IMPLEMENTASI BUDAYA DALAM KOMUNIKASI
KONSELING YANG EFEKTIF
Oleh : Ni Luh Yaniasti1
Abstrak
Proses konseling memperhatikan, menghargai, dan menghormati unsur-
unsur kebudayaan tersebut. Pengentasan masalah individu sangat
mungkin dikaitkan dengan budaya yang mempengaruhi individu.
Pelayanan konseling menyadarkan klien yang terlibat dengan budaya
tertentu; menyadarkan bahwa permasalahan yang timbul, dialami
bersangkut paut dengan unsur budaya tertentu, dan pada akhirnya
pengentasan masalah individu tersebut perlu dikaitkan dengan unsur
budaya yang bersangkutan. Sudah pengetahuan umum bahwa antara
konselor dan klien pasti mempunyai perbedaan budaya yang sangat
mendasar. Perbedaan budaya itu bisa mengenai nilai nilai, keyakinan,
perilaku dan lain sebagainya. Perbedaan ini muncul karena antara
konselor dan klien berasal dari budaya yang berbeda. Konseling lintas
budaya akan dapat terjadi seperti saat konselor yang orang Bali
memberikan layanan konseling pada klien yang berasal dari Ambon atau
sebaliknya. Dalam konseling lintas budaya konselor agar komunikasi
dapat efektif perlu memikirkan perspektif budaya dalam seperti nilai-
nilai budaya yang relevan, penerapan nilai-nilai budaya seperti
keterampilan memperhatikan, memantulkan perasaan, keterampilan
menggunakan pertanyaan untuk membuka konseling, keterampilan
menstruktur, keterampilan menyelesaikan masalah, keterampilan
memahami jalan pikiran klien, dan keterampilan memahami tingkah laku
klien.
Kata Kunci: Konseling lintas budaya, komunikasi efektif.
Abstract
The process of counseling pays attention to, appreciates, and respects
these cultural elements. Alleviation of individual problems is very likely
related to culture that affects individuals. Counseling services make
clients aware of certain cultures; make aware that the problems that arise,
experienced related to certain cultural elements, and in the end alleviation
of individual problems need to be associated with the relevant cultural
elements. It is common knowledge that between counselor and client
must have very basic cultural differences. Cultural differences can be
about values, beliefs, behavior and so forth. This difference arises
because the counselor and client come from different cultures. Cross-
cultural counseling can occur as when Balinese counselors provide
counseling services to clients who are from Ambon or vice versa. In
1
Ni Luh Yaniasti adalah staf edukatif di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unipas
DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.07 No.3 Edisi Juni 2020 12
cross-cultural counseling counselors, in order to have effective
communication it is significant to think about cultural perspectives such
as relevant cultural values, the application of cultural values such as
attention skill, reflecting feeling skill, questioning skill, structural skill,
problem solving skill, understanding the client’s mind skill, and
understanding client’s behavior skill.
Keywords: Cross-cultural counseling, effective communication
PENDAHULUAN
Sebagai salah satu komponen dalam pendidikan, konselor dituntut menguasai
kompetensi dasar proses pembelajaran melalui ‘bahasa’ dan penerapan pendekatan,
metode, dan kegiatan pendukung pelayanan konseling. Kompetensi profesional
konselor terbentang dalam spektrum kompetensi keilmuan, kompetensi keahlian, dan
kompetensi perilaku profesi.
Dalam pelayanan konseling, seorang konselor perlu memiliki kompetensi
keahlian atau keterampilan yang meliputi penguasaan konselor dalam konsep dan
praksis. Pada kenyataannya masih ditemukan adanya hambatan pelaksanaan
konseling di sekolah yang berkaitan dengan berbagai macam keterampilan-
keterampilan komunikasi konseling dengan klien. Hal ini kemungkinan disebabkan
karena adanya perbedaan budaya, kebiasaan, atau nilai-nilai yang dianut oleh
konselor dan kliennya. Karena itu penting bagi konselor untuk memahami budaya-
budaya yang berbeda dalam mengadakan konseling demi pengentasan masalah klien.
Seperti yang telah diketahui bersama konseling adalah suatu proses pemberian
bantuan yang terjadi dalam hubungan antara konselor dan klien. Dengan tujuan
mengatasi masalah klien dengan cara membelajarkan dan memberdayakan klien.
Untuk memperoleh pemahaman dan pencapain tujuan dalam konseling, faktor utama
yang mempengaruhi yaitu bahasa merupakan alat yang sangat penting. Bila terjadi
kesulitan dalam mengkomunikasikan apa yang diinginkan dan dirasakan oleh klien,
dan kesulitan menangkap makna ungkapan pikiran dan perasaan klien oleh konselor,
maka akan terjadi hambatan dalam proses konseling.
Penerapan konseling lintas budaya mengharuskan konselor peka dan tanggap
terhadap adanya keragaman budaya dan adanya perbedaan budaya antar kelompok
DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.07 No.3 Edisi Juni 2020 13
klien yang satu dengan kelompok klien lainnya, dan antara konselor sendiri dengan
kliennya. Konselor harus sadar akan implikasi diversitas budaya terhadap proses
konseling. Budaya yang dianut sangat mungkin menimbulkan masalah dalam
interaksi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Masalah bisa muncul akibat interaksi
individu dengan lingkungannya. Sangat mungkin masalah terjadi dalam kaitannya
dengan unsur-unsur kebudayaan, yaitu budaya yang dianut oleh individu, budaya
yang ada di lingkungan individu, serta tuntutan-tuntutan budaya lain yang ada di
sekitar individu.
Dalam praktik sehari-hari, konselor pasti akan berhadapan dengan klien yang
berbeda latar belakang sosial budayanya. Dengan demikian, tidak akan mungkin
disamakan dalam penanganannya (Prayitno, 1994). Perbedaan-perbedaan ini
memungkinkan terjadinya pertentangan, saling mencurigai, atau perasaan perasaan
negatif lainnya. Pertentangan, saling mencurigai atau perasaan yang negatif terhadap
mereka yang berlainan budaya sifatnya adalah alamiah atau manusiawi. Sebab,
individu akan selalu berusaha untuk bisa mempertahankan atau melestarikan nilai
nilai yang selama ini dipegangnya. Jika hal ini muncul dalam pelaksanaan konseling,
maka memungkinkan untuk timbul hambatan dalam konseling.
Kesadaran akan nilai-nilai yang berlaku bagi dirinya dan masyarakat pada
umumnya akan membuat konselor mempunyai pandangan yang sama tentang sesuatu
hal. Persamaan pandangan atau persepsi ini merupakan langkah awal bagi konselor
untuk melaksanakan konseling. Maka dari itu, dalam rangka memahami perbedaan
budaya yang ada makalah ini akan membahas konsep dasar konseling lintas budaya,
serta pembahasan mengenai unsur budaya, implementasi multibudaya dalam
konseling serta peranan konselor dalam konseling lintas budaya.
KONSELING LINTAS BUDAYA
Konseling lintas budaya (cross-culture counseling) atau istilah-istilah yang
lain yang menunjukkan pada arti yang kurang lebih sama dan digunakan secara
berganti-ganti dalam bidang ini, yaitu multi-kultural, inter-kultural, dan trans-
kultural. Istilah “lintas budaya” digunakan untuk menegaskan adanya saling
DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.07 No.3 Edisi Juni 2020 14
hubungan antar-budaya yang beragam, lebih dari sekedar terdapatnya diversitas
budaya itu sendiri.
Adapun yang dimaksud dengan konseling lintas budaya adalah konseling
yang melibatkan konselor dan klien yang berasal dari latar belakang budaya yang
berbeda, dan karena itu proses konseling sangat rawan oleh terjadinya bias-bias
budaya (cultural biases) pada pihak konselor yang mengakibatkan konseling tidak
berjalan efektif (Draguns, 1986: Pedersen, 1986: dalam Dedi Supriadi, 2001). Agar
berjalan efektif, maka konselor dituntut untuk memiliki kepekaan budaya dan
melepaskan diri dari bias-bias budaya, dan memiliki keterampilan-keterampilan yang
responsif secara kultural. Dari segi ini, maka konseling pada dasarnya merupakan
sebuah “perjumpaan budaya” (cultural encounter) antara konselor dan klien yang
dilayaninya. Konseling lintas budaya (cross-culture counseling) mempunyai arti
suatu hubungan konseling dalam mana dua peserta atau lebih, berbeda dalam latar
belakang budaya, nilai-nilai dan gaya hidup. Definisi singkat tersebut ternyata telah
memberikan definisi konseling lintas budaya secara luas dan menyeluruh
Memahami klien seutuhnya ini berarti konselor harus dapat memahami
budaya spesifik yang mempengaruhi klien, memahami keunikan klien dan memahami
manusia secara umum/universal menurut Speight (1991) dalam Dedi Supriadi, 1999,
berikut ini adalah penjabaran lebih lanjut mengenai memahami klien seutuhnya :
1. Memahami budaya spesifik, mengandung pengertian bahwa konselor
sebaiknya mengerti dan memahami budaya yang dibawa oleh klien sebagai
hasil dari sosialisasi dan adaptasi klien dari lingkungannya. Hal ini sangat
penting karena setiap klien akan membawa budayanya sendiri-sendiri. Klien
yang berasal dari budaya barat, tentu akan berbeda dengan klien yang
berbudaya timur. Bahkan klien yang sama-sama berbudaya Asia namun yang
satu berbudaya Asia Timur akan berbeda dengan klien yang berasal dari Asia
Tenggara dan lain lain. Pemahaman mengenai budaya spesifik yang dimiliki
oleh klien tidak akan terjadi dengan mudah. Untuk hal ini, konselor perlu
mempelajarinya dari berbagai Sumber yang menunjang seperti literatur atau
pengamatan langsung terhadap budaya klien. Konselor dituntut untuk dapat
DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.07 No.3 Edisi Juni 2020 15
bertindak secara proaktif didalam usahanya memahami budaya klien. Dengan
demikian, sebagai individu yang bersosialisasi, selayaknyalah konselor sering
“turun” untuk mengetahui budaya di sekitar klien. Kemampuan konselor
untuk dapat memahami kebudayaan di sekitarnya, secara tidak langsung akan
dapat menambah khasanah ilmu pengetahuannya yang pada akhirnya akan
mempermudah konselor di dalam memahami klien.
2. Memahami keunikan klien, mengandung pengertian bahwa klien sebagai
individu yang selalu berkembang akan membawa nilai-nilai sendiri sesuai
dengan tugas perkembangannya. Klien selain membawa budaya yang berasal
dari lingkungannya, pada akhirnya klien juga membawa seperangkat nilai
nilai yang sesuai dengan tugas perkembangan. Sebagai individu yang unik,
maka klien akan menentukan sendiri nilai nilai yang akan dipergunakannya.
Bahkan bisa terjadi nilai-nilai yang diyakini oleh klien ini. Bertolak belakang
dengan nilai-nilai atau budaya yang selama ini dikembangkan di
lingkungannya. Hal ini perlu juga dipahami oleh konselor. Karena apapun
yang dibicarakan dalam konseling, tidak bisa dilepaskan dari individu itu
sendiri.
3. Memahami manusia secara universal, mengandung pengertian bahwa nilai
nilai yang berlaku di masyarakat ada yang berlaku secara universal atau
berlaku di mana saja kita berada. Nilai-nilai ini diterima oleh semua
masyarakat di dunia ini. Salah satu nilai yang sangat umum adalah
penghargaan terhadap hidup. Manusia sangat menghargai hidup dan merdeka.
Nilai nilai ini mutlak dimiliki oleh semua orang. Nilai-nilai ini akan kita
temukan pada saat kita berada di pedalaman Kalimantan atau pedalaman Irian,
sampai dengan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya.
APLIKASI KONSELING LINTAS BUDAYA DI SEKOLAH
Dalam proses konseling selalu ada komponen konselor dan klien. Konselor
akan membantu klien dalam memecahkan masalah yang dihadapi klien. Agar
pelaksanaan konseling di sekolah dapat berjalan dengan baik maka ada rambu-rambu
DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.07 No.3 Edisi Juni 2020 16
yang seharusnya disadari oleh konselor. Rambu-rambu ini diwujudkan dalam bentuk
pernyataan sebagai konselor lintas budaya yang efektif. Menurut Sue, konselor lintas
budaya yang efektif adalah konselor yang:
1. Memahami nilai-nilai pribadi serta asumsinya tentang perilaku manusia
danmengenali bahwa tiap manusia itu berbeda.
Dalam melaksanakan konseling dengan klien, konselor harus sadar penuh
terhadap nilai-nilai yang dimilikinya. Konselor harus sadar bahwa dalam
melaksanakan konseling, konselor tidak akan bisa lepas dari nilai-nilai yang
dibawa dari lingkungan di mana dia berada, juga nilai nilai yang sesuai dengan
tugas perkembangannya. Nilai nilai yang dibawa dari lingkungan di mana dia
berasal adalah nilai-nilai yang tidak akan bisa dilepaskannya, walaupun dia akan
berhubungan dengan klien yang berbeda latar belakangnya. Menyadari hal
tersebut maka konselor sebaiknya juga menyadari bahwa klien yang dibantunya
juga berasal dari latar belakang budaya yang berbeda dan tentunya akan
membawa seperangkat nilai-nilai yang berbeda pula. Klien akan membawa
seperangkat nilai-nilai yang berasal di mana klien itu berada dan tentunya nilai
nilai klien ini tidak dapat dihilangkan begitu saja. Nilai-nilai yang dibawa oleh
klien akan menentukan segenap perilaku klien pada saat berhadapan dengan
konselor. Konselor tentu memahami adanya tugas tugas perkembangan yang
harus dijalani oleh klien. Selain itu, konselor juga harus mengetahui bahwa
masing masing tugas perkembangan yang dijalani oleh masing masing individu
itu berbeda beda sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Dengan demikian,
konselor harus memandang individu yang ada secara berbeda (individual
differences).
2. Sadar bahwa “tidak ada teori konseling yang netral secara politik dan
moral”.
Dalam pelaksanaan konseling, konselor harus sadar bahwa teori-teori konseling
yang diciptakan saat ini adalah suatu teori yang dibuat berdasarkan kepentingan
para penemunya masing masing atau dapat dikatakan bahwa teori konseling yang
ada saat ini tidak akan terlepas dari pengalaman pribadi masing masing
DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.07 No.3 Edisi Juni 2020 17
penemunya. Oleh karena itu, teori-teori konseling yang diciptakan ada
kemungkinan tidak akan terlepas dari moral yang dimiliki oleh penemunya. Juga,
tidak akan dapat terlepas dari muatan politik dari penemunya. Kesadaran akan
muatan muatan moral dan politik ini akan menjadikan konselor semakin tajam
dalam melakukan praktik konseling. Sebab dengan mengetahui moral dan
muatan politik yang dimiliki oleh penemu teori konseling tersebut berarti
konselor akan semakin sadar terhadap "arah" teori konseling itu. Dengan
demikiam konselor dapat memilah dan memilih teori mana yang cocok dengan
masalah yang dihadapi oleh klien yang berbeda pula muatan moral dan
politiknya.
3. Memahami bahwa kekuatan sosiopolitik akan mempengaruhi dan akan
menajamkan perbedaan budaya dalam kelompok.
Anggota masyarakat suatu kelompok tertentu, pasti mempunyai aturan tertentu
yang berbeda dengan aturan anggota kelompok yang lainnya. Perbedaan ini bisa
terimbas dengan adanya keadaan politik suatu negara. Politik memungkinkan
terjadinya permusuhan antar etnis untuk kepentingan kekuasaan. Perbedaan sosio
budaya dalam suatu negeri bisa meruncing karena adanya intervensi kekuatan
kekuatan politik yang memang memakai isu perbadaan sosio budaya untuk
kepentingannya. Konselor sebaiknya melihat fenomena yang terjadi sebagai
suatu pangetahuan bahwa pergolakan yang terjadi antar etnis sangat
dimungkinkan akan muncul jika ada kepentingan politik di dalamnya. Dengan
demikian konselor akan sadar, dengan siapa dia akan berhadapan
4. Dapat berbagi pandangan tentang dunia klien dan tidak tertutup.
Konselor yang efektif adalah konselor yang mampu menginterpretasikan dunia
klien sebagaimana adanya tanpa adanya interpretasi yang berlebih dari pihak
konselor. Konselor sebaiknya mampu memahami pandangan klien dan budaya
yang dibawa oleh klien. Dalam hal ini konselor tidak boleh secara mendadak
menolak pandangan klien yang mungkin berbeda dengan pandangan konselor.
Klien datang ke ruang konseling seringkali dengan membawa masalah yang
berkaitan erat dengan masalah budaya atau nilai nilai yang dimilikinya. Masalah
DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.07 No.3 Edisi Juni 2020 18
ini seringkaii memunculkan perbedaan dengan konselor. Konselor yang tidak
sadar akan nilai-nilai budaya yang berbeda dengan klien seringkali menutup diri
dengan perbedaan itu. Konselor lebih sering mempertahankan nilai-nilainya atau
jika mungkin mengintervensi klien dengan nilai nilai yang dimilikinya.
Intervensi nilai-nilai konselor akan menghambat proses konseling yang
dilaksanakan. Hal ini terjadi karena klien merasa bahwa dia tidak diterima oleh
konselor dengan apa adanya. Jika ini terjadi ada kemungkinan klien akan
mengalami stagnansi (kemandegan) dan ujung-ujungnya, konseling tidak akan
berjalan. Klien merasa bahwa pandangannya tentang nilai-nilai yang dimiliki
tidak bisa diterima oleh konselor. Jika perbedaan yang muncul antara konselor
dan klien ini demikian besarnya, memang tidak ada cara lain bagi konselor untuk
menghentikan proses konseling yang telah berjalan. Hanya saja, perlu diingat
bahwa pemutusan hubungan itu adalah langkah terbaik bagi keduanya. Dan
pemutusan hubungan itu demi kebaikan/kesejahteraan klien sendiri. Sebab, jika
dipaksakan, maka kesejahteraan jiwa klien tidak akan tercapai, dan konselor
sendiri akan melanggar kode etik profesi konseling.
5. Jujur dalam menggunakan konseling eklektik, mempergunakan
keterampilannya daripada kepentingan mereka untuk membedakan
pengalaman dan gaya hidup mereka.
Dalam melaksanakan konseling satu syarat yang harus dimiliki oleh konselor
adalah adanya kejujuran. Kejujuran ini mengacu pada banyak hal, salah satunya
adalah dalam melaksanakan tehnik tehnik yang akan diberikan kepada klien.
Kejujuran ini diungkapkan oleh konselor dengan cara memberikan rasional yang
jelas kepada klien. Dengan adanya rasionel ini diharapkan klien akan mengetahui
apa hak dan kewajibannya selama pelaksanaan konseling. Hal demikian juga
mengena jika konselor mempergunakan praktik atau pendekatan konseling yang
bersifat eklektik. Untuk hal ini, konselor harus benar benar mengetahui teori
mana yang akan dipergunakan untuk membantu klien. Selain itu, jika konselor
akan mempergunakan pendekatan budaya di dalam membantu klien maka
konselor harus benar benar mengetahui latar belakang budaya klien dengan jelas.
DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.07 No.3 Edisi Juni 2020 19
Pendekatan yang berlandaskan pada budaya yang dimiliki oleh klien memang
sebaiknya dilakukan oleh konselor. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa suatu
masyarakat tertentu mempunyai cara tertentu pula untuk. menyelesaikan masalah
yang dimilikinya. Berdasarkan asumsi itu, maka konselor bisa memberikan
bantuan kepada klien berdasar pada latar belakang budaya yang dimiliki oleh
klien. Tetapi harus diingat bahwa konselor harus benar benar menguasai teknik
teknik penyelesaian masalah yang berkaitan dengan budaya yang dimaksud.
IMPLEMENTASI MULTIBUDAYA DALAM KONSELING
Penggunaan Keterampilan Komunikasi Dalam Konseling Lintas Budaya
Ivey dalam Rosjidan, 1994 menyarankan bahwa penggunaan keterampilan
komunikasi dalam konseling hendaknya memperhatikan latar belakang budaya dan
kebiasaan klien.
A. Nilai-Nilai Budaya Yang Relevan
Untuk melaksanakan keterampilan komunikasi konseling bagi klien yang
berasal dari Indonesia, konselor perlu memperhatikan latar budayanya.
Nilai-nilai budaya klien Indonesia termasuk bersama dengan nilai-nilai
budaya nasional yang relevan dengan budaya daerahnya, antara lain :
1. Hubungan konselor-klien bersifat hirarkis, bukan sederajat seperti di
Barat;
2. Pengembangan diri berfokus pada keluarga atau kelompok, dan
mereka saling bergantung;
3. Kematangan psikologis berarti meningkatnya kemampuan dalam
pengendalian emosi;
4. Sumber kendali dan sumber tanggung jawab terletak di luar diri
(external bukan internal seperti Barat);
5. Pemecahan masalah menjadi tanggung jawab konselor;
6. Empati atau tenggang rasa, berusaha untuk peka dan memahami
perasaan orang lain;
7. Menghormati dan setia kepada orang tua;
DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.07 No.3 Edisi Juni 2020 20
8. Komunikasi dengan pengaruh tinggi konteks atau situasi;
9. Keserasian dengan lingkungan alam dan orang lain;
10. Berorientasi waktu lalu dan kini, bukan kini dan yang akan datang
seperti orientasi waktu Barat.
B. Penerapan Nilai-Nilai Budaya
Beberapa contoh penerapan nilai-nilai multibudaya dalam keterampilan
komunikasi dengan klien yang orang Indonesia dalam konseling lintas
budaya (Rosjidan.1994) , yaitu :
1. Keterampilan Memperhatikan
Keterampilan memperhatikan terdiri atas empat dimensi: kontak
mata, bahasa tubuh, kualitas suara, penelurusan verbal.
a) Kontak mata. Jika konselor berbicara dengan orang lain, konselor
akan memandang klien (Barat). Tingkah laku ini tidak seluruhnya
tepat bagi klien Indonesia. Kebiasaan sehari-hari jika berbicara
dengan orang lain, tidak terus menerus menatap muka lawan bicara,
apa lagi orang lain itu orang lebih usia, tidaklah sopan mengarahkan
pandangan mata kepadanya. Klien akan mengasosiasikan
pembicaraan konseling seperti pembicaraan dengan kontak mata
keseharian kepada orang tua.
b) Bahasa tubuh. Di masyarakat Indonesia, orang tidak biasa
menggunakan bahasa tubuh untuk menyertai pembicaraan dengan
orang, kecuali yang banyak dilakukan adalah penggunaan gerakan
tangan.
c) Kualitas suara. Bahasa Indonesia yang digunakan tidak termasuk
bahasa berlagu, klien dalam kehidupan sehari-hari dalam
percakapan biasa mendengar kata-kata orang lain dengan intonasi
yang lebih mendatar. Klien mendengarkan kata-kata konselor
dengan intonasi suara yang lebih variatif mungkin klien akan
merasa asing dalam komunikasi itu.
DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.07 No.3 Edisi Juni 2020 21
2. Keterampilan Memantulkan Perasaan
Hal yang perlu mendapatkan perhatian adalah keterampilan konselor
dalam pemilihan kata-kata perasaan negatif dalam pemantulan perasaan,
terutama bagi perasaan terhadap orang tua. Keterampilan memantulkan
perasaan klien yang negatif kepada orang tua hendaknya dilakukan
dengan hati-hati karena nilai budaya klien tidak mengijinkan
menggunakan kata-kata perasaan negatif yang sangat keras terhadap
orang tua.
3. Keterampilan Menggunakan Pertanyaan Untuk Membuka
Konseling
Pada umumnya di Barat, interviu dimulai dengan pertanyaan terbuka
diikuti dengan pertanyaan tertutup untuk diagnosis dan klarifikasi. Bagi
klien Indonesia, mungkin lebih efektif jika dimulai dengan pertanyaan
tertutup dari pada pertanyaan terbuka, karena kebiasaan berpikir klien
dari hal yang kongkrit baru kemudian ke yang lebih abstrak.
4. Keterampilan Menstruktur
Penstrukturan adalah keterampilan konselor untuk pembatasan
pembicaraan agar proses konseling dapat berjalan pada tujuan yang
ingin dicapai. Salah satu pembatasan adalah penegasan peran konselor,
yaitu peran konselor bukan untuk membuatkan keputusan bagi klien,
bukan untuk memberikan pemecahan masalah. Tetapi, bagi klien
Indonesia penegasan peran konselor demikian tidak bisa dimengerti
karena tidak sesuai budaya yang dia ikuti bahwa konselor dianggap
sebagai tokoh yang dia minta bantuan untuk pemecahan masalah adalah
tokoh yang mau dan mampu memberikan pilihan jalan keluar dari
masalah yang dialami.
5. Keterampilan Pemecahan Masalah
DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.07 No.3 Edisi Juni 2020 22
Salah satu dari tahap-tahap pemecahan masalah ialah memperjelas nilai-
nilai yang ada di belakang pilihan pribadi. Menurut budaya klien
Indonesia, pertimbangan atas nilai-nilai bersangkutan dengan keluarga
atau orang tua hendaknya mendapat bobot yang tinggi. Anak dituntut
untuk menunjukkan penghormatan dan kesetiaan kepada orang tua pada
penentuan pilihan atau keputusan.
6. Keterampilan Memahami Jalan Pikiran Klien
Pandangan Barat menyatakan bahwa individu yang sehat jika pola pikir
mereka lebih berdasar pada kerangka acuan internal, lebih menekankan
pada otonomi pribadi dan sumber kendali internal serta sumber
tanggung jawab internal. Klien Indonesia, berdasar budaya menalar
sesuatu peristiwa lebih meninjau dari kerangka acua eksternal dengan
sumber kendali eksternal dan sumber tanggung jawab eskternal pula.
7. Keterampilan Memahami Tingkah Laku Klien
Konteks dan situasi sesaat dalam komunikasi serta guna memelihara
keserasian hubungan dengan orang lain maka klien Indonesia dapat
menjawab tidak atau ya atas pertanyaan yang dia terima, meskipun yang
sebenarnya bukan seperti apa yang dikatakan
IMPLEMENTASI MULTIBUDAYA DALAM KONSELING
Pendekatan konseling multikultural ini di bangun di atas kerangka berpikir
sebagai berikut: (1) sadarkan kekuatan sosiopolitik yang berpengaruh terhadap klien
minoritas, (2) memahami bahwa, budaya, kelas sosial, daan faktor budaya lainnya
berpotensi terhadap keefktifan proses konseling, (3) menjelaskan bagaimana
kemampuan, kepercayaan, dan ketidak pahaman komunikasi dalam konseling
mempengaruhi kemapuan klien untuk menerima atau berubah, dan (4) menekankan
pentingnya pandangan dunia atau identitas budaya dalam konseling. Dari keempat
komponen tersebut memberikan pemahaman bahwa konseling multikultural
memerlukan kombinasi keterampilan dalam hal proses dan tujuan yang berbeda.
DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.07 No.3 Edisi Juni 2020 23
Untuk dapat meresponsif terhadap perbedaan buday klien, konselor secara sistematis
harus dapat membuat suatu keputusan atas layak tidaknya suatu pendekatan koseling
yang didasarkan atas rujukan budaya klien.
Konseling dengan pendekatan multikultural akan dipengaruhi oleh latar
belakang budaya, sosial, ciri khas individu, dan latar belakang psikologis baik yang
dibawa konselor maupun yang dibawa klien. Adanya variabel-variabel tersebut,
konselor harus kompoten dalam memilih dan menggunakan tekhnik konseling mana
yang sesuai dengan latar belakang klien tersebut. Oleh karena itu ketika konselor
memahami klien, maka harus memposisikan diri klien sebagai individu dan sebagai
anggota dari suatu budaya.
Konseling lintas budaya dapat terjadi jika antara konselor dan klien
mempunyai perbedaan. Kita tahu bahwa antara konselor dan klien pasti mempunyai
perbedaan budaya yang sangat mendasar. Perbedaan budaya itu bisa mengenai nilai-
nilai, keyakinan, perilaku dan lain sebagainya. Perbedaan ini muncul karena antara
konselor dan klien berasal dari budaya yang berbeda. Konseling lintas budaya dapat
terjadi jika, sekedar contoh, konselor kulit putih memberikan layanan konseling
kepada klien kulit hitam atau konselor orang Jawa memberikan layanan konseling
pada klien yang berasal dari Pasundan.
SIMPULAN
Pelaksanaan konseling dipangaruhi oleh beragam entitas. Salah satu entitas di
maksud adalah faktor budaya. Faktor budaya tersebut imerge dalam hubungan
konselor-klien. Keberbedaan dan keberagaman budaya yang menjadi latar pribadi
konselor dan konseli cenderung dapat menghambat pelaksanaan konseling.
Aktualisasi dari budaya seperti bahasa, nilai, stereotip, kelas sosial dan semisalnya
dalam kondisi tertentu dapat menjadi sumber penghambat proses pencapaian tujuan
konseling. Disamping itu, model pendekatan konseling yang dipergunakan konselor
untuk membantu mengentaskan masalah konseli, yang notabene merupakan salah
satu penciri profesionalitas profesi konseling juga merupakan produk suatu budaya
DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.07 No.3 Edisi Juni 2020 24
tertentu yang karenanya dalam penerapannya juga belum tentu sesuai dengan budaya
konseli.
Konselor perlu untuk memperkuat kesadarannya terhadap budaya yang beragam
dalam kehidupan manusia. Pentingnya memahami perbedaan nilai-nilai, persepsi,
emosi, dan faktor-faktor lain yang menjadi wujud kemajemukan yang ada.
Kompetensi, kualitas dan guideline tentang kesadaran budaya konselor dapat
diwujudkan dengan memiliki kesadaran dan sensitif (kepekaan) pada warisan
budayanya sendiri, memiliki pengetahuan tentang ras-nya dan bagaimana hal tersebut
secara personal dan professional mempengaruhi proses konseling, dan memiliki
pengetahuan tentang kehidupan sosial yang dapat mempengaruhi orang lain. Hal
tersebut akan membantu konselor dalam menghadapi tantangan di era globalisasi.
Oleh karena itu pembekalan terhadap kompetensi, kemampuan dan penguasaan
teknik konseling serta kesadaran budaya harus terus dijadikan landasan penting dalam
diri konselor dalam menggunakan metode dan pendekatan yang efektif kepada
konseli.
DAFTAR PUSTAKA
Prayitno dan Amti, Emran. 1994. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta:
Rineka Cipta
Supriadi, Dedi, 1999, Mengangkat Citra dan Martabat Guru, Yogyakarta: Adicita
Karya Nusa.
Rosjidan. 1994. Pengantar Teori – Teori Konseling. Jakarta. Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan, Dirjen DIKTI.
DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.07 No.3 Edisi Juni 2020 25