0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
406 tayangan35 halaman

Skala Triage ATS dalam Kesehatan

Australasian Triage Scale (ATS) adalah sistem klasifikasi pasien berdasarkan tingkat kegawatdaruratan yang dikembangkan di Australia dan Selandia Baru pada tahun 1980-an. Sistem ini membagi pasien menjadi 5 kategori berdasarkan batas waktu maksimum untuk menerima perawatan, yaitu ATS 1 (segera), ATS 2 (10 menit), ATS 3 (30 menit), ATS 4 (60 menit), dan ATS 5 (120 menit). ATS kini menjadi acuan stand

Diunggah oleh

Widya Itue Nova
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
406 tayangan35 halaman

Skala Triage ATS dalam Kesehatan

Australasian Triage Scale (ATS) adalah sistem klasifikasi pasien berdasarkan tingkat kegawatdaruratan yang dikembangkan di Australia dan Selandia Baru pada tahun 1980-an. Sistem ini membagi pasien menjadi 5 kategori berdasarkan batas waktu maksimum untuk menerima perawatan, yaitu ATS 1 (segera), ATS 2 (10 menit), ATS 3 (30 menit), ATS 4 (60 menit), dan ATS 5 (120 menit). ATS kini menjadi acuan stand

Diunggah oleh

Widya Itue Nova
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Australasian Triage Scale (ATS)

Definisi

Konsep triase lima kategori berkembang sekitar tahun 1980 di

Rumah Sakit Ipswich, Queensland, Australia. Konsep yang sama juga

dikembangkan di rumah sakit Box Hill, Victoria, Australia. Pembagian

kategorian ini berdasarkan kategori kesegeraan (urgency) dari kondisi

pasien. Validasi sistim triase ini menunjukkan hasil yang lebih baik dan

konsisten dibandingkan triase konvensional dan mulai di adopsi unit gawat

darurat di seluruh Australia. Sistim nasional ini disebut dengan National

Triage Scale (NTS) dan kemudian berubah nama menjadi Australia Triage

Scale (ATS) (Fitzgerald et al, 2010).

Nash (2011), Forero & Nugus (2012) mengkategorikan ATS

didasarkan pada lamanya waktu klien menerima tindakan. Skala prioritas

pada ATS dibagi menjadi 5 skala ATS 1 harus segera ditangani (prosentase

prioritas 100%), ATS 2 maksimal waiting time 10 menit (prosentase prioritas

80%), ATS 3 maksimal waiting time 30 menit (prosentase prioritas 75%), ATS

4 maksimal waiting time 60 menit (prosentase prioritas 70%), ATS 5

maksimal waiting time 120 menit (prosentase prioritas 70%). Waiting time

yang melebihi 2 jam menunjukkan terjadinya kegagalan akses dan kualitas

pelayanan.

Area triage harus dilengkapi dengan peralatan darurat, fasilitas

kewaspadaan standar seperti fasilitas cuci tangan, sarung tangan, prosedur

keamanan (alarm atau akses bantuan keamanan), perangkat komunikasi


1
yang memadai (telepon dan atau intercom dan lain-lain) dan fasilitas untuk

merekam informasi dan pendokumentasian di triage (Australasian College

for Emergency Medicine, 2012).

Australian Triage Scale (ATS) mulai berlaku sejak tahun 1994,

didesain ruang emergency rumah sakit New Zealand Australia dan terus

mengalami perbaikan. Saat ini sudah ada kurikulum resmi dari kementerian

kesehatan Australia untuk pelatihan ATS sehingga dapat diterapkan sesuai

standar oleh perawat-perawat triase. Konsep ATS ini kemudian menjadi

dasar berkembangnya sistim triase di Inggris dan Kanada (Robertson, 2016).

ATS memberikan batasan waktu berapa lama pasien dapat

menunggu sampai mendapatkan pertolongan pertama selain menetapkan

prioritas pasien yang berbeda dari fungsi awal pembentukan kategorian

triase. Sistim ATS juga membuat pelatihan khusus triase untuk pasien- pasien

dengan kondisi tertentu seperti pasien anak-anak, pasien geriatri, pasien

gangguan mental. (Christ et al, 2010)

Perawat gawat darurat di Australia melakukan proses triase dan

Australia memiliki pelatihan resmi triase untuk perawat dan dokter karena

triase sangat diperlukan untuk alur pasien dalam IGD yang lancar dan aman,

tujuan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan konsistensi peserta dalam

menetapkan kategori triase dan menurunkan lama pasien berada di IGD

(Ebrahimiet al, 2015)..

Sistim triase ATS dikembangkan mekanisme penilaian khusus

kondisi urgen untuk pasien-pasien pediatri, trauma,triase di daerah

2
terpencil, pasien obstetri, dan gangguan perilaku untuk memudahkan trier

(orang yang melakukan triase) mengenali kondisi pasien, maka ATS terdapat

kondisi-kondisi tertentu yang menjadi deskriptor klinis. Deskriptor ini

bertujuan memaparkan kasus-kasus medis yang lazim dijumpai sesuai

dengan kategori triase sehingga memudahkan trier menetapkan kategori

(Australian Government Department of Health and Aging, 2009)

Konsep Triage

Definisi Triage

Triage berasal dari kata perancis yang berarti menyeleksi. Dulu

istilah ini dipakai untuk menyeleksi buah anggur untuk membuat minuman

anggur yang bagus atau memisahkan biji kopi sesuai kualitasnya. Konsepnya

semakin berkembang seperti yang digunakan sekarang ini ditetapkan setelah

perang dunia I

Farrohknia (2011) menyatakan bahwa triase merupakan suatu

konsep pengkajian yang cepat dan berfokus dengan suatu cara yang

memungkinkan pemanfaatan sumber daya manusia, peralatan serta fasilitas

yang paling efisien dengan tujuan untuk memilih atau menggolongkan

semua klien yang memerlukan pertolongan dan penetapan prioritas

penanganannya. Pusponegoro (2011) mengartikan triase merupakan

turunan dari bahasa perancis trier dan bahasa inggris triage yang artinya

dalam bahasa Indonesia adalah sortir.

Triase merupakan suatu proses khusus memilah klien berdasarkan

beratnya cidera atau penyakit untuk menenetukan jenis perawatan gawat

3
darurat. Istilah ini lazim digunakan untuk mendiskripsikan konsep pengkajian

yang tepat dan berfokus dengan suatu cara yang memanfaatkan sumber

daya manusia dengan peralatan serta fasilitas yang paling efisien terhadap

100 juta orang yang memerlukan perawatan di IGD setiap tahunnya (Moll,

2010).

Prinsip-prinsip Triage

Brooker 2008 membagi triage dalam prioritas yaitu penentuan atau

penyeleksian penanganan sesuai dengan kategori ancaman jiwa

berdasarkan 1) ancaman jiwa yang dapat mematikan dalam hitungan menit;

2) dapat mati dalam hitungan jam; 3) trauma ringan; 4) sudah meninggal.

Penilaian korban pada sistim triage dapat dilakukan dengan menilai tanda

vital dan kondisi umum korban, kebutuhan medis, kemungkinan bertahan

hidup, bantuan yang memungkinkan, memprioritaskan penanganan

definitive dan tag warna. Prinsip triage adalah time saving is life saving

(waktu keselamatan adalah keselamatan hidup), the right patient to the right

place at the right time with right care provider.

Adapun prinsip-prinsip triage menurut Australasian College for

Emergency Medicine.(2013) sebagai berikut:

a. Triage seharusnya dilakukan segera dan tepat waktu

Kemampuan berespon dengan cepat terhadap kemungkinan penyakit

yang mengancam kehidupan atau injuri adalah hal yang terpenting di

departemen kegawat daruratan (Santosa, 2016)

4
b. Pengkajian seharusnya adekuat dan akurat

Elemen terpenting dalam proses pengkajian adalah ketelitian dan

keakuratan dari proses interview (Nursalam, 2008)

c. Keputusan dibuat berdasarkan pengkajian

Perencananan yang efektif terhadap keselamatan dan perawatan

klien didapatkan dari informasi adekuat dengan data akurat (Dadahzadeh

et al, 2013)

d. Melakukan intervensi berdasarkan keakutan dan kondisi

Perawat triage mempunyai tugas utama dalam keakuratan

pengkajian dan menentukan prioritas untuk klien termasuk intervensi

teraupetik, prosedur diagnostik, tugas yang diterima untuk pengobatan

(Chen, 2010)

e. Tercapainya kepuasan klien (Saiboon, 2008)

Kepuasan klien dapat dicapai setelah memenuhi kriteria:

1. Perawat triage seharusnya memenuhi semua yang ada di atas tersebut

saat menetapkan hasil secara komprehensif dengan klien

2. Perawat membantu dalam menghindari keterlambatan penanganan

yang dapat menyebabkan keterpurukan status kesehatan klien dengan

keadaan kritis

3. Perawat memberikan dukungan emosional kepada klien dan keluarga

5
Aplikasi Triase menurut Australian Triage Scale (Forero & Nugus, 2012)

Kategor Respon Indikator kategori Indikator


i ATS klinis
ATS 1 Pengkajian Segera mengancam kehidupan - Gagal jantung
dan Kondisi yang mengancam terhadap - Gangguan pernapasan
kehidupan (atau risiko besar akan - Sumbatan jalan nafas
intervensi - Frekuensi pernapasan <10/min
pengobatan harus kerusakan ) dan memerlukan - Distress pernapasan berat
intervensi yang segera - Tekanan darah <80 (dewasa) atau syok pada
segera dilakukan anak/bayi
- Tidak responsif atau hanya respon nyeri (GCS < 9)
- Berkelanjutan/kejang berkepanjangan
- IV overdosis dan tidak responsive atau
hipoventilasi
- Gangguan perilaku berat dengan ancaman
langsung kekerasan berbahaya
ATS 2 Pengkajian Dapat mengancam hidup dalam Risiko gangguan jalan napas
waktu dekat - Stridor parah atau mengeluarkan air liyr
dan intervensi Kondisi klien cukup serius dengan distress
pengobatan yang atau memburuk sangat - Distress pernapaan
dimulai setelah 10 cepat sehingga ada potensi ancaman berat Perubahan sirkulasi
- Berkeringat atau belang-belang kulit, perfusi
menit hidup atau kegagalan sistim organ jika buruk
tidak diobati dalam waktu 10 menit - HR<50 atau >150 (dewasa)
dari kedatangan Pengobatan dalam - Hipotensi dengan efek hemodinamik
waktu kritis - Kehilangan darah yang parah
Potensi untuk pengobatyan dalam Nyeri dada seperti gangguan jantung
waktu kritis (misalnya trombolisis, umumnya Nyeri hebat
penangkal) untuk membuat dampak BSL<2 mmol/L
Mengantuk, penurunan kesadaran dengan penyebab
yang signifikan terhadap klinis (GCS
hasilnya tergantung pada <13)
6
pengobatan yang dimulai dalm Hemiparesis akut/disfasia
waktu beberapa menit kedatangan Demam dengan tanda-tanda kelesuan (semua usia)
klien di IGD Nyeri Hebat Asam atau splash alkali yang mengenai mata sehingga
Nyeri yang sangat parah atau nyeri membutuhkan irigasi
dalam waktu 10 menit yang tidak
berkurang
setekah diberikan tindakan untuk

7
menurunkan nyeri Trauma multi besar yang memburtuhkan respon
cepat tim teroganisir
Trauma lokal berat-patah tulang besar,
amputasi Riwayat resiko tinggi
- Memum obat penenang beracun yang signifikan
- Envenomation yang berbahaya
- Nyeri pberat menunjukkan PE, AAA atau
kehamilan ektopik
Perilaku /psikiatri
- Kekerasan atau agresif
- Ancaman langsung terhadap diri sendiri atau
orang lain
- Membutuhkan atau telah diperlukan menahan
diri
- Agitasi atau agresi berat
ATS 3 Pengkajian Berpotensi mengancam hidup - Hipertensi berat
Kondisi klien dapat berlanjut ke - Kehilangan cukup banyak darah
dan intervensi kehidupan atau mengancam apapun penyebabnya
- Sesak napas sedang
pengobatan yang ekstrimitas atau dapat menyebabkan - Saturasi O2 90-95%
dimulai 30 menit morbiditas yang signoifikan jika - BSL>16 mmol/L
penilaian dan pengobatan tidak - Kejang
dimulai dalm waktu 30 menit - Demam pada klien dengan imunosupresi missal
Kegawatan Situasional klien onkologi, steroid reaction
Ada potensi untuk hasil yang - Muntah terus menerus
merugikan jika waktu kritis - Dehidrasi
pengobatan tidak dimulai dalam - Kepala cedera dengan LOC singkat-
waktu 30 menit atau menghilangfkan sekarang waspada
ketidaknyamanan berat atau tekanan - Nyeri sedang sampai berat apapun
dalam waktu 30 menit penyebabnya yang membutuhkan analgetik
- Nyeri dada non-jantung keparahan dan mungkin
8
mobilisasi
- Nyeri perut tanpa efek beresiko tinggi dengan
mod parah atau klien usia > 65 tahun
- Cidera ekstremitas moderat seprti
deformitas, laserasi yang parah, luka lecet
-
Periode tidak ada nadi

9
- Trauma dengan riwayat penyakit beresiko
tinggi tanpa risiko tinggi lainnya
- Neonates stabil
- Anak
beresiko
Perilaku/Psikiatri
- Sangat tertekan, resiko menyakiti diri
- Psikotik akut atau disorder penuh
- Situasional krisis, merugikan diri dengan sengaja
- Gelisah/menarik diri/berpotensi agresif
-
ATS 4 Penilaian Berpotensi mengancam hidup - Perdarahan ringan
Kondisi klien dapat berlanjut ke - Aspirasi benda asing tidak ada
dan intervensi kehidupan atau mengancam atau gangguan pernapasan
pengobatan yang dapat menyebabkan morbiditas yang - Cedera dada tanpa rasa sakit tulang rusuk atau
dimulai setelah 60 signifikan jika penilaian dan gangguan pernapasan
- Kesulitan menelantidak ada gangguan
menit pengobatan tidak dimulai dalam pernapasan
waktu 60 menit kedatangan - Cedera kepala ringan tidak hilang kesadaran
Kegawatan situasional - Nyeri sedang beberapa factor resiko
Ada potensi untuk hasil yang - Muntah atau diare tanpa dehidrasi
merugikan jika waktu kritis - Peradangan mata atau benda asing penglihatan
pengobatan tidak dimulai dalam normal
waktu 30 menit - Trauma ekstrimitas minor-pergelangan kaki
Adanya intervensi untuk terkilir, mungkin patah tulang, laserasi robek
menghilangkan ketidaknyamanan yang membutuhkan bantuan tindakan atau
berat atau tekanan dalam waktu 30 intervensi- tanda-tanda vital normal, nyeri
menit rendah sedang
Berpotensi serius - Nyeri kepala tanpa gangguan neurovaskuler
- Bengkak “ panas” pada sendi
Kondisi klien mungkin memburuk
10
atau hasil buruk bias terjadi jika - Nyeri perut non
penilaian dan pengobatan tidak spesifik Perilku/psikiatri
dimulai dalam waktu 1 jam tiba di IGD - Masalah mental kesehatan yang semi-mendesak
Urgensi situaional - Berdasarkan pengamatan dan atau tidak ada
Ada potensi untuk hasil yang resiko segera untuk diri sendiri atau orang lain
merugikan jika waktu kritis
pengobatan tidak dimulai dalam
waktu 1 jam
Signifikasi kompleksitas atau
keparahan
Mungkin memerlukan konsultasi dan

11
manajemen rawat inap untuk
pekerjaan yang kompleks
Adanya intervensi untuk
menghilangkan ketidaknyamana atau
tekanan dalam waktu 1 jam
ATS 5 Pengkajian Kurang mendesak - Nyeri minimal denga
Kondisi klien kronis atau gejala cukup tinggi
- Riwayat penyakit d
dan intervensi kecil atau hasil klinis tidak signifikan
dan sekarang asimpt
pengobatan yang jika penilaian dan pengobatan - Gejala kecil penyakit
dimulai setelah 120 tertunda hingga 2 jam dari - Gejala kecil dengan k
menit kedatangan - Luka lecet kecil, lece
Masalah administrasi klinis memerlukan jahitan)
Hasil pengamatan, sertifikasi medis - Dijadwalkan kembal
dan resep dengan perban yang
- Imunisa
si
Perilaku/psikiat
ri
- Dikenal klien dengan
-
Social kritis baik klien
14
2.1.2 Australasian Triage Scale (ATS) Berdasarkan Tanda Gejala Dan Diagnosis Medis Di

IGD RSUD Ngudi Waluyo Wlingi

a. ATS 1
Tabel 2.2 Kriteria dan kategori ATS 1 berdasarkan tanda gejala dan diagnosis
medis di IGD RSUD Ngudi Waluyo sebagai berikut

KRITERIA ATS 1 DIAGNOSIS MEDIS


TRIAGE
KATEGORI RESUSITASI - Gagal jantung
AIRWAY Sumbatan - Gangguan pernapasan
BREATHING Henti napas - Sumbatan jalan napas
Napas <10 - Distress pernapasan berat
x/mnt Sianosis
- Tidak responsive
CIRCULATION Henti jantung
atau merespon nyeri
Nadi tak
- Kejang berkepanjangan
teraba Pucat
- IV overdosis dan
Akral dingin
tidak responsive atau
GDA < 80
hipoventilasi
mg/dl
- Dyspepsia syndrome
GDA > 200
mg/dl Kejang
Nyeri skala 8-10
DISSABILITY GCS < 9

Diagnosis medis yang termasuk pada ATS 1 pada tabel diatas dapat

dijelaskan dengan tanda dan gejala yang telah di tuliskan. Gagal jantung ditandai

dengan tanda dan gejala henti jantung dan nadi tidak teraba. Diagnosis medis

gangguan pernapasan, sumbatan jalan napas dan distress pernapasan berat ditandai

dengan tanda dan gejala adanya sumbatan jalan nafas, napas < 10 x/menit, sianosis,

akral dingin dan pucat. Diagnosis medis seperti tidak responsive atau hanya

merespo nyeri, overdosis, kejang berkelanjutan atau berkepanjangan ditandai


15
dengan penurunan kesadaran (GCS < 9), akral dingin dan kejang sedangkan diagnosis

medis dyspepsia syndrome ditunjukkan dengan nyeri skala 8-10 atau nyeri hebat

16
b. ATS 2
Tabel 2.3 Kriteria dan kategori ATS 2 berdasarkan tanda gejala dan diagnosis
medis di IGD RSUD Ngudi Waluyo sebagai berikut

KRITERIA ATS 2 DIAGNOSIS MEDIS


TRIAGE
KATEGORI EMERGENCY - Distress pernapasan berat
AIRWAY Stridor - Hipotensi dengan
BREATHING Napas ≥ 32 x/mnt efek hemodinamik
Wheezing - Hemiparesis akut/disfasia
CIRCULATION Nadi teraba lemah - Demam dengan tanda-
Nadi < 50 x/mnt tanda kelesuan
Nadi > 150 x/mnt - Fraktur mayor
Pucat / akral
dingin
Hemiparesis/
apasia CRT > 2dtk
TD sistolik < 100
mmhg Td diastolic <
60 mmHg Nyeri akut
> 8 Perdarahan akut
Multiple
trauma/fraktur
Suhu > 39 0 C
DISSABILITY GCS 9-12

Diagnosis medis yang termasuk pada ATS 2 pada tabel diatas ada 5 yang

memiliki tanda dan gejala berbeda. Distress pernapasan berat dapat ditunjukkan

dengan tanda dan gejala stridor, napas ≥ 32 x/menit dan wheezing. Diagnosis medis

hipotensi dengan efek hemodinamik mempunyai tanda dan gejala seperti Nadi

teraba lemah, Nadi < 50 x/mnt > 150 x/mnt, pucat / akral dingin Pucat / akral dingin

17
TD sistolik < 100 mmhg, TD diastolic < 60 mmHg, CRT > 2dtk, GCS 9-12. Diagnosis

medis hemiparesis akut atau disfasia ditandai dengan adanya hemiparesis/apasia.

Demam ditandai dengan tanda-tanda kelesuan dengan suhu tubuh > 39 0 C. Fraktur

mayor mempunyai tanda gejala adanya perdarahan akut dan multiple

trauma/fraktur.

c. ATS 3

18
Tabel 2.4 Kriteria dan kategori ATS 3 berdasarkan tanda gejala dan diagnosis
medis di IGD RSUD Ngudi Waluyo sebagai berikut

KRITERIA ATS 3 DIAGNOSIS MEDIS


TRIAGE
KATEGORI URGENT - Hipertensi berat
- Sesak napas sedang
AIRWAY Bebas
BREATHING Henti napas - Demam pada klien
Napas 24-30 dengan imunosupresi
x/mnt Wheezing - Cedera kepala
CIRCULATION Nadi 100-150 x/mnt - Cedera ekstrimitas
TD sistolik > 160 - Dyspepsia syndrome
mmHg TD diastolic >
100 mmHg Suhu > 38
0
C Pendarahan sedang
Muntah
Dehidrasi
Nyeri sedang skala 4-7
DISSABILITY GCS > 12

Diagnosis medis yang termasuk pada ATS 3 dapat dijelaskan dengan tanda

dan gejala yang tercantum pada table diatas. Hipertensi berat ditandai dengan tanda

dan gejala Nadi 100-150 x/mnt, TD sistolik > 160 mmHg, TD diastolic > 100 mmHg.

Sesak napas sedang ditandai dengan frekuensi napas 24-30 x/menit dan wheezing.

Demam dengan imunosupresi ditandai dengan suhu > 38 0C dan dehidrasi. Cedera

kepala ditandai dengan penurunan kesadaran GCS > 12, muntah, nyeri sedang (skala

4-7) dan pendarahan sedang. Cedera ekstrimitas ditandai dengan nyeri sedang (skala

4-7) dan pendarahan sedang. Dyspepsia syndrome ditandai dengan gejala nyeri

sedang (skala 4-7).

d. Tabel ATS 4
Tabel 2.5 Kriteria dan kategori ATS 4 berdasarkan tanda gejala dan diagnosis
medis di IGD RSUD Ngudi Waluyo sebagai berikut

19
KRITERIA ATS 4 DIAGNOSIS MEDIS
TRIAGE
KATEGORI SEMI URGENT - Cedera kepala ringan
AIRWAY Bebas - Trauma ekstrimitas minor
BREATHING Napas 16-20 x/mnt - Nyeri perut non spesifik

20
CIRCULATION Nadi 60-80 x/mnt berbahaya
Perdarahan ringan
Cedera kepala (dyspepsia syndrome)
ringan
Muntah/diare tanpa dehidrasi
Nyeri skala 0-3
DISSABILITY GCS 15

Diagnosis medis yang termasuk pada ATS 4 dapat dijelaskan dengan tanda

dan gejala yang tercantum pada table diatas. Diagnosis cedera kepala ringan

ditandai dengan GCS 15, pendarahan ringan dan nyeri ringan (skala 0-3). Diagnosis

trauma ekstrimitas ringan ditandai dengan pendarahan ringan dan nyeri ringan

(skala0-3). Diagnosis nyeri perut non spesifik berbahaya (dyspepsia sindrom)

ditandai dengan muntah dan nyeri ringan (skala 0-3).

e. ATS 5
Tabel 2.6 Kriteria dan kategori ATS 1 berdasarkan tanda gejala dan diagnosis
medis di IGD RSUD Ngudi Waluyo sebagai berikut

KRITERIA ATS 1 DIAGNOSIS MEDIS


TRIAGE
KATEGORI FALSE EMERGENCY - Nyeri minimal
AIRWAY Bebas - Luka atau lecet kecil
BREATHING Napas 16-20 x/mnt
CIRCULATION Nadi 60-80 x/mnt
Luka ringan
DISSABILITY GCS 15

Diagnosis medis yang termasuk pada ATS 5 pada tabel diatas adalah nyeri

minimal dan luka atau lecet kecil. Kedua diagnosis memiliki tanda gejala yang sama,

21
Luka atau lecet kecil ditandai dengan tanda gejala luka ringan sedangkan nyeri

minimal mempunyai tanda yang hampir sama yaitu jalan napas bebas, nadi 60-80

x/menit, GCS 15, pernapasan 16-20 x/menit

22
Analisa laporan tahunan IGD RSUD Ngudi Waluyo Wlingi tahun 2016

didapatkan jumlah kunjungan IGD sebanyak 16.008 kunjungan dengan rata-rata

kunjungan perbulan 4385 kunjungan. Jumlah kunjungan tersebut dilihat dari kategori

morbiditas dan mortalitas. Pada kategori morbiditas didadapatkan analisa penyakit

jantung sebanyak 112 kasus dengan kasus terbanyak yaitu gagal jantung 52 kasus

(46%), penyakit paru-paru sebanyak 100 kasus dengan kasus terbanyak yaitu COPD

42 kasus (42%), penyakit abdomen sebanyak 227 kasus dengan kasus terbanyak

yaitu dyspepsia syndrome 68 kasus (30%), penyakit saraf sebanyak 79 kasus dengan

kasus terbanyak yaitu cva 63 kasus (80%), penyakit metabolic sebanyak 113 kasus

dengan kasus terbanyak yaitu CKD 49 kasus (43%), perdarahan 25 kasus dengan

kasus terbanyak yaitu anemia 23 kasus (92%), kecelakaan lalu lintas sebanyak 252

kasus dengan kasus terbanyak yaitu injury 117 kasus (70%) dan kasus lain sebanyak

387 kasus dengan kasus terbanyak yaitu demam 192 kasus (50%).

Pada kategori mortalitas penyakit jantung sebanyak 65 kasus dengan kasus

terbanyak syok kardiogenik 45 kasus (69%), penyakit saraf sebanyak 70 kasus dengan

kasus terbanyak CVA 44 kasus (63%), penyakit metabolic sebanyak 43 kasus dengan

kasus terbanyak septik syok 30 kasus (70%), kecelakaan lalu lintas sebanyak 13 kasus

dengan kasus terbanyak ckb 10 kasus (77%), penyakit paru sebanyak 18 kasus

dengan kasus terbanyak ALO 8 kasus (44%), perdarahan 6 kasus dengan kasus

terbanyak syok hipovolemi 4 kasus (67%), penyakit abdomen 7 kasus dengan kasus

terbanyak peritonitis 4 kasus (67%), dan kasus lain sebanyak 5 kasus yang terdiri dari

overdosis obat, edema coli, HIV, intoksikasi dan intoksikasi methanol serta DOA

sebanyak 36 kasus. Hasil analisa tersebut mendeskripsikan bahwa IGD RSUD Ngudi

23
Waluyo Wlingi mempunyai keragaman kasus yang komplek sehingga memerlukan

sistim triage yang bisa memberikan intervensi yang cepat dan tepat.

24
2.1.3 Faktor yang mempengaruhi penerapan Australasian Triage Scale (ATS)

Australasian Triage Process Review 2011 menyatakan bahwa faktor yang

mempengaruhi penerapan Australasian Triage Scale (ATS) adalah :

a. Faktor kinerja

Kasmarani 2012 menyatakan kinerja perawatan dapat diukur dengan Six

Dimension Performance Nursing Scale yang terdiri dari enam indikator yang

diukur yaitu kepemimpinan, perawatan kritis, hubungan interpersonal atau

komunikasi, pengajaran atau kolaborasi, perencanaan dan evaluasi serta

pengembangan professional. Penelitian ini menggunakan faktor kepemimpinan

sebagai variabel independen. Kepemimpinan merupakan tehnik memfokuskan

diri untuk mencapai efektivitas dengan mempergunakan capability, capacity,

personality dan conceptual skill dalam mengimplementasikan tindakan

kepemimpinan yang nyata untuk mengembangkan ide dan kerangka pemikiran

sehingga dapat membuat keputusan organisasi dilakukan dengan baik

(Swansburg, 2011; Suhartanti, 2015)

b. Faktor klien

Joint Commision on Accreditation of Health Organization 2002 dalam

Hospital Patient Safety Standards terdapat tujuh standar keselamatan klien yaitu

hak klien, mendidik klien dan keluarga, keselamatan klien dan kesinambungan

pelayanan, penggunaan metode-metode dalam peningkatan kinerja untuk

melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan klien, peran

kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan klien, mendidik staf tentang

25
keselamatan klien dan komunikasi.

Australian Triage Process Review 2011 menyatakan bahwa aplikasi

keselamatan klien di IGD bisa dilakukan dalam bentuk fasilitas yang tersedia

seperti peralatan medis yang steril, alat injeksi yang sekali pakai, perawattriage

26
melakukan komunikasi sehingga tidak ada kesalahan dalam tindakan terhadap

klien, harus cepat dan tepat dalam menangani klien, wajib melaksanakan SOP

dalam pencegahan infeksi nosokomial.

Penelitian ini menggunakan faktor waiting time sebagai variabel

independen. Waiting time adalah waktu yang dipergunakan oleh klien untuk

mendapatkan pelayanan di IGD mulai dari tempat pendaftaran sampai masuk ke

ruang pemeriksaan dengan observasi di IGD di lakukan 2-6 jam atau sampai

kondisi pasien sudah stabil setelah di putuskan apakah di rawat di ruang intensif

atau ruang inap (Depkes RI, 2009; ENA, 2014)

c. Faktor perlengkapan (triaging tools)

Nash 2011 menyatakan faktor perlengkapan atau peralatan triage (triaging

tools), pengumpulan data (dokumentasi) subyektif dan obyektif, dukungan antar

staf baik perawat dengan perawat dan perawat dengan dokter terkait dengan

lingkungan kerja fisik dan non fisk yang mempengaruhi kinerja baik secara

langsung maupun tidak langsung.

College Of Registered Nurse Of British Colombia (CRNBC) menyatakan

lingkungan kerja yang berkualitas adalah manajemen beban kerja, kepemimpinan

keperawatan, perkembangan professional, control praktik dan dukungan

organisasi.

Indikator lingkungan kerja dapat diukur dengan Practice Environment

Scale Of The Nursing Work Index (PES-NWI) yaitu partisipasi perawat yang

berkualitas, kemampuan manajerial keperawatan, dukungan perawat, staffing,

sumberdaya kecukupan serta hubungan perawat dokter. Lingkungan kerja juga

27
dapat diukur dengan 32 indikator dari The Canadian Nurses Association (CNA,

2002) dan Canadian Federation Of Nurses Unions (CFNU, 2006).

Penelitian ini menggunakan faktor dokumentasi triase sebagai variabel

independen. Dokumentasi triase adalah serangkaian kegiatan praktik

28
keperawatan kegawatdaruratan menunjukkan bahwa perawat gawat darurat

telah melakukan pengkajian dan komunikasi, perencanaan dan kolaborasi,

implementasi dan evaluasi perawatan yang diberikan, dan melaporkan data

penting pada dokter selama situasi serius. Dokumentasi triase tersebut harus

menunjukkan bahwa perawat gawat darurat bertindak sebagai advokat pasien

ketika terjadi penyimpangan standar perawatan yang mengancam keselamatan

pasien (KEPMENKES RI, 2011).

Dokumentasi triase menggunakan pendekatan proses keperawatan yang

terdiri dari pengkajian, perumusan diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, dan

evaluasi sebagai metodeilmiah penyelesaian masalah keperawatan pada pasien

untuk meningkatkan outcome pasien. Ciri dokumentasi triase yang baik adalah

berdasarkan fakta (factual basis), akurat (accuracy), lengkap (completeness),

ringkas (conciseness), terorganisir (organization), waktu yang tepat (time liness),

dan bersifat mudah dibaca (legability) yang direvisi menjadi tiga bentuk standar

dokumentasi yaitu communication, accountability, dan safety (Potter & Perry,

2009).

d. Faktor persyaratan staff (staff requirements)

Depkes 2009 dalam Rancangan Pedoman Pelayanan Gawat Darurat

Maternal Neonatal Rumah Sakit Umum Tipe B Dan C menyatakan faktor

ketenagaan meliputi

1) Dokter umum atau peserta residen Ilmu Kesehatan Anak yang sedang jaga Di

IGD, dokter spesialis minimal dokter spesialis obstetric ginekologi, spesialis

anak, spesialis anestesidan bedah, spesialis emergency tersedia 24 jam

29
2) Kepala IGD seorang dokter/spesialis bedah yang mempunyai keahlian dalam

menangani klien kasus emergensi, harus berada ditempat bila diperlukan,

3) Spesialis Gawat Darurat yang bertugas dalam shift dan dalam keadaan

emergensi

30
4) Perawat yang terdiri dari kepala perawat IGD berpengalaman minimal 2 tahun

dan berpendidikan Sarjana Keperawatan dan mempunyai sertifikat pelatihan

pertolongan dasar emergensi. Staf perawat dalam jumlah yang cukup, terlatih

dalam CPR dan NRP dan harus ada dalam setiap shift.

5) Staf teknik medik IGD yaitu staf ambulans terlatih menangani klien sampai ke

RS

6) Staf IGD yang lain seperti porter, perawat keamanan dan perawat kebersihan

Penelitian ini menggunakan faktor pendidikan terakhir dan faktor

pelatihan

kegawatan yang diikuti oleh perawat. Emergency Nursing Association (2014)

mengembangkan pedoman kebutuhan tenaga keperawatan di ruang IGD

menyatakan bahwa keterampilan dan latar belakang pendidikan yang dimiliki

perawat akan mempengaruhi penerapan ATS.

Perawat yang baru menyelesaikan pendidikan tanpa ada pengalaman

kerja sebelumnya tidak memenuhi syarat untuk mengikuti program pendidikan

perawat triase. Triase harus dilakukan oleh perawat yang berpengalaman dengan

kompetensi khusus triage (College of Emergency Nursing Australasian, 2009).

KEPMENKES RI (2009) menyatakan bahwa kualifikasi perawat pelaksana di

IGD adalah perawat yang telah mengikuti pelatihan Emergency Nursing Basic.

e. Faktor model keperawatan

Australian Triage Process Review 2011 menyatakan model keperawatan

meliputi :

1) Fast Track merupakan model keperawatan kegawatdaruratan yang bertujuan

31
untuk mempercepat klien dengan perawatan yang urgent ataupun klien

dengan kompleksitas yang rendah yang perawatannya dimulai oleh tim klinis.

Fast Track merupakan model keperawatan untuk mengurangi waiting time

2) Emergency Short Stay Units merupakan metode keperawatan yang

memberikan penilaian, observasi dan terapi yang cepat kepada klien dalam

32
jangka pendek dan cara efektif untuk membatasi Length Of Stay di IGD 6 jam

dan klien yang memerlukan pemantauan khusus untuk jangka terbatas

3) Pediatrics units merupakan model keperawatan anak yang idealnya terpisah

denga orang dewasa

4) Psychiatric emergency care unit merupakan model keperawatan

kegawatdaruratan yang bertujuan untuk memberikan pelayanan kegawatan

jiwa yang terpisah

5) Medical surgical assessment units merupakan sebuah unit pelayanan

kegawatan yang mengobati klien penyakit dalam dan bedah

6) Aged coordination and evaluation team merupakan gabungan antara staff

perawat, terapis okupasi, fisioterapis dan pekerja sosial

7) GP units merupakan pelayanan yang menempatkan dokter umum di IGD yang

bisa ditawarkan kepada klien dengan kegawatan yang rendah

8) Early pregnancy units merupakan area pelayanan khusus untuk menangani

masalah kehamilan yang kurang dari 20 minggu kehamilan

Penelitian lain yang terkait dengan faktor yang mempengaruhi penerapan

Australasian Triage Scale antara lain kategori pengetahuan, sikap, pendidikan,

pengalaman bekerja, kepemimpinan dan kebijakan, beban kerja, pengaturan shift,

deskripsi tugas dan jumlah klien (Jansen et al.,2011;Gerdz et al.,2003;Nonutu et

al.,2015;Yanti et al.,2012;Santosa et al.,2015).

Faktor yang mempengaruhi penerapan Australasian Triage Scale terbagi

menjadi 3 yaitu faktor personil antara lain faktor kategori pengetahuan perawat,

faktor pengalaman kerja, faktor pelatihan kegawatdaruratan, faktor non personil

33
antara lain fakor rasio perawat dan jumlah klien, faktor lingkungan kerja dan

keuangan dan faktor klien antara lain faktor usia klien, faktor jenis penyakit, faktor

lama kejadian dan faktor nyeri yang dirasakan (Chen et al.,2010;Iriana et

al.,2013;Dadashzadeh et al.,2013).

34
Faktor yang mempengaruhi penerapan Australasian Triage Scale adalah

kategori pengetahuan, pelatihan, senioritas, kebijakan, jumlah kunjungan, supervise,

peralatan, reward dan kinerja keperawatan (Fitzegerald et al.,2009;Lumbanraja &

Nizma.,2011;Sulistyowati ., 2012;Prabandari., 2013). Penelitian ini menunjukkan

faktor yang mempengaruhi penerapan Australasian Triage Scale antara lain kategori

pengetahuan, sikap, pelatihan dan pengalaman kerja, rasio klien-perawat, motivasi,

peralatan, rewards (Lusiana., 201; Safari., 2012; Fathoni.,2013)

35

Common questions

Didukung oleh AI

The ATS 3 category prioritizes conditions that are urgent and have the potential to become life-threatening or cause significant morbidity if not assessed and treated within 30 minutes. This includes cases such as severe hypertension, moderate shortness of breath, significant blood loss, decompensated diabetes (BSL>16 mmol/L), uncontrolled vomiting, and injuries that cause moderate pain or involve potential complications. The category emphasizes the need for timely interventions to prevent deterioration of the patient’s condition .

Effective application of the Australasian Triage Scale (ATS) improves patient outcomes by ensuring timely medical evaluations and interventions based on severity. This system prioritizes life-threatening conditions for immediate treatment, thereby potentially reducing mortality and morbidity rates. The systematic classification allows for optimizing resource allocation, reducing overcrowding, and ensuring that patients with severe conditions receive rapid and appropriate care. Moreover, by facilitating structured communication and clinical decision-making, ATS enables emergency departments to operate more efficiently and effectively manage patient flows .

Early recognition and intervention in ATS 1 classified cases are critical in emergency departments because they directly influence patient survival rates and outcomes. These cases involve life-threatening conditions requiring immediate action, and any delay can lead to irreversible damage or death. Effective triage processes ensure rapid identification and treatment, preventing deterioration and stabilizing vital signs. Prompt intervention can significantly mitigate risk, save lives, and improve recovery trajectories, highlighting the importance of accuracy and speed in emergency care .

Triaging plays a critical role in managing patient flows and operations within emergency departments by categorizing patients based on the severity of their conditions. This system allows for prioritizing cases that require immediate attention, hence reducing waiting times for critical cases. By efficiently allocating resources such as medical staff and equipment where they are most needed, triaging minimizes bottlenecks and facilitates the prompt provision of treatment for severe conditions. It also helps manage non-critical patients effectively, indirectly decreasing the overall waiting time for all patients and improving the quality of care provided .

Leadership and organizational policies enhance emergency triage systems' effectiveness by establishing clear protocols and providing resources needed for efficient operations. Strong leadership can advocate for policies that ensure adequate staffing, continuous education, and support for triage nurses, thereby improving morale and performance. Organizational policies can standardize procedures, reduce variability in triage assessments, and prioritize patient safety and quality care. Furthermore, supportive management fosters a positive work environment, encourages interdisciplinary communication, and facilitates the adoption of innovative practices, ultimately leading to improved patient outcomes and efficient emergency department functioning .

The ATS 1 classification in a medical emergency setting requires immediate intervention for conditions such as life-threatening cardiac failure, respiratory distress, airway obstruction, respiratory rate less than 10/min, severe respiratory distress, blood pressure below 80 mmHg in adults or shock in children/infants, unresponsiveness or only response to pain (GCS < 9), ongoing or prolonged seizures, IV overdose with unresponsiveness or hypoventilation, and severe behavioral disturbances with immediate threat of harmful violence .

Documentation plays a vital role in the triaging process as it ensures accuracy, accountability, and continuity in patient care. Proper documentation provides a factual basis for clinical decisions, helping in communicating patient needs effectively across various shifts and facilitating collaboration among healthcare staff. It serves as a legal record of the care provided and decisions made and is critical in assessing and improving healthcare outcomes by providing data for quality improvement measures. Accurate and timely documentation also aids in preventing errors that could arise from miscommunication and enhances the overall efficiency of emergency department operations .

Non-clinical factors influencing the implementation of the Australasian Triage Scale (ATS) include staff ratios, workload, nurse education and training, environmental resources, leadership, and organizational policies. These factors impact healthcare delivery by influencing the efficiency and quality of triage operations. For instance, a low nurse-to-patient ratio can lead to delayed assessments and increased workload stress, which may compromise patient safety and care quality. Proper training and clear policies ensure standardized, accurate triaging procedures, while adequate resources and supportive leadership help maintain consistent and effective emergency care workflows .

Having a qualified nursing staff is crucial for effective triage execution in emergency departments because experienced nurses are trained to quickly assess and prioritize patients based on urgency, ensuring those with severe conditions receive timely care. Their expertise in interpreting symptoms and utilizing the triage tools contributes to accurate decision-making. Moreover, well-trained nurses can manage the stress and dynamic nature of emergency settings, thereby enhancing overall department efficiency and ensuring patient safety. Additionally, continual education and training initiatives are important to keep the nursing staff updated with the latest triage protocols and practices .

ATS 2 classification involves conditions that could become life-threatening within a short time if untreated, such as severe respiratory distress, significant hypotension with hemodynamic effects, chest pain suggestive of cardiac issues, severe pain, blood glucose levels below 2 mmol/L, decreased consciousness (GCS <13), and severe behavioral disturbances .

Anda mungkin juga menyukai