MK.
Penilaian Pembelajaran
PRODI S1 PEND. BAHASA
JERMAN
CASE METHOD
Skor Nilai :
PENILAIAN PEMBELAJARAN
Dwita Ramadani (2192432002)
Hikari Azzahra H R (2192432004)
Kelas : Reguler A 2019
Dosen Pengampu : Ahmad Sahat Perdamean, [Link]., [Link]
PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN BAHASA JERMAN
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MARET 2022
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya penulis dapat
menyelesaikan tugas Case Method mata kuliah “Penilaian
Pembelajaran” dengan tepat waktu meskipun masih banyak terdapat
kekurangan. Dan juga penulis berterima kasih pada Bapak Ahmad
Sahat Perdamean, [Link]., [Link]. selaku dosen mata kuliah Penilaian
Pembelajaran di Universitas Negeri Medan yang telah memberikan
tugas ini kepada penulis.
Demikian laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi
penulis sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya penulis
mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang
berkenan dan penulis memohon kritik dan saran yang membangun
untuk perbaikan tugas di masa yang akan datang.
Medan, 05 Maret 2022
Penulis
A. Pendahuluan
Di Indonesia bahasa Jerman telah terpilih sebagai salah satu bahasa asing yang
diajarkan di sekolah menengah atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan dan
Madrasah Aliah (MA), dan fokus pengajaran bahasa Jerman ditempatkan pada
komunikasi. Penguasaan bahasa Jerman mencakup empat aspek keterampilan
berbahasa, yakni menyimak (Hörverstehen), berbicara (Sprechfertigkeit),
membaca (Leseverstehen) dan menulis (Schreibfertigkeit). Keempat keterampilan
bahasa tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama
lain. Selain keempat aspek tersebut, terdapat dua kemampuan yakni penguasaan
kosakata (Wortschatz) dan tatabahasa (Strukturen/Grammatik). Hal tersebut
sesuai dengan standar isi dan standar kompetensi yang termuat dalam kurikulum
untuk mata pelajaran bahasa Jerman di Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah (MA).
Untuk mencapai kompetensi-kompetensi yang diharapkan diatas, maka sangat
diperlukan penilaian untuk mengetahui ketercapaian dari pembelajaran yang
dilakukan di [Link] sebab itu, guru dapat melakukan penilaian diakhir
pembelajaran ataupun akhir semester.
Mardapi (2017) menjelaskan bahwa penilaian merupakan kegiatan
menafsirkan data hasil pengukuran yang bersifat kuantitatif untuk mengetahui
besarnya kualitas perubahan dari proses pembelajaran. Hasil penilaian digunakan
oleh peserta didik dan pendidik untuk membimbing pembelajaran di kelas
(EERA, 2019). Penilaian menjadi aspek penting dalam pembelajaran karena tidak
dapat dipisahkan dari kegiatan pembelajaran (Nuriyah, 2014). Penilaian atau
asesmen hasil belajar merupakan kegiatan menginterpretasi data hasil pengukuran
untuk mengetahui capaian hasil pembelajaran. Data pengukuran hasil belajar
dapat diperoleh dari sebuah tes. Skor tes hasil belajar biasanya berupa angka,
selanjutnya angka tersebut diinterpretasikan atau ditafsirkan melalui kegiatan
penilaian.
Jenis tes yang harus diberikan tentu saja tes prestasi karena tujuannya adalah
untuk mengetahui seberapa jauh siswa telah mencapai tujuan serangkaian belajar.
Tujuan seperti itu merupakan salah satu tujuan tes (Hughes, 1989:7), sehingga
tujuan yang berbeda dari tes memerlukan jenis tes yang berbeda pula. Sebelum tes
itu diberikan, perlu diketahui bahwa tes tersebut harus baik. Menurut Harris
(1969: 13), semua tes yang baik memiliki tiga kualitas, yaitu valid, reliabel, dan
praktis.
Untuk menyusun sebuah tes memerlukan instrument yang diuji kelayakannya.
Jika instrumen tidak pernah diuji kelayakannya maka instrumen tersebut belum
diketahui bagaimana tingkat kualitas dari instrumen itu sendiri. Agar tujuan akhir
pembelajran tercapai dengan maksimal, instrumen yang digunakan berupa tes
tertulis harus memenuhi kriteria instrumen yang baik, seperti tingkat validitas
butir soal, tingkat kesukaran butir soal, keberfungsian pengecoh butir soal, dan
reliabilitas tes. Dengan demikian instrumen akhir pembelajaran yang digunakan
memiliki kualitas yang baik, serta instrumen tersebut mampu mengukur apa yang
hendak diukur.
Peningkatan kualitas soal dapat ditempuh salah satunya dengan cara
meningkatkan kualitas berpikir pada siswa. Keterampilan berpikir tingkat tinggi
juga terdapat dalam pedoman penting pendidikan yaitu kurikulum dimana siswa
dituntut untuk menjadi siswa kritis, kreatif, dan inovatif.. Keterampilan berpikir
terbagi menjadi tiga, yaitu LOTS (lower Order Thinking Skill) yang merupakan
kategori berpikir tingkat rendah, MOTS (Middle Order Thinking Skill) merupakan
kategori berpikir tingkat sedang dan HOTS (Higher Order Thinking Skill) yang
merupakan kategori tingkat tinggi.
Dalam pembelajaran bahasa Jerman, pendidik harus mampu menyajikan soal-
soal yang berkategori HOTS untuk dapat meningkatkan kamampuan berpikir
peserta didik. Berdasarkan kompetensi-kompetensi dalam bahasa Jerman, tata
bahasa juga menjadi focus dalam meningkatkan kemampuan menguasai bahasa
Jerman. Sehingga diperlukan latihan soal-soal yang dapat meningkatkan
kemampuan penguasaan tata bahasa.
Tata bahasa adalah suatu pemberian atau deskripsi mengenai struktur suatu
bahasa dan cara-cara menggabungkan unit-unit linguistik seperti kata/frasa/ untuk
menghasilkan kalimat-kalimat dalam bahasa tersebut. Hal ini sesuai dengan
pendapat Heringer (1989: 6) yang mengatakan bahwa pengetahuan gramatikal
terdapat pada keahlian aturan gramatikalnya, yang cirinya terletak pada
kombinasi-kombinasi kata dan kontruksi-kontruksi yang diperbolehkan dan
bagaimana mereka dimengerti. Jadi pengetahuan gramatikal disini lebih pada
kemampuan seseorang untuk mengkombinasikan kata-kata menjadi sebuah
kalimat sesuai dengan aturan yang diperbolehkan.
Menurut Yenusi, Mumu dan Tanujaya (2019), soal-soal tes maupun soal-soal
latihan yang diberikan guru kepada peserta didik seharusnya bersesuaian dengan
tuntutan zaman dan kebutuhan kurikulum yang berlaku, yaitu mampu
mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik, khususnya kemampuan
berpikir tingkat tinggi. Keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order
Thinking Skills (HOTS) dalam Taxonomi Bloom yang direvisi, menurut Moore
dan Stanley (2010), dikelompokkan dalam aspek C4 (analisis), C5 (evaluasi), dan
C6 (mencipta).
Sebenarnya soal HOTS termasuk kemampuan untuk memecahkan masalah
(problem solving), keterampilan berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif
(creative thinking), kemampuan berargumen (reasoning), dan kemampuan
mengambil keputusan (decision making). Kemampuan berpikir tingkat tinggi
merupakan salah satu kompetensi penting dalam dunia modern, sehingga wajib
dimiliki oleh setiap peserta didik. Guna mengetahui suatu soal dikelompokkan
pada aspek mana dalam ranah kognitif, menurut Anderson dan Bloom (2001)
dapat dilakukan dengan menggunakan kata kerja operasional (KKO).
Pada pemilihan kata kerja operasional (KKO) untuk merumuskan indikator
soal HOTS, hendaknya tidak terjebak pada pengelompokkan KKO. Sebagai
contoh kata kerja “menentukan‟ pada Taksonomi Bloom ada pada ranah C2 dan
C3. Dalam konteks penulisan soal-soal HOTS, kata kerja “menentukan‟ bisa jadi
ada pada ranah C5 (mengevaluasi) apabila untuk menentukan keputusan didahului
dengan proses berpikir menganalisis informasi yang disajikan pada stimulus lalu
peserta didik diminta menentukan keputusan yang terbaik. Bahkan kata kerja
“menentukan‟ bisa digolongkan C6 (mengkreasi) bila pertanyaan menuntut
kemampuan menyusun strategi pemecahan masalah baru. Jadi, ranah kata kerja
operasional (KKO) sangat dipengaruhi oleh proses berpikir apa yang diperlukan
untuk menjawab pertanyaan yang diberikan.
Berdasarkan uraian diatas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah
“Apakah soal tata bahasa(grammatik) bahasa Jerman ujian akhir nasional SMA
sudah sesuai dan termasuk sebagai soal HOTS?”. Sehubungan dengan rumusan
masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis dan
memaparkan butir soal-soal pada tata bahasa(Grammatik) Jerman ujian akhir
nasional SMA bahasa Jerman termasuk kedalam soal HOTS.
B. Landasan Teori
Kegiatan berpikir sudah dilakukan sejak manusia ada, tetapi pengertian
tentang berpikir masih terus diperdebatkan berbagai kalangan, terutama kalangan
pemikir pendidikan. Menurut Dewey (1859 – 1952) berpikir merupakan aktivitas
psikologis ketika terjadi situasi keraguan, sedangkan Vygotsky (1896 – 1934)
lebih mengaitkan berpikir dengan proses mental. Secara umum para tokoh
pemikir bersepakat bahwa berpikir merupakan suatu kegiatan mental yang dialami
seseorang ketika orang tersebut dihadapkan pada situasi atau suatu permasalahan
yang harus dipecahkan. Berpikir selalu berkaitan dengan proses mengeksplorasi
gagasan, membentuk berbagai kemungkinan atau alternatif-alternatif yang
bervariasi, dan dapat menemukan solusi.
The Australian Council for Educational Research (ACER) menyatakan bahwa
kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan proses: menganalisis, merefleksi,
memberikan argumen (alasan), menerapkan konsep pada situasi berbeda,
menyusun, menciptakan. Kreativitas menyelesaikan permasalahan dalam HOTS,
terdiri atas:
a. kemampuan menyelesaikan permasalahan yang tidak familiar;
b. kemampuan mengevaluasi strategi yang digunakan untuk menyelesaikan
masalah dari berbagai sudut pandang yang berbeda;
c. menemukan model-model penyelesaian baru yang berbeda dengan caracara
sebelumnya.
Salah satu taksonomi proses berpikir yang diacu secara luas adalah taksonomi
Bloom dan telah direvisi oleh Anderson & Krathwohl (2001). Dalam taksonomi
Bloom yang direvisi tersebut, dirumuskan 6 level proses berpikir, yaitu:
C 1 = mengingat (remembering )
C 2 = memahami (understanding)
C 3 = menerapkan (applying)
C 4 = menganalisis (analyzing)
C 5 = mengevaluasi (evaluating)
C 6 = mengkreasi (creating)
Mengingat (remembering) merupakan level proses berpikir paling rendah. Karena
mengingat hanyalah memanggil kembali kognisi yang sudah ada dalam memori.
Memahami (understanding) satu level lebih tinggi dibandingkan dengan
mengingat. Seseorang yang memahami sesuatu akan mampu menggunakan
ingatannya untuk membuat deskripsi, menjelaskan, atau memberikan contoh
terkait sesuatu tersebut. Jika seseorang yang telah memahami sesuatu mampu
melakukan kembali hal-hal yang dipahaminya pada situasi yang baru atau situasi
yang berbeda, orang tersebut telah mencapai level berpikir aplikasi (applying).
Orang yang memiliki kemampuan menerapkan belum tentu mampu
menyelesaikan masalah (problem solving). Kemampuan menerapkan masih
cenderung hanya mengulangi proses yang sudah pernah dilakukan (rutin),
sementara permasalahan bisa jadi selalu berbeda dan umumnya tidak dapat
diselesaikan dengan cara yang sama (non rutin). Penyelesaian masalah
sesungguhnya berkaitan dengan hal-hal yang non rutin. Oleh karena itu,
penyelesaian masalah memerlukan level berpikir yang lebih tinggi dari
mengingat, memahami, dan menerapkan. Level berpikir ini disebut higher order
thinking atau tingkat berpikir lebih tinggi.
Anderson dan Krathwohl mengategorikan kemampuan proses menganalisis
(analyzing), mengevaluasi (evaluating), dan mencipta (creating) termasuk berpikir
tingkat tinggi. Menganalisis adalah kemampuan menguraikan sesuatu ke dalam
bagian-bagian yang lebih kecil sehingga diperoleh makna yang lebih dalam.
Menganalisis dalam taksonomi Bloom yang direvisi ini juga termasuk
kemampuan mengorganisir dan menghubungkan antar bagian sehingga diperoleh
makna yang lebih komprehensif. Apabila kemampuan menganalisis tersebut
berujung pada proses berpikir kritis sehingga seseorang mampu mengambil
keputusan dengan tepat, orang tersebut telah mencapai level berpikir
mengevaluasi. Dari kegiatan evaluasi, seseorang mampu menemukan kekurangan
dan kelebihan.
Berikut Susunan Kata Kerja Operasional (KKO) menurut teori revisi Bloom
1. Mengingat (C1) : Menemukenali (identifikasi), mengingat kembali,
membaca, menyebutkan, melafalkan/melafazkan, menuliskan, menghafal,
menyusun daftar ,menggarisbawahi menjodohkan memilih, memberi
definisi, menyatakan.
2. Memahami (C2) : menjelaskan, mengartikan,
menginterpretasikan, menceritakan, menampilkan, memberi contoh,
merangkum, menyimpulkan, membandingkan mengklasifikasikan,
menunjukkan, menguraikan, membedakan, menyadur, meramalkan
memperkirakan, menerangkan, menggantikan, menarik kesimpulan,
meringkas, mengembangkan, membuktikan.
3. Menerapkan (C3) : Melaksanakan, mengimplementasikan,
menggunakan, mengonsepkan, menentukan, memproseskan,
mendemonstrasikan, menghitung, menghubungkan, melakukan,
membuktikan, menghasilkan, memperagakan, melengkapi, menyesuaikan,
menemukan.
4. Mengevaluasi (C4) :Mendiferensiasikan, mengorganisasikan,
mengatribusikan mendiagnosis, memerinci, menelaah, mendeteksi,
mengaitkan, memecahkan, menguraikan, memisahkan, menyeleksi,
memilih, membandingkan, mempertentangkan, menguraikan, membagi.
5. Mengevaluasi (C5) : Mengecek, mengkritik, membuktikan,
mempertahankan, memvalidasi, mendukung, memproyeksikan,
memperbandingkan, menyimpulkan, mengkritik, menilai, mengevaluasi,
memberi saran, memberi argumentasi, menafsirkan, merekomendasi.
6. Menciptakan (C6) : Membangun, merencanakan, memproduksi,
mengkombinasikan, merangcang, merekonstruksi, membuat, menciptakan,
mengabstraksi, mengkategorikan, mengkombinasikan, mengarang,
merancang, menciptakan, mendesain, menyusun kembali, merangkaikan.
C. Pembahasan dan Analisis
Berdasarkan data yang diperoleh oleh penulis jumlah jenis soal pemahaman
tata bahasa berjumlah 20 soal dengan 10 pilihan berganda dan 10 essay. Materi
yang terdapat pada soal ini adalah materi sich vorstellen, personal pronomen im
akkusativ, artikel benda dan modal verben. Ini merupakan soal gabungan yang
diperoleh dari kelas X,XI, dan kelas XII. Dimana materi kelas X merupakan sich
vorstellen, kelas XI adalah personal pronomen im akkusativ, dan artikel benda,
serta kelas XI adalah modal verben.
Soal-soal tersebut kemudian diidentifikasi dan dianalisis sesuai dengan level
kognitif Taksonomi Bloom dan telah direvisi oleh Anderson & Krathwohl (2001).
Dalam taksonomi Bloom yang direvisi tersebut, dirumuskan 6 level proses
berpikir, yaitu:
C 1 = mengingat (remembering )
C 2 = memahami (understanding)
C 3 = menerapkan (applying)
C 4 = menganalisis (analyzing)
C 5 = mengevaluasi (evaluating)
C 6 = mengkreasi (creating)
Menurut Anderson & Krathwohl mengingat, memahami, menerapkan termasuk
kedalam kategori LOTS(Low Order Thinking Skill). Sedangkan
menganalisa,mengevaluasi, dan mengkreasikan termasuk kedalam kategori HOTS
(Higher Order Thinking Skill).
Yang menjadi focus penulis dalam penelitian ini adalah bagaimana menganalisis
butir-butir soal yang ditemukan apakah LOTS atau HOTS. Berikut akan
dijelaskan secara rinci penganalisisan pada butir-butir soal pemahaman tata
bahasa Jerman sesuai klasifikasi menurut Taxonomi Bloom.
Berdasarkan analisis data terhadap Paket Soal Bahasa Jerman, diperoleh
hasil sebagai berikut:
Tabel 2. Pengelompokan Butir Soal Berdasarkan Taxonomi Bloom
LOTS HOTS
C1 C2 C3 C4 C5 C6
Mengingat Memahami Mengaplikasikan Menganalisis Mengevaluasi Mencipta/
Membuat
1,3,5,6,7,8,9, 2,4,11,12,13, 17,18,19,20
10 14,15,16
Penulis menganalisis 20 soal yang disajikan dibawah ini termasuk kedalam
ranah kelompok C1 (Mengingat), C2 (Memahami) dan C4 (Menganalisis). Pada
kelompok C1 ini, terdapat kriteria butir soal seperti mengingat kembali materi
yang telah dipelajari seperti pengetahuan tentang fakta, konsep, prinsip dan
prosedur yang telah dipelajari. Pada jenjang C1 ini, peserta didik hanya menjawab
pertanyaan serta lebih diutamakan mengingat dan menghafal saja. Pada soal
pilihan berganda (1,3,5,6,7,8,9,10) dibawah ini, membuat peserta didik hanya
perlu mengingat serta menghafal materi sich vorstellen dan personal pronomen im
akkusativ. Adapun kata kerja operasional yang teridentifikasi dalam butir-butir
soal dibawah ini adalah mengidentifikasi, menghafal, mencatat,
menandai,menjodohkan dan menulis. Pada soal berikutnya, dibagian pilihan
berganda (2,4) dan essay (11,12,13,14,15,16) termasuk ke ranah kelompok C2
(Memahami). Soal tersebut terkait materi tentang artikel benda dan kalimat
ungkapan yang dimana siswa harus memahami soal tersebut dengan menentukan
jawaban sesuai dan tepat pada teks/dialog. Dan soal essay terakhir pada nomor
(17,18,19,20) termasuk dalam kelompok ranah C4 (menganalisis). Soal tersebut
terkait materi tentang modal verben. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
berdasarkan dari hasil penelitian, dideskripsikan pada hasil analisis dan
pembahasan. Mengenai HOTS pada soal kemampuan membaca pemahaman pada
Paket Soal Bahasa Jerman diperoleh 4 butir soal yang memenuhi kriteria HOTS.
Dari jumlah tersebut terdapat 4 butir soal dengan level menganalisis (C4).
Kemudian tersisa 16 butir soal yang belum termasuk kriteria HOTS atau termasuk
ke dalam kriteria LOTS. Terdiri dari 8 soal mengingat (C1), dan 8 soal memahami
(C2). Dan di dalam paket soal tersebut diperoleh lebih banyak kriteria LOTS
(Low Order Thinking Skill) daripada jenis soal HOTS (Higher Order Thinking
Skill). Berikut adalah contoh soalnya:
Terdapat 8 soal pilihan berganda yang diantaranya pada nomor
(1,3,5,6,7,8,9,10) yang telah dipaparkan dibawah ini yang termasuk kedalam
kelompok C1 yang berada pada level mengingat. Dan soal pilihan berganda
pada nomor (2,4) merupakan kelompok C2 yang dimana berada pada level
memahami. Berikut adalah contoh soal yang termasuk ke dalam level C1 dan
C2 :
Wählen Sie die Richtige Antwort
1. X: Du Arief,…?
Y : Aus Bandung
A. Wo wohnt Arief?
B. Woher kommst du?
C. Wann kommst du?
D. Wo wohnst du?
E. Woher kommt Arief?
Dari soal diatas merupakan materi terkait sich vorstellen. Dalam soal tersebut
terdapat perintah untuk melengkapi bagian kata/kalimat yang rumpang, siswa
harus memahami kata atau kalimat yang tepat dalam sambungan kalimat tersebut.
2. X : Sag mal, was machst du in der Freizeit?
Y : Ich sehe fern. … Viele Filme
A. Es ist
B. Es geht
C. Es gibt
D. Das ist
E. Das wird
Dari soal diatas terdapat dialog singkat yang harus dilengkapi. Siswa harus
menentukan kata/kalimat yang sesuai dengan percakapan pada soal tersebut dan
juga pada penggunaan endungen (akhiran) yang tepat.
3. Anggi :Wie viele Geschwister … Petra?
Rina : keine
A. Habe
B. Haben
C. Habt
D. Hast
E. Hat
Dari soal di atas terdapat perintah untuk memilih kata kerja (Verben)
konjugasi yang tepat untuk melengkapi bagian yang rumpang. Dalam soal ini,
siswa hanya diberikan perintah untuk menentukan kata kerja (Verben) dengan
menggunakan konjugasi yang benar pada bagian kalimat tersebut.
4. Arifna : kannst du heute Abend zu mir kommen?
Dini : ….! Ich habe Unterricht
A. Bitte
B. Hallo
C. Danke
D. Tut mir leid
E. Sag mal
Dari soal diatas terdapat dialog singkat yang harus dilengkapi. Setelah dikaji
dari soal tersebut, siswa harus menentukan ungkapan yang sesuai dengan
percakapan tersebut.
5. Rina : … du, wo Hans wohnt?
Kiki : Nein, leider nicht
A. Weiss
B. Weisst
C. Wisse
D. Wissen
E. Wisst
Dari soal dalam berbentuk dialog singkat tersebut, siswa harus melengkapi
kata kerja yang sesuai dengan endungen (akhiran).
6. Rita : Was ist den los? Gehst du nicht in die Schule.
Iin : Nein, wir haben… Unterricht.
A. Kein
B. Keine
C. Keinen
D. Keins
E. nicht
Dari soal dalam berbentuk dialog singkat tersebut terdapat perintah untuk
memilih penggunaan kata Negation yang sesuai dengan kalimat pada percakapan
tersebut.
7. Nina telefoniert Corina.
Nina : Hallo, Corina, wo bist du jetzt?
Corina : Zu Haus.
Nina : Was machst du gerade?
Corina : Ich … Eltern. Ich wasche Kleider und Koche das Mittagesen.
A. Lese
B. Spreche
C. Hӧre
D. Helfe
E. Sehe
Dari soal dalam berbentuk dialog singkat diatas, siswa harus melengkapi kata
kerja yang sesuai dengan percakapan tersebut dan menggunakan endungen
(akhiran) yang tepat sesuai dengan subject dalam kalimat atau percakapan.
8. Ich kenne Bella, aber Bella kennt …
A. Mich
B. Dich
C. Uns
D. Euch
E. Es
Dari soal diatas terdapat kalimat rumpang yang harus dilengkapi. Dalam soal
tersebut, siswa harus menentukan penggunaan kata/kalimat yang tepat dalam
bentuk kalimat Refleksivpronomen Akkusativ
9. Kennen Sie Herrn Krause?
Ja, ich finde … sehr nett.
A. Uns
B. Euch
C. Sie
D. Ihn
E. Mich
10. Fitri : Helft ihr eueren Freunden?
Tina :Ja, wir helfen….immer
A. sie
B. ihr
C. ihn
D. ihnen
E. Ihnen
Dari kedua soal diatas pada nomor (9-10), terdapat perintah untuk menentukan
kata ganti orang (personalpronomen) dalam bentuk akkusativ.
Terdapat 6 soal essay yang diantaranya pada nomor (11,12,13,14,15) ini
termasuk kedalam kelompok C2 yang dimana berada pada level
memahami. Berikut adalah contoh soal yang termasuk ke dalam level C2 :
Ergänzen Sie die Richtige Artikel
11. Ist das …. Büro von Herrn Kӧrner? Ja, er arbeitet hier. / ein
12. Das ist eine Tasche. Das ist…Rucksack. / einen
13. Das ist … Kirche. …. Kirche heiβt Sankt Paul. …. Ist sehr schӧn. / eine,
die, Das
14. München ist … Stadt in Deutschland. …. Stadt ist sehr interessant. / eine,
die
15. Ist das Wörterbuch? Ja das ist … Wörterbuch. /ein
16. Ist das…Füller?Nein, das ist … Füller. Das ist… Bleistift. / einen, keinen,
einen
Pada soal nomor (11-16), terdapat kalimat rumpang yang harus dilengkapi
menjadi kalimat yang utuh. Siswa harus menentukan artikel yang sesuai pada kata
benda tersebut.
Terdapat 4 soal essay yang diantaranya pada nomor (17,18,19,29) ini
termasuk kedalam kelompok C4 yang dimana berada pada level
menganalisis. Berikut adalah contoh soal yang termasuk ke dalam level
C4:
Ergänzen Sie die Sätze
Möchten Müssen Sollen Dürfen
17. Mama, …. Ich ein Eis essen? (Modalverben) / Darf
- Ja, aber nicht jetzt.
18. …. ihr noch ein Glas Wein trinken? (Modalverben) / mӧchtet
- Ja, gerne
19. Der Arzt sagt, er …. viel Obst und Gemüse essen. (Modalverben) / soll
20. Morgen ist keine Schule. Wir …. Keine Hausaufgaben machen.
(Modalverben) / müssen
Pada soal diatas di nomor (11-16), terdapat kalimat rumpang yang harus
dilengkapi. Siswa harus menganalisis soal tersebut termasuk menggunakan kata
modalverben apa yang sesuai dengan kalimat tersebut.
Kepustakaan
Arbiatin, E & Mulabbiyah. 2020. Analisis Kelayakan Butir Soal Tes Penilaian
AKhir Semester Mata Pelajaran Matematika Kelas VI SDN 19 Ampenan Tahun
Pelajaran 2019/2020. Jurnal PGMI. 12 (2), Hal 146-171.
Baroroh, Titi. 2017. Pengaruh Minat Belajar dan Penugasan Grammatik Terhadap
Keterampilan Menulis Bahasa Jerman Peserta Didik Kelas XI SMA Negeri 1
Temanggung.
Lestari, Anggi dkk . 2016. Pengembangan Soal Tes Berbasis HOTS Pada Model
Pembelajaran Latihan Penelitian di Sekolah Dasar. Tasikmalaya.
Mahbubillah, U Bayquni dkk. 2020. Perbandingan Soal HOTS dan LOTS Pada
Ujian Nasional Sekolah Dasar Sederajat di Kabupaten Sumenep. Jurnal
Pendidikan Dasar. 4 (1), Hal 40-48.
Malik, A Rinaldy dkk. 2020. Pengaruh Strategi Pembelajaran Mobile Learning
dan Gaya Belajar Visual Terhadap Penguasaan Kosakata Bahasa Jerman Siswa
SMA Negeri 1 Maros. Jurnal Visipena. 11 (1), Hal 194-205.
Mustafa, P. S. 2021. Problematika Rancangan Penilaian Pendidikan Jasmani, Olahraga,
dan Kesehatan dalam Kurikulum 2013 pada Kelas XI [Link] Pendidikan
Edumaspul. 5(1),Hal 184-195.
Setiadi, Hadi. 2016. Pelaksanaaan Penilaian Pada Kurikulum 2013. Jurnal Penelitian
dan Evaluasi Pendidikan. 20 (2),Hal 166-178.
Setiawati, wiwik dkk. 2019. Buku Penilaian Beroirentasi Higher Order Thinking Skills.
Jakarta. Kemdikbud.
Wibawa, E Ary. 2019. Karakteristik Butir Soal Tes Ujian Akhir Semester Hukum Bisnis.
Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia. 17 (1), Hal 87-89.
Wulandari, J, P.D. 2017. Rubrik Penilaian Karangan Mahasiswa PS Sastra Jerman FIB
UI dan Peserta Kursus Kelas Bahasa Jerman LBI UI.