MAKALAH SEMINAR
APPENDISITIS
RSUD Syarifah Ambami Irna B Atas Bangkalan
Oleh :
Kelompok
SHAVA SYAHPUTRA (19142010084)
QINTHARA SALSABILA (19142010080)
NURUL AULIA ANSOR (19142010078)
TIARA MAHARANI (19142010039)
MOH KHOLIQ (19142010072)
STIKes NGUDIA HUSADA MADURA
2021/2022
1
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan ini sudah disahkan pada :
Hari :
Tanggal : Agustus 2022
Tempat : Bangkalan
Bangkalan, Agustus 2022
Mahasiswa
Mengetahui,
Pembimbing Akademik Dosen Pembimbing
Moh Lutfi, [Link].,Ns.,[Link] Fathul Alim,[Link].,Ns
Kepala Ruangan
Utaminingsih,[Link].,Ns
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas rahmat Allah SWT, berkat rahmat serta karunia-Nya sehingga
makalah dengan berjudul “APPENDISITIS” dapat selesai. Makalah ini dibuat dengan
tujuan menambah wawasan kepada pembaca tentang penyakit appendicitis
Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak dan Ibu. Berkat tugas
yang diberikan ini, dapat menambah wawasan penulis berkaitan dengan topik yang
diberikan. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesarnya kepada semua pihak
yang membantu dalam proses penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan dan penulisan masih melakukan
banyak kesalahan. Oleh karena itu penulis memohon maaf atas kesalahan dan
ketidakksempurnaan yang pembaca temukan dalam makalah ini. Penulis juga mengharap
adanya kritik serta saran dari pembaca apabila menemukan kesalahan dalam makalah ini.
DAFTAR ISI
3
COVER
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN
4
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Apendisitis merupakan peradangan apendik vermivormis, dan merupakan
penyebab masalah abdomen yang paling sering (Dermawan & Rahayuningsih,
2010). Apendiksitis dapat ditemukan pada semua umur, hanya pada anak kurang
dari satu tahun jarang terjadi. Insidensi pada pria dengan perbandingan 1,4 lebih
banyak daripada wanita (Santacroce dalam Muttaqin, 2013). Apendisitis
ditemukan pada semua kalangan dalam rentang usia 21-30 tahun (Ajidah &
Haskas, 2014). Komplikasi apendisitis yang sering terjadi yaitu apendisitis
perforasi yang dapat menyebabkan perforasi atau abses sehingga diperlukan
tindakan pembedahan (Haryono, 2012)
Prevalensi tindakan bedah di Amerika Serikat tahun 2009 dari 27 juta orang
yang menjalani operasi setiap pelayanan kesehatan, pasien dengan infeksi pada
daerah operasi abdomen akan menjalani perawatan dua kali lebih lama di rumah
sakit daripada yang tidak mengalami infeksi (Jitowiyono & Kristiyanasari, 2010).
Berdasarkan Data Tabulasi Nasional Departemen Kesehatan Republik Indonesia
tahun 2009, tindakan bedah menempati urutan ke 11 dari 50 pertama penyakit di
rumah sakit se-Indonesia dengan persentase 12.8% yang diperkirakan 32%
diantaranya merupakan tidakan bedah laparatomi (Hajidah & Haskas, 2014).
Laporan Departemen Kesehatan (Depkes) mengenai kejadian laparatomi atas
5
indikasi apendiksitis meningkat dari 162 kasus pada tahun 2005 menjadi 983
kasus pada tahun 2006 dan 1.281 kasus pada tahun 2007 (Hajidah & Haskas,
2014)
Departemen Kesehatan Republik Indonesia menyatakan pada tahun 2008
jumlah penderita apendiksitis mencapai 591.819, pada tahun 2009 sebesar
596.132 orang dan insiden ini menempati urutan tertinggi di antara kasus
kegawatan abdomen lainnya (Depkes RI, 2013). Penderita apendiksitis yang
dirawat di rumah sakit pada tahun 2013 sebanyak 3.236 orang dan pada tahun
2014 sebanyak 4.351 orang (Depkes RI, 2013). Kementrian Kesehatan
menganggap apendiksitis merupakan isu prioritas kesehatan di tingkat lokal dan
nasional karena mempunyai dampak besar pada kesehatan masyarakat (Depkes
RI, 2013). Apendisitis merupakan salah satu penyebab untuk dilakukan operasi
kegawatdaruratan abdomen. Hal-hal yang berhubungan dengan perawatan klien
post operasi dan dilakukan segera setelah operasi diantaranya adalah dengan
melakukan latihan napas dalam, batuk efektif serta latihan mobilisasi dini
(Muttaqin, 2009).
Faktor-faktor yang berhubungan dengan lama hari rawat pasien post
apendiktomi salah satunya adalah kondisi kesehatan pasien. Perubahan kondisi
kesehatan dapat mempengaruhi sistem muskuloskeletal dan sistem saraf berupa
penurunan koordinasi. Perubahan tersebut dapat disebabkan oleh nyeri yang
dialami akibat luka operasinya (Kozier & Erb, 2010). Tindakan keperawatan yang
dapat mengurangi intensitas nyeri selain distraksi dan relaksasi yaitu dengan
6
melakukan mobilisasi dini. Penelitian yang dilakukan oleh Akhrita (2011),
menyebutkan bahwa klien post operasi yang melakukan mobilisasi dini memiliki
waktu penyembuhan yang lebih cepat dibandingkan klien yang tidak melakukan
mobilisasi dini.
Menurut Potter & Perry (2010), pasien dengan post apendiktomi biasanya
merasakan nyeri yang mengakibatkan takut untuk bergerak. Padahal efek anestesi
bisa mengakibatkan gangguan fungsi tubuh, aliran darah tersumbat, peningkatan
intensitas nyeri, dan penumpukan sekret pada saluran pernapasan yang dapat
mengakibatkan pneumonia. Berdasarkan alasan tersebut maka tindakan mobilisasi
dini sangatlah penting, namun mobilisasi harus tetap dilakukan secara hati-hati.
Mobilisasi dini merupakan kegiatan yang penting pada periode post operasi
guna mengembalikan kemampuan ADL pasien. Kurangnya mobilisasi dini dapat
menimbulkan lamanya hari perawatan dari pasien dengan laparatomi, selain itu
kurangnya mobilisasi dini pada pasien pasca operasi laparatomi dapat
menimbulkan adanya infeksi (Jitowiyono & Kristiyanasari, 2010).
Menurut penelitian Pristahayuningtyas (2016), terdapat pengaruh mobilisasi
dini terhadap perubahan tingkat nyeri klien post operassi apendiktomi. Latihan
mobilisasi dini dapat memusatkan perhatian klien pada gerakan yang dilakukan.
Pergerakan fisik bisa dilakukan di atas tempat tidur dengan menggerakkan tangan
dan kaki yang bisa ditekuk atau diluruskan, mengontraksikan otot-otot dalam
7
keadaan statis maupun dinamis termasuk juga menggerakkan badan lainnya,
miring ke kiri atau ke kanan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan apendisitis
2. Apa saja klasifikasi apendisitis
3. Etiologi
4. Patofisiologi
5. Manifestasi klinis
6. Komplikasi
7. Pemeriksaan penunjang
8. Penatalaksanaan
9. Asuhan Keperawatan
1.3 Tujuan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan apendisitis
2. Mengetahui apa saja klasifikasi apendisitis
3. Mengetahui etiologi apendisitis
4. Mengetahui patofisiologi apendisitis
5. Mengetahui manifestasi klinis apendisitis
6. Mengetahui komplikasi apa saja yang terjadi pada apendisitis
7. Mengetahui pemeriksaan penunjang pada apendisitis
8. Mengetahui penatalaksaan apendisitis
8
9. Mengetahui asuhan keperawatan apendisitis
1.4 Manfaat
1. Dapat menambah pengetahuan dan pandangan mengenai apa itu apendisitis
beserta etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, komplikasi, pemeriksaan
penunjang, dan penatalaksanaanya
2. Dapat dijadikan bahan referensi untuk mahasiswa lain
9
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 LANDASAN TEORI
2.1.1 Pengertian
Apendisitis adalah suatu proses obstruksi yang disebabkan oleh benda
asing batu feses kemudian terjadi proses infeksi dan disusul oleh peradangan
dari apendiks verivormis (Nugroho, 2011). Apendisitis merupakan
peradangan yang berbahaya jika tidak ditangani segera bisa menyebabkan
pecahnya lumen usus (Williams & Wilkins, 2011).
Apendisitis adalah suatu peradangan yang berbentuk cacing yang
berlokasi dekat ileosekal (Reksoprojo, 2010). Apendisitis adalah peradangan
akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing. Infeksi ini bisa
mengakibatkan peradangan akut sehingga memerlukan tindakan bedah segera
untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya (Sjamsuhidajat, 2010)
2.1.2 Klasifikasi
Klasifikasi apendisitis menurut Nurafif & Kusuma (2013) terbagi menjadi 3
yaitu :
a. Apendisitis akut, radang mendadak di umbai cacing yang memberikan
tanda, disertai maupun tidak disertai rangsangan peritoneum lokal. 9
b. Apendisitis rekurens yaitu jika ada riwayat nyeri berulang di perut bagian
kanan bawah yang mendorong dilakukannya apendiktomi. Kelainan ini
terjadi bila serangan apendisitis akut pertama sembuh spontan
10
c. Apendisitis kronis memiliki semua gejala riwayat nyeri perut kanan bawah
lebih dari dua minggu (sumbatan di lumen apendiks, adanya jaringan parut
dan ulkus lama di mukosa), dan keluhan hilang setelah apendiktomi.
2.1.3 Etiologi
Apendisitis akut merupakan infeksi bakteria. Berbagai hal menjadi
faktor penyebabnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor pencetus
disamping hyperplasia jaringan limfe, batu feses, tumor apendiks, dan cacing
askaris dapat juga menyebabkan sumbatan. Penyebab lain yang diduga
menimbulkan apendisitis yaitu erosi mukosa apendiks karena parasit seperti
[Link] (Sjamsuhidajat, 2010)
2.1.4 Patofisiologi
Apendisitis kemungkinan dimulai oleh obstruksi dari lumen yang
disebabkan oleh fses yang terlibat atau fekalit. Sesuai dengan pengamatan
epidemiologi bahwa apendisitis berhubungan dengan asupan makanan yang
rendah serat. Pada stadium awal apendisitis, terlebih dahulu terjadi inflamasi
mukosa. Inflamasi ini kemudian berlanjut ke submukosa dan melibatkan
peritoneal. Cairan eksudat fibrinopurulenta terbentuk pada permukaan serosa
dan berlanjut ke beberapa permukaan peritoneal yang bersebelahan. Dalam 10
stadium ini mukosa glandular yang nekrosis terkelupas ke dalam lumen yang
menjadi distensi dengan pus. Akhirnya, arteri yang menyuplai apendiks
menjadi bertrombosit dan apendiks yang kurang suplai darah menjadi nekrosis
11
ke rongga peritoneal. Jika perforasi yang terjadi dibungkus oleh omentum,
abses local akan terjadi (Burkit, Quick & Reed, 2007)
2.1.5 Manifestasi Klinis
Menurut Wijaya AN dan Putri (2013), gejala-gejala permulaan pada
apendisitis yaitu nyeri atau perasaan tidak enak sekitar umbilikus diikuti
anoreksia, nausea dan muntah, ini berlangsung lebih dari 1 atau 2 hari. Dalam
beberapa jam nyeri bergeser ke nyeri pindah ke kanan bawah dan
menunjukkan tanda rangsangan peritoneum lokal di titik Mc. Burney, nyeri
rangsangan peritoneum tidak langsung, nyeri pada kuadran kanan bawah saat
kuadran kiri bawah ditekan, nyeri pada kuadran kanan bawah bila peritoneum
bergerak seperti nafas dalam, berjalan, batuk, dan mengedan, nafsu makan
menurun, demam yang tidak terlalu tinggi, biasanya terdapat konstipasi, tetapi
kadang-kadang terjadi diare.
2.1.6 Komplikasi
Komplikasi yang terjadi pada apendisitis menurut Smeltzer dan Bare (2009).
yaitu :
a. Perforasi Perforasi berupa massa yang terdiri dari kumpulan apendiks,
sekum, dan letak usus halus. Perforasi terjadi 70% pada kasus dengan
peningkatan 11 suhu 39,50C tampak toksik, nyeri tekan seluruh perut dan
leukositosis meningkat akibat perforasi dan pembentukan abses.
12
b. Peritonitis Peritonitis yaitu infeksi pada sistem vena porta ditandai dengan
panas tinggi 390C – 400C menggigil dan ikterus merupakan penyakit
yang jarang.
13
14
2.1.7 Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang post operasi apendiktomi menurut Wijaya dan Putri
(2013), yaitu:
a. Laboratorium Pada pemeriksaan ini leukosit meningkat rentang 10.000 –
hingga 18.000 / mm3, kemudian neutrofil meningkat 75%, dan WBC
meningkat sampai 20.000 mungkin indikasi terjadinya perforasi (jumlah
sel darah merah)
b. Data Pemeriksaan Diagnostik Radiologi yaitu pada pemeriksaan ini foto
colon menunjukkan adanya batu feses pada katup. Kemudian pada
pemeriksaan barium enema :menunjukkan apendiks terisi barium hanya
sebagian.
2.1.8 Penatalaksanaan
Pada penatalaksanaan post operasi apendiktomi dibagi menjadi tiga (Brunner
& Suddarth, 2010), yaitu:
a. Sebelum operasi
1) Observasi 12 Dalam 8-12 jam setelah munculnya keluhan perlu
diobservasi ketat karena tanda dan gejala apendisitis belum jelas.
Pasien diminta tirah baring dan dipuasakan. Laksatif tidak boleh
diberikan bila dicurigai adanya apendisitis. Diagnosis ditegakkan
dengan lokasi nyeri pada kuadran kanan bawah setelah timbulnya
keluhan.
15
2) Antibiotik Apendisitis ganggrenosa atau apenditis perforasi
memerlukan antibiotik, kecuali apendiksitis tanpa komplikasi tidak
memerlukan antibiotik. Penundaan tindakan bedah sambil memberikan
antibiotik dapat mengakibatkan abses atau preforasi.
b. Operasi Operasi / pembedahan untuk mengangkat apendiks yaitu
apendiktomi. Apendiktomi harus segera dilakukan untuk menurunkan
resiko perforasi. Apendiktomi dapat dilakukan dibawah anestesi umum
dengan pembedahan abdomen bawah atau dengan laparoskopi.
Laparoskopi merupakan metode terbaru yang sangat efektif (Brunner &
Suddarth, 2010). Apendiktomi dapat dilakukan dengn menggunakan dua
metode pembedahan, yaitu secara teknik terbuka (pembedahan
konvensional laparatomi) atau dengan teknik laparoskopi yang merupakan
teknik pembedahan minimal invasive dengan metode terbaru yang sangat
efektif (Brunner & Suddarth, 2010)
1) Laparatomi
Laparatomi adalah prosedur vertical pada dinding perut ke dalam
rongga perut. Prosedur ini memungkinkan dokter melihat dan
merasakan organ dalam untuk membuat diagnosa apa yang salah.
Adanya teknik diagnosa yang tidak invasif, laparatomi semakin kurang
digunakan dibanding terdahulu. Prosedur ini hanya dilakukan jika
semua prosedur lainnya yang tidak membutuhkan operasi, seperti
laparoskopi yang seminimal mungkin tingkat invasifnya juga
16
membuat laparatomi tidak sesering terdahulu. Bila laparatomi
dilakukan, begitu organ-organ dalam dapat dilihat dalam masalah
teridentifikasi, pengobatan bedah harus segera dilakukan. Laparatomi
dibutuhkan ketika ada kedaruratan perut. Operasi laparatomi dilakukan
bila terjadi masalah kesehatan yang berat pada area abdomen,
misalnya trauma abdomen. Bila klien mengeluh nyeri hebat dan
gejala-gejala lain dari masalah internal yang serius dan kemungkinan
penyebabnya tidak terlihat seperti usus buntu, tukak peptik yang
berlubang, atau kondisi ginekologi maka dilakukan operasi untuk
menemukan dan mengoreksinya sebelum terjadi keparahan lebih.
Laparatomi dapat berkembang menjadi pembedahan besar diikuti oleh
transfusi darah dan perawatan intensif (David dkk, 2009)
2) Laparoskopi
Laparaskopi berasal dari kata lapara yaitu bagian dari tubuh mulai dari
iga paling bawah samapi dengan panggul. Teknologi laparoskopi ini
bisa digunakan untuk melakukan pengobatan dan juga mengetahui
penyakit yang belum diketahui diagnosanya dengan jelas. Keuntungan
bedah laparoskopi :
a) Pada laparoskopi, penglihatan diperbesar 20 kali, memudahkan
dokter dalam pembedahan.
b) Secara estetika bekas luka berbeda dibanding dengan luka operasi
pasca bedah konvensional. Luka bedah laparoskopi berukuran 3
17
sampai 10 mm akan hilang kecuali klien mempunyai riwayat
keloid.
c) Rasa nyeri setelah pembedahan minimal sehingga penggunaan
obat-obatan dapat diminimalkan, masa pulih setelah pembedahan
lebih cepat sehingga klien dapat beraktivitas normal lebih cepat.
c. Setelah operasi Dilakukan observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui
terjadinya perdarahan di dalam, hipertermia, syok atau gangguan
pernafasan. Baringkan klien dalam posisi semi fowler. Klien dikatakan
baik apabila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan, selama itu klien
dipuasakan sampai fungsi usus kembali normal. Satu hari setelah
dilakukan operasi klien dianjurkan duduk tegak di temmpat tidur selama 2
x 30 menit. Hari kedua 15 dapat dianjurkan untuk duduk di luar kamar.
Hari ke tujuh dapat diangkat dan dibolehkan pulang (Mansjoer, 2010)
2.2 Asuhan Keperawatan
2.2.1 Pengkajian
Menurut Potter & Perry (2010), pengkajian keperawatan klien dengan post
apendiktomi yaitu :
a. Sistem pernafasan Kaji patensi jalan nafas, laju nafas, irama ke dalam
ventilasi, simteri gerakan dinding dada, suara nafas, dan warna mukosa.
b. Sirkulasi Penderita beresiko mengalami komplikasi kardiovaskuler yang
disebabkan oleh hilangnya darah dari tempat pembedahan, efek samping
dari anestesi. Pengkajian yang telah diteliti terhadap denyut dan irama
18
jantung, bersama dengan tekanan darah, mengungkapkan status
kardiovaskular penderita. Kaji sirkulasi kapiler dengan mencatat pengisian
kembali kapiler, denyut, serta warna kuku dan temperatu kulit. Masalah
umum awal sirkulasi adalah perdarahan. Kehilangan darah dapat terjadi
secara eksternal melalui saluran atau sayatan internal.
c. Sistem Persarafan Kaji refleks pupil dan muntah, cengkeraman tangan,
dan gerakan kaki. Jika penderita telah menjalani operasi melibatkan
sebagian sistem saraf, lakukan pengkajian neurologi secara lebih
menyeluruh. 16
d. Sistem Perkemihan Anestesi epidural atau spinal sering mencegah
penderita dari sensasi kandung kemih yang penuh. Raba perut bagian
bawah tapat di atas simfisis pubis untuk mengkaji distensi kandung kemih.
Jika penderita terpasang kateter urine, harus ada aliran urine terus-
menerus sebanyak 30-50 ml/jam pada orang dewasa. Amati warna dan bau
urine, pembedahan yang melibatkan saluran kemih biasanya akan
menyebabkan urine berdarah paling sedikit selama 12 sampai 24 jam,
tergantung pada jenis operasi.
e. Sistem Pencernaan Inspeksi abdomen untuk memeriksa perut kembung
akibat akumulasi gas. Perawat perlu memantau asupan oral awal penderita
yang berisiko menyebabkan aspirasi atau adanya mual dan muntah. Kaji
juga kembalinya peristaltik setiap 4 sampai 8 jam. Auskultasi perut secara
rutin untuk mendeteksi suara usus kembali normal, 5-30 bunyi keras per
19
menit pada masing-masing kuadran menunjukkan gerak peristaltik yang
telah kembali. Suara denting tinggi disertai oleh distensi perut
menunjukkan bahwa usus tidak berfungsi dengan baik. Tanyakan apakah
penderita membuang gas (flatus), ini merupakan tanda penting yang
menunjukkan fungsi usus normal.
2.2.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada
pasien post operasi apendiktomi berdasarkan SDKI, adalah sebagai berikut :
a. Nyeri akut b.d Agen Pencedera Fisiologi d.d mengeluh nyeri tampak
meringis
b. Gangguan mobilisasi fisik b.d nyeri d.d mengeluh sulit menggerakkan
ekstremitas
2.2.3 Perencanaan Keperawatan
Rencana keperawatan pada pasien post operasi apendisitis menurut Wilkinson
dan Ahern (2013) :
a. Nyeri Akut
1) Intervensi keperawatan
a) Observasi
- Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
b) Terapeutik
20
- Control lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. Suhu
ruangan, pencahayaan, kebisingan)
c) Edukasi
- Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri
d) Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu
2) Implementasi keperawatan
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang
dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dalam masalah status
kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang
diharapkan (Potter & Perry, 2010).
3) Evaluasi
Menurut (Craven & Hirnle, 2007), evaluasi didefinisikan sebagai
keputusan dari efektifitas asuhan keperawatan Antara dasar tujuan
keperawatan klien yang telah ditetapkan dengan respon perilaku yang
ditunjukkan klien.
b. Gangguan Mobilisasi fisik
1) Intervensi Keperawatan
a) Observasi
21
- Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya
b) Terapeutik
- Fasilitasi melakukan pergerakan, jika perlu
c) Edukasi
- Ajarkan melakukan mobilisasi dini
2) Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang
dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dalam masalah status
kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang
diharapkan (Potter & Perry, 2010).
3) Evaluasi
Menurut (Craven & Hirnle, 2007), evaluasi didefinisikan sebagai
keputusan dari efektifitas asuhan keperawatan Antara dasar tujuan
keperawatan klien yang telah ditetapkan dengan respon perilaku yang
ditunjukkan klien.
22
BAB 3
LAPORAN ASKEP KASUS
23
BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai
cacing. Infeksi ini bisa mengakibatkan peradangan akut sehingga memerlukan
tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya.
Klasifikasi apendisitis terbagi menjadi 3 yaitu apendisitis akut, apendisitis
rekurens dan apendisitis kronis. Penyebab terjadinya apendisitis salah satunya
yaitu sumbatan lumen apendiks. Apendisitis kemungkinan dimulai oleh
obstruksi dari lumen yang disebabkan oleh feses yang terlibat atau fekalit.
Gejala permulaan pada apendisitis yaitu nyeri atau perasaan tidak enak sekitar
umbikulus diikuti anoreksia yang berlangsung lebih dari 1 atau 2 hari.
Komplikasi yang terjadi pada apendisitis salah satunya yaitu perforasi berupa
massa yang terdiri dari sekumpulan apendiks sekum.
24