10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI
A. Tinjauan Pustaka
Fungsi tinjauan pustaka ini adalah untuk mengemukakan secara
sistematis hasil penelitian terdahulu yang relevan memberikan pemaparan
tentang penelitian terdahulu yang relevan memberikan pemaparan tentang
penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya:
Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Tri Sebha Utami Prodi
Bimbingan dan Konseling Universitas Pancasakti Tegal, Jawa Tengah yamg
berjudul “Perilaku Broken Home terhadap Perilaku Agresif” tahun 2016.
Penelitian ini berjenis penelitian yang bersifat deskriptif kuantitatif. Hasil
penelitiannya adalah berdasarkan hasil data rekaman arsip, hasil wawancara
dan hasil observasi menunjukkan pengaruh broken home terhadap perilaku
agresif pada peserta didik kelas X IPS secara umum disebabkan karena
kesibukan orang tua kondisi tersebut sering memicu ketidakpercayaan di dalam
anggota keluarga peserta didik dan jarang adanya komunikasi antar anggota
keluarga. Sedangkan penyebab lain dari pengaruh broken home pada keluarga
peserta didik yaitu karena kecurigaan istri kepada suami karena bekerja di luar
kota dan jarang pulang, jarang berkomunikasi. Sedangkan perilaku agresif
yang penulis temui pada peserta didik kelas X IPS secara umum mempunyai
perilaku yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar sehingga peserta didik
menjauh dari pergaulan di sekolah dan tidak memiliki motivasi belajar.
11
Adapun tingkat perilaku agresif dari 3 peserta didik yang memiliki
perilaku agresif sebagai berikut: 1) EM, mempunyai perilaku agresif antara
lain: mudah tersinggung, dan kurang dewasa; 2) EY, mempunyai perilaku
sering emosi, tidak peduli dengan lingkungan sekitar dan sering menyendiri; 3)
VB, mempunyai perilaku sering kesal, dan tidak mempunyai motivasi belajar.
Dalam menangani peserta didik yang berperilaku agresif akibat dari
pengaruh broken home yaitu dengan memberikan layanan individu, memanggil
orang tua atau wali peserta didik, dan bila perlu guru pembimbing melakukan
home visit (kunjungan rumah). Hasil setelah dilakukan layanan individu peserta
didik dapat menyadari bahwa perilaku agresif yang dilakukan peserta didik
tidak bermanfaat tetapi bahkan dapat menjerumuskan peserta didik ke dalam
tindakan-tindakan negatif. Selain itu koordinasi dan komunikasi dengan orang
tua juga dapat memperbaiki hubungan dalam keluarga, orang tua peserta didik
merasa malu dipanggil ke sekolah sehingga secara tidak langsung saling
berkomunikasi satu sama lain agar tidak dipanggil kembali ke sekolah sehingga
secara tidak langsung keharmonisan keluarga peserta didik secara perlahan-
lahan dapat diperbaiki. Dalam menangani kasus tersebut guru pembimbing
belum sampai ke tingkat home visit karena orang tua peserta didik sudah mau
datang memenuhi panggilan guru BK.
Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Tri Sebha Utami dengan
peneliti adalah dari segi judul Tri Sebha Utami “Pengaruh Keluarga Broken
Home terhadap Perilaku Agresif” dan peneliti “Pengaruh Keluarga Broken
Terhadap Tingkat Kepatuhan Norma Sekolah”, objek penelitian peneliti di
12
Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta sedangkan Tri Sebha Utami
di SMA negri 4 Kota Tegal.
Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Mukhlis Aziz Prodi
Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-
Raniry yang berjudul “Perilaku Sosial Anak Remaja Korban Broken Home
dalam Berbagai Perspektif” tahun 2015. Penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan pendekatan deskripstif (deskriptif analisis) artinya berdasarkan
data kualitatif akan dideskripsikan atau menggambarkan sifat suatu keadaan
yang sementara berjalan pada saat penelitian dilakukan,dan memeriksa sebab-
sebab dari suatu gejala tertentu, hasil penelitiannya adalah:
1. Dengan merujuk kepada definisi broken home yang sudah dijelaskan
sebelumnya, sekalipun latar belakang dan kondisi keluarganya berbeda-
beda, namun intinya termasuk dalam kategori keluarga yang broken.
Berdasarkan data hasil temuan dari dokumen dan wawancara dengan dua
(2) orang guru BP, serta wawancara langsung dengan sebagian anak-anak
yang bermasalah sebagai subjek penelitian, menunjukkan hasilnya bahwa
rata-rata perilaku sosial anak-anak yang bermasalah adalah dilatarbelakangi
oleh faktor keluarga yang broken.
2. Bentuk-bentuk perilaku social mereka antara lain suka bicara atau mengajak
teman untuk bicara, suka jalan-jalan di kelas atau sebentar-bentar minta izin
keluar ke kamar kecil, tidak open dengan pelajaran, tidak sopan dengan
guru, tidak mengerjakan tugas tugas dan tidak ada keinginan untuk belajar,
orangnya suka caper, berpenampilan aneh seperti rambut jabrik dan ngecat
13
rambut mirip-mirip anak punk, pakaiannya suka melanggar aturan sekolah,
suka mengganggu temannya, ada juga anak yang berubah dari keadaannya
yang ceria berubah menjadi pemurung dan pendiam, yang semula ada
semangat belajar lalu berubah menjadi pemalas, semula anaknya patuh dan
penurut lalu berubah menjadi pembangkang dan bahkan ada yang melawan
serta bicara kasar. Perilaku sosial anak broken home dirasakan sangat
mengganggu suasana kelas, sangat mengganggu proses belajar mengajar,
karena perilaku-perilaku mereka membuat guru dan murid lainnya merasa
tidak nyaman, bahkan sangat mengganggu ketenangan semua pihak.
Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Mukhlis Aziz dengan peneliti
adalah dari segi judul Mukhlis Aziz “Perilaku Sosial Anak Remaja Korban
Broken Home dalam Berbagai Perspektif” dan peneliti “Pengaruh Keluarga
Broken terhadap Tingkat Kepatuhan Norma Sekolah”, objek penelitian peneliti
di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta sedangkan Mukhlis Aziz
bertempat di SMPN 18 Kota Banda Aceh.
Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Pangestu Tri Wulam Ndari
Prodi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negri
Yogyakarta yang berjudul “Dinamika Psikologi Santri Korban Broken Home di
SMP Negri 5 Sleman ditahun 2016 Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif berjenis fenomenologi. Hasil penelitianya adalah:
1. Terjadi perceraian dan perpisahan pada keluarga AP karena masalah
ekonomi dan perselingkuhan. Peristiwa tersebut menyebabkan AP
berpandangan buruk mengenai diri sendiri, keluarga, orang tua dan trauma
14
akan pernikahan. AP sering merasa sedih dan kecewa sehingga mengganggu
aktifitas belajarnya serta menunjukkan reaksi agresi, withdrawl, dan
kompensasi. Coping yang dilakukan AP adalah melakukan katarsis dengan
menulis diary dan belum ada tindakan dari orangtua atau guru BK dalam
membantu AP.
2. Terjadi broken home dalam bentuk orang tua meninggalkan HR karena
perselingkuhan. Broken home menyebabkan HR berpandangan buruk
terhadap diri sendiri, keluarga, orang tua dan menyebabkan trauma
perselingkuhan. HR sering merasa sedih, kecewa dan sering menangis
sehingga mengganggu aktifitas belajarnya serta menunjukkan reaksi
withdrawl dan kompensasi. Coping yang dilakukan HR adalah dengan
melakukan katarsis dengan menulis diary dan belum ada tindakan dari
keluarga, namun guru BK telah memberikan beberapa konseling pada HR.
3. Orang tua BT memutuskan berpisah akibat kesalahpahaman dan
pertengkaran anggota keluarga. Peristiwa tersebut menyebabkan BT
berpandangan buruk mengenai diri, keluarga, orang tua serta perilaku kasar
terhadap ibunya. BT merasa sedih, kecewa, dan marah sehingga
menyebabkan BT malas belajar serta menunjukkan reaksi agresi, withdrawl,
dan kompensasi. Sejauh ini BT memilih diam, namun ibu BT telah meminta
bantuan BK dalam menangani BT sedangkan guru BK telah memberikan
konseling dan motivasi pada BT.
Keempat, penelitian yang dilakukan oleh Gina Nurtya Lestari, Iim Siti
Masyitoh, Dartim Nan Sati yang berjudul Kajian Mengenai Karakter Sikap
15
Hormat dan Tanggung Jawab Siswa yang Berasal dari Keluarga Broken Home
dalam Interaksi Sosial di Sekolah. Pendekatan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus.
Pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi, wawancara, studi
pustaka, dan studi dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini diantaranya:
Koordinator guru BK, guru PKn, wali kelas, siswa Broken Home yang dipilih
secara acak, serta orang tua siswa Broken Home. Hasil penelitian menemukan
bahwa: (1). Siswa Broken Home memiliki karakter sikap hormat dan tanggung
jawab. Pendidikan pertama yang diberikan di lingkungan keluarga berkenaan
dengan pendidikan karakter, membuat setiap siswa mengerti dan memahami
pentingnya memiliki dan mengamalkan karakter sikap hormat dan tanggung
jawab tersebut. (2). Faktor yang dapat membentuk dan mempengaruhi
perkembangan karakter sikap hormat dan tanggung jawab adalah faktor
lingkungan dan pendidikan. Keluarga menjadi tempat pertama dan utama
dalam memberikan arahan, bimbingan serta pendidikan yang menjadi dasar
dalam kehidupan anak. Sedangkan sekolah merupakan lingkungan kedua yang
berperan mencerdaskan kehidupan anak agar mampu memahami dan
mengetahui berbagai macam ilmu pengetahuan. (3). Siswa Broken Home
belum mampu mengamalkan kedua karakter utama tersebut dengan baik dan
benar. Seperti halnya, mereka mampu mengamalkan karakter sikap hormat,
akan tetapi belum mampu mengamalkan karakter sikap tanggung jawab,begitu
pula sebaliknya. (4). Upaya yang dilakukan pihak sekolah dalam hal membina
karakter sikap hormat dan tanggung jawab siswa Broken Home dalam interaksi
16
sosial di sekolah adalah dengan mengadakan pembinaan dan bimbingan secara
rutin. Selain itu, pihak sekolah mengadakan kerjasama dengan pihak orangtua.
Pihak sekolah dan orang tua harus secara bersama-sama dalam hal mendidik,
membimbing, membina, memperhatikan, mengawasi, serta menumbuh
kembangkan karakter sikap hormat dan tanggung jawab.
Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Gina Nurtya Lestari,
Iim Siti Masyitoh, Dartim Nan Sati yaitu pada variabel karakter sikap hormat
dan tanggung jawab siswa, sedangkan variabel yang diteliti pada penelitian ini
yaitu kedisiplinan.
Kelima, penelitian yang dilakukan oleh Siti Sulaikah Latif yang
berjudul Perbandingan Prestasi Belajar antara Siswa dari Keluarga Broken
Home (Pecah) dengan Siswa dari Keluarga Harmonis pada Siswa Kelas VIII
SMPN 3 Kedungwaru Tulungagung Tahun Pelajaran 2014/2015. Permasalahan
penelitian ini adalah Bagaimanakah perbandingan prestasi belajar antara siswa
dari keluarga broken home (pecah) dengan siswa dari keluarga harmonis pada
siswa kelas VII SMPN 3 Kedungwaru-Tulungagung tahun pelajaran
2014/2015?. Penelitian ini menggunakan pendektan Kuantitatif dengan subyek
penelitian siswa kelas VII SMPN 3 Kedungwaru. Penelitian satu siklus,
memggunakan instrumen berupa dokumentasi. Kesimpulan hasil penelitian ini
adalah (1) terdapat perbedaan prestasi antara siswa dari keluarga broken home
dengan siswa dari keluarga harmonis.(2) prestasi siswa dari keluarga harmonis
besar daripada siswa dari keluarga broken home. Berdasarkan simpulan hasil
penelitian ini bertujuan siswa hendaknya meningkatkan kesadaran dan
17
usahanya dalam rangka meningkatkan prestasi belajarnya. Konselor, guru
Mapel dan orang-orang terdekat siswa khususnya dari keluarga broken home
memberikan motivasi agar siswa mampu meningkatkan prestasi belajarnya.
Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Siti Sulaikah Latif
yaitu pada variabel perbandingan prestasi belajar dan siswa yang diteliti yaitu
siswa kelas VIII SMPN 3 Kedungwaru Tulungagung tahun pelajaran
2014/2015, sedangkan variabel yang diteliti pada penelitian ini yaitu
kedisiplinan dan santri di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta.
Keenam, penelitian yang dilakukan oleh I Gede Bayu Umbara Desta,
Dewi Arum W.M.P, Ni Ketut Suarni yang berjudul Determinasi Intensitas Pola
Asuh Orang Tua dan Motivasi Berprestasi terhadap Tingkat Kedisiplinan
Siswa Kelas IX SMP Laboratorium Undiksha Singaraja Tahun Pelajaran 2014-
2015. Penelitian ini merupakan penelitian Ex Post Facto dengan tujuan untuk
mengetahui (1) determinasi intensitas pola asuh orang tua terhadap tingkat
kedisiplinan siswa kelas IX SMP Lab Undiksha Singaraja, (2) determinasi
motivasi berprestasi terhadap tingkat kedisiplinan siswa kelas IX SMP Lab
Undiksha Singaraja, dan (3) determinasi secara bersama-sama antara intensitas
pola asuh orang tua dan motivasi berprestasi terhadap tingkat kedisiplinan
siswa kelas IX SMP Lab Undiksha Singaraja. Populasi penelitian ini adalah
siswa kelas IX SMP Laboratorium Undiksha Singaraja yang berjumlah 140
siswa. Sampel penelitian ini ditetapkan 140 dalam penetapan menggunakan
teknik census study. Data dikumpulkan dengan teknik pengumpulan data
dengan menggunakan perangkat kuesioner, dan selanjutnya dianalisis dengan
18
teknik statisktik yaitu analisis regresi sederhana dan analisis regresi ganda.
Hasil penelitian ini menunjukkan determinasi intensitas pola asuh orang tua
terhadap kedisiplinan siswa kelas IX SMP Laboratorium Undiksha Singaraja
dengan besar koefisien determinasinya (R2) = 0,171 atai 17,1%dan determinasi
motivasi berprestasi terhadap tingkat kedisiplinan siswa kelas IX SMP
Laboratorium Undiksha Singaraja dengan besar koefisien determinasinya (R2)
=0,304 atau 30,4 % Kontribusi secara bersama-sama antara determinasi
intensitas pola asuh orang tua dan motivasi berprestasi terhadap tingkat
kedisiplinan siswa kelas IX SMP Laboratorium Undiksha Singaraja dengan
besar koefisien determinasinya (R2) = 0,304 atau 30,4 %.
Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh I Gede Bayu Umbara
Desta, Dewi Arum W.M.P, Ni Ketut Suarni yaitu pada variabel determinasi
intensitas pola asuh orang tua dan motivasi berprestasi, sedangkan variabel
yang diteliti pada penelitian ini yaitu keluarga broken home.
Ketujuh, penelitian yang dilakukan oleh Zuraidah yang berjudul Analisa
Perilaku Remaja dari Keluarga Broken Home. Penelitian ini membahas
mengenai perilaku remaja yang berasal dari keluarga broken home dengan
menggunakan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian yang diteliti berjumlah 2
(dua) orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive
sampling. Metode yang digunakan adalah wawancara mendalam dan observasi
selama wawancara berlangsung. Dari hasil analisis diketahui bahwa faktor-
faktor penyebab perilaku remaja dari keluarga broken home meliputi faktor
kurangnya perhatian dan kasih sayang dari pihak keluarga, kurangnya
19
komunikasi, kesibukan orangtua dalam bekerja, hilangnya kepercayaan akibat
ketidakjujuran antara kedua pasangan serta mengabaikan tanggungjawab
terhadap keluarga, pemahaman serta pembinaan agama yang kurang. Bentuk
perilaku antara lain perilaku bermasalah, menyimpang, penyesuaian diri yang
salah, perilaku yang tidak dapat membedakan yang benar dan salah dan
gangguan hiperaktif lainnya kurang perhatian. Dampak perilaku remaja dari
keluarga broken home antara lain mengalami tekanan mental yang berat,
mudah tersinggung, menunjukkan sikap berontak, kurang memiliki pengertian
dan tanggungjawab pada keluarga.
Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zuraidah yaitu pada
variabel analisa perilaku remaja, sedangkan variabel yang diteliti pada
penelitian ini yaitu kedisiplinan santri.
Kedelapan, penelitian yang dilakukan oleh M. Nisfiannoor, Eka
Yulianti yang berjudul Perbandingan Perilaku Agresif antara Remaja yang
Berasal dari Keluarga Bercerai dengan Keluarga Utuh. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan perilaku agresif antara remaja yang
berasal dari keluarga bercerai dengan keluarga yang utuh. Alat ukur yang
digunakan untuk mengukur perilaku agresi adalah berupa kuesioner. Sampel
yang diperoleh berjumlah 212 subyek yang berada di wilayah Jakarta Utara.
Masing-masing kelompok terbagi atas 28 subyek dari keluarga bercerai dan
184 subyek dari keluarga utuh. Kemudian dengan bantuan SPSS versi 11.00,
data diolah menggunakan Independent t-test. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa ada perbedaan perilaku agresif antara remaja yang berasal dari keluarga
20
bercerai dengan keluarga utuh nilai [t (31, 097) = 8, 576, p<0,05]. Remaja yang
berasal dari keluarga bercerai lebih agresif dibandingkan dengan remaja dari
keluarga utuh. Ditinjau dari segi dimensi agresivitas, remaja yang berasal dari
keluarga bercerai juga lebih agresif secara fisik maupun verbal.
Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh M. Nisfiannoor, Eka
Yulianti yaitu pada variabel perilaku agresif, sedangkan variabel yang diteliti
pada penelitian ini yaitu kedisiplinan santri.
Kesembilan, penelitian yang dilakukan oleh Veronika Unun Pratiwi dan
Sari Handayani yang berjudul Pengaruh Keluarga terhadap Kenakalan Anak.
Keluarga mempunyai peran penting didalam pendidikan manusia. Keluarga
membentuk karakter anggotanya, khususnya anak-anak. Masingmasing
anggota keluarga mempunyai perannya masing-masing dalam membangun
keluarga yang harmonis. Keluarga juga mempunyai fungsi sosial dalam hal
proses sosialisasi. Kenakalan remaja menjadi ancaman yang berbahaya di
dalam keluarga. Banyak penyebab datang dari kurangnya kualitas pendidikan
dalam keluarga: (1) keluarga broken home; (2) Keluarga Otoriter; (3) Anak tak
dibekali ilmu agama; dan (4) penolakan terhadap anak. Ada dua kontrol dalam
menangani kenakalan anak: (1) tindakan preventif, dan; (2) tindakan represif.
Di samping kontrol keluarga, lingkungan selalu menjadi ketertarikan bagi
remaja. Itulah mengapa remaja juga memerlukan kontrol lingkungan.
Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Veronika Unun
Pratiwi dan Sari Handayani yaitu pada variabel pengaruh keluarga terhadap
21
kenakalan anak, sedangkan variabel yang diteliti pada penelitian ini yaitu
kedisiplinan santri.
Kesepuluh, penelitian yang dilakukan oleh Riza Fadla Lubis yang
berjudul “Psikologis Komunikasi Remaja Broken Home terhadap Konsep Diri
dan Keterbukaan Diri”. Tujuan penelitian ini ingin mengkaji mengenai
psikologis komunikasi remaja broken home terhadap konsep diri dan
keterbukaan diri. Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah
paradigma interpretif. Paradigma Interpretif merupakan cara pandang yang
bertumpu pada tujuan untuk memahami dan menjelaskan dunia sosial dari
kacamata aktor yang terlibat di dalamnya. Pemilihan informan dilakukan
dengan Purposive Sampling Technique. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
remaja yang berasal dari keluarga broken home memiliki perubahan sikap dan
komunikasi terutama didalam keluarga. Komunikasi mereka cenderung
tertutup dengan orang tua, memiliki sikap sensitif, egois, dan suka murung.
Sementara pada konsep diri, remaja yang termasuk dalam kelurga broken home
cenderung memiliki konsep diri negatif. Untuk keterbukaan diri sendiri mereka
cenderung bebas namun tidak terlalu menyalahgunakan makna kebebasan
tersebut, mereka cenderung memiliki kasih sayang yang lebih terhadap salah
satu orang tua yang tinggal bersama mereka sehingga ada keterikatan didalam
hidup mereka.
Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Riza Fadla Lubis dengan
peneliti adalah dari segi judul. Dari variabel yang diteliti juga berbeda, dalam
penelitian Riza Fadla Lubis variabel yang akan diteliti yaitu komunikasi remaja
22
broken home, konsep diri, dan keterbukaan diri, sedangkan variabel dalam
penelitian ini yaitu tingkat kedisiplinan keluarga broken home dan non broken
home. Riza Fadla Lubis jenis penelitian yang digunakan yaitu kualitatif, dan
penelitia ini berjenis kuantitatif. Persamaan dengan penelitian ini yaitu tentang
keluarga broken home.
B. Kerangka Teori
1. Keluarga
a. Pengertian Keluarga
Pengertian keluarga dalam kamus lengkap bahasa Indonesia
modern secara harfiah keluarga berarti sanak saudara: kaum kerabat,
orang seisi rumah, anak bini. Menurut Biro Sensus (BPS), keluarga
adalah dua orang atau lebih yang berkaitan dengan kelahiran,
perkawinan, adaptasi, yang tinggal bersama-sama. Keluarga merupakan
kelompok kecil yang memiliki pemimpin dan anggota, memiliki
pembagian tugas dan kerja, serta hak dan kewajiban bagi masing-masing
anggotanya. Keluarga merupakan tempat pertama dan yang utama
dimana anak-anak mempelajari keyakinan, sifat-sifat mulia, komunikasi
dan interaksi sosial, serta keterampilan hidup (Helmawati, 2014: 42-43).
Menurut Ki Hajar Dewantara (Abu Ahmadi, 1997: 96), keluarga adalah
kumpulan beberapa orang yang karena terikat oleh satu turunan lalu
mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang hakiki, esensial,
enak dan berkehendak bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk
memuliakan masing-masing anggotanya. Jadi keluarga merupakan peran
23
utama untuk melakukan interaksi sosial dan mengenal sifat yang di
lakukan oleh orang lain. Keluarga juga sebagai tolak ukur untuk
mengenal budaya-budaya luar, dalam mana keluarga merupakan wadah
yang memiliki arti penting dalam membentuk karakter, hubungan
kekerabatan.
Menurut Bossard dan Ball (dalam Notosoedirjo & Latipun, 2011)
memberikan batasan tentang keluarga dari aspek kedekatan hubungan
satu sama lain dengan mengatakan bahwa keluarga sebagai lingkungan
sosial yang sangat dekat hubunganya dengan seseorang. Dalam keluarga
sesorang di besarkan, berkomunikasi dengan yang lain, diberi tempat
tinggal, dibentuk dari nilai-nilai, pola pemikiran dan kebribadian.
Keluarga merupaka salah satu seleksi untuk mengenal budaya dan
dimensi hubungan di luar, di masyarakat, dan lingkunganya. Keluarga
merupakan sarana sebagai pengasuhan anak-anak untuk menjadi
kepribadian yang baik dan menyangkut norma-norma agama (Ulfiah,
2016: 1).
Di dalam interaksi orang tua dengan anak tercakup ekspresi atau
pernyataan orang tua tentang sikap, nilai, dan minat orang tua yang pada
akhirnya interaksi orang tua dengan anaknya inilah yang disebut sebagai
gaya pengasuhan orang tua. Keluarga dianggap dan dipercaya,
mempunyai tanggung jawab utama, untuk sosialisasi dalam kehidupan
sehari-hari atau sebagai tuntunan tanggung jawab umum agar manusia
dapat memepertahankan hidupnya (Ulfiah, 2016: 2). Keluarga dipandang
24
sebagai kelompok yang kecil, sebagai kehidupan seseorang, sebagai
pedoman yang sangat penting dalam kehidupan sosial, sebagai sumber
kehidupan suatu pertumbuhan.
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat. Masyarakat
terbentuk karena adanya beberapa keluarga yang tinggal dalam suatu
wilayah tertentu. Pada hakikatnya keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan
anak. Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, keluarga diartikan
sebagai orang-orang yang menghuni rumah, seisi rumah terdiri atas
bapak beserta ibu dan anak-anaknya (Fajri, 2000: 445). Ciri-ciri yang
menonjol dari sebuah keluarga menurut Mac Iver dan Page (Khairudin,
1997: 7) antara lain:
1) Keluarga merupakan hubungan perkawinan
2) Berbentuk perkawinan atau susunan kelembagaan yang
berkenaan dengan hubungan perkawinan yang sengaja
dibentuk atau dipelihara
3) Suatu sistem tata nama termasuk perhitungan garis keturunan
4) Ketentuan-ketentuan ekonomi yang dibentuk oleh
anggotaanggota kelompok yang mempunyai ketentuan khusus
terhadap kebutuhan-kebutuhan ekonomi yang berkaitan
dengan kemampuan untuk mempunyai keturunan dan
membesarkan anak Merupakan tempat tinggal bersama, rumah
atau rumah tangga walau bagaimanapun tidak mungkin
terpisah terhadap kelompok keluarga.
Menurut Sochib (1998: 17) pengertian keluarga dapat ditinjau
dari dimensi hubungan darah dan hubungan sosial, sebagai berikut:
1) Keluarga dalam dimensi hubungan darah merupakan suatu
kesatuan sosial yang diikat oleh hubungan darah antara satu
dengan lainnya. Berdasarkan dimensi hubungan darah ini,
keluarga dapat dibedakan menjadi keluarga besar dan keluarga
inti.
2) Keluarga dalam dimensi hubungan sosial, keluarga merupakan
suatu kesatuan sosial yang diikat oleh adanya saling
25
berhubungan atau interaksi dan saling mempengaruhi antara
satu dengan lainnya, walaupun diantara mereka tidak terdapat
hubungan darah. Keluarga berdasarkan dimensi hubungan
sosial ini dinamakan keluarga psikologis dan keluarga
pedagogis.
Dalam pengertian psikologis, keluarga adalah sekumpulan orang
yang hidup bersama dalam tempat tinggal bersama dan masing-masing
anggota merasakan adanya pertautan batin, sehingga terjadi saling
mempengaruhi, saling memperhatikan, dan saling menyerahkan diri.
Sedangkan dalam pengertian pedagogis, keluarga adalah “satu”
persekutuan hidup yang dijalin oleh kasih sayang antara pasangan dua
jenis manusia yang dikukuhkan dengan pernikahan yang bermaksud
untuk saling menyempurnakan diri (Sochib, 1998: 17).
Dari beberapa pendapat di atas dapat di simpulkan bahwa
keluarga adalah sekumpulan orang yang hidup bersama dalam suatu
tempat tinggal yang biasa disebut dengan sanak keluarga, kaum kerabat,
group yang antara lain mempunyai ikatan batin sehingga saling
mempengaruhi, saling memperhatikan, dan saling menyerahkan diri.
b. Fungsi Keluarga
Setiap keluarga pada dasarnya memiliki tugas atau kewajiban
yang harus dilakukan demi kelangsungan hidup sebuah keluarga. Tugas
atau kewajiban tersebut sering disebut sebagai fungsi keluarga. William
J. Goode (Munandar Soeleman, 2006: 115) mengemukakan secara umum
fungsi keluarga meliputi pengaturan seksual, reproduksi, sosialisasi,
26
pemeliharaan, penempatan anak dalam masyarakat, pemuas kebutuhan
perorangan, dan kontrol sosial.
Menurut Syamsu Yusuf (2007: 38-39), secara psikososiologis
keluarga memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:
1) Pemberi rasa aman bagi anak dan anggota keluarga lainnya.
2) Sumber pemenuhan kebutuhan, baik fisik maupun psikis.
3) Sumber kasih sayang dan penerimaan
4) Model pola perilaku yang tepat bagi anak untuk belajar
menjadi anggota masyarakat yang baik.
5) Pemberi bimbingan bagi pengembangan yang secara sosial
dianggap tepat.
6) Pembentuk anak dalam memecahkan masalah yang
dihadapinya dalam rangka menyesuaikan dirinya terhadap
kehidupan.
7) Pemberi bimbingan dalam belajar ketrampilan motorik,
verbal dan sosial yang dibutuhkan untuk penyesuaian diri.
8) Stimulator bagi pengembangan kemampuan anak untuk
mencapai prestasi, baik di sekolah maupun masyarakat.
9) Pembimbing dalam mengembangkan aspirasi.
10) Sumber persahabatan atau teman bermain bagi anak sampai
cukup usia untuk mendapatkan teman di luar rumah, atau
apabila persahabatan di luar rumah tidak memungkinkan.
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan paling utama bagi
anak untuk membentuk kepribadian dan mencapai tugas-tugas
perkembangan (Ulfiah, 2016: 3-4). Oleh karena itu keluarga sangat
penting bagi pertumbuhan anak dan sikap, perilaku anak baik dalam segi
sosial dan yang paling penting dalam kepribadian, sosial dan emosional
anak. Keluarga memiliki peran yang sangat penting untuk membentuk
kepribadian anak. Perawatan orangtua yang penuh kasih sayang dalam
mendidik anaknya tentang nilai-nilai norma kehidupan, baik dalam
kehidupan sehari-hari, agama, sosial budaya, itulah faktor yang
27
mendukung untuk mempekenalkan anak menjadi anggota keluarga dan
masyarakat yang baik.
Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa keluarga
memiliki beberapa fungsi yang harus dilaksanakan demi
mempertahankan kelangsungan hidup keluarganya. Fungsi-fungsi
tersebut meliputi, fungsi pengaturan seksual, reproduksi, kasih sayang,
sosialisasi, pemeliharaan, bimbingan, stimulator, penempatan anak dalam
masyarakat, pemuas kebutuhan perorangan (baik fisik maupun psikis),
dan kontrol sosial.
2. Broken Home
Broken home secara etimologis berarti retak (Eclose & Shadily,
2000: 80), jadi broken home adalah kondisi keuarga yang tidak harmonis
atau sudah tidak rukun dengan banyaknya pertengkaran dan dapat berakhir
dengan penceraian. Yang dimaksud kasus keluarga pecah (broken home)
dapat dilihat dari dua aspek: (1) keluarga itu terpecah karena strukturnya
tidak untuk sebab salah satu kepala keluarga itu meninggal dunia atau telah
bercerai; (2) orangtua yang tidak meninggal atau tidak bercerai tetapi salah
satu ayah atau ibu sering tidak di rumah dan ada hubungan kasih sayang
lagi (Willis, 2015: 66). Contohnya sering bertengkar, berselingkuh dan lain
sebagainya sehingga keluarga tidak sehat lagi secara psikologi.
Kata Broken home menurut Helmawati (2014: 16) yaitu suatu
kondisi keluarga yang mengalami perpecahan baik secara fisik maupun
psikologis. Suatu keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang terikat
28
dalam sebuah perkawinan. Suatu perkawinan mengalami perpecahan fisik
maupun psikologis, perpisahan secara fisik bisa terjadi jika salah satu dari
kedua orang tua meninggal, maupun karena perceraian.
Istilah “broken home” biasanya digunakan untuk menggambarkan
keluarga yang berantakan akibat orang tua tidak lagi peduli dengan situasi
dan keadaan keluarga di rumah. Orang tua tidak lagi perhatian terhadap
anak-anaknya, baik masalah di rumah, sekolah, sampai pada perkembangan
pergaulan anak-anaknya di masyarakat. Namun, broken home dapat juga
diartikan dengan kondisi keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan
layaknya keluarga yang rukun, damai, dan sejahtera karena sering terjadi
keributan serta perselisihan yang menyebabkan pertengkaran dan berakhir
pada perceraian. Kondisi ini menimbulkan dampak yang sangat besar
terutama bagi anak-anak. Bisa saja anak jadi murung, sedih yang
berkepanjangan, dan malu. Selain itu, anak juga kehilangan pegangan serta
panutan dalam masa transisi menuju kedewasaan.
3. Keluarga Broken Home
a. Pengertian Keluarga Broken Home
Broken home dapat dikatakan sebagai kekacauan dalam sebuah
keluarga. Kekacauan dalam keluarga merupakan bahan pengujian umum
karena semua orang mungkin saja terkena salah satu dari berbagai jenisnya,
dan karena pengalaman itu biasanya dramatis, menyangkut pilihan moral
dan penyesuaian-penyesuaian pribadi yang dramatis. Kekacauan keluarga
dapat ditafsirkan sebagai pecahnya suatu unit keluarga, terputusnya atau
29
retaknya struktur peran sosial jika satu atau beberapa anggota gagal
menjalankan kewajiban peran mereka secukupnya (Goode, 2007: 184).
Pendapat lain mengenai pengertian broken home yaitu menurut
Chaplin (2004:71), mengungkapkan bahwa broken home adalah “keluarga
atau rumah tangga tanpa hadirnya salah seorang dari kedua orang tua (ayah
dan ibu) disebabkan oleh meninggal, perceraian, meninggalkan keluarga
dan lain-lain”. Kondisi keluarga yang kurang memberikan peran dalam
kehidupan remaja sebagaimana mestinya ini berakibat kurang baik pula bagi
pertumbuhan dan perkembangannya. Sedangkan menurut Pujosuwarno
(1993:7) broken home adalah “keretakan di dalam keluarga yang berarti
rusaknya hubungan satu dengan yang lain di antara anggota keluarga
tersebut”.
Dari keluarga yang telah dijabarkan di atas akan dilahirkan sebagai
anak yang rendah dalam berkepribadian, sehingga sikapnya sering
melakukan kesalahan. Mereka mengalami gangguan emosional yang
merugikan diri sendiri bahkan orang lain. Kasus keluarga broken home
banyak ditemukan di sekolah-sekolah SD, SMP, SMA bahkan di perguruan
tinggi negri maupun swasta, dengan penyesuaian diri yang kurang baik
seperti membolos saat pelajaran, berbohong, brutal dan menantang gurunya
sendiri.
Memang semua broken home tidak sesuai dengan apa yang sudah
dijelaskan di atas, terutama dalam kasus meninggal dunia atau bercerai.
Karena masih ada sanak sodara paman atau bibi yang masih bisa mengurus
30
anak-anak itu, maka kasus anak-anak nakal tidak akan terjadi. Pastinya ada
bimbingan khusus untuk mengatasi broken home seperti diberikan
pendidikan agama, pendidikan umum dan berakhlak mulia.
Selaras dengan hal itu Willis (2015: 66) mengemukakan bahwa:
Dari keluarga Broken Home akan lahir anak-anak yang mengalami
krisis kepribadian, sehingga perilakunya salahsuai. Mereka
mengalami gangguan emosional dan bahkan neurotik. Kasus
keluarga Broken Home ini sering ditemui disekolah dengan
penyesuaian diri yang kurang baik, seperti malas belajar,
menyendiri, agresif, membolos, dan suka menentang guru.
Berdasarkan pandangan Willis di atas dapat disimpulkan bahwa anak
yang terlahir dari keluarga Broken Home kebanyakan mengalami gangguan
emosional yang berpengaruh kepada cara mereka berperilaku. Perilaku
mereka cenderung menyimpang atau tidak sesuai. Perilaku anak tersebut
nampak ketika mereka berada dilingkungan sekolah maupun dilingkungan
masyarakat.
Menurut (Willis, 2008: 66) broken home dapat dilihat dari dua aspek
yaitu: (1) Keluarga itu terpecah karena strukturnya tidak utuh sebab salah
satu darikepala keluarga itu meninggal atau telah bercerai, (2) Orang tua
tidak bercerai akan tetapi struktur keluarga itu tidak utuh lagi karena ayah
atau ibu sering tidak dirumah,dan atau tidak memperlihatkan hubungan
kasih sayang lagi. Misalnya orang tua sering bertengkar sehingga keluarga
itu tidak sehat secara psikologis. Dari keluarga yang digambarkan diatas,
akan lahir anak-anak yang mengalami krisis kepribadian, sehingga
perilakunya sering salah. Mereka mengalami gangguan emosional dan
bahkan neurotic.
31
Dapat disimpulkan bahwa keluarga broken home yaitu keluarga yang
tidak harmonis. Dimana di dalam sebuah keluarga orang tua yang sibuk
dengan pekerjaannya sehingga anak merasa kurang mendapatkan perhatian,
juga kurang adanya komunikasi antara anggota keluarga satu dengan
keluarga lainnya, sehingga keadaan tersebut membuat keluarga menjadi
tidak hangat.
b. Penyebab Broken Home
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya pertikaian dalam
keluarga yang berakhir dengan perceraian. Faktor-faktor ini antara lain:
persoaalan ekonomi, perbedaan usia yang besar, keinginan memperoleh
anak putra (putri) dan persoalan prinsip hidup yang berbeda. Faktor lainnya
merupakan berupa perbedaan penkanan dan cara mendidik anak, juga
dukungan sosial dari pihak luar, tetangga, sanak saudara, sahabat, dan
situasi masyarakat yang keruh dan meruntuhkan kehidupan rumah tangga
(Dagun, 2013: 114). Adapun faktor-faktor yang menyebabkan broken home
adalah:
1) Terjadinya Perceraian
Faktor yang menjadi penyebab perceraian adalah pertama adanya
disorientasi tujuan suami istri dalam membangun mahligai rumah tangga;
dan faktor kedewasaan yang mencakup intelektualitas, emosionalitas,
kedua, kemampuan mengelola dan mengatasi berbagai masalah keluarga:
ketiga, pengaruh perubahan dan norma yang berkembang di masyarakat.
32
2) Ketidakdewasaan Sikap Orang Tua
Ketidakdewasaan sikap orang tua salah satunya dilihat dari sikap
egoisme dan egosentrisme. Egoisme adalah suatu sifat buruk manusia
yang mementingkan dirinya sendiri. Sedangkan egosentrisme adalah
sikap yang menjadikan dirinya pusat perhatian yang diusahakan oleh
seseorang dengan segala cara. Egoisme orang tua akan berdampak
kepada anaknya, yaitu timbul sifat membandel, sulit di suruh dan suka
bertengkar dengan saudaranya. Adapun sikap membandel adalah aplikasi
dari rasa marah terhadap orang tua yang egosentrisme. Seharusnya orang
tua memberi contoh yang baik seperti suka bekerjasama, saling
membantu, bersahabat dan ramah. Sifat-sifat ini adalah lawan dari
egoisme dan egosentrisme.
3) Orang Tua yang Kurang Memiliki Rasa Tanggungjawab
Tidak bertanggungjawabnya ornag tua salah satunya masalah
kesibukan. Kesibukan adalah satu kata yang telah melekat pada
masyarakat modern di kota-kota. Kesibukannya terfokus pada pencarian
materi yaitu harta dan uang. Mengapa demikian? Karena filsafat hidup
mereka mengatakan uang adalah harga diri, dan waktu adalah uang. Jika
telah kaya berarti suatu keberhasilan, suatu kesuksesan. Di samping itu
kesuksesan lain adalah jabatan tinggi.
4) Jauh dari Tuhan
Segala sesuatu perilaku manusia disebabkan karena dia jauh dari
Tuhan. Sebab, Tuhan mengajarkan agar manusia berbuat baik. Jika
33
keluarga jauh dari Tuhan dan mengutamakan materi dunia semata maka
kehancuran dalam keluarga itu akan terjadi. Karena dari keluarga
tersebut akan lahir anak-anak yang tidak taat kepada Tuhan dan kedua
orang tuanya
5) Adanya Masalah Ekonomi
Dalam suatu keluarga mengalami kesulitan dalam memenuhi
kebutuhan rumah tangga. Istri banyak menuntut hal-hal diluar makan dan
minum. Padahal dengan penghasilan suami sebagai buruh lepas, hanya
dapat memberikan makan dan rumah petak tempat berlindung yang
sewanya terjangkau. Karena suami tidak sanggup memenuhi tuntutan
istri dan anak-anaknya akan kebutuhan-kebutuhan yang disebutkan tadi,
maka timbulah pertengkaran suami-istri yang sering menjurus ke arah
perceraian.
6) Kehilangan Kehangatan
Di dalam Keluarga Antara orang tua dan anak kurang atau putus
komunikasi diantara anggota keluarga menyebabkan hilangnya
kehangatan di dalam keluarga antara orang tua dan anak. Faktor
kesibukan biasanya sering dianggap penyebab utama dari kurangnya
komunikasi. Dimana ayah dan ibu bekerja dari pagi hingga sore hari,
mereka tidak punya waktu untuk makan siang bersama, shalat berjamaah
di rumah dimana ayah menjadi imam, sedang anggota yang lain menjadi
jamaah. Dan anak-anak akan mengungkapkan pengalaman perasaan dan
pemikiran-pemikiran tentang kebaikan keluarga termasuk kritik terhadap
34
orang tua mereka. Sering terjadi adalah kedua orang tua pulang hampir
malam karena jalanan macet, badan capek, sampai di rumah mata
mengantuk dan tertidur. Tentu orang tidak mempunyai kesempatan untuk
berdiskusi dengan anak-anaknya.
7) Adanya Masalah Pendidikan
Masalah pendidikan sering menjadi penyebab terjadinya broken
home. Jika pendidikan agak lumayan pada suami istri maka wawasan
tentang kehidupan keluarga dapat dipahami oleh mereka. Sebaliknya
pada suami istri yang pendidikannya rendah sering tidak dapat
memahami lika-liku keluarga. Karena itu sering salah menyalahkan bila
terjadi persoalan di keluarga. Akibatnya selalu terjadi pertengkaran yang
mungkin akan menimbulkan perceraian. Jika pendidikan agama ada atau
lumayan mungkin sekali kelemahan dibanding pendidikan akan di atasi.
Artinya suami istri akan dapat mengekang nafsu masingmasing sehingga
pertengkaran dapat dihindari.
Beberapa sebab timbulnya kondisi keluarga yang broken home
menurut Tumiyem, Daharnis, & Alizamar (2015) yaitu: (1) perceraian yang
memisahkan antara seorang istri dan seorang suami, (2) perselingkuhan,
baik istrinya yang melakukan atau suaminya, (3) maternal deprivation, ini
bisa terjadi misalnya, kedua orangtua bekerja dan pulang pada sore hari
dalam keadaan lelah; mereka tidak sempat bercanda dengan anak-anak
mereka. Pendapat tersebut senada dengan Omoruyi (2014:11) yaitu
“Generally, the home has been identified as an overwhelming factor
35
affecting students’ performance academically. It would appear, then, that
broken homes may present a very serious danger to the emotional,
personality, and mental adjustment of the young adolescent. This impinges
on students’ academic achievement”. Tidak dapat dipungkiri bahwa
terjadinya keretakan di antara kedua orangtua, merupakan salah satu
masalah yang paling berat bagi anak, dan berdampak pada hampir semua
aspek kehidupannya. Salah satu dampak negatif dari perceraian orangtua
adalah kegagalan akademik yang dialami santri di sekolah. Berdasarkan
penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa keadaan keluarga broken
home memberikan pengaruh pada perolehan prestasi akademik anak di
sekolah. Prestasi akademik yang diperoleh santri yang berasal dari keluarga
broken home, pada umumnya rendah. Namun, peneliti menemukan
beberapa santri yang berasal dari keluarga broken home memiliki prestasi
akademik yang tinggi.
Keretakan dalam keluarga (broken home) dapat terjadi karena
berbagai hal. Menurut Willis (2011: 14-17) ada tujuh faktor penyebab
keluarga broken home, yaitu:
1) Kurang atau putus komunikasi diantara anggota keluarga.
2) Sikap egosentrisme masing-masing anggota keluarga.
3) Permasalahan ekonomi keluarga.
4) Masalah kesibukan orang tua.
5) Pendidikan orang tua yang rendah.
6) Perselingkuhan
7) Jauh dari nilai-nilai Agama
Berdasarkan pemaparan mengenai broken home diatas dapat
disimpulkan bahwa broken home merupakan kondisi retaknya struktur
36
keluarga yang dicirikan dengan adanya ketidaksahan, pembatalan, kematian,
perpisahan, perceraian, salah satu atau kedua orang tua meninggalkan
rumah, keluarga selaput kosong, kegagalan peran penting yang tidak
diinginkan, hubungan orang tua dengan anak yang tidak baik, hubungan
kedua orang tua yang tidak baik, kesibukan orang tua sehingga jarang di
rumah, suasana rumah yang tegang dan tanpa kehangatan serta kelainan
kepribadian atau gangguan kejiwaan orang tua. Disamping itu, broken home
dapat pula terjadi karena kurang atau putus komunikasi diantara anggota
keluarga, ikap egosentrisme masing-masing anggota keluarga, permasalahan
ekonomi keluarga, masalah kesibukan orang tua, pendidikan orang tua yang
rendah, perselingkuhan atau jauh dari nilai-nilai agama.
Wiliam J. Goode (Munandar Soelaeman: 2006: 119-120)
mengemukakan bentuk atau kriteria dari keretakan dalam keluarga (broken
home) yaitu:
1) Ketidaksahan
Merupakan keluarga yang tidak lengkap karena ayah (suami) atau
ibu (istri) tidak ada dan kerenanya tidak menjalankan tugas atau
perannya seperti yang telah ditentukan oleh masyarakat.
2) Pembatalan, perpisahan, perceraian dan meninggalkan
Terputusnya keluarga disini disebabkan karena salah satu atau
kedua pasangan memutuskan untuk saling meninggalkan dan
berhenti melaksanakan kewajiban perannya.
3) Keluarga selaput kosong
Anggota-anggota keluarga tetap tinggal bersama namun tidak
saling berkomunikasi atau bekerjasama dan gagal memberikan
dukungan emosional satu sama lain.
4) Ketiadaan seseorang dari pasangan karena hal yang tidak
diinginkan.
Keluarga pecah karena suami atau istri meninggal, dipenjara, atau
terpisah dari keluarga karena peperangan, depresi, atau
malapetaka lain.
37
5) Kegagalan peran penting yang tidak diinginkan
Masalah ini dapat berupa penyakit mental, emosional atau
badaniah yang parah yang dapat menyebabkan kegagalan dalam
menjalankan peran utama.
Dadang Hawari (Syamsu Yusuf: 2006: 44) menjelakan bahwa
keluarga yang mengalami disfungsi (broken home) ditandai dengan ciriciri
sebagai berikut:
1) Kematian salah satu atau kedua orang tua.
2) Kedua orang tua berpisah atau bercerai.
3) Hubungan kedua orang tua yang tidak baik
4) Hubungan orang tua dengan anak yang tidak baik.
5) Suasana rumah tangga yang tegang dan tanpa kehangatan.
6) Orang tua sibuk dan jarang berada di rumah
7) Salah satu atau kedua orang tua mempunyai kelainan kepribadian
atau gangguan kejiwaan.
Willis (2012: 105) menjelaskan bahwa tidak semua keluarga yang
tidak utuh karena hal-hal di atas dikatakan mengalami broken home. Ada
beberapa orang tua yang menjadi single parent namun bisa menciptakan
kehidupan keluarga yang harmonis meskipun struktur keluarganya tidak
utuh lagi.
Berdasarkan pemaparan dari beberapa tokoh diatas dapat
disimpulkan bahwa keluarga yang retak (broken home) ditandai dengan ciri-
ciri: ketidaksahan, pembatalan, kematian, perpisahan, perceraian, salah satu
atau kedua orang tua meninggalkan rumah, keluarga selaput kosong,
kegagalan peran penting yang tidak diinginkan, hubungan orang tua dengan
anak yang tidak baik, hubungan kedua orang tua yang tidak baik, kesibukan
orang tua sehingga jarang di rumah, suasana rumah yang tegang dan tanpa
kehangatan serta kelainan kepribadian atau gangguan kejiwaan orang tua.
38
c. Dampak Broken Home terhadap Anak
Kasus broken home sering dianggap suatu peristiwa tersendiri dan
menegangkan dalam kehidupan keluarga. Tetapi, peristiwa ini sudah
menjadi bagian kehidupan dalam masyarakat. Kita boleh mengatakan bahwa
kasus itu bagian dari kehidupan masyarakat tetapi yang menjadi pokok
masalah yang perlu di renungkan, bagaimana akibat dan pengaruhnya
terhadap diri anak? Peristiwa broken home dalam keluarga senantiasa
membawa dampak yang mendalam. Kasus ini menimbulkan stres, tekanan,
dan menimbulkan perubuhan fisik, dan [Link] ini dialami oleh
semua anggota keluarga, ayah, ibu dan anak (Dagun, 2013: 113).
Broken home dalam keluarga itu biasanya berawal dari suatu konflik
antara anggota keluarga. Bila konflik ini sampai ketitik krisis maka
peristiwa broken home berada di ambang pintu. Peristiwa ini selalu
mendatangkan ketidak tenangan berpikir dan ketegangan itu memakan
banyak waktu lama. Pada saat kemlut ini biasanya masing-masing pihak
menerima kenyataan baru seperti pindah rumah, tetangga baru, anggaran
rumah baru. Acara kunjunganpun berubah. Seituasi rumah menjadi lain
karena diatur oleh satu orang tua saja. Beberapa diantara anak usia remaja
dalam menghadapi situasi broken home memahami sekali akibat yang bakal
terjadi. Hetherington mengungkapkan, “jika perceraian dalam keluarga itu
terjadi saat anak menginjak usia remaja, mereka mencari ketenangan, entah
di tetangga, sahabat, atau teman sekolah” (Dagun, 2013: 116). Di antara
dampak negatif broken home terhadap perkembangan anak adalah:
39
1) Perkembangan Emosi
Emosi merupakan situasi psikologi yang merupakan pengalaman
subjektif yang dapat dilihat dari reaksi wajah dan tubuh. Perceraian
adalah suatu hal yang harus dihindari, agar emosi anak tidak menjadi
terganggu. Perceraian adalah suatu penderitaan atau pengalaman tramatis
bagi anak.
2) Perkembangan Sosial Remaja
Tingkah laku sosial kelompok yang memungkinkan seseorang
berpartisipasi secara efektif dalam kelompok atau masyarakat. Dampak
keluarga Broken Home terhadap perkembangan sosial remaja adalah:
ketegangan orang tua menyebabkan ketidakpercayaan diri terhadap
kemampuan dan kedudukannya, dia merasa rendah diri menjadi takut
untuk keluar dan bergaul dengan teman-teman. Anak sulit menyesuaikan
diri dengan lingkungan. Anak yang dibesarkan dikeluarga pincang,
cenderung sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan, kesulitan itu
datang secara alamiah dari diri anak tersebut. Dampak bagi remaja putri
yang tidak mempunyai ayah berperilaku dengan salah satu cara yang
ekstrim terhadap laki-laki, mereka sangat menarik diri pasif dan minder
kemungkinan yang kedua terlalu aktif, agresif dan genit.
3) Perkembangan Kepribadian
Perceraian ternyata memberikan dampak kurang baik terhadap
perkembangan kepribadian remaja. Remaja yang orang tuannya bercerai
cenderung menunjukkan ciri-ciri: Berperilaku nakal, Mengalami depresi,
40
Melakukan hubungan seksual secara aktif, Kecenderungan pada obat-
obat terlarang, Keadaan keluarga yang tidak harmonis, tidak stabil atau
berantakan (broken home) merupakan faktor penentu bagi perkembangan
kepribadian remaja yang tidak sehat.
4. Kedisiplinan
a. Pengertian Disiplin
Disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui
proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan,
kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan ketertiban. Disiplin dalam proses
pendidikan sangat diperlukan karena bukan hanya untuk menjaga kondisi
suasana belajar dan mengajar berjalan dengan lancar, tetapi juga untuk
menciptakan pribadi yang kuat bagi setiap peserta didik. Tu’u (2004: 30)
menyatakan bahwa pengertian disiplin dalam beberapa istilah, yaitu:
istilah disiplin berasal dari bahasa Latin “diciplina” yang menunjuk
kepada kegiatan belajar dan mengajar. Istilah dalam bahasa inggris
“diciple” yaitu mengikuti orang lain utnuk belajar di bawah pengawas
dan seorang pemimpin. Tu’u juga (2004: 30-31) menjelaskan pengertian
disiplin dalam istilah bahasa Inggris lainnya, yaitu disiplin yang berarti
tertib, taat atau mengendalikan tingkah laku, penguasaan diri, kendali diri
latihan membentuk, meluruskan atau menyempurnakan sesuatu sebagai
kemampuan mental atau karakter moral. Atau disiplin dapat diartikan
juga kumpulan atau sistem peraturan-peraturan yang berlaku di suatu
lingkungan tertentu.
41
Tu’u (2004: 32) menyatakan disiplin sebagai upaya
mengendalikan diri dan sikap mental individu atau masyarakat dalam
mengembangkan kepatuhan dan ketaatan terhadap peraturan dan tata
tertib berdasarkan dorongan dan kesadaran yang muncul dari dalam
hatinya. Kata disiplin berarti ketaatan, metode pengajaran mata pelajaran
dan perlakuan bagi seorang murid atau pelajar. Dalam bahasa Indonesia
istilah disiplin sering terkait dengan istilah tata tertib dan ketertiban.
Istilah ketertiban mempunyai arti kepatuhan seseorang dalam mengikuti
peraturan atau tata tertib yang berlaku karena didorong atau disebabkan
oleh sesuatu yang datang dari luar dirinya.
Pada dasarnya peserta didik harus mengendalikan diri untuk tidak
melanggar peraturan yang telah ditetapkan di sekolah. Menurut Rusyan
(2009: 73) “Disiplin merupakan ketaatan atau kepatuhan yaitu ketaatan
seseorang terhadap tata tertib atau kaidah-kaidah hidup lainnya”. Seorang
peserta didik memiliki kewajiban mematuhi peraturan yang diterapkan
disekolah. Apabila sedang mengikuti pelajaran, peserta didik juga harus
mengikuti peraturan yang direpkan oleh guru yang mengampu mata
pelajaran tersebut. Menurut Prijodarminto (1994) dalam Tu’u (2004: 31)
disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan berbentuk melalui proses
dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan,
kepatuhan, kesetiaan, keteraturan, dan keterikatan.
Hurlock (2008: 82) menyatakan bahwa, konsep dari “disiplin”
adalah sama dengan “hukuman”. Konsep dari disiplin tersebut,
42
digunakan apabila peserta didik melanggar peraturan dan perintah yang
diberikan orang tua, guru atau orang dewasa yang berwenang mengatur
kehidupan bermasyarakat dan tempat peserta didik tersebut tinggal.
Sehingga hukuman diberikan apabila peserta didik tidak disiplin atas
peraturan ataupun perintah dari orang lain. Sedangkan Suharsimi dalam
Rachman (1997: 167) menjelaskan bahwa kata disiplin berasal dari
bahasa latin “disclipina” yang merupakan belajar dan mengajar. Kata ini
berasosiasi sangat dekat dengan istilah “disciple”, berarti mengikuti
orang yang belajar di bawah pengawasan seseorang pimpinan. Disiplin
mempunyai dua istilah yaitu disiplin dan ketertiban. Istilah yang pertama
kali terbentuk adalah pengertian ketertiban, kemudian barulah terbentuk
pengertian disiplin. Ketertiban menunjukan pada keputusan seseorang
dalam mengikuti peraturan atau tata tertib karena mendapat suatu
dorongan yang datang dari luar. Disiplin menunjukan pada kepatuhan
seseorang dalam mengikuti peraturan atau tata tertib karena didasari oleh
kesadaran yang ada sesuai dengan kata hatinya. Maka kedua istilah
tersebut mempunyai pengertian yang sama walaupun didasarkan pada
dorongan luar maupun dorongan dari dalam diri individu. Racman (1997:
168) menjelaskan bahwa disiplin merupakan sesuatu yang berkenaan
dengan pengendalian diri seseorang terhadap aturan. Disiplin merupakan
sikap mental yang dimiliki individu.
Sarumpaet (dalam Nursetya & Kriswanto, 2014) menjelaskan
bahwa disiplin ialah suatu aturan dan tata tertib yang digunakan dalam
43
menjalankan sebuah sekolah atau rumah tangga. Setiap sekolah dan
rumah tangga harus mempunyai disiplin. Rumah tangga dan sekolah
tanpa disiplin akan mengalami kesukaran. Menurut Hurlock (dalam
Nursetya & Kriswanto, 2014) menyebutkan bahwa disiplin dibagi
menjadi tiga, yaitu (1) disiplin otoriter, yaitu disiplin dengan peraturan
yang keras dan memaksa; (2) disiplin permisif, yaitu isiplin yang tidak
membimbing peserta didik ke pola perilaku yang disetujui masyarakat;
(3) disiplin demokratis, yaitu disiplin yang menggunakan penjelasan,
diskusi dan penalaran untuk membantu anak mengerti mengapa perilaku
tertentu diharapkan.
Disiplin pada hakikatnya adalah sikap mental dari individu
maupun masyarakat yang mencerminkan rasa ketaatan dan kepatuhan
yang didukung oleh kesadaran dalam menjalankan tugas dan kewajiban
untuk mencapai tujuan tertentu. Berangkat dari beberapa pendapat di
atas, maka peneliti menyimpulkan bahwa disiplin adalah suatu kondisi
yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang
menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan
ketertiban dalam perilaku sehari-hari serta membentuk mental, akhlak,
watak, dan budi pekerti yang dimiliki oleh setiap individu oleh pendidik
untuk menghindari terjadinya pelanggaran-pelanggaran negatif di
lingkungan masyarakat. Maka tidak akan ada lagi pelanggaran negatif
yang dilakukan peserta didik di Indonesia. Penerapan dan penanaman
sikap disiplin seharusnya dilakukan sejak dini, yang mempunyai tujuan
44
agar peserta didik terbiasa dengan sikap dan tingkah laku disiplin.
Pembiasaan sikap disiplin di sekolah menghasilkan sesuatu yang positif
bagi kehidupan peserta didik di masa yang akan datang. Oleh karena itu,
sikap dan perilaku peserta didik saat ini dan selanjutnya sangat
berpengaruh pada kehidupan sehari-hari dan masa depan mereka. Sebab
semua peserta didik merupakan suatu generasi penerus bangsa yang akan
meneruskan pemerintahan dan pendidikan yang akan datang.
b. Fungsi Disiplin
Fungsi disiplin sangat penting untuk ditanamkan pada peserta
didik, sehingga peserta didik menjadi sadar bahwa dengan disiplin akan
tercapai hasil belajar yang optimal. Bagley mengidentifikasikan sejumlah
fungsi kedisiplinan yaitu: pertama kedisiplinan sebagai penciptaan dan
pelestarian keadaan yang penting terhadap kemajuan kerja yang berada di
sekolah. Kini pandangan kedisiplinan ini, dideskripsikan sebagai sebuah
“rasionale managerial” yaitu sesuatu kedisiplinan yang memandang
sebagai kumpulan teknik dan strategi yang diterapkan oleh guru untuk
memberikan ketertiban dalam kelas. Ketertiban ini perlu sehingga
lingkungan belajar memaksimalkan pembelajaran pelajaran sekolah.
Fungsi kedua dari kedisiplinan adalah persiapan santri terhadap
keikutsertaan aktif dalam lingkungan orang dewasa yang terorganisasi,
dimana kebebasan diseimbangkan dengan tanggungjawab yang
berhubungan dengannya. Hal ini dideskripsikan sebagai sebuah fungsi
pendidikan, dimana kedisiplinan dirasakan sebagai sebuah pengalaman
45
santri tentang hak pribadi, terutama bagi pribadi yang sedang dalam
konflik. Oleh karena itu, pandangan pendidikan terhadap kedisiplinan
adalah memberi pengalaman pendidikan yang berharga secara potensial.
Fungsi disiplin menurut Tu’u (2004: 38-44) sebagai berikut:
1) Menata kehidupan bersama
Manusia merupakan makhluk sosial. Manusia tidak akan bisa
hidup tanpa bantuan orang lain. Dalam kehidupan bermasyarakat
sering terjadi pertikaian antara sesama orang yang disebabkan karena
benturan kepentingan, karena manusia selain sebagai makhluk sosial
ia juga sebagai makhluk individu yang tidak lepas dari sifat egonya,
sehingga kadangkadang di masyarakat terjadi benturan antara
kepentingan pribadi dengan kepentingan bersama. Di sinilah
pentingnya disiplin untuk mengaur tata kehidupan manusia dalam
kelompok tertentu atau dalam masyarakat. Sehingga kehidupan
bermasyarakat akan tenteram dan teratur.
2) Membangun kepribadian
Kepribadian adalah keseluruhan sifat, tingkah laku yang khas
yang dimiliki oleh seseorang. Antara orang yang satu dengan orang
yang lain mempunyai kepribadian yang berbeda. Lingkungan yang
berdisiplin baik sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang.
Apalagi seorang peserta didik yang sedang tumbuh kepribadiannya,
tentu lingkungan sekolah yang tertib, teratur, tenang, dan tentram
sangat berperan dalam membangun kepribadian yang baik.
46
3) Melatih kepribadian yang baik
Kepribadian yang baik selain perlu dibangun sejak dini, juga
perlu dilatih karena kepribadian yang baik tidak muncul dengan
sendirinya. Kepribadian yang baik perlu dilatih dan dibiasakan, sikap
perilaku dan pola kehidupan dan disiplin tidak terbentuk dalam waktu
yang singkat, namun melalui suatu proses yang membutuhkan waktu
lama.
4) Pemaksaan
Disiplin akan tercipta dengan kesadaran seseorang untuk
mematuhi semua ketentuan, peraturan, dan noma yang berlaku dalam
menjalankan tugas dan tanggung jawab. Disiplin dengan motif
kesadaran diri lebih baik dan kuat. Dangan melakukan kepatuhan dan
ketaatan atas kesadaran diri bermanfaat bagi kebaikan dan kemajuan
diri. Sebaliknya disiplin dapat pula terjadi karena adanya pemaksaan
dan tekanan dari luar. Misalnya, ketika seorang peserta didik yang
kurang disiplin masuk ke satu sekolah yang berdisiplin baik, maka ia
terpaksa harus menaati dan mematuhi tata tertib yang ada di sekolah
tersebut.
5) Hukuman
Dalam suatu sekolah tentunya ada aturan atau tata tertib. Tata
tertib ini berisi hal-hal yang positif dan harus dilakukan oleh peserta
didik. Sisi lainnya berisi sanksi atau hukuman bagi yang melanggar
tata tertib tersebut. Hukuman berperan sangat penting karena dapat
47
memberi motivasi dan kekuatan bagi peserta didik untuk mematuhi
tata tertib dan peraturan-peraturan yang ada, karena tanpa adanya
hukuman sangat diragukan peserta didik akan mematuhi paraturan
yang sudah ditentukan.
6) Menciptakan lingkungan yang kondusif
Disiplin di sekolah berfungsi mendukung terlaksananya proses
kegiatan pendidikan berjalan lancar. Hal itu dicapai dengan
merancang peraturan sekolah, yakni peraturan bagi guru-guru dan
bagi para peserta didik, serta peraturan lain yang dianggap perlu.
Kemudian diimplementasikan secara konsisten dan konsekuen,
dengan demikian diharapkan sekolah akan menjadi lingkungan
pendidikan yang aman, tenang, tentram, dan teratur.
Berdasarkan pemaparan di atas, penulis menyimpulkan bahwa
fungsi disiplin mempunyai manfaat yaitu mengajarkan kepada anak
bahwa setiap perilaku selalu diikuti oleh hukuman atau pujian. Selain itu
disiplin memberi manfaat untuk mengembangkan pengendalian diri
peserta didik berdasarkan hati nurani. Sedangkan fungsi disiplin yang
tidak bermanfaat adalah cara untuk menakut-nakuti peserta didik setiap
melakukan tindakan dan sebagai pelampiasan seseorang dalam
mendisiplinkan orang lain. Jadi, fungsi disiplin adalah mengajarkan
kepada anak bahwa setiap peraturan selalu disertai oleh hukuman atau
pujian. Penanaman disiplin anak memberi pengajaran untuk mengontrol
sikap dan berperilakunya sehari-hari. Oleh karena itu, dalam penelitian
48
ini disiplin diharapkan dapat menciptakan peserta didik yang bermoral,
berkarakter, disiplin, dan patuh terhadap peraturan atau tata tertib di
sekolah maupun di luar sekolah untuk dapat menciptakan generasi
penerus bangsa Indonesia.
c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi dan Membentuk Disiplin
Perilaku disiplin tidak akan tumbuh dengan sendirinya, melainkan
perlu kesadaran diri, latihan, kebiasaan, dan juga adanya hukuman. Bagi
peserta didik disiplin belajar juga tidak akan tercipta apabila peserta didik
tidak mempunyai kesadaran diri. Peserta didik akan disiplin dalam
belajar apabila peserta didik sadar akan pentingnya belajar dalam
kehidupannya. Penanaman disiplin perlu dimulai sedini mungkin mulai
dari dalam lingkungan keluarga. Mulai dari kebiasaan bangun pagi,
makan, tidur, dan mandi harus dilakukan secara tepat waktu sehingga
anak akan terbiasa melakukan kegiatan itu secara kontinyu.
Beberapa faktor yang mempengaruhi kedisiplinan tersebut, antara
lain yaitu: (1) anak itu sendiri, (2) sikap pendidik, (3) ligkungan, dan (4)
tujuan. Faktor anak itu sendiri mempengaruhi kedisiplinan anak yang
bersangkutan. Oleh karena itu, dalam menanamkan kedisiplinan faktor
anak harus diperhatikan, mengingat anak memiliki potensi dan
kepribadian yang berbeda antara yang satu dan yang lain. Pemahaman
terhadap individu anak secara cermat dan tepat akan berpengaruh
terhadap keberhasilan penanaman kedisiplinan (Haditono, dalam Atifah,
2006: 22).
49
Disiplin juga dapat berarti tata tertib, ketaatan, atau kepatuhan
kepada peraturan tata tertib. Dalam bahasa Indonesia istilah disiplin
kerap kali terkait dan menyatu dengan istilah tata tertib dan ketertiban.
Dengan demikian, kedisiplinan hal-hal yang berkaitan dengan ketaatan
atau kepatuhan seseorang terhadap peraturan atau tata tertib yang
berlaku. Kedisiplinan adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk
melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai
ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban
(Prijodarminto 1994: 23).
Ada dua faktor penyebab timbul suatu tingkah laku disiplin yaitu
kebijaksanaan aturan itu sendiri dan pandangan seseorang terhadap nilai
itu sendiri. Sikap disiplin atau kedisiplinan seseorang, terutama santri
berbeda-beda. Ada santri yang mempunyai kedisiplinan tinggi,
sebaliknya ada santri yang mempunyai kedisiplian rendah. Tinggi
rendahnya kedisiplinan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik
yang berasal dalam diri maupun yang berasal dari luar (Subari, 1991:
166).
Menurut Tu’u (2004: 48-49) ada empat faktor dominan yang
mempengaruhi dan membentuk disiplin yaitu:
1) Kesadaran diri
Sebagai pemahaman diri bahwa disiplin penting bagi kebaikan
dan keberhasilan dirinya. Selain itu kesadaran diri menjadi motif
sangat kuat bagi terwujudnya disiplin. Disiplin yang terbentuk atas
50
kesadarn diri akan kuat pengaruhnya dan akan lebih tahan lama
dibandingkan dengan disiplin yang terbentuk karena unsur paksaan
atau hukuman.
2) Pengikutan dan ketaatan
Sebagai langkah penerapan dan praktik atas peraturan-
peraturan yang mengatur perilaku individunya. Hal ini sebagai
kelanjutan dari adanya kesadaran diri yang dihasilkan oleh
kemampuan dan kemauan diri yang kuat.
3) Alat pendidikan
Untuk mempengaruhi, mengubah, membina, dan membentuk
perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang ditentukan atau diajarkan.
4) Hukuman
Seseorang yang taat pada aturan cenderung disebabkan karena
dua hal, yang pertama karena adanya kesadaran diri, kemudian yang
kedua karena adanya hukuman. Hukuman akan menyadarkan,
mengoreksi, dan meluruskan yang salah, sehingga orang kembali pada
perilaku yang sesuai dengan harapan.
d. Cara Menanamkan Disiplin
Terbentuknya disiplin peserta didik dapat dilakukan dengan cara
menanamkan kedisiplinan kepadanya. Hurlock (2008: 93-94)
mengemukakan ada tiga cara menanamkan disiplin, yakni:
51
1) Cara mendisiplinkan otoriter
Peraturan yang keras memaksa untuk berperilaku sesuai yang
diinginkan, hal tersebut menunjukkan bahwa semua jenis disiplin itu
bersifat otoriter. Disiplin otoriter berkisar antara pengendalian
perilaku yang wajar hingga kaku tanpa memberikan kebebasan
bertindak, kecuali bila sesuai dengan standar yang direncanakan.
Disiplin otoriter berarti mengendalikan sesuatu dengan kekuatan
eksternal dalam bentuk hukuman terutama hukuman badan.
2) Cara mendisiplinkan permisif
Disiplin permisif adalah sedikit disiplin atau tidak berdisiplin.
Terlihat bahwa orang tua dan guru menganggap bahwa kebebasan
(permissiveness) sama dengan laissezfaire yang membiarkan peserta
didik meraba-raba dalam situasi sulit untuk dihadapi sendiri tanpa
adanya bimbingan atau pengendalian dari orang lain.
3) Cara mendisiplinkan demokratis
Metode ini menggunakan penjelasan, diskusi, dan penalaran
untuk membantu peserta didik mengerti mengapa perilaku tersebut
diharapkan. Maka metode ini lebih menekankan pada aspek edukatif
dari disiplin dibandingkan aspek hukumannya. Oleh karena itu,
disiplin demokratis ini menggunakan penghargaan dan hukuman,
tetapi penekanannya lebih besar pada penghargaan saja.
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa
terbentuknya disiplin dilakukan dengan cara menanamkan disiplin
52
kepada peserta didik. Pertama, disiplin otoriter, disiplin permisif, dan
disiplin demokratis. Ketiga cara tersebut mempunyai tujuan masing-
masing dalam memberikan pembelajaran dan pendidikan disiplin peserta
didik. Disiplin otoriter ini dengan cara memberi perilaku wajar hingga
kaku. Disiplin permisif yaitu memberikan kebebasan untuk mengatasi
masalah yang dihadapi. Sedangkan disiplin demokratis lebih
menekankan pada penghargaan. Ketiga cara tersebut merupakan cara
bagi pendidik untuk diterapkan dalam proses belajar mengajar di dalam
maupun di luar kelas selama berada di lingkungan sekolah. Tujuannya
memberikan pengajaran dan pendidikan peserta didik agar dapat bersikap
dan berperilaku disiplin, maka mereka wajib mengikuti peraturan atau
tata tertib yang ada di sekolah. Sekolah mempunyai kewajiban
menerapkan atau menanamkan disiplin di sekolah atas dasar empat unsur
disiplin yaitu peraturan, hukuman, penghargaan, dan konsistensi dengan
cara otoriter, permisif, dan demokratis. Maka penerapan kedisiplinan
sekolah akan berjalan dan peserta didik terbiasa bersikap disiplin
sekaligus dapat mebedakan mana tindakan baik dan buruk yang harus
dilakukan.
e. Indikator Tingkat Kedisiplinan
Indikator dalam kedisiplinan disekolah menurut Rusyan (2009:
76-77) mengemukakan bahwa agar dapat melaksanakan disiplin dalam
proses pembelajaran, maka perlu ada suatu ketetapan yang telah
53
disepakati, yaitu tata tertib dan peraturan sekolah. Adapun ciri-ciri
disiplin belajar tersebut antara lain:
1) Patuh terhadap aturan sekolah atau lembaga pendidikan,
sehingga proses pembelajaran lancar.
2) Mengidahkan petunjuk-petunjuk yang berlaku di sekolah atau
suatu lembaga pendidikan tertentu.
3) Tidak acuh terhadap peraturan yang berlaku, baik guru
maupun peserta didik.
4) Tidak suka berbohong.
5) Tingkah laku yang menyenangkan.
6) Rajin dalam belajar.
7) Tidak bermalas-malasan dalam mengerjakan tugas
8) Tidak mengandalkan oranglain bekerja demi kepentingan diri
sendiri, sebab akan menemui kesulitan dalam pelaksanaan
pembelajaran.
9) Tepat waktu dalam melaksanakan proses pembelajaran atau
konsekuen terhadap jadwal pembelajaran yang telah
ditetapkan.
10) Tidak sering meninggalkan pelajaran pada saat belajar.
11) Tidak sekalikali mengabaikan tugas yang diberikan guru.
12) Taat terhadap aturan-aturan yang berlaku, meliputi sebagai
berikut:
a) Menerima, menganalisis, dan mengkaji berbagai
pembaharuan pendidikan
b) Berusaha menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi
pembelajaran sekolah.
c) Tidak membuat keributan di dalam kelas.
d) Mengerjakan tugas sesuai dengan waktu yang telah
ditetapkan.
Tu’u (2004: 91) dalam penelitian mengenai disiplin sekolah
mengemukakan bahwa indikator yang menunjukan pergeseran/perubahan
hasil belajar peserta didik sebagai kontribusi mengikuti dan menaati
peraturan sekolah adalah meliputi: dapat mengatur waktu belajar di
rumah, rajin dan teratur belajar, perhatian yang baik saat belajar di kelas,
dan ketertiban diri saat belajar di kelas. Sedangkan menurut Syafrudin
dalam jurnal Edukasi (2005: 80) membagi indikator disiplin belajar
54
menjadi empat macam, yaitu: 1) ketaatan terhadap waktu belajar, 2)
ketaatan terhadap tugas-tugas pelajaran, 3) ketaatan terhadap penggunaan
fasilitas belajar, dan 4) ketaatan menggunakan waktu datang dan pulang.
Berdasarkan uraian di atas, maka dalam penelitian ini penulis
membagi indikator disiplin belajar menjadi 3 macam, yaitu:
a) Ketaatan: didefinisikan sebagai kesediaan berprilaku sesuai dengan
aturan tertulis sekolah.
a) Menjalankan aturan sesuai kemampuan
b) Pengetahuan peserta didik dalam pentingnya arti disiplin
c) Perilaku peserta didik yang menunjukkan tindakan disiplin pada
waktu proses belajar
b) Kesetiaan: didefinisikan sebagai keterikatan atau konsistensi peserta
didik terhadap peraturan tata tertib dan dilakukan dengan senang hati.
a) Menunjukkan adanya keseimbangan antara tindakan yang
dilaksanakan dengan ucapan.
b) Menunjukkan sikap berani menanggung semua resiko atau
konsekuensi dari apa yang telah dilakukan.
c) Mengetahui kewajiban dan menmpatkan diri di sekolah sebagai
peserta didik
c) Ketertiban: didefinisikan sebagai kecenderungan perilaku tertib
peserta didik.
a) Mengetahui batasan-batasan sikap jika berada di sekolah
b) Menghargai peraturan yang dibuat sekolah
55
c) Menjaga lingkungan sekolah agar senantiasa indah, aman, dan
nyaman
Diharapkan peserta didik dapat mematuhi dan mentaati tata tertib
dalam pembelajaran maupun di lingkungan sekolah sehingga dapat
ditegakkan disiplin yang tinggi. Apabila ketertiban tidak dijalankan
semsetinya, maka ketidaktertiban akan terjadi dan berakibat
terganggunya kegiatan pembelajaran di sekolah.
5. Kerangka Berpikir
Broken home (pecah) dapat juga diartikan dengan kondisi keluarga
yang tidak harmonis dan tidak berjalan layaknya keluarga yang rukun,
damai dan sejahtera karena sering terjadi keributan serta perselisihan yang
menyebabkan pertengkaran dan berakhir pada perceraian. Kondisi ini
menimbulkan dampak yang sangat besar terutama bagi anak-anak. Bisa saja
anak jadi murung, sedih yang berkepanjangan dan malu.
Selain itu, anak juga kehilangan pegangan serta panutan dalam masa
transisi menuju kedewasaan. Karena orang tua merupakan contoh role
model, panutan dan teladan bagi perkembangan anak-anaknya di masa
remaja, terutama pada perkembangan psikis dan emosi, anak-anak perlu
pengarahan, kontrol, serta perhatian yang cukup dari orang tua.
Disiplin merupakan keadaan yang menyebabkan atau memberikan
dorongan kepada peserta didik untuk berbuat dan melakukan segala
kegiatan sesuai dengan norma-norma atau aturan-aturan yang telah
ditetapkan. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya sukses. Semua
56
tidak terlepas dari peran orang tua di dalam mendidik anak tersebut,
keluarga yang harmonis juga dapat menciptakan seorang anak yang
berwibawa dan memiliki keteguhan hati serta kedisiplinan diri, berbeda
dengan anak yang dengan latar belakang broken home atau keluarga yang
tidak harmonis, anak dalam keluarga ini akan cenderung bertingkah
memberontak dan sangat sulit diatur (indisipliner) ini dikarenakan
kurangnya perhatian dari orang tuanya, begitu pula dengan aktivitasnya di
sekolah. Anak dengan kasus broken home akan cenderung mencari
perhatian dengan melakukan hal-hal yang negatif seperti membuat keributan
di sekolah. Anak yang seperti ini tidak fokus pada pelajarannya dan tidak
memiliki motivasi belajar yang baik.