0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan9 halaman

Ketakutan dan Kesalahpahaman Soomin

Cerita ini menceritakan tentang Soomin, seorang mahasiswi yang mengalami tekanan batin setelah kejadian masa lalunya. Dia pingsan di kampus dan dibawa ke rumah sakit oleh temannya, Park Hoon. Kakak perempuannya, Seungwoo, sangat khawatir dan mencoba mengetahui masalah yang dihadapi Soomin. Namun Soomin belum siap bercerita dan hanya diam saja.

Diunggah oleh

Mita Purnamasari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan9 halaman

Ketakutan dan Kesalahpahaman Soomin

Cerita ini menceritakan tentang Soomin, seorang mahasiswi yang mengalami tekanan batin setelah kejadian masa lalunya. Dia pingsan di kampus dan dibawa ke rumah sakit oleh temannya, Park Hoon. Kakak perempuannya, Seungwoo, sangat khawatir dan mencoba mengetahui masalah yang dihadapi Soomin. Namun Soomin belum siap bercerita dan hanya diam saja.

Diunggah oleh

Mita Purnamasari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Chapter I

-Me After You-


Saat itu hujan turun begitu deras, membuat perasaanku ikut hanyut dalam aliran air
yang turun dari langit. Mengingatkanku akan kejadian pada malam itu. Membuatku ingin lari
dari dunia ini, menjauh sejauh mungkin. Sampai tak ada yang bisa menemukanku. Aku ingin
hilang, aku ingin hilang dari dunia ini.

Hanya karena satu kesalahan, aku merasa diriku akan dibenci semua orang. Aku
merasa aku sudah tak layak untuk ada di dunia ini, mungkin ini saatnya aku benar-benar
menghilang dari dunia ini.

“Soomin-ah..”

“Soomin-ah..”

“Soomin-ah..”

“Ah iya?” jawab Soomin dengan bingung.

“Melamun lagi?” tanya Park Hoon, yang sedang duduk disamping Soomin.

“Hmm, tidak. Aku hanya senang memandangi hujan” Soomin kembali melihat
kearah jendela yang sedang diguyur hujan.

“Aku sudah selesai mencari bukunya, apa kamu tidak akan keluar?” ajak Park Hoon.

“Kau duluan saja, aku masih ingin disini” Soomin menolak ajakan Park Hoon.

“Baiklah, tapi kau jangan melamun seperti tadi ya, apalagi sampai tertidur di
perpustakaan. Ah iya, jangan lupa jam 2 nanti kita ada kelas. Aku duluan” Park Hoon pun
pergi meninggalkan Soomin sendiri di kursi perpustakaan yang saat itu perpustakaan tidak
begitu ramai.

“Hmm iya” jawab Soomin dengan nada pelan. Kejadian baru-baru ini membuatnya
menjadi seorang yang pemalu, dan takut untuk bertemu dengan orang baru. Ada beberapa hal
yang menggangu pikirannya, namun dia tidak bisa menceritakan ini kepada siapapun, kedua
Kakaknya pun tidak mengetahui akan hal ini.

Yap.. Soomin mempunyai dua orang Kakak yang sangat menyayanginya. Yaitu Han
Seungwoo dan Han Sooho. Sooho merupakan kembaran Soomin, dan beruntunglah mereka
tidak terlihat sama, karena Sooho benar-benar mempunyai wajah yang sangat tegas, dengan
rahang tajamnya dan mata yang tidak terlihat seperti kebanyakan pria korea. Mungkin Sooho
lebih terlihat seperti Ayahnya. Sedangkan Soomin dan Seungwoo memiliki lebih banyak gen
dari ibu mereka, garis wajah yang lembut, garis senyuman yang khas dan bibir yang sama
persis. Membuat siapapun tau bahwa mereka adalah adik kakak yang sangat mirip.
Kedua orang tua mereka tidak tinggal di korea, karena masalah pekerjaan keduanya,
sehingga tidak memungkinkan mereka untuk tinggal di korea. Mereka kini tinggal di Kanada,
dan pulang ke korea hanya setahun sekali. Sehingga mereka berdua menitipkan anak
kembarnya itu kepada Seungwoo, selaku kakak tertua. Seungwoo pun sudah menyelesaikan
Studinya, dan dia menjadi dosen di salah satu Universitas besar di Korea. Oleh karena itu,
Orang Tuanya pun tidak terlalu merasa khawatir untuk meninggalkan anak-anaknya jauh dari
mereka. Terlebih Soomin dan Sooho sudah ditinggalkan oleh Orang Tuanya sejak mereka
masih duduk di bangku menengah, membuat mereka tidak begitu dekat dengan Orang
Tuanya. Hanya Seungwoo yang dekat dengan mereka.

“Soomin-ah, ingin Oppa jemput?” tanya Seungwoo ditelfon.

“Tidak usah Oppa, aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah di Universitas, kau harus
ingat itu” jawab Soomin sedikit kesal, karena Seungwoo selalu menganggapnya anak kecil.

“Haha.. baiklah, aku hanya bertanya. Kau ini kenapa ketus sekali? Sedang ada
masalah?” tanya Seungwoo kembali.

“A.. aniyaaa, aku baik-baik saja. Sudah dulu ya aku mau masuk kelas” Soomin pun
mengakhiri panggilan telfon dari Kakaknya tersebut.

Soomin pun buru-buru meninggalkan perpustakaan kampusnya untuk masuk ke


kelas, karena sejak ditinggalkan oleh Park Hoon dia tidak melakukan apa-apa, hanya duduk
diam sambil memandangi hujan.

“Soomin-ah?” seseorang memanggilnya, dan suara itu tidak asing ditelinga Soomin.

Kedua mata mereka bertemu untuk pertama kalinya sejak kejadian itu. Soomin
menjadi takut dan enggan untuk berbicara dengan orang itu. Saat Soomin ingin pergi,
tangannya tertahan karena genggaman lelaki itu, dan itu membuatnya terkejut.

“To.. tolong, lepaskan aku” pinta Soomin sambil memohon.

“Aku ingin bicara” lelaki itu bersikeras untuk mengajak Soomin berbicara.

“Aku ada kelas, bisa nanti saja?” sekali lagi Soomin memohon, namun sayang
permohonannya ditolak mentah-mentah oleh lelaki itu. “Aku mohon, nanti saja” lagi dan lagi
Soomin meminta, sampai akhirnya dia menghempaskan tangannya dengan keras, membuat
guratan merah terlihat di pergelangan tangannya. Dan lelaki itu menatapnya tajam.

“Lihat! Kau melukai tanganmu” lirikan tajam terlihat dari matanya yang seperti
rubah itu.

“Maaf, tapi aku tidak bisa. Aku harus masuk kelas” Soomin pun buru-buru pergi
meninggalkan laki-laki itu sendiri.

“Aku hanya ingin menjelaskan kesalahpahaman ini” niat lelaki itu dalam hatinya.

***
Soomin kembali ke kelasnya dengan wajah yang sedikit pucat. Membuat Minji
temannya menjadi heran. “Kau kenapa?” tanya Minji pada Soomin.

“Aku tidak apa-apa” jawaban Soomin tidak mewakili keadaannya saat itu.

“Kau sakit? Wajahmu pucat sekali” tanya Minji cemas ketika melihat keadaan
Soomin.

“Aku baik-baik saja” Soomin pun kembali melakukan aktifitasnya. Dan Minji hanya
bisa memandang cemas kearah Soomin.

Hingga jam kelas berakhir keringat dingin tak henti-hentinya mengalir di seluruh
badan Soomin, membuatnya lemas dan akhirnya Soomin pun pingsan saat akan
meninggalkan kelas itu.

Park Hoon dengan sigap membawa Soomin ke rumah sakit terdekat, bisa dilihat
wajah cemas Park Hoon yang menggendong Soomin dipunggungnya. Mereka tidak
memahami kondisi Soomin saat ini, karena Soomin tidak pernah menceritakannya. Namun
mereka sedikit heran dengan hubungan antara Soomin dengan kekasihnya, Cho Seungyoun.
Beberapa hari yang lalu mereka sudah tidak terlihat bersama-sama lagi. Sampai Minji dan
Hoon sahabat Soomin menganggap mereka sudah putus. Tapi setelah putus dengan
Seungyoun, Soomin terlihat aneh. Dengan tingkah lakunya yang dahulu, dia jauh berbeda
saat ini. Seperti orang yang ketakutan, cemas dan selalu melamun. Meskipun Minji dan Hoon
bertanya, Soomin tidak akan menjawab kenapa, dan selalu bilang baik-baik saja.

***

“Kau mau kemana sekarang?” tanya Yura kekasih Seungwoo.

“Aku akan pulang, tadinya mau menjemput Soomin. Tapi dia tak mau aku jemput”
jawab Seungwoo lembut.

“Ahh.. adikmu lagi?” terlihat dari nada bicara Yura yang sedikit kesal, karena
Seungwoo memang sangat memperhatikan adik perempuannya itu.

“Kenapa? Kau mau marah lagi? Mau aku jelaskan lagi?” sepertinya bukan pertama
kali Yura bertingkah laku seperti ini, sampai Seungwoo hafal dengan sikap cemburunya ini.

“Tidak, yasudah aku juga mau pulang” Yura pun bergegas meninggalkan Seungwoo.
Perlu kalian tahu , Yura adalah salah satu mahasiswi di Universitas tempat Seungwoo
mengajar. Yura adalah Mahasiswi yang sangat populer dikalangan anak lelaki di kampusnya.
Namun hebatnya Seungwoo tidak pernah takut bila ada yang mendekati Yura, karena
Seungwoo tahu hanya dia lelaki yang disukai Yura.

“Tidak mau ku antar?” saat Yura akan meninggalkan Seungwoo, tangannya tertahan
oleh genggaman halus Seungwoo. Yura hanya membalasnya dengan tatapan sedikit marah
dan Seungwoo hanya membalasnya dengan senyuman sambil menarik tangan Yura untuk
mengantarkannya pulang.
Min Yura memang sangat menyukai Seungwoo sejak pertama kali mereka bertemu
di Universitas. Saat Seungwoo menjadi dosen baru di jurusan yang Yura ambil, disanalah
cinta pandangan pertama Yura dimulai. Dan yang menyatakan perasaannya terlebih dahulu
adalah Yura, didepan banyak mahasiswa mahasiswi yang menyaksikan kejadian langka
tersebut.

Kringgg...

“Halo? Kenapa? Dimana? Saya kesana sekarang” belum sempat sampai dimobil,
Seungwoo buru-buru berlari dan melepaskan genggaman Yura tanpa mengatakan sepatah
katapun, mobil Seungwoo sudah melaju dengan kencang.

“Oppa!! Seungwoo Oppa!” panggilan Yura nampaknya tak terdengar oleh


Seungwoo yang meninggalkannya tanpa sebab. Yura sangat kecewa dan kesal dengan
tingkah laku Seungwoo yang seperti itu. Namun entah mengapa dia tak pernah bisa
membenci atau berhenti untuk menyukai lelaki itu.

Seungwoo langsung menuju rumah sakit tempat Soomin dibawa oleh Park Hoon,
pikirannya kacau. Dia benar-benar mengkhawatirkan adik kecilnya itu, karena hanya
Seungwoo yang benar-benar dekat dengan Soomin dibandingkan orang tuanya.

“Permisi, dimana pasien dengan nama Han Soomin?” tanya Seungwoo sesampainya
di rumah sakit.

“Ahh.. dia ada disebelah sana” suster itu menunjukan suatu ruangan yang penuh
dengan pasien. Seungwoo langsung mencari-cari dimana adiknya berada. Dan akhirnya dia
menemukan seorang gadis kecil yang lemah dengan infusan di tangannya.

“Soomin-ah..” panggil Seungwoo lembut, matanya berkaca-kaca tak tega melihat


adiknya terbaring lemah seperti itu. “Dia sebenarnya kenapa Hoon-ah?” tanya Seungwoo
pada Park Hoon yang berdiri disamping Soomin.

“Soomin hanya kelelahan dan dia sepertinya memiliki tekanan pada pikirannya,
menurut dokter lebih baik Soomin dibawa ke psikiater Hyung..” jelas Hoon pada Seungwoo.

“Psikiater? Ke.. kenapa?” Seungwoo pun tak bisa berkata-kata. Dia tak mengerti
sebenarnya apa yang terjadi pada Soomin. Seungwoo pun hanya memandangi adik
perempuannya itu dengan tatapan penuh kasih sayang. “Kau ini kenapa Soomin-ah, bicaralah
pada Oppa..”

Setelah Soomin sadar dia dinyatakan bisa pulang oleh dokter dan Seungwoo pun
membawanya pulang, dan mengucapkan terimakasih pada Park Hoon karena sigap membawa
Soomin ke Rumah Sakit. Saat diperjalanan tak sekali Seungwoo memperhatikan adiknya itu.
Dan Soomin hanya melihat kearah luar jendela saja, dengan tatapan nanar.

“Soomin-ah..” suara Seungwoo membuyarkan lamunan Soomin.

“Kenapa?” jawab Soomin datar.


Seungwoo segera menepikan mobilnya, karena dia tidak ingin hal-hal aneh terjadi
saat diperjalanan. Seungwoo langsung menatap Soomin dan mencoba bertanya pada Soomin.

“Apa ada hal yang kau sembunyikan dari Oppa?” entah mengapa, sebenarnya
Seungwoo sudah merasa aneh dengan sikap Soomin beberapa hari yang lalu. Namun Soomin
bersikap seperti dia baik-baik saja.

Soomin kaget dengan pertanyaan Seungwoo yang tiba-tiba itu. Terlihat jelas dari
pupil matanya yang membesar dan itu nampak jelas dimata Seungwoo.

“Apa dokter mengatakan sesuatu?” tanya Soomin dengan nada khawatir.

“Dokter tidak mengatakan apapun, aku hanya tanya padamu. Apa kamu
menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Seungwoo sekali lagi.

Soomin hanya bisa menunduk tidak bisa menatap Seungwoo, karena dia memang
menyembunyikan sesuatu darinya. Matanya mulai tak bisa menahan air mata, tetes demi tetes
air mata itupun akhirnya mengalir di pipi Soomin.

“Lihat Oppa, jangan takut. Ada apa?” ucap Seungwoo sembari memegang pipi
Soomin. Dan akhirnya Soomin pun bisa melihat kehangatan dari tatapan Seungwoo itu.
Hingga akhirnya Soomin menangis kencang, dan Seungwoo memeluknya dengan hangat
seolah-olah mengatakan “Tidak apa-apa, ada aku disini”.

***

Beberapa hari yang lalu...

“Kau dimana?” tanya Seungyoun pada Soomin, yang merupakan kekasihnya itu.

“Aku sedang mengantar Seungwoo Oppa, kenapa?” tanya Soomin kembali pada
Seungyoun.

“Ahh.. tidak apa-apa, aku hanya merindukanmu” jawab Seungyoun dengan nada
manjanya.

“Aigoooo.. Uri namchin ini manja sekali. Begitu menjijikan hahaha” Soomin pun
membalasnya dengan gurauan.

“Beritahu Seungwoo Hyung, jangan minta antar padamu terus. Aku cemburu pada
hubungan adik kakak itu, tidak seperti adik kakak saja! Huh..” Seungyoun pun kembali
membuat Soomin merasa gemas dengan tingkah lakunya itu. “Kabari aku jika sudah pulang”
pinta Seungyoun pada Soomin.

“Baiklah.. baiklah. Ku tutup yaa, see you” Soomin pun mengakhiri telefon dari
kekasihnya itu sembari terlihat wajah bahagia dari senyumannya itu.

“Seungyoun?” tanya Seungwoo langsung menebaknya.


“Ahh.. iya Oppa, dia sangat lucu. Dia cemburu padamu karena selalu memintaku
untuk mengantarmu kemana-mana, lucu sekali” jawab Soomin sambil tak henti-hentinya
tersenyum.

“Aku jadi khawatir meninggalkanmu sendiri dirumah” Seungwoo bicara sambil


memilih-milih kebutuhan rumah yang sedang dia cari.

“Kenapa?” tanya Soomin heran sambil berjalan disamping Seungwoo.

“Nanti dia bisa macam-macam padamu! Karena kau sendirian dirumah. Sooho
sedang mengunjungi Eomma dan Appa, aku akan menemani muridku karya wisata. Oppa
benar-benar tak tenang” jelas Seungwoo pada Soomin.

“Yakkkkk.. kau ini seperti tidak mengenal Seungyoun saja Oppa. Dia tidak akan
macam-macam padaku. Jika itu terjadi aku tinggal menunjukan jurus muay thai yang sudah
kau ajarkan. Jangan khawatir dan lakukan perjalanan karya wisatamu dengan tenang.
Mengerti?” Soomin pun membuat Seungwoo sedikit tenang dan hanya membalasnya dengan
senyuman hangat.

“Nah.. sudah cukup sepertinya, kita bayar” Seungwoo pun mendorong kembali troli
yang dia bawa.

***

“Sepertinya Oppa tidak perlu membawa sebanyak ini, kita hanya karya wisata 3 hari
saja” protes Seungwoo pada Soomin yang sedang membereskan pakaian untuk Seungwoo.

“Hmm.. kurasa tidak banyak” pikir Soomin saat memperhatikan kembali yang dia
bereskan.

“Aigoo.. kau ini benar-benar mirip dengan Eomma” Seungwoo pun mengelus
lembut kepala Soomin. Dan saat itu dia melihat ekspresi Soomin yang terlihat sedikit sedih.
“Aniya, kau lebih cantik dari Eomma” lanjut Seungwoo menghibur Soomin.

“Yakk.. aku ini memang cantik” Soomin pun meredamkan perasaan sedihnya itu, dia
tidak mau Seungwoo melihatnya bersedih. “Aku ingin tidur denganmu Oppa..” pinta Soomin
manja.

“Eungg? Kau ini sudah besar, untuk apa tidur denganku haha” Seungwoo pun hanya
bisa tertawa mendengar permintaan Soomin yang aneh itu.

“Huh, yasudah!” Soomin pun meninggalkan kamar Seungwoo dengan wajah yang
ditekuk.

Brakkkk…

Suara pintu kamar yang ditutup dengan keras membuat Seungwoo hanya bisa
tersenyum, memang begitulah sikap adik kecilnya. Masih seperti anak kecil.
Tak lama Seungwoo menghampiri kamar Soomin, mengetuknya pelan dan
membuka pintu kamar Soomin.

“Sudah tidur?” tanya Seungwoo, meskipun dia tahu Soomin belum tertidur.

“Eung!” jawab Soomin.

“Aigooo.. Aigooo mana bisa orang tertidur menjawab” Seungwoo pun berbaring
disamping Soomin dan mengelus-elus rambutnya yang terurai.

“Yakkk, siapa suruh Oppa bisa tertidur disini!” nada bicara Soomin masih terdengar
kesal saat Seungwoo tertidur disampingnya.

“Aku tidak dengar” Seungwoo pun memejamkan matanya, berpura-pura tidur.

“Hahhh bisa-bisanya..” kata-kata Soomin tertahan saat Seungwoo memeluknya erat-


erat dalam sandarannya. “Yaaaa Oppaaa” jerit Soomin.

“Sudahlah, besok aku harus bangun pagi-pagi” Seungwoo pun tak menghiraukan
emosi Soomin dan kembali tertidur dengan memeluk adiknya itu. “Jaga diri baik-baik ya, jika
ada apa-apa segera hubungi aku” Seungwoo berbicara sambil menutup matanya.

***

“Oppa berangkat ya. Kau hati-hati dirumah! Dan jangan bawa pacarmu kerumah!”
pinta Seungwoo dengan nada gurauannya.

“Baiklah baiklah, aku akan membawa Seungyoun kerumah. Hahaha..” Soomin pun
tak kalah menggoda Seungwoo.

“Aigoo.. Uri Aegi..” Seungwoo pun mengelus pipi Soomin dengan lembut, lalu dia
pun pergi meninggalkan Soomin sendirian. Hatinya tak tenang, namun dia harus ingat bahwa
Soomin sudah bukan anak kecil lagi. Seungwoo hanya bisa menguatkan hatinya bahwa
Soomin akan baik-baik saja.

Setelah Seungwoo pergi Soomin kembali masuk kedalam rumahnya, dan mulai
membereskan rumah seperti biasanya. Kini dia menyadari bahwa rumah ini benar-benar
sangat sepi. Kedua orangtua nya yang sibuk dan lebih memilih pekerjaannya, Sooho sedang
mengunjungi keduanya, dan Seungwoo sedang pergi menemani murid-muridnya karya
wisata. Kali ini Soomin merasa bahwa rumah ini benar-benar sepi sekali.

Setelah selesai melakukan pekerjaan rumahnya, Soomin melihat ponselnya,


barangkali ada informasi tentang kelas hari ini. namun ternyata dosen tidak akan masuk
sampai 3 hari kedepan. Kini dia benar-benar akan diam dirumah selama 3 hari?

“Aigoo.. bagaimana aku menghabiskan waktu 3 hari kedepan ini” Soomin


bergumam pada dirinya sendiri.

Tingg..
“Ahh pesan!!” Soomin senang karena dia menerima pesan dari Seungyoun,
kekasihnya.

Kau dirumah? Hyung sudah pergi?

Iya aku dirumah, sudah!

Kalau begitu aku kerumahmu boleh?

Mau apa? Aku justru bosan ingin keluar

Kemana? Mau pergi denganku?

Boleh! Aku siap-siap dulu!

Baiklah, nanti aku menjemputmu.

Seperti itulah pesan antara sepasang kekasih tersebut. Mereka berencana akan
menghabiskan waktu bersama-sama hari ini. Soomin benar-benar bahagia menjadi kekasih
Seungyoun. Karena dia lelaki yang manis dan hangat, meskipun penampilannya cukup
berantakan. Dan itu membuat Seungwoo Oppa tidak terlalu menyukainya, tapi dia senang
jika Soomin bahagia bersama lelaki yang disukainya.

Mereka menghabiskan waktu bersama, melakukan kencan seperti pasangan-


pasangan lainnya sampai akhirnya Seungyoun mengantarkan Soomin pulang malam-malam.
Dan mereka terlihat begitu manis dan tidak mau berpisah cepat-cepat. Sepertinya seharian
bersama tidak cukup untuk mereka berdua.

“Masuk sana, aku pulang dulu” ucap Seungyoun sambil terus memegang tangan
Soomin.

“Bagaimana aku bisa masuk! Dasar bodoh!” ejek Soomin sambil mengangkat
tangannya yang masih di genggam Seungyoun.

“Sulit sekali untukku lepas” dan pada akhirnya Seungyoun melepaskan tangan
Soomin dan pergi meninggalkan Soomin berdiri di depan pagar rumahnya. “Masuklah..”
Seungyoun sekali lagi menyuruh Soomin untuk masuk.

Soomin pun masuk kedalam rumahnya yang sepi itu, dan bergegas masuk ke
kamarnya dan membersihkan diri. Hari ini cukup menyenangkan, karena bisa menghabiskan
waktu dengan orang yang dia sayangi.

Tepat pukul 00.00 suara berisik membuat Soomin terbangun dan mulai merasakan
ketakutan. Di depan rumahnya terdengar seperti ada orang yang berusaha masuk dan
mendobrak-dobrak pagar rumahnya. Soomin yang ketakutan hanya bisa melihatnya dari
jendela kamar yang kebetulan dapat melihat langsung keluar. Dan disana berdiri sesosok
yang tinggi dan tidak asing dimata Soomin. “Seungyoun Oppa?” pikir Soomin dalam diam.
Soomin bergegas membuka pintu rumahnya dan menolong Seungyoun yang terlihat
tidak berdaya itu. Wajahnya penuh dengan luka dan bajunya pun terlihat kotor.

“Oppa ke.. kau kenapa?” Soomin bingung dan hanya bisa membawa Seungyoun
kedalam rumahnya dengan tertatih-tatih. Seungyoun tidak menjawab apa yang menyebabkan
dia menjadi seperti itu. Dan hanya meringis kesakitan.

Soomin mendudukan Seungyoun disofa dan segera bergegas membawa kotak obat
untuk membersihkan dan mengobati luka yang ada di wajah Seungyoun.

“Kenapa bisa begini?” tanya Soomin sekali lagi.

“Aku tak tau harus kemana, aku hanya bisa melangkahkan kaki kesini” jawab
Seungyoun pelan

“Kau dipukuli siapa hmm?” tanya Soomin lembut pada Seungyoun.

“Ayahku” Seungyoun pun hanya bisa menundukan kepalanya.

“Kenapa bisa?” Soomin sedikit kaget atas pernyataan Seungyoun itu.

“Dia mabuk dan aku melihatnya sedang memukuli...” perkataan Seungyoun tertahan
karena dia tak kuat untuk menahan air matanya.

Soomin dengan sigap memeluknya dalam hangat, berusaha menenangkan


kekasihnya. Pikiran Seungyoun pasti sedang kacau melihat kejadian itu.

Anda mungkin juga menyukai