Australasian Triage Scale (ATS)
Definisi
Konsep triase lima kategori berkembang sekitar tahun 1980 di
Rumah Sakit Ipswich, Queensland, Australia. Konsep yang sama juga
dikembangkan di rumah sakit Box Hill, Victoria, Australia. Pembagian
kategorian ini berdasarkan kategori kesegeraan (urgency) dari kondisi
pasien. Validasi sistim triase ini menunjukkan hasil yang lebih baik dan
konsisten dibandingkan triase konvensional dan mulai di adopsi unit gawat
darurat di seluruh Australia. Sistim nasional ini disebut dengan National
Triage Scale (NTS) dan kemudian berubah nama menjadi Australia Triage
Scale (ATS) (Fitzgerald et al, 2010).
Nash (2011), Forero & Nugus (2012) mengkategorikan ATS
didasarkan pada lamanya waktu klien menerima tindakan. Skala prioritas
pada ATS dibagi menjadi 5 skala ATS 1 harus segera ditangani (prosentase
prioritas 100%), ATS 2 maksimal waiting time 10 menit (prosentase prioritas
80%), ATS 3 maksimal waiting time 30 menit (prosentase prioritas 75%), ATS
4 maksimal waiting time 60 menit (prosentase prioritas 70%), ATS 5
maksimal waiting time 120 menit (prosentase prioritas 70%). Waiting time
yang melebihi 2 jam menunjukkan terjadinya kegagalan akses dan kualitas
pelayanan.
Area triage harus dilengkapi dengan peralatan darurat, fasilitas
kewaspadaan standar seperti fasilitas cuci tangan, sarung tangan, prosedur
keamanan (alarm atau akses bantuan keamanan), perangkat komunikasi
1
yang memadai (telepon dan atau intercom dan lain-lain) dan fasilitas untuk
merekam informasi dan pendokumentasian di triage (Australasian College
for Emergency Medicine, 2012).
Australian Triage Scale (ATS) mulai berlaku sejak tahun 1994,
didesain ruang emergency rumah sakit New Zealand Australia dan terus
mengalami perbaikan. Saat ini sudah ada kurikulum resmi dari kementerian
kesehatan Australia untuk pelatihan ATS sehingga dapat diterapkan sesuai
standar oleh perawat-perawat triase. Konsep ATS ini kemudian menjadi
dasar berkembangnya sistim triase di Inggris dan Kanada (Robertson, 2016).
ATS memberikan batasan waktu berapa lama pasien dapat
menunggu sampai mendapatkan pertolongan pertama selain menetapkan
prioritas pasien yang berbeda dari fungsi awal pembentukan kategorian
triase. Sistim ATS juga membuat pelatihan khusus triase untuk pasien- pasien
dengan kondisi tertentu seperti pasien anak-anak, pasien geriatri, pasien
gangguan mental. (Christ et al, 2010)
Perawat gawat darurat di Australia melakukan proses triase dan
Australia memiliki pelatihan resmi triase untuk perawat dan dokter karena
triase sangat diperlukan untuk alur pasien dalam IGD yang lancar dan aman,
tujuan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan konsistensi peserta dalam
menetapkan kategori triase dan menurunkan lama pasien berada di IGD
(Ebrahimiet al, 2015)..
Sistim triase ATS dikembangkan mekanisme penilaian khusus
kondisi urgen untuk pasien-pasien pediatri, trauma,triase di daerah
2
terpencil, pasien obstetri, dan gangguan perilaku untuk memudahkan trier
(orang yang melakukan triase) mengenali kondisi pasien, maka ATS terdapat
kondisi-kondisi tertentu yang menjadi deskriptor klinis. Deskriptor ini
bertujuan memaparkan kasus-kasus medis yang lazim dijumpai sesuai
dengan kategori triase sehingga memudahkan trier menetapkan kategori
(Australian Government Department of Health and Aging, 2009)
Konsep Triage
Definisi Triage
Triage berasal dari kata perancis yang berarti menyeleksi. Dulu
istilah ini dipakai untuk menyeleksi buah anggur untuk membuat minuman
anggur yang bagus atau memisahkan biji kopi sesuai kualitasnya. Konsepnya
semakin berkembang seperti yang digunakan sekarang ini ditetapkan setelah
perang dunia I
Farrohknia (2011) menyatakan bahwa triase merupakan suatu
konsep pengkajian yang cepat dan berfokus dengan suatu cara yang
memungkinkan pemanfaatan sumber daya manusia, peralatan serta fasilitas
yang paling efisien dengan tujuan untuk memilih atau menggolongkan
semua klien yang memerlukan pertolongan dan penetapan prioritas
penanganannya. Pusponegoro (2011) mengartikan triase merupakan
turunan dari bahasa perancis trier dan bahasa inggris triage yang artinya
dalam bahasa Indonesia adalah sortir.
Triase merupakan suatu proses khusus memilah klien berdasarkan
beratnya cidera atau penyakit untuk menenetukan jenis perawatan gawat
3
darurat. Istilah ini lazim digunakan untuk mendiskripsikan konsep pengkajian
yang tepat dan berfokus dengan suatu cara yang memanfaatkan sumber
daya manusia dengan peralatan serta fasilitas yang paling efisien terhadap
100 juta orang yang memerlukan perawatan di IGD setiap tahunnya (Moll,
2010).
Prinsip-prinsip Triage
Brooker 2008 membagi triage dalam prioritas yaitu penentuan atau
penyeleksian penanganan sesuai dengan kategori ancaman jiwa
berdasarkan 1) ancaman jiwa yang dapat mematikan dalam hitungan menit;
2) dapat mati dalam hitungan jam; 3) trauma ringan; 4) sudah meninggal.
Penilaian korban pada sistim triage dapat dilakukan dengan menilai tanda
vital dan kondisi umum korban, kebutuhan medis, kemungkinan bertahan
hidup, bantuan yang memungkinkan, memprioritaskan penanganan
definitive dan tag warna. Prinsip triage adalah time saving is life saving
(waktu keselamatan adalah keselamatan hidup), the right patient to the right
place at the right time with right care provider.
Adapun prinsip-prinsip triage menurut Australasian College for
Emergency Medicine.(2013) sebagai berikut:
a. Triage seharusnya dilakukan segera dan tepat waktu
Kemampuan berespon dengan cepat terhadap kemungkinan penyakit
yang mengancam kehidupan atau injuri adalah hal yang terpenting di
departemen kegawat daruratan (Santosa, 2016)
4
b. Pengkajian seharusnya adekuat dan akurat
Elemen terpenting dalam proses pengkajian adalah ketelitian dan
keakuratan dari proses interview (Nursalam, 2008)
c. Keputusan dibuat berdasarkan pengkajian
Perencananan yang efektif terhadap keselamatan dan perawatan
klien didapatkan dari informasi adekuat dengan data akurat (Dadahzadeh
et al, 2013)
d. Melakukan intervensi berdasarkan keakutan dan kondisi
Perawat triage mempunyai tugas utama dalam keakuratan
pengkajian dan menentukan prioritas untuk klien termasuk intervensi
teraupetik, prosedur diagnostik, tugas yang diterima untuk pengobatan
(Chen, 2010)
e. Tercapainya kepuasan klien (Saiboon, 2008)
Kepuasan klien dapat dicapai setelah memenuhi kriteria:
1. Perawat triage seharusnya memenuhi semua yang ada di atas tersebut
saat menetapkan hasil secara komprehensif dengan klien
2. Perawat membantu dalam menghindari keterlambatan penanganan
yang dapat menyebabkan keterpurukan status kesehatan klien dengan
keadaan kritis
3. Perawat memberikan dukungan emosional kepada klien dan keluarga
5
Aplikasi Triase menurut Australian Triage Scale (Forero & Nugus, 2012)
Kategor Respon Indikator kategori Indikator
i ATS klinis
ATS 1 Pengkajian Segera mengancam kehidupan - Gagal jantung
dan Kondisi yang mengancam terhadap - Gangguan pernapasan
kehidupan (atau risiko besar akan - Sumbatan jalan nafas
intervensi - Frekuensi pernapasan <10/min
pengobatan harus kerusakan ) dan memerlukan - Distress pernapasan berat
intervensi yang segera - Tekanan darah <80 (dewasa) atau syok pada
segera dilakukan anak/bayi
- Tidak responsif atau hanya respon nyeri (GCS < 9)
- Berkelanjutan/kejang berkepanjangan
- IV overdosis dan tidak responsive atau
hipoventilasi
- Gangguan perilaku berat dengan ancaman
langsung kekerasan berbahaya
ATS 2 Pengkajian Dapat mengancam hidup dalam Risiko gangguan jalan napas
waktu dekat - Stridor parah atau mengeluarkan air liyr
dan intervensi Kondisi klien cukup serius dengan distress
pengobatan yang atau memburuk sangat - Distress pernapaan
dimulai setelah 10 cepat sehingga ada potensi ancaman berat Perubahan sirkulasi
- Berkeringat atau belang-belang kulit, perfusi
menit hidup atau kegagalan sistim organ jika buruk
tidak diobati dalam waktu 10 menit - HR<50 atau >150 (dewasa)
dari kedatangan Pengobatan dalam - Hipotensi dengan efek hemodinamik
waktu kritis - Kehilangan darah yang parah
Potensi untuk pengobatyan dalam Nyeri dada seperti gangguan jantung
waktu kritis (misalnya trombolisis, umumnya Nyeri hebat
penangkal) untuk membuat dampak BSL<2 mmol/L
Mengantuk, penurunan kesadaran dengan penyebab
yang signifikan terhadap klinis (GCS
hasilnya tergantung pada <13)
6
pengobatan yang dimulai dalm Hemiparesis akut/disfasia
waktu beberapa menit kedatangan Demam dengan tanda-tanda kelesuan (semua usia)
klien di IGD Nyeri Hebat Asam atau splash alkali yang mengenai mata sehingga
Nyeri yang sangat parah atau nyeri membutuhkan irigasi
dalam waktu 10 menit yang tidak
berkurang
setekah diberikan tindakan untuk
7
menurunkan nyeri Trauma multi besar yang memburtuhkan respon
cepat tim teroganisir
Trauma lokal berat-patah tulang besar,
amputasi Riwayat resiko tinggi
- Memum obat penenang beracun yang signifikan
- Envenomation yang berbahaya
- Nyeri pberat menunjukkan PE, AAA atau
kehamilan ektopik
Perilaku /psikiatri
- Kekerasan atau agresif
- Ancaman langsung terhadap diri sendiri atau
orang lain
- Membutuhkan atau telah diperlukan menahan
diri
- Agitasi atau agresi berat
ATS 3 Pengkajian Berpotensi mengancam hidup - Hipertensi berat
Kondisi klien dapat berlanjut ke - Kehilangan cukup banyak darah
dan intervensi kehidupan atau mengancam apapun penyebabnya
- Sesak napas sedang
pengobatan yang ekstrimitas atau dapat menyebabkan - Saturasi O2 90-95%
dimulai 30 menit morbiditas yang signoifikan jika - BSL>16 mmol/L
penilaian dan pengobatan tidak - Kejang
dimulai dalm waktu 30 menit - Demam pada klien dengan imunosupresi missal
Kegawatan Situasional klien onkologi, steroid reaction
Ada potensi untuk hasil yang - Muntah terus menerus
merugikan jika waktu kritis - Dehidrasi
pengobatan tidak dimulai dalam - Kepala cedera dengan LOC singkat-
waktu 30 menit atau menghilangfkan sekarang waspada
ketidaknyamanan berat atau tekanan - Nyeri sedang sampai berat apapun
dalam waktu 30 menit penyebabnya yang membutuhkan analgetik
- Nyeri dada non-jantung keparahan dan mungkin
8
mobilisasi
- Nyeri perut tanpa efek beresiko tinggi dengan
mod parah atau klien usia > 65 tahun
- Cidera ekstremitas moderat seprti
deformitas, laserasi yang parah, luka lecet
-
Periode tidak ada nadi
9
- Trauma dengan riwayat penyakit beresiko
tinggi tanpa risiko tinggi lainnya
- Neonates stabil
- Anak
beresiko
Perilaku/Psikiatri
- Sangat tertekan, resiko menyakiti diri
- Psikotik akut atau disorder penuh
- Situasional krisis, merugikan diri dengan sengaja
- Gelisah/menarik diri/berpotensi agresif
-
ATS 4 Penilaian Berpotensi mengancam hidup - Perdarahan ringan
Kondisi klien dapat berlanjut ke - Aspirasi benda asing tidak ada
dan intervensi kehidupan atau mengancam atau gangguan pernapasan
pengobatan yang dapat menyebabkan morbiditas yang - Cedera dada tanpa rasa sakit tulang rusuk atau
dimulai setelah 60 signifikan jika penilaian dan gangguan pernapasan
- Kesulitan menelantidak ada gangguan
menit pengobatan tidak dimulai dalam pernapasan
waktu 60 menit kedatangan - Cedera kepala ringan tidak hilang kesadaran
Kegawatan situasional - Nyeri sedang beberapa factor resiko
Ada potensi untuk hasil yang - Muntah atau diare tanpa dehidrasi
merugikan jika waktu kritis - Peradangan mata atau benda asing penglihatan
pengobatan tidak dimulai dalam normal
waktu 30 menit - Trauma ekstrimitas minor-pergelangan kaki
Adanya intervensi untuk terkilir, mungkin patah tulang, laserasi robek
menghilangkan ketidaknyamanan yang membutuhkan bantuan tindakan atau
berat atau tekanan dalam waktu 30 intervensi- tanda-tanda vital normal, nyeri
menit rendah sedang
Berpotensi serius - Nyeri kepala tanpa gangguan neurovaskuler
- Bengkak “ panas” pada sendi
Kondisi klien mungkin memburuk
10
atau hasil buruk bias terjadi jika - Nyeri perut non
penilaian dan pengobatan tidak spesifik Perilku/psikiatri
dimulai dalam waktu 1 jam tiba di IGD - Masalah mental kesehatan yang semi-mendesak
Urgensi situaional - Berdasarkan pengamatan dan atau tidak ada
Ada potensi untuk hasil yang resiko segera untuk diri sendiri atau orang lain
merugikan jika waktu kritis
pengobatan tidak dimulai dalam
waktu 1 jam
Signifikasi kompleksitas atau
keparahan
Mungkin memerlukan konsultasi dan
11
manajemen rawat inap untuk
pekerjaan yang kompleks
Adanya intervensi untuk
menghilangkan ketidaknyamana atau
tekanan dalam waktu 1 jam
ATS 5 Pengkajian Kurang mendesak - Nyeri minimal denga
Kondisi klien kronis atau gejala cukup tinggi
- Riwayat penyakit d
dan intervensi kecil atau hasil klinis tidak signifikan
dan sekarang asimpt
pengobatan yang jika penilaian dan pengobatan - Gejala kecil penyakit
dimulai setelah 120 tertunda hingga 2 jam dari - Gejala kecil dengan k
menit kedatangan - Luka lecet kecil, lece
Masalah administrasi klinis memerlukan jahitan)
Hasil pengamatan, sertifikasi medis - Dijadwalkan kembal
dan resep dengan perban yang
- Imunisa
si
Perilaku/psikiat
ri
- Dikenal klien dengan
-
Social kritis baik klien
14
2.1.2 Australasian Triage Scale (ATS) Berdasarkan Tanda Gejala Dan Diagnosis Medis Di
IGD RSUD Ngudi Waluyo Wlingi
a. ATS 1
Tabel 2.2 Kriteria dan kategori ATS 1 berdasarkan tanda gejala dan diagnosis
medis di IGD RSUD Ngudi Waluyo sebagai berikut
KRITERIA ATS 1 DIAGNOSIS MEDIS
TRIAGE
KATEGORI RESUSITASI - Gagal jantung
AIRWAY Sumbatan - Gangguan pernapasan
BREATHING Henti napas - Sumbatan jalan napas
Napas <10 - Distress pernapasan berat
x/mnt Sianosis
- Tidak responsive
CIRCULATION Henti jantung
atau merespon nyeri
Nadi tak
- Kejang berkepanjangan
teraba Pucat
- IV overdosis dan
Akral dingin
tidak responsive atau
GDA < 80
hipoventilasi
mg/dl
- Dyspepsia syndrome
GDA > 200
mg/dl Kejang
Nyeri skala 8-10
DISSABILITY GCS < 9
Diagnosis medis yang termasuk pada ATS 1 pada tabel diatas dapat
dijelaskan dengan tanda dan gejala yang telah di tuliskan. Gagal jantung ditandai
dengan tanda dan gejala henti jantung dan nadi tidak teraba. Diagnosis medis
gangguan pernapasan, sumbatan jalan napas dan distress pernapasan berat ditandai
dengan tanda dan gejala adanya sumbatan jalan nafas, napas < 10 x/menit, sianosis,
akral dingin dan pucat. Diagnosis medis seperti tidak responsive atau hanya
merespo nyeri, overdosis, kejang berkelanjutan atau berkepanjangan ditandai
15
dengan penurunan kesadaran (GCS < 9), akral dingin dan kejang sedangkan diagnosis
medis dyspepsia syndrome ditunjukkan dengan nyeri skala 8-10 atau nyeri hebat
16
b. ATS 2
Tabel 2.3 Kriteria dan kategori ATS 2 berdasarkan tanda gejala dan diagnosis
medis di IGD RSUD Ngudi Waluyo sebagai berikut
KRITERIA ATS 2 DIAGNOSIS MEDIS
TRIAGE
KATEGORI EMERGENCY - Distress pernapasan berat
AIRWAY Stridor - Hipotensi dengan
BREATHING Napas ≥ 32 x/mnt efek hemodinamik
Wheezing - Hemiparesis akut/disfasia
CIRCULATION Nadi teraba lemah - Demam dengan tanda-
Nadi < 50 x/mnt tanda kelesuan
Nadi > 150 x/mnt - Fraktur mayor
Pucat / akral
dingin
Hemiparesis/
apasia CRT > 2dtk
TD sistolik < 100
mmhg Td diastolic <
60 mmHg Nyeri akut
> 8 Perdarahan akut
Multiple
trauma/fraktur
Suhu > 39 0 C
DISSABILITY GCS 9-12
Diagnosis medis yang termasuk pada ATS 2 pada tabel diatas ada 5 yang
memiliki tanda dan gejala berbeda. Distress pernapasan berat dapat ditunjukkan
dengan tanda dan gejala stridor, napas ≥ 32 x/menit dan wheezing. Diagnosis medis
hipotensi dengan efek hemodinamik mempunyai tanda dan gejala seperti Nadi
teraba lemah, Nadi < 50 x/mnt > 150 x/mnt, pucat / akral dingin Pucat / akral dingin
17
TD sistolik < 100 mmhg, TD diastolic < 60 mmHg, CRT > 2dtk, GCS 9-12. Diagnosis
medis hemiparesis akut atau disfasia ditandai dengan adanya hemiparesis/apasia.
Demam ditandai dengan tanda-tanda kelesuan dengan suhu tubuh > 39 0 C. Fraktur
mayor mempunyai tanda gejala adanya perdarahan akut dan multiple
trauma/fraktur.
c. ATS 3
18
Tabel 2.4 Kriteria dan kategori ATS 3 berdasarkan tanda gejala dan diagnosis
medis di IGD RSUD Ngudi Waluyo sebagai berikut
KRITERIA ATS 3 DIAGNOSIS MEDIS
TRIAGE
KATEGORI URGENT - Hipertensi berat
- Sesak napas sedang
AIRWAY Bebas
BREATHING Henti napas - Demam pada klien
Napas 24-30 dengan imunosupresi
x/mnt Wheezing - Cedera kepala
CIRCULATION Nadi 100-150 x/mnt - Cedera ekstrimitas
TD sistolik > 160 - Dyspepsia syndrome
mmHg TD diastolic >
100 mmHg Suhu > 38
0
C Pendarahan sedang
Muntah
Dehidrasi
Nyeri sedang skala 4-7
DISSABILITY GCS > 12
Diagnosis medis yang termasuk pada ATS 3 dapat dijelaskan dengan tanda
dan gejala yang tercantum pada table diatas. Hipertensi berat ditandai dengan tanda
dan gejala Nadi 100-150 x/mnt, TD sistolik > 160 mmHg, TD diastolic > 100 mmHg.
Sesak napas sedang ditandai dengan frekuensi napas 24-30 x/menit dan wheezing.
Demam dengan imunosupresi ditandai dengan suhu > 38 0C dan dehidrasi. Cedera
kepala ditandai dengan penurunan kesadaran GCS > 12, muntah, nyeri sedang (skala
4-7) dan pendarahan sedang. Cedera ekstrimitas ditandai dengan nyeri sedang (skala
4-7) dan pendarahan sedang. Dyspepsia syndrome ditandai dengan gejala nyeri
sedang (skala 4-7).
d. Tabel ATS 4
Tabel 2.5 Kriteria dan kategori ATS 4 berdasarkan tanda gejala dan diagnosis
medis di IGD RSUD Ngudi Waluyo sebagai berikut
19
KRITERIA ATS 4 DIAGNOSIS MEDIS
TRIAGE
KATEGORI SEMI URGENT - Cedera kepala ringan
AIRWAY Bebas - Trauma ekstrimitas minor
BREATHING Napas 16-20 x/mnt - Nyeri perut non spesifik
20
CIRCULATION Nadi 60-80 x/mnt berbahaya
Perdarahan ringan
Cedera kepala (dyspepsia syndrome)
ringan
Muntah/diare tanpa dehidrasi
Nyeri skala 0-3
DISSABILITY GCS 15
Diagnosis medis yang termasuk pada ATS 4 dapat dijelaskan dengan tanda
dan gejala yang tercantum pada table diatas. Diagnosis cedera kepala ringan
ditandai dengan GCS 15, pendarahan ringan dan nyeri ringan (skala 0-3). Diagnosis
trauma ekstrimitas ringan ditandai dengan pendarahan ringan dan nyeri ringan
(skala0-3). Diagnosis nyeri perut non spesifik berbahaya (dyspepsia sindrom)
ditandai dengan muntah dan nyeri ringan (skala 0-3).
e. ATS 5
Tabel 2.6 Kriteria dan kategori ATS 1 berdasarkan tanda gejala dan diagnosis
medis di IGD RSUD Ngudi Waluyo sebagai berikut
KRITERIA ATS 1 DIAGNOSIS MEDIS
TRIAGE
KATEGORI FALSE EMERGENCY - Nyeri minimal
AIRWAY Bebas - Luka atau lecet kecil
BREATHING Napas 16-20 x/mnt
CIRCULATION Nadi 60-80 x/mnt
Luka ringan
DISSABILITY GCS 15
Diagnosis medis yang termasuk pada ATS 5 pada tabel diatas adalah nyeri
minimal dan luka atau lecet kecil. Kedua diagnosis memiliki tanda gejala yang sama,
21
Luka atau lecet kecil ditandai dengan tanda gejala luka ringan sedangkan nyeri
minimal mempunyai tanda yang hampir sama yaitu jalan napas bebas, nadi 60-80
x/menit, GCS 15, pernapasan 16-20 x/menit
22
Analisa laporan tahunan IGD RSUD Ngudi Waluyo Wlingi tahun 2016
didapatkan jumlah kunjungan IGD sebanyak 16.008 kunjungan dengan rata-rata
kunjungan perbulan 4385 kunjungan. Jumlah kunjungan tersebut dilihat dari kategori
morbiditas dan mortalitas. Pada kategori morbiditas didadapatkan analisa penyakit
jantung sebanyak 112 kasus dengan kasus terbanyak yaitu gagal jantung 52 kasus
(46%), penyakit paru-paru sebanyak 100 kasus dengan kasus terbanyak yaitu COPD
42 kasus (42%), penyakit abdomen sebanyak 227 kasus dengan kasus terbanyak
yaitu dyspepsia syndrome 68 kasus (30%), penyakit saraf sebanyak 79 kasus dengan
kasus terbanyak yaitu cva 63 kasus (80%), penyakit metabolic sebanyak 113 kasus
dengan kasus terbanyak yaitu CKD 49 kasus (43%), perdarahan 25 kasus dengan
kasus terbanyak yaitu anemia 23 kasus (92%), kecelakaan lalu lintas sebanyak 252
kasus dengan kasus terbanyak yaitu injury 117 kasus (70%) dan kasus lain sebanyak
387 kasus dengan kasus terbanyak yaitu demam 192 kasus (50%).
Pada kategori mortalitas penyakit jantung sebanyak 65 kasus dengan kasus
terbanyak syok kardiogenik 45 kasus (69%), penyakit saraf sebanyak 70 kasus dengan
kasus terbanyak CVA 44 kasus (63%), penyakit metabolic sebanyak 43 kasus dengan
kasus terbanyak septik syok 30 kasus (70%), kecelakaan lalu lintas sebanyak 13 kasus
dengan kasus terbanyak ckb 10 kasus (77%), penyakit paru sebanyak 18 kasus
dengan kasus terbanyak ALO 8 kasus (44%), perdarahan 6 kasus dengan kasus
terbanyak syok hipovolemi 4 kasus (67%), penyakit abdomen 7 kasus dengan kasus
terbanyak peritonitis 4 kasus (67%), dan kasus lain sebanyak 5 kasus yang terdiri dari
overdosis obat, edema coli, HIV, intoksikasi dan intoksikasi methanol serta DOA
sebanyak 36 kasus. Hasil analisa tersebut mendeskripsikan bahwa IGD RSUD Ngudi
23
Waluyo Wlingi mempunyai keragaman kasus yang komplek sehingga memerlukan
sistim triage yang bisa memberikan intervensi yang cepat dan tepat.
24
2.1.3 Faktor yang mempengaruhi penerapan Australasian Triage Scale (ATS)
Australasian Triage Process Review 2011 menyatakan bahwa faktor yang
mempengaruhi penerapan Australasian Triage Scale (ATS) adalah :
a. Faktor kinerja
Kasmarani 2012 menyatakan kinerja perawatan dapat diukur dengan Six
Dimension Performance Nursing Scale yang terdiri dari enam indikator yang
diukur yaitu kepemimpinan, perawatan kritis, hubungan interpersonal atau
komunikasi, pengajaran atau kolaborasi, perencanaan dan evaluasi serta
pengembangan professional. Penelitian ini menggunakan faktor kepemimpinan
sebagai variabel independen. Kepemimpinan merupakan tehnik memfokuskan
diri untuk mencapai efektivitas dengan mempergunakan capability, capacity,
personality dan conceptual skill dalam mengimplementasikan tindakan
kepemimpinan yang nyata untuk mengembangkan ide dan kerangka pemikiran
sehingga dapat membuat keputusan organisasi dilakukan dengan baik
(Swansburg, 2011; Suhartanti, 2015)
b. Faktor klien
Joint Commision on Accreditation of Health Organization 2002 dalam
Hospital Patient Safety Standards terdapat tujuh standar keselamatan klien yaitu
hak klien, mendidik klien dan keluarga, keselamatan klien dan kesinambungan
pelayanan, penggunaan metode-metode dalam peningkatan kinerja untuk
melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan klien, peran
kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan klien, mendidik staf tentang
25
keselamatan klien dan komunikasi.
Australian Triage Process Review 2011 menyatakan bahwa aplikasi
keselamatan klien di IGD bisa dilakukan dalam bentuk fasilitas yang tersedia
seperti peralatan medis yang steril, alat injeksi yang sekali pakai, perawattriage
26
melakukan komunikasi sehingga tidak ada kesalahan dalam tindakan terhadap
klien, harus cepat dan tepat dalam menangani klien, wajib melaksanakan SOP
dalam pencegahan infeksi nosokomial.
Penelitian ini menggunakan faktor waiting time sebagai variabel
independen. Waiting time adalah waktu yang dipergunakan oleh klien untuk
mendapatkan pelayanan di IGD mulai dari tempat pendaftaran sampai masuk ke
ruang pemeriksaan dengan observasi di IGD di lakukan 2-6 jam atau sampai
kondisi pasien sudah stabil setelah di putuskan apakah di rawat di ruang intensif
atau ruang inap (Depkes RI, 2009; ENA, 2014)
c. Faktor perlengkapan (triaging tools)
Nash 2011 menyatakan faktor perlengkapan atau peralatan triage (triaging
tools), pengumpulan data (dokumentasi) subyektif dan obyektif, dukungan antar
staf baik perawat dengan perawat dan perawat dengan dokter terkait dengan
lingkungan kerja fisik dan non fisk yang mempengaruhi kinerja baik secara
langsung maupun tidak langsung.
College Of Registered Nurse Of British Colombia (CRNBC) menyatakan
lingkungan kerja yang berkualitas adalah manajemen beban kerja, kepemimpinan
keperawatan, perkembangan professional, control praktik dan dukungan
organisasi.
Indikator lingkungan kerja dapat diukur dengan Practice Environment
Scale Of The Nursing Work Index (PES-NWI) yaitu partisipasi perawat yang
berkualitas, kemampuan manajerial keperawatan, dukungan perawat, staffing,
sumberdaya kecukupan serta hubungan perawat dokter. Lingkungan kerja juga
27
dapat diukur dengan 32 indikator dari The Canadian Nurses Association (CNA,
2002) dan Canadian Federation Of Nurses Unions (CFNU, 2006).
Penelitian ini menggunakan faktor dokumentasi triase sebagai variabel
independen. Dokumentasi triase adalah serangkaian kegiatan praktik
28
keperawatan kegawatdaruratan menunjukkan bahwa perawat gawat darurat
telah melakukan pengkajian dan komunikasi, perencanaan dan kolaborasi,
implementasi dan evaluasi perawatan yang diberikan, dan melaporkan data
penting pada dokter selama situasi serius. Dokumentasi triase tersebut harus
menunjukkan bahwa perawat gawat darurat bertindak sebagai advokat pasien
ketika terjadi penyimpangan standar perawatan yang mengancam keselamatan
pasien (KEPMENKES RI, 2011).
Dokumentasi triase menggunakan pendekatan proses keperawatan yang
terdiri dari pengkajian, perumusan diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi sebagai metodeilmiah penyelesaian masalah keperawatan pada pasien
untuk meningkatkan outcome pasien. Ciri dokumentasi triase yang baik adalah
berdasarkan fakta (factual basis), akurat (accuracy), lengkap (completeness),
ringkas (conciseness), terorganisir (organization), waktu yang tepat (time liness),
dan bersifat mudah dibaca (legability) yang direvisi menjadi tiga bentuk standar
dokumentasi yaitu communication, accountability, dan safety (Potter & Perry,
2009).
d. Faktor persyaratan staff (staff requirements)
Depkes 2009 dalam Rancangan Pedoman Pelayanan Gawat Darurat
Maternal Neonatal Rumah Sakit Umum Tipe B Dan C menyatakan faktor
ketenagaan meliputi
1) Dokter umum atau peserta residen Ilmu Kesehatan Anak yang sedang jaga Di
IGD, dokter spesialis minimal dokter spesialis obstetric ginekologi, spesialis
anak, spesialis anestesidan bedah, spesialis emergency tersedia 24 jam
29
2) Kepala IGD seorang dokter/spesialis bedah yang mempunyai keahlian dalam
menangani klien kasus emergensi, harus berada ditempat bila diperlukan,
3) Spesialis Gawat Darurat yang bertugas dalam shift dan dalam keadaan
emergensi
30
4) Perawat yang terdiri dari kepala perawat IGD berpengalaman minimal 2 tahun
dan berpendidikan Sarjana Keperawatan dan mempunyai sertifikat pelatihan
pertolongan dasar emergensi. Staf perawat dalam jumlah yang cukup, terlatih
dalam CPR dan NRP dan harus ada dalam setiap shift.
5) Staf teknik medik IGD yaitu staf ambulans terlatih menangani klien sampai ke
RS
6) Staf IGD yang lain seperti porter, perawat keamanan dan perawat kebersihan
Penelitian ini menggunakan faktor pendidikan terakhir dan faktor
pelatihan
kegawatan yang diikuti oleh perawat. Emergency Nursing Association (2014)
mengembangkan pedoman kebutuhan tenaga keperawatan di ruang IGD
menyatakan bahwa keterampilan dan latar belakang pendidikan yang dimiliki
perawat akan mempengaruhi penerapan ATS.
Perawat yang baru menyelesaikan pendidikan tanpa ada pengalaman
kerja sebelumnya tidak memenuhi syarat untuk mengikuti program pendidikan
perawat triase. Triase harus dilakukan oleh perawat yang berpengalaman dengan
kompetensi khusus triage (College of Emergency Nursing Australasian, 2009).
KEPMENKES RI (2009) menyatakan bahwa kualifikasi perawat pelaksana di
IGD adalah perawat yang telah mengikuti pelatihan Emergency Nursing Basic.
e. Faktor model keperawatan
Australian Triage Process Review 2011 menyatakan model keperawatan
meliputi :
1) Fast Track merupakan model keperawatan kegawatdaruratan yang bertujuan
31
untuk mempercepat klien dengan perawatan yang urgent ataupun klien
dengan kompleksitas yang rendah yang perawatannya dimulai oleh tim klinis.
Fast Track merupakan model keperawatan untuk mengurangi waiting time
2) Emergency Short Stay Units merupakan metode keperawatan yang
memberikan penilaian, observasi dan terapi yang cepat kepada klien dalam
32
jangka pendek dan cara efektif untuk membatasi Length Of Stay di IGD 6 jam
dan klien yang memerlukan pemantauan khusus untuk jangka terbatas
3) Pediatrics units merupakan model keperawatan anak yang idealnya terpisah
denga orang dewasa
4) Psychiatric emergency care unit merupakan model keperawatan
kegawatdaruratan yang bertujuan untuk memberikan pelayanan kegawatan
jiwa yang terpisah
5) Medical surgical assessment units merupakan sebuah unit pelayanan
kegawatan yang mengobati klien penyakit dalam dan bedah
6) Aged coordination and evaluation team merupakan gabungan antara staff
perawat, terapis okupasi, fisioterapis dan pekerja sosial
7) GP units merupakan pelayanan yang menempatkan dokter umum di IGD yang
bisa ditawarkan kepada klien dengan kegawatan yang rendah
8) Early pregnancy units merupakan area pelayanan khusus untuk menangani
masalah kehamilan yang kurang dari 20 minggu kehamilan
Penelitian lain yang terkait dengan faktor yang mempengaruhi penerapan
Australasian Triage Scale antara lain kategori pengetahuan, sikap, pendidikan,
pengalaman bekerja, kepemimpinan dan kebijakan, beban kerja, pengaturan shift,
deskripsi tugas dan jumlah klien (Jansen et al.,2011;Gerdz et al.,2003;Nonutu et
al.,2015;Yanti et al.,2012;Santosa et al.,2015).
Faktor yang mempengaruhi penerapan Australasian Triage Scale terbagi
menjadi 3 yaitu faktor personil antara lain faktor kategori pengetahuan perawat,
faktor pengalaman kerja, faktor pelatihan kegawatdaruratan, faktor non personil
33
antara lain fakor rasio perawat dan jumlah klien, faktor lingkungan kerja dan
keuangan dan faktor klien antara lain faktor usia klien, faktor jenis penyakit, faktor
lama kejadian dan faktor nyeri yang dirasakan (Chen et al.,2010;Iriana et
al.,2013;Dadashzadeh et al.,2013).
34
Faktor yang mempengaruhi penerapan Australasian Triage Scale adalah
kategori pengetahuan, pelatihan, senioritas, kebijakan, jumlah kunjungan, supervise,
peralatan, reward dan kinerja keperawatan (Fitzegerald et al.,2009;Lumbanraja &
Nizma.,2011;Sulistyowati ., 2012;Prabandari., 2013). Penelitian ini menunjukkan
faktor yang mempengaruhi penerapan Australasian Triage Scale antara lain kategori
pengetahuan, sikap, pelatihan dan pengalaman kerja, rasio klien-perawat, motivasi,
peralatan, rewards (Lusiana., 201; Safari., 2012; Fathoni.,2013)
35