0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan19 halaman

Evaluasi Drainase Pakuan Regency Bogor

Analisis dan evaluasi saluran drainase di perumahan Pakuan Regency dengan model EPA SWMM 5.1 untuk mengevaluasi kemampuan drainase menangani limpasan hujan, mengidentifikasi lokasi genangan, dan merekomendasikan perbaikan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan19 halaman

Evaluasi Drainase Pakuan Regency Bogor

Analisis dan evaluasi saluran drainase di perumahan Pakuan Regency dengan model EPA SWMM 5.1 untuk mengevaluasi kemampuan drainase menangani limpasan hujan, mengidentifikasi lokasi genangan, dan merekomendasikan perbaikan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

i

USULAN PENELITIAN

ANALISIS DAN EVALUASI SALURAN DRAINASE DENGAN MODEL


EPA SWMM 5.1 PADA CLUSTER LARA SANTANG UNTUK BLOK C3,
D3 DAN E3 DI PERUMAHAN PAKUAN REGENCY, BOGOR

HESEKIEL RYAN HIDAYAT NAPITUPULU

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
Judul : Analisis dan Evaluasi Saluran Drainase dengan Model Epa Swmm 5.1
Pada Cluster Lara Santang Untuk Blok C3, D3 dan E3 di Perumahan
Pakuan Regency, Bogor
Nama : Hesekiel Ryan Hidayat Napitupulu
Nim : F441100039

Bogor, 06 Juli 2015


Disetujui oleh
Pembimbing Akademik

Sutoyo, [Link].,[Link].
Pembimbing

Diketahui oleh
Ketua Departemen/ Program Studi

Dr. Ir. Nora H. Pandjaitan, DEA


NIP. 19580527 198103 2 001
i

PRAKATA

Puji dan syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala
berkat dan kasih karunia-Nya, sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan.
Penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2015 hingga Juni 2015 dengan
judul Analisis dan Evaluasi Saluran Drainase dengan Model EPA SWMM 5.1
Pada Cluster Lara Santang Untuk Blok C3, D3 dan E3 di Perumahan Pakuan
Regency, Bogor.
Terima kasih diucapkan kepada Sutoyo, [Link]., [Link] selaku dosen
pembimbing akademik, atas arahan, bimbingan, dan bantuan selama penelitian
berlangsung, Prof. Dr. Ir. Asep Sapei, MS dan Dr. Ir. Erizal, [Link] selaku dosen
penguji ujian akhir. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada Bapak
Maman dari Perumahan Pakuan Regency atas jasa yang telah diberikan selama
penelitian berlangsung.
Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada kedua orangtua penulis
Bapak Bangun Pulungan Napitupulu dan Ibu Marlyn Butar Butar, serta seluruh
keluarga, atas doa dan dukungan yang diberikan. Ungkapan terima kasih juga
disampaikan kepada Hendri Saputro, Roberto Situmorang, Paulus Marbun dan
teman-teman SIL48 atas doa, bantuan dan dukungannya dalam penyusunan karya
ilmiah ini.
Karya ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan
saran sangat diperlukan untuk perbaikan penulisan selanjutnya. Semoga ide yang
disampaikan dalam karya ilmiah ini dapat tersampaikan dengan baik dan
memberikan manfaat bagi pihak yang membutuhkan.

Bogor, Juni 2015


Hesekiel Ryan Hidayat Napitupulu
ii

DAFTAR ISI

PRAKATA................................................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
DAFTAR TABEL..................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................iii
I PENDAHULUAN.................................................................................................1
1.1 Latar Belakang...............................................................................................1
1.2 Perumusan Masalah........................................................................................2
1.3 Tujuan Penelitian............................................................................................2
1.4 Manfaat Hasil Penelitian................................................................................2
1.5 Ruang Lingkup Penelitian..............................................................................2
II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................................3
2.1 Drainase Perkotaan.........................................................................................3
2.2Analisis Hidrologi...........................................................................................3
2.3 EPA SWMM..................................................................................................5
III METODOLOGI..................................................................................................6
3.1 Waktu dan Tempat.........................................................................................6
3.2 Alat dan Bahan...............................................................................................6
3.3 Metode Penelitian...........................................................................................6
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................16
iii

DAFTAR TABEL

Gambar 1 Nilai Depression storage 7


Gambar 2 Harga infiltrasi maksimum dari berbagai kondisi tanah 8
Gambar 3 Harga infiltrasi minimum dari berbagai kondisi tanah 8
Gambar 4 Tipikal harga koefisien kekasaran Manning, n 9

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Siklus hidrologi 4


Gambar 2 Peta Lokasi Penelitian 6
3

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Drainase merupakan salah satu komponen infrastruktur yang penting untuk


menyalurkan kelebihan air. Meningkatnya limpasan karena berkurangnya daerah
resapan air dapat diatasi dengan pembangunan saluran drainase yang memadai, yang
dapat mengalirkan kelebihan air. Pada saat ini keberadaan sistem drainase merupakan
salah satu penilaian infrastruktur perkotaan yang sangat penting. Kualitas manajemen
suatu kota dapat dilihat dari kualitas sistem drainase yang ada.

Drainase didefenisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang usaha untuk


mengalirkan air yang berlebihan pada suatu kawasan dan sebuah sistem yang dibuat
untuk menangani persoalan kelebihan air baik air yang berada diatas permukaan tanah
maupun air yang berada di bawah permukaan tanah. Kelebihan air dapat disebabkan
oleh intensitas hujan yang tinggi atau akibat dari durasi hujan yang lama (Wesli 2008).
Drainase secara umum menurut Suripin (2004) adalah suatu tindakan teknis untuk
mengurangi kelebihan air, baik yang berasal dari air hujan, rembesan, maupun
kelebihan air irigasi dari suatu kawasan/lahan, sehingga fungsi kawasan/lahan tidak
terganggu dan sistem drainase secara umum adalah serangkaian bangunan air yang
berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau
lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal.

Masalah yang sering dihadapi adalah penyediaan saluran drainase masih sering
dianggap sebagai hal yang kurang penting sehingga pembangunan saluran tidak
dilakukan dengan baik dan benar. Hal ini menyebabkan saluran drainase yang sudah
dibuat tidak dapat menampung dan menyalurkan dengan baik seluruh air buangan.
Akibatnya walaupun wilayah tersebut sudah memiliki jaringan drainase namun masih
saja terdapat banyak genangan air bahkan banjir. Pembangunan yang terlampau cepat
pada suatu kota yang berkembang dan tidak diimbangi dengan pembangunan saluran
drainase yang memadai (sebagai salah satu sarana infrastruktur) akan menyebabkan
persoalan drainase yang kompleks.

Pesatnya pembangunan perumahan di Kota Bogor haruslah didukung dengan


infrastruktur yang dapat menunjang dan menjaga lingkungan sekitar pembangunan
seperti saluran air untuk menampung curah hujan agar tidak terjadi genangan.
Tingginya tingkat curah hujan yang terjadi pada Kota Bogor dapat menimbulkan suatu
genangan atau banjir pada suatu daerah. Pada pembangunan perumahan Pakuan
Regency, Kecamatan Bogor Barat yang telah berlangsung sampai saat ini haruslah
memerhatikan lingkungan sekitar pembangunan terutama pada saluran air. Penelitian ini
dilakukan untuk mengevaluasi kesesuaian saluran drainase di perumahan Pakuan
Regency pada Cluste Lara Santang untuk Blok C3, D3 dan E3, Kecamatan Bogor Barat,
Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Evaluasi akan dilakukan dengan menggunakan model
EPA SWMM 5.1. Model ini banyak digunakan untuk menganalisis permasalahan
limpasan di daerah perkotaan.
4
5

1.2 Perumusan Masalah


Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis dan mengevaluasi saluran drainase
di Cluster Lara Santang blok C3, D3 dan E3 pada Perumahan Pakuan Regency, Bogor.
Dibutuhkan suatu aplikasi model software untuk mengetahui dan mensimulisasikan
keadaan saluran drainase ke dalam sebuah jaringan yang terintegritas. Oleh karena itu
dalam penelitian ini permasalahan yang akan di bahas adalah sebagai berikut:
1. Pemodelan jaringan drainase eksisting ke dalam model SWMM 5.1
2. Identifikasi terjadinya runoff pada area subcatchment.
3. Identifikasi lokasi-lokasi terjadinya luapan atau banjir.

1.3 Tujuan Penelitian


Penelitian analisis dan evaluasi saluran drainase dengan model EPA SWMM 5.1
pada Cluster Lara Santang untuk blok C3, D3 dan E3 di perumahan Pakuan Regency,
Bogor, dengan tujuan sebagai berikut.
1. Mengidentifikasi kondisi saluran drainase.
2. Menganalisis besarnya limpasan yang terjadi.
3. Menganalisis dan evaluasi kesesuaian jaringan drainase yang ada dengan
besarnya limpasan.

1.4 Manfaat Hasil Penelitian


Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Memberikan informasi kepada pengembang perumahan Pakuan Regency
Bogor mengenai kondisi jaringan drainase yang ada pada saat penelitian khususnya
pada Cluster Lara Santang.
2. Memberikan informasi untuk memperhitungkan kembali dalam perancangan
dimensi saluran drainase dengan bantuan perangkat program.
3. Sebagai acuan bagi penelitian lanjutan terkait evaluasi dan analisis saluran
drainase perumahan.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian


1. Saluran drainase yang diteliti adalah saluran drainase perumahan Pakuan Regency
Bogor pada Cluster Lara Santang.
2. Data sekunder diperoleh dari instansi yang terkait, yaitu: Data Curah Hujan 10 Tahun
dari BMKG Bogor, dan Masterplan dari Pengembang Perumahan Pakuan Regency
Bogor.
3. Penelitian dilakukan langsung di lapang dengan melakukan pengukuran langsung
dilapang terhadap saluran eksisting. Pengolahan data dilakukan menggunakan laptop
yang disertai oleh perangkat yang mendukung pengolahan data.
6

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Drainase Perkotaan


Hasmar (2011), drainase secara umum didefenisikan sebagai ilmu pengetahuan
yang mempelajari usaha untuk mengalirkan air yang berlebihan dalam suatu konteks
pemanfaatan tertentu. Drainase perkotaan/terapan adalah ilmu drainase yang diterapkan
mengkhusus pengajian pada kawasan perkotaan yang erat kaitannya dengan kondisi
lingkungan sosial budaya yang ada di kawasan kota. Drainase perkotaan merupakan
sistem pengeringan dan pengaliran air dari wilayah perkotaan yang meliputi:
pemukiman, kawasan industry & perdagangan, sekolah, rumah sakit, lapangan olah
raga, lapangan parkir, dan fasilitas umum lainnya yang merupakan bagian dari sarana
kota.
Suripin (2004), mengatakan bahwa drainase berasal dari bahasa inggris
drainage, mempunyai arti mengalirkan, menguraskan, membuang atau mengalihkan air.
Dalam bidang teknik sipil, drainase secara umum dapat didefenisikan sebagai suatu
tindakan teknik untuk mengurangi kelebihan air, baik yang berasal dari air hujan,
rembesan maupun kelebihan air irigasi suatu kawasan/ lahan, sehingga fungsi kawasan/
lahan tidak terganggu. Jadi, drainase menyangkut tidak hanya air permukaan tapi juga
air tanah. Dari sudut pandang yang lain, drainase adalah salah satu unsur dari prasana
umum yang dibutuhkan masyarakat kota dalam rangka menuju kehidupan kota yang
aman, nyaman, bersih, dan sehat.
Menurut jenis drainase ditinjau berdasarkan letak bangunannya dapat
dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu drainase permukaan tanah (surface drainage)
dan drainase bawah permukaan (subsurface drainage). Berdasarkan fungsi dan sistem
kerjanya jenis saluran dapat dibedakan menjadi tiga yaitu Saluran Interseptor
(Interceptor Drain), Saluran kolektor ( Collector drain) dan Saluran konveyor
(Conveyor drain). Saluran interceptor adalah saluran yang berfungsi sebagai pencegah
terjadinya pembebanan aliran dari suatu daerah terhadap daerah lain dibawahnya. Outlet
dari saluran ini biasanya di saluran kolektor atau konveyor atau di lansung drainase
alam. Saluran kolektor adalah saluran yang berfungsi sebagai pengumpul debit yang
diperoleh dari saluran drainase yang lebih kecil dan akhirnya akan dibuang ke saluran
konveyor. Saluran konveyor adalah saluran yang berfungsi sebagai saluran pembawa air
buangan dari suatu daerah ke lokasi pembuangan tanpa harus membahayakan daerah
yang dilalui (Hasmar 2011).

2.1.1 Analisis Hidrologi


Suripin (2004), mengatakan bahwa siklus hidrologi adalah suatu rangkaian proses
yang terjadi dengan air yang terdiri dari penguapan, presipitasi, infiltrasi dan pengaliran
keluar (out flow). Penguapan terdiri dari evaporasi dan transpirasi. Uap yang dihasilkan
mengalami kondensasi dan dipadatkan membentuk awan yang nantinya kembali
menjadi air dan turun sebagai presipitasi. Sebelum tiba di permukaan bumi presipitasi
tersebut sebagian langsung menguap ke udara, sebagian tertahan oleh tumbuh-tumbuhan
(intersepsi) dan sebagian mencapai permukaan tanah. Air yang sampai ke permukaan
tanah sebagian akan berinfiltrasi dan sebagian lagi mengisi lekuk-lekuk permukaan
tanah kemudian mengalir ke tempat yang lebih rendah (runoff), masuk ke sungai-sungai
7

dan akhirnya ke laut. Dalam perjalananya sebagian akan mengalami penguapan. Air
yang masuk ke dalam tanah sebagian akan keluar lagi menuju sungai yang disebut
dengan aliran intra (interflow). Sebagian akan turun dan masuk ke dalam air tanah yang
sedikit demi sedikit dan masuk ke dalam sungai sebagai aliran bawah tanah
(groundwater flow). Susunan peristiwa siklus hidrologi dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Siklus Hidrologi (Suripin 2004)


Hidrologi adalah suatu ilmu yang menjelaskan tentang kehadiran gerakan air di
alam ini, yang meliputi berbagai bentuk air yang menyangkut perubahanperubahannya
antara lain: keadaan zat cair, padat dan gas dalam atmosfer diatas dan dibawah
permukaan tanah, didalamnya tercakup pula air laut yang merupakan sumber dan
penyimpanan air yang mengaktifkan kehidupan di bumi. Analisis hidrologi tidak hanya
diperlukan dalam perencanaan berbagai bangunan air seperti: bendungan, bangunan
pengendali banjir, dan banguanan irigasi, tetapi juga diperlukan untuk bangunan jalan
raya, lapangan terbang dan bangunan lainnya (Soemarto 1999). Hujan merupakan
komponen yang sangat penting dalam analisis hidrologi pada perencanaan debit untuk
menentukan dimensi saluran drainase. Pengukuran hujan dilakukan selama 24 jam,
dengan cara ini berarti hujan yang diketahui adalah hujan total yang terjadi selama satu
hari. Berdasarkan kepentingan perencanaan drainase tertentu data hujan yang diperlukan
tidak hanya data harian, akan tetapi juga distribusi jam-jaman atau menitan. Hal ini akan
membawa konsekuensi dalam pemilihan data, dan diajurkan untuk menggunakan data
hujan hasil pengukuran dengan alat ukur otomatis (Wesli 2008).
Perlunya dilakukan analisis frekuensi pada curah hujan yang bertujuan untuk
menentukan curah hujan rancangan yang akan digunakan dalam pemodelan. Curah
hujan rancangan merupakan kemungkinan tinggi hujan yang terjadi dalam kala ulang
tertentu. Analisis frekuensi yang dilakukan pada penelitian ini dengan menggunakan
teori probability distribution, antara lain Distribusi Normal, Distribusi Log Normal,
Distribusi Log Person Tipe III dan Distribusi Gumbel.
8
9

2.1.2 EPA SWMM (Environmental Protection Agency Storm Water Management


Model)

Storm water management model (SWMM) adalah model yang mampu untuk
menganalisa permasalahan kuantitas dan kualitas air yang berkaitan dengan limpasan
daerah perkotaan. SWMM dikembangkan oleh EPA (Einvironmental Protection
Agency – US), sejak 1971 (Huber and Dickinson 1988). SWMM tergolong model hujan
aliran dinamis yang digunakan untuk simulasi dengan rentang waktu yang menerus atau
kejadian banjir sesaat. Model ini paling banyak dikembangkan untuk simulasi proses
hidrologi dan hidrolika di wilayah perkotaan. Menurut Rossmann (2004), SWMM
adalah model simulasi dinamis dari hubungan antara curah hujan dan limpasan
(rainfall-runoff). Model ini digunakan untuk mensimulasikan kejadian hujan tunggal
atau berkelanjutan dalam waktu lama, baik berupa volume limpasan maupun kualitas
air, terutama pada suatu daerah perkotaan.

SWMM telah diaplikasikan secara luas untuk pemodelan kuantitas dan kualitas
air di wilayah perkotaan Amerika Serikat, Kanada, Eropa dan Australia. Model ini telah
digunakan untuk analisa hidrolika yang komplek dalam masalah saluran pembuangan
(sewer), manajemen jaringan drainase dan studi berbagai permasalahan polusi (Huber
1992). Tsihrintzis (1995) memberikan contoh aplikasi SWMM pada empat daerah aliran
sungai di South Florida dengan karakteristik daerah perkotaan yang berbeda dari segi
prosentase pemukiman, pusat perbelanjaan dan tata guna lahan. Model ini juga terus
dikembangkan dan disempurnakan untuk memberikan fasilitas pemecahan masalah saat
ini.

Aplikasi model SWMM ini dapat digunakan untuk beberapa hal antara lain
perencanaan dan dimensi jaringan pembuang untuk pengendalian banjir serta
perencanaan daerah penahan sementara untuk pengendalian banjir. Selain itu juga dapat
digunakan untuk pemetaan daerah genangan banjir. SWMM menghasilkan volume dan
kualitas limpasan yang diteruskan dari masing – masing subcatchment, dengan
kecepatan aliran, kedalaman aliran, dan kualitas air pada masing – masing pipa dan
saluran selama periode simulasi yang terdiri dari berbagai tahapan waktu. Program ini
juga menghitung berbagai proses hidrologis yang memperhatikan limpasan dari daerah
perkotaan, yaitu curah hujan dengan variasi waktu, evaporasi dari permukaan air,
akumulasi salju dan mencairnya, curah hujan yang tertampung di daerah tampungan,
infiltrasi dari curah hujan yang masuk ke lapisan tanah tidak jenuh air, perkolasi dan
infiltrasi ke dalam lapisan air tanah, aliran bawah antara air tanah, dan sistem drainase.
10

III METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat


Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret 2015 - Juni 2015. Saluran drainase
yang dianalisis adalah saluran drainase yang berada di perumahan Pakuan Regency,
Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat (Gambar 2). Pengolahan data
dilakukan di lingkungan kampus Institut Pertanian Bogor, Dramaga Bogor, Jawa Barat.

Gambar 2. Peta lokasi penelitian


Sumber: Basemap ArcGIS

3.2 Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer dan data
sekunder. Data primer bersumber dari observasi lapangan dan pengukuran secara
langsung di lapangan yang mencakup data karakteristik saluran dan sistem jaringan
drainase di kawasan perumahan Pakuan Regency, Kelurahan Margajaya dan Kelurahan
Balumbang Jaya, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Data
sekunder yang digunakan berupa data intensitas hujan harian maksimum 10 tahun, peta
tutupan lahan, peta masterplan perumahan dan daftar harga Bogor tahun 2013. Alat
yang digunakan yaitu kompas, theodolite, target rod, patok, notebook, alat tulis,
kalkulator, dan software EPA SWMM 5.1.

3.3 Metode Penelitian


Penelitian mengenai analisis dan evaluasi saluran drainase dilakukan dengan
langkah-langkah, terdiri dari :
1. Studi pustaka
11

Metode studi pustaka dilakukan untuk mendapatkan informasi yang


dibutuhkan dalam menganalisis permasalahan yang diteliti. Studi pustaka ini
dapat diperoleh dalam bentuk publikasi ilmiah atau jurnal, laporan penelitian
yang berkaitan dengan permasalahan, dan buku-buku yang menerangkan tentang
aspek yang digunakan dalam menganalisis permasalahan.
2. Tahap persiapan
Pada tahap persiapan dilakukan survey lokasi, proses indetifikasi
masalah, data, bahan dan alat apa yang diperlukan dalam penelitian ini.
3. Pengumpulan data
Data yang dibutuhkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer
dikumpulkan melalui survei yang dilakukan di wilayah penelitian.
Pengumpulan data sekunder bertujuan untuk mendapatkan data-data yang
dibutuhkan dalam menganalisis saluran drainase yang ada di tempat
penelitian.
4. Pengolahan data
Pengolahan data menggunakan data primer dan data sekunder untuk
mebuat pemodelan saluran drainase. Data primer yang digunakan adalah kondisi
eksisting jaringan drainase yang meliputi jenis saluran, panjang saluran, lebar
saluran, kedalaman saluran, elevasi saluran dan batas daerah tangkapan air untuk
setiap subcatchment. Sementara data sekunder meliputi data curah hujan harian,
peta tutupan lahan, dan peta lokasi studi.
Dalam simulasi pemodelan data-data yang digunakan antara lain :
a. Rain Gague Dalam software EPA SWMM Rain Gauge merupakan data
penyedia curah hujan yang digunakan untuk satu atau lebih subcathment. Data
curah hujan didefenisikan sebagai time series pada software. Data curah hujan
pada Rain Gauge didapat dari hasil perhitungan curah hujan renca dengan
menggunakan analisis frekuensi distribusi dan distribusi probalitas.
b. Subcatchment Subcatchment merupakan daerah topografi dan sistem drainase
yang mengalirkan langsung aliran permukaan menuju suatu titik aliran outlet.
Parameter subcatchment yang digunakan untuk pemodelan software EPA
SWMM yaitu luas subcatchment, presentase kemiringan subcatchment, panjang
pengaliran, Outlet, Raingague, persentase luas daerah kedap air dan presentase
dari impervous area tanpa depression storage.
Pada subcatchment terdapat dua macam jenis area, yaitu impervious
(kedap air) dan previous (dapat dilalui air). Pada daerah impervious terdiri dari
dua daerah yaitu depression storage dan non depression storage. Nilai
depression storage terlihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Nilai Depression storage
Impervious surface 0.05 – 0.10 inch
Lawns 0.10 – 0.20 inch
Pasture 0.2 inch
Forest litter 0.3 inch
Metode perhitungan infiltrasi pada pervious area menggunakan metode
Horton seperti pada Persamaan (1) (Rossman 2004).
Fp = Fc + ( Fo – Fc) e-kt ..............................................................(1)
Keterangan :
12

Fp = angka infiltrasi dalam tanah (mm/jam)


Fo = harga infiltrasi maksimum (mm/jam) (Tabel 2)
Fc = harga infiltrasi minimum (mm/jam) (Tabel 3)
t = lama hujan (det)
k = koefisien penurunan head (l/det)
Untuk nilai infiltrasi dari kondisi tanah memiliki dua nilai harga yaitu harga
infiltrasi maksimum (Tabel 2) dan harga infiltrasi minimum (Tabel 3).
Tabel 2. Harga infiltrasi maksimum dari berbagai kondisi tanah
No. Kondisi tanah Jenis tanah Harga infiltrasi
1. Kering dengan sedikit atau Tanah berpasir 5 mm/jam
tidak ada tumbuhan Tanah lempung 3 mm/jam
Tanah liat 1 mm/jam
2. Kering dengan banyak Tanah berpasir 10 mm/jam
tumbuhan Tanah lempung 6 mm/jam
Tanah liat 2 mm/jam
3. Tanah lembab Tanah berpasir 1.25 mm/jam
Tanah lempung 1 mm/jam
Tanah liat 0.33 mm/jam
Sumber : Rossmann (2004)

Tabel 3. Harga infiltrasi minimum dari berbagai kondisi tanah


Ke Pengertian Infiltrasi minimum
l
A Potensi limpasan yang rendah. Tanah > 0.45
mempunyai tingkat infiltrasi yang tinggi
meskipun ketika tergenang dan
kedalaman geangan yang tinggi,
pengeringan/ penyerapan baik unsur pasir
dan batuan
B Tanah yang mempunyai tingkat infiltrasi 0.30 – 0.15
biasa/medium ketika tergenang dan
mempunyai tingkat kedalaman genangan
medium, pengeringan dengan keadaan
biasa didapat dari moderately fine to
moderately coarse
C Tanah mempunyai tingkat infiltrasi 0.15 – 0.05
rendah jika lapisan tanah untuk
pengaliran air dengan tingkat tekstur bias
ke tekstur baik. Contoh lempung, pasir
bernalau
D Potensi limpasan yang tinggi. Tanah 0.05 – 0.00
mempunyai tingkat infiltrasi rendah
ketika tergenang
Debit outflow dari limpasan subcatchment dihitung dengan persamaan Manning
(2) dan (3) :
V=1⁄nR2 ⁄3S1/2 .............................................................................................(2)
13

Q = V. A ............................................................................................(3)
Keterangan :
V = kecepatan aliran (m/det)
n = koefisien Manning = kemiringan lahan
R = Jari-jari hidrolis
𝑄 = Debit (m3/detik)
A = Luas penampang saluran terbasahkan (m2)
c. Conduit
Conduit adalah saluran atau pipa yang menyalurkan air dari node satu ke
node lainnya. EPA SWMM menyediakan berbagai macam bentuk conduit yang
digunakan dilapangan. Perhitungan debit pada conduit menggunakan persamaan
(2) dan (3). Conduit memiliki harga koefisien kekasaran manning n yang
berbeda menurut tipe saluran dan jenis bahan yang digunakan pada saluran
(Tabel 4).

Tabel 4. Tipikal harga koefisien kekasaran Manning, n


No Tipe saluran dan jenis bahan Harga n
Minimum Normal Maksimum
1 Tanah, lurus dan seragam 0,016 0,018 0,020
- Bersih baru 0,018 0,022 0,025
- Bersih telah melapuk 0,022 0,025 0,030
- Berkerikil 0,022 0,027 0,033
- Berumput pendek, sedikit
tanaman pengganggu

2 Saluran alam 0,025 0,030 0,033


- Bersih lurus 0,033 0,040 0,045
- Bersih, berkelok-kelok 0,050 0,070 0,08
- Banyak tanaman pengganggu 0,025 0,030 0,035
- Dataran banjir berumput 0,035 0,050 0,07
pendek – tinggi
- Saluran di belukar

3 Beton 0,010 0,011 0,013


- Gorong-gorong lurus dan 0,011 0,013 0,014
bebas dari kotoran 0,011 0,012 0,014
- Gorong-gorong dengan 0,013 0,015 0,017
lengkungan dan sedikit
kotoran/gangguan
- Beton dipoles
- Saluran pembuang dengan bak
kontrol

Sumber : Pedoman perencanaan drainase jalan 2006


d. Junction dan Outfall Node
14

Junction node adalah node – node sistem drainase yang berfungsi untuk
menggabungkan satu saluran dengan saluran yang lain. Secara fisik dapat
menunjukan pertemuan dua saluran atau sambungan pipa. Outfall node adalah
titik pemberhentian dari sistem drainase yang digunakan untuk menentukan
batas hilir (downstream).

5. Analisis data
Analisis data dilakukan pada tiga analisis yaitu menganalisis daerah
previous dan impervious, menganalisis data hidrologi, dan menganalisis dengan
model SWMM 5.1.
a. Analisis Daerah Previous dan Impervious Analisis daerah previous
dan impervious merupakan analisis yang dilakukan untuk mengetahui luas
daerah atau lahan yang mengalami kedap air atau impervious dan daerah yang
tidak mengaami kedap air atau previous. Untuk melakukan analisis ini dilakukan
dengan dua cara yaitu pengukuran langsung di lapangan dan melakukan analisis
pada peta tutupan lahan perumahan dengan menggunakan bantuan perangkat
Google Earth. Dari hasil analisis dihitung persentase area previous dan
impervious untuk setiap subcatchment sebagai nilai input data dalam properti
subcatchment.
b. Analisis Hidrologi Analisis hidrologi dilakukan untuk mendapatkan
besar nilai curah hujan rencana yang akan dijadikan sebagai nilai input pada
time series untuk property Rain gauge. Curah hujan rencana merupakan
kemungkinan tinggi hujan yang terjadi dalam kala ulang tertentu sebagai hasil
dari rangkaian analisis hidrologi yang biasa disebut analisis frekuensi curah
hujan (Harto 1993). Pada analisis ini diperlukan data curah hujan harian
maksimum untuk mendapatkan curah hujan rencana. Analisis frekuensi curah
hujan bertujuan untuk mencari hubungan antara besarnya suatu kejadian ekstrem
(maksimum atau minimum) dan frekuensinya berdasarkan distribusi
probabilitas.
Analisis frekuensi yang dilakukan dengan menggunakan teori probability
distribution, antara lain Distribusi Normal, Distribusi Log Normal, Distribusi
Log Person Tipe III dan Distribusi Gumbel. Untuk selanjutnya dalam penentuan
jenis distribusi yang digunakan dilakukan melalui perhitungan uji kecocokan
berdasarkan Uji Chi Kuadrat.
c. Analisis dengan Model SWMM 5.1
1. Pembagian subcatchment
Langkah awal dalam penggunaan SWMM 5.1 adalah pembagian
subcatchment berdasarkan pada area penelitian. Pembagian tersebut
dilakukan berdasarkan pada elevasi lahan dan pergerakan limpasan
ketika terjadi hujan.
2. Pembuatan Model Jaringan
Pembuatan model jaringan dilakukan berdasarkan sistem jaringan
drainase yang ada di lapangan. Model jaringan ini terdiri dari
subcatchment, node junction, conduit, outfall node, dan raingauge.
Setelah model jaringan selanjutnya dimasukkan semua nilai parameter
yang dibutuhkan untuk semua properti tersebut.
15

3. Simulasi Respon Aliran pada Time Series


Simulasi respon aliran pada time series dilakukan untuk melihat
respon debit aliran terhadap waktu berdasarkan sebaran curah hujan.
Nilai yang dimasukkan adalah nilai sebaran curah hujan terhadap waktu
dengan total nilai sesuai dengan curah hujan rancangan hasil dari analisis
hidrologi.
4. Simulasi model
Simulasi ini dilakukan setelah model jaringan drainase dan semua
parameter berhasil dimasukkan. Simulasi dapat dikatakan berhasil jika
continuity error < 10%. Dalam simulasi SWMM menghitung debit banjir
dengan cara memodelkan suatu sistem drainase. Penelitian ini dilakukan
fokus kepada perhitungan metode aliran permukaan dan infiltrasi untuk
mendapatkan hidrograf. Aliran permukaan per unit area (Q) terjadi jika
air yang ada didalam tanah mencapai maksimum dan tanah menjadi
jenuh. Nilai Q dapat dihitung dengan persamaan (4). Selanjutnya
limpasan yang terjadi (Q) akan mengalir melalui conduit atau saluran
yang ada.
𝑄= A1/n(d-dp)2/3S1/2 …………………………………...(4) Keterangan :
Q = debit aliran yang terjadi (m3/det)
A = luas subcatchment (m2)
n = koefisien kekasaran Manning
d = kedalaman air (m) dp = kedalaman air tanah (m)
S = kemiringan subcatchment
6. Output SWMM 5.1
Output dari simulasi ini antara lain kontinuitas kuantitas limpasan,
kontinuitas rute aliran, indeks ketidakstabilan aliran tertinggi, waktu antar rute,
kedalaman node, node aliran, biaya tambahan node, banjir pada node, limbah
buangan , sambungan aliran, dan biaya tambahan saluran yang disajikan dalam
laporan statistik simulasi rancangan.
7. Visualisasi hasil
Visualisasi hasil yang ditampilkan berupa skema jaringan hasil output
dari simulasi, profil aliran pada beberapa saluran utama dan diketahui tergenang,
dan grafik aliran yang terjadi pada saluran.
8. Penyusunan laporan akhir
Pada tahap ini dilakukan penyusunan laporan akhir yang berisi keseluruhan
proses yang sudah dikerjakan. Tahapan penelitian secara lebih jelas seperti
disajikan dalam bagan alir pada Lampiran 2.
16

DAFTAR PUSTAKA

Hasmar, H.H.A. 2011. Drainase Terapan. Yogyakarta : UII Press


Rossman, L. 2004. Storm Water Management Model User’s Manual Version 5.0.
Cincinnati (US) : EPA United Stated Environmental Agency
Suripin. 2004. Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan. Yogyakarta (ID): CV.
Andi Offset.
Tsihrintzis, V and Hamid, R.(1998) Runoff quality prediction from small urban
catchments using SWMM. Hydrol. Process. 12 (2) 311-329.
Wesli. 2008. Drainase perkotaan. Graha Ilmu. Yogyakarta, 126 hal

Anda mungkin juga menyukai