100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
71 tayangan6 halaman

Kebudayaan dan Adat Suku Buton

Dokumen tersebut membahas tentang kebudayaan suku Buton di Sulawesi Tenggara, termasuk adat-istiadat, pakaian adat, rumah adat, peninggalan sejarah, kesenian, lagu daerah, alat musik tradisional, dan makanan khasnya. Suku Buton memiliki berbagai tradisi budaya khas yang telah melekat erat pada masyarakat setempat.

Diunggah oleh

Yughni Saniy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
71 tayangan6 halaman

Kebudayaan dan Adat Suku Buton

Dokumen tersebut membahas tentang kebudayaan suku Buton di Sulawesi Tenggara, termasuk adat-istiadat, pakaian adat, rumah adat, peninggalan sejarah, kesenian, lagu daerah, alat musik tradisional, dan makanan khasnya. Suku Buton memiliki berbagai tradisi budaya khas yang telah melekat erat pada masyarakat setempat.

Diunggah oleh

Yughni Saniy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

NAMA : YUGHNI SANIY

Kebudayaan Suku Buton

Suku Dunia ~ Suku Buton merupakan suku asli daerah Provinsi Sulawesi Tenggara khususnya di Pulau Buton. Suku
Buton juga tersebar di beberapa daerah Sulawesi Tenggara misalnya di Kota Kendari, Kabupaten Bombana dan
daerah-daerah lainnya. Beberapa pendapat menyatakan bahwa nenek moyang dari orang-orang Buton adalah
“imigran” yang datang dari wilayah Johor sekitar abad ke-15 Masehi yang kemudian mendirikan kerajaan Buton.
Pada tahun 1960, dengan mangkatnya sultan yang terakhir, kesultanan Buton konon “dibubarkan” tetapi tradisi-
tradisi istana itu telah melekat erat pada orang-orang yang mendiami wilayah tersebut.

Adat Istiadat Suku Buton

Adat suku Buton ada beberapa macam salah satu diantaranya ialah Tandaki atau Posusu, yaitu upacara
yang berkaitan dengan penyunatan (tandaki bagi anak laki-laki) dan posusu(bagi anak perempuan).
Upacara tandaki di peruntukan bagi anak laki-laki yang telah masuk aqil baliq, yang melambangkan
bahwa anak laki-laki tersebut berkewajiban untuk melaksanakan segala perintah dan larangan yang
diajarkan dalam Agama Islam. Posusu adalah upacara khitanan bagi anak perempuan sebagaimana
tandaki bagi anak laki-laki. Pada posusu biasanya di barengi dengan mentindik (melubangi daun telinga)
sebagai tempat pemasangan anting-anting. Tandaki dan Posusu biasanya di lakukan 1 hari sebelum
pelaksanaan Idul fitri maupun idul adha.

Pakaian Adat Suku Buton

Pakaian adat tradisional yang digunakan oleh masyarakat Buton terdiri dari berbagai jenis dengan fungsi
yang berbeda dalam setiap penggunaannya contohnya baju kombo, dan pakaian balahdada. Bahkan
dalam kehidupam masyarakat Buton seseorang bias dengan mudah mengetahui kedudukan sosial orang
lain berdasarkan pakaian adat yang di kenakannya sesuai dengan ciri-ciri atau spesifikasi tertentu baik
warna, bentuk, perhiasan, jumlah aksesoris yang di gunakan maupun perlengkapan lainnya dalam
tingkat kehidupan masyarakat Buton pada masa lampau maupun saat ini.

- Baju Kombo

Baju Kombo merupakan pakaian kebesaran kaum wanita Buton yang terbuat dari bahan dasar kain satin
dengan warna dasar putih yang dihiasi dengan manik-manik, benang, emas atau perak serta berbagai
ragam hiasan yang terbuat dari emas,perak maupun kuningan. Pakaian ini terdiri atas baju dengan
bawahan sarung yang disebut Bia Ogena ( sarung besar ). Pemilihan warna putih pada baju kombo
digunakan sebagai lambing kesucian, kepolosan wanita Buton, serta harapan-harapan atas kebaikan,
kesuburan, dan kesejahteraan.

- Pakaian Balahdada

Pakaian Balahdada merupakan pakaian kebesaran yang dikenakan oleh kaum laki-laki Buton baik bagi
seorang bangsawan maupun bukan bangsawan. Pakaian dengan warna dasar hitam ini dijadikan sebagai
perlambang keterbukaan pejabat atau sultan terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan
masyarakat demi pencapaian kesejahteraan dan kebenaran hukum yang diputuskan dengan jalan
musyawarah untuk mufakat. Kelengkapan pakaian Balahdada terdiri atas destar, baju, celana, sarung,
ikat pinggang, keris, dan bio ogena atau sarung besar yang dihiasi dengan pasamani di seluruh
pinggirannya

Rumah Adat Suku Buton

Banua tada merupakan rumah tempat tinggal suku  Buton di Pulau Buton. Kata banua dalam bahasa
setempat berarti rumah sedangkan kata tada berarti siku. Jadi, banua tada dapat diartikan sebagai
rumah siku. Berdasarkan status sosial penghuninya, struktur bangunan rumah ini dibedakan menjadi
tiga yaitu kamali, banua tada tare pata pale, dan banua tada tare talu pale. Kamali atau yang lebih
dikenal dengan nama malige berarti mahligai atau istana, yaitu tempat tinggal raja atau sultan dan
keluarganya
Peninggalan Suku Buton

Benteng Keraton Buton adalah bekas peninggalan Kesultanan Wolio/Buton dan biasa disebut dengan
Benteng Keraton Wolio. Benteng buton berada di Pulau Buton (Kota Bau-Bau) secara geografis
merupakan kawasan timur jazirah tenggara pulau Celebes/Sulawesi. Benteng Keraton Buton yang
aslinya disebut Keraton Wolio dibangun pada masa pemerintahan Sultan Buton VI (1632-1645),
bernama Gafurul Wadudu. Benteng yang berbentuk lingkaran ini panjang kelilingnya sekitar 2.740
meter. Benteng Keraton Buton mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) dan
Guiness Book Record yang dikeluarkan bulan september 2006 sebagai benteng terluas di dunia dengan
luas sekitar 23,375 hektare. Benteng Keraton Buton ini menjadi salah satu objek wisata bersejarah di
Bau-bau, Sulawesi Tenggara. Benteng ini merupakan bekas ibukota Kesultanan Buton.

Kesenian Suku Buton

Salah satu kesenian dari Suku Buton yang paling terkenak ialah Tari Kalegoa. Tari Kalegoa merupakan
salah satu jenis tarian yang dilakukan oleh gadis-gadis di Buton dengan spesifikasi berupa Gerakan
memakai sapu tangan. Tarian berasal dari Kelurahan Melai Kecamatan Betoambari sekitar 3 km dari
pusat Kota Bau-Bau.
Lagu Daerah Buton

Contohnya :

1. Wandiu-ndiu
. Wandiu-ndiu merupakan lagenda rakyat Buton yang menceritakan tentang seorang ibu yang
berubah menjadi ikan duyung karena lama berenang di lautan demi mencarikan anak-anaknya
ikan untuk dijadikan sebagai makanan. Lagu ini dinyanyikan seorang anaknya yang memanggil
ibunya di lautan untuk menyusui adiknya yang masih kecil. Saat ibunya belum bersisik
seutuhnya ketika mendengar lagu tersebut, ia akan datang ke pinggir pantai untuk menyusui
anaknya namun suatu ketika sisik telah menutupi seluruh tubuhnya sehingga tak mampu lagi
mendengar panggilan berupa nyanyian lagu Wndiu-Ndiu yang dinyanyikan anaknya di pesisir
pantai.
2. Lawananto
Lawananto merupakan lagu daerah Buton yang menceritakan tentang salah satu lawa (pintu
gerbang) pada Benteng Keraton Buton yang merupakan benteng terluas di dunia yang terletak
di Kota Baubau. Lawa berfungsi sebagai penghubung keraton dengan kampung-kampung yang
berada disekeliling benteng keraton. Terdapat 12 lawa pada benteng keraton. Angka 12
menurut keyakinan masyarakat mewakili jumlah lubang pada tubuh manusia, sehingga benteng
keraton diibaratkan sebagai tubuh manusia. Ke-12 lawa memiliki masing-masing nama sesuai
dengan gelar orang yang mengawasinya, penyebutan lawa dirangkai dengan namanya. Kata
lawa diimbuhi akhiran dalam bahasa Buton berfungsi sebagai pengganti kata milik
"nya". Setiap lawa memiliki bentuk yang berbeda-beda tapi secara umum dapat
dibedakan baik bentuk, lebar maupun konstruksinya ada yang terbuat dari batu dan juga
dipadukan dengan kayu, semacam gazebo diatasnya yang berfungsi sebagai menara pengamat.
12 Nama lawa diantaranya : lawana rakia, lawana lanto, lawana labunta, lawana kampebuni,
lawana waborobo, lawana dete, lawana kalau, lawana wajo/bariya, lawana
burukene/tanailandu, lawana melai/baau, lawana lantongau dan lawana gundu-gundu.
3. Tana Wolio
Tana Wolio merupakan lagu daerah Buton yang menceritakan tentang kebanggan dan
kecintaan terhadap Tana Wolio (tanah/motherland Wolio) yang dahulu merupakan ibukota
kerajaan dan kesultanan Buton yang berada kini wilayah tersebut berada di Kota Baubau,
Sulawesi Tenggara.
4. Sope-Sope
Lagu Sope-Sope berasal dari daerah Buton, Sulawesi Tenggara. Sope-sope merupakan perahu
tradisional Buton. Suku-suku di Sulawesi terkenal sebagai suku pelaut. Selain Bugis yang sudah
banyak diketahui dunia sebagai suku pelaut yang gemar mengarungi samudera, etnis Buton
juga gemar mengarungi samudera. Jangan heran bila di daerah Riau dan Kepualauan Riau,
terdapat perkampungan bernama Buton. Masyarakat Buton juga banyak di temui di kepulauan
Maluku, Nusa Tenggara, hingga Papua dan sebagian berada di wilayah Nusantara lainnya
termasuk di negara tetangga, Malaysia dan Singapura. Di Jakarta, etnis Buton paling banyak di
temui di Jakarta Utara, tepatnya di Priuk dan telah turun-temurun hidup di sana.
5. Batu Poaro

Batu Poaro merupakan lagu yang menceritakan keindahan Batu Poaro yang kini dikenal sebagai salah
satu objek wisata yang terletak di Kelurahan Wameo, Kecamatan Murhum, 2 Km dari Pusat Kota
Baubau, Sulawesi Tenggara. Batu Poaro erupakan batu yang menjadi pertanda hilangnya penyiar agama
islam di Buton yang bernama Syech Abdul Wahid di pesisir pantai Buton. Disebut Batu Poaro karena oleh
masyarakat Buton menyebutkan bahwa Syech Abdul Wahid "Apoaromo te Opuna" yang
artinya ia telah berhadapan dengan tuhannya dan batu ini dianggap sebagai makam beliau.

Alat Musik Tradisional

Latatou adalah alat musik ciri khas daerah Bau-Bau yang dimainkan secara turun- temurun dan
merupakan bagian dari kehidupan masyarakat tradisional etnik Cia- cia.

Makanan Khas Buton

Kasoami (soami) adalah makanan khas sulawesi tenggara yang terbuat dari ubi. Proses pembuatannya
bagi sudah terbiasa tentu tidak sulit. Tapi bagi pemula tentu memerlukan kesabaran dalam proses
pembuatannya. Kasoami sangat enak bila dinikmati dengan ikan asin. Cara membuatnya, ubi yang sudah
dibersihkan diparut. Setelah itu ubi diperas. Biasanya proses ini memerlukan peralatan khusus untuk
agar ubi yang diperas itu cepat kering. Setelah dipastikan ubi sudah kering maka proses berikutnya
adalah pekerjaan pengukusan. Media pengukusan biasanya terbuat dari daun kelapa yang sudah
dianyam dan berbentuk topi (piramida). Proses pengukusan biasanya berlangsung antara 20 sampai 30
menit. Pengukusan biasanya baru selesai setelah didapatkan tanda-tanda yang dilihat dari uap yang
keluar. Atau sudah dipastikan ubi yang dikukus telah menyatu dan telah berubah warna. Perubahan
warna biasanya dari putih ke warna agak kekuning-kuningan.

Tradisi

Sejumlah kearifan tradisi dari tradisi yang ada dalam masyarakat Buton adalah kangkilo. Merupakan
modal sosial budaya masyarakat Buton untuk mewujudkan keselarasan dan keharmonisan hidup.
Kearifan tradisi yang meliputi kesucian ritual dan kesucian rasa dan akhlak bila diketahui dan dipahami
maknanya dengan baik akan membentuk karakter prilaku, tutur kata dan sikap positif masyarakat Buton
sesuai dengan nilai etika dan moral yang dianjurkan dalam tradisi itu.
Selain itu juga terdapat ritual-ritual dan pesta Adat yang dilakukan masyarakat Buton hingga sekarang
yang dikabarkan mengandung unsur Sinkritisme. Berikut ritual-ritual dan pesta adat tersebut:

1. Goraana Oputa/Maludju Wolio yaitu ritual masyarakat Buton dalam menyambut kelahiran Nabi
Muhammad SAW yang dilaksanakan tiap tengah malam tanggal 12 Rabiul awal

2. Qunua, yaitu ritual keagamaan yang dilakukan masyarakat Buton pada 16 malam bulan
Ramadhan.

3. Tuturiangana  Andaala yaitu Ritual kesyukuran masyarakat Buton yang berada di Pulau Makasar
(liwuto) kepada Allah SWT,  atas keluasan rejeki yang terhampar luas disektor kelautan

4. Mataa yaitu ritual adat yang digelar masyarakat Buton etnik cia-cia di desa Laporo yeng
merupakan wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil panen yang diperoleh.

5. Pekande-kandea yaitu pesta syukuran masyarakat Buton kepada Allah SWT atas limpahan
anugrah yang diberikan

6. Karia yaitu pesta adat masyarakat Buton yang berada di Kaledupa untuk menyambut anak-anak
yang sedang beranjak dewasa. Pesta Rakyat ini diiringi dengan tarian-tarian yang dilakukan oleh
pemangku

Anda mungkin juga menyukai