0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan66 halaman

Herbal Sambiloto Turunkan Glukosa Darah

Proposal ini membahas penelitian tentang pengaruh rebusan herbal daun sambiloto terhadap penurunan kadar glukosa darah pada penderita diabetes di Puskesmas Jabon Jombang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian rebusan herbal daun sambiloto terhadap penurunan kadar glukosa darah pada penderita diabetes. Hasil penelitian diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang penggunaan tanaman obat tradision

Diunggah oleh

Fatimmatuz zahroh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan66 halaman

Herbal Sambiloto Turunkan Glukosa Darah

Proposal ini membahas penelitian tentang pengaruh rebusan herbal daun sambiloto terhadap penurunan kadar glukosa darah pada penderita diabetes di Puskesmas Jabon Jombang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian rebusan herbal daun sambiloto terhadap penurunan kadar glukosa darah pada penderita diabetes. Hasil penelitian diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang penggunaan tanaman obat tradision

Diunggah oleh

Fatimmatuz zahroh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH REBUSAN HERBAL DAUN SAMBILOTO TERHADAP

PENURUNAN KADAR GLUKOSA DALAM DARAH DI


PUSKESMAS JABON JOMBANG

PROPOSAL SKRIPSI

PROPOSAL ini diajukan sebagai salah satu persyaratan salah satu untuk memperoleh
gelar Sarjana Keperawatan

Disusun oleh:

CABRIO MARBLE CITRA DANTA


NIM : 181301007

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN


STIKES PEMKAB JOMBANG
PRODI S1 KEPERAWATAN
TAHUN 2022
PENGARUH REBUSAN HERBAL DAUN SAMBILOTO TERHADAP
PENURUNAN KADAR GLUKOSA DALAM DARAH DI
PUSKESMAS JABON JOMBANG

PROPOSAL SKRIPSI

PROPOSAL ini diajukan sebagai salah satu persyaratan salah satu untuk memperoleh
gelar Sarjana Keperawatan

Disusun oleh:

CABRIO MARBLE CITRA DANTA


NIM : 181301007

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN


STIKES PEMKAB JOMBANG
PRODI S1 KEPERAWATAN
TAHUN 2022
LEMBAR PERSETUJUAN

PROPOSAL

PENGARUH REBUSAN HERBAL DAUN SAMBILOTO TERHADAP


PENURUNAN KADAR GLUKOSA DALAM DARAH DI
PUSKESMAS JABON JOMBANG

Disusun oleh :

CABRIO MARBLE CITRA DANTA


NIM : 181301007

Telah disetujui untuk diseminarkan pada tanggal

Pembimbing:

Alik Septian Mubarok, S,Kep.,Ns.,[Link] Tanggal :


NIK. 011988300920110973
LEMBAR PENGESAHAN

PRPOSAL

PENGARUH REBUSAN HERBAL DAUN SAMBILOTO TERHADAP


PENURUNAN KADAR GLUKOSA DALAM DARAH DI
PUSKESMAS JABON JOMBANG

Disusun oleh :

CABRIO MARBLE CITRA DANTA


NIM : 181301007

Telah dipertahankan di depan Team Penguji Pada Tanggal,


Susunan Team Penguji

Penguji I

Supriliyah Praningsih, [Link].,Ns.,[Link] (………………........)


NIK : 011986050420100253 Tanda Tangan

Penguji II

Alik Septian Mubarok, S,Kep.,Ns.,[Link] (…………………….)


NIK :011988300920110973 Tanda Tangan

Proposal ini telah diseminarkan sebagai salah satu persyaratan untuk melanjutkan
penelitian Jombang,
Mengetahui
Ketua Prodi Sarjana – Keperawatan

Shanti Rosmaharani, [Link],Ns


NIK : 0119841504201301100
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Cabrio Marble Citra Danta

NIM : 181301007

Judul Penelitian : Pengaruh Rebusan Herbal Daun Sambiloto Terhadap

Kadar Glukosa Dalam Darah Di Puskesmas Jabon Jombang

Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa penelitian tersebut diatas

adalah benar-benar asli dari hasil pemikiran peneliti sendiri. Apabila nanti terbukti bahwa

proposal tersebut tidak asli atau tidak disusun oleh peneliti sendiri maka kami bersedia

untuk menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Jombang,
Yang Membuat Pernyataan

CABRIO MARBLE CITRA DANTA


NIM : 181301007
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat

dan karunia – Nya penulis dapat menyelesaikan proposal dengan judul “Pengaruh

Rebusan Herbal Daun Sambiloto Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Dalam

Darah Di Puskesmas Jabon Jombang”. Dalam penyusunan proposal ini penulis

menyadari adanya kekurangan dan keterbatasan, namun berkat bantuan dan

bimbingan serta dorongan dari semua pihak akhirnya proposal ini dapat

diselesaikan dengan baik.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya

kepada:

1. Dr. Ririn Probowati, [Link].,[Link], selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan

Pemkab Jombang.

2. Ns. Shanti Rosmaharani, [Link].,[Link], selaku Ketua Program Studi Sarjana

Keperawatan.

3. Supriliyah Praningsih, [Link].,Ns.,[Link] selaku Penguji dalam seminar proposal

saya.

4. Alik Septian Mubarok, S,Kep.,Ns.,[Link] selaku Pembimbing yang telah

membimbing dan mengarahkan saya dalam penyusunan proposal ini.

5. Seluruh keluarga dan Pasien penderita Diabetes Mellitus yang telah mengijinkan

saya untuk melakukan penelitian dan membantu saya selama penelitian.

6. Segenap Dosen pengajar STIKES Pemkab Jombang atas bimbingan dan

arahannya.

7. Kedua orang tua serta orang special yang senantiasa memberikan doa dan

semangat dan motivasi dalam penyelesaian penelitian proposal ini.

8. Sahabat-sahabatku, yang senantiasa memberi support dan dukungan dalam

penyusunan proposal ini.


9. Semua responden yang telah bersedia dilakukan penelitian sehingga dapat

memperlancar penelitian proposal ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan proposal ini masih

belum sempurna dan penulis telah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan

kemampuan, oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat

penulis harapkan.

Jombang,
Yang Membuat Pernyataan

CABRIO MARBLE CITRA DANTA


NIM : 181301007
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL LUAR ........................................................................................
HALAMAN JUDUL DALAM ....................................................................................
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN..........................................
LEMBAR PERSETUJUAN.........................................................................................
LEMBAR PENGESAHAN .........................................................................................
KATA PENGANTAR...................................................................................................
DAFTAR ISI .................................................................................................................
DAFTAR TABEL ........................................................................................................
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................
1.1 Latar Belakang ....................................................................................................
1.2 Rumusan Masalah ...............................................................................................
1.3 Batasan Masalah ..................................................................................................
1.4 Tujuan Penelitian ................................................................................................
1.4.1 Tujuan Umum ..............................................................................................
1.4.2 Tujuan Khusus .............................................................................................
1.5 Manfaat Penelitian ..............................................................................................
1.5.1 Manfaat Teoritis ..........................................................................................
1.5.2 Manfaat Praktisi ...........................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................
2.1 Konsep Diabetes Mellitus ...................................................................................
2.1.1 Pengertian ....................................................................................................
2.1.2 Gejala ...........................................................................................................
2.1.3 Etiologi ........................................................................................................
2.1.4 Cara Pemeriksaan ........................................................................................
2.1.5 Faktor Mempengaruhi .................................................................................
2.1.6 Penatalaksanaan DM ...................................................................................
2.1.7 Terapi Farmakologis ....................................................................................
2.2 Konsep Dewasa ...................................................................................................
2.3 Konsep Teori .......................................................................................................
2.3.1 Perawatan Diri Berdasarkan Orem ..............................................................
2.4 Konsep Daun Sambiloto .....................................................................................
2.4.1 Tanaman Sambiloto .....................................................................................
2.4.2 Morfologi Sambiloto ...................................................................................
2.4.3 Klasifikasi Sambiloto ..................................................................................
2.4.4 Kandungan Senyawa Kimia ........................................................................
2.4.5 Ekstrak & Ekstraksi .....................................................................................
2.4.6 Manfaat Daun Sambiloto .............................................................................
2.4.7 Penggunaan Pengobatan Tradisional ...........................................................
2.5 Kerangka Konseptual ..........................................................................................
2.6 Hipotesis Penelitian .............................................................................................
BAB III METODE PENELITIAN ........................................................................
3.1 Desain Penelitian .................................................................................................
3.2 Kerangka Kerja ...................................................................................................
3.3 Populasi, Sampel & Sampling Data ....................................................................
3.3.1 Populasi .......................................................................................................
3.3.2 Sampel .........................................................................................................
3.3.3 Sampling Data .............................................................................................
3.4 Identifikasi Variabel ............................................................................................
3.5 Definisi Operasional ............................................................................................
3.6 Waktu & Tempat Penelitian ................................................................................
3.6.1 Waktu ..........................................................................................................
3.6.2 Tempat .........................................................................................................
3.7 Pengumpulan Data ..............................................................................................
3.7.1 Alur Pengumpulan .......................................................................................
3.8 Instrumen Penelitian ............................................................................................
3.9 Uji Validitas ........................................................................................................
3.10 Cara Analisa Data .............................................................................................
3.11 Etika Penelitian .................................................................................................
DAFTAR GAMBAR
2.4 Sambiloto (Andrographis paniculata) Sumber: Ratnani, dkk, 2012 .......................
3.1 Kerangka pengaruh rebusan herbal daun sambiloto terhadap penurunan kadar
glukosa dalam darah di Puskesmas Jabon Kabupaten Jombang ....................................

DAFTAR TABEL
3.2 Definisi operasional pengaruh rebusan herbal daun sambiloto terhadap penurunan
kadar glukosa dalam darah di Puskesmas Jabon Kabupaten Jombang ..........................
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penderita Diabetes Mellitus khususnya Indonesia sudah tidak asing lagi

dengan penyakit Diabetes Mellitus, salh satunya penyakit degeneratif seperti

stroke dan penyakit jantung, diabetes mellitus ialah suatu kelompok penyakit yang

menyerang system metabolic dengan karateristik hiperglikemia yang terjadi pada

kelainan sekresi insulin, kerjanya insulin atau mempengaruhi keduanya. Dalam

dalam hal ini pengobatan herbal akan menjadi solusi kesembuhan penyakit

diabetes mellitus type 2 dengan rebusan herbal dari daun sambiloto pengobatan ini

yang berlangsung saat ini yaitu jasmani dan terapi farmakologis, terapi

farmakologis terdiri dari obat yang diberikan secara oral maupun dalam bentuk

suntikan (American Diabetes Associaton, 2014).

Pengobatan penyakit Diabetes Mellitus dialkukan oleh pemerintah melalui

berbagai macam cara yaitu menggunakan obat farmakologis maupun obat herbal,

menurut Winarto, (2007) penggunaan obat dalamn jangka Panjang mampu

mengakibatkan efek samping berupa latic acidosis, dengan gejala nyeri otot,

kelelahan, diare, mual yang berdampak buruk bagi tubuh jika terus dikonsumsi

dalam jangka Panjang hal ini membuat masyarakat zaman sekarang mulai

menggunakan obat herbal sebagai penggantinya.

Prevalensi Diabetes Mellitus type 2 di Indonesia menurut IDF (2014)

adalah sebesar 5,8% atau sekitar 9,1 juta orang dan jumlah yang terjangkit

diabetes mellitus type 2 diperkirakan akan mengalami peningkatan sampai dengan

6,67% yang akan muncul pada tahun 2035 atau sekitar 14 juta orang yang

terjangkit penyakit diabetes mellitus type 2, berdasarkan data dari DINKES


provinsi jawa timur (2012) menyebabkan bahwa diabetes menempati kedudukan

pada nomor 2 setelah hipertensi dengan jumlah kasus sebanyak 102,399,

sedangkan di Kabupaten Jombang sendiri berdasarkan studi pendahuluan peneliti

ini di puskesmas jabon kabupaten jombang pada tanggal 10 November 2021

penuturan salah satu petugas puskesmas setiap bulannya terdapat pasien mengeluh

tiba-tiba kesehatannya drop seperti turunnya berat badan yang drastic dan diduga

terindikasi penyakit Diabetes Mellitus. Di Kabupaten Jombang terdapat pasien

Diabetes Mellitus berjumlah 1,724 pada tahun 2019 angka tertinggi yaitu

dikecamatan Diwek Puskesmas Cukir. Berdasarkan studi di puskesmas jabon

didaptakan 5 orang mengetahui defenisi tanda gejala penyebab dan

pencegahannya diabetes mellitus salah satu diantaranya sudah melakukan upaya

dalam pencegahan diabetes mellitus ini karena dari keluarga mereka ada yang

terjangkit diabetes mellitus 6 orang lainnya hanya mengetahui pencegahannya

dengan mengurangi minuman yang manis-manis dan 4 orang lainnya menganggap

diabetes hanya menyerang lansia dan penyakit di usia lanjut mereka mengeluh jika

merasa sering buang air kecil, mudah lapar dan badan turun drastic tidak pernah

memeriksanya kedokter maupun kerumah sakit untuk mengetahui tanda-tanda

yang alami.

Berdasarkan penelitian pengobatan farmakologi untuk penderita diabetes

semakin beragam, untuk pengobatan diabetes pun juga semakin mahal dan hampir

tidak terjangkau hal ini benar utama oleh penderita di negara-negara berkembang

seperti Indonesia. Kemampuan negara-negara berkembang sendiri untuk

mengobati penyakit diabetes sangat diragukan dan diperlukan modal manajemen

yang lebih murah dan efektif (Subroto. 2006). WHO merekomendasikan

penggunaan obat tradisional termasuk herbal dalam pemeliharaan Kesehatan

masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit, terutama untuk terjangkit

penyakit kronis penyakit degeneratif dan kanker. Menurut Utami (2003),

dikalangan masyarakat telah banyak dikenal pengobatan alternatif dengan alas an


pemilihannya pengobatan alami efek samping dari pengobatan sedikit dan lebih

murah serta mudah didapat pengobatan alternatif seperti obat yang berasal dari

Daun Sambiloto mempunyai khasiat untuk mengurangi kadar glukosa yang

terdapat dalam darah dan digunakan sebagai terapi nonfarmakologi untuk

menurunkan kadar glukosa dalam darah, Andrographis paniculate memiliki

sejarah Panjang dan penggunaan obat tradisional dan penggunaannya sangat

popular selama satu abad terakhir, selain itu terkenal efeknya dalam mendukung

fungsi kekebalan tubuh normal, Andropraphis paniculate juga telah terbukti

membantu mendukung fungsi hati (hepatoprotektif). Berdasarkan penilitian

ekstrak air dari Andrographis paniculate dapat menurunkan kadar glukosa dalam

darah sebesar 41,5% hanya dalam 2 jam dalam penelitian lainnya Andrographis

paniculate juga telah menunjukkan efek yang signifikan sebagai anti

hiperglikemia. Andrografolida merupakan senyawa aktif dalam Andrographis

paniculate yang telah menunjukkan sebagai anti hiperglikemik. Metode ini yang

digunakan pada penelitian ini adalah metode rebusan (decotion) dengan air panas,

metode ini adalah metode pilihan ketika bekerja dengan tanaman yang memiliki

kandungan larut air.

Salah satu pencegahan dari pasien penyakit Diabetes Mellitus type 2 yaitu

dengan terapi herbal dari daun sambiloto, metode ini yang digunakan pada

penelitian ini adalah metode rebusan (decotion) dengan air panas, metode ini

adalah pilihan ketika bekerja dengan tanaman yang memiliki kandungan larut air.

Hubungan antara demografi dan karateristik sosial ekonomi masyarakat

berpengaruh pada angka prevalensi penggunaan herbal bersamaan dengan obat

sintetis yang tinggi ini merupakan alasan yang kuat untuk pemanfaatan obat-

obatan herbal dalam Kesehatan termasuk untuk penderita diabetes mellitus

(Adibe, 2009).
Berdasarkan data dari uraian latar belakang tersebut, pasien ataupun

keluarga pasien mayoritas belum mengetahui tentang khasiat daun sambiloto

secara benar sehingga tertarik untuk meneliti tentang “Pengaruh Rebusan Herbal

Daun Sambiloto Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Dalam Darah di Puskesmas

Jabon Kabupaten Jombang”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan pendahuluan diatas maka rumusan masalah ini yaitu “Adakah

pengaruh rebusan herbal daun sambiloto terhadap penurunan kadar glukosa dalam

darah di Puskesmas Jabon Kabupaten Jombang?”.

1.3 Batasan Masalah

Penelitian ini dibatasi hanya pada pengaruh rebusan herbal daun sambiloto

terhadap penurunan kadar glukosa dalam darah di puskesmas jabon kabupaten

jombang, sedangkan factor yang lain tidak diteliti.

1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan Umum

Mengetahui pengaruh rebusan herbal daun sambiloto terhadap penurunan

kadar glukosa dalam darah di puskesmas jabon kabupaten jombang.

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Mengidentefikasi kadar glukosa dalam darah sebelum pemberian rebusan

herbal daun sambiloto.

2. Mengidentifikasi kadar glukosa dalam darah sesudah pemberian rebusan

herbal daun sambiloto.

3. Menganalisis pengaruh pemberian rebusan herbal daun sambiloto terhadap

penurunan kadar glukosa dalam darah di puskesmas jabon.


1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat pada perkembangan ilmu

keperawatan khususnya tentang keperawatan medical bedah untuk menurunkan

kadar glukosa dalam darah dengan menggunakan pengobatan non farmakologi

pemberian air rebusan herbal daun sambiloto.

1.5.2 Manfaat Praktis


a. Bagi petugas Kesehatan, perawat dan puskesmas

Sebagai bahan informasi kepada pasien tentang pentingnya pemberian air rebusan

herbal daun sambiloto dengan kadar glukosa dalam darah dapat digunakan untuk

pengobatan non farmakologi di puskesmas kabupaten jombang.

b. Bagi tempat penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman dalam memberikan informasi

tentang air rebusan herbal daun sambilotol pada penderita diabetes mellitus serta

dapat digunakan sebagai obat non farmakologi dalam upaya menurunkan kadar

glukosa dalam darah di puskesmas jabon.

c. Bagi institusi Pendidikan

Hasil dari penelitian yang diadakan hendaknya menjadi refrensi tambahan untuk

pengembangan pengetahuan dalam Pendidikan dan perlengkapan bahan Pustaka

tentang pengaruh rebusan herbal daun sambiloto terhadap penurunan kadar

glukosa dalam darah.

d. Bagi peneliti selanjutnya

Dapat menjadi refrensi untuk Pendidikan selanjutnya tentang pengaruh pemberian

air rebusan herbal daun sambiloto terhadap penurunan kadar glukosa dalam darah.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Diabetes Mellitus


2.1.1 Pengertian
Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolic dengan

karateristik gula darah melebihi normal. Diabetes adalah suatu penyakit dimana

tubuh penderita tidak bisa secara otomatis mengendalikan tingkat gula dalam

darah. Pada tubuh yang sehat pancreas melepas hormone insulin yang bertugas

mengangkut gula melalui darah ke otot-otot dan jaringan lain untuk memasok

energi. Penderita diabetes tidak bisa memproduksi insulin dalam jumlah yang

cukup atau tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara efektif, sehingga

terjadilah kelebihan gula di dalam darah. Kelebihan gula yang kronis dalam darah

ini menjadi racun bagi tubuh (Wirnasari, 2019).

2.1.2 Gejala Dan Tanda-Tanda Awal


Adanya penyakit diabetes ini pada awalnya sering kali tidak dirasakan

oleh penderita. Beberapa keluhan dan gejala yang perlu mendapatkan perhatian

(Wirnasari, 2019).

1. Keluhan Fisik
a. Penurunan berat badan dan rasa lemah

Penurunan berat badan yang berlangsung dalam waktu yang relative

singkat harus menimbulkan kecurigaan. Rasa lemah yang menyebabkan

penurunan prestasi disekolahkan dan lapangan olahraga juga mencolok, hal ini

disebabkan glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke dalam sel, sehingga sel

kekurangan bahan bakar untuk menghasilkan tenaga. Sumber tenaga terpaksa

diambil dari cadangan lain yaitu lemak dan otot. Dampaknya penderita kehilangan

jaringan lemak dan otot sehingga menjadi kurus.

b. Banyak Kencing
Karena sifatnya kadar glukosa darah yang tinggi akan menyebabkan

banyak kencing, kencing yang sering dan banyak akan sangat mengganggu

penderita terutama pada waktu malam hari.

c. Banyak Minum
Rasa haus amat sering dialami penderita karena sebanyak cairan yang

keluar melalui kencing. Keadaan ini justru sering disalah artikan, dikiranya sebab

rasa haus yaitu udara panas atau beban kerja berat jadi untuk menghilangkan rasa

haus itu penderita minum banyak.

d. Banyak Makan

Kalori dari makanan yang dimakan setelah dimetabolisme menjadi

glukosa dalam darah tidak seluruhnya dapat dimanfaatkan penderita selalu merasa

lapar.

2. Keluhan Lain
a. Gangguan saraf tepi atau kesemutan

Penderita mengeluh rasa sakit atau kesemutan terutama pada kaki di waktu

malam, sehingga mengganggu tidur.

b. Gangguan penglihatan

Pada fase awal penyakit diabetes mellitus sering dijumpai gangguan

penglihatan yang mendorong penderita untuk mengganti kacamatanya berulang

kali agar tetap melihat dengan baik.

c. Gatal atau bisul

Kelainan kulit berupa gatal, biasanya terjadi di daerah kemaluan atau

daerah lipatan kulit seperti ketiak dan dibawah payudara. Sering pula dikeluhkan

timbulnya bisul atau luka lecet karena sepatu atau tertusuk benda tajam.

d. Gangguan ereksi

Gangguan ereksi ini menjadi masalah tersembunyi karena sering tidak

secara terus menerus dikemukakan penderitanya, hal ini terkait dengan budaya

masyarakat yang masih merasa tabu membicarakan masalah seks apalagi

menyangkut kemampuan untuk kejantanan seseorang.

e. Keputihan

Pada Wanita, keputihan dan gatal merupaka keluhan yang sering

ditemukan dan kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala yang dirasakan.

2.1.3 Etiologi
Wirnasari (2019), terdapat etiologi proses terjadinya diabetes mellitus
menurut typenya diantaranya:

a. Diabetes Mellitus tipe 1

Diabetes tipe 1 ditandai oleh penghancuran sel-sel beta pancreas

kombinasi factor genetic, imunologi dan mungkin lingkungan (misalnya, infeksi

virus) diperkirakan turut menimbulkan destruksi sel beta. Faltor-faktor genetic

penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe 1 itu sendiri: tetapi mewarisi suatu

prediposisi atau kecenderungan genetic kearah terjadinya diabetes tipe 1.


Kecenderungan genetic ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen

HLA (huaman leucocyte antigen) tertentu. HLA merupakan kumpulan gen yang

bertanggung jawab antigen transplantasi dan proses imun lainnya, 95% pasien

berkulit putih dengan diabetes tipe 1 memperlihstkan tipe HLA yang spesifik (DR

3 atau DR 4) risiko terjadinya diabetes tipe 1 meningkat tiga hingga lima kali lipat

individu yang memiliki salah satu dari kedua tipe HLA ini. Risiko tersebut

meningkat sampai 10 kali pada individu yang memiliki tipe HLA DR3 maupun

DR4 (jika dibandingkan dengan populasi umum).

Faktor lingkungan penyelidikan juga sedang dilakukan terhadap

kemungkinan factor-factor eksternal yang dapat memicu destruksi sel beta.

Sebagai contoh hasil penyelidikan yang menyatakan bahwa virus atau toksin

tertentu dapat memicu proses autoimun yang menimbulkan destruksi sel beta.

b. Diabetes Mellitus tipe 2

Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan

sekresi insulin pada diabetes tipe 2 masih belum diketahui, factor genetic

diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin, selain

itu terdapat factor-faktor risiko tertentu yang berhubungan dengan proses

terjadinya diabetes tupe 2 faktor tersebut sebagai berikut:

1. Usia

2. Obesitas

3. Riwayat keluarga

4. Kelompok etnik

2.1.4 Cara pemeriksaan kadar glukosa

Dalam pemeriksaan kadar glukosa darah dikenal beberapa jenis

pemeriksaan, antara lain peeriksaan glukosa darah puasa, glukosa adrah sewaktu,

glukosa darah 2 jam PP, pemeriksaa glukosa darah ke-2 pada tes toleransi glukosa

oral (TTGO), pemeriksaan HbA1C (Yulizar Darwis, 2005).

1. Glukosa darah sewaktu


Glukosa darah sewaktu merupakan pemeriksaan kadar glukosa darah yang

dilakukan setiap hari tanpa memperhatikan makanan yang dimakan dan kondisi

tubuh orang tersebut. Pemeriksaan kadar gula darah sewaktu adalah pemeriksaan

gula darah yang dilakukan setiap waktu, tanpa ada syarat puasa dan makan.

Pemeriksaan ini dilakukan sebanyak 4 kali sehari pada saat sebelum makan dan

sebelum tidur sehingga dapat dilakukan secara mandiri (Andreassen, 2014).

2. Glukosa darah puasa

Glukosa darah puasa merupakan pemeriksaan kadar glukosa darah yang

dilakukan setelah pasien puasa selama 8-10 jam. Pasien diminta untuk melakukan

puasa sebelum melakukan tes untuk menghindari adanya peningkatan gula darah

lewat makanan yang mempengaruhi hasil tes.

3. Glukosa 2 jam setelah makan (postprandial)

Glukosa 2 jam setelah makan merupakan pemeriksaan kadar glukosa darah

yang dilakukan 2 jam dihitung setelah pasien selesai makan (M. Mufti dkk, 2015).

Pemeriksaan kadar postprandial adalah pemeriksaan kadar gula darah yang

dilakukan saat 2 jam setelah makan. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi

adanya diabetes atau reaksi hipoglikemik. Standarnya pemeriksaan ini dilakukan

minimal 3 bulan sekali. Kadar gula di dalam darah akan mencapai kadar yang

paling tinggi pada saat dua jam setelah makan. Normalnya, kadar gula dalam

darah tidak akan melebihi 180 mg per 100 cc darah. Kadar gula darah 190 mg/dl

disebut sebagai nilai ambang ginjal. Jika kadar gula melebihi nilai ambang ginjal

maka kelebihan gula akan keluar bersama urin (Depkes, 2008).

4. Pemeriksaan Penyaring

Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan dengan cara melalui

pemriksaan kadar glukosa darah sewaktu atau kadar glukosa darah puasa. Apabila

pemeriksaan penyaring ditemukan hasil positif, maka perlu dilakukan konfirmasi

dengan pemeriksaan glukosa plasma puasa atau dengan tes glukosa oral (TTGO)

standart (MenKes, 2014).


5. HbA1c

HbA1c adalah zat yang terbentuk dari reaksi antara glukosa dan

hemoglobin (bagian dari sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke

seluruh bagian tubuh). Makin tinggi kadar gula darah, maka semakin banyak

molekul hemoglobin yang berkaitan dengan gula. Apabila pasien sudah pasti

terkena DM, maka pemeriksaan ini penting dilakukan pasien setiap 3 bulan sekali.

Jumlah HbA1c yang terbentuk, bergantung pada kadar glukosa dalam darah

sehingga hasil pemeriksaan HbA1c dapat menggambarkan rata-rata kadar gula

pasien DM dalam waktu 3 bulan. Selain itu, pemeriksaan HbA1c juga dapat

dipakai untuk menilai kualitas pengendalian DM karena hasil pemeriksaan HbA1c

tidak dipengaruhi oleh asupan makanan, obat, maupun olahraga sehingga dapat

dilakukan kapan saja tanpa ada persiapan khusus (Widyastuti, 2011).

2.1.5 Faktor yang mempengaruhi kadar glukosa dalm darah

Pengendalian kadar glukosa darah yang baik dan optimal diperlukan untuk

dapat mencegah terjadinya komplikasi kronik. Berikut merupakan faktor – factor

yang memepengaruhi kadar glukosa, yaitu:

1. Masukan Glukosa

Satu gram karbohidrat mengandung kira-kira 1,4 kalori. Setalah

karbohidrat diabsorbsi melaui usus, seanjtnya masuk ke dalam aliran darah dalam

bentuk glukosa. Bila karbohidrat yang masuk melebihi keperluan tubuh maka

akan menyebabkan glukosa darah (Rahayu S, 2007)


2. Insulin

Kadar glukosa darah yang tinggi setelah makan akan meransang sel pulau

lagehans untuk mengeluarkan insulin. Selama belum ada insulin, glukosa yang

terdapat dalam pendarahan darah tidak dapat masuk ke dalam sel-sel jaringan

tubuh seperti otot dan jaringan lemak (Lanywati, 2001).

3. Glukagon

Memobilisasi gukosa, asam lemak dan asam amino dari penyimpanan ke dalam

aliran darah. Defisiensi glukagon dapat menyebabkan hipoglikemia dan kelebihan

glukagon dapat menyebabkan memburuk (Ganong, 2002).

4. Olahraga dan aktivits

Semua gerak baadan dan olahraga akan menurunkan glukosa darah.

Olahraga mengurangi resitensi insulin sehingga kerja insulin lebih baik dan

mempercepat pengangkutan glukosa masuk ke dalam sel untuk kebutuhan energi.

Makin banyak olaraga, makin cepat dan makin banyak glukosa yang dipakai

(Tandra, 2007).

5. Diet

Makanan minuman dapat mempengaruhi hasil beberapa jenis

pemeriksaan, baik langsung maupun tidak langsung, misalnya:

a. Pemeriksaan gula darah dan trigliserida

Pemeriksaan ini dipengaruhi secara langsung oleh makanan dan minuman

(kecuali air putih tawar). Karena pengaruhnya yang sangat besar, maka pada

pemeriksaan gula darah puasa, pasien perlu dipuasakan 8-10 jam sebelum darah

diambil dan pada pemeriksaan trigliserida perlu dipuasakan sekurang kurangnya

12 jam.

b. Pemeriksaan laju endap darah, aktivitas enzim, besi dantrace element


Pemeriksaan ini dipengaruhi secara tidak langsung oleh makanan dan

minuman karena makanan dan minuman akan mempengaruhi reaksi dalam proses

pemeriksaan sehingga hasilnya menjadi tidak benar.

6. Obat

Obat-obat yang diberikan baik secara oral maupun cara lainnya akan

menyebabkan terjadinya respon tubuh terhadap obat tersebut. Disamping itu

pemberian obat secara intramuskular akan menimbulkan jejas pada otot sehingga

mengakibatkan enzim yang dikandung oleh sel otot masuk ke dalam darah, yang

selanjutnya akan mempengaruhi hasil pemeriksaan antara lain pemeriksaan

Creatin kinase (CK) dan Lactic dehydrogenase (LDH).

7. Merokok

Merokok menyebabkan terjadinya perubahan cepat dan lambat pada kadar

zat tertentu yang diperiksa. Perubahan cepat terjadi dalam 1 jam hanya dengan

merokok 1-5 batang dan terlihat akibatnya berupa peningkatan kadar asam lemak,

epinefrin,gliserol bebas, aldosteron dan kortisol. Ditemukan peningkatan kadar Hb

pada perokok kronik. Perubahan lambat terjadi pada hitung leukosit, lipoprotein,

aktivitas beberapa enzim, hormon, vitamin, petanda tumor dan logam berat.

8. Demam

Pada waktu demam akan terjadi:

a. Peningkatan gula darah pada tahap permulaan, dengan akibat terjadi

peningkatan kadar insulin yang akan menyebabkan terjadinya penurunan kadar

gula darah pada tahap lebih lanjut.

b. Terjadi penurunan kadar kolesterol dan trigliserida padaawal demam

karena terjadi peningkatan metabolisme lemak, dan terjadi peningkatan asam

lemak bebas dan benda-benda keton karena penggunaan lemak yang meningkat

pada demam yang sudah lama.

c. Lebih mudah menemukan parasit malaria dalam darah.

d. Lebih mudah mendapatkan biakan positif.


e. Reaksi anamnestik yang akan menyebabkan kenaikan titer Widal.

(MenKes, 2013).

9. Hormon Tiroid

Kadar glukosa puasa tampak naik di antara pasien-pasien hipertiroid dan

menurun di antara pasien-pasien hipotiroid. Pada pasien hipertiroid kelihatannya

menggunakan glukosa dengan kecepatan yang normal atau meningkat, sedangkan

pasien hipotiroid mengalami penurunan kemampuan dalam menggunakan glukosa

dan mempunyai sensitivitas terhadap insulin yang jauh lebih rendah bila

dibandingkan dengan orang-orang normal atau penderita hipertiroid (Yuriska,

2009).

10. Suhu

Sampel darah yang sudah berada diluar tubuh berupa serum yang

didinginkan pada suhu 20oC akan stabil dalam 24 jam, sedangkan pada suhu

ruang sampel darah tanpa adanya penambahan zat penghambat glikolisis akan

terjadi metabolisme setelah 10 menit dengan kecepatan glikolisis mencapai 7

mg/dl perjam. Sampel darah yang sudah berada diluar tubuh jika tidak segera

dilakukan pemeriksaan akan mengalami penurunan (Munjariyani, 2009 &

Widyastuti, 2011).

11. Stabilitas

Spesimen yang sudah diambil harus segera diperiksa karena stabilitas

spesimen dapat berubah. Faktor yang mempengaruhi stabilitas spesimen antara

lain:

a. Kontaminasi oleh kuman dan bahan kimia.

b. Metabolisme sel-sel hidup pada spesimen.

c. Terjadi penguapan.

d. Pengaruh suhu.

e. Terkena paparan sinar matahari (Menkes, 2010).


2.1.6 Komplikasi

Betapa seriusnya penyakit diabetes mellitus yang menyerang penyandang

diabetes mellitus ini dapat dilihat pada setiap komplikasi yang ditimbulkannya

lebih rumit apalagi, penyakit diabetes menyerang satu alat saja tetapi berbagai

komplikasi dapat diidap bersamaan yaitu: jantung, diabetes, saraf diabetes, dan

kaki diabetes (Wirnasari, 2019).

2.1.7 Klasifikasi diabetes mellitus berdasarkan tipe

Terdapat klasifikasi diabetes mellitus menurut Amercan Diabetes

association (ADA) tahun 2010, meliputi diabetes mellitus 2, diabetes tipe lain dan

diabetes mellitus gestational.

1. Diabetes Mellitus tipe 1

Diabetes mellitus tipe 1 yang disebut diabetes tergantung insulin IDDM

merupakan gangguan katabolic dimana tidak terdapat insulin dalam sirkulasi,

glucagon plasma meningkat dan sel-sel beta prankeas gagal berespon terhadap

semua rangsangan insulinogenic. Hal ini disebabkan oleh penyakit tertentu antara

lain infeksi virus dan autoimun yang membuat produksi insulin terganggu.

Diabetes mellitus ini erat kaitannya dengan tinngginya frekuensi dari antigen HLA

tertentu. Gen-gen yang menjadikan antigen ini terletak pada lengan pendek

kromosom. Onset terjadinya diabetes mellitus tipe 1 dimulai pada masa anak-anak

atau umur 14 tahun (Wirnasari,2019).

2. Diabetes Mellitus tipe 2

Diabetes mellitus tipe 2 merupakan bentuk diabetes nonketoic yang tidak

terkait dengan marker HLA kromosom yang ke 6 dan tidak berkaitan dengan

autoantibody sel, dengan adanya resistensi insuli yang belum menyebabkan

diabetes mellitus secara klinis. Menurut Perkeni (2011) untuk kadar gula darah

puasa normal adalah ≤126 mg/dl, sedangkan untuk kadar gila darah 2 jam setelah

makan yang normal ≤200 mg/dl.


3. Diabetes Mellitus tipe lain

Biasanya disebabkan karena adanya malnutrisi disertai kekurangan

protein, gangguan genetic, pada fungsi sel beta dan kerja insulin namu dapat

terjadi karena penyakit eksokrin pancreas (seperti cystic fibrosis), endokrinopati,

akibat obat-obatan tertentu atau induksi kimia (Wirnasari, 2019).

4. Diabetes Mellitus Gestational

Diabetes mellitus gestational merupakan diabetes mellitus yang timbul

selama kehamilan. Pada masa kehamilan terjadi perubahan yang mengakibatkan

melambatnya reabsorpsi makanan sehingga menimbulkan keadaan hiperglikemik

yang cukup lama menjelang anterm kebutuhan insulin meningkat hingga tiga kali

lipat dibandingkan keadaan normal yang disebut sebagai tekanan diabetonik

dalam kehamilan keadaan ini menyebabkan terjadinya resitensi insulin secara

fisiologis. Diabetes mellitus gestational terjadi ketika tubuh kita dapat membuat

dan menggunakan seluru insulin saat selama kehamilan, tanpa insulin, glukosa

tidak dihantarkan kejaringan untuk dirubah menjadi energi sehingga glukosa

meningkatkan dalam darah yang disebut dengan hiperglikemia (Wirnasari,2019).

2.1.6 Penatalaksanaan Diabetes Mellitus

Menurut Wirnasari (2019) penatalaksanaan pasien diabetes mellitus

dikenal 4 pilar penting dalam mengontrol perjalanan penyakit dan komplikasi.

Empat pilar tersebut adalah edukasi, terapi, nutrisi, aktifitas fisik dan farmakologi.

1. Edukasi

Edukasi yang diberian adalah pemahaman tentang perjalanan penyakit,

pentingnya pengendalian penyakit, komplikasi yang timbul resikonya, pentingnya

intervensi obat dan pematuhan glukosa darah, cara mengatasi hipoglikemia,

perlunya Latihan fisik, dan cara mempergunakan fasilitas Kesehatan. mendidik

pasien bertujuan agar pasien dapat mengontrol gula darah, mengirangi komplikasi

dan meningkatkan kemampuan merawat diri sendiri.


2. Terapi gizi

Perencanaan makan yang baik merupakan bagian penting dari

penatalaksanaan diabetes secara total. Diet seimbang akan mengurangi beban

kerja insulin dengan meniadakan pekerjaan insulin mengubah gula menjadi

glikogen, keberhasilan terapi ini melibatkan dokter, perawat, ahli gizi, pasien itu

sendiri dan keluarganya.

3. Intervensi gizi

Intervensi gizi yang bertujuan untuk menurunkan berat badan perbaikan

kadar glukosa dan lemak darah pada pasien yang gemuk pada diabetes mellitus

tipe 2 mempunyai resiko yang lebih besar dari pada mereka yang hanya

kegemukan metode sehat untuk mengendalikan berat badan, yaitu: makanlah lebih

sedikit kalori mengurangi makanan setiap 500 kalori setiap hari, akan menurunkan

berat badan satu pon satu pekan, atau lebih kurang 2 kg dalam sebulan.

4. Aktivitas fisik

Kegiatan jasmani sehari-hari dan Latihan jasmani secara teratur (3-4 kali

seminggu selama kurang lebih 30 menit), merupakan salah satu pilar dalam

pengelolahan diabetes mellitus tipe 2. Kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki ke

pasar, menggunakan tangga, berkebun harus tetap dilakukan Latihan jasmani

selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan

memperbaiki sentivitas insulin, sehingga akan memperbaiki kendali glukosa

darah. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa Latihan jasmani yang dianjurkan

berupa Latihan jasmani yang bersifat aerobic, seperti jalan kaki, bersepda santai,

jogging, dan berenang. Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan

status kesegaran jasmani. Untuk mereka yang relative sehat, intensitas Latihan

jasmani bisa ditingkatkan, sementara yang sudah mendapatkan komplikasi

diabetes mellitus dapat dikurangi.


2.1.7 Terapi farmakologi
Terapi farmakologi diberikan bersama dengan pengaturan makan dan

Latihan jasmani (gaya hidup sehat). Tetapi farmakologi terdiri dari oabat oral dan

bentuk suntikan. Obat hipoglikemik oral, berdasarkan cara kerjanya dibagi

menjadi 5 golongan: pemicu skresi insulin sulfonylurea dan glinid, peningkat

sentivitas terhadap insulin methormin dan tiazolidindion, penghambat

gluneogenesis, penghambat absorpsi glukosa: penghambat giucosidase alpfa.

2.2 Konsep Dewasa

2.2.1 Pengertian Dewasa Awal

Istilah adult berasal dari kata kerja Latin, seperti juga istilah adolescence-

adolescere yang berarti tumbuh menjadi kedewasaan. Akan tetapi, kata adult

berasal dari bentuk lampau kata kerja adultus yang berarti telah tumbuh menjadi

kekuatan dan ukuran yang sempurna atau telah menjadi dewasa. Jadi, orang

dewasa adalah individu yang telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap

menerima kedudukan dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya.

Masa dewasa awal dimulai pada usia 18 tahun sampai 40 tahun, saat perubahan-

perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemampuan

reproduktif (Hurlock, 2009). Menurut Santrock (2002), masa dewasa awal adalah

masa untuk bekerja dan menjalin hubungan dengan lawan jenis, terkadang

menyisakan sedikit waktu untuk hal lainnya. Bagi kebanyakan individu, menjadi

orang dewasa melibatkan periode transisi yang panjang. Baru-baru ini, transisi

dari masa remaja ke dewasa disebut sebagai masa beranjak dewasa yang terjadi

dari usia 18 sampai 25 tahun, ditandai oleh ekperimen dan eksplorasi. Dimana

banyak individu masih mengeksplorasi jalur karier yang ingin mereka ambil, ingin
menjadi individu yang seperti apa, dan gaya hidup yang seperti apa yang mereka

inginkan, hidup melajang, hidup bersama, atau menikah (Arnett dalam Santrock,

2002) Diungkapkan oleh Erikson (dalam Monks, Knoers & Haditono, 2001),

bahwa tahap dewasa awal yaitu antara usia 20 sampai 30 tahun.

Pada tahap ini manusia mulai menerima dan memikul tanggung jawab

yang lebih berat. Pada tahap ini pula hubungan intim mulai berlaku dan

berkembang. Individu yang tergolong dewasa muda (young adulthood) ialah

mereka yang berusia 20-40 tahun, memiliki peran dan tanggung jawab yang tentu

saja semakin besar. Individu tidak harus bergantung secara ekonomis, sosiologis

maupun psikologis pada orangtuanya (Dariyo, 2003) Berdasarkan pendapat para

tokoh di atas dapat disimpulkan bahwa dewasa awal merupakan masa dimana

individu siap berperan dan bertanggung jawab serta menerima kedudukan di

dalam masyarakat, masa untuk bekerja, terlibat dalam hubungan sosial masyarakat

dan menjalin hubungan dengan lawan jenis. 2. Tugas Perkembangan

Dewasa Awal Hurlock (2009) membagi tugas perkembangan dewasa awal, antara

lain sebagai berikut: (a) Mendapatkan suatu pekerjaan; (b) memilih seorang teman

hidup; (c) belajar hidup bersama dengan suami istri membentuk suatu keluarga;

(d) membesarkan anak-anak; (e) mengelola sebuah rumah tangga; (f) menerima

tanggung jawab sebagai warga Negara; (g) bergabung dalam suatu kelompok

sosial. Menurut Erickson (dalam Santrock, 2002) mengenai hubungan dekat dan

intim, mengungkapkan tentang delapan tahap perkembangan manusia dan masa 3

hubungan intim ini berada pada tahap ke enam yaitu masa yang disebut sebagai

keintiman dan keterkucilan (intimacy versus isolation) yaitu tahap yang dialami

individu selama bertahun-tahun awal masa dewasa dimana individu harus

menghadapi tugas perkembangan pembentukan relasi intim dengan orang lain.

Erickson menggambarkan keintiman sebagai penemuan diri sendiri pada diri

orang lain namun kehilangan diri sendiri. Saat anak muda membentuk

persahabatan yang sehat dan relasi akrab yang intim dengan orang lain maka
keintiman akan dicapai dan jika tidak akan terjadi isolasi. Sehingga individu

dewasa awal yang tidak dapat menjalankan tugas-tugas perkembangannya secara

optimal dan kehidupannya tidak berjalan secara dinamis sehingga tidak dapat

membina hubungan intim dengan orang lain. Berdasarkan pendapat para tokoh di

atas bisa disimpulkan bahwa tugas perkembangan pada masa dewasa awal adalah

membentuk hubungan akrab yang lebih intim dengan orang lain, menerima dan

bertanggung jawab mengenai kehidupannya.

Minat Pada Masa Dewasa Awal

Menurut Hurlock (2009), minat pada dewasa muda sangat luas. Minat ini dapat

dibagi menjadi tiga kategori, yaitu: (a) minat pribadi, yaitu minat yang selalu

menyangkut seseorang tertentu. Minat pribadi pada masa remaja masih terbawa

sampai pada masa dewasa; (b) minat rekreasi, diartikan sebagai kegiatan yang

memberikan kesegaran atau mengembalikan kekuatan dan kesegaran rohani

sesudah lelah bekerja atau sesudah mengalami keresahan batin; (c) minat sosial,

yang pada masa dewasa awal tidak lagi begitu saja dapat menikmati pergaulan

yang spontan sebagaimana dulu ketika masih bersekolah. Sekarang individu harus

mencari jalannya sendiri, menjalin tali persahabatan baru dan memantapkan

identitas mereka lewat upaya mereka sendiri

2.3 Konsep Teori

2.3.1 Perawatan Diri (Self Care) Berdasarkan Orem

Pada dasarnya semua manusia mempunyai kebutuhan untuk melakukan

perawatan diri dan mempunyai hak untuk melakukan perawatan diri

secara mandiri, kecuali bila orang itu tidak mampu. Self care menurut Orem

(2001) adalah kegiatan memenuhi kebutuhan dalam mempertahankan kehidupan,

kesehatan dan kesejahteraan individu baik dalam keadaan sehat maupun sakit

yang dilakukan oleh individu itu sendiri.

Teori defisit perawatan diri (Deficit Self Care) Orem dibentuk

menjadi 3 teori yang saling berhubungan :


1. Teori perawatan diri (self care theory) : menggambarkan dan menjelaskan tujuan

dan cara individu melakukan perawatan dirinya.

2. Teori defisit perawatan diri (deficit self care theory) : menggambarkan dan

menjelaskan keadaan individu yang membutuhkan bantuan dalam melakukan

perawatan diri, salah satunya adalah dari tenaga keperawatan.

3. Teori sistem keperawatan (nursing system theory) : menggambarkan dan

menjelaskan hubungan interpersonal yang harus dilakukan dan dipertahankan

oleh seorang perawat agar dapat melakukan sesuatu

secara produktif.
Adapun penjelasan mengenai ketiga teori keperawatan di atas adalah sebagai

berikut :

1. Teori perawatan diri (self care theory) berdasarkan Orem terdiri dari :

a. Perawatan diri adalah tindakan yang diprakarsai oleh individu dan

diselenggarakan berdasarkan adanya kepentingan untuk mempertahankan hidup,

fungsi tubuh yang sehat, perkembangan dan kesejahteraan.

b. Agen perawatan diri (self care agency) adalah kemampuan yang kompleks

dari individu atau orang-orang dewasa (matur) untuk mengetahui dan memenuhi

kebutuhannya yang ditujukan untuk melakukan fungsi dan perkembangan tubuh.

Self Care Agency ini dipengaruhi oleh tingkat perkembangan usia, pengalaman

hidup, orientasi sosial kultural tentang kesehatan dan sumber-sumber lain yang

ada pada dirinya.

c. Kebutuhan perawatan diri terapeutik (therapeutic self care demands)

adalah tindakan perawatan diri secara total yang dilakukan dalam jangka waktu

tertentu untuk memenuhi seluruh kebutuhan perawatan diri individu melalui

cara-cara tertentu seperti, pengaturan nilai-nilai terkait dengan keadekuatan

pemenuhan udara, cairan serta pemenuhan elemen-elemen aktivitas yang

dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut (upaya promodi, pencegahan,

pemeliharaan dan penyediaan kebutuhan).


Model Orem’s menyebutkan ada beberapa kebutuhan self care

atau yang disebut sebagai self care requisite, yaitu

a. Kebutuhan perawatan diri universal (Universal self care requisite) Hal yang umum

bagi seluruh manusia meliputi pemenuhan

kebutuhan yaitu

1) Pemenuhan kebutuhan udara, pemenuhan kebutuhan udara menurut Orem

yaitu bernapas tanpa menggunakan peralatan oksigen.

2) Pemenuhan kebutuhan air atau minum tanpa adanya gangguan, menurut Orem

kebutuhan air sesuai kebutuhan individu masing-masing atau 6-8 gelas

air/hari.

3) Pemenuhan kebutuhan makanan tanpa gangguan, seperti dapat mengambil

makanan atau peralatan makanan tanpa bantuan.

4) Pemenuhan kebutuhan eliminasi dan kebersihan permukaan tubuh atau

bagian bagian tubuh.

Penyediaan perawatan yang terkait dengan proses eliminasi, seperti

kemampuan individu dalam eliminasi membutuhkan bantuan atau melakukan

secara mandiri seperti BAK dan BAB. Menyediakan peralatan kebersihan diri

dan dapat melakukan tanpa gangguan.

5) Pemenuhan kebutuhan akifitas dan istrahat.

Kebutuhan aktivitas untuk menjaga keseimbangan gerakan fisik seperti

berolah raga dan menjaga pola tidur atau istirahat,

memahami gejala-gejala yang mengganggu intensitas tidur. Menggunakan

kemampuan diri sendiri dan nilai serta norma saat istirahat maupun beraktivitas.

6) Pemenuhan kebutuhan menyendiri dan interaksi sosial.

Menjalin hubungan atau berinteraksi dengan teman sebaya atau

saudara serta mampu beradaptasi dengan lingkungan.

7) Pemenuhan pencegahan dari bahaya pada kehidupan manusia.

Bahaya yang dimaksud berdasarkan Orem adalah mengerti jenis bahaya


yang mebahayakan diri sendiri, mengambil tindakan untuk mencegah bahaya dan

melindungi diri sendiri dari situasi yang berbahaya.

8) Peningkatan perkembangan dalam kelompok sosial sesuai dengan potensi,

keterbatasan dan keinginan manusia pada umumnya. Hal-hal ini dapat

mempengaruhi kondisi tubuh yang dapat mempertahankan fungsi dan struktur

tubuh manusia dan mendukung untuk pertumbuhan serta perkembangan manusia.

b. Kebutuhan Perkembangan Perawatan Diri (Development self care requisite)

Kebutuhan yang dihubungkan pada proses perkembangan dapat

dipengaruhi oleh kondisi dan kejadian tertentu sehingga dapat berupa

tahapan-tahapan yang berbeda pada setiap individu, seperti perubahan kondisi

tubuh dan status sosial. Tahap


perkembangan diri sesuai tahap perkembangan yang dapat terjadi pada

manusia adalah :

1) Penyediaan kondisi-kondisi yang mendukung proses perkembangan.

Memfasilitasi individu dalam tahap perkembangan seperti sekolah.

2) Keterlibatan dalam pengembangan diri.

Mengikuti kegiatan-kegiatan yang mendukung

perkembangannya.

3) Pencegahan terhadap gangguan yang mengancam.

Beberapa hal yang dapat mengganggu kebutuhan perkembangan

perawatan diri pada anak menurut Orem yaitu :

a) Kurangnya pendidikan anak usia sekolah. b) Masalah

adaptasi sosial.

c) Kegagalan individu untuk sehat.

d) Kehilangan orang-orang terdekat seperti orang tua, saudara dan teman.

e) Perubahan mendadak dari tempat tinggal ke lingkungan yang asing.

f) Kesehatan yang buruk atau cacat.


c. Kebutuhan Perawatan Diri Pada Kondisi Adanya Penyimpangan

Kesehatan (Health Deviation Self Care Requisite)

Kebutuhan ini dikaitkan dengan penyimpangan dalam aspek struktur dan

fungsi manusia. Seseorang yang sakit, terluka mengalami kondisi patologis

tertentu, kecacatan atau ketidakmampuan seseorang atau seseorang yang

menjalani pengobatan tetap membutuhkan perawatan diri. Adapun kebutuhan

perawatan diri pada kondiri penyimpangan kesehatan atau perubahan kesehatan

antara lain :

1) Pencarian bantuan kesehatan.

2) Kesadaran akan resiko munculnya masalah akibat pengobatan atau perawatan

yang dijalani.

3) Melakukan diagnostik, terapi, dan rehabilitatif, memahami efek buruk dari

perawatan.

4) Adanya modifikasi gambaran atau konsep diri.

5) Penyesuaian gaya hidup yang dapat mendukung perubahan status kesehatan.

2. Teori Defisit Perawatan Diri (Deficit Self Care Theory)

Setiap orang memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan perawatan

diri secara mandiri, tetapi ketika seseorang tersebut mengalami ketidakmampuan

untuk melakukan perawatan diri secara mandiri, disebut sebagai Self Care

Deficit. Defisit perawatan diri menjelaskan hubungan antara kemampuan

seseorang dalam
bertindak/beraktivitas dengan tuntunan kebutuhan tentang perawatan diri,

sehingga ketika tuntutan lebih besar dari kemampuan, maka seseorang akan

mengalami penurunan/defisit perawatan diri. Orem memiliki metode untuk

proses penyelesaian masalah tersebut, yaitu bertindak atau berbuat sesuatu untuk

orang lain, sebagai pembimbing orang lain, sebagai pendidik, memberikan

support fisik, memberikan support psikologis dan meningkatkan

pengembangan lingkungan untuk pengembangan pribadi serta mengajarkan

atau mendidik orang

lain. Adapun kerangka konseptual Orem sebagai berikut :

Perawatan Diri
H H

Agen Kebutuhan
Fakto Perawatan Diri Perawatan Diri Fakt
r or
Kond Kon
isi disi
Gangguan
H H

Agen Keperawatan

Gambar 2.1 Kerangka konseptual Orem’s self care untuk

keperawatan. H = hubungan, < = hubungan dengan gangguan, saat ini

atau yang akan datang.


Penjelasan gambar tersebut sebagai berikut :

Perawatan diri adalah kemampuan individu untuk melakukan perawatan diri.

Perawatan diri dapat mengalami gangguan atau hambatan apabila seseorang

jatuh pada kondisi sakit, kondisi yang melelahkan (stres fisik dan psikologik)

atau mengalami kecacatan. Defisit perawatan diri terjadi bila agen keperawatan

atau orang yang memberikan perawatan diri baik pada diri sendiri atau orang lain

tidak dapat memenuhi kebutuhan perawatan dirinya. Seorang perawat dalam

melakukan kegiatan ini harus mempunyai pengetahuan tentang asuhan

keperawatan sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat bagi klien.

a. Agen Keperawatan

Agen keperawatan adalah karakteristik seseorang yang mampu

memenuhi status perawatan dalam kelompok-kelompok sosial. Agen

keperawatan (nursing agency) merupakan keterampilan dan pengalaman hidup

yang perawat dapatkan beberapa tahun melalui pendidikan dan praktek yang

digunakan secara efektif dalam proses penyembuhan klien. Tersedianya

tenaga perawatan bagi individu, laki-laki, wanita, anak atau kumpulan manusia

seperti keluarga dan komunitas. Kelompok- kelompok sosial ini memerlukan

perawat yang memiliki kemampuan khusus sehingga dapat membantu mereka

memberikan perawatan yang akan menggantikan keterbatasan atau


memberikan bantuan dalam mengatasi gangguan kesehatan dengan

membina hubungan antara perawat dan klien. Menurut orem hal pertama yang

harus dikuasai di dalam nursing agency adalah “construct of required

operations” yang terdiri dari domain sosial, interpersonal, dan teknologi-

profesional.

1) Domain sosial

Domain pertama, karakteristik sosial merujuk untuk memiliki pengetahuan

tentang cara untuk menerima budaya lain, nilai-nilai, etika, dan moral. Perawat

mampu berinteraksi dengan pasien, keluarga mereka, dan penyedia perawatan

kesehatan lainnya dengan baik dan sopan. Domain sosial juga mengacu pada

profesi keperawatan secara keseluruhan dan kontrak sosial yang melekat dalam

praktek keperawatan misalnya lembaga keperwatan memberi legitimasi hokum

pada setiap praktik keperawatan. Seseorang yang tidak memiliki pendidikan

perawat atau bahkan tidak mendapatkan pelatihan tidak diperbolehkan

melakukan praktik keperawatan. Masyarakat memberi legitimasi sebagai

perawat ketika perawat telah lulus dari pendidikan dan telah lulus ujian

lisensi.

2) Domain Interpersonal

Domain interpersonal ini mengacu pada pengetahuan tentang cara

berinteraksi dengan orang lain atau klien lebih


dalam. Tidak hanya perawat mampu menunjukkan empati untuk pasien serta

memiliki keinginan untuk membantu pasien yang mencapai tujuan perawatan diri

mereka, tetapi perawat harus menyadari pentingnya hubungan dan

berkomunikasi secara efektif dengan klien maupun keluarga.

3) Domain teknologi-profesional

Domain terakhir, teknologi-profesional mengacu pada pengetahuan

tentang cara untuk melakukan tugas keperawatan dengan baik, seperti

pengukuran tekanan darah dengan keyakinan dan kemudahan serta kemampuan

berpikir kritis yang diperlukan untuk proses keperawatan dan penelitian

keperawatan. Sebagai contoh, perawat dapat membantu pasien memenuhi tujuan

perawatan diri mereka menggunakan proses keperawatan.

b. Agen perawatan diri

Agen perawatan diri merupakan kekuatan individu yang berhubungan

dengan kemampuan untuk melakukan perawatan diri. keterbatasan dalam

melakukan perawatan diri (self care limitation) dapat terjadi karena adanya

gangguan atau masalah pada sistem tubuh yang sementara atau menetap pada

seseorang serta mempengaruhi kemampuan individu dalam melakukan

perawatan diri.
c. Kebutuhan perawatan diri terapeutik

Kebutuhan akan perawatan diri adalah kesluruhan upaya- upaya perawatan

diri yang ditampilkan untuk menemukan syarat- syarat perawatan diri dengan

cara menggunakan metode-metode yang tepat dan berhubungan dengan

seperangkat teknologi terkini.

d. Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan self care (basic

conditioning factor) berdasarkan Orem tahun 2001 yaitu :

1) Usia

Usia merupakan salah satu faktor penting pada self care. Bertambahnya usia

sering dihubungkan dengan berbagai keterbatasan maupun kerusakan fungsi

sensoris. Pemenuhan kebtuhan self care akan bertambah efektif seiring dengan

bertambahnya usia dan kemampuan (Orem, 2001).

2) Jenis Kelamin

Jenis kelamin mempunyai kontribusi dalam kemampuan perawatan diri.

Pada laki-laki lebih banyak melakukan penyimpangan kesehatan seperti

kurangnya menejemen berat badan dan kebiasaan merokok dibandingkan pada

perempuan.

3) Status Perkembangan

Status perkembangan menurut Orem meliputi tingkat fisik seseorang,

fungsional, perkembangan kognitif dan tingkat psikososial (Orem,2001). Tahap

perkembangan mempengaruhi kebutuhan dan kemampuan self care individu.


4) Status kesehatan

Status kesehatan berdasarkan Orem antara lain status kesehatan saat ini,

status kesehatan dahulu (riwayat kesahatan dahulu) serta persepsi tengtang

kesehatan masing masing individu. Status kesehatan meliputi diagnosis medis,

gambaran kondisi pasien, komplikasi, perawatan yang dilakukan dan gambaran

individu yang mempengaruhi kebutuhan self care (self care requisite). Tinjauan

dari self care menurut Orem, status kesehatan pasien yang mempengaruhi

kebutuhan self care dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu : sistem

bantuan penuh (wholly compensatory system), sistem bantuan sebagian (partially

compensatory system) dan sistem dukungan pendidikan (supportif-education

system).

5) Sosiokultural

Sistem yang saling terkait dengan lingkungan sosial seseorang, keyakinan

spiritual, hubungan sosial dan fungsi unit keluarga


6) Sistem pelayanan kesehatan

Sumber daya dari pelayanan kesehatan yang dapat diakses dan tersedia

untuk individu dalam melakukan diagnostik dan pengobatan.

7) Sistem keluarga

Peran atau hubungan anggota keluarga dan orang lain yang signifikan

serta peraturan seseorang di dalam keluarga. Selain itu, sistem keluarga juga

meliputi tipe keluarga, budaya yang mempengaruhi keluarga, sumber-sumber

yang dimiliki individu atau keluarga serta perawatan diri dalam keluarga.

8) Pola hidup

Pola hidup yang dimaksud adalah aktivitas normal seseorang yang biasa

dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

9) Lingkungan

Tempat seseorang biasanya melakukan perawatan diri di lingkungan rumah.

10) Ketersediaan sumber

Ketersediaan sumber ini termasuk ekonomi, personal, kemampuan dan

waktu. Ketersediaan sumber-sumber yang mendukung perawatan diri atau

proses penyembuhan pasien.

3. Teori Sistem Keperawatan (Theory of Nusing System)

Menggambarkan kebutuhan klien/individu yang di dasari pada teori

Orem tentang pemenuhan kebutuhan sendiri.


2.4 Konsep Daun Sambiloto
2.4.1 Tanaman Sambiloto (Andrographis Paniculata)
Menurut data specimen yang ada di herbarium bogoriense di bogor sambiloto

sudah ada di Indonesia sejak 1893. Di India, sambiloto adalh tumbuhan liar yang

digunakan untuk mengobati penyakit disentri, diare atau malaria. Tanaman ini kemudian

menyebar ke daerah tropis asia hingga sampai di Indonesia (Widyanwati, 2007).

Di bebertapa daerah di Indonesia sambiloto dikenal dengan berbagai nama

masyarakat jawa tengah dan jawa timur menyebutnya dengan bidara sambiloto, sandiloto,

sandilata, takilo, paitan, dan sambiloto. Di jawa barat disebut dengan ki oray, takila, atau

ki peurat. Di Bali lebih dikenal dengan samiroto, masyarakat Sumatera dan sebagian besar

masyarakat melayu menyebutnya dengan pepaitan atau ampadu (Widyanwati, 2007).

Kadar senyawanya aktif yang terkandung pada tanaman obat selain dipengaruhi

oleh factor genetic juga dipengaruhi oleh factor lingkungan timbulnya. Pada tanaman

sambiloto kedua factor tersebut berpengaruh sangat besar pada pembentukan diterpene

lakton. Yusron dan Januwati (2004) mengemukakan bahwa factor agroekologi sangat

menentukan pertumbuhan hasil, dan mutu simplisia sambiloto factor yang paling penting

dari kualitas sambiloto dan saling berhubungan adalah lokasi pada saat dikumpulkan,

waktu panen bagian dari tanaman yang digunakan. Adanya variasi pada waktu

pengambilan sampel, tempat penanaman, metode pengelolahan dan lain sebagainya

berakibat pada perbedaan dalam kandungan senyawa aktif pada tanaman yang sama selain

distribusi geografi, kondisi cuaca pada saat budidaya juga turut menentukkan mutu

simplisia tanaman obat. Secara umum kualitas dari tanaman obat diakibatkan oleh

beberapa factor termasuk perubahan cuaca, waktu panen, budidaya, proses paksa panen

dan prosedur ekstrasi serta preparsi simplisia (Royani dkk, 2014).

2.4.2 Mafologi Tanaman Sambiloto

Sambiloto merupakan ciri morfologi herbal tegak yang tumbuh secara alami di

daerah daratan rendah hingga ketinggian ± 1600 dpl. Habitat sambiloto iala di tempat

terbuka seperti ladang, pinggir jalan, tebing, saluran atau sungai, semak belukar, dibawah
tegakan pohon jati atau bambu, tumbuhan sambiloto memiliki daya adaptasi pada

lingkungan ekologi setempat tumbuhan tersebut terdapat di seluruh Nusantara karena

dapat tumbuh dan berkembang baik pada berbagai topografi dan jenis tanah, suhu udara

25 – 320C serta kelembapan yang dibutuhkan antara 70 – 90 %. Tumbuhan sambiloto

tumbuh optimal pada Ph tanah 6 – 7 (netral). Pada tingkat kemasaman tersebut unsur hara

yang dibutuhkan tanaman cukup tersedia da mudah diserap oleh tanaman, kedalaman

perkaran sambiloto dapat mencapai 25 cm dari permukaan tanah (Pujiasmantod kk, 2007).

Sambiloto memiliki batang berkayu berbentuk bulat dan segi empat serta memiliki

banyak cabang (monopodial). Daun tunggal saling berhadapan berbentuk pedang (lanset)

dengan tepi rata (integer) dan permukaannya secara halus, berwarna hijau, bunganya

berwarna putih keunguan, berbentuk jorong (bulat panjang) dengan pangkal dan ujungnya

yang lancip (Widyawanti, 2007). Menurut Syafiati (2007), dalam Nurhafizah (2015)

deskripsi tanaman sambiloto yaitu sebagai berikut:

Habitus : Herbal terna semusim, tinggi dapat mencapai 90 cm.

Batang : Berkayu, pangkal bulat, masih muda bentuk segi empat dengan rusuk

yang jelas, menebal diabagian buku-buku batang, setelah tua bulat, percabangan

monopodial, hijau.

Daun : Tunggal bulat telur, bersilang berhadapan, pangkal dan ujung runcing,

tepi rata, Panjang 3-12 cm, lebar 1-3 cm, pertulangan menyirip, Panjang tangkai 0,2-0,5

cm, permukaan atas hijau tua, permukaan bawah hijau muda.

Bunga : Majemuk mulai rata, diujung batang atau ketiakdaun dibagian atas,

kelopak bunga berdekatan terbagi menjadi 5 helai, daun makhota 5 berdekatan

membentuk tabung makhota bunga, Panjang tabung 6 mm, Panjang helai daun makhota

lebih dari Panjang tabung makhota. 2 helai daun makhota dibagian atas 3 helain.

Buah : Berbentuk kapsul berkatup dan berisi 3-7 biji berwarna coklat tua

Biji : Kecil, bulat, masih muda putih kotor, setelah tua coklat.

Akar : Tunggang, putih kecoklatan.


Gambar 2.4 Sambiloto (Andrgraphis paniculate)
(Sumber: Ratnani, dkk, 2012).

2.4.3 Klasifikasi Tanaman Sambiloto


Menurut Harianja (2011) dalam Nurhafizah (2017), tanaman sambiloto

diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatopyta

Subdivisi : Angiospermae

Class : Dicotyledoneae

Ordo : Solanales

Famili : Acanthaceace

Genus : Andrographis

Species : Andrographis paniculate ness

2.4.4 Kandungan senyawa kimia tanaman Sambiloto


Menurut Widyawati (2007) tanaman sambiloto dikenal sebagai tanaman yang

memiliki khasiat sebagai antimalaria. Khasiat sambiloto yang begitu banyak disebabkan

karena sambiloto memiliki zat kandungan yang lengkap sehingga dapat bermanfaat

sebagai obat, selain itu dapat juga digunakan sebagai pestisida alami bersama mimba

untuk mencegah hama dan penyakit tanaman.

Secara kimia sambiloto mengandung flavonoid dan lakton. Pada lakton komponen

utamanya adalah Andrographolide, yang merupakan juga zat aktif utama dari tanaman ini.

Andrographolide susdah diiosalasi dalam bentuk murni dan menunjukab berbagai

aktivitas farmakologi. Berdasarkan penelitian lain yang telah dilakukan kandungan yang

dijumpai pada tanaman sambiloto diantaranya diterpene lakton dan glikosidanya seperti

Andrographolide. Di dalam daun kadar senyawa Andrographolide sebesar 2,5-4,8 % dari

berat keringnya ada juga yang pait yaitu diterpenoid viz, daun dan percabangannya lebih

banyak mengandung lakton sedangkan komponen flavonoid dapat diisolasi dari akarnya

yaitu polimetok-siflavon, androrarin, selain komponen lakton, keton, alhedid, mineral

(kalsium, natrium, kalium) (Widywati, 2007).

Zat aktif yang terkandung pada sambiloto bermanfaat bagi Kesehatan seperti

andrografoloid, minyak atsiri dan flavonoid yang berfungsi untuk mencegah pengumpulan

darah, menghambat dan menghancurkan inti kanker, anti-bakteri, anti racun serta anti

infeksi dapat juga bisa digunakan sebagai antibiotic untuk melawan serangan bakteri dan

virus (Sudewo dalam Lukistyowati, 2012). Flavonoid terutama ditemukan dari akar

tanaman Andrographis paniculate tapi juga ditemukan bgian daun, bagian batang dan

daun mengandung alkana, keton,dan alhedid, meskipun di awal dan diduga bahwa

senyawa yang menimbulkan rasa pahit yakni Andrographolide lebih lanjut diketahui

bahwa daun sambiloto mengandung dua senyawa yang menimbulkan rasa pahit yakni

andrographolide dan senyawa yang disebut dengan kalmeghin (Ratnani dkk, 2012).

Menurut Triyana (2015) dalam Handayani (2016), saponin merupakan senyawa

yang aktif sifatnya menyerupai sabun dan dapat larut di dalam air. Pengaruh saponin

terlihat oada gangguan fisik serangga bagian luar (kultikula) yakni rusaknya lapisan lilin
yang melindungi tubuh serangga dan menyebabkan kematian pada serangga karena

kehilangan cairan tubuh, kematian belalang juga dapat dipengaruhi oleh cairan tubuh

serangga yang rusak akibat senyawa saponin. Terjadinya interaksi antara saponin mampu

berikatan dengan posfolipid dan kolestrol yang mengakibatkan terganggunya

permeabilitas membrane sitoplasma yang dapat mengakibatkan kebocoran materi

intraseluler dan menyebabkan lisis sel dan akhirnya system imun pada tubuh belalang

rusak. Menurut Soenandar (2012) dalam Handayani (2016) senyawa flavonoid bersifat

racun syaraf, mempengaruhi respirasi, penghambat perkembangan jangkrik serta sebagai

racun kontak atau racun perut. Racun kontak, insektisida ini masuk ke dalam tubuh

serangga melalui permukaan tubuhnya khususnya bagian kutikula yang tipis misalnya

pada bagian daerah perhubungan antara segmen, lekukan-lekukan yang terbentuk dari

lempengan tubuh racun kontak itu dapat diaplikasikan langsung tertuju pada belalang

racun kontak mungkin diformulasikan sebagai cairan seemprotan atau sebagai serbuk

racun kontak yang telah melekat pada belalang akan segera masuk ke dalam tubuh

belalang dan disinlah terjadi peracunan.

Zat aktif yang terkandung pada sambiloto bermanfaat bagi Kesehatan, seperti

Andrografoloid, minyak atsiri, dan flavonoid yang berfungsi untuk mencegah

penggumpalan darah, menghambat dan menghancurkan ini kanker, anti bakteri, anti racun

serta anti infeksi, dapat juga digunakan sebagai antibiotic untuk melawan serangan bakteri

dan virus (Sudewo dalam Lukistyowati, 2012).

2.4.5 Tinjauan Tentang Ekstrak dan Ekstraksi


Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari

simplisia nabati atau simplisia hewani, menggunakan pelarut yang sesuai kemudian semua

atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa dan diperlakukan

sedemikian sehingga memenuhi baku yang telah ditetapkan. Sebagai besar ekstrak dibuat

dengan mengektraksi bahan baku obat secara perlokasi (Nurhafizah, 2015). Ekstraksi

merupakan suatu proses pemisahan bahan dari campurannya dengan menggunakan pelarut
yang sesuai. Proses ekstraksi dihentikan ketika tercapai kesetimbangan antara konsentrasi

senyawa dalam pelarut dengan konsentrasi dalam sel tanaman setelah proses ekstraksi

pealrut dipisahkan dari sampel dengan penyaringan, ekstrak awal sulit dipisahkan melalui

Teknik pemisahan tunggal untuk mengisolasi senyawa tunggal. Oleh karena itu ekstrak

awal perlu dipisahkan ke dalam faksi yang memiliki polaritas dan ukuran molekul yang

sama (Mukhriani, 2014).

Menurut Mukhriani (2014), proses ekstraksi khususnya untuk bahan yang berasal

dari tumbuhan adalah sebagai berikut:

1. Pengkelompokan bagian tumbuhan (daun, bunga, dll), pengeringan dan

penggilingan bagian tumbuhan.

2. Pemilihan pelarut

3. Pelarut polar: air, etanol, methanol, dan sebagainya.

4. Pelarut semipolar: etil asetat, diklorometan, dan sebagainya.

5. Pelarut non-polar: n-heksan, petrole-um eter, kloroform, dan sebagainya.

Adapun beberapa metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut yaitu:

1. Ekstraksi secara dingin

a. Maserasi

Maserasi adalah proses penyarian simplisia dengan cara perendaman

menggunakan pelarut dengan sesekali pengadukn temperature kamar. Maserasi yang

dilakukan pengadukan secar terus menerus disebut maserasi kinetic, sedangkan yang

dilakukan pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan terhadap

maserat pertama dan seterusnya disebut remaserasi.

b. Perkolasi

Perkolasi adalah proses penyaringan simplisia dengan pelarut yang selalu baru

sampai terjadi penyaringan yang sempurna yang umumnya dilakukan pada temperature

kamar. Proses perkolasi terdiri dari tahap pelembapan bahan, tahap perendaman antara

tahap perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan ekstrak) terus menerus sampai

diperoleh perkolat yang jumlah 1-5 kali bahan.


2. Ekstraksi secara panas

a. Refluks

Refluks merupakan proses peynyaringan simplisia dengan menggunakan alat

berada ditemperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbebas

yang relative kostan dengan adanya pendinginan balik.

b. Digesti

Digesti merupakan proses penyarian dengan pengadukan kontinu pada

temperature lebih tinggi dari temperature ruanaga, yaitu secar umum dilakukan pada

temperature 40-500C.

c. Sokletasi

Sokletasi merupakan proses penyarian dengan menggunakan pelarut yang selalu

baru dilakukan penggunakan alat soklet sehingga terjadi kontraksi kontinu dengan pelarut

relative kostan dengan adanya pendingin balik.

d. Infus

Infus adalah ekstraksi denga pelarut air pada temperature penangas air (benjana

infus tercelup dalam penangas air mendidih, temperature terukur 96-98 0C selama waktu

tertentu (15-20 menit).

2.4.6 Manfaat Daun Sambiloto untuk Kesehatan


Meski rasanya pahit, ada banyak manfaat sambiloto yang bisa Anda

peroleh bagi kesehatan tubuh, di antaranya:

1. Meringankan gejala flu

Beberapa riset menunjukkan sambiloto bermanfaat untuk meredakan gejala

flu, seperti bersin-bersin, nyeri tenggorokan, demam, dan batuk pilek, serta mempercepat

proses pemulihan flu. Manfaat ini berasal dari kandungan zat yang bersifat antiradang,
antibakteri, dan antivirus. Untuk memaksimalkan manfaat sambiloto tersebut, Anda bisa

memilih suplemen sambiloto yang dikombinasikan dengan ginseng.

2. Memperkuat daya tahan tubuh

Sambiloto pun diketahui bermanfaat untuk meningkatkan kerja sistem

imun tubuh. Tanaman herba ini dapat memperbaiki dan merangsang kinerja sel-sel darah

putih, sehingga dapat lebih efektif melawan berbagai kuman dan virus penyebab infeksi.

Ekstrak sambiloto juga dapat meningkatkan kinerja daya tahan tubuh dalam mendeteksi

dan membasmi sel-sel kanker di dalam tubuh.

3. Meredakan peradangan

Peradangan merupakan cara alami tubuh untuk melindungi dan

memulihkan diri dari infeksi, penyakit, dan cedera. Meski demikian, peradangan bisa

membahayakan kesehatan jika terjadi dalam jangka panjang. Saat mengalami peradangan,

seseorang akan merasakan gejala tidak enak badan, demam, nyeri, atau bengkak di bagian

tubuh tertentu yang meradang. Untuk mengurangi peradangan, ada beberapa cara yang

bisa dilakukan, termasuk mengonsumsi obat herbal alami seperti sambiloto. Tanaman ini

telah digunakan sejak lama untuk mengatasi gejala peradangan berkat kandungan zat

antiradangnya.

4. Meredakan demam

Demam merupakan salah satu reaksi tubuh yang terjadi akibat peradangan.

Kondisi ini biasanya terjadi ketika tubuh mengalami infeksi, misalnya karena bakteri atau

virus. Daun sambiloto merupakan salah satu obat pereda demam alami. Ini berkat efek

antiradang, antibakteri, dan antivirus yang terdapat di dalam tumbuhan tersebut.

5. Menurunkan tekanan darah

Tanaman sambiloto yang dikonsumsi sebagai jamu, teh herbal, atau

suplemen juga diketahui dapat menurunkan tekanan darah, Tanaman ini dapat melebarkan

pembuluh darah, sehingga melancarkan aliran darah dan menjaga tekanan darah tetap

stabil. Namun, Anda perlu berhati-hati saat mengonsumsi sambiloto, apabila sedang

menjalani pengobatan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Hal ini dikarenakan sambiloto
bisa menimbulkan efek samping berupa penurunan tekanan darah secara drastis atau

hipotensi.

6. Menghambat pertumbuhan sel kanker

Selain beberapa manfaat di atas, tanaman sambiloto juga diketahui dapat

mengurangi risiko terjadinya penyakit kanker. Beberapa riset di laboratorium

menunjukkan bahwa ekstrak sambiloto terlihat dapat menghambat dan mencegah

pertumbuhan sel kanker. Meski demikian, belum ada riset yang dapat membuktikan

efektivitas tanaman herba ini sebagai obat kanker.

7. Menurunkan kadar gula darah

Menurut Mulya (2016) pada uji ekstrak etranol herbal sambiloto

(Andrographis paniculata) menyatakan karena kandungan bahan kimia ini yang relative

serta memiliki efek farmakologis yang menimbulkan aktivitas biologis diantaranya

sebagai anti radang (antiinflamasi), merangsang daya tahan sel, antibakteri, anti infeksi,

menghilangkan rasa nyeri, serta dapat menurunkan kadar glukosa darah. Riset

menyebutkan bahwa ekstrak sambiloto terlihat dapat menurunkan dan mengontrol kadar

gula darah, serta mendukung efektivitas pengobatan diabetes dengan metformin. Namun,

jika dikonsumsi berlebihan, sambiloto juga berpotensi menimbulkan efek samping

berbahaya, yaitu hipoglikemia. Hasil penelitian Hasporo (2009) ekstrak etanol herbal

sambiloto juga mempunyai efek menurunkan glukosa dalam darah pada uji toleransi

glukosa dengan efek yang meningkat dengan peningkatan dosis pada kisar dosis yang

diberikan (0,5-2,0/kgbb). Banyak tumbuhan yang dapat membantu meminimalisir kondisi

gula darah yang tinggi, salah satunya yang dapat digunakan adalah sambiloto. Daun

sambiloto dapat mengagresgasi platelet sehingga dapat mencegah terjadinya

penggumpalan darah dan peradangan, kadar kalium yang tinggi dapat membantu tubuh

mengeluarkan air dan garam sehingga dapat menurunkan tekanan darah tinggi atau

sebagai anti hipertensi.


2.4.7 Penggunaan dalam pengobatan tradisional
Cara mengelolah daun sambiloto untuk pengobatan beberapa penyakit:

a. Diabetes

Bahan-bahan yang dibutuhkan adalah 15 lembar daun sambiloto segar (di cuci

bersih), lalu diseduh dengan 1 cangkir air panas, setelah dingin disaring dan diminum

1kali.

b. Usus buntu

Bahan-bahan yang dibutuhkan adalah daun sambiloto dan air secukupnya, rebus daun

sambiloto hingga mendidih dan minum ¼ cangkir setiap 1 kali sehari.

c. Gatal-gatal

Bahan yang dibutuhkan 1gram daun sambiloto, 1gram jahe, 1gram ngokilo, dan 1gram

akar wangi. Cara membuatnya tumbuk semua halus bahan hingga menjadi bubuk dan

seduh selanjutnya minum dengan rutin 3 kali sehari.

d. Tifus

Bahan yang dibutuhkan 17 helai daun sambiloto dan air secukupnya. Daun sambiloto

dihaluskan dan direbus kemudian minum ¼ cangkir setiap 1 kali sehari.

2.5 Kerangka Konseptual


Kerangka konsep adalah suatu uraian dan visualisasi tentang hubungan atau kaitan
antara konsep- konsep atau variabel- variabel yang akan diamati atau diukur melalui
penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2012).
Keterangan:
: Diteliti : Tidak Diteliti : Pengaruh

: Hubungan
Gambar 2.4 Kerangka konseptual pengaruh air rebusan herbal daun sambiloto
terhadap penurunan kadar glukosa dalam darh di Puskesmas Jabon
2.6 Hipotesis penelitian
Berdasarkan rumusan dan tujuan penelitian, hipotesis dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut:
H1: Ada hubungan daun sambiloto dengan penurunan kadar pglukosa dalam
darah di puskesmas jabon kabupaten jombang.
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Desain atau rancangan penelitian adalah suatu strategi penelitian untuk


pengontrolan maksimal beberapa factor yang mempengaruhi hasil akurasi (Nursalam,
2017). Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian eksperimental
yaitu mengendalikan variable secara tegas yang menyatakan ada hubungan sebab akibat
(Hidayat, 2017).

Desain dalam penelitian ini adalah analitik pre-eksperimental. Pre-eksperimental


adalah rancangan penelitian yang digunakan untuk mencarihubungan sebab-akibat dengan
adanya keterlibatan peneliti dalam manipulasi terhadap variable bebas (Nursalam, 2017).

3.2 Kerangka kerja

Kerangka kerja merupakan langkah-langkah dalam aktivitas ilmiah, mulai dari


penetapan populasi, sampel dan seterusnya, yaitu kegiatan sejak awal dilaksanakannya
penelitian (Nursalam, 2013).

Populasi
Semua pasien DM yang bersedia menjadi responden mengalami peningkatan kadar
glukosa berjumlah 201 di Puskesmas Jabon Kabupaten Jombang

Sampel
Semua psien DM yang bersedia menjadi responden, mengalami peningkatan kadar
gulukosa berjumlah 134 orang di Puskesmas Jabon Kabupaten Jombang

Sampling
Simple Random Sampling

Rancangan Penelitian
Analitik Pra-eksperimental dengan one-group pre-post test domain

Pengumpulan data
Editing, Coding, Skoring, Tabulating

Analisis Data
Uji Wilcoxon

Penyajian Data
Gambar 3.1 Kerangka pengaruh rebusan herbal daun sambiloto terhadap penurunan kadar

glukosa dalam darah di Puskesmas Jabon Kabupaten Jombang.

3.3 Populasi, sampel dan sampling penelitian

3.3.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek dalam penelitian. Oleh karena itu apabila

ditemukan seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian,

maka penelitian yang dilakukan merupakan penelitian populasi (Arikunto, 2013). Populasi

dalam penelitian ini yaitu semua responden, mengalami peningkatan kadar glukosa dalam

darah, tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan tertentu yang dapat menurunkan kadar

glukosa dalam darah di Puskesmas Jabon sebanyak 201 orang.

3.3.2 Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang menjadi subjek dalam penelitian melalui

sampling yang harus sesuai dan kriteria yang telah ditemukan (Nursalam, 2017). Menurut

Nursalam (2017) perhitungan besar sampel menggunakan rumus sebagai berikut:

N
n = 1 + N (d)2

Keterangan:
n : besar sampel
N : besar populasi
d : tingkat signifikan (d=0,05)
Jadi untuk menghitung besar sampel dalam penelitian adalah:
N
n = 1 + N (d)2

201
n = 1 + 201 (0,05)2

201
n = 1 + 201 (0,0025)
201
n = 1 + 0,5025

201

n = 1,5025
n = 133,777 = 134 orang
Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian dewasa yang bersedia menjadi

responden, mengalami peningkatan kadar glukosa dalam darah, tidak sedang

mengkonsumsi obat-obatan tertentu yang dapat menurunkan kadar glukosa dalam

darah di Puskesmas Jabon sebanyak 134 orang.

3.3.3 Sampling

Sampling merupakan proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili

populasi (Nursalam, 2017), Teknik pengambilan sampel ini adalah probality sampling

dengan jenis simple random sampling. Untuk melakukan sampling jenis ini dengan

menuliskan nama responden dalam kertas kemudian secara acak.

3.4 Identifikasi Variabel

Variabel merupakan perilaku atau karateristik yang memberikan nilai berbeda

terhadap sesuatu seperti benda, manusia, (Soeparto, dkk. 2000 dalam Nursalam, 2017).

Variabel terdapat 2 jenis yaitu:

1. Variabel Independent (bebas)

Variabel independent sering disebut sebagai variable bebas, variable yang

mempengaruhi sehingga timbul variable dependent (Hidayat, 2017). Variabel

bebas dalam penelitian ini pengaruh rebusan herbal daun sambiloto.

2. Variabel Dependent

Varaibel dependent yaitu yang dipengaruhi oleh variable bebas (Hidayat,

2017). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah penurunan kadar glukosa

dalam darah.

3.5 Definisi Operasional

Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karateristik yang diamati (diukur)


dari sesuatu yang didefinisikan tersebut (Nursalam, 2017).

Tabel 3.2 Definisi operasional pengaruh rebusan herbal daun sambiloto terhadap

penurunan kadar glukosa dalam darah di Puskesmas Jabon.

Variabel Definisi Parameter Alat ukur Skal Skor &

Operasional a krteria

Independen Memberika 1. Untuk

t n rebusan takarannya

Pengaruh herbal daun ada 2 yaitu:

rebusan sambiloto - Daun

herbal daun yang sambiloto

sambiloto dibuatkan segar

oleh peneliti sebanyak 1

genggam

(30 gram),

ditambahkan

air matang

setengah

cangkir (110

ml),

kemudian

saring dan

minum

sekaligus.

- Daun

sambiloto

kering

sebanyak (3
gram),

direbus dan

diminum 2x

sehari

sebelum

makan.

2.

Dependen Penurunan Pengambila Menggunaka R Skor:

Penurunan yang terjdi n sampel n GDS A Laki2:

kadar pada ukuran darah untuk dengan S Perempuan

glukosa hasil akhir pemeriksaan pengambilan I :

dalam darah dari kadar sampel darah O

metabolism glukosa Kriteria:

dalam tubuh sebelum dan 1.

sesudah

intervensi

3.6 Waktu dan tempat penelitian

3.6.1 Waktu penelitian

Penelitian ini dimulai pada bulan Januari 2022

3.6.2 Tempat penelitian

Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Jabon Jombang Jawa Timur

3.7 Pengumpulan dan Analisa data

Pengumpulan data adalah mencari, mencatat dan mengumpulkan secara objektif

dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di lapangan yaitu
pencatatan data dan berbagai bentuk data yang ada di lapangan (Sugiyono, 2010: 338).

3.7.1 Alur pengumpulan data dalm penelitian

a. Peneliti mengurus perizinan surat pengantar penelitian di STIKES Pemkab

Jombang. Peneliti datang ke seluruh pasien Puskesmas Jabon Kabupaten

Jombang.

b. Peneliti kemudian meminta izin kepada Kepala Puskesmas Jabon Kabupaten

Jombang, secara tatp muka.

c. Peneliti menjelaskan kepada Kepala Puskesmas Jabon Kabupaten Jombang,

mengenai penelitian yang dilakukan.

d. Setelah mendapatkan izin, kemudian peneliti diberi data daftar keseluruhan pasien

Diabetes Mellitus melalui WhatApp oleh Kepala Puskesmas Jabon Kabupaten

Jombang.

e. Peneliti melakukan pengambilan sampel dengan menggunakan probability

sampling yang populasinya mempunyai kesempatan untuk terpilih atau tidak

terpilih sebagai sampel.

f. Kemudian peneliti memberikan penjelasan kepada Kepala Puskesmas Jabon

Kabupaten Jombang, tentang proses penelitian dan menaati peraturan yang

diberikan peneliti yang disampaikan kepada keluarga. Apabila bersedia menjadi

responden maka keluarga dipersilahkan untuk memberikan tanda tangan pada

lembar persetujuan menjadi responden

g. Penyusunan Analisa penelitian.

3.8 Instrumen pengumpulan

Instrumen penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk pengumpulan data,

yang relevandengan tujuan penelitian (Arikunto, 2010). Pada penelitian ini instrument

yang digunakan variable kadar glukosa dalam darah dari hasil pemeriksaan gula darah

menggunakan GDP pada responden sebelum dan sessudah meminum air rebusan herbal

daun sambiloto.
3.9 Uji Validitas

1. Univariat

Analisa Univariat adalah Analisa yang dilakukan dengantujuan untuk

menjelaskan karateristik variable (Notoatmodjo, 2010). pada penelitian ini adalah

penurunan kadar glukosa dalm darah, kadar gula diukur dengan menggunakan

GDP. Hasil pemeriksaan kadar gula di insterprestasikan menjadi:

a. Kadar gula menurun

b. Kadar gula Meningkat

c. Kadar gula tetap

(Sevilia & Mumpuni 2014)

2. Bivariat

Analisa yang dilakukan terhadap dua variable yang diduga berhubungan

atau berkolerasi (Notoatmodjo, 2010). Pada penelitian ini menggunakan uji non

parametric yaitu uji Wilcoxon, uji tersebut dapat digunakan dengan menggunakan

bantuan komputerisasi program SPSS (Static Product Service Solution) for

windows relase 20. pada penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh

rebusan herbal daun sambiloto terhadap penurunan kadar glukosa dalam darah di

Puskesmas Jabon Kabupaten Jombangdengan pengambilan keputusan sebagai

berikut:

a. p ˂ α = 0,05 maka H1 diterima yang berarti ada pengaruh rebusan herbal daun

sambiloto terhadap penurunan kadar glukosa dalam darah di Puskesmas Jabon

Kabupaten Jombang.

b. p ˃ α = 0,05 maka H1 ditolak tidak ada pengaruh rebusan herbal daun

sambiloto terhadap penurunan kadar glukosa dalam darah di Puskesmas Jabon

Kabupaten Jombang.

3.10 Cara analisis data

1. Editing
Editing adalah kegiatan pengecekan dari hasil yang telah di tulis dilembar

obserbvasi (Notoatmodjo, 2010). Dalam penelitian ini akan segera dilakukan

editing setelah data dikumpulkan diperiksa dengan lembar observasi. Konsistensi

serta kesesuaian juga perlu diperhatikan untuk menguji hipotesis atau menjawab

tujuan penelitian sehingga akan memudahkan untuk pengelolahan selanjutnya.

2. Coding

Coding yaitu mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi angka,

setelah semua lembar observasi selanjutnya dilakukan pengkodean (Notoatmodjo,

2010). Coding akan berguna untuk memasukkan data kode dibuat dalam bentuk

angka atau huruf yang akan memberikan petunjuk pada data yang dianalisis.

a. Data umum

 Kode responden

a. Responden 1:1

b. Responden 2:2

c. Responden 10:10

 Kode jenis kelamin

a. Laki-laki :1

b. Perempuan : 2

b. Data khusus

 Kadar gula sebelum mengkonsumsi rebusan herbal daun sambiloto

(a) Tidak normal : 1

(b) Normal :2

 Kadar gula sesudah mengkonsumsi rebusan daun sambiloto

(a) Tidak normal : 1

(b) Normal :2

3. Scoring
Scoring adalah pemberian nilai berupa angka dari hasil pengukuran yang

sudah dilakukan untuk memperoleh data.

Pemberian skor sebagai berikut:

Variabel kadar gula

Kadar gula tetap :0

Kadar gula meningkat :2

Kadar gula menurun :1

4. Tabulating

Tabulating adalah Menyusun data yang telah lengkap sesuai variable yang

dibutuhkan kedalam table distribusi frekuensi (Notoatmodjo, 2010).

Adapun hasil pengelolahan data dapat diinterprestasikan dengan skala

(Arikunto,2010):

0% : Tidak ada dari responden

1-25% : Sebagian kecil dari responden

26-40% : Hampir setengahnya

41-55% : Setengahnya

56-70% : Sebagian besar

71-85% : Hampir sebagian besar

86-90% : hampir seluruhnya

100% : Seluruhnya

3.11 Etika penelitian

Untuk dapat melakukan penelitian, factor yang cukup penting dan tidak boleh

ditinggalkan adalah adanya ijin penelitian dari pimpinan Lembaga atau institute yang

dipilih menjadi tempat penelitian. Untuk memperoleh ijin tersebut Langkah yang

ditempuh oleh peneliti adalah mendapatkan rekomendasi dari ketua program studi

Sarjana Keparawatan STIKES PEMKAB Jombang. Setelah semua surat ijin

selesai, berulah penelitian dengan memperhatikan tentang etika dalam penelitian.


Menurut Hidayat (2017) masalah etika yang harus diperhatikan antara lain adalah

sebgai berikut:

1. Informed concent

Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan

responden peneliti dengan memberikan lembar persetujuan. Tujuan Informed

concent adalah agar subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian, mengetahui

dampaknya. Jika subjek bersedia, maka mereka harus mendatangani lembar

persetujuan dan jika respondenm tidak bersedia maka peneliti harus

menghormati hak responden.

Informed concent yang akan digunakan dalam penelitian ada

dalam lampiran. Sebelum peneliti memberikan informed consent peneliti

menjelaskan dahulu kepada populasi ]dalam penelitian. Yang dijelaskan

meliputi definisi, tjuan, manfaat, cara penggunaan, dan system kerja dalam

pelaksanaan penelitian.
2. Anonymity (tanpa nama)

Masalah yang memberikan jaminan dalam penggunaan subjek

penelitian dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama responden

pada lembar observasi pengukuran kadar asam urat dan hanya menuliskan

kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan.

Dalam penelitian ini nama responden tidak dituliskan secara detail

cukup diberi kode RI-R10 di dalam lembar observasi pengukuran kadar gula

dalam darah, sehingga peneliti harus mengingat kode setiap pasien agar tidak

terjadi kesalahan dalam penulisan hasil di lembar observasi pengukuran kadar

asam urat.

3. Confidentiality (kerahasian)

Masalah etika dengan memberikan jaminan kerahasiaan hasil

penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi

yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok

data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset.

Kerahasiaan dalam penelitian ini akan terjaga karena data-data

yang diperoleh dari responden hanya peneliti yang melihat dan tidak untuk

dibaca oleh kelompok. Setelah data-data sudak dimasukkan dan pengelolahan

data lembar observasi pengukuran kadar glukosa dalam darah bakar.


DAFTAR

PUSTAKA

Agoes, A., 2010. Tanaman obat Indonesia. 2 ed. Jakarta: Salemba Medika. Hidayat,

A. A. A., 2017. Metode Penelitian Keperawatan dan Kesehatan. Jakarta:

Salemba Medika.

Notoatmodjo, S., 2010. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Nursalam, 2017. Metode Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis.

Jakarta: Salemba Medika.

Putra, W. S., 2016. Kitab Herbal Nusantara: Aneka Resep &Ramuan Tanaman

Obat Untuk Berbagai Gangguan Kesehatan. Yogyakarta: Katahati

Anda mungkin juga menyukai