0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan6 halaman

Penanganan Nasopharingitis Akut

Dokumen tersebut merupakan standar operasional prosedur untuk penanganan acute nasopharingitis atau pilek biasa di Puskesmas Ngawi. SOP ini memberikan penjelasan tentang definisi, tujuan, pelaksana, dan prosedur diagnosis serta tindakan yang meliputi anamnesa, pemeriksaan fisik, diagnosa, terapi, konseling, dan rujukan. Prosedur diagnosis dan penanganannya meliputi pemeriksaan gejala klinis, riwayat paparan, pemeriksaan

Diunggah oleh

yuyun
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan6 halaman

Penanganan Nasopharingitis Akut

Dokumen tersebut merupakan standar operasional prosedur untuk penanganan acute nasopharingitis atau pilek biasa di Puskesmas Ngawi. SOP ini memberikan penjelasan tentang definisi, tujuan, pelaksana, dan prosedur diagnosis serta tindakan yang meliputi anamnesa, pemeriksaan fisik, diagnosa, terapi, konseling, dan rujukan. Prosedur diagnosis dan penanganannya meliputi pemeriksaan gejala klinis, riwayat paparan, pemeriksaan

Diunggah oleh

yuyun
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ACUTE NASOPHARINGITIS

(COMMON COLD)

SOP No. Dokumen :SOP/III.026/2016

No. Revisi : 00

Tanggal Terbit : 22 Januari 2016

Halaman : 1/4

UPTD Dr Siti Agustinningsih


PUSKESMAS Nip. 197208302005012012
NGAWI

1. Pengertian : Adalah peradangan pada mukosa hidung yang berlangsung akut


(< 12 minggu). Hal ini dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri,
ataupun iritan.

2. Tujuan : Sebagai acuan petugas dalam penanganan Acute nasopharingitis


(common cold).

3. Kebijakan : SK Kepala UPTD Puskesmas Ngawi Nomor


188/100/404.102.16/2015 Tentang Standar dan Pedoman
Layanan Klinis

4. Pelaksana : Dokter, Perawat, Bidan

5. Referensi : Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK


02.02/MENKES/514/2015 Tentang Panduan Klinis Bagi Dokter di
Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

6. Prosedur : 1. Petugas melakukan anamnesa keluhan seperti keluar ingus


dari hidung (rinorea), hidung tersumbat disertai rasa panas
dan gatal pada hidung.
a. Rhinitis simpleks: gejala berupa rasa panas di daerah
belakang hidung pada awalnya, lalu segera diikuti
dengan hidung tersumbat , rinore dan bersin berulang-
ulang. Pasien merasa dingin, dan terdapat demam
ringan. Pada infeksi bakteri ingus menjadi mukopurulen,
biasanya diikuti juga dengan gejala sistemik seperti
demam, malaise dan sakit kepala.
b. Rhinitis influenza: gejala sistemik umumnya lebih berat
disertai sakit pada otot.
c. Rhinitis eksantematous: gejala terjadi sebelum tanda
karakteristik atau ruam muncul.
d. Rhinitis iritan: gejala berupa ingus yang sangat banyak
dan bersin.
e. Rhinitis difteria: gejala yang berupa demam, toksemia,
terdapat limfadenitis, dan mungkin ada paralisis otot
pernafasan.
2. Petugas menanyakan faktor risiko seperti:
a) Penurunan daya tahan tubuh.
b) Paparan debu, asap atau gas yang bersifat iritatif.
3. Petugas melakukan pemeriksaan fisik seperti:
a. Dapat ditemukan adanya demam.
b. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior tampak kavum
nasi sempit, terdapat sekret serous atau mukopurulen
dan mukosa udem dan hiperemis.
c. Pada rhinitis difteri tampak ada ingus yang bercampur
darah. Membran keabu-abuan tampak menutup konka
inferior dan kavum nasi bagian bawah, membrannya
lengket dan bila diangkat dapat terjadi perdarahan.
4. Petugas menegakkan diagnosa klinis berdasarkan
anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Klasifikasi berdasarkan etiologi:
a. Rhinitis virus
1) Rhinitis simplek (pilek, selesema, common cold,
Coryza).
Rhinitis simplek disebabkan oleh virus. Infeksi
biasanya terjadi melalui droplet di udara. Beberapa
jenis virusyang berperan antara lain, adenovirus,
picovirus, dan subgruonya seperti rhinovirus,
coxsakievirus, dan ECHO. Masa inkubasinya 1-4
hari dan berakhir dalam 2-3 minggu.
2) Rhinitis influenza
Virus influenza A,B, atau C berperan dalam penyakit
ini. Tanda dan gejalanya mirip dengan common cold.
Komplikasi berhubungan dengan infeksi bakteri
sering terjadi.
3) Rhinitis Eksantematous
Morbili, varisela, variola, dan pertusis, sering
berhubungan dengan rhinitis, dimana didahului
dengan eksantema sekitar 2-3 hari. Infeksi sekunder
dan komplikasi lebih sering dijumpai dan lebih berat.
b. Rhinitis Bakteri
1) Infeksi non spesifik
 Rhinitis Bakteri Primer. Infeksi ini tampak
pada anak dan biasanyaakibat dari infeksi
Pneumococcus, streptococcus atau
staphylococcus. Membran putih keabu-abuan
yang lengket dapat terbentuk ke rongga
hidung, dan apabila diangkat dapat
menyebabkan perdarahan/epistaksis.
 Rhinitis bakteri sekunder merupakan akibat
dari infeksi bakteri pada rhinitis viral akut.
2) Rhinitis Difteri
Penyakit ini disebabkan oleh Corynebacterium
diphteriae. Rhinitis difteri dapat berbentuk akut atau
kronik dan bersifat primer pada hidung atau
sekunder pada tenggorokan. Dugaan adanya rhinitis
difteri harus dipikirkan pada penderita dengan
riwayat imunisasiyang tidak lengkap. Penyakit ini
semakin jarang ditemukan karena cakupan program
imunisasi yang semakin meningkat.
c) Rhinitis Iritan
Type rhinitis akut ini disebabkan oleh paparan debu,
asap atau gas yang bersifat iritatif seperti ammonia,
formali, gas asam dan lain-lain. Selain itu, dapat juga
disebabkan oleh traumayang mengenai mukos hidung
selama masa manipulasi intranasal, contohnya pada
pengangkatan corpus alienum. Pada rhinitis iritan
terdapat reaksi yang terjadi segera yang disebut dengan
“immediate catarrhal reaction” bersamaan dengan
bersin, rinore, dan hidung tersumbat. Gejalanya dapat
sembuh cepat dengan menghilangkan faktor penyebab
atau dapat menetap selama beberapa hari jika epitel
hidung telah rusak. Pemilihan akan bergantung pada
kerusakan epitel dan infeksi yang terjadi.
5. Petugas menegakkan diagnosa banding seperti rhinitis
alergi pada serangan akut, dan rhinitis vasomotor pada
serangan akut.
6. Petugas menegakkan diagnosa untuk komplikasi seperti:
 Otitis media akut
 Sinusitis paranasalis
 Infeksi traktus respiratorius bagian bawah seperti
laring, tracheobronchitis, pneumonia.
7. Petugas melakukan terapi
Rhinitis akut merupakan penyakit yang bisa sembuh sendiri
secara spontan setelah kurang lebih 1-2 minggu. Karena itu
umumnya terapi yang diberikan lebih bersifat simptomatik,
seperti analgetik, antipiretik, dan nasal dekongestan
disertai dengan istirahat yang cukup. Terapi khusus tidak
diperlukan kecuali bila terdapat komplikasi seperti infeksi
sekunder bakteri, maka antibiotik perlu diberikan.
1) Antipiretik daapat diberikan parasetamol.
2) Dekongestan oral dapat mengurangi sekret hidung yang
banyak, membuat pasien merasa lebih nyaman, seperti
pseudoefedrin, fenilpropanolamin, atau fenilefrin.
3) Antibiotik diberikan jika terdapat infeksi bakteri, seperti
amoxicilin, eritromisin, cefadroxil.
4) Pada rhinitis difteri terapinya meliputi isolasi pasien,
penisilin sistemik, dan antitoksin difteri..
8. Petugas melakukan konseling dan edukasi dengan
memberitahu individu dan keluarga untuk:
 Menjaga tubuh selalu dalam keadaan sehat dengan
begitu dapat terbentuknya sistem imunitas yang
optimal yang dapat melindungi tubuh dari serangan
zat-zat asing.
 Lebih sering mencuci tangan, terutama sebelum
menyentuh wajah.
 Memperkecil kontak dengan orang-orang yang telah
terinfeksi.
 Menutup mulut ketika batuk dan bersin.

7. Unit Terkait : 1. Ruang BP Umum


2. Ruang KIA/KB
3. Ruang Tindakan
4. Pustu
5. Polindes
8. Dokumen terkait : Rekam Medis

7. RekamanHistorisPerubahan

No Isi Perubahan Tgl. Mulai Diberlakukan


ACUTE NASOPHARINGITIS
(COMMON COLD)

DAFTAR No. Dokumen : SOP/III.026/2016


TILIK
No. Revisi : 00

Tanggal Terbit : 22 Januari 2016

Halaman :1/1

UPTD Dr Siti Agustinningsih


PUSKESMAS Nip. 197208302005012012
NGAWI

No Langkah Kegiatan Ya Tidak TB


Apa Petugas melakukan anamnesa keluhan seperti keluar
1. ingus dari hidung (rinorea), hidung tersumbat disertai rasa
panas dan gatal pada hidung

Apakah Petugas menanyakan faktor risiko


2.

3. Apakah Petugas Melalukan Pemeriksaan Fisik

Apakah Petugas menegakkan diagnosa klinis berdasarkan


4. anamnesis dan pemeriksaan fisik.

Apakah Petugas menegakkan diagnosa banding seperti rhinitis


alergi pada serangan akut, dan rhinitis vasomotor pada
5.
serangan akut.

6. Apakah Petugas menegakkan diagnosa untuk komplikasi

7. Apakah Petugas melakukan terapi

Apakah Petugas melakukan konseling dan edukasi dengan


8.
memberitahu individu dan keluarga

………………………………..,…………..
Observer Tindakan
…………………………….
NIP: ……………….......

Anda mungkin juga menyukai