Tinjauan Pelabuhan dan Bongkar Muat
Tinjauan Pelabuhan dan Bongkar Muat
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
3. Pelabuhan Pengumpan
Adalah pelabuhan yang fungsi pokoknya melayani kegiatan angkutan laut
dalam negeri,alih muat angkutan laut dalam negeri dalam jumlah terbatas,
merupakan pengumpan bagi pelabuhan utama dan pelabuhan pengumpul,
dan sebagai tempat asal tujuan penumpang dan barang, serta angkutan
penyebrangan dengan jangkauan pelayanan dalam [Link] 1 (19).
KM. 33 Tahun 2001 tentang kegiatan bongkar muat adalah kegiatan
bongkar muat barang dari dan atau ke kapal meliputi kegiatan pembongkaran
barang dari palka kapal ke atas dermaga di sisi lambung kapal atau sebaliknya
(stevedoring), kegiatan pemindahan barang dari dermaga di sisi lambung kapal
atau sebaliknya lambung kapal ke gudang/lapangan penumpukan/sebaliknya
(cargodoring) dan kegiatan pengambilan barang dari gudang/lapangan di bawa ke
atas truck atau sebaliknya (receiving/delivery) .
Kegiatan bongkar muat sebagaimana dimaksud pada ayat (2),dilakukan
terbatas hanya untuk melayani kapal milik dan atau kapal sewa/charter yang
dioperasikan secara nyata, terhadap :
[Link] milik penumpang
b. barang curah cair yang di bongkar atau dimuat di lakukan melalui pipa
c. barang curah kering yang dibongkar atau dimuat melalui conveyor atau
sejenisnya.
d. barang yang diangkut melalui kapal RoRo.
Perusahaan Bongkar muat berdarkan KM. 21 Tahun 2007 adalah
perusahaan berbadan hukum Indonesia yang khusus didirikan untuk
menyelenggarakan dan mengusahakan kegiatan bongkar/muat barang dari dan ke
kapal.
Bongkar-Muat menurut PP. Nomor 20 Tahun 2010 didefinisikan sebagai:
“Suatu kegiatan jasa yang bergerak yang membongkar atau pun memuat benda
atau barang baik dari kapal atau ke kapal yang meliputi dari kegiatan stevedoring,
cargodoring dan receiving-delivery” di pelabuhan.
7
Maka yang sesuai dengan type pembongkaran di PT. Krakatau Bandar Samudera
adalah Stevedoring adalah jasa bongkar/muat dari/ke kapal, dari/ke dermaga,
tongkang,/truck ke dalam kapal Smpai tersusun dalam palka kapal dengan
menggunakan derek kapal atau derek darat.
2.1.2. Persiapan Kegiatan Pembongkaran Cooking Coal
Suatu bagian dari prosedur pembongkaran yang dilakukan setelah work
order di serahkan kepada PBM yang telah ditunjuk untuk melaksanakan kegiatan
pembongkaran dari atas kapal. Untuk menunjang kelancaran tersebut dan
melaksanakan dengan prosedur yaang telah di tentukan suatu perusahaan
pelayaran membuat perencanaan pelaksanaan pembongkaran sebagai berikut:
1. Metting intern
Adalah koordinasi yang dilakukan oleh perusahaan bongkar muat
dengan berbagai pihak yang bersangkutan dalam lingkup perusahaan antara
lain:
a. Kepala perusahaan bongkar muat
b. Stevedor
c. Foreman
d. Pemilik barang (consignee)
Meeting intern ini bertujuan agar dalam pelaksanaan pembongkaran barang
dapat berjalan dengan lancar,teratur,tidak mengecewakan. Dengan hasil yang
cepat dan teratur maka akan menunjukan kualitas dan kuantitas dari perusahaan
ini. Dalam meeting intern tersebut juga membuat surat pemberitahuan kerja
bongkar muat yang nantinya dokumen ini digunakan dalam kegiatan bongkar
muat.
2. Hal-hal yang akan dibahas dalam rapat tersebut adalah:
a. Rencana waktu kapal akan sandar (ship berthing)
b. Rencana tempat kapal sandar di pelabuhan
c. Lamanya waktu yang dibutuhkan dalam proses pembongkaran barang
d. Jumlah buruh dan alat mekanis yang dibutuhkan.
8
Untuk melakukan persiapan kegiatan bongkar muat barang setelah meeting intern
diperlukan alokasi dermaga sebuah kapal, ada 3 hal pokok yang mendasar :
1. Estimasi kedatangan kapal (ETA)
2. Ukuran dan dimensi kapal
3. Data terperinci dari muatan (Bongkar/muat) (Tim Penyusun Direktorat
Operasi Perum Pelabuhan II: 2007)
a. Estimasi kedatangan kapal (ETA).
Kegiatan Estimasi kedatangan kapal menyangkut dalam hal :
Menyangkut tentang perkiraan datangnya kapal di dermaga tempat tujuan
pembongkaran agar kapal dapat sandar di dermaga yang tepat,sesuai
dengan fasilitas bongkar/muat yang tersedia dan untuk menentukan posisi
sandar kapal (sandar kiri/kanan), tetapi melihat juga di jadwal yang sesuai
apakah dermaga tersebut kosong pada saat ETA kapal dan dapat di
gunakan selama kapal sandar.
b. Ukuran dan dimensi kapal
Penting adanya informasi tentang ukuran kapal dimensi karena untuk
menentukan lokasi kapal tersebut untuk sandar ke lokasi dermaga yang
sesuai dengan ukuran dan dimensi kapal tersebut,agar tidak terjadi kandas,
dan dapat mempersiapkan alat bongkar
c. Data terperinci dari muatan (Bongkar/muat),setiap perusahaan bongkar
muat harus mengetahui tentang muatan tersebut karena agar tahu tentang
jenis muatan yang ditangani dan jumlah total muatan tersebut agar tidak
terjadi salah paham antara crew kapal dan owner cargo tersebut, dan
mempersiapakan tenaga bongkar dan jumlah alat, jenis yang di perlukan
selama pembongkaran.
Adapun kegiatan pokok yang harus dilakukan oleh perusahan bongkar
muat agar pelaksanaan berjalan dengan rencana kerja (Operation Planing) dan
dapat tercapainya produktivitas yang tinggi,perusahaan bongkar muat harus juga
memperhatikan persiapan-persiapan bongkar muat sesuai dengan prosedur yang
ditentukan oleh perusahaan bongkar muat tersebut. Adapun persiapan-persiapan
tersebut yaitu:
9
3. Mempersiapkan Muatan
Sebelum melakukan kegiatan bongkar muat,hal yang harus dipelajari adalah
rencana pembongkaran (stowage plan) yang telah dipersiapkan agar tidak terjadi.
Stowage plane sendiri yaitu suatu gambaran informasi atau rencana penempatan
muatan, pembongkaran muatan, berat muatan di kapal yang akan dilakukan di
satu atau beberapa pelabuhan dalam satu kerja pelayaran (voyage). Stowage plane
dibuat berdasarkan denah yang telah tersedia untuk masing-masing kapal,
berbentuk standar sesuai dengan karakteristik ruang muatan (palka-palka) setiap
kapal untuk menghindari adanya broken stowage. Pengertian Broken Stowage
yaitu presentase ruang palka yang tidak dapat terisi oleh muatan karena bentuk
dan jenis muatan. Terjadinya Broken Stowage tersebut yaitu :
a. Tidak melaksanakan pembongkaran dengan baik
b. Tidak adanya pengawasan selama waktu pembongkaran
c. Penggunaan dunnage yang tidak efisien
d. Penggunaan ruang muat tidak disesuaikan dengan bentuk muatan.
Konfigurasi stowage plane, memperhatikan kedudukan muatan, posisi
muatan, jenis muatan,pelabuhan muat dan pelabuhan tujuan. Dalam satu denah
sekaligus serta ketinggian atau batasnya dengan muatan lain di dalam salah satu
palka.
4. Rencana operasi (operation planing)
a. Merupakan rencana terperinci kegiatan bongkar muat selama kapal di
tambat.
b. Di buat oleh agen pelayaran/PBM (stevedoring company) sebelum
kapal tambat, berdasarkan data muatan (stowage plane atau manifest)
Merupakan pedoman dalam mempersiapkan buruh,peralatan bongkar
muat, dan peralatan penunjang lainnya.
c. Digunakan pula sebagai pedoman dalam menyiapkan rencana alokasi
tambatan dan perkiraan lama kapal ditambat.
10
7. Jangan tempatkan muatan dalam 1 konosemen (B/L) pada palka yang terpisah,
kecuali dalam party yang besar sekali jumlahnya.
8. Pastikan, cargo dalam satu pengriman dengan pelabuhan tujuan yang berbeda,
terpisah dengan baik melalui tanda/merkah yang jelas/dan mudah dibaca.
9. Rencanakan dapat memudahkan pembongkaran agar tetap memudahkan alat
bantu B/M dan perlatan lainnya
10. Penggunaan alat bantu bongkar/muat di sesuaikan dengan jenis muatan.
2.1.4 Dokumen – Dokumen Yang di Perlukan Saat Pembongkaran
Setiap Kegiatan yang dilaksanakan pasti adanya suatu dokumen – dokumen
dalam kegiatan tersebut untuk menunjangnya agar kegiatan tersebut berjalan
lancar sesuai dengan prosedur pembongkaran dan tidak adanya salah komunikasi.
Adapun dokumen yang di perlukan dalam pembongkaran menurut (Hananto
Soewedo .2016)
Dalam proses pembongkaran Cooking Coal yang dikerjakan oleh PBM PT.
Krakatau Bandar Samudera di perlukan dokumen-dokumen untuk membantu
kelancaran arus pembongkaran barang, yaitu :
1. Permintaan Pelayanan Jasa (PPJ) : Yaitu dokumen yang berisikan permintaan
pelayanan jasa dari pemilik barang/ yang di wakilkan oleh perusahaan pelayaran
untuk meminta pelayanan jasa dalam pembongkaran dengan fasilitas alat yang
telah di sediakan oleh perusahaan bongkar muat .
2. Pemberitahuan Kedatangan Kapal (PKK) : Yaitu dokumen yang di buat oleh
perusahaan pelayaran selaku perwakilan yang telah di tunjuk dari pihak kapal
memberitahukan tentang spesifikasi dan rencana tiba kapal ,sandar di dermaga.
3. B/L (Bill of Lading) : Yaitu dokumen yang dibuat oleh pengirim barang tentang
jumlah,banyak, dan spesifikasi barang yang akan di bongkar dan sebagai bukti
kepemilikan barang juga.
4. Permohonan Kegiatan Bongkar Muat : Yaitu dokumen yang dibuat oleh
perusahaan bongkar muat untuk perijinan kegiatan bongkar muat di pelabuhan.
5. Statement Of Fact (SOF) : Yaitu dokumen dokumen yang berisi aktualisasi
kegiatan proses bongkar atau muat kapal yang dibuat oleh foreman per shift dan di
setujui oleh chief checker dan master of mv/kapten kapal.
14
6. Daily Working Report (DWR) : Suatu dokumen yang berisi laporan hasil
bongkar muat selama 3 shift atau 24 jam atau dokumen harian bongkar muat yang
dibuat oleh foreman dan disetujui atau ditandatangani oleh chief officer.
7. S/L (Short/Overlanded Cargo) : Dokumen bongkar muat yang dikeluarkan di
akhir proses bongkar atau muat berdasarkan hasil draft survey yang di isi oleh
surveyor consignee.
8. Loading/Discharging Report : adalah dokumen yang berisi aktualisasi kegiatan
proses bongkar atau muat kapal yang dibuat oleh foreman per shift dan di setujui
oleh chief checker dan master of mv/kapten kapal.
9. Cargo manifest : Dokumen dari kapal yang berisi tentang berapa banyak
muatan dan letak muatannya.
10. Stowage Plan : Dokumen yang diminta dari kapal yang berisi perencanaan
pembongkaran muatan mana yang terlebih dahulu di bongkar.
11. Sequence Discharge : Dokumen yang diminta dari chief officer yang berisi
langkah-langkah pembongkaran palka dan muatan mana yang terlebih dahulu agar
tidak terjadi broken stowage.
12. Ship Particular : Dokumen yang di minta dari kapal yang berisi karakterisitik
dan spesifikasi kapal secara keseluruhan.
13. Draft Survey Sheet : Dokumen yang berisi draft kapal pada saat sebelum
muatan di bongkar dan setelah muatan di bongkar dari pihak surveyor owner
cargo.
2.1.5 Instansi–Intansi Yang Terkait Dalam Penanganan Kegiatan
Pembongkaran
Dalam mengelola pelabuhan Krakatau Bandar Samudera tentu tidak bisa
bekerja sendiri. Mereka harus bekerja sama dengan berbagai instansi lain yang
terkait, mengingat begitu kompleksnya masalah di pelabuhan. Istansi-instansi
pelabuhan menurut (Raja Oloan dan Eko Hariyanto. 2007) :
1. Port Facility Security Officer (PFSO)
Petugas Keamanan Fasilitas Pelabuhan berarti orang yang ditunjuk
untuk bertanggung jawab dalam pengembangan, implementasi, revisi, dan
pemeliharaan rancangan keamanan fasilitas pelabuhan dan untuk koordinasi
15
atau berkomunikasi dengan para petugas keamanan kapal dan para petugas
keamanan perusahaan. (ISPS Code, 2002).
2. Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai (KPLP)
Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai (KPLP) adalah unit pelaksana teknis
di bidang keamanan pelabuhan, perairan laut, [Link] bantuan SAR dalam
lingkungan Departemen Perhubungan. KPLP dalam tugasnya mempunyai
fungsi menegakan peraturan bidang perhubungan laut di daerah pelabuhan dan
perairan Bandar, melaksanakan patroli perairan dan bantuan SAR.
(Departemen Perhubungan Laut).
3. Distrik Navigasi/Pemanduan Kapal
Distrik Navigasi adalah unit pelaksana teknis pemerintahan di bidang
perambuan, penerangan pantai, dan elektronika pelayaran dalam lingkungan
departemen perhubungan, yang berada di bawah dan bertanggung jawab
langsung kepada Kepala Kantor Wilayah Perhubungan Laut.
4. Syahbandaran
Syahbandar adalah pejabat pemerintah di pelabuhan yang di angkat
oleh Menteri memiliki kewenangan tertinggi untuk menjalakan dan melakukan
pengawasan terhadap di penuhinya ketentuan peraturan perundang-undangan
untuk menjamin keselamatan dan keamanan pelayaran . Tugas kesyahbandaran
adalah melaksanakan pemilikan kebandaran, keselamatan kapal, pengukuran
dan pendaftaran kapal, serta kegiatan jasa domestic.
5. Direktorat Jendral Bea dan Cukai ( DJBC )
Direktorat Jendral Bea dan Cukai adalah suatu instansi pemerintah yang
mempunyai fungsi memberikan pelayanan kepada masyarakat, sehubungan
dengan kewajiban masyarakat untuk memenuhi hak–hak negara yang
berkaitan dengan pemasukan barang, pengendalian dan penerimaan fiksal dan
bea masuk barang dari dan ke Indonesia akibat aktivitas akibat aktivitas
perdagangan internasional (ekspor dan impor). Termasuk pengawasan atau
pemeriksaan atas barang dan dokumen barang yang dilarang masuk atau secara
terbatas di perbolehkan masuk Indonesia.
16
segala jenis kargo curah, baik untuk muat, transshipment maupun untuk
pengolahan industri. Selain menyediakan jasa bongkar muat dengan kecepatan
kompetitif (tabel 3), PT KBS juga memberikan jasa tambahan untuk
meningkatkan kualitas pelayanan dengan konsep Total Landed Cost, yaitu
memberikan kesempatan kepada konsumen untuk meraih produk yang lebih
kompetitif. Secara umum jasa yang diberikan Pelabuhan Cigading meliputi: jasa
dermaga, bongkar muat, jasa pengarungan, dan jasa kawasan. Untuk mendukung
kegiatan penyediaan jasa tersebut, PT KBS juga menyediakan sebuah loading
crane, 4 buah unloading crane, 2 buah sistem conveyor, suplai air dan listrik,
lahan seluas 240 Ha, serta ketersediaan gudang 2 dengan kapasitas 12.000 m.
2.2.2. Visi Misi dan Struktur Organisasi Perusahaan
Visi
Menjadi badan usaha pelabuhan terkemuka di Indonesia
Misi
Berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik dan bermanfaat dalam
industry kepelabuhan dan yang terkait bagi stakeholder serta lingkungan sekitar.
Nilai-nilai budaya Perusahaan
- Intact Sincerity
- Competence
- Integrity
- Reliability
- Innovative
Kebijakan Mutu
Kami selalu berkomitmen untuk menawarkan layanan yang memuaskan untuk
pelanggan kami dengan cepat, efisien nyaman, layanan aman, dan handal dengan
berpegang pada nilai-nilai utuh kompetensi ketulusan, inovasi, kehandalan dan
itegritas meningkatkan kualitas berkesinambungan/terus menerus-melalui
program transformasi bisnis-untuk mengejar-kepuasan pelanggan, karyawan,
stakeholder, pemerintah dan masyarakat.
22
KEPALA DIVISI
OPERASI
PELABUHAN
KEPALA BIDANG
OPERASI
PELABUHAN
Operator MCR
OPERATOR CRANE
Tabel 2.1
Jam Kerja Non Shift
Non Shift
Hari Jam kerja Jam istirahat
Senin 08.00 – 16.30 12:00 – 13:00
Selasa 08.00 – 16.30 12:00 – 13:00
Rabu 08.00 – 16.30 12:00 – 13:00
Kamis 08.00 – 16.30 12:00 – 13:00
Jumat 08.00 – 17.00 12:00 – 14:00
Sumber : Primer PT. Krakatau Bandar Samudera
Tabel 2.2
Jam Kerja Shift 1 cigading 2
Shift 1
Hari Jam kerja Jam istirahat
Senin 07:00 – 15:00 12:00 – 13:00
Selasa 07:00 – 15:00 12:00 – 13:00
Rabu 07:00 – 15:00 12:00 – 13:00
Kamis 07:00 – 15:00 12:00 – 13:00
Jumat 07:00 – 15:00 12:00 – 13:00
Sabtu 07:00 – 15:00 12:00 – 13:00
Minggu 07:00 – 15:00 12:00 – 13:00
Sumber : Primer PT. Krakatau Bandar Samudera
25
Tabel 2.3
Jam Kerja Shift 2
Shift 2
Hari Jam kerja Jam istirahat
Senin 15:00 – 23:00 18:00 – 19:00
Selasa 15:00 – 23:00 18:00 – 19:00
Rabu 15:00 – 23:00 18:00 – 19:00
Kamis 15:00 – 23:00 18:00 – 19:00
Jumat 15:00 – 23:00 18:00 – 19:00
Sabtu 15:00 – 23:00 18:00 – 19:00
Minggu 15:00 – 23:00 18:00 – 19:00
Sumber : Primer PT. Krakatau Bandar Samudera
Tabel 2.4
Jam Kerja Shift 3
Shift 3
Hari Jam Kerja Jam Istirahat
Senin 23:00 – 07:00 00:00 – 01:00
Selasa 23:00 – 07:00 00:00 – 01:00
Rabu 23:00 – 07:00 00:00 – 01:00
Kamis 23:00 – 07:00 00:00 – 01:00
Jumat 23:00 – 07:00 00:00 – 01:00
Sabtu 23:00 – 07:00 00:00 – 01:00
Minggu 23:00 – 07:00 00:00 – 01:00
Sumber : Primer PT. Krakatau Bandar Samudera
Gambar 2.1
Gambar 2.2
[Link]
Terminal Cigading 1
Jetty 1.1 150 -15 60.000
Jetty 1.2 150 -15 60.000
Jetty 1.3 270 -15 60.000
Jetty 1.4 285 -20 150.000
Jetty 1.5 240 -14 40.000
Jetty 1.6 121 -12 30.000
Jetty 1.7 122 -12 30.000
Jetty 1.8 142 -14 40.000
Jetty 2 240 -16 70.000
Jetty 3 170 -12 30.000
28
2. Fasilitas Pendukung
Fasilitas pendukung merupakan fasilitas yang digunakan untuk mendukung
kegiatan kepelabuhanan di PT. KBS. Pelabuhan Cigading menyediakan berbagai
fasilitas pendukung seperti: workshop, mesin bagging , alat berat, hopper truck,
timbangan, pasokan air dengan kapasitas 2.000 Liter/detik, pembangkit listrik 400
MW, telekomunikasi, internet, dll. Lebih dari 300 Dump Truck siap melayani
dalam transportasi internal atau untuk mendukung pelabuhan ke pintu layanan.
Akses mudah ke jalan tol atau jalan kereta api sangat memungkinkan.
3. Fasilitas Penanganan
a. Ship Unloader
Ada 4 unit ship unloader untuk yang membongkar dengan total kapasitas rata-rata
27.000 ton per hari untuk pelet bijih besi dan dimanfaatkan juga untuk
membongkar kargo curah lainnya seperti: kedelai, jagung, kedelai makan,
Batubara, gips, garam, pupuk dan gula mentah. Sejalan dengan meningkatnya
permintaan pelayanan jasa pelabuhan, maka dalam tahun mendatang KBS akan
menambah 2 crane lagi.
b. Multiguna Crane
Ada 1 unit crane Multiguna berkapasitas 30 ton, dan 2 unit Double Level Luffing
Crane (DLLC) mempunyai kapasitas 20 Ton yang bisa diterapkan untuk
membongkar / memuat kargo massal seperti kedelai, jagung, gula mentah,
batubara, dan juga untuk umum atau kargo curah seperti skrap baja, produk baja,
kontainer, dll
29
c. Conveyor
Ada 2 garis conveyor dari dermaga sampai ke halaman PT Krakatau Steel,
sepanjang 7 km, yang dapat dihubungkan ke lapangan batubara PT Indocement.
Daya dukung setiap conveyor mencapai lebih dari 15.000 ton per hari untuk bijih
besi. Selain itu, ada feeder Gabah yang terhubung ke gudang PT Grain Terminal
sentra dan SILO dari PT Suba Indah.
d. Gudang
Pergudangan memegang peran yang sangat penting dalam kehidupan sebuah
perusahaan. Barang yang disimpan di gudang bisa dalam bentuk bahan baku,
barang setengah jadi, suku cadang maupun produk jadi. Peningkatan produktivitas
dan pelayanan pergudangan akan sangat berpengaruh pada performansi
perusahaan secara keseluruhan.
Cargo yang penah ditimbun pada gudang PT. KBS antara lain :
[Link](jagung)
[Link](Soil Beam Milk) / Bungkil
[Link]
[Link]
5. Gula
Tabel 2.6 Gudang PT. Krakatau Bandar Samudera
GUDANG LUAS TON/M2 KAPASITAS (TON)
Gudang A 1.726 3.69 7.000
Gudang B 3.900 4.95 13.650
Gudang C 2.900 4.95 13.650
Gudang D 6.600 5 27.225
Gudang E 6.510 5 22.785
Gudang F 4.032 3.72 14.112
Gudang G 4.032 3.72 14.112
Gudang H 4.032 3.72 14.112
Gudang I 10.080 2.18 52.920
Gudang J 6.804 3.09 35.721
30
e. Coal Termial
Mulai tahun 2010 di pelabuhan cigading akan dioperasikan coal terminal yang
mampu menangani batu bara 5 juta ton/tahun dengan fasilitas : ship unloader,
conveyor, coal stock file, coal blending dan ship loader.
f. Lahan Industri
Lahan industri tepi pantai seluas 246 Ha yang memiliki akses langsung ke
Pelabuhan Cigading, serta terintegrasi dengan kawasan industri milik PT. KIEC
seluas 700 Ha. Lahan ini cocok untuk industri kimia, liquid, processing terminal,
tank storage, cement, atau industri berat lainnya.
g. Jetty Management
Mulai tahun 2009, KBS melakukan ekspansi pasarnya di luar Pelabuhan
Cigading, yahkni dengan dipercayakannya KBS untuk mengelola pelabuhan-
pelabuhan milik PT PLN, seperti PLTU Labuan dan PLTU Rembang. Masing-
masing pelabuhan menangani pembongkaran 2-3 juta ton batu bara setiap
tahunnya. Ruang lingkup pelayarannya meliputi pelayanannya meliputi jasa
pandu dan tunda, pengoperasian dan perawatan ship unloader, serta perwatan
infrastruktur pelabuhan (dermaga, alur/kolam pelabuhan, sarana bantu navigasi,
cathodic protection) dan pengelolaan lingkungan. Saat ini KBS merupakan satu-
satunya perusahaan di Indonesia yang telah menguasai teknologi crane atau ship
unloader buatan china. Sebelumnya KBS sudah menguasai teknologi crane
buatan Jerman maupun Inggris.
4. Fasilitas pembinaan Koperasi TKBM
Koperasi tenaga kerja bongkar muat (TKBM) kojaboma merupakan wadah
untuk menciptakan kesejahteraan buruh di pelabuhan
Pelayanan PT. Krakatau Bandar Samudera
a. Pelayanan jasa bongkar muat
Konsep layanan yang dilakukan oleh PT. Krakatau Bandar Samudera
adalah untuk melayani pelanggan dengan konsep cepat, efisien, bersih, rapi,
terjamin, dan aman. Kami telah berpengalaman selama sepuluh tahun lebih untuk
bongkar muat cargo dari dan atau ke kapal. Kami memiliki 9 unit crane untuk
bongkar muatan dengan discharging rate lebih dari 30.000 ton / hari untuk
31
1. Meminimalkan biaya.
2. Memberikan keuntungan kepada pelanggan
3. Pelayanan Terpadu dalam semua kegiatan penanganan
Trucking,Timbangan, A2B, Kereta Api
c. Jasa Tambat
Jasa tambat merupakan jasa pelayanan yang telah disediakan oleh PT. KBS untuk
menambatkan kapal pada dermaga. Untuk semua jenis kapal yang bersandar di
pelabuhan Cigading, akan dikenakan port facility berupa jasa tambat yang
besarannya ditetapkan oleh pemerintah.
d. Jasa pendukung
Jasa pendukung merupakan jasa-jasa yang disediakan oleh PT. KBS yang
digunakan untuk mendukung kegiatan kepelabuhanan. Jasa-jasa tersebut adalah:
3. Workshop
4. Pengisian air bersih dan BBM