, antara ayat satu dengan ayat lain, serta
antarasatu surat dengan surat yang lain. Jadi ilmu munasabah adalah ilmu
untukmengetahui hubungan antar ayat dan antar surat, serta untuk mengetahui
urutanbacaan ayat.
B. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Munasabah
Munasabah dicetuskan pertama kali oleh Abu Bakar Al-Naisaburi (w.324H)
di Baghdad. Dalam perkembangannya munasabah meningkat menjadi salah satucabang
dari ulumul qur’an. Kemudian muncul tokoh-tokoh seperti Ahmad ibnIbrahim dan
Burhan Abidin yang membahas munasabah secara spesifik. Ulamaberikutnya
menyusun pembahasan munasabah secara khusus seperti kitab al- Burhan fi
Munasah tartib al-Qur’ an karya Ahmad ibn Ibrahim al-Andalusi (w. 807H), dan yang
lainnya.
C. Bentuk-bentuk Munasabah
1. Hubungan antar ayat
a. Diathafkannya ayat yang satu kepada ayat yang lain (seperti antara ayat
102 dan ayat 103 surat Ali Imran).
b. Tidak diathafkannya ayat yang satu kepada ayat yang lain (sepertiantara ayat 10 dan
ayat 11 surat Ali Imran).
c. Digabungkannya dua hal yang sama (seperti ayat 4 dan ayat 5 surat al-Anfal).
d. Dikumpulkannya dua hal yang kontradiksi (seperti ayat 94 dan 95 suratal-
A’raf).
e. Dipindahkannya satu pembicaraan (seperti ayat 54 dan ayat 55 suratShaad).
2. Hubungan antar surat
a. Hubungan antara satu surat dengan surat sebelumnya (seperti hubunganantara surat
al-Fatihah, al-Baqarah, an-Nisa, dan al-Ma’idah)
b. Hubungan awal dengan akhir surat yang sama (seperti pada surat al-Qashas)
c. Hubungan nama surat dengan isinya (seperti surat al-Baqarah yangbercerita tentang
sapi betina.
d. Hubungan antara penutup surat dengan awal surat setelahnya (sepertiantara surat al-
Waqi’ah dan al-Hadid).
3. Kedudukan Munasabah dalam Menafsirkan Al-Qur’an
Munasabah ayat sangat membantu dalam menerangkan makna yangterkandung
dalam ayat, bahkan fungsinya mirip dengan Asbabun Nuzul. Akantetapi munasabah
berkaitan dengan pengetahuan yang diperoleh melalui ijtihad,sedangkan Asbabun Nuzul
terkait dengan pengetahuan yang diperoleh daririwayah.
4. Manfaat Mempelajari Munasabah
1. Mengetahui hubungan antar bagian-bagian al-Qur’an.
2. Mengetahui mutu dan tingkat kebalaghahan bahasa al-Qur’an yang menunjukkan
bahwa al-Qur’an benar-benar wahyu dari Allah.
3. Membantu menafsirkan al-Qur’an.
4. Menepis anggapan orang bahwa tema-tema al-Qur’an kehilangan relevan siantar
bagiannya.
BAB V
MAKIYAH DAN MADANIYAH
A. Pengertian Makiyah dan Madaniyah
Makiyah adalah surat-surat al-Qur’an yang diturunkan diMekkah,Sedangkan
Madaniyah adalah surat-surat al-Qur’an yang diturunkan di Madinah.
B. Ciri-ciri Makiyah dan Madaniyah
1. Ciri-ciri Makiyah
a. Ayat serta suratnya pendek dan berirama.
b. Ditandai dengan khitbah terhadap penduduk Mekkah
c. Terdapat ayat sajdah dan lafadz “kalla” yang disebutkan 33 kalidalam 15 surat akhir
setengah al-Qur’an.
2. Ciri-ciri Madaniyah
a. Ayat serta suratnya panjang dan kurang berirama.
b. Terkandung ajakan untuk berjihad mencari syahid di jalan Allah.
c. Menerangkan tentang hukum-hukum Islam dan hukum-hukum kriminal.
d. Menjelaskan tentang keburukan kaum munafike.
C. Teori-teori penentuan Makiyah dan Madaniyah
1. Teori Mulahazhatu Makani al-Nuzuli (teori geografis/tempat turunnyawahyu).
2. Teori Mulahazhah al-Mukhathabina fi al-Nuzuli (teori subjektif/subjek yang
dikhitab).
3. Teori mulahazhatu Zamani al-Nuzuli (teori historis/waktu turunnya ayat).
4. Teori Mulahazhatu Ma Tadhammanat as-Surratu (teori berdasarkan cerita).
D. Manfa’at Mempelajari Makiyah dan Madaniyah
1. Mengetahui perbedaan dan tahap-tahap dakwah Islamiah.
2. Mengetahui berbagai bentuk bahasa dalam al-Qur’an.
3. Mengetahui sejarah pensyariatan hukum-hukum Islam.
4. Mengetahui urutan turunnnya ayat.
5. Membantu menafsirkan al-Qur’an.
[Link] surat Makiyah dan Madaniyah
1. Berdasarkan laporan para sahabat Nabi SAW yang menyaksikanlangsung bagaimana
dan dimana wahyu turun.
2. Melalui ijtihad para ulama berdasarkan ciri-ciri surat atau ayat.
BAB VI
MUHKAM DAN MUTASYABIH
A. Pengertian Muhkam dan Mutasyabih
Muhkam ialah ayat-ayat yang mempunyai makna jelas, baik lafadzmaupun
maksudnya, sehingga tidak menimbulkan keraguan, kekeliruan danpenafsiran lain.
Ayat yang termasuk muhkam yakni naskh dan zhahir. Sedangkan Mutasyabih ialah
ayat-ayat yang maknanya belum jelas. Ayat yangtermasuk mutasyabih kni
mujmal,mu’awwal, musykil dan mubham (ambigu).
B. Sebab-sebab Adanya Ayat Mutasyabih
1. Kesamaran lafal
a. Kesamaran karena mufrad.
b. Kesamaran karena murakkab.
c. Kesamaran makna ayat
d. Kesamaran lafal dan makna ayat
[Link]-macam Ayat Mutasyabih
1. Ayat mutasyabih yang hanya diketahui Allah (seperti ayat tentang surga,neraka,
kiamat, dan lain sebagainya).
2. Ayat mutasyabih yang bisa diketahui orang dengan pembahasan danpengkajian yang
mendalam.
3. Ayat mutasyabih yang hanya diketahui oleh pakar ilmu dan sains.
[Link] Para Ulama Mengenai Ayat Mutasyabih
1. Pendapat Jumhur ulama Ahlus Sunnah dan sebagian ahli Ra’yi mengatakan bahwa
ayat mutasyabih cukup diimani saja, tidak perlu pena’wilan arti dan makna ayat
mutasyabih, kecuali ayat mutasyabih yang menerangkan keagungan Allah.
2. Ibnu Daqiqi al-‘Id mengatakan bahwa dalam pena’wilan ayat mutasyabihsepadan
dengan bahasa arab dan jika tidak, maka ditangguhkan ta’winnya tersebut. Dan ayat
mutasyabih tersebut cukup diimani tanpa perlupengamalan.
E. Hikmah dibalik Ayat Muhkam dan Mutasyabih
1. Sebagai ujian keimanan bagi manusia.
2. Untuk memperkuat kedudukan al-Qur’an sebagai penjelas dan petunjukbagi manusia.
3. Sebagai motivasi bagi umat Islam untuk menggali maksud isi yangterkandung dalam
al-Qur’an.
BAB VII
QIRA’AT QUR’AN
A. Pengertian Qira’atul Qur’an
Secara bahasa kata al-qira’at biasa di artikan membaca atau memperhatikan.
Adapun secara istilah yang dikemukakan Al-Qastalani dapat disimpulkan bahwa qiraat
berkaitan dengan car ape;afalan ayat-ayat Al-Qur’an yang dilakukan salah seorang
imam berbedadengan yang dilakukan imam lainnya.
B. Sejarah Perkembangan Qira’at Al-Qur’an
Sebenarnya, qira’at telah muncul semenjak zaman nabi Muhammad SAW.
Pertama, pada Umar bin Al-Khattab dan kedua pada Ubay. Walau qira’at sudah ada
sejak zaman Nabi SAW tetapi penyebarannya baru dimulai sejak zaman para tabi’in
yaitu pada awal 11 Hijriyah saat para qqri menyebar ke berbagai pelosok (Rosihan
Anwar, 2008). Berikut ini adalah ulama- ulama yang berjasa dalam meneliti dna
membersihkan qira’at dan penyimpangannya,sebagai berikut:
1. Abu Amr Usman bin Sa’id Usman
2. Abu Al-Abbas Ahmad bin Imarah
3. Abu Al-Hasan tahir bin Abi Tayyib
4. Abu Muhammad Makki bin Abi Thalib
5. Abu Al-Qasim Abdurrahman bin Ismail
Orang yang pertama kali menyusun qira’at dalam satu kitab adalah Abu
Ubaidilah Al-Qasim bin Salam. Ia mengumpulkan qira’at sebanyak kurang lebih 25
macam.
C. Al-Qur’an Diturunkan dalam Tujuh Huruf
Segolongan orang ada yang berkata bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf
adalah tujuh macam hal yang di dalamnya terjadi perbedaan. Perbedaan itu terkait hal-
hal sebagai berikut:
1. Perbedaan yang berkenaan dengan kata benda
2. Perbedaan dari segi harakat akhir kata
3. Perbedaan dalam tasrif
4. Perbedaan dalam mendahulukan
5. Perbedaan dari segi penggantian
6. Perbedaan karena ada penambahan
7. Perbedaan lahjah
D. Para Imam Qira’at Al-Qur’an
Ada tujuh imam yang popular dikenal dengan qira’ah sab’ah adalah qira’at yang
telahdisepakati oleh para ulama ahli qira’at, diantaranya:
1. Abu Amr bin Ala
2. Ibn Kasir
3. Nafi Al-Madani
4. Ibn Amir Asy-Saymi Ad-Dimasyqi
5. Asim bin Abi NAjud Al-Kufi
6. Hamzah Al-Kufi
[Link]-Kisa’I Al-Kuffi
E. Sebab-Sebab Terjadinya Perbedaan Qira’atul Qur’an
Menurut Rosihan Anwar (2008) mencoba merangkum bentuk-bentuk perbedaan
cara pembacaan Al-Qur’an itu sebagai berikut:
1. Perbedaan dalam I’rab atau harakat tanpa perubahan makna dan bentuk kalimat
2. Perbedaab pada I’rab dan harakat kalimat sehingga mengubah maknanya
3. Perbedaan pada perubahan huruf antara perubahan I’rab dan bentuk tulisannya
4. Perubahan pada kalimat dengan perubahan pada bentuk tulisannya
5. Perbedaan pada mendahulukan dan mengakhirkannya
6. Perbedaan dengan menambah dan mengurangi huruf
7. Perbedaan qira’at NAbi SAW
8. Pengakuan dari Nabi SAW
9. Adanya riwayat dari para sahabat NAbi
10. Adanya lhajah dan kebiasaan dikalangan bangsa Arab pada masa turunnya Al-
Qur’an
F. Hikmah Beraneka Ragamnya Qira’at Al-Qur’an
1. Terjaga dan terpeliharanya kitab Allah
2. Meringankan umat islam dan memudahkan mereka untuk membaca Al-Qur’an
3. Sebagai salah satu bukti kemukjizatan Al-Qur’an
4. Menjelaskan yang mungkin masih global
BAB VIII
I’JAZUL QUR’AN
A. Pengertian I’jazul Qur’an
Secara etimologis, I’jaz berarti melemahkan/membuktikan ketidakmampuan
pihak lain. Sedangkan secara terminologis I’jaz berarti pembuktian kebenaran Nabi
SAW atas pengakuan kerasulannya dengan cara menunjukkan kelemahan orang-orang
Arab yang menentang. Jadi, I’jazul Qur’an adalah kemampuan yang dimiliki al-Qur’an
untuk membuktikankenabian Nabi Muhammad SAW dan melemahkan para
penentangnya dalammembuat hal serupa.
B. Nama Lain Mu’jizat
1. Irhas : dimiliki oleh calon Nabi
2. Karomah : dimiliki oleh para Wali/orang suci.
3. Ma’unah : dimiliki manusia pada umumnya.
4. Istidros : dimiliki oleh orang fasik/kafir.
5. Sihir : dimiliki oleh seseorang dengan bantuan setan.
C. Unsur-unsur Dalam Mu’ jizat
1. Berupa peristiwa luar biasa.
2. Terjadi pada orang yang mengaku Nabi.
3. Mengandung tantangan terhadap siapapun yang meragukan.
D. Tantangan Al-Qur’an Ditujukan Kepada:
1. Seluruh umat manusia.
2. Siapapun yang mengetahui al-Qur’an.
3. Kaum mukminin, untuk meneguhkan keimanan mereka.
4. Kepada orang-orang kafir yang tidak meyakininya.
F. Macam-macam Mu’jizat
1. Hissiyah
a. Hanya untuk orang-orang yang menyaksikannya.
b. Terjadi pada selain al-Qur’an.
2. Aqliyyaha
a. Hanya bisa diketahui dengan akal dan pemikiran mendalam.
b. Berlaku sepanjang masa.
c. Bisa dirasakan/diketahui oleh siapapun yang memiliki cahaya pengetahuan khusus
dan mata hati yang bersih.
d. Hanya terjadi pada al-Qur’an.
G. Aspek-aspek I’ jaz Al-Qur’an
1. I’jaz al-balaghi (sastra kebahasaan)
2. I’jaz al-ghaiby (hal-hal ghaib)
3. I’jaz al-tasyri’ry (perundang-undangan)
4. I’jaz al-‘Ilmy (sains; ilmu pengetahuan)
a. I’jaz al-Thibbiy (kedokteran)
b. I’jaz al-Falaky (astronomi)
c. I’jaz al-Thabi’iy (fisika)
d. I’jaz al-‘adady (jumlah bilangan)
5. I’jaz al-I’lamiy (informasi):
a. Kejadian masa lalu.
b. Kejadian yang akan datang.
H. Kadar Kemu’jizatan Al-Qur’an
1. Mu’jizat al-Qur’an dalam susunan tabir (penuturan kalimat) nya dan dalam rangkaian
seninya berdasarkan keistiqomahan terhadap kekhususan di dalam satu tingkatan.
2. Mu’jizat al-Quran dalam bangunannya dan dalam keteraturan yang saling melengkapi
antar bagian-bagiannya.
3. Mu’jizat al-Qur’an dalam hal kemudahan untuk masuk ke dalam hati dan sanubari
manusia.
I. Fungsi Mu’jizat Al-Qur’an
1. Sebagai bukti kerasulan Nabi Muhammad SAW.
2. Sebagai bukti kebenarannya sebagi firman Allah.
3. Untuk meneguhkan keimanan kaum beriman.
4. Melemahkan kaum Kuffar.
BAB X
MODEL PERHITUNGAN AL-QUR’AN
Jumlah ayat terletak pada perbedaan mereka dalam memosisikan basmallah dan
fawatih [Link] memasukkan basmallah dan fawatih alsuwar bagian dari
ayat. Sumber perbedaan yang lain adalh terkait dengan posisi bacaan yang di waqafkan
Nabi, ada yang menganggapnya sebagai tanda baca berakhirnya suatu ayat, sementara
yang lain menganggapnya sebagai akhir ayat(fashillah). Untuk itu akan di paparkan
model-model pengelompokan ayat kedalam empat bkategori yaitu model penghitungan
jumlah ayat.
Model pertama: penghitungan ayat Al-Qur’an
Model penghitungan pertama ini di lakukan dengan cara manual, yaitu dengan
cara menjumlahkan ayat-ayat yang terdapat npada Al-Qar’an berdasarkan atas jumlah
ayat seperti yang di lakukan pada setiap awal surah. Melalui penghitungan manual, di
dapati jumlah ayat dalam Al-Qur’an sebanyak 6236 ayat. Maka basmallah yang di
hitung sebagai ayat mandiri hanya pada surah Alfatihah,sehingga basmallah yang ada
pada surah lain tidak di hitung sebagai ayat mandiri. Seperti dapat di lihat dalam Al-
Qur’an mushab’Utsman , bismillah yang berfungsi sebagai pembatas antar surah dan
tidak di hitung sebagai ayat secara mandiri sebanyak 112 buah. Jumlah tersebut di
peroleh dari 114 surah di kurangi dengan basmallah yang terdapat pada surah al-fatihah
dan satu lagi karena ketidak adaan basmallah pada surah al-ba’ah atau
taubah . Sementara itu golongan Ahmadiyah memasukkan basmallah yang terdapat
pada awal surah di anggap sebagai satu ayat mandiri. Dengan demian jumlah ayat-ayat
menurut penghitungan Ahmadiyah menjadi 6236+112=6348 ayat.
Kelompok ayat-ayat yang sama persis yang terdapat pada satu surah
yang di maksud ayat yang sama persis adala ayat-ayat Al-Qur’an yang mandiri,
bukan merupakan pengulangan dari bagian ayat dari ayat yang lain, sehingga yang di
hitung sebagai satu ayat adalah ayat-ayat yang sama persis .
Jumlah Ayat Al Quran
Menurut Ibnu Abbas jumlah ayat dalam Al-qur’an sebanyak 6.616 ayat. Adapun
menurut keterangan yang masyhur berjumlah 6.666, jumlah angka ini yang paling
mudah pada umumnya diingat oleh umat islam. Jumlah keseluruhan ayat-ayat al-
Qur’an, para ulama sepakat pada angka 6200. Namun, masih banyak perbedaan dalam
angka puluhan dan ratusan, yaitu sebagai berikut :
a. Menurut hitungan ulama Madinah yang pertama jumlahnya 6217 ayat.
b. Menurut hitungan ulama Madinah yang kedua jumlahnya 6214 ayat dan ada juga
yang menyatakan 6210 ayat
c. Menurut hitungan ulama Makkah jumlahnya 6219 ayat, ada pula yang berpendapat
jumlahnya 6220 ayat dan ada pula yang berpendapat 6205 ayat.
Perbedaan penetapan basmalah sebagai ayat dari surat-surat Al-Quran atau tidak
menyebabkan ulama berbeda pendapat dalam menentukan jumlah ayat Al-Quran.
Seperti yang dinyatakan oleh Hamka, ada dua pendapat tentang basmalah ini. Sebagian
besar sahabat dan ulama salaf berpendapat bahwa basmalah adalah ayat pertama dar
isetiap surat. Dari golongan sahabat yang berpendapat demikian antara lain : Ibnu
Abbas, Ali bin Abi Thalib, Abdullah ibn Umar dan Abu Hurairah. Sedangkan dari
golongan ulama salaf antara lain: Ibnu Katsir, al- Kasa’i, al- Syafi’i, al-Tsauri
danAhmad. Sedangkan sebagian lagi menyatakan bahwa basmalah bukan ayat pertama
dari setiap surat, tetapi hanya sebagai pemisah antara satu surat dengan surat lainnya.
Diantara mereka yang berpendapat seperti ini adalah Imam Malik dan Al-Auza’I
(Hamka: 1982:74)
Di samping itu, serta penentuan fashilah dan ra’s al-ayat juga menjadi sebab
perbedaan pendapat ulama dalam menghitung jumlah ayat. Fashilah adalah Istilah yang
diberikan kepada kalimat yang mengakhiri ayat dan merupakan akhir ayat. Sedangkan
ra’s al- ayat adalah akhir ayat yang padanya diletakkan tanda fashal (pemisah) antara
ayat yang satu dengan ayat lain. Fashilah ini terkadang berupa ra’s ayat dan terkadang
tidak. Dengan demikian setiap ra’s al- ayat adalah fashilah dan tidak setiap fashilah
adalah ra’s al-ayat. Fashilah dan ra’s ayat ini mungkin mirip dengan sajak, seperti yang
dikenal dengan ilmu Badi’ (Statiskik). Tetapi ulama tidak menggunakan istilah sajak
karena Al-Quran bukan karya Sastrawan atau ungkapa para Nabi., tetapi adalah wahyu
Allah yang tentu lebih tinggi kedudukannya disbanding dengan sajak. Di Samping itu,
fashilah yang dimaksud dalam Al-Quran adalah meruntutkan makna dan bukan fashilah
itu sendiri yang dimaksud. Sementara sajak, yang dimaksudkan (dalam suatu perkataan)
dan baru kemudian arti perkataan itu dialihkan kepadanya, sebab hakikat sajak telah
menguntai kalimat dalam satu irama.