0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
81 tayangan362 halaman

Laporan Tugas Besar Perancangan Jalan

Dokumen tersebut merupakan laporan tugas besar perancangan jalan yang disusun oleh tiga mahasiswa Teknik Sipil UII. Laporan ini berisi pendahuluan tentang latar belakang, peta lokasi, standar teknis jalan, koordinat trase, dan kondisi medan jalan. Selanjutnya berisi langkah-langkah pembuatan jalan baru dan langkah membuat trase jalan menggunakan berbagai perangkat lunak.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
81 tayangan362 halaman

Laporan Tugas Besar Perancangan Jalan

Dokumen tersebut merupakan laporan tugas besar perancangan jalan yang disusun oleh tiga mahasiswa Teknik Sipil UII. Laporan ini berisi pendahuluan tentang latar belakang, peta lokasi, standar teknis jalan, koordinat trase, dan kondisi medan jalan. Selanjutnya berisi langkah-langkah pembuatan jalan baru dan langkah membuat trase jalan menggunakan berbagai perangkat lunak.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS BESAR

PERANCANGAN JALAN
Semester Genap Tahun Akademik 2021/2022

Dosen:
Mochammad Sigit D., lr., M.T.

Dikerjakan oleh:
Kelas : C/Genap/2021-2022
Kelompok :D

1. Nama : Dewi Ayu Harjani


No. mahasiswa : 19511058
2. Nama : Muhammad Arkam Mussadat
No. mahasiswa : 19511060
3. Nama : Defira Amaralda Rizky Nurlitasari
No. mahasiswa : 19511066

Jurusan Teknik Sipil


Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Universitas Islam Indonesia
Yogyakarta
2022
LEMBAR PENGESAHAN
TUGAS BESAR
PERANCANGAN JALAN

Disusun oleh :

KELOMPOK D/ KELAS C/ GENAP/ 2021-2022

Dewi Ayu Harjani 19 511 058

Muhammad Arkam Mussadat 19 511 060

Defira Amaralda Rizky N. 19 511 066

Telah diperiksa dan disetujui oleh :

Dosen Pengampu,

Mochammad Sigit D., lr., M.T.


Tanggal : 11 Juli 2022
SURAT PERNYATAAN

Kami, mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,
Universitas Islam Indonesia. Yang bertanda tangan ini adalah:

1. Nama : Dewi Ayu Harjani


No. mahasiswa : 19511058

2. Nama : Muhammad Arkam Mussadat


No. mahasiswa : 19511060

3. Nama : Defira Amaralda Rizky Nurlitasari


No. mahasiswa : 19511066

Sedang menempuh/mengambil mata kuliah sebagai berikut:

Mata Kuliah : Perancangan Jalan


Kelas :C
Dosen Pengampu : Mochammad Sigit D., lr., M.T.
Semester : 6 (Enam)

Dengan penuh kesadaran dalam rangka turut serta dan berperan aktif menegakkan
nilai-nilai kejujuran yang ditanamkan di dalam pendidikan di JTS, FTSP, UII guna
berlatih membentuk karakter yang Islami, kami dengan ini menyatakan dengan
sejujur-jujurnya sebagai berikut ini.

1. Kami sanggup mengerjakan tugas besar ini dengan sebaik-baiknya sesuai


dengan ketentuan dalam KAK (Kerangka Acuan Kerja) yang telah ditetapkan
oleh dosen pengampu mata kuliah.
2. Kami sanggup mengikuti persyaratan perkuliahan/asistensi dan ketentuan-
ketentuan lain termasuk cara perhitungan dan gambar detail alinyemen jalan
sebagaimana disampaikan di kelas oleh dosen pengampu mata kuliah.
3. Kami sanggup mengerjakan tugas besar ini secara mandiri tanpa meminta
bantuan orang lain (termasuk asisten) dalam bentuk apapun kecuali diskusi
secara keilmuan untuk memahami ilmu dan mencari solusi masalah yang kami
hadapi.

iii
4. Kami menyatakan bahwa kami menggunakan aplikasi Google Earth Pro, Global
Mapper, Civil 3D, Autocad, Google Document, dan Microsoft Office yang telah
berlisensi dengan menggunakan student version.
5. Kami sanggup tidak melakukan kecurangan dalam bentuk apapun termasuk
mengganti data teknis tugas besar yang telah ditentukan oleh dosen
pengampu/asisten, tidak akan memanipulasi tugas baik hasil perhitungan
maupun gambar detail penulangan dari hasil/milik orang lain dengan cara
mencontek, mengkopi atau men-scan gambar-gambar penulangan.
6. Apabila di kemudian hari ditemukan oleh asisten/dosen adanya kecurangan-
kecurangan akademik, maka kami ikhlas menerima sanksi pembatalan tugas
besar ini dengan konsekuensi tidak memperoleh nilai tugas besar sebagai syarat
kelulusan mata kuliah ini.

Demikianlah surat pernyataan ini kami buat dengan sebenar-benarnya dan sejujur-
jujurnya tanpa paksaan dari siapapun agar kami memperoleh hidayah dan barokah
ilmu dari Allah SWT untuk menyongsong masa depan kami yang lebih baik dan
berkarakter islami yang kuat.

Yogyakarta,

Kami yang menyatakan:

Dewi Ayu Harjani M. Arkam Mussadat Defira Amaralda Rizky N.

NIM : 19511058 NIM : 19511060 NIM : 19511066

iv
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL
UNTUK MAHASISWA

LEMBAR KONSULTASI TUGAS BESAR

KELAS :C
KELOMPOK :D

NO NAMA MAHASISWA NO. MHS.

1 Dewi Ayu Harjani 19 511 058

2 Muhammad Arkam Mussadat 19 511 060

3 Defira Amaralda Rizky Nurlitasari 19 511 066

JUDUL LAPORAN TUGAS BESAR

LAPORAN TUGAS BESAR PERANCANGAN JALAN


MATA KULIAH: PERANCANGAN JALAN
DOSEN PENGAMPU: MOCHAMMAD SIGIT D., lr., M.T.
TAHUN AKADEMIK: GENAP 2021-2022

Yogyakarta, 11 Juli 2022

Dosen Pengampu

v
CATATAN KONSULTASI LAPORAN
NO TANGGAL KONSULTASI TANDA
TANGAN

vi
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-
Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Besar Perancangan
Jalan. Laporan ini merupakan salah satu syarat mata kuliah Perancangan Jalan yang
wajib ditempuh di Jurusan Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia.
Pada kesempatan kali ini penulis juga ingin mengucapkan rasa terima kasih
kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan serta motivasinya dalam
penyelesaian laporan ini, diantaranya yaitu kepada :
1. Bapak Mochammad Sigit Darmosudiharjo selaku dosen Perancangan Jalan.
2. Semua pihak yang telah membantu menyelesaikan Laporan Tugas Besar
Perancangan Jalan ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari laporan ini, baik dari
materi maupun teknik penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan dan
pengalaman penulis. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat
penulis harapkan. Semoga laporan ini bisa bermanfaat bagi penulis pada khususnya
serta mahasiswa pada umumnya.

Yogyakarta, 7 Juli 2022

Penulis,

vii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. I


LEMBAR PENGESAHAN ..................................................................................II
SURAT PERNYATAAN .................................................................................... III
LEMBAR KONSULTASI TUGAS BESAR ....................................................... V
CATATAN KONSULTASI LAPORAN ........................................................... VI
KATA PENGANTAR ........................................................................................ VII
DAFTAR ISI ..................................................................................................... VIII
DAFTAR TABEL .............................................................................................. XII
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ XVI
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1 UMUM ......................................................................................................1
1.1.1 Latar Belakang ...................................................................................1
1.1.2 Peta Lokasi .........................................................................................3
1.1.3 Penentuan Standar Teknis Jalan .........................................................4
1.1.4 Koordinat Trase..................................................................................5
1.1.5 Penentuan Kondisi Medan Jalan ........................................................6
1.2 JALAN RAYA BARU ..............................................................................7
1.2.1 Langkah-Langkah Pembuatan Jalan Baru ..........................................7
1.2.2 Faktor Pemilihan Trase ....................................................................11
1.3 LANGKAH LANGKAH MEMBUAT TRASE JALAN.........................12
1.3.1 Langkah 1 (Google Earth Pro 2022) ................................................12
1.3.2 Langkah 2 (Global Mapper v20.1) ...................................................18
1.3.3 Langkah 3 (Google Earth Pro 2022) ................................................30
1.3.4 Langkah 4 (Autocad 2021)...............................................................33
BAB II TRASE DAN ALINYEMEN ................................................................. 46
2.1 LALU LINTAS HARIAN RATA-RATA TAHUNAN...........................46
2.1.1 Perhitungan Lintas Harian Rerata (LHR) ........................................50
2.1.2 Rekapitulasi Perhitungan LHR ........................................................51

viii
2.1.3 Radius Putar Kendaraan ...................................................................52
2.2 KLASIFIKASI JALAN ...........................................................................54
2.2.1 Kelas jalan ........................................................................................54
2.2.2 Fungsi jalan ......................................................................................54
2.2.3 Status jalan .......................................................................................55
2.3 PEMBUATAN TRASE ...........................................................................56
2.4 PENENTUAN KELAS JALAN DAN LEBAR LAJUR .........................60
2.5 KONDISI MEDAN JALAN ....................................................................63
2.6 PENENTUAN JENIS LENGKUNG HORIZONTAL ............................78
2.7 PERHITUNGAN KOORDINAT ............................................................85
2.8 PERHITUNGAN STASIUN ...................................................................89
2.9 JARAK PANDANG ................................................................................91
2.9.1 Teori Pengantar ................................................................................91
2.9.2 Jarak Pandang Henti (JH).................................................................91
2.9.3 Jarak Pandang Menyiap (JD) ...........................................................92
2.9.4 Perhitungan Jarak Pandang ..............................................................93
2.9.5 Perhitungan Ruang Bebas Samping dan Pelebaran .........................95
2.10 SUPERELEVASI ..................................................................................100
2.10.1 Diagram Superelevasi Trase 1 ......................................................103
2.10.2 Diagram Superelevasi Trase 2 ......................................................106
2.11 ALINYEMEN VERTIKAL ..................................................................110
2.11.1 Perhitungan Alinyemen Vertikal Trase 1 .....................................111
2.11.2 Perhitungan Alinyemen Vertikal Trase 2 .....................................125
2.12 KOORDINASI ALINYEMEN VERTIKAL DAN HORIZONTAL ....................139
2.12.1 Koordinasi Alinyemen Horizontal dan Alinyemen Vertikal Trase 1
......................................................................................................................139
2.12.2 Koordinasi Alinyemen Horizontal dan Alinyemen Vertikal pada
Trase 2...........................................................................................................140
BAB III PERENCANAAN LAPIS PERKERASAN....................................... 143
3.1 UMUM ..................................................................................................143

ix
3.2 PERENCANAAN LAPIS PERKERASAN LAJUR UTAMA TRASE 1 ...
...............................................................................................................151
3.2.1 Analisa komponen perkerasan .......................................................151
3.2.2 CBR rencana ..................................................................................154
3.2.3 Bagan desain perkerasan lentur - aspal dengan lapis pondasi berbutir
........................................................................................................157
3.3 PERENCANAAN LAPIS PERKERASAN BAHU JALAN TRASE 1 159
BAB IV BANGUNAN PELENGKAP JALAN ................................................ 162
4.1 UMUM ..................................................................................................162
4.2 BANGUNAN PELENGKAP TRASE 1 ................................................162
4.2.1 Bangunan Drainase Jalan ...............................................................162
4.2.2 Perhitungan Drainase Permukaan ..................................................163
BAB V POTONGAN MELINTANG DAN MEMANJANG .......................... 177
5.1 UMUM ..................................................................................................177
5.1.1 Potongan Melintang Jalan ..............................................................179
5.1.2 Potongan Memanjang Jalan ...........................................................181
5.2 POTONGAN MELINTANG DAN MEMANJANG (TRASE 1) ..........183
5.2.1 Perhitungan Potongan Jalan ...........................................................184
5.2.2 Detail Lapisan Jalan .......................................................................184
5.2.3 Rekapitulasi Potongan Jalan (Galian dan Timbunan) ....................185
BAB VI RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) ........................................ 190
6.1 UMUM ..................................................................................................190
6.2 DATA PROYEK ...................................................................................192
6.3 METODE KERJA .................................................................................192
6.3 DAFTAR HARGA ................................................................................203
6.3.1 Daftar Harga Upah .........................................................................203
6.2.2 Daftar Harga Bahan........................................................................204
6.3.3 Daftar Harga Alat ...........................................................................205
6.4 KEBUTUHAN ALAT BERAT ............................................................206
6.4.1 Pekerjaan Drainase .........................................................................207
6.4.2 Pekerjaan Tanah .............................................................................211

x
6.4.3 Pelebaran dan Perkerasan Bahu Jalan ............................................218
6.4.4 Pekerjaan Tanah .............................................................................222
6.4.5 Pekerjaan Tanah .............................................................................224
6.4.6 Pekerjaan Jalan ....................................................................................232
6.5 ANALISIS HARGA SATUAN .............................................................234
6.5.1 Divisi Umum ..................................................................................234
6.5.2 Divisi 2 Drainase ............................................................................235
6.5.3 Divisi 3 Pekerjaan Tanah ...............................................................236
6.5.4 Divisi 4 Pelebaran dan Perkerasan Bahu Jalan ..............................238
6.5.5 Divisi 5 Pekerjaan Berbutir............................................................239
6.5.6 Divisi 6 Pekerjaan Aspal................................................................240
6.5.7 Divisi 7 Pengembalian Kondisi dan Pekerjaan Minor ...................242
6.6 RENCANA ANGGARAN BIAYA.......................................................245
6.7 REKAPITULASI RAB .........................................................................246
6.8 KURVAS S............................................................................................247
6.9 TIME SCHEDULE ................................................................................248
BAB VII RENCANA KERJA DAN SYARTA-SYARAT .............................. 250
7.1 SYARAT-SYARAT UMUM ................................................................250
7.2 SYARAT-SYARAT ADMINISTRASI ................................................263
7.3 SYARAT-SYARAT TEKNIK ..............................................................279
PENUTUP ........................................................................................................... 315
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 315
LAMPIRAN ........................................................................................................ 317

xi
DAFTAR TABEL

TABEL 1.1 KOEFISIEN HARGA SATUAN MOBIL PENUMPANG


KENDARAAN ........................................................................................................ 4
TABEL 1.2 KLASIFIKASI MENURUT MEDAN JALAN ................................... 6
TABEL 1.3 EKIVALEN MOBIL PENUMPANG (SMP) ...................................... 6
TABEL 1.4 KECEPATAN RENCANA (VR) SESUAI KLASIFIKASI FUNGSI
DAN KLASIFIKASI MEDAN JALAN. ................................................................. 7
TABEL 2.1 DATA LALU LINTAS ACEH TAHUN 2020 .................................. 47
TABEL 2.2 HASIL PENGELOMPOKAN KENDARAAN ................................. 47
TABEL 2.3 EKIVALENSI MOBIL PENUMPANG (EMP) ................................ 49
TABEL 2.4 REKAPITULASI PERHITUNGAN LHR 2024 ................................ 51
TABEL 2.5 PENILAIAN TRASE 2 ...................................................................... 59
TABEL 2.6 PENILAIAN TRASE 1 DAN TRASE 2............................................ 60
TABEL 2.7 REKAPITULASI PERHITUNGAN MEDAN JALAN TRASE 1 .... 63
TABEL 2.8 REKAPITULASI PERHITUNGAN MEDAN JALAN TRASE 2 .... 71
TABEL 2.9 REKAPITULASI KOORDINAT TITIK PENTING ......................... 88
TABEL 2.10 PANJANG JARAK MENYIAP ...................................................... 93
TABEL 2.11 REKAPITULASI PERHITUNGAN KELANDAIAN PADA
TRASE 1 .............................................................................................................. 112
TABEL 2.12 REKAPITULASI PERHITUNGAN PPV TRASE 1 ..................... 113
TABEL 2.13 REKAPITULASI PERHITUNGAN EV TRASE 1 ....................... 115
TABEL 2.14 REKAPITULASI ELEVASI DAN STASIUN PPV ...................... 118
TABEL 2.15 REKAPITULASI PERHITUNGAN ELEVASI DAN STASIUN
PVC ...................................................................................................................... 119
TABEL 2.16 REKAPITULASI PERHITUNGAN PVT ..................................... 120
TABEL 2.17 REKAPITULASI PERHITUNGAN ELEVASI LENGKUNG ..... 121
TABEL 2.18 REKAPITULASI PERHITUNGAN KELANDAIAN PADA
TRASE 2 .............................................................................................................. 126
TABEL 2.19 REKAPITULASI PERHITUNGAN PPV TRASE 2 ..................... 127

xii
TABEL 2.20 REKAPITULASI PERHITUNGAN EV TRASE 2 ....................... 129
TABEL 2.21 REKAPITULASI ELEVASI DAN STASIUN PPV PADA TRASE
2 ............................................................................................................................ 131
TABEL 2.22 REKAPITULASI PERHITUNGAN ELEVASI DAN STASIUN
PVC ...................................................................................................................... 132
TABEL 2.23 REKAPITULASI PERHITUNGAN PVT ..................................... 134
TABEL 2.24 REKAPITULASI PERHITUNGAN ELEVASI LENGKUNG ..... 135
TABEL 3.1 NILAI VDF MASING-MASING JENIS KENDARAAN NIAGA 144
TABEL 3.2 ANGKA EKIVALEN BEBAN SUMBU KENDARAAN .............. 145
TABEL 3.3 DISTRIBUSI BEBAN SUMBU DARI BERBAGAI JENIS
KENDARAAN .................................................................................................... 145
TABEL 3.4 FAKTOR REGIONAL (FR) ............................................................ 147
TABEL 3.5 INDEKS PERMUKAAN AKHIR RENCANA (IP) ........................ 147
TABEL 3.6 INDEKS PERMUKAAN AWAL RENCANA (IPO) ..................... 148
TABEL 3.7 KOEFISIEN KEKUATAN RELATIF ............................................ 149
TABEL 3.8 TEBAL MINIMUM UNTUK LAPIS PERMUKAAN ................... 150
TABEL 3.9 TEBAL MINIMUM UNTUK LAPIS PONDASI ........................... 150
TABEL 3.10 DATA LALU LINTAS .................................................................. 152
TABEL 3.11 DATA CBR TANAH ..................................................................... 154
TABEL 3.12 DATA CBR TANAH ..................................................................... 154
TABEL 3.13 HASIL PERHITUNGAN DATA CBR.......................................... 157
TABEL 4.1 KOEFISIEN PENGALIRAN (𝜶) .................................................... 164
TABEL 4.2 KOEFISIEN PENGALIRAN BERDASARKAN KONDISI
PERMUKAAN TANAH (A) ............................................................................... 166
TABEL 4.3 KECEPATAN ALIRAN AIR IJIN BERDASARKAN JENIS
MATERIAL ......................................................................................................... 167
TABEL 4.4 KECEPATAN ALIRAN AIR IJIN BERDASARKAN
KEMIRINGAN SALURAN ................................................................................ 168
TABEL 4.5 KECEPATAN ALIRAN AIR IJIN BERDASARKAN
KEMIRINGAN SALURAN ................................................................................ 168
TABEL 4.6 REKAPITULASI DRAINASE ........................................................ 172

xiii
TABEL 4.7 REKAPITULASI GORONG-GORONG......................................... 176
TABEL 5.1 REKAPITULASI GALIAN DAN TIMBUNAN ............................. 185
TABEL 6.1 DAFTAR HARGA UPAH ............................................................... 203
TABEL 6.2 DAFTAR HARGA BAHAN ........................................................... 204
TABEL 6.3 DAFTAR HARGA ALAT ............................................................... 205
TABEL 6.4 KEBUTUHAN ALAT BERAT ....................................................... 206
TABEL 6.5 AHS MOBILISASI .......................................................................... 234
TABEL 6.6 AHS MANAJEMEN MUTU ........................................................... 235
TABEL 6.7 AHS GALIAN UNTUK SELOKAN DRAINASE DAN SALURAN
AIR ....................................................................................................................... 235
TABEL 6.8 AHS GALIAN UNTUK SELOKAN DRAINASE DAN SALURAN
AIR ....................................................................................................................... 236
TABEL 6.9 AHS GALIAN.................................................................................. 236
TABEL 6.10 AHS TIMBUNAN ......................................................................... 237
TABEL 6.11 AHS PENYIAPAN BADAN JALAN ........................................... 237
TABEL 6.12 AHS PEMBERSIHAN DAN PENGUPASAN JALAN ................ 238
TABEL 6.13 AHS LAPIS PONDASI ATAS AGREGAT KELAS A ................ 239
TABEL 6.14 AHS LAPIS PONDASI ATAS AGREGAT KELAS S ................. 239
TABEL 6.15 AHS LPA ....................................................................................... 240
TABEL 6.16 AHS LAPIS RESAP PENGIKAT ................................................. 240
TABEL 6.17 AHS LAPIS RESAP PEREKAT ................................................... 241
TABEL 6.18 AHS LASTON LAPIS AUS (AC-WC) ......................................... 241
TABEL 6.19 AHS LASTON LAPIS ANTARA (AC-BC) ................................. 242
TABEL 6.20 AHS LASTON LAPIS ANTARA (AC-BASE) ............................ 242
TABEL 6.21 AHS MARKA JALAN TERMOPLASTIK ................................... 243
TABEL 6.22 AHS PATOK KILOMETER ......................................................... 243
TABEL 6.23 AHS RAMBU JALAN TUNGGAL DENGAN PERMUKAAN
PEMANTUL ENGINEERING GRADE ............................................................. 244
TABEL 6.24 AHS REL PENGAMAN ................................................................ 244
TABEL 6.25 AHS LAMPU JALAN ................................................................... 245
TABEL 6.26 AHS MEDIAN ............................................................................... 245

xiv
TABEL 6.27 RENCANA ANGGARAN BIAYA ............................................... 246
TABEL 6.28 REKAPITULASI RAB .................................................................. 246
TABEL 6.29 TIME SCHEDULE ........................................................................ 248

xv
DAFTAR GAMBAR

GAMBAR 1.1 PETA LOKASI PEKERJAAN DI ACEH ....................................4


GAMBAR 1.2 SAMBUNGAN MELINTANG....................................................9
GAMBAR 1.3 SAMBUNGAN MEMANJANG ................................................10
GAMBAR 1.4 STRUKTUR PERKERASAN JALAN ......................................10
GAMBAR 2.1 KONFIGURASI SUMBU KENDARAAN ................................48
GAMBAR 2.2 TOTAL BEBAN KENDARAAN ..............................................49
GAMBAR 2.3 RADIUS PUTAR KENDARAAN .............................................53
GAMBAR 2.4 PETA INTERAKTIF KLHK ......................................................57
GAMBAR 2.5 RENCANA TRASE 1 ................................................................58
GAMBAR 2.6 RENCANA TRASE 2 ................................................................59
GAMBAR 2.7 PENENTUAN KELAS JALAN .................................................61
GAMBAR 2.8 PENENTUAN LEBAR JALUR DAN BAHU JALAN ..............61
GAMBAR 2.9 PERSYARATAN TEKNIS JALAN ..........................................62
GAMBAR 2.10 JARAK PANDANG HENTI LENGKUNG VERTIKAL
CEMBUNG ........................................................................................................91
GAMBAR 2.11 JARAK PANDANG HENTI LENGKUNG VERTIKAL
CEKUNG ...........................................................................................................92
GAMBAR 2.12 JARAK PANDANG MENYIAP ..............................................93
GAMBAR 2.13 DIAGRAM SUPERELEVASI UNTUK TIKUNGAN FULL
CIRCLE ............................................................................................................101
GAMBAR 2.14 DIAGRAM SUPERELEVASI UNTUK TIKUNGAN SPIRAL-
CIRCLE-SPIRAL .............................................................................................102
GAMBAR 2.15 DIAGRAM SUPERELEVASI TIKUNGAN 1 TRASE 1 ......104
GAMBAR 2.16 DIAGRAM SUPERELEVASI TIKUNGAN 2 TRASE 1 ......105
GAMBAR 2.17 DIAGRAM SUPERELEVASI TIKUNGAN 3 TRASE 1 ......106
GAMBAR 2.18 DIGRAM SUPERELEVASI TIKUNGAN 1 TRASE 2 .........107
GAMBAR 2.19 DIAGRAM SUPERELEVASI TIKUNGAN 2 TRASE 2 ......108
GAMBAR 2.20 DIAGRAM SUPERELEVASI TIKUNGAN 3 TRASE 2 ......109

xvi
GAMBAR 2.21 DIAGRAM SUPERELEVASI TIKUNGAN 4 TRASE 2 ......110
GAMBAR 2.22 DETAIL ALINYEMEN VERTIKAL PPV 1 .........................122
GAMBAR 2.23 DETAIL ALINYEMEN VERTIKAL PPV 2 .........................122
GAMBAR 2.24 DETAIL ALINYEMEN VERTIKAL PPV 3 .........................123
GAMBAR 2.25 DETAIL ALINYEMEN VERTIKAL PPV 4 .........................123
GAMBAR 2.26 DETAIL ALINYEMEN VERTIKAL PPV 5 .........................124
GAMBAR 2.27 DETAIL ALINYEMEN VERTIKAL PPV 6 .........................124
GAMBAR 2.28 DETAIL ALINYEMEN VERTIKAL PPV 7 .........................125
GAMBAR 2.29 DETAIL ALINYEMEN VERTIKAL PPV 8 .........................125
GAMBAR 2.30 DETAIL ALINYEMEN VERTIKAL PPV 1 .........................135
GAMBAR 2.31 DETAIL ALINYEMEN VERTIKAL PPV 2 .........................136
GAMBAR 2.32 DETAIL ALINYEMEN VERTIKAL PPV 3 .........................136
GAMBAR 2.33 DETAIL ALINYEMEN VERTIKAL PPV 4 .........................137
GAMBAR 2.34 DETAIL ALINYEMEN VERTIKAL PPV 5 .........................137
GAMBAR 2.35 DETAIL ALINYEMEN VERTIKAL PPV 6 .........................138
GAMBAR 2.36 DETAIL ALINYEMEN VERTIKAL PPV 7 .........................138
GAMBAR 2.37 DETAIL ALINYEMEN VERTIKAL PPV 8 .........................139
GAMBAR 2.38 ALINYEMEN HORIZONTAL TRASE 1 .............................140
GAMBAR 2.39 ALINYEMEN VERTIKAL TRASE 1 ...................................140
GAMBAR 2.40 KOORDINASI ALINYEMEN TRASE 1 ..............................140
GAMBAR 2.41 ALINYEMEN HORIZONTAL TRASE 2 .............................141
GAMBAR 2.42 ALINYEMEN VERTIKAL TRASE 2 ...................................141
GAMBAR 2.43 KOORDINASI ALINYEMEN TRASE 2 ..............................141
GAMBAR 3.1 GRAFIK CBR ..........................................................................157
GAMBAR 3.2 BAGAN DESAIN PERKERASAN LENTUR - ASPAL
DENGAN LAPIS PONDASI BERBUTIR.......................................................158
GAMBAR 3.2 BAGAN DESAIN PONDASI JALAN MINIMUM .................158
GAMBAR 3.3 TEBAL PERKERASAN LENTUR .........................................159
GAMBAR 3.4 TEBAL LAPIS PERKERASAN TRASE 1 ..............................161
GAMBAR 4.1 POTONGAN MELINTANG JALAN ......................................163
GAMBAR 4.2 DAERAH TANGKAPAN HUJAN ..........................................163

xvii
GAMBAR 4.3 TAMPANG MELINTANG SALURAN DRAINASE .............171
GAMBAR 4.4 DIMENSI DRAINASE SALURAN 1 ......................................172
GAMBAR 4.5 TAMPANG MELINTANG GORONG-GORONG
CATCHMENT 1 ..............................................................................................174
GAMBAR 4.6 PENAMPANG MELINTANG GORONG-GORONG
CATCHMENT 1 ..............................................................................................175
GAMBAR 4.7 PENAMPANG MELINTANG GORONG-GORONG
CATCHMENT 1 DAN KETEBALANNYA ...................................................175
GAMBAR 5.1 TRASE YANG DIPIILIH ........................................................184
GAMBAR 5.2 PEMBAGIAN LUAS POTONGAN JALAN MELINTANG ..184
GAMBAR 5.3 KETERANGAN LAPISAN JALAN .......................................185
GAMBAR 6.1 FLOW CHART PEMBUATAN RAB .......................................191
GAMBAR 6.2 FLATBED TRUCK..................................................................193
GAMBAR 6.3 MINI EXCAVATOR ...............................................................193
GAMBAR 6.4 DUMP TRUCK 4 TON ............................................................194
GAMBAR 6.5 TRUCK CRANE ......................................................................194
GAMBAR 6.6 EXCAVATOR BACKHOE .....................................................195
GAMBAR 6.7 DUMP TRUCK TRONTON ....................................................195
GAMBAR 6.8 MOTOR GRADER ..................................................................196
GAMBAR 6.9 VIBRO ROLLER .....................................................................196
GAMBAR 6.10 TANDEM ROLLER ..............................................................197
GAMBAR 6.11 WATER TANK ......................................................................198
GAMBAR 6.12 WHEEL LOADER .................................................................198
GAMBAR 6.13 ASPHALT DISTRIBUTOR ...................................................199
GAMBAR 6.14 COMPRESSOR .....................................................................199
GAMBAR 6.15 ASPHALT MIXING PLANT.................................................200
GAMBAR 6.16 GENERATOR SET ................................................................200
GAMBAR 6.17 ASPHALT FINISHER ...........................................................201
GAMBAR 6.18 TIRE ROLLER .......................................................................201
GAMBAR 6.19 THERMOPLASTIC ROAD MARKING MACHINE ...........202
GAMBAR 6.20 TRUCK ..................................................................................202

xviii
GAMBAR 6.21 GRAFIK KURVA S ...............................................................247

xix
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Umum
1.1.1 Latar Belakang
Jalan raya merupakan jalan yang besar dan lebar yang dapat digunakan
untuk menghubungkan satu kawasan dengan kawasan lainnya. Jalan raya memiliki
peran penting sebagai penggerak dalam bidang ekonomi yaitu untuk
kesinambungan distribusi barang dan jasa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI), jalan merupakan prasarana yang digunakan masyarakat untuk melintas,
baik dengan menggunakan kendaraan ataupun dengan cara lainnya. Penggunaan
jalan raya telah diatur dalam Undang-Undang. Berdasarkan UU RI 38 Tahun 2004,
jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan,
termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu
lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah
permukaan tanah dan/air serta di atas permukaan air kecuali jalan kereta api, jalan
lari dan jalan kabel.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat populasi penduduk
yang tinggi di dunia. Hal ini dapat dilihat pada data statistik tahun 2020, Indonesia
menempati peringkat ke-4 sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak di
dunia sebesar 273.523.615 jiwa. Jumlah penduduk tersebut mendorong adanya
pembangunan prasarana transportasi jalan yang seharusnya berbanding lurus
dengan tingkat kepadatan penduduk. Selain itu, peningkatan kepemilikan
kendaraan pribadi menyebabkan volume lalu lintas menjadi bertambah. Kapasitas
jalan yang tetap dan adanya peningkatan kendaraan dapat menyebabkan kemacetan
lalu lintas. Oleh karena itu, jalan merupakan kebutuhan yang penting bagi suatu
daerah dalam menunjang peningkatan pertumbuhan masyarakat dalam berbagai
bidang seperti politik, sosial , ekonomi, budaya dan hankam.

1
2

Tingginya kebutuhan masyarakat dan pencapaian target pertumbuhan


ekonomi nasional yang cukup tinggi mendorong adanya pembangunan prasarana
transportasi darat dengan kualitas yang baik seperti peningkatan pembangunan
jalan baru dan pemeliharaan prasarana darat yang sudah ada. Jaringan jalan ini
berperan untuk memperluas distribusi hasil-hasil pembangunan dan meningkatkan
aksesibilitas wilayah. Pembangunan sebuah jalan harus dilakukan semaksimal
mungkin serta memperhatikan proses analisis, perhitungan geometrik, desain,
pelaksanaan, perkerasan serta hal-hal lainnya yang berhubungan dengan proses
pembangunan jalan. Hal ini penting agar kondisi jalan dapat memberikan
pelayanan seoptimal mungkin sesuai dengan fungsi umur rencana serta menjaga
kondisi jalan tetap pada performa yang layak untuk melayani berbagai moda
transportasi. Salah satu provinsi yang berinisiatif untuk mengermbangkan ruas jalan
alternatif baru yaitu Provinsi Aceh. Prasarana ini diharapkan dapat menjadi jalan
penghubung bagi Jalan Lintas barat dan Lintas tengah Pulau Sumatera.
Dalam perencanaan jalan perlu adanya pertimbangan seperti bentuk
geometrik jalan yang mampu memberikan pelayanan serta kenyamanan, rasa aman
terhadap pengguna jalan dan mengoptimalkan fungsi jalan tersebut. Pembangunan
jalan ini dilakukan dengan menggunakan standar kelas jalan yang telah ditentukan
dengan mempertimbangkan dari segi biaya pembangunan, faktor keamanan dan
keselamatan baik dalam proses pembuatan sampai jalan itu digunakan oleh
pengguna jalan, serta konservasi terhadap lingkungan hidup.
Adanya hal-hal tersebut, maka perlu disusun suatu peraturan perencanaan
untuk memberi pengembangan secara bertahap. Perencanaan geometrik merupakan
bagian dari perencanaan jalan, dimana dimensi yang nyata dari suatu jalan serta
bagian-bagiannya disesuaikan dengan susunan serta sifat-sifat lalu lintas yang akan
melaluinya. Perencanaan geometrik secara umum menyangkut aspek-aspek
perencanaan bagian-bagian jalan antara lain :
1. Lebar jalan,
2. Tikungan,
3. Kelandaian,
4. Jarak pandang henti,
3

5. Jarak pandang menyiap dan juga,


6. Kondisi dari bagian-bagian tersebut.
Jarak pandang henti adalah jarak dimana kendaraan dapat berhenti dengan
aman (saat ketika pengemudi melihat rintangan hingga kendaraan berhenti sebelum
menabrak). Selain itu, perencanaan pertemuan jalan (Intersection atau interchange)
juga termasuk dalam geometrik ini.
1. Intersection : pertemuan jalan yang sebidang
2. Interchange : pertemuan jalan yang tidak sebidang
Perencanaan geometrik ini berhubungan dengan arus lalu lintas. Sedangkan,
perencanaan konstruksi berhubungan dengan beban lalu lintas yang melalui jalan
tersebut. Dalam menentukan tebal perkerasan diperlukan data berat kendaraan.
Adanya perencanaan jalan ini diharapkan dapat menciptakan perpaduan
yang waktu dan ruang yang baik sehubungan dengan kendaraan sehingga dapat
menghasilkan efisiensi keamanan serta kenyamanan yang optimal dalam batas-
batas ekonomi yang masih layak. Perencanaan suatu jalan yang lengkap tidak hanya
menyangkut kenyamanan, keamanan, ekonomis, tapi juga keindahan jalan.
Sehingga jalan menjadi cantik, seimbang dengan lingkungan dan memberi
pemandangan yang indah kepada pemakai jalan.

1.1.2 Peta Lokasi


Lokasi pekerjaan Perencanaan Jalan di Provinsi Aceh dapat dilihat pada
gambar di bawah ini. Jalan baru ini di masa mendatang diharapkan menjadi jalan
penghubung bagi Jalan Lintas Barat dan Lintas Tengah Pulau Sumatera di Provinsi
Aceh.
4

Gambar 1.1 Peta Lokasi Pekerjaan di Aceh

1.1.3 Penentuan Standar Teknis Jalan


Jenis kendaraan berpengaruh terhadap arus lalu lintas secara keseluruhan
dalam hubungannya dengan kapasitas jalan. Hal tersebut diperhitungkan untuk
membandingkannya terhadap pengaruh dari suatu mobil penumpang. Pengaruh
mobil penumpang dipakai sebagai satuan yang disebut “Satuan Mobil Penumpang”
(SMP). Jalan-jalan di daerah datar menggunakan koefisien berikut.

Tabel 2.1 Koefisien Harga Satuan Mobil Penumpang Kendaraan

No. Jenis Kendaraan Koefisien

1. Kendaraan Penumpang 1,0

2. Sepeda 1,0

3. Truk ringan ( 5 ton ) 2,5

4. Truk sedang ( > 5 ton) 2,5

5. Bus 3,0

6. Truk berat > 10 ton 3,0

Sumber : Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota No.038/T/BM/1997


5

Data tentang lalu lintas merupakan data utama dari suatu perencanaan. Lalu
lintas berpengaruh besar terhadap berbagai bentuk perencanaan seperti lebar jalan,
alinyemen landai, dan sebagainya.
1. Volume Lalu Lintas
2. Volume Jam Perencanaan

1.1.4 Koordinat Trase


Beberapa persoalan dalam menentukan sebuah trase adalah bentuk dari
permukaan alamnya yang tidak teratur. Ada yang turun, naik, datar, dan lain
sebagainya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan trase adalah
sebagai berikut.
1. Perencanaan garis trase yang dibuat sependek mungkin
2. Rute rencana jalan yang dipilih sedatar mungkin mengikuti garis kontur
3. Syarat sudut belokan pertama dan sudut belokan kedua sepanjang-panjangnya
(4,0 cm pada gambar dengan skala 1 : 10.000)
4. Perencanaan sudut belok tikungan disesuaikan dengan kecepatan rencana
kendaraan (Vr).
Jarak tersingkat untuk menghubungkan dua tempat (titik awal dan titik
akhir) adalah dengan membuat garis lurus. Akan tetapi, hal ini tidak mungkin terjadi
untuk membuat centerline selurus-lurusnya karena terdapat banyak rintangan-
rintangan berupa bukit, lembah, sungai yang sulit untuk dilalui. Oleh karena itu,
trase jalan dibuat sedemikian rupa dengan memperhatikan faktor keamanan dan
kenyamanan para pemakai jalan.
Dalam menghitung koordinat terdapat dua alternatif yaitu sebagai berikut.
1. Pengukuran di lapangan secara langsung
2. Perhitungan pada peta topografi
Pada perencanaan jalan di Aceh ini hanya akan dibahas perhitungan
koordinat dengan peta topografi. Caranya adalah dengan menginterpolasi koordinat
yang telah ada pada peta topografi yaitu adanya perpotongan sumbu X dan sumbu
Y.
6

1.1.5 Penentuan Kondisi Medan Jalan


Medan jalan diklasifikasikan berdasarkan kondisi sebagian besar
kemiringan medan yang diukur tegak lurus dengan garis kontur. Klasifikasi jenis
medan berdasarkan kemiringan untuk merancang geometrik dapat dilihat pada tabel
di bawah ini.

Tabel 1.2 Klasifikasi menurut medan jalan

No. Jenis Medan Notasi Kemiringan Medan (%)

1 Datar D <3

2 Perbukitan B 3-25

3 Pegunungan G >25
Sumber : Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota No.
038/T/BM/1997

Keseragaman kondisi medan yang diproyeksikan harus mempertimbangkan


keseragaman dari kondisi medan menurut rencana trase jalan dengan mengabaikan
perubahan pada bagian-bagian kecil dari segmen rencana jalan tersebut.
Satuan Jenis Penumpang (smp) untuk setiap jenis kendaraan dan kondisi
medan yang lainnya dapat dilihat pada Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI)
No. 036/TBM/1997 atau dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 1.3 Ekivalen Mobil Penumpang (smp)

No Jenis Kendaraan Datar/Perbukitan Pegunungan

1 Sedan, Jeep, Station Wagon 1,0 1,0

2 Pick-Up, Bus Kecil, Truk Kecil 1,2-2,4 1,9-3,5

3 Bus dan Truk Besar 1,2-5,0 2,2-6,0


Sumber : Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) No. 036/TBM/1997
7

Pada kondisi medan yang sulit, kecepatan rencana (VR) suatu segmen jalan
dapat diturunkan dengan syarat bahwa penurunan tersebut tidak lebih dari 20
km/jam.

Tabel 1.4 Kecepatan Rencana (VR) sesuai klasifikasi fungsi dan klasifikasi
medan jalan.

Fungsi Kecepatan Rencana (km/jam)

Datar Bukit Pegunungan

Arteri 70-120 60-80 40-70

Kolektor 60-90 50-60 30-50

Lokal 40-70 30-50 20-30


Sumber : Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) No.036/TBM/1997

1.2 Jalan Raya Baru


Pembangunan jalan raya baru harus memperhitungkan adanya
pengembangan di area sekitar jalan raya tersebut. Perubahan alinyemen dan desain
geometri menjadi sangat sulit dikarenakan biaya yang sangat mahal. Oleh sebab itu,
perlu adanya ketelitian ketika proses perencanaan.

1.2.1 Langkah-Langkah Pembuatan Jalan Baru


Berikut merupakan langkah-langkah dalam membuat jalan baru menurut
SNI 03-3978-1995.
1. Persiapan
Langkah pertama yang harus dilakukan sebelum membangun sebuah jalan
adalah persiapan. Persiapan ini meliputi hal-hal sebagai berikut.
a. Atur lalu lintas di sekitar daerah pekerjaan.
b. Bersihkan permukaan yang akan dilapis.
c. Beri tanda batas penghamparan dengan cat atau kapur.
2. Pembuatan Campuran
Langkah pembuatan campuran dengan tahapan sebagai berikut.
8

a. Hidupkan mesin penggetar bukaan pemasok dingin, jalankan ban berjalan


dan buka pintu pemasuk dingin sehingga agregat keluar dan masuk ke dalam
alat pencampur sesuai dengan perencanaan.
b. Tambahkan air dan aspal emulsi sesuai dengan rencana campuran.
c. Lakukan pengadukan campuran sampai campuran seragam (dalam waktu
yang telah ditentukan maksimum 60 detik) dan selanjutnya masukkan ke
dalam silo man truk jungkit.
3. Pengangkutan Campuran
Langkah pengangkutan campuran dengan ketentuan sebagai berikut.
a. Angkut campuran dengan truk jungkit.
b. Tutup campuran selama pengangkutan dengan terpal.
c. Timbang truk jungkit sebelum dan sesudah diisi campuran.
4. Pelapisan Percobaan
Langkah pelapisan percobaan dengan tahapan sebagai berikut.
a. Buat pelapisan percobaan seluas ± 150 m2 dengan peralatan seperti yang
akan digunakan pada pekerjaan sebenarnya.
b. Bongkar pelapisan percobaan yang dilakukan pada jalur pekerjaan kecuali
memenuhi semua ketentuan.
5. Penyiapan Permukaan yang Akan Dilapis
Siapkan permukaan yang akan dilapisi dengan tahapan sebagai berikut.
a. Perbaiki kerataan permukaan yang akan dilapis.
b. Bersihkan permukaan yang akan dilapis.
c. Beri lapis ikat atau lapis resap ikat bila diperlukan.
d. Beri lapis ikat pada permukaan konstruksi yang akan berhubungan dengan
hamparan.
6. Penghamparan Campuran
Lakukan penghamparan campuran dengan tahapan sebagai berikut.
a. Lakukan penghamparan mulai dari tempat terjauh dari instalasi
pencampuran.
b. Atur pengoperasian alat penghamparan untuk memperoleh tebal, arah
memanjang dan melintang sesuai rencana.
9

c. Lakukan penghamparan tambahan pada permukaan hamparan yang


segregasi.
d. Lakukan penghamparan dengan cara manual pada tempat-tempat yang sulit
dilewati alat finisher.
e. Tempatkan petugas guna menyempurnakan bentuk hamparan.
7. Pemadatan
Lakukan pemadatan dengan tahapan sebagai berikut.
a. Lakukan pemadatan, setelah kadar air sesuai ketentuan yang berlaku.
b. Lakukan pemadatan awal dengan alat pemadat roda besi sebanyak 2 lintasan
(roda penggerak berada di depan).
c. Lakukan pemadatan antara dengan alat pemadat roda karet dengan jumlah
lintasan sesuai pelapisan percobaan.
d. Lakukan pemadatan akhir dengan alat pemadat roda besi.
8. Pembuatan Sambungan
Buat sambungan dengan ketentuan sebagai berikut.
a. Buat sambungan memanjang atau sambungan melintang, yang bermuatan
secara bertangga dengan jarak minimum 30 cm seperti pada gambar berikut.
b. Buat tepi hamparan yang terdahulu menjadi tegak dan diberi lapis ikat
sebelum penghamparan disampingnya dimulai.

Gambar 1.2 Sambungan Melintang


10

Gambar 1.3 Sambungan Memanjang

Berikut merupakan gambar struktur perkerasan jalan.

Gambar 1.4 Struktur Perkerasan Jalan


Sumber : Departemen Pekerjaan Umum

1. Lapisan Permukaan (Surface Course)


Lapisan permukaan terletak di paling atas pada jalan raya. Lapisan yang
langsung bersentuhan dengan pijakan atau lapisan yang langsung
bersentuhan dengan ban kendaraan. Lapisan ini berfungsi sebagai penahan
beban roda kendaraan. Lapisan permukaan tersebut juga memiliki stabilitas
yang tinggi serta kedap air untuk melindungi lapisan pondasi yang ada
dibawahnya. Sehingga air mengalir ke saluran samping bagian jalan raya,
tahan terhadap keausan akibat gesekan rem kendaraan dan diperuntukan
untuk meneruskan beban kendaraan ke lapisan bagian bawahnya.
2. Lapisan Pondasi atas (Base Course)
11

Lapisan pondasi atas terletak di bawah lapisan permukaan. Lapisan ini


berfungsi untuk menahan gaya lintang akibat beban roda dan meneruskan
ke lapisan bawahnya, sebagai bantalan untuk lapisan permukaan, serta
lapisan peresapan untuk lapisan pondasi bawah. Material lapisan pondasi
bawah yang digunakan untuk lapisan ini adalah material dengan kualitas
yang tinggi sehingga kuat menahan beban untuk yang direncanakan.
3. Lapisan Pondasi bawah (Subbase Course)
Lapisan Pondasi bawah berada di bawah lapisan pondasi atas, dan diatas
lapisan tanah dasar. Lapisan ini berfungsi untuk menyebarkan beban lapisan
pondasi bawah ke lapisan tanah dasar jalan raya. Apabila kondisi tanah di
lokasi pembangunan jalan sudah sesuai spesifikasi yang direncanakan maka
tanah tersebut akan langsung dipadatkan dengan menggunakan alat.
Tebalnya berkisar antara 50-100 cm. Fungsi utamanya adalah sebagai
perletakan jalan raya.

1.2.2 Faktor Pemilihan Trase


Terdapat beberapa cara untuk menentukan trase yang dapat memenuhi
syarat bahwa jalan layak digunakan, terutama trase di daerah pegunungan.
1. Trase diusahakan jalur terpendek
Dalam perencanaan sebuah jalan terdapat hal penting yang diutamakan
perencana yaitu jalan yang ekonomis. Ekonomis yang dimaksud adalah suatu
jalan yang dapat dibangun dengan kualitas bagus dengan harga yang terjangkau.
Maka pembuatan trase yang pendek dalam pembangunan jalan membuat biaya
yang dikeluarkan juga sedikit.
2. Tidak terlalu curam
Salah satu syarat dalam merencanakan jalan adalah memberikan kenyamanan
bagi pengguna jalan. Jalan yang terlalu curam membuat kendaraan menjadi
berat akibat gaya sentrifugal. Sehingga pengguna jalan tidak lagi menemukan
kenyamanan saat menggunakan jalan tersebut.
3. Sudut luar tidak terlalu besar
12

Sudut luar sangat mempengaruhi keadaan jalan setelah dibangun karena hal ini
akan menarik trase jalan. Perencana jalan diharapkan mampu merencanakan
jalan dengan tikungan kurang dari 90 derajat. Tikungan yang terbentuk tidak
boleh terlalu tajam, sehingga aman bagi pengguna jalan.
4. Galian dan timbunan
Galian dan timbunan merupakan hal yang penting untuk diperhatikan dalam
merencanakan jalan. Dalam merencanakan jalan, besar timbunan dan galian
telah ditentukan terlebih dahulu. Hal ini supaya biaya yang dikeluarkan untuk
melaksanakan suatu bangunan jalan tidak lebih besar dari yang tersedia.
Perencanaan jalan harus merencanakan trase jalan sedemikian rupa sehingga
tidak terjadi galian dan timbunan yang terlalu besar. Caranya dengan menarik
garis trase pada elevasi muka tanah yang tidak terlalu jauh perbedaan ketinggian
antara awal dengan akhir.

1.3 Langkah langkah Membuat Trase Jalan


Dalam membuat trase jalan maka perlu melakukan beberapa langkah
menggunakan aplikasi Google earth pro 2022, global mapper v 20.1, dan civil 3d
2018.

(google earth) (global mapper) (google earth) (Autocad)

1.3.1 Langkah 1 (Google Earth Pro 2022)


Berikut langkah-langkah untuk meninjau kontur area di sekitar yang akan
dibangun jalan melalui aplikasi Google Earth Pro 2022.
1. Buka google earth pro 2022.
13

2. Cari wilayah yang akan ditinjau yaitu Provinsi Aceh untuk memudahkan kita
mengetahui letak wilayah yang akan dibangun sebuah jalan. Caranya pada
menu search ketik nama “Aceh” lalu klik search. Nantinya google earth akan
menentukan lokasinya.

3. Klik tools lalu klik options.


14

4. Setelah itu, mengubah latitude/longitude ke UTM serta units of measurement ke


meter dan kilometer. Jika sudah, klik apply lalu ok.

5. Klik add placemark


15

6. Beri nama dengan “Titik Awal”. Masukkan koordinat easting (koordinat x) dan
northing (koordinat y).

7. Klik add placemark untuk titik kedua


16

8. Beri nama dengan “Titik Akhir”. Masukkan koordinat easting (koordinat x) dan
northing (koordinat y).

9. Klik add polygon


17

10. Beri nama “Polygon Area Kelompok D”. Buatlah area berbentuk persegi
dimana “Titik Awal” dan “Titik Akhir” berada di dalam area tersebut.

11. Setelah polygon terbentuk, langkah selanjutnya adalah menyimpan file tersebut
dengan cara Save Place As.
18

12. Beri nama file yang disimpan adalah “Polygon Area Kelompok D”.

1.3.2 Langkah 2 (Global Mapper v20.1)

Berikut langkah-langkah untuk menampilkan area kontur di sekitar jalan


yang akan dibangun melalui aplikasi Global Mapper.

1. Pertama, klik open data file


19

2. Kemudian pilih file polygon yang telah kita simpan tadi

3. Klik tools, kemudian klik configure.


20

4. Pilih projection dan ganti ke koordinat UTM. Setelah itu, klik apply lalu ok.

5. Selanjutnya, klik connect to online data

6. Pilih SRTM kemudian klik connect.


21

7. Maka peta topografinya akan muncul di area polygon.

8. Buat garis kontur di area polygon. Caranya klik Create contour dan atur
intervalnya, misalnya 5 meter. Semakin kecil intervalnya maka konturnya akan
semakin rapat.
22

9. Klik simplification untuk mengatur detail kontur tersebut. Semakin ke kanan


semakin sederhana, sedangkan semakin ke kiri semakin detail, misalnya pilih
0,1.

10. Setelah itu, atur contour bound dengan cara klik use layer bounds.
23

11. Klik polygon karena kita hanya akan mengoperasikan area polygon saja.
Kemudian klik ok.

12. Nantinya pada gambar akan terlihat garis kontur di area yang dipilih.
24

13. Jika sudah terlihat konturnya, klik file lalu pilih export elevation grid format.

14. Select export format dengan nama DEM lalu klik ok.
25

15. Ganti units nya menjadi meter.

16. Kemudian buka export bounds lalu klik use layer bounds. Centang pada pilihan
polygon karena kita hanya meninjau area polygon dan klik ok.
26

17. Save as dengan nama “Area Kontur Kelompok D” dengan format .DEM

18. Setelah kita save menggunakan format .DEM, kita harus simpan pula file
tersebut dengan format .KMZ. Caranya adalah dengan klik file lalu pilih export
vector/lidar format.
27

19. Select export format dengan format .KMZ. Klik ok. File ini digunakan ketika
nanti kita membukanya di google earth.

20. Export bound lalu klik use layer bounds. Centang pada pilihan polygon seperti
langkah sebelumnya. Lalu klik ok.
28

21. Save as dengan nama “Area Kontur Kelompok D” dengan format .KMZ

22. Cek file yang telah kita simpan tadi dengan format .KMZ dengan membukanya
melalui google earth.
29

23. Jika sudah muncul garis kontur dan elevasinya di google earth maka langkah
tersebut sudah dapat digunakan untuk menentukan trase jalan nantinya.
30

1.3.3 Langkah 3 (Google Earth Pro 2022)


Setelah kontur yang dibuat muncul di google earth. Maka langkah
selanjutnya adalah membuat trase jalan sesuai dengan ketentuan. Pembuatan trase
harus memperhatikan berbagai aspek seperti biaya, menghindari hutan
lindung/cagar alam dan pemukiman penduduk serta pertimbangan lainnya. Berikut
merupakan langkah-langkah untuk membuat rencana trase di google earth.
1. Klik Polygon Area Kel D lalu klik properties untuk mengganti tampilan
polygon tersebut.
31

2. Atur tingkat transparansi pada polygon untuk memudahkan kita dalam melihat
infrastruktur serta daerah daerah pegunungan di area tersebut. Klik “style,
color” lalu nilai opacity nya diubah menjadi 45%.

3. Klik add path untuk membuat garis bantu yang menghubungkan titik awal dan
titik akhir.

4. Buat garis yang menghubungkan titik awal dan titik akhir


32

5. Buat alternatif trase jalan pertama, sesuai dengan ketentuan pembuatan trase
jalan.

6. Selanjutnya, buat alternatif trase jalan kedua, sesuai dengan ketentuan


pembuatan trase jalan.
33

1.3.4 Langkah 4 (Autocad 2021)


Berikut langkah-langkah untuk menampilkan output dari google earth dan global
mapper menggunakan aplikasi Autocad 2021.

1. Sebelum membuka autocad, kontur yang didapatkan melalui google mapper


di export dahulu ke dalam format .dwg supaya bisa dibuka di Autocad. Klik
export vector/lidar format.

2. Save file tersebut dengan format dwg.


34

3. Pilih use layer bound, kemudian pilih Polygon Kelompok D


35

4. Save file

5. Buka file yang sudah disimpan menggunakan Autocad. Pastikan kontur


muncul pada aplikasi tersebut. Cara memunculkannya adalah dengan klik
“Z” spasi “E” spasi.
36

6. Masukkan koordinat titik yang telah dibuat di Google Earth sebelumnya.

7. Gabungkan setiap titik dengan garis untuk membuat rencana trase.


37

8. Masukkan koordinat titik bantu untuk membuat trase jalan di tikungan.

9. Buat lingkaran untuk membentuk tikungan S-C-S dengan cara ketik


“Circle”. Setelah itu masukkan radius tikungan sesuai dengan perhitungan
yang telah dilakukan.
38

10. Lingkaran yang berada di luar dihapus dengan cara ketik “trim”. Rapikan
garis. Pastikan semua garis yang terbentuk telah tersambung.
39

11. Klik offset. Besarnya offset menentukan lebar jalan yang akan dibuat. Lebar
jalan diperoleh melalui ketentuan dan perhitungan sesuai peraturan. Dalam
hal ini diambil masing masing sebesar 10 meter untuk kanan dan kiri sisi
trase.
40

12. Klik “Array”, untuk jalan lurus sebesar 50 sedangkan untuk tikungan
sebesar 20 sesuai ketentuan di KAK.
41

13. Setelah trase tersebut telah terbentuk. Langkah selanjutnya adalah


pembuatan rumija kanan dan rumija kiri. Dalam membuat rumija tarik garis
ke kontur terdekat hingga membentuk siku-siku pada setiap titik.

14. Perpanjang garis hingga menyentuh kontur di bawahnya..


42

15. Berikan dimensi pada setiap titik yang telah ditarik ke garis kontur.

16. Berikut merupakan gambar hasil rumija kiri dan rumija kanan trase 1 yang
telah dibuat. Pada rumija kiri x1 berada diatas sedangkan x2 berada
dibawah. Pada rumija kanan x1 berada dibawah sedangkan x2 berada diatas.
43

17. Lakukan cara yang sama seperti langkah sebelumnya untuk trase 2. Berikut
merupakan hasil trase 2 yang telah dibuat.
44
45
BAB II
TRASE DAN ALINYEMEN

2.1 Lalu Lintas Harian Rata-Rata Tahunan


Menurut Undang-Undang No 22 tahun 2009, lalu lintas adalah gerak
kendaraan dan orang di ruang lalu lintas jalan. Sedangkan ruang lalu lintas jalan
adalah prasarana yang diperuntukkan bagi gerak pindah kendaraan, orang, dan/atau
barang yang berupa jalan dan fasilitas pendukung. Pada Provinsi Aceh sudah
banyak orang yang mulai menggunakan kendaraan pribadinya untuk bepergian.
Perhitungan lalu lintas atau traffic counting merupakan suatu metode
perhitungan kendaraan yang digunakan dalam survei lalu lintas. Traffic counting
dapat dilakukan dengan dua cara yaitu perhitungan tangan (manual) dan
perhitungan mekanik. Data yang didapatkan dari perhitungan lalu lintas nantinya
dijadikan pedoman informasi arus lalu lintas.
Volume lalu lintas adalah jumlah kendaraan yang melewati suatu titik atau
pada suatu ruas jalan dalam kurun waktu yang lama (minimal 24 jam) terlepas dari
arah atau lajurnya. Segmen jalan dalam selang waktu tertentu dapat dinyatakan
dalam tahunan, harian (LHR), jam-an atau sub jam. Nilai arus atau rate of flow
merupakan volume lalu lintas yang biasanya kurang dari satu jam tetapi dinyatakan
dalam satu jam.
Kendaraan yang melewati suatu segmen jalan tidak hanya satu tipe
kendaraan sehingga tipe-tipe kendaraan tersebut harus dikonversikan kedalam
satuan mobil penumpang (smp). Konversi kendaraan ke satuan smp menggunakan
faktor ekivalen mobil penumpang (emp) untuk masing-masing tipe kendaraan. Lalu
Lintas Harian Rata-Rata Tahunan (LHRT) adalah jumlah lalu lintas kendaraan rata-
rata yang melewati satu jalur jalan selama 24 jam dan diperoleh dari data selama
satu tahun penuh. LHRT dinyatakan dalam smp/hari/2 arah atau kendaraan/hari/2
arah untuk jalan dengan 2 lajur 2 arah dan smp/hari/1 lajur atau kendaraan/hari/1
arah untuk jalan berlajur banyak dengan median jalan.

46
47

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑙𝑎𝑙𝑢 𝑙𝑖𝑛𝑡𝑎𝑠 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 1 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛


LHRT = 365

Berikut merupakan data lalu lintas yang diperoleh dari survei O-D pada
tahun 2020.

Tabel 2.1 Data Lalu Lintas Aceh Tahun 2020

Jenis/Golongan Lintas Harian Rata-rata (2


Kendaraan arah)

Mobil penumpang dan 12300


kendaraan ringan lain

5B 450

6B 1500

7A1 120

7A2 280

7C1 70

7C2A 55

7C2B 70

7C3 30
Sumber : Kerangka Acuan Kerja

Hasil dari pengelompokan kendaraan tersebut adalah sebagai berikut.


Tabel 2.2 Hasil Pengelompokan Kendaraan

Golongan Kendaraan Jenis Kendaraan

5B BUS BESAR

6B TRUK 2 SUMBU 6 RODA

7A1 TRUK 3 SUMBU SINGLE

7A2 TRUK 3 SUMBU TANDEM

7C1 TRUK 4 SUMBU


48

Lanjutan Tabel 2.2 Hasil Pengelompokan Kendaraan


7C2A TRUK 5 SUMBU TANDEM

7C2B TRUK 5 SUMBU TRIPLE

7C3 TRUK 6 SUMBU

Gambar 2.1 Konfigurasi Sumbu Kendaraan


49

Gambar 2.2 Total Beban Kendaraan


Sumber : Departemen PU

Tabel 2.3 Ekivalensi Mobil Penumpang (EMP)

LV Mobil penumpang dan 1,0


kendaraan ringan lain

5B

6B

7A1
HV 1,3
7A2

7C1

7C2A

7C2B

7C3

Sumber : Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997


50

Desain perkerasan untuk jalan alternatif yang terpilih terpilih direncanakan


dengan umur rencana 20 tahun, akan dibangun mulai tahun 2023 dengan memakan
waktu 1 tahun untuk konstruksi. Angka pertumbuhan lalu lintas dari tahun 2020
hingga akhir umur rencana diperkirakan mencapai 4,5% per tahun. Desain
perkerasan jalan hendaknya mengikuti dokumen Manual Perkerasan Jalan Ditjen
Bina Marga 2017, dengan memilih jenis perkerasan lentur (flexible pavement).
2.1.1 Perhitungan Lintas Harian Rerata (LHR)
Berikut ini merupakan data yang digunakan untuk melakukan perhitungan
LHR.
Umur rencana = 20 tahun
Data survei = Tahun 2020
Tahun dibangun = Tahun 2023
Tahun beroperasi = Tahun 2024
i = 4,5%
DL = 0,5 (2 arah)
DD =1
1. Perhitungan R
(1+𝑖)𝑈𝑅 −1
R = 𝑖
(1+4,5%)20 −1
= 4,5%
= 31,37
2. Perhitungan LHR
Berikut merupakan contoh perhitungan LHR 2024.
a. Golongan 5B = LHR 2020 gol. 5B × ((1 + 𝑖)𝑈𝑅 )
= 450 × ((1 + 4,5%)4)
= 536,633
b. Golongan 6B = LHR 2020 gol. 6B × ((1 + 𝑖)𝑈𝑅 )
= 1500 × ((1 + 4,5%)4)
= 1788,778
c. Golongan 7A1 = LHR 2020 gol. 7A1 × ((1 + 𝑖)𝑈𝑅 )
= 120 × ((1 + 4,5%)4)
= 143,102
3. Perhitungan LHR (SMP)
Berikut merupakan contoh perhitungan LHR 2024 (smp)
a. Golongan 5B = LHR 2024 gol. 5B × emp gol. 5B
= 536,633 × 1,3
51

= 697,623
b. Golongan 6B = LHR 2024 gol. 6B × emp gol. 6B
= 1788,778 × 1,3
= 2325,411
c. Golongan 7A1 = LHR 2024 gol. 7A1 × emp gol. 7A1
= 143,102 × 1,3
= 186,033
4. Perhitungan ESA5 (2024-2044)
a. Golongan 5B = LHR 2024 gol. 5B × VDF normal × 365 × 0,5 ×
1×R
= 536,633 × 1 × 365 × 0,5 × 1 × 31,37
= 3072378,80
b. Golongan 6B = LHR 2024 gol. 5B × VDF normal × 365 × 0,5 ×
1×R
= 1788,778× 1 × 365 × 0,5 × 1 × 31,37
= 47109808,28
c. Golongan 7A1 = LHR 2024 gol. 5B × VDF normal × 365 × 0,5 ×
1×R
= 143,102× 1 × 365 × 0,5 × 1 × 31,37
= 6062827,50
2.1.2 Rekapitulasi Perhitungan LHR
Berikut merupakan tabel rekapitulasi perhitungan LHR

Tabel 2.4 Rekapitulasi Perhitungan LHR 2024

Jenis/Golongan LHR LHR 2024 LHR 2024 VDF ESA5 (2024-


Kendaraan 2020 (smp) (normal) 2044)

Mobil 12300 14667,979 14667,979 - -


penumpang dan
kendaraan
ringan lain

5B 450 536,633 697,623 1 3072378,80


52

Lanjutan Tabel 2.4 Rekapitulasi Perhitungan LHR 2024

6B 1500 1788,778 2325,411 4,6 47109808,28

7A1 120 143,102 186,033 7,4 6062827,50

7A2 280 333,905 434,077 5,6 10705533,24

7C1 70 83,476 108,519 9,6 4588085,68

7C2A 55 65,589 85,265 8,1 3041655,01

7C2B 70 83,476 108,519 8 3823404,73

7C3 30 35,776 46,508 8 1638602,03

TOTAL 18659,935 80042295,27

2.1.3 Radius Putar Kendaraan


53

Gambar 2.3 Radius Putar Kendaraan


54

2.2 Klasifikasi Jalan


2.2.1 Kelas jalan
Pengaturan penggunaan jalan dan kelancaran lalu lintas, jalan dibagi
menjadi beberapa kelas sesuai yang telah diatur dalam UU No 22 tahun 2009 dan
UU No 38 tahun 2004. Berdasarkan spesifikasi penyediaan prasarana, jalan
dikelompokkan atas:
1. Jalan bebas hambatan
jalan bebas hambatan (freeway) adalah jalan umum untuk lalu lintas menerus
yang memberikan pelayanan menerus/tidak terputus dengan pengendalian jalan
masuk secara penuh, dan tanpa adanya persimpangan sebidang, serta dilengkapi
dengan pagar ruang milik jalan, paling sedikit 2 (dua) lajur setiap arah dan
dilengkapi dengan median.
2. Jalan raya
jalan raya (highway) adalah jalan umum untuk lalu lintas menerus dengan
pengendalian jalan masuk secara terbatas dan dilengkapi dengan median, paling
sedikit 2 (dua) lajur setiap arah.
3. Jalan sedang
jalan sedang (road) adalah jalan umum dengan lalu lintas jarak sedang dengan
pengendalian jalan masuk tidak dibatasi, paling sedikit 2 (dua) lajur untuk 2
(dua) arah dengan lebar paling sedikit 7 (tujuh) meter.
4. Jalan kecil
jalan kecil (street) adalah jalan umum untuk melayani lalu lintas setempat,
paling sedikit 2 (dua) lajur untuk 2 (dua) arah dengan lebar paling sedikit 5,5
(lima setengah) meter.
2.2.2 Fungsi jalan
Berdasarkan pasal 8 UU No 38 tahun 2004, jalan umum menurut fungsinya
dibagi menjadi jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal, dan jalan lingkungan.
1. Jalan arteri
Jalan arteri merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama
dengan ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan
masuk dibatasi secara berdaya guna. Jalan arteri meliputi jalan arteri primer dan
55

arteri sekunder. Jalan arteri primer merupakan jalan arteri dalam skala wilayah
tingkat nasional. Sedangkan jalan arteri sekunder merupakan jalan arteri dalam
skala perkotaan.
2. Jalan kolektor
Jalan kolektor merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan
pengumpul atau pembagi dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-
rata sedang, dan jumlah jalan masuk dibatasi. Jalan kolektor meliputi jalan
kolektor primer dan jalan kolektor sekunder. Jalan kolektor primer merupakan
jalan kolektor dalam skala wilayah. Sedangkan jalan kolektor sekunder dalam
skala perkotaan.
3. Jalan lokal
Jalan lokal merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat
dengan ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan
masuk tidak dibatasi.
4. Jalan lingkungan
Jalan lingkungan merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan
lingkungan dengan ciri perjalanan jarak dekat, dan kecepatan rata-rata rendah.
2.2.3 Status jalan
Jalan umum menurut statusnya dikelompokkan ke dalam jalan nasional,
jalan provinsi, jalan kabupaten, jalan kota, dan jalan desa.
1. Jalan nasional
Jalan nasional merupakan jalan arteri dan jalan kolektor dalam sistem jaringan
jalan primer yang menghubungkan antaribukota provinsi, dan jalan strategis
nasional, serta jalan tol.
2. Jalan provinsi
Jalan provinsi merupakan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer
yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kota, atau
antar ibukota kabupaten/kota, dan jalan strategis provinsi.
3. Jalan kabupaten
Jalan kabupaten merupakan jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer yang
tidak termasuk pada jalan nasional dan jalan provinsi, yang menghubungkan
56

ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan, antaribukota kecamatan, ibukota


kabupaten dengan pusat kegiatan lokal, antarpusat kegiatan lokal, serta jalan
umum dalam sistem jaringan jalan sekunder dalam wilayah kabupaten, dan
jalan strategis kabupaten.
4. Jalan kota
Jalan kota adalah jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder yang
menghubungkan antarpusat pelayanan dalam kota, menghubungkan pusat
pelayanan dengan persil, menghubungkan antarpersil, serta menghubungkan
antarpusat permukiman yang berada di dalam kota.
5. Jalan desa
Jalan desa merupakan jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau
antarpermukiman di dalam desa, serta jalan lingkungan.

2.3 Pembuatan Trase


Pembuatan trase dibuat dengan mempertimbangkan berbagai aspek seperti
daerah hutan lindung, sawah berkelanjutan, makam, peninggalan sejarah, dll..
“Trase 1” dan “Trase 2” dibuat membuat jalan baru menghindari daerah
pemukiman penduduk, tidak memotong banyak kontur, dan menghindari
perbukitan. Dalam pembuatan trase ini juga memperhatikan daerah pertanian
berkelanjutan seperti yang tertera pada Qanun Kabupaten Pidie Nomor 5 Tahun
2014 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pidie Tahun 2014-2034
Pasal 30 ayat 3 huruf (i). Selain itu, daerah di sekitar trase masih sepi penduduk
sehingga dalam jangka panjang daerah tersebut dapat berkembang karena bukan
termasuk daerah hutan lindung maupun daerah pertanian berkelanjutan.
57

Gambar 2.4 Peta Interaktif KLHK


Sumber : Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)

Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan


(KLHK) diperoleh informasi bahwa daerah yang akan dibuat jalan ternyata tidak
termasuk dalam kawasan hutan lindung. Daerah yang berada di titik biru (sesuai
dengan titik koordinat) merupakan wilayah berwarna putih. Warna tersebut
menunjukkan bahwa wilayah itu digunakan untuk area penggunaan lain sehingga
jalan yang dibuat bisa melewati hutan di sekitar wilayah tersebut.
Berikut merupakan rencana trase 1 yang akan dibuat.
58

Gambar 2.5 Rencana Trase 1


Data analisis tersebut digunakan sebagai penilaian untuk trase 1 ditunjukkan
pada tabel berikut.

Tabel 2.5 Penilaian Trase 1


No Kriteria Keterangan

1. Faktor Biaya

Panjang Trase 4,17 km

2 Faktor Geometrik Jalan

Jumlah tikungan 3

Kelandaian 10,72%
59

Berikut merupakan rencana trase 2 yang akan dibuat.

Gambar 2.6 Rencana Trase 2

Data analisis tersebut digunakan sebagai penilaian untuk trase 2 ditunjukkan


pada tabel berikut.

Tabel 2.5 Penilaian Trase 2

No Kriteria Keterangan

1. Faktor Biaya

Panjang Trase 3,37 km

2 Faktor Geometrik Jalan

Jumlah tikungan 4

Kelandaian 10,25%

Perbandingan antara rencana trase 1 dan trase 2 dapat dilihat pada tabel
berikut.
60

Tabel 2.6 Penilaian Trase 1 dan Trase 2

No. Tinjauan Trase 1 Trase 2

1. Panjang Jalan 4,17 Km 3,37 Km

2. Jumlah Tikungan 3 4

3. Kelandaian 10.72% 10.25%

4. Galian 69560.052 m2 72282.369

5. Timbunan 55857.3452 m2 58003.1495

6. Rasio Perbandingan Galian 1.25 1.25

& Timbunan

2.4 Penentuan Kelas Jalan dan Lebar Lajur


Dalam menentukan lajur sebuah jalan maka perlu adanya pemilihan jenis
jalan yang akan dibangun terlebih dahulu. Lebar jalur ditentukan oleh jumlah dan
lebar jalur peruntukannya. Lebar jalur dan bahu jalan harus disesuaikan dengan
VLHR nya. Pada perhitungan sebelumnya telah diperoleh nilai total VLHR sebesar
18.659,9348 smp/hari. Jalan yang akan dibangun merupakan jalan raya. Penentuan
kelas jalan berdasarkan muatan sumbu terberat. Pada data lalu lintas yang telah
diperoleh diatas, kendaraan paling berat adalah truk 6 sumbu dengan nilai MST
sebesar 45 ton > 10 ton sehingga jalan tersebut masuk dalam kategori Arteri kelas
I. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut.
61

Gambar 2.7 Penentuan Kelas Jalan

Berdasarkan Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota Departemen


Pekerjaan Umum, penentuan lebar lajur dan bahu jalan dapat dilihat pada gambar
berikut.

Gambar 2.8 Penentuan Lebar Jalur dan Bahu jalan


Sumber : Departemen PU

Lajur merupakan bagian lalu lintas yang memanjang yang dibatasi oleh marka jalan
yang memiliki lebar cukup untuk dilewati kendaraan bermotor sesuai kendaraan
62

rencana. Lebar lajur tergantung pada kecepatan dan kendaraan rencana. Hal ini
dinyatakan dengan fungsi dan kelas jalan yang mengacu pada tabel berikut.

Gambar 2.9 Persyaratan Teknis Jalan


Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum

Berikut merupakan data-data yang diperoleh berdasarkan perhitungan.


63

1. Jenis Jalan : Arteri Kelas 1, 2 Jalur 4 Lajur 2 Arah dengan median 0,6 meter
2. Medan : Perbukitan
3. Ruang Milik Jalan (RUMIJA) : 25 meter
4. Lebar Lajur : 3,6 meter
5. Lebar Bahu Luar Jalan : 1,5 meter
6. Lebar Bahu Dalam Jalan : 0,75 meter
7. Kecepatan Rencana : 80 km/jam
8. Kemiringan :
e normal = 3%
e max = 8%

2.5 Kondisi Medan Jalan


Klasifikasi jenis medan berdasarkan kemiringan untuk merancang
geometrik yang tertera pada Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota
No. 038/T/BM/1997. Berdasarkan tata cara tersebut, trase 1 memiliki rata-rata
kemiringan sebesar 10,72%. Sedangkan pada trase 2 memiliki rata-rata kemiringan
sebesar 10,25 %. Sehingga, pada kedua trase tersebut masuk pada medan jalan
perbukitan (B) karena berada pada range 3-25%. (Sumber : Tata Cara Perencanaan
Geometrik Jalan Antar Kota No. 038/T/BM/1997)
Perhitungan medan jalan pada trase 1 adalah sebagai berikut
15−11.235
Potongan 1-1 =| | x 100 = 18,823 %
20
15−11.749
Potongan 2-2 =| | x 100 = 16,253 %
20
19,980−10,489
Potongan 3-3 =| | x 100 = 47,454 %
20

Perhitungan dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.7 Rekapitulasi Perhitungan Medan Jalan Trase 1

Elevasi Elevasi
Rumija Rumija Kemiringan
Potongan Stasiun Kiri Kanan 𝛥 Elevasi (%)

0+0
1-1 11.235 15.000 3.765 18.823
64

Lanjutan Tabel 2.7 Rekapitulasi Perhitungan Medan Jalan Trase 1

0 + 50
2-2 11.749 15.000 3.251 16.253

0 + 100
3-3 10.489 19.980 9.491 47.454

0 + 150
4-4 19.750 18.876 0.874 4.370

0 + 200
5-5 18.196 17.467 0.729 3.646

0 + 250
6-6 17.695 16.003 1.692 8.461

0 + 300
7-7 17.111 15.985 1.126 5.632

0 + 350
8-8 17.017 16.387 0.630 3.149

0 + 400
9-9 19.574 16.242 3.331 16.656

0 + 450
10-10 15.000 18.608 3.608 18.039

0 + 500
11-11 19.272 17.550 1.722 8.611

0 + 550
12-12 19.988 18.506 1.482 7.411

0 + 600
13-13 11.527 10.781 0.746 3.729

0 + 650
14-14 12.475 15.000 2.525 12.625

0 + 700
15-15 11.896 19.889 7.993 39.966

0 + 750
16-16 10.584 19.430 8.847 44.234

0 + 788.64
17-17 12.767 10.457 2.309 11.547
65

Lanjutan Tabel 2.7 Rekapitulasi Perhitungan Medan Jalan Trase 1

0 + 808.64
18-18 14.000 11.414 2.587 12.933

0 + 828.64
19-19 10.000 12.469 2.469 12.343

0 + 848.64
20-20 10.000 13.138 3.138 15.690

0 + 868.64
21-21 10.000 13.539 3.539 17.695

0 + 888.64
22-22 10.000 12.856 2.856 14.281

0 + 908.64
23-23 10.000 11.639 1.639 8.193

0 + 928.64
24-24 13.954 10.112 3.842 19.211

0 + 948.64
25-25 12.058 17.518 5.460 27.299

0 + 968.64
26-26 19.818 16.609 3.210 16.048

0 + 988.64
27-27 17.870 24.701 6.832 34.159

0 + 1008.64
28-28 16.632 23.557 6.925 34.625

0 + 1028.64
29-29 15.000 23.643 8.643 43.215

0 + 1048.64
30-30 20.000 24.554 4.554 22.772

0 + 1068.64
31-31 20.000 20.000 0.000 0.000

0 + 1088.64
32-32 20.000 20.000 0.000 0.000

0 + 1108.64
33-33 20.000 20.000 0.000 0.000
66

Lanjutan Tabel 2.7 Rekapitulasi Perhitungan Medan Jalan Trase 1

0 + 1128.64
34-34 20.000 20.000 0.000 0.000

0 + 1148.64
35-35 20.000 20.000 0.000 0.000

0 + 1168.64
36-36 20.000 20.000 0.000 0.000

0 + 1188.64
37-37 24.033 20.000 4.033 20.164

0 + 1208.64
38-38 22.901 20.000 2.901 14.507

0 + 1228.64
39-39 22.832 24.825 1.993 9.964

0 + 1237.53
40-40 15.385 16.967 1.582 7.910

0 + 1287.53
41-41 15.000 12.324 2.676 13.380

0 + 1337.53
42-42 14.019 12.022 1.997 9.985

0 + 1387.53
43-43 10.000 11.550 1.550 7.749

0 + 1437.53
44-44 10.000 10.000 0.000 0.000

0 + 1487.53
45-45 10.000 10.000 0.000 0.000

0 + 1537.53
46-46 17.996 10.026 7.970 39.849

0 + 1587.53
47-47 17.775 17.020 0.756 3.778

0 + 1637.53
48-48 16.955 16.655 0.300 1.502

0 + 1687.53
49-49 16.893 15.000 1.893 9.467
67

Lanjutan Tabel 2.7 Rekapitulasi Perhitungan Medan Jalan Trase 1

0 + 1709.09
50-50 17.512 15.000 2.512 12.558

0 + 1729.09
51-51 15.000 11.228 3.772 18.858

0 + 1749.09
52-52 15.000 12.341 2.659 13.296

0 + 1769.09
53-53 15.000 13.445 1.555 7.776

0 + 1789.09
54-54 13.832 14.272 0.440 2.200

0 + 1809.09
55-55 13.473 12.380 1.094 5.469

0 + 1829.09
56-56 14.224 12.088 2.136 10.680

0 + 1849.09
57-57 13.210 12.082 1.128 5.640

0 + 1869.09
58-58 12.934 11.785 1.148 5.741

0 + 1874.28
59-59 19.371 11.627 7.744 38.720

0 + 1924.28
60-60 24.786 22.492 2.294 11.471

0 + 1974.28
61-61 24.621 20.000 4.621 23.106

0 + 2024.28
62-62 11.686 10.722 0.964 4.820

0 + 2074.28
63-63 10.000 10.000 0.000 0.000

0 + 2124.28
64-64 14.094 14.509 0.415 2.077

0 + 2174.28
65-65 15.000 12.864 2.136 10.680
68

Lanjutan Tabel 2.7 Rekapitulasi Perhitungan Medan Jalan Trase 1

0 + 2224.28
66-66 15.000 10.191 4.809 24.044

0 + 2274.28
67-67 15.000 15.000 0.000 0.000

0 + 2324.28
68-68 15.000 15.000 0.000 0.000

0 + 2345.83
69-69 15.000 15.000 0.000 0.000

0 + 2365.83
70-70 15.000 15.000 0.000 0.000

0 + 2385.83
71-71 15.000 15.000 0.000 0.000

0 + 2405.83
72-72 15.000 15.000 0.000 0.000

0 + 2425.83
73-73 15.000 15.000 0.000 0.000

0 + 2445.83
74-74 15.000 15.000 0.000 0.000

0 + 2465.83
75-75 15.000 15.000 0.000 0.000

0 + 2485.83
76-76 15.000 15.000 0.000 0.000

0 + 2505.83
77-77 15.000 15.000 0.000 0.000

78-78 0 + 2525.83
15.000 15.000 0.000 0.000

79-79 0 + 2545.83
15.000 15.827 0.827 4.135

80-80 0 + 2565.83
15.000 16.512 1.512 7.559

81-81 0 + 2585.83
15.000 17.184 2.184 10.918
69

Lanjutan Tabel 2.7 Rekapitulasi Perhitungan Medan Jalan Trase 1

82-82 0 + 2605.83
15.000 17.852 2.852 14.259

83-83 0 + 2625.83
15.000 15.000 0.000 0.000

84-84 0 + 2645.83
15.000 15.000 0.000 0.000

85-85 0 + 2665.83
10.731 15.000 4.269 21.345

86-86 0 + 2685.83
11.775 15.000 3.225 16.123

87-87 0 + 2705.83
12.480 15.000 2.520 12.602

88-88 0 + 2725.83
12.493 15.000 2.507 12.535

89-89 0 + 2726.54
13.156 15.000 1.844 9.220

90-90 0 + 2776.54
15.000 15.000 0.000 0.000

91-91 0 + 2826.54
15.000 15.000 0.000 0.000

92-92 0 + 2876.54
15.000 10.859 4.141 20.704

93-93 0 + 2926.54
15.000 10.942 4.058 20.290

94-94 0 + 2976.54
15.000 15.000 0.000 0.000

95-95 0 + 3026.54
11.069 10.731 0.338 1.691

96-96 0 + 3076.54
10.000 10.000 0.000 0.000

97-97 0 + 3126.54
10.000 10.000 0.000 0.000
70

Lanjutan Tabel 2.7 Rekapitulasi Perhitungan Medan Jalan Trase 1

98-98 0 + 3176.54
10.000 13.821 3.821 19.105

99-99 0 + 3226.54
13.448 10.561 2.887 14.435

100-100 0 + 3276.54
10.600 15.000 4.400 21.998

101-101 0 + 3326.54
17.500 17.224 0.276 1.382

102-102 0 + 3376.54
20.000 17.530 2.470 12.351

103-103 0 + 3426.54
20.000 16.347 3.653 18.264

104-104 0 + 3476.54
20.000 15.789 4.211 21.054

105-105 0 + 3526.54
20.000 17.809 2.191 10.957

106-106 0 + 3576.54
20.000 20.000 0.000 0.000

107-107 0 + 3626.54
20.000 20.000 0.000 0.000

108-108 0 + 3676.54
20.000 20.000 0.000 0.000

109-109 0 + 3726.54
15.434 22.534 7.100 35.499

110-110 0 + 3776.54
17.873 15.239 2.634 13.170

111-111 0 + 3826.54
15.000 15.000 0.000 0.000

112-112 0 + 3876.54
17.976 15.000 2.976 14.881

113-113 0 + 3926.54
11.528 11.701 0.173 0.863
71

Lanjutan Tabel 2.7 Rekapitulasi Perhitungan Medan Jalan Trase 1

114-114 0 + 3976.54
6.397 5.905 0.492 2.460

RATA-RATA
10.72%

Perhitungan medan jalan pada trase 2 adalah sebagai berikut


18,475−15
Potongan 1-1 =| | x 100 = 17,374 %
20
17,095−15,443
Potongan 2-2 =| | x 100 = 8,260 %
20
20,953 − 21,146
Potongan 3-3 =| | x 100 = 0,963 %
20

Perhitungan dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.8 Rekapitulasi Perhitungan Medan Jalan Trase 2

Elevasi Elevasi
Rumija Rumija Kemiringan
Potongan Stasiun Kiri Kanan 𝛥 Elevasi (%)

0 + 50 15.000 18.475 3.475 17.374


1-1

0 + 100 15.443 17.095 1.652 8.260


2-2

0 + 150 21.146 20.953 0.193 0.963


3-3

0 + 187.49 23.308 28.605 5.296 26.482


4-4

0 + 207.49 24.090 28.222 4.132 20.659


5-5

0 + 227.49 25.076 27.463 2.387 11.935


6-6

0 + 247.49 25.000 26.644 1.644 8.222


7-7

0 + 267.49 25.000 26.062 1.062 5.309


8-8
72

Lanjutan Tabel 2.8 Rekapitulasi Perhitungan Medan Jalan Trase 2

0 + 287.49 25.000 30.000 5.000 25.000


9-9

0 + 307.49 30.000 25.000 5.000 25.000


10-10

0 + 327.49 25.181 27.120 1.939 9.695


11-11

0 + 347.49 26.566 25.408 1.158 5.789


12-12

0 + 367.49 29.249 22.783 6.466 32.330


13-13

0 + 387.49 22.648 20.000 2.648 13.242


14-14

0 + 407.49 20.000 20.000 0.000 0.000


15-15

0 + 427.49 20.000 20.000 0.000 0.000


16-16

0 + 447.49 20.000 20.000 0.000 0.000


17-17

0 + 467.49 20.000 20.000 0.000 0.000


18-18

0 + 487.49 20.000 20.000 0.000 0.000


19-19

0 + 507.49 20.000 20.000 0.000 0.000


20-20

0 + 526.293 20.000 16.057 3.943 19.717


21-21

0 + 576.293 16.285 17.314 1.029 5.145


22-22

0 + 626.293 15.805 16.991 1.187 5.934


23-23

0 + 676.293 16.965 15.535 1.430 7.149


24-24
73

Lanjutan Tabel 2.8 Rekapitulasi Perhitungan Medan Jalan Trase 2

0 + 726.293 18.641 24.244 5.603 28.015


25-25

0 + 732.098 18.369 24.314 5.945 29.725


26-26

0 + 752.098 18.174 15.094 3.080 15.402


27-27

0 + 772.098 17.047 16.506 0.541 2.707


28-28

0 + 792.098 15.721 17.766 2.045 10.223


29-29

0 + 812.098 15.000 18.874 3.874 19.371


30-30

0 + 832.098 15.000 19.555 4.555 22.773


31-31

0 + 852.098 15.000 19.475 4.475 22.375


32-32

0 + 872.098 15.000 19.278 4.278 21.389


33-33

0 + 892.098 15.000 18.963 3.963 19.817


34-34

0 + 912.098 15.000 18.499 3.499 17.496


35-35

0 + 932.098 15.092 17.872 2.780 13.898


36-36

0 + 952.098 15.868 17.080 1.212 6.058


37-37

0 + 972.098 16.839 16.111 0.727 3.636


38-38

0 + 992.098 17.963 24.928 6.965 34.824


39-39

0 + 1012.098 19.360 22.823 3.463 17.315


40-40
74

Lanjutan Tabel 2.8 Rekapitulasi Perhitungan Medan Jalan Trase 2

0 + 1032.098 20.662 21.447 0.785 3.925


41-41

0 + 1052.098 21.540 20.717 0.824 4.119


42-42

0 + 1072.098 22.159 20.583 1.577 7.883


43-43

0 + 1092.098 20.844 22.039 1.195 5.973


44-44

0 + 1112.098 18.835 20.317 1.481 7.407


45-45

0 + 1132.098 15.820 17.911 2.091 10.454


46-46

0 + 1149.353 15.000 15.000 0.000 0.000


47-47

0 + 1199.353 15.000 15.000 0.000 0.000


48-48

0 + 1249.353 15.000 15.000 0.000 0.000


49-49

0 + 1299.353 20.000 20.000 0.000 0.000


50-50

0 + 1313.274 20.000 20.000 0.000 0.000


51-51

0 + 1333.274 20.000 20.000 0.000 0.000


52-52

0 + 1353.274 20.000 20.000 0.000 0.000


53-53

0 + 1373.274 20.000 20.000 0.000 0.000


54-54

0 + 1393.274 20.000 20.000 0.000 0.000


55-55

0 + 1413.274 25.000 20.207 4.793 23.965


56-56
75

Lanjutan Tabel 2.8 Rekapitulasi Perhitungan Medan Jalan Trase 2

0 + 1433.274 25.000 22.701 2.299 11.495


57-57

0 + 1453.274 25.000 21.063 3.937 19.684


58-58

0 + 1473.274 25.000 29.614 4.614 23.071


59-59

0 + 1493.274 25.000 27.512 2.512 12.558


60-60

0 + 1503.2 25.000 26.485 1.485 7.423


61-61

0 + 1553.2 31.542 31.297 0.245 1.225


62-62

0 + 1603.2 35.217 37.505 2.288 11.438


63-63

0 + 1653.2 34.554 37.657 3.104 15.519


64-64

0 + 1703.2 34.204 33.816 0.388 1.939


65-65

0 + 1753.2 20.570 23.927 3.357 16.787


66-66

0 + 1803.2 23.628 20.297 3.331 16.654


67-67

0 + 1853.2 20.000 17.812 2.188 10.938


68-68

0 + 1903.2 20.000 15.000 5.000 25.000


69-69

0 + 1953.2 20.000 20.000 0.000 0.000


70-70

0 + 2003.2 20.000 23.532 3.532 17.658


71-71

0 + 2053.2 24.582 27.605 3.023 15.117


72-72
76

Lanjutan Tabel 2.8 Rekapitulasi Perhitungan Medan Jalan Trase 2

0 + 2103.2 25.000 30.000 5.000 25.000


73-73

0 + 2153.2 28.892 21.192 7.700 38.501


74-74

0 + 2203.2 22.920 20.000 2.920 14.601


75-75

0 + 2253.2 20.000 20.000 0.000 0.000


76-76

0 + 2303.2 20.000 20.000 0.000 0.000


77-77

78-78 0 + 2353.2 20.000 20.000 0.000 0.000

79-79 0 + 2403.2 20.000 20.000 0.000 0.000

80-80 0 + 2404.543 20.000 20.000 0.000 0.000

81-81 0 + 2424.543 18.562 15.659 2.902 14.511

82-82 0 + 2444.543 16.993 16.890 0.103 0.516

83-83 0 + 2464.543 15.799 17.984 2.185 10.925

84-84 0 + 2484.543 15.000 19.047 4.047 20.237

85-85 0 + 2504.543 15.000 15.000 0.000 0.000

86-86 0 + 2524.543 15.000 15.000 0.000 0.000

87-87 0 + 2544.543 15.000 15.000 0.000 0.000

88-88 0 + 2564.543 15.000 15.000 0.000 0.000


77

Lanjutan Tabel 2.8 Rekapitulasi Perhitungan Medan Jalan Trase 2

89-89 0 + 2584.543 15.000 15.000 0.000 0.000

90-90 0 + 2604.543 19.527 15.000 4.527 22.633

91-91 0 + 2624.543 17.612 15.971 1.641 8.204

92-92 0 + 2644.543 16.336 17.404 1.068 5.339

93-93 0 + 2651.595 15.990 17.874 1.884 9.420

94-94 0 + 2701.595 20.000 20.000 0.000 0.000

95-95 0 + 2751.595 20.000 25.000 5.000 25.000

96-96 0 + 2801.595 19.635 20.000 0.365 1.823

97-97 0 + 2851.595 18.466 20.000 1.534 7.672

98-98 0 + 2901.595 20.000 20.000 0.000 0.000

99-99 0 + 2951.595 20.000 20.000 0.000 0.000

100-100 0 + 3001.595 20.000 17.134 2.866 14.330

101-101 0 + 3051.595 20.936 21.400 0.464 2.321

102-102 0 + 3101.595 25.000 24.367 0.633 3.166

103-103 0 + 3151.595 15.298 19.214 3.916 19.582

104-104 0 + 3201.595 17.494 15.000 2.494 12.471


78

Lanjutan Tabel 2.8 Rekapitulasi Perhitungan Medan Jalan Trase 2

105-105 0 + 3251.595 19.528 14.311 5.217 26.085

106-106 0 + 3301.595 13.021 11.373 1.648 8.240

107-107 0 + 3351.595 7.763 7.206 0.557 2.786

RATA-RATA
10,251%

2.6 Penentuan Jenis Lengkung Horizontal


Alinyemen horizontal terdiri dari bagian lurus jalan dan bagian lengkung
jalan atau tikungan. Perubahan badan jalan oleh kebutuhan pengguna jalan yang
akan diproyeksikan tegak lurus bidang datar. Bagian lengkung jalan atau tikungan
terbagi menjadi tiga jenis tikungan. Tikungan tersebut adalah sebagai berikut.
1. Lingkaran penuh (Full Circle = FC)
2. Spiral - Lingkaran - Spiral (Spiral - Circle - Spiral = S-C-S)
3. Spiral - Spiral (SS)
Berikut merupakan perhitungan ketentuan yang akan digunakan.
Kecepatan rencana (Vr) = 80 km/jam
Jari-jari rencana (Rc) = 319 m
e normal =3%
e maks =8%
a. Menentukan f max
f max = -0,00125.V + 0,24
= -0,00125 (80) + 0,24
= 0,14
b. Menentukan jari-jari kelengkungan minimum
𝑉𝑟 2
R min = 127 (𝑒 𝑚𝑎𝑘𝑠 + 𝑓 𝑚𝑎𝑘𝑠)

802
= 127 (0,08 + 0,14)

= 229,062 m
79

c. Menentukan derajat kelengkungan


1432
Dd = 319

= 4,4890
d. Menentukan derajat kelengkungan maksimum
181913,53 𝑥 (𝑒 𝑚𝑎𝑥 + 𝑓 𝑚𝑎𝑥)
D max = 𝑉𝑟 2
181913,53 𝑥 (0,08 + 0,14)
=
802

= 6,2530
e. Mencari superelevasi
−𝑒 𝑚𝑎𝑥 × 𝐷𝑑2 2 × 𝑒 𝑚𝑎𝑥 × 𝐷𝑑
e = +
𝐷 𝑚𝑎𝑥 2 𝐷 𝑚𝑎𝑥
−0,08 × 4,4892 2 × 0,08 × 4,489
= +
6,2532 6,253

= 0,074
= 7,4 %
f. Mencari panjang lengkung spiral
Berdasarkan waktu tempuh maksimum di lengkung peralihan
Lama perjalanan selama 3 detik
𝑉𝑟
Ls = 3,6 × t
80
= 3,6 × 3

= 70 m

Berdasarkan antisipasi gaya sentrifugal


𝑉𝑟 3 𝑉𝑟 .𝑒
Ls = 0,022 × - 2,727
𝑅𝑐 𝐶
803 80 .0,074
= 0,022 × 319 - 2,727 3

= 29,929 m

Berdasarkan tingkat pencapaian perubahan kelandaian


(𝑒𝑚 − 𝑒𝑛) 𝑉𝑟
Ls = 3,6 𝑟𝑒
(0,08− 0,03) 80
=
3,6 .0.025
80

= 44,4 m

Ls ditentukan dari 3 rumus tersebut dan diambil nilai yang terbesar yaitu
berdasarkan waktu tempuh maksimum di lengkung peralihan sebesar 70 m.

Berikut merupakan perhitungan untuk menentukan jenis tikungan FC atau


SCS.
1. Tikungan 1
Diketahui :
Vr = 80 km/jam
𝑒𝑛𝑜𝑟𝑚𝑎𝑙 = 3%
= 0,03
𝑒𝑚𝑎𝑥 = 8%
= 0,08
𝑓𝑚𝑎𝑥 = 0,14
Penyelesaian :
Rc = 319 m
e = 0,074 m
Ls = 70 m
Kaki terpendek = 392,466 m
𝛥𝐴𝐵𝐶 = 67,984°
𝑉𝑟 2
𝑅𝑚𝑖𝑛 = 127(𝑒
𝑚𝑎𝑘𝑠 +𝑓𝑚𝑎𝑘𝑠 )

802
= 127(0,08+0,14)

= 229,062 m
𝐿𝑠.90
𝜃𝑠 = 𝜋.𝑅𝑐
70.90
=𝜋.319

= 6,286°
𝛥𝑐 = 𝛥𝐴𝐵𝐶 - 2𝜃𝑠
= 67,984° - 2×6,286°
81

= 55,413°
𝛥𝑐 .2𝜋.𝑅𝑐
Lc = 360∘
55,413°.2𝜋.319
= 360∘

= 308,518 m
𝐿𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 = Lc + 2Ls
= 308,518 + 2×70
= 448,518 m
1 1
𝐿 = 2 𝐿𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙
2 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙
1
= 2 ×448,518

= 224,259 m
Dengan syarat, 1/2 Ltot < kaki terpendek bukan merupakan full circle.
𝐿𝑠3
Xc = Ls - [40 𝑅𝑐 2]
703
= 70 - [ ]
40 × 3192

= 69,916 m
𝐿𝑠2
Yc = 6.𝑅𝑐
702
= 6×319

= 2,56 m
P = Yc - ( 1-cos𝜃𝑠 )Rc
= 2,56 - ( 1-cos 6,286°)×319
= 0,64 m
Karena P > 0,25 maka, tipe lengkung yang digunakan yaitu lengkung S-C-S.
k = Xc - Rc sin 𝜃𝑠
= 69,916 - 319 sin 6,286°
= 34,99 m
𝛥
Ts = (Rc + P) tan 2+ k
67,984°
= (319 + 0,64) tan + 34,99
2

= 250,527 m
82

𝑅𝑐 + 𝑃
Es = 𝛥 - Rc
𝑐𝑜𝑠
2

319 + 0,64
= 67,984° - 319
𝑐𝑜𝑠
2

= 66,52 m
2. Tikungan 2
Diketahui :
Vr = 80 km/jam
𝑒𝑛𝑜𝑟𝑚𝑎𝑙 = 3%
= 0,03
𝑒𝑚𝑎𝑥 = 8%
= 0,08
𝑓𝑚𝑎𝑥 = 0,14
Penyelesaian :
Rc = 319 m
e = 0,074 m
Ls = 70 m
Kaki terpendek = 369,238 m
𝛥𝐵𝐶𝐷 = 17,127°
𝑉𝑟 2
𝑅𝑚𝑖𝑛 = 127(𝑒
𝑚𝑎𝑘𝑠 +𝑓𝑚𝑎𝑘𝑠 )

802
= 127(0,08+0,14)

= 229,062 m
𝐿𝑠.90
𝜃𝑠 =
𝜋.𝑅𝑐
70.90
=𝜋.319

= 6,286°
𝛥𝑐 = 𝛥𝐵𝐶𝐷 - 2𝜃𝑠
= 17,127° - 2×6,286°
= 4,556°
𝛥𝑐 .2𝜋.𝑅𝑐
Lc = 360∘
4,556°.2𝜋.319
=
360∘
83

= 25,364 m
𝐿𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 = Lc + 2Ls
= 25,364 + 2×70
= 165,364 m
1 1
𝐿 = 2 𝐿𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙
2 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙
1
= 2 ×165,364

= 82,682 m
Dengan syarat, 1/2 Ltot < kaki terpendek bukan merupakan full circle.
𝐿𝑠3
Xc = Ls - [40 𝑅𝑐 2]
703
= 70 - [40 × 3192]

= 69,916 m
𝐿𝑠2
Yc = 6.𝑅𝑐
702
= 6×319

= 2,56 m
P = Yc - ( 1-cos𝜃𝑠 )Rc
= 2,56 - ( 1-cos 6,286°)×319
= 0,64 m
Karena P > 0,25 maka, tipe lengkung yang digunakan yaitu lengkung S-C-S.
k = Xc - Rc sin 𝜃𝑠
= 69,916 - 319 sin 6,286°
= 34,99 m
𝛥
Ts = (Rc + P) tan 2+ k
17,127°
= (319 + 0,64) tan + 34,99
2

= 83,123 m
𝑅𝑐 + 𝑃
Es = 𝛥 - Rc
𝑐𝑜𝑠
2

319 + 0,64
= 17,127° - 319
𝑐𝑜𝑠
2

= 4,244 m
84

3. Tikungan 3
Diketahui :
Vr = 80 km/jam
𝑒𝑛𝑜𝑟𝑚𝑎𝑙 = 3%
= 0,03
𝑒𝑚𝑎𝑥 = 8%
= 0,08
𝑓𝑚𝑎𝑥 = 0,14
Penyelesaian :
Rc = 319 m
e = 0,074 m
Ls = 70 m
Kaki terpendek = 758,21 m
𝛥𝐷𝐸𝐹 = 55,68°
𝑉𝑟 2
𝑅𝑚𝑖𝑛 = 127(𝑒
𝑚𝑎𝑘𝑠 +𝑓𝑚𝑎𝑘𝑠 )

802
= 127(0,08+0,14)

= 229,062 m
𝐿𝑠.90
𝜃𝑠 = 𝜋.𝑅𝑐
70.90
=𝜋.319

= 6,286°
𝛥𝑐 = 𝛥𝐷𝐸𝐹 - 2𝜃𝑠
= 55,68° - 2×6,286°
= 43,109°
𝛥𝑐 .2𝜋.𝑅𝑐
Lc = 360∘
43,109°.2𝜋.319
= 360∘

= 240,015 m
𝐿𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 = Lc + 2Ls
= 240,015 + 2×70
85

= 380,015 m
1 1
𝐿 = 2 𝐿𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙
2 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙
1
= 2 ×380,015

= 190,008 m
Dengan syarat, 1/2 Ltot < kaki terpendek bukan merupakan full circle.
𝐿𝑠3
Xc = Ls - [ ]
40 𝑅𝑐 2
703
= 70 - [40 × 3192]

= 69,916 m
𝐿𝑠2
Yc =
6.𝑅𝑐
702
= 6×319

= 2,56 m
P = Yc - ( 1-cos𝜃𝑠 )Rc
= 2,56 - ( 1-cos 6,286°)×319
= 0,64 m
Karena P > 0,25 maka, tipe lengkung yang digunakan yaitu lengkung S-C-S.
k = Xc - Rc sin 𝜃𝑠
= 69,916 - 319 sin 6,286°
= 34,99 m
𝛥
Ts = (Rc + P) tan 2+ k
55,68°
= (319 + 0,64) tan + 34,99
2

= 203,804 m
𝑅𝑐 + 𝑃
Es = 𝛥 - Rc
𝑐𝑜𝑠
2

319 + 0,64
= 55,68° - 319
𝑐𝑜𝑠
2

= 42,48 m

2.7 Perhitungan Koordinat


1. Koordinat titik pokok pada tikungan 1 (UTM)
86

a. Sta. A
𝑋𝑎 = 819525
𝑌𝑎 = 597286
b. Sta. B
𝑋𝑏 = 𝑋𝑎 + (AB sin 𝛽1)
= 819525 + (1038,728 x sin 65,606°)
= 820471
𝑌𝑏 = 𝑌𝑎 + (AB cos 𝛽1)
= 597286 + (1038,728 x cos 65,606°)
= 597715
c. Sta. B’
𝑋𝑏′ = 𝑋𝑏 + (AB’ sin 𝛽2)
= 820471 + (1038,7 x sin 133,591°)
= 821223,336
𝑌𝑏′ = 𝑌𝑏 + (AB’ cos 𝛽2)
= 597286 + (1038,7 x cos 133,591°)
= 596569,797
d. Sta. TS
𝑋𝑇𝑆 = 𝑋𝑎 + (AB - TS) sin𝛽1
= 819525 + (1038,728 - 250.527) sin 65,606°
= 820242,838
𝑌𝑇𝑆 = 𝑌𝑎 + (AB - TS) cos𝛽1
= 597286 + (1038,728 - 250,527) cos 65,606°
= 597611,531
e. Sta. ST
𝑋𝑆𝑇 = 𝑋𝑎 + TS sin𝛽1
= 82047 + 250,527 sin 133,591°
= 820652,453
𝑌𝑆𝑇 = 𝑌𝑎 + (AB - TS) cos𝛽1
= 597286 + 250,527 cos 133,591°
= 5976113,262
87

f. Sta. O
Koordinat pusat lingkaran O dihitung dari titik E
Azimuth garis 𝐵𝑜 = 𝛽2 + (180 - (𝛽2-𝛽1))/2
= 133,591 + (180-(133,591-65,606)/2
= 189,598°
𝑋𝑜 = 𝑋𝑏 + (Es + Rc) sin 𝛽𝑜
= 820471 + (66,520 + 319) sin 189,598
= 820406,718
𝑌𝑜 = 𝑌𝑏 + (Es + Rc) cos 𝛽𝑜
= 597286 + (66,520 + 319) cos 189,598
= 596905,877
g. Sta. CS
𝛥𝐶
𝛥𝐶𝑆 = + ( 180° + 𝛽𝐵𝑂 )
2
55,413
= + ( 180° + 189,598°)
2

= 397,305°
𝑋𝐶𝑆 = 𝑋𝑂 + Rc sin𝛥𝐶𝑆
= 820406 + 319 . sin 397,305°
= 820600,050
𝑌𝐶𝑆 = 𝑌𝑂 + Rc cos𝛥𝐶𝑆
= 596905,877 + 319 . cos 397,305°
= 597159,616
h. Sta. SC
𝛥𝐶
𝛥𝑆𝐶 = + ( 180° - 𝛽𝐵𝑂 )
2
55,413
= + ( 180° - 189,598)
2

= 18,108°
𝑋𝑆𝐶 = 𝑋𝑂 - Rc sin𝛥𝑆𝐶
= 820406,718 - 319 . sin 18,108°
= 820307,569 m
𝑌𝑆𝐶 = 𝑌𝑂 + Rc cos𝛥𝑆𝐶
88

= 596905,877 + 319 . cos 18,108°


= 597209,078 m

Tabel 2.9 Rekapitulasi Koordinat Titik Penting

Titik Nama Koordinat (UTM)


Koordinat
Tikungan 1 Tikungan 2 Tikungan 3

Titik A 𝑋𝑎 819525 820471 821054

𝑌𝑎 597286 597715 597160

Titik B 𝑋𝑏 820471 820471 821733

𝑌𝑏 597715 597715 596822

Titik B’ 𝑋𝑏′ 821223,336 821054 821836,670

𝑌𝑏′ 596998,797 597160 596070,643

Titik TS 𝑋𝑇𝑆 820242,838 821384 821550,551

𝑌𝑇𝑆 597611,531 596995 596912,821

Titik ST 𝑋𝑆𝑇 820652,453 820993 821760,856

𝑌𝑆𝑇 597542,262 597217 596620,108

Titik O 𝛽0 (°) 189,598 35,027 234,304

𝑋0 820406,718 821239,530 821439,434

𝑌0 597334,877 597424,698 596611,082

Titik CS 𝛥𝐶𝑆 (°) 397,305 147,251 435,859

𝑋𝐶𝑆 820600,050 821066,963 821748,766


89

Lanjutan Tabel 2.9 Rekapitulasi Koordinat Titik Penting


𝑌𝐶𝑆 597588,616 597156,404 596689,018

Titik SC 𝛥𝑆𝐶 (°) 18,108 -142,695 -32,749

𝑋𝑆𝐶 820307,569 821046,198 821612,001

𝑌𝑆𝐶 597638,078 597170,959 596879,375

2.8 Perhitungan Stasiun


Berikut ini merupakan perhitungan stasiun pada tikungan 1, tikungan 2, dan
tikungan 3.
Stasiun titik pokok trase 1
1. Tikungan 1
a. Sta. A =0+0m
b. Sta. TS = 0 + (AB - Ts)
= 0 + (1038,729 - 250,527)
= 0 + 788,202 m
c. Sta. SC = 0 +( Sta. TS + Ls)
= 0 + (788,64 + 70)
= 0 + 858,64 m
d. Sta. C = 0 + (AB + BC)
= 0 + (1038,729 + 804,931)
= 0 + 1843,66 m
e. Sta. CS = Sta. SC + Lc
= 0 + (858,64 + 308,518)
= 0 + 1167,158 m
f. Sta. ST = Sta. CS + Ls
= 0 + (1167,158 + 70)
= 0 + 1237,158 m
2. Tikungan 2
a. Sta. B = 0 + AB m
90

= 0 + 1038,729
b. Sta. TS = 0 + (AB+ CD - Ts)
= 0 + (1038,729 + 758,48 – 83,123)
= 0 + 1714,086 m
c. Sta. SC = 0 +( Sta. TS + Ls)
= 0 + (1714,086 + 70)
= 0 + 1784,086 m
d. Sta. D = 0 + (AB+BC+CD)
= 0 + (1038,729 + 804,931 + 758,485)
= 0 + 2602,145 m
e. Sta. CS = Sta. SC + Lc
= 0 + (1784,086 + 25,364)
= 0 + 1809,45 m
f. Sta. ST = Sta. CS + Ls
= 0 + (1809,45 + 70)
= 0 + 1879,45 m
3. Tikungan 3
a. Sta. C = 0 + (AB + BC)
= 0 + (1038,729 + 804,931)
= 0 + 1843,66 m
b. Sta. TS = 0 + (AB+ CD +((DE-20)/2) - Ts)
= 0 + (1038,729 + 758,48 + 758,48 – 83,123)
= 0 + 2351,885 m
c. Sta. SC = 0 +( Sta. TS + Ls)
= 0 + (2351,885 + 70)
= 0 + 2421,885 m
d. Sta. E = 0 + (AB+BC+CD+DE)
= 0 + (1038,729 + 804,931 + 758,485 + 1536,419)
= 0 + 4138,564 m
e. Sta. CS = Sta. SC + Lc
= 0 + (2421,885 + 25,364)
91

= 0 + 2661,9 m
f. Sta. ST = Sta. CS + Ls
= 0 + (2661,9 + 70)
= 0 + 2731,9 m

2.9 Jarak Pandang


2.9.1 Teori Pengantar
Jarak pandang adalah suatu jarak yang diperlukan oleh seorang pengemudi
pada saat mengemudi. Ketika pengemudi melihat suatu halangan, ia bisa melakukan
tindakan untuk menghindari bahaya. Terdapat dua jenis jarak pandang, yaitu jarak
pandang henti dan jarak pandang menyiap.
2.9.2 Jarak Pandang Henti (JH)
Jarak pandang henti adalah jarak minimum yang diperlukan oleh setiap
pengemudi untuk menghentikan kendaraan dengan aman begitu melihat adanya
halangan yang berada di depannya. Jarak henti dapat diukur berdasarkan asumsi
tinggi mata pengemudi yaitu 10 cm dan tinggi halangan 15 cm dari permukaan
jalan. Jarak henti terdiri dari dua elemen antara lain sebagai berikut.
1. Jarak Adalah jarak yang ditempuh oleh kendaraan sejak pengemudi melihat
halangan sampai saat dimana pengemudi menginjak rem.
2. Jarak pengereman adalah jarak yang dibutuhkan untuk menghentikan
kendaraan sejak pengemudi mengerem sampai kendaraan berhenti.

Gambar 2.10 Jarak Pandang Henti Lengkung Vertikal Cembung


92

Gambar 2.11 Jarak Pandang Henti Lengkung Vertikal Cekung


(Sumber : Pedoman Desain Geometrik Jalan 2020)
Jarak henti dalam satuan meter dapat dihitung dengan rumus sebagai
berikut.

𝑉𝑅 (𝑉𝑅/3,6)2
JH = t+
3,6 2.𝑔.𝑓

dengan:
VR = kecepatan rencana (km/jam)
t = waktu tanggap (2,5 detik)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
f = koefisien gesek
2.9.3 Jarak Pandang Menyiap (JD)
Jarak pandang menyiap adalah jarak yang memungkinkan suatu kendaraan
mendahului kendaraan lain di depannya dengan aman sampai kendaraan tersebut
kembali ke jalur semula. JD diukur berdasarkan asumsi bahwa tinggi mata adalah
105 cm. JD dalam meter ditentukan sebagai berikut:

JD = 𝑑1 + 𝑑2 + 𝑑3 + 𝑑4

keterangan:
𝑑1 = jarak yang ditempuh selama waktu tanggap (m)
𝑑2 = jarak yang ditempuh selama mendahului sampai kembali ke lajur
semula (m)
93

𝑑3 = jarak kendaraan mendahului dengan kendaraan yang datang dari arah


berlawanan (m)
𝑑4 = jarak tempuh kendaraan dari arah berlawanan atau 2/3𝑑2 (m)

Gambar 2.12 Jarak Pandang Menyiap


JD yang sesuai dengan VR dapat dilihat pada tabel 2.10

Tabel 2.10 Panjang Jarak Menyiap

VR 120 100 80 60 50 40 30
(km/jam)

JD (m) 800 670 550 350 250 200 150

Daerah mendahului harus disebar sepanjang jalan dengan jumlah 30% dari
panjang total ruas jalan tersebut.

2.9.4 Perhitungan Jarak Pandang


1. Jarak pandang menyiap
94

Diketahui:
Vr = 80 km/jam
m = 15 km/jam
Perhitungan:
a = 2,052 + 0,0036Vr
= 2,052 + (0,0036 x 80)
= 2,34 km/jam
t1 = 2,12 + 0,026Vr
= 2,12 + (0,026 x 80)
= 4,2 detik
t2 = 6,56 + 0,048Vr
= 6,56 + (0,048 x 80)
= 10,4 detik
D1 = 0,278 x t1 x (Vr-m+((a x t1)/2))
= 0,278 x 3,94 x (80-15+((2,34 x 4,2)/2))
= 81,632 m
D2 = 0,278 x t2 x Vr
= 0,278 x 10,4 x 80
= 231,296 m
D3 = 50 m
D4 = ⅔ x D2
= ⅔ x 231,296
= 154,197 m
JPM = D1 + D2+ D3 +D4
= 81,632 + 231,296 + 50 + 154,197
= 517,125 m

2. Jarak pandang henti


Diketahui:
Vr = 80 km/jam
f = 0,14
95

g = 9,81 m/detik
t1 = 1,5 detik
t2 = 1 detik
G = 6%
Perhitungan:
t = t1 + t2
= 1,5 + 1
= 2,5 detik
𝑉𝑟
JPH = (0,278 × Vr × t) + 254×(𝑓±𝐺)
80
= (0,278 × 80 × 2,5) + 254×(0,14±6%)

= 55,605 m
2.9.5 Perhitungan Ruang Bebas Samping dan Pelebaran
1. Ruang Bebas Samping
Berikut merupakan perhitungan ruang bebas samping pada trase 1
a. Tikungan 1
Lebar Lajur = 3,6 m
Rc = 319 m
JPH = 55,605 m
R’ = Rc - (½ . Lebar lajur)
= 319 - (½ . 3,6)
= 317,2 m
90° .𝐽𝑃𝐻
E = R’× (1-cos )
𝜋.𝑅′
90° .55,605
= 317,2 x (1-cos )
317,2𝜋

= 1,218 m
b. Tikungan 2
Lebar Lajur = 3,6 m
Rc = 319 m
JPH = 55,605 m
R’ = Rc - (½ . Lebar lajur)
= 319 - (½ . 3,6)
96

= 317,2 m
90° .𝐽𝑃𝐻
E = R’× (1-cos )
𝜋.𝑅′
90° .55,605
= 317,2 x (1-cos )
317,2𝜋

= 1,218 m
c. Tikungan 3
Lebar Lajur = 3,6 m
Rc = 319 m
JPH = 55,605 m
R’ = Rc - (½ . Lebar lajur)
= 319 - (½ . 3,6)
= 317,2 m
90° .𝐽𝑃𝐻
E = R’× (1-cos )
𝜋.𝑅′
90° .55,605
= 317,2 x (1-cos )
317,2𝜋

= 1,218 m
Berikut merupakan perhitungan ruang bebas samping pada trase 2
a. Tikungan 1
Lebar Lajur = 3,6 m
Rc = 319 m
JPH = 55,605 m
R’ = Rc - (½ . Lebar lajur)
= 319 - (½ . 3,6)
= 317,2 m
90° .𝐽𝑃𝐻
E = R’× (1-cos )
𝜋.𝑅′
90° .55,605
= 317,2 x (1-cos )
317,2𝜋

= 1,218 m
b. Tikungan 2
Lebar Lajur = 3,6 m
Rc = 319 m
JPH = 55,605 m
97

R’ = Rc - (½ . Lebar lajur)
= 319 - (½ . 3,6)
= 317,2 m
90° .𝐽𝑃𝐻
E = R’× (1-cos )
𝜋.𝑅′
90° .55,605
= 317,2 x (1-cos )
317,2𝜋

= 1,218 m
c. Tikungan 3
Lebar Lajur = 3,6 m
Rc = 319 m
JPH = 55,605 m
R’ = Rc - (½ . Lebar lajur)
= 319 - (½ . 3,6)
= 317,2 m
90° .𝐽𝑃𝐻
E = R’× (1-cos )
𝜋.𝑅′
90° .55,605
= 317,2 x (1-cos )
317,2𝜋

= 1,218 m
2. Pelebaran Truk dan Semi Trailer
Berdasarkan PP No. 43 tahun 1992 Pasal 11, jalan kelas I (arteri) muatan sumbu
terberat lebih dari 10 ton sehingga direncanakan kendaraan terberat yang
melintas adalah kendaraan berat.

Berikut merupakan perhitungan pelebaran untuk trase 1.


Lebar bahu jalan = 1,5 m
Lebar bahu dalam = 0,75 m
Lebar jalan satu jalur = 7,2 m
V rencana = 80 km/jam
R rencana = 319 m

a. Pelebaran truk
R1 = R rencana - lebar jalur
= 319 - 7,2
= 311,8 m
Rc = R1 + ½ b
98

= 311,8 + ½ . 2,25
= 312,925 m

Rw = √(√𝑅𝑐 2 − 64 + 1,25)2 + 64

= √(√312,9252 − 64 + 1,25)2 + 64

= 314,174 m

B = Rw + 1,25 - √𝑅𝑐 2 − 64

= 314,174+ 1,25 - √312,9252 − 64


= 2,601 m
E =B-b
= 2,601 - 2,25
= 0,351 m
b. Pelebaran semi trailer
R1 = R rencana - lebar jalur
= 319 - 7,2
= 311,8 m
Rc = R1 + ½ b
= 311,8 + ½ . 2,25
= 312,925 m

Rw = √(√𝑅𝑐 2 − 28,09 + 1,25)2 + 28,09

= √(√312,9252 − 28,09 + 1,25)2 + 28,09

= 314,175 m

B = Rw + 1,25 - √𝑅𝑐 2 − 109,09

= 314,175 + 1,25 - √312,9252 − 109,09


= 2,674 m
E =B-b
= 2,674 - 2,25
99

= 0,424 m
Berikut merupakan perhitungan pelebaran untuk trase 2.
Lebar bahu jalan = 1,5 m
Lebar bahu dalam = 0,75 m
Lebar jalan satu jalur = 7,2 m
V rencana = 80 km/jam
R rencana = 319 m

a. Pelebaran truk
R1 = R rencana - lebar jalur
= 319 - 7,2
= 311,8 m
Rc = R1 + ½ b
= 311,8 + ½ . 2,25
= 312,925 m

Rw = √(√𝑅𝑐 2 − 64 + 1,25)2 + 64

= √(√312,9252 − 64 + 1,25)2 + 64

= 314,174 m

B = Rw + 1,25 - √𝑅𝑐 2 − 64

= 314,174+ 1,25 - √312,9252 − 64


= 2,601 m
E =B-b
= 2,601 - 2,25
= 0,351 m
b. Pelebaran semi trailer
R1 = R rencana - lebar jalur
= 319 - 7,2
= 311,8 m
Rc = R1 + ½ b
= 311,8 + ½ . 2,25
100

= 312,925 m

Rw = √(√𝑅𝑐 2 − 28,09 + 1,25)2 + 28,09

= √(√312,9252 − 28,09 + 1,25)2 + 28,09

= 314,175 m

B = Rw + 1,25 - √𝑅𝑐 2 − 109,09

= 314,175 + 1,25 - √312,9252 − 109,09


= 2,674 m
E =B-b
= 2,674 - 2,25
= 0,424 m

2.10 Superelevasi
Superelevasi adalah suatu kemiringan melintang di tikungan yang
berfungsi mengimbangi gaya sentrifugal yang diterima kendaraan pada saat
berjalan melalui tikungan pada kecepatan VR. Nilai superelevasi maksimum
ditetapkan 8%. Superelevasi pada perencanaan biasa digambarkan dengan sebuah
diagram yang disebut dengan diagram superelevasi. Diagram tersebut mewakilkan
nilai-nilai yang terdapat pada gambar tikungan sesungguhnya seperti awal dan akhir
lengkung, panjang lengkung (Ls), kemiringan sisi jalan (e), dan sumbu utama jalan.
Hal itu memudahkan para pekerja di lapangan ketika melaksanakan pekerjaan jalan.
Terdapat tiga jenis diagram superelevasi berdasarkan jenis lengkung.
Diagram tersebut yaitu diagram superelevasi untuk lengkung penuh (full circle).
diagram superelevasi untuk lengkung peralihan (spiral-circle-spiral), dan diagram
superelevasi untuk lengkung spiral-spiral. Ketiga jenis tersebut pada dasarnya
hampir sama tetapi, terdapat beberapa hal yang membedakan jenis-jenis tersebut.
Pencapaian superelevasi dilakukan sebagian pada jalan lurus dan sebagian
lagi pada bagian lengkung. Hal itu disebabkan karena pada bagian lengkung
peralihan itu sendiri tidak ada, maka, panjang daerah pencapaian kemiringan
disebut sebagai panjang peralihan fiktif (Ls’). Bina Marga menempatkan ¾ Ls’ di
101

bagian lurus (kiri TC atau kanan CT) dan ¼ Ls’ ditempatkan di bagian lengkung
(kanan TC atau kiri CT), selanjutnya dengan mengambil kemiringan normal
berdasarkan daftar Perencanaan Geometrik Ruas Jalan, diagram superelevasi dapat
dilihat seperti gambar berikut ini. Tikungan Full Circle dapat dilihat pada gambar
dibawah.

Gambar 2.13 Diagram Superelevasi untuk Tikungan Full Circle


102

Sedangkan Spiral-Circle-Spiral dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 2.14 Diagram Superelevasi untuk Tikungan Spiral-Circle-Spiral

Penjelasan :
Potongan I
Kemiringan permukaan perkerasan jalan tersebut bersifat normal, yaitu sebagian
miring ke arah kiri dan sebagian lagi miring ke arah kanan.
Potongan II
103

Pada kondisi ini, bagian sisi luar sudah bergerak ke atas dari posisi awal seperti
pada potongan I menjadi rata (datar) dengan kemiringan sebesar 0%. Dengan
demikian bentuk permukaan jalan menjadi rata sebelah.
Potongan III
Bagian sisi luar tikungan terus bergerak ke atas sehingga akhirnya segaris (satu
kemiringan) dengan sisi dalam. Besarnya kemiringan tersebut menjadi sebesar
kemiringan normal.
Potongan IV
Sisi luar maupun sisi dalam tikungan sama-sama bergerak naik sehingga mencapai
kemiringan sebesar kemiringan maksimum yang ditetapkan pada tikungan tersebut.
Setelah melewati titik CS, maka bentuk potongan berangsur-angsur kembali ke
bentuk potongan III selanjutnya ke potongan II dan akhirnya kembali lagi ke bentuk
potongan I, yakni bentuk normal.

2.10.1 Diagram Superelevasi Trase 1


Berikut ini merupakan diagram Superelevasi Trase 1.
1. Superelevasi Tikungan 1
Lebar 1 lajur = 3,6 m
Lebar 1 jalur = 7,2 m
en = 3 %
e = 7,4 %
Ls = 70 m
Lc = 306,518 m
104

Gambar 2.15 Diagram Superelevasi Tikungan 1 Trase 1

2. Superelevasi Tikungan 2
Lebar 1 lajur = 3,6 m
Lebar 1 jalur = 7,2 m
en = 3 %
e = 7,4 %
Ls = 70 m
Lc = 25,36 m
105

Gambar 2.16 Diagram Superelevasi Tikungan 2 Trase 1

3. Superelevasi Tikungan 3
Lebar 1 lajur = 3,6 m
Lebar 1 jalur = 7,2 m
en = 3 %
e = 7,4 %
Ls = 70 m
Lc = 240,015 m
106

Gambar 2.17 Diagram Superelevasi Tikungan 3 Trase 1

2.10.2 Diagram Superelevasi Trase 2


1. Superelevasi Tikungan
Lebar 1 lajur = 3,6 m
Lebar 1 jalur = 7,2 m
en = 3 %
e = 7,4 %
Ls = 70 m
Lc = 198,27 m
107

Gambar 2.18 Digram Superelevasi Tikungan 1 Trase 2

2. Superelevasi Tikungan 2
Lebar 1 lajur = 3,6 m
Lebar 1 jalur = 7,2 m
en = 3 %
e = 7,4 %
Ls = 70 m
Lc = 276,556 m
108

Gambar 2.19 Diagram Superelevasi Tikungan 2 Trase 2

3. Superelevasi Tikungan 3
Lebar 1 lajur = 3,6 m
Lebar 1 jalur = 7,2 m
en = 3 %
e = 7,4 %
Ls = 70 m
Lc = 49,775 m
109

Gambar 2.20 Diagram Superelevasi Tikungan 3 Trase 2

4. Superelevasi Tikungan 4
Lebar 1 lajur = 3,6 m
Lebar 1 jalur = 7,2 m
en = 3 %
e = 7,4 %
Ls = 70 m
Lc = 107,047 m
110

Gambar 2.21 Diagram Superelevasi Tikungan 4 Trase 2

2.11 Alinyemen Vertikal


Alinyemen vertikal adalah perpotongan antara bidang vertikal dengan
sumbu jalan. Pada jalan dengan dua lajur alinyemen vertikal tersebut adalah
perpotongan bidang vertikal dengan bidang permukaan perkerasan jalan melalui
sumbu jalan untuk jalan 2 lajur 2 arah atau melalui tepi dalam masing-masing
perkerasan untuk jalan dengan median. Sedangkan, untuk jalan dengan jumlah lajur
yang banyak, alinyemen vertikal diartikan sebagai perpotongan bidang vertikal
melalui tepi dalam masing-masing perkerasan.
Perencanaan alinyemen vertikal dipengaruhi oleh besarnya biaya
pembangunan yang tersedia. Alinyemen vertikal yang mengikuti muka tanah asli
akan mengurangi pekerjaan tanah, tetapi mungkin saja akan mengakibatkan jalan
itu terlalu banyak mempunyai tikungan. Tentu saja hal ini belum tentu sesuai
dengan persyaratan yang diberikan sehubungan dengan fungsi jalannya. Muka jalan
sebaiknya diletakkan sedikit di atas muka tanah asli sehingga memudahkan dalam
pembuatan drainase jalannya, terutama di daerah yang datar.
111

Pada daerah yang seringkali dilanda banjir sebaiknya penampang


memanjang jalan diletakkan di atas elevasi muka banjir. Di daerah perbukitan atau
pegunungan diusahakan banyaknya pekerjaan galian seimbang dengan pekerjaan
timbunan, sehingga secara keseluruhan biaya yang dibutuhkan tetap dapat
dipertanggung jawabkan. Jalan yang terletak diatas lapisan tanah yang lunak harus
pula diperhatikan akan kemungkinan besarnya penurunan dan perbedaan
penurunan yang mungkin terjadi. Dengan demikian penarikan alinyemen vertikal
sangat dipengaruhi oleh pertimbangan seperti :
1. Kondisi tanah dasar
2. Keadaan medan
3. Fungsi jalan
4. Muka air banjir
5. Muka air tanah
6. Kelandaian yang masih memungkinkan
Alinyemen vertikal disebut sebagai penampang memanjang jalan. Profil ini
menggambarkan tinggi rendahnya jalan terhadap muka tanah asli, sehingga
alinyemen ini dapat memberikan gambaran terhadap kemampuan kendaraan dalam
keadaan naik dan bermuatan penuh (truk digunakan sebagai kendaraan standard).
Selain itu, Alinyemen vertikal disebut juga penampang memanjang jalan yang
terdiri dari garis-garis lurus dan garis-garis lengkung. Garis lurus tersebut dapat
datar, mendaki atau menurun, biasa disebut berlandai. Landai jalan dinyatakan
dengan persen.
Pada umumnya gambar rencana suatu jalan dibaca dari kiri ke kanan, maka
landai jalan diberi tanda positif untuk pendakian dari kiri ke kanan, dan landai
negatif untuk penurunan dari kiri. Pendakian dan penurunan memberi efek yang
berarti terhadap gerak kendaraan. Hal yang perlu untuk diperhatikan adalah bahwa
alinyemen vertikal yang direncanakan itu akan berlaku untuk masa panjang,
sehingga sebaiknya alinyemen vertikal yang dipilih dapat mengikuti perkembangan
lingkungan.
2.11.1 Perhitungan Alinyemen Vertikal Trase 1
1. Perhitungan kelandaian trase 1
112

Berikut ini merupakan contoh perhitungan kelandaian pada trase 1


𝑒𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝑃𝑃𝑉1 − 𝑒𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝐴
a. Kelandaian g1 = 𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖𝑢𝑛 𝑃𝑃𝑉1 − 𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖𝑢𝑛 𝐴 ×100%
16,345 − 13,118
= ×100%
426,326 − 0

= 0,7571%
𝑒𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝑃𝑃𝑉2 − 𝑒𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝑃𝑃𝑉1
b. Kelandaian g2 = 𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖𝑢𝑛 𝑃𝑃𝑉2 − 𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖𝑢𝑛 𝑃𝑃𝑉1 ×100%
16,345 − 16,345
= 911,4724 − 426,326 ×100%

= 0%
𝑒𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝑃𝑃𝑉3 − 𝑒𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝑃𝑃𝑉2
c. Kelandaian g3 = 𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖𝑢𝑛 𝑃𝑃𝑉3 − 𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖𝑢𝑛 𝑃𝑃𝑉2 ×100%
14,674 − 16,345
= 1385,011 − 911,4724 ×100%

= -0,3529%
Hasil perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2.11 Rekapitulasi Perhitungan Kelandaian pada Trase 1

Nama Elevasi Stasiun Kelandaian (%)


Rencana

A 13,118 0,0000 g1 0,7571

PPV1 16,345 426,3255 g2 0,0000

PPV2 16,345 911,4724 g3 -0,3529

PPV3 14,674 1385,0111 g4 0,0000

PPV4 14,674 1804,9514 g5 -0,4329

PPV5 13,188 2148,3467 g6 0,0000

PPV6 13,188 2577,7018 g7 1,3267

PPV7 18,669 2990,8838 g8 -0,0071

PPV8 18,639 3415,1191 g9 -2,2243

E 6,151 3976,55

2. Perhitungan Detail PPV trase 1


a. PPV 1
Stasiun PPV1 = √(𝑒𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝑃𝑃𝑉1 − 𝐸𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝑃𝑃𝑉 𝐴)2 + (𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖𝑢𝑛 𝑃𝑃𝑉1 − 𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖𝑢𝑛 𝑃𝑃𝑉 𝐴)2
113

= √(16,345 − 13,118)2 + (426,325 − 0)2

= 426,34 m
𝛥1 = |𝑔2 − 𝑔1 |
= |0 − 0,757|
= 0,76 m
b. PPV 2
Stasiun PPV1 = √(𝑒𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝑃𝑃𝑉1 − 𝐸𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝑃𝑃𝑉 𝐴)2 + (𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖𝑢𝑛 𝑃𝑃𝑉1 − 𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖𝑢𝑛 𝑃𝑃𝑉 𝐴)2

= √(16,345 − 16,345)2 + (911,472 − 426,325)2

= 485,15 m
𝛥1 = |𝑔2 − 𝑔1 |
= |−0,353 − 0|
= 0,35 m
c. PPV 3
Stasiun PPV1 = √(𝑒𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝑃𝑃𝑉1 − 𝐸𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝑃𝑃𝑉 𝐴)2 + (𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖𝑢𝑛 𝑃𝑃𝑉1 − 𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖𝑢𝑛 𝑃𝑃𝑉 𝐴)2

= √(14,674 − 16,345)2 + (1385,011 − 911,472)2

= 473,54 m
𝛥1 = |𝑔2 − 𝑔1 |
= |0 − (−0,353)|
= 0,35 m
Hasil perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini

Tabel 2.12 Rekapitulasi Perhitungan PPV Trase 1

Nama Elevasi Stasiun Kelandaian (%)


Rencana

A 13,118 0.0000 gA

PPV1 16.345 426.3255 g1 0.7571

Lanjutan Tabel 2.12 Rekapitulasi Perhitungan PPV Trase 1


114

PPV2 16.345 911.4724 g2 0.0000

PPV3 14.674 1385.0111 g3 -0.3529

PPV4 14.674 1804.9514 g4 0.0000

PPV5 13.188 2148.3467 g5 -0.4329

PPV6 13.188 2577.7018 g6 0.0000

PPV7 18.669 2990.8838 g7 1.3267

PPV8 18.639 3415.1191 g8 -0.0071

E 6.151 3976.55 gB -2.2243

3. Perhitungan LV
Berikut merupakan perhitungan LV
a. LV 1 dipakai = 53.00 m
b. LV 2 dipakai = 24.70 m
c. LV 3 dipakai = 34.86 m
d. LV 4 dipakai = 30.30 m
e. LV 5 dipakai = 42.76 m
f. LV 6 dipakai = 131.04 m
g. LV 7 dipakai = 93.97 m
h. LV 8 dipakai = 155.21 m

4. Perhitungan Ev
𝛥1 .𝐿𝑉1
a. EV1 = 800
0,76 .53
= 800

= 0,05 m
115

𝛥1 .𝐿𝑉1
b. EV1 = 800
0,35 .24,7
= 800

= 0,01 m
𝛥1 .𝐿𝑉1
c. EV1 = 800
0,35 .34,86
= 800

= 0,02 m
Hasil perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2.13 Rekapitulasi Perhitungan EV Trase 1

Nama EV

EV1 0.05

EV2 0.01

EV3 0.02

EV4 0.02

EV5 0.02

EV6 0.22

EV7 0.16

EV8 0.43

5. Perhitungan PPV
a. PPV1
Jarak A-PPV1 = Stasiun PPV1 - Stasiun A
= 426,325 - 0
= 426,325 m
116

𝛥Elevasi = Elevasi PPV1 - Elevasi A


= 16,345 - 13,118
= 3,228 m
x1 = √(𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐴 − 𝑃𝑃𝑉1)2 − (𝛥𝐸𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 2 )

= √(426,3252 ) − (3,2282 )
= 426,31 m
Jarak A-PPV1 = √𝑥12 + (𝑔1 . 𝑥1)2

= √426,312 + (0,0076 . 426,31)2


= 426,33 m
Elevasi PPV1 = Elevasi A + (g1 . x1)
= 13,118 + (0,0076 . 426,33)
= 16,35 m
Stasiun PPV1 = Stasiun A + (jarak A - PPV1)
= 0 + 426,33
= 426,33 m
b. PPV2
Jarak PPV1-PPV2 = Stasiun PPV2 - Stasiun PPV1
= 911,472 - 426,325
= 485,15 m
𝛥Elevasi = Elevasi PPV2 - Elevasi PPV1
= 16,345 - 16,345
=0m
x2 = √(𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑃𝑃𝑉1 − 𝑃𝑃𝑉2 − (𝛥𝐸𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 2 )

= √(485,152 ) − (02 )
= 485,15 m
Jarak PPV1-PPV2 = √𝑥22 + (𝑔2 . 𝑥2)2

= √485,152 + (0 . 485,15)2
= 485,15 m
Elevasi PPV2 = Elevasi PPV 1 + (g2 . x2)
117

= 16,345 + (0 . 485,15)
= 16,35 m
Stasiun PPV2 = Stasiun PPV 1 + (jarak PPV1 - PPV2)
= 426,33 + 485,15
= 911,47 m
c. PPV 3
Jarak PPV3-PPV2 = Stasiun PPV3 - Stasiun PPV2
= 1385,011 - 911,472
= 473,54 m
𝛥Elevasi = Elevasi PPV3 - Elevasi PPV 2
= 14,674 - 16,345
= -1,671 m
x3 = √(𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑃𝑃𝑉2 − 𝑃𝑃𝑉3)2 − (𝛥𝐸𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 2 )

= √(473,542 ) − (−1,6712 )
= 473,54 m
Jarak PPV2-PPV3 = √𝑥32 + (𝑔3 . 𝑥3)2

= √473,542 + (−0,0035 . 473,54)2


= 473,54 m
Elevasi PPV3 = Elevasi PPV2 + (g3 . x3)
= 16,345 + (-0,0035 . 473,54)
= 14,67 m
Stasiun PPV3 = Stasiun PPV2 + (jarak PPV2 - PPV3)
= 911,472 + 473,54
= 1385,01 m
Hasil perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
118

Tabel 2.14 Rekapitulasi Elevasi dan Stasiun PPV

PPV Elevasi Stasiun

A 16,35 426,325

PPV1 16,35 911,472

PPV2 14,67 1385,011

PPV3 14,67 1804,951

PPV4 13,19 2148,347

PPV5 13,19 2577,702

PPV6 18,67 2990,884

PPV7 18,64 3415,119

PPV8 6,15 3976,552

6. Perhitungan PVC
Berikut merupakan perhitungan PVC
a. PVC1
Elevasi PVC1 = Elevasi PPV1 - (½ . LV1 . g1)
= 16,35 - (½ . 53 . 0,757)
= 16,14 m
Stasiun PVC1 = Stasiun PPV1 - ( ½ . LV1)
= 426,33 - (½ . 53)
= 399,83 m
b. PVC2
Elevasi PVC2 = Elevasi PPV2 - (½ . LV2 . g2)
= 16,35 - (½ . 24,7 . 0)
= 16,35 m
Stasiun PVC2 = Stasiun PPV2 - ( ½ . LV2)
= 911,47 - (½ . 24,7)
= 899,12 m
c. PVC3
119

Elevasi PVC3 = Elevasi PPV3 - (½ . LV3 . g3)


= 14,67 - (½ . 34,86 . -0,353)
= 14,74 m
Stasiun PVC3 = Stasiun PPV3 - ( ½ . LV3)
= 1385,01 - (½ . 34,86)
= 1367,58 m
Hasil perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2.15 Rekapitulasi Perhitungan Elevasi dan Stasiun PVC

PVC Elevasi Stasiun

A 16,14 399,83

PVC1 16,35 899,12

PVC2 14,74 1367,58

PVC3 14,67 1789,80

PVC4 13,28 2126,97

PVC5 13,19 2512,18

PVC6 18,05 2944,20

PVC7 18,64 3337,52

PVC8 7,19 3929,87

7. Perhitungan PVT
Berikut merupakan perhitungan PVT
1 𝑔2
a. Elevasi PVT A= Elevasi PPV1 + (2 × 𝐿𝑣1 × 100)
1 0,00
= 16.35 + (2 × 53 × 100 )

= 16.35
1
Stasiun PVTA = Stasiun PPV1 + (2 × 𝐿𝑣1)
1
= 426.33 + ( × 53)
2

= 452.82
120

1 𝑔3
b. Elevasi PVT1 = Elevasi PPV2 + (2 × 𝐿𝑣2 × 100)
1 −0.352
= 16.35 + (2 × 24.70 × ( ))
100

=16.30
1
Stasiun PVT1 = Stasiun PPV2 + (2 × 𝐿𝑣2)
1
= 911.47 + (2 × 16.30)

= 923.82
1 𝑔4
c. Elevasi PVT2 = Elevasi PPV3 + (2 × 𝐿𝑣3 × 100)
1 0,00
= 14.67 + (2 × 34.86 × 100 )

= 14,67
1
Stasiun PVT2 = Stasiun PPV3 + (2 × 𝐿𝑣3)
1
= 1385.01 + (2 × 14.67)

= 1402.44
Hasil perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 2.16 Rekapitulasi Perhitungan PVT

PVT Elevasi Stasiun

A 16.35 452.82

PVT 1 16.30 923.82

PVT 2 14.67 1402.44

PVT 3 14.61 1820.10

PVT 4 13.19 2169.73

PVT 5 14.06 2643.22

PVT 6 18.67 3037.57

PVT 7 18.64 3415.12

PVT 8 6.15 3976.55

8. Perhitungan elevasi lengkung


121

𝛥𝑖 𝑃𝑃𝑉2 × 𝑔1
× 𝑥12
100
a. Elev. Lengkung PPV1 = elev. PVC A + 2 × 𝐿𝑉1
0,35 × 0,757
× 532
100
= 16,14 + 2 × 53

= 16,639 m
𝛥𝑖 𝑃𝑃𝑉3 × 𝑔2
× 𝑥22
100
b. Elev. Lengkung PPV2 = elev. PVC1 + 2 × 𝐿𝑉2
0.35 × 0
× 02
100
= 16,35 + 2 × 24,7

= 16,345
𝛥𝑖 𝑃𝑃𝑉4 × 𝑔3
× 𝑥32
100
c. Elev. Lengkung PPV3 = elev. PVC2 + 2 × 𝐿𝑉3
0,43 × (−0,353)
× 34,862
100
= 14,74 + 2 × 34,86

= 14,688 m
Hasil perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 2.17 Rekapitulasi Perhitungan Elevasi Lengkung

PPV x1 Elev. Lengkung

PPV1 53.00 16.6394

PPV2 0.00 16.3453

PPV3 34.86 14.6881

PPV4 0.00 14.6742

PPV5 42.76 13.3786

PPV6 0.00 13.1875

PPV7 92.87 20.3059

PPV8 0.49 18.6449

Selanjutnya, gambar PPV dapat dilihat dibawah ini :


122

Gambar 2.22 Detail Alinyemen Vertikal PPV 1

Gambar 2.23 Detail Alinyemen Vertikal PPV 2


123

Gambar 2.24 Detail Alinyemen Vertikal PPV 3

Gambar 2.25 Detail Alinyemen Vertikal PPV 4


124

Gambar 2.26 Detail Alinyemen Vertikal PPV 5

Gambar 2.27 Detail Alinyemen Vertikal PPV 6


125

Gambar 2.28 Detail Alinyemen Vertikal PPV 7

Gambar 2.29 Detail Alinyemen Vertikal PPV 8

2.11.2 Perhitungan Alinyemen Vertikal Trase 2


1. Perhitungan kelandaian trase 2

Berikut ini merupakan contoh perhitungan kelandaian pada trase 2


𝑒𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝑃𝑃𝑉1 − 𝑒𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝐴
a. Kelandaian g1 = 𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖𝑢𝑛 𝑃𝑃𝑉1 − 𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖𝑢𝑛 𝐴 ×100%
16,737 − 16,737
= ×100%
430,699 − 0

= 0%
𝑒𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝑃𝑃𝑉2 − 𝑒𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝑃𝑃𝑉1
b. Kelandaian g2 = 𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖𝑢𝑛 𝑃𝑃𝑉2 − 𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖𝑢𝑛 𝑃𝑃𝑉1 ×100%
126

18,958 − 16,737
= 844,646 − 430,699 ×100%

= 0,536%
𝑒𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝑃𝑃𝑉3 − 𝑒𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝑃𝑃𝑉2
c. Kelandaian g3 = 𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖𝑢𝑛 𝑃𝑃𝑉3 − 𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖𝑢𝑛 𝑃𝑃𝑉2 ×100%
18,958 − 18,958
= 1284,404 − 844,646 ×100%

= 0%
Hasil perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2.18 Rekapitulasi Perhitungan Kelandaian pada Trase 2

Nama Elevasi Stasiun Kelandaian (%)


Rencana

A 16.737 0.0000 g1 0.0000

PPV1 16.737 430.6993 g2 0.5365

PPV2 18.958 844.6460 g3 0.0000

PPV3 18.958 1284.4037 g4 2.3965

PPV4 28.259 1672.4903 g5 0.0000

PPV5 28.259 2114.5812 g6 -2.3178

PPV6 18.818 2521.8953 g7 0.0000

PPV7 18.818 2901.7610 g8 -2.8347

F 7.484 3301.60

2. Perhitungan Detail PPV trase 2


a. PPV 1
Stasiun PPV1 = √(𝑒𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝑃𝑃𝑉1 − 𝐸𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝑃𝑃𝑉 𝐴)2 + (𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖𝑢𝑛 𝑃𝑃𝑉1 − 𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖𝑢𝑛 𝑃𝑃𝑉 𝐴)2

= √(16,737 − 16,737)2 + (430.6993 − 0)2

= 430.70 m
127

𝛥1 = |𝑔2 − 𝑔1 |
= |0, 54 − 0|
= 0,54 m
b. PPV 2
Stasiun PPV1 = √(𝑒𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝑃𝑃𝑉1 − 𝐸𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝑃𝑃𝑉 𝐴)2 + (𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖𝑢𝑛 𝑃𝑃𝑉1 − 𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖𝑢𝑛 𝑃𝑃𝑉 𝐴)2

= √(18,958 − 16,737)2 + (844,646 − 430,6993)2

= 413,95 m
𝛥1 = |𝑔3 − 𝑔2 |
= |−0 − 0,54|
= 0,54 m
c. PPV 3
Stasiun PPV1 = √(𝑒𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝑃𝑃𝑉1 − 𝐸𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝑃𝑃𝑉 𝐴)2 + (𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖𝑢𝑛 𝑃𝑃𝑉1 − 𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖𝑢𝑛 𝑃𝑃𝑉 𝐴)2

= √(18,958 − 18,958)2 + (1284,403 − 844,646)2

= 439,76 m
𝛥1 = |𝑔4 − 𝑔3 |
= |2,40 − 0 |
= 2,40 m
Hasil perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini

Tabel 2.19 Rekapitulasi Perhitungan PPV Trase 2

Nama Elevasi Rencana Stasiun Kelandaian (%)

A 16.737 0.0000 gA

PPV1 16.737 430.6993 g1 0.54

PPV2 18.958 844.6460 g2 0.54

PPV3 18.958 1284.4037 g3 2.40

PPV4 28.259 1672.4903 g4 2.40


128

Lanjutan Tabel 2.19 Rekapitulasi Perhitungan PPV Trase 2

PPV5 28.259 2114.5812 g5 2.32

PPV6 18.818 2521.8953 g6 2.32

PPV7 18.818 2901.7610 g7 2.83

F 7.484 3301.60 g8 2.83

3. Perhitungan LV
Berikut merupakan perhitungan LV
a. LV 1 dipakai = 37,55 m
b. LV 2 dipakai = 37, 55 m
c. LV 3 dipakai = 71,90 m
d. LV 4 dipakai = 71,90 m
e. LV 5 dipakai = 162,24 m
f. LV 6 dipakai = 69,53 m
g. LV 7 dipakai = 198,43 m

4. Perhitungan Ev
𝛥1 .𝐿𝑉1
a. EV1 = 800
0,54 .37,55
= 800

= 0,03 m
𝛥1 .𝐿𝑉1
b. EV2 = 800
0,54 .37,55
= 800

= 0,03 m
𝛥1 .𝐿𝑉1
c. EV3 = 800
2.4 .71,90
= 800

= 0,22 m
Hasil perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
129

Tabel 2.20 Rekapitulasi Perhitungan EV Trase 2

Nama EV

EV1 0.03

EV2 0.03

EV3 0.22

EV4 0.22

EV5 0.47

EV6 0.20

EV7 0.70

EV8 0.70

5. Perhitungan PPV
a. PPV1
Jarak A-PPV1 = Stasiun PPV1 - Stasiun A
= 430,70 - 0
= 499,70 m
𝛥Elevasi = Elevasi PPV1 - Elevasi A
= 16,74 - 16,74
=0m
x1 = √(𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐴 − 𝑃𝑃𝑉1)2 − (𝛥𝐸𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 2 )

= √(499,702 ) − (02 )
= 430,70 m
Jarak A-PPV1 = √𝑥12 + (𝑔1 . 𝑥1)2
130

= √430,702 + (0 . 430,70)2
= 430,70 m
Elevasi PPV1 = Elevasi A + (g1 . x1)
= 16,74 + (0 . 430,70)
= 16,74 m
Stasiun PPV1 = Stasiun A + (jarak A - PPV1)
= 0 + 430,70
= 430,70 m
b. PPV2
Jarak PPV1-PPV2 = Stasiun PPV2 - Stasiun PPV1
= 844,65 - 430,70
= 413,95 m
𝛥Elevasi = Elevasi PPV2 - Elevasi PPV1
= 18,958 - 16,345
= 2,221 m
x2 = √(𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑃𝑃𝑉1 − 𝑃𝑃𝑉2 − (𝛥𝐸𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 2 )

= √(413,952 ) − (2,2212 )
= 413,94 m
Jarak PPV1-PPV2 = √𝑥22 + (𝑔2 . 𝑥2)2

= √413,942 + (0,0054 . 413,94)2


= 413,95 m
Elevasi PPV2 = Elevasi PPV 1 + (g2 . x2)
= 16,737 + (0,0054 . 413,94)
= 18,96 m
Stasiun PPV2 = Stasiun PPV 1 + (jarak PPV1 - PPV2)
= 430,70 + 413,95
= 844,65 m
c. PPV 3
Jarak PPV3-PPV2 = Stasiun PPV3 - Stasiun PPV2
= 1284,404 - 844,646
131

= 439,76 m
𝛥Elevasi = Elevasi PPV3 - Elevasi PPV 2
= 18,958 - 18,958
=0m
x3 = √(𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑃𝑃𝑉2 − 𝑃𝑃𝑉3)2 − (𝛥𝐸𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 2 )

= √(439,762 ) − (02 )
= 439,76 m
Jarak PPV2-PPV3 = √𝑥32 + (𝑔3 . 𝑥3)2

= √439,762 + (0 . 439,76)2
= 439,76 m
Elevasi PPV3 = Elevasi PPV2 + (g3 . x3)
= 18,958 + (0 . 439,76)
= 18,958 m
Stasiun PPV3 = Stasiun PPV2 + (jarak PPV2 - PPV3)
= 844,646 + 439,76
= 1284,40 m
Hasil perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2.21 Rekapitulasi Elevasi dan Stasiun PPV pada Trase 2

PPV Elevasi Stasiun

A 16,74 430,70

PPV1 18,96 844,65

PPV2 18,96 1284,40

PPV3 28,26 1672,49

PPV4 28,26 2114,58

PPV5 18,82 2521,90

PPV6 18,82 2901,76

PPV7 7,49 3301,59

PPV8 7,48 6603,18


132

6. Perhitungan PVC
Berikut merupakan perhitungan PVC
a. PVC1
Elevasi PVC1 = Elevasi PPV1 - (½ . LV1 . g1)
= 16,74 - (½ . 37,55 . 0,00)
= 16,74 m
Stasiun PVC1 = Stasiun PPV1 - ( ½ . LV1)
= 430.70 - (½ . 37,55)
= 411,92 m
b. PVC2
Elevasi PVC2 = Elevasi PPV2 - (½ . LV2 . g2)
= 18,96 - (½ . 37,55 . 0,54)
= 18,86 m
Stasiun PVC2 = Stasiun PPV2 - ( ½ . LV2)
= 844,65 - (½ . 37,55)
= 925,87 m
c. PVC3
Elevasi PVC3 = Elevasi PPV3 - (½ . LV3 . g3)
= 18,96 - (½ . 71,90 . 0,00)
= 18,96 m
Stasiun PVC3 = Stasiun PPV3 - ( ½ . LV3)
= 1284,40 - (½ . 71,90)
= 1248,46 m
Hasil perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2.22 Rekapitulasi Perhitungan Elevasi dan Stasiun PVC

PVC Elevasi Stasiun

A 16.74 411.92

PVC1 18.86 825.87

PVC2 18.96 1248.46


133

Lanjutan Tabel 2.22 Rekapitulasi Perhitungan Elevasi dan Stasiun PVC

PVC3 27.39 1636.54

PVC4 28.26 2033.46

PVC5 19.63 2487.13

PVC6 18.82 2802.55

PVC7 10.30 3202.38

PVC8 7.48 6603.18

7. Perhitungan PVT
Berikut merupakan perhitungan PVT
1 𝑔2
a. Elevasi PVT A= Elevasi PPV1 + (2 × 𝐿𝑣1 × 100)
1 0,54
= 16,74 + (2 × 37,55 × 100 )

= 16,84
1
Stasiun PVTA = Stasiun PPV1 + (2 × 𝐿𝑣1)
1
= 430,70 + (2 × 37,55)

= 449,48
1 𝑔3
b. Elevasi PVT1 = Elevasi PPV2 + (2 × 𝐿𝑣2 × 100)
1 0,00
= 18,96 + (2 × 37,55 × ( 100 ))

=18,96
1
Stasiun PVT1 = Stasiun PPV2 + (2 × 𝐿𝑣2)
1
= 844,65 + (2 × 37,55)

= 863,42
1 𝑔4
c. Elevasi PVT2 = Elevasi PPV3 + (2 × 𝐿𝑣3 × 100)
1 2,4
= 18,96 + (2 × 71,90 × 100)

= 19,82
1
Stasiun PVT2 = Stasiun PPV3 + (2 × 𝐿𝑣3)
134

1
= 1284,40 + (2 × 71,90)

= 1320,35
Hasil perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 2.23 Rekapitulasi Perhitungan PVT

PVT Elevasi Stasiun

A 16.84 449.48

PVT 1 18.96 863.42

PVT 2 19.82 1320.35

PVT 3 28.26 1708.44

PVT 4 26.38 2195.70

PVT 5 18.82 2556.66

PVT 6 16.01 3000.97

PVT 7 7.49 3400.81

PVT 8 7.48 6603.18

8. Perhitungan elevasi lengkung


𝛥𝑖 𝑃𝑃𝑉2 × 𝑔1
× 𝑥12
100
a. Elev. Lengkung PPV1 = elev. PVC A + 2 × 𝐿𝑉1
0,54 × 0,00
× 0,002
100
= 16,74 + 2 × 37,55

= 16,74 m
𝛥𝑖 𝑃𝑃𝑉3 × 𝑔2
× 𝑥22
100
b. Elev. Lengkung PPV2 = elev. PVC1 + 2 × 𝐿𝑉2
2,4 × 0,54
× 37,552
100
= 18,86 + 2 × 37,55

= 19,1596
𝛥𝑖 𝑃𝑃𝑉4 × 𝑔3
× 𝑥32
100
c. Elev. Lengkung PPV3 = elev. PVC2 + 2 × 𝐿𝑉3
2,4 × (0,00)
× 0,002
100
= 18,96 + 2 × 71,90
135

= 18,96 m
Hasil perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 2.24 Rekapitulasi Perhitungan Elevasi Lengkung

PPV x1 Elev. Lengkung

PPV1 0.00 16.74

PPV2 37.55 19.16

PPV3 0.00 18.96

PPV4 71.90 29.98

PPV5 0.00 28.26

PPV6 69.53 18.82

PPV7 0.00 18.82

Selanjutnya, gambar PPV dapat dilihat dibawah ini :

Gambar 2.30 Detail Alinyemen Vertikal PPV 1


136

Gambar 2.31 Detail Alinyemen Vertikal PPV 2

Gambar 2.32 Detail Alinyemen Vertikal PPV 3


137

Gambar 2.33 Detail Alinyemen Vertikal PPV 4

Gambar 2.34 Detail Alinyemen Vertikal PPV 5


138

Gambar 2.35 Detail Alinyemen Vertikal PPV 6

Gambar 2.36 Detail Alinyemen Vertikal PPV 7


139

Gambar 2.37 Detail Alinyemen Vertikal PPV 8

2.12 Koordinasi Alinyemen Vertikal dan Horizontal


Berdasarkan analisis perhitungan alinyemen horizontal dan alinyemen
vertikal yang telah dilakukan pada trase 1 (satu) dan trase2 (dua), maka didapat
hasil berupa gambar alinyemen horizontal dan alinyemen vertikal. Untuk
penindaklanjutan setelahnya yaitu mengkoordinasikan gambar alinyemen
horizontal dan alinyemen vertikal tersebut dengan maksud untuk mengetahui aman
atau tidaknya trase jalan yang direncanakan.

2.12.1 Koordinasi Alinyemen Horizontal dan Alinyemen Vertikal Trase 1


Untuk gambar koordinasi alinyemen horizontal dan alinyemen vertikal trase
1 dapat dilihat pada gambar-gambar berikut.
140

Gambar 2.38 Alinyemen Horizontal Trase 1

Gambar 2.39 Alinyemen Vertikal Trase 1

Gambar 2.40 Koordinasi Alinyemen Trase 1

2.12.2 Koordinasi Alinyemen Horizontal dan Alinyemen Vertikal pada Trase 2


Untuk gambar koordinasi alinyemen horizontal dan alinyemen vertikal trase
2 dapat dilihat pada gambar-gambar berikut :
141

Gambar 2.41 Alinyemen Horizontal Trase 2

Gambar 2.42 Alinyemen Vertikal Trase 2

Gambar 2.43 Koordinasi Alinyemen Trase 2


142

Alinyemen horizontal dan vertikal terletak pada satu fase, sehingga


tikungan tampak alami sehingga pengemudi dapat memperkirakan bentuk
alinyemen berikutnya. Jika tikungan horizontal dan vertikal tidak terletak pada satu
fase maka sang pengemudi akan sulit untuk memperkirakan bentuk jalan
selanjutnya dan bentuk jalan terkesan patah. Pada jalan yang lurus dan panjang
tidak terdapat lengkung vertikal cembung maupun lengkung vertikal cekung dan
tidak menempatkan bagian jalan yang lurus pendek pada puncak lengkung cembung
karena dapat memberikan efek "loncatan" pada pengemudi. Bagian awal tikungan
tidak mendekati puncak dari lengkung vertikal cembung.
BAB III
PERENCANAAN LAPIS PERKERASAN

3.1 Umum
Menurut Crhistiadi (2011), perkerasan jalan adalah bagian jalan raya yang
diperkeras dengan agregat dan aspal atau semen (Portland Cement) sebagai bahan
ikatnya sehingga lapis konstruksi tertentu, yang memiliki ketebalan, kekuatan, dan
kekakuan, serta kestabilan tertentu agar mampu menyalurkan beban lalu lintas di
atasnya ke tanah dasar secara aman. Fungsi utama dari perkerasan sendiri adalah
untuk menyebarkan atau mendistribusikan beban roda ke area permukaan tanah-
dasar (subgrade) yang lebih luas dibandingkan luas kontak roda dengan perkerasan,
sehingga mereduksi tegangan maksimum yang terjadi pada tanah-dasar. Perkerasan
harus memiliki kekuatan dalam menopang beban lalu-lintas. Permukaan pada
perkerasan haruslah rata tetapi harus mempunyai kekesatan atau tahan gelincir (skid
resistance) di permukaan perkerasan. Perkerasan dibuat dari berbagai pertimbangan
seperti persyaratan struktur, ekonomis, keawetan, kemudahan, dan pengalaman.
Pada perancangan jalan ini kita menggunakan jenis lapis perkerasan lentur.
Perencanaan konstruksi atau lapisan perkerasan, dapat dilakukan dengan
beberapa metode seperti AASHTO dan The Asphalt Institute (Amerika), Road Note
(Inggris), NAASRA (Australia), Shell (Inggris), dan Bina Marga (Indonesia).
Untuk perencanaan perkerasan lentur ini dapat menggunakan “Metode Analisa
Komponen” SKBI : 2.3.26.1987/SNI 03-1732-1989.
Pertimbangan yang diperlukan dalam merencanakan tebal perkerasan antara
lain sebagai berikut.
1. Pertimbangan konstruksi dan pemeliharaan
2. Pertimbangan lingkungan
3. Evaluasi lapisan tanah dasar (subgrade)
4. Materi perkerasan
5. Lalu lintas rencana

143
144

Berikut merupakan langkah-langkah perencanaan lapis perkerasan lentur:


1. Lalu lintas rencana
Jalur rencana merupakan jalur lalu lintas dari suatu ruas jalan raya yang terdiri
dari satu lajur atau lebih. Pada masing-masing jenis kendaraan terdapat nilai
VDF yang berbeda-beda. Berikut merupakan masing-masing nilai VDF
berdasarkan jenis kendaraan.

Tabel 3.1 Nilai VDF masing-masing jenis kendaraan niaga

Sumber: Manual Desain Perkerasan Jalan (2017)

2. Angka ekivalen beban sumbu kendaraan (E)


Angka Ekivalen (E) dari suatu beban kendaraan adalah angka yang menyatakan
perbandingan tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh suatu lintasan beban
sumbu tunggal kendaraan terhadap tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh
satu lintasan beban sumbu tunggal kendaraan terhadap tingkat kerusakan yang
disebabkan oleh beban standar sumbu tunggal seberat 8,16 ton (18.000 lb).
Angka ekivalen dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 𝑠𝑢𝑚𝑏𝑢 𝑡𝑢𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙,𝑘𝑔 4
a. E sumbu tunggal =( )
8160
𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 𝑠𝑢𝑚𝑏𝑢 𝑔𝑎𝑛𝑑𝑎,𝑘𝑔 4
b. E sumbu ganda = ( )
8160
Berikut merupakan tabel angka ekivalen beban sumbu kendaraan.

144
145

Tabel 3.2 Angka Ekivalen Beban Sumbu Kendaraan

Berikut merupakan distribusi beban sumbu dari berbagai jenis kendaraan.

Tabel 3.3 Distribusi Beban Sumbu dari Berbagai Jenis Kendaraan

145
146

3. Perhitungan lalu lintas


a. Lintas Ekivalen Permulaan (LEP)
LEP = LHR x C x E
b. Lintas Ekivalen Akhir (LEA)
LEA = LHR (1+i)𝑈𝑅 x C x E
c. Lintas Ekivalen Tengah (LET)
𝐿𝐸𝑃 + 𝐿𝐸𝐴
LET = 2

d. Lintas Ekivalen Rencana (LER)


𝑈𝑅
LER = LET x 10

4. Perhitungan daya dukung tanah dasar


Daya dukung tanah dasar (DDT) ditetapkan berdasarkan grafik [Link]
dukung tanah dasar diperoleh dari nilai CBR.
CBR laboratorium biasanya dipakai untuk perencanaan pembangunan jalan
baru. Sementara ini dianjurkan untuk mendasarkan daya dukung tanah dasar
hanya kepada pengukuran nilai CBR. Harga yang mewakili sejumlah harga
CBR yang dilaporkan, Ditentukan sebagai berikut :
a. Tentukan harga CBR terendah
b. Tentukan berapa banyak harga CBR yang sama dan lebih besar dari masing-
masing nilai CBR
c. Angka jumlah terbanyak dinyatakan sebagai 100%, jumlah lainnya
merupakan persentase dari 100%
d. Dibuat grafik hubungan antara harga CBR dan persentase jumlah tadi
e. Nilai CBR yang mewakili adalah yang didapat dari angka persen (9.2)%
5. Faktor regional (FR)
Keadaan lapangan mencakup permeabilitas tanah, perlengkapan drainase,
bentuk alinyemen serta persentase kendaraan dengan berat ≥ 13 ton, dan
kendaraan yang berhenti, sedangkan keadaan iklim mencakup curah hujan rata-
rata per tahun.

146
147

Dengan demikian penentuan tebal lapis perkerasan Faktor Regional hanya


dipengaruhi oleh bentuk alinyemen (kelandain dan tikungan), persentase
kendaraan berat dan yang berhenti serta iklim (curah hujan) sebagai berikut.

Tabel 3.4 Faktor Regional (FR)

6. Indeks permukaan (IP)


Indeks permukaan ini menyatakan nilai dari pada kerataan/kehalusan serta
kekokohan permukaan yang bertalian dengan tingkat pelayanan bagi lalu-lintas
yang lewat.
Dalam menentukan indeks permukaan (IP) pada akhir umur rencana, perlu
dipertimbangkan faktor-faktor klasifikasi regional jalan dan jumlah lintas
ekivalen rencana (LER) menurut daftar dibawah ini.

Tabel 3.5 Indeks Permukaan Akhir Rencana (IP)

147
148

Tabel 3.6 Indeks Permukaan Awal Rencana (IPO)

Jenis Lapis Perkerasan IPO Roughness


(mm/km)

LASTON 4 1000

3.9-4.0 1000

LASBUTAG 3.9-3.5 2000

3.4-3.0 2000

HRA 3.9-3.5 2000

3.4-3.0 2000

BURDA 3.9-3.5 2000

BURTU 3.4-3.0 2000

LAPEN 3.4-3.0 3000

2.9-2.5 3000

LATSBUM 2.9-2.5

BURAS 2.9-2.5

LATASIR 2.9-2.5

JALAN TANAH 2.4

JALAN KERIKIL 2.4


Sumber: SNI No. 1732 - 1989 -F

7. Koefisien kekuatan relatif (a)


Koefisien kekuatan relatif (a) masing-masing bahan dan kegunaannya sebagai
lapis permukaan, pondasi, pondasi bawah, ditentukan secara korelasi sesuai
nilai Marshall Test (untuk bahan dengan aspal), kuat tekan (untuk bahan yang

148
149

distabilisasi dengan semen atau kapur), atau CBR (untuk bahan lapis pondasi
bawah).

Tabel 3.7 Koefisien Kekuatan Relatif

Sumber: SNI No. 1732 - 1989 - F

8. Batas-batas minimum tebal lapis perkerasan

149
150

Tabel 3.8 Tebal Minimum untuk Lapis Permukaan

Sumber: SNI No. 1732 - 1989 - F

Tabel 3.9 Tebal Minimum untuk Lapis Pondasi

ITP Tebal Minimum (cm) Bahan

3 15 Batu pecah, stabilisasi


tanah dengan semen,
stabilisasi tanah dengan
kapur

3.00-7.49 20 Batu pecah, stabilisasi


tanah dengan semen,
stabilisasi tanah dengan
kapur, pondasi Mac
Adam

10 Laton atas

7.50-9.99 20 Batu pecah, stabilisasi


tanah dengan semen,
stabilisasi tanah dengan
kapur, pondasi Mac
Adam, lapen, laston atas

15 Laton atas

150
151

Lanjutan Tabel 3.9 Tebal Minimum untuk Lapis Pondasi

10-12.14 20 Batu pecah, stabilisasi


tanah dengan semen,
stabilisasi tanah dengan
kapur, pondasi Mac
Adam, lapen, laston atas

≥12.25 25 Batu pecah, stabilisasi


tanah dengan semen,
stabilisasi tanah dengan
kapur, pondasi Mac
Adam, lapen, laston atas
Sumber: SNI No. 1732 - 1989 - F

Lapis Pondasi Bawah


Untuk setiap nilai ITP bila digunakan pondasi bawah, tebal minimumnya
adalah 10 cm.
3.2 Perencanaan Lapis Perkerasan Lajur Utama Trase 1
3.2.1 Analisa komponen perkerasan
Perhitungan perencanaan ini berdasarkan pada ketentuan relatif masing-
masing lapisan perkerasan jangka panjang, dimana penentuan tebal perkerasan
dinyatakan oleh ITP (Indeks Tebal Perkerasan), dengan rumus sebagai berikut.
ITP = 𝑎1 𝐷1 + 𝑎2 𝐷2 + 𝑎3 𝐷3
Angka 1,2,3 masing-masing untuk lapis permukaan, lapis pondasi atas, dan
lapis pondasi bawah.
Diketahui:
Umur rencana : 20 tahun
Tahun survei data : 2020
Tahun dibangun : 2023
Tahun beroperasi : 2024
Laju lalu lintas umur rencana : 4,5%
Faktor distribusi arah (DD) : 0,5
Faktor distribusi lajur (DL) :1
Curah hujan lokasi kawasan rencana jalan : 427,69
mm/tahun

151
152

Tabel 3.10 Data Lalu Lintas

Jenis/Golongan Kendaraan Lintas Harian Rata-rata (2 arah)

Mobil penumpang dan kendaraan ringan 12300


lain

5B 450

6B 1500

7A1 120

7A2 280

7C1 70

7C2A 55

7C2B 70

7C3 30

Perhitungan:
1. Faktor pengali pertumbuhan lalu lintas (R)
(1+0,01 𝑖)𝑈𝑅 − 1
R = 0,01 𝑖

karena jenis jalan arteri di Sumatera, maka i = 4,83%


(1+0,01 .4,83)𝑈𝑅 − 1
R = 0,01 .4,83

= 32,48
2. Kumulatif beban (ESA524−44 )
Berikut merupakan contoh perhitungan ESA524−44 .
a. Mobil penumpang dan kendaraan ringan lain
𝐿𝐻𝑅20 = 12300
VDF =0
𝐿𝐻𝑅24 = 𝐿𝐻𝑅20 x (1 + 𝑖)𝑛
= 12300 x (1 + 4,83%)4
= 14854,138
ESA524−44 = 𝐿𝐻𝑅24 x VDF normal x 365 x DD x DL x R

152
153

= 14854,138 x 0 x 365 x 0,5 x 1 x 32,48


= 3,22 x 106
b. 5B
𝐿𝐻𝑅20 = 450
VDF =1
𝐿𝐻𝑅24 = 𝐿𝐻𝑅20 x (1 + 𝑖)𝑛
= 450 x (1 + 4,83%)4
= 543,444
ESA524−44 = 𝐿𝐻𝑅24 x VDF normal x 365 x DD x DL x R
= 543,444 x 1 x 365 x 0,5 x 1 x 32,48
= 3,22 x 107
c. 6B
𝐿𝐻𝑅20 = 1500
VDF = 4,6
𝐿𝐻𝑅24 = 𝐿𝐻𝑅20 x (1 + 𝑖)𝑛
= 1500 x (1 + 4,83%)4
= 1811,48
ESA524−44 = 𝐿𝐻𝑅24 x VDF normal x 365 x DD x DL x R
= 1811,48 x 4,6 x 365 x 0,5 x 1 x 32,48
= 4,94 x 107
Hasil perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada tabel rekapitulasi di bawah
ini.

153
154

Tabel 3.11 Data CBR tanah

3.2.2 CBR rencana


Ruas jalan yang didesain harus dikelompokkan berdasarkan kesamaan
segmen yang mewakili kondisi tanah dasar yang dapat dianggap seragam (tanpa
perbedaan yang signifikan). Secara umum disarankan untuk menghindari pemilihan
segmen seragam yang terlalu pendek. Jika nilai CBR yang diperoleh sangat
bervariasi, pendesain harus membandingkan manfaat dan biaya antara pilihan
membuat segmen seragam yang pendek berdasarkan variasi nilai CBR tersebut atau
membuat segmen yang lebih panjang berdasarkan nilai CBR yang lebih konservatif.
Hal penting lainnya yang harus diperhatikan adalah perlunya membedakan
daya dukung rendah yang bersifat lokal (setempat) dengan daya dukung tanah dasar
yang lebih umum (mewakili suatu lokasi). Tanah dasar lokal dengan daya dukung
rendah biasanya dibuang dan diganti dengan material yang lebih baik atau ditangani
secara khusus.
Berikut merupakan tabel data CBR tanah

Tabel 3.12 Data CBR tanah

No CBR (%)

1 6

2 6

154
155

Lanjutan Tabel 3.12 Data CBR tanah

3 6

4 7

5 7

6 7

7 7

8 7

9 8

10 8

11 8

12 9

13 9

14 9

15 10

Terdapat dua metode perhitungan CBR karakteristik yaitu sebagai berikut.


1. Metode distribusi normal standar
CBR karakteristik = CBR rata-rata - f x deviasi standar
f = 1,645 (probabilitas 95%), untuk jalan tol atau jalan bebas hambatan
f = 1,282 (probabilitas 90%), untuk jalan kolektor dan arteri
f = 0,842 (probabilitas 80%), untuk jalan lokal dan jalan kecil

𝛴𝑥𝑖
CBR rata-rata = 𝑛

155
156

6 + 6 + 6 + 7 + 7 + 7 + 7 + 7 + 8 + 8 + 8 + 9 + 9 + 9 + 10
= 15

= 7,6%
f = 1,282
𝛴(𝑥𝑖−𝐶𝐵𝑅 𝑟𝑎𝑡𝑎)2
σ =√ 𝑛

= 1,242%
𝜎
CV = 𝐶𝐵𝑅 𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎 x 100
1,242
= x 100
7,6

= 16,344%
CBR karakteristik = CBR rata-rata - f x deviasi standar
= 7,6 - (1,282 x 1,242)
= 6,008%
2. Metode persentil
n = 15
indeks persentil ke-10 = 10% x n
= 10% x 15
= 1,5
diambil rata-rata CBR pada data ke 1 dan 2
𝐶𝐵𝑅1 + 𝐶𝐵𝑅2
CBR = 2
6+6
= 2

= 6%
Selain itu terdapat cara lain untuk mendapatkan nilai CBR rencana yaitu
dengan menggunakan grafik yang dapat dilihat pada tabel dan gambar di bawah ini.

156
157

Tabel 3.13 Hasil Perhitungan Data CBR

Gambar 3.1 Grafik CBR

Dari grafik tersebut didapatkan nilai CBR rencana sebesar 6,1%.


3.2.3 Bagan desain perkerasan lentur - aspal dengan lapis pondasi berbutir
Untuk tebal perkerasan jalan yang digunakan diambil dari bagan desain
perkerasan lentur - aspal dengan lapis pondasi berbutir yang terdapat pada Bina

157
158

Marga 2017. Berikut merupakan bagan desain perkerasan lentur - aspal dengan
lapis pondasi berbutir.

Gambar 3.2 Bagan Desain Perkerasan Lentur - Aspal dengan Lapis Pondasi
Berbutir
Sumber: Bina Marga (2017)

Untuk menentukan desain pondasi jalan minimum dapat dilihat melalui


bagan desain desain pondasi jalan minimum pada Bina Marga 2017. Berikut bagan
desain pondasi jalan minimum.

Gambar 3.2 Bagan Desain Pondasi Jalan Minimum


Sumber: Bina Marga (2017)

Dari hasil perhitungan data lintas harian rata-rata (LHR) dan CBR, dapat
disimpulkan bahwa tebal struktur perkerasan yang digunakan yaitu:
1. AC WC = 40 mm
2. AC BC = 60 mm

158
159

3. AC Base = 210 mm
4. LPA Kelas A = 300 mm
Struktur perkerasan lentur tersebut tidak memerlukan perbaikan.
Berikut merupakan gambar tebal perkerasan lentur - aspal dengan lapis
pondasi berbutir.

Gambar 3.3 Tebal Perkerasan Lentur

3.3 Perencanaan Lapis Perkerasan Bahu Jalan Trase 1


Sistem pondasi jalan tanpa penutup adalah merupakan sistim konstruksi
perkerasan jalan yang tidak menggunakan lapisanan permukaan/lapis penutup
seperti Aspal Beton, Penetrasi Macadam, dll, tetapi hanya menggunakan agregat
(kerikil/pasir) pada lapisan permukaanya, direncanakan sedemikian rupa dengan
memperhitungkan ketebalan dan sistim pengaliran airnya sehingga konstruksi ini
akan mampu memikul beban serta tahan terhadap pengaruh cuaca.
Elevasi tanah dasar untuk bahu harus sama dengan elevasi tanah dasar
perkerasan atau setidaknya pelaksanaan tanah dasar badan jalan harus dapat
mengalirkan air dengan baik. Untuk memudahkan pelaksanaan, pada umumnya
tebal lapis berbutir bahu dibuat sama dengan tebal lapis berbutir perkerasan.
Lapis permukaan harus berupa lapis fondasi agregat kelas S, atau kerikil
alam yang memenuhi ketentuan dengan Indeks Plastisitas (IP) antara 4% - 12%.
Tebal lapis permukaan bahu LFA kelas S sama dengan tebal lapis beraspal tapi
tidak lebih tebal dari 200 mm. Jika tebal lapis beraspal kurang dari 125 mm maka
tebal minimum LFA kelas S 125 mm.
Bahu diperkeras untuk kebutuhan sebagai berikut.

159
160

1. Jika terdapat kerb (bahu harus ditutup sampai dengan garis kerb).
2. Gradien jalan lebih dari 4%.
3. Sisi yang lebih tinggi dari kurva superelevasi (superelevasi ≥ 0%). Dalam kasus
ini, bahu pada sisi superelevasi yang lebih tinggi harus sama dengan
superelevasi badan jalan.
4. Jalan dengan LHRT lebih dari 10.000 kendaraan.
5. Jalan tol dan jalur bebas hambatan.
Material bahu diperkeras dapat berupa:
1. Penetrasi makadam
2. Burtu / Burda
3. Beton aspal (AC)
4. Beton semen
5. Kombinasi bahu beton 500 mm – 600 mm atau pelat beton dengan tied
shoulder atau bahu dengan aspal
Beban lalu lintas desain pada bahu jalan tidak boleh kurang dari 10% lalu lintas
lajur rencana, atau sama dengan lalu lintas yang diperkirakan akan menggunakan
bahu jalan (diambil yang terbesar). Untuk bahu diperkeras dengan lapis penutup,
pada umumnya, hal ini dapat dipenuhi dengan Burda atau penetrasi makadam yang
dilaksanakan dengan baik.
Berikut merupakan perhitungan perkerasan bahu jalan trase 1.
Diketahui:
1. CBR tanah dasar : 6%
2. Beban gandar kumulatif 20 tahun : 8,39 x 107 ESA
3. Tebal perkerasan lajur utama
a. Tebal AC WC : 40 mm
b. Tebal AC BC : 60 mm
c. Tebal AC Base : 210 mm
d. Tebal LFA Kelas A : 300 mm
Perhitungan:
1. Beban rencana bahu jalan
Beban rencana bahu jalan = 10% x Beban gandar kumulatif 20 tahun

160
161

= 10% x 8,39 x 107


= 8,39 x 106 ESA
2. Tebal minimum perkerasan bahu jalan
Berdasarkan bagan desain 7 (Gambar G.1) pada Manual Desain Perkerasan
Jalan 2017 untuk beban 8,39 x 106 ESA dan CBR 6% diperlukan penutup
setebal 440 mm. Dikarenakan tebal perkerasan untuk lajur utama setebal 610
mm, maka tebal tersebut sudah memenuhi syarat.
3. Tebal LFA kelas S
Karena tebal lapis beraspal pada lajur utama yaitu setebal 310 mm, maka tebal
permukaan bahu jalan digunakan 200 mm untuk LFA kelas S.
4. Tebal LFA kelas A
LFA kelas A = tebal total perkerasan lajur utama – tebal LFA kelas S
= 610 – 200
= 410 mm
Berikut merupakan gambar tebal perkerasan bahu jalan dan tebal perkerasan
jalur utama pada trase 1.

Gambar 3.4 Tebal Lapis Perkerasan Trase 1

161
BAB IV
BANGUNAN PELENGKAP JALAN

4.1 Umum
Menurut Departemen Pekerjaan Umum, bangunan pelengkap jalan
merupakan bangunan yang dibuat dalam rangka pengamanan konstruksi jalan dari
pengaruh dan kondisi alam sekitarnya terutama air seperti drainase. Sedangkan
perlengkapan jalan berkaitan dengan lalu lintas baik secara langsung maupun tidak
langsung berupa bangunan untuk pengamanan dan pengaturan lalu lintas.
Bangunan pelengkap dan perlengkapan jalan merupakan satu kesatuan dari
konstruksi jalan secara keseluruhan.

4.2 Bangunan Pelengkap Trase 1


4.2.1 Bangunan Drainase Jalan
Drainase merupakan saluran yang digunakan untuk menyalurkan massa air
berlebih dari sebuah kawasan seperti perumahan, perkotaan, dan jalan. Sistem
saluran ini memiliki peran penting yaitu untuk menghindari terjadinya genangan air
di permukaan. Hal yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan sistem drainase
untuk jalan raya adalah drainase permukaan dan drainase bawah permukaan. Pada
perancangan ini yang dirancang hanya sistem drainase permukaan.
Drainase permukaan (surface drainage) merupakan drainase yang terletak
di atas permukaan tanah. Drainase ini digunakan untuk mengalirkan air limpasan
dan genangan di permukaan. Tujuan dari sistem drainase ini untuk memelihara agar
jalan tidak tergenang air hujan dalam waktu yang cukup lama. Genangan air akan
mengakibatkan kerusakan konstruksi jalan sehingga harus segera dibuang melalui
drainase jalan. Sarana drainase permukaan terdiri dari saluran dan gorong-gorong.
Drainase bawah tanah (subsurface drainage) merupakan drainase yang
berfungsi untuk mengalirkan air limpasan permukaan melalui media di bawah
permukaan tanah. Sistem drainase dengan media pipa bawah tanah ini dibangun
untuk tujuan-tujuan tertentu, yaitu :

162
163

1. Tuntutan estetika yaitu lingkungan akan menjadi lebih rapi karena tidak ada
pipa saluran yang terlihat dari luar.
2. Tuntutan fungsi permukaan tanah, digunakan pada permukaan tanah yang tidak
diperbolehkan adanya saluran.

4.2.2 Perhitungan Drainase Permukaan

Gambar 4.1 Potongan Melintang Jalan

Gambar 4.2 Daerah Tangkapan Hujan

Diketahui:
Elevasi tertinggi = 55 m
Elevasi terendah = 15 m
Lebar perkerasan jalan = 7,2 m
164

Lebar bahu jalan = 1,5 m


Panjang saluran (P) = 426,31 m
L1 = 234,73 m
L2 = 536,68 m

Penyelesaian:
1. Menentukan Luas Daerah Tangkapan Hujan (A)
Luas perkerasan jalan (A1) = Lebar perkerasan jalan x P
= 7,2 m x 426,31 m
= 3069,432 𝑚2
Luas bahu jalan (A2) = Lebar bahu jalan x P
= 1,5 m x 426,31 m
= 639,465 𝑚2
𝐿1 + 𝐿2
Luas tebing = × 𝑃
2
234,73 𝑚 + 536,68 𝑚
= × 426,31 𝑚
2

= 82724,547 𝑚2
Luas tebing dengan faktor keamanan (A3) = 82724,547 x 2,5
= 206811,3675 𝑚2
Jadi luas daerah tangkapan hujan secara total adalah:
A total = A1 + A2 + A3 = 3069,432 + 639,465 + 206811,3675
= 210520,2645 𝑚2

2. Perhitungan Analisis Hidrologi


a. Menentukan Koefisien Pengaliran (𝛼)

Tabel 4.1 Koefisien Pengaliran (𝛼)

No. Kondisi Permukaan Tanah Koefisien Pengaliran

1. Jalan beton dan jalan aspal 0,70 - 0,95


165

Lanjutan Tabel 4.1 Koefisien Pengaliran (𝛼)

2. Jalan kerikil dan jalan tanah 0,40 – 0,70

3. Bahu jalan
0,40 – 0,65
Tanah berbutir halus
0,10 – 0,20
Tanah berbutir kasar 0,70 – 0,85
0,60 – 0,70
Batuan masif keras
Batuan masif lunak

4. Daerah perkotaan 0,70 – 0,95

5. Daerah pinggir kota 0,60 – 0,70

6. Daerah industria 0,60 – 0,80

7. Pemukiman padat 0,60 – 0,80

8. Pemukiman tidak padat 0,40 – 0,60

9. Taman dan kebun 0,20 – 0,40

10. Persawahan 0,45 – 0,60

11. Perbukitan 0,70 – 0,80

12. Pegunungan 0,75 – 0,90

Sumber: Petunjuk desain drainase permukaan jalan No.008/T/BNKT/1990,Binkot


Bina Marga. Dep,PU,1990.
166

Tabel 4.2 Koefisien Pengaliran Berdasarkan Kondisi Permukaan Tanah (a)

No Kondisi Permukaan Tanah Koefisien Pengaliran

1. Pegunungan yang curam 0,75 - 0,90

2. Tanah bergelombang dan hutan 0,50 – 0,75

3. Dataran yang ditanami 0,45 – 0,60

4. Atap yang tembus air 0,75 – 0,95

5. Perkerasan aspal,beton 0,80 – 0,95

6. Tanah padat sulit diresapi 0,40 – 0,55

7. Tanah agak mudah diresapi 0,05 – 0,35

8. Taman/lapangan terbuka 0,40 – 0,60

9. Kebun 0,20

10. Perumahan tidak begitu rapat (20 rumah/ha) 0,25 – 0,40

11. Perumahan kerapatan sedang (21-60 0,40 – 0,70


rumah/ha)

12. Perumahan rapat (61-160 rumah/ha) 0,70 – 0,80

13. Daerah rekreasi 0,20 – 0,30

14. Daerah industria 0,80 – 0,90


167

Lanjutan Tabel 4.2 Koefisien Pengaliran Berdasarkan Kondisi Permukaan Tanah (a)

15. Daerah perniagaan 0,90 – 0,95

Sumber: Diktat Drainase Perkotaan ,IR.H. A. Halim Hasmar,MT - Menentukan


waktu konsentrasi (tc)

Tabel 4.3 Kecepatan Aliran Air Ijin Berdasarkan Jenis Material

No Jenis Bahan Kecepatan Air yang


Diijinkan

1. Pasir halus 0,45

2. Lempung kepasiran 0,50

3. Lanau alluvial 0,60

4. Kerikil halus 0,75

5. Lempung kokoh 0,75

6. Lempung padat 1,10

7. Kerikil kasar 1,20

8. Batu-batu besar 1,50

9. Pasangan Batu 1,50

10. Beton 1,50

11. Beton bertulang 1,50


168

Sumber: Petunjuk desain drainase permukaan jalan No.008/T/BNKT/1990,Binkot


Bina [Link],PU,1990

Tabel 4.4 Kecepatan Aliran Air Ijin Berdasarkan Kemiringan Saluran

No Kemiringan Dasar Saluran % Kecepatan Rata-Rata (m/dt)

1. <1 0,45

2. 1- < 2 0,60

3. 2- < 4 0,90

4. 4- < 6 1,20

5. 6- < 10 1,50

6. 10 - < 15 2,40

Sumber: Diktat Drainase Perkotaan, IR.H. A. Halim Hasmar,MT

Tabel 4.5 Kecepatan Aliran Air Ijin Berdasarkan Kemiringan Saluran

No Kemiringan dasar saluran % Kecepatan rata-rata


(m/dt)

1. ≤4 1

2. 5 0,995

3. 10 0,980

4. 15 0,955
169

Lanjutan Tabel 4.5 Kecepatan Aliran Air Ijin Berdasarkan Kemiringan Saluran

5. 20 0,920

6. 25 0,875

7. 30 0,820

8. 50 0,500

Sumber: Diktat Drainase Perkotaan ,IR.H. A. Halim Hasmar,MT

Berdasarkan Tabel diatas, maka Nilai Koefisien Pengaliran ( α ) :


Jalan perkerasan ( α1 ) = 0,95
Bahu jalan ( α2 ) = 0,95
Tanah agak mudah diresapi ( α3 ) = 0,35
𝐴1 𝐴2 𝐴3
α desain = [𝛼1 × ] + [𝛼2 × ] + [𝛼3 × ]
𝐴 𝐴 𝐴
13069,432 639,465 206811,3675
= [0,95 × 210520,2645] + [0,95 × 210520,2645] + [0,35 × 210520,2645]

= 0,361

b. Kemiringan Tebing
𝑒𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 − 𝑒𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎ℎ
I tebing = 𝐿1 +𝐿2 × 100%
( )
2

16,242 − 15
= 234,73 +536,68 × 100%
( )
2

= 12,13 %
c. Menentukan Waktu Konsentrasi (tc)
1) Untuk Jalan Perkerasan
i1 = 3% ( dari tabel diperoleh v1 = 0,9 m/dt)
𝐿1 7,2
to1 = 𝑣1 = 0,9×3600 = 0,00222 jam

2) Untuk Bahu Jalan


i2 = 4% ( dari tabel diperoleh v2 = 1,2 m/dt)
170

𝐿2 1,5
to2 = 𝑣2 = 1,2×3600 = 0,00035 jam

3) Untuk Daerah Tebing


i3 = 12,13% ( dari tabel diperoleh v3 = 2,4 m/dt)
𝐿3 385,705
to3 = 𝑣3 = 2,4×3600 = 0,04464 jam

4) Untuk Saluran
i4 = 0,29% ( dari tabel diperoleh v4 = 0,4 m/dt)
𝐿4 426,31
to4 = 𝑣4 = 0,4×3600 = 0,29605 jam

Maka waktu konsentrasi :


tc = td + 𝛴 𝑡𝑜
= 0,00222 + 0,00035 + 0,04464 + 0,29605
= 0,34326 jam
d. Menentukan Intensitas Curah Hujan (It)
Diketahui : Curah hujan tertinggi (R) = 14,06 mm/hari
Menentukan nilai intensitas hujan (it)
𝑅 24 2/3 14,06 24 2/3
It = (24) × ( 𝑡𝑐 ) =( ) × (0,34326) = 9,94 mm/jam
24

e. Menentukan Koefisien Penyebaran Hujan (𝛽)


A = 0,21052 𝑘𝑚2 < 4 𝑘𝑚2 , maka 𝛽 = 1
f. Menentukan Debit Limpasan Permukaan (Q)
Q = 1/360 x 𝛼 x 𝛽 x It x A
= 1/360 x 0,361 x 1 x 9,94 x 0,21052
= 754,775 𝑚3 /𝑗𝑎𝑚
= 0,21 𝑚3 /𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
171

3. Analisis Hidrolika

Gambar 4.3 Tampang Melintang Saluran Drainase

a. Luas tampang saluran (asumsi)


FS =BxH
= H x H = 1 𝐻2
b. Keliling basah saluran
Ps = B + 2H
= H + 2H
=3H
c. Radius hidrolik
𝐹𝑠 𝐻2
Rs = 𝑃𝑠 = 3𝐻 = 0,333 H

d. Koefisien kekasaran dinding


n = 0,010 (saluran untuk pasang yang di plester)
e. Formula manning :
1
Kecepatan aliran v = 𝑛 × 𝑅 2/3 × 𝐼1/2
1
= 0,010 × (0,333𝐻)2/3 × 0,291/2

= 2,59 𝐻 2/3

Debit Aliran (Q) = Fs x v


0,21 𝑚3 /𝑑𝑡 = 𝐻 2 x 2,59 𝐻 2/3
172

0,21 𝑚3 /𝑑𝑡 = 2,59 𝐻 8/3


𝐻 8/3 = 0,081
H = 0,389 m
B =H
= 1 x 0,389
= 0,389

Gambar 4.4 Dimensi Drainase Saluran 1

Untuk selanjutnya hasil perhitungan drainase dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.6 Rekapitulasi Drainase

Drainase Dimensi Debit Kecepatan U Ditch Pakai


Aliran

B (m) H (m)

CA 1 0.4 0.4 0.2097 2.5949 500 x 500 x 1200

CA 2 0.4 0.4 0.2772 6.7238 500 x 500 x 1200

CA 3 0.4 0.4 0.2405 5.4040 500 x 500 x 1200

CA 4 0.3 0.3 0.1655 5.1743 500 x 500 x 1200


173

Lanjutan Tabel 4.6 Rekapitulasi Drainase

CA 5 0.4 0.4 0.1374 3.0532 500 x 500 x 1200

CA 6 0.7 0.7 0.1374 3.0532 500 x 500 x 1200

CA 7 0.7 0.7 0.3992 1.3874 500 x 500 x 1200

CA 8 0.5 0.5 0.1948 1.8428 500 x 500 x 1200

CA 9 0.3 0.3 0.0954 4.0023 500 x 500 x 1200

CA 10 0.3 0.3 0.1081 4.8347 500 x 500 x 1200

CA 11 0.4 0.4 0.2791 6.2186 500 x 500 x 1200

CA 12 0.3 0.3 0.1304 5.1879 500 x 500 x 1200

CA 13 0.3 0.3 0.1594 5.9087 500 x 500 x 1200

CA 14 0.3 0.3 0.0630 0.0000 500 x 500 x 1200

CA 15 0.4 0.4 0.0630 5.4264 500 x 500 x 1200

CA 16 0.3 0.3 0.1518 5.2191 500 x 500 x 1200

CA 17 0.4 0.4 0.2953 6.5555 500 x 500 x 1200

CA 18 0.4 0.4 0.3450 7.4823 500 x 500 x 1200

Perhitungan Gorong-Gorong
1. Gorong-Gorong Cathmen 1
a. Data-data Perencanaan :
Q = Q1
174

= 0,89 𝑚3 /det
Panjang gorong-gorong = 19,4 m
Tipe gorong-gorong = bulat
Jenis/bahan = beton bertulang
Kecepatan aliran (V) = 4,97 m/det

b. Penampang Gorong-Gorong

Gambar 4.5 Tampang Melintang Gorong-Gorong Catchment 1

c. Perhitungan Dimensi Penampang Gorong-Gorong


Q =FxV
0,89 m3/dt = F x 4,97 m/dt
0,89
F = 4,97

F = 0,18 m2
Lalu menghitung diameter ( dimana θ = 45˚ )
F = 1/8 x ( 4,5 - sin θ ) x D2
0,18 m2 = 1/8 x ( 4,5 – sin 45˚ ) x D2

D2 = 0,379 m2

D = 0,615 m

Maka diameter yang dipakai adalah D = 0,6 m. Lalu syarat untuk


ketinggian air di dalam gorong-gorong adalah d = 0,8 x D, maka :

d = 0,8 x D
175

d = 0,8 x 0,6

d = 0,48 m

Berikut gambar penampang gorong-gorong beserta dimensi.

Gambar 4.6 Penampang Melintang Gorong-Gorong Catchment 1


Lalu untuk perhitungan ketebalan gorong-gorong adalah sebagai berikut.
Tebal = ( 1/10 x D ) + 0,02
= ( 1/10 x 70 cm ) + 0,02
= 6,02 cm
Dipakai = 7 cm
Berikut Gambar dari penampang melintang beserta dengan ketebalannya.

Gambar 4.7 Penampang Melintang Gorong-Gorong Catchment 1 dan


Ketebalannya
176

Berikut ini merupakan tabel rekapitulasi perhitungan dimensi gorong-gorong pada


trase 1.
Tabel 4.7 Rekapitulasi Gorong-Gorong

No Gorong- Gorong Debit Kecepatan Diameter Tebal Gorong-


(Q) (V) (D) Gorong

𝑚3 /det m/det m cm

1 Catchment 1 0,8930 4,9742 0,6 7

2 Catchment 2 0,4696 2,6497 0,6 7

3 Catchment 3 1,3864 4,0948 1 11

4 Catchment 4 0,3582 5,9910 0,4 5


BAB V
POTONGAN MELINTANG DAN MEMANJANG

5.1 Umum
Penampang merupakan gambar irisan tegakan. Bila pada peta topografi
dapat dilihat bentuk proyeksi tegak mode bangunan, maka pada gambar penampang
bisa dilihat model potongan tegak bangunan dalam arah memanjang. Gambar
penampang merupakan gambaran dua dimensi dengan elemen unsur jarak (datar)
dan [Link] gambar penampang umumnya lebih kecil dari skala tegak
(Kwantes, dkk, 1987). Ada jenis penampang yang merupakan keharusan:
1. Penampang memanjang, yaitu penampang horizontal sepanjang garis sumbu
pada seluruh panjang suatu kerja.
2. Penampang melintang, yaitu penampang vertikal yang dibuat tegak lurus pada
garis sumbu suatu kerja (Irvine, W, 1995).
Informasi yang diperoleh dari penampang memberikan data untuk:
a. Menentukan gradien yang cocok untuk kerja konstruksi
b. Menghitung volume kerja tanah
c. Memberikan rincian tentang kedalaman galian atau tinggi timbunan yang akan
ditentukan (Irvine,W, 1995)
Alur galian (increasing) adalah sebuah alur yang digali di badan jalan
selebar perkerasan jalan yang telah ditentukan dan sejauh profil memanjang jalan
untuk tempat lapisan dari perkerasan jalan. Alur galian (increasing) ini jika dibuat
di jalan badan yang ditimbun, haruslah ditunggu dulu sampai tanah. Tanah tersebut
padat betul (compacting). Jika tanah basah, dikorek sedalam yang diperlukan (tidak
kurang daripada sedalam tanah gembur) (Husni, 1974).
Apabila transisi diantara galian dan timbunan berada pada sisi bukit,
sebanyak 5 penampang melintang mungkin diperlukan. Secara teoritis penampang
melintang yang lengkap tidak diperlukan pada sudut-sudut penampang yang
mencolok ke dalam permukaan tetapi penstasionannya diperlukan untuk

177
178

menentukan puncak piramida. Piramida yang mempunyai dasar akhir dengan


bentuk segitiga. Jadi penampang melintang pada transisi menjadi 3, yaitu:
1. Pada dasar timbunan
2. Pada titik grade di garis sumbu
3. Pada titik grade di dasar galian
Ketiga penampang transisi sangat berdekatan. Kontur grade tersebut dianggap
tegak lurus pada garis sumbu. Selanjutnya akan berbentuk baji pada sebelah
menyebelah kontur (Meyer dan Gibson, 1984).
Pada rencana jalan, potongan memanjang umumnya bisa diukur langsung
dengan cara sifat dasar kecuali pada lokasi perpotongan dengan sungai. Gambar
potongan memanjang jalan merupakan potongan melintang sungai, yaitu
perpotongan jalan merupakan potongan-potongan melintang sungai. Gambar
potongan memanjang suatu rute umumnya digambar pada suatu lembar bersama-
sama dengan peta rencana digometri horizontal (Terzaghi dan Peck, 1987).
Pematangan tanah pembangunan adalah pekerjaan-pekerjaan menjelang
tanah yang sesungguhnya serta kegiatan-kegiatan pembangunan lainnya. Proses
pematangan mencakup:
1. Menghilangkan pepohonan dan semak-semak beserta akar-akarnya.
2. Menimbun selokan dengan kemungkinan menggali sarana air baru.
3. Meninggikan tanah (Kwantes,dkk,1987).
Galian bergantung pada:
a. Jenis tanah yang akan digali
b. Beban atas
Masalah pokok dalam pembuatan analisis distribusi adalah penentuan lokasi
dari penstasionan titik-titik keseimbangan antara galian dengan timbunan ditambah
dengan penyusutan yang diperbolehkan. Pada pekerjaan kecil titik-titik
keseimbangan (balance)yang utama bisa didapat dengan membuat subtotal yang
terpisah dari galian-galian dan timbunan-timbunan yang telah dikoreksi, titik titik
keseimbangan ditentukan letaknya dimana kedua subtotal adalah sama. Pada
pekerjaan penting. Cara ini kurang baik dan cara ini tidak menetapkan titik-titik
keseimbangan diantaranya juga tidak memberikan data untuk menghitung
179

overhaul, juga tidak menunjukkan bagaimana menjadwalkan pekerjaan. Analisis


yang lebih detail dapat dibuat dengan cara stasion atau dengan cara diagram massa
(Meyer, 1984).

5.1.1 Potongan Melintang Jalan


Penampang melintang jalan adalah potongan suatu jalan tegak lurus pada as
jalannya yang menggambarkan bentuk serta susunan bagian-bagian jalan yang
bersangkutan pada arah melintang. Bagian-bagian dari penampang melintang jalan
sebagai berikut :
1. Daerah Pengawasan Jalan (Dawasja)
2. Daerah Milik Jalan (DMJ) atau Right Of Way (ROW)
3. Daerah Manfaat Jalan (Damaja)
4. Lebar Badan Jalan
5. Kemiringan Perkerasan Jalan
6. Bahu Jalan
7. Saluran Samping (Side Dish)
Penjelasan mengenai bagian-bagian tersebut adalah sebagai berikut.
1. Daerah Pengawasan Jalan (Dawasja)
Daerah Pengawasan Jalan (Dawasja) merupakan ruang sepanjang jalan yang
dimaksudkan agar pengemudi mempunyai pandangan bebas dan badan jalan
aman dari pengaruh lingkungan seperti bangunan liar dan tumbuhan.
2. Daerah Milik Jalan (DMJ) atau Right Of Way (ROW)
Daerah Milik Jalan (DMJ) atau Right Of Way (ROW) merupakan total dari lebar
jalan yang diperuntukan untuk kepentingan jalan tersebut. Dalam menentukan
Daerah Milik Jalan (DMJ) harus disesuaikan dengan kepentingan-kepentingan
untuk rencana masa mendatang yaitu dengan kemungkinan adanya pelebaran
jalan maupun penambahan jalur lalu lintas, serta kebutuhan ruang untuk
penampang jalan.
3. Daerah Manfaat Jalan (Damaja)
Daerah Manfaat Jalan (Damaja) merupakan ruang sepanjang jalan yang dibatasi
oleh Lebar, tinggi dan kedalaman ruang bebas tertentu yang ditetapkan oleh
180

pembina jalan. Daerah manfaat jalan hanya diperuntukan bagi perkerasan jalan,
bahu jalan, saluran samping, lereng, ambang pengaman, timbunan dan galian,
gorong-gorong, perlengkapan jalan dan bangunan pelengkap lainya.
4. Lebar Badan Jalan
Umumnya ukuran lalu lintas normal 3,5 meter, dapat terdiri dari satu atau dua
jalur. Pada jalan penghubung bisa dipakai 3,5 meter sampai dengan 4 meter
untuk dua jalur lalu lintas. Sedangkan untuk jalan utama dengan kecepatan
tinggi (Free Way) lebar jalur lalu lintas dapat lebih dari 3,5 meter untuk satu
jalur.
5. Kemiringan Perkerasan Jalan
Kemiringan melintang perkerasan suatu trase jalan, besarnya ditentukan oleh
syarat-syarat sebagai berikut:
a. Syarat drainase, dimana kemiringan melintang harus dapat mengalirkan air
atau cairan yang tumpah diatas permukaan jalan ke saluran samping.
b. Syarat lalu lintas, diusahakan agar kemiringan melintang masih dapat
memberikan kenyamanan dan tidak membahayakan pemakai jalan.
6. Bahu jalan
Bahu jalan pada umumnya tidak diberi perkerasan. Lebar dan kemiringannya
ditentukan berdasarkan keadaan setempat, intensitas lalu lintas, intensitas hujan,
keadaan medan dan jenis material yang digunakan untuk bahu jalan tersebut.
Lebar dari bahu jalan sangat menentukan akan keamanan perkerasan jalan dari
bahaya longsor terutama pada daerah pegunungan atau berbukit. Bahu jalan
selain berfungsi untuk ruang bagi pejalan kaki, juga dapat digunakan sebagai
jalur darurat pada waktu kendaraan mendahului, berpapasan atau berhenti.
7. Saluran Samping (Side Dish)
Saluran samping jalan merupakan bagian dari jalan yang berdampingan dengan
bahu jalan yang berfungsi untuk menampung dan mengalirkan air secepatnya.
Sehubungan dengan banyaknya air yang harus ditampung dan kecepatan
pengaliran, lebar dan dalamnya, maka saluran samping diperhitungkan
berdasarkan debit rencana dan kemiringan disesuaikan dengan jenis dari tanah
dasarnya atau bahan yang digunakan.
181

5.1.2 Potongan Memanjang Jalan


Potongan memanjang jalan adalah penampang atau profil arah memanjang
yang mengikuti alur jalan, dimana dalam penampang tersebut sudah menampilkan
elevasi vertikal dan horizontal permukaan jalan (kontur). Pada potongan
memanjang jalan ini sudah kelihatan dengan jelas untuk jalan tikungan maupun
jalan lurus. Serta tipe tikungan juga sudah kelihatan dari tipe full circle (FC), spiral-
circle-spiral (SCS), maupun spiral-spiral (SS). Dalam penampang memanjang
terdapat nilai stasioner. Stasioner adalah panjang jalan yang didesain dalam satuan
panjang (bisa berupa meter, inchi ataupun yang lainnya) dengan interval tertentu
(misalnya interval 25 meter, 50 meter atau 100 meter) dan stasioner biasanya
dimulai dari angka 0+000 sampai akhir panjang jalan yang didesain.
Suatu penampang melintang tertentu dapat menentukan tingkat pelayanan
dimana keamanan menjadi pertimbangan utama. Pengetahuan tentang hal-hal ini
belum lengkap sehingga tidak diketahui sampai sejauh mana unsur-unsur tersebut
serta interaksinya berpengaruh terhadap kecelakaan. Untuk pembuatan jalan
berkaitan dengan galian dan timbunan sangat memerlukan pengetahuan tentang
tanah baik struktur ataupun jenis tekanan kondisinya (Irvine, 1995).
Analisis stabilitas suatu talud bukanlah merupakan suatu pekerjaan yang
ringan. Bahkan untuk mengetahui evaluasi variabel seperti tanah dan lapisannya
serta parameter-parameter kekuatan geser tanah mungkin merupakan pekerjaan
yang membosankan. Rembesan dalam talud dan kepemilikan,kemungkinan longsor
atau tergelincir menambah rumitnya masalah yang akan ditangani (Elias, 1999).
Masalah pokok dalam pembuatan analisis distribusi adalah penentuan lokasi
dari penstasional titik-titik keseimbangan antara mana galian dan timbunan
ditambah dengan penyusutan yang diperbolehkan. Pada pekerjaan kecil titik-titik
keseimbangan (balance) yang utama bisa didapat dengan membuat subtotal yang
terpisah dari galian-galian dan timbunan-timbunan yang telah dikoreksi, titik-titik
keseimbangan ditentukan letaknya dimana kedua subtotal adalah sama. Pada
pekerjaan penting, cara ini kurang baik. Ia tidak menunjukkan bagaimana
182

menjadwalkan pekerjaan. Analisis yang lebih detail dapat dibuat dengan cara
station atau dengan cara diagram massa (Meyer dan David 1984).
Penampang memanjang jalan diperlukan untuk membuat trase jalan kereta
api, jalan raya, sungai, saluran irigasi (saluran air) misalnya irisan tegak penampang
memanjang yang mengikuti sumbu rute. Penampang merupakan gambaran irisan
tegak. Bila pada peta topografi bisa dilihat bentuk proyek tegak model bangunan,
maka pada gambar penampang bisa dilihat model potongan tegak bangunan dalam
arah memanjang ataupun melintang tegak lurus arah potongan memanjang
(Forsblad, 1989).
Pada masa lalu, kemiringan yang besar masih merupakan standar bagi
beberapa perencanaan jalan raya karena tidak terlalu banyak melibatkan pekerjaan
tanah. Tetapi, pada tahun-tahun terakhir kemiringan biasanya diperdatar lagi agar
pengoperasian kenderaan dapat lebih aman, memungkinkan penanaman pohon
serta mengurangi erosi dimana kestabilan merupakan hal yang pokok dan untuk
mengurangi biaya perawatan. Kemiringan yang curam pada timbunan badan jalan
dapat menimbulkan bahaya kecelakaan yang serius. Kemiringan timbunan yang
datar memiliki keuntungan yang lain yaitu dapat dilihat dari tiap kendaraan
sehingga jalan akan nampak lebih aman untuk dilalui (Purwardjo, 1986).
Galian-galian seperti sumur-sumur dan alur-alur kita berikan tanda dengan
rambu-rambu. Rambu-rambu ini disusun dari dua buah piket atau lebih yang
dibagian atasnya dipasang sepotong papan horizontal. Bagian atas papan ini
ditetapkan dengan cermat terhadap HAP. Permukaan tanah atau bagian atas tengah
jalan tergantung dari situasi setempat. Setidak-tidaknya kita pasangkan pada semua
titik dari galian sebuah rambu dan demikian pula untuk alur-alur dengan jarak
masing-masing maksimal sekitar 20 m. Penempatan rambu-rambu hendaknya
diatur sedemikian rupa, sehingga ketika berlangsungnya penggalian tidak akan
menimbulkan getaran (Forsblad, 1989).
Bila transisi diantara galian dan timbunan berada pada sisi bukit sebanyak 5
penampang melintang mungkin diperlukan, secara teoritis penampang melintang
yang lengkap tidak memerlukan pada sudut-sudut penampang yang mencolok ke
dalam permukaan tetapi pengoperasionalnya diperlukan untuk menentukan puncak
183

piramida-piramida yang mempunyai dasar akhir dengan bentuk segitiga. Jadi


penampang melintang pada tradisi menjadi 3, yaitu:
1. Pada dasar timbunan
2. Pada titik grade di garis sumbu
3. Pada titik grade di dasar galian
Ketiga penampang-penampang pada transisi sangat berdekatan, kontur
grade tersebut dianggap tegak lurus pada garis sumbu, selanjutnya akan berbentuk
baji pada sebelah-sebelah kontur grade (Elias, 1999).
Dalam pembuatan penampang memanjang ini, terdiri dari pembuatan galian
dan timbunan. Pembuatan galian dan timbunan ini harus disesuaikan supaya
penekanan biaya dan tenaga yang digunakan dalam pengangkutan dapat benar-
benar diefisienkan. Untuk itu pembuatan penampang memanjang jalan ini perlu
dipelajari dan harus benar-benar dipahami. Penampang umumnya merupakan irisan
tegakan, bila pada peta topografi dapat dilihat bentuk proyeksi tegak model
bangunan, maka pada gambar penampang bisa dilihat model potongan tegak
bangunan dalam arah memanjang ataupun melintang tegak lurus arah potongan
memanjang bisa dipahami bahwa gambar penampang merupakan gambaran dua
dimensi dengan elemen unsur jarak (datar) dan ketinggian. Pada gambaran
penampang dibuat dan disajikan dalam rencana rancangan bangunan dalam arah
tegak skala horizontal pada gambar penampang umumnya lebih kecil dari skala
tegak (Irvine, 1995).

5.2 Potongan Melintang dan Memanjang (Trase 1)


Berdasarkan analisis dan penentuan alinyemen, hubungan antara alinyemen
dan galian timbunan, maka dipilih trase yang dapat dilihat pada halaman
selanjutnya.
184

Gambar 5.1 Trase yang dipiilih

5.2.1 Perhitungan Potongan Jalan


Untuk pembagian luas potongan jalan melintang pada potongan stasiun 15-
15 dapat dilihat pada Gambar 5.2.

Gambar 5.2 Pembagian Luas Potongan Jalan Melintang

Untuk mencari luas galian dan timbunan pada gambar autocad digunakan
command “LI” kemudian spasi, maka didapatkan luasannya pada keterangan Area.
1. Luas Galian = 19,515 m2
2. Luas Timbunan = 17,7625 m2

5.2.2 Detail Lapisan Jalan


Untuk gambar detail potongan stasiun 15.15 dapat dilihat pada gambar 5.3.
185

Gambar 5.3 Keterangan Lapisan Jalan

5.2.3 Rekapitulasi Potongan Jalan (Galian dan Timbunan)


Rekapitulasi potongan jalan serta nilai galian dan timbunan dapat dilihat
pada tabel 5.1 di halaman selanjutnya.

Tabel 5.1 Rekapitulasi Galian dan Timbunan


Luas (m2) Volume (m3)
Potongan Jarak
Galian Timbunan Galian Timbunan
1 - 1 16.4076 3.4389 1140.8425 127.8125 50
2 2 15.8142 1.6736 2139.7425 234.1525 50
3 - 3 54.5817 7.6925 7180.845 192.3125 50
4 - 4 211.8073 0 9085.27 0 50
5 - 5 126.2769 0 5560.07 0 50
6 - 6 70.7993 0 3587.055 0 50
7 - 7 47.3563 0 2821.7925 0 50
8 - 8 40.1888 0 3233.93 0 50
9 - 9 63.8418 0 2733.6775 6.8825 50
10 - 10 23.5335 0.2753 3117.0575 6.8825 50
11 - 11 79.2508 0 5452.545 0 50
12 - 12 113.672 0 3156.5375 3512.6425 50
13 - 13 0 140.5057 0 4631.8875 50
14 - 14 0 44.7698 621.735 1761.795 50
15 - 15 19.6378 25.702 1180.1625 1509.975 50
16 - 16 18.5243 34.697 431.552772 2641.2855 38.64
17 - 17 0 102.0155 0 1864.368 20
18 - 18 0 84.4213 0 2264.724 20
186

Lanjutan Tabel 5.1 Rekapitulasi Galian dan Timbunan


19 - 19 0 142.0511 0 2684.028 20
20 - 20 0 126.3517 0 2441.197 20
21 - 21 0 117.768 0 2520.418 20
22 - 22 0 134.2738 0 2945.935 20
23 - 23 0 160.3197 0 2672.304 20
24 - 24 0 106.9107 139.409 1442.057 20
25 - 25 10.6299 37.295 893.826 372.95 20
26 - 26 62.7784 0 2589.368 0 20
27 - 27 170.8318 0 3259.804 0 20
28 - 28 129.822 0 2521.643 12.781 20
29 - 29 98.8508 1.2781 3761.567 12.781 20
30 - 30 253.8144 0 4337.669 0 20
31 - 31 154.6259 0 3377.237 0 20
32 - 32 157.7712 0 3440.799 0 20
33 - 33 160.9821 0 3487.046 0 20
34 - 34 162.3959 0 3569.092 0 20
35 - 35 169.1867 0 3675.792 0 20
36 - 36 173.0659 0 4714.329 0 20
37 - 37 273.0404 0 5548.136 0 20
38 - 38 256.4466 0 6856.279 0 20
39 - 39 403.8547 0 2068.511421 0 8.89
40 - 40 36.1756 0 1288.01 512.365 50
41 - 41 2.097 20.4946 76.4675 1282.105 50
42 - 42 0.3772 30.7896 9.43 3295.4675 50
43 - 43 0 101.0291 0 5428.8975 50
44 - 44 0 116.1268 0 5895.62 50
45 - 45 0 119.698 687.7175 3561.1625 50
46 - 46 22.7109 22.7485 3662.2425 568.7125 50
47 - 47 106.3177 0 6146.34 0 50
187

Lanjutan Tabel 5.1 Rekapitulasi Galian dan Timbunan


48 - 48 114.2093 0 4789.7525 0 50
49 - 49 52.0542 0 1495.445798 0 21.56
50 - 50 61.3433 0 808.339 297.233 20
51 - 51 4.9174 29.7233 170.848 474.495 20
52 - 52 6.7511 17.7262 245.734 250.759 20
53 - 53 8.9356 7.3497 194.07 98.708 20
54 - 54 2.1896 2.5211 55.939 289.384 20
55 - 55 0.5028 26.4173 28.336 481.436 20
56 - 56 1.7914 21.7263 24.442 515.556 20
57 - 57 0.1134 29.8293 1.134 670.68 20
58 - 58 0 37.2387 130.5661275 113.3638725 5.19
59 - 59 42.4264 6.4468 13015.0125 161.17 50
60 - 60 457.6227 0 21405.6225 0 50
61 - 61 373.2756 0 9648.4725 1298.95 50
62 - 62 0 51.958 0 3410.67 50
63 - 63 0 84.4688 1225.3525 2111.72 50
64 - 64 36.3508 0 2325.8325 0 50
65 - 65 31.3559 0 1561.5975 301.815 50
66 - 66 13.7686 12.0726 2560.245 301.815 50
67 - 67 71.3018 0 4199.04 0 50
68 - 68 71.3332 0 1766.80261 0 21.55
69 - 69 67.3126 0 1598.842 0 20
70 - 70 67.245 0 1582.032 0 20
71 - 71 65.6316 0 1558.707 0 20
72 - 72 64.9125 0 1551.525 0 20
73 - 73 64.9134 0 1551.534 0 20
74 - 74 64.9134 0 1551.534 0 20
75 - 75 64.9134 0 1551.518 0 20
76 - 76 64.9118 0 1551.518 0 20
188

Lanjutan Tabel 5.1 Rekapitulasi Galian dan Timbunan


77 - 77 64.9134 0 1551.528 0 20
78 - 78 64.9128 0 1700.039 0 20
79 - 79 79.7645 0 1971.521 0 20
80 - 80 92.061 0 2215.171 0 20
81 - 81 104.1295 0 2467.336 0 20
82 - 82 117.2775 0 2075.175 0 20
83 - 83 64.9134 0 1464.3 0 20
84 - 84 56.19 0 835.856 250.078 20
85 - 85 11.0247 25.0078 298.229 331.314 20
86 - 86 10.292 8.1236 280.076 117.937 20
87 - 87 8.1513 3.6701 237.704 133.188 20
88 - 88 7.2051 9.6487 8.0263725 4.8095045 0.71
89 - 89 7.2814 3.8992 743.2925 97.48 50
90 - 90 6.7197 0 510.435 33.43 50
91 - 91 1.8003 1.3372 61.045 1789.3175 50
92 - 92 0 70.2355 0 4066.6475 50
93 - 93 0 92.4304 0 3652.4975 50
94 - 94 0 53.6695 0 7575.565 50
95 - 95 0 249.3531 0 13900.6125 50
96 - 96 0 306.6714 0 15316.6075 50
97 - 97 0 305.9929 0 12683.0075 50
98 - 98 0 201.3274 0 10140.755 50
99 - 99 0 204.3028 0 9066.7025 50
100 - 100 0 158.3653 9.845 4235.4825 50
101 - 101 0.3938 11.054 542.65 281.4075 50
102 - 102 13.5108 0.2023 532.805 5222.1 50
103 - 103 0 208.6817 0 10319.945 50
104 - 104 0 204.1161 0 9062.035 50
105 - 105 0 158.3653 9.82 4239.515 50
189

Lanjutan Tabel 5.1 Rekapitulasi Galian dan Timbunan


106 - 106 0.3928 11.2153 616.59 280.3825 50
107 - 107 15.3539 0 7527.3475 0 50
108 - 108 264.1598 0 13380.7575 0 50
109 - 109 245.7439 0 11865.725 0 50
110 - 110 203.5585 0 10444.2025 0 50
111 - 111 188.883 0 13296.1 0 50
112 - 112 317.6344 0 11806.2375 0 50
113 - 113 129.2885 0 3572.3925 184.405 50
114 - 114 0.8829 7.3762 211996.4675 107805.66 50
JUMLAH VOLUME = 497723.9981 285972.1374
BAB VI
RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB)

6.1 Umum
Rencana Anggaran Biaya (RAB) merupakan perkiraan atau perhitungan
biaya–biaya yang diperlukan untuk tiap pekerjaan dalam suatu proyek konstruksi,
sehingga diperoleh biaya total yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek
tersebut.
Tujuan penyusunan atau pembuatan RAB bagi kontraktor adalah :
a. Sebagai dasar untuk mengikuti tender dan pengajuan penawaran.
b. Sebagai dasar perkiraan modal/dana yang harus disediakan.
c. Sebagai dasar dalam penyediaan bahan, alat, tenaga dan waktu untuk
pelaksanaan.
Rencana anggaran biaya dibuat sebelum proyek dilaksanakan, jadi masih
merupakan anggaran perkiraan, bukan anggaran yang sebenarnya berdasarkan
pelaksanaan (actual cost).
Ada dua macam cara pembuatan RAB, yaitu :
1. Rencana Anggaran Biaya Kasar
Yaitu rencana anggaran biaya yang perhitungannya hanya didasarkan pada luas
lantai bangunan dikalikan satuan harga per m2 nya. Rencana Anggaran biaya
kasar digunakan jika ingin mengetahui anggaran biaya proyek secara cepat
dengan cara pendekatan.
2. Rencana Anggaran Biaya Secara Rinci
Yaitu rencana anggaran biaya yang dihitung berdasarkan volume tiap jenis
pekerjaan dikalikan harga tiap jenis pekerjaan tersebut, untuk seluruh jenis
kegiatan yang ada pada proyek tersebut, sehingga diperoleh rencana anggaran
biaya total untuk seluruh proyek tersebut.
Dalam penyusunan atau pembuatan RAB data yang diperlukan adalah
sebagai berikut:

190
191

a. Gambar-gambar rencana arsitektur dan struktur serta gambar-gambar lain


(gambar bestek).
b. Peraturan dan syarat-syarat (bestek/RKS).
c. Berita Acara Penjelasan Pekerjaan.
d. Buku Analisa BOW dan Analisa SNI 2002
e. Peraturan/spesifikasi bahan dari pabrik/industri
f. Daftar harga bahan yang digunakan didaerah tersebut
g. Daftar Upah tiap pekerjaan
h. Daftar Volume tiap pekerjaan
i. Peraturan pemerintah daerah yang berkaitan dengan pembangunan.
Dari daftar tersebut, jika dibuat skema perhitungan RAB, adalah seperti pada
gambar :

Gambar 6.1 Flow Chart Pembuatan RAB


192

6.2 Data Proyek


Berikut merupakan data-data proyek yang akan dikerjakan menggunakan
berbagai kombinasi alat berat.
Nama Proyek : Proyek Jalan Baru di Aceh
Lokasi Proyek : Pidie, Aceh
Waktu Pengerjaan : 365 hari = 12 bulan
Item pekerjaannya meliputi :
a. Divisi 1. Umum : 50 minggu
b. Divisi 2. Drainase : 9 minggu
c. Divisi 3. Pekerjaan Tanah : 32 minggu
d. Divisi 4. Pelebaran dan Perkerasan Bahu Jalan : 29 minggu
e. Divisi 5. Pekerjaan Berbutir : 16 minggu
f. Divisi 6. Pekerjaan Aspal : 105 minggu
g. Divisi 7. Pengembalian Kondisi dan Pekerjaan Minor : 8 minggu
Alat berat yang dibutuhkan : flatbed truck, mini excavator, dump truck, truck crane,
motor grader, vibro roller, tandem roller, water tanker, wheel loader, asphalt
distributor, compressor, asphalt mixing plant, generator set, asphalt finisher, tire
roller, thermoplastic road marking machine, dan truck.

6.3 Metode Kerja


Pemilihan alat berat disesuaikan dengan pekerjaan yang akan dilakukan.
Setiap alat berat memiliki metode kerja yang berbeda-beda. Berikut penjelasan
mengenai metode kerja berbagai alat berat yang akan digunakan dalam Proyek
Jalan Baru Aceh ini.
1. JAC 10 T Flatbed Truck
193

Gambar 6.2 Flatbed Truck


Flatbed truck adalah truk datar yang berfungsi untuk mengangkut barang-
barang besar seperti saluran u ditch, gorong-gorong, dan alat berat (excavator)
untuk kebutuhan proyek.
2. CAT Mini Excavator 305.5E2

Gambar 6.3 Mini Excavator


Mini excavator atau disebut juga compact excavator adalah excavator dengan
ukuran paling kecil dibandingkan excavator lainnya. Mini excavator dapat
dioperasikan di berbagai tempat untuk berbagai jenis proyek seperti pekerjaan
saluran air, menghancurkan bangunan kecil, dan pekerjaan menggali lainnya.
Tenaga yang diperlukan untuk mengoperasikan Mini Excavator juga lebih
hemat.
3. Mitshubishi FE 74 HD K Tenaga Mesin 125 PS Dump Truk 4 T
194

Gambar 6.4 Dump Truck 4 Ton


Dump Truck adalah suatu alat pengangkut yang digunakan untuk memindahkan
material dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Muatannya diisi oleh alat pemuat
(excavator), sedangkan untuk membongkar alat ini bekerja sendiri. Material-
material tersebut diantaranya tanah urug, pasir, dan batu.
4. SANY PALFINGER SPS 8000 Truck Crane 3T

Gambar 6.5 Truck Crane


Truck crane adalah sebuah crane yang berada langsung atau tergabung pada
truk. Sehingga dapat membuat sebuah crane berpindah-pindah secara mudah
dan bisa dibawa langsung ke lokasi tanpa memerlukan sebuah alat tambahan
lainnya. Pada alat ini memiliki sebuah kaki yang mana harus dipasang ketika
akan beroperasi agar tetap seimbang. Alat ini mampu mengangkat material
berat dan performanya tidak mengecewakan. Jangkauannya memang tidak
terlalu luas namun mesin ini sangat bisa meringankan pekerjaan manusia.
195

5. Excavator Backhoe Komatsu PC200

Gambar 6.6 Excavator Backhoe


Excavator merupakan alat berat yang terdiri dari boom (bahu), lengan (arm) dan
bucket. Excavator dioperasikan oleh tenaga hidrolis yang dijalankan dengan
mesin diesel yang berada di atas trackshoe atau rantai. Excavator memiliki
peran penting dalam kontruksi pembangunan karena mampu memindahkan
material yang satu dan yang lainnya. Penggunaan secara spesifik excvator ini
adalah menggali lubang, penanganan berbagai material, meratakan tanah,
mengangkut material berat, penghancuran material, dan pengerukan.
6. Hino FM Dump Truck New Ranger 500

Gambar 6.7 Dump Truck Tronton


Dump Truck Tronton merupakan dump truck yang memiliki ukuran dan
kapasitas lebih besar dari dump truck umumnya. Fungsinya sama yaitu sebagai
alat pengangkut yang digunakan untuk memindahkan material dari satu lokasi
196

ke lokasi lainnya. Muatannya diisi oleh alat pemuat, sedangkan untuk


membongkar alat ini bekerja sendiri. Material-material tersebut diantaranya
tanah urug, pasir, dan batu.
7. XCMG GR 135 Motor Grader 135 HP

Gambar 6.8 Motor Grader


Motor Grader adalah alat berat yang dipakai untuk meratakan jalan. Alat berat
ini dilengkapi dengan pisau yang berukuran panjang. Pisau inilah yang dipakai
di dalam proses meratakan jalan.
8. Sakai Vibro Roller SV512 D

Gambar 6.9 Vibro Roller


Vibro Roller atau yang disebut juga dengan vibratory roller merupakan alat
berat yang digunakan untuk pekerjaan yang berkaitan dengan pemadatan tanah.
Alat berat ini banyak digunakan untuk menggilas dan juga memadatkan hasil
197

timbunan. Sesuai dengan namanya, alat ini telah dilengkapi dengan vibrator
untuk menjalankan tugasnya. Ketika menggunakan vibro roller, maka tanah
yang dipadatkan menjadi lebih sempurna serta permukaan tanah menjadi lebih
dinamis. Alat ini berguna untuk membuat permukaan tanah menjadi lebih padat
dan optimal dimana butiran-butiran tanah akan saling mengisi bagian yang
kosong.
9. Tandem Roller Sakai SW 60

Gambar 6.10 Tandem Roller


Tandem Roller adalah alat untuk memadatkan timbunan atau tanah yang akan
diratakan sehingga tanah atau timbunan menjadi padat. Dalam pengerjaannya
alat berat ini biasanya digunakan dalam pembuatan jalan, baik untuk jalan tanah
dan jalan dengan perkerasan lentur maupun perkerasan kaku. Alat berat ini
biasanya digunakan untuk pekerjaan penggilasan akhir, misalnya untuk
pekerjaan penggilasan aspal agar diperoleh hasil akhir permukaan yang rata.
10. Isuzu Water Tanker 4000L
198

Gambar 6.11 Water Tank


Kegunaan water tank truck adalah untuk mengangkut air. Hal ini digunakan
untuk pekerjaan pemadatan lapis pondasi agregat kelas A, setelah
penghamparan material selesai kemudian dipadatkan dan di siram air
menggunakan water tank ini
11. CAT Wheel Loader 906K

Gambar 6.12 Wheel Loader


Wheel Loader merupakan jenis alat berat yang sering dipakai untuk
mengangkut material yang akan di muat ke dalam dumptruck atau
memindahkan material ke tempat lain. Kegunaan alat ini adalah sebagai
berikut.
a. Pembersihan lapangan atau lokasi pekerjaan (land clearing)
b. Penggusuran tanah dalam jarak dekat
c. Meratakan timbunan tanah dan mengisi kembali galian-galian tanah.
d. Menyiapkan bahan-bahan dari tempat pengambilan material.
199

e. Mengupas tanah bagian yang jelek (stripping)


f. Meratakan permukaan atau menghaluskan permukaan bidang rata disebut
finishing.
12. Asphalt Distributor DA210-4

Gambar 6.13 Asphalt Distributor


Asphalt Distributor adalah peralatan yang digunakan untuk menyemprotkan
aspal cair panas ke atas permukaan pada pekerjaan finishing jalan secara merata
dengan kecepatan yang sama. Aspal ini dilengkapi dengan batang
penyemprotan, pompa dan tangki aspal.
13. Compressor Airman PDS 400 S

Gambar 6.14 Compressor


Compressor adalah sebuah mesin atau alat mekanik yang berfungsi untuk
meningkatkan tekanan atau memampatkan fluida gas atau udara. Mesin
kompresor angin umumnya menggunakan motor listrik, mesin bensin, atau
200

mesin diesel sebagai tenaga penggeraknya. Penggunaanya seperti pembersihan


debu dari jalan.
14. Asphalt Mixing Plant 60 LB 700

Gambar 6.15 Asphalt Mixing Plant


Asphalt Mixing Plant (AMP) adalah seperangkat peralatan yang mempunyai
fungsi untuk memproduksi bahan pelapisan permukaan jalan lentur yaitu
campuran beraspal panas.
15. Minsun 20 Kw Generator Set

Gambar 6.16 Generator Set


Generator Set merupakan salah satu alat atau mesin yang dapat menghasilkan
listrik dengan mengubah tenaga mekanik menjadi tenaga listrik. Sehingga
genset dapat digunakan sebagai cadangan listrik.
16. Asphalt Finisher Bomag BF800-C
201

Gambar 6.17 Asphalt Finisher


Asphalt finisher adalah alat untuk menghamparkan campuran aspal hot mix
yang dihasilkan dari alat produksi aspal yaitu Asphalt Mixing Plant [AMP] pada
permukaan jalan yang akan dikerjakan. Asphalt Finisher Memiliki roda yang
berupa kelabang atau dimaksud dengan crawler track dengan hopper yang tidak
beralas. Sedangkan dibawah hopper terdapat pisau yang juga selebar hopper.
Ketika sistem penghamparan, awalannya diawali dengan memasukkan aspal ke
hopper. Lalu aspal akan segera turun ke permukaan serta disisir oleh pisau.
Untuk memperoleh tingkat kerataan yang dikehendaki bakal ditata oleh pisau
tersebut
17. Sakai Tire Roller TA10

Gambar 6.18 Tire Roller


Pneumatic Tyred Rollers (PTR) memiliki fungsi utama sebagai alat pemadatan
lapisan base course, binder course dan permukaan pada jalan aspal. Selain itu,
202

alat ini juga dapat digunakan untuk pemadatan tanah dasar. PTR juga andal
digunakan untuk mengikat campuran aspal guna mendapatkan efek sealing
pada lapisan permukaannya.
18. ACE Thermoplastic Road Marking Machine

Gambar 6.19 Thermoplastic Road Marking Machine


Model mesin marka jalan termoplastik tipe hand-push ini adalah peralatan
khusus untuk konstruksi penandaan lalu lintas dan digunakan untuk jalan raya,
jalan perkotaan, garis lurus, garis putus-putus, kurva, panah panduan, dan huruf
tanda reflektif.
19. Hino Dutro 2T Truck

Gambar 6.20 Truck


Truck adalah sebuah kendaraan beroda empat atau lebih untuk mengangkut
barang, juga sering disebut sebagai mobil barang.
203

6.3 Daftar Harga


Analisa harga satuan sendiri dari beberapa daftar harga, yang dapat dilihat di
bawah ini.
6.3.1 Daftar Harga Upah
Adapun untuk daftar harga upah dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 6.1 Daftar Harga Upah


Jam
No Uraian Satuan kerja/hari Harga Upah Harga Satuan (Jam)
Harga Upah Tukang Batu
1 Mandor OH 7 Rp 114,000.00 Rp 16,285.71
2 Tukang OH 7 Rp 100,000.00 Rp 14,285.71
3 Pekerja OH 7 Rp 89,000.00 Rp 12,714.29
Harga Upah Tukang Kayu
1 Mandor OH 7 Rp 114,000.00 Rp 16,285.71
2 Tukang OH 7 Rp 100,000.00 Rp 14,285.71
3 Pekerja OH 7 Rp 89,000.00 Rp 12,714.29
Harga Upah Tukang Besi
1 Mandor OH 7 Rp 114,000.00 Rp 16,285.71
2 Tukang OH 7 Rp 100,000.00 Rp 14,285.71
3 Pekerja OH 7 Rp 89,000.00 Rp 12,714.29
Harga Upah Tukang Las
1 Mandor OH 7 Rp 114,000.00 Rp 16,285.71
2 Tukang OH 7 Rp 100,000.00 Rp 14,285.71
3 Pekerja OH 7 Rp 89,000.00 Rp 12,714.29
Harga Upah Tukang Cat
1 Mandor OH 7 Rp 114,000.00 Rp 16,285.71
2 Tukang OH 7 Rp 100,000.00 Rp 14,285.71
3 Pekerja OH 7 Rp 89,000.00 Rp 12,714.29
Harga Upah Tukang Gali Tanah
1 Mandor OH 7 Rp 114,000.00 Rp 16,285.71
2 Tukang OH 7 Rp 100,000.00 Rp 14,285.71
3 Pekerja OH 7 Rp 89,000.00 Rp 12,714.29
204

6.2.2 Daftar Harga Bahan


Tabel 6.2 Daftar Harga Bahan
No Nama Barang Satuan Harga Satuan (Rp)
1 Agregat Kelas A m3 Rp 725,181.00
2 Agregat Kelas S m3 Rp 699,745.00
3 U ditch ukuran 500 x 500 x 1200 pcs Rp 510,000.00
Gorong-gorong beton diameter 0,6
4 m; 1 m, 0,4 m pcs Rp 255,000.00
5 Aspal Emulsi liter Rp 10,600.00
6 Agregat lolos screen ukuran (5-10) M3 Rp 150,288.00
7 Agregat lolos screen ukuran (0-5) M3 Rp 169,813.00
8 Semen 40 kg / zakk Kg Rp 68,439.00
9 Aspal Kg Rp 15,301.00
10 Cat Marka kg Rp 71,000.00
11 Glass Bead kg Rp 15,000.00
12 Beton K175 M3 Rp 245,000.00
13 Baja Tulangan buah Rp 17,700.00
14 Cat dan material lannya Ls Rp 20,000.00
Pelat Rambu Jadi (Engineering
15 Grade) Ls Rp 1,354,940.00
16 Pipa Galvanis 3,2mm Ls Rp 358,000.00
17 Cat Ls Rp 10,000.00
18 Rel Pengaman M' Rp 425,000.00
19 Patok Beton K-175 m3 Rp 245,000.00
20 Baja Tulangan buah Rp 17,700.00
21 Baut, dan material lain buah Rp 20,000.00
22 Tiang Galvanis buah Rp 358,000.00
23 NVM 2 x 2,5 mm buah Rp 13,500.00
24 Beton K-175 m3 Rp 245,000.00
205

6.3.3 Daftar Harga Alat


Tabel 6.3 Daftar Harga Alat
No Nama Alat Satuan Harga
1 Flatbed Truck jam Rp 609,992.68
2 Mini Excavator 40-60 HP jam Rp 258,187.82
3 Dump Truck 4 ton jam Rp 365,412.21
4 Truck Crane 3 Ton jam Rp 365,412.21
5 Excavator Backhoe jam Rp 500,194.63
6 Dump Truck Tronton 10 ton jam Rp 614,377.50
7 Motor Grader > 100 HP jam Rp 529,124.91
8 Vibratory Roller 5-8 T jam Rp 326,344.79
9 Tandem Roller 6-8 T jam Rp 453,623.79
10 Tandem Rooler 8-10 T jam Rp 519,129.74
11 Water Tanker 3000-4500 L jam Rp 426,224.19
12 Alat Pemotong (Chainsaw) jam Rp 36,875.00
13 Wheel Loader 1.0-1.6 M3 jam Rp 538,267.20
14 Asphalt Distributor 5000 L jam Rp 388,585.84
15 Compressor 4000-6500 L/M jam Rp 180,868.91
16 Asphalt Mixing Plant 60 T jam Rp 9,164,493.00
17 Generator Set jam Rp 1,415,666.67
18 Asphalt Finisher jam Rp 146,607.00
19 Tire Roller 8-10 T jam Rp 561,203.11
Thermoplastic Road Marking
20 Machine jam Rp 101,606.36
21 Truck 2T jam Rp 287,663.48
206

6.4 Kebutuhan Alat Berat


Berikut merupakan perhitungan kebutuhan alat berat.
Tabel 6.4 Kebutuhan Alat Berat
DIVISI 1 UMUM
Jenis Pekerjaan No Nama Alat Jumlah Alat
- - - -
DIVISI 2 PEKERJAAN DRAINASE
Jenis Pekerjaan No Nama Alat Jumlah Alat
2a Flatbed Truck 1
2b Mini Excavator 1
Pekerjaan Pemasangan U-Ditch
2c Dump Truck 1
2d Truck Crane 2
2a Flatbed Truck 1
Pekerjaan Pemasangan Gorong-
2b Mini Excavator 1
Gorong Pipa Bertulang Diameter 0,6
2c Dump Truck 1
m ; 0,4 m ; 1 m
2d Truck Crane 1
DIVISI 3 PEKERJAAN TANAH
Jenis Pekerjaan No Nama Alat Jumlah Alat
2a Excavator 3
Galian Biasa
2b Dump Truck Tronton 20
2a Excavator 4
2b Dump Truck Tronton 20
2c Motor Grader 10
Timbunan Biasa
2d Vibro Roller 16
2e Tandem Roller 8
2f Water Tank 11
2a Motor Grader 13
Penyiapan Badan Jalan
2b Vibro Roller 14
Pembersihan dan Pengupasan 2a Dump Truck Tronton 12
2a Excavator 3
Pemotongan Pohon Diameter > 30-
2b Dump Truck Tronton 15
50 cm
2c Chainsaw 1
DIVISI 4 PELEBARAN DAN PERKERASAN BAHU JALAN
Jenis Pekerjaan No Nama Alat Jumlah Alat
2a Wheel Loader 1
2b Dump Truck Tronton 1
LPA Kelas A
2c Motor Grader 1
2d Tandem Roller 1
2a Wheel Loader 1
2b Dump Truck Tronton 1
LPA Kelas S
2c Motor Grader 1
2d Tandem Roller 1
DIVISI 5 PEKERJAAN BERBUTIR
Jenis Pekerjaan No Nama Alat Jumlah Alat
2a Wheel Loader 1
2b Dump Truck Tronton 5
LPA Kelas A
2c Motor Grader 1
2d Vibro Roller 1
207

DIVISI 6 PEKERJAAN ASPAL


Jenis Pekerjaan No Nama Alat Jumlah Alat
Lapis Resap Pengikat-Perekat Aspal 2a Asphalt Distributor 1
Cair 2b Compressor 1
2a Wheel Loader 1
2b Asphalt Mixing Plant 1
2c Generator Set 1
Laston Lapis Aus (AC-WC) 2d Dump Truck Tronton 1
2e Asphalt Finisher 1
2f Tandem Roller 1
2g Tire Roller 1
2a Wheel Loader 1
2b Asphalt Mixing Plant 1
2c Generator Set 1
Laston Lapis Aus (AC-BC) 2d Dump Truck Tronton 1
2e Asphalt Finisher 1
2f Tandem Roller 1
2g Tire Roller 1
2a Wheel Loader 1
2b Asphalt Mixing Plant 1
2c Generator Set 1
Laston Lapis Aus (AC-Base) 2d Dump Truck Tronton 1
2e Asphalt Finisher 2
2f Tandem Roller 1
2g Tire Roller 1
DIVISI 2 PEKERJAAN DRAINASE
Jenis Pekerjaan No Nama Alat Jumlah Alat
2a Thermoplastic Road Marking Machine 1
Pekerjaan Marka Jalan Termoplastik 2b Compressor 1
2c Truck 1
Pekerjaan Patok Kilometer, Rambu
Jalan Tunggal dengan permukaan
2a Flatbed Truck 2
Pemantul Engineering, Pagar
Pengaman, dan Lampu Jalan

6.4.1 Pekerjaan Drainase


1. Pekerjaan Pemasangan U Ditch
208

ITEM PEMBAYARAN : 2.1


JENIS PEKERJAAN : Pekerjaan pemasangan U ditch
SATUAN PEMBAYARAN : M3
VOLUME GALIAN U DITCH (M3) 1006.635
BERAT TOTAL U DITCH (TON) 2046.855
DURASI PEK. U DITCH (MINGGU) 6

NO URAIAN KODE KOEF. SATUAN SATUAN (Rp) KETERANGAN

I. ASUMSI
1 Pekerjaan dilakukan secara mekanik/manual
2 Lokasi pekerjaan : sepanjang jalan
3 Diameter bagian dalam gorong-gorong d 0.60 m
4 Jarak rata-rata Base Camp ke lokasi pekerjaan L1 10.83 Km
5 Jam kerja efektif per-hari Tk 7.00 jam
6 Tebal gorong-gorong tg 6.35 Cm
7 Faktor koversi bahan (lepas ke asli) Fk 0.70 - Tabel A 1a, tanah liat
8 Berat isi Lepas Tanah Galian Bil 1.10 ton/m3 Tabel A 2b, tanah biasa
9 Tanah galian dibuang sejauh L2 2.00 Km
10 Faktor kehilangan Fh1 1.02 Tabel A 3b, Semen
Fh2 1.08 Tabel A 3b, Pasir
11 Harga satuan dasar flatbed truck 10 ton 1.00 jam Rp 609,992.68
12 Harga satuan dasar mini excavator 40-60 HP 1.00 jam Rp 258,187.82
13 Harga satuan dasar dumptruck 4 ton 1.00 jam Rp 365,412.21
14 Harga satuan dasar truck crane 3 Ton 1.00 jam Rp 425,000.00

II. URUTAN KERJA


1 Flat Bed Truck mengangkut u ditch ke lapangan
2 Dasar saluran digali sesuai kebutuhan dan material back fill dipadatkan dengan
Tamper
3 Tebal lapis porus pada dasar saluran tp 0.10 M
4 Sekelompok pekerja akan melaksanakan pekerjaan dengan cara manual
dengan menggunakan alat bantu

III. PEMAKAIAN BAHAN DAN ALAT TENAGA


1 BAHAN
Saluran U ditch, ukuran 0,5 m x 0,5 m

2 ALAT
2a FLATBED TRUCK (E11)
Kapasitas bak sekali muat v 10 ton
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 -
Kecepatan rata-rata bermuatan v1 20 km/jam
Kecepatan rata-rata kosong v2 30 km/jam
Waktu siklus Ts
~ Waktu tempuh isi = (L : v1) x 60 T1 21 menit
~ Waktu tempuh kosong = (L : v2) x 60 T2 14 menit
~ Muat, bongkar, dll T3 15 menit
Ts 50 menit
Kap. Prod. / jam = (v x Fa x 60) / Ts Q1 9.96 ton/jam

Koefisien Alat/Ton= 1:Q1 (E85) 0.10040 Jam


Biaya Flatbed Truck/Ton Rp1 Rp 61,244.24 ton/jam
Unit = 0.34
1.00
Rp 61,244.24
Total Biaya Flatbed Truck Rp 61,650,600.55

2b. MINI EXCAVATOR (47 HP) (E10a)


Kapasitas bucket V 0.24 M3
Faktor bucket Fb 1.00 -
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 -
Faktor konversi galian (asumsi amn/depth <40% ,
FV 0.90
Normal Large Dumping Target)
Waktu Siklus Ts1 Menit
~Menggali, Memuat (Swing 180O) T1 0.34 menit
~Lain-lain T2 0.10 Menit
Waktu Siklus = T1 +T2 TS1 0.44 Menit

Kap Prod / Jam =


V x Fb x Fa x 60
Q2 30.18 M3/jam
Tst x FV
Kap Prod / Jam =
Q2
Q2' 43.12 M3/jam
(luas gal.) + (tp*lebar gal.)
Koefisien Alat/M3 = 1 : Q2 (E10a) 0.02 Jam
Biaya Mini Excavator/m3 Rp1 Rp 5,988.09 m3/jam
Unit = 0.08
1.00
Rp 5,988.09
Total Biaya Mini Excavator Rp 6,027,821.99
209

2c. DUMP TRUCK 4 TON (E08)


Muatan dalam bak yang diijinkan = 4 / Bill V 3.64 M3
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 7, baik
Kecepatan rata-rata bermuatan v1 20.00 km/jam Tabel 8. bukan datar
Kecepatan rata-rata Kosong v2 30.00 km/jam Tabel 8, bukan datar
Waktu Siklus : Ts2
~Muat = (V / Q3 ) x 60 T1 5.06 menit
~Waktu tempuh isi = (L2 : v1) x 60 T2 6.00 menit
~Waktu tempuh kosong = (L2 : v2) x 60 T3 4.00 menit
~Lain-lain T4 1.45 menit
Ts2 16.51 menit
Kapasitas Produksi / Jam
V x Fa x 60
Q3 10.97 M3
Ts2
Koefisien Alat / M3 = 1 : Q3 (E08) 0.09 Jam
Biaya Mini Dumptruck/m3 Rp1 Rp 33,315.00 m3/jam
Unit = 0.31
1.00
Rp 33,315.00
Total Biaya Dumptruck Rp 33,536,045.04

2d. TRUCK CRANE 3 TON (E07a)


Muatan yang diijinkan = V 9.00
Faktor efisien alat Fa 0.83
Kecepatan rata-rata bermuatan v1 20.00
Kecepatan rata-rata kosong v2 40.00
Waktu siklus : Ts2
- Waktu tempuh isi = (L1 : v1) x 60 T1 32.49
- Waktu tempuh kosong = (L1 : v2) x 60 T2 16.25
- Muat, bongkar dan lain-lain T3 27.00
Ts2 75.74

Kapasitas Produksi / Jam


V x Fa x 60
Q4 5.92 ton
Ts2

Koefisien Alat / Ton = 1 : Q4 (E07a) 0.17 Jam


Biaya Truck Crane/Ton Rp1 Rp 71,814.76 ton/jam
Unit = 1.18
2.00
Rp 143,629.52
Total Biaya Truck Crane Rp 293,988,797.21

2c. ALAT BANTU


Diperlukan alat-alat bantu kecil
- Sekop
- Pacul
- Alat-Alat lainnya

3 TENAGA
Produksi menentukan : Flatbed Truck Q1 9.96 ton/Jam
Produksi saluran U ditch/hari = Tk x Q1 Qt 69.72
Kebutuhan tenaga
- Pekerja P 10.00 orang
- Tukang T 1.00 orang
- Mandor M 1.00 orang

Koefisien tenaga / M' :


- Pekerja = (Tk x P):Qt (L01) 1.0040 jam
- Tukang = (Tk x T):Qt (L02) 0.1004 jam
- Mandor = (Tk x M):Qt (L03) 0.1004 jam

2. Pekerjaan Pemasangan Gorong-Gorong Pipa Beton Bertulang, Diameter


0,6 m; 0,5 m; dan 0,1 m
210

ITEM PEMBAYARAN : 2.2


JENIS PEKERJAAN : Pekerjaan pemasangan gorong-gorang pipa beton bertulang, diameter 0,6 m, 0,5 m, dan 0,1 m
SATUAN PEMBAYARAN : M3
VOLUME GALIAN GORONG-GORONG (M3) 44.0765449
BERAT TOTAL GORONG-GORONG 24.177
DURASI PEK. GORONG-GORONG (MINGGU) 3

NO URAIAN KODE KOEF. SATUAN SATUAN (Rp) KETERANGAN

I. ASUMSI
1 Pekerjaan dilakukan secara mekanik/manual
2 Lokasi pekerjaan : sepanjang jalan
3 Diameter bagian dalam gorong-gorong d 0.60 m
4 Jarak rata-rata Base Camp ke lokasi pekerjaan L1 10.83 Km
5 Jam kerja efektif per-hari Tk 7.00 jam
6 Tebal gorong-gorong tg 6.35 Cm
7 Faktor koversi bahan (lepas ke asli) Fk 0.70 - Tabel A 1a, tanah liat
8 Berat isi Lepas Tanah Galian Bil 1.10 ton/m3 Tabel A 2b, tanah biasa
9 Tanah galian dibuang sejauh L2 2.00 Km
10 Faktor kehilangan Fh1 1.02 Tabel A 3b, Semen
Fh2 1.08 Tabel A 3b, Pasir
11 Harga satuan dasar flatbed truck 10 ton 1.00 jam Rp 609,992.68
12 Harga satuan dasar mini excavator 40-60 HP 1.00 jam Rp 258,187.82
13 Harga satuan dasar dumptruck 4 ton 1.00 jam Rp 365,412.21
14 Harga satuan dasar truck crane 3 Ton 1.00 jam Rp 425,000.00

II. URUTAN KERJA


1 Flat Bed Truck mengangkut gorong-gorong jadi ke lapangan
2 Dasar gorong-gorong digali sesuai kebutuhan dan material back fill dipadatkan
dengan Tamper
3 Tebal lapis porus pada dasar gorong-gorong pipa tp 0.10 M
4 Material pilihan untuk penimbunan kembali (padat)
5 Sekelompok pekerja akan melaksanakan pekerjaan dengan cara manual
dengan menggunakan alat bantu

III. PEMAKAIAN BAHAN DAN ALAT TENAGA


1 BAHAN
Gorong-gorong, diameter 40 cm

2 ALAT
2a FLATBED TRUCK (E11)
Kapasitas bak sekali muat v 10 ton
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 -
Kecepatan rata-rata bermuatan v1 20 km/jam
Kecepatan rata-rata kosong v2 30 km/jam
Waktu siklus Ts
~ Waktu tempuh isi = (L : v1) x 60 T1 21 menit
~ Waktu tempuh kosong = (L : v2) x 60 T2 14 menit
~ Muat, bongkar, dll T3 15 menit
Ts 50 menit
Kap. Prod. / jam = (v x Fa x 60) / Ts Q1 9.96 ton/jam

Koefisien Alat/Ton= 1:Q1 (E85) 0.10040 Jam


Biaya Flatbed Truck/Ton Rp1 Rp 61,244.24 m3/jam
Unit = 0.03
1.00
Rp 61,244.24
Total Biaya Flatbed Truck Rp 2,699,434.72

2b. MINI EXCAVATOR (47 HP) (E10a)


Kapasitas bucket V 0.24 M3
Faktor bucket Fb 1.00 -
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 -
Faktor konversi galian (asumsi amn/depth <40% ,
FV 0.90
Normal Large Dumping Target)
Waktu Siklus Ts1 Menit
~Menggali, Memuat (Swing 180O) T1 0.34 menit
~Lain-lain T2 0.10 Menit
Waktu Siklus = T1 +T2 TS1 0.44 Menit

Kap Prod / Jam =


V x Fb x Fa x 60
Q2 30.18 M3/jam
Tst x FV
Kap Prod / Jam =
Q2
Q2' 2.79 M3/jam
(luas gal.) + (tp*lebar gal.)
Koefisien Alat/M3 = 1 : Q2 (E10a) 0.36 Jam
Biaya Mini Excavator/m3 Rp1 Rp 92,644.32 m3/jam
Unit = 0.11
1.00
Rp 92,644.32
Total Biaya Mini Excavator Rp 4,083,441.63
211

2c. DUMP TRUCK 4 TON (E08)


Muatan dalam bak yang diijinkan = 4 / Bill V 2.00 M3
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 7, baik
Kecepatan rata-rata bermuatan v1 20.00 km/jam Tabel 8. bukan datar
Kecepatan rata-rata Kosong v2 30.00 km/jam Tabel 8, bukan datar
Waktu Siklus : Ts2
~Muat = (V / Q3 ) x 60 T1 43.06 menit
~Waktu tempuh isi = (L2 : v1) x 60 T2 3.06 menit
~Waktu tempuh kosong = (L2 : v2) x 60 T3 2.04 menit
~Lain-lain T4 1.45 menit
Ts2 49.61 menit
Kapasitas Produksi / Jam
V x Fa x 60
Q3 2.01 M3
Ts2
Koefisien Alat / M3 = 1 : Q3 (E08) 0.50 Jam
Biaya Mini Dumptruck/m3 Rp1 Rp 182,005.50 m3/jam
Unit = 0.15
1.00
Rp 182,005.50
Total Biaya Dumptruck Rp 8,022,173.48

2d. TRUCK CRANE 3 TON (E07a)


Muatan yang diijinkan = V 9.00
Faktor efisien alat Fa 0.83
Kecepatan rata-rata bermuatan v1 20.00
Kecepatan rata-rata kosong v2 40.00
Waktu siklus : Ts2
- Waktu tempuh isi = (L1 : v1) x 60 T1 21.00
- Waktu tempuh kosong = (L1 : v2) x 60 T2 10.50
- Muat, bongkar dan lain-lain T3 27.00
Ts2 58.50

Kapasitas Produksi / Jam


V x Fa x 60
Q4 7.66 ton
Ts2

Koefisien Alat / Ton = 1 : Q4 (E07a) 0.13 Jam


Biaya Truck Crane/Ton Rp1 Rp 55,471.89 ton/jam
Unit = 0.02
1.00
Rp 55,471.89
Total Biaya Truck Crane Rp 1,341,143.83

2c. ALAT BANTU


Diperlukan alat-alat bantu kecil
- Sekop
- Pacul
- Alat-Alat lainnya

3 TENAGA
Produksi menentukan : Flatbed Truck Q1 9.96 ton/Jam
Produksi saluran U ditch/hari = Tk x Q1 Qt 63.25
Kebutuhan tenaga
- Pekerja P 10.00 orang
- Tukang T 1.00 orang
- Mandor M 1.00 orang

Koefisien tenaga / M' :


- Pekerja = (Tk x P):Qt (L01) 1.0040 jam
- Tukang = (Tk x T):Qt (L02) 0.1004 jam
- Mandor = (Tk x M):Qt (L03) 0.1004 jam

6.4.2 Pekerjaan Tanah


1. Galian Biasa
ITEM PEMBAYARAN : 3.1
JENIS PEKERJAAN : Galian Biasa
SATUAN PEMBAYARAN : m3
VOLUME GALIAN BIASA (M3) 450153.9989
DURASI PEK GALIAN BIASA (MINGGU) 14

NO URAIAN KODE KOEF. SATUAN Keterangan

I. ASUMSI
1 Menggunakan alat berat (cara mekanik)
2 Lokasi pekerjaan : sepanjang jalan
3 Kondisi jalan : sedang/baik
4 Jam kerja efektif per hari Tk 7 jam
5 Faktor pengembangan bahan Fk 1.7 - Tabel A 1a, pecahan granit atau batuan keras
6 Berat isi lepas BiL 1.1 ton/m3 Tabel A 2b. No 17

7 Harga Satuan Excavator Backhoe 1.00 jam Rp 500,194.63


8 Harga Satuan Dump Truck Tronton 10 ton 1.00 jam Rp 614,377.50

II. URUTAN KERJA


1 Tanah yang dipotong umumnya berada di sisi jalan
2 Penggalian dilakukan dengan menggunakan Excavator
3 Selanjutnya excavator menuangkan material hasil galian ke dalam dump truck
Disesuaikan dengan kondisi di lapangan sesuai
4 Dump truck membuang material hasil galian keluar lokasi jalan sejauh L 2 Km
Pasal 1.5.3
212

II. URUTAN KERJA


1 Tanah yang dipotong umumnya berada di sisi jalan
2 Penggalian dilakukan dengan menggunakan Excavator
3 Selanjutnya excavator menuangkan material hasil galian ke dalam dump truck
Disesuaikan dengan kondisi di lapangan sesuai
4 Dump truck membuang material hasil galian keluar lokasi jalan sejauh L 2 Km
Pasal 1.5.3

III. PEMAKAIAN BAHAN, ALAT, DAN TENAGA

1 BAHAN
Tidak ada bahan yang diperlukan

2 ALAT
2a. EXCAVATOR BACKHOE (E10)
Kapasitas bucket V 0.93 M3
Faktor bucket Fb 1.2 - Tabel 9, mudah
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 Tabel 12, baik
Faktor konversi (asumsi : kedalaman 40-75%, normal (large dumping target, Fv =1) Fv 1 Tabel 11, normal
Waktu siklus Ts1 menit
Menggali, memuat (swing 180 derajat) T1 0.3 menit
Lain-lain T2 0.1 menit
Waktu siklus = T1 + T2 Ts1 0.4 menit

Kap. Prod. / jam =


V x Fb x Fa x 60 x Fk
Q1 236.2014 M3/jam
Ts1 x Fv

Koefisien Alat/M3 = 1:Q1 (E10) 0.0042 Jam


Excavator Rp 2,117.66
Unit = 2.7781
3
Rp 6,352.98
Total Biaya Excavator Rp 2,859,821,486.23

2b. DUMP TRUCK TRONTON 10 TON (E36)


Muatan dalam bak yang diijinkan = 10 / Bill V 9.09 M3
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 7, baik
Berat isi material galian D 1.10
Kecepatan rata-rata bermuatan v1 20.00 km/jam Tabel 8. menanjak
Kecepatan rata-rata Kosong v2 40.00 km/jam Tabel 8, menanjak
Waktu Siklus : Ts2
~Muat = (V / Q1 ) x 60 T1 2.31 menit
~Waktu tempuh isi = (L2 : v1) x 60 T2 6.00 menit
~Waktu tempuh kosong = (L2 : v2) x 60 T3 3.00 menit
~Lain-lain T4 1.00 menit
Ts2 12.31 menit
Kapasitas Produksi / Jam
V x Fa x 60
Q2 33.44 M3
D x Ts2

Koefisien Alat / M3 = 1 : Q2 (E36) 0.0299 Jam


Biaya dumptruck/m3 Rp 18,374.85
Unit = 19.6257
20
Rp 367,497.07
Total Biaya Dump Truck Rp 165,430,276,539.76

2c. ALAT BANTU


Diperlukan alat-alat bantu kecil
~Sekop
~Keranjang

3 TENAGA
Produksi menentukan : EXCAVATOR Q1 236.20 M3/Jam
Produksi Galian/hari = Tk x Q2 Qt 1653.41
Kebutuhan tenaga
- Pekerja P 4.00 orang
- Mandor M 1.00 orang

Koefisien tenaga / M' :


- Pekerja = (Tk x P):Qt (L01) 0.0169 jam
- Mandor = (Tk x M):Qt (L03) 0.0042 jam
213

2. Timbunan Biasa
ITEM PEMBAYARAN : 3.2
JENIS PEKERJAAN : Timbunan Biasa
SATUAN PEMBAYARAN : m3
Volume Timbunan biasa 285972.1374
Durasi Pekerjaan 8

NO URAIAN KODE KOEF. SATUAN Keterangan

I. ASUMSI
1 Menggunakan alat berat (cara mekanik)
2 Lokasi pekerjaan : sepanjang jalan
3 Kondisi jalan : sedang/baik
4 Jam kerja efektif per hari Tk 7 jam
5 Faktor pengembangan bahan Fk 1.7 - Tabel A 1a, pecahan granit atau batuan keras
6 Berat isi lepas Bil 1.1 ton/m3 Tabel A 2b. No 17
7 Tebal hamparan padat t 0.15 M

Harga Satuan Excavator 80-140 HP 1.00 jam Rp 500,194.00


Harga Satuan Dump truck 10 T 1.00 jam Rp 614,377.50
Harga Satuan Motor grader >100 HP 1.00 jam Rp 529,124.91
Harga satuan dasar Vibratory Roller 5-8 T 1.00 jam Rp 326,344.79
Harga Satuan Tandem roller 6-8 T 1.00 jam Rp 453,623.79
Harga Satuan Water tanker 3000-4500 L Rp 426,224.19

II. Urutan Pekerjaan


1 Excavator menggali dan memuat kedalam dump truck
Disesuaikan dengan kondisi di lapangan sesuai
2 Dump truck membuang material hasil galian keluar lokasi jalan sejauh L 2 Km
Pasal 1.5.3
3 Material diratakan dengan Motor grader
4 Material dipadatkan dengan Sheepfoot Roller dan Tandem Roller
5 Selama pemadatan sekelompok pekerja akan merapikan tepi hamparan dan level permukaan
dengan alat bantu

III. PEMAKAIAN BAHAN, ALAT, DAN TENAGA

1 BAHAN
Tidak ada bahan yang diperlukan

2 ALAT
2a. EXCAVATOR (E10)
Kapasitas bucket V 0.93 M3
Faktor bucket Fb 1.2 - Tabel 9, mudah
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 Tabel 12, baik
Faktor konversi (asumsi : kedalaman 40-75%, normal (large dumping target, Fv =1) Fv 1 Tabel 11, normal
Waktu siklus Ts1 menit
Menggali, memuat (swing 180 derajat) T1 0.3 menit
Lain-lain T2 0.1 menit
Waktu siklus = T1 + T2 Ts1 0.4 menit

Kap. Prod. / jam =


V x Fb x Fa x 60 x Fk
Q1 236.2014 M3/jam
Ts1 x Fv

Koefisien Alat/M3 = 1:Q1 (E10) 0.0042 Jam


Biaya Excavator Rp 2,117.66
Unit = 3.0886
4
Rp 8,470.64
Total Biaya Excavator Rp 2,422,365,782.47

2b. DUMP TRUCK TRONTON 10 TON (E36)


Muatan dalam bak yang diijinkan = 10 / Bill V 9.09 M3
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 7, baik
Berat isi material galian D 1.10
Kecepatan rata-rata bermuatan v1 20.00 km/jam Tabel 8. menanjak
Kecepatan rata-rata Kosong v2 40.00 km/jam Tabel 8. menanjak
Waktu Siklus : Ts2
~Muat = (V / Q1 ) x 60 T1 2.31 menit
~Waktu tempuh isi = (L2 : v1) x 60 T2 6.00 menit
~Waktu tempuh kosong = (L2 : v2) x 60 T3 3.00 menit
~Lain-lain T4 1.00 menit
Ts2 12.31 menit
Kapasitas Produksi / Jam
V x Fa x 60
Q2 36.78 M3
D x Ts2

Koefisien Alat / M3 = 1 : Q2 (E36) 0.0272 Jam


Biaya Dump Truck Tronton 10 Ton Rp 16,704.41
Unit = 19.8351
20
Rp 334,088.25
Total Biaya Dump Truck Tronton Rp 95,539,930,137.94

2c. MOTOR GRADER > 100 HP (E13)


Panjang hamparan Lh 50.00 M
Lebar lajur lalu lintas W 3.60 M
Lebar pisau efektif b 2.20 M Tabel 14 lebar overlap
Lebar Overlap bo 0.30 M
Faktor Efisiensi kerja Fa 0.60 - Tabel 15, pnybm & grdg
Kecepatan rat-rata alat v 4.00 Km/Jam Tabel 13, field grading
Jumlah lintasan n 4.00 lintasan
Jumlah pengupasan setiap lintasan = W / (b-bo) N 2.00 kali
Waktu Siklus : Ts3
~Peralatan 1 kali lintasan = (Lh x 60) / (v x 1000) T1 0.75 menit
~Lain-lain T2 1.00 menit
Ts3 1.75 menit
Kapasitas Produksi / Jam
Lh x (N(b-bo)+b0) x t x Fa x 60
Q3 79.07 M3
Ts3 x n x N

Koefisien Alat / M3 = 1 : Q3 (E13) 0.0126 Jam


Biaya Motor Grader > 100 Hp Rp 6,691.73
Unit = 9.2261
214

2c. MOTOR GRADER > 100 HP (E13)


Panjang hamparan Lh 50.00 M
Lebar lajur lalu lintas W 3.60 M
Lebar pisau efektif b 2.20 M Tabel 14 lebar overlap
Lebar Overlap bo 0.30 M
Faktor Efisiensi kerja Fa 0.60 - Tabel 15, pnybm & grdg
Kecepatan rat-rata alat v 4.00 Km/Jam Tabel 13, field grading
Jumlah lintasan n 4.00 lintasan
Jumlah pengupasan setiap lintasan = W / (b-bo) N 2.00 kali
Waktu Siklus : Ts3
~Peralatan 1 kali lintasan = (Lh x 60) / (v x 1000) T1 0.75 menit
~Lain-lain T2 1.00 menit
Ts3 1.75 menit
Kapasitas Produksi / Jam
Lh x (N(b-bo)+b0) x t x Fa x 60
Q3 79.07 M3
Ts3 x n x N

Koefisien Alat / M3 = 1 : Q3 (E13) 0.0126 Jam


Biaya Motor Grader > 100 Hp Rp 6,691.73
Unit = 9.2261
10
Rp 66,917.33
Total Biaya Motor Grader Rp 19,136,492,685.90

2d. Vibratory Roller 5-8 T (E16a)


Kecepatan rat-rata alat v 3.00 Km/Jam Tabel 24, Vibrating Roller
Lebar lajur lalu lintas W 3.60 M
Lebar roda alat pemadat b 1.68 M
Lebar Overlap bo 0.20 M
Jumlah lintasan n 8.00 lintasan 4 x pp lintasan
Jumlah lajur lintasan N 2.43 kali
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 4, baik sekali
Kapasitas Produksi / Jam
(N(b-bo)+b0) x v x 1000 x t x Fa t = 0.15
Q4 72.94 M2
nxN

Koefisien Alat / M3 = 1 : Q4 (E16a) 0.0137 Jam


Biaya Vibratory Roller/m3 Rp1 Rp 4,474.38 m2/jam
Unit = 15.74
16.00
Rp 71,590.14
Total Biaya Vibratory Roller Rp 20,472,786,493.55

2e. TANDEM ROLLER 6-8 T (E17)


Kecepatan rat-rata alat v 3.00 Km/Jam
Lebar lajur lalu lintas W 3.60 M
Lebar efektif pemadatan b 1.68 M
Lebar Overlap bo 0.20 M
Jumlah lintasan n 6.00 lintasan
Jumlah lajur lintasan N 2.43 kali W = 3.6 m
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 4, baik sekali
Kapasitas Produksi / Jam
(N(b-bo)+b0) x v x 1000 x t x Fa t = 0.15
Q4 97.25 M3
nxN

Koefisien Alat / M3 = 1 : Q5 (E17) 0.0103 Jam


Biaya Tandem Roller Rp 4,664.59
Unit = 7.5016
8
Rp 37,316.74
Total Biaya Tandem Roller Rp 10,671,546,573.18

2f. WATER TANKER 3000-4500 L (E23)


Volume tangki air V 4000.00 liter
Kebutuhan air/M3 material padat Wc 0.07 M3 hanya additional saja
Kapasitas pompa air pa 100.00 liter/menit
Faktor efisiensi alat Fa 0.83

Kapasitas Produksi / Jam


pa x Fa x 60 71.14 M3
Q6
1000 x Wc

Koefisien Alat / M3 = 1 : Q6 (E23) 0.0141 jam


Biaya Water Tanker Rp 5,991.10
Unit = 10.2543
11
Rp 65,902.13
Total Biaya Water Tanker Rp 18,846,174,059.11

2g. ALAT BANTU


Diperlukan alat-alat bantu kecil
~Sekop

3 TENAGA
Produksi menentukan : MOTOR GRADER Q1 79.07 M3/Jam
Produksi Timbunan/hari = Tk x Q1 Qt 553.50
Kebutuhan tenaga
- Pekerja P 8.00 orang
- Mandor M 1.00 orang

Koefisien tenaga / M' :


- Pekerja = (Tk x P):Qt (L01) 0.1012 jam
- Mandor = (Tk x M):Qt (L03) 0.0126 jam
215

3. Penyiapan Badan Jalan


ITEM PEMBAYARAN : 3.3
JENIS PEKERJAAN : Penyiapan Badan Jalan
SATUAN PEMBAYARAN : m3
VOLUME PENYIAPAN BADAN JALAN (M3) 47569.99918
DURASI PEKERJAAN (MINGGU) 1

NO KODE KOEF. SATUAN Keterangan

I. ASUMSI
1 Menggunakan alat berat (cara mekanik)
2 Lokasi pekerjaan : sepanjang jalan
3 Kondisi jalan : sedang/baik
4 Jam kerja efektif per hari Tk 7 jam
5 Faktor pengembangan bahan Fk 1.7 - Tabel A 1a, pecahan granit atau batuan keras
6 Berat isi lepas Bil 1.1 ton/m3 Tabel A 2b. No 17
7 Tebal hamparan padat t 0.15 M

8 Harga Satuan Motor Grader > 100 Hp 1.00 jam Rp 529,124.91


9 Harga Satuan Vibro roller 5-8T 1.00 jam Rp 326,344.79

II. URUTAN KERJA


1 Excavator menggali dan memuat kedalam dump truck
Disesuaikan dengan kondisi di lapangan sesuai
2 Dump truck membuang material hasil galian keluar lokasi jalan sejauh L 2 Km
Pasal 1.5.3
3 Material diratakan dengan Motor grader
4 Material dipadatkan dengan Vibro Roller
5 Selama pemadatan sekelompok pekerja akan merapikan tepi hamparan dan level permukaan
dengan alat bantu

III. PEMAKAIAN BAHAN, ALAT, DAN TENAGA

1 BAHAN
Tidak ada bahan yang diperlukan

2 ALAT
2a. MOTOR GRADER > 100 HP (E13)
Panjang hamparan Lh 50.00 M
Lebar lajur lalu lintas W 3.60 M
Lebar pisau efektif b 2.20 M Tabel 14 lebar overlap
Lebar Overlap bo 0.30 M
Faktor Efisiensi kerja Fa 0.60 - Tabel 15, pnybm & grdg
Kecepatan rat-rata alat v 4.00 Km/Jam Tabel 13, field grading
Jumlah lintasan n 4.00 lintasan
Jumlah lajur lintasan N 2.00 kali
Waktu Siklus : Ts3
~Peralatan 1 kali lintasan = (Lh x 60) / (v x 1000) T1 0.75 menit
~Lain-lain T2 1.00 menit
Ts3 1.75 menit
Kapasitas Produksi / Jam
Lh x (N(b-bo)+b0) x t x Fa x 60 t = 0.15
Q3 79.07 M3
Ts3 x n x N

Koefisien Alat / M3 = 1 : Q3 (E13) 0.0126 Jam


Biaya Motor Grader > 100 Hp Rp 6,691.73
Unit = 12.2777
13
Rp 86,992.53
Total Biaya Motor Grader Rp 4,138,234,705.86

2b. VIBRO ROLLER 5-8 T (E17)


Kecepatan rat-rata alat v 3.00 Km/Jam
Lebar lajur lalu lintas W 3.60 M
Lebar efektif pemadatan b 1.68 M
Lebar Overlap bo 0.20 M
Jumlah lintasan n 8.00 lintasan
Jumlah lajur lintasan N 2.43 kali W = 3.6 m
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 4, baik sekali
Kapasitas Produksi / Jam
(N(b-bo)+b0) x v x 1000 x t x Fa t = 0.15
Q4 72.94 M3
nxN

Koefisien Alat / M3 = 1 : Q5 (E17) 0.0137 Jam


Biaya Vibro Roller > 100 Hp Rp 4,474.38
Unit = 13.3105
14
Rp 62,641.38
Total Biaya Vibro Roller Rp 2,979,850,204.80

2c. ALAT BANTU


Diperlukan alat-alat bantu kecil
~Sekop

3 TENAGA
Produksi menentukan : MOTOR GRADER Q1 79.07 M3/Jam
Produksi Penyiapan badan jalan/hari = Tk x Q1 Qt 553.50
Kebutuhan tenaga
- Pekerja P 6.00 orang
- Mandor M 1.00 orang

Koefisien tenaga / M' :


- Pekerja = (Tk x P):Qt (L01) 0.0759 jam
- Mandor = (Tk x M):Qt (L03) 0.0126 jam
216

4. Pembersihan dan Pengupasan


ITEM PEMBAYARAN : 3.4
JENIS PEKERJAAN : Pembersihan dan Pengupasan
SATUAN PEMBAYARAN : M2
VOLUME PEMBERSIHAN DAN PENGUPASAN (M2) 82544.07
DURASI PEKERJAAN (MINGGU) 4

NO URAIAN KODE KOEF. SATUAN Keterangan

I. ASUMSI
1 Menggunakan alat berat (cara mekanik)
2 Lokasi pekerjaan : sepanjang jalan
3 Kondisi jalan : sedang/baik
4 Jam kerja efektif per hari Tk 7 jam
5 Faktor pengembangan bahan Fk 1.7 - Tabel A 1a, tanah liat
6 Berat isi lepas Bil 1.1 ton/m3 Tabel A 2b. No 17

7 Harga Satuan Dump Truck Tronton 10 T 1.00 jam Rp 614,377.50

II. URUTAN KERJA


1 Tanah yang dipotong umumnya berada di sisi jalan
2 Penggalian dilakukan dengan menggunakan Excavator
3 Selanjutnya excavator menuangkan material hasil galian ke dalam dump truck
Disesuaikan dengan kondisi di lapangan sesuai
4 Dump truck membuang material hasil galian keluar lokasi jalan sejauh L 2 Km
Pasal 1.5.3

III. PEMAKAIAN BAHAN, ALAT, DAN TENAGA

1 BAHAN
Tidak ada bahan yang diperlukan

2 ALAT
2a. DUMP TRUCK TRONTON 10 TON (E36)
Muatan dalam bak yang diijinkan = 10 / Bill V 9.09 M3
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 7, baik
Kecepatan rata-rata bermuatan v1 20.00 km/jam Tabel 8. bukan datar
Kecepatan rata-rata Kosong v2 40.00 km/jam Tabel 8, bukan datar
Waktu Siklus : Ts2
~Muat = (V / Q1 ) x 60 T1 2.53 menit
~Waktu tempuh isi = (L2 : v1) x 60 T2 6.00 menit
~Waktu tempuh kosong = (L2 : v2) x 60 T3 3.00 menit
~Lain-lain T4 1.00 menit
Ts2 12.53 menit
Kapasitas Produksi / Jam
V x Fa x 60
Q2 36.13 M3
Ts2

Koefisien Alat / M3 = 1 : Q1 (E08) 0.0277 Jam


Biaya Dump Truck Tronton Rp 17,004.17
Unit = 11.6560
12
Rp 204,050.03
Total Biaya Truck Tronton Rp 16,843,120,327.18

2b. ALAT BANTU


Diperlukan alat-alat bantu kecil
~Sekop
~Keranjang

3 TENAGA
Produksi menentukan : EXCAVATOR Q1 36.13 M3/Jam
Produksi pembersihan dan pengupasan/hari = Tk x Q1 Qt 252.92
Kebutuhan tenaga
- Pekerja P 2.00 orang
- Mandor M 1.00 orang

Koefisien tenaga / M' :


- Pekerja = (Tk x P):Qt (L01) 0.0554 jam
- Mandor = (Tk x M):Qt (L03) 0.0277 jam
217

5. Potongan Pohon Diameter >30-50 cm


ITEM PEMBAYARAN : 3.5
JENIS PEKERJAAN : Pemotongan Pohon Diameter >30-50 cm
SATUAN PEMBAYARAN : m2
VOLUME PEMBERSIHAN DAN PENGUPASAN (M2) 82544.07
JUMLAH PEMOTONGAN POHON (BUAH) 403
DURASI PEKERJAAN (MINGGU) 8
NO URAIAN KODE KOEF. SATUAN Keterangan

I. ASUMSI
1 Menggunakan tenaga pekerja/peralatan
2 Lokasi pekerjaan : sepanjang jalan
3 Kondisi jalan : sedang/baik
4 Jam kerja efektif per hari Tk 7 jam
5 Perkiraan volume pohon = 22/7*(0.4^2)/4*5 Vp 0.63 M3 Asumsi dia 0.4 m, t = 5 m
6 Berat isi kayu BIK 0.8 ton/m3 Tabel 2 .h, No 11
7 Harga Satuan Excavator 1.00 jam Rp 500,194.63
8 Harga Satuan Dump Truck 1.00 jam Rp 614,377.50
9 Harga Satuan Alat Pemotong 1.00 jam Rp 36,875.00

II. URUTAN KERJA


1 Pemotongan Pohon dilakukan menggunakan peralatan alat bantu
Chain Saw, Kapak, dan Parang
2 Penggalian akar pohon dilakukan dengan menggunakan Excavator dan dilanjutkan
secara manual
3 Pohon yang sudah ditebang dipotong-potong dan dimuat kedalam
Dump truckmenggunakan excavator
Disesuaikan dengan kondisi di lapangan sesuai
4 Dump truck membuang material hasil galian keluar lokasi jalan sejauh L 3.5 Km
Pasal 1.5.3

III. PEMAKAIAN BAHAN, ALAT, DAN TENAGA

1 BAHAN
Tidak ada bahan yang diperlukan

2 ALAT
2a. EXCAVATOR (E10)
Kapasitas bucket V 1 M3
Faktor bucket Fb 1.2 - Tabel 9, mudah
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 Tabel 12, baik
Faktor konversi (asumsi : kedalaman 40-75%, normal (large dumping target, Fv =1) Fv 1 Tabel 11, normal
Waktu siklus Ts1 menit
Menggali, memuat (swing 180 derajat) T1 0.3 menit
Lain-lain T2 1 menit
Waktu siklus = T1 + T2 Ts1 1.3 menit

Kap. Prod. / jam =


V x Fb x Fa x 60
Q1 45.96923077 M3/jam
Ts1 x Fv

Koefisien Alat/M3 = 1:Q1 (E10) 0.0218 Jam


Biaya Excavator Rp 10,881.07
Unit = 4.5807
5
Rp 54,405.37
Total Biaya Excavator Rp 4,490,840,923.53

2b. DUMP TRUCK TRONTON 10 TON (E36)


Muatan dalam bak yang diijinkan = 10 / Bik V 12.50 M3
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 7, baik
Kecepatan rata-rata bermuatan v1 20.00 km/jam Tabel 8. bukan datar
Kecepatan rata-rata Kosong v2 40.00 km/jam Tabel 8, bukan datar
Waktu Siklus : Ts2
~Muat = (V / Q1x Vp ) x 60 T1 25.96 menit
~Waktu tempuh isi = (L2 : v1) x 60 T2 10.50 menit
~Waktu tempuh kosong = (L2 : v2) x 60 T3 5.25 menit
~Lain-lain T4 1.15 menit
Ts2 42.86 menit
Kapasitas Produksi / Jam
V x Fa x 60
Q2 14.53 M3
Ts2

Koefisien Alat / M3 = 1 : Q2 (E36) 0.0688 Jam


Biaya Dump Truck Rp 42,296.90
Unit = 14.4968
15
Rp 634,453.54
Total Biaya Dump Truck Rp 52,370,377,210.10
218

2c. ALAT PEMOTONG (Chainsaw)


Produksi Menentukan
Dalam 1 hari dapat memotong H 10.00 buah
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 Tabel 4, baik sekali
Kapasitas Produksi/Jam
Q3 1.19
(H x Fa)/ Tk Buah/jam

Koefisien Alat /Buah = 1 : Q2 (E08) 0.8434 Jam


Biaya Alat Pemotong Rp 31,099.40
Unit = 0.8670
1
Rp 31,099.40
Total Biaya Alat Pemotong Rp 12,533,057.23

2d. ALAT BANTU (menggali akar pohon dan menutup kembali)


Diperlukan alat-alat bantu kecil
~Sekop
~Kapak, parang
~Pacul
~Tali
~Dan alat bantu ringan lainnya

3 TENAGA

Produksi Galian akar pohon / hari = Excavator


Q1 x Tk Qt 321.78 buah

Kebutuhan tenaga
Pekerja (perkiraan 0,2 OH/phn) P 59.00 orang
- Mandor M 6.00 orang

Koefisien tenaga / M' :


~ Pekerja = (Tk x P):Qt (L01) 1.2835 jam
~ Mandor = (Tk x M):Qt (L03) 0.1305 jam

6.4.3 Pelebaran dan Perkerasan Bahu Jalan


1. LPA Kelas A
PELEBARAN DAN PERKERASAN BAHU JALAN

ITEM PEMBAYARAN : 4.1 dan 4.2


JENIS PEKERJAAN : Lapis Fondasi Atas Agregat Kelas A
SATUAN PEMBAYARAN : m3
VOLUME PERKEASAN LAPIS PONDASI ATAS AGREGAT KELAS A (M3) 2476.3221
DURASI PEKERJAAN (MINGGU) 16
NO URAIAN KODE KOEF. SATUAN Keterangan

I. ASUMSI
1 Menggunakan alat berat (cara mekanik)
2 Lokasi pekerjaan : sepanjang jalan
3 Kondisi existing jalan : sedang
4 Jarak rata-rata Base Camp ke lokasi pekerjaan L 10.83 KM
5 Tebal lapis agregat padat t 0.15 M
6 Berat isi padat BiP 1.77 ton/m3 Tabel A 2b. No 10
7 Jam kerja efektif per-hari Tk 7 jam
8 Lapis Fondasi Agregat Kelas A jadi (lepas) Agregat A 725181 Rp/m3 Harga di Base Camp
9 Faktor kehilangan material Fh 1.025 Tabel A.3a, curah 50%
10 Berat Isi Agregat (lepas) BiL 1.4 ton/m3 Tabel A.2b, No.10
11 Faktor konversi bahan (lepas ke padat) = BiL/BiP Fk 0.791
12 Harga Satuan Wheel loader 1.0-1.6 M3 1.000 jam Rp 538,267.20
13 Harga Satuan Dump truck Tronton 1.000 jam Rp 614,377.50
14 Harga Satuan Motor Grader >100 HP 1.000 jam Rp 529,124.91
15 Harga Satuan Tandem Roller 1.000 jam Rp 519,129.74

II. URUTAN KERJA


1 Penyiapan formasi kondisi eksisting
2 Wheel Loader memuat material Lapis Fondasi Agregat ke Dump Truck
3 Dump Truck mengangkut Lapis Fondasi Agregat Kelas A dengan kadar air yang memenuhi
ke lokasi pekerjaan dan dihampar dengan Motor Grader
4 Hamparan agregat dipadatkan dengan Vibratory Roller
5 Selama pemadatan sekelompok pekerja akan merapikan tepi hamparan dan level permukaan
dengan alat bantu
6 Bahan yang tidak terjangkau mesin gilas, harus dipadatkan dengan trimbis mekanis atau
alat pemadat lain yang disetujui
7 Pemadatan dilanjutkan sampai seluruh lokasi terpadatkan rata

III. PEMAKAIAN BAHAN, ALAT, DAN TENAGA

1 BAHAN
Agregat A = 1 M3 x Fh /Fk (M26) 1.295892857 M3

2 ALAT
2a. WHEEL LOADER 1.0-1.6 M3 (E15)
Kapasitas bucket V 1.5 M3
Faktor bucket Fb 1.05 - Tabel 16, mudah
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 Tabel 4, baik sekali
Waktu siklus menit
~Memuat dan lain-lain Ts1 0.45 menit Tabel 18, mudah

Kap. Prod. / jam =


V x Fb x Fa x 60 x Fk
Q1 137.8644068 M3/jam
Ts1

Koefisien Alat/M3 = 1:Q1 (E15) 0.0073 Jam


Biaya Wheel Loader Rp 3,904.32
Unit = 0.0229
1
Rp 3,904.32
Total Biaya Wheel Loader Rp 9,668,361.79
219

2b. DUMP TRUCK TRONTON 10 TON (E35)


Muatan dalam bak yang diijinkan = 10 / Bill V 7.14 M3
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 7, baik
Kecepatan rata-rata bermuatan v1 20.00 km/jam Tabel 8. bukan datar
Kecepatan rata-rata Kosong v2 40.00 km/jam Tabel 8, bukan datar
Waktu Siklus : Ts2
~Muat = V x 60 /Q1 T1 3.11 menit
~Waktu tempuh isi = (L : v1) x 60 T2 32.49 menit
~Waktu tempuh kosong = (L : v2) x 60 T3 16.25 menit
~Lain-lain T4 1.45 menit lain-lain 1.25 - 1.65 menit
Ts2 53.29 menit
Kapasitas Produksi / Jam
V x Fa x 60 x Fk
Q2 5.28 M3
Ts2

Koefisien Alat / M3 = 1 : Q2 (E35) 0.1894 Jam


Biaya Dump Truck Tronton Rp 116,373.65
Unit = 0.5983
1
Rp 116,373.65
Total Biaya Dump Truck Rp 288,178,635.09

2c. MOTOR GRADER > 100 HP (E13)


Panjang hamparan Lh 50.00 M
Lebar lajur lalu lintas W 3.60 M
Lebar pisau efektif b 2.20 M Tabel 14 lebar overlap
Lebar Overlap bo 0.30 M
Faktor Efisiensi kerja Fa 0.60 - Tabel 15, pnybm & grdg
Kecepatan rat-rata alat v 4.00 Km/Jam Tabel 13, field grading
Jumlah lintasan n 4.00 lintasan
Jumlah pengupasan setiap lintasan = W / (b-bo) N 2.00 kali
Waktu Siklus : Ts3
~Peralatan 1 kali lintasan = (Lh x 60) / (v x 1000) T1 0.75 menit
~Lain-lain T2 1.00 menit
Ts3 1.75 menit
Kapasitas Produksi / Jam
Lh x (N(b-bo)+b0) x t x Fa x 60 t = 0.15
Q3 79.07 M3
Ts3 x n x N

Koefisien Alat / M3 = 1 : Q3 (E13) 0.0126 Jam


Biaya Motor Grader Rp 6,691.73
Unit = 0.0399
1
Rp 6,691.73
Total Biaya Motor Grader Rp 16,570,887.01

2d. TANDEM ROLLER 8-10 T (E17)


Kecepatan rata-rata alat v 4.00 Km/Jam
Lebar lajur lalu lintas W 3.60 M
Lebar efektif pemadatan b 1.68 M
Lebar Overlap bo 0.20 M
Jumlah lintasan n 6.00 lintasan ( 2 awal + 4 akhir)
Jumlah lajur lintasan N 2.00 kali W = 3.6 m
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 4, baik sekali
Kapasitas Produksi / Jam
(N(b-bo)+b0) x v x 1000 x t x Fa t = 0.15
Q4 131.14 M3
nxN

Koefisien Alat /m3 = 1 : Q4 (E17) 0.0076 Jam


Biaya Atandem Roller Rp 3,958.59
Unit = 0.0241
1
Rp 3,958.59
Total Biaya Tandem Roller Rp 9,802,748.57

2e. ALAT BANTU


Diperlukan alat-alat bantu kecil
~Kereta dorong
~Sekop
~Garpu
~Terpal

3 TENAGA
Produksi menentukan : Wheel Loader Q1 137.86 M3/Jam
Produksi Agregat/hari = Tk x Q1 Qt 965.05
Kebutuhan tenaga
- Pekerja P 8.00 orang
- Mandor M 1.00 orang

Koefisien tenaga / M' :


- Pekerja = (Tk x P):Qt (L01) 0.0580 jam
- Mandor = (Tk x M):Qt (L03) 0.0073 jam
220

2. LPA Kelas S
ITEM PEMBAYARAN : 4.2
JENIS PEKERJAAN : Lapis Fondasi Atas Agregat Kelas S
SATUAN PEMBAYARAN : m3
VOLUME PERKEASAN LAPIS PONDASI ATAS AGREGAT KELAS S (M3) 1207.962
DURASI PEKERJAAN (MINGGU) 13
NO URAIAN KODE KOEF. SATUAN Keterangan

I. ASUMSI
1 Menggunakan alat berat (cara mekanik)
2 Lokasi pekerjaan : sepanjang jalan
3 Kondisi existing jalan : sedang
4 Jarak rata-rata Base Camp ke lokasi pekerjaan L 10.83 KM
5 Tebal lapis agregat padat t 0.15 M
6 Berat isi padat BiP 1.77 ton/m3 Tabel A 2b. No 10
7 Jam kerja efektif per-hari Tk 7 jam
8 Lapis Fondasi Agregat Kelas A jadi (lepas) Agregat A 699745 Rp/m3 Harga di Base Camp
9 Faktor kehilangan material Fh 1.025 Tabel A.3a, curah 50%
10 Berat Isi Agregat (lepas) BiL 1.4 ton/m3 Tabel A.2b, No.10
11 Faktor konversi bahan (lepas ke padat) = BiL/BiP Fk 0.791
12 Harga Satuan Wheel loader 1.0-1.6 M3 1.000 jam Rp 538,267.20
13 Harga Satuan Dump truck Tronton 1.000 jam Rp 614,377.50
14 Harga Satuan Motor Grader >100 HP 1.000 jam Rp 529,124.91
15 Harga SatuanTandem Roller 1.000 jam Rp 519,129.74

II. URUTAN KERJA


1 Penyiapan formasi kondisi eksisting
2 Wheel Loader memuat material Lapis Fondasi Agregat ke Dump Truck
3 Dump Truck mengangkut Lapis Fondasi Agregat Kelas A dengan kadar air yang memenuhi
ke lokasi pekerjaan dan dihampar dengan Motor Grader
4 Hamparan agregat dipadatkan dengan Vibratory Roller
5 Selama pemadatan sekelompok pekerja akan merapikan tepi hamparan dan level permukaan
dengan alat bantu
6 Bahan yang tidak terjangkau mesin gilas, harus dipadatkan dengan trimbis mekanis atau
alat pemadat lain yang disetujui
7 Pemadatan dilanjutkan sampai seluruh lokasi terpadatkan rata

III. PEMAKAIAN BAHAN, ALAT, DAN TENAGA

1 BAHAN
Agregat A = 1 M3 x Fh /Fk (M26) 1.295892857 M3

2 ALAT
2a. WHEEL LOADER 1.0-1.6 M3 (E15)
Kapasitas bucket V 1.5 M3
Faktor bucket Fb 1.05 - Tabel 16, mudah
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 Tabel 4, baik sekali
Waktu siklus menit
~Memuat dan lain-lain Ts1 0.45 menit Tabel 18, mudah

Kap. Prod. / jam =


V x Fb x Fa x 60 x Fk
Q1 137.8644068 M3/jam
Ts1

Koefisien Alat/M3 = 1:Q1 (E15) 0.0073 Jam


Biaya Wheel Loader Rp 3,904.32
Unit = 0.0138
1
Rp 3,904.32
Total Biaya Wheel Loader Rp 4,716,274.05

2b. DUMP TRUCK TRONTON 10 TON (E35)


Muatan dalam bak yang diijinkan = 10 / Bill V 7.14 M3
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 7, baik
Kecepatan rata-rata bermuatan v1 20.00 km/jam Tabel 8. bukan datar
Kecepatan rata-rata Kosong v2 40.00 km/jam Tabel 8, bukan datar
Waktu Siklus : Ts2
~Muat = V x 60 /Q1 T1 3.11 menit
~Waktu tempuh isi = (L : v1) x 60 T2 32.49 menit
~Waktu tempuh kosong = (L : v2) x 60 T3 16.25 menit
~Lain-lain T4 1.45 menit lain-lain 1.25 - 1.65 menit
Ts2 53.29 menit
Kapasitas Produksi / Jam
V x Fa x 60 x Fk
Q2 5.28 M3
Ts2

Koefisien Alat / M3 = 1 : Q2 (E35) 0.1894 Jam


Biaya Dump Truck Tronton Rp 116,373.65
Unit = 0.3592
1
Rp 116,373.65
Total Biaya Dump Truck Rp 140,574,943.95
221

2c. MOTOR GRADER > 100 HP (E13)


Panjang hamparan Lh 50.00 M
Lebar lajur lalu lintas W 3.60 M
Lebar pisau efektif b 2.20 M Tabel 14 lebar overlap
Lebar Overlap bo 0.30 M
Faktor Efisiensi kerja Fa 0.60 - Tabel 15, pnybm & grdg
Kecepatan rat-rata alat v 4.00 Km/Jam Tabel 13, field grading
Jumlah lintasan n 4.00 lintasan
Jumlah pengupasan setiap lintasan = W / (b-bo) N 2.00 kali
Waktu Siklus : Ts3
~Peralatan 1 kali lintasan = (Lh x 60) / (v x 1000) T1 0.75 menit
~Lain-lain T2 1.00 menit
Ts3 1.75 menit
Kapasitas Produksi / Jam
Lh x (N(b-bo)+b0) x t x Fa x 60 t = 0.15
Q3 79.07 M3
Ts3 x n x N

Koefisien Alat / M3 = 1 : Q3 (E13) 0.0126 Jam


Biaya Motor Grader Rp 6,691.73
Unit = 0.0240
1
Rp 6,691.73
Total Biaya Motor Grader Rp 8,083,359.52

2d. TANDEM ROLLER 8-10 T (E17)


Kecepatan rata-rata alat v 4.00 Km/Jam
Lebar lajur lalu lintas W 3.60 M
Lebar efektif pemadatan b 1.68 M
Lebar Overlap bo 0.20 M
Jumlah lintasan n 6.00 lintasan ( 2 awal + 4 akhir)
Jumlah lajur lintasan N 2.00 kali W = 3.6 m
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 4, baik sekali
Kapasitas Produksi / Jam
(N(b-bo)+b0) x v x 1000 x t x Fa t = 0.15
Q4 131.14 M3
nxN

Koefisien Alat /m3 = 1 : Q4 (E17) 0.0076 Jam


Biaya Atandem Roller Rp 3,958.59
Unit = 0.0145
1
Rp 3,958.59
Total Biaya Tandem Roller Rp 4,781,828.57

2e. ALAT BANTU


Diperlukan alat-alat bantu kecil
~Kereta dorong
~Sekop
~Garpu
~Terpal

3 TENAGA
Produksi menentukan : Wheel Loader Q1 137.86 M3/Jam
Produksi Agregat/hari = Tk x Q1 Qt 965.05
Kebutuhan tenaga
- Pekerja P 8.00 orang
- Mandor M 1.00 orang

Koefisien tenaga / M' :


- Pekerja = (Tk x P):Qt (L01) 0.0580 jam
- Mandor = (Tk x M):Qt (L03) 0.0073 jam
222

6.4.4 Pekerjaan Tanah


1. LPA
PEKERJAAN BERBUTIR

ITEM PEMBAYARAN : 5.1


JENIS PEKERJAAN : LPA
SATUAN PEMBAYARAN : M3
VOLUME LPA (M3) 19931.373
DURASI PEK. U DITCH (MINGGU) 16
NO URAIAN KODE KOEF. SATUAN Keterangan

I. ASUMSI
1 Menggunakan alat berat (cara mekanik)
2 Lokasi pekerjaan : sepanjang jalan
3 Kondisi existing jalan : sedang
4 Jarak rata-rata Base Camp ke lokasi pekerjaan L 10.83 KM
5 Tebal lapis agregat padat t 0.15 M
6 Berat isi padat BiP 1.77 ton/m3 Tabel A 2b. No 10
7 Jam kerja efektif per-hari Tk 7 jam
8 Lapis Fondasi Agregat Kelas A jadi (lepas) Agregat A 725181 Rp/m3 Harga di Base Camp
9 Faktor kehilangan material Fh 1.025 Tabel A.3a, curah 50%
10 Berat Isi Agregat (lepas) BiL 1.4 ton/m3 Tabel A.2b, No.10
11 Faktor konversi bahan (lepas ke padat) = BiL/BiP Fk 0.791
12 Harga satuan dasar wheel loader 1.0-1.6 m3 1.00 jam Rp 538,267.20
13 Harga satuan dasar dumptruck tronton 10 ton 1.00 jam Rp 614,377.50
14 Harga satuan dasar motor grader > 100 HP 1.00 jam Rp 529,124.91
15 Harga satuan dasar Vibratory Roller 5-8 T 1.00 jam Rp 326,344.79

II. URUTAN KERJA


1 Penyiapan formasi kondisi eksisting
2 Wheel Loader memuat material Lapis Fondasi Agregat ke Dump Truck
3 Dump Truck mengangkut Lapis Fondasi Agregat Kelas A dengan kadar air yang memenuhi
ke lokasi pekerjaan dan dihampar dengan Motor Grader
4 Hamparan agregat dipadatkan dengan Vibratory Roller
5 Selama pemadatan sekelompok pekerja akan merapikan tepi hamparan dan level permukaan
dengan alat bantu
6 Bahan yang tidak terjangkau mesin gilas, harus dipadatkan dengan trimbis mekanis atau
alat pemadat lain yang disetujui
7 Pemadatan dilanjutkan sampai seluruh lokasi terpadatkan rata

III. PEMAKAIAN BAHAN, ALAT, DAN TENAGA

1 BAHAN
Agregat A = 1 M3 x Fh /Fk (M26) 1.295892857 M3

2 ALAT
2a. WHEEL LOADER 1.0-1.6 M3 (E15)
Kapasitas bucket V 1.5 M3
Faktor bucket Fb 1.05 - Tabel 16, mudah
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 Tabel 4, baik sekali
Waktu siklus menit
~Memuat dan lain-lain Ts1 0.45 menit Tabel 18, mudah

Kap. Prod. / jam =


V x Fb x Fa x 60 x Fk
Q1 137.8644068 M3/jam
Ts1

Koefisien Alat/M3 = 1:Q1 (E15) 0.0073 Jam


Biaya Wheel Loader/m3 Rp1 Rp 3,904.32 m3/jam
Unit = 0.18
1.00
Rp 3,904.32
Total Biaya Wheel Loader Rp 77,818,521.75

2b. DUMP TRUCK TRONTON 10 TON (E35)


Muatan dalam bak yang diijinkan = 10 / Bill V 7.14 M3
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 7, baik
Kecepatan rata-rata bermuatan v1 20.00 km/jam Tabel 8. bukan datar
Kecepatan rata-rata Kosong v2 40.00 km/jam Tabel 8, bukan datar
Waktu Siklus : Ts2
~Muat = V x 60 /Q2 T1 3.11 menit
~Waktu tempuh isi = (L : v1) x 60 T2 32.49 menit
~Waktu tempuh kosong = (L : v2) x 60 T3 16.25 menit
~Lain-lain T4 1.45 menit lain-lain 1.25 - 1.65 menit
Ts2 53.29 menit
Kapasitas Produksi / Jam
V x Fa x 60 x Fk
Q2 5.28 M3
Ts2

Koefisien Alat / M3 = 1 : Q2 (E35) 0.1894 Jam


Biaya dumptruck/m3 Rp1 Rp 116,373.65 m3/jam
Unit = 4.82
5.00
Rp 581,868.24
Total Biaya dumptruck Rp 11,597,432,875.52
223

2c. MOTOR GRADER > 100 HP (E13)


Panjang hamparan Lh 50.00 M
Lebar lajur lalu lintas W 3.60 M
Lebar pisau efektif b 2.20 M Tabel 14 lebar overlap
Lebar Overlap bo 0.30 M
Faktor Efisiensi kerja Fa 0.60 - Tabel 15, pnybm & grdg
Kecepatan rat-rata alat v 4.00 Km/Jam Tabel 13, field grading
Jumlah lintasan n 4.00 lintasan
Jumlah pengupasan setiap lintasan = W / (b-bo) N 2.00 kali
Waktu Siklus : Ts3
~Peralatan 1 kali lintasan = (Lh x 60) / (v x 1000) T1 0.75 menit
~Lain-lain T2 1.00 menit
Ts3 1.75 menit
Kapasitas Produksi / Jam
Lh x (N(b-bo)+b0) x t x Fa x 60 t = 0.15
Q3 79.07 M2
Ts3 x n x N

Koefisien Alat / M2 = 1 : Q3 (E13) 0.0126 Jam


Biaya Motor Grader/m2 Rp1 Rp 6,691.73 m2/jam
Unit = 0.32
1.00
Rp 6,691.73
Total Biaya Motor Grader Rp 133,375,432.00

2d. Vibratory Roller 5-8 T (E16a)


Kecepatan rat-rata alat v 3.00 Km/Jam Tabel 24, Vibrating Roller
Lebar lajur lalu lintas W 3.60 M
Lebar roda alat pemadat b 1.68 M
Lebar Overlap bo 0.20 M
Jumlah lintasan n 8.00 lintasan 4 x pp lintasan
Jumlah lajur lintasan N 2.43 kali
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 4, baik sekali
Kapasitas Produksi / Jam
(N(b-bo)+b0) x v x 1000 x t x Fa t = 0.15
Q4 72.94 M2
nxN

Koefisien Alat / M3 = 1 : Q4 (E16a) 0.0137 Jam


Biaya Vibratory Roller/m3 Rp1 Rp 4,474.38 m2/jam
Unit = 0.35
1.00
Rp 4,474.38
Total Biaya Vibratory Roller Rp 89,180,616.44

2e. ALAT BANTU


Diperlukan alat-alat bantu kecil
~Kereta dorong
~Sekop
~Garpu
~Terpal

3 TENAGA
Produksi menentukan : Wheel Loader Q1 137.86 M3/Jam
Produksi Agregat/hari = Tk x Q1 Qt 965.05
Kebutuhan tenaga
- Pekerja P 8.00 orang
- Mandor M 1.00 orang

Koefisien tenaga / M' :


- Pekerja = (Tk x P):Qt (L01) 0.0580 jam
- Mandor = (Tk x M):Qt (L03) 0.0073 jam
224

6.4.5 Pekerjaan Tanah


1. Lapis Resap Pengikat-Perekat Aspal Cair
PERKERASAN ASPAL

ITEM PEMBAYARAN : 6.1 dan 6.2


JENIS PEKERJAAN : Lapis Resap Pengikat-Perekat Aspal Cair
SATUAN PEMBAYARAN : Liter
VOLUME LAPISAN RESAP PENGIKAT ASPAL CAIR 53150.328
DURASI PEKERJAAN (MINGGU) 42
NO URAIAN KODE KOEF. SATUAN Keterangan

I. ASUMSI
1 Menggunakan alat berat (cara mekanik)
2 Lokasi pekerjaan : sepanjang jalan
3 Jarak rata-rata Base Camp ke lokasi pekerjaan L 10.83 KM
4 Jam kerja efektif per-hari Tk 7 Jam
5 Faktor kehilangan bahan Fh 1 Tabel A.3a, Kemasan
6 Bahan
~Kadar Residu Aspal Emulsi CSS/SS (min. sesuai AASHTO M140/M 208) Ae 65 %
7 Berat isi bahan :
~ Aspal Emulsi D1 1.01 Kg/liter
8 Bahan dasar (aspal emulsi) semuanya diterima di lokasi pekerjaan
9 Harga Satuan Asphal Distributor 5000 L 1 jam Rp 388,585.84
10 Harga Satuan Compressor 4000 -65000 LM 1 jam Rp 180,868.91

II. URUTAN KERJA


1 Aspal Emulsi dimasukkan ke dalam distributor aspal
2 Permukaan yang akan dilapis dibersihkan dari debu dan kotoran dengan 0.6565
2 Air Compressor (awal dan akhir)
3 Aspal Emulsi disempurnakan dengan Asphalt Distributor ke atas permukaan yang akan dilapis

III. PEMAKAIAN BAHAN, ALAT, DAN TENAGA

1 BAHAN
Untuk mendapatkan 1 liter Lapis Resap Pengikat Aspal Emulsi diperlukan : (1 liter x Fh) PC 1 liter

1a Aspal Emulsi = PC/AE (M31a) 1.5385 liter


1b Aspal = 1.553846154

2 ALAT
2a. ASPHALT DISTRIBUTOR 5000 L (E41)
Lebar penyemprotan b 3 M
Kecepatan penyemprotan V 20 Km/jam asumsi
Kapasitas pompa aspal pas 100 liter/menit
Faktor efisiensi kerja Fa 0.83 baik
Kadar aplikasi [Link] 0.85 liter/m2 Tabel 4, baik sekali
Kap. Prod. / jam = V x 1000 x b x Fa x [Link] Q1 42330 liter/jam (Pasal [Link])a)

Koefisien Alat/Ltr = 1:Q1 (E41) 0.00002 Jam


Biaya Asphalt Distributor Rp 9.18
Unit = 0.0006
1
Rp 9.18
Total Biaya Asphalt Distributor Rp 487,915.54

2b. COMPRESSOR 4000-6500 L/M (E05)


Kecepatan v1 0.17 km/jam Asumsi: 10 m2/menit
Lebar penyemprotan b 3.60 m
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 Tabel 4, baik sekali
Jumlah penyemprotan n 2.00 kali
Kadar aspal yang digunakan Kdr. Bit 0.85 liter/m2 (Pasal [Link])a)
Kap. Prod. / jam = V x 1000 x b x Fa x [Link] / n Q2 42330 liter

Koefisien Alat/Ltr = 1:Q2 (E05) 0.00002 jam


Biaya Compressor Rp 4.27
Unit = 0.0006
1
Rp 4.27
Total Biaya Compressor Rp 227,102.34

3 TENAGA
Produksi menentukan : AIR COMPRESSOR Q1 42330.00 M3/Jam
Produksi Agregat/hari = Tk x Q1 Qt 296310.00
Kebutuhan tenaga
- Pekerja P 15.00 orang
- Mandor M 1.00 orang

Koefisien tenaga / M' :


- Pekerja = (Tk x P):Qt (L01) 0.0004 jam
- Mandor = (Tk x M):Qt (L03) 0.0000 jam
225

2. Laston Lapis Aus (AC-WC)


ITEM PEMBAYARAN : 6.3
JENIS PEKERJAAN : Laston Lapis Aus (AC-WC)
SATUAN PEMBAYARAN : Ton
VOLUME LAPISAN AUS (AC-WC) 1107.2985
DURASI PEKERJAAN (MINGGU) 21
NO URAIAN KODE KOEF. SATUAN Keterangan

I. ASUMSI
1 Menggunakan alat berat (cara mekanik)
2 Lokasi pekerjaan : sepanjang jalan
3 Kondisi existing jalan : sedang
4 Jarak rata-rata Base Camp ke lokasi pekerjaan L 10.83 KM
5 Tebal Lapis (AC-WC) padat t 0.04 M
6 Jam kerja efektif per-hari Tk 7 Jam
7 Faktor kehilangan material :
~Agregat Fh1 1.05 - Tabel A.3a, curah
~Aspal Fh2 1.02 - Tabel A.3a, kemasan
8 Komposisi campuran AC-WC (lihat breakdown) :
~ Agregat Pecah Mesin 5-10 & 10-15 mm 5-10 & 10-15 40.41 %
~ Agregat Pecah Mesin 0-5 mm 0-5 52.85 %
~ Semen (filler added) FF 0.94 %
~ Asphalt As 5.8 %
~ Anti Stripping Agent Asa 0.3 %As Dibayar Terpisah
9 Berat isi bahan :
~ AC-WC D 2.3 ton/m3 Tabel A.2d, No. 3
~ Agregat Pecah Mesin 5-10 & 10-15 mm BiL1 1.27 ton/m3 Tabel A. 2a, No. 1
~ Agregat Pecah Mesin 0-5 mm (lepas) BiL2 1.31 ton/m3 Tabel A. 2a, No.1
10 Jarak Stock pile ke Cold Bin BiLrata2 1.29 ton/m3
I 0.050 km
11 Harga Satuan Wheel Loader 1.0-1.6 M3 1.000 jam Rp 538,267.20
12 Harga Satuan Asphalt Mixing plant 1.000 jam Rp 9,164,493.00
13 Harga Satuan Generator Set 1.000 jam Rp 1,416,666.67
14 Harga Satuan Dump Truck 10 T 1.000 jam Rp 614,377.50
15 Harga Satuan Asphalt Finiser 1.000 jam Rp 146,607.00
16 Harga Satuan Tandem Roller 8-10T 1.000 jam Rp 519,129.74
17 Harga Satuan Tire roller 8-10T 1.000 jam Rp 561,203.11

II. URUTAN KERJA


1 Wheel Loader memuat agregat ke dalam Cold Bin AMP
2 Agregat, aspal, dan bahan anti pengelupasan dicampur dan dipanaskan dengan AMP
untuk dimuat langsung kedalam Dump Truck dan diangkut ke lokasi pekerjaan
3 Campuran panas AC dihampar dengan Finisher dan dipadatkan dengan Tandem (awal dan akhir)
& Pneumatic Tire Roller (antara)
4 Selama pemadatan, sekelompok pekerja akan merapikan tepi hamparan dengan menggunakan
dengan menggunakan Alat Bantu

III. PEMAKAIAN BAHAN, ALAT, DAN TENAGA

1 BAHAN
1a Agregat 5-10 & 10-15 = ("5-10 & 10-15" x Fh1) : BiL1 (M92) 0.3341 m3
1b Agregat 0-5 = ("0-5" x Fh1) : BiL2 (M91) 0.4236 m3
1c Semen = (FF x Fh2) x 1000 (M12) 9.5880 Kg
1d Aspal = (As x Fh2) x 1000 (M10) 59.16 Kg

2 ALAT
2a. WHEEL LOADER 1.0-1.6 M3 (E15)
Kapasitas bucket V 1.5 M3
Faktor bucket Fb 0.85 - Tabel 16, mudah
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 Tabel 4, baik sekali
Waktu siklus (T1 + T2 + T3) Ts1
~Kecepatan maju rata-rata Vf 15 km/jam Tabel 22, baik
~Kecepatan kembali rata-rata Vr 20 km/jam Tabel 22, baik
~Muat ke Bin = (I x 60) / Vf T1 0.20 menit
~Kecepatan ke Stock pile = (I x 60) / Vr T2 0.15 menit
~Lain-lain (waktu pasti, 0.60-0.75 menit) T3 0.7 menit
Ts1 1.05 menit
Kap. Prod. / jam =
V x Fb x Fa x 60 x BiLrata2
Q1 78.01 M3/jam
Ts1

Koefisien Alat/m3 = 1:Q1 (E15) 0.0128 Jam


Biaya Wheel Loader1.0-1.6m3 Rp 6,900.14
Unit = 0.0138
1
Rp 6,900.14
Total Biaya Wheel Loader Rp 7,640,515.99

2b. ASPHALT MIXING PLANT (E01)


Kapasitas produksi V 60.00 ton/Jam
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 -

Kap. Prod. / jam = V x Fa Q2 49.8 ton

Koefisien Alat/ton = 1:Q2 (E01) 0.0201 jam


Biaya Asphalt Mixing Plant Rp 184,025.96
Unit = 0.0216
1
Rp 184,025.96
Total Biaya Asphalt Mixing Plant Rp 203,771,673.74
226

2c. GENERATOR SET (E12)


Kap. Prod. / jam = SAMA DENGAN AMP Q3 49.8 ton
Koefisien Alat/ton = 1:Q3 (E12) 0.0201 jam
Biaya Asphalt Mixing Plant Rp 28,447.12
Unit = 0.0216
1
Rp 28,447.12
Total Biaya Generator Set Rp 31,499,455.32

2d. DUMP TRUCK 10 TON (E35)


Muatan dalam bak yang diijinkan = 10 / D V 4.35 M3 Volume padat
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 7, baik
Kecepatan rata-rata bermuatan v1 40.00 km/jam Tabel 8. datar
Kecepatan rata-rata Kosong v2 60.00 km/jam Tabel 8. datar
Kapasitas AMP / batch Q2b 1.00 ton Asumsi 60 detik
Waktu menyiapkan 1 batch Tb 1.00 menit untuk 1 batch
Waktu siklus Ts2
~Mengisi bak = ((V x D) : Q2b) x Tb T1 10.00 menit
~Angkut = (L : v1) x 60 menit T2 16.25 menit
~Tunggu + dump + putar T3 10.00 menit
~Kembali = (L : v2) x 60 menit T4 10.83 menit
Ts2 47.08 menit

Kapasitas Produksi / Jam


V x Fa x 60 x D
Q4 10.58 M3
Ts2

Koefisien Alat / M3 = 1 : Q4 (E35) 0.0945 Jam


Biaya Dump Truck Rp 58,075.95
Unit = 0.1017
1
Rp 58,075.95
Total Biaya Dump Truck Rp 64,307,407.23

2e. ASPHALT FINISHER (E02)


Kecepatan menghampar V 5.00 ton/Jam
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 4, baik sekali
Lebar hamparan b 3.60 meter
Kap. Prod. / jam = V x b x 60 x Fa x t x D Q5 82.4688 ton

Koefisien Alat/ton = 1:Q5 (E02) 0.0121 jam


Biaya Asphalt Finiser Rp 1,777.73
Unit = 0.2989
1
Rp 1,777.73
Total Biaya Asphalt Finisher Rp 1,968,474.27
227

2f. TANDEM ROLLER 8-10 T (E17)


Kecepatan rata-rata alat v 4.00 Km/Jam
Lebar lajur lalu lintas W 3.60 M
Lebar efektif pemadatan b 1.68 M
Lebar Overlap bo 0.20 M
Jumlah lintasan n 6.00 lintasan ( 2 awal + 4 akhir)
Jumlah lajur lintasan N 2.00 kali W = 3.6 m
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 4, baik sekali
Kapasitas Produksi / Jam
(N(b-bo)+b0) x v x 1000 x t x Fa t = 0.15
Q6 34.97 M3
nxN

Koefisien Alat /m3 = 1 : Q6 (E17) 0.0286 Jam


Biaya Atandem Roller Rp 14,844.72
Unit = 0.0308
1
Rp 14,844.72
Total Biaya Tandem Roller Rp 16,437,535.72

2g. TIRE ROLLER 8-10 T (E18)


Kecepatan rata-rata alat v 6.00 Km/Jam
Lebar lajur lalu lintas W 3.60 M
Lebar efektif pemadatan b 2.29 M
Lebar Overlap bo 0.20 M
Jumlah lintasan n 10.00 lintasan 5 pp
Jumlah lajur lintasan N 2.00 kali
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 4, baik sekali
Kapasitas Produksi / Jam
(N(b-bo)+b0) x v x 1000 x t x Fa t = 0.15
Q7 43.62 M3
nxN

Koefisien Alat / m3 = 1 : Q7 (E18) 0.0229 Jam


Biaya Tire Roller Rp 12,864.31
Unit = 0.0247
1
Rp 12,864.31
Total Biaya Tire Roller Rp 14,244,635.21

2h. ALAT BANTU


~Rambu
~Kereta dorong
~Sekop
~Garpu
~Tongkat kontrol ketebalan hamparan

3 TENAGA
Produksi menentukan : AMP Q1 49.80 M3/Jam
Produksi AC-WC/hari = Tk x Q1 Qt 348.60
Kebutuhan tenaga
- Pekerja P 12.00 orang
- Mandor M 1.00 orang

Koefisien tenaga / M' :


- Pekerja = (Tk x P):Qt (L01) 0.2410 jam
- Mandor = (Tk x M):Qt (L03) 0.0201 jam

3. Laston Lapis Aus (AC-BC)


ITEM PEMBAYARAN : 6.4
JENIS PEKERJAAN : Laston Lapis Aus(AC-BC)
SATUAN PEMBAYARAN : Ton
VOLUME LAPISAN AUS (AC-BC) 1660.94775
DURASI PEKERJAAN (MINGGU) 21
NO URAIAN KODE KOEF. SATUAN Keterangan

I. ASUMSI
1 Menggunakan alat berat (cara mekanik)
2 Lokasi pekerjaan : sepanjang jalan
3 Kondisi existing jalan : sedang
4 Jarak rata-rata Base Camp ke lokasi pekerjaan L 10.83 KM
5 Tebal Lapis (AC-WC) padat t 0.04 M
6 Jam kerja efektif per-hari Tk 7 Jam
7 Faktor kehilangan material :
~Agregat Fh1 1.05 - Tabel A.3a, curah
~Aspal Fh2 1.02 - Tabel A.3a, kemasan
8 Komposisi campuran AC-WC (lihat breakdown) :
~ Agregat Pecah Mesin 5-10 & 10-15 mm 5-10 & 10-15 40.41 %
~ Agregat Pecah Mesin 0-5 mm 0-5 52.85 %
~ Semen (filler added) FF 0.94 %
~ Asphalt As 5.8 %
~ Anti Stripping Agent Asa 0.3 %As Dibayar Terpisah
9 Berat isi bahan :
~ AC-WC D 2.3 ton/m3 Tabel A.2d, No. 3
~ Agregat Pecah Mesin 5-10 & 10-15 mm BiL1 1.27 ton/m3 Tabel A. 2a, No. 1
~ Agregat Pecah Mesin 0-5 mm (lepas) BiL2 1.31 ton/m3 Tabel A. 2a, No.1
10 Jarak Stock pile ke Cold Bin BiLrata2 1.29 ton/m3
I 0.050 km
11 Harga Satuan Wheel Loader 1.0-1.6 M3 1.000 jam Rp 538,267.20
12 Harga Satuan Asphalt Mixing plant 1.000 jam Rp 9,164,493.00
13 Harga Satuan Generator Set 1.000 jam Rp 1,416,666.67
14 Harga Satuan Dump Truck 10 T 1.000 jam Rp 614,377.50
15 Harga Satuan Asphalt Finiser 1.000 jam Rp 146,607.00
16 Harga Satuan Tandem Roller 8-10T 1.000 jam Rp 519,129.74
17 Harga Satuan Tire roller 8-10T 1.000 jam Rp 561,203.11
228

II. URUTAN KERJA


1 Wheel Loader memuat agregat ke dalam Cold Bin AMP
2 Agregat, aspal, dan bahan anti pengelupasan dicampur dan dipanaskan dengan AMP
untuk dimuat langsung kedalam Dump Truck dan diangkut ke lokasi pekerjaan
3 Campuran panas AC dihampar dengan Finisher dan dipadatkan dengan Tandem (awal dan akhir)
& Pneumatic Tire Roller (antara)
4 Selama pemadatan, sekelompok pekerja akan merapikan tepi hamparan dengan menggunakan
dengan menggunakan Alat Bantu

III. PEMAKAIAN BAHAN, ALAT, DAN TENAGA

1 BAHAN
1a Agregat 5-10 & 10-15 = ("5-10 & 10-15" x Fh1) : BiL1 (M92) 0.3341 m3
1b Agregat 0-5 = ("0-5" x Fh1) : BiL2 (M91) 0.4236 m3
1c Semen = (FF x Fh2) x 1000 (M12) 9.5880 Kg
1d Aspal = (As x Fh2) x 1000 (M10) 59.16 Kg

2 ALAT
2a. WHEEL LOADER 1.0-1.6 M3 (E15)
Kapasitas bucket V 1.5 M3
Faktor bucket Fb 0.85 - Tabel 16, mudah
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 Tabel 4, baik sekali
Waktu siklus (T1 + T2 + T3) Ts1
~Kecepatan maju rata-rata Vf 15 km/jam Tabel 22, baik
~Kecepatan kembali rata-rata Vr 20 km/jam Tabel 22, baik
~Muat ke Bin = (I x 60) / Vf T1 0.20 menit
~Kecepatan ke Stock pile = (I x 60) / Vr T2 0.15 menit
~Lain-lain (waktu pasti, 0.60-0.75 menit) T3 0.7 menit
Ts1 1.05 menit
Kap. Prod. / jam =
V x Fb x Fa x 60 x BiLrata2
Q1 78.01 M3/jam
Ts1

Koefisien Alat/m3 = 1:Q1 (E15) 0.0128 Jam


Biaya Wheel Loader1.0-1.6m3 Rp 6,900.14
Unit = 0.0207
1
Rp 6,900.14
Total Biaya Wheel Loader Rp 11,460,773.99

2b. ASPHALT MIXING PLANT (E01)


Kapasitas produksi V 60.00 ton/Jam
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 -

Kap. Prod. / jam = V x Fa Q2 49.8 ton

Koefisien Alat/ton = 1:Q2 (E01) 0.0201 jam


Biaya Asphalt Mixing Plant Rp 184,025.96
Unit = 0.0324
1
Rp 184,025.96
Rp 305,657,510.61
Total Biaya Asphalt Mixing Plant

2c. GENERATOR SET (E12)


Kap. Prod. / jam = SAMA DENGAN AMP Q3 49.8 ton
Koefisien Alat/ton = 1:Q3 (E12) 0.0201 jam
Biaya Asphalt Mixing Plant Rp 28,447.12
Unit = 0.0324
1
Rp 28,447.12
Total Biaya Generator Set Rp 47,249,182.98
229

2d. DUMP TRUCK 10 TON (E35)


Muatan dalam bak yang diijinkan = 10 / D V 4.35 M3 Volume padat
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 7, baik
Kecepatan rata-rata bermuatan v1 40.00 km/jam Tabel 8. datar
Kecepatan rata-rata Kosong v2 60.00 km/jam Tabel 8. datar
Kapasitas AMP / batch Q2b 1.00 ton Asumsi 60 detik
Waktu menyiapkan 1 batch Tb 1.00 menit untuk 1 batch
Waktu siklus Ts2
~Mengisi bak = ((V x D) : Q2b) x Tb T1 10.00 menit
~Angkut = (L : v1) x 60 menit T2 16.25 menit
~Tunggu + dump + putar T3 10.00 menit
~Kembali = (L : v2) x 60 menit T4 10.83 menit
Ts2 47.08 menit

Kapasitas Produksi / Jam


V x Fa x 60 x D
Q4 10.58 M3
Ts2

Koefisien Alat / M3 = 1 : Q4 (E35) 0.0945 Jam


Biaya Dump Truck Rp 58,075.95
Unit = 0.1526
1
Rp 58,075.95
Total Biaya Dump Truck Rp 96,461,110.85

2e. ASPHALT FINISHER (E02)


Kecepatan menghampar V 5.00 ton/Jam
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 4, baik sekali
Lebar hamparan b 3.60 meter
Kap. Prod. / jam = V x b x 60 x Fa x t x D Q5 82.4688 ton

Koefisien Alat/ton = 1:Q5 (E02) 0.0121 jam


Biaya Asphalt Finiser Rp 1,777.73
Unit = 0.448
1
Rp 1,777.73
Total Biaya Asphalt Finisher Rp 2,952,711.41

2f. TANDEM ROLLER 8-10 T (E17)


Kecepatan rata-rata alat v 4.00 Km/Jam
Lebar lajur lalu lintas W 3.60 M
Lebar efektif pemadatan b 1.68 M
Lebar Overlap bo 0.20 M
Jumlah lintasan n 6.00 lintasan ( 2 awal + 4 akhir)
Jumlah lajur lintasan N 2.00 kali W = 3.6 m
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 4, baik sekali
Kapasitas Produksi / Jam
(N(b-bo)+b0) x v x 1000 x t x Fa t = 0.15
Q6 34.97 M3
nxN

Koefisien Alat /m3 = 1 : Q6 (E17) 0.0286 Jam


Biaya Atandem Roller Rp 14,844.72
Unit = 0.0462
1
Rp 14,844.72
Total Biaya Tandem Roller Rp 24,656,303.58

2g. TIRE ROLLER 8-10 T (E18)


Kecepatan rata-rata alat v 6.00 Km/Jam
Lebar lajur lalu lintas W 3.60 M
Lebar efektif pemadatan b 2.29 M
Lebar Overlap bo 0.20 M
Jumlah lintasan n 10.00 lintasan 5 pp
Jumlah lajur lintasan N 2.00 kali
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 4, baik sekali
Kapasitas Produksi / Jam
(N(b-bo)+b0) x v x 1000 x t x Fa t = 0.15
Q7 43.62 M3
nxN

Koefisien Alat / m3 = 1 : Q7 (E18) 0.0229 Jam


Biaya Tire Roller Rp 12,864.31
Unit = 0.0247
1
Rp 12,864.31
Total Biaya Tire Roller Rp 21,366,952.81

2h. ALAT BANTU


~Rambu
~Kereta dorong
~Sekop
~Garpu
~Tongkat kontrol ketebalan hamparan

3 TENAGA
Produksi menentukan : AMP Q1 49.80 M3/Jam
Produksi AC-WC/hari = Tk x Q1 Qt 348.60
Kebutuhan tenaga
- Pekerja P 12.00 orang
- Mandor M 1.00 orang

Koefisien tenaga / M' :


- Pekerja = (Tk x P):Qt (L01) 0.2410 jam
- Mandor = (Tk x M):Qt (L03) 0.0201 jam
230

4. Laston Lapis Aus (AC-Base)


ITEM PEMBAYARAN : 6.5
JENIS PEKERJAAN : Laston Lapis Aus (AC-Base)
SATUAN PEMBAYARAN : Ton
VOLUME LAPISAN AUS (AC-BASE) 5813.317125
DURASI PEKERJAAN (MINGGU) 21
NO URAIAN KODE KOEF. SATUAN Keterangan

I. ASUMSI
1 Menggunakan alat berat (cara mekanik)
2 Lokasi pekerjaan : sepanjang jalan
3 Kondisi existing jalan : sedang
4 Jarak rata-rata Base Camp ke lokasi pekerjaan L 10.83 KM
5 Tebal Lapis (AC-WC) padat t 0.04 M
6 Jam kerja efektif per-hari Tk 7 Jam
7 Faktor kehilangan material :
~Agregat Fh1 1.05 - Tabel A.3a, curah
~Aspal Fh2 1.02 - Tabel A.3a, kemasan
8 Komposisi campuran AC-WC (lihat breakdown) :
~ Agregat Pecah Mesin 5-10 & 10-15 mm 5-10 & 10-15 40.41 %
~ Agregat Pecah Mesin 0-5 mm 0-5 52.85 %
~ Semen (filler added) FF 0.94 %
~ Asphalt As 5.8 %
~ Anti Stripping Agent Asa 0.3 %As Dibayar Terpisah
9 Berat isi bahan :
~ AC-WC D 2.3 ton/m3 Tabel A.2d, No. 3
~ Agregat Pecah Mesin 5-10 & 10-15 mm BiL1 1.27 ton/m3 Tabel A. 2a, No. 1
~ Agregat Pecah Mesin 0-5 mm (lepas) BiL2 1.31 ton/m3 Tabel A. 2a, No.1
10 Jarak Stock pile ke Cold Bin BiLrata2 1.29 ton/m3
I 0.050 km
11 Harga Satuan Wheel Loader 1.0-1.6 M3 1.000 jam Rp 538,267.20
12 Harga Satuan Asphalt Mixing plant 1.000 jam Rp 9,164,493.00
13 Harga Satuan Generator Set 1.000 jam Rp 1,416,666.67
14 Harga Satuan Dump Truck 10 T 1.000 jam Rp 614,377.50
15 Harga Satuan Asphalt Finiser 1.000 jam Rp 146,607.00
16 Harga Satuan Tandem Roller 8-10T 1.000 jam Rp 519,129.74
17 Harga Satuan Tire roller 8-10T 1.000 jam Rp 561,203.11

II. URUTAN KERJA


1 Wheel Loader memuat agregat ke dalam Cold Bin AMP
2 Agregat, aspal, dan bahan anti pengelupasan dicampur dan dipanaskan dengan AMP
untuk dimuat langsung kedalam Dump Truck dan diangkut ke lokasi pekerjaan

3 Campuran panas AC dihampar dengan Finisher dan dipadatkan dengan Tandem (awal dan akhir)

& Pneumatic Tire Roller (antara)


4 Selama pemadatan, sekelompok pekerja akan merapikan tepi hamparan dengan menggunakan
dengan menggunakan Alat Bantu

III. PEMAKAIAN BAHAN, ALAT, DAN TENAGA

1 BAHAN
1a Agregat 5-10 & 10-15 = ("5-10 & 10-15" x Fh1) : BiL1 (M92) 0.3341 m3
1b Agregat 0-5 = ("0-5" x Fh1) : BiL2 (M91) 0.4236 m3
1c Semen = (FF x Fh2) x 1000 (M12) 9.5880 Kg
1d Aspal = (As x Fh2) x 1000 (M10) 59.16 Kg

2 ALAT
2a. WHEEL LOADER 1.0-1.6 M3 (E15)
Kapasitas bucket V 1.5 M3
Faktor bucket Fb 0.85 - Tabel 16, mudah
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 Tabel 4, baik sekali
Waktu siklus (T1 + T2 + T3) Ts1
~Kecepatan maju rata-rata Vf 15 km/jam Tabel 22, baik
~Kecepatan kembali rata-rata Vr 20 km/jam Tabel 22, baik
~Muat ke Bin = (I x 60) / Vf T1 0.20 menit
~Kecepatan ke Stock pile = (I x 60) / Vr T2 0.15 menit
~Lain-lain (waktu pasti, 0.60-0.75 menit) T3 0.7 menit
Ts1 1.05 menit
Kap. Prod. / jam =
V x Fb x Fa x 60 x BiLrata2
Q1 78.01 M3/jam
Ts1

Koefisien Alat/m3 = 1:Q1 (E15) 0.0128 Jam


Biaya Wheel Loader1.0-1.6m3 Rp 6,900.14
Unit = 0.0724
1
Rp 6,900.14
Total Biaya Wheel Loader Rp 40,112,708.97

2b. ASPHALT MIXING PLANT (E01)


Kapasitas produksi V 60.00 ton/Jam
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 -

Kap. Prod. / jam = V x Fa Q2 49.8 ton

Koefisien Alat/ton = 1:Q2 (E01) 0.0201 jam


Biaya Asphalt Mixing Plant Rp 184,025.96
Unit = 0.1134
1
Rp 184,025.96
Rp 1,069,801,287.13
Total Biaya Asphalt Mixing Plant
231

2c. GENERATOR SET (E12)


Kap. Prod. / jam = SAMA DENGAN AMP Q3 49.8 ton
Koefisien Alat/ton = 1:Q3 (E12) 0.0201 jam
Biaya Asphalt Mixing Plant Rp 28,447.12
Unit = 0.1134
1
Rp 28,447.12
Total Biaya Generator Set Rp 165,372,140.44

2d. DUMP TRUCK 10 TON (E35)


Muatan dalam bak yang diijinkan = 10 / D V 4.35 M3 Volume padat
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 7, baik
Kecepatan rata-rata bermuatan v1 40.00 km/jam Tabel 8. datar
Kecepatan rata-rata Kosong v2 60.00 km/jam Tabel 8. datar
Kapasitas AMP / batch Q2b 1.00 ton Asumsi 60 detik
Waktu menyiapkan 1 batch Tb 1.00 menit untuk 1 batch
Waktu siklus Ts2
~Mengisi bak = ((V x D) : Q2b) x Tb T1 10.00 menit
~Angkut = (L : v1) x 60 menit T2 16.25 menit
~Tunggu + dump + putar T3 10.00 menit
~Kembali = (L : v2) x 60 menit T4 10.83 menit
Ts2 47.08 menit

Kapasitas Produksi / Jam


V x Fa x 60 x D
Q4 10.58 M3
Ts2

Koefisien Alat / M3 = 1 : Q4 (E35) 0.0945 Jam


Biaya Dump Truck Rp 58,075.95
Unit = 0.5340
1
Rp 58,075.95
Total Biaya Dump Truck Rp 337,613,887.98

2e. ASPHALT FINISHER (E02)


Kecepatan menghampar V 5.00 ton/Jam
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 4, baik sekali
Lebar hamparan b 3.60 meter
Kap. Prod. / jam = V x b x 60 x Fa x t x D Q5 82.4688 ton

Koefisien Alat/ton = 1:Q5 (E02) 0.0121 jam


Biaya Asphalt Finiser Rp 1,777.73
Unit = 1.5693
2
Rp 3,555.45
Total Biaya Asphalt Finisher Rp 20,668,979.87

2f. TANDEM ROLLER 8-10 T (E17)


Kecepatan rata-rata alat v 4.00 Km/Jam
Lebar lajur lalu lintas W 3.60 M
Lebar efektif pemadatan b 1.68 M
Lebar Overlap bo 0.20 M
Jumlah lintasan n 6.00 lintasan ( 2 awal + 4 akhir)
Jumlah lajur lintasan N 2.00 kali W = 3.6 m
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 4, baik sekali
Kapasitas Produksi / Jam
(N(b-bo)+b0) x v x 1000 x t x Fa t = 0.15
Q6 34.97 M3
nxN

Koefisien Alat /m3 = 1 : Q6 (E17) 0.0286 Jam


Biaya Atandem Roller Rp 14,844.72
Unit = 0.1615
1
Rp 14,844.72
Total Biaya Tandem Roller Rp 86,297,062.52

2g. TIRE ROLLER 8-10 T (E18)


Kecepatan rata-rata alat v 6.00 Km/Jam
Lebar lajur lalu lintas W 3.60 M
Lebar efektif pemadatan b 2.29 M
Lebar Overlap bo 0.20 M
Jumlah lintasan n 10.00 lintasan 5 pp
Jumlah lajur lintasan N 2.00 kali
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 - Tabel 4, baik sekali
Kapasitas Produksi / Jam
(N(b-bo)+b0) x v x 1000 x t x Fa t = 0.15
Q6 43.62 M3
nxN

Koefisien Alat / m3 = 1 : Q7 (E18) 0.0229 Jam


Biaya Tire Roller Rp 12,864.31
Unit = 0.1295
1
Rp 12,864.31
Total Biaya Tire Roller Rp 74,784,334.83

2h. ALAT BANTU


~Rambu
~Kereta dorong
~Sekop
~Garpu
~Tongkat kontrol ketebalan hamparan

3 TENAGA
Produksi menentukan : AMP Q1 49.80 M3/Jam
Produksi AC-WC/hari = Tk x Q1 Qt 348.60
Kebutuhan tenaga
- Pekerja P 12.00 orang
- Mandor M 1.00 orang

Koefisien tenaga / M' :


- Pekerja = (Tk x P):Qt (L01) 0.2410 jam
- Mandor = (Tk x M):Qt (L03) 0.0201 jam
232

6.4.6 Pekerjaan Jalan


1. Pekerjaan Marka Jalan Termoplasyik
PELENGKAP JALAN

ITEM PEMBAYARAN : 7.1


JENIS PEKERJAAN : Pekerjaan Marka Jalan Termoplasyik
SATUAN PEMBAYARAN : m2
LUAS PEKERJAAN (M2) 1984.509 0 0
DURASI (MINGGU) 2
NO URAIAN KODE KOEF. SATUAN Keterangan

I. ASUMSI
1 Pekerjaan dilakukan secara manual
2 Lokasi pekerjaan : sepanjang jalan
3 Bahan dasar (besi dan kawat) diterima seluruhnya di lokasi pekerjaan
4 Jarak rata-rata Base Camp ke lokasi pekerjaan L 10.83 KM
5 Jam kerja efektif per-hari Tk 7 jam
6 Faktor kehilangan material Fh 1.02 -
7 Tebal lapisan cat secara manual t 1.5 mm sesuai dengan gambar
8 Berat isi bahan cat Bl. Cat 2.15 Kg/liter
9 Perbandingan pemakaian bahan: cat C 100 %
~ panjang cat Cat 3 m
~ panjang kosong Ksg 5 m
10 Harga satuan dasar thermoplastic road marking machine 1.00 jam Rp 101,606.36
11 Harga satuan dasar compressor 1.00 jam Rp 180,868.91
12 Harga satuan dasar truck 2 ton 1.00 jam Rp 287,663.48

II. URUTAN KERJA


1 Permukaan jalan dibersihkan dari debu/kotoran
2 Cat dikeluarkan dari alat penghampar dalam kondisi panas
3 Glass Beat ditabur secara mekanis di atas cat yang baru terhampar

III. PEMAKAIAN BAHAN, ALAT, DAN TENAGA

1 BAHAN
1a Cat Marka Thermoplast = 1x1xt/1000 x Fh x 1000 x Bl Cat (M17b) 3.2895 Kg
1b Glass Bead = 0,45 x Fh (M34) 0.459 Kg

2 ALAT
2a THERMOPLASTIC ROAD MARKING MACHINE (E85)
Kecepatan bergerak bukan didorong v 5.5 km/jam
Lebar penyemprotan b 0.1 m
Faktor efisiensi alat Fa 0.83
Kap. Prod. / jam = (v x 1000/(cat+ksg)) x (cat/(cat+ksg)) x cat x b x Fa Q1 64.1953125 m2/jam

Koefisien Alat/M2 = 1:Q1 (E85) 0.01558 Jam


Biaya thermoplastic road marking machine/m2 Rp1 Rp 1,582.77 m3/jam
Unit = 0.32
1.00
Rp 1,582.77
Total Biaya thermoplastic road marking machine Rp 3,141,019.62

2b. COMPRESSOR 4000-6500 L/M (E05)


Compressor digunakan untuk pembersihan sebelum pekerjaan marka
Kap. Prod. / jam = Q2 64.1953125 liter

Koefisien Alat/M2 = 1:Q2 (E05) 0.0156 jam


Biaya compressor/m2 Rp1 Rp 2,817.48 m2/jam
Unit = 0.32
1.00
Rp 2,817.48
Total Biaya compressor Rp 5,591,311.35

2c. TRUCK 2 TON (E88)


Truck digunakan untuk mengangkut compressor & marking machine
Kap. Prod. / jam = Q3 64.1953125 liter

Koefisien Alat/M2 = 1:Q3 (E88) 0.0156 jam


Biaya truck/m2 Rp1 Rp 4,481.07 m2/jam
Unit = 0.32
1.00
Rp 4,481.07
Total Biaya truck Rp 8,892,717.28

2d. ALAT BANTU Ls


Diperlukan:
~ Sapu lidi
~ Sikat ijuk
~ Rambu-rambu pengaman
~ Mal tripleks

3 TENAGA
Produksi pekerjaan per hari = Q1 x Tk Qt 449.37 M2
Kebutuhan tenaga
- Pekerja P 10.00 orang
- Mandor M 1.00 orang

Koefisien tenaga / M' :


- Pekerja = (Tk x P):Qt (L01) 0.1558 jam
- Mandor = (Tk x M):Qt (L03) 0.0156 jam
233

2. Pekerjaan Patok Kilometer, Rambu jalan Tunggal dengan Permukaan Pemantul


Engineering, Pagar Pengaman, Lampu Jalan, Median
ITEM PEMBAYARAN : 7.2, 7.3, 7.4, 7.5, dan 7.6
: Pekerjaan patok kilometer, rambu jalan tunggal dengan permukaan
JENIS PEKERJAAN
pemantul engineering, pagar pengaman, lampu jalan, median

SATUAN PEMBAYARAN : pcs


LUAS PEKERJAAN 1971.54
DURASI (MINGGU) 6
NO URAIAN KODE KOEF. SATUAN Keterangan

I. ASUMSI
1 Pekerjaan dilakukan secara manual
2 Lokasi pekerjaan : sepanjang jalan
3 Bahan dasar (besi dan kawat) diterima seluruhnya di lokasi pekerjaan
4 Jarak rata-rata Base Camp ke lokasi pekerjaan L 25 KM
5 Jam kerja efektif per-hari Tk 7 jam
6 Faktor kehilangan material Fh 1.02 -
7 Harga satuan dasar flatbed truck 1.00 jam Rp 609,992.68

II. URUTAN KERJA


1 Bahan bahan dibawa oleh flatbed truck
Pemasangan patok-patok, rambu jalan, pagar pengaman dan lampu jalan
2
dilakukan oleh pekerja

III. PEMAKAIAN BAHAN, ALAT, DAN TENAGA

1 BAHAN
1a Patok kilometer
1b Rambu jalan tunggal dengan permukaan pemantul engineering
1c Pagar pengaman
1d Lampu jalan

2 ALAT
2a FLATBED TRUCK (E11)
Kapasitas bak sekali muat v 10 ton
Faktor efisiensi alat Fa 0.83 -
Kecepatan rata-rata bermuatan v1 20 km/jam
Kecepatan rata-rata kosong v2 30 km/jam
Waktu siklus Ts
~ Waktu tempuh isi = (L : v1) x 60 T1 75 menit
~ Waktu tempuh kosong = (L : v2) x 60 T2 50 menit
~ Muat, bongkar, dll T3 15 menit
Ts 140 menit
Kap. Prod. / jam = (v x Fa x 60) / Ts Q1 3.557142857 ton/jam

Koefisien Alat/ton= 1:Q1 (E85) 0.28112 Jam


Biaya truck/pcs Rp1 Rp 171,483.89 ton/jam
Unit = 1.89
2.00
Rp 342,967.77
Total Biaya truck Rp 676,174,680.99

2b. ALAT BANTU Ls


Diperlukan:
~ Sekop
~ Pacul

3 TENAGA
Produksi pekerjaan per hari = Q1 x Tk Qt 24.90 M2
Kebutuhan tenaga
~ Pekerja P 7.00 orang
~ Mandor M 1.00 orang
~ Tukang T 2.00

Koefisien tenaga / M' :


~ Pekerja = (Tk x P):Qt (L01) 0.1090 jam
~ Mandor = (Tk x M):Qt (L03) 0.0156 jam
~ Tukang = (Tk x T):Qt (L02) 0.0312 jam
234

6.5 Analisis Harga Satuan


6.5.1 Divisi Umum
Item Pembayaran : 1.1
Jenis Pekerjaan : Mobilisasi
Tabel 6.5 AHS Mobilisasi
DIV 1. U M U M
Item Pembayaran : 1,1
Jenis Pekerjaan : Mobilisasi

NO. Komponen Satuan Koefisien Harga Satuan Jumlah


A Sewa Tanah untuk Base Camp M2 20 Rp 105.000,00 Rp 2.100.000,00
Jumlah Rp 2.100.000,00
B Peralatan (lihat Lampiran)
Jumlah
C Fasilitas Kontraktor
1 Base Camp M2 50 Rp 105.000,00 Rp 5.250.000,00
2 Kantor M2 40 Rp 105.000,00 Rp 4.200.000,00
3 Barak M2 - - -
4 Bengkel M2 - - -
5 Gudang dll M2 - - -
` Rp 9.450.000,00
D Fasilitas Direksi
1 Kantor M2 - Rp 700.000,00 Rp 700.000,00
2 Akomodasi utk wakil Direksi M2 - Rp 50.000,00 Rp 50.000,00
3 Bang Laboratorium M2 - Rp 120.000,00 Rp 120.000,00
4 Peralatan Laboratorium Set - Rp 6.000.000,00 Rp 6.000.000,00
Jumlah Rp 6.870.000,00
E Mobilisasi Lainnya
E.I Pekerjaan Darurat
1 Pemeliharaan Jalan Kerja Ls 1 - -
2 Pemotongan pohon Batang 20 Rp 241.362,00 Rp 4.827.240,00
3 Manajemen + keselamatan lalu litas Ls 1 Rp 4.764.000,00 Rp 4.764.000,00
E. II Lain-Lain
1 Asbuild Drawing Set 5 Rp 5.000.000,00 Rp 25.000.000,00
2 Dokumentasi Ls 1 Rp 6.000.000,00 Rp 6.000.000,00
Jumlah Rp 40.591.240,00
F Demobilisasi Ls 1 30.000.000,00 30.000.000,00
Jumlah Peralatan Rp 70.591.240,00
G JUMLAH (A + B + C+ D + E + F) Rp 129.602.480,00
H BIAYA UMUM DAN KEUNTUNGAN = 15% x G Rp 19.440.372,00
I HARGA SATUAN (H + I ) Rp 149.042.852,00

Item Pembayaran : 1.2


Jenis Pekerjaan : Manajemen Mutu
235

Tabel 6.6 AHS Manajemen Mutu


Item Pembayaran : 1,2
Jenis Pekerjaan : Manajemen Mutu

NO. Komponen Sat. Koefisien Harga Satuan Jumlah


A TENAGA
Masa Pelaksanaan Pekerjaan
1 Ahli Kendali Mutu OB 12 Rp 11.300.000,00 Rp 135.600.000,00
2 Asisten Ahli Kendali Mutu OB 12 Rp 5.700.000,00 Rp 68.400.000,00
3 Staff Pendukung (supporting staff) OB 12 Rp 2.000.000,00 Rp 24.000.000,00
4 Laporan Kendali Mutu Bulan 12 Rp 300.000,00 Rp 3.600.000,00
JUMLAH HARGA TENAGA Rp 231.600.000,00
B BAHAN
JUMLAH HARGA BAHAN Rp -
C PERALATAN
JUMLAH HARGA PERALATAN Rp -
D JUMLAH (A + B + C) Rp 231.600.000,00
E BIAYA UMUM DAN KEUNTUNGAN = 10% x D Rp 23.160.000,00
F HARGA SATUAN (D + E) Rp 254.760.000,00

6.5.2 Divisi 2 Drainase


Item Pembayaran : 2.1
Jenis Pekerjaan : Galian untuk Selokan Drainase dan Saluran Air
Tabel 6.7 AHS Galian untuk Selokan Drainase dan Saluran Air
DIV 2 DRAINASE
Item Pembayaran : 2,1
Jenis Pekerjaan : Galian untuk Selokan Drainase U Ditch

NO. Komponen Sat. Koefisien Harga Satuan Jumlah


A TENAGA
1 Pekerja Jam 1,004016064 Rp 12.714,29 Rp 12.765,35
2 Tukang Jam 0,100401606 Rp 14.285,71 Rp 1.434,31
3 Mandor Jam 0,100401606 Rp 16.285,71 Rp 1.635,11
JUMLAH HARGA TENAGA Rp 15.834,77
B BAHAN
1 U ditch ukuran 500 x 500 x 1200 pcs 0,149997765 Rp 510.000,00 Rp 76.498,86
JUMLAH HARGA BAHAN Rp 76.498,86
C PERALATAN
1 Flatbed Truck Jam 0,100401606 Rp 609.992,68 Rp 61.244,24
2 Mini Excavator 47 HP Jam 0,023192771 Rp 258.187,82 Rp 5.988,09
3 Dump truck 3,5 T Jam 0,091171009 Rp 365.412,21 Rp 33.315,00
4 Truck crane 3 T Jam 0,168975904 Rp 425.000,00 Rp 71.814,76
5 Alat bantu Ls 1 Rp 1.000,00 Rp 1.000,00
JUMLAH HARGA PERALATAN Rp 173.362,10
D JUMLAH (A + B + C) Rp 265.695,72
E BIAYA UMUM DAN KEUNTUNGAN = 15% x D Rp 39.854,36
F HARGA SATUAN (D + E) Rp 305.550,08

Item Pembayaran : 2.2


Jenis Pekerjaan : Galian untuk Selokan Drainase dan Saluran Air
236

Tabel 6.8 AHS Galian untuk Selokan Drainase dan Saluran Air
Item Pembayaran : 2,2
Jenis Pekerjaan : Galian untuk Gorong-Gorong

NO. Komponen Sat. Koefisien Harga Satuan Jumlah


A TENAGA
1 Pekerja Jam 1,004016064 Rp 12.714,29 Rp 12.765,35
2 Tukang Jam 0,100401606 Rp 14.285,71 Rp 1.434,31
3 Mandor Jam 0,100401606 Rp 16.285,71 Rp 1.635,11
JUMLAH HARGA TENAGA Rp 15.834,77
B BAHAN
Gorong-gorong beton diameter 40 cm pcs 0,284364806 Rp 255.000,00 Rp 72.513,03
JUMLAH HARGA BAHAN Rp 72.513,03
C PERALATAN
1 Flatbed Truck jam 0,100401606 Rp 609.992,68 Rp 61.244,24
2 Mini Excavator 47 HP Jam 0,358825301 Rp 258.187,82 Rp 92.644,32
3 Dump truck 3,5 T Jam 0,498082692 Rp 365.412,21 Rp 182.005,50
4 Truck crane 3 T Jam 0,130522088 Rp 425.000,00 Rp 55.471,89
5 Alat bantu Ls 1 Rp 1.000,00 Rp 1.000,00
JUMLAH HARGA PERALATAN Rp 392.365,95
D JUMLAH (A + B + C) Rp 480.713,75
E BIAYA UMUM DAN KEUNTUNGAN = 15% x D Rp 72.107,06
F HARGA SATUAN (D + E) Rp 552.820,81

6.5.3 Divisi 3 Pekerjaan Tanah


Item Pembayaran : 3.1
Jenis Pekerjaan : Galian biasa, m3
Tabel 6.9 AHS Galian
DIV 3. PEKERJAAN TANAH
Item Pembayaran : 3,1
Jenis Pekerjaan : Galian Biasa, m3

NO. Komponen Sat. Koefisien Harga Satuan Jumlah


A TENAGA
1 Pekerja JAM 0,016934701 Rp 12.714,29 Rp 215,31
2 Mandor JAM 0,004233675 Rp 16.285,71 Rp 68,95
JUMLAH HARGA TENAGA Rp 284,26
B BAHAN
JUMLAH HARGA BAHAN Rp -
C PERALATAN
1 Excavator 80-140 HP jam 0,004233675 Rp 500.194,63 Rp 2.117,66
2 Dump truck 3.5 T jam 0,029908084 Rp 614.377,50 Rp 18.374,85
3 Alat bantu Ls 1 Rp 1.000,00 Rp 1.000,00
JUMLAH HARGA PERALATAN Rp 21.492,52
D JUMLAH (A + B + C) Rp 21.776,78
E BIAYA UMUM DAN KEUNTUNGAN = 15% x D Rp 3.223,88
F HARGA SATUAN (D + E) Rp 25.000,65

Item Pembayaran : 3.2


Jenis Pekerjaan : Timbunan biasa, m3
237

Tabel 6.10 AHS Timbunan


Item Pembayaran : 3,2
Jenis Pekerjaan : Timbunan biasa, m3

NO. Komponen Sat. Koefisien Harga Satuan Jumlah


A TENAGA
1 Pekerja JAM 0,101174345 Rp 12.714,29 Rp 1.286,36
2 Mandor JAM 0,012646793 Rp 16.285,71 Rp 205,96
JUMLAH HARGA TENAGA Rp 1.492,32
B BAHAN
JUMLAH HARGA BAHAN Rp -
C PERALATAN
1 Excavator 80-140 HP Jam 0,004233675 Rp 500.194,00 Rp 2.117,66
2 Dump truck 3.5 T Jam 0,027189167 Rp 614.377,50 Rp 16.704,41
3 Motor grader >100 HP Jam 0,012646793 Rp 529.124,91 Rp 6.691,73
4 Vibro Roller 5-8 T Jam 0,013710603 Rp 326.344,79 Rp 4.474,38
6 Tandem roller 6-8 T Jam 0,010282953 Rp 453.623,79 Rp 4.664,59
6 Water tanker 3000-4500 L Jam 0,014056225 Rp 426.224,19 Rp 5.991,10
7 Alat bantu Ls 1 Rp 1.000,00 Rp 1.000,00
JUMLAH HARGA PERALATAN Rp 41.643,88
D JUMLAH (A + B + C) Rp 43.136,21
E BIAYA UMUM DAN KEUNTUNGAN = 15% x D Rp 6.470,43
F HARGA SATUAN (D + E) Rp 49.606,64

Item Pembayaran : 3.3


Jenis Pekerjaan : Penyiapan Badan Jalan, m2
Tabel 6.11 AHS Penyiapan Badan Jalan
Item Pembayaran : 3,3
Jenis Pekerjaan : Penyiapan Badan Jalan, m2

NO. Komponen Sat. Koefisien Harga Satuan Jumlah


A TENAGA
1 Pekerja JAM 0,075880759 Rp 12.714,29 Rp 964,77
2 Mandor JAM 0,012646793 Rp 16.285,71 Rp 205,96
JUMLAH HARGA TENAGA Rp 1.170,73
B BAHAN
JUMLAH HARGA BAHAN Rp -
C PERALATAN
1 Motor Grader Jam 0,012646793 Rp 529.124,91 Rp 6.691,73
2 Vibro Roller Jam 0,013710603 Rp 326.344,79 Rp 4.474,38
3 Alat Bantu Jam 1 Rp 1.000,00 Rp 1.000,00
JUMLAH HARGA PERALATAN Rp 12.166,12
D JUMLAH (A + B + C) Rp 13.336,85
E BIAYA UMUM DAN KEUNTUNGAN = 15% x D Rp 2.000,53
F HARGA SATUAN (D + E) Rp 15.337,38

Item Pembayaran : 3.4


Jenis Pekerjaan : Pembersihan dan Pengupasan Jalan
238

Tabel 6.10 AHS Pembersihan dan Pengupasan Jalan


Item Pembayaran : 3,4
Jenis Pekerjaan : Pembersihan dan Pengupasan lahan

NO. Komponen Sat. Koefisien Harga Satuan Jumlah


A TENAGA
1 Pekerja JAM 0,055354142 Rp 12.714,29 Rp 703,79
2 Mandor JAM 0,027677071 Rp 16.285,71 Rp 450,74
JUMLAH HARGA TENAGA Rp 1.154,53
B BAHAN
JUMLAH HARGA BAHAN Rp -
C PERALATAN
1 Dump Truck Tronton Jam 0,027677071 Rp 614.377,50 Rp 17.004,17
3 Alat Bantu Ls 1 Rp 1.000,00 Rp 1.000,00
JUMLAH HARGA PERALATAN Rp 18.004,17
D JUMLAH (A + B + C) Rp 19.158,70
E BIAYA UMUM DAN KEUNTUNGAN = 15% x D Rp 2.873,80
F HARGA SATUAN (D + E) Rp 22.032,50

Item Pembayaran : 3.5


Jenis Pekerjaan : Pemotongan pohon pemilihan diameter 30
Tabel 6.12 AHS Pembersihan dan Pengupasan Jalan
Item Pembayaran : 3,5
Jenis Pekerjaan : Pemotongan Pohon Pilihan Diameter 30-50 cm

NO. Komponen Sat. Koefisien Harga Satuan Jumlah


A TENAGA
1 Pekerja JAM 1,283467202 Rp 12.714,29 Rp 16.318,37
2 Mandor JAM 0,130522088 Rp 16.285,71 Rp 2.125,65
JUMLAH HARGA TENAGA Rp 18.444,01
B BAHAN
JUMLAH HARGA BAHAN Rp -
C PERALATAN
1 Excavator Jam 0,021753681 Rp 500.194,63 Rp 10.881,07
2 Dump Truck Tronton Jam 0,068845136 Rp 614.377,50 Rp 42.296,90
3 Chainsaw Jam 0,843373494 Rp 36.875,00 Rp 31.099,40
4 Alat Bantu Ls 1 Rp 1.000,00 Rp 1.000,00
JUMLAH HARGA PERALATAN Rp 85.277,37
D JUMLAH (A + B + C) Rp 103.721,39
E BIAYA UMUM DAN KEUNTUNGAN = 15% x D Rp 15.558,21
F HARGA SATUAN (D + E) Rp 119.279,60

6.5.4 Divisi 4 Pelebaran dan Perkerasan Bahu Jalan


Item Pembayaran : 4.1
Jenis Pekerjaan : Lapis pondasi atas agregat kelas A, m3
239

Tabel 6.13 AHS Lapis pondasi atas agregat kelas A


DIV 4. PELEBARAN PERKERASAN DAN BAHU JALAN
Item Pembayaran : 4.1
Jenis Pekerjaan : Lapis pondasi atas agregat kelas A, m3

NO. Komponen Sat. Koefisien Harga Satuan Jumlah


A TENAGA
1 Pekerja JAM 0,05802803 Rp 12.714,29 Rp 737,78
3 Mandor JAM 0,007253504 Rp 16.285,71 Rp 118,13
JUMLAH HARGA TENAGA Rp 855,91
B BAHAN
1 Agregat Kelas A m3 1,295892857 Rp 725.181,00 Rp 939.756,88
JUMLAH HARGA BAHAN Rp 939.756,88
C PERALATAN
1 Wheel loader 1.0-1.6 M3 Jam 0,007253504 Rp 538.267,20 Rp 3.904,32
2 Dump truck 3.5 T Jam 0,18941717 Rp 614.377,50 Rp 116.373,65
3 Motor Grader >100 HP Jam 0,012646793 Rp 529.124,91 Rp 6.691,73
4 Tandem Roller Jam 0,007625438 Rp 519.129,74 Rp 3.958,59
5 Alat bantu ls 1 Rp 1.000,00 Rp 1.000,00
JUMLAH HARGA PERALATAN Rp 131.928,30
D JUMLAH (A + B + C) Rp 1.072.541,09
E BIAYA UMUM DAN KEUNTUNGAN = 15% x D Rp 160.881,16
F HARGA SATUAN (D + E) Rp 1.233.422,25

Item Pembayaran : 4.2


Jenis Pekerjaan : Lapis pondasi atas agregat kelas S, m3
Tabel 6.14 AHS Lapis pondasi atas agregat kelas S
Item Pembayaran : 4,2
Jenis Pekerjaan : Lapis pondasi atas agregat kelas S, m3

NO. Komponen Sat. Koefisien Harga Satuan Jumlah


A TENAGA
1 Pekerja JAM 0,05802803 Rp 12.714,29 Rp 737,78
3 Mandor JAM 0,007253504 Rp 16.285,71 Rp 118,13
JUMLAH HARGA TENAGA Rp 855,91
B BAHAN
1 Agregat Kelas S m3 1,295892857 Rp 699.745,00 Rp 906.794,55
JUMLAH HARGA BAHAN Rp 906.794,55
C PERALATAN
1 Wheel loader 1.0-1.6 M3 Jam 0,007253504 Rp 538.267,20 Rp 3.904,32
2 Dump truck 3.5 T Jam 0,18941717 Rp 614.377,50 Rp 116.373,65
3 Motor Grader >100 HP Jam 0,012646793 Rp 529.124,91 Rp 6.691,73
4 Tandem Roller Jam 0,007625438 Rp 519.129,74 Rp 3.958,59
5 Alat bantu ls 1 Rp 1.000,00 Rp 1.000,00
JUMLAH HARGA PERALATAN Rp 131.928,30
D JUMLAH (A + B + C) Rp 1.039.578,76
E BIAYA UMUM DAN KEUNTUNGAN = 15% x D Rp 155.936,81
F HARGA SATUAN (D + E) Rp 1.195.515,57

6.5.5 Divisi 5 Pekerjaan Berbutir


Item Pembayaran : 5.1
Jenis Pekerjaan : LPA
240

Tabel 6.15 AHS LPA


DIV 5. PEKERJAAN BERBUTIR
Item Pembayaran : 5,1
Jenis Pekerjaan : LPA

NO. Komponen Sat. Koefisien Harga Satuan Jumlah


A TENAGA
1 Pekerja Jam 0,05802803 Rp 12.714,29 Rp 737,78
3 Mandor Jam 0,007253504 Rp 162.857,14 Rp 1.181,28
JUMLAH HARGA TENAGA Rp 1.919,07
B BAHAN
1 Agregat M3 1,295892857 Rp 724.062,00 Rp 938.306,77
JUMLAH HARGA BAHAN Rp 938.306,77
C PERALATAN
1 Wheel Loader Jam 0,007253504 Rp 538.267,20 Rp 3.904,32
2 Dump Truck Tronton Jam 0,18941717 Rp 614.377,50 Rp 116.373,65
3 Motor Grader >100 HP Jam 0,012646793 Rp 529.124,91 Rp 6.691,73
4 Vibro Roller Jam 0,013710603 Rp 326.344,79 Rp 4.474,38
5 Alat bantu Ls 1 Rp 1.000,00 Rp 1.000,00
JUMLAH HARGA PERALATAN Rp 132.444,09
D JUMLAH (A + B + C) Rp 1.072.669,93
E BIAYA UMUM DAN KEUNTUNGAN = 15% x D Rp 160.900,49
F HARGA SATUAN (D + E) Rp 1.233.570,42

6.5.6 Divisi 6 Pekerjaan Aspal


Item Pembayaran : 6.1
Jenis Pekerjaan : Lapis resap pengikat
Tabel 6.16 AHS Lapis Resap Pengikat
DIV 6. PERKERASAN ASPAL
Item Pembayaran : 6.1 dan 6.2
Jenis Pekerjaan : Lapis Resap Pengikat

NO. Komponen Sat. Koefisien Harga Satuan Jumlah


A TENAGA
1 Pekerja Jam 0,000354359 Rp 12.714,29 Rp 4,51
2 Mandor Jam 2,36239E-05 Rp 16.285,71 Rp 0,38
JUMLAH HARGA TENAGA Rp 4,89
B BAHAN
2 Aspal Emulsi CSS-1 atau SS-1 (M31a) liter 1,538461538 Rp 10.600,00 Rp 16.307,69
JUMLAH HARGA BAHAN Rp 16.307,69
C PERALATAN
1 Asphalt Distributor : Dump truck : 7 ton Jam 2,36239E-05 Rp 388.585,84 Rp 9,18
2 Air Compressor (E05) Jam 2,36239E-05 Rp 180.868,91 Rp 4,27
JUMLAH HARGA PERALATAN Rp 13,45
D JUMLAH (A + B + C) Rp 16.326,04
E BIAYA UMUM DAN KEUNTUNGAN = 15% x D Rp 2.448,91
F HARGA SATUAN (D + E) Rp 18.774,94

Item Pembayaran : 6.2


Jenis Pekerjaan : Lapis resap perekat
241

Tabel 6.17 AHS Lapis Resap Perekat


DIV 6. PERKERASAN ASPAL
Item Pembayaran : 6.1 dan 6.2
Jenis Pekerjaan : Lapis Resap Pengikat

NO. Komponen Sat. Koefisien Harga Satuan Jumlah


A TENAGA
1 Pekerja Jam 0,000354359 Rp 12.714,29 Rp 4,51
2 Mandor Jam 2,36239E-05 Rp 16.285,71 Rp 0,38
JUMLAH HARGA TENAGA Rp 4,89
B BAHAN
2 Aspal Emulsi CSS-1 atau SS-1 (M31a) liter 1,538461538 Rp 10.600,00 Rp 16.307,69
JUMLAH HARGA BAHAN Rp 16.307,69
C PERALATAN
1 Asphalt Distributor : Dump truck : 7 ton Jam 2,36239E-05 Rp 388.585,84 Rp 9,18
2 Air Compressor (E05) Jam 2,36239E-05 Rp 180.868,91 Rp 4,27
JUMLAH HARGA PERALATAN Rp 13,45
D JUMLAH (A + B + C) Rp 16.326,04
E BIAYA UMUM DAN KEUNTUNGAN = 15% x D Rp 2.448,91
F HARGA SATUAN (D + E) Rp 18.774,94

Item Pembayaran : 6.3


Jenis Pekerjaan : Laston Lapis Aus (AC-WC)

Tabel 6.18 AHS Laston Lapis Aus (AC-WC)


Item Pembayaran : 6,3
Jenis Pekerjaan : Laston lapis aus(AC-WC)

NO. Komponen Sat. Koefisien Harga Satuan Jumlah


A TENAGA
1 Pekerja JAM 0,240963855 Rp 12.714,29 Rp 3.063,68
2 Mandor JAM 0,020080321 Rp 16.285,71 Rp 327,02
JUMLAH HARGA TENAGA Rp 3.390,71
B BAHAN
1 Lolos screen ukuran (5-10) M3 0,334098425 Rp 150.288,00 Rp 50.210,98
2 Lolos screen ukuran (0-5) M3 0,42360687 Rp 169.813,00 Rp 71.933,95
3 Semen 40 kg / zakk Kg 9,588 Rp 68.439,00 Rp 656.193,13
4 Aspal Kg 59,16 Rp 15.301,00 Rp 905.207,16
JUMLAH HARGA BAHAN Rp 122.144,94
C PERALATAN
1 Wheel Loader Jam 0,012819175 Rp 538.267,20 Rp 6.900,14
2 AMP Jam 0,020080321 Rp 9.164.493,00 Rp 184.025,96
3 Genset hari 0,020080321 Rp 1.416.666,67 Rp 28.447,12
4 Dump Truck Jam 0,094528112 Rp 614.377,50 Rp 58.075,95
5 Asp. Finisher Jam 0,012125798 Rp 146.607,00 Rp 1.777,73
6 Tandem Roller Jam 0,028595394 Rp 519.129,74 Rp 14.844,72
7 P. Tyre Roller Jam 0,022922741 Rp 561.203,11 Rp 12.864,31
8 Alat Bantu Ls 1 Rp 1.000,00 Rp 1.000,00
JUMLAH HARGA PERALATAN Rp 307.935,93
D JUMLAH (A + B + C) Rp 433.471,58
E BIAYA UMUM DAN KEUNTUNGAN = 15% x D Rp 65.020,74
F HARGA SATUAN (D + E) Rp 498.492,31

Item Pembayaran : 6.4


Jenis Pekerjaan : Laston Lapis Antara (AC-BC)
242

Tabel 6.19 AHS Laston Lapis Antara (AC-BC)


Item Pembayaran : 6,4
Jenis Pekerjaan : Laston Lapis Antara (AC-BC)

NO. Komponen Sat. Koefisien Harga Satuan Jumlah


A TENAGA
1 Pekerja JAM 0,240963855 Rp 12.714,29 Rp 3.063,68
2 Mandor JAM 0,020080321 Rp 16.285,71 Rp 327,02
JUMLAH HARGA TENAGA Rp 3.390,71
B BAHAN
1 Lolos screen ukuran (5-10) M3 0,334098425 Rp 150.288,00 Rp 50.210,98
2 Lolos screen ukuran (0-5) M3 0,42360687 Rp 169.813,00 Rp 71.933,95
3 Semen 40 kg / zakk Kg 9,588 Rp 68.439,00 Rp 656.193,13
4 Aspal Kg 59,16 Rp 15.301,00 Rp 905.207,16
JUMLAH HARGA BAHAN Rp 1.683.545,23
C PERALATAN
1 Wheel Loader Jam 0,012819175 Rp 538.267,20 Rp 6.900,14
2 AMP Jam 0,020080321 Rp 9.164.493,00 Rp 184.025,96
3 Genset hari 0,020080321 Rp 1.416.666,67 Rp 28.447,12
4 Dump Truck Jam 0,094528112 Rp 614.377,50 Rp 58.075,95
5 Asp. Finisher Jam 0,012125798 Rp 146.607,00 Rp 1.777,73
6 Tandem Roller Jam 0,028595394 Rp 519.129,74 Rp 14.844,72
7 P. Tyre Roller Jam 0,022922741 Rp 561.203,11 Rp 12.864,31
8 Alat Bantu Ls 1 Rp 1.000,00 Rp 1.000,00
JUMLAH HARGA PERALATAN Rp 307.935,93
D JUMLAH (A + B + C) Rp 1.994.871,87
E BIAYA UMUM DAN KEUNTUNGAN = 15% x D Rp 299.230,78
F HARGA SATUAN (D + E) Rp 2.294.102,65

Item Pembayaran : 6.5


Jenis Pekerjaan : Laston Lapis Pondasi (AC-Base)

Tabel 6.20 AHS Laston Lapis Pondasi (AC-Base)


Item Pembayaran : 6,5
Jenis Pekerjaan : Laston Lapis Pondasi (AC-Base)

NO. Komponen Sat. Koefisien Harga Satuan Jumlah


A TENAGA
1 Pekerja JAM 0,240963855 Rp 12.714,29 Rp 3.063,68
2 Mandor JAM 0,020080321 Rp 16.285,71 Rp 327,02
JUMLAH HARGA TENAGA Rp 3.390,71
B BAHAN
1 Lolos screen ukuran (5-10) M3 0,334098425 Rp 150.288,00 Rp 50.210,98
2 Lolos screen ukuran (0-5) M3 0,42360687 Rp 169.813,00 Rp 71.933,95
3 Semen 40 kg / zakk Kg 9,588 Rp 68.439,00 Rp 656.193,13
4 Aspal Kg 59,16 Rp 15.301,00 Rp 905.207,16
JUMLAH HARGA BAHAN Rp 1.683.545,23
C PERALATAN
1 Wheel Loader Jam 0,012819175 Rp 538.267,20 Rp 6.900,14
2 AMP Jam 0,020080321 Rp 9.164.493,00 Rp 184.025,96
3 Genset hari 0,020080321 Rp 1.416.666,67 Rp 28.447,12
4 Dump Truck Jam 0,094528112 Rp 614.377,50 Rp 58.075,95
5 Asp. Finisher Jam 0,012125798 Rp 146.607,00 Rp 1.777,73
6 Tandem Roller Jam 0,028595394 Rp 519.129,74 Rp 14.844,72
7 P. Tyre Roller Jam 0,022922741 Rp 561.203,11 Rp 12.864,31
8 Alat Bantu Ls 1 Rp 1.000,00 Rp 1.000,00
JUMLAH HARGA PERALATAN Rp 307.935,93
D JUMLAH (A + B + C) Rp 1.994.871,87
E BIAYA UMUM DAN KEUNTUNGAN = 15% x D Rp 299.230,78
F HARGA SATUAN (D + E) Rp 2.294.102,65

6.5.7 Divisi 7 Pengembalian Kondisi dan Pekerjaan Minor


Item Pembayaran : 7.1
243

Jenis Pekerjaan : Marka Jalan Termoplastik


Tabel 6.21 AHS Marka Jalan Termoplastik
DIV 7 PENGEMBALIAN KONDISI DAN PEKERJAAN MINOR
Item Pembayaran : 7,1
Jenis Pekerjaan : Marka Jalan Termoplastik

NO. Komponen Sat. Koefisien Harga Satuan Jumlah


A TENAGA
1 Pekerja jam 0,155774614 Rp 12.714,29 Rp 1.980,56
2 Mandor jam 0,015577461 Rp 16.285,71 Rp 253,69
JUMLAH HARGA TENAGA Rp 2.234,25
B BAHAN
1 Cat Marka kg 3,2895 Rp 71.000,00 Rp 233.554,50
3 Glass Bead kg 0,459 Rp 15.000,00 Rp 6.885,00
JUMLAH HARGA BAHAN Rp 240.439,50
C PERALATAN
1 Thermoplastic Road Marking Machine jam 0,015577461 Rp 101.606,36 Rp 1.582,77
2 Compressor sedang jam 0,015577461 Rp 180.868,91 Rp 2.817,48
3 Truck 2 ton jam 0,015577461 Rp 287.663,48 Rp 4.481,07
4 Alat Bantu Ls 1 Rp 1.000,00 Rp 1.000,00
JUMLAH HARGA PERALATAN Rp 9.881,31
D JUMLAH (A + B + C) Rp 252.555,07
E BIAYA UMUM DAN KEUNTUNGAN = 15% x D Rp 37.883,26
F HARGA SATUAN (D + E) Rp 290.438,33

Item Pembayaran : 7.2


Jenis Pekerjaan : Patok kilometer
Tabel 6.22 AHS Patok kilometer
Item Pembayaran : 7,2
Jenis Pekerjaan : Patok kilometer

NO. Komponen Sat. Koefisien Harga Satuan Jumlah


A TENAGA
1 Pekerja Jam 0,10904223 Rp 12.714,29 Rp 1.386,39
2 Tukang Jam 0,031154923 Rp 14.285,71 Rp 445,07
3 Mandor Jam 0,015577461 Rp 16.285,71 Rp 253,69
JUMLAH HARGA TENAGA Rp 2.085,15
B BAHAN
1 Beton K175 M3 1 Rp 245.000,00 Rp 245.000,00
2 Baja Tulangan buah 1 Rp 17.700,00 Rp 17.700,00
3 Cat dan material lannya Ls 1 Rp 20.000,00 Rp 20.000,00
JUMLAH HARGA BAHAN Rp 282.700,00
C PERALATAN
1 Flat bed truck jam 0,281124498 Rp 609.992,68 Rp 171.483,89
2 Alat Bantu ls 1 Rp 1.000,00 Rp 1.000,00
JUMLAH HARGA PERALATAN Rp 172.483,89
D JUMLAH (A + B + C) Rp 285.785,15
E BIAYA UMUM DAN KEUNTUNGAN = 15% x D Rp 42.867,77
F HARGA SATUAN (D + E) Rp 328.652,93

Item Pembayaran : 7.3


Jenis Pekerjaan : Rambu Jalan Tunggal dengan Permukaan
Pemantul Engineering Grade
244

Tabel 6.23 AHS Rambu Jalan Tunggal dengan Permukaan Pemantul


Engineering Grade
Item Pembayaran : 7,3
Jenis Pekerjaan : Rambu Jalan Tunggal dengan Permukaan Pemantul Engineering Grade

NO. Komponen Sat. Koefisien Harga Satuan Jumlah


A TENAGA
1 Pekerja jam 0,10904223 Rp 12.714,29 Rp 1.386,39
2 Tukang jam 0,031154923 Rp 14.285,71 Rp 445,07
3 Mandor jam 0,015577461 Rp 16.285,71 Rp 253,69
JUMLAH HARGA TENAGA Rp 2.085,15
B BAHAN
1 Pelat Rambu Jadi (Engineering Grade) Ls 1 Rp 1.354.940,00 Rp 1.354.940,00
2 Pipa Galvanis 3,2mm Ls 1 Rp 358.000,00 Rp 358.000,00
3 Cat Ls 1 Rp 10.000,00 Rp 10.000,00
JUMLAH HARGA BAHAN Rp 1.722.940,00
C PERALATAN
1 Flat bed truck jam 0,281124498 Rp 609.992,68 Rp 171.483,89
2 Alat Bantu ls 1 Rp 1.000,00 Rp 1.000,00
JUMLAH HARGA PERALATAN Rp 172.483,89
D JUMLAH (A + B + C) Rp 1.897.509,04
E BIAYA UMUM DAN KEUNTUNGAN = 15% x D Rp 284.626,36
F HARGA SATUAN (D + E) Rp 2.182.135,40

Item Pembayaran : 7.4


Jenis Pekerjaan : Rel pengaman
Tabel 6.24 AHS Rel Pengaman
Item Pembayaran : 7,4
Jenis Pekerjaan : Rel Pengaman

NO. Komponen Sat. Koefisien Harga Satuan Jumlah


A TENAGA
1 Pekerja jam 0,10904223 12714,28571 Rp 1.386,39
2 Tukang jam 0,031154923 14285,71429 Rp 445,07
3 Mandor jam 0,015577461 16285,71429 Rp 253,69
JUMLAH HARGA TENAGA Rp 2.085,15
B BAHAN
1 Rel Pengaman M' 1 Rp 425.000,00 Rp 425.000,00
2 Patok Beton K-175 m3 1 Rp 245.000,00 Rp 245.000,00
3 Baja Tulangan buah 1 Rp 17.700,00 Rp 17.700,00
4 Baut, dan material lain buah 1 Rp 20.000,00 Rp 20.000,00
JUMLAH HARGA BAHAN Rp 707.700,00
C PERALATAN
1 Flat bed truck jam 0,281124498 Rp 609.992,68 Rp 171.483,89
2 Alat Bantu ls 1 Rp 1.000,00 Rp 1.000,00
JUMLAH HARGA PERALATAN Rp 172.483,89
D JUMLAH (A + B + C) Rp 882.269,04
E BIAYA UMUM DAN KEUNTUNGAN = 15% x D Rp 132.340,36
F HARGA SATUAN (D + E) Rp 1.014.609,40

Item Pembayaran : 7.5


Jenis Pekerjaan : Lampu jalan
245

Tabel 6.25 AHS Lampu jalan


Item Pembayaran : 7,5
Jenis Pekerjaan : Lampu Jalan

NO. Komponen Sat. Koefisien Harga Satuan Jumlah


A TENAGA
1 Pekerja jam 0,10904223 Rp 12.714,29 Rp 1.386,39
2 Tukang jam 0,031154923 Rp 14.285,71 Rp 445,07
3 Mandor jam 0,015577461 Rp 16.285,71 Rp 253,69
JUMLAH HARGA TENAGA Rp 2.085,15
B BAHAN
1 Tiang Galvanis buah 1 Rp 358.000,00 Rp 358.000,00
2 NVM 2 x 2,5 mm buah 1 Rp 13.500,00 Rp 13.500,00
3 Beton K-175 m3 1 Rp 245.000,00 Rp 245.000,00
JUMLAH HARGA BAHAN Rp 616.500,00
C PERALATAN
1 Flat bed truck jam 0,281124498 Rp 609.992,68 Rp 171.483,89
2 Alat Bantu ls 1 Rp 1.000,00 Rp 1.000,00
JUMLAH HARGA PERALATAN Rp 172.483,89
D JUMLAH (A + B + C) Rp 791.069,04
E BIAYA UMUM DAN KEUNTUNGAN = 15% x D Rp 118.660,36
F HARGA SATUAN (D + E) Rp 909.729,40

Item Pembayaran : 7.6


Jenis Pekerjaan : Median
Tabel 6.26 AHS Median
Item Pembayaran : 7,6
Jenis Pekerjaan : Median

NO. Komponen Sat. Koefisien Harga Satuan Jumlah


A TENAGA
1 Pekerja jam 0,10904223 Rp 12.714,29 Rp 1.386,39
2 Tukang jam 0,031154923 Rp 14.285,71 Rp 445,07
3 Mandor jam 0,015577461 Rp 16.285,71 Rp 253,69
JUMLAH HARGA TENAGA Rp 2.085,15
B BAHAN
1 Median Jalan buah 1 Rp 926.600,00 Rp 926.600,00
JUMLAH HARGA BAHAN Rp 926.600,00
C PERALATAN
1 Flat bed truck jam 0,031154923 Rp 609.992,68 Rp 19.004,27
2 Alat Bantu ls 1 Rp 1.000,00 Rp 1.000,00
JUMLAH HARGA PERALATAN Rp 20.004,27
D JUMLAH (A + B + C) Rp 948.689,43
E BIAYA UMUM DAN KEUNTUNGAN = 15% x D Rp 142.303,41
F HARGA SATUAN (D + E) Rp 1.090.992,84

6.6 Rencana Anggaran Biaya


246

Tabel 6.27 Rencana Anggaran Biaya


Rencana Anggaran Biaya

KEGIATAN : Pembangunan jalan penghubung bagi Jalan Lintas Barat dan Jalan Lintas Tengah Pulau Sumatera
VOLUME :
KABUPATEN : Pidie, Aceh

HARGA SATUAN JUMLAH


NO URAIAN SAT. Koefisien Rp Rp
a b c d e f

DIV 1. UMUM
1,1 Mobilisasi dan demobilisasi Ls 1 Rp 149.042.852,00 Rp 149.042.852,00
1,2 Manajemen Mutu Ls 1 Rp 254.760.000,00 Rp 254.760.000,00
Jumlah Harga Pekerjaan Divisi 1 (masuk pada Rekpaitulasi Rencana Anggaran Biaya) Rp 403.802.852,00
DIV 2. DRAINASE
2,1 U ditch ukuran 500 x 500 x 1200 m3 1006,635 Rp 305.550,08 Rp 307.577.405,96
2,2 Gorong-gorong beton diameter 40 cm m3 44,077 Rp 552.820,81 Rp 24.366.431,14
Jumlah Harga Pekerjaan Divisi 2 (masuk pada Rekpaitulasi Rencana Anggaran Biaya) Rp 331.943.837,10
DIV 3. PEKERJAAN TANAH
3,1 Galian Biasa m3 450153,9989 Rp 25.000,65 Rp [Link],66
3,2 Timbunan biasa m3 285972,1374 Rp 49.606,64 Rp [Link],75
3,3 Penyiapan Badan Jalan m3 47569,99918 Rp 15.337,38 Rp 729.598.979,64
3,4 Pembersihan dan Pengupasan lahan m2 82544,07 Rp 22.032,50 Rp [Link],69
3,5 Pemotongan Pohon Pilihan Diameter 30-50 cm m2 82544,07 Rp 119.279,60 Rp [Link],61
Jumlah Harga Pekerjaan Divisi 3 (masuk pada Rekpaitulasi Rencana Anggaran Biaya) Rp [Link],34
DIV 4. PELEBARAN DAN PERKERASAN BAHU JALAN
4,1 Lapis pondasi atas agregat kelas A m3 4952,6442 Rp 1.233.422,25 Rp [Link],62
4,2 Lapis pondasi atas agregat kelas S m3 2415,924 Rp 1.195.515,57 Rp [Link],14
Jumlah Harga Pekerjaan Divisi 4 (masuk pada Rekpaitulasi Rencana Anggaran Biaya) Rp [Link],75
DIV 5. PEKERJAAN BERBUTIR
5,1 Lapis pondasi agregat bawah kelas A m3 19931,373 1.233.570,42 Rp [Link],47
Jumlah Harga Pekerjaan Divisi 5 (masuk pada Rekpaitulasi Rencana Anggaran Biaya) Rp [Link],47
DIV 6. PEKERJAAN ASPAL
6,1 Lapis Resap Pengikat-Aspal Cair Liter 664,3791 Rp 18.774,94 Rp 12.473.678,06
6,2 Lapis Perekat- Aspal Cair Liter 664,3791 Rp 18.774,94 Rp 12.473.678,06
6,3 Laston lapis aus(AC-WC) Ton 1107,2985 Rp 498.492,31 Rp 551.979.789,28
6,4 Laston Lapis Antara (AC-BC) Ton 1660,94775 Rp 2.294.102,65 Rp [Link],05
6,5 Laston Lapis Pondasi (AC-Base) Ton 5813,317125 Rp 2.294.102,65 Rp [Link],67
Jumlah Harga Pekerjaan Divisi 6 (masuk pada Rekpaitulasi Rencana Anggaran Biaya) Rp [Link],12
DIV 7. PENGEMBALIAN KONDISI DAN PEKERJAAN MINOR
7,1 Marka Jalan Termoplastik m2 1984,509 Rp 290.438,33 Rp 576.377.474,84
7,2 Patok kilometer buah 5 Rp 328.652,93 Rp 1.643.264,64
7,3 Rambu Jalan Tunggal dengan Permukaan Pemantul Engineering Grade buah 16 Rp 2.182.135,40 Rp 34.914.166,34
7,4 Pagar Pengaman m 1.776,54 Rp 1.014.609,40 Rp [Link],22
7,5 Lampu Jalan buah 174 Rp 909.729,40 Rp 158.292.914,99
7,6 Median buah 114 Rp 1.090.992,84 Rp 124.373.184,18
Jumlah Harga Pekerjaan Divisi 7 (masuk pada Rekpaitulasi Rencana Anggaran Biaya) Rp [Link],20

6.7 Rekapitulasi RAB


Tabel 6.28 Rekapitulasi RAB
NO Item Pekerjaan Jumlah Harga Penawaran
1 DIV. 1 U M U M Rp 403.802.852,00
2 DIV. 2 DRAINASE Rp 331.943.837,10
3 DIV. 3 PEKERJAAN TANAH Rp [Link],34
4 DIV 4. PELEBARAN DAN PERKERASAN BAHU JALAN Rp [Link],75
5 DIV 5. PEKERJAAN BERBUTIR Rp [Link],47
6 DIV 6. PERKERASAN ASPAL Rp [Link],12
7 DIV. 7 PENGEMBALIAN KONDISI DAN PEKERJAAN MINOR Rp [Link],20
TOTAL PEKERJAAN Rp [Link],99
247

6.8 Kurvas S
Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4 Bulan 5 Bulan 6 Bulan 7 Bulan 8 Bulan 9 Bulan 10 Bulan 11 Bulan 12
No Uraian Pekerjaan Jumlah Harga Bobot Volume
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
I Umum
1 Mobilisasi dan demobilisasi Rp 149,042,852.00 0.16% 1 0.04% 0.04% 0.04% 0.04%
2 Manajemen Mutu Rp 254,760,000.00 0.28% 1 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01% 0.01%
II Drainase
1 U ditch ukuran 500 x 500 x 1200 Rp 307,577,405.96 0.33% 1006.635 0.06% 0.06% 0.06% 0.06% 0.06% 0.06%
2 Gorong-gorong beton diameter 40 cm Rp 24,366,431.14 0.03% 44.07654493 0.01% 0.01% 0.01%
III Pekerjaan Tanah
1 Galian Biasa Rp 11,254,144,149.66 12.16% 450153.9989 1.11% 1.11% 1.11% 1.11% 1.11% 1.11% 1.11% 1.11% 1.11% 1.11% 1.11%
2 Timbunan biasa Rp 14,186,115,698.75 15.32% 285972.1374 1.92% 1.92% 1.92% 1.92% L 1.92% 1.92% 1.92% 1.92%
3 Penyiapan Badan Jalan Rp 729,598,979.64 0.79% 47569.99918 I 0.79%
4 Pembersihan dan Pengupasan lahan Rp 1,818,652,518.69 1.96% 82544.07 0.49% 0.49% 0.49% 0.49% B
5 Pemotongan Pohon Pilihan Diameter 30-50 cm Rp 9,845,823,419.61 10.64% 82544.07 1.33% 1.33% 1.33% 1.33% 1.33% 1.33% 1.33% 1.33% U
IV Pelebaran dan Perkerasan Bahu Jalan R
1 Lapis pondasi atas agregat kelas A Rp 6,108,701,554.62 6.60% 4952.6442 0.41% 0.41% 0.41% 0.41% 0.41% 0.41% 0.41% 0.41% 0.41% 0.41% 0.41% 0.41% 0.41% 0.41% 0.41% 0.41%
2 Lapis pondasi atas agregat kelas S Rp 2,888,274,758.14 3.12% 2415.924 H 0.24% 0.24% 0.24% 0.24% 0.24% 0.24% 0.24% 0.24% 0.24% 0.24% 0.24% 0.24% 0.24%
V Pekerjaan Berbutir A PHO
1 Lapis pondasi agregat bawah kelas A Rp 24,586,752,192.47 26.56% 19931.373 R 1.66% 1.66% 1.66% 1.66% 1.66% 1.66% 1.66% 1.66% 1.66% 1.66% 1.66% 1.66% 1.66% 1.66% 1.66% 1.66%
VI Pekerjaan Aspal I
1 Lapis Resap Pengikat-Aspal Cair Rp 12,473,678.06 0.01% 664.3791 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00%
2 Lapis Perekat- Aspal Cair Rp 12,473,678.06 0.01% 664.3791 R 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00%
3 Laston lapis aus(AC-WC) Rp 551,979,789.28 0.60% 1107.2985 A 0.03% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03%
Y
4 Laston Lapis Antara (AC-BC) Rp 3,810,384,631.05 4.12% 1660.94775 0.20% 0.20% 0.20% 0.20% 0.20% 0.20% 0.20% 0.20% 0.20% 0.20% 0.20% 0.20% 0.20% 0.20% 0.20% 0.20% 0.20% 0.20% 0.20% 0.20% 0.20%
A
5 Laston Lapis Pondasi (AC-Base) Rp 13,336,346,208.67 14.41% 5813.317125 0.69% 0.69% 0.69% 0.69% 0.69% 0.69% 0.69% 0.69% 0.69% 0.69% 0.69% 0.69% 0.69% 0.69% 0.69% 0.69% 0.69% 0.69% 0.69% 0.69% 0.69%
VII Pekerjaan Aspal
1 Marka Jalan Termoplastik Rp 576,377,474.84 0.62% 1984.509 0.31% 0.31%
2 Patok kilometer Rp 1,643,264.64 0.00% 5 0.00% 0.00%
3 Rambu Jalan Tunggal dengan Permukaan Pemantul Engineering Grade Rp 34,914,166.34 0.04% 16 0.04%
4 Pagar Pengaman Rp 1,802,494,177.22 1.95% 1776.54 0.97% 0.97%
5 Lampu Jalan dan median Rp 158,292,914.99 0.17% 174 0.17%
6 Median Rp 124,373,184.18 0.13% 114 0.07% 0.07%
TOTAL Rp 92,575,563,127.99 100.00% 0
Bobot Rencana Mingguan [%] 0.05% 0.05% 0.05% 0.54% 1.83% 1.83% 1.83% 2.44% 2.44% 2.44% 4.36% 4.36% 3.03% 3.03% 0.00% 3.08% 3.08% 3.08% 3.88% 1.73% 2.14% 2.99% 2.99% 3.23% 3.23% 3.23% 3.23% 3.23% 3.23% 3.23% 3.23% 3.23% 3.23% 3.23% 3.23% 1.57% 0.92% 0.92% 0.92% 0.92% 0.92% 0.92% 1.29% 1.36% 0.24% 0.04% 0.01% 0.00%
Bobot Rencana Kumulatif [%] 0.05% 0.09% 0.14% 0.68% 2.50% 4.33% 6.16% 8.60% 11.04% 13.48% 17.83% 22.19% 25.22% 28.24% 28.24% 31.32% 34.41% 37.49% 41.37% 43.10% 45.24% 48.23% 51.22% 54.45% 57.67% 60.90% 64.13% 67.36% 70.59% 73.82% 77.05% 80.28% 83.50% 86.73% ###### 91.53% 92.45% 93.36% 94.28% 95.20% 96.11% 97.03% 98.32% 99.68% 99.92% 99.97% 100% 100%

Gambar 6.21 Grafik Kurva S


248

6.9 Time Schedule


Tabel 6.29 Time Schedule
Durasi
No Uraian Pekerjaan
Minggu
I Umum
1 Mobilisasi dan demobilisasi 4
2 Manajemen Mutu 46
II Drainase
1 U-Ditch Ukuran 500 x 500 x 1200 6
2 Gorong-gorong beton diameter 40 3
III Pekerjaan Tanah
1 Galian Biasa 11
2 Timbunan biasa 8
3 Penyiapan Badan Jalan 1
4 Pembersihan dan Pengupasan lahan 4
5 Pemotongan Pohon Pilihan Diameter 30-50 cm 8
IV Pelebaran dan Perkerasan Bahu Jalan
1 Lapis pondasi atas agregat kelas A 16
2 Lapis pondasi atas agregat kelas S 13
V Pekerjaan Berbutir
1 Lapis pondasi agregat bawah kelas A 16
VI Pekerjaan Aspal
1 Lapis Resap Pengikat-Aspal Cair 21
2 Lapis Perekat- Aspal Cair 21
3 Laston lapis aus(AC-WC) 21
4 Laston Lapis Antara (AC-BC) 21
5 Laston Lapis Pondasi (AC-Base) 21
VII Pekerjaan Aspal
1 Marka Jalan Termoplastik 2
2 Patok kilometer 2
3 Rambu Jalan Tunggal dengan Permukaan Pemantul Engineering Grade 1
4 Pagar Pengaman 2
5 Lampu Jalan 1
6 Median 2
249

KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa anggaran biaya


konstruksi Pembangunan Jalan di Aceh, didapat hasil penjumlahan biaya standar
dan non standar yang berdasarkan syarat teknis Jalan Raya, maka didapat Rencana
Anggaran Biaya sebesar Rp92.575.563.127,99 dengan waktu pelaksanaan selama
46 minggu.
BAB VII
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

7.1 SYARAT-SYARAT UMUM


PASAL 1
PERATURAN UMUM
Tata Laksana dalam penyelenggaraan proyek ini, dilaksanakan berdasarkan
Peraturan-Peraturan dan Ketentuan-Ketentuan sebagai berikut :

1. Semua Peraturan-Peraturan dan Ketentuan-Ketentuan yang tercantum dalam :

a. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 1984 tentang


Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Keputusan
Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1988 tentang pencabutan
beberapa Keputusan mengenai Pengadaan Barang dan Jasa.
b. INPRES No. 1 Tahun 1988 tentang Tata Cara Pengadaan Barang dan Jasa.

PASAL 2
PEMBERI TUGAS PEKERJAAN
Pemberi Tugas Pekerjaan ini ialah Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi
Aceh selaku Penanggung Jawab Proyek. Pemimpin Proyek dijabat oleh Kepala
Seksi Jalan dan Jembatan Provinsi Aceh.

PASAL 3
PERENCANA
Perencana dari pekerjaan ini ialah, Seksi Bina Program Dinas Pekerjaan
Umum Provinsi Aceh.

250
250

PASAL 4
DIREKSI PEKERJAAN
Yang bertindak sebagai Direksi Pekerjaan ialah Badan Pengawas
Pembangunan Provinsi Aceh.

PASAL 5
PENGAWAS LAPANGAN
1. Sebagai Pengawas Pelaksanaan Pekerjaan sehari di tempat pekerjaan, akan
ditunjuk Petugas yang dibekali dengan Surat Tugas dari Pemimpin Proyek.
2. Pengawas Lapangan atau Direksi Lapangan, tidak dibenarkan merubah
ketentuan-ketentuan pelaksanaan, sebelum mendapat izin atau sepengetahuan
dari Perencana dan Pemimpin Proyek.
3. Bilamana Pengawas Lapangan atau Direksi Lapangan menjumpai kelainan-
kelainan, kejanggalan-kejanggalan di lapangan atau adanya penyimpangan-
penyimpangan dari RKS yang ada, supaya segera memberitahukan kepada
Perencana atau Pemimpin Proyek.
4. Disamping Pengawas Lapangan atau Direksi Lapangan yang ditunjuk, maka
Perencana juga diberi tugas untuk mengadakan pengawas berkala, terutama
pada pekerjaan-pekerjaan yang menyangkut segi konstruksi atau pekerjaan-
pekerjaan yang perlu mendapat perhatian.

PASAL 6
PEMBORONG
1. Bila Pemborong atau Rekanan akan memulai kegiatan pelaksanaan pekerjaan
di lapangan, maka sebelumnya supaya memberi tahu dan minta izin lebih dulu
kepada Pemimpin Proyek dan Pengelola Proyek yang lain secara tertulis.
2. Untuk melaksanakan pekerjaan ini, maka pihak Pemborong supaya
menempatkan seorang Kepala Pelaksana yang ahli dan cakap dan kepadanya
251

supaya diberi wewenang penuh oleh Direktur atau Pimpinan Perusahaan, yang
bertanggung jawab dan yang dapat bertindak untuk dan atas namanya. Kepala
Pelaksana yang diberi kuasa penuh tadi, harus selalu bertugas di tempat
pekerjaan untuk menerima perintah-perintah dari Direksi dan Pengelola Proyek
serta Pemimpin Proyek, agar pekerjaan dapat berjalan lancar dan sesuai dengan
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat yang telah ditetapkan.
3. Kepala Pelaksana yang ditunjuk harus berpengalaman dan pembantu-
pembantunya minimal harus dapat memahami dan mengerti Gambar-Gambar
Bestek dan Ketentuan-Ketentuan yang ada dalam RKS, sehingga pelaksanaan
dapat berjalan dengan baik dan lancar.

PASAL 7
SYARAT-SYARAT PESERTA PELELANGAN
1. Yang dapat mengikuti Pelelangan Pekerjaan ini ialah Pemborong yang
berdomisili di Provinsi Aceh dan mempunyai Prakualifikasi dari Panitia
Prakualifikasi Provinsi Aceh yang masih berlaku, untuk bidang usaha
Pekerjaan Pemborongan dengan klasifikasi dan kualifikasi untuk bidang dan
sub-bidang pekerjaan atau spesialisasi sebagai berikut :
Bidang Pekerjaan : Jalan Kualifikasi :I
2. Bagi Pemborong yang telah mengikuti Pelelangan dan telah memasukkan Surat
Penawaran, jika mengundurkan diri akan dikenakan sanksi sebagai berikut :
Tidak diikutsertakan dalam Pelelangan Pekerjaan yang akan datang.

PASAL 8
PEMBERIAN PENJELASAN
1. Pemberian Penjelasan Pekerjaan diberikan pada
Hari/Tanggal : Senin, 8 Agustus 2022
Jam : 08.00 s.d selesai WIB
Tempat : Ruang Rapat PT. Makmur Jaya
Dan akan diberikan penjelasan pekerjaan di lokasi pekerjaan.
252

Pada hari dan tanggal tersebut, semua Peserta Rapat Penjelasan Pekerjaan
dianggap telah mempelajari dan meneliti dengan seksama semua Gambar
Rencana dan semua Peraturan, Ketentuan dan Persyaratan yang tersebut dalam
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat ini.
1. Peserta Rapat Penjelasan Pekerjaan, berhak mengajukan pertanyaan yang
diajukan lagi, maka semua Peserta Rapat Pemberian Penjelasan Pekerjaan
ini dianggap sudah cukup memahami dan dapat menerima semua
persyaratan dan Ketetapan yang telah ditentukan.
2. Perbaikan, Pembetulan, Penambahan dan Pengurangan-Pengurangan
maupun hasil tanya jawab dan semua Pemberian Penjelasan Pekerjaan
yang dimuat dalam risalah Berita Acara Pemberian Penjelasan Pekerjaan
dan yang akan ditanda tangani oleh sekurang-kurangnya 2 (dua) wakil
Pemborong Peserta Rapat Penjelasan Pekerjaan, merupakan lampiran
Kontrak yang sifatnya mengikat.
3. Pemborong yang tidak hadir dan tidak mengirimkan wakilnya pada waktu
Pemberian Penjelasan Pekerjaan atau Pemborong tidak mengikuti
sepenuhnya sampai Pemberian Penjelasan Pekerjaan selesai, maka
Pemborong yang bersangkutan dinyatakan mengundurkan diri atau
dianggap tidak mengikuti Pelelangan.
4. Risalah Berita Acara Pemberian Penjelasan Pekerjaan dapat diambil oleh
Peserta Rapat pada :
Hari/Tanggal : Senin, 15 Agustus 2022
Jam : 09.00 s.d. 15.00 WIB
Tempat : Bag. Administrasi PT. Makmur Jaya

PASAL 9
PELELANGAN
1. Pelelangan atau Penawaran Pekerjaan akan dilakukan dengan Peraturan
Pelelangan Terbatas atau Penunjukan Langsung.
253

2. Pemasukan Surat Penawaran Pekerjaan, paling lambat pada :


Hari/Tanggal : Senin, 22 Agustus 2022
Jam : 14.00 WIB

Tempat : Bag. Administrasi PT. Makmur Jaya

Pembukaan Surat-Surat Penawaran Pelelangan akan dilakukan pada :


Hari/Tanggal : Senin, 29 Agustus 2022
Jam : 08.30 WIB
Tempat : Ruang Rapat PT. Makmur Jaya
Wakil Pemborong (bukan Direktur Perusahaan sendiri) yang mengikuti
dan menghadiri Pelelangan Pekerjaan, harus membawa Surat Kuasa bermaterai
Rp. 6.000,00 (enam ribu rupiah) dari Direktur atau Pimpinan Perusahaan dan
harus bertanggung jawab penuh.
Surat Kuasa tersebut, supaya dibuat di atas kertas kop perusahaan asli.

PASAL 10
SYARAT-SYARAT PENAWARAN
1. Penawaran yang diminta adalah Penawaran yang lengkap menurut Gambar
bestek, seusai peraturan dan ketentuan yang tercantum dalam Rencana Kerja
dan Syarat-Syarat dan semua Ketentuan Tambahan yang dimuat dalam Risalah
Berita Acara Pemberian Penjelasan Pekerjaan yang ada.
2. Surat Penawaran (supaya menggunakan contoh Blangko terlampir); Rencana
Anggaran Biaya; Daftar Analisa Pekerjaan; Surat Kuasa; Surat Kesanggupan
memberikan Jaminan Pelaksanaan (hanya berlaku untuk pelelangan dengan
nilai di atas Rp. 100.000.000); Surat Pernyataan Kesanggupan untuk Tunduk
pada Peraturan Pelelangan; Surat Pernyataan Bukan Pegawai Negeri Sipil bagi
Direkturnya atau Pimpinannya; Surat Kesanggupan untuk mengikuti Program
ASTEK (Asuransi Sosial Tenaga Kerja) dan Surat Pernyataan Kesanggupan
Membayar Retribusi Izin Galian Golongan C, supaya dibuat di atas kertas
dengan kop nama perusahaan atau nama pemborong yang bersangkutan.
254

Sedang untuk pembuatan Rencana Anggaran Biaya dan Daftar Analisa


Pekerjaan, cukup hanya pada lembar di depan saja atau lembaran pertama dan
lembar-lembar kertas yang lain, bisa menggunakan kertas jenis lain, ukuran
folio.
Pada lembar kertas-kertas yang lain, di pojok kanan bawah, supaya dibubuhkan
cap perusahaan dan diparaf.
3. Surat Penawaran maupun lampiran-lampirannya, jika tidak ditanda tangani
oleh Direktur atau Pimpinan Perusahaan sendiri, tetapi diserahkan kepada
seseorang yang diberi kuasa, maka yang bersangkutan harus melampirkan
Surat Kuasa bermaterai Rp. 6.000,00 (enam ribu rupiah) yang dibuat di atas
kertas kop nama perusahaan. Orang yang diberi Kuasa tersebut, namanya harus
tercantum di dalam Akte Pendirian Perusahaan.

PASAL 11
SAMPUL DAN ISI SURAT PENAWARAN
1. Surat Penawaran diajukan dalam sampul tertutup.
2. Sampul Surat Penawaran disediakan oleh Panitia Pelelangan atau akan
ditentukan lain dan hal ini akan diberitahukan pada waktu pemberian
Penjelasan Pekerjaan.
3. Sampul Surat Penawaran, berisi antara lain sebagai berikut :
a. Syarat-Syarat Teknik (dibuat 5 (lima) ganda), terdiri :
1) Surat Penawaran
Surat Penawaran bermaterai Rp. 6.000,00 (enam ribu rupiah) yang di
tandatangani oleh Direktur atau Pimpinan Perusahaan. Surat
Penawaran tersebut supaya diberi tanggal, bulan dan tahun serta dicap
perusahaan.
Pada materai harus dibubuhkan tanggal, bulan dan tahun. Tanda
tangan Penawar dan Cap Perusahaan, harus kena pada materai.
2) Daftar Rencana Anggaran Biaya atau Daftar Rincian Pekerjaan.
3) Daftar Analisa Pekerjaan.
255

4) Daftar Harga Satuan Bahan, Upah, Tenaga dan Harga Satuan


Pekerjaan.
5) Jadwal Waktu Pelaksanaan Pekerjaan atau Time Schedule.
6) Daftar nama-nama pelaksana yang akan ditugaskan untuk
melaksanakan pekerjaan ini.
b. Syarat-Syarat Administrasi (dibuat 5 (lima) ganda) terdiri :
1) Rekaman Surat Jaminan Penawaran, berupa Surat Jaminan Bak dari
BPD atau Bank Pemerintah atau Bank Lain atau Lembaga Keuangan
Lain (PT. Persero Asuransi Kerugian Jasa Raharja) yang ditetapkan
oleh Menteri Keuangan, sebesar antara 1% (satu persen) sampai 3%
(tiga persen) dari perkiraan harga penawaran.
Untuk keseragaman besarnya Jaminan Penawaran ini, maka Panitia
Pelelangan akan menetapkan untuk pekerjaan ini sebesar Rp
[Link],68 berlaku selama 3 (tiga) bulan mulai tanggal
Pelelangan.
2) Surat Pernyataan Kesanggupan Memberikan Jaminan Pelaksanaan,
minimal 5% dari Harga Penawaran (hanya berlaku untuk Pelelangan
dengan nilai di atas Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
3) Surat Pernyataan Kesanggupan Memberikan Jaminan Pelaksanaan
tersebut, supaya dibuat di atas kertas kop nama Perusahaan yang asli
bermeterai Rp. 6.000,00 (seribu rupiah), ditanda tangani oleh Direktur
atau Pimpinan Perusahaan, diberi tanggal, bulan dan tahun serta dicap
perusahaan.
4) Rekaman referensi atau Surat Keterangan Bank Pembangunan Daerah
(BPD) yang masih berlaku dan dibuat khusus untuk Proyek.
5) Rekaman Surat Undangan untuk mengikuti Pelelangan dari Panitia
Pelelangan.
6) Rekaman Surat Izin Usaha Jasa Konstruksi (SIUJK), yang
berlaku.
256

7) Rekaman Pemilikan Nomor Wajib Pajak (NPWP) disertai Surat


Pengukuhan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) dari Direktorat
Jenderal Pajak.
8) Rekaman Surat Tanda Daftar Rekanan (TDR) dari Panitia Pra
Kualifikasi Provinsi Daerah Tingkat I Aceh yang masih berlaku,
sesuai bidang pekerjaan yang diikuti pelelangan.
9) Rekaman Surat Tanda Anggota KADIN dan GAPENSI.
10) Rekaman referensi pengalaman pekerjaan untuk bidang usaha yang
diprakualifikasikan, minimal 5 (lima) tahun terakhir.
11) Rekaman Pemilikan Peralatan.
12) Neraca Perusahaan Terakhir.
13) Susunan Pemilikan Modal Perusahaan.
14) Daftar Susunan Pengurus Perusahaan atau Daftar
Personalia Perusahaan
15) Surat Keterangan Bukan Pegawai Negeri Sipil atau TNI bagi Direktur
atau Pimpinan Perusahaan.
16) Rekaman Surat Akte Pendirian Perusahaan yang terakhir termasuk
dengan semua perubahannya.
17) Surat Pernyataan Kesanggupan untuk Tunduk pada Peraturan
Pelelangan.
18) Semua Surat Pernyataan Kesanggupan dan Surat Keterangan tersebut,
supaya dibuat di atas kertas kop nama perusahaan yang asli bermaterai
Rp. 6.000,00 (enam ribu rupiah), ditandatangani oleh Direktur atau
Pimpinan Perusahaan, diberi tanggal, bulan dan tahun serta dicap
perusahaan.
19) Surat Pernyataan Kesanggupan untuk mengikuti Program Asuransi
Sosial Tenaga Kerja atau ASTEK, dibuat di atas kertas kop nama
perusahaan yang asli bermaterai Rp. 6.000,00 (enam ribu rupiah),
ditandatangani oleh Direktur atau Pimpinan Perusahaan, diberi
tanggal, bulan dan tahun serta dicap perusahaan.
257

PERHATIAN: Semua surat-surat yang asli, harus


dibawa pada waktu mengikuti Pelelangan Pekerjaan
ini, dan diserahkan kepada Panitia Pelelangan,
sebelum acara Pelelangan Pekerjaan dimulai.
20) Pada sudut kiri atas sampul Surat Penawaran, baik yang disediakan
oleh Panitia Pelelangan maupun bukan, supaya ditulis yang jelas
dengan huruf balok atau diketik dengan kata-kata :
SURAT PENAWARAN PELELANGAN PEKERJAAN
PEMBANGUNAN JALAN BARU PROVINSI NANGGROE
ACEH DARUSSALAM
Dan pada sudut kanan bawah sampul Surat Penawaran, supaya
ditulis :
KEPADA
PEMERINTAH PROV. NANGGROE ACEH DARUSSALAM

PASAL 12
PENETAPAN CALON DAN PENGUMUMAN PEMENANG LELANG
1. Panitia Lelang akan menetapkan 3 (tiga) calon pemenang pekerjaan ini,
berdasarkan Peraturan dan Ketentuan yang berlaku Penawaran yang paling
menguntungkan Negara dalam arti :
a. Penawarannya di bawah Pagu pekerjaan yang diborongkan.
b. Penawaran secara Teknis dapat dipertanggungjawabkan.
c. Perhitungan harga yang ditawarkan dapat dipertanggungjawabkan.
d. Penawaran tersebut adalah yang terendah di antara Penawaran- penawaran
yang memenuhi Syarat-Syarat sebagaimana dimaksud dalam butir 1.1-1.3.
2. Dalam hal ada dua Peserta Pelelangan atau lebih mengajukan harga Penawaran
yang sama, maka Panitia dengan memperhatikan ketentuan yang ada, akan
memilih peserta yang menurut pertimbangannya
258

mempunyai kecakapan dan kemampuan yang lebih besar dan hal ini
akan dicatat dalam Berita Acara.
3. Panitia membuat laporan kepada pejabat yang berwenang mengambil
keputusan mengenai penetapan calon pemenang berdasarkan laporan yang
disampaikan oleh Panitia, Pejabat yang berwenang menetapkan Pemenang
Pelelangan dan Cadangan Pemenang atau Pemenang urutan kedua di antara
calon yang diusulkan oleh Panitia.
4. Keputusan Pejabat yang berwenang tentang Penetapan Calon Pemenang
Pelelangan, diumumkan oleh Panitia kepada para Peserta Pelelangan dalam
suatu pertemuan yang diadakan untuk keperluan tersebut.
5. Penetapan Pemenang Pelelangan akan diumumkan secara jelas.
6. Kepada Peserta Pelelangan yang berkeberatan atas Penetapan Pemenang
Pelelangan, diberikan kesempatan untuk mengajukan Sanggahan secara tertulis
kepada Atasan dari Pejabat yang berwenang, selambat-lambatnya dalam waktu
4 (empat) hari kerja, setelah hari pengumuman tersebut.
7. Sanggahan hanya dapat diajukan terhadap pelaksanaan prosedur Pelelangan.
8. Jawaban terhadap sanggahan akan diberikan secara tertulis, selambat-
lambatnya dalam waktu 4 (empat) hari kerja setelah diterimanya sanggahan
tersebut.

PASAL 13
PENUNJUKAN PEMENANG
1. Pemimpin Proyek akan memberikan Pekerjaan kepada rekanan sesuai dengan
peraturan dan ketentuan yang berlaku.
2. Surat Keputusan Penunjukan Pemenang akan diberikan paling cepat 6 (enam)
hari kerja dan selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja, setelah
Pengumuman Penetapan Pemenang dan setelah selesainya masa sanggahan.
3. Untuk Pemborongan Pekerjaan atau Pembelian Barang dengan nilai di atas Rp.
100.000.000,00 (seratus juta rupiah), Pemenang yang bersangkutan
259

sebelum menandatangani Surat Perjanjian atau Kontrak, diwajibkan


memberikan Jaminan Pelaksanaan, berupa Surat Jaminan Bank Pembangunan
Daerah Aceh (Bank BPD Aceh) ataudapat juga berupa jaminan Suarat Bond
dari PT. (Persero) Asuransi Kerugian Jasa Raharja. Pada saat jaminan
pelaksanaan diterima oleh Kepala Dinas atau Lembaga atau Satuan Kerja
Daerah lainnya atau Pemimpin Proyek, maka Jaminan Penawaran Pemenang
yang bersangkutan segera dikembalikan.
4. Pemborong atau Rekanan yang telah ditunjuk (setelah menerima Surat
Pengumuman Lelang), harus segera menyerahkan Surat Pernyataan
Kesanggupan untuk Melaksanakan Pekerjaan.
5. Pemborong atau Rekanan yang telah ditunjuk (setelah menerima Surat Perintah
Kerja), harus segera menyerahkan Daftar Isian Tenaga Kerja kepada Perum
ASTEK.

PASAL 14
SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN
Pekerjaan harus dilaksanakan oleh Pemborong atau Rekanan menurut :
1. Rencana Kerja dan Syarat-Syarat, Gambar Bestek termasuk Gambar- Gambar
Penjelasnya.
2. Rencana Kerja dan Syarat-Syarat dengan segala perubahan-perubahannya,
yang dimuat dalam risalah Berita Acara Pemberian Penjelasan Pekerjaan.
3. Petunjuk-petunjuk lisan maupun tertulis dari Pemimpin Proyek, Direksi, dan
Petugas teknis lainnya, yang tidak menyimpang dari Rencana Kerja dan Syarat-
Syarat dan dokumen-dokumen pemenang lainnya.

PASAL 15
PENETAPAN UKURAN DAN PERUBAHAN-PERUBAHAN
1. Pemborong harus bertanggung jawab atas tepatnya ukuran-ukuran pekerjaan
sesuai dengan apa yang tercantum pada Gambar Bestek.
260

2. Pemborong berkewajiban untuk meneliti kembali dan mencocokkan semua


ukuran-ukuran yang terdapat pada Gambar Bestek dan segera memberitahukan
kepada Direksi atau Perencana jika terdapat kelainan Atau perbedaan atau
ketidakcocokan antara Gambar yang satu dengan Gambar-Gambar yang
lainnya.

3. Bilamana ternyata terdapat selisih atau perbedaan atau ketidakcocokan ukuran-


ukuran dalam gambar Bestek dan Rencana Kerja dan Syarat- Syarat (RKS),
maka RKS inilah yang dijadikan Pedoman atau perencana setelah
mempertimbankan dari segi teknis, akan membetulkan atau sebagaimana
mestinya.

4. Bilamana dalam Pekerjaan perlu diadakan perubahan-perubahan, maka


Perencana akan membuat Gambar Perubahan atau Gambar Revisi dengan
Tanda Warna Boxi di atas Gambar aslinya.

5. Suatu perubahan pekerjaan yang menyangkut masalah biaya, harus ada


persetujuan dari Pemimpin Proyek.

6. Di dalam pelaksanaan pekerjaan, Pemborong tidak boleh menyimpang dari


ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Rencana Kerja dan Syarat- Syarat
dan ukuran-ukuran pada Gambar Bestek, kecuali seizin Pemimpin Proyek.

PASAL 16
RESIKO KENAIKAN HARGA DAN FORCE MAJEURE
1. Selama Pemborong melaksanakan pekerjaan ini, Pemborong tidak dapat
mengajukan Klaim atau Tuntutan kepada Pemberi Tugas, bilamana terjadi atau
timbul adanya kenaikan harga bahan, upah tenaga kerja, sewa alat-alat kerja
dan lain sebagainya.
2. Apabila terjadi Force Majeure atau keadaan memaksa, maka pihak Pemborong
harus secepatnya memberitahukan kepada Pemberi Tugas secara tertulis,
paling lambat sehari setelah adanya peristiwa atau kejadian tersebut.
261

3. Semua kejadian akibat Force Majeure, seperti Bencana Alam, Sabotase,


Keputusan Pemerintah di bidang Moneter dan lain-lain kejadian yang dapat
dibenarkan Pemerintah, maka hal ini bukan menjadi tanggungan Pemborong.

PASAL 17
PAPAN NAMA PENGENAL PROYEK
Pada tempat atau lokasi pekerjaan, supaya dipasang papan nama
pengenal proyek.
1. Papan nama pengenal proyek dibuat dari bahan kayu dan seng, berukuran 1,00
x 2,00 meter atau akan ditentukan lain.
2. Cat dasar papan nama pengenal proyek, warna putih.
3. Model huruf balok dan warna huruf hitam.
4. Kaki papan nama pengenal proyek, supaya dibuat 2 (dua) buah.
5. Pembuatan papan nama pengenal proyek, harus baik, rapih dan kokoh.
Dipasang pada tempat yang mudah dilihat umum.
Contoh Papan Nama Pengenal Proyek :

PROYEK PEMBANGUNAN JALAN BARU


PROVINSI NAGGROE ACEH DARUSSALAM
TAHUN 2022/2023
1. NAMA PEKERJAAN : PEMBANGUNAN JALAN BARU
PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM
2. BIAYA : Rp [Link],83
3. VOLUME FISIK : 33.040.792 m3
4. MANFAAT PROYEK : MEMPERLANCAR INTERAKSI
MASYARAKAT
NANGGROE ACEH DARUSSALAM
5. PELAKSANAAN : 1 JANUARI 2023
MULAI
6. SELESAI : 31 DESEMBER 2023
NAMA PEMBORONG : PT. Makmur Jaya
ALAMAT : Jl. Kaliurang KM 14,5 Yogyakarta
262

6. Pemasangan papan nama pengenal proyek, supaya dilaksanakan pada saat


pekerjaan akan dimulai kegiatannya.
7. Papan nama pengenal proyek dipasang 2 (dua) tempat atau akan ditentukan lain
pada waktu Pemberian Penjelasan Pekerjaan.
8. Pemasangan papan nama pengenal proyek menjadi tanggungan Pemborong
dan harus mengikuti petunjuk yang akan diberikan oleh Pengelola Proyek atau
Pengawas Lapangan.

PASAL 18
LAIN-LAIN
1. Hal-hal yang belum tercantum dan diuraikan dalam Rencana Kerja dan Syarat-
Syarat ini, akan dijelaskan dalam Rapat Pemberian Penjelasan Pekerjaan.
2. Semua penjelasan yang diberikan berikut penambahan, pengurangan atau
perubahan-perubahan yang ada, akan dimuat dalam Risalah Berita Acara
Pemberian Penjelasan Pekerjaan dan merupakan ketentuan yang mengikat, di
samping Rencana Kerja dan Syarat-Syarat dan Gambar-Gambar Bestek yang
ada.
3. Rencana Anggaran Biaya atau RAB, supaya dibuat seperti contoh terlampir
dalam Dokumen Pelelangan ini.
Pada pekerjaan ini, volume atau kuantitas pekerjaan diberitahukan, tetapi sama
sekali tidak mengikat dan merupakan ancar-ancar dan bantuan perhitungan
saja.
Yang mengikat adalah Gambar Bestek termasuk Gambar-Gambar Penjelasnya;
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat atau RKS serta Berita Acara Pemberian
Penjelasan Pekerjaan.
Pemborong diberi kebebasan sepenuhnya untuk menghitung sendiri dengan
keyakinannya dan tidak perlu terpengaruh oleh volume pekerjaan yang
diberikan oleh Panitia Pelelangan Pekerjaan.
263

Volume pekerjaan yang diberikan oleh Panitia Pelelangan tersebut bisa


dipergunakan untuk bahan perhitungan atau untuk ancar-ancar atau untuk
bantuan pengecekan perhitungan yang dibuat atau dilakukan oleh Pemborong
sendiri.
Pemborong tidak bisa mengajukan klaim atau tuntutan pada Panitia
Pelelangan Pekerjaan atau kepada siapapun, terhadap volume pekerjaan yang
diberikan ini.
4. Bilamana jenis pekerjaan yang dicantumkan dalam contoh Rencana Kerja dan
Syarat-Syarat atau RKS terdapat kekurangan dan untuk itu perlu ditambahi
sesuai dengan kebutuhan pekerjaan yang ada, maka Pemborong diperkenankan
untuk menambahkan kekurangan pekerjaan menurut itemnya masing-masing.
5. Mengurangi Item pekerjaan tidak diperbolehkan.
6. Daftar Analisa yang dipakai untuk menghitung Harga Satuan Pekerjaan pada
pekerjaan ini, harus berdasarkan Analisa Bina Marga, yaitu Standarisasi Analisa
Biaya Pembangunan Jalan dan Jembatan No. 02/ST/BM/73 yang ada, atau akan
ditentukan lain sesuai dengan penjelasan yang diberikan.
7. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang analisa pekerjaannya tidak ada pada
Standarisasi Analisa Biaya Pembangunan Jalan dan Jembatan No.
02/ST/BM/73, maka Pemborong diberi kebebasan untuk membuat analisa
sendiri, sepanjang harga satuan pekerjaan yang diajukan masih dalam batas-
batas kewajaran dan dapat dipertanggungjawabkan.
8. Angka Rupiah dari bahan-bahan, upah tenaga dan alat-alat, yang tercantum baik
dalam Rencana Anggaran Biaya atau RAB, Daftar Analisa Pekerjaan, Harga
Satuan Bahan dan Upah Tenaga maupun yang tercantum dalam Daftar Harga
Satuan Pekerjaan dan Upah Tenaga yang dibuat harus sama.

7.2 SYARAT-SYARAT ADMINISTRASI


PASAL 1
JAMINAN PENAWARAN DAN JAMINAN PELAKSANAAN
264

1. Peserta untuk pelelangan dengan nilai di atas Rp. 50.000.000,00 (lima puluh
juta rupiah) harus menyerahkan Surat Jaminan BPD atau Bank Pemerintah
Daerah atau Bank Pemerintah atau Lembaga Keuangan lain yang ditetapkan
oleh Menteri Keuangan, dalam jumlah yang ditetapkan antara 1 (satu) dan 3
(tiga) persen dari perkiraan harga penawaran.
2. Jaminan Penawaran tersebut segera dikembalikan, apabila yang bersangkutan
tidak menjadi pemenang dalam Pelelangan.
3. Jaminan Penawaran menjadi milik Pemerintah Daerah, apabila Peserta
penawaran mengundurkan diri, setelah memasukkan Surat Penawarannya ke
dalam Kotak Pelelangan.
4. Jaminan Penawaran dapat diminta kembali, apabila Harga-Harga Penawaran
Peserta Pelelangan di atas pagu yang ada dan juga kepada Peserta Pelelangan
yang Penawarannya dinyatakan Gugur atau Tidak Sah oleh Panitia Pelelangan.
5. Untuk Pemborongan atau Pembelian dengan nilai di atas Rp. 50.000.000,00
(lima puluh juta rupiah), Pemenang Lelang yang bersangkutan sebelum
menandatangani Surat Perjanjian atau Kontrak diwajibkan memberikan
Jaminan Pelaksanaan Kontrak, berupa Surat Jaminan dari BPD atau Bank Milik
Pemerintah atau Bank atau Lembaga Keuangan lain yang ditetapkan oleh
Menteri Keuangan.
6. Sesuai Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum Nomor : KU.03.06- Mn/573,
tanggal 19 Desember 1991, maka Surat Jaminan Penawaran dan Surat Jaminan
Pelaksanaan dapat berupa Jaminan Surety Bond dari P.T. (Persero) Asuransi
Kerugian Jasa Raharja.
7. Pada saat Surat Jaminan Pelaksanaan diterima oleh Kapala Dinas, atau
Lembaga Satuan Kerja Daerah lainnya atau Pemimpin Proyek, maka Surat
Jaminan Penawaran Pemenang yang bersangkutan segera dikembalikan.
8. Besarnya Jaminan Pelaksanaan sebesar 5% (lima persen) dari Nilai Kontrak.
265

9. Dalam hal Pemborong atau Rekanan dalam waktu yang telah ditetapkan tidak
melaksanakan pekerjaan atau penyerahan barang, maka Jaminan Pelaksanaan
menjadi milik Pemerintah Daerah
10. Dalam hal Pemborong atau Rekanan mengundurkan diri setelah
menandatangani Kontrak, maka Jaminan Pelaksanaan menjadi milik
Pemerintah Daerah.
11. Penunjukan Pemborong atau Rekanan berikutnya dilaksanakan dengan
ketentuan yang ada.
12. Jaminan Pelaksanaan dikembalikan kepada Pemborong atau Rekanan setelah
Pemborong atau Rekanan melaksanakan Pekerjaan atau Penyerahan Barang
sesuai dengan Surat Perjanjian Pemborongan atau Kontrak.

PASAL 2
RENCANA KERJA ATAU JADWAL WAKTU PELAKSANAAN
PEKERJAAN
1. Pemborong harus segera menyusun Rencana Kerja Pelaksanaan Pekerjaan
selambat-lambatnya Satu Minggu setelah Surat Perintah Kerja atau SPK
diterbitkan dan diterima oleh Pemborong.
2. Pemborong harus melaksanakan pekerjaan menurut Rencana Kerja dan Syarat-
Syarat, Gambar Rencana beserta Gambar-Gambar Penjelasnya, yang dibuat dan
telah disepakati bersama tersebut.
3. Pemborong tetap bertanggung jawab sepenuhnya atas selesainya Pekerjaan
tepat pada waktunya.

PASAL 3
LAPORAN HARIAN DAN MINGGUAN
1. Pemborong diwajibkan membuat Laporan Harian dan Laporan Mingguan, yang
menunjukkan Prestasi Kemajuan Fisik Pekerjaan kepada Pemberi Tugas, yang
diketahui oleh Direksi Lapangan dan Pengelola Proyek yang lain.
266

2. Penilaian Prestasi Kerja atas dasar Pekerjaan yang sudah dikerjakan, tidak
termasuk tersedianya bahan-bahan bangunan di tempat-tempat pekerjaan dan
tidak atas dasar besarnya pengeluaran uang yang telah dilakukan Pemborong.
3. Pemborong pada Pembuatan Laporan ini yaitu, Pembuatan Laporan
Penandatangan bahan Bangunan; Penggunaan Alat-alat bantu kerja;
Pengerahan tenaga kerja; Daya penerimaan aspal; Laporan keadaan cuaca dan
lain sebagainya.
4. Semua Laporan tersebut supaya dibuat 6 (enam) ganda.

PASAL 4
DOKUMENTASI
1. Sebelum pekerjaan dimulai kegiatannya, maka keadaan lapangan atau tempat
dimana pekerjaan akan dilaksanakan, yang masih di keadaan fisik 0% atau
keadaan yang masih asli sebelum proyek ada supaya diambil Gambar Foto atau
di-Potret.
2. Pemborong diwajibkan membuat Foto Dokumentasi pada tahapan-tahapan
pekerjaan fisik mencapai 0%, 50% dan 100%. Pengambilan foto proyek, supaya
diusahakan pada satu titik, sehingga nantinya akan tampak dan diketahui jelas
perubahan-perubahan dan perkembangan-perkembangan yang akan terjadi
selama terselenggaranya Pelaksanaan Proyek. Pengambilan foto proyek
sekurang-kurangnya 4 (empat) buah titik, pada tempat atau posisi yang berbeda.
3. Ukuran foto 9x15 cm. Berwarna atau ukuran kartu Pos.
4. Disamping itu, Pemborong supaya membuat juga Slide sebanyak 2 (dua) titik
pengambilan, yaitu untuk keadaan fisik proyek : 0% dan 100%.
5. Jadi ada 4 (empat) buah Slide; 2 (dua) buah pada keadaan fisik 0% dan 2 (dua)
buah pada keadaan fisik proyek selesai.
6. Pemborong juga harus membuat dan menyerahkan foto proyek ukuran 10 R
untuk keadaan fisik proyek 0% dan 100%, masing-masing sebanyak 2 (dua)
buah.
267

5. Khusus untuk penyerahan pekerjaan pertama atau penyerahan pekerjaan yang


telah mencapai fisik 100%, supaya dilampiri foto pemeriksaan pekerjaan oleh
BPP (Badan Pengawas Pembangunan) pada Berita Acara pengajuan
permohonan pembayaran angsuran.
6. Semua foto Dokumentasi proyek tersebut, supaya dimasukkan ke dalam Album
Khusus.
7. Ukuran, warna dan bentuk Album Foto Khusus tersebut akan ditentukan
kemudian, sehingga akan diperoleh keseragaman.

PASAL 5
SURAT PERJANJIAN PEMBORONGAN ATAU KONTRAK
PEMBORONGAN
1. Pada pemberian pekerjaan ini, akan dibuat Surat Perjanjian Pemborongan atau
Kontrak Pemborongan antara Pemberi Tugas dan Pemborong.
2. Bea materai Surat Perjanjian Pemborongan atau Kontrak Pemborongan,
menjadi beban dan tanggungan pihak Pemborong.
3. Surat Perjanjian Pemborongan atau Kontrak Pemborongan ini, dibuat sejumlah
18 (delapan belas) ganda.
4. Buku Kontrak Pemborongan atau Kontrak Pemborongan dibuat oleh Dinas dan
biaya pembuatan Buku Kontrak, menjadi tanggungan dan beban Pemborong.
5. Buku Kontrak Pemborongan berisi antara lain :
a. Surat Perjanjian Pemborongan.
b. Surat Perintah Kerja atau SPK.
c. Surat Pernyataan Kesanggupan Pemborong untuk melaksanakanpekerjaan.
d. Surat Pengumuman Pemenang Lelang.
e. Risalah Berita Acara Pemberian Penjelasan Pekerjaan.
f. Surat Ketetapan Pemenang Pelelangan atau Penunjukkan
Langsung dari Kepala Daerah.
g. Berita Acara Pembukaan Surat Penawaran.
268

h. Berita Acara Evaluasi atau Penelitian Harga Penawaran.


i. Surat Undangan untuk mengikuti Pelelangan.
j. Rencana Kerja dan Syarat-syarat serta Gambar Rencana, beserta Gambar-
gambar penjelasnya.
k. Surat Penawaran beserta Lampiran-lampirannya.
l. Surat-surat lainnya yang ada kaitannya dengan Pelelangan pekerjaan ini.

PASAL 6
WAKTU MULAI PELAKSANAAN PEKERJAAN
1. Selambat-lambatnya dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kalender terhitung dari
Surat Perintah Kerja (SPK) yang diterbitkan oleh Pemberi Tugas, maka
pelaksanaan pekerjaan dalam arti sebenarnya harus sudah dimulai kegiatannya.
2. Bilamana ketentuan seperti tersebut di atas tidak ada dipenuhi, maka Jaminan
Pelaksanaan yang sudah diserahkan kepada Proyek dinyatakan hilang dan
menjadi milik Pemerintah Daerah.
3. Meskipun Jaminan Pelaksanaan sudah dinyatakan hilang, Pemborong tetap
harus bertanggung jawab untuk melaksanakan pekerjaan tersebut sampai
selesai.

PASAL 7
WAKTU PELAKSANAAN DAN PENYERAHAN PEKERJAAN
1. Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan selama 110 (seratus sepuluh) hari
kalender, termasuk hari Minggu, hari raya dan hari-hari hujan.
2. Pekerjaan dapat diserahkan untuk yang pertama kalinya, bilamana pekerjaan
sudah benar-benar selesai 100% dan dapat diterima dengan baik oleh Direksi
dan Pemberi Tugas dengan disertai Berita Acara Penyerahan Pekerjaan Pertama
dan dilampiri Daftar Kemajuan Pekerjaan serta foto- foto proyek.
3. Permintaan pemeriksaan pekerjaan untuk Penyerahan Pertama, diajukan kepada
Pemberi Tugas, BPP dan Direksi selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari,
sebelum tanggal penyerahan.
269

PASAL 8
MASA PEMELIHARAAN
1. Jangka waktu pemeliharaan pekerjaan adalah 90 (sembilan puluh) hari kalender,
terhitung setelah Penyerahan Pertama.
2. Bilamana didalam mass pemeliharaan pekerjaan terjadi kerusakan – kerusakan
akibat kurang sempurnanya pelaksanaan pekerjaan atau karena mutu bahan
yang dipergunakan kurang baik, maka pemborong harus segera memperbaiki
dan menyempurnakannya, setelah pihak pemborong diperingatkan atau diberi
tahu oleh direksi atau pimpinan proyek, baik secara lisan maupun tertulis.

PASAL 9
DENDA
1. Menyimpang dari pasal 49 A.V. 41 bilamana batas waktu penyerahan pekerjaan
yang pertama kali di lampaui atau tidak bisa dipenuhi oleh pemborong, maka
kepada pemborong akan dikenakan sanksi denda sebesar 2/1000 (dua per
seribu) sehari sampai sebanyak–banyaknya 5% dari nilai kontrak harga
borongan. Uang denda tersebut harus dilunasi pada waktu penyerahan
pembayaran angsuran terakhir.
2. Menyimpang dari pasal 49 A.V.41 terhadap segala kelalaian mengenai
peraturan atau tugas yang tercantum dalam rencana kerja dan syarat–syarat ini,
maka sepanjang dalam RKS ini tidak ada ketentuan mengenai denda lainnya,
maka pemborong dikenakan denda sebesar 1/1000 (satu per seribu) dari Nilai
Harga Kontrak untuk setiap kali kelalaian setelah diberi teguran secara tertulis
sampai sebanyak 3 (tiga) kali.
3. Apabila ada perintah untuk mengerjakan pekerjaan tambah dan tidak disebutkan
jangka waktu pelaksanaannya, maka jangka waktu pelaksanaan tidak akan
diperpanjang.
270

PASAL 10
PENCABUTAN PEKERJAAN
Sesuai dengan pasal 62 A.V.41 Sub 3 b, maka Pemimpin Proyek berhak
membatalkan atau mencabut pekerjaan dari tangan pemborong, apabila ternyata
pihak Pemborong telah menyerahkan pekerjaan keseluruhan atau sebagian
pekerjaan kepada pemborong lain, semata–mata hanya mencari keuntungan sajadari
pekerjaan tersebut.
Pada pencabutan pekerjaan Pemborong, maka yang dapat dibayarkan kepada
pemborong :
Hanya pekerjaan yang telah selesai dilaksanakan dan telah di opname serta
disetujui oleh Pemimpin Proyek, serta harga bahan–bahan bangunan yang berada
di tempat atau lokasi pekerjaan, sepenuhnya menjadi resiko dan tanggung jawab
Pemborong sendiri.
Bilamana sisa uang pekerjaan dipandang atau menurut perhitungan Pemimpin
Proyek tidak cukup banyak, maka Pemborong harus menunggu penyelesaian
pekerjaan tersebut oleh pemborong lain sampai pekerjaan selesai 100%, serta sudah
untuk pertama kali dan dapat diterima baik oleh Pemimpin Proyek.
Meskipun sebagian dari pekerjaan tersebut telah diserahkan kepada
pemborong lain, maka seluruh pekerjaan masih tetap menjadi tanggung jawab
Pemborong Utama (Main Contractor).

PASAL 11
TUNTUTAN PIHAK KETIGA
Kontraktor harus membebaskan Pemilik, Pemberi Tugas, Pemimpin Proyek,
Direktur Tekhnik dan Pengawas terhadap tuntutan pihak ketiga yang terjadi karena
kecelakaan, kerusakan atau kerugian yang timbul akibat pelaksanaan, penyelesaian
dan pemeliharaan pekerjaan.
271

UNTUK SURAT PENAWARAN


PT. MAKMUR JAYA
Jl. Kaliurang KM. 14,5 Yogyakarta

Tlp.(0274) 545859

Email : makmur_jaya@[Link]

Nomor : 021/B/SEK/JWB/V/2022

Lamp : 5 (lima) Ganda.

Hal : SURAT PENAWARAN

Kepada

PEMERINTAH DAERAH
NANGGROE ACEH
DARUSSALAM
Di ACEH

Untuk Pelelangan Terbatas/Penunjukan Langsung yang akan

diadakan pada :

Hari/Tanggal/Jam : Senin/8 Agustus 2022/jam 09.00 s.d. selesai

Tempat : Dinas PU Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

Untuk Pekerjaan : Pembangunan Jalan baru Provinsi Nanggroe Aceh


Darussalam
Yang bertanda tangan di bawah ini :

1. Nama Direktur/Pimpinan : Muhammad Arkam Mussadat


2. Jabatan : Direktur Utama
3. Alamat Rumah Direktur : Jl. Kaliurang KM. 13 Yogyakarta
4. Alamat Perusahaan : Jl. Kaliurang KM. 14,5 Yogyakarta
272

Dengan ini menyatakan

Akan tunduk pada pedoman pelelangan Terbatas/Penunjukan Langsung untuk


Pekerjaan Pembangunan Negara.

Memilih sebagai tempat kedudukan yang tetap pada kantor Panitera dari
Pengadilan Negeri Aceh.

Mengindahkan Syarat-syarat dan Ketentuan-ketentuan di dalam Dokumen


Pelelangan Terbatas/Penunjukan Langsung dan Perubahan-perubahan atau
tambahan-tambahan yang tercantum dalam Risalah Berita Acara Pemberian
Penjelasan Pekerjaan yang diadakan tanggal : Senin, 16 Mei 2022.

Memperhitungkan Pekerjaan Tambah atau Pekerjaan Kurang yang mungkin


ada atas Dasar Rencana Kerja dan Syarat-syatar atau Bestek.

Penawaran tersebut MENGIKAT sampai Pekerjaan selesai sesuai dengan


kontrak.

Sanggup dan bersedia melaksanakan, mendatangkan segala bahan-bahan atau


material dan peralatan kerja yang diperlukan untuk :
Pekerjaan : Pembangunan Jalan baru Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam
Dengan Nilai Kontrak : Rp [Link],98
Jangka Waktu Pelaksanaan : 365 hari

Selama Hari Kalender : 365 hari

Jangka Waktu Pemeliharaan : 90 hari

Selama Hari kalender : 90 hari

Pekerjaan dimulai selambat-lambatnya dalam jangka waktu 7 (tujuh hari


kalender sesudah Surat Perintah Kerja diterbitkan oleh Pemimpin Proyek.
273

Aceh, 4 Juli 2022

Yang menawar :

PT. Makmur Jaya


274

UNTUK PERJANJIAN KONTRAK


PERJANJIAN KONTRAK

Untuk Pelaksanaan pekerjaan Pembangunan Jalan baru

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

Antara

Proyek : Pembangunan Jalan Jalan baru Provinsi Daerah

Nanggroe Aceh Darussalam

Nomor : 021/B/SEKRT/JWB/V/2022

Tanggal : 25 September 2022

Pada hari ini Selasa tanggal 25 bulan September tahun 2022 Bertempat di
Ruang Rapat PT. MAKMUR JAYA kami yang bertanda tangan di bawah ini:

1. NAMA : Dewi Ayu Harjani


JABATAN : Staf Dinas Perhubungan Provinsi Aceh.
ALAMAT : Jalan Mayjend T. Hamzah Bendahara No.52, Aceh.

Dalam hal ini bertindah dalam jabatan tersebut dan oleh karena itu bertindak
untuk dan atas nama Pemerintah Daerah Provinsi Daerah Aceh berdasar Pasal 23
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang pokok-pokok pemerintahan di
daerah. Lembaran Negara Nomor 38 Tahun 1974, untuk selanjutnya disebut
PIHAK KESATU.

2. NAMA : Muhammad Arkam Mussadat


JABATAN : Direktur Utama
ALAMAT : JL. Kaliurang KM. 13 Yogyakarta

Dalam hal ini bertindak didalam jabatan tersebut dan oleh karena
itu bertindak untuk dan atas nama PT. MAKMUR JAYA
275

berdasarkan Surat Keputusan/Akte Notaris No. 17/K/98 Di Aceh No. 17/K/98


tanggal 23 Februari 1998 beserta perubahannya, berdasarkan surat penunjukan P.U.
Aceh tanggal 25 September 2022 selaku Kontraktor selanjutnya disebut PIHAK
KEDUA.
Kedua belah pihak telah sepakat mengadakan ikatan kontrak, untuk
melaksanakan pekerjaan sebagai hasil pelelangan pembangunan jalan baru Provinsi
Aceh berdasarkan ketetapan- ketetapan dalam :

- AV (Algemene Voorwarden) 1941, Nomor 9;


- Peraturan Arbitrage Indonesia tanggal 8 Juni 1951;
- KEPRES Nomor 29 tahun 1984;
- KEPRES Nomor 6 tahun 1987;
- KEPRES Nomor 16 tahun 1994;
- KEPMEN dalam negeri Nomor 23 tahun 1988;

PASAL 12
TUJUAN KONTRAK
Tujuan dari kontrak ini adalah untuk melaksanakan pekerjaan di bawah ini :
Proyek Pembangunan Jalan baru Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (Kota
Pidie) Baik pekerjaan tersebut maupun pekerjaan lain yang mungkin diperintahkan
dan dilaksanakan Perjanjian Kontrak ini harus dilaksanakan sesuai dengan
Dokumen Kontrak yang tercantum dalam daftar pada pasal 22 berikut ini.

PASAL 13
DOKUMEN KONTRAK
Kontrak ini meliputi dokumen-dokumen berikut ini :
1. Perjanjian Kontrak
2. Syarat–syarat Umum Kontrak
3. Syarat–syarat Administrasi
4. Syarat–syarat Teknis
5. Penawaran dan Jadwal Daftar Kuantitas dan Harga
6. Gambar Rencana
276

7. Dokumen penawaran :

a. Metode Pelaksanaan
b. Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan
c. Daftar Peralatan
d. Daftar Staf Kontraktor
8. Surat Perjanjian, yang ditanda tangani kedua belah pihak dan Berita Acara serta
Dokumen lainnya yang dikeluarkan selama pelelangan dan evaluasi
penawaran.
9. Pemberitahuan Pemenang dan Surat Kesanggupan
10. Agenda, bila ada semua dokumen di atas membentuk suatu keseluruhan
dimana setiap pasal dari dokumen–dokumen yang ada tersebut harus diberikan
segera bersama dan saling melengkapi satu sama lain.

PASAL 14
PENGAWASAN PELAKSANAAN
Pengawasan pelaksanaan pekerjaan kontrak ini akan dilaksanakan oleh
Direksi Teknik. PIHAK KEDUA harus melaksanakan pekerjaan sesuai dengan
perintah dan petunjuk Direksi Teknik menurut batasan–batasan dalam Dokumen
Kontrak, Direksi Teknik menyiapkan dan memberikan kepada PIHAK KEDUA,
gambar–gambar yang diperlukan dalam Dokumen Kontrak untuk pelaksanaan
Kontrak pada saat yang tepat sebelum atau selama pekerjaanberlangsung.
PIHAK PERTAMA yang dalam hal ini Dinas PU Kota Bima, selaku Direksi
Teknik yang mewakili PIHAK PERTAMA dan memberitahukan secara tertulis
kepada PIHAK KEDUA
277

PASAL 15
KEWAJIBAN KONTRAKTOR DAN PEMBERI TUGAS
PIHAK KEDUA wajib menyelesaikan pekerjaan dengan lengkap dan
memeliharanya sesuai dengan perjanjian yang telah ditetapkan dan PIHAK
PERTAMA mempertimbangkan/menilai penyelesaian pekerjaan tersebut serta
membayar PIHAK KEDUA sebesar nilai kontraknya pada waktu dan cara yang
telah ditentukan dalam Kontrak.

PASAL 16
JUMLAH NILAI KONTRAK
Besarnya nilai kontrak termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN), yang
dihitung berdasarkan harga satuan, lump sum dan perkiraan besarnya kuantitas
yang dicantumkan dalam jadual kuantitas dan Harga adalah sebesar :
Rp [Link],98
Besarnya nilai kontrak ini dapat diubah sesuai dengan ketentuan dan syarat-
syarat dari Dokumen Kontrak.

PASAL 17
MASA KONTRAK
Masa kontrak adalah 180 (seratus delapanpuluh) hari kalender dihitung dari
tanggal dikeluarkannya SPMK (Surat Perintah Mulai Kerja) dan terdiri dari 173
(seratus tujuh puluh tiga) hari kalender waktu Pelaksanaan Pekerjaan yang
diakhiri pada saat Serah Terima Sementara dan 90 (sembilan puluh) hari masa
pemeliharaan, yang dimulai pada saat tanggal Serah Terima Sementara yang
disetujui.

PASAL 18
DOMISILI
Kedua belah pihak memilih domisili di wilayah hukum Kantor Panitera
Pengadilan Negeri di Daerah Aceh.
278

PASAL 19
KETENTUAN PENUTUP
Dengan ditanda tanganinya kontrak ini oleh PIHAK PERTAMA dan
PIHAK KEDUA maka ketentuan yang tercantum dalam Dokumen Kontrak,
termasuk segala sanksinya, mempunyai kekuatan mengikat dan berlaku sebagai
undang–undang bagi kedua belah pihak berdasarkan ketentuan dalam Pasal 1338
ayat 1 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
Dengan dan karena ketentuan–ketentuan yang ditetapkan dalam Dokumen
Kontrak, maka pada pasal 1226 Kitab Undang–undang hukum perdata tidak
diperlukan lagi dalam kontrak ini, apabila PIHAK KEDUA tidak memenuhi
kewajibannya menurut kontrak.
Kontrak beserta lampiran–lampirannya yang merupakan bagian tak
terpisahkan dibuat dalam rangkap 2 (dua), bermaterai Rp. 1000,00 (seribu rupiah),
yang masing–masing mempunyai kekuatan hukum yang sama, masing–masing
untuk PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA serta tembusan rangkap 5 (lima).

Aceh, 25 September 2022

PIHAK KEDUA PIHAK PERTAMA

KONTRAKTOR Dinas PU PEMERINTAH ACEH

YOGYAKARTA

……………………. …………………..

Nama : Muhammad Arkam M Nama : Dewi Ayu Harjani

Jabatan : Direktur Utama Jabatan : Staf Dinas Perhubungan


279

7.3 SYARAT-SYARAT TEKNIK

7.3.1 Umum

PASAL 1
DEFINISI
Apabila dalam Syarat-syarat Teknik ini atau di dalam Dokumen Surat
Perjanjian yang lain digunakan istilah–istilah, singkatan–singkatan atau kata– kata
seperti di bawah ini, maka maksud artinya haruslah ditafsirkan sebagai berikut :
A.A.S.H.O. adalah The American Association of State Highway Official.
A.S.T.M. adalah The American Society for Testing and Materials.
A.A.S.H.T.O. adalah The Americans Associations of State Highway and
Transportation Official.
Harga Kontrak adalah setiap harga yang disebut dalam perincian harga
Penawaran dari Peserta Lelang yang telah diputuskan menang dalam Pelelangan.
Lapangan adalah daerah dimana proyek terletak dan tempat–tempat lain
yang disediakan oleh Kuasa Bangunan untuk Pembangunan proyek tersebut.

SEKSI 1.12
JADWAL PELAKSANAAN
1.12.1 UMUM
1. Uraian
Jadwal pelaksanaan diperlukan untuk perencanaan, pelaksanaan dan
pemantauan yang sebagaimana mestinya atas [Link] tersebut
diperlukan untuk menjelaskan kegiatan-kegiatan pekerjaan setelah kegiatan
dalam program mobilisasi telah selesai.

2. Pekerjaan Seksi Lain yang Berkaitan dengan Seksi Ini


a. Syarat-syarat Kontrak : Pasal-pasal yang berkaitan

b. Mobilisasi : Seksi 1.2

c. Rekayasa Lapangan : Seksi 1.9


280

d. Bahan dan Penyimpanan : Seksi 1.11

e. Prosedur Variasi : Seksi 1.13


3. Pengajuan
a. Penyedia Jasa harus menyiapkan jadwal pelaksanaan dalam batas waktu
15 hari setelah Surat Penunjukan Pemenang. Jadwal pelaksanaan itu harus
diserahkan dan mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan, dengan detil
yang disyaratkan dalam Pasal 1.12.2 dari Spesifikasi ini, dimana detil
tersebut harus menunjukkan urutankegiatan yang diusulkan oleh Penyedia
Jasa dalam melaksanakan Pekerjaan.
b. Setiap akhir setiap bulan Penyedia Jasa harus melengkapi Jadwal
Pelaksanaan untuk menggambarkan secara akurat kemajuan pekerjaan
(progress) aktual sampai tanggal 25 pada bulan tersebut.
c. Setiap interval mingguan Penyedia Jasa harus menyerahkan pada setiap
hari Senin pagi, jadwal kegiatan mingguan yang menunjukkan lokasi
seluruh operasi dan kegiatan yang akan dilaksanakan selama minggu
tersebut.
d. Jadwal Pelaksanaan untuk Sub Penyedia Jasa harus diserahkan terpisah
atau menjadi satu dalam seluruh jadwal pelaksanaan.

1.12.2 DETIL JADWAL PELAKSANAAN


1. Jadwal Kemajuan Keuangan
Penyedia Jasa harus membuat Jadwal Kemajuan Keuangan dalam bentuk
diagram balok horisontal dan dilengkapi kurva yang menggambarkan seluruh
kemajuan pekerjaan dengan karakteristik berikut :
a. Setiap jenis Mata Pembayaran atau kegiatan dari kelompok Mata
Pembayaran yang berkaitan harus digambarkan dalam diagram balok
yang terpisah, dan harus dibentuk sesuai dengan urutan dari masing-
masing kegiatan pekerjaan.
b. Skala waktu dalam arah horisontal harus dinyatakan berdasarkan satuan
bulan.
281

c. Setiap diagram balok horisontal harus mempunyai ruangan untuk


mencatat kemajuan aktual dari setiap pekerjaan dibandingkan dengan
kemajuan rencana.
d. Kurva seluruh kemajuan pekerjaan (overall progress) harus dapat
memberikan gambaran tentang kemajuan keuangan rencana pada setiap
akhir bulan terhadap kemajuan keuangan aktual.
e. Skala dan format dari Jadwal Kemajuan Keuangan harus sedemikian
rupa hingga tersedia ruangan untuk pencatatan, revisi dan pemutakhiran
mendatang. Ukuran lembar kertas minimum adalah A3.
2. Analisa Jaringan (Network Analysis)
Jika diperlukan oleh Direksi Pekerjaan, Penyedia Jasa harus menyediakan
Analisa Jaringan yang menunjukkan awal dan akhir setiap tanggal mulainyasuatu
kegiatan sehingga dapat diperoleh suatu jadwal jalur kritis (critical path
schedule) dan dapat diperoleh jadwal untuk menentukan jenis-jenis pekerjaan
yang kritis dalam seluruh jadwal pelaksanaan.
3. Jadwal Produksi Untuk Instalasi Pencampur Aspal (AMP) dan Peralatan
Pendukung
Penyedia Jasa harus menyediakan Jadwal untuk Instalasi Pencampur Aspaldan
Peralatan Pendukung secara terpisah, disertai dengan suatu perhitunganyang
menunjukkan bahwa hasil produksi Instalasi Pencampur Aspal dapattercapai
sesuai rencana kebutuhan.
4. Jadwal Penyediaan Bahan
Penyedia Jasa harus menyediakan jadwal yang terpisah untuk lokasi semua
sumber bahan, bersama dengan rencana tanggal penyerahan contoh-contoh
bahan dan rencana produksi bahan dan jadwal pengiriman.
5. Jadwal Pelaksanaan Jembatan
282

1.12.3 REVISI JADWAL PELAKSANAAN


1. Waktu
Jika, pada setiap saat :
a. Kemajuan pekerjaan aktual terlalu lambat untuk dapat selesai dalam
Periode Pelaksanaan, dan/atau
b. Kemajuan pekerjaan jatuh (atau akan jatuh) lebih lambat dari program
yang sedang berjalan, selain dari akibat yang disebabkan oleh :
1) Variasi (atau perubahan penting lainnya dalam kuantitas darisuatu
jenis pekerjaan yang termasuk dalam Kontrak,
2) Perpanjangan waktu pelaksanaan,
3) Kondisi iklim yang luar biasa merugikan,
4) Setiap keterlambatan, kesulitan atau pencegahan
yang disebabkan atau diakibatkan oleh Pengguna Jasa, Personil
Pengguna Jasa, atau Penyedia Jasa lain dari Pengguna Jas Kekurangan
yang tak terduga dalam ketersediaan personil atau barang-barang yang
diakibatkan oleh epidemik atau tindakan- tindakan Pemerintah
selanjutnya Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan Penyedia Jasa
untuk mengajukan suatu revisi program dan laporan pendukung yang
menguraikan usulan revisi metoda yang akan diambil Penyedia Jasa
agar dapat mempercepat kemajuan pekerjaan dan selesai dalam
Periode Pelaksanaan.

2. Laporan
Pada saat menyerahkan Revisi Jadwal Pelaksanaan maka Penyedia
Jasa harus melengkapi laporan ringkas yang memberikan alasan-
alasan timbulnya revisi, yang harus meliputi:
a. Uraian revisi, termasuk pengaruh pada seluruh jadwal karena adanya
perubahan Lingkup, revisi dalam kuantitas atau perubahan jangka waktu
kegiatan dan perubahan lainnya yang dapat mempengaruhi jadwal.
283

b. Pembahasan lokasi-lokasi ynag bermasalah, termasuk faktor-faktor


penghambat yang sedang berlangsung maupun yang harus diperkirakan
serta dampaknya.
c. Tindakan perbaikan yang diambil, diusulkan dan pengaruhnya.

SEKSI 1.2
MOBILISASI DAN DEMOBILISASI
1.2.1 Umum
1. Uraian
Lingkup kegiatan mobilisasi yang diperlukan dalam Kontrak ini akan
tergantung pada jenis dan volume pekerjaan yang harus dilaksanakan,
sebagaimana disyaratkan di bagian-bagian lain dari Dokumen Kontrak,
dan secara umum harus memenuhi berikut:
a. Ketentuan Mobilisasi untuk semua Kontrak
1) Penyewaan atau pembelian sebidang lahan yang diperlukan untuk
base camp Penyedia Jasa dan kegiatan pelaksanaan.
2) Mobilisasi semua Personil Penyedia Jasa sesuai dengan struktur
organisasi pelaksana yang telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan
termasuk para pekerja yang diperlukan dalam pelaksanaan dan
penyelesaian pekerjaan dalam Kontrak dan Personil Ahli K3 atau
Petugas K3 sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan dalam Seksi
1.19 dari Spesifikasi ini.
3) Mobilisasi dan pemasangan peralatan sesuai dengan daftar
peralatan yang tercantum dalam Penawaran, dari suatu lokasi asal
ke tempat pekerjaan dimana peralatan tersebut akan digunakan
menurut Kontrak ini.
4) Penyediaan dan pemeliharaan base camp Penyedia Jasa, jika perlu
termasuk kantor lapangan, tempat tinggal, bengkel, gudang, dan
sebagainya.
5) Perkuatan jembatan lama untuk pengangkutan alat-alat berat.
284

6) Ketentuan Mobilisasi Kantor Lapangan dan Fasilitasnya untuk


Direksi Pekerjaan
7) Kebutuhan ini akan disediakan dalam Kontrak lain.
b. Ketentuan Mobilisasi Fasilitas Pengendalian Mutu
Penyediaan dan pemeliharaan laboratorium uji mutu bahan dan
pekerjaan di lapangan harus memenuhi ketentuan yang disyaratkan
dalam Seksi 1.4 dari Spesifikasi ini. Gedung laboratorium dan
peralatannya, yang dipasok menurut Kontrak ini, akan tetap
menjadi milik Penyedia Jasa pada waktu kegiatan selesai.
c. Kegiatan Demobilisasi untuk semua Kontrak
Pembongkaran tempat kerja oleh Penyedia Jasa pada saat akhir
Kontrak, termasuk pemindahan semua instalasi, peralatan dan
perlengkapan daritanah milik Pemerintah dan pengembalian kondisi
tempat kerja menjadi kondisi seperti semula sebelum Pekerjaan
dimula
2. Pekerjaan Seksi Lain yang Berkaitan dengan Seksi Ini
a. Syarat-syarat Kontrak ::: Pasal-pasal berkaitan
b. Kantor Lapangan dan : Seksi 1.3
Fasilitasnya
c. Pelayanan Pengujian : Seksi 1.4
Laboratorium
d. Rekayasa Lapangan : Seksi 1.9
e. Jadwal Pelaksanaan : Seksi 1.12
f. Pekerjaan Pembersihan : Seksi 1.16
g. Pengamanan Lingkungan Hidup : Seksi 1.17
h. Keselamatan dan Kesehatan : Seksi 1.19
Kerja
i. Ketentuan-ketentuan tersendiri lainnya seperti didefinisikan
dalamSeksi lain yang berhubungan dalam Spesifikasi ini.
285

1.2.2 PROGRAM MOBILISASI


1. Dalam waktu paling lambat 7 hari setelah Surat Perintah Mulai Kerja (Permen
PU No.43 tahun 2007), Penyedia Jasa harus melaksanakan Rapat Persiapan
Pelaksanaan (Pre Construction Meeting) yang dihadiri Pengguna Jasa, Direksi
Pekerjaan, Wakil Direksi Pekerjaan (bila ada), dan Penyedia Jasa untuk
membahas semua hal baik yang teknis maupun yang non teknisdalam kegiatan
ini. Agenda dalam rapat harus mencakup namun tidak terbatas pada berikut ini :
a. Pendahuluan
b. Sinkronisasi Struktur Organisasi:

1) Struktur Organisasi Pengguna Jasa

2) Struktur Organisasi Penyedia Jasa

3) Struktur Organisasi Direksi Pekerjaan


c. Masalah-masalah Lapangan:

1) Ruang Milik Jalan

2) Sumber-sumber Bahan

3) Lokasi Base Camp


d. Wakil Penyedia Jasa
e. Pengajuan
f. Persetujuan
g. Dokumen Penyelesaian Pekerjaan/Penyerahan Pertama Pekerjaan Selesai
h. Rencana Kerja:
1) Bagan Jadwal Pelaksanaan kontrak yang menunjukkan waktu dan
urutan kegiatan utama yang membentuk Pekerjaaan
2) Rencana Mobilisasi
3) Rencana Relokasi
4) Rencana Kesehatan dan Keselamatan Kerja Kontrak (RK3K)
5) Program Mutu
6) Rencana Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas
286

7) Rencana Inspeksi dan Pengujian


8) Dokumen Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (jika
ada), Dokumen Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (jika
ada), atau sekurang-kurangnya standar dan prosedur pengelolaan
lingkungan yang berlaku khusus untuk kegiatan tersebut.
a. Komunikasi dan korespondensi
b. Rapat Pelaksanaan dan jadwal pelaksanaan pekerjaan
c. Pelaporan dan pemantauan
2. Dalam waktu 14 hari setelah Rapat Persiapan Pelaksanaan, Penyedia Jasa harus
menyerahkan Program Mobilisasi (termasuk program perkuatan jembatan, bila
ada) dan Jadwal Kemajuan Pelaksanaan kepada Direksi Pekerjaan untuk
dimintakan persetujuannya.
3. Program mobilisasi harus menetapkan waktu untuk semua kegiatan mobilisasi
yang disyaratkan dalam Pasal 1.2.1.(1) dan harus mencakup informasi tambahan
berikut:
a. Lokasi base camp Penyedia Jasa dengan denah lokasi umum dan denah detil
di lapangan yang menunjukkan lokasi kantor Penyedia Jasa, bengkel,
gudang, mesin pemecah batu dan instalasi pencampur aspal, serta
laboratorium bilamana fasilitas tersebut termasuk dalam Lingkup Kontrak.
b. Jadwal pengiriman peralatan yang menunjukkan lokasi asal dari semua
peralatan yang tercantum dalam Daftar Peralatan yang diusulkan dalam
Penawaran, bersama dengan usulan cara pengangkutan dan jadwal
kedatangan peralatan di lapangan.
c. Setiap perubahan pada peralatan maupun personil yang diusulkan dalam
Penawaran harus memperoleh persetujuan dari Direksi Pekerjaan.
d. Suatu daftar detil yang menunjukkan struktur yang memerlukan perkuatan
agar aman dilewati alat-alat berat, usulan metodologi pelaksanaan dan
jadwal tanggal mulai dan tanggal selesai untuk perkuatan setiap struktur.
e. Suatu jadwal kemajuan yang lengkap dalam format bagan balok (bar chart)
yang menunjukkan tiap kegiatan mobilisasi utama dan suatu kurva
kemajuan untuk menyatakan persentase kemajuan mobilisasi.
287

PASAL 2
PERALATAN
1. Kontraktor harus mengajukan daftar terperinci tentang peralatan yang akan
digunakan untuk melaksanakan pekerjaan. Daftar tersebut harus disetujui oleh
direksi dalam hal tahun pembuatannya, pabrik pembuatnya, nomor pengenal,
kondisi rencana waktu tiba ditempat pekerjaan. Kontraktor mendatangkan alat–
alat tersebut, sebagian atau seluruhnya, tanpa persetujuan dari Direksi.
2. Kontraktor diharuskan mempersiapkan alat–alat yang perlu untuk melaksanakan
tiap tahap dari pekerjaannya sebelum tahap pekerjaan tersebut dimulai.
Penyediaan di tempat pekerjaan dan persiapannya harus terlebih dahulu
mendapat penelitian dan persetujuan dari Direksi.

SEKSI 1.11
BAHAN DAN PENYIMPANAN

1.11.1 UMUM
1. Uraian
Bahan yang dipergunakan di dalam Pekerjaan harus:
a. Memenuhi spesifikasi dan standar yang berlaku.
b. Memenuhi ukuran, pembuatan, jenis dan mutu yang disyaratkan dalam
Gambar dan Seksi lain dari Spesifikasi ini, atau sebagaimana secara
khusus disetujui tertulis oleh Direksi Pekerjaan.
c. Semua produk harus baru

2. Pekerjaan Seksi Lain yang Berkaitan dengan Seksi Ini


a. Syarat-syarat Kontrak : Pasal-pasal berkaitan
b. Transportasi dan Penanganan : Seksi 1.5
c. Pekerjaan Pembersihan : Seksi 1.16
3. Pengajuan
a. Sebelum mengadakan pemesanan atau membuka daerah sumber bahan
untuk setiap jenis bahan, maka Penyedia Jasa harus menyerahkan kepada
Direksi Pekerjaan contoh bahan, bersama dengan detil lokasi sumber bahan
288

dan Pasal ketentuan bahan dalam Spesifikasi yang mungkin dapat dipenuhi
oleh contoh bahan, untuk mendapatkan persetujuan
b. Penyedia Jasa harus melakukan semua pengaturan untuk memilih lokasi,
memilih bahan, dan mengolah bahan alami sesuai dengan Spesifikasi ini,
dan harus menyerahkan kepada Direksi Pekerjaan semua informasi yang
berhubungan dengan lokasi sumber bahan paling sedikit 30 hari sebelum
pekerjaan peng-olahan bahan dimulai, untuk mendapatkan persetujuan.
Persetujuan Direksi Pekerjaan atas sumber bahan tersebut tidak dapat
diartikan bahwa seluruh bahan yang terdapat di lokasi sumber bahan telah
disetujui untuk dipakai.
c. Bilamana bahan aspal, semen, baja dan bahan-bahan fabrikasi lainnya akan
digunakan, maka sertifikat pabrik (mill certificate) bahan tersebut harus
diserah-kan kepada Direksi Pekerjaan untuk mendapatkan persetujuan
awal. Direksi Pekerjaan akan memberikan persetujuan tertulis kepada
Penyedia Jasa untuk melakukan pemesanan bahan. Selanjutnya bahan yang
sudah sampai di lapangan harus diuji ulang seperti yang diuraikan dalam
Pasal [Link]).b) di bawah pengawasan Direksi Pekerjaan atau
sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

1.11.2 PENGADAAN BAHAN


1. Sumber Bahan
Lokasi sumber bahan yang mungkin dapat dipergunakan dan pernah
diidentifikasikan serta diberikan dalam Gambar hanya merupakan bahan
informasi bagi Penyedia Jasa. Penyedia Jasa tetap harus bertanggungjawab
untuk mengidentifikasi dan memeriksa ualang apakah bahan tersebut cocok
untuk dipergunakan dalam pelaksanaan pekerjaan.
2. Variasi Mutu Bahan
Penyedia Jasa harus menentukan sendiri jumlah serta jenis peralatan dan
pekerja yang dibutuhkan untuk menghasilkan bahan yang memenuhi
[Link] Jasa harus menyadari bahwa contoh-contoh bahan
tersebut tidak mungkin dapat menentukan batas-batas mutu bahan dengan
289

tepat pada seluruh deposit, dan variasi mutu bahan harus dipandang
sebagai hal yang biasa dan sudah diperkirakan. Direksi Pekerjaan dapat
memerintahkan Penyedia Jasa untuk melakukan pengadaan bahan dari
setiap tempat pada suatu deposit dan dapat menolak tempat-tempat tertentu
pada suatu deposit yang tidak dapat diterima.
3. Persetujuan
a) Pemesanan bahan tidak boleh dilakukan sebelum mendapat persetujuan
tertulis dari Direksi Pekerjaan sesuai dengan maksud penggunaannya.
Bahan tidak boleh dipergunakan untuk maksud lain selain dari
peruntukan yang telah disetujui.
b) Jika mutu bahan yang dikirim ke lapangan tidak sesuai dengan mutu
bahan yang sebelumnya telah diperiksa dan diuji, maka bahan tersebut
harus ditolak, dan harus disingkirkan dari lapangan dalam waktu 48 jam,
kecuali terdapat persetujuan lain dari Direksi Pekerjaan.

1.11.3 PEMBAYARAN
1. Penyedia Jasa harus melakukan semua pengaturan dengan pemilik atau
pemakai lahan untuk memperoleh hak konsesi yang diperlukan sehingga
dapat mengambil bahan yang akan digunakan dalam Pekerjaan. Penyedia
Jasa bertanggungjawab atas semua kompensasi dan restribusi yang harus
dibayarkan sehubungan dengan penggalian bahan atau keperluan lainnya.
Tidak ada pembayaran terpisah yang akan dilakukan untuk kompensasi dan
restribusi yang dibayar Penyedia Jasa, dan seluruh biaya tersebut harus
sudah dimasukkan ke dalam Harga Satuan untuk mata pembayaran yang
terkait dalam Daftar Kuantitas dan Harga.
2. Penyedia Jasa harus bertanggungjawab untuk membuat jalan masuk,
membuang gundukan tanah dan semua biaya pelaksanaan lainnya yang
diperlukan untuk pengadaan bahan, termasuk pengembalian lapisan humus
dan meninggalkan daerah dan jalan masuk itu dalam kondisi rapi dan dapat
diterima. Seluruh biaya tersebut harus sudah dimasukkan ke dalam Harga
Satuan untuk mata pembayaran yang terkait dalam Daftar Kuantitas dan
290

Harga.

SEKSI 1.3
KANTOR LAPANGAN DAN FASILITASNYA

1.3.1 UMUM
1. Uraian Pekerjaan
Menurut Seksi ini, Penyedia Jasa harus membangun, menyediakan,
memasang, memelihara, membersihkan, menjaga, dan pada saat selesainya
Kontrak harus memindahkan atau membuang semua bangunan kantor
darurat, gudang-gudang penyimpanan, barak-barak pekerja dan bengkel-
bengkel yang dibutuhkan untuk pengelolaan dan pengawasan kegiatan.
2. Pekerjaan Seksi Lain yang Berkaitan dengan Seksi Ini

a. Mobilisasi : Seksi 1.2

b. Bahan dan Penyimpanan : Seksi 1.11

c. Pekerjaan Pembersihan : Seksi 1.16

d. Pengamanan Lingkungan Hidup : Seksi 1.17

e. Keselamatan dan Kesehatan Kerja : Seksi 1.19

3. Ketentuan Umum
a. Penyedia Jasa harus mentaati semua peraturan-peraturan Nasional
maupun Daerah.
b. Kantor dan fasilitasnya harus ditempatkan sesuai dengan Lokasi
Umum dan Denah Lapangan yang telah disetujui dan merupakan
bagian dari Program Mobilisasi seperti dirinci dalam Pasal 1.2.2.(2),
dimana penempatannya harus diusahakan sedekat mungkin dengan
daerah kerja (site) dantelah mendapat persetujuan dari Direksi
Pekerjaan.
c. Bangunan untuk kantor dan fasilitasnya harus ditempatkan
sedemikian rupa sehingga terbebas dari polusi yang dihasilkan oleh
291

kegiatan pelaksanaan.
d. Bangunan yang dibuat harus mempunyai kekuatan struktural yang
baik, tahan cuaca, dan elevasi lantai yang lebih tinggi dari tanah di
sekitarnya. Bangunan untuk penyimpanan bahan harus diberi bahan
pelindung yang cocok sehingga bahan-bahan yang disimpan tidak
akan mengalami kerusakan.
e. Sesuai pilihan Penyedia Jasa, bangunan dapat dibuat di tempat atau
dirakit dari komponen-komponen pra-fabrikasi.
f. Kantor lapangan dan gudang sementara harus didirikan diatas pondasi
yang mantap dan dilengkapi dengan penghubung dengan untuk
pelayanan utilitas.
g. Bahan, peralatan dan perlengkapan yang digunakan untuk bangunan
dapat baru atau bekas pakai, tetapi dengan syarat harus dapat
berfungsi, cocok dengan maksud pemakaiannya dan tidak
bertentangan dengan perundang-undangan dan peraturan yang
berlaku.
h. Lahan untuk kantor lapangan dan semacamnya harus ditimbun dan
diratakan sehingga layak untuk ditempati bangunan, bebas dari
genangan air, diberi pagar keliling, dan dilengkapi minimum dengan
jalan masuk dari kerikil serta tempat parkir.
Penyedia Jasa harus menyediakan sarana dan prasarana untuk kesehatan dan
keselamatan kerja sesuai dengan ketentuan pada Seksi 1.19.

PASAL 3
PEMBERITAHUAN UNTUK MEMULAI PEKERJAAN
1. Penjelasan.
Kontraktor diharuskan untuk memberikan penjelasan selengkapnya, apabila
Direksi memerlukan tentang tempat–tempat asal material yang didatangkan
untuk suatuu tahap pekerjaan yang akan dimulai pelaksanaannya.
2. Pemberitahuan.
292

Dalam keadaan apapun tidak dibenarkan untuk memulai pekerjaan yang


sifatnya permanen tanpa terlebih dahulu memberitahu dan mendapat
mersetujuan dari Direksi.

PASAL 4
MUTU TENAGA KERJA
Tenaga–tenaga kerja yang digunakan hendaknya dari tenaga–tenaga yang
ahli/terlatih dan berpengalaman pada bidangnya dan dapat melaksanakan pekerjaan
dengan baik sesuai dengan ketentuan, petunjuk Direksi.

PASAL 5
SATUAN UKURAN
Semua satuan yang disebutkan dalam syarat–syarat teknik ini serta yang
digunakan di dalam pekerjaan adalah standar meter dan kilogram. Bila disebut
satuan Ton, yang dimaksud adalah Ton yang bernilai 1.000 kilogram.

PASAL 6
PEKERJAAN DAN BAHAN – BAHAN YANG TERMASUK DI DALAM
HARGA SATUAN
Pada keadaan dimana ‘mata pembiayaan’, pasal atau sebagian dari pasal
dalam syarat–syarat teknik ini sehubungan dengan mata pembiayaan menunjujan
bahwa dalam Biaya Kontrak telah tercakup untuk keperluan tersebut, pekerjaan
atau material yang sama harus tidak dinilai lagi atau dibayar lagi pada pembiayaan
lain yang mungkin ada pada pasal–pasal lain di dalam syarat–syarat teknik ini.

PASAL 7
GAMBAR RENCANA
Gambar rencana untuk proyek ini merupakan yang tak terpisahkan dari
Dokumen Kontrak. Harus juga disadari bahwa revisi–revisi pada seksi dan detail–
detail gambar mungkin akan diadakan dalam masa pelaksanaan.
293

Kedudukan bangunan jalan dan fasilitasnya yang telah selesai harus sesuai
dengan dimensi seperti yang tercantum dalam gambar rencana, kecuali Direksi
menentukan lain.

SEKSI 2.1
SELOKAN DAN SALURAN AIR
2.1.1 UMUM
1. Uraian

a. Pekerjaan ini mencakup pembuatan selokan baru yang dilapisi (lined)


maupun tidak (unlined) dan perataan kembali selokan lama yang tidak
dilapisi, sesuai dengan spesifikasi ini serta memenuhi garis, ketinggian,
dan detail yang ditunjukkan pada gambar. Selokan yang dilapisi akan
dibuat dari pasangan batu dengan mortar atau yang seperti ditunjukka
dalam gambar.

b. Pekerjaan ini juga mencakup relokasi atau perlindungan terhadap sungai


yang ada, kanal irigasi atau saluran air lainnya yang pasti tidak
terhindarkan dari gangguan baik yang bersidat sementara maupun tetap,
dalam penyelesaian pekerjaan yang memenuhi ketentuan dalam kontrak
ini.
Penerbitan Detil Pelaksanaan Detil pelaksanaan selokan, baik yang dilapisi maupun
tidak, yang tidak dimasukkan dalam Dokumen Kontrak pada saat pelelangan akan
diterbitkan oleh Direksi Pekerjaan

SEKSI 3.3
GALIAN UNTUK STRUKTUR DAN PIPA
1. Galian untuk pipa gorong-gorong atau drainase beton dan galian untuk pondasi
jembatan atau struktur lain , harus cukup ukurannya sehingga memungkunkan
penetapan struktur atau telapak struktur dengan lebar dan panjang sebagaimana
mestinya dan pemasangan bahan dengan benar, pengawasan dan pemadatan
penimbunan kembali di bawah dan di sekeliling pekerjaan.
294

2. Bila galian parit untuk gorong-gorong atau lainnya di lakukan pada timbunan
baru,maka timbunan harus di kerjakan sampai ketinggian yang di perlukan
dengan jarak masing-masing lokasi galian tidak kurang dari 5 kali lebar galian
parit tersebut, selanjutnya galian parit tersebut di laksanakan dengan sisi-sisi
yang setegak mungkin sebagaimana kondisi tanahnya mengijinkan. Terekspos
pada pondasi jembatan harus di bersihkan dari semua bahan yang lepas dan di
gali sampai permukaan yang keras baik elevasi,kemiringan atau bertangga
sebagaimana yang
3. Semua bahan pondasi batu atau setrata keras lainnya yang terekspos pada
pondasi jembatan harus di bersihkan dari semua bahan yang lepas dan di gali
sampai permukaan yang keras, baik elevasi,kemiringan atau bertangga
sebagaimana yang di perintahkan oleh Direksi Pekerjaan .Semua serpihan dan
retak-retak harus di bersihkan dan [Link] batu yang lepas dan terurai
dan setrata yang tipis harus di [Link] pondasi di tempatkan pada landasan
selain batu, galian sampai elevasi akhir pondasi untuk telapak struktur tidak
boleh di laksanakan sampai sesaat sesudah pondasi telapak di pastikan elevasi
penempatannya.
Bila pondasi tiang pancang digunakan, galian setiap lubang (pit) harus selesai
sebelum tiang dipancangkan, dan penimbunan kembali pondasi dilakukan setelah
pemancangan selesai. Setelah pemancangan selesai seluruhnya, semua bahan lepas
dan yang bergeser harus dibuang, sampai diperoleh dasar permukaan yang rata
danutuh untuk penempatan telapak pondasi tiang pancangnya.

SEKSI 2.3
GORONG-GORONG DAN DRAINASE
BETON

2.3.1 UMUM
1. Uraian
(a) Pekerjaan ini mencakup perbaikan, perpanjangan, penggantian atau
pembuatan gorong-gorong pipa beton bertulang maupun tanpa tulangan
295

atau pipa logam gelombang (corrugated), gorong-gorong persegi dan


plat beton bertulang, termasuk tembok kepala, struktur lubang masuk
dan keluar, serta pekerjaan lainnya yang berhubungan denga
perlindungan terhadap penggerusan, sesuai dengan gambar dan
spesifikasi inidan lokasi yang ditunjukkan oleh Direksi Pekerjaan.

(b) Pekerjaan ini juga mencakup pemasangan drainase dengan pelapisan


beton (concretelined drains), bila mana diperlukan dilengkapi dengan
pelat penutup, pada lokasi yang disetujui seperti dalam daerah
perkotaan dan dimana air rembesan dari selokan yang tidak dilapisi
dapat mengakibatkan ketidakstabilan lereng.
2. Penerbitan Detail Pelaksanaan gorong-gorong dan drainase beton, yang
tidak dimasukkan dalam Dokumen Kontrak pada saat pelelangan akan
disediakan oleh Direksi Pekerjaan.

2.3.2 PELAKSANAAN
1. Persiapan Tempat Kerja
a. Pengalian dan persiapan parit serta pondasi untuk drainase beton dan
gorong-gorong harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Seksi 3.1
dari Spesifikasi ini, dan yang khususnya dengan Pasal [Link], Galian
untuk Struktur dan Pipa

b. Bahan untuk landasan harus ditempatkan sesuai dengan ketentuan Seksi


2.4 dari Spesifikasi ini dan yang khususnya dengan Pasal [Link],
Pemasangan Bahan Landasan.
2. Penempatan Gorong – gorong Pipa Beton
a. Pipa beton harus dipasang dengan hati – hati, lidah sambungan harus
diletakkan di bagian hilir, lidah sambungan harus dimasukkan
sepenuhnya ke dalam alur sambungan dan sesuai dengan arah serta
kelandaiannya.
b. Sebelum melanjutkan pemasangan bagian pipa beton berikutnya, maka
sisi dalam dari setengah bagian bawah alur sambungan harus diberi
296

adukan yang cukup. Pada saat yang sama setengah bagian atas lidah
sambungan pipa berikutnya juga harus diberi adukan yang sama.
c. Setelah pipa beton terpasang, sambungan yang belum terisi harus diisi
dengan adukan dan adukan tambahan harus diberikan untuk membentuk
selimut adukan di sekeliling sambungan.
d. Penimbunan kembali dan pemadatan sekeliling dan diatas gorong
e. – gorong beton harus dilaksanakan seperti yang disyaratkan mendetil
dalam Seksi 3.2, Timbunan, dengan menggunakan bahan yang
memenuhi ketentuan yang diberikan untuk Timbunan Pilihan. Bahan
harus terdiri dari tanah atau kerikil yang bebas dari gumpalan lempung
dan bahan – bahan tetumbuhan serta yang tidak mengandung batu yang
tertahan pada ayakan 25 mm.
f. Penimbunan kembali harus dilakukan sampai minimum 30 cm diatas
puncak pipa dan kecuali kalau bukan suatu galuan parit, maka jarak
sumbu pipa ke masing – masing sisi minimum satu setengah kali
diameter. Penimbunan kembali pada celah – celah di bawah setengah
bagian bawah pipa harus mendapat perhatian khusus agar dapat
dipadatkan sebagaimana mestinya.
g. Alat berat untuk pekerjaan tanah dan mesin gilas tidak boleh beroperasi
lebih dekat 1,5 m dari pipa sampai seluruh pipa terbungkus dengan
ketinggian paling sedikit 60 cm diatas puncak pipa. Perlengkapan ringan
dapat dioperasikan dalam batas ketentuan tersebut diatas asalkan
penimbunan kembali telah mencapai ketinggian 30 cm diatas puncak
pipa. Meskipun demikian dan tidak bertentangan dengan ketentuan yang
diatas. Penyedia jasa gharus bertanggung jawab dan harus memperbaiki
setiap kerusakan yang terjadi akibat kegiatan tersebut.
h. Pipa beton harus diselimuti dengan beton sesuai dengan detail yang
ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh
Direksi Pekerjaan bilamana tinggi timbunan di atas pipa melebihi
ketentuan maksimum atau kurang dari ketentuan minimum dari yang
ditunjukkan dalam Gambar atau spesifikasi dari pabrik pembuatnya
297

untuk ukuran dan kelas pipa tertentu.

SEKSI 8.4
PERLENGKAPAN JALAN DAN PENGATUR LALU
LINTAS

8.4.1 UMUM
1. Uraian
Pekerjaan ini meliputi memasok, merakit dan memasang perlengkapan jalan
baru atau penggantian perlengkapan jalan lama seperti rambu jalan, patok
pangarah, patok kilomater, rel pengaman, paku jalan, mata kucing, kerb,
trotoar, lampu pengatur lalu lintas, lampu penerangan jalan dan pengecatan
marka jalan baik pada permukaan perkerasan lama maupun yang selesai di-
overlay, pada lokasi yang ditunjukkan dalam Gambar atausebagaimana yang
diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.
Pekerjaan pemasangan perlengkapan jalan harus meliputi semua penggalian,
pondasi, penimbunan kembali, penjangkaran, pemasangan,pengencangan dan
penunjangan yang diperlukan.
2. Penerbitan Gambar Penempatan dan Detil Pelaksanaan
Gambar penempatan yang menunjukkan lokasi perlengkapan jalan dan
perangkat pengatur lalu lintas dan detil pelaksanaan semua jenis perlengkapan
jalan yang tidak terdapat di dalam Dokumen Kontrak pada saat pelelangan
akan disediakan oleh Direksi Pekerjaan setelah Penyedia Jasa menyelesaikan
laporan hasil survei lapangan sesuai dengan Seksi 1.9 dari Spesifikasi ini.
3. Pekerjaan Seksi Lain Yang Berkaitan Dengan Seksi Ini
a. Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas : Seksi 1.8

b. Rekayasa Lapangan : Seksi 1.9

c. Bahan dan Penyimpanan : Seksi 1.11

d. Keselamatan dan Kesehatan Kerja : Seksi 1.19

e. Beton : Seksi 7.1


298

f. Pemeliharaan Rutin Perkerasan, Bahu Jalan, : Seksi 10.1


Drainase, Perlengkapan Jalan dan Jembatan

g. Pemeliharaan Jalan Samping dan Jembatan : Seksi 10.2


4. Standar Rujukan
a. SNI 03-2442-1991 : Spesifikasi Kerb Beton untuk Jalan

b. SNI 06-4825-1998 : Spesifikasi Campuran Cat Marka

Jalan Siap Pakai Warna Putih dan Kuning


c. SNI 06-4826-1998 : Spesifikasi Cat Termoplastik
Pemantul Warna Putih dan WarnaKuning Untuk Marka Jalan
(Bentuk Padat).
d. SNI 15-4839-1998 : Spesifikasi Manik-Manik Kaca (Glass Bead) Untuk
Marka Jalan
e. Konfigurasi, ukuran dan warna marka jalan harus memenuhi Peraturan dan
Perundang-undangan tentang Rambu Keamanan Jalan Repubik Indonesia.
f. Rambu jalan harus mempunyai ukuran, warna, jenis dan luas permukaan
yang memantul sesuai ketentuan dari Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan
raya (DLLAJR). Setiap perbedaan yang terjadi antara ketentuan untuk
rambu-rambu tersebut dan yang ditunjukkan dalam Gambar harus diperiksa
oleh Direksi Pekerjaan sebelum pelaksanaan dimulai.
5. Pengajuan Kesiapan Kerja
a. Satu liter contoh cat untuk setiap warna dan jenis cat bersama dengan data
pendukung untuk setiap jenis cat berikut ini harus diserahkan kepada
Direksi Pekerjaan :
b. Komposisi (analisa dengan berat)
c. Jenis penerapan (panas atau dingin)
d. Jenis dan jumlah maksimum bahan pengencer.
e. Waktu pengeringan (untuk pengecatan ulang)
f. Pelapisan yang disarankan
g. Ketahanan terhadap panas
h. Detil cat dasar atau lapis perekat yang diperlukan
299

i. Umur kemasan (umur dari produk)


j. Batas waktu kadaluarsa
k. Sebuah tiang dari pipa baja yang di galvanisir untuk rambu jalan harus
diserahkan kepada Direksi Pekerjaan.
l. Satu lembar plat rambu jalan yang telah selesai dicat harus diserahkan
kepada Direksi Pekerjaan.
m. Sepotong rel pengaman yang telah digalvanisir sepanjang 0,20 m harus
diserahkan kepada Direksi Pekerjaan.
n. Satu buah paku jalan dan/atau mata kucing harus diserahkan kepada Direksi
pekerjaan.
o. Dua buah kerb pracetak bilamana unit-unit kerb pracetak ini dibuat di luar
lokasi proyek beserta sertifikat pengujian dari pabrik pembuatnya yang
membuktikan mutu bahan baku yang digunakan dan bahan olahan harus
diserahkan kepada Direksi Pekerjaan.
p. Dua buah contoh blok beton (paving block) beserta sertifikat dari pabrik
pembuatnya harus diajukan pada Direksi Pekerjaan.
6. Jadwal Pekerjaan
Agar dapat memelihara keamanan jalan lama sebaik mungkin selama Periode
Pelaksanaan, pemasangan baru atau penggantian rambu jalan, patok
pengaman, patok kilometer, patok hektometer dan rel pengaman harus
dilaksanakan dan marka jalan harus dicat pada permukaan jalan dalam waktu
6 bulan pertama atau sedini mungkin dalam Periode Pelaksanaan.
Untuk pengecatan marka pada permukaan perkerasan lama, Direksi
Pekerjaan akan menerbitkan detil dan lokasi sesuai Pasal 8.4.1.(2) di atas,
dilaksanakan dalam waktu enam bulan pertama periode pelaksanaan atau
bilamana pekerjaan pengembalian kondisi perkerasanjuga diperlukan, setelah
operasi pekerjaan pengembalian kondisi selesaidikerjakan.
Untuk ruas-ruas perkerasan lama yang dirancang untuk di-overlay (pelapisan
ulang) telah diberi marka jalan pada permukaan perkerasan maka marka jalan
tersebut harus dicat kembali setelah pekerjaan pelapisan ulang selesai
dikerjakan dalam batas waktu yang disyaratkanpada Pasal [Link]).b). Dalam
300

hal ini, Penyedia Jasa juga akan menerima pembayaran untuk lokasi ini,
termasuk pengecatan marka jalan yang kedua.
7. Perbaikan atas Pekerjaan Yang Tidak Memenuhi Ketentuan
Setiap jenis perlengkapan jalan atau pengecatan marka jalan atau perangkat
pengatur lalu lintas yang tidak memenuhi ketentuan dari Spesifikasi ini atau
menurut pendapat Direksi Pekerjaan dalam segala hal tidak dapat diterima,
maka harus diperbaiki atau diganti oleh Penyedia Jasa dengan biaya sendiri
atas petunjuk Direksi Pekerjaan.
8. Pemeliharaan Pekerjaan yang telah Diterima
Tanpa mengurangi kewajiban Penyedia Jasa untuk melaksanakan perbaikan
terhadap pekerjaan yang tidak memenuhi ketentuan atau gagal sebagaimana
disyaratkan dalam Pasal [Link]) di atas, Penyedia Jasa juga harus
bertanggungjawab atas pemeliharaan rutin untuk semua perlengkapan jalan,
marka jalan dan perangkat pengatur lalu lintas yang telah selesai dan diterima
selama Periode Pelaksanaan. Pekerjaan pemeliharaan rutin tersebut harus
dilaksanakan sesuaidengan Seksi 10.1 dari Spesifikasi ini dan harus dibayar
terpisah menurut Pasal 10.1.7
9. Pengendalian Lalu Lintas
Pengendalian lalu lintas harus memenuhi ketentuan dari Seksi
[Link] dan Keselamatan Lalu Lintas.

8.4.2 BAHAN
1. Penyimpanan Cat
a. Semua cat harus disimpan menurut petunjuk pabrik pembuatnya dan
ketentuan dari Seksi 1.11. Bahan dan Penyimpanan pada Spesifikasi ini.
b. Semua cat harus digunakan sesuai umur kemasan untuk menjamin bahwa
hanya produk yang masih baru digunakan dalam batas waktu yang
disyaratkan oleh pabrik pembuatnya.
2. Plat Rambu Jalan
Pelat untuk Rambu Jalan harus merupakan lembaran rata dari campuran
aluminium keras 5052 - H34 sesuai dengan ASTM B 209 dan harus
301

mempunyai suatu ketebalan minimum 2 mm. Lembaran tersebut harus bebas


dari gemuk, dikasarkan permukaannya (dietsa), dinetralisir dan diproses
sebelum digunakan sebagai pelat Rambu Jalan.
1. Kerangka dan Pengaku Rambu Jalan
Kerangka dan pengaku harus merupakan bagian-bagian campuran
aluminium alloy yang diekstrusi dari campuran logam No. 6063-T6 sesuai
dengan ASTM B221. Pelat Rambu Jalan harus diberi tambahan rangka
pengaku bila ukuran melebihi 1,0 meter.
2. Tiang Rambu
Tiang rambu harus merupakan pipa baja berdiameter dalam minimum
40 mm, digalvanisir dengan proses celupan panas, sesuai dengan SNI
07- 0242.1-2000. Bahan yang sama dipakai juga untuk pelengkap
pemegang dan penutup tiang rambu. Semua ujung yang terbuka harus
diberi tutup untuk mencegah pemasukan air.
3. Perangkat Keras, Sekrup, Mur, Baut dan Cincin
Perlengkapan tambahan harus berupa aluminium atau baja tahan karat
yang mempunyai kekuatan tarik tinggi untuk tiang rambu.
4. Beton dan Adukan Semen
a. Beton yang digunakan untuk pondasi rambu jalan harus dari kelas
K175 (fc’ 15 MPa) seperti disyaratkan dalam Seksi 7.1 dari Spesifikasi
ini.
b. Beton yang digunakan untuk kerb harus dari Kelas K300 (fc’ 25MPa)
seperti yang disyaratkan dalam Seksi 7.1 dari Spesifikasi ini. Jika
ditunjukkan dalam Gambar atau diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan,
maka karbon hitam (carbon black) harus dicampurkan dengan beton.
c. Adukan semen yang digunakan untuk pemasangan kerb harus sesuai
dengan ketentuan yang disyaratkan dalam Seksi 7.8 dari Spesifikasi
ini.
5. Cat untuk Perlengkapan Jalan
Seluruh bahan pelapisan (coating), cat dan email yang akan digunakan
pada persiapan rambu, tiang dan perlengkapannya harus dari mutu yang
302

baik, dibuat khusus untuk rambu, dan dari jenis dan merk yang dapat
diterima oleh Direksi Pekerjaan.

Cat untuk bagian-bagian baja harus dari oksida seng kadar tinggi,
mengandung mini-mum 7 kilogram oksida seng (acicular type) per 100
liter cat.

Untuk kecocokan maka sebaiknya dipakai cat dasar, cat lapis awal dan
cat untuk penyelesaian akhir dari pabrik yang sama. Seluruh bahan yang
dipakai tak boleh kada-luarsa dan harus dalam batas waktu seperti yang
ditetapkan oleh pabrik pembuatnya.
6. Lembaran Pemantu
Lembaran pemantul harus merupakan "Scotchlite" jenis Engineering
Grade atau High Intensity Quality, dan dari bahan pemantul tahan lentur
yang [Link] dari tiap rambu harus diberi bahan pemantul
sesuai dengan ketentuan-ketentuan dari DLLAJR dan bidang muka
setiap patok pengarah harus diberi bahan pemantul.
7. Rel Pengaman
Bahan harus dari baja yang digalvanisasi, dibuat di pabrik dari lembaran
baja yang memenuhi AASHTO M180 dengan ketebalan minimum 2,67
mm dan sifat-sifatnya harus:
Suatu pemanjangan yang tidak kurang daripada 12% untuk pengujian
tarik pada sebuah baut dengan panjang kira-kira 5 cm.

a. Mempunyai kekuatan tarik batas (ultimate) dari 4.900 kg/cm2


(70.000 psi).

b. Lapisan seng hasil galvanisasi pada lembaran baja harus


mempunyai berat minimum 550 gram/m2 (pengujian satu titik) dan
610 gram/m2 (pengujian tiga titik) atau mempunyai ketebalan
minimum 0,08 mm.

c. Elemen rel pengaman yang dibuat dari lebaran baja harus


mempunyai lebar nominal 483 mm dengan toleransi lebar nominal
303

minus 3,2 mm.


8. Paku Jalan dan Mata Kucing
Paku jalan dan mata kucing harus berupa suatu rancangan yang disetujui
sesuai dengan contoh yang diajukan. Paku jalan dan mata kucing tersebut
harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :

Jenis : Tidak Memantul untuk Paku Jalan dan Memantul

untuk Mata Kucing


Kepala : 100 cm, bujur sangkar
Pasak : Ukuran panjang, penampang dan bentuk sedemikian rupa
untuk menjamin penguncian yang kuat pada perkerasan
jalan. Bahan harus dari logam cor atau logam tempaan.
Kepala dan pasak
harus dibuat sebagai kesatuan yang utuh.
Permukaan : Muka atas dari kepala adalah satin 100 atau yang sejenis.
9. Cat untuk Marka Jalan
Pada pasal ini kata “cat” sering dikonotasikan sebagai bahan marka
jalan jenis termoplastik sebagai cat. Cat haruslah bewarna putih atau
kuning seperti yang ditunjukkan dalam Gambar dan memenuhi
Spesifikasi menurut SNI berikut ini :
a. Marka Jalan “bukan” Termoplastik : SNI 06-4825-1998

b. Marka Jalan Termoplastik : SNI 06-4826-1998 (jenis padat, bukan


serbuk)
10. Butiran Kaca (Glass Bead)
Butiran Kaca (glass bead) haruslah mememuhi Spesifikasi menurut SNI
15-4839-1998 (Tipe 2).
11. Blok Beton (Paving Block)
Blok beton (paving block) pracetak untuk trotoar dan median harus
setebal 60 mm dengan derajat mutu perkerasan yang saling mengunci
(interlocking) sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar dan harus
merupakan mutu terbaik yang dapat diperoleh secara lokal dan menurut
304

suatu pola yang dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan. Blok beton
tersebut minimum harus dibuat dari beton K175(fc’ 15MPa).
12. Landasan Pasir
Pasir yang digunakan untuk meratakan elevasi permukaan yang akan
dipasang blok beton dan kerb pracetak dan untuk membentuk landasan
harus memenuhi ketentuan yang disyaratkan dalam Pasal [Link]) dari
Spesifikasi ini.

8.4.3 PELAKSANAAN
1. Pemasangan Patok Pengarah atau Kilometer, Rambu Jalan dan Rel
Pengaman
Jumlah, jenis dan lokasi pemasangan setiap rambu jalan, patok
pengarah, patok kilo-meter dan bagian rel pengaman harus sesuai dengan
perintah Direksi [Link] patok harus dipasang dengan akurat
pada lokasi dan ketinggian sedemikian rupa hingga dapat menjamin bahwa
patok tersebut tertanam kuat di tempatnya, terutama selama pengerasan
(setting) beton.
2. Pengecatan Patok Pengarah atau Kilometer
Semua patok kilometer, patok hektometer dan patok pengarah harus diberi
satu lapis cat dasar (primer), satu lapis cat bawah permukaan dan satu lapis
akhir sebagai lapis permukaan sesuai dengan yang ditunjukkan dalam
Gambar. Penandaan lainnya dan bahan pemantul harus dilaksanakan
sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.
3. Pengecatan Pelat Rambu Jalan
Semua pengecatan pada Pelat Rambu Jalan harus dilaksanakan dengan cara
semprotan di atas permukaan pelat yang kering. Permukaan hasil
pengecatan harus rata dan halus dan dikeringkan dengan lampu pemanas
atau dimasukkan ke dalam oven bila diperlukan.
4. Pengecatan Marka Jalan
5. Penyiapan Permukaan Perkerasan
305

Sebelum penandaan marka jalan atau pengecatan dilaksanakan, Penyedia


Jasa harus menjamin bahwa permukaan perkerasan jalan yang akan diberi
marka jalan harus bersih, kering dan bebas dari bahan yang bergemuk dan
debu. Penyedia Jasa harus menghilangkan dengan grit blasting (pengausan
dengan bahan berbutir halus) setiap marka jalan lama baik termoplastis
maupun bukan, yang akan menghalangi kelekatan lapisan cat baru.

a. Pelaksanaan Pengecatan Marka Jalan


1) Semua bahan cat yang digunakan tanpa pemanasan (bukantermoplastik)
harus dicampur terlebih dahulu menurut petunjuk pabrik pembuatnya
sebelum digunakan agarsuspensi pigmen merata di dalam cat.
2) Pengecatan tidak boleh dilaksanakan pada suatu permukaan yang
baru diaspal kurang dari 3 bulan setelah pelaksanaan lapis
permukaan, kecuali diperintahkan lain oleh Direksi Pekerjaan.
Selama masa tunggu yang
disebutkan di atas, pengecatan marka jalan sementara (pre- marking)
pada permukaan beraspal harus dilaksanakan segera setelah pelapisan.
3) Penyedia Jasa harus mengatur dan menandai semua marka jalan pada
per-mukaan perkerasan dengan dimensi dan penempatan yang presisi
sebe-lum pelaksanaan pengecatan marka jalan.
4) Pengecatan marka jalan dilaksanakan pada garis sumbu, garis lajur, garis
tepi dan zebra cross dengan bantuan sebuah mesin mekanis yang
disetujui, bergerak dengan mesin sendiri, jenis penyemprotan atau
penghamparan otomatis dengan katup mekanis yang mampu membuat
garis putus-putus dalam pengoperasian yang menerus (tanpa berhenti dan
mulai berjalan lagi) dengan hasil yang dapat diterima Direksi Pekerjaan.
Mesin yang digunakan tersebut harus menghasilkan suatu lapisan yang
rata dan seragam dengan tebal basah minimum 0,38 milimeter untuk “cat
bukan termoplastik” dan tebal minimum 1,50 mm untuk “cat
termoplastik” belum termasuk butiran kaca (glass bead) yang juga
ditaburkan secara mekanis, dengan garis tepi yang bersih (tidak
bergerigi) pada lebar ran- cangan yang sesuai. Bilamana tidak
306

disyaratkan oleh pabrik pembuatnya, maka cat termoplastik harus


dilaksanakan pada temperatur 204 - 218 C.
5) Bilamana penggunaan mesin tak memungkinkan, maka Direksi
Pekerjaan dapat mengijinkan pengecatan marka jalan dengan cara
manual, dikuas, disemprot dan dicetak dengan sesuai dengan konfigurasi
marka jalan dan jenis cat yang disetujui untuk penggunaannya.
6) Butiran kaca (glass bead) harus ditaburkan di atas permukaan cat segera
setelah pelaksanaan penyemprotan atau penghamparan cat. Butiran kaca
(glass bead) harus ditaburkan dengan kadar 450 gram/m2 untuk semua
jenis cat, baik untuk “bukan termoplastik” maupun “termoplastik”.
7) Semua marka jalan harus dilindungi dari lalu lintas sampai marka jalan
ini dapat dilalui oleh lalu lintas tanpa adanya bintik-bintik atau bekas
jejak roda serta kerusakannya lainnya.
8) Semua marka jalan yang tidak menampilkan hasil yang merata dan
memenuhi ketentuan baik siang maupun malam hari harus diperbaiki
oleh Penyedia Jasa atas biayanya sendiri.
9) Ketentuan dari Seksi 1.8 Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas harus
diikuti sedemikian sehingga rupa harus menjamin keamanan umum
ketika pengecatan marka jalan sedang dilaksanakan.
10) Semua pemakaian cat secara dingin harus diaduk di lapangan menurut
ketentuan pabrik pembuat sesaat sebelum dipakai agar menjaga bahan
pewarna tercampur merata di dalam suspensi.
11) Pemasangan Paku Jalan atau Mata Kucing
b. Penggalian perkerasan jalan untuk membentuk sebuah lubang bagi setiap
paku jalan atau mata kucing harus dilaksanakan sesuai dengan petunjuk
pabrik pembuatnya. Perhatian khusus harus diberikan untuk menjamin dasar
lubang yang cukup rata dan dinding-dindingnya tegak lurus satu sama lain
dan untuk menjamin bahwa semua bahan lepas yang dihasilkan dari
penggalian lubang tersebut telah dibersihkan.
307

c. Sebuah lapisan dari batu yang disetujui (6 mm sampai debu batu pecah) harus
dihamparkan dan dipadatkan rata pada lantai lubang tersebut. Paku jalan atau
mata kucing tersebut harus dipersiapkan sesuai dengan petunjuk pabrik dan
dibenamkan dengan kuat pada lapis perata sedemikian rupa hingga dicapai
tonjolan bagian atas paku jalan atau mata kucing tersebut tepat di atas
permukaan jalan. Suatu pola harus digunakan untuk mengecek memeriksa
arah dan elevasi permukaan paku jalan atau mata kucing yang dipasang.
d. Dinding lubang harus dilabur dengan lapis perekat dan keseluruhan rongga
yang tersisa diisi dengan adukan aspal panas encer sesuai dengan petunjuk
pabrik sampai serata permukaan jalan. Perhatian khusus harus diberikan
untuk menjamin bahwa tidak terdapat aspal yang tercecer pada tonjolan paku
jalan atau mata kucing tersebut. Setiap aspal yang tercecer karena kurang
hati-hati harus dibersihkan, sehingga diperoleh pekerjaan yang bersih.
e. Lalu lintas tak diperkenankan melintas di atas paku jalan atau mata kucing
sebelum bahan yang diisikan ke dalam lubang galian untuk paku jalan atau
mata kucing mengeras.
2. Pemasangan Kerb
a. Persiapan Landasan Kerb
Lokasi yang diperlukan untuk pekerjaan ini harus dibersihkan dan digali
sampai bentuk dan kedalaman yang diperlukan, dan landasan kerb ini harus
dipadatkan sampai suatu permukaan yang [Link] bahan yang lunak dan
tidak sesuai harus dibuang dan diganti dengan bahan yang memenuhi serta
harus dipadatkan sampai merata. Semua pekerjaan ini harus sesuai dengan
semua ketentuan yang disyaratkan dalam Seksi 3.1 dan 3.2 dari Spesifikasi
ini.
b. Pemasangan
Kerb harus dipasang dengan teliti sesuai dengan detil, garis dan elevasi yang
ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh
Direksi Pekerjaan. Setiap kerb yang akan dipasang pada suatu kurva dengan
radius kurang dari 20 meter harus dibuat dengan menggunakan cetakan
lengkung atau unit-unit pracetak yang melengkung.
308

c. Sambun
Unit-unit kerb dan jenis-jenis pracetak lainnya harus dipasang dengan sam-
bungan yang serapat mungkin.
d. Penimbunan Kembali
Setelah suatu pekerjaan beton yang dicor di tempat mengeras dan unit-unit
kerb telah dipasang sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan,
maka setiap lubang galian yang tersisa harus ditimbun kembali dengan bahan
yang disetujui sesuai Gambar Rencana atau sesuai petunjuk Direksi
Pekerjaan. Bahan ini harus diisi dan dipadatkan sampai merata dalam
lapisan-lapisan yang tidak melebihi ketebalan 5 cm. Semua celah di antara
kerb baru dan tepi perkerasan yang ada harus diisi kembali dengan jenis
campuran aspal yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan, kecuali dalam
Gambar telah ditunjukkan dengan jelas bahwa pengisian kembali ini tidak
diperlukan.
e. Jalan Masuk Kendaraan Yang Memotong Trotoar
Bilamana jalan masuk kendaraan yang memotong trotoar diperlukan, maka
sebagian unit-unit kerb harus dibentuk khusus atau dipasang lebih rendah
dengan peralihan yang cukup landai sebagaimana ditunjukkan dalam
Gambar atau sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.
f. Penyedia Jasa harus menyediakan bahan kerb tersebut dan melaksanakan
pekerjaan ini sesuai dengan Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan
oleh Direksi Pekerjaan.
3. Pemasangan Blok Beton
a. Pekerjaan Baru
Trotoar dan median baru, demikian pula trotoar dan median lama tanpa blok
beton, akan dipasang dengan blok beton dari jenis yang ditunjukkan dalam
Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.
b. Trotoar dan Median Lama
Untuk trotoar atau median lama yang akan dipasang blok beton, maka blok
beton lama yang rusak harus dibongkar. Blok beton baru harus dipilih dari
jenis dan warna yang mendekati jenis dan warna blok beton lama. Pondasi
309

harus dibasahi sampai merata segera sebelum penempatan lapisan landasan


pasir yang harus dihamparkan dengan ketebalan seperti yang ditunjukkan
dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.
c. Perkerasan Blok Beton (Paving Block)
Perkerasan blok beton harus dipasang sesuai dengan petunjuk dari pabrik
pembuatnya. Pada umumnya blok beton harus dipasang di atas landasan
pasir dengan tebal gembur sekitar 60 – 70 mm dan dipadatkan dengan
menggunakan sebuah mesin penggetar (berbentuk) pelat yang menyebabkan
pasir dapat memasuki celah- celah di antara blok beton sehingga membantu
proses saling mengunci (interlocking) dan pemadatan. Percobaan pemadatan
harus dilakukan dengan berbagai ketebalan gembur pasir, sebelum pekerjaan
pemadatan ini dimulai, untuk menentukan ketebalan gembur yang
diperlukan dalam mencapai ketebalan padat 50 mm. Perkerasan blok beton
tidak boleh diisi dengan adukan semen.
d. Penyelesaian Akhir
Permukaan blok beton yang selesai dikerjakan harus menampilkan
permukaan yang rata tanpa adanya blok beton yang menonjol atau terbenam
dari elevasi permukaan rata-rata lebih dari 6 mm, yang diukur dengan
mistar lurus 3 m pada setiap titik di atas permukaan blok beton tersebut.
Semua sambungan harus rapi dan rapat, tanpaadanya adukan atau bahan
lainnya yang menodai atau mencoreng permukaan yang telah selesai
dikerjakan. Perkerasan blok beton harus mempunyai lereng melintang
minimum 4%.
e. Perpotongan Dengan Jalur Kendaraan
Pada perpotongan dengan jalur kendaraan, suatu bagian blok beton pada
trotoar yang lebih rendah atau yang dimodifikasi harus dipasang sesuai
dengan yang ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana yang
diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.
310

f. Pemotongan Blok Beton


Blok beton harus dipotong dengan mesin potong (cutter machine) untuk
menye-suaikan penghalang berbentuk bulat seperti tiang atau pohon, antara
kerb dan tepi blok beton, dan sebagainya.

8.4.4 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


1. Pengukuran untuk Pembayaran
a. Kuantitas yang diukur untuk rambu jalan, patok pengarah, patok
kilometer, patok hektometer, paku jalan dan mata kucing haruslah
jumlah aktual Rambu Jalan (termasuk tiang rambu jalan), patok
pengarah, patok kilometer dan patok hektometer yang disediakan dan
dipasang sesuai dengan Gambar dan diterima oleh Direksi Pekerjaan.
b. Kuantitas yang diukur untuk rel pengaman haruslah panjang aktual rel
pengaman dalam meter panjang yang disediakan dan dipasang sesuai
Gambar dan diterima oleh Direksi Pekerjaan
Kuantitas marka jalan yang dibayar haruslah luas dalam meter persegi
pengecatan marka jalan yang dilaksanakan pada permukaan jalan sesuai
Gambar dan diterima oleh Direksi Pekerjaan. Tidak ada pengukuran
terpisah untuk pembayaran marka jalan sementara (pre- marking) yang
harus dilaksanakan sebelum pengecatan marka jalan permanen.
2. Kerb Beton Cor Langsung di Tempat
1) Tidak ada pengukuran terpisah untuk pembayaran yang dilakukan
untuk kerb beton cor langsung di tempat dalam Seksi ini.
2) Kerb beton cor di tempat akan diukur untuk pembayaran sebagaimana
berbagai bahan yang digunakan seperti yang ditentukan dalam Seksi-
seksi yang berkaitan dari Spesifikasi ini.
3. Kerb Beton Pracetak
1) Kuantitas yang diukur untuk kerb haruslah jumlah aktual kerb yang
dipasang sesuai dengan Gambar dan diterima oleh Direksi Pekerjaan.
2) Jumlah yang diukur untuk dibayar adalah jumlah meter panjang
komponen kerb pracetak per jenis yang terpasang di tempat yang telah
311

diselesaikan dan disetujui. Unit – unit tertentu yang memakai ukuran


non standar akan diukur menurut jumlahnya.
3) Kerb pracetak baik yang baru dipasang maupun yang disusun kembali,
akan diukur sesuai jenis kerb masing – masing yang diukur dalam
meter panjang sepanjang bagian muka dari puncak kerb kecuali kerb
jenis bukaan (dengan lubang – lubang drainase) dan kerb jenis
pelandaian, pengukuran dilakukan dalam satuan buah yang telah
terpasang dalam pembuatan kerb.
4) Blok transisi, lean concrete dan beton pengisi antara kerb pemisah
jalan (concrete barrier) dan kerb tidak akan diukur untuk dibayar,
melainkan merupakan kewajiban Penyedia Jasa berdasarkan pasal ini.
Kuantitas yang diukur untuk perkerasan blok beton haruslah luas
perkerasan blok beton baru dalam meter persegi, lengkap terpasang di
tempat dan diterima, dan kuantitas landasan pasir aktual digunakan
dihitung dengan menggunakan cara yang disyaratkan dalam Pasal
[Link]) dari Spesifikasi ini.
Tidak ada pengukuran terpisah yang dilakukan untuk pembongkaran
ubin lama atau blok beton lama yang rusak atau untuk melaksanakan
penggetaran pada pemasangan blok beton.
4. Dasar Pembayaran
Kuantitas yang diukur seperti tersebut di atas, harus dibayar dengan harga
satuan Kontrak per satuan pengukuran untuk Mata Pembayaran yang
terdaftar di bawah dan diberikan dalam Daftar Kuantitas, dimana harga
dan pembayaran tersebut sudah merupakan kompensasi penuh untuk
pengadaan semua bahan, pekerja, peralatan, perkakas dan keperluan biaya
lainnya yang diperlukan untuk penyelesaian pekerjaanyang mememenuhi
ketentuan sesuai dengan Seksi dari Spesifikasi ini.
312

SEKSI 8.7
PENERANGAN JALAN
DAN PEKERJAAN ELEKTRIKAL

8.7.1 UMUM
1. Uraian
a. Pekerjaan ini terdiri atas pengadaan dan pemasangan semuamaterial
dan perlengkapan yang diperlukan untuk menyelesaikan penerangan
jalan dan sistem kelistrikan lainnya dan modifikasi sistem yang ada
bila ditentukan, semua sesuai dengan Gambar, Spesifikasi atau atas
petunjuk Direksi Pekerjaan.
b. Lokasi lampu, peralatan kontrol, tiang-tiang dan perlengkapannya
seperti terlihat pada Gambar adalah perkiraan dan lokasi yang pasti
diberikan di lapangan oleh Direksi Pekerjaan.
c. Pekerjaan kelistrikan untuk Rambu-rambu Petunjuk harus
dilaksanakan sesuai dengan pasal ini.
2. Pekerjaan Seksi Lain Yang Berkaitan Dengan Seksi Ini
a. Mobilisasi dan Demobilisasi : Seksi 1.2

b. Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas : Seksi 1.8

c. Keselamatan dan Kesehatan Kerja : Seksi 1.19

d. Galian : Seksi 3.1

e. Timbunan : Seksi 3.2

f. Beton : Seksi 7.1

g. Baja Tulangan : Seksi 7.3

h. Baja Struktur : Seksi 7.4

i. Adukan Semen : Seksi 7.8

j. Pembongkaran Struktur Lama : Seksi 7.15


313

k. Pekerjaan Harian : Seksi 10.1


3. Lingkup Pekerjaan
Lingkup pekerjaan harus mencakup pengadaan ke lapangan,
pembangunan, pengetesan dan komisi dari semua material dan peralatan
dalam hubungan dengan instalasi kelistrikan sampai seperti ditentukan
pada Gambar dan termasuk tapi tidak dibatasi oleh :
a. Persiapan dan penyerahan Shop Drawing.
b. Penyediaan tabel detail material.
c. Semua pekerjaan yang berhubungan dengan pembongkaran bagian dari
sistem yang ada dan penggabungan dari bagian- bagian yang tersisa dari
pekerjaan permanen.
d. Pengukuran lapangan terhadap sinar matahari pada bagian tunnel atau
underpass untuk membantu Direksi Pekerjaan dalam pengulangan
detail penerangan sebagaimana terlihat pada Gambar Rencana.
e. Semua peralatan listrik yang lain dari pelayanan yang diperlukan untuk
menyelesaikan fasilitas operasi sesuai dengan peraturan lokal untuk
Instalasi Kelistrikan.
4. Jaminan Kualitas
a. Untuk pabrikasi aktual, pemasangan dan uji pekerjaan seperti diuraikan
pada Pasal ini, Penyedia Jasa harus menggunakan personil yang ahli
dan berpengalaman yang telah terbiasa dengan persyaratan dari
pekerjaan ini dan rekomendasi pemasangan dari Pabrik, dengan
ketentuan di bawah ini :
i) Dalam menerima dan menolak sistem kelistrikan yang dipasang,
tidak diijinkan keahlian yang kurang dari pemasang.
ii) Pemasang harus mempunyai Sertifikat yang berlaku dan memenuhi
ketentuan PLN dan LMK atau Peraturan Lokal yang ekivalen.
b. Semua pekerjaan harus sesuai dengan Gambar dan Spesifikasi ini,
juga memenuhi peraturan berikut :
1) Persyaratan satuan lokal ekploitasi PLN dan Badan Pemerintah
Lokal.
314

PUIL, SPLN, LMK atau Standar lokal yang ekivalen.


PENUTUP

Assalamu’alaikum [Link].
Alhamdulillahhirabbil ‘alamin akhirnya, hasil laporan tugas besar ini dapat
diselesaikan dengan baik. Laporan ini merupakan data dari beberapa asistensi yang
telah dijalankan dan telah diteliti kebenarannya oleh pihak yang berkompeten di
bidang ilmu Perancangan Jalan.
Kami ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah
membimbing kami sehingga dapat menyelesaikan laporan tugas besar ini dan telah
banyak membantu serta mengarahkan kami sehingga dapat menyelesaikan laporan
tugas besar ini. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang
bersangkutan yang telah membantu selama masa asistensi, baik di kelas maupun
diluar kelas.
Demikian penutup dari kami. Penyusun menyadari bahwa dalam
penyusunan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penyusun berharap
kritik dan saran yang membangun sebagai pedoman dikemudian hari. Akhirnya,
penyusun berharap agar laporan ini dapat diterima sebagai ketentuan yang
disyaratkan. Dapat menunjang mata kuliah Perancangan Jalan serta dapat
bermanfaat bagi penyusun dan serta rekan-rekan semua.
Wassalamu’allaikum wr. wb.

315
DAFTAR PUSTAKA

Kementerian PUPR. 2017. Manual Desain Perkerasan Jalan. Bina Marga. Jakarta.

Qanun Kabupaten Pidie Nomor 5 Tahun 2014. 2014. Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Pidie Tahun 2014-2034. Bupati Pidie dan DPR Pidie. Pidie.

Departemen PU. 1997. Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota. Bina
Marga. Jakarta

Kementerian PUPR. 2017. Dasar-Dasar Perencanaan Geometrik Ruas Jalan.


PUSDIKLAT Jalan, Perumahan, Permukiman, dan Pengembangan
Infrastruktur Wilayah. Bandung.

Direktorat Jenderal Bina Marga. 1997. Manual Kapasitas Jalan Indonesian


(MKJI). Bina Marga.

Permen PU Nomor : 19/PRT/M/2011. 2011. Persyaratan Teknis Jalan dan Kriteria


Perencanaan Teknis Jalan. Menteri Pekerjaan Umum.

Kementerian PUPR. 2020. Pedoman Desain Geometrik Jalan. Bina Marga. Jakarta.

Ir. Adiwijaya Ph.D. 2016. Perencanaan Drainase Permukaan Jalan. Bandung.

Kementerian PUPR. 2021. Gambar Standar Pekerjaan Jalan dan Jembatan. Bina
Marga. Jakarta.

316
LAMPIRAN

317

Anda mungkin juga menyukai