Studi Ensefalopati Hepatikum 2021
Studi Ensefalopati Hepatikum 2021
ENSEFALOPATI HEPATIKUM
Oleh:
Pembimbing:
2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia, rahmat kesehatan,
dan keselamatan kepada penulis sehingga mampu menyelesaikan referat ini yang berjudul
“Ensefalopati Hepatikum” yang diajukan sebagai persyaratan untuk mengikuti kepaniteraan
klinik senior Ilmu Penyakit Dalam program studi kedokteran Universitas Abdurrab. Terima
kasih penulis ucapkan kepada dr. Evy Eryta, [Link] dan dr. Doni Saputra, [Link] yang telah
bersedia membimbing penulis dalam pembuatan referat ini, sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas ini. Semoga referat ini dapat memberikan manfaat, umumnya bagi
pembaca dan khususnya bagi penulis.
Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih memiliki kekurangan dan jauh dari
kesempurnaan, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk
menyempurnakan makalah ini. Akhir kata, penulis berharap agar makalah ini dapat memberi
manfaat kepada semua orang. Atas perhatian dan sarannya penulis ucapkan terima kasih.
Penulis
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...............................................................................................................i
KATA PENGANTAR............................................................................................................ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................................1
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................13
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.2 Epidemiologi
Prevalensi terjadinya EH adalah sebesar 30-40% dari pasien sirosis hati sedangkan
untuk ensefalopati hepatik minimal sebanyak 20-80%. Sebanyak 30% pasien ensefalopati
hepatik mengalami kematian.3
Di Indonesia, prevalensi EH minimal (grade 0) tidak diketahui dengan pasti karena
sulitnya penegakan diagnosis, namun diperkirakan terjadi pada 30-84% pasien sirosis
hepatis. Data dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo mendapatkan prevalensi EH minimal
sebesar 63,2% pada tahun 2009.4
2.1.3 Klasifikasi
EH terbagi menjadi tiga tipe terkait dengan kelainan hati yang mendasarinya; tipe A
berhubungan dengan gagal hati akut dan ditemukan pada hepatitis fulminan, tipe B
berhubungan dengan jalur pintas portal dan sistemik tanpa adanya kelainan intrinsik
jaringan hati, dan tipe C yang berhubungan dengan sirosis dan hipertensi portal, sekaligus
paling sering ditemukan pada pasien dengan gangguan fungsi hati. Klasifikasi EH
berdasarkan gejanya dibagi menjadi EH minimal (EHM) dan EH overt. EH minimal
2
merupakan istilah yang digunakan bila ditemukan adanya defisit kognitif seperti perubahan
kecepatan psikomotor dan fungsi eksekutif melalui pemeriksaan psikometrik atau
elektrofisiologi. Sedangkan EH overt terbagi lagi menjadi EH episodik (terjadi dalam waktu
singkat dengan tingkat keparahan yang befluktuasi) dan EH persisten (terjadi secara
progresif dengan gejala neurologis yang kian memberat).5
2.1.4 Patofisiologi
Mekanisme terjadinya EH adalah akibat hiperammonia, terjadi penurunan hepatic
uptake sebagai akibat dari intrahepatic portal-systemic shunts dan/atau penurunan sintesis
urea dan glutamik. Beberapa faktor merupakan presipitasi timbulnya EH diantaranya
infeksi, perdarahan, ketidakseimbangan elektrolit, pemberian obat-obat sedatif dan protein
porsi tinggi. Amonia telah dianggap sebagai faktor yang paling penting menyebabkan
terjadinya EH. Amonia mencapai sirkulasi sistemik melalui shunting porto sistemik dan
kegagalan hati untuk metabolisme amonia. Kadar yang ekstrim dari amonia telah dapat
dilihat pada ganglia basalis dan serebelum pasien sirosis dengan ensefalopati hepatik. Hal
ini diyakini memberikan kontribusi terhadap terjadinya peningkatan disfungsi motorik dan
gejala seperti ekstrapiramidal yang diakibatkan karena perubahan fungsi dan morfologi dari
astrosit karena peningkatan kadar amonia.3,6
Teori Amonia
Amonia sejak lama dikenal sebagai neurotoksin yang bertanggung jawab dalam
patogenesis ensefalopati hepatik. Amonia dihasilkan dari beberapa jaringan termasuk ginjal
dan otot meskipun konsentrasi tertingginya berada pada vena porta yang berasal dari bakteri
pada kolon dan metabolisme glutamine pada usus kecil. Pada orang normal, berkisar 80-
90% ammonia diekskresikan melalui metabolisme pertama. Ekskresi berkurang baik pada
keadaan hepatitis kronik maupun akut. Mekanisme hiperammonemia menyebabkan
ensefalopati masih belum terlalu jelas, penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan
kadar ammonia pada sel hepatosit yang mengakibatkan perubahan pada neurotransmiter
terutama agonis GABA, sehingga menyebabkan kegagalan penyediaan energi untuk otak.
Detoksifikasi ammonia pada astrosit menyebabkan akumulasi glutamine, yang merupakan
penyebab utama terjadinya pembengkakan astrosit. Pada hepatitis akut, pembengkakan glial
juga ditemukan ketika adanya pembengkakan otak. Pasien dengan ensefalopati hepatik
memiliki kadar serum ammonia lebih dari 90%, dan menurunnya kadar serum ammonia
berhubungan dengan perbaikan tingkat ensefalopati hepatik. Penelitian eksperimental
3
menyatakan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara kadar glutamine pada cairan serebro
spinal dengan derajat ensefalopati hepatik, tetapi kerusakan fungsi kognitif seperti memori
episodik, perhatian berkesinambungan yang terjadi pada ensefalopati hepatik menunjukkan
hubungan dengan kadar ammonia serum ketika diperiksa dengan tes psikometrik komputer.7
Teori kesalahan neurotransmiter
Neurotransmiter serebral diregulasi oleh konsentrasi asam amino dan prekusornya
pada sistem saraf pusat. Pada pasien dengan disfungsi hepar berat, konsentrasi sirkulasi
plasma dari asam amino aromatik (AAA) yaitu triptopan, tyrosin dan phenilalanin
meningkat sedangkan konsentrasi asam amino rantai ganda (leucine, isoleucine dan valine)
menurun, akibatnya terjadi produksi neurotransmiter yang salah (octopamide dan
phenilethanolamide) yang kemudian berkembang menjadi ensefalopati hepatik.7
Teori GABA dan Benzodiazepin
Ketidakseimbangan antara asam amino neurotransmiter yang merangsang dan yang
menghambat fungsi otak merupakan faktor yang berperan pada terjadinya koma hepatik.
Terjadi penurunan transmiter yang memiliki efek merangsang seperti glutamat, aspartat dan
dopamin sebagai akibat meningkatnya amonia dan gama aminobutirat (GABA) yang
menghambat transmisi impuls. Efek GABA yang meningkat bukan karena influks yang
meningkat ke dalam otak tapi akibat perubahan reseptor GABA dalam otak akibat suatu
substansi yang mirip benzodiazepin (benzodiazepin-like substance).6
4
karena adanya gangguan neurologis, seperti gejala ekstrapiramidal dan demensia, yang
biasanya muncul pada ensefalopati hepatikum kronis.6,8,9
Ensefalopati hepatikum yang bersifat akut dapat ditemukan pada pasien dengan
hepatitis virus, hepatitis toksik obat (halotan, asetaminofen), perlemakan hati akut pada
kehamilan, dan kerusakan parenkim hati yang fulminan tanpa adanya faktor pencetus. Pada
perjalanan penyakit biasanya ditemukan gejala yang eksplosif dan ditandai dengan delirium,
kejang, disertai dengan edema otak. Sedangkan pada ensefalopati hepatikum yang kronis
biasanya perjalanan penyakit tidak bersifat progresif sehingga gejala neuropsikiatri terjadi
secara perlahan dan dicetuskan oleh beberapa faktor presipitasi, seperti azotemia,
perdarahan gastrointestinal, infeksi, alkalosis metabolik, gangguan keseimbangan cairan,
dan pemakaian diuretik.6
Awalnya, gambaran ensefalopati hepatikum biasanya ditandai dengan gambaran
gangguan mental, seperti gangguan dalam pengambilan keputusan dan gangguan
konsentrasi. Keadaan ini dapat dinilai dengan uji psikomotor atau pada pasien dengan
intelektual cukup dapat dites dengan membuat gambar-gambar atau dengan uji hubung
angka (UHA). Selain itu, manifestasi klinis yang dapat ditemukan sebagai gejala awal pada
ensefalopati hepatikum adalah perubahan pola tidur diurnal. Perubahan ini disebabkan
karena adanya perubahan pada sekresi melatonin pada ensefalopati hepatik.6
Pada perjalanan penyakit yang lebih jauh dapat ditemukan gejala neurologis berupa
bradikinesia, asterixis, hiperefleksia, dan postur deserebrasi yang samar. Asterixis
merupakan gejala yang sering ditemukan pada ensefalopati hepatik, namun bukan
merupakan gejala yang spesifik. Asterixis dapat ditemukan pada ensefalopati metabolik
lainnya, seperti uremia, gagal napas dan keracunan barbiturat.6
Kriteria West Haven membagi EH berdasarkan derajat gejalanya. Stadium EH
dibagi menjadi grade 0 hingga 4, dengan derajat 0 dan 1 masuk dalam EH covert serta
derajat 2-4 masuk dalam EH overt.5
Tabel 1. Stadium ensefalopati hepatik sesuai kriteria West Haven5
5
2.1.6 Penegakan Diagnosis
Pada dasarnya, tidak ada pemeriksaan yang dapat dijadikan gold standard dalam
mendiagnosis ensefalopati hepatikum. Pada ensefalopati hepatikum diperlukan anamnesis
dan pemeriksaan fisik yang lengkap dan detail. Hal ini disebabkan karena banyaknya
penyakit yang bisa menjadi diagnosis banding dari ensefalopati hepatikum, baik gangguan
vaskular, gangguan metabolik, gangguan intrakranial, maupun gangguan neuropsikiatrik.
Selain itu, gejala klinis yang ditemukan pada ensefalopati hepatikum tidak ada yang bersifat
spesifik untuk penyakit ini. Dalam anamnesis, perlu diketahui ada tidaknya riwayat maupun
gejala klinis dari gangguan hati. Selain itu, perlu diketahui juga faktor-faktor lain menjadi
pencetus pada ensefalopati hepatikum.6,10
Dalam pendekatan diagnosis ensefalopati hepatikum, perlu dilakukan eksklusi
penyebab lain dari ensefalopati, mengidetifikasikan faktor-faktor pencetus yang dapat
menyebabkan ensefalopati hepatikum, dan memulai terapi empirik untuk ensefalopati
hepatikum. Respon yang baik terhadap terapi empirik dapat menegakkan diagnosis
ensefalopati hepatikum, akan tetapi jika tidak ada respon dalam 72 jam mengindikasikan
perlunya terapi lebih jauh.6,10
Pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi penyakit hati yang mendasari juga
perlu dilakukan. Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan fungsi hati secara
lengkap. Pada ensefalopati hepatikum biasanya didapat hasil yang abnormal pada
pemeriksaan fungsi hati, seperti peningkatan kadar bilirubin, alanine aminotransferese
(ALT), aspartate aminotransferese (AST), dan alkaline phosphatase, serta penurunan kadar
albumin serum. Pemeriksaan kadar amonia dalam darah pada ensefalopati hepatikum
biasanya meningkat pada pasien dengan pasien dengan ensefalopati hepatikum. Akan tetapi,
pemeriksaan ini masih kontroversial karena pengambilan sampel amonia masih dianggap
belum akurat dan sangat dipengaruhi oleh teknik pengambilan. Selain itu, peningkatan
kadar amonia dalam darah juga dianggap kurang menunjukkan tingkat keparahan dari
ensefalopati hepatikum.6,10
Tabel 2. Hubungan Ensefalopati Hepatik dengan Amonia Darah6
6
Ensefalopati hepatikum ditandai dengan perlambantan fungsi psikomotorik. Untuk
itu, tes hubung angka (THA) dapat digunakan untuk mengevaluasi kemampuan kognitif dan
motorik. THA sempat digunakan sebagai salah satu pemeriksaan yang paling sensitif untuk
mendeteksi ensefalopati hepatikum. Namun beberapa penelitian menunjukkan banyaknya
faktor-faktor yang mempengaruhi hasil dari THA, seperti usia pasien, gangguan visual,
serta gangguan konsentrasi pada penderita ensefalopati hepatikum.6,10
Tabel 3. Tingkat Uji Hubung Angka (UHA)6
7
abnormal pada pasien dengan sirosis hepatikum. Hasil MRI TI-weighted menunjukkan
adanya hiperintensitas yang simetris pada pallidum, substansia nigra, dan nukleus dentata.
Namun, hasil pemeriksaan dengan MRI tidak menunjukkan tingkat keparahan dari
ensefalopati hepatikum, melainkan lebih menunjukkan keparahan dari portosystemic
shunts.6,10
2.1.7 Penatalaksanaan
Tatalaksana EH diberikan sesuai dengan derajat EH yang terjadi. Dasar
penatalaksanaan EH adalah: identifikasi dan tatalaksana faktor presipitasi EH, pengaturan
keseimbangan nitrogen, pencegahan perburukan kondisi pasien, dan penilaian rekurensi
ensefalopati hepatik.5
8
Tatalaksana farmakologis
Penurunan kadar amonia merupakan salah satu strategi yang diterapkan dalam
tatalaksana EH. Beberapa modalitas untuk menurunkan kadar amonia dilakukan dengan
penggunaan laktulosa, antibiotik, L-Ornithine L-Aspartate, probiotik, dan berbagai terapi
potensial lainnya. 5
Antibiotik
9
Antibiotik dapat menurunkan produksi amonia dengan menekan pertumbuhan
bakteri yang bertanggung jawab menghasilkan amonia, sebagai salah satu faktor presipitasi
EH. Selain itu, antibiotik juga memiliki efek anti-inflamasi dan down regulation aktivitas
glutaminase. Antibiotik yang menjadi pilihan saat ini adalah rifaximin, berspektrum luas
dan diserap secara minimal. Dosis yang diberikan adalah 2 x 550 mg dengan lama
pengobatan 3-6 bulan. Rifaximin dipilih menggantikan antibiotik yang telah digunakan pada
pengobatan HE sebelumnya, yaitu neomisin, metronidazole, paromomisin, dan vankomisin
oral karena rifaximin memiliki efek samping yang lebih sedikit dibandingkan antibiotik
lainnya. 5
Probiotik
Probiotik didefinisikan sebagai suplementasi diet mikrobiologis hidup yang
bermanfaat untuk nutrisi pejamu. Amonia dan substansi neurotoksik telah lama dipikirkan
10
berperan penting dalam timbulnya EH. Amonia juga dihasilkan oleh flora dalam usus
sehingga manipulasi flora usus menjadi salah satu strategi terapi EH. Mekanisme kerja
probiotik dalam terapi EH dipercaya terkait dengan menekan substansi untuk bakteri
patogenik usus dan meningkatkan produk akhir fermentasi yang berguna untuk bakteri
baik.5
Suatu studi terhadap feses pasien EH minimal dan menemukan pemberian
suplementasi sinbiotik (serat dan probiotik) berhubungan dengan menurunnya jumlah
bakteri patogenik Escherichia coli, Fusobacterium, dan Staphylococcus dengan peningkatan
pada Lactobacillus penghasil nonurease. Penelitian meta analisis dari 9 laporan penelitian
menunjukkan prebiotik, probiotik dan sinbiotik mempunyai manfaat pada pasien EH.
Meskipun demikian, penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan dalam penggunaan probiotik
pada tatalaksana dan prevesi sekunder EH overt. 5
Terapi non-farmakologi
Pemberian makanan berasal dari protein dikurangi atau dihentikan sementara, dan
dapat kembali diberikan setelah terdapat perbaikan. Protein dapat ditingkatkan secara
bertahap, misalnya dari 10 gram menjadi 20 gram sehari selama 3-5 hari disesuaikan
dengan respon klinis, dan bila keadaan telah stabil dapat diberikan protein 40-60 gram
sehari. Sumber protein terutama dari campuran asam amino rantai cabang. Pemberian asam
amino ini diharapkan akan menormalkan keseimbangan asam amino sehingga
11
neurotransmiter asli dan palsu akan berimbang dan kemungkinan dapat meningkatkan
metabolisme amonia di otot.6
2.1.8 Prognosis
Pada koma hepatik portosistemik sekunder, bila faktor-faktor pencetus teratasi,
maka dengan pengobatan standar hampir 80% pasien akan kembali sadar. Pada pasien
dengan koma hepatik primer dan penyakit berat prognosis akan lebih buruk bila disertai
hipoalbuminemia, ikterus, serta asites. Sementara koma hepatik akibat gagal hati fulminan
kemungkinan hanya 20% yang dapat sadar kembali setelah dirawat pada pusat-pusat
kesehatan yang maju.
12
BAB III
KESIMPULAN
Ensefalopati hepatik (EH) merupakan sindrom neuropsikiatri yang dapat terjadi pada
penyakit hati akut dan kronik berat dengan beragam manifestasi, mulai dari ringan hingga
berat, mencakup perubahan perilaku, gangguan intelektual, serta penurunan kesadaran tanpa
adanya kelainan pada otak yang mendasarinya.
Tatalaksana EH diberikan sesuai dengan derajat EH yang terjadi. Dasar penatalaksanaan
EH adalah: identifikasi dan tatalaksana faktor presipitasi EH, pengaturan keseimbangan
nitrogen, pencegahan perburukan kondisi pasien, dan penilaian rekurensi ensefalopati
hepatik.
Pada koma hepatik portosistemik sekunder, bila faktor-faktor pencetus teratasi, maka
dengan pengobatan standar hampir 80% pasien akan kembali sadar. Pada pasien dengan
koma hepatik primer dan penyakit berat prognosis akan lebih buruk bila disertai
hipoalbuminemia, ikterus, serta asites. Sementara koma hepatik akibat gagal hati fulminan
kemungkinan hanya 20% yang dapat sadar kembali setelah dirawat pada pusat-pusat
kesehatan yang maju.
13
DAFTAR PUSTAKA
14