TRAUMA RENAL
OLEH : DR. SYARIFUL ANWAR
BAGIAN BEDAH UROLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA - BPK RSU DR. ZAINOEL ABIDIN
BANDA ACEH
PENDAHULUAN
Ginjal adalah sebuah organ kecil tetapi penting yang terletak di dalam tubuh,
tidak nampak secara fisik, dan seperti ba-gian lainnya, mempunyai fung-si yang
kompleks dan bekerja secara otomatis. Karena itu apabila tidak ada masalah, biasanya
kurang mendapat per-hatian. Namun biarpun kecil, ginjal adalah suatu bagian tubuh
yang sangat penting karena mempu-nyai fungsi dan tugas yang sangat mulia, yaitu
menghilangkan air, sisa-sisa air kotor, atau sampah dan racun hasil metabolisme yang
berlebihan di dalam tubuh, membantu mengatur tekanan darah, mengatur
keseimbangan kimia dalam tubuh, meme-lihara tulang agar tetap kuat, memberi
perintah kepada tubuh untuk membuat sel darah merah dan menolong anak-anak
tumbuh dengan normal.1
Trauma tumpul sering menyebabkan luka pada ginjal, misalnya karena
kecelakaan kendaraan bermotor, terjatuh atau trauma pada saat berolah raga.
Luka tusuk pada ginjal dapat karena tembakan atau tikaman. Kerusakan yang terjadi
bervariasi. Cedera ringan menyebabkan hematuria yang hanya dapat diketahui
1
dengan pemeriksaan mikroskopis, sedangkan cedera berat bisa menyebabkan
hematuria yang tampak sebagai air kemih yang berwarna kemerahan.1
Jika ginjal mengalami luka berat, bisa terjadi perdarahan hebat dan air kemih
bisa merembes ke jaringan di sekitarnya. Jika ginjal sampai terpisah dari tangkainya
yang mengandung vena dan arteri, maka bisa terjadi perdarahan hebat, syok dan
kematian. Trauma yang akibat ESWL (extracorporeal shock wave lithotripsy, suatu
prosedur rutin untuk menghancurkan batu ginjal) bisa menyebabkan ditemukannya
darah dalam air kemih yang sifatnya sementara, tidak terlalu jelas dan akan membaik
dengan sendirinya, tanpa pengobatan khusus. 2
Pemeriksaan sinar X untuk ginjal dan saluran kemih, misalnya urografi
intravena dan CT scan, dapat secara akurat menentukan lokasi dan luasnya cedera.
Pengobatan diawali dengan langkah untuk mengendalikan kehilangan darah dan
mencegah syok. Diberikan cairan intravena untuk menormalkan tekanan darah dan
2
merangsang pembentukan air kemih. Untuk cedera ringan (misalnya akibat terapi
ESWL), dilakukan pengawasan ketat terhadap asupan cairan dan penderita menjalani
tirah baring. Cedera berat yang menyebabkan perdarahan hebat atau kebocoran air
kemih ke jaringan di sekitarnya seringkali harus diatasi dengan pembedahan. 2
Jika aliran darah ke ginjal berkurang, maka jaringan ginjal yang normal bisa
mati dan digantikan oleh jaringan parut. Hal ini bisa menyebabkan tekanan darah
tinggi yang terjadi dalam beberapa minggu atau beberapa bulan setelah terjadinya
trauma. Biasanya jika terdiagnosis dan diobati secara tepat dan cepat, maka sebagian
besar trauma ginjal memiliki prognosis yang baik. 2
INSIDENSI
Frekuensi trauma renal kadang-kadang tergantung pada populasi pasien yang
dipertimbangkan. Trauma renal menyumbangkan sekitar 3% dari seluruh trauma
yang masuk rumah sakit dan sebanyak 10% pasien ini mengalami trauma abdomen.4
Trauma ginjal terlihat pada sekitar 8 – 10% pasien dengan trauma tumpul
atau trauma tajam abdomen. Mayoritas kasus (70 – 80%) lebih melibatkan trauma
tumpul daripada trauma tajam. 13 – 34 merupakan trauma tumpul dan 50-80%
merupakan trauma takam. Trauma ginjal yang berat sering berhubungan dengan
trauma organ lainnya. Keterlibatan multiorgan terjadi pada 80% pasien dengan
trauma tajam dan pada 75% dari mereka dengan trauma tumpul. Kebanyakan (85%)
trauma ginjal tunggal digolongkan sebagai trauma minor dan 15% tergolong trauma
mayor, sedangkan 1% merupakan pedicel trauma.3
3
ETIOLOGI
Mekanisme trauma seharusnya memperingatkan dokter akan kemungkinan
terjadi trauma renal. Hal-hal berikut merupakan mekanisme utama yang
menghasilkan trauma renal : 4
- Trauma tajam (seperti luka tembak, luka tusuk)
- Trauma tumpul (seperti kecelakaan pesawat, kecelakaan lalu lintas, olah
raga, jatuh dari ketinggian)
- Iatrogenik (seperti tindakan endourologi, ESWL, biopsi ginjal, tindakan
perkutaneus renal)
- Intraoperatif (seperti diagnostic peritoneal lavage)
- Lainnya (seperti penolakan transplantasi renal, bayi lahir mati (mungkin
menyebabkan laserasi renal spontan)
4
Faktor resiko
- # Of the lumbar vertebrae
- # Of the 11th and 12th costae
- Trauma tajam
- Jatuh dari ketinggian
- Trauma deselerasi
- Abnormalitas ginjal
- Anak-anak
IMAGING
Pemeriksaan Imaging
Sebagian besar trauma tumpul ginjal adalah derajat 1 (kontusio ginjal) yang
dapat sembuh spontan tanpa komplikasi lanjutan. 2,4,5
1. BNO/IVP.
Pemeriksaan ini bisa dilakukan di instalasi gawat darurat atau di ruang
operasi yang merupakan alat untuk menilai ginjal fungsional dan
anatomi kedua ginjal dan ureter, sehingga bisa diketahui ada atau
tidaknya 2 ginjal yang fungsional.
Selain itu, tujuan pemeriksaan IVP ini adalah untuk melihat adanya
ekstravasasi urin dan pada trauma tajam untuk melihat alur peluru.
Pemeriksaan ini sangat akurat untuk melihat adanya trauma ginjal.
5
Tetapi tidak sensitif dan spesifik untuk melihat adanya cidera parenkim
ginjal.
2. CT scan.
Pada pasien yang stabil dapat dilakukan pemeriksaan CT scan yang
merupakan gold standard untuk trauma ginjal karena merupakan
pemeriksaan yang sensitif dan spesifik untuk menentukan laserasi
parenkim, ekstravasasi urin, infark segmental, dan melihat hematom
retroperitoneal atau cidera organ intra abdomen yang lain (hepar, limpa,
pankreas, dan usus).
3. Ultrasonography.
Bisa dilakukan lebih cepat. Pemeriksaan ini terutama ditujukan untuk
melihat adanya hemoperitoneum pada trauma tumpul abdomen. Tapi
tidak dianjurkan untuk mengevaluasi pada trauma ginjal yang akut,
mengingat terbatasnya visualisasi ginjal dan lebih tergantung pada
operator yang melakukan pemeriksaan.
4. Angiografi
Bisa melihat bagian ginjal yang tidak memiliki vaskularisasinya yaitu
pada total renal artery occlusion, dan massive extravasation.
Mempunyai peran selektif hanya untuk mengevaluasi dan terapi
persistent delayed renal bleeding atau symptomatic post traumatic
arterio-venous fistulas.
6
Indikasi Imaging 2,4,5
- Trauma tumpul dan gross hematuria. Gross hamaturia merupakan
indikator terpercaya untuk mendeteksi adanya trauma urologi yang
serius. Kontusio ginjal dapat disertai gross hematuria, tapi avulsi
pedikel atau trombosis arteri segmental sering tanpa disertai hematuria.
- Trauma tumpul, microscopic hematuria dan syok. Mikroskopik
hematuria yang signifikan (lebih dari 5 eritrosit/lpb pada inisial
berkemih atau spesimen kateter ). Syok terjadi bila tekanan sistolik
kurang dari 90 mmHg selama transportasi atau di ruang gawat darurat.
Trauma tumpul dengan mikrohematuria dan tanpa syok sebagain besar
merupakan trauma ginjal minor.
- Trauma deselerasi mayor. Ginjal terutama tergantung bebas pada
lapisan lemak di dalam fasia Gerota. Ginjal terfiksasi di 2 tempat yaitu
di ureter dan pedikel vaskular. Karena lemahnya fiksasi, ginjal dengan
mudah dislokasi karena gaya deselerasi dan aselerasi yang mendadak.
Dislokasi tersebut dapat menyebabkan robekan sistim collecting di
ureteropelvic junction atau tunika intima arteri renalis, sehingga akan
terjadi sumbatan total atau parsial pembuluh darah. Contoh trauma
deselerasi : jatuh dari ketinggian, trauma ekstensi - fleksi yang berat
seperti kecelakaan antara pejalan kaki dan sepeda motor. Secara umum,
semua trauma deselerasi harus dilakukan imaging walaupun tanpa
disertai hematuria.
7
- Microscopic atau gross hematuria sesudah trauma tembus regio flank,
punggung atau trauma abdomen; atau luka tembak pada proyeksi ginjal.
Trauma pada anak dengan microscopic atau gross hematuria yang
signifikan. Ginjal pada anak relatif jauh lebih besar dari ukuran
tubuhnya. Ginjal juga tak terlindung dengan baik karena tipisnya lemak
peri renal dan iga bawah yang belum mengalami osifikasi sempurna.
Sehingga pada anak lebih mudah untuk terjadi trauma. Tetapi sebagian
besar trauma tumpul yang terjadi adalah kontusio ginjal yang tidak
membutuhkan terapi yang agresif. Pada anak dengan kondisi stabil yang
disertai microscopic atau gross hematuria yang signifikan (lebih dari 50
eritrosit/lpb), atau dengan trauma multi sistim sedang dan berat (tanpa
melihat derajat hematuri) kecurigaan adanya trauma ginjal harus
dipikirkan, sehingga perlu dilakukan imaging.
- Trauma penyerta yang mengarah kemungkinan adanya trauma ginjal.
Trauma dan ekimosis regio flank, fraktur vertebra lumbal atau prosesus
transversus, fraktur iga 11- 12.
DERAJAT TRAUMA GINJAL
Berdasarkan The American Association for the Surgery of Trauma dibagi 5
derajat, yaitu : 2,4,6
I. Kontusio ginjal atau subkapsular hematom yang tidak meluas.
8
II. Hematom perirenal yang tidak meluas atau laserasi parenkim kurang
dari 1 cm tanpa ekstravasasi.
III. Laserasi parenkim lebih dari 1 cm dan tanpa ekstravasasi urin.
IV. Laserasi parenkim hingga sistim collecting (ekstravasasi urin), atau
trauma vaskular (infark parenkim segmental), atau trauma vaskular
utama dengan hematom.
V. Shattered kidney, avulsi pedikel ginjal, atau trombosis vaskular utama.
9
10
ALGORITME PENANGANAN TRAUMA RENAL 1
Trauma of the kidney
Stab wound Blunt
Hematuria
Stable Unstable
KUB-IVP Explore Retroperitoneal hematome
Non Visual Normal
Abnormal Expand (+)
Bulging (+)
Explore Observe
Further Explore Observe
CT scan
11
Blunt Trauma Of The Kidney
Hematuria
Microscopic, Shock (-) Microscopic, shock (+)
Imaging exam not necessary Macroscopic
Except: Concomitant trauma
Deceleration Stable Unstable
KUB-IVP Explore
Not Informative Abnormal Normal Retro-hematoma
Bulging (-) Bulging
Explore Observe (+)
Expanding (-)
Concomitant Concomitant
Trauma (+) Trauma (-)
Observe Explore further
Explore Observe Where is CT Scan function
PENATALAKSANAAN
Tindakan nonoperatif
Pada trauma tumpul ginjal dan trauma tajam tertentu, pendekatan
nonoperatif mungkin dipilih. Pemilihan pasien merupakan langkah preliminer dalam
menerapkan strategi manajemen nonoperatif terhada trauma renal. Pada sebuah
penelitian, dengan mekanisme ceder yang dominan tumpul, didapatkan 85% pasien
sukses diobati tanpa pembedahan. yang terpenting, harus disingkrikan trauma yang
menyertai.4
12
Struktur anatomi ginjal menempatkan dirinya untuk tindakan nonoperatif
pada keadaan trauma tumpul. Ginjal memiliki suplai darah arteri dengan pola
segmental cabang yang mensuplai parenkim ginjal. Ketika dihadapkan ke pada
trauma tumpul yang menyebabkan laserasi, laserasi itu cenderung terjadi melewati
parenkim. Hematom yang terjadi menggeser jaringan ginjal, tetapi pembuluh darah
segmentalnya sendiri sering tidak laserasi. Ruang retroperitoneal yang tertutup di
sekitar ginjal juga memicu tamponade perdarahan trauma renal. Akhirnya, ginjal kaya
akan faktor jairngan, molekul yang mengaktivasi kaskade koagulasi ekstrinsik, yang
selanjutnya memicu hemostasis setelah cedera.4
Tindakan pembedahan
Tujuan terapi operatif untuk laserasi ginjal memiliki dua prinsip dasar yaitu
kontrol perdarahan dan menyelamatkan jaringan hinjal, yang harus diseimbangkan
untuk tiap pasien perindividual.4
INDIKASI EKSPLORASI GINJAL
Indikasi absolut1,2
1. Perdarahan yang berlangsung terus.
2. Tanda-tanda perdarahan yang masih berlangsung antara lain hematom
retroperitoneal yang berdenyut dan bertambah besar.
3. Pada CT scan atau arteriografi ditemukan avulsi pedikel.
Indikasi relatif1,2,3
13
1. Jaringan yang mati/rusak lebih dari 24%.
2. Trauma ginjal yang luas dengan ekstravasasi urin dan hematom
retroperitoneal yang besar.
3. Incomplete grading.
Ekstravasasi urin tidak selalu dilakukan eksplorasi. Pada umumnya akan
terjadi resolusi spontan pada pasien trauma tumpul. Tindakan endoskopi dapat
dilakukan untuk mengatasi komplikasi urinoma dan kebocoran urin sehingga tidak
perlu dilakukan eksplorasi.1
Pada trauma tajam sebagian besar perlu dilakukan eksplorasi, kecuali pada
pasien dengan hemodinamik stabil tanpa adanya penetrasi ke peritoneum dan trauma
organ viseral.1,6
Mc Aninch procedure
14
15
KOMPLIKASI
Komplikasi terjadi tergantung dari derajat kerusakan dan metode terapi. Pada
umumnya komplikasi tersebut dapat diatasi secara endoskopi atau tehnik
perkutaneus, dan tidak memperpanjang masa perawatan secara bermakna. 1
1. Komplikasi dini :
- Urinoma
- Delayed bleeding
- Fistel urin
16
- Abses
- Hipertensi
2. Komplikasi lanjut :
- Hidronefrosis
- Fistel arteriovenus
- Pielonefritis
- Terbentuknya batu
- Hipertensi
DAFTAR PUSTAKA
1. McAninch JW: Renal trauma. Dalam J Urol 150:1778, 1993.
2. Miller KS, McAninch JW: Radiographic assessment of renal trauma : Our 15 year
experience. Dalam J Urol 154: 352, 1995.
3. Akira Kawashima. Imaging of Renal Trauma: A Comprehensive Review. Dalam
Radiographics. 2001;21:557-574.
4. Douglas M Geehan. Renal Trauma. Dalam [Link], 2007.
17
5. Sandler CM et al. Expert Panel on Urologic Imaging. Renal trauma. [online
publication]. Reston (VA): American College of Radiology (ACR); 2007.
6. Goodacre B, van Sonnenberg E. Radiologic evaluation of renal trauma.
Intensive Care Med 2000; 15: 90-98.
18