BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Roti merupakan produk pangan yang cukup populer di Indonesia. Roti dapat dikatakan
hampir dapat menggeser kedudukan nasi sebagai makanan pokok terutama untuk sarapan pagi.
Saat ini roti banyak dijual dimana saja baik di warung, toko maupun supermarket.
Salah satu jenis roti adalah croffle yang banyak digemari oleh seluruh kalangan
masyarakat mulai dari anak-anak sampai dewasa. Menurut The Kraze Magazine, croffle awalnya
dibuat oleh pastry chef Louise Lennox pada 2017. Adonan croissant biasa digulung dan
ditempatkan ke dalam pembuat wafel untuk membuat kue puff yang lebih renyah. Croffle juga
populer di Korea yang banyak disajikan di kafe atau di warung kaki lima. Kafe pertama yang
membawa croffle ke Negeri Giseng adalah Auglet. Karena bahannya mudah didapat, dan juga
praktis dalam hal penyajian dari pada roti tawar. Selain itu, roti ini juga memiliki banyak varian
rasa yang menggugah selera.
Makanan yang dianggap berasal dari korea selatan ini ternyata berasal dari negara
perancis. Dengan adanya bukti makanan ini pertama kali dijual di sebuah cafe yang bernama La
Patite Boulangerie di Dublin Perancis, yang merupakan milik sebuah perusahaan bernama
Cuisine De France. Waffle dan Croissant merupakan dua makanan yang sangat populer di
Perancis bahkan di dunia. Waffle merupakan adonan atau kue yang dimasak dengan wajan besi
kotak-kotak yang bermotif tertentu.
Sedangkan Croissant adalah semacam pastry yang memiliki rasa yang gurih dan renyah.
Dengan demikian keluar ide dari seorang koki bernama Louise Lennox untuk membuat dessert
baru dengan menggabungkan kedua makanan yang sudah menjadi favorit masyarakat. Croffle
dibuat dari adonan yang dibentuk seperti coroissant yang kemudian diletakkan pada cetakan
waffle, maka tercipta sebuah dessert yang menyerupai waffle dengan paduan rasa yang renyah
dan gurih namun tanpa meninggalkan tekstur lembut pada bagian dalamnya.
Untuk meningkatkan kualitas dari roti tersebut ragi memiliki peranan yang sangat
penting supaya roti yang dibuat bisa lebih mengembang1. Oleh karena adanya pasar roti croffle
yang sedang meningkat dan bahan pembuatan yang cukup sederhana, maka dari itu penulis
tertarik untuk membuat laporan tugas akhir yang berjudul “ Pembuatan Roti Melalui Metode
Fermentasi “.
[Link] masalah
1. Apa yang dimaksud dengan roti ?
2. Metode apa yang digunakan untuk membuat roti croffle ?
3. Apa saja alat dan bahan apa saja yang digunakan dalam membuat roti croffle ?
4. Bagaimana cara pembuatan dalam pembuatan roti croffle ?
5. Apa fungsi penambahan ragi dalam pembuatan roti croffle ?
[Link]
1. Untuk mengetahui pengertian roti.
2. Untuk mengetahui mengetahui metode yang digunakan untuk membuat roti croffle.
3. Untuk mengetahui mengetahui apa saja alat dan bahan yang digunakan dalam membuat
roti croffle.
4. Untuk mengetahui cara pembuatan dalam membuat roti croffle.
5. Untuk mengetahui fungsi penambahan ragi dalam pembuatan roti croffle.
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian roti
Arti roti dalam KBBI adalah makanan yang dibuat dari bahan pokok tepung terigu, dan
banyak macamnya. Menurut SNI 2019 , roti adalah produk yang diperoleh dari adonan tepung
terigu yang diragikan dengan ragi roti dan dipanggang, dengan atau tanpa penambahan bahan
makanan lain dan bahan tambahan makanan yang diizinkan. Howard Miller, sejarawan makanan
dan profesor di Lipscomb University di Nashville, Tennessee, berpendapat bahwa roti beragi
pertama yang diketahui berasal dari sekitar 1.000 SM di Mesir. Namun, Rubel lebih yakin kalau
roti dengan ragi pertama kali dibuat di Mesopotamia.1
B. Pengertian fermentasi
Roti merupakan salah satu alternatif pengganti nasi. Pada umumnya roti dibuat dari
tepung terigu, air, ragi, garam, gula, lemak, susu bubuk dan pengemulsi. Ada banyak faktor
3
penentu kualitas roti salah satunya proses fermentasi. Proses fermentasi terjadi karena adanya
penambahan ragi/yeast pada roti. Ragi sendiri merupakan mikro-organisme yang berperan dalam
pengembangan roti seperti Saccharomyces cereviciae. Pada pembuatan roti, yeast ditambahkan
pada tepung terigu yang telah ditambah air. Kemudian dilakukan pengadukkan hingga merata.2
Pada proses pencampuran tersebut udara masuk ke dalam adonan sehinga akan
digunakan yeast untuk tumbuh. Hal ini akan mengakibatkan kondisi anaerob dan terjadi proses
fermentasi. Pada Kondisi air yang cukup dan adanya makanan bagi yeast (khususnya gula) maka
yeast akan tumbuh dengan mengubah gula menjadi gas karbondioksida (CO2).3
Gas karbondioksida yang terbentuk kemudian ditahan oleh adonan sehingga adonan
menjadi mengembang ketika dibiarkan dalam keadaan tertutup pada suhu ruang.
([Link], 2008). Selama proses fermentasi selain dihasilkan gas juga dihasilkan alkohol
dan asam-asam organik. Asam-asam ini akan menyebabkan penurunan pH adonan . Adanya
pembentukkan alkohol dan penurunan pH secara langsung akan berperan sebagai pembentuk
flavor dan rasa roti (Rukmana, 2001)
Penentuan lamanya waktu pengembangan sebenarnya tidak bisa dipatokkan oleh waktu,
karena bisa lebih cepat dari waktu yang ditentukan, dan juga bisa lebih lama. Menurut
Mudjajanto dan Yulianti (2004), kondisi ideal pada proses fermentasi harus diperhatikan seperti
suhu ruangan yang berkisar 35oC dan kelembaban udara 75%. Semakin panas suhu ruangan,
semakin cepat proses fermentasi dalam adonan roti. Sebaliknya, semakin dingin suhu ruangan
maka semakin lama proses fermentasinya. Kondisi-kondisi tersebut harus diperhatikan karena
akan berpengaruh terhadap bentuk, flavor dan rasa pada roti. Pada umumnya kualitas roti yang
4
baik memiliki volume yang cukup, bentuk simetris dan permukaan kulit roti tipis serta bewarna
cokelat keemasan.
C. Alat dan bahan
Alat Bahan
1. Wadah 1. Susu full cream 200ml
2. Spatula 2. Ragi 6 gram
3. Cetakan croffle 3. Gula pasir ½ kg
4. Bungkus Plastik 4. Tepung terigu 290 gram
5. Garam ½ sdt
6. Mentega 150 gram
D. Tahapan Pembuatan Croffle
1. Masukkan ragi dan gula ke dalam susu, hal tersebut bertujuan untuk menguji keaktifan
ragi. aduk lalu tutup dengan plastic wrap, diamkan selama 5-10 menit. Jika, muncul
gelembung berarti ragi tersebut aktif.
2. Siapkan mangkuk yang berbeda, dan masukan tepung terigu dan garam, lalu di aduk dan
masukan campuran ragi, uleni adonan hingga menyatu selama 5 menit.
3. Olesi mangkuk dengan sedikit minyak, masukkan adonan, tutup adonan agar tidak ada
udara yang masuk, lalu diamkan selama 1 jam hingga adonan mengembang.
4. Siapkan talenan atau meja, taburi dengan tepung terigu, lalu pipihkan adonan hingga
membentuk persegi panjang.
5. Masukkan mentega, keatas adonan dan olesi hingga rata, lalu belah menjadi empat
bagian.
5
6. Adonan yang sudah di belah, ditumpuk kemudian di lipat.
7. Simpan dalam freezer selama 45 menit, agar adonan tidak terlalu lembek.
8. Keluarkan dari freezer, pipihkan memanjang lalu bagi menjadi 10 bagian hingga
berbentuk segitiga.
9. Ambil satu persatu adonan, belah tengah bagian bawah, tarik kemudian gulung, lakukan
hingga seluruh adonan habis.
10. Diamkan adonan selama 15-20 menit hingga mengembang.
11. Olesi dengan air lalu masukkan ke dalam gula.
12. Panaskan cetakan croffle, masukkan croffle panggang hingga kecoklatan
13. Croffle siap disajikan.
E. Fungsi penambahan ragi pada pembuatan croffle
Ragi berfungsi untuk memfermentasi karbohidrat dan menghasilkan CO2 (karbon
dioksida) dan menciptakan alkohol dalam tepung. Adonan roti atau kue akan mengembang
karena CO2 yang terperangkap dalam gluten (zat dalam tepung).
6
BAB III
SIMPULAN
Metode yang dapat digunakan pada pembuatan roti croffle adalah metode fermentasi
Penambahan ragi berfungsi untuk memfermentasi karbohidrat dan menghasilkan CO2 (karbon
dioksida) dan menciptakan alkohol dalam tepung. Bahan yang digunakan untuk membuat roti
croffle di antaranya , 200ml. susu full cream hangat, 6 gram Ragi, ½ kg gula pasir, 290 gram
tepung terigu, ½ sdt garam,150 gram mentega. Alat pembuatan roti croffle yang digunakan di
antaranya, wadah, spatula, cetakan, croffle, bungkus plastik.
7
DAFTAR PUSTAKA
1. KBBI. “ Pengertian Roti Menurut KBBI”. .
2. Mudjajanto E.S dan L.N Yulianti. 2004. Membuat Aneka Roti. Jakarta: Penebar
Swadaya.
3. Rukmana dan Yuniarsih.2001. Cara pembuata Roti .Yogyakarta :Kanisius
4. Suprihatin. 2010. “Pengertian Fermentasi’.
8
9