0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan11 halaman

Teknik Radiografi Bitewing dalam Kedokteran Gigi

Teknik radiografi bitewing digunakan untuk mendeteksi karies gigi dan kerusakan jaringan pendukung gigi serta tulang alveolar secara simultan pada gigi rahang atas dan bawah melalui satu film radiografi. Teknik ini memiliki kelebihan dapat melihat area proksimal gigi tanpa harus membuat radiografi terpisah, namun juga memiliki kekurangan tidak dapat melihat area periapikal dan ujung akar gigi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan11 halaman

Teknik Radiografi Bitewing dalam Kedokteran Gigi

Teknik radiografi bitewing digunakan untuk mendeteksi karies gigi dan kerusakan jaringan pendukung gigi serta tulang alveolar secara simultan pada gigi rahang atas dan bawah melalui satu film radiografi. Teknik ini memiliki kelebihan dapat melihat area proksimal gigi tanpa harus membuat radiografi terpisah, namun juga memiliki kekurangan tidak dapat melihat area periapikal dan ujung akar gigi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TEKNIK RADIOGRAFI BITEWING

(BITEWING RADIOGRAPHY TECHNIQUE)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Pemeriksaan radiologi merupakan salah satu pemeriksaan penunjang yang sangat berguna dalam menegakkan diagnosis suatu penyakit. Pada pemeriksaan ini digunakan sinar roentgen

yang merupakan sinar ionisasi. Roentgen, Wilhelm K., 1845-1923, adalah seorang ahli fisika jerman, yang menemukan sinar yang karena tidak dikenal disebut sinar X pada tahun 1895.1

Peranan bidang radiologi sebagai penunjang medis dalam dunia kesehatan dapat dinilai cukup penting. Hal tersebut dikarenakan hasil roentgen mampu menegakan diagnosis. Pemeriksaan

ini dapat memberikan informasi terhadap bagian tubuh atau objek yang mengalami satu kelainan baik karena kecelakaan, kelainan bawaan atau kejadian lain yang menyebabkan ketidak

normalan. Informasi yang dapat diberikan oleh pemeriksaan penunjang medis ini berupa gambaran yang disebut radiograf. Oleh karena itu dibutuhkan kualitas radiograf yang optimal guna

memberikan informasi yang dibutuhkan. Hasil gambaran yang baik dipengaruhi berbagai faktor, diantaranya : tingkat kooperatif pasien, pemilihan faktor eksposi yang tepat, proses pencucian

yang cukup, serta hal–hal lain yang mampu mempengaruhi radiograf untuk mencapai hasil yang diinginkan. 1

Di bidang kedokteran gigi, pemeriksaan radiografi mempunyai peranan yang sangat penting. Hampir semua perawatan gigi dan mulut membutuhkan data pendukung pemeriksaan

radiografi agar perawatan yang dilakukan dapat memberikan keberhasilan yang optimal. Pemeriksaan radiografi di kedokteran gigi dapat dilakukan dengan beberapa jenis proyeksi. Ada dua

macam proyeksi radiografi yaitu terdiri dari ekstraoral dan intraoral. 1

Radiografi intraoral dibuat dengan meletakkan film di dalam mulut selama penyinaran. Radiografi yang digunakan pada relasi lebih dekat kepada obyek lebih detail dibanding dengan

radiografi ekstraoral yang diambil diluar mulut dan tidak tumpang tindih dari bayangan.1
Kriteria mutu radiograf terdiri atas lima, yaitu obyek yang ingin diinterpretasi tercakup dan terletak ditengah distorsi minimal kontras, detil, dan ketajaman baik daerah interdental terlihat

dengan jelas cusp bukal dan lingual gigi posterior terletak pada satu bidang. Tetapi, Kadang-kadang dokter gigi kurang pengetahuan tentang ada atau tidaknya kesalahan pada foto radiografi,

baik pada pengambilan atau pemprosesannya, tetapi tetap dilakukan interpretasi, sehingga hasil tafsirnya tentu tidak akan betul. 1

Dilihat dari sistem pengolahan film pada proses pencucian dapat dibagi 2 yakni: pencucian secara otomatis (automatic processing ) dan pencucian secara manual (manual processing).

Pada rumah sakit besar biasanya banyak digunakan automatic processing dengan suhu dan waktu yang telah diatur, sehingga kesalahan yang ditujukan pada proses pencucian dapat dikurangi.

Tetapi pada rumah sakit kecil atau klinik biasanya digunakan manual processing. Proses pencucian dimulai dari tahap developing tahap rinsing, tahap fixing, tahap washing sampai tahap drying

dilakukan secara manual. 1

Dalam proses pencucian film radiografi dapat terjadi kesalahan yang menyebabkan berkurangnya kualitas radiograf. Akibat-akibat yang dapat timbul : radiograf tampak kurang kontras

dan radiograf tampak terlalu kontras. Ini sangat penting dipertimbangkan berkaitan dengan kebutuhan untuk mengulangi pengambilan gambar yang memicu paparan radiasi tambahan. 1

1.2. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan refarat ini adalah untuk memperoleh pengetahuan yang lebih tentang radiologi utamanya teknik radiografi bitewing.

1.3. MANFAAT PENELITIAN

untuk menambah pengetahuan radiografi tentang indikasi teknik bitewing, kegunaan teknik bitewing, kekurangan teknik bitewing dan manfaat teknik bitewing.
BAB II

TINJUAN PUSTAKA

2.1. TEKNIK RADIOGRAFI BITEWING

Radiografi ini pertama kali diperkenalkan oleh Raper pada tahun 1925. Bitewing radiografi digunakan untuk mendeteksi karies di permukaan proksimal gigi dan crest alveolar bone baik pada
maksilla maupun mandibula pada film yang sama, yang secara klinis tidak dapat dideteksi.
Bitewing radiografi digunakan utnuk mengevaluasi puncak tulang interproksimal selama pemeriksaan periodontal dan rencana perawatan. 1
Bitewing radiografi digunakan untuk melihat garis dari CEJ pada satu gigi ke CEJ gigi tetangganya, sama halnya dengan jarak dari puncak ke tulang interproksimal yang ada.
Selain digunakan untuk mendeteksi karies interproksimal, bitewing radiografi juga memberikan informasi status pasien periodontal. Ketinggian dari tepi interproksimal tulang alveolar sampai
cemento-enamel junction relatif dapat diamati. Deposit kalkulus subgingival juga dapat dideteksi. Walaupun demikian, hasil dari bitewing radiografi pada diagnosis penyakit periodontal hanya
terbatas pada bagian mahkota akar gigi yang diamati, dan terbatas pada regio molar-premolar.2
Pada orang yang masih muda, pengamatan yang cermat pada ketinggian tulang alveolar disekitar molar pertama permanen dapat membantu mendeteksi individu yang beresiko menderita
early-onset periodontitis (juvenile periodontitis dan rapidly progressive periodontitis). Walaupun demikian, radiografi seharusnya digunakan hanya sebagai tambahan pada pemeriksaan klinis
dengan menggunakan probe periodontal di sekitar daerah tersebut, karena di atas 30 persen kehilangan tulang terjadi sebelum dibuktikan secara radiografi.

A. Molar (Posterior Teeth)

Untuk radiografi gigi posterior,sesuaikan kepalanya sehingga permukaan oklusal dari gigirahang atas terletak pada bidang horizontal. Tempatkan paket film di mulut sehingga

padaradiograf akan terlihat gigi yang diinginkan. Bagian bawah dari film ini terletak antara lidah dan rahang bawah mandibula, bagian atas akan menghadap atap mulut. Pastikan pasien
perlahan menggigit tab film. Sesuaikan tabung ke angulation rata-rata +8º. Mengarahkan sinar pusatsehingga langsung melalui ruang interproksimal ke pusat film pada tingkat bidang

oklusal. Ikuti instruksi yang ada di tempat pelaksanaan serta waktu pemaparannya.

.B. Insisif (Anterior Teeth)

Periapikal film dengan adaptor digunakan untuk radiografi sayap gigitan-gigi anterior. Posisi kepala untuk eksposur gigitan-sayap anterior adalah sama seperti untuk gigi posterior.

Namun,radiografi gigitan-sayap gigi anterior jarang diminta oleh seorang doktergigi.


2.2. Pelaksanaan Teknik Foto Bitewing

Pada teknik bitewing bidang yang perlu diperhatikan adalah :

[Link] vertikal (bidang sagital) harus tegak lurus dengan bidang horisontal

[Link] oklusal harus sejajar dengan bidang horisontal. Pada teknik bite wing digunakan film

berukuran 3,2x4,1 cm. Apabila film yang dipergunakan ukurannya lebih besar maka harus hati-hati memasukkan kedalam mulut agar penderita tidak merasa [Link] yang sudah diberikan

tabs atau loopsdimasukkan kedalam mulut penderita. Film dipegang operator dengan jari telunjuk yang di letakkan padatabs,sehingga tabs menyentuh permukaan oklusal dari [Link]

diminta menutup mulutnya perlahan lahan, operator melepaskan jari telunjukdan penderita diminta menggigit gigi-gigi atas dan bawah sehingga [Link] dari film menentukan hasil

dari radiogramnya. Yang terpenting adalah mendapatkan hasil sampai pada bagian proksimalnya tanpa terlihat gambaran [Link] pembuatan teknik bite wing dipakai alat bite tabs dan bite

loop.3,4

2.3. Indikasi Teknik Foto Bitewing

 Untuk melihat adanya proximal karies

 Mendeteksi penjalaran karies

 Melihat kondisi jaringanpendukung gigi

 Untuk melihat adanya traumatik oklusi gigi rahang atas dan bawah

 Mendeteksi adanya kalkulus pada area interproksimal

 Untuk melihat besarnya resorbsi dari tulang alveolar interdental, yang biasanya terjadi pada usia lanjut dan mengalami penumpulan4
2.4. Kelebihan dan Kekurangan Teknik Bitewing

 Kelebihan teknik ini adalah dengan satu film dapat di pakai memeriksa gigi pada rahang atas dan bawah sekaligus. Sebelum teknik ini di temukan, pemeriksaan bagian proksimal di pakai

teknik dang bagi atau kesejajaran. .Teknik bitewing juga dipakai pada pemeriksaan berkala jika diperkirakan bahwa penderita mempunyai insiden karies yang cukup tinggi dan di gunakan

untuk menunjukkan karies sekunder yang berada di bawah tumpatan. Dalam mendiagnosis karies, di buat radiograf periapikal dan bite wing dari di mana terdapat keluhan utama dari penderita.

Apabila suatu diagnosis dapat ditegakkan dengan menggunakan satu film, sedangkan dengan teknik bidang bagi tidak dapat menunjukkan kelainannya, daerah maka teknik bite wing dapat

menolong. Apabila radiograf periapikal tidak dapat menunjukkan kelainan, dicurigai terjadi kematian jaringan yang awal, tambalan yang cukup dalam dan adanya pulp caping pada gigi maka

radiograf bite wing dapat digunakan. Lebih meringankan bagi pasien dengan refleks muntah yang tinggi.
 Kerugian teknik bitewing adalah tidak terlihat regio periapikal, ujung akar, pasien sering sulit mengoklusikan kedua rahang (mulut terlalu terbuka) sehingga puncak tulang alveolar tidak

terlihat, dan posisi film holderdapat menyebabkan rasa tidak nyaman bagi pasien.5

Measurement of alveolar bone loss


using conventional
radiography (IOPA).

Measurement of alveolar bone loss


using Radiovisiography
(RVG).
BAB III

3.1. KESIMPULAN

Teknik radiografi bitewing merupakan teknik radiografi intra oral yang sangat baik digunakan untuk melihat karies proksimal, perluasan karies, melihat kondisi jaringan pendukung gigi,

untuk melihat adanya traumatik oklusi gigi rahang atas dan bawah mendeteksi adanya kalkulus pada area interproksimal, untuk melihat besarnya resorbsi dari tulang alveolar interdental, yang

biasanya terjadi pada usia lanjut dan mengalami penumpulan. Kerugian teknik bitewing adalah tidak terlihat regio periapikal, ujung akar, pasien sering sulit mengoklusikan kedua rahang (mulut

terlalu terbuka) sehingga puncak tulang alveolar tidak terlihat, dan posisi film holder dapat menyebabkan rasa tidak nyaman bagi pasien.
DAFTAR PUSTAKA
1. Micah C. Comparison Of Intraoral Versus Extraoral Bitewing Radiography To Detect Proximal Caries And Loss Of Alveolar Bone. 2015 A Thesis Submitted To The Faculty Of The
Graduate School Of The University Of Minnesota.
2. Singh S, Karanprakash S. Comparison between Conventional Radiography (IOPA) and Digital Radiography Using Bitewing Technique in Detecting the Depth of Alveolar Bone Loss.
Scholars Journal of Dental Sciences (SJDS) 2015;2(1):63-68.
3. Kamburoglu K, Kolsuz E , Murat S, Yuksel S, Ozen T. Proximal caries detection accuracy using intraoral bitewingradiography, extraoral bitewing radiography and panoramic
radiography. Dentomaxillofacial Radiology 2012 (41); 450–459.
4. Kuhnisch J, Pasler PA, Bcher K, Hicke R, Heinrich-Weltzien R. Frequency of non-carious triangular-shaped radiolucencies on bitewing radiographs. Dentomaxillofacial Radiology
2008 (37); 23–27.
5. Jørgensen PM, Wenzel A. Patient discomfort in bitewing examination with film and four
digital receptors. Dentomaxillofacial Radiology 2012 (41); 323–327.
PORTOFOLIO
UJI KOMPETENSI

YUSUF, [Link]
NIP. 19780525 199803 1 004

RSU KELAS D PRATAMA


TAHUN 2022

Anda mungkin juga menyukai