BAB II
LANDASAN TEORI
1. Sumber Daya Manusia
Pengertian Sumber Daya Manusia
Cushway (1994:13), mendefinisikan MSDM sebagai ‘Part of the
process that helps the organization achieve its objectives’. Pernyataan ini
dapat diterjemahkan sebagai 'bagian dari proses yang membantu organisasi
mencapai tujuannya’
Schuler, Dowling, Smart dan Huber (1992:16) mengartikan MSDM dalam
rumusan seperti berikut ini:
Manajemen Sutnber Daya Manusia/MSDM merupakan pengakuan tentang
pentingnya tenaga kerja organisasi sebagai sumber daya manusia yang
sangat penting dalam memberikan kontribusi bagi tujuan-tujuan organisasi,
dan penggunaan beberapa fungsi dan kegiatan untuk memastikan bahwa
SDM tersebut digunakan secara efektif dan adil bagi kepentingan individu,
organisasi dan masyarakat..
2. Motivasi Kerja
A. Pengertian Motivasi
Motivasi merupakan daya dorong seseorang untuk memberikan kontribusi
yang sebesar mungkin demi keberhasilan organisasi untuk mencapai tujuannya. Dengan
pengertian bahwa tercapainya tujuan organisasi berarti tercapai pula tujuan pribadi
anggota organisasi yang bersangkutan.
B. Teori Motivasi
Pimpinan perusahaan adalah sosok yang sangat berpengaruh pada
peningkatan motivasi pegawai. Teori motivasi harus dipahami oleh
pimpinan, sehingga mampu mengidentifikasi apa yang memotivasi pegawai
bekerja, hubungan perilaku kerja dengan motivasi dan mengapa pegawai
berprestasi tinggi.
Sebelum menjelaskan beberapa teori motivasi, dapat diketahui bahwa teori
motivasi dapat dikategorikan dalam 3 kelompok yang dikemukakan oleh
A. Anwar Prabu Mangkunegara (2011), 3 kelompok tersebut adalah:
1. Teori motivasi dengan pendekatan isi (content theory).
Teori ini lebih menekankan pada faktor apa yang membuat pegawai
melakukan suatu tindakan/kegiatan.
2. Teori motivasi dengan pendekatan proses (process theory)
Teori ini tidak hanya menekankan pada faktor yang membuat pegawai
melakukan suatu tindakan, akan tetapi teori ini juga lebih menekankan pada
proses bagaimana pegawai termotivasi.
3. Teori motivasi dengan pendekatan penguat (reinforcemet theory).
Teori ini lebih menekankan pada faktor yang dapat meningkatkan suatu
tindakan dilakukan atau yang dapat mengurangi suatu tindakan dilakukan
atau yang dapat mengurangi suatu tindakan.
Ada beberapa teori motivasi yang dikemukakan oleh ilmuwan yang
menekuni kegiatan pengembangan teori motivasi. Berikut beberapa teori
motivasi:
1. Teori Hirarki Kebutuhan
Menurut Maslow dalam Suwatno (2011), berpendapat bahwa manusia
memiliki satu kesatuan jiwa dan raga yang bernilai baik dan memiliki
potensipotensi.
Hipotesis bahwa dalam setiap diri manusia terdapat lima kebutuhan,
yaitu :
1) Fisiologis (Physiological), yaitu kebutuhan dasar berupa kebutuhan
fisiologis seperti : makan, minum, seksual dan kebutuhan fisik lainnya.
2) Rasa aman (Safety and security), yaitu kebutuhan rasa ingin dilindungi dari
bahaya fisik dan emosional (aman).
3) Rasa memiliki atau Social (Belongingness and love), yaitu kebutuhan rasa
kasih sayang, kepemilikan, penerimaan dan persahabatan.
4) Penghargaan (Esteem), yaitu kebutuhan akan harga diri, kebutuhan
dihormati dan dihargai orang lain (faktor penghargaan internal dan
eksternal).
5) Aktualisasi diri (Self actualizatin), yaitu kebutuhan untuk
menggunakan kemampuan skill, pertumbuhan, pencapaian potensi
seseorang dan pemenuhan diri sendiri.
2. Teori Kebutuhan Berprestasi ([Link] Theory Of Needs)
Motivasi sangat mempengaruhi produktivitas kerja, apabila motivasi tinggi
maka produktivitas kerja meningkat begitu pula sebaliknya. David
[Link] dalam A. A. Anwar Prabu Mangkunegara (2011) menganalisis
tentang tiga kebutuhan manusia yang sangat penting didalam suatu
organisasi tentang motivasi.
[Link] theory of needs memfokuskan kepada tiga hal, yaitu :
1) Kebutuhan akan prestasi (The Need for Achievement), yaitu kebutuhan akan
prestasi adalah kebutuhan seseorang untuk memiliki pencapaian signifikan,
menguasai berbagai keahlian atau memiliki standar yang tinggi. Orang
dengan motif berfrestasi yang tinggi akan lebih banyak berfikir tentang cara
melaksanakan pekerjaan yang lebih baik, atau hambatan yang mungkin
dihadapi. Untuk itu ia akan membuat rencana dengan perhitungan yang
matang. Ciri dari motif ini adalah
a. Memiliki hasrat untuk memikul tanggung jawab
pribadi dalam menentukan solusi atas masalah atau menjalankan
tugas-tugas.
b. Cenderung menempatkan tujuan yang mempunyai resiko moderat dan
dapat diperhitungkan; cukup menantang namun pasti dapat dicapai.
c. Membutuhkan umpan balik yang konkrit terhadap pekerjaannya.
d. Berusaha melakukan sesuatu dengan cara baru yang lebih baik
dan kreatif.
2) Kebutuhan akan kekuasaan (The Need for Authority and Power), yaitu
kebutuhan untuk membuat orang lain berperilaku dalam suatu cara
dimana orang- orang itu tanpa dipaksa tidak akan berperilaku
demikian atau suatu bentuk ekspresi dari individu untuk
mengendalikan dan mempengaruhi orang lain. Orang yang
mempunyai motif kekuasaan yang tinggi banyak menggunakan
waktunya untuk berfikir tentang cara mempengaruhi orang lain dan
sangat memperhatikan kedudukan atau statusnya.
Ciri dari motif ini adalah:
a. Memiliki hasrat untuk mengarahkan dan mengendalikan orang lain.
b. Sangat aktif dalam menentukan arah kegiatan organisasi.
c. Sangat peduli menjaga hubungan pemimpin-pengikut.
d. Senang mengumpulkan barang atau benda menjadi anggota
perkumpulan yang mencerminkan prestise dan Seringkali berusaha
menolong orang lain tanpa diminta.
3) Kebutuhan untuk berafiliasi atau bersahabat (The Need for Affiliation),
yaitu kebutuhan yang didasari oleh keinginan untuk mendapatkan
ataumenjalankan hubungan yang baik dengan orang lain. Motif ini memiliki
ciri sebagai berikut :
a. Memiliki hasrat kuat untuk mencari kesepakatan atau persetujan dari orang
lain.
b. Mempunyai perhatian yang tulus terhadap perasaan orang lain.
Lebih menyukai bersama orang lain.
c. Sering berkomunikasi dengan orang lain.
d. Lebih memperhatikan segi hubungan pribadi yang ada dalam pekerjaan dari
pada segi tugasnya.
e. Melakukan pekerjaan dengan lebih efektif bila bekerja sama dengan orang
lain secara kooperatif.
3. Teori Dua Faktor (Theory Herzberg)
Menurut Herzberg (2011), menjelaskan bahwa teori model dua faktor dari
motivasi, yaitu faktor motivasional dan hygiene atau pemeliharaan. Pada
teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong
berprestasi yang sifatnya intrisik, antara lain : pekerjaan seseorang,
keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh dan pengakuan orang lain,
sedangkan faktor hygiene adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik,
seperti status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu
dengan atasannya, kebijakan organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan
yang berlaku.
1. Disiplin Kerja
Faktor tingkat kedisiplinan sumber daya manusia dapat dijadiikan salah satu
tolak ukur pencapaian prestasi dan produktivitas kerja yang mampu diraih
oleh karyawan yang pada akhir berpengaruh pada tujuan yang diharapkan
perusahaan. Tingkat kedisiplinan ini merupakan salah satu fungsi kegiatan
manajemen sumber daya manusia yang terpenting dan harus lebih
diperhatikan, karena semakin baik disiplin karyawan, maka akan semakin
tinggi prestasi kerja yang dapat dicapainya. Tanpa disiplin karyawan dengan
baik dan adil, sulit pula bagi organisasi perusahaan untuk mencapai hasil
optimal yang ingin diharapkan pada karyawannya.
Menurut Keith Davis dalam A. A. Anwar Prabu
Mangkunegara (2011), “Dicipline is management action to enforce
organization standards, yaitu sebagai pelaksanaan manajemen yang
digunakan untuk memperteguh pedomanpedoman organisasi”.
Selanjutnya menurut Siagian (2008) menyatakan bahwa
“pendisiplinan pegawai adalah suatu bentuk pelatihan yang berusaha
memperbaiki dan membentuk pengetahuan, sikap dan perilaku pegawai,
sehingga secara sukarela berusaha bekerja kooperatif dengan para pegawai
yang lain serta meningkatkan prestasi kerja.”
Lebih lanjut Hani Handoko (2010) mengemukakan disiplin
merupakan kegiatan manajemen untuk menjalankan standar-standar
organisasional.
Edi Sutrisno (2010) mengemukakan disiplin karyawan adalah
perilaku seseorang yang sesuai dengan peraturan, prosedur kerja yang ada.
Disiplin adalah sikap, tingkah laku dan perbuatan yang sesuai dengan
peraturan organisasi baik secara tertulis maupun yang tidak tertulis.
Siagian (2008) menyatakan bahwa : “Disiplin merupakan tindakan
manajemen untuk mendorong para anggota organisasi memenuhi tuntutan
berbagai ketentuan tersebut.”
Veithzal Rivai (2011) bahwa : “Disiplin kerja adalah suatu alat
yang dipergunakan para manajer untuk berkomunikasi dengan karyawan
agar mereka bersedia untuk mengubah suatu perilaku serta sebagai suatu
upaya untuk meningkatkan kesadaran dan kesedian seorang dalam
memenuhi segala peraturan perusahaan.”
Selain itu menurut Singodimenjo dalam Edi Sutrisno (2010)
bahwa : “Disiplin adalah sikap kesediaan dan kerelaan seseorang untuk
mematuhi dan mentaati norma-norma peraturan yang berlaku di sekitarnya.”
Dari beberapa pengertian disiplin kerja yang dikemukakan oleh
beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa disiplin kerja adalah sikap
kesadaran,kerelaan dan kesedian seseorang dalam mematuji dan menaati
peraturan dan norma-norma social yang berlaku di lingkungan sekitar.
Pengertian Kinerja.
Sebelum membahas pengertian kinerja, terlebih dahulu dijelaskan
bahwa suatu organisasi dalam mencapai tujuan yang ditetapkan harus
melalui sarana dalam bentuk organisasi yang digerakkan oleh sekelompok
orang (group of humanbeing) yang berperan aktif sebagai pelaku dalam
upaya mencapai tujuan lembaga atau organisasi yang bersangkutan. Tujuan
dapat tercapai apabila ada upaya para pelaku organisasi tersebut.
Hubungan antara kinerja perorangan (individual performance)
dengan kinerja lembaga (institutional performance) atau kinerja
perusahaan (individual performance) sangat erat. Dengan pengertian
bila kinerja pegawai (individual performance) baik maka
kemungkinan besar kinerja perusahaan (individual performance) juga
baik.
Menurut Oxford Dictionary dalam Moeheriono (2010),
kinerja (performance) merupakan suatu tindakan proses atau cara bertindak
atau melakukan fungsi organisasi. Sebenarnya kinerja merupakan suatu
konstruk, dimana banyak para ahli memiliki sudut pandang yang berbeda
dalam mendefinisikan kinerja tersebut.
Kerangka Pikiran.
Berdasarkan uraian di atas, maka disusunlah kerangka pemikiran
yang menggambarkan hubungan antar variabel kompensasi dan motivasi
dengan variabel kinerja karyawan sebagaimana pada gambar berikut ini.
Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran
Motivasi (X1) H1
1.
Hubungan motivasi Kinerja
terhadappegawai
kinerja.
H3 (Y)
Disiplin (X2)
H2
2. Hubungan disiplin kerja terhadap kinerja
3. Hubungan motivasi dan disiplin kerja secara bersama-sama terhadap
kinerja