RESUME MOOC
(KEDUDUKAN DAN PERAN PNS DALAM NKRI)
dr. SYAFITRI PUSPARANI / 30 / Pemerintah Kota Parepare
(UPT Rumah Sakit Umum Daerah Andi Makkasau Kota Parepare)
SMART ASN
Pandemi Covid-19 telah mengantarkan dunia pada sebuah masa revolusioner dengan
berpindahnya sebagian kehidupan manusia menuju dunia tanpa batas, yakni dunia digital. Kita
dipaksa untuk masuk dan mengikuti segala perkembangan yang ada di dunia digital atau sering
disebut dengan istilah Mendadak Digital. Berbagai berkah dan bencana di ruang digital silih
berganti menghampiri seluruh profesi tak terkecuali Aparatur Sipil Negara (ASN). Kompetensi
literasi digital diperlukan agar seluruh masyarakat digital dapat menggunakan media digital
secara bertanggung jawab. Seorang pengguna yang memiliki kecakapan literasi digital yang
bagus tidak hanya mampu mengoperasikan alat, melainkan juga mampu bermedia digital
dengan penuh tanggung jawab. Hal ini termasuk dalam visi misi Presiden Jokowi untuk
meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM). Penilaiannya dapat ditinjau dari etis dalam
mengakses media digital (digital ethics), budaya menggunakan digital (digital culture),
menggunakan media digital dengan aman (digital safety), dan kecakapan menggunakan media
digital (digital skills).
Kerangka kurikulum literasi digital digunakan sebagai metode pengukuran tingkat kompetensi
kognitif dan afektif masyarakat dalam menguasai teknologi digital:
1. Digital skill
Kemampuan mengetahui, memahami, dan menggunakan perangkat keras dan piranti lunak TIK
serta sistem operasi digital dalam kehidupan sehari-hari
2. Digital culture
Kemampuan membaca, menguraikan, membiasakan, memeriksa, dan membangun wawasan
kebangsaan, nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam keseharian dan digitalisasi
kebudayaan melalui pemanfaatan TIK
3. Digital ethics
Kemampuan menyadari, mencontohkan, menyesuaikan diri, merasionalkan,
mempertimbangkan, dan mengembangkan tata kelola etika digital (netiquette) dalam kehidupan
sehari-hari
4. Digital safety
Kemampuan mengenali, mempolakan, menerapkan, menganalisis, menimbang dan
meningkatkan kesadaran perlindungan data pribadi dan keamanan digital dalam kehidupan
sehari-hari.
Media digital digunakan oleh siapa saja yang berbeda latar pendidikan dan tingkat kompetensi.
Karena itu, dibutuhkan panduan etis dan kontrol diri (self-controlling) dalam menghadapi jarak
perbedaan-perbedaan tersebut dalam menggunakan media digital, yang disebut dengan Etika
Digital. Empat prinsip etika tersebut menjadi ujung tombak self-control setiap individu dalam
mengakses, berinteraksi, berpartisipasi, dan berkolaborasi di ruang digital, sehingga media
digital benar-benar bisa dimanfaatkan secara kolektif untuk hal-hal positif.
Tiga tantangan dalam menimbang urgensi penerapan etika bermedia digital :
1. Penetrasi internet yang sangat tinggi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
2. Perubahan perilaku masyarakat yang berpindah dari media konvensional ke media digital.
3. Intensitas orang berinteraksi dengan gawai semakin tinggi.
MANAJEMEN ASN
SISTEM MERIT (Pasal 1 UU ASN ttg Ketentuan Umum):
Sistem merit adalah kebijakan dan manajemen ASN yang berdasarkan pada kualifikasi,
kompetensi dan kinerja secara adil dan wajar dengan tanpa membedakan latar belakang politik,
ras, warna kulit, agama, asal usul, jenis kelamin, status pernikahan, umur, atau kondisi
kecatatan.
MANFAAT SISTEM MERIT BAGI ORGANISASI:
Mendukung keberadaan penerapan prinsip akuntabilitas
Dapat mengarahkan SDM untuk dapat mempertanggungjawabkan tugas dan fungsinya
Instansi pemerintah mendapatkan pegawai yang tepat dan berintegritas untuk mencapai
visi dan misinya.
MANFAAT SISTEM MERIT BAGI PEGAWAI:
Memiliki Kesempatan yang sama untuk meningkatkan kualitas diri
Menjamin Keadilan dan ruang keterbukaan dlm perjalanan karir seorang pegawai