0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan61 halaman

Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut merangkum pemikiran filosofis pendidikan Ki Hajar Dewantara tentang dasar-dasar pendidikan.

Diunggah oleh

Nurul Mahbubah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan61 halaman

Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut merangkum pemikiran filosofis pendidikan Ki Hajar Dewantara tentang dasar-dasar pendidikan.

Diunggah oleh

Nurul Mahbubah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SOSIALISASI MODUL 1

REFLEKSI FILOSOFIS PENDIDIKAN


KI HAJAR DEWANTARA

TRI YUNIARTI
SD MUHAMMADIYAH 1 KETELAN SURAKARTA

CALON GURU PENGGERAK


ANGKATAN 4
KOTA SURAKARTA
SALAM
&
BAHAGIA
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Damai Sejahtera, Om
Swastyastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan, Rahayu untuk kita
semua"
REFLEKSI FILOSOFIS PENDIDIKAN
KI HADJAR DEWANTARA

Kamis, 30 Desember 2021


DASAR-DASAR PENDIDIKAN
KI HADJAR DEWANTARA
1. DASAR PENDIDIKAN KHD - MENUNTUN
“Maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan
kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat
mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-
tingginya baik sebagai manusia, maupun anggota
masyarakat”
(KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan, hal.1, paragraph 4)
1. DASAR PENDIDIKAN KHD - MENUNTUN

“Pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya


kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat
memperbaiki lakunya hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat
anak” (KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan, hal.1, paragraph 5)
1. DASAR PENDIDIKAN KHD – MENUNTUN

Ing Ngarso
Sung
Tulodo

Selamat dan
Bahagia
sebagai
manusia dan
anggota
Ing M adyo
Tut Wuri masyarakat Mangun
Handayani
Karso
2. DASAR PENDIDIKAN KHD – KODRAT ANAK - MERDEKA
“Pengaruh pengajaran itu umumnya
memerdekakan manusia atas hidupnya lahir,

sedang merdekanya hidup batin


itu terdapat dari pendidikan.”

▪ Merdeka batin - Pendidikan

▪ Merdeka lahir – Pengajaran

[KHD, Prasaran #5 Kongres PPPKI ke-1, Surabaya, 31 Agustus 1928]


2. DASAR PENDIDIKAN KHD – KODRAT ANAK - BERMAIN

▪ Bermain adalah salah satu kodrat anak


▪ Pikiran-Perasaan-Kemauan-Tenaga (Cipta-Rasa-
Karsa/Karya-Pekerti) sudah ada pada diri anak
▪ Permainan anak dapat menjadi bagian pembelajaran
di sekolah
2. DASAR PENDIDIKAN KHD – BERMAIN

Gobak Sodor –Nilai - Strategi

Congklak – Matematika - Strategi


3. PENDIDIKAN YANG BERPIHAK PADA ANAK
“Bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, bukan untuk meminta
sesuatu hak, melainkan untuk berhamba pada sang anak.” (Ki Hajar Dewantara, 1922)”
[Asas Taman Siswa ke-7, diparafrasakan Profesor Sardjito, Rektor Universitas Gajah Mada di penganugrahan Doktor
Honoris Causa kepada Ki Hajar Dewantara di bidang Ilmu Kebudayaan, Desember 1956.]

Blog Pak Iwan Syahril: [Link]


berhamba-pada-sang-anak?page=all

Pokoknya pendidikan harus terletak di dalam pangkuan ibu bapak karena hanya dua
orang inilah yang dapat “berhamba pada sang anak” dengan semurni-
murninya dan se-ikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasihnya kepada anak-anaknya boleh
dibilang cinta kasih tak terbatas (Karya Ki Hajar Dewantara, Pendidikan, halaman 382 – Buku
Kuning)
3. PENDIDIKAN YANG BERPIHAK PADA ANAK

’Kowe bakale dak mulya ake selawase’


(selamanya engkau akan aku muliakan)
3. PENDIDIKAN YANG BERPIHAK PADA ANAK
Pemikiran tentang berhamba pada anak itu tercetus dari suatu penyesalan yang
pernah dirasakan oleh Soewardi ketika menghadapi setumpuk pekerjaan yang
belum terselesaikan. Tangis Asti yang tiada henti-hentinya dirasakan sebagai suatu
hambatan yang mengganggu tugasnya. Lalu dengan serta merta diseretnya anak
itu keluar, dan tanpa berpikir panjang, dibiarkannya Asti kecil menangis di balik
hempasan pintu rumah. Salju yang berjatuhan di jendela tiba-tiba menyadarkan
kekalutan pikirannya. Dia lari secepatnya, lalu dibukanya pintu . . . dan Asti sudah
tampak biru, menggigil kedinginan. Soewardi menyesal, sangat menyesal. Sambil
memeluk anaknya yang sedang tersengal-sengal berurai air mata itu, terucaplah
kata kasih sepenuh hati: “Kowe bakale dak mulya ake selawase” Arinya: “Selamanya
engkau akan aku muliakan.” Tuhan mendengar kata umat-Nya. Apa yang akan
terjadi, terjadilah. Asti tidak pernah dapat mengurus dirinya sendiri hingga
sekarang;seluruh keluarga selalu berusaha untuk dapat melayani keperluannya.
Pengalaman Soerwardi menjadi salah satu teori Pendidikan dalam perguruan yang
dicita-citakan. (Irna H.N. Hadi Soewita, Soewardi Soerjaningrat dalam Pengasingan, 2019, hal.95-96)
NI ASTI
3. PENDIDIKAN YANG BERPIHAK PADA ANAK

untuk berhamba pada sang anak.– Pendidikan yang


Berpihak/Berpusat pada M urid
4. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUKAN TABULA RASA
“A nak bukan kertas kosong yang bisa digambar sesuai
keinginan orang dewasa”

Anak lahir dengan kekuatan kodrat yang masih samar-


samar. Tujuan Pendidikan adalah menuntun
(memfasilitasi/membantu) anak untuk menebalkan garis
samar-samar agar dapat memperbaiki lakunya untuk menjadi
manusia seutuhnya. (KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan)

Pertanyaannya: bagaimana menebalkannya?


4. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUKAN TABULA RASA
Menebalkan laku anak dengan kekuatan konteks diri anak:
Tahapan Pembelajaran Sanggar Anak Alam - Yogyakarta PELAJAR MANDIRI
Tingkat SM A:
orientasi pilihan
M emperdalam & hidup/ passion
memperluas Konteks
M engenal & 5/10 ke depan
(keterampilan
menguasai Teks
Ekplorasi bertanya) ≥ 4 SD
SD 1 - 3
pengalaman (raga, Pengenalan Riset/Proyek Riset durasi semakin
indra,imaginasi) – durasi pendek (1 minggu, panjang (1 smt)
dapat berkelompok) Dilakukan mandiri/
Taman Indria PAUD
kolaborasi

WIRAGA (0-8 Tahun)


WIRAGA-WIRAMA WIRAGA-WIRAMA WIRAMA
(8-16 Tahun) (8-16 Tahun) 16 - 24Tahun)
4. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUKAN TABULA RASA
Menebalkan laku anak dengan kekuatan konteks diri anak:
5. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUDI PEKERTI

“Budi pekerti, watak, karakter adalah bersatunya (perpaduan


harmonis) antara gerak pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan
sehingga menimbulkan tenaga/semangat” (KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan,
hal.6, paragraph 3)

Budi: pikiran-perasaan-kehendak/kemauan
Pekerti: tenaga

Cipta + Rasa + Karsa/Karya + Pekerti (tenaga) → Keseimbangan (keselarasan)


Hidup
Contohnya pada permainan Gamelan & Menenun
5. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUDI PEKERTI
5. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUDI PEKERTI
5. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUDI PEKERTI

Cipta + Rasa + Karsa/Karya + Pekerti (tenaga) → Keseimbangan (keselarasan) Hidup


6. DASAR PENDIDIKAN KHD – PETANI

. . .seorang petani (dalam hakikatnya sama kewajibannya dengan


seorang pendidik) yang menanam jagung misalnya, hanya dapat
menuntun tumbuhnya jagung, ia dapat memperbaiki kondisi
tanah, memelihara tanaman jagung, memberi pupuk dan air,
membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup
tanaman padi dan lain sebagainya. (KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan,
hal.2, paragraph 1)
7. REFLEKSI FILOSOFIS PENDIDIKAN KHD – PESAN KUNCI

Masa Depan – murid Humanis (penuh kasih sayang,hati


yang bersih,jujur) yang Selamat & Bahagia (student
wellbeing)
Masa Kini – Pendidikan Gotong Royong
(Kolaboratif – Reflektif – Kritis)

Masa Lampau – Pendidikan yang


Menuntun
8. REFLEKSI FILOSOFIS PENDIDIKAN KHD – PESAN KUNCI
1. “Guru dan murid berkolaborasi untuk menginisiasi/menciptakan
kedalaman (rasa takdjub dan kasmaran) spiritual, intelektual dan
sosial untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia ”
(Pengembang Modul 1.1)

2. Siswa dan guru merdeka belajar yang berkolaborasi bersama


menggali dan mengembangkan potensi siswa dan mengakomodasi
karakteristik masing-masing untuk mewujudkan student
wellbeing (Ngakan Putu Suarjana (Pengawas) – Dinas Pendidkan Karangasem, Bali
(catatan: kata wellbeing dalam bahasa KHD – Selamat dan Bahagia; di Program
Gubernur Jawa Barat,Jabar Masagi disebut BAGDJA )
Nilai-nilai dan Peran Guru Penggerak
PERAN
lingkaran lingkaran DALAM
MELAKUKAN
kepedulian perhatian
PERUBAHAN

lingkaran
pengaruh
DIMENSI
DALAM
LINGKUNGAN & MASYARAKAT LINGKARAN
PENGARUH

INSTITUSI ➔ Relasi
➔ Komunikasi
➔ Kolaborasi
ORANG LAIN ➔ Kontribusi

DIRI
KODRAT: TAHAP TUMBUH-KEMBANG (PSIKOSOSIAL) ERIK ERIKSON

Identitas vs.
Kepercayaan vs. Otonomi vs. Inisiatif vs. Produktivitas vs. Kebingungan Keintiman vs.
Ketidakpercayaan Rendah diri Rasa bersalah Inferioritas peran Isolasi

HARAPAN TEKAD TUJUAN KOMPETEN LOYALITAS CINTA

0-1.5 tahun 1.5-3 tahun 3-5 tahun 5-12 tahun 12-18 tahun 18-40 tahun
KODRAT: TAHAP TUMBUH-KEMBANG (WIRAGA-WIRAMA) KHD
0-8 TAHUN 9-16 TAHUN 17-24 TAHUN

WIRAGA
raga, indera, imajinasi,
bermain=belajar, eksplorasi
pengalaman (rasa-pikir)

WIRAMA
tanggung jawab, pembiasaan, irama
keseharian, jadwal rutin, selaras
dengan sesama dan semesta

Taman indria,
SD, SMP SMP, SMA SMA+
TK/PAUD, SD
56 DELTAS* (*Distinct Elements of Talent dalam Dondi et al, Juni 2021,
p.3)
Membiasakan berpikir
lambat itu sulit tetapi
tidak mustahil. Kuncinya,
harus terus dicoba dan
diupayakan.
Modul 1.3 VISI GURU PENGGERAK

“ANAK-ANAK HIDUP DAN TUMBUH SESUAI KODRATNYA SENDIRI.


PENDIDIK HANYA DAPAT MERAWAT DAN MENUNTUN
TUMBUHNYA KODRAT ITU.”
(KI HAJAR DEWANTARA)
Mengelola Perubahan yang Positif
➢Menjadikan sekolah ➢Perlu perubahan yang mendasar
dan upaya yang konsisten. Inilah salah
sebagai rumah yang aman,
satu tujuan visi, yaitu untuk mencapai
nyaman dan bermakna bagi perubahan yang lebih baik dari
murid sepertinya sudah kondisi saat ini. Visi membantu kita
menjadi hal yang umum untuk melihat kondisi saat ini sebagai
diinginkan semua pihak. garis “start” dan membayangkan garis
“finish” seperti apa yang ingin
dicapai.
PERUBAHAN YANG POSITIF DAN KONSTRUKTIF DI SEKOLAH BIASANYA
MEMBUTUHKAN WAKTU DAN BERSIFAT BERTAHAP. OLEH KARENA ITU,
SEBAGAI PEMIMPIN, GURU HENDAKNYA TERUS BERLATIH MENGELOLA DIRI
SENDIRI SAMBIL TERUS BERUPAYA MENGGERAKKAN ORANG LAIN YANG
BERADA DI DALAM PENGARUHNYA UNTUK MENJALANI PROSES PERUBAHAN
INI BERSAMA-SAMA. HAL INI PERLU DILAKUKAN DENGAN NIATAN BELAJAR
YANG TULUS DEMI MEWUJUDKAN VISI SEKOLAH. MEWUJUDKAN VISI SEKOLAH
DIPERLUKAN PENDEKATAN ATAU PARADIGMA SEBAGAI ALAT UNTUK
MENCAPAI TUJUANNYA.
Untuk mencapai visi yang kita impikan……

Kita akan mengeksplorasi paradigma yang


disebut Inkuiri Apresiatif (IA). IA dikenal
sebagai pendekatan manajemen
perubahan yang kolaboratif dan berbasis
kekuatan. Konsep IA ini pertama kali
dikembangkan oleh David Cooperrider
(Noble & McGrath, 2016).
IA menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi positif
dan pendidikan positif.
➢ Pendekatan IA percaya ➢ Dengan demikian, dalam
bahwa setiap orang memiliki implementasinya, IA dimulai
inti positif yang dapat dengan menggali hal-hal positif,
memberikan kontribusi keberhasilan yang telah dicapai dan
pada keberhasilan. Inti kekuatan yang dimiliki organisasi,
positif ini merupakan sebelum organisasi menapak pada
potensi dan aset organisasi. tahap selanjutnya dalam melakukan
perencanaan perubahan.
DI SEKOLAH, PENDEKATAN IA DAPAT DIMULAI DENGAN
MENGIDENTIFIKASI HAL BAIK APA YANG TELAH ADA DI
SEKOLAH, MENCARI CARA BAGAIMANA HAL TERSEBUT
DAPAT DIPERTAHANKAN, DAN MEMUNCULKAN STRATEGI
UNTUK MEWUJUDKAN PERUBAHAN KE ARAH LEBIH BAIK.
Inilah langkah-langkah yang perlu kita ikuti dalam menerapkan
perubahan sesuai dengan visi yang kita telah impikan berdasarkan
tahapan BAGJA.

Tahap pertama, Buat Pertanyaan Utama.


Tahap kedua, Ambil Pelajaran.
Tahap ketiga, Gali Mimpi.
Tahap keempat, Jabarkan Rencana.
Tahapan terakhir, Atur Eksekusi.
Modul 1.4 BUDAYA POSITIF
Eksplorasi konsep untuk Budaya positif terdiri dari beberapa bagian
yaitu.
➢Perubahan Paradigma -Stimulus Respon lawan Teori Kontrol
➢Arti Disiplin dan 3 Motivasi Perilaku Manusia
➢Keyakinan Kelas, Hukuman dan Penghargaan
➢Lima (5) Kebutuhan Dasar Manusia
➢Lima (5) Posisi Kontrol
➢Segitiga Restitusi
Untuk membangun budaya yang positif, sekolah
perlu menyediakan lingkungan yang positif,
aman, dan nyaman agar murid-murid mampu
berpikir, bertindak, dan mencipta dengan
merdeka, mandiri, dan bertanggung jawab. Salah
satu strategi yang perlu ditinjau ulang adalah
bentuk disiplin yang dijalankan selama ini di
sekolah-sekolah kita.
BAPAK DAN IBU GURU, SETELAH MEMAHAMI PERBEDAAN
TEORI STIMULUS RESPONS DAN TEORI KONTROL PADA
PEMBAHASAN SEBELUMNYA, SEKARANG MARI KITA
BELAJAR TENTANG KONSEP DISIPLIN POSITIF YANG
MERUPAKAN UNSUR UTAMA DALAM TERWUJUDNYA
BUDAYA POSITIF YANG KITA CITA-CITAKAN DI SEKOLAH-
SEKOLAH KITA.
Konsep Disiplin Positif dan Motivasi

Makna Kata Disiplin


Kata “disiplin” juga sering dihubungkan dengan
hukuman, padahal itu sungguh berbeda, karena
belajar tentang disiplin positif tidak harus dengan
memberi hukuman, justru itu adalah salah satu
alternatif terakhir dan kalau perlu tidak digunakan
sama sekali.
Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara menyatakan
bahwa
“dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang
kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat ”self discipline” yaitu
kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya,
tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan
self discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita.
Dan peraturan demikian itulah harus ada di dalam suasana
yang merdeka.
SEBAGAI PENDIDIK, TUJUAN KITA ADALAH MENCIPTAKAN
ANAK-ANAK YANG MEMILIKI DISIPLIN DIRI SEHINGGA
MEREKA BISA BERPERILAKU DENGAN MENGACU PADA
NILAI-NILAI KEBAJIKAN UNIVERSAL DAN MEMILIKI
MOTIVASI INTRINSIK, BUKAN EKSTRINSIK.
Keyakinan Kelas

Keyakinan kelas sebagai fondasi dan arah


tujuan sebuah sekolah/kelas, yang akan
menjadi landasan dalam memecahkan konflik
atau permasalahan di dalam sebuah
sekolah/kelas.
Pemenuhan Kebutuhan Dasar

Setiap tindakan murid dilakukan untuk


memenuhi kebutuhan dasar mereka. Bapak
ibu guru memahami bahwa kebutuhan dasar
setiap murid akan berbeda-beda dan agar
menjadi individu yang selamat dan bahagia,
kebutuhan dasar harus terpenuhi secara
positif.
Segitiga Restitusi

Guru Penggerak memahami restitusi sebagai salah satu cara menanamkan disiplin
positif pada murid sebagai bagian dari budaya positif di sekolah.

Proses ini meliputi tiga tahap dan setiap Ketiga strategi tersebut direpresentasikan dalam 3 sisi
tahapnya berdasarkan pada prinsip penting segitiga restitusi. Langkah-langkah itu tidak harus
dari Teori Kontrol, yaitu dilakukan satu persatu. Banyak guru yang sudah
menggunakannya dalam berbagai versi menurut gaya
mereka masing-masing bahkan tanpa mengetahui
tentang teori restitusi.
TERIMA KASIH

SALAM & BAHAGIA

Anda mungkin juga menyukai